P. 1
KTI Ari

KTI Ari

|Views: 370|Likes:

More info:

Published by: Ari sandi (jime owam) on May 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Keberhasilan pembangunan antara lain ditandai dengan terjadinya peningkatan usia harapan hidup yang pada akhirnya mengakibatkan peningkatan usia lanjut ( Depkes RI 2003 ).

Masalah gizi tidak hanya monopoli balita dan ibu hamil namun ternyata juga acapkali menimpa lansia. Seperti diketahui, kelompok ini juga merupakan kelompok yang rentan terhadap berbagai kondisi yang merugikan kesehatan. ( supartondo et al 2000)

Usia lanjut merupakan salah satu fase kehidupan yang akan di lalui oleh setiap individu. Fase ini dapat dilalui dengan baik bila usia lanjut selalu berada dalam kondisi yang sehat. Salah satu upayanya adalah dengan asupan gizi yang adekuat. Selain itu gizi yang baik juga berperan dalam upaya menurunkan presentase timbulnya penyakit karena usia lanjut, karena usia lanjut merupakan populasi yang rentan terhadap serangan penyakit yang merupakan

konsekuensi adanya penurunan fungsi tubuh.(wirakusumah 2001).

Kesehatan pada mereka yang berusia lanjut di pengaruhi beberapa faktor, antara lain usia orang tersebut. Pada usia lanjut, biasanya tubuh seseorang mengalami perubahan-perubahan. Pembentukan protein dan
1

mineral penting tubuh menurun, maka dari itu sangat penting untuk menjaga agar makananya cukup bergizi, sehingga kesehatan yang optimal bisa dicapai. ( Dr. jan takasihaeng, DGS 2000 )

Dari hasil pengumpulan data dan pengamatan awal yang dilakukan didapatkan data jumlah lansia di posyandu lansia kampung bagan sebanyak 91 orang. Namun yang aktif mengikuti kegiatan posyandu pada bulan maret sebanyak 27 orang. Dan peneliti juga melakukan wawancara kepada 11 orang lansia dan mereka mengatakan mereka kurang mengerti tentang gizi pada seusia mereka, meraka juga mengatakan karena tingkat pendididkan mereka kurang sehingga mereka kurang mengerti. Dan setelah dilakukan pengamatan ternyata banyak lansia yang mengalami hipertensi dan penyakit lainya, salah satu penyebab penyakit tersebut adalah gizi yang tidak sesuai.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Gambaran Pengetahuan Lansia Tentang Gizi Di Posyandu Lansia Kampung Bagan Kota Batam Tahun 2012 “

2

1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu ” Bagaimana Gambaran Pengetahuan Lansia tentang Gizi di Posyandu Lansia Kampung Bagan Kota Batam Tahun 2012 ”

1.2 Tujuan Penelitian 1.2.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui “ Gambaran pengetahuan Usila tentang Gizi pada Usila di Posyandu Lansia Kampung Bagan Kota Batam Tahun 2012”

1.2.2 Tujuan Khusus 1.2.2.1 Untuk mengetahui pengetahuan Lansia tentang gizi pada lansia berdasarkan gizi untuk lansia. 1.2.2.2 Untuk mengetahui pengetahuan Lansia tentang gizi pada lansia berdasarkan permasalahan gizi bagi lansia 1.2.2.3 Untuk mengetahui pengetahuan Lansia tentang gizi pada lansia berdasarkan vitamin dan mineral bagi lansia.

1.3 Manfaat Penelitian 1.3.1 Bagi Peneliti Menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman tentang

pengetahuan lansia terhadap gizi pada lansia dalam bidang penelitian

3

untuk

meningkatkan

kemampuan

dalam

menggunakan

ilmu

pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk riset.

1.3.2 Bagi Objek Peneliti Memperoleh informasi yang lengkap tentang gizi bagi lansia.

1.3.3 Bagi Institusi Pendidikan Memberikan informasi bagi institusi pendidikan tentang gambaran pengetahuan lansia tentang gizi dan dari data hasil penelitian ini di harapkan dapat di jadikan sebagai data dasar bagi peneliti selanjutnya.

1.3.4 Bagi Peneliti Lain Di harapkan dapat memberikan masukan, memperoleh manfaat dan menambah motivasi untuk meneruskan penelitian lanjutan tentang gizi lansia.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan 2.1.1. Defenisi Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Perlu dibedakan antara pengetahuan dan keyakinan, walaupun keduanya memiliki hubungan yang erat. Pengetahuan tidak sama dengan keyakinan, karena keyakinan dapat saja keliru tetapi sah sebagai keyakinan. Artinya apa yang disadari sebagai ada, ternyata tidak ada dalam kenyataannya. Tetapi untuk pengetahuan dapat saja salah atau keliru, tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan. Sehingga apa yang dianggap pengetahuan tersebut berubah statusnya menjadi keyakinan saja.

Sedangkan menurut Keraf (2001) pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia dan kehidupan. Pengetahuan menurut Wiki (2007) adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang.

5

2.1.2. Tingkat Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Notoatmodjo

mengemukakan yang dicakup dalam domain kognitif yang mempunyai enam tingkatan, pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2003) : 1. Tahu (Know) Tahu di artikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini menginga kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat

pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

2. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

6

menyebutkan

contoh,

menyimpulkan,

meramalkan,

dan

sebagainya terhadap objek-objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau

penggunaan hukum hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

penggunaan kata kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.

5. Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada.

7

6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteri yang ditentukan sendiri atau mengusahakan kriteria-kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoatmodjo, 2003)

2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, antara lain: 1. Pendidikan Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula

pengetahuan

yang didapat

tentang kesehatan. Menurut

Notoatmodjo (2007) Pendidikan ikut menentukan atau

8

mempengaruhi

mudah

tidaknya

seseorang

menerima

pengetahuan, semakin tinggi pendidikan masyarakat maka diharapkan penerimaan pengetahuan akan semakin mudah.

Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku seseorang terhadap kesehatan yang diwujudkan dalam tindakan, dipengaruhi semakin baik pengetahuan maka akan semakin tinggi pula pengetahuannya terhadap kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan, karna merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan asuhan keperawatan dimana saja ia bertugas, apakah itu terhadap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Pendidikan kesehatan identik dengan penyuluhan kesehatan, karna keduanya berorientasi kepada perubahan prilaku yang diharapkan, yaitu prilaku sehat, sehingga mempunyai

kemampuan mengenal masalah kesehatan dirinya, keluarga dan kelompoknya dalam meningkatkan kesehatannya (Effendy, 1998).

2. Mass media / informasi Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia

9

bermacam-macam media massa yang dapat

mempengaruhi

pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.

3. Sosial budaya dan ekonomi Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

10

5. Pengalaman Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam

memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu.

6. Usia Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini (ProHealth, 2009).

2.1.4. Sumber – Sumber Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2002), pengetahuan juga dipengaruhi oleh sumber informasi. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber yaitu :

11

1. Media Massa Media massa merupakan salah satu perantara yang digunakan oleh sumber untuk mengirim pesan kepada penerima pesan. Media massa berupa televisi, radio, Koran, tabloid dan lainlain. 2. Petugas Kesehatan Pengetahuan dapat diperoleh secara langsung dari petugas kesehatan (Notoatmodjo, 2003). 3. Teman dan Keluarga Pengetahuan yang dimiliki seseorang bisa juga diperoleh dari teman. Dengan merasakan manfaat dari suatu ide bagi dirinya, maka seseorang akan menyebarkan ide tersebut pada orang lain (Artawijaya, 2009).

2.2 Teori Tentang Proses Menua ( Ageing Proses ) 2.2.1 Defenisi Menua ( menjadi tua ) Menua ( menjadi tua ) adalah suatu proses menghilangnya perlahan – lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita ( CONSTANTANIDES, 1994 ).

12

Proses menua merupakan proses normal yang di mulai sejak pembuahan dan berakhir pada kematian. Sepanjang hidup tubuh berada dalam keadaan dinamis, ada pembangunan dan ada perusakan. pada saat pertumbuhan pertumbuhan, proses

pembangunan lebih banyak daripada proses perusakan. Setelah tubuh secara faali mencapai tingkat kedewasaan, proses perusakan secara berangsur akan melebihi proses pembangunan. Inilah saatnya terjadi proses menua atau aging. Proses menua ditandai dengan peningkatan kehilangan jaringan aktif tubuh berupa otot – otot tubuh yang disertai dengan perubahan dalam fungsi organ tubuh seperti fungsi jantung, otak, ginjal dan hati.

Istitilah ” menjadi tua ” sering dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk berfungsi secara efesien, proses berfikir yang menurun, dan kepikunan yang sudah berada di ambang pintu (Roe, 1987 ). Proses menua (aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan tubuh untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhdap benda – benda asing, termasuk mikroorganisme dan menurunnya kemampuan untuk memperbaiki kerusakan yang di derita ( Constantinides, 1994 dalam Budi Darmojo dan Hadi Martono, 2004 ). Dengan demikian manusia secara berangsur akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan semakin banyak mengalami gangguan metabolik dan structural yang dinamakan “ penyakit degenratif “ seperti hipertensi, aterosklorosis, diabetes

13

mellitus dan kanker. Orang tua sering mengakhiri hidupnya dengan gejala stroke, infark miokard (gagal jantung), dan metastasis kanker.

2.2.2

Perubahan – Perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia. Perubahan – perubahan fisik 1. Sel a. b. c. Lebih sedikit jumlahnya Lebih besar ukurannya Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler d. Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal dan darah, dan hati e. f. g. Jumlah sel otak menurun Terganggunya mekanisme perbaikan sel Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%

2. Sistem pendengaran a. Presbiakusis ( gangguan pada pendengaran ). Hilangnya kemampuan ( daya ) pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi atau suara- suara atau nada- nada tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata- kata 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun. b. Membrana timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.

14

c. Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya kratin d. Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa / stress.

3. Sistem Penglihatan a. Sfingter pupuil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. b. Kornea berbentuk sferis ( bola ). c. Lensa lebih suram ( kekeruhan pada lensa ) menjadi katarak, jelas mmenyebabkan gangguan penglihatan. d. Hilangnya daya akomodasi e. Menurunnya pandangannya. f. Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala. lapangan pandang, berkurang luas

4. Sistem kardiovaskuler a. Elastisitas, dinding aorta menurun. b. Katup jantung menebal dan menjadi kaku. c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk osigenasi, perubahan posisi

15

dari todur ke duduk ( duduk ke berdiri ) bila menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ). e. Tekanan darah meninggi di akibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolisa normal + 170 mmHg. Diastolis normal + mmHg

5. Sistem pengaturan temperatur tubuh Pada pengaturan suhu, hipotalamus di anggap bekerja sebagai suatu termostar , yaitu menetapkan suatu suhu tertentu,

kemunduran terjadi berbagai factor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain : a. Temperatur tubuh menurun ( hipertermia ) secara fisiologi + 35° C. ini akibat metabolism yang menurun. b. Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendaahnya aktivitas otot.

6. Sistem Respirasi a. Otot-otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku. b. Menurunya aktivitas dari silia c. Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan maksimum menurun, dan kedalaman bernapas menurun. d. Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.
16

e. O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg. f. CO2 pada arteri tidak berganti. g. Kemampuan untuk batuk berkurang.

7. Sistem Kulit ( Integumentari System ) a. Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak. b. Permukaan kulit kasar dan bersisik ( karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk sel epidermis ). c. Menurunya respon terhadap trauma. d. Mekanisme proteksi kulit menurun e. Kulit kepala dan rambut menipis bewarna kelabu. f. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. g. Pertumbuhan kuku lebih lambat. h. Kuku jari menjadi lebih keras dan rapuh. i. Kuku menjadi pudar,kurang bercahaya.

8. System muskuloskletal a. Tulang kehilangan density ( cairan )dan makin rapuh. b. Kifosis c. Pinggang, lutut dan jari-jari terbatas. d. Discus interveterbralis menipis dan menjadi pendek ( tingginya berkurang ) e. Persendian membesar dan menjadi kaku. f. Tendon mengerut dan mengalami sklerosis. g. Atrofi serabut otot ( otot-otot serabut mengecil)

17

2.3

Teori Tentang Gizi Lansia

2.3.1 Gizi Untuk Lansia Manusia dalam proses pertumbuhan dan perkembanaganya dimulai dari saat pembuahan, berlangsung sepanjang masa hidupnya, hingga dewasa sampai tua. Semua proses pertumbuhan tersebut

memerlukan zat gizi yang terkandung dalam makanan. Proses penuaan sering disertai dengan adanya peningkatan gangguan organ dan fungsi tubuh, perubahan komposisi, penurunan massa bebas lemak, serta peningkatan massa lemak. Pada proses penuaan dapat diperlambat apabila mempunyai tingkat kesegaran jasmani dan asupan gizi yang baik.lansia yang sehat dan bugar tidak akan menjadi beban bagi orang lain karena masih dapat mengatasi sendiri masalah kehidupannya sehari hari.

2.3.2

Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Pada Lansia 1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan ( akibat kerusakan gigi atau ompong ). 2. Berkurangnya cita rasa (rasa dan buah ). 3. Berkurangnya koordinasi otot-otot saraf. 4. Keadaan fisik yang kurang baik. 5. Faktor ekonomi dan sosial. 6. Faktor penyerapan makanan ( daya absorpsi ).

18

2.3.3

Masalah Gizi pada Lansia Perhatian tehadap gizi untuk lansia akan membantu stamina tubuh tetap terjaga. Berikut beberapa permasalahan yang dapat di cermati. 1. Gizi Berlebih Masalah gizi berlebih pada Lansia banyak di temui di Negara barat dan di kota-kota Negara berkembang.kebiasaan makan banyak di usia muda bisa terbawa pada usia tua dan menyababkkan berat badan yang berlebih. Perlu di sadari pada usia tua kebutuhan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Dan kelebihan berat badan bisa menjadi pencetus berbagai penyakit misalnya penyakit jantung, penyempitan pembuluh darah, kencing manis, darah tinggi dan sebagainya.

2. Gizi Berkurang Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang di butuhkan tubuh, maka bert badan akan kurang dari normal. Bila ini disertai dengan kekurangan protein, maka banyak kerusakan sel yang tidak dapat di perbaiki. Akibatnya yang nyata adalah misalnya rambut cepat rontok, daya tahan terhadap penyakit berkurang, kemungkinan infeksi pada organ tubuh yang vital dan sebagainya. gizi kurang sering berhubungan dengan maslah ekonomi, atw karena ganggguan panyakit.

19

3. Kurang Vitamin Kekurangan vitamin pada Lansia sering di sebabkan karena kurangnya konsumsi sayuran dan buah-buuahan. Ini bisa mengakibatkan nafsu makan berkurang, penglihatan cepat mundur, kulit menjadi cepat kering, lesu dan tidak bersemangat.

4. Kelebihan vitamin Lansia memang membutuhkan tambahan vitamin tanpa nasehat dokter, yang sebenarnya tidak di butuhkan mereka. Dosis berlebihan vitamin ini akan terbuang percuma.

2.3.4

Vitamin dan Mineral bagi Lansia

2.3.4.1 Vitamin A. Vitamin Larut Lemak Vitamin A Usia tidak meningkatkan kebutuhan vitamin A dan tidak menurunkan absorpsinya. Bahkan hasilhasil penelitian

menunjukkan bahwa absorpsi dan penyimpanan vitamin A pada lansia lebih efesien daripada usia muda ( Whitney dan Rolfes, 1999 )

20

Vitamin E Hasil-hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa asupan vitamin E yang tinggi pada usia lanjut di kaitkan dengan meningkatnya fungsi imun dan membaiknya status kognitif pada pasien dengan penyakit Alzeimer ( Worthington-Roberts dan wiliams, 2000).

Vitamin D Sebagian besar kebutuhan vitamin D dapat dipenuhi melalui pembentukanya di dalam tubuh ( di bawah kulit ). Dengan bantuan sinar matahari. Namun perubahan pada kulit mengurangi mengurangi kemampuan orang di usia lanjut untuk mensintesis vitamin D. sedangkan penurunan fungsi ginjal pada usia lanjut mengurangi kemampuan tubuh untuk membentuk vitamin D dalam bentuk aktif. Asupan vitamin D yang cukup atau perolehan tubuh melalui sinar matahari, sebagian akan melindungi tubuh terhadap kropos tulang ( oesteoporosis ) atau kemungkinan patah tulang.

21

B. Vitamin Larut Air Piridoksin ( vitmin B6 ) Vitamin B6 semakin penting artinya karena peranannya dalam mencegah peningkatan nilai homosistein ( vitamin B12 dan asam folat berpean sama ) yang di duga berperan dalam terjadinya penyakit aterosklerosis dan stroke.

Kekurangan piridoksin juga menurunkan respons imun tubuh. Hasil-hasil penelitian menunjukkan absorpsi dan metabolisme piridoksin turun dengan semakin meningkatnya umur. Oleh sebab itulah dibutuhkan piridiksin dalam jumlah lebih tinggi pada usia lanjut.

Folat ( Vitamin B11 ) Folat ternyata juga berperan dalam mencegah meningkatnya homosistein dalam plasma, sehingga folat juga dikaitkan dengan pencegahan penyakit-penyakit kronis seperti jantung koroner dan stroke.absorbsi folat dipengaruhi oleh atrofi lambung yang banyak diderita pada usia lanjut.

Vitamin B12 Absorpsi vitamin B12 merupakan proses rumit yang merupakan factor intrinsik berupa ikatan protein yang dikelluarkan oleh mukosa lambung. Kekurangan factor intrinsic mengakibatkan kekurangan vitamin B12. Bila kondisi ini berlangsung lama akan menyebabkan perubahan

22

pada otak dan sumsum tulang belakang yang disertai gangguuan fungsi otak , perubahan kepribadian dan kehilangan koordinasi fisik.

2.3.4.2

Mineral Besi Sebagai bagian dari hemoglobin, besi dibutuhkan untuk mengangkut oksigen ke sel-sel tubuh. Dengan demikian, besi berpengaruh terhadap kemampuan fisik dan kemampuan belajar. Besi juga berperan dalam system kekebalan tubuh. Pada tahun 1995 sebanyak 45,8% lansia ( > 65 tahun ) menderita anemi gizi besi ( Depkes RI 2005 ). Hal ini terutama di sebabkan oleh kurangnya asupan besi dari makanan, terutama yang mempunyai ketersediaan biologis yang tinggi yaitu yang berasal dari hewan. Pada orang usia usia lanjut Anemi Gizi Besi juga dimungkinkan oleh perdarahan saluran cerna karena peradangan usus ( ulkus peptikum), kanker saluran cerna, atau hal lain. Suplemen besi dan vitamin C dapat meningkatkan simpanan besi dalam tubuh. Sumber besi adalah makanan hewani, seperti hati, daging, dan telur serta makanan nabati seperti serealia tumbuk, kacangkacangan dan sayuran hijau.

23

Kalsium Pada usia lanjut absorpsi kalsium menurun; hal ini antara lain di sebabkan oleh perubahan yang terjadi pada metabolisme vitamin D. pada usia lamjut besar kemungkinan terjadi osteoporosis( keropos tulang ), sehingga kalsium merupakan zat gizi yang perlu mendapat perhatian. Selain untuk pembentukan tulang dan gigi, kalsium diperlukan untuk pembekuan darah, pengantar saaraf, kontraksi dan relaksai otot, serta fungsi jantung.

Seng Seng di butuhkan untuk sensasi rasa dan pembentukan hormon insulin. Seng merupakan bagian dari berbagai metaloenzim, menyembuhkan luka dan mempunyai fungsi kekebalan. Sumber seng dengan ketersediaan biologis tinggi adalah makanan hewani, seperti daging, hati, ikan dan telur.

Air Air diperoleh tubuh melalui makanan, minuman, dan hasil oksidasi di dalam tubuh. Pada usia muuda, rasa haus menjamin asupan air yang cukup. Berkurangnya senitivitas terhadap dehidrasi dan sensasi haus mengurangi secara berarti asupan air pada usia lanjut.padahal kandungan air tubuh menurun seiring dengan bertambahnya umur.

24

Orang berusia lanjut juga mengalami penurunan kontrol terhadap pengeluaran air seni hingga beresiko terhadap dehidrasi.orang lanjut usia yang mengalami dehidrasi mempunyai resiko terhadap infeksi saluran kemih,pneumonia,dan rasa bingung.orang lanjut usia dianjurkan untuk minum air sebanyak 6-8 gelaas/hari.

25

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian yang berjudul Gambaran Pengetahuan Lansia Tentang Gizi pada Lansia di Posyandu Lansia kampung Bagan Kota Batam tahun 2012.

Penelitian yang berjudul gambaran pengetahuan lansia tentang gizi pada lansia dapat di gambarkan sebagai berikut :

Gambaran pengetahuan lansia tentang gizi meliputi : 1.gizi untuk lansia 2.faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia 3.masalah gizi pada lansia 3.vitamin dan mineral bagi lansia

Gambar 3.1 Kerangka konsep

26

3.2 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggotaanggota suatu kelompok yang berbeda yang dimiliki oleh kelompok lain (notoatmodjo, 2010). Variabel dalam penelitian ini hanya satu variabel yaitu pengetahun lansia tentang gizi : Variabel Defenisi Operasional Hal – hal yang perlu diketahui 1ansia tentang gizi meliputi : gizi untuk lansia, faktor yang mempengar uhi kebutuhan gizi pada lansia,masal ah gizi pada lansia, vitamin dan mineral bagi lansia Cara Ukur Menggu nakan angket dengan cara member ikan pernyata an Alat Ukur Kuesioner Hasil Ukur Baik (76100%) Cukup (56– 75%) Kurang (<56% ) Skala Ukur Ordinal

Pengetahuan lansia tentang gizi

27

3.3 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang di lakukan adalah penelitian deskriptif yaitu menggambarkan pengetahuan lansia mengenai gizi pada lansia.

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian 3.4.1 Tempat Penelitian ini di lakukan di Posyandu Lansia Kampung Bagan Kota Batam.

3.4.2 Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2012 di posyandu Lansia kampung bagan Kota Batam.

3.5 Populasi dan Sampel 3.5.1 Populasi Populasi adalah sekelompok orang, kejadian, sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu ( rumengan, 2008 ). Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh Lansia di posyandu Lansia kampung Bagan Kota Batam Tahun 2012 sebanyak 91 orang. 3.5.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang di ambil dari keseluruhan objek yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi tersebut ( notoatmodjo, 2005 )

28

3.6 Pengumpulan Data Menggunakan data primer yaitu data yang di peroleh dengan menggunakan kuisioner yang di buat sendiri oleh penulis berdasarkan konsep teoritis untuk mendapatkan data lansia mengenai pengetahuan gizi.

3.7 Tehnik pengolahan data Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut : 3.7.1 Pemeriksaan Data (Editing) Hasil wawancara, angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner.

3.7.2 Pengkodean Data (Coding) Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan peng”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode ini sangat berguna dalam

memasukkan data (data entry).

29

3.7.3 Memproses Data (Processing) / Data Entry Memasukkan data yang telah diberi kode kedalam tabel kemudian diolah secara manual dengan mengolah data kuisioner.

3.7.4 Pembersihan Data (Cleaning) Setelah semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinankemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi. (Notoatmodjo, 2010)

3.8 Teknik Analisa Data Teknik analisa data yang yang dipergunakan dalam penilitian ini adalah analisis univariat, dimana dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian, pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dalam tiap variabel. Analisis data akan dilakukan secara univariat yaitu untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Lansia Tentang gizi Lansia

Analisa data dikumpulkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dipersentasikan dari tiap-tiap variabel dengan menggunakan rumus : (Setiadi, 2007).

30

P

f x100% n

Keterangan P F N

: : Persentase : Jumlah jawaban yang benar : Jumlah soal

Hasil perhitungan persentase dimasukkan dalam kriteria standar objektif sebagai berikut : Baik Cukup Kurang : 76 – 100 % : 56 – 75 % : < 56 % (Rumengan, 2008)

Analisa data dilakukan dengan menggunakan teknik analisa kuantitatif yaitu dengan menggunakan angka – angka yang terkumpul kemudian diambil kumpulan secara umum. Skor penilaian kuesioner : 1. Jika jawaban benar nilainya 1 2. Jika jawaban salah nilainya 0
31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->