You are on page 1of 23

LAPORAN KIMIA ANALISA TERAPAN ANALISA PEMANIS BUATAN (SAKARIN DAN SIKLAMAT) PADA MINUMAN CUP

Oleh : Febrianggara P. Hidayat Akbar Mahani Daninda (0910921004) (0910923042) (0910923048)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012


BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanis merupakan komponen bahan pangan yang umum. Pemanis termasuk Bahan Tambahan Makanan (BTM) adalah pemanis pengganti gula (sukrosa) atau biasa disebut pemanis buatan. Pada dasarnya pemanis buatan merupakan senyawa yang secara substansial memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi, yaitu berkisar antara 30 sampai dengan ribuan kali lebih manis dibandingkan sukrosa. Karena tingkat kemanisannya yang tinggi, penggunaan pemanis buatan dalam produk hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit hingga dapat dikatakan rendah kalori atau tidak mengandung kalori. Batas maksimum penggunaan pemanis yang direkomendasikan oleh Departemen Kesehatan RI untuk sakarin 300 mg/kg dan siklamat 3 mg/kg. Penggunaan pemanis buatan yang semula hanya ditujukan pada produkproduk khusus bagi penderita diabetes, saat ini penggunaannya semakin meluas pada berbagai produk pangan secara umum. Bahkan, sebagian pemanis buatan tersedia untuk dapat langsung digunakan atau ditambahkan pada makanan dan minuman sebagai pengganti gula. Penggunaan pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin dalam takaran yang berlebih dapat menimbulkan efek samping yang merugikan kesehatan manusia oleh sebab itu penggunaannya dalam produk-produk makanan dan minuman harus diwaspadai. Penggunaan sakarin dan siklamat sebagai pemanis buatan dalam minuman maka hal ini akan di angkat sebagai topik dalam Laporan Kimia Analisa Terapan yang berjudul Analisa Pemanis Buatan (Sakarin Dan Siklamat) Pada Minuman Cup.

1.2 Perumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah dalam minuman cup terdapat kandungan pemanis buatan (Sakarin dan Siklamat) ?
2.

Berapa banyak kandungan pemanis buatan (sakarin dan siklamat) pada minuman cup?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kadar pemanis buatan (sakarin dan siklamat) dalam minuman cup berdasarkan standart mutu kesehatan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi masyarakat. 1.4 Batasan Masalah Batasan masalah yang dilakukan pada percobaan ini adalah :
-

Sampel yang digunakaan pada saat penelitian ini yakni minuman cup instan bermerk yang marak dikonsumsi masyarakat Minuman Cup MOUNTEA dan ANDA

- Parameter yang dianalisa meliputi : Uji kualitatif : Siklamat (Uji Pengendapan) Sakarin (Ekstraksi Cair-Cair) Uji Kuantitatif Siklamat (Uji Pengendapan) Sakarin (Titrasi Asam-Basa) 1.4 Manfaat Penelitian

Setelah melakukan penelitian ini dapat diketahui baik secara instan bermerk tersebut yang sesuai memenuhi standar kesehatan.

kualitas

maupun kuantitas pemanis buatan (sakarin dan siklamat) dalam minuman cup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pemanis Buatan Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan untuk keperluan produk olahan pangan, industri serta minuman dan makanan kesehatan. Menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nomor 235, pemanis termasuk ke dalam bahan tambahan kimia, selain zat lain seperti antioksidan, pemutih, pengawet, pewarna, dan lain-lain. Pemanis alternatif umum digunakan sebagai pengganti gula jenis sukrosa, glukosa atau fruktosa. Ketiga jenis gula tersebut merupakan pemanis utama yang sering digunakan dalam berbagai industri. Pemanis berfungsi untuk meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki sifat-sifat fisik, sebagai pengawet, memperbaiki sifat-sifat kimia sekaligus merupakan sumber kalori bagi tubuh (Girindra, 2003). Pemanis buatan sering ditambahkan ke dalam pangan dan minuman sebagai pengganti gula karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pemanis alami (gula), yaitu (Winarno, 2004) : a) Rasanya lebih manis b) Membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis

c) Tidak mengandung kalori atau mengandung kalori yang jauh lebih rendah sehingga cocok untuk penderita penyakit gula (diabetes) d) Harganya lebih murah 2.2 Macam Macam Pemanis Buatan Pemanis buatan yang paling umum digunakan dalam pengolahan pangan di Indonesia adalah siklamat dan sakarin yang mempunyai tingkat kemanisan masingmasing 30-80 dan 300 kali gula alami, oleh karena itu sering disebut sebagai biang gula. Penggunaan pemanis buatan dalam pangan diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 (Anonymous1,2011). Batas maksimum penggunaan siklamat adalah 500 mg 3 g/kg bahan, sedangkan batas maksimum penggunaan sakarin adalah 50 300 mg/kg bahan. Keduanya hanya boleh digunakan untuk makanan rendah kalori, dan dibatasi tingkat konsumsinya untuk siklamat sebesar 11 mg/kg berat badan/hari sedangkan sakarin sebesar 5 mg/kg berat badan/hari sedangkan sakarin sebesar 5 mg/kg berat badan/hari. Jadi bila berat badan kita 50 kg maka jumlah maksimum siklamat yang boleh dikonsumsi perhari adalah 50 x11 mg atau 550 mg. jika kita mengkonsumsi kue dengan kandungan siklamat 500 mg/kg bahan, maka dalam satu hari kita hanya boleh mengkonsumsi 550/500 x 1 kg atau 1100 gram kue. Untuk lebih jelas mengenai struktur kimia dari sakarin dapat dilihat pada gambar 2.2.1 (Anonymous1, 2011) :

Gambar 2.2.1 Sakarin (Anonymous1, 2011) Seperti yang kita ketahui bahwa pada tiap Negara memiliki standart mutu mengenai makanan dan minuman dimana jika suatu makanan kandungan gizinya sesuai standart yang ditetapkan oleh departemen kesehatan maka boleh beredar

dipasaran dan boleh dikonsumsi. Adapun standar pemanis buatan yang telah ditetapkan pemerintah dapat dilihat pada tabel 2.2.2 :

Tabel 2.2.2 Standar Pemanis Buatan NO Nama Pemanis Buatan 1. Sakarin (garam a. Untuk saus, es lilin, minuman 300 mg/kg ringan dan minuman yogurt berkalori rendah b. Es krim, es puter, dan sejenisnya serta jem dan jelly berkalori rendah c. Permen berkalori rendah d. permen ringan rendah 2. Siklamat (garam natrium kalsium dan a. untuk saus, es lilin, minuman ringan dan minuman yogurt 3 gr/kg karet dan minuman berkalori 50 mg/kg* sampai dengan 100mg/kg** 200 mg/kg 100 mg/kg Penggunaan dalam Pangan Takaran Maksimum

natrium sakarin)

fermentasi

siklamat)

bekalori rendah b. es krim, es puter, dan sejenisnya serta jem dan jeli berkalori rendah c. Permen berkalori rendah d. Permen ringan rendah Untuk kismis 5 gr/kg Jem, jeli, dan roti 300 mg/kg karet dan minuman berkalori 500 mg/kg* sampai 1 g/kg** 1 gr/kg 2 gr/kg

fermentasi

Sorbitol 3.

Aspartam 4.

Pangan lain Aneka makanan/minuman 120mg/kg

= Sumber : Badan Ketahanan Pangan (BKP) = Sumber : Departemen Kesehatan RI

**

2.3 Sakarin Sakarin pertama kali ditemukan oleh Ira Remsen dan Constantin Fahlberg pada tahun 1879 (Ulanira, 2009). Sakarin dengan rumus C7H5NO3S dan berat molekul 183,18 disintesis dari toluen biasanya tersedia sebagai garam natrium. Nama lain dari sakarin adalah 2,3 dihidro-3-oksobenzisulfonasol, benzosulfimida atau o-sulfobenzimida. Sedangkan nama dagangnya adalah glucide, garantose, saccarinol, saccarinose, sakarol, saxin, sykose, hermesetas (Cahyadi, 2010). Sakarin merupakan salah satu zat pemanis buatan yang sering digunakan oleh produsen

makanan dan minuman pada produk industri mereka Sakarin jauh lebih manis dibanding sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa. Namun dalam konsentrasi sedang sampai tinggi bersifat meninggalkan aftertaste pahit yang disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintesis. Untuk menghilangkan rasa ini sakarin dapat dicampurkan dengan siklamat dalam perbandingan 1:10 untuk siklamat. Sakarin tidak dapat dimetabolisme dalam tubuh manusia, sehingga tidak dapat menghasilkan energi atau kalori. Sifat fisik sakarin yang cukup dikenal adalah tidak stabil pada pemanasan. Sakarin yang digunakan dalam industri makanan adalah sakarin sebagai garam natrium. Hal ini disebabkan karena sakarin dalam bentuk aslinya yaitu asam, bersifat tidak larut dalam air. Sakarin juga tidak mengalami proses penguraian gula dan pati yang menghasilkan asam, sehingga sakarin tidak menyebabkan erosi enamel gigi. Sakarin merupakan pemanis alternatif untuk penderita diabetes melitus, karena sakarin tidak diserap lewat sistem pencernaan. Meskipun demikian, sakarin dapat mendorong sekresi insulin karena rasa manisnya, sehingga gula darah akan turun. Struktur dari sakarin dapat kita lihat pada gambar 2.3.1 (Anonymous2, 2012) :

Gambar 2.3.1 Sakarin (Anonymous2, 2012) Proses pembuatan sakarin yang paling terkenal saat ini adalah metode yang sama yang digunakan Remsen dan Fahlberg pada tahun 1879. Toluene dan asam klorosulfonic bereaksi pada suhu 0 50C membentuk campuran o- dan ptoluenesulfonamide. Campuran tersebut dipisahkan, dan o-toluenesulfonamide dioksidasi menjadi o-carboxybenzenesulfonamide ( asam o-sulfamoylbenzoic ). Senyawa ini dibebaskan dari air menjadi sakarin. P-toluenesulfonamide juga penting dalam pembuatan sakarin dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan

Chloramine-T. Berikut gambar 2.3.2 merupakan gambar reaksi pembuatan sakarin (Ulanira, 2009).

Gambar 2.3.2 Reaksi pembuatan sakarin (Widjajaaseputra, 2002) 2.4 Siklamat Siklamat merupakan pemanis non-nutritif lainnya yang tidak kalah populer. Tingkat kemanisan siklamat adalah 30 kali lebih manis daripada gula dan siklamat tidak memberikan after-taste seperti halnya sakarin. Meskipun demikian, rasa manis yang dihasilkan oleh siklamat tidak terlalu baik (smooth) jika dibandingkan dengan sakarin. Siklamat diperjual belikan dalam bentuk garam Na atau Ca-nya. Siklamat dilarang penggunaannya di Amerika serikat, Kanada, dan Inggris sejak tahun 1970an karena produk degradasinya (sikloheksil amina) bersifat karsinogenik. Meskipun demikian, penelitian yang mendasari pelarangan penggunaan siklamat banyak mendapat kritik karena silamat digunakan pada tingkat yang sangat tinggi dan tidak mungkin terjadi dalam praktek sehari-hari. Oleh karena itu, FAO/WHO masih memasukkan siklamat sebagai BTM yang diperbolehkan.Berikut struktur kimia dari siklamat dapat dilihat pada gambar 2.4.1 (Bararah, et all, 2008) :

Gambar 2.4.1 Siklamat (Bararah, et all, 2008)

2.5 Metode yang Digunakan Uji Pengendapan Pada uji pengendapan ini prinsipnya sama dengan prinsip dari metode gravimetri dimana sampel diendapkan dengan menambahkan suatu analit sehingga sampel dapat mengendap sempurna. Jika sampel dapat mengendap berarti dalam sampel mengandung siklamat. Dari endapan nya tersebut dapat dihitung rendemen. (SNI 01-2893-1992) Ekstraksi Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan dimana suatu senyawa dicampur pelarut cair yang keduanya tidak saling tercampur. Untuk memindahkan satu atau lebih komponen kepelarut (Parker, 1992). Ekstraksi memanfaatkan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat bercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari suatu pelarut ke pelarut lain (Oxtoby, 2001). Menurut bentuk dan komponen atau campuran yang di ekstrak, ekstraksi dibagi menjadi dua macam yakni : (Douglass,1984) Extraksi cair-cair Merupakan ekstraksi dimana substansi yang diekstrak terdapat dalam campuran yang berbentuk cair Ekstraksi padat-cair Merupakan ekstraksi dimana substansi yang ekstrak terdapat dalam campuran yang berbentuk padat Prinsip dari ekstraksi cair-cair, merupakan pemisahan komponen kimia di antara 2 fase pelarut yang tidak saling bercampur di mana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagian larut pada fase kedua, lalu kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fase cair, dan komponen kimia akan terpisah ke

dalam kedua fase tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap (Chang, 2005). Titrimetri Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara kuantitatif. Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas). Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya indicator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada berbagai perubahan pH. Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa (Harvey, 2000). Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa. Prinsip Titrasi Asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen (artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai titik ekuivalen. Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant (Harvey, 2000).

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian mulai dilaksanakan tanggal 24 April hingga 1 Mei 2012. Tempat Penelitian di Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia Fakultas MIPA Unversitas Brawijaya Malang. 3.2 Rancangan Penelitian 3.2.1 Alat Penelitian Pada penelitian ini adapun alat yang digunakan pada saat penelitian adalah gelas ukur, kertas saring Whatman 40, gelas piala, penangas, neraca analitik, pipet tetes Pipet ukur 10 ml, Cawan penguap, Buret , Corong pisah, Gelas kimia, botol semprot 3.2.2 Bahan Penelitan

Adapun bahan yang digunakan pada saat percobaan adalah NaOH 5%, HCl 3N, HCl 10%, HCl 13%, FeCl3 1%, kloroform : etanol (9:1), Indikator brom tymol biru, NaNO2 10%, BaCl2 10%, sampel minuman cup (MOUNTEA dan ANDA). 3.3 Langkah-Langkah Penelitian 3.3.1 Penentuan Sakarin

3.3.1.1 Uji Kualitatif Ekstraksi Cair Cair Prinsip metode ini yaitu mengekstraksi larutan pada pelarut yang sesuai. Pada metode ekstraksi cair cair sampel ditimbang terlebih dahulu 7,5 g dan dilarutkan dalam NaOH 5 % sebanyak 2,5 ml. Kemudian disaring dengan kertas saring dan diambil filtrat lalu dipanaskan serta didinginkan pada temperatur ruang. Ditambah 5 ml HCl 13 % serta FeCl3 1 % setetes. Apabila larutan berwarna ungu menunjukkan adanya asam salisilat yaitu terbentuk dari sakarin.

3.3.1.2 Uji Kuantitatif Titrimetri Prinsip dari metode titrasi asam basa yaitu Na-sakarin terlebih dahulu dilarutkan dengan air kemudian dengan penambahan HCl. Selanjutnya sakarin dapat diekstraksi dengan chloroform : etanol ( 9:1 ) dan hasil ekstraksi dititrasi dengan larutan NaOH dimana dengan penambahan indicator Brom Thymol Blue titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya warna biru. Sampel terlebih dahulu ditimbang 7,5 g lalu dimasukan dalam corong pisah dengan ditambah 25 ml aquades. Kemudian ditambah 2,5 ml HCl 3 M dan larutan kloroform : etanol (9:1) sebanyak 7,5 ml lalu dikocok selama 15 menit.Diambil

lapisan atas dan ditambah larutan kloroform : etanol (9:1) sebanyak 7,5 ml. Dikocok 15 menit lalu ditampung lapisan bawah dalam erlenmeyer. Dikeringkan lapisan bawah diatas penangas air hingga kering. Ditambah 25 ml aquades dan ditambah 5 tetes indikator brom thymol blue serta dititrasi dengan NaOH 0,1 M hingga larutan berubah warna menjadi biru.

3.3.2

Penentuan Siklamat

3.3.2.1 Uji Kualitatif Uji Pengendapan (SNI 01-2893-1992) Pada uji pengendapan atau gravimetri ini prinsipnya berdasarkan mengendapkan sampel dengan menambahkan suatu pelarut yang sesuai ke dalam sampel sehingga sampel terendapkan. Pada percobaan ini perlakuan awal sampel diambil sebanyak 10 ml kemudian ditambahkan 5 ml HCl 10% , diaduk dan ditambahkan BaCl2 10% sebanyak 5 ml, didiamkan selama 30 menit. Kemudian endapan dipisahkan dengan filtratnya dengan cara disaring menggunakan kertas saring Whatman 40. Lalu ditambah 5 ml NaNO2 10% dan dipanaskan di atas penangas air. Di amati hingga terbentuk endapan putih dari BaSO4 10% yang menunjukan sampel mengandung siklamat serta ditentukan kadar siklamat.

3.3.2.2 Uji Kuantitatif Uji Pengendapan (SNI 01-2893-1992)

Pada

uji

pengendapan

atau

gravimetri

ini

prinsipnya

berdasarkan

mengendapkan sampel dengan menambahkan suatu pelarut yang sesuai ke dalam sampel sehingga sampel terendapkan. Pada percobaan ini perlakuan awal sampel diambil sebanyak 10 ml kemudian ditambahkan 5 ml HCl 10% , diaduk dan ditambahkan BaCl2 10% sebanyak 5 ml, didiamkan selama 30 menit. Kemudian endapan dipisahkan dengan filtratnya dengan cara disaring menggunakan kertas saring Whatman 40. Lalu ditambah 5 ml NaNO2 10% dan dipanaskan di atas penangas air. Di amati hingga terbentuk endapan putih dari BaSO4 10% yang menunjukan sampel mengandung siklamat serta ditentukan kadar siklamat. Penentuan kadar siklamat ditentukan melalui cara terlebih dahulu disaring endapan putih dari BaSO4 10% dengan kertas saring. Lalu dikeringkan dalam oven dan diletakan dalam desikator. Kemudian ditimbang massa siklamat pada neraca analitik hingga berat konstan.

3.4 Analisa Data 3.4.1 Perhitungan 3.4.1.1 Uji Pengendapan Kadar (%) Siklamat = (b - a) x 100 % Vol. Sampel Ket. : a = massa kertas saring (g) b = massa kertas saring + endapan (g) 3.4.1.2 Penentuan Kadar Sakarin Secara Titrimetri Mol sakarin = Mol NaOH

Massa sakarin (g) = M NaOH x Vol. Tritasi Mr Sakarin Massa sakarin (g) = M NaOH x Vol. Tritasi x Mr Sakarin Kadar sakarin (%) : Massa sakarin (g) x 100% Massa sampel (g)

BAB IV PEMBAHASAN Pada uji siklamat pada kedua sampel, langkah pertama yang dilakukan adalah memipet masing-masing sampel sebanyak 10 ml dalam beakerglass kemudian ditambahkan 5 ml HCl 10% dan BaCl2 10% dan dibiarkan selama 30 menit. HCl berfungsi sebagai pengkondisi dalam suasana asam sehingga endapan dapat terlihat dan BaCl2 ..................................disaring dengan kertas saring sehingga terpisahkan antara filtrat dan residu dari sampel. Filtrat ditambahkan dengan 5 ml larutan NaNO2 10% sehingga terlihat endapan yang berada dalam filtrat. Dipanaskan diatas penangas air untuk memekatkan larutan sehingga endapat dapat diperoleh secara maksimal. Disaring dengan menggunakan kertas saring sehingga diperoleh berat dari endapan yang diperoleh sehingga dapat diperoleh juga kadar siklamat dari kedua sampel. Pada uji sakarin melalui ekstraksi cair-cair dilakukan penimbangan kedua sampel yang dilarutkan dengan NaOH 5% dalam gelas kimia kemudian disaring sehingga terpisahkan antara filtrat dan residu. Filtrat dipanaskan hingga pekat dan didingin anginkan. Ditambahakan HCl 13% dan ditambahkan FeCl3 1% hingga larutan berubah warna Pada uji sakarin melalui titrasi asam-basa dilakukan penimbangan sampel dan dimasukkan dalam corong pisah yang berisi akuades, HCl 3M dan etanol:kloroform (9:1). Dikocok kuat selama 15 menit dan didiamkan hingga terdapat 2 lapisan. Dilakukan ekstraksi sebanyak 3 kali dengan etanol:kloroform (9:1) kemudian ditampung lapisan bawah dalam erlenmeyer yang kemudian dipekatkan dalam penangas air yang kemudian ditambahkan akuades dan beberapa tetes indikator bromtymol blue dan dititrasi dengan larutan NaOH 0,1M hingga berubah warna menjadi biru. Penggunaan pemanis buatan pada minuman cup didasarkan alasan ekonomis karena tingginya harga gula pasir dibandingkan harga pemanis buatan

dan juga rasa manis pada pemanis buatan jauh lebih tinggi dari pada gula pasir. Pemanis buatan siklamat pada minuman cup menurut Badan Ketahanan Pangan yaitu 3 gr/kg tentang tambahan pemanis buatan pada produk minuman. Tujuan pemberian batas maksimum penggunaan pemanis buatan siklamat pada minuman cup karena penggunaannya tidak selalu aman apabila tidak sesuai dengan peruntukannya ataupun melebihi ambang batas. Dari hasil pemeriksaan kadar siklamat pada minuman kedua sampel minuman cup masih dibawah ambang batas. Kadar siklamat tertinggi adalah pada minuma cup ANDA yaitu 0,259 gram dengan kadar sebanyak 2,59% dalam 10 ml dan pada sampel minuman cup MOUNTEA seberat 0,063 dengan kadar 0,63% dalam 10 ml. Jumlah tersebut masih jauh dibawah dari ambang batas maksimum penggunaan siklamat sehingga masih aman apabila dikonsumsi khalayak ramai. Penggunaan sakarin pada minuman cup pada minuman cup masih jarang digunakan dibandingkan dengan siklamat karena sakarin dapat menimbulkan rasa ikutan yang pahit, sementara siklamat tidak memiliki rasa ikutan. Batas maksimum penggunaan sakarin berdasarkan Badan Ketahanan Pangan yaitu 30 g/kg. Dari hasil pemeriksaan kadar sakarin pada minuman cup pada sampel terdapat sakarin pada sampel minuman cup ANDA dan pada sampel minuman cup MOUNTEA tidak mengandung sakarin. Berat sakarin dalam 7,5 gram diperoleh seberat 1,83 gram dengan kadar 24,4%. Hal ini masih jauh dari ambang batas masksimum sehingga masih aman apabila dikonsumsi khalayak ramai. Walaupun kadar pemanis sintetis penggunaannya masih jauh diambang batas, namun jumlah tersebut awalnya ditujukan untuk produk yang rendah kalori atau bagi penderita diabetes mellitus bukan untuk produksi konsumsi umum apalagi untuk anak-anak. Pada sakarin dan siklamat bersifat karsinogenik sehingga pada bebrapa negara mengeluarkan peraturan secara ketat bahkan melarangnya, contohnya pada Kanada. Sedangkan di Indonesia belum ada larangan mengenai penggunaan siklamat dan sakarin sehinga dimungkinkan bagi masyarakat Indonesian untuk mengkonsumsinya setiap hari baik secara terpisah maupun secara

gabungan dari kedua jenis pemanis dalam beberapa produk makanan dan minuman yang terjual secara bebas di pasaran. BAB V PENUTUP 4.1 Kesimpulan Pada sampel yang berupa minuman cup terdapat kandungan pemanis buatan (Sakarin dan Siklamat) melalui uji siklamat melalui uji pengendapan dan uji sakarin melalui ekstraksi cair-cair dan titrasi asam basa. Pada sampel minuman cup ANDA mengandung 0,259 gram siklamat dengan kadar 2,59% dan pada sampel minuman cup MOUNTEA mengandung siklamat 0,063 gram dengan kadar 0,63%. Pada uji sakarin kedua sampel hanya pada sampel minuman cup ANDA yang mengandung sakarin sebanyak 1,18 gram dengan kadar 24,4% sedangkan pada minuman cup MOUNTEA tidak mengandung sakarin. Pemanis sintetis awalnya ditujukan untuk produk yang rendah kalori atau bagi penderita diabetes mellitus bukan untuk produksi konsumsi umum apalagi untuk anak-anak. Pada sakarin dan siklamat bersifat karsinogenik sehingga pada bebrapa negara mengeluarkan peraturan secara ketat bahkan melarangnya, contohnya pada Kanada. Sedangkan di Indonesia belum ada larangan mengenai penggunaan siklamat dan sakarin sehinga dimungkinkan bagi masyarakat Indonesian untuk mengkonsumsinya setiap hari baik secara terpisah maupun secara gabungan dari kedua jenis pemanis dalam beberapa produk makanan dan minuman yang terjual secara bebas di pasaran.

4.2 Saran Diharapkan bagi penderita diabetes mellitus dan anak-anak lebih selektif dalam mengkonsumsi pemanis sintetis (sakarin dan siklamat) karena bersifat karsinogenik sehingga perlunya kerjasama bagi Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan Balai Perindustrian untuk sosialisai kepada produsen

maupun konsumen mengenai pemanis buatan agar produk yang beredar lebih aman dan memenuhi persyaratan mutu.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous1, 2011, Analisis Kualitatif Kuantitatif Sakarin, http://www.faikshare.com/2011/05/analisis-kualitatif-kuantitatif-sakarin.html, diakses tanggal 12 April 2012 Anonymous2, 2012, Saccharin, http://pages.towson.edu/larkin/210DOCS/exp7.pdf, diakses tanggal 12 April 2012 Bararah, dan Vera, F., 2008, Studi Paparan Pemanis Buatan, Fakultas Matematika dam Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Jakarta Cahyadi, S., 2010, Biokimia, Purmawan I Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta Chang, R., 2005. Kimia Dasar : Konsep Konsep Inti, Penerbit Erlangga, Jakarta Douglass, M., 1984, The Encyclopedia of Chemistry,4thEddison, Van Nostrand Reinhold, New York Girindra, A., 2003, Biokimia, Gramedia, Jakarta Harvey, D., 2000, Modern Analytical Chemistry, Mc-Graw Hill Company Inc, USA Oxtoby, D.W., 2001, Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi ke Empat, Erlangga, Jakarta Parker, S.P., 1992, Encyclopedy of Chemistry, Mc-Graw Hill Book Company Inc, New York Ulanira, 2009, Glukosa Dan Metabolisme Energi, Polton Sport and Science Performance Lab, Vol I : 1-5

Widjajaseputra, Anna, I., 2002, Penggunaan Sakarin Sebagai Bahan Pemanis Sintetik, Jurnal, Agritech, Vol.9 Winarno, F.G., 2004, Kimia Pangan dan Gizi, Gramedia, Jakarta LAMPIRAN Skema Kerja Uji Siklamat (Uji Pengendapan) Sampel

- ditambahkan 5 ml larutan HCl 10% - ditambahkan 5 ml larutan BaCl2 10% - dibiarkan selama 30 menit - disaring dengan menggunakan kertas saring whatman 40 Filtrat a - ditambahkan 5 ml NaNO2 10% - dipanaskan di atas penangas air Hasil Uji Sakarin (Ekstraksi Cair-Cair) Sampel - ditimbang 7,5 gram - dilarutkan dalam 2,5 ml NaOH 5% - dipisahkan dengan kertas saring Residu - dipanaskan dan didinginkan - ditambahkan 5 ml HCl 13% - ditambahkan tetes demi tetes larutan FeCl31% Hasil Filtrat

Residu

Uji Sakarin (Titrasi Asam-Basa) Sampel - ditimbang 7,5 gram sampel yang telah dihomogenkan - dimasukkan dalam corong pisah yang berisi 25 ml akuades - ditambahkan 2,5 ml HCl 3M - ditambahkan dengan larutan kloroform: etanol (9:1) sebanyak 7,5 ml - dikocok kuat selama 15 menit Lapisan Atas - ditambahkan kloroform: etanol (9:1) sebanyak 7,5 ml - dikocok selama 15 menit - ditampung lapisan bawah dalam erlenmeyer Lapisan Atas - ditambahkan 5 ml kloroform: etanol (9:1) - dikocok selama 15 menit - ditampung lapisan bawah dalam erlenmeyer Lapisan Bawah Lapisan Atas Lapisan Bawah

Lapisan Bawah

- ditampung semua lapisan bawah dalam erlenmeyer - dikeringkan semua lapisan bawah di atas penangas air hingga kering - ditambahkan 25 ml akuades - ditambahkan 5 tetes indikator brom thymol blue

- dititrasi dengan NaOH 0,1 M hingga berubah warna menjadi biru Hasil