Dilema Pilkada dan “Pemilih Buruk”

Mei 3, 2012 | Tagged Pilkada Kab. Tangerang | Ketidakadilan terjadi bukan karena banyaknya orang-orang jahat, melainkan karena kuatnya sikap ketidakpedulian (Albert Einstein)

Secara filosofis, Pilkada adalah metode regenerasi kepemimpinan politik, yang dilakukan secara demokratis, melibatkan suara rakyat, dibuat berkala, seraya memberikan legitimasi terhadap pemimpin yang terpilih. Tetapi itu saja tidak cukup. Idealnya, Pilkada tak hanya menjadi alat legitimasi (pengesahan), melainkan juga delegitimasi (penolakan). Poin delegitimasi inilah yang acapkali absen dalam kontestasi Pilkada. Fenomena rutin yang terjadi melulu pengulangan-pengulangan. Bahwa Pilkada hanya melegitimasi secara formal, ketika seseorang menjadi pemenang dan berhak dilantik menjadi pemimpin daerah. Pilkada dengan demikian selalu bisa menjadi alat pembenar (terhadap figur yang salah, culas, korup, dan khianat), sejauh orang itu bisa memobilisasi dukungan dan unggul dalam rekapituasi suara oleh KPU. Faktanya, metode mobilisasi dukungan bukanlah perkara mudah. Butuh modal besar (dan dalam Bahasa Inggris disebut dengan follow the money…). Artinya dukungan selalu mengikuti kekuatan uang. Tatkala ini terjadi, maka hanya mereka yang punya pundi-pundi uang dan memililiki akses ke sumber-sumber modal sajalah yang bisa menang. Tak peduli apakah orang itu baik atau buruk. The winner takes all (yang menang memperoleh semuanya). Inilah dilema Pilkada yang sesungguhnya. Di satu sisi, Pilkada diharapkan menjadi ajang untuk menyeleksi pemimpin yang punya nilai terbaik (dalam hal integritas, kompetensi, kapabilitas, dan komitmen politiknya). Tetapi di sisi yang lain, harapan-harapan itu pupus hancur, gara-gara yang menang adalah tokoh yang tak punya “nilai terbaik”, melainkan “nominal tertinggi”.

Pemilih Buruk Rona politik Pilkada yang seperti ini menjadi medan kemenangan para politisi busuk. Sekaligus juga ajang petualangan dari para pemilih buruk. Sinergi dua kekuatan inilah yang menjadi faktor dominan dalam kontestasi Pilkada. Politisi busuk, kita tahu, adalah orang-orang yang memiliki jabatan publik tetapi tidak bekerja untuk melayani, melainkan mencuri. Mereka, para politisi busuk itu, hanya mengenal manipulasi, korupsi, dan hegemoni (penaklukan terhadap lawan). Kegiatan dan aksi-aksi politisi busuk bukannya tidak terendus atau tersembunyi, melainkan kerapkali didiamkan, selesai dalam kompromi dan lobi. Kejahatan politik para politisi busuk ini berlangsung begitu leluasa karena perlawanan dan penghadangan dari kelompok kritis, tak cukup kuat untuk memberangusnya. Sangat kecil, termasuk dalam momen Pilkada, gerakan politik bersih dari kelompok kritis yang bisa meruntuhkan dominasi politisi busuk. Bukan karena mereka kalah cerdas, kalah strategi, ataupun kalah dalam pembuktian. Melainkan, gerakan politik bersih dan kritis dalam ajang Pilkada kalah karena begitu banyaknya orang yang tak peduli. Jadi, sesungguhnya, pelbagai kemenangan politik para politisi busuk terjadi karena begitu besarnya ketidakpedulian dari rakyat jelata. Rakyat terkunci dalam sikap diam, pasif, abai, dan putus asa. Mereka, sekalipun ikut dalam menyumbang suara dalam Pilkada, hanya akan menjadi pemilih yang buruk, karena tidak memilih berdasarkan referensi yang tepat, melainkan sekedar mendapat tetesan uang recehan. Hukum Karma? Kata kunci dilema Pilkada yang selalu memenangkan politisi busuk terletak pada para pemilih yang buruk ini. Mengapa? Mereka bukan hanya besar dari segi angka (Daftar Pemilih Tetap), tetapi sekaligus mengubur jumlah para pemilih bersih dan kritis. Mereka pula yang kerap menjadi “baut”, “sekrup”, dan “ring” bagi mesin besar para politisi busuk. Merekalah yang kemudian menjadi pemagar kemenangan bagi para politisi busuk. Tetapi yang menyedihkan, para pemilih buruk ini pula yang menjadi korban pertama untuk dilumat habis oleh para politisi busuk (setelah menang Pilkada). Karena para politisi busuk mempraktekan transaksi politik beli putus. Setelah suara pemilih buruk dibeli, maka putuslah hubungan… Tak ada komitmen. Tak ada pembelaan. Tak ada pemihakan. Para pemilih buruk akan dibiarkan terlantar. Nasib para pemilih buruk tak akan dipedulikan. Sementara para politisi busuk melenggang nyaman untuk kian menumpuk berbagai jenis kekayaan. Mestinya logika hubungan seperti ini yang harus terus disuarakan —oleh siapapun yang ingin Pilkada menghasilkan pemimpin terbaik. Bahwa Pilkada bisa menjadi hukum karma yang hanya menimpa satu pihak, yaitu rakyat jelata sahaja. Retorika kampanye publik untuk memberantas politisi buruk harus menekankan pada masalah hukum karma ini. Bahwa tidak adil jika yang tidak bersalah (yaitu rakyat jelata) justru yang selalu menderita. Bahwa para poltisi busuk-lah yang seharusnya memetik ganjaran!

Jika ini tak terjadi, maka Pilkada pada akhirnya hanya menyuburkan ketidakadilan. Para penjahat politik selalu jadi pemenang, dan tak mendapat hukuman apapun. Sementara para pemilih (baik yang bersih atau yang buruk) selalu menelan karma, menjadi pihak yang terus-terusan dirugikan. Padahal kalau mau, mestinya logika hubungan seperti itu harus dibalik. Hukum karma seharusnya menimpa para politisi busuk. Mereka harus diberi pelajaran. Dikalahkan. Diruntuhkan. Tapi, entahlah…