Fatwa Tarjih - Wali Nikah

21 Januari 2012 00:32 WIB (Dibaca : 538) Oleh : Pertanyaan: Siapa yang menjadi wali nikah dari perempuan yang lahir diluar nikah, sekalipun ibunya telah melakukan akad nikah yang sah dengan laki-laki yang menyebabkan kehamilannya itu, sewaktu perempuan itu masih dalam kandungan?

Jawab: Wali merupakan salah satu rukun akad nikah, berdasarkan nash-nash berikut:

‫ٔأََكسٕا اْلََٚايٗ يُكى ٔانظانِسٍٛ يٍْ عثَادكى ٔإِيائِكى‬ ْ ُ َ َ ْ ُ ِ ِ ِ َ ِ َّ َ ْ ُ ْ ِ َ ْ ُ ِ ْ َ
“Nikahkan olehmu (wali) wanita-wanita yang tidak bersuami dan hamba-hamba laki-laki dan perempuan yang shaleh dari kalanganmu…”(an-Nur (24): 32 Dan firman Allah:

ٍَّ‫ٔ ََل ذَُكسٕا انًشركاخ زرَّٗ ُٚؤي‬ َ ِ َِ ْ ُْ ُ ِْ َ ِ ْ
Dan janganlah kamu (wali) nikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan beriman) sehingga ia beriman…(al-Baqarah (2): 221) Dan hadis: ْ ‫عَه أبً مُسى عَه أَبًٍِ قَال قَال زسُُل َّللاِ صههى انههٍم عهًٍَ َسههم َل وِكاح إَل بُِنًِ( زَاي أحمد: 18687, َأبُ داَد, انتسمري‬ َ ‫ْ ِ َ َ َ ُ ه‬ ٍّ َ ‫َ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ِ ه‬ )ً‫َابه حبان َانحاكم َصحح‬ “Dari Abu Musa dari bapaknya, berkata: bersabda Rsulullah saw:”Tidak sah nikah kecuali dengan wali”. (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmizi, Ibnu Hibban dan al-Hakim serta dinyatakannya sebagai hadis shahih) Berdasarkan ayat dan hadis diatas dapat ditetapkan bahwa wali merupakan rukun akad nikah. Dan dinyatakan pula bahwa wali itu hendaklah seorang laki-laki, berdasarkan hadis: ََ َ َ َ َ ِْ َ ْ ,7811: ً‫عَه أَبًِ ٌُسٌسةَ قَال قَال زسُُل َّللاِ صههى انههٍم عهًٍَ َسههم َل تُصَ َج انمسْ أَةُ انمسْ أَةَ ََل تُصَ َج انمسْ أَةُ وَفسٍَا(زَاي ابه ماج‬ َ ْ َ ‫َ َ َ ُ ه‬ ََْ َ ْ ُ ِّ َْ َ ْ ُ ِّ )ً‫َ اندزقطى‬

“Dari Abu Hurairah, ia berkata, bersabda Rasulullah saw:”Perempuan tidak boleh menikahkan (menjadi wali) terhadap perempuan dan tidak boleh menikahkan dirinya”. (HR. ad-Daraqutni dan Ibnu Majah) Dalam pada itu tidak ditemukan nash yang menerangkan siapa saja yang boeleh menjadi wali dan bagaimana urutannya; karena itu para ulama mengqiyaskannya kepada urutan wanita yang menjadi mahram berdasarkan nasab (QS. an-Nisa‟ ayat 23), tetapi dipandang dari pihak laki-laki. Dengan demikian urutan wali itu sebagai berikut: 1. Bapak, kakek dan seterusnya keatas. 2. Saudara laki-laki sekandung, atau seayah. 3. Saudara bapak laki-laki sekandung atau seayah 4. Anak dari saudara bapak laki-laki sekandung atay seayah jika nomor 1 – no 4 tidak ada, maka yang menjadi wali adalah wali hakim, yaitu wali yang diangkat oleh pemerintah, berdasarkan hadis: ْ ٌ ِ ‫عَه عَائِشتَ أَن زسُُل َّللاِ صههى انههٍم عهًٍَ َسههم قَال أٌَُّما امسأَة وَكحت بِغٍْس إِذن َنٍٍَِِّا فَىِكاحٍَا بَاطم فَىِكاحٍَا بَاطم فَىِكاحٍَا بَاطم‬ ُ َ ٌ ِ ُ َ ٌ ِ ُ َ َ ‫َ ه َ َ ه‬ َ ِ ْ ِ َ ْ َ َ ٍ َ ْ َ َ َ َ َ ِْ َ ْ‫فَإِن دخم بٍَِا فَهٍََا انمٍس بِما استَحم مه فَسْ جٍَا فَإِن اشتَجسَُا فَانسُّه‬ ْ ْ ِ ‫َ ْ ُ َ ْ َ ه‬ ً‫طَانُ َنًِ مه َل َنًِ نًَُ( أخسجً األزبعت إَل انىسائ َصحح‬ َ ْ ِ َ َ َ ْ ‫َ ُّ َ ْ َ َ ه‬ ِ )‫أبُ عُاوت َابه حبان َانحاكم‬ “Dari „Aisyah ra ia berkata, bersabda Rasulullah saw:”Wanita manapun yang melakukan akad nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal, maka nikahnya batal. Jika dalam pernikahannya (yang batal itu) terjadi dukhul, maka wanita itu berhak mendapat mahar karena penghalalan farajnya. Jika terjadi perbedaan pendapat yang tidak dapat diselesaikan maka pemerintah (wali hakim) menjadi wali wanita yang tiadak mempunyai wali” (Ditakhrijkan oleh imam hadis yang empat kecuali an-Nasa‟I dan dinyatakn shahih oleh Abu Awanah, Ibnu Hibban dan al-Hakim) Dalam pada itu ditetapkan bahwa anak yang lahir diluar nikah nasabnya dihubungkan kepada ibunya, berdasarkan hadis berikut: )ًٍ‫عه أَبَا ٌُسٌسةَ قَال انىهبًِ صههى انههٍم عهًٍَ َسههم انُنَد نِ ْهفِساش َنِ ْهعاٌس انحجس (متفق عه‬ ُ َ َ ْ ِ ِ َ َ ِ َ ُ َْ َ َ َ ِْ َ َ ُّ َ َ َْ “Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda:”Anak itu bagi suami (yang telah telah melakukan akad nikah yang sah dengan istrinya), bagi pezina itu hukumannya rajam”. (Muttafaq alaihi) Dan hadis: ًُ‫عَه عمسَُ بْهُ شعٍب عَه أَبًٍِ عَه جدي قَال قَضى زسُُل َّللاِ صههى انههٍم عهًٍَ َسههم فًِ َنَد انمتََلعىٍَْه أَوهًُ ٌَسث أُمًُ َتَسثًُُ أُم‬ َ ‫ُ َ ْ ٍ ْ ِ ْ َ ِّ ِ َ َ َ ُ ه‬ َْ ْ ُّ ِ َ ‫ِ ُ ه‬ َ َ َ ِْ َ ِ ِ َ ُْ ِ َ ْ َ َ )6171 :‫َمه قَفَاٌَا بًِ جهِد ثَماوٍِهَ َمه دعَايُ َنَد شوًا جهِد ثَماوٍِهَ *(زَاي أحمد‬ َ ُ ِ َ َ َ ْ َ َ َ ُ ِ َ َ

“Dari Amr bin Syu‟aib dari bapaknya dari kakeknya berkata Rasulullah saw telah menetapkan pada anak dari suami isteri yang telah melakukan li‟an mewarisi ibunya dan ibunya mewarisinya dan siapa yang menuduh isterinya berzina (tanpa bukti) dijilid 80 kali”. (HR. Ahmad) Berdasarkan kedua hadis diatas dapat ditetapkan bahwa anak yang lahir diluar nikah yang sah, maka nasabnya dihubungkan kepada ibunya. Hal ini berarti bahwa anak perempuan yang saudara tanyakan itu tidak mempunyai wali nasab. Bagi perempuan yang tidak mempunyai wali nasab, maka yang menikahkannya adalah wali hakim, berdasarkan hadis yang telah ditulis diatas yang sebagian lafaznya berbunyi: ْ … ًَُ‫…فَإِن اشتَجسَُا فَانسُّهطَانُ َنًِ مه َل َنًِ ن‬ َ ْ ِ ‫َ ُّ َ ْ َ َ ه‬ “Jika terjadi perbedaan pendapat yang tidak dapat diselesaikan maka pemerintah (wali hakim) menjadi wali bagi perempuan yangtidak mempunyai wali” Hukum diatas sesuai pula denga hukum yang berlaku di Indonesia. bab ketiga fasal 19 Kompilasi Hukum Islam Indonesia menyatakan: Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya. Pasal 20 ayat 2 menerangkan bahwa ada dua macam wali, yaitu wali nasab dan wali hakim. Pasal 23 ayat 1 menyatakan bahwa wali hakim bertindak sebagai wali nikah bila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib atau enggan.

NIKAH TANPA WALI: Bolehkah?
Posted on Jan 26, 2010 in Fikih Kontemporer, Hadits | 30 comments

Hadits dan Fiqih adalah dua sahabat karib yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berkaitan erat bagi seorang alim, ibarat dua sayap bagi seekor burung. Dahulu Ali bin Madini pernah mengatakan: “Mempelajari fiqih hadits adalah separuh ilmu, dan mempelajari rijal (rawi) hadits juga separuh ilmu”.[1] Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata: “Sungguh amat jelek sekali bagi seorang ahli hadits ketika ditanya tentang suatu kejadian, lalu dia tidak mengerti karena kesibukannya dalam mengumpulkan jalur-jalur hadits. Demikian pula sangat jelek bagi seorang faqih ketika ditanya: Apa maksud sabda Nabi ini, lalu dia tidak mengerti tentang keabsahan dan maknanya”. [2] Oleh karenanya, bagi seorang yang menggeluti ilmu fiqih hendaknya dia melengkapinya dengan ilmu hadits. Imam asy-Syaukani berkata: “Seorang yang ingin menulis kitab fiqih -sekalipun dia telah mencapai puncak yang tinggiapabila dia tidak membidangi ilmu hadits dan pembedaan antara yang shahih dan lemah, maka

lalu saya bermimpi melihat Yahya bin Ma‟in. Abu Dzar. Ummu Salamah. Abdullah bin Amr. sebab kebanyakan ilmu fiqih itu diambil dari ilmu hadits”. sangat penting sekali bagi kita untuk mengkaji akar permasalahan ini sehingga nampak bagi kita cahaya kebenaran dan gelapnya kebatilan[6].kitab karyanya tidaklah dibangun di atas pondasi. Ambilah kisah berikut sebagai ibrah! Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A‟lam Nubala 16/108 menceritakan bahwa Hamzah al-Kinani berkata: “Saya pernah meneliti sebuah hadits dari dua ratus jalan. Mu’adz. Abu Hurairah.  A. diriwayatkan dari banyak sahabat. Miswar bin Makhramah dan Anas bin Malik”. 253: “Pendeknya.[8] Al-Ustadz yang mulia. Zainab binti Jahsy”. 245247 telah mencantumkan sebelas hadits fakta pembahasan tetapi beliau mementahkan seluruhnya. Hassan -semoga Allah merahmatinya. Kajian yang kami maksud adalah “nikah tanpa wali”. Katanya juga: “Tidak ada satupun yang betul-betul sah riwayatnya”. sehingga beliau membuat sebuah kesimpulan pada hal. sehingga mereka membuat suatu kesimpulan bahwa seorang wanita tidak perlu wali dan saksi dalam pernikahannya[5].  . lantaran dalam sebagian madzhab (baca. akupun berkata padanya: Wahai Abu Zakariya! Saya telah meneliti sebuah hadits dari dua ratus jalan. TAKHRIJ HADITS[7]  Hadits tentang bahasan kita kali ini adalah shahih dengan tiada keraguan di dalamnya. Abdullah bin Umar. Al-Hakim berkata dalam Al-Mustadrak 2/168: “Telah shahih riwayat tentangnya dari para isteri Nabi. Ibnu Mas’ud. A. Aisyah.  Kajian berikut merupakan salah satu contoh tentang pentingnya paduan antara ilmu hadits dan fiqih. sayapun merasa sangat gembira sekali. bukan hanya sekedar dalam jalur-jalur riwayatnya belaka. (At-Taktsur: 1) Maka alangkah indahnya apabila ilmu fiqih dan hadits dipadukan bersama!! Dan alangkah butuhnya kita kepada fiqih yang bersumber dari sunnah nabawiyyah shahihah!!. Imran bin Hushain. Jabir. lalu berkata: “Saya khawatir hal ini masuk dalam firman Allah: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu”. Ibnu Abbas. Oleh karenanya. Miqdad. sekalian riwayat yang menerangkan “Tidak sah nikah melainkan dengan wali” itu tidak sunyi daripada celaan tentang riwayatnya”. Madzhab Hanafiyah) dan itu diikuti oleh sebagian saudara kita bahwa semua haditshadits yang berkaitan tentangnya adalah tidak shahih dari Nabi[4]. Beliau kemudian diam sejenak. [3] Sebagaimana juga bagi seorang yang menggeluti ilmu hadits hendaknya dia tidak lupa bahwa buah hadits adalah dengan mempelajari fiqihnya dan mengamalkannya. Lalu katanya: “Dan dalam bab ini terdapat pula riwayat dari Ali.dalam Soal Jawabnya hal.

tetap tidak bisa dijadikan sebagai alasan melemahkan hadits ini. al-Hakim 2/168. Ibnu Jarud 700. tatkala orang bertanya kepadanya dia menjawab: “Saya tidak meriwayatkan hadits itu”. batil. Abu Musa al-Asy‟ari. telah dibantah oleh para ulama ahli hadits dari beberapa segi: 1. Ibnu Abdil Barr. Adapun al-Ustadz yang mulia. ath-Thayyalisi 1463. Abdur Razzaq 10472.   Kritikan ini sangat mentah sekali. ad-Darimi 2/137. al-Baihaqi 7/105. Demikianlah ucapan beliau -semoga Allah mengampuninya-!! Tentu saja ucapan beliau ini perlu diteliti ulang kembali. Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. sebab lupanya Zuhri tidaklah mengharuskan bahwa Sulaiman bin Musa keliru. Beliau mengisyaratkan apa yang terdapat dalam riwayat Ahmad 6/47 usai hadits ini: “Ibnu Juraij berkata: Saya bertemu dengan Zuhri lalu saya bertanya kepadanya tentang hadits ini tetapi dia tidak mengetahuinya. A.beliau mengatakan dalam Soal Jawabnya 253: “Keterangan ketiga dianggap lemah oleh sebagian ahli hadits[9]. 165. Anggaplah kisah ini shahih. Ibnu Hibban 1248. Ahmad 6/47. Hassan -semoga Allah merahmatinya-. al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 9/39 dari beberapa jalur yang banyak sekali dari Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa dari Zuhri dari Urwah dari Aisyah dari Nabi. lantaran seorang bernama Zuhri yang meriwayatkan hadits ini. Hadits Aisyah : : Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah batiil. Dan apabila mereka bersengketa maka pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”. Ibnu Abi Syaibah 4/128. perkenanlah kami sedikit memaparkan hadits pembahasan beserta sanggahan sesingkat mungkin atas kritikan Al-Ustadz A. Kisah ini dilemahkan oleh para ulama seperti Yahya bin Ma‟in. Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah menambahkan ilmu bagimu. Hadits ini shahih dengan tiada keraguan di dalamnya. sebab menurut penelitian ulama ahli hadits bahwa hadits ini adalah shahih. Ibnu Majah 1879.  SHAHIH. batil. Ahmad bin Hanbal. [10] 2. al-Hakim dan lain sebagainya. Oleh karenanya. Berikut keterangannya: I. Ibnu Adi. Tirmidzi 1102. Hassan semoga Allah merahmatinya. ad-Daraquthni 381. karena tambahan ini tidak diriwayatkan kecuali dari Ibnu „Ulayyah saja. Masalah ini telah dikupas oleh Imam Daraquthni dalam kitab Man Haddatsa wa Nasiya (Orang-orang yang menceritakan hadits lalu lupa) dan para ulama lainnya. ath-Thahawi 2/4. Diriwayatkan Abu Dawud 2083. Dan dia memuji Sulaiman bin Musa”. [11] . Syafi’I 1543. Ibnu Hibban.bahwa hadits tentang masalah ini telah shahih dari riwayat Aisyah.

 Al-Hakim berkata: “Telah shahih dengan riwayat para imam bahwa para perawi tersebut mendengar antara sebagian dari sebagian lainnya. Abu Awanah dan sebagainya[17]. Ibnul Jarud. Berikut kami nukilkan sebagian komentar mereka:         Yahya bin Ma’in berkata: “Hadits Aisyah “Tidak sah pernikahan tanpa wali” tidak shahih hadits yang berkaitan akan hal ini kecuali hadits (dari jalur) Sulaiman bin Musa”. Hadits Abu Musa al-Asy’ari : : Dari Abu Musa al-Asy‟ari berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali”. Baihaqi 7/105 b. Hajjaj bin Artah sebagaimana dalam riwayat Ibnu Majah 1/580. Ibnu Hibban juga berkata: “Hal ini tidak menjadikan cacat keshahihan hadits ini. Ahmad 6/66 c. sebagaimana tak sedikit ahli hadits tertimpa hal ini”.[15] Adz-Dzahabi juga berkata dalam Tanqih Tahqiq 8/270: “Hadits shahih”. karena seorang ahli ilmu yang kuat terkadang meriwayatkan kemudian lupa. Ahmad 6/260.[14] Ibnul Jauzi berkata dalam At-Tahqiq 3/71: “Hadits ini shahih. Sulaiman bin Musa tidak sendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Juraij. [16] Demikian pula para ulama lainnya yang mencantumkan hadits ini dalam kitab-kitab mereka yang khusus memuat hadits shahih seperti Ibnu Hibban. Para ulama ahli hadits telah menshahihkan hadits ini. Hal ini cukup sebagi dalil tentang saksi dalam pernikahan”. Ja‟far bin Rabi‟ah sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud 2084. Al-Albani menyimpulkan bahwa hadits ini pada asalnya hasan tetapi dapat naik kepada derajat shahih karena adanya beberapa syawahid (penguat) dari jalur lainnya. Ayyub bin Musa al-Qurasyi sebagaimana dalam riwayat Ibnu Adi dalam Al-Kamil 4/1516 4. sehingga ketika ditanya dia tidak mengetahuinya. Ubaidullah bin Abu Ja‟far sebagaimana dalam riwayat ath-Thahawi 3/7 d. jadi lupanya dia tidak menunjukkan batilnys hadits tersebut”. beliau dikuatkan oleh kawan-kawannya yang lain. diantaranya: a. Seorang yang terpercaya dan penghafal hadits terkadang lupa usai menceritakan hadits. Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla 9/465: “Tidak shahih dalam masalah ini selain sanad ini. Maka riwayat-riwayat ini tidaklah dimentahkan karena cerita Ibnu ‘Ulayyah dan pertanyaan kepada Ibnu Juraij dan ucapannya: Saya bertanya kepad Zuhri. seluruh rawinya adalah para perawi shahih”. [12] 3. . II. Al-Hakim berkata: “Hadits shahih menurut syarat Bukhari Muslim”.[13] Tirmidzi berkata: “Hadits hasan”. tetapi dia tidak mengetahuinya”.

sebab setahu kami Ibnu Hibban malah mencantumkan hadits ini dalam kitab Shahihnya dan tidak berkomentar melemahkan hadits ini seperti dinukil oleh Ustadz A. 3. 2. Di kitab apakah hadits ini dilemahkan Ibnu Hibban. Anggaplah nukilan itu benar. Sekalipun Syu’bah dan Tsauri lebih kuat hafalannya daripada mereka. Kritikan yang populer di kalangan ahli hadits adalah hadits ini diperselisihkan tentang bersambung dan tidaknya. Hadits ini menunjukkan bahwa Syu’bah dan Tsauri mendengar hadits ini dalam satu waktu. Namun kritikan inipun telah dijawab oleh para ulama:  Imam Tirmidzi berkata: “Riwayat orang-orang yang meriwayatkan dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali” menurut saya lebih shahih. Bahkan Ibnu Hibban secara tegas dalam Shahih-nya 9/395 mengatakan bahwa hadits ini shahih secara mursal maupun bersambung dan tidak ada keraguan akan keshahihannya!!. Abu Awanah. Ahmad 4/393. Saya mendengar Muhammad bin alMatani berkata: Saya mendengar Abdur Rahman bin Mahdi mengatakan: “Tidaklah luput padaku hadits Tsauri dari Abu Ishaq kecuali saya mengandalkan pada Israil karena dia memiliki yang lebih sempurna”. athThahawi 2/5. tetapi riwayat mereka menurutku lebih shahih karena Syu’bah dan Tsauri mendengar hadits ini dari Abu Ishaq dalam satu waktu. Daraquthni 38. apalagi dalam hadits pembahasan telah nyata disebut nama sahabatnya yaitu Abu Musa al-Asy‟ari. 253: “Keterangan kedua dilemahkan oleh Ibnu Hibban dengan alasan bahwa yang meriwayatkan hadits itu tidak jumpa sendiri dengan Nabi. beliau berkata dalam Soal Jawabnya hal. lalu dia menjawab: Ya. Ibnu Hibban 1243. dalam riwayat dari Israil bin Yunus. Adapun Ustadz yang mulia A. SHAHIH. Diriwayatkan Abu Dawud 2085. 413. al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 9/38 dari jalur Abu Ishaq as-Sabi’I dari Abu Burdah dari Abu Musa al-Asy’ari secara marfu’ (sampai kepada Nabi). sebab telah mapan dalam disiplin ilmu hadits bahwa semua sahabat adalah adil dan terpercaya. Ibnu Majah 1/580.  . dia berkata: Saya mendengar Syafi’I bertanya kepada Abu Ishaq: Apakah engkau mendengar Abu Burdah berkata bahwa Nabi bersabda: Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali. Syarik bin Abdillah. Hadits inipun shahih juga. sedangkan Israil sangat kuat riwayatnya dari Abu Ishaq. Artinya. baik disebut namanya maupun tidak. sebab mereka mendengar dari Abu Ishaq dalam waktu yang berbeda-beda. Tetapi dalam riwayat Syu‟bah dan Sufyan Tsauri dari Abu Ishaq dari Abu Burdah langsung dari Nabi tanpa menyebut Abu Musa al-Asy‟ari.  Kritik ini sangat lemah sekali ditinjau dari beberapa segi: 1. Baihaqi 7. Bukti yang menunjukkan hal ini adalah apa yang diceritakan Mahmud bin Ghailan kepada kami: Menceritakan kami Abu Dawud: Menceritakan kami Syu’bah. maka alasan seperti di atas sangat tidak tepat sekali. alHakim 2/170. Ibnul Jarud 702.107. tetapi dengan perantaraan seorang sahabat yang tidak disebut namanya”. Tirmidzi 1/203. Darimi 2/137. Ibnu Abi Syaibah 4/131. Hassan. Zuhair bin Muawiyah dan Qais bin Rabi‟ dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi secara bersambung. Hassan.

Israil bin Yunus adalah terpercaya. Hasan al-Bashri. Abdullah bin Abbas. seorang yang mengerti ilmu hadits tidak akan meragukan tentang keabsahan hadits ini. Hal ini merupakan pendapat Umar. FIQIH HADITS[21] Berangkat dari hadits-hadits di atas. Ali. Lantas. sebenarnya hati ini masih berkeinginan untuk memaparkan hadits-hadits lainnya. Saudaraku. Oleh karena itulah sejumlah para ulama telah menilai hadits ini shahih. Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli sebagaimana diceritakan al-Hakim dan beliau juga menshahihkan serta disetujui oleh adz-Dzahabi. dan Ishaq”. Abdullah bin Mubarak. Ibnu Syubrumah. bagaimana kiranya apabila digabungkan dengan riwayat-riwayat lainnya??!! Kesimpulan. dan juga Bukhari sebagaimana diceritakan Ibnu Mulaqqin dalam al-Khulashah 2/143”. Syafi’I. yaitu fiqih hadits ini. Cukuplah kiranya hal itu sebagai hujjah yang kuat. maka mayoritas ulama berpendapat seperti kandungan hadits tersebut. di muka tadi kami menerjemahkan (tidak sah pernikahan seorang kecuali dengan wali). namun sepertinya kita cukupkan sampai sini dulu karena kita harus berpindah kepada point penting lainnya. A. Aisyah dan sebagainya. Ini pula pendapat Sa’id bin Musayyib. dia berkata: Saya mendengar Bukhari pernah ditanya tentang hadits Israil dari Abi Ishaq dari Abu Burdah dari ayahnya dari Nabi “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali”. hadits pembahasan ini adalah shahih dengan tiada keraguan di dalamnya. karena dzahir sanadnya adalah shahih. al-Auza’I. ucapan Tirmidzi bahwa riwayat yang lebih shahih adalah riwayat jama’ah dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari Abu Musa secara marfu adalah pendapat yang benar. Sekalipun Syu’bah dan Tsauri memursalkannya (menjatuhkan sahabat Abu Musa al-Asy’ari) namun hal itu tidak membahayakan hadits”. Hassan dalam Soal Jawabnya hal. Ahmad. Qotadah. 413 dari Muhammad bin Harun al-Makki. Al-Albani berkomentar dalam Irwaul Ghalil 6/238): “Tidak ragu lagi. Dengan demikian. dua sahabat Abu Hanifah[23]. dan sebagainya. Ibrahim an-Nakha’I. karena kalau kita artikan tidak sah nikah dengan tanpa wali niscaya berlawanan dengan beberapa hadits.  Imam al-Baghawi berkata: “Mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi dan sesudah mereka mengamalkan kandungan hadits “Tak sah pernikahan kecuali dengan wali”. Kembali kepada hadits pemabhasan. 254: “Hadits-hadits itu tidak boleh diartikan begitu. apalagi didukung oleh riwayat-riwayat lainnya yang masih banyak lagi[20]. Abdullah bin Mas’ud. maka beliau menjawab: “Tambahan dari orang yang terpercaya itu diterima. Terjemahan ini dikritik oleh Ustadz. Syuraih. Sufyan ats-Tsauri.[19]  Demikianlah ucapan Imam Bukhari. [22] Termasuk ulama yang berpendapat seperti itu juga adalah Imam Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan. B. Wallahul Muwaffiq. diantaranya:   . Ini pula pandapat Ibnu Abi Laila. Bahkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 9/187 menyebutkan dari Ibnu Mundzir bahwa tidak diketahui dari seorang sahabatpun yang menyelisihi hal itu[24].[18] Alangkah bagusnya apa yang diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hal. Umar bin Abdul Aziz. diantaranya adalah Ali bin Madini. Abu Hurairah.

Jadi apabila kita menjumpai dalam Al-Qur‟an dan sunnah peniadaan sesuatu. kemudian tidak sempurna. contohnya: “Tidak ada pencipta alam kecuali Allah”  Kalau ternyata yang ditiadakan itu wujudnya ada. Adapun terjemahan “tidak ada”. sebab selagi kita bisa mengartikannya dengan “tidak sah” maka kita tidak mengartikannya dengan “tidak sempurna”. maka pada asalnya bermakna “tidak ada” terlebih dahulu. Terlebih dahulu kita harus memahami sebuah kaidah yang populer di kalangan ulama bahwa nafi (peniadaan) itu pada asalnya bermakna tidak ada. karena kenyataan di dunia membuktikan bahwa ada sebagian wanita yang menikah tanpa wali. maka terjemahan hadits pembahasan “La Nikaha Illa bi Wali” yang paling tepat adalah kita terjemahkan “Tidak sah pernikan kecuali dengan wali”. . Kalau tidak mungkin diartikan demikian.  Di sini tidak mungkin diartikan “tidak sah” karena keimanan seorang tetap ada sekalipun dia tidak melakukan hal itu. kemudian tidak sah. lantaran suatu ibadah tetap sah tanpa adanya sesuatu tersebut. Contohnya: “Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah”  Di sini tidak mungkin diartikan “tidak ada” karena memang wujud shalat itu ada. Sedangkan terjemahan “tidak sempurna” inipun tidak tepat juga.  Kalau ada yang bertanya: Mengapa tidak diartikan “tidak ada” atau “tidak sempurna” saja?! Kami jawab: Tidak mungkin kita menerjemahkan seperti itu. maka sungguh tidak tepat sekali. Hassan -semoga Allah merahmatinya-: 1. [26] Berangkat dari kaidah di atas. bukan tidak sah.“Wanita janda lebih lebih berhak dengan dirinya daripada walinya”. [25] Kami jawab dengan tidak mengurangi penghormatan saya dan pengakuan saya terhadap ilmu Ustadz A. maka kita artikan “tidak sah”. Contohnya hadits: “Tidak sempurna iman seorang sehingga dia mencintai saudaranya apa yang dia cinta untuk dirinya”. maka kita artikan tidak sempurna.

Berarti wali itu punya hak yaitu dalam akad dan wanita juga punya hak yaitu izin dan keridhaannya. bukan masalah melangsungkan akad pernikahan. Hal ini sangat jelas sekali apabila kita mengamati hadits ini secara lebih sempurna: : Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi bersabda: “Wanita janda itu lebih berhak tentang dirinya daripada walinya. Hassan itu tidak jelas menunjukkan bahwa wanita janda boleh menikah tanpa wali. tetapi maksudnya adalah bahwa wanita janda itu tidak boleh dinikahkan sehingga dia diajak musyawarah dan dimintai pendapatnya serta dijelaskan perkaranya sejelas mungkin. Apalagi secara tegas dalam hadits Aisyah dinyatakan “maka nikahnya batil. maka hal ini sangat lemah sekali ditinjau dari beberapa segi: a. adapun hadits yang dibawakan oleh Ustadz A.karena inilah dzahir lafadz hadits dan urutan yang lebih pertama. Dengan demikian dapat kita padukan . dan wanita gadis dimintai izin. dan anak gadis tidak dinikahkan sehingga dimintai izin”. Hassan untuk merubah makna hadits ini. Lantas bagaimana kita akan mengatakan sah padahal Nabi mengatakan batil alias tidak sah?!  Jadi. batil”. tidak boleh hanya cukup dengan pendapat dan pandangan wali saja. kita mengartikannya dengan “tidak sah” sampai ada dalil yang menunjukkan tentang sahnya pernikahan tanpa wali. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Wanita janda tidak dinikahkah sehingga diajak musyawarah. dan izinnya adalah diamnya”. : . Adapun dalil yang digunakan oleh Ustadz A. Maka bagaimana mungkin kita meninggalkan dalil yang jelas karena dalil yang tidak jelas?! b. batil. Kedua: Perlu diketahui bahwa lafadz “dia lebih berhak” menunjukkan bahwa kedua-duanya memiliki hak. Mereka bertanya: Wahai rasulullah! Bagaimana izinnya? Dia menjawab: “Diamnya”. Jawaban atas hadits ini ditinjau dari dua segi: Pertama: Maksud hadits ini bukan berarti wanita janda boleh menikah tanpa wali.[27] 2.  Jadi nampak jelaslah bagi kita bahwa pembicaraan hadits ini berkaitan tentang izin dan keridhaan wanita. . Hadits pembahasan kita adalah hadits yang muhkam dan jelas sekali. hanya saja wanita janda lebih berhak daripada walinya karena tidak mungkin bagi wali untuk menikahkannya kecuali setelah ridhanya.  Hadits ini selaras dengan hadits-hadits lainnnya seperti: : : .

kecuali para ahli fiqih Hanafiyyah dan yang mengekor kepada mereka. Saya menghimbau kepada para ulama dan tokoh Islam di setiap negeri dan tempat untuk mengkaji ulang tentang masalah krusial ini dan kembali kepada perintah Allah dan rasulNya berupa persyaratan wali dalam nikah sehingga dengan demikian para wanita akan terselamatkan dari mara bahaya yang menghadang mereka”. NASEHAT DAN SERUAN  Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Tidak diragukan lagi oleh seorangpun yang menggeluti ilmu hadits bahwa hadits “Tidak sah pernikahan tanpa wali” adalah hadits yang shahih dengan sanad-sanad yang hampir mencapai derajat mutawatir ma’nawi yang pasti maknanya.  Akhirnya. sehingga menjadikan pernikahan kebanyakan para wanita yang menikah tanpa wali adalah bathil dan merusak nasab. yakni si wanita lebih berhak dalam masalah izin dan tidak sah pernikahan kecuali dengan wali dalam akad. Bagi ulama pendahulu. demikianlah keterangan singkat tentang pembahasan ini. Hal itu merupakan pendapat mayoritas ulama dan didukung oleh fiqih Al Qur’an. semoga dapat menghilangkan kesamaran dan membuat terang kebenaran. Rawi hadits tersebut adalah sahabat Abdullah bin Abbas. C. 2. sehingga harapan kami kepada sebagian saudara kami yang masih berpemahaman salah untuk mengkaji lagi masalah ini dan . [28] c. mereka masih memiliki udzur karena ada kemungkinan belum sampai hadits ini kepada mereka. karena memang tugas wali hanyalah melangsungkan akad pernikahan dan tidak boleh baginya untuk menikahkan kecuali dengan izin si wanita”. [30]   D. mereka telah dibutakan oleh fanatik madzhab sehingga serampangan dalam melemahkan hadits atau memalingkan artinya tanpa alasan yang kuat. Kenyataan yang dapat kita saksikan pada kebanyakan negera muslim yang berpegang pada madzhab Hanafiyyah dalam masalah ini adalah kerusakan akhlak dan kehormatan. KESIMPULAN DAN PENUTUP Kesimpulan pembahasan ini ada dalam dua point berikut: 1. Dan kita tahu semua sebuah kaidah “perawi itu lebih mengerti tentang maksud riwayat yang dia bawakan”. tetapi bagi orang belakangan. tidak ada yang menyelisihi hal ini –sepengatahuan saya. sedangkan pendapat beliau adalah mengatakan tidak sah pernikahan kecuali dengan wali[29]. Hadits pembahasan adalah shahih dengan tiada keraguan di dalamnya.  Ibnul Jauzi berkata dalam At-Tahqiq 8/292: “Adapun hadits (Ibnu Abbas). Wali adalah syarat sah sebuah pernikahan dan tidak sah pernikahan tanpa wali.antara keduanya. maka Nabi menetapkan bagi si wanita sebuah hak dan menjadikannya lebih berhak daripada wali.

. Lantas kenapa kita tidak menerapkan kaidah-kaidah ini. tetapi kami juga menyadari bahwa kebenaran adalah di atas segalanya sehingga tidak menutup pintu kritik terhadap pendapatnya.com .kembali kepada jalan kebenaran. [31]Dahulu juga pernah dikatakan: Tidak semua perselisihan itu dianggap Kecuali perselisihan yang memiliki kekuatan dalil.  Kami menyadari bahwa beliau dalam hal ini telah berusaha semaksimal mungkin mencari titik kebenaran dan kami juga menyadari bahwa beliau dalam hal ini mengikuti pendapat sebagian ulama sebelumnya. tetapi pendapat itu memiliki arti tatkala tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan sunnah.[32] . dan tidak ada yang ma’shum dari kesalahan selain Rasulullah. malah menerapkan pendapat-pendapat yang menyelisihi sunnah?!”.dalam Soal Jawab-nya hal. Semua kaidah ini telah diketahui bersama. Tidak ada ijtihad apabila ada nash. Apabila ada dalil gugurlah logika. Hassan -semoga Allah merahmatinya. 262: “Kalau ada keterangan kuat yang dapat merubah pendirian itu. saya tidak akan mundur untuk menerimanya”. Semua kita membaca dalam kitab-kitab ushul ucapan para ulama:  Apabila ada dalil maka gugurlah pendapat. Kita tutup pembahasan ini dengan ucapan Syaikh al-Albani: “Kenapa pendapat yang sesuai dengan hadits shahih ini ditinggalkan hanya karena pendapat salah seorang dari imam kaum muslimin?! Benar. Alangkah bagusnya ucapan Ustadz A. kita menghargai pendapat para imam. Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi abiubaidah.

yang benar sanad hadits ini adalah hasan dan bisa naik kepada shahih karena adanya beberapa penguat lainnya. Syaikh Muflih bin Sulaiman ar-Rusyaidi juga memiliki buku khusus tentang hadits ini berjudul “At-Tahqiq Al-Jali li Hadits La Nikaha Illa biwali”. karena penelitian menunjukkan bahwa telah shahih juga dari riwayat sahabat yang lain. 407 oleh Syaikh Umar bin Badr al-Mushili alHanafi dan Bada‟I Shana‟I‟ 2/371 oleh al-Kasani. [5] Lihat Al-Mabsuth 3/10 as-Sarakhsi. [10] Lihat Ilal Hadits 1/408 Ibnu Abi Hatim. Mesir. [14] Sekali-kali tidak. [12] Lihat pula Al-Muhalla Ibnu Hazm 9/453 dan at-Tahqiq Ibnul Jauzi 8/273). Sulaiman bin Musa bukanlah rawi Imam Bukhari. al-Kamil Ibnu Adi 3/1115. 399-400. (Faedah): Al-Hafizh Syarafuddin ad-Dimyathi memiliki buku khusus tentang jalur-jalur hadits ini sebagaimana disebutkan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhis Habir 3/156. [9] Diantaranya adalah Imam ath-Thahawi dalam Syarh Ma‟ani Atsar 3/8. [6] Bahasan ini juga sekaligus melengkapi makalah yang pernah ditulis oleh akhuna wa ustadzuna Abu Yusuf Ahmad Sabiq “Nikah Sirri Dalam Timbangan Syar‟I” yang dimuat dalam Majalah Al Furqon edisi 12/Th. [13] Ucapan Imam Yahya bin Ma. [3] Adab Thalab hal. . [4] Lihat Al-Mughni Anil Hifdzi wal Kitab hal. 407-418 oleh Abu Ishaq al-Huwaini dengan beberapa tambahan.[1] Al-Jami‟ li Akhlaq Raw wa Adab Sami‟i. cet Darul Kutub Ilmiyyah. [2] Shaidul Khathir hal. cetakan Muassasah Qurthubah. (Irwaul Ghalil alAlbani 6/246). 3 [7] Diramu dari Irwaul Ghalil 6/243/1840 oleh al-Albani dan Junnatul Murtab hal. al-Khathib al-Baghdadi2/211. at-Talkhis Habir Ibnu Hajar 3/157. 71. [11] at-Talkhis Habir Ibnu Hajar 3/157). Dan sebagian penulis hadits masa kini. [8] Lihat perincian takhrij riwayat-riwayat ini dalam risalah “At-Tahqiq al-Jaliy li Hadits Laa Nikaha „Illa bi Wali” oleh Syaikh Muflih bin Sulaiman –semoga Allah membalas kebaikan padanya-. hanya saja riwayat Aisyah ini adalah riwayat yang paling shahih.in dan Ibnu Hazm di atas tidak sepenuhnya benar.

157-158. Faidhul Qadir al-Munawi 6/4371. 70 oleh al-Hafizh Ibnu Hajar. tahqiq Samir az-Zuhairi. [18] Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 9/345 menukil dari al-Marrudzi: Saya bertanya kepada Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma‟in tentang hadits “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali”. bahkan sebagian ulama menilainya mutawatir seperti as-Suyuthi seebagaimana dinukil oleh al-Munawi dalam Faidhul Qadir 6/437 dan al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. Wallahu A‟lam. al-Baihaqi. Dhiya‟ dan banyak ahli hadits sebagaimana dalam Subulus Salam ash-Shan‟ani 6/26. Talkhis Habir Ibnu Hajar 3/1173-11735. (Al-Mughni 9/347 Ibnu Qudamah). [20] Lihat Sunan Kubra al-Baihaqi 7/107. Saya berkata: Dan dishahihkan juga oleh Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi dalam kitabnya Ikhtilaf Ulama hal. 121. [19] Al-Hafizh adz-Dzahabi juga berkata dalam Siyar Nubala‟ 7/359: “Saya lebih condong mendahulukan Israil pada riwayat kakeknya daripada Syu‟bah dan Tsauri. karena seorang pezina dengan amat mudahnya nanti akan mengatakan kepada wanita: “Nikahilah aku dengan sepuluh dirham” dan saksinya adalah kedua temannya!! (I‟lam Muwaqqi‟in Ibnu Qayyim 5/59). [17] Lihat pula Bulughul Maram hal. Disamping ilmu dan hafalannya yang kuat. [16] Irwaul Ghalil 6/246). [21] Lihat faedah-faedah hadits ini dalam Ma‟alim Sunan al-Khothobi 3/196-197 [22] Syarh Sunnah 9. beliau menguatkan riwayat Israil ini ditinjau dari lima segi. Irwaul Ghalil al-Albani6/235-243. Kemudian saya mendapati keterangan Imam Ibnu Qayyim yang sangat bagus dalam Tadzib Tahdzib 6/74 -Aunul Ma‟bud-. Muslim 1421 [26] Syarh Mumti‟ 1/158-159 oleh Ibnu Utsaimin). [25] HR. an-Nawawi dalam Syarh Muslim 9/208. At-Tanqih Ibnul Jauzi 8/270-290. Nasbur Rayah azZailai‟I 3/341-349. cet kedua. sebab Israil adalah kepercayaan kakeknya. bukan perawi Bukhari Muslim. lalu keduanya menjawab: Shahih”. Walhamdulillah. [24] Adapun hikmah dari syarat wali nikah bagi wanita adalah menjaga kaum wanita karena mereka mudah tertipu oleh kaum lelaki.[15] Ibnu Abdil Hadi membantah dalam At-Tanqih 3/261 bahwa Sulaiman rawi yang hasan. beliau juga orang yang khusyu‟ dan shalih”. [27] Lihat I‟lam Muwaqqi‟in Ibnu Qayyim 6/175. . Subulus Salam ash-Shan‟ani6/27.40-41. [23] Syarh Ma‟ani Atsar ath-Thhawi 3/7. Diantara hikmahnya juga adalah untuk membendung jalan perzinaan. Junnatul Murtab Abu Ishaq al-Huwaini 418-429. Syarh Mumti‟ Ibnu Utsaimin2/70).

seringkali dijumpai pernikahan yang dilaksanakan tanpa kehadiran wali dan ataupun saksi. Pernikahan dianggap sah bila memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. 25. namun aturan teknis bagaimana suatu perkawinan yang sah hanya dijelaskan oleh hadith. hukum Islam mengatur penyaluran kebutuhan biologis tersebut melalui satu-satunya cara yang dilegalkan oleh al-Qur‟an dan Hadith. yakni pernikahan. Keseluruhan hukum-hukum tersebut tak lain bersumber dari dua teks utama. wali. tidak semua pernikahan dilaksanakan sesuai dengan tata aturan yang telah digariskan. Untuk itu. Pendahuluan Islam telah menetapkan hukum-hukum yang harus dipatuhi oleh para pemeluknya. Pernikahan Tanpa Wali dan atau Saksi BAB I A. Beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam nikah diantaranya ialah adanya pria dan wanita sebagai mempelai. [30] Umdah Tafsir 2/123 [31] Ath-Thasfiyah wa Tarbiyah hal. Subulus Salam ash-Shan‟ani 6/37. Entah dengan alasan apa. Dalam realitasnya. mahar. Syarh Shahih Muslim Nawawi 9/208. Baik itu berupa larangan yang harus dijauhi maupun perintah yang harus dilaksanakan. . [32] Ucapan Abul Hasan bin al-Hashshar dalam qashidahnya tentang surat makiyah dan madaniyah di kitabnya An-Nasikh wal Mansukh. Ketentuan tentang pernikahan banyak dimuat dalam al-Qur‟an dan hadith. Islam mengakui bahwa manusia memiliki hasrat yang besar untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya (seks). yakni al-Qur‟an dan Sunnah Nabi. saksi dan akad (ijab qabul). [29] Lihat Mu‟jam Kabir ath-Thabrani 12483. Lihat Al-Itqan fi Ulum Qur‟an 1/24 oleh alHafizh as-Suyuthi.[28] Lihat pula Al-Hawi Al-Kabir al-Mawardi11/65.

(3). Penjelasan tentang makna hadith. (6). Rumusan Masalah 1. Bagaimana hukum pernikahan tanpa wali dan saksi 2.(7). Paparan hadith dari jalur lain. B. Penjelasan mengenai syakl dan kata yang sulit dipahami. Sunan al-Daruqutni dan Shahih Ibnu Hibban. diantaranya kitab Sunan Kubra li al-Baihaqi. Penulisan teks hadith dan terjemahannya. (5). Tarjih BAB II A. Pendapat ulama tentang masalah terkait. Sistematika Pembahasan Adapun untuk sistematika pembahasannya. (4).Untuk itu. Secara rinci. Adapun yang dijadikan hadith utama dalam makalah ini adalah hadith yang termuat dalam Sunan al-Daruqutni bab ”Nikah” dengan redaksi sebagai berikut: ٍُْ‫زذثََُا أَتُٕ رر أَزًذ تٍُْ يسًذ تٍ أَتِٗ تَكر زذثََُا أَزًذ تٍُْ انسطٍٛ تٍ عثَّاد انَُّطائِٗ زذثََُا يسًذ ت‬ ُ َّ َ ُ َّ َ ُّ َ َُ ْ َّ َ ٍ ْ ُ َ ْ ٍّ َ َّ َ ٍ َ ِ ْ ِ َْ ُ ْ ِ ْ ِ َّ َ ُ َّٛ‫َٚسٚذ تٍ ضَُاٌ زذثََُا أَتِٗ عٍَْ ْشَاو تٍ عُرٔجَ عٍَْ أَتِّٛ عٍَْ عائِشحَ لَانَدْ لَال رضٕل َّللاِ طهَّٗ َّللاُ عه‬ َّ َ ٍ ِ ِ ْ َ ِ َ َ َ َّ ُ ُ َ َ ِ ْ َ َّ ِ َ ْ ِ ْ ِ ِ [1]»‫ٔضهَّى « َلَ َِكاذ إَِل َّ تِٕنِٗ ٔشَاْذٖ عذل‬ َ َ ٍ ْ َ ْ َ ِ َ ٍّ َ َ َ َ . Musnad al-Shafi‟i. penulis mempergunakan metode ketiga dari enam metode yang ditawarkan oleh Dosen Pembimbing. Mu‟jam al-Ausat} li al-Tabrani. sistematika pembahasan hadith dalam makalah ini meliputi: (1). melalui makalah ini penulis mencoba untuk menelaah hukum pernikahan yang dilaksanakan dengan tanpa kehadiran wali dan atau saksi berdasarkan teks-teks hadith yang mengatur teknis pelaksanaan pernikahan. Teks Hadith Hadith yang memuat keterangan tentang pernikahan tanpa wali dan atau saksi dapat dijumpai dalam beberapa kitab. (2). Penjelasan mengenai kualitas sanad dan matan hadith. Siapa yang berhak menjadi wali dan saksi dalam pernikahan C. Mu‟jam al-Kabir li alTabrani.

‫‪“ Abu Dhar Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bercerita kepadaku dari Ahmad bin Husain bin‬‬ ‫‪‟Abbad al-Naaiy dari Muhammad bin Yazid bin Sinan dari ayahnya dari Hisham bin ‟Urwah dari‬‬ ‫‪ayahnya dari ‟Aishah: ‟Aishah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Tidak ada nikah tanpa‬‬ ‫.« َلَ َِكاذ إَِلَّ تِٕنِٗ ٔشَاْذٖ عذل فَئٌِْ ذَشَاخرٔا فَانطهطَاٌُ ٔنِٗ يٍْ َلَ ٔنِٗ نَ‬‫َ َّ ُّ‬ ‫َ ُ‬ ‫َ َ‬ ‫َ ٍّ َ ِ َ ْ َ ْ ٍ‬ ‫َ ُّ َ‬ ‫»‬ ‫زذثََُا يسًذ تٍُْ يخهَذ زذثََُا أَتُٕ ٔاثِهَحَ انًرٔزٖ عثذ انرزًٍ تٍُْ انسطٍٛ يٍْ ٔنَذ تِشر تٍ انًسرَفِس‬ ‫َ ْ ٍ َ َّ‬ ‫َ َّ ُ َ َّ ُ‬ ‫َ‬ ‫ْ ُ َْ ِ ِ َ ِ ْ ِ ْ ِ ُْ ْ ِ‬ ‫ْ َ ْ َ ِ ُّ َ ْ ُ َّ ْ َ ِ‬ ‫زذثََُا انستَٛر تٍُْ تَكار زذثََُا خانِذ تٍُْ انٕضاذ عٍَْ أَتِٗ انسظٛة عٍَْ ْشَاو تٍ عُرٔجَ عٍَْ أَتِّٛ عٍَْ‬ ‫َ ُ‬ ‫َّ ٍ َ َّ‬ ‫َ َّ‬ ‫ُّ ْ ُ‬ ‫ِ‬ ‫ْ َ ِ ِ‬ ‫ِ ِ ْ ِ ْ َ‬ ‫ْ َ َّ ِ‬ ‫َ َ ُ ُ َّ‬ ‫عائِشحَ لَانَدْ لَال رضٕل َّللاِ -طهٗ َّللا عهّٛ ٔضهى. Sunan Kubra li al-Baihaqi‬‬ ‫ٔأخثرَا أتٕ انفرر يسًذ تٍ عثذ َّللا انرٚص تانرٖ ثُا خعفر تٍ عثذ َّللا تٍ ٚعمٕب ثُا يسًذ تٍ‬ ‫ْارٌٔ ثُا أتٕ كرٚة ثُا أتٕ خانذ اَلزًر ٔعثٛذ تٍ زٚاد انفراء عٍ زداج عٍ زظٍٛ عٍ انشعثٗ‬ ‫عٍ انسارز عٍ عهٗ رضٗ َّللا عُّ لال َل َكاذ اَل تٕنٙ َٔل َكاذ اَل تشٕٓد ، رٔاِ ٚسٚذ تٍ ْارٌٔ‬ ‫عٍ زداج ٔلال َل َكاذ اَل تٕنٙ ٔشاْذ٘ عذل‬ ‫أخثرَا) أتٕ َظر عًر تٍ عثذ انعسٚس تٍ عًر تٍ لرادج أَثأ أتٕ عهٗ زايذ تٍ يسًذ انرفاء انٓرٔ٘‬ ‫ثُا أتٕ يسًذ عثذ َّللا تٍ ازًذ تٍ زًاد انمٕيطٗ ثُا عثذ انرزًٍ تٍ َٕٚص ثُا عٛطٗ تٍ َٕٚص عٍ‬ ‫اتٍ خرٚح عٍ ضهًٛاٌ تٍ يٕضٗ عٍ انسْر٘ عٍ عرٔج عٍ عائشح لاند لال رضٕل َّللا طهٗ َّللا‬ ‫عهّٛ ٔضهى َلَكاذ اَل تٕنٙ ٔشاْذ٘ عذل فاٌ اشردرٔا فانطهطاٌ ٔنٗ يٍ َلٔنٗ نّ فاٌ َكسد‬ ‫فُكازٓا تاطم‬ ‫)‪2.”‪wali dan dua saksi yang adil‬‬ ‫‪B.‪atas.« َلَ َِكاذ إَِلَّ تِٕنِٗ ٔشَاْذٖ عذل ٔأًَُّٚا ايرأَ‬ ‫َ ٍ َ َ َ ُ ُ َّ‬ ‫َ ٍّ َ ِ َ ْ َ ْ ٍ َ َ ْ َ ج‬ ‫ٍ‬ ‫َ َ‬ ‫ْ َ َ َ َ ٌّ َ ْ ُ‬ ‫أََكسٓا ٔنِٗ يطخٕطٌ عهَّٛ فَُِكازٓا تَاطم »‬ ‫َ ْ ِ َ ُ َ ِ ٌ‬ ‫زذثََُا أَتُٕ زايذ يسًذ تٍُْ ْارٌٔ انسضريٗ زذثََُا ضهًَٛاٌُ تٍُْ عًر تٍ خانِذ انرلِّٗ زذثََُا عٛطٗ تٍُْ‬ ‫ُ َ َ ْ ِ َ ٍ َّ ُّ َ َّ‬ ‫َ ُ َ ْ َ ْ َ ِ ُّ َ َّ‬ ‫َ ِ ٍ ُ َ َّ ُ‬ ‫َ َّ‬ ‫ِ َ‬ ‫ُ َْ‬ ‫َ َ ُ ُ َّ‬ ‫َ َ‬ ‫ُ ْ َ َ ْ ِ ُ َ َ ِ ُّ ْ ِ ِّ‬ ‫َُُٕٚص عٍ اتٍ خرٚح عٍَْ ضهًَٛاٌ تٍ يٕضٗ عٍ انسْرٖ عٍَْ عُرٔجَ عٍَْ عائِشحَ لَانَدْ لَال رضٕل َّللاِ‬ ‫ْ َ‬ ‫َ َ ِ ْ ِ ُ َْ ٍ‬ ‫ُّ ْ‬ ‫طهٗ َّللا عهّٛ ٔضهى. namun dengan redaksi atau periwayat yang berbeda‬‬ ‫‪1. Hadith Pendukung‬‬ ‫‪Hadith pendukung yang penulis paparkan di sini ialah hadith yang satu tema dengan hadith di‬‬ ‫.« َلَ تُذ فِٗ انُِّكاذ يٍْ أَرتَعح انٕنِٗ ٔانسٔج‬ ‫َّ‬ ‫َ َ‬ ‫َ ِ ِ‬ ‫ْ َ ٍ ْ َ ِّ َ َّ ْ ِ‬ ‫ٔانشَّاْذٍٚ »‬ ‫َ‬ ‫َِْ ِ‬ . Sunan al-Daruqutni (bab Nikah‬‬ ‫زذثََُا عهِٗ تٍُْ أَزًذ تٍ انٓٛثَى انثَسار ٔيسًذ تٍُْ خعفَر انًطٛرٖ لَاَلَ زذثََُا عٛطٗ تٍُْ أَتِٗ زرب زذثََُا‬ ‫َ ْ ٍ َ َّ‬ ‫َ َّ‬ ‫ْ َ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ ْ َّ ُ َ ُ َ َّ ُ‬ ‫َ َّ‬ ‫َ ْ ٍ ْ َ ِ ِ ُّ‬ ‫ِ َ‬ ‫َ ُّ‬ ‫َٚسَٛٗ تٍُْ أَتِٗ تُكٛر زذثََُا عذٖ تٍُْ انفَضم عٍَْ عثذ َّللاِ تٍ عُثًاٌ تٍ خثَ‬ ‫ْ‬ ‫َ ْ ِ َّ ْ ِ ْ َ َ ْ ِ ُ‬ ‫ٛى عٍَْ ضعٛذ تٍ خثَٛر عٍ اتٍ‬ ‫َ ْ ٍ َ َّ‬ ‫ْ‬ ‫َ ِ ُّ‬ ‫ٍْ‬ ‫ْ ِ‬ ‫َِ ِ ْ ِ ُ ْ ٍ َ ِ ْ ِ‬ ‫عثَّاش لَال لَال رضٕل َّللاِ -طهٗ َّللا عهّٛ ٔضهى.

Sunan al-Tirmidzi (bab Nikah tanpa wali‬‬ ‫ُْ‬ ‫زذثََُا َضفَٛاٌُ انثَّٕر٘ عٍَْ اتٍ خرٚح عٍَْ ضهًَٛاٌ تٍ يٕضٗ عٍَْ انسْر٘ عٍَْ عُرٔجَ عٍْ عائِشحَ أٌََّ‬ ‫َ َّ‬ ‫ْ َ َ َ َ‬ ‫ُّ ْ ِ ِّ‬ ‫ْ ِ ُّ‬ ‫ُ َْ َ ْ ِ ُ َ‬ ‫ْ ِ ُ َْ ٍ‬ ‫رضٕل َّللاِ طهَّٗ َّللاُ عهَّٛ ٔضهَّى لَال أًَُّٚا ايرأَج ََكسدْ تِاٛر إِرْ‬ ‫َ ْ ِ ٌ ٔنِِّٛٓا فَُِكازٓا تاطم فَُِكازٓا تَاطم‬ ‫ِ َ َ َ ُ َ َ ِ ٌ َ ُ َ‬ ‫َّ َ ْ ِ َ َ َ َ َ ْ َ ٍ َ َ‬ ‫َ ُ َ َّ َ‬ ‫ِ ٌ‬ ‫ُّ ْ‬ ‫فَُِكازٓا تَاطم فَئٌِْ دخم تِٓا فَهَٓا انًٓر تًِا اضرَسم يٍْ فَرخٓا فَئٌِْ اشرَدرٔا فَانطهطَاٌُ ٔنِٙ يٍْ ََل ٔنِٙ‬ ‫ْ َ ُ‬ ‫َ َ َ َ َ ْ َ ْ ُ َ ْ َ َّ ِ ْ ِ َ‬ ‫َ َّ‬ ‫َ ُ َ ِ ٌ‬ ‫َ ُّ َ‬ ‫ُ‬ ‫نَُّ‬ ‫)‪6. Sunan Ibnu Majah‬‬ ‫زذثََُا خًٛم تٍُْ انسطٍ انعرَكٙ زذثََُا يسًذ تٍُْ يرٔاٌ انعمَٛهِٙ زذثََُا ْشاو تٍُْ زطاٌ عٍَْ يسًذ تٍ‬ ‫َ ْ َ َ ْ ُ ْ ُّ َ َّ‬ ‫ْ َ َ ِ ْ َ ِ ُّ َ َّ ُ َ َّ ُ‬ ‫َ َّ‬ ‫َ َّ َ‬ ‫ُ َ َّ ِ ْ ِ‬ ‫ِ َ ُ‬ ‫َ ِ ُ‬ ‫ضٛرٍٚ عٍَْ أَتِٙ ْرٚرجَ لَال لَال رضٕل َّللاِ ص و ََل ذُسٔج انًرأَجُ انًرأَجَ ٔ ََل ذُسٔج انًرأَ‬ ‫َ َ َ ُ ُ َّ‬ ‫َ ِّ ُ ْ َ ْ ْ َ ْ َ َ ِّ ُ ْ َ ْ جُ ََفطٓا فَئٌَِّ‬ ‫ِ ِ َ‬ ‫ْ َ َ‬ ‫ََُْ‬ ‫َّ‬ ‫انساََِٛحَ ْٙ انَّرِٙ ذُسَ ٔج ََفطٓا‬ ‫ِّ ُ ْ َ َ‬ ‫ِ َ‬ . Sunan al-Tirmidzi (bab Nikah tanpa saksi‬‬ ‫زذثََُا ُٕٚضفُ تٍُْ زًاد انثَظر٘ زذثََُا عثذ اْلَعهَٗ عٍَْ ضعٛذ عٍَْ لَرَادجَ عٍَْ خاتِر تٍ زٚذ عٍَْ اتٍ‬ ‫َُْ ْ ْ‬ ‫َ َّ ٍ ْ ْ ِ ُّ َ َّ‬ ‫َ َّ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ ِ ْ ِ ٍَْ‬ ‫َِ ٍ‬ ‫ْ ِ‬ ‫عثَّاش‬ ‫َ ٍ‬ ‫َّ َ ْ ِ َ َ َ َ ْ َ‬ ‫َّ‬ ‫أٌََّ انَُّثِٙ طهَّٗ َّللاُ عهَّٛ ٔضهَّى لَال انثَااَٚا انَذِٙ ُُٚكسٍ أََفُطٍَّٓ تِاٛر تََُِّٛح‬ ‫ْ ِ ْ َ ْ َ ُ َْ ِ ٍ‬ ‫َّ َ‬ ‫)‪5.‫‪3. Mu‟jam al-Kabir li al-Tabrani‬‬ ‫َ ْ ِ َّ‬ ‫زذثََُا إِضساق تٍ إِتراْٛى انذتَر٘، عٍَْ عثذ انرزاق، عٍَْ عثذ َّللاِ تٍ يسرر، عٍَْ لَرَادجَ، عٍ انسطٍ،‬ ‫ْ َ ُ‬ ‫َ َّ‬ ‫ْ َ ِ َ َّ ِ ُّ‬ ‫ُ َ َّ ٍ‬ ‫َ َ ِ ْ َ َ ِ‬ ‫َ ْ ِ َّ َّ ِ‬ ‫عٍَْ عًراٌ تٍ زظٍٛ، أَ‬ ‫ُ َ ْ ٍ ٌَّ انَُّثِٙ طهَّٗ َّللاُ عهَّٛ ٔضهَّى، لَال:”َل َِكاذ إَِل تٕنٙ ٔشَاْذ٘ عذل‬ ‫ِ ْ َ َ‬ ‫َ َ‬ ‫َّ َ‬ ‫ِ َ ِ ٍّ َ ِ َ ْ َ ْ ٍ‬ ‫َ‬ ‫َّ َ ْ ِ َ َ َ‬ ‫)‪4. Shahih Ibn hibban‬‬ ‫أخثرَا عًر تٍ يسًذ انًٓذاَٙ يٍ أطم كراتّ، زذثُا ضعٛذ تٍ ٚسٛٗ تٍ ضعٛذ اْليٕ٘، زذثُا زفض‬ ‫تٍ غٛاز، عٍ تٍ خرٚح، عٍ ضهًٛاٌ تٍ يٕضٗ، عٍ انسْر٘، عٍ عرٔج، عٍ عائشح أٌ رضٕل‬ ‫َّللا لال: “ َل َكاذ إَل تٕنٙ ٔشاْذ٘ عذل، ٔيا كاٌ يٍ َكاذ عهٗ غٛر رنك فٕٓ تاطم، فئٌ‬ ‫ذشاخرٔا، فانطهطاٌ ٔنٙ يٍ َل ٔنٙ نّ‬ ‫‪7. Sunan Abu Daud (bab Wali‬‬ ‫زذثََُا يسًذ تٍُْ لُذايحَ تٍ أَعٍَٛ زذثََُا أَتُٕ عثَٛذجَ انسذَّاد عٍَْ َُُٕٚص ٔإِضرائِٛم عٍَْ أَتِٙ إِضسك عٍَْ أَتِٙ‬ ‫ُ َْ ْ َ ُ‬ ‫َ َ ْ ِ ْ َ َ َّ‬ ‫َ َّ ُ َ َّ ُ‬ ‫ْ َ َ‬ ‫َ َ ْ َ َ‬ ‫تُردجَ عٍَْ أَتِٙ يٕضٗ أٌََّ انَُّثِٙ طهَّٗ َّللاُ عهَّٛ ٔضهَّى لَ‬ ‫َّ‬ ‫َ ْ ِ َ َ َ ال ََل َِكاذ إِ ََّل تِٕنِٙ‬ ‫ْ َ‬ ‫َ َ‬ ‫َّ َ‬ ‫ُ َ‬ ‫َ ٍّ‬ ‫َ‬ ‫أخثرَا أتٕ انسطٍٛ تٍ انفضم انمطاٌ تثاذاد أَثأ عثذ َّللا تٍ خعفر تٍ درضرّٕٚ ثُا ٚعمٕب تٍ ضفٛاٌ‬ ‫ثُا اتٍ تشار ثُا عثذ انرزًٍ تٍ يٓذٖ عٍ ضفٛاٌ عٍ يسًذ تٍ خانذ عٍ رخم ٚمال نّ انسكى عٍ‬ ‫اتٍ عثاش لال َل َكاذ اَل تارتعح ٔنٗ ٔشاْذٍٚ ٔخاطة‬ ‫‪7.

Takhrij Hadith Takhrij hadith pada dasarnya adalah untuk mengetahui derajat keshahihan suatu hadith.[3] Berdasarkan redksi hadith. (4). (5). dapat diketahui bahwa hadith yang ditakhrij oleh al-Daruqutni memiliki mata rantai rawi (sanad) sebagai berikut: َ‫عَائِشح‬ َ َ‫عُرٔج‬ َ ْ ‫ْشاو تٍ عرٔج‬ ٌ‫أتٕ فرٔج ٚسٚذ تٍ ضُا‬ ٌ‫يسًذ تٍ ٚسٚذ تٍ ضَُا‬ ٍ ِ ِ ْ ‫أَزًذ تٍُْ انسطٍٛ تٍ عثَّاد‬ َُ ْ ٍ َ ِ ْ ِ َْ ُ ْ ‫زذثََُا أَتُٕ رر أَزًذ تٍُْ يسًذ تٍ أَتِٗ تَكر‬ ُ َ ْ ٍّ َ َّ َ ٍ ْ ِ ْ ِ َّ َ ُ َ‫زذثََُا أ‬ ِٗ‫َ َّ زًذ تٍُْ انسطٍٛ تٍ عثَّاد انَُّطائ‬ َُ ْ ٍ َ ِ ْ ِ َْ ُ ْ ُّ َ ِٗ‫زذثََُا يسًذ تٍُْ َٚسٚذ تٍ ضَُاٌ زذثََُا أَت‬ َّ َ ٍ ِ ِ ْ َ ِ ُ َّ َ ُ َّ َ َ‫عٍَْ ْشَاو تٍ عُرٔجَ عٍَْ أَتِّٛ عٍَْ عائِشح‬ َ َ ِ َ ْ ِ ْ ِ ِ ‫لَانَدْ لَال رضٕل َّللا طهَّٗ َّللاُ عهَّٛ ٔضهَّى‬ َ ِ َّ ُ ُ َ َ َ َ َ ِ ْ َ َّ »‫« َلَ َِكاذ إَِلَّ تِٕنِٗ ٔشَاْذٖ عذل‬ َ َ ٍ ْ َ ْ َ ِ َ ٍّ َ . Rawinya dhabit. (2). rawinya ‟adil. tempat tingalnya. Berdasarkan kesepakatan muhaddithin.[2] Langkah pertama dalam penelitian hadith adalah dengan mengetahui biografi dan kredibilitas masing-masing perawi hadith untuk menentukan status ketersambungan sanadnya. yakni: (1) al-musnad (bersambung sanadnya). Bebas dari syadh. bebas dari „illat. yakni: tahun kelahiran dan wafat antar rawi. kriteria keshahihan hadith ada lima. Subhi Shalih menyebutkan bahwa ittishal al-sanad dapat diteliti dengan membandingkan beberapa hal.C. hubungan guru murid dan pola tahammul dan ada‟nya. (3).

bahkan ia adalah salah satu istri Rasulullah. telah maklum bahwa ‟Aishah merupakan golongan sahabat. kredibiltas ‟Aishah sebagai rawi berdasarkan kesepakatan ulama[4] adalah thiqah dan adil. ‟Aishah Nama lengkapnya ialah ‟Aishah binti Abu Bakar al-S}iddiq dan bergelar umm al-Mu. Di antara guru ‟Urwah ialah: ‟Aishah binti Abu Bakar. Ia lahir pada masa awal kekhalifahan Uthman bin „Affan dan wafat pada tahun 94 H. ‟Urwah Rawi yang memiliki nama lengkap „Urwah bin Zubair bin al-‟Awam bin Khawailid al-Quraisy ini merupakan generasi wust}a min al-Tabi‟in dan bergelar Abu al-Madani. Aminah binti Abdullah dan Hasan Bashri. Dari segi thabaqatnya. Abdullah bin Dinar dan Sulaiman . Sedangkan muridnya antara lain: ‟Urwah bin Zubair.[5] 2. „Urwah yang selama hidupnya tingal di Madinah merupakan salah satu keponakan dari ‟Aishah binti Abu Bakar al-Shiddiq.1. Sebagai sahabat. Biografi Rawi 1. Diantara Guru ‟Aishah adalah: Rasulullah SAW. Sedangkan murid-muridnya antara lain: Hisham bin ‟Urwah.minin. ‟Aishah yang berasal dari bani Taimiyah wafat pada tahun 67 H. Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin alKhattab. Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Thabit.C.

lahir pada tahun 132 H dan wafat pada tahun 220 H. Yazid bin Sinan Nama lengkapnya ialah Yazid bin Sinan bin Yazid al-Tamimiy al-Jazary dan bergelar Abu Farwah. kritikus hadis menyebutnya sebagai rawi yang thiqah. Sedangkan muridnya ialah Waki‟ bin Jarah dan Muhammad bin Yazid bin Sinan. Muhammad bin Yazid Rawi yang tak lain putera dari Yazid ini memiliki nama lengkap Muhammad bin Yazid bin Sinan bin Yazid al-Amawiy dan bergelar Abu ‟Abdillah. Hisham bin ‟Urwah Putera dari ‟Urwah ini memiliki nama lengkap Hisham bin ‟Urwah bin Zubair bin al-‟Awam bin Khualid al-Asadi al-Quraisy dan bergelar Abu al-Mundhir. Sedangkan siapa saja yang pernah menjadi muridnya tidak tersebut dalam beberapa kitab.[6] 3. Semasa hidupnya ia tinggal di Baghdad. lahir pada tahun 79 H dan wafat pada tahun 155 H. ia pernah tinggal di Madinah dan kemudian berpindah ke Baghdad hingga wafatnya. ma‟mun. Khalid bin Harith dan Ubaidillah bin ‟umar. Sebagai seorang rawi. faqih. Ia termasuk kibar al-Atba‟.[9] 6.[7] 4. Terkait kredibilitasnya sebagai rawi hadith. Guru Hisham antara lain: ‟Urwah bin Zubair. Guru Muhammad berdasarkan beberapa referensi hanya ayahnya. Ahmad bin al-Husain‟Abbad . ia merupakan perawi yang dhaif. Muhammad yang hidupnya dihabiskan di Baghdad ini oleh kritikus hadith dianggap laisa bi al-qawiy (dhaif). Abdullah bin Zubair dan ‟Auf bin al-Harith. Di antara guru Yazid ialah: Abu al-Mubarak al-‟Ato‟ dan Mujahid bin Jabir. Dari thabaqatnya ia termasuk sughra min al-Atba‟. Adapun murid-muridnya antara lain: Abdullah bin Mu‟awiyah.bin Yassar.[8] 5. Semasa hidupnya. Kredibilitasnya sebagai rawi adalah thiqah dan hujjah. Sebagai rawi. yakni Yazid bin Sinan. Ia merupakan golongan sughra min al-tabi‟in dan wafat pada tahun 145 H. thabat.

Dalam konteks hadith ini. Abu Dharr Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr Penulis belum dapat melacak informasi mengenai Ahmad bin Muhammad. Sedangkan mulai Yazid bin Sinan hingga ‟Aishah redaksinya mempergunakan‟an ( yang berarti merupakan hadith mu‟an‟an. maka penulis menyimpulkan bahwa hadith tentang pernikahan tanpa wali dan saksi yang tersebut di atas merupakan hadith dhaif. statusnya sebagai rawi dianggap dhaif. Dari pola hubungan guru murid. Abu Dhar hingga Yazid bin Sinan mempergunakan model tahammul merupakan model penerimaan hadith yang paling tinggi. Lafadh yang menunjukkan bahwa antar perawi saling bertemu dan murid mendengar hadith langsung dari gurunya. C. Makna hadith ) . Berdasarkan data-data di atas. meskipun tanpa melakukan nalisa matan. Oleh karena itu. Dari referensi yang penulis peroleh.[11] b. bahkan ia juga tidak tercatat sebagai murid dari Muhammad bin Yazid. Kesimpulan Dari redaksi hadith dan informasi tentang biografi rawi di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: a. Yazid bin Sinan bukan termasuk muridnya Hisham bin ‟Urwah. Dari segi kemungkinan muashir dan kemungkinan liqa‟. Oleh karena itu.2. penggunaan dapat dianggap muttasil bila perawi merupakan perawi yang thiqah. telah diketahui bahwa sanad hadith tidak bersambung dan kredibilitas sebagian rawi masih diragukan. c. Sedangkan dua perawi terakhir majhul.Tidak diketemukan informasi apapun tentang rawi ini. antar perawi kecuali dua perawi terakhir masih dimungkinkan hidup semasa ataupun bertemu.[10] 7.[12] D. ia disebut dengan majhul.

E. Ada yang menyebut bahwa nafy tersebut hanya menunjukkan arti ketidaksempurnaan. redaksi hadith yang berbunyi menunjukkan arti bahwa tidak ada pernikahan tanpa adanya wali dan dua saksi yang adil. tidak sempurna berarti wali dan atau aksi bukan merupakan syarat sah. Dengan kata lain.Secara literal. Namun terkait dengan susunan lafadh yang nantinya berimplikasi pada konteks hukum. Mengingat bahwa keterangan wali dan saksi serta hukum keberadaan wali dan saksi dalam pernikahan dalam beberapa kitab dipisahkan. berarti tidak sah pernikahan. Dengan demikian. (janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya)[14] . Dengan demikian. Bentuk nafy pada kata mendapat interpretasi beragam dari ulama. 1. Pendapat Ulama Tentang Wali dan Saksi Nikah Sehubungan dengan masih beragamnya interpretasi tentang hadith di atas. maka demi menghindari kerancuan pembahasan hukum keberadaan wali dan saksi dalam makalah ini juga akan dipisahkan. Pendapat ini berdasarkan firman Allah: .[13] Ada juga ulama yang menginterpretasikan nafy pada sah dan tidaknya perbuatan. sehingga pernikahan yang tidak dihadiri wali dan atau saksi dihukumi sah. Dalam konteks hukum. bila nafy diinterpretasikan sebagai hakikat syari‟at. maka pernikahan yang dilaksanakan tanpa wali dan ataupun saksi adalah tidak sah. Wali Nikah Berdasarkan hadith utama di atas. Dalam konteks hukum. mayoritas ulama berpendapat bahwa wali merupakan syarat sah dalam suatu pernikahan. hadith di atas dapat diartikan ” Tidak sempurna pernikahan tanpa wali dan dua saksi yang adil”. wali dan atau saksi hanya sebatas disunnahkan. terdapat ihtilaf di antara ulama. ulama juga masih berbeda pendapat terkait hukum pernikahan tanpa adanya wali dan ataupun saksi.

Selain itu. Pendapat berbeda disampaikan oleh imam Abu Hanifah dan Abu yusuf yang menyatakan bahwa wali bukan merupakan syarat sah pernikahan[17]. maka pernikahan tetap diangap tidak sah. yakni bahwa bentuk nafy pada adalah ketiadaan dari kesempurnaan. namun ia tidak ada dan tidak mewakilkannya. hubungan badan yang dilakukan oleh wanita yang menikah tanpa wali dianggap merupakan perbuatan zina. keberadaan wali sebagai syarat sah pernikahan juga telah dijelaskan dalam beberapa hadith. Hal ini berarti apabila ada seorang wanita menikahkan dirinya sendiri dan wali sudah memberi izin. wanita diperbolehkan menikahkan dirinya sendiri ataupun anak perempuannya. Dengan demikian. maka yang berhak menjadi wali adalah Sultan (pihak yang berwenang). ayat yang dipergunakan sebagai dasar istimbath hukum kelompok kedua juga sama dengan kelompok pertama. yakni wali. kewenangan wanita untuk menikahkan dirinya tanpa wali juga dapat dipahami dari hadith yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibn ‟Abbas berikut: Adapun dari al-Quran. al-Daruqutni: . Tidak sahnya pernikahan tersebut tak lain adalah tidak terpenuhinya salah satu syarat sah nikah. Kemudian apabila ada seorang wanita yang hendak menikah namun tidak ada wali[16]. Abu Hanifah dan Abu yusuf menyandarkan pendapatnya pada ayat-ayat berikut: . misalnya hadith yang ditakhrij Abu Daud yang berbunyi . wewenang menikahkan wanita yang tidak ada walinya ialah hakim atau petugas KUA. Wali menurut pendapat kedua ini hanya merupakan sesuatu yang disunahkan.Imam al-Shafi‟i menyatakan bahwa ayat di atas merupakan petunjuk yang sangat jelas terkait wali dalam pernikahan.[15] Adapun esensi wali menurut ulama yang berpendapat wali sebagai syarat sah adalah kehadirannya dalam prosesi akad nikah. al-Tirmidzi: dan juga Ibnu Majah . Dengan berdasar dalil-dalil tersebut. Dalam konteks pernikahan di indonesia. Lebih jauh lagi. Selain itu. Pendapat ini berpegangan pada dalil yang sama namun dengan interpretasi berbeda. maka pernikahan yang dilaksanakan tanpa adanya wali diangap tidak sah. namun beda dalam menafsirinya.

Imam Malik menyatakan bahwa keberadaan saksi bukan merupakan keharusan. adanya hadith yang memerintahkan untuk memberitakan pernikahan. Allah dalam al-Qur‟an memerintahkan adanya saksi dalam jual beli. lalu habis masa iddahnya. Hadith tersebut adalah: َّ ُ ْ َ َُِٙ‫زذثََُا ْارٌُٔ تٍُْ يعرٔف لَال عثذ َّللاِ ٔضًعرُُّ أَََا يٍْ ْارٌٔ لَال زذثََُا عثذ َّللاِ تٍُْ ْٔة لَال زذث‬ َّ َ َ ٍ ْ َ َّ َ َ َ ُ َ ِ َّ َ ْ ِ َ َ َّ ْ َ َ ٍ ُ ْ َ ُ َ َّ ُ ْ َ ‫عثذ َّللاِ تٍُْ اْلَضٕد عٍَْ عاير تٍ عثذ َّللاِ تٍ انستَٛر عٍَْ أَتِّٛ أٌََّ انَُّثِٙ طهَّٗ َّللاُ عهَّٛ ٔضهَّى لَال‬ َ َّ ِ َِ ْ ْ ِ ْ ُّ ِ ْ َّ ِ ْ َ ِ ْ ِ ِ َ َ َ َ َ ِ ْ َ َّ ‫أَعهُُِٕا انُِّكاذ‬ ْ َ َ Adanya perintah Rasulullah untuk memberitakan pernikahan diangap merupakan esensi dari perintah adanya saksi. sedangkan saksi tidak diperintahkan dalam pernikahan[21]. maka (janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya)[19] َْ َ ْ ُ ْ َ َ ُ ‫فَئِرا تَهَاٍَ أَخهٍََّٓ فَََ خَُاذ عهَٛكى فًِٛا فَعهٍَ فِٗ أََفُطٍَّٓ تانًعرٔف‬ ُ َ ْ َ ِ ِ Kemudian apabila telah habis „iddahnya. apabila saksi bukan merupakan syarat dalam sah jual beli. 2. Abu Thaur dan madhhab Shiah menyatakan bahwa pernikahan dianggap sah dengan tanpa saksi. adanya saksi bukan merupakan syarat sah nikah. Dengan kata lain. maka saksi lebih tidak disyaratkan dalam pernikahan. . Oleh karena itu. Senada dengan imam Malik. Pendapat ini diambil setidaknya berdasarkan dua hal. bukan wali. sebab pada hakikatnya pernikahan adalah akad dan akad tidak memerlukan saksi[20]. melainkan cukup dengan diberitakan atau asal pernikahan tersebut sudah diketahui oleh khalayak. maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut Lafadh nikah pada dua ayat pertama menurut Abu Hanifah disandarkan pada wanita dan khitabnya menunjuk pada azwaj. Sedangkan berdasarkan ayat ketiga.[18] Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua). dapat dipahami dengan jelas bahwa suami bagi wanita adalah kewenangan mutak mereka. Kedua. analogi terhadap jual beli. Saksi Nikah Pada masalah saksi pernikahan. maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain Apabila kamu mentalak isteri-isterimu. Pertama.

Menurut mereka. Mendengar rangkaian kalimat akad dan memahaminya. namun kedua belah pihak sepakat meminta saksi untuk merahasiakan pernikahan mereka. akad pernikahan yang dilaksanakan tanpa saksi hukumnya adalah tidak sah. Menurut kriteria ini. saksi harus hadir ketika akad nikah. ulama Shafi‟iyah dan Hanabilah menyatakan bahwa saksi haruslah orang yang adil. Tujuan dari jual beli adalah harta benda. Adapun terkait dengan persyaratan adanya saksi dalam pernikahan. Islam. Berlawanan dengan imam Malik. dua pendapat di atas memiliki konsekuensi hukum berbeda. ulama sepakat memberikan kriteria bagi orang-orang yang dijadikan saksi sebagai berikut: (1). Sehubungan dengan kriteria bagi saksi nikah. Menurut pendapat kedua.melainkan hanya agar pernikahan tersebut diketahui oleh masyarakat. Akil balig. Apabila tujuan diketahui oleh khalayak tersebut telah terpenuhi.[28] . orang gila atau mabuk dan non Muslim tidak dapat diterima persaksiannya[26]. dan tidak cukup hanya dengan diberitakan saja[24]. Dalam konteks hukum. pernikahan tersebut dianggap tidak sah[25]. Berakal. status saksi sebagai seorang yang adil masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Oleh karena itu. Pendapat ini berdasarkan pada beberapa hadith yang telah secara jelas menyebutkan disyaratkannya saksi dalam nikah. meskipun makruh. maka saksi tidak lagi diperlukan[22]. anak kecil. Dengan demikian. Dengan demikian. Di antara hadith-hadith tersebut ialah: . (3). sedangkan tujuan pernikahan adalah memperoleh kenikmatan dan keturunan. maka pernikahan dianggap sah. maka ia juga berhak menjadi saksi. (4). sebagaimana tersebut dalam hadith . (2). Sebaliknya. dan Selain itu. Sedangkan menurut imam Malik. mayoritas[23] ulama menyatakan bahwa saksi merupakan syarat sah dalam pernikahan. pernikahan merupakan hal yang berbeda dengan jual beli. Ulama hanafiyah berpendapat bahwa saksi tidak harus orang yang adil[27]. apabila ada suatu pernikahan dengan dihadiri saksi. Siapapun yang berhak menjadi wali nikah. pernikahan dengan dua saksi yang fasiq dihukumi sah. harus dilakukan dengan hati-hati dengan cara menghadirkan dua saksi. .

penulis sepakat dengan pendapat yang menyatakan bahwa wali dan saksi merupakan syarat sah yang harus terpenuhi dalam pernikahan. maka penulis meyakininya sebagai hujjah. maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1.Terlepas dari status adil maupun tidak. Dengan kata lain. persaksian seorang laki-laki dan dua orang wanita tidak dapat diterima dalam pernikahan[29]. Sekalipun hadith utama dalam makalah ini merupakan hadith dhaif. 3. Dengan kata lain. madhhab Shafi‟i dan Hambali menyatakan bahwa dua orang yang menjadi saksi harus laki-laki.[30] F. Bagi wanita yang tidak memiliki wali. Hadith yang ditakhrij oleh al-Daruqutni dari ‟Aishah tentang pernikahan tanpa wali dan saksi adalah hadith dhaif. Pendapat ini berdasarkan pada hadith nabi: ”. Selain ulama Hanafiyah. juga sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah tertuang secara jelas dalam al-Qur‟an dan hadith nabi. . ulama sepakat bahwa wali merupakan syarat sah nikah. BAB III Kesimpulan Berdasarkan paparan sebelumnya. mayoritas ulama menyepakati bahwa saksi juga merupakan syarat yang menentukan dalam sah atau tidaknya pernikahan. penulis sependapat dengan pendapat dari ulama Shafi‟iyah an Hanabilah yang menyepakati bahwa wali dan saksi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam konteks keabsahan pernikahan. . Selain imam Malik dan madhhab Shi‟ah. Dengan demikian. Dengan demikian. namun berdasarkan hadith-hadith pendukung yang ada. 2. tidak sah hukumnya pernikahan tanpa adanya dua orang saksi. . maka yang menjadi walinya adalah hakim. pernikahan tanpa adanya saksi adalah tidak sah. Tarjih Terkait dengan ihtilaf ulama tentang keberadaan wali dan saksi dalam pernikahan. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa persaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan dalam pernikahan diperbolehkan. Hal tersebut selain sebagai suatu langkah hati-hati dalam melaksanakan ajaran agama. Pendapat ini berangkat dari persepsi bahwa saksi pernikahan sama dengan saksi dalam jual beli (harta benda). maka ia juga dapat menjadi saksi pernikahan.‫ق‬ . Oleh karena perempuan dapat dijadikan saksi dalam masalah harta benda.

2002 [1] [2] [3] [4] [5] Maktabah al-Shamilah. Muhammad al-Shabuni. 1985 Ali. Beirut: Dar al-Fikr. Beirut: Dar al-Fikr. Ushul al-Hadith. tt) 145 „Ajaj al-Khatib. vol. 1989 Ali. 1995 Al. Subul al-Salam. Beirut: Dar al-Fikr. 1988 CD Program Hadith Kutub al-Tis‟ah Hashim. Sunan al-Daruqutni. al-Maktabah al-Shamilah dan Mausu‟ah Rowa alHadith . Ulum al-Hadith wa Mustalahuhu. Al-Majmu‟ Sharh al-Muhadhab li al-Shairazi. Ushul al-hadith. 43 Subhi Shalih. Juz III. Tt Program al-Maktabah al-Shamilah Program Mausu‟ah Rowa al-Hadith Qadir. Juz II. 1986 Najib. Tafsir ayat al-Ahkam. Juz IX. Fiqh al-Sunnah. tt Sabiq. Wahbah. Abdul Muhammad „At}o. 1998). Nail al-Aut}ar. 1989)392 CD program hadith Kutub al-Tis‟ah. 1998 Muhammad. Muhammad al-Khatib. Jeddah: Maktabah al-Irshad. Ibn ‟Ali ibn Muhammad al-Shaukani. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin.Zuhaili. Sunan al-Daruqutni no 3580 Umar Hashim. Subhi. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. Ibn Umar al-Daruqutni. Umar. II. Ulum al-Hadith wa Mustalahuh (Beirut: Dar al-ilmi li al-Malayin. Beirut: Dar al-Fikr.Daftar Pustaka ‟Ajaj. Muhammad al-Mut}i‟i. Syiria: Maktabah al-Ghazali. Qawaid Ushul al-Hadith (Beirut: Dar al-Fikr. 1992 Al-Shalih. Kairo: Dar al-fatah. Beirut: Dar al-Kitab al-‟Alamiyah. Beirut: Dar al-Fikr. Ulumuhu wa Musthalahuh (Beirut: Dar al-Fikr. Sayyid. Qawa‟id al-Ushul al-Hadith.

[17] Wahbah al-Zuhaili. 1988). bab pernikahan tanpa saksi. 1986) 240 [18] [19] [20] Al-Qur‟an. Al-Fiqh al-Islami. Al-Fiqh al-Islami. yakni (1). tt) 296. Juz VII ( Beirut: Dar al-Fikr. I (al-Baqarah) 132 M. Lihat juga dalam Wahbah al-Zuhaili. 2002) 6559 [21] . Sunan al-Daruqutni (Beirut: Dar al-Kitab al-Alamiyah. (2). [13] Wahbah al-Zuhaili. [22] Ayat-ayat pernikahan berikut tidak mencantumkan saksi. 1992)227. Selengkapnya lihat dalam Ali bin „umar alDaruqutni. tidak ada wali sama sekali. . 84. 155. Tuhfah al-Ahwadhi. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Najib al-Muti‟i. juz III hlm 131 . Nail al-Autar (Beirut: Dar al-Fikr. Ada wali namun berhalangan. hlm 223 [10] [11] Subhi [12] Kesimpulan penulis juga berdasarkan keterangan dalam beberapa kitab yang menyebutkan bahwa hadith di atas sanadnya adalah dhaif. Lihat juga dalam Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Shaukani. al-Maktabah al-Shamilah dan Mausu‟ah Rowa alHadith [6] [7] [8] [9] Ibid Ibid Ibid Ibid Shalih. Al-Majmu‟ Sharh al-Muhadhab li al-Shairozi ( Jeddah: Maktabah alIrshad. Muhammad Abdul Qadir „Ato‟. Juz IX ( Beirut: Dar al-Fikr.: . 83 [15] Wahbah [16] Tidak ada wali mengandung dua pengertian. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. I (al-Baqarah) 132 al-Zuhaili. I (al-Baqarah) 130 Al-Qur‟an. Lihat keterangan dalam al-Maktabah al-Shamilah. Subul al-Salam (Beirut: Dar al-Fikr.CD program hadith Kutub al-Tis‟ah. 1989) 83- 84 [14] Al-Qur‟an. Ulum al-Hadith wa Mustalahuh.

Al-Majmu‟. melainkan syarat agar diperbolehkan menggauli istri. Najib al-Muti‟i. hlm 76 Adil merupakan syarat bagi saksi. [28] Al-Fiqh al-Islami. Faidh al-Qadir. Lihat dalam: Wahbah. bab pernikahan tanpa saksi. merupakan bentuk idhafah sifat pada mashufnya. 48 M. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Lihat juga keterangan dalam al-Maktabah al-Shamilah. hlm 75 . termasuk madhhab Malikiyah. Juz II (Kairo: Dar al-fatah. Najib al-Muti‟i. juz III hlm 131. hal 297 [26] Sayyid Sabiq. Lihat keterangan selengkapnya dalam al-Maktabah alShamilah. Fiqh al-Sunnah. Juz II (Kairo: Dar al-fatah. 6562 dan M. Juz II. Fiqh al-Sunnah. Juz 6 hlm 567. Al-Fiqh al-Islami. Sekalipun imam Malik tidak mensyaratkan saksi dalam pernikahan secara mutlak. karena dari susunan redaksinya. [30] Wahbah al-Zuhaili.[23] Pemilihan kata “mayoritas” oleh penulis mengandung cakupan ulama dari empat madhhab. 6560 [24] Sayyid [25] Sabiq. hanya saja hakikat saksi bukan sebagai syarat sah nikah. Tuhfah al-Ahwadhi. Lihat juga dalam Wahbah. 5. Al-Fiqh al-Islami. [29] Sayyid Sabiq. Al-Majmu‟. hal 50. 1995). Fiqh al-Sunnah. hal 296 [27] Wahbah. 1995). namun mayoritas ulama Malikiyah justru berpegang pada pendapat bahwa saksi merupakan syarat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful