P. 1
Soekarno dan Neokolim

Soekarno dan Neokolim

|Views: 491|Likes:
Published by Peter Kasenda
Berbicara tentang Sejarah Indonesia terasa kurang lengkap tanpa menyebut nama Soekarno. Peranan Soekarno dalam perjalanan bangsa Indonesia sungguh tak terbantahkan dan sulit dicari tandingannya. Sejak pertengahan tahun 1920-an hingga pertengahan tahun 1960-an, Soekarno menjadi titik pusat dinamika bangsa Indonesia. Latar belakang yang demikian inilah yang membuat terbentuknya gambaran dan citra diri Soekarno yang istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia. Soekarno menjadi sosok pemimpin dengan populeritas luar biasa besar di mata rakyatnya, bahkan di mata dunia internasional. Di bawah Presiden Soekarno, Indonesia bercita-cita memimpin front internasional anti imperialis. Ia mengutuk sistem internasional yang berlaku sebagai suatu tatanan yang eksploitatif di mana kekuatan-kekuatan yang sudah mapan (OLDEFOS) berusaha menundukkan kekuatan-kekuatan baru yang sedang muncul (NEFOS). Bantuan dari negara-negara maju, OLDEFOS, dianggap merupakan alat untuk membatasi kemerdekaan NEFOS, karenanya ia memuja kesanggupan berdiri pada kaku sendiri dan mempersetankan bantuan Amerika ( Go to hell with your )

Menjelang akhir abad ke-19 hampir seluruh benua Asia berada di bawah kekuasaan kolonial. Akan tetapi suatu semangat baru telah memasuki kesadaran rakyat-rakyat yang terjajah itu – bukan hanya keinginan untuk memperoleh kemerdekaan, tetapi juga kepercayaan bahwa secara moral ini adalah benar dan mungkin dicapai secara fisik. ( Merle Ricklefs, 1986 : 1 ) Dalam autobiografinya, Soekarno menyatakan bahwa kelahirannya bukan hanya fajar permulaan hari yang baru melainkan juga fajar suatu abad yang baru. Dan fajar demikian memang bukan hanya merupakan awal suatu abad yang baru melainkan juga suatu masa baru yang dikemudian hari akan disebut sebagai masanya Soekarno. Hal yang lain yang baru ialah bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda sekitar peralihan abad ke abad berikutnya meninggalkan cara memerintah yang autokrat dan mulai menjalankan Politik Etis. Ini merupakan upaya untuk merangkul jutaan warga patuh di Kepulauan Hindia Belanda ini di bawah payung modernisasi Barat. Upaya ini didasari keyakinan dan visi bahwa apa yang baik dan dinamis di negeri Belanda, misalnya pendidikan dan pembangunan ekonomi, dapat dilaksanakan dengan hasil yang sama baik di koloni Hindia Timur yang masih belum seluruhnya tercakup di bawah kekuasaan Belanda waktu itu. ( Bob Hering, 2012 : 3- 4 )

Ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo (1869-1945) termasuk golongan bangsawan rendahan Jawa, sebagaimana ditunjukkan oleh gelar “ Raden” yang yang disandangnya dan dengan demikian Soekemi bisa masuk sekolah pendidikan guru (Kweekschool) yang dibuka sekitar tahun 1870 di Probolinggo, Jawa Timur. Jabatan yang pertama sebagai guru, menjelang akhir abad ke-19, adalah di sebuah sekolah pendidikan pegawai negeri bumiputera di Bali. Di sana Soekemi kawin dengan seorang gadis Balai, Ida Ayu Nyoman Rai, dan setelah upacara perkawinan menurut agama Islam dikeluarkan dari kasta Brahmananya. Pada pergantian abad, R Soekemi dipindahkan ke Jawa, di mana anaknya yang kedua, Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1901.
Berbicara tentang Sejarah Indonesia terasa kurang lengkap tanpa menyebut nama Soekarno. Peranan Soekarno dalam perjalanan bangsa Indonesia sungguh tak terbantahkan dan sulit dicari tandingannya. Sejak pertengahan tahun 1920-an hingga pertengahan tahun 1960-an, Soekarno menjadi titik pusat dinamika bangsa Indonesia. Latar belakang yang demikian inilah yang membuat terbentuknya gambaran dan citra diri Soekarno yang istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia. Soekarno menjadi sosok pemimpin dengan populeritas luar biasa besar di mata rakyatnya, bahkan di mata dunia internasional. Di bawah Presiden Soekarno, Indonesia bercita-cita memimpin front internasional anti imperialis. Ia mengutuk sistem internasional yang berlaku sebagai suatu tatanan yang eksploitatif di mana kekuatan-kekuatan yang sudah mapan (OLDEFOS) berusaha menundukkan kekuatan-kekuatan baru yang sedang muncul (NEFOS). Bantuan dari negara-negara maju, OLDEFOS, dianggap merupakan alat untuk membatasi kemerdekaan NEFOS, karenanya ia memuja kesanggupan berdiri pada kaku sendiri dan mempersetankan bantuan Amerika ( Go to hell with your )

Menjelang akhir abad ke-19 hampir seluruh benua Asia berada di bawah kekuasaan kolonial. Akan tetapi suatu semangat baru telah memasuki kesadaran rakyat-rakyat yang terjajah itu – bukan hanya keinginan untuk memperoleh kemerdekaan, tetapi juga kepercayaan bahwa secara moral ini adalah benar dan mungkin dicapai secara fisik. ( Merle Ricklefs, 1986 : 1 ) Dalam autobiografinya, Soekarno menyatakan bahwa kelahirannya bukan hanya fajar permulaan hari yang baru melainkan juga fajar suatu abad yang baru. Dan fajar demikian memang bukan hanya merupakan awal suatu abad yang baru melainkan juga suatu masa baru yang dikemudian hari akan disebut sebagai masanya Soekarno. Hal yang lain yang baru ialah bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda sekitar peralihan abad ke abad berikutnya meninggalkan cara memerintah yang autokrat dan mulai menjalankan Politik Etis. Ini merupakan upaya untuk merangkul jutaan warga patuh di Kepulauan Hindia Belanda ini di bawah payung modernisasi Barat. Upaya ini didasari keyakinan dan visi bahwa apa yang baik dan dinamis di negeri Belanda, misalnya pendidikan dan pembangunan ekonomi, dapat dilaksanakan dengan hasil yang sama baik di koloni Hindia Timur yang masih belum seluruhnya tercakup di bawah kekuasaan Belanda waktu itu. ( Bob Hering, 2012 : 3- 4 )

Ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo (1869-1945) termasuk golongan bangsawan rendahan Jawa, sebagaimana ditunjukkan oleh gelar “ Raden” yang yang disandangnya dan dengan demikian Soekemi bisa masuk sekolah pendidikan guru (Kweekschool) yang dibuka sekitar tahun 1870 di Probolinggo, Jawa Timur. Jabatan yang pertama sebagai guru, menjelang akhir abad ke-19, adalah di sebuah sekolah pendidikan pegawai negeri bumiputera di Bali. Di sana Soekemi kawin dengan seorang gadis Balai, Ida Ayu Nyoman Rai, dan setelah upacara perkawinan menurut agama Islam dikeluarkan dari kasta Brahmananya. Pada pergantian abad, R Soekemi dipindahkan ke Jawa, di mana anaknya yang kedua, Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1901.

More info:

Published by: Peter Kasenda on May 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/31/2015

Peter Kasenda

Soekarno dan Nekolim
Berbicara tentang Sejarah Indonesia terasa kurang lengkap tanpa menyebut nama Soekarno. Peranan Soekarno dalam perjalanan bangsa Indonesia sungguh tak terbantahkan dan sulit dicari tandingannya. Sejak pertengahan tahun 1920-an hingga pertengahan tahun 1960-an, Soekarno menjadi titik pusat dinamika bangsa Indonesia. Latar belakang yang demikian inilah yang membuat terbentuknya gambaran dan citra diri Soekarno yang istimewa dalam realitas psiko-historis bangsa Indonesia. Soekarno menjadi sosok pemimpin dengan populeritas luar biasa besar di mata rakyatnya, bahkan di mata dunia internasional. Di bawah Presiden Soekarno, Indonesia bercita-cita memimpin front internasional anti imperialis. Ia mengutuk sistem internasional yang berlaku sebagai suatu tatanan yang eksploitatif di mana kekuatan-kekuatan yang sudah mapan (OLDEFOS) berusaha menundukkan kekuatan-kekuatan baru yang sedang muncul (NEFOS). Bantuan dari negara-negara maju, OLDEFOS, dianggap merupakan alat untuk membatasi kemerdekaan NEFOS, karenanya ia memuja kesanggupan berdiri pada kaku sendiri dan mempersetankan bantuan Amerika ( Go to hell with your ) Menjelang akhir abad ke-19 hampir seluruh benua Asia berada di bawah kekuasaan kolonial. Akan tetapi suatu semangat baru telah memasuki kesadaran rakyat-rakyat yang terjajah itu – bukan hanya keinginan untuk memperoleh kemerdekaan, tetapi juga kepercayaan bahwa secara moral ini adalah benar dan mungkin dicapai secara fisik. ( Merle Ricklefs, 1986 : 1 ) Dalam autobiografinya, Soekarno menyatakan bahwa kelahirannya bukan hanya fajar permulaan hari yang baru melainkan juga fajar suatu abad yang baru. Dan fajar demikian memang bukan hanya merupakan awal suatu abad yang baru melainkan juga suatu masa baru yang dikemudian hari akan disebut sebagai masanya Soekarno. Hal yang lain yang baru ialah bahwa pemerintah kolonial Hindia Belanda sekitar peralihan abad ke abad berikutnya meninggalkan cara memerintah yang autokrat dan mulai menjalankan Politik Etis. Ini merupakan upaya untuk merangkul jutaan warga patuh di Kepulauan Hindia Belanda ini di bawah payung modernisasi

1

Barat. Upaya ini didasari keyakinan dan visi bahwa apa yang baik dan dinamis di negeri Belanda, misalnya pendidikan dan pembangunan ekonomi, dapat dilaksanakan dengan hasil yang sama baik di koloni Hindia Timur yang masih belum seluruhnya tercakup di bawah kekuasaan Belanda waktu itu. ( Bob Hering, 2012 : 3- 4 ) Ayah Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo (1869-1945) termasuk golongan bangsawan rendahan Jawa, sebagaimana ditunjukkan oleh gelar “ Raden” yang yang disandangnya dan dengan demikian Soekemi bisa masuk sekolah pendidikan guru (Kweekschool) yang dibuka sekitar tahun 1870 di Probolinggo, Jawa Timur. Jabatan yang pertama sebagai guru, menjelang akhir abad ke-19, adalah di sebuah sekolah pendidikan pegawai negeri bumiputera di Bali. Di sana Soekemi kawin dengan seorang gadis Balai, Ida Ayu Nyoman Rai, dan setelah upacara perkawinan menurut agama Islam dikeluarkan dari kasta Brahmananya. Pada pergantian abad, R Soekemi dipindahkan ke Jawa, di mana anaknya yang kedua, Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1901. Sebagai kanak-kanak, kata Bernhard Dahm, Soekarno memasuki kebudayaan tradisional Jawa melalui dunia wayang – yang merupakan sebagian dari kebudayaan tinggi tradisi kraton Jawa sekaligus tradisi pedesaan Jawa. Kon cerita-cerita wayang yang diturunkan dari epos India yaitu Ramayana dan Mahabharata, yang dalam prosesnya tleha dijawakan, intinya berisikan tradisi Jawa, tempat simpanan secara tersembunyi rahasia pengetahuan Jawa mengenai makna kehidupan yang paling dalam. Soekarno menyerap segi filsafat Jawa ini dari kakek-neneknya di Tulungagung, dari ayahnya di Mojokerto, dan menurut keterangan resmi juga dari Wagiman, seorang petani miskin yang tinggal di dekat Mojokerto. Seusai sekolah Soekarno sering duduk-duduk di pondok Wagiman dan mendengarkan cerota-ceritanya tentang para pahlawan perang – tentang Kumbakarna, Arjuna, Gatotkaca, Kresna, Semar yang lucu namun perkasa, tentang Hanoman pemimpin kera dan masih banyak lainnya; masing-masing dengan keunggulannya sendiri, lengkap dengan liku-liku wataknya. Pada kesempatan-kesempatan lain Soekarno termasuk di antara anak-anak yang duduk penuh pesona bersama orang tua mereka, menonton pertunjukan semalaman suntuk dan mendengarkan penuturan dalang mengikuti liku-liku perubahan cerita - pada tengah malam pahlawan masuk dan pukul tiga dimulainya gara-gara. Menarik bahwa selama menjadi mahasiswa di Surabaya dan Bandung, Soekarno sering mengindentifikasikan dirinya
2

dengan tokoh Bima. Sifat-sifatnya adalah nekad, berani dan jujur, tetapi jelas bukan keramahtamahan. Ia galak, tak kenal kompromi, kasar, memerlukan otoritas yang mapan, dan siap membantah bahkan terhadap dewa-dewa. ( Bernhard Dahm, 1987 : 27 – 33 ) Pendidikan Soekarno menempatkan dia di kalangan atas masyarakat Indonesia : Europese Lagere School (Sekolah Dasar Eropa) dan Hogere Burger School (Sekolah Menengah Belanda, tamat 1921) serta Technische Hoogeschool (Sekolah Tinggi Teknik). Tahun 1927, ketika Soekarno memulai karir politik, tidak lebih dari 78 orang Indonesia yang mempunyai ijazah HBS. Ini berarti hanya satu di antara 7 juta manusia Indonesia yang memiliki ijazah tersebut. Lebih sedikit lagi jumlah orang-orang Indonesia tamatan universitas seperti Ir Soekarno. Para pemimpin pergerakan nasional kebanyakan berasal dari mereka yang berpendidikan tinggi merupakan suatu elite tersendiri. Mereka saling mengenal, berhubungan erat dan merasa dan merasa setingkat. Mereka bersatu karena adanya jarak yang memisahkan mereka dari rakyat yang buta huruf dan terbelakang. Selain kedudukan elitis para pemimpin pergerakan, ada juga gangguan terhadap kesadaran sosial pada diri mereka. Dalam hal ini, Soekarno menempati kedudukan yang unik. Soekarno berdiam di rumah HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam yang kharismatik selama masa HBS-nya. Dengan mudah, Soekarno yang cerdas diperkenalkan kepada kalangan nasionalis, anggota Jong Java dan anggota SI. Sejak tahun 1911, Soekarno telah menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya dalam penerbitanpenerbitan nasionalis ; Oetoesan Hindia. Di sana ditulisnya,” Hancurkan segera kapitalisme yang dibantu budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, Insya Allah itu segera dilaksanakan”. Berhubungan dengan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi bila Indonesia telah merdeka, Soekarno muda menulis,”…apa artinya memerintah sendiri kalau itu dilakukan oleh pengikut-pengikut kapitalisme dan imperialisme? “ Lebih menarik lagi, di masa Soekarno muda ini adalah tindakan-tindakannya. Dalam suatu pertemuan, Jong Java, bagian dari Budi Utomo, Soekarno mengagetkan semua hadirin dengan penolakannya mempergunakan bahasa Jawa kromo. Sebagai penganut Jawa Dwipa (gerakan untuk menghapuskan pemakaian tingkatan bahasa Jawa) yang lahir di Surabaya, ia menolak pemakaian tingkatan-tingkatan bahasa, Soekarno memakai bahasa Jawa ngoko (rendahan). Dengan jelas, Soekarno mau menghilangkan kedudukan elitisnya atau menghapuskan elitisme. Populisme Soekarno terlihat juga pada tulisannya tahun 1921, ketika perkumpulan-perkumpulan seperti Jong
3

Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, dan lain-lain merencanakan persatuan. Ini dianggapnya tak berguna. Soekarno menulis untuk mempertanyakan kegunaan mengejar cita-cita yang muluk-muluk.” Para intelektual harus memikirkan nasib rakyat” Sikap ini memang sangat berlainan dengan sikapsikapnya di kemudian hari untuk menggalang persatuan. Akan tetapi, mungkin yang terakhir ini adalah hati nurani Soekarno yang sebenarnya” “ pikirkanlah nasib rakyat “. ( Onghokham, 2009 : 3 – 6 ) Pada tanggal 4 Juli 1927 sekelompok kecil pemuda di Bandung mengumumkan pembentukan Perserikatan Nasional Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia.. Ketuanya adalah seorang mahasiswa muda dari Sekolah Tinggi Teknik Bandung, Soekarno. Dalam waktu dua setengah tahun setelah itu PNI merupakan partai nasionalis yang paling aktif di Hindia Belanda. Pada puncak kepopulerannya di bulan Desember 1929 partai tersebut mempunyai lebih kurang 10.000 orang anggota dan pengaruhnya meluas ke seluruh kota di Jawa dan malahan juga sampai ke Sumatra dan bagian timur Indonesia. Kecuali Soekarno, kebanyakan dari para pemimpin PNI terdiri dari orang – orang muda yang memperoleh pendidikan di Negeri Belanda pada permulaan tahun 1920-an. Sewaktu di Negeri Belanda, mereka menggabungkan diri dengan organisasi mahasiswa Indonesia yaitu Perhimpunan Indonesia. Dipimpin oleh Mohammad Hatta, seorang mahasiswa ekonomi, mereka menyaksikan naik dan turunnya mula-mula Sarekat Islam dan kemudian PKI, sehingga mereka bertekad untuk menciptakan sebuah partai nasionalis naru yang tidak berdasarkan Islam dan juga tidak berdasarkan komunisme Sekembalinya ke Indonesia, mereka membentuk klub-klub studi di Surabaya, Bandung, dan kota-kota lain di Jawa. Soekarno adalah seorang mahasiswa yang masih muda di tahun 1924 ketika ia memasuki Kelompok Studi Umum di Bandung dan mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Tjipto Mangunkusumo dan Iskaq Tjokrohadisuryo. Dari Kelompok Studi Umum inilah kemudian lahir Perserikatan Nasional Indonesia. Di kalangan Perhimpunan Indonesia dan di klub-klub studi di Bandung dan Surabaya terdapat suatu keyakinan yang kuat bahwa gerakan nasionalis Indonesia haruslah lebih bersatu dari keadaan sebelumnya jika betul-betul hendak merupakan ancaman bagi Belanda. Soekarno sendiri sangat terpengaruh oleh suasana ini dan pada akhir tahun 1926 diterbitkannya serngkaian artikel penting berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan
4

Marxisme”. ( John Ingleson, 1986 : 56 – 58 ). Dalam tulisan tersebut, Soekarno menegaskan, yang pertama-tama perlu disadari adalah bahwa alasan utama kenapa kolonialis Eropa datang ke Asia bukanlah untuk menjalankan suatu kewajiban luhur tertentru. Mereka datang terutama untuk memgisi perut yang keroncongan belaka Artinya, motivasi pokok dari kolonialisme itu adalah ekonomi. Sebagaimana ia tulis, ia setuju dengan pendapat serajawan Jerman Dietrich Schafer ( 1845-1929) yang mengatakan bahwa koloniliamse itu pertama-tama adalah akibat dari menurunnya jumlah barang-barang din negeri induk Karena alasan ekonomi itulah selama berabad-abad bangsa Eropah menjajah bangsa Asia. Sebagai sistem yang motivasi pokoknya adalah ekonomi, Soekarno percaya kolonialisme terkait dengan kapitalisme, yakni suatu sistem ekonomi yang dikelola oleh sekelompok kecil pemilik modal yang tujuan pokoknya adalah memaksimalkan keuntungan. Dalam upaya memaksimalisasi keuntungan itulah kaum kapitalis tak segan-segan untuk mengeksploitasi orang atau bangsa-bangsa lain. Melalui kolonialisme para kapitalis Eropa memeras tenaga dan kekayaan alam rakyat negeri-negeri terjajah demi keuntungan mereka. Melalui kolonialisme ini pulalah di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, kapitalisme mendorong terjadinya apa yang dalam salah satu istilah kegemaran Soekarno disebut sebagai “ exploitation de l’homme par l’homme’ atau eksploitasi manusia oleh manusia lain. Sebagai suatu sistem yang eksploitatif, kapitalisme itu mendorong praktikpraktik imperialis. Sebagaimana kita tahu, meskipun pada mulanya imperialisme lebih mengacu pada praksis ekspnasi wilayah politis suatu negara, pada awal abad ke-20 pengertian itu diperluas, yakni sebagai sistem politik dan sebagai sistem ekonomi. Sebagai sistem politik, ia akan berakhir ketika sebuah wilayah yang dijajah menjadi merdeka. Tetapi sebagai sebuah sistem ekonomi, imperialisme bisa berlangsung terus bahkan ketika negara terjajah itu sudah merdeka secara politis. ( Baskara T Wardaya , 2006 : 38 – 39 ) Di samping itu dikemukakan bahwa gerakan-gerakan Islam, Marxis dan Nasionalis di di Indonesia mempunyai tujuan yang sama, yaitu menentang kapitalisme dan imperialisme Barat dan bahwa ketiga arus kegiatan politik tersebut harus bersatu dalam perjuangan melawan musuh bersama,, yaitu Belanda. Golongan komunis dihancurkan setelah pemberontakan mereka di bulan November 1926, tetapi untuk selanjutnya dalam masa kolonial itu

5

Soekarno tetap mengemukakan perlunya persatuan antara kaum nasionalis Islam dan sekuler. Pidato tahun 1928 dan 1929 para pemimpin PNI berusaha keras untuk menciptakan sebuah organisasi yang kuat dan membangun sebuah partai massa. Beratus-ratus pertemuan yang teratur baik diadakan dan terdapat perhatian besar di mana saja para pemimpin PNI berpidato. Suasana emosional timbul di ruangan-ruangan pertemuan bendera PNI- merah putih dengan gambar kepala banteng di tengah-tengahnya – terlihat di mana-mana dan warna-warna merah dan putih sampai digunakan untuk menghias podium. Sering mereka yang hadir menyanyikan lagu-lagu patriotik sebelum para pembicara utama datang. Soekarno adalah tokoh dengan daya tarik yang utama bagi PNI. Ia adalah seorang ahli pidato yang hebat. Pidato-pidatonya penuh dengan dasar-dasar pokok pikiran nasionalis yang disampaikan dalam bahasa yang sederhana yang dengan mudah dapat dimengerti oleh para pendengarnya. Soekarno menggunakan dongeng-dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat yang popular, terutama cerita-cerita wayang untuk mewujudkan pikiran-pikiran PNI yang nasionalis. Salah satu dari pesannya yang pokok ialah sebelum Kemerdekaan dapat dicapai rakyat Indonesia perlu terlebih dahulu mencapai kebebasan rohani. Kebebasan rohani, menurut pendapatnya, akan diperoleh apabila rakyat Indonesia mengatasi rasa rendah diri dan ketergatungan mereka secara kejiwaan pada Belanda. Dalam pidato-pidato serta tulisantulisannya Soekarno mendorong rakyatnya agar rasa bangga atas kebudayaan serta prestasi mereka di masa lampau dan agar bekerja sama untuk menciptakan suatu bangsa Indonesia yang merdeka. Pemerintah kolonial Belanda begitu khawatir melihat kepopuleran Soekarno dan pertumbuhan PNI sehingga pada tanggal 29 Desember 1929 mereka menangkap beratus-ratus pemimpin pusat dan cabang PNI, Soekarno, Maskun, Gatot Mangkupradja, dan Supriadinata diajukan ke Pengadilan Daerah Bandung tanggal 18 Agustus 1930, atas tuduhan menyebarkan propaganda yang dapat mengganggu ketentraman umum. Semuanya dinyatakan bersalah, dengan Soekarno dijatuhi hukuman penjara 4 tahun, Gatot 2 tahun, Maskun 20 bulan, dan Supridinata 15 bulan. ( John Ingleson, 1986 : 56 – 58 ). Soekarno menggunakan peradilan itu untuk mengucapakan sebuah pidato yang panjang yang menjelaskan tentang tujuan dan cara-cara yang ditempuh
6

kaum nasionalis. Ini merupakan suatu taktik yang pintar karena pemerintah kolonial tidak akan dapat mencegah disiarkannya berita mengenai proses pengadilan. Soekarno mengawali pembelaannya dengan menyoroti pengadilan itu sendiri. Dengan dalih, bahwa tujuan pidato pembelannya adalah untuk menunjukkan pada persidangan tentang tujuan dan sifat-sufat PNI, ia menunjuk pada sifat-sifat elastis dari dasar-dasar yuridis tuduhan terhadapnya. Ia juga memperingatkan para hakim yang memeriksanya, agar menentang penggunaan hukum sebagai senjata politik. Dari sini ia mengupas secara terperinci hakikat kapitalisme dan imperialisme. Pusat analisisnya adalah perbedaan antara imperialisme tua dan modern. Ada persamaan antara keduanya. Semua imperialisme, baik yang kuno maupun modern, mencakup pengendalian perekonomian rakyat atau bangsa lain oleh suatu kekuasaan metropolitan. Namun, menurut Soekarno, terdapat suatu perbedaan penting antara imperialisme Portugis dan Spanyol, atau operasi East India Company milik India dan VOC Belanda di Asia Tenggara di satu pihak, dan jenis pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuasaankekuasaan imperialisme dari akhir abad ke-19 di pihak lain. Imperialisme modern adalah anak kapitalisme modern. Secara luas ia mengutip berbagai sumber pemikiran – seperti Troelstra, seorang sosialis Belanda, dari H.N. Braisford, Otto Bauer, Engels, Scumpeter dan Thomas Moon – lalu ia merumuskan pendapatnya bahwa segala bentuk kapitalisme modern, baik dalam bentuk sistem mandat, penempatan daerah-daerah protektorat, maupun bentuk pengambilalihan total tanah-tanah jajahan, merupakan produk dari kebutuhan ekonomi, yakni kebutuhan untuk mendapatkan pasaran baru, ataupun untuk memperoleh hak khusus dalam investasi. Dalam zaman lampau, upaya mencari keuntungan –keuntungan dagang itu telah membawa Inggris, Perancis, Spanyol dan Negeri Belanda ke kancah persaingan penguasan berbagai bagian dunia – Amerika, India, Timur Jauh dan Asia Tenggara. Akan tetapi dengan perkembangan kapitalisme modern, upaya mencari kemungkinan bagi investasi dan berbagai kesempatan untuk mengeksploitasi rakyat-rakyat jajahan, telah menambah sebuah tekanan baru untuk mendorong hasrat menguasai yang tidak ada puasnya. Kerajaan Inggris Raya khususnya, merasa berkepentingan untuk memblokade dan membatasi ekspansi saingan-saingannya menancapkan benderanya di bagian-bagian baru muka bumi, dan kendatipun demikian, tetap, tanpa rasa puas ingin menguasai. Imperialisme telah bersifat merajalela ke seluruh muka bumi. Telah menjadi suatu proses lapar. Barangkali terdapat keuntungan-keuntungan sebagai hasil sampingan ekspansi tersebut, yang barangkali membawa pengetahuan, perkembangan dan peradaban kepada
7

bangsa-bangsa yang terbelakang. Tetapi, bukan itu yang merupakan tujuantujuan dasar imperialisme. Tujuan dasarnya adalah keuntungan. Sebagian besar analisanya ini dipaparkan dalam ungkapan-ungkapan yang bersifat Marxistis. Bertolak dari penilaiannya mengenai kapitalisme sebagai sebuah sistem yang memisahkan buruh dari alat-alat produksi, tanpa kaitan argumentasi yang erat Soekarno kemudian melanjutkan bahwa imperialisme adalah konsekuensi dari ekspor modal guna mrencegah merosotnya nilai modal di dalam negeri. Sampai sejauh itu ia berjalan selaras dengan analisis Lenin dalam bukunya Imperialism. Ia juga menguraikan tentang kurangnya daya konsumsi dari negeri kapitalis itu sendiri dan menekankan perlunya pasaran-pasaran baru. Sesudah menganalisa dinamika imperialisme secara umum Soekarno kemudian meninjau peranannya di Indonesia. Dengan singkat dipaparkanya upaya VOC untuk merebut monopoli perdagangan, kebijakannya untuk mengeduk dengan paksa hasil bumi dari petani Indonesia dan metode devide et imperanya telah mengakibatkan perbudakan atas kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ia melanjutkannya denmgan penggambaran kengerian Tanam Paksa, dan akhirnya sampai pada zaman imperialisme abad modern, yang lahir pada saat kelebihan modal Belanda membutuhkan suatu saluran baru. Pintu dubuka bagi penaman modal swasta dalam tahun 1870, jalur-jalur operhubungan diperluas, usaha-usaha bari bertumbuh dan kekayaan Nusantara dikuras dalam ukuran yang lebih besar dari sebelumnya, Indonesia menjadi sumber bahan mentah bagi perindustrian Eropa, sebuah pasar bagi hasil industri Eropah, sebuah negeri untuk eksploitasi, dan kemakmuran yang meningkat pula dari rakyatnya. Ia kemudian bertanya kepada para hakim yang memeriksnya bahwa adakah hal hal tersebut merupakan keanehan bila kemudian suatu gerakan nasional muncul.” ( John D Legge, 1985 : 137 – 140 ) Di bawah judul “Indonesia Menggugat“ pidato pembelaan Soekarno dengan rasa ingin tahu dibeli oleh beribu-ribu orang Indonesia yang sangat terpengaruh oleh kecamannya terhadap imperialisme dan argumentasinya yang kuat bagi “Indonesia Merdeka“. Itu adalah sebuah pidato yang gemilang, diucapkan dengan humor, daya dan penuh gairah dengan tujuan membangkitkan semangat nasionalis di hati orang-orang sebangsanya. ( John Ingleson, 1986 : 56 – 58 )

8

Salahsatu sebab mengapa Soekarno ditangkap tahun 1930 adalah pemakaian bahasa yang keras. Sering dipakai kata revolusi dan istilah-istilah lain yang radikal. Di depan pengadilan kolonial, Soekarno menjelaskan permainan kata-kata tersebut. Pemakaian bahasa radikal bagi Soekarno adalah alat seorang politikus untuk menggelorakan semangat rakyat yang diisi keberanian serta kepercayaan akan hari depan. Bahasa radikal pun sering digunakan kaum sosial-demokrat seperti Troelstra, Kausky dan Jaures. Gaya kepemimpinan Soekarno ini akhirnya menyebabkan keretakan dalam kalangan pergerakan nasional, yaitu antara Soekarno di satu pihak dan Mohammad Hatta serta Sjahrir di pihak lain, Kedua yang terakhir ini menekankan pembentukan kader dan kursus-kursus politik Mereka melihat Soekarno kurang memperhatikan bidang ini. Sebab langsung perpecahan dalam pergerakan adalah karena Mr Sartono membubarkan PNI tanpa konsultasi dengan ribuan anggotanya ketika Soekarno ditangkap. Kemudian, Partai Indonesia (Partindo) dibentuk. Sedangkan Mohammad Hatta dan Sjahrir mendirikan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia) atau PNI Baru. Keretakan antara Soekarno dan Mohammad Hatta-Sjahrir semakin mendalam. Tindakan sewenang-wenang Sartono dilihat sebagai hasil gaya kepemimpinan Soekarno yang menyebabkan struktur partai kurang demokratis. Sjahrir mengatakan bahwa gaya pimpinan Soekarno ini seperti yang memberikan jimat-jimat kepada rakyat dan membangkitkan perang jihad. Kritik mereka adalah bawa cara Machtsvorming (Penggalangan Kekuatan) akan menjebloskan pemimpin pergerakan ke dalam penjara sebelum kekuatan yang sesungguhnya terwujud. Ketika Belanda sekali lagi memukul pergerakan, Mohammad Hatta menulis “Tidak ada orang lain kecuali ia yang membawa Partindo …ke arah agitasi dan demontrasi dan sekarang seluruh pergerakan kiri menderita di bawah karena itu.” Pihak Soekarno sebaliknya, melihat bahwa pembentukan kader-kader yang ketat. Sejarah pemukulan terhadap PKI mengisyaratkan akan hal ini ” Kemauan” yang datang dari visi harus ditumbuhkan dengan negara dikalangan rakyat. Bagaimana pun juga, keretakan antara tiga tokoh pergerakan tersebut kemudian berubah menjadi saling tuduh-menuduh, melepaskan prinsip-prinsip perjuangannya ketika Belanda sekali lagi memukul pergerakan nasional. ( Onghokham, 2009 : 15 – 17 ). Pada periode ini Soekarno menerbitkan risalah yang berjudul Mencapai Indonesia Merdeka. Tulisan itu sebagai hasil istirahat beberapa hari di Pengalengan, tempat berlibur di pegunungan selatan Bandung. Karangan ini
9

banyak kesamaan dengan “Indonesia Menggugat”; lembaran-lembaran pertama memaparkan perbedaan antara imperialisme tua dan baru dan pandangan yang sama bahwa surplus modal menyebabkan penjajahan dan penghisapan kekayaan tanah jajahan. Macam-macam uraian serupa itu kembali dikemukakan untuk membuktikan pandangannya, dan mobilisasi tenaga rakyat dikemukakan lagi sebagai alat untuk melawan imperialisme. Tetapi kemudian karangan ini terus berkembang, mengungkapkan suatu persepsi baru tentang tujuan lebih lanjut gerakan nasionalisme setelah mencapai kemerdekaan politik. Indonesia dulu pernah merdeka, tetapi rakyatnya sendiri tidak pernah merdeka, katanya sambil menolak pendapat bahwa zaman pengaruh Hindu-India adalah zaman imperialisme India. Sebelum mereka ditunduhkan oleh kolonialisme Belanda mereka telah ditundukan oleh feodalisme kerajaan-kerajaan Hindu. Dari keterangan ini Soekarno bergerak ke arah pandangan bahwa kemerdekaan tidak dengan sendirinya membawa kebebasan dan keadilan bagi rakyat jelata. Kemerdekaan hanya merupakan “ jembatan emas” menuju masyarakat yang adil – kemerdekaan adalah suatu syarat, bukan tujuan akhir. Tidak ada sesuatu yang khusus dikatakan tentang cara bagaimana masyarakat adil dan makmur itu dapat dicapai apabila jembatan emas telah diseberangi. Tetapi penerimaan gagasan perubahan sosial sebagai tujuan lebih lanjut yang harus dikejar sesudah kemerdekaan, setidak-tidaknya adalah suatu pernyataan lengkap dari sebelumnya jika tidak hendak dikatakan suatu unsur baru dalam pemikirannya. Dan pembahasan mengnai masalah ini menunjukkan perlunya pertentangan kelas, sesuatu yang jarang dikemukakannya. Yaitu pertentangan kelas bukan antara proletar dan kapitalis, tetapi antara Marhaen dan kapitalis. Ketika kereta kemenangan melintasi jembatan emas, katanya, kendalinya harus berada di tangan Marhaen” Seberang jembatan itu jalan pecah jadi dua: satu ke dunia keselamatan Marhaen, satu ke dunia kesengsaraan Marhaen; satu ke dunia sama-rata-sama-rasa, satu kedunia sama ratap-sama tangis.” Marhaen yang mengendalikan kereta itu harus menjaga agar kereta tidak membelok ke jalan yang kedua, menuju masyarakat kapitalis dan borjuis Indonesia. Memang kejahatan kapitalisme merupakan sesuatu yang tidak pernah lepas dari pikiran Soekarno, tetapi gagasan bahwa rakyat kecil Indonesia harus melawan kapitalis Indonesia adalah pemikiran yang baru. Karangan itu juga menunjukkan kesungguhan perhatian yang lebih besar terhadap tindakan-tindakan penindasan Belanda yang ditimpakan kepadanya selama menjadi ketua PNI. Setidak-tidaknya ia sekarang nampak lebih sadar
10

bahwa untuk mengguncang kan kerkuasaan kolonial banyak lagi yang diperlukan selain hanya machstvorming. Dengan demikian kita menemukan suatu penjelasan tentang perlunya suatu partai nasional yang lebih sadar dan memegang peranan dalam perjuangan. Aksi massa tidak berguna tanpa adanya kepemimpinan dan arah. Tugas suatu partai revolusioner ialah memberikan arah itu. Ia harus menjadi pelopor. Dalam konsep partai pelopor itu sendiri seperti digemakan Lenin, kelanjutannya adalah bahwa paretai pelopor harus diorganisasi berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi sentralisme, Mungkin juga karangan itu dimaksudkan untuk menjawab Hatta dan Dsjahrir secara langsung. Penekanan Soekarno tentang struktur dan fungsi partai yang revolusioner adalah jawabannya atas argumentasi mereka bahwa kefasihan berpidato dan inspirasi bukanlah pengganti perencanaan dan bukan pula persiapan yang baik bagi kelanjutan kepemimpinan dalam menyusun aksi politik yang efektif. Gagasan partai massa tambah pelopor ini nampaknya merupakan perkembangan baru dalam pemikiran Soekarno. Meskipun Mencapai Indonesia Merdeka merupakan suatu pernyataan yang mencerminkan pemikiran Soekarno pada waktu itu, pengaruhnya agaknya terbatas karena pamflet ini sudah dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum tersebar luas. Masa itu bukanlah masa longgar seperti akhir tahun 1920-an. Penyitaan pamflet merupakan pertanda bahwa Pemnerintah tidak bersedia memberi Soekarno – atau pemimpin mana pun juga – hal untuk berorganisasi dan berpropaganda seperti yang diberikan sebelumnya. Pada 1 Agustus 1933 Soekarno ditangkap untuk kedua kalinya, ketika ia baru saja meninggalkan rapat pengurus harian di Batavia. ( John D Legge, 1985 : 161 – 163 ) Dalam tahun 1933, baik Soekarno maupun Mohammad Hatta dan Sjahrir dibuang. Mohammad Hatta, Sjahrir dan para pemimpin PNI Baru lainnya diasingkan ke Boven Digul, sedang Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Dalam pembuangan di Flores, semangat Soekarno kelihatan masih tetap bergelora. Yang menjadi sasarannya kali ini adalah Islam. Kepercayaan Soekarno akan rakyatnya menyebabkan Soekarno memakai cara-cara persuasi dan mencoba meyakinkan orang. Kekerasan tidak pernah atau jarang sekali dipakainya. Soekarno melihat bahwa pranata-pranata Islam di Indonesia kolot dan orang-orangnya tidak mengenal sejarah. Soekarno menyerang status tinggi yang diberikan kepada Sayid, sebab “ tidak ada agama yang lebih menekankan persamaan dari pada Islam.” Soekarno melihat bahwa banyak hadis-hadis salah, yang masuk dalam ajaran Islam dan tidak ada hubungannya dengan agama,”…sehingga ajaran Islam
11

ditelusuri oleh ketidaktahuan, kekolotan, tahyul, ajaran-ajaran salah dan antirasionalisme, sedang agama adalah lebih sederhana dan daripada ajarannya.” Pada 1938, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu. Dengan perbuatan dan pidato-pidatonya, Soekarno mencoba mencoba memodernkan Islam di sana. ( Onghokham, 2009 : 28 - 29 ) Dalam masa dari 1935 sampai 1942, partai-partai Indonesia menjalankan taktik-taktik parlementer yang moderat. Hanya organisasi-organisasi nonpolitik dan partai-partai yang bersedia bekerja sama dan setuju punya wakil dalam dewan-dewan perwakilan ciptaan Belanda yang terjamin mendapat sedikit kekebalan dari gangguan polisi. Dan satu-satunya forum yang secara relatif bebas untuk menyatakan pendapat politik adalah dewan perwakilan itu. Dengan demikian satu-satunya cara bagi gerakan nasionalis untuk mengusahakan perubahan ialah dengan jalan mempengaruhi Belanda secara langsung, tidak dengan mengantur dukungan massa. (Susan Abeyasekere, 1986 : 63 – 65 ) Soekarno sangat berhasil dalam menanamkan gaya kepemimpinannya pada rakyat. Hampir 10 tahun Soekarno dibuang dari Jawa (1933-1942) karena gubernur jendral menggunakan hak ekstraordonasinya untuk membuang ke mana saja di wilayah Hindia Belanda dan melarang berdomisili di suatu tempat pada tiap orang yang dianggap mengancam ketentraman negara dan masyarakat, Selama pembuangan ini sepanjang tahun 1930-an sampai datangnya bangsa Jepang di pulau Jawa, Soekarno tidak ikut campur dalam politik. Hanya soal-soal agama yang dibicarakan Soekarno yang menekankan modernisasi Islam. Pada permulaan masa pembuangan, timbul suatu skandal politik mengenai dirinya. Ketika itu Soekarno berjanji untuk meninggalkan meredan politik untuk menghindari pembuangan ke Boven Digul (Tanah Merah) di Irian Jaya. Ada dugaan semacam itu sangat mengguncangkan kalangan pergerakan nasional. Namun bagaimanapun gelapnya riwayat Soekarno dalam tahun 1930-an, ketika Jepang mencari seorang pemimpin berkaliber nasional untuk menentang sekutu dan Belanda, maka tidak ada nama lain kecuali Soekarno yang dapat diajukan. Soekarno bersama Mohammad Hatta, menjadi pemimpin massa yang digunakan Jepang untuk menghadapi Sekutu ( Onghokham , 2009 : 47 – 49 ) Di masa pendudukan tentara Jepang 1942 – 1945 terbuka jalan bagi Soekarno untuk memperjuangkan kemerdekaan negerinya lebih lanjut dengan cara melakukan kerjasama dengan pihak Jepang. Bersama dengan Mohammad Hatta, Soekarno menggunakan segala kesempatan yang tersedia
12

untuk meningkat perjuangan nasional itu. Penguasa Jepang menyetujui didirikannya Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang diketuai Soekarno, dengan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. Kedua pemimpin berharap bahwa organisasi itu dapat dijadikan jembatan menuju penentuan nasib sendiri. Tetapi keduanya segera menemukan kenyataan bahwa badan itu sekedar sebagai alat pihak Jepang agar lebih efektif menggunakan bangsa Indonesia dalam rencana perangnya. Sekalipun demikian dalam suatu kesempatan pihak otoritas Jepang ikut terlibat dalam menyusun disain hari depan Indonesia dalam hubungannya dengan penetuan nasib sendiri. Dalam bulan Oktober 1943, Soekarno menjadi ketua Badan Penasehat Pusat, suatu badan yang tidak memiliki kekuatan dan pengaruh. ( Bob Hering, 2001 : xxviii ) Selama pendudukan Jepang terjadi pengerahan sepuluh ribu tenaga Romusha dengan pengabdian tanpa batas. Hal ini merupakan salah satu bagian suram dari sejarah Indonesia. Mereka telah dikerahkan dengan tujuan palsu, dalam kenyataannya sebagai pekerja paksa untuk mendukung usaha perang Jepang. Soekarno terlibat dalam kampanye pengerahan tenaga romusha ini mengenangnya dengan rasa getir, hal yang sama terjadi dengan Mohammad Hatta. Selanjutnya Soekarno melakukan dobrakan kompromi antara harapan pihak Jepang dan kebutuhan serta tujuan bangsa Indonesia di masa mendatang. Hal ini menghasilkan berdirinya Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta) pada Oktober 1943. Peta mendapatkan latihan dari para perwira tentara Jepang, akan tetapi Peta berada di bawah pimpinan bangsa Indonesia sampai pada tingkat komandan batalyon. Dalam pada itu, Soekarno dan para pemimpin Putera memberikan perhatian besar terhadap Peta, di mata mereka Peta akan merupakan cikal bakal tentara Indonesia masa datang. ( Bob Hering, 2001 : xxix – xxx) Dua bulan setelah kapitulasi orang-orang Jepang mengangkat sebuah komite Indonesia yang harus mempersiapkan Indonesia untuk kemerdekaannya. Pada sidang rapat komite yang pertama. Pada sidang rapat komite yang pertama Soekarno mengajukan kepada sesama anggotanya konsep Pancasila-nya, yang Soekarno godok matang di Flores. Kelima sila Soekarno mencakup asas-asas nasionalisme, perikemanusian atau internasionalisme, demokrasi atau mufakat, keadilan sosial dan kepercayaan akan Tuhan. Para pendiri dengan spontan mengangkat Pancasila menjadi filsafat dari negara republik yang mereka dirikan. ( Lamber J Giebels, 2005 : xv – xvi ) Kelima sila yang kita ketahui semua dapat diperas menjadi tiga sila menurut Soekarno, dan akhirnya menjadi satu sila saja, yakni “gotong royong“. Penulis biografi intelektual Soekarno, Bernhard Dahm menyebut pidato
13

Pancasila Soekarno sebagai “ikhtisar klasik dari gagasan-gagasan politik yang telah dikembangkannya sampai tahun 1945’ ( Onghokham, 2008 : 42). Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta, di halaman depan rumahnya mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Sehari sesudah itu oleh Komite Nasional Indonesia Pusat Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat menjadi presiden dan wakil presiden negara yang baru ini. Pada hari yang sama ditetapkan UndangUndang Dasar Republik Indonesia Undang-Undang Dasar ini menciptakan suatu sistem kepresidenan, yang memberi lebih banyak kuasa kepada kekuasaan eksekutif. Pancasila galian Soekarno dicantumkan dalam preambule konsitusi. Tetapi pada saat terakhir ketujuh kata yang menetapkan syariat Islam, dihapus. Yang ditakuti adalah bagian-bagian Kepulauan Nusantara yang tidak Islam, seperti misalnya Pulau Flores yang Katolik, Pulau Bali yang Hindu dan Sulawesi Utara yang beragama Kristen Protestan, akan memalingkan muka mereka dari sebuah negara Islam. Selang beberapa waktu pasukan-pasukan Inggris mulai mendarat, mengambil alih pemerintahan Jepang. Pemerintah Belanda yang menganggap pengumuman kemerdekaan Soekarno sebagai sutau tindakan pemberontakan dan yang ingin mengadili Soekarno sebagai seorang kolaborator, tidak bisa berbuat lain kecuali mengawasi dengan hati gemas, karena ia sendiri masih belum mempunyai cukup pasukan untuk mengambil alih daerah jajahannya. Di bulan November 1945 oleh wakil presiden Mohammad Hatta, Sjahrir diangkat menjadi formatur sebuah kabinet yang harus menggantikan kabinet Soekarno. Sjahrir yang berorientasi Barat ini dipercaya oleh pihak Sekutu dan pihak Belanda. Ia menjadi perdana menteri dan baik menteri Dalam Negeri maupun Luar Negeri dari kabinet yang dibentuknya. Bersama Mohammad Hatta dan sebagian besar departemen, Soekarno menyingkir ke Yogyakarta, yang juga menjadi markas besar angkatan perang; Yogyakarta menjadi ibukota tidak resmi Republik Indonesia. Sjahrir tetap tinggal di Jakarta. Ia mulai berunding dengan para pejabat Belanda yang tiba di Jawa, di belakang pasukan-pasukan Inggris. Perundingan-perundingan itu akhirnya menghasilkan persetujuan Linggarjati yang diratifikasi pada tanggal 25 Maret 1947. Persetujuan ini mengakui wewenang de facto pemerintah Indonesia di pulau Jawa dan Sumatra. Dengan demikian terbukalah jalan menuju pengakuan internasional untuk
14

republik yang diumumkan sendiri itu. Persetujuan tersebut tidak berlangsung lama, Pemerintah Belanda memutuskan untuk mengadakan aksi militer, yang mereka sebut aksi polisionil. Aksi polisionil pertama membuat Dewan Keamanan PBB turut campur dan memaksa kedua belah pihak ke meja perundingan. Hasil perundingan ini adalah persetujuan Renville. Sementara itu di garis belakang Indonesia, di Madiun pecah pemberontakan komunis melawan pemerintahan presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta di Yogya. Sekali lagi Negeri Belanda mengangkat senjata. Dalam aksi polisionil yang kedua, Yogyakarta direbut dan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, dan beberapa orang pemimpin Republik Indonesia lainnya ditangkap. Karena tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, pemerintah Belanda terpaksa melepaskan pemimpin-pemimpin yang ditahan ini dan memulihkan wewenang mereka di Yogya. Pertempuran dihentikan. Belanda dan Indonesia setuju untuk mencari solusi untuk sengketa mereka di Konferensi Meja Bundar (KMB). Pada tanggal 27 Desember 1949 Ratu Juliana bertempat di istana De Dam menyerahkan kedaulatan kepada wakil presiden dan perdana menteri Hatta. Hari berikutnya Presiden Soekarno, ratu adil yang sudah lama diramalkan itu, dengan penuh kemenangan memasuki Jakarta, ibukota yang baru. ( Lambert J Giebels 2005 : xvi – xx ) Pada bulan April 1955 Konperensi Asia Afrika diselenggarakan. Dalam konperensi itu hadir dua puluh sembilan negara. Banyak pemimpin penting Asia yang hadir termasuk Chou En-Lai, Pandit Jawarhal Nehru, Sihanouk, Pham Van Dong, U Nu, Mohammad Ali, dan Gamal Abdul Nasser. Konperensi Asia Afrika ini merupakan suatu panggung politik yang menakjubkan yang dilaksanakan dengan kadar efisiensi tertentu yang membenarkan penegasan Indonesia untuk diperlakukan sebagai suatu negara terkemuka. Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Ali Sastroamidjo puas dan memperoleh prestise di dalam negeri karena dipandang sebagai pemimpin-pemimpin dunia Afro dan Asia, dan komunike akhir konperensi tersebut mendukung tuntutan Indonesia atas Irian Jaya Jelas ada kemungkinan bagi Indonesia memainkan peranan penting di dunia. ( MC Ricklefs, 1991 : 373-374) Sementara berbagai kelompok negara yang diwakili dalam konprensi itu tidak mempunyai pandangan yang sama, mengenai sejumlah masalah internasional yang penting, partisipasi mereka dengan antusias mencerminkan suatu semangat ketegasan yang semakin tumbuh di kalangan
15

bekas negara jajahan yang bertekad tidak hanya menggaris bawahi status mereka yang merdeka tetapi juga ingin diketahui bahwa sebagai anggota suatu masyarakat internasional, mereka berhak menyatakan sesuatu dalam pengaturan menyeluruh masyarakat dunia internasional tersebut. ( Michael Leifer, 1989 : 56 ) Segera sesudah Konperensi Asia Afrika itu berakhir, para politisi mengerahkan tenaga mereka terhadap pemilihan umum yang akan datang. Ternyata pemilihan umum tersebut menimbulkan beberapa kekecewaan dan kejutan. Jumlah partai lebih bertambah banyak daripada berkurang, dengan dua puluh delapan partai mendapat kursi, padahal sebelumnya hanya dua puluh partai yang mendapat kursi, PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Di antara partai-partai “empat besar“ tersebut hampir terjadi jalan buntu. Partai yang terbesar hanya dapat menguasai 22 persen dari kursi DPR. Penampilan PKI sangat mengejutkan kalangan elite Jakarta dan membuat PNI semakin cemas akan ancaman potensial yang ditimbulkan oleh mitra mudanya. ( MC Ricklefs, 1991 : 377 ) Sebenarnya sejak beberapa bulan setelah berdirinya NKRI, peran Soekarno dikurangi hanya sebagai simbol belaka. Keadaan ini berlangsung sampai 5 Juli 1959, meski di antara itu Soekarno kadang diberi kesempatan untuk memberikan pengaruhnya di balik layar. Apa yang yang tak dapat diabaikan selama ini adalah kepiawaian Soekarno untuk menarik dan mengilhami lingkungannya. Tak ada pemimpin Indonesia lain ketika itu yang mengerti benar rakyatnya dan menggerakkan mereka dengan retorika dan daya imajinasi yang sering menggairahkan, Berkali-kali Soekarno memulihkan stabilitas dalam negeri dan membangkitkan kembali rasa percaya diri dan keyakinan rakyat melalui daya tarik pribadinya yang luar biasa untuk mencapai kerujukan dan keseimbangan, bahkan di antara pihak yang berseberangan. Keadaan yang berkembang buruk serta ancaman perang saudara dapat diredam oleh campur tangan Soekarno pada saat yang tepat dengan cara pendekatannya. Setelah pengakuan kedaulatan, terjadi peristiwa penting dengan apa yang disebut Peristiwa 17 Oktober 1952. Jika Soekarno memang ambisius terhadap kekuasan, maka peristiwa ini paling menggoda untuk mengambil kesempatan. Ini merupakan siasat yang dilakukan sekutu-sekutu Nasution yang menginginkan kekuasan diktaktorial pada presiden agar terbebas dari sistem parlementer, kata Bob Hering. Pelecehan konsitusi ini ditolak dengan tegas oleh Soekarno. Soekarno sendiri jengkel terhadap pelaksanaan sistem
16

parlementer yang amburadul, sementara itu ia sendiri sangat berpengalaman untuk tidak terjebak pada komplotan militer yang gegabah itu. Soekarno juga sadar sekali bahwa waktunya belum matang untuk melakukan perubahan radikal yang dikehendakinya Demokrasi Terpimpin. Menurut Soekarno sistem itu jauh lebih cocok dan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ketika pemilu pertama 1955 gagal mengatasi kebuntuan parlementer, maka Soekarno pada saat ditinggalkan oleh Hatta, menghadapi gerakan separatis di luar Jawa yang dilancarkan oleh komandan-komandan militer daerah serta sekelompok golongan Islam. Dalam keadaan demikian barulah Soekarno kembali pada konsitusi yang lebih otoriter sebagai yang dilaksanakan pada minggu-minggu pertama berdirinya Republik Indonesia Ditopang dengan pemberlakuan keadaan darurat, diambil alihnya perusahaan-perusahan Belanda, dengan cepat tentara dari pusat memulihkan keadaan di luar Jawa. Soekarno dan Nasution menghapuskan sistem parlementer model Barat yang diperkenalkan oleh Sjahrir empat belas tahun sebelumnya dengan dekrit kembali ke UUD 1945. Soekarno melaksanakan sistem musyawarah serta perwakilan golongan fungsional yang telah digagasnya. Mereka yang kecewa terhadap perkembangan itu telah mengabaikan keadaan sosial sebagai penyebabnya. Soekarno dan Nasution sebagai dwitunggal baru bukannya menghapuskan demokrasi Indonesia, demokrasi yang sesungguhnya belum terwujud. Dasar perwakilan sebagai intisari demokrasi dengan proses pemilu dalam kenyataannya hanya berlaku dari Maret 1956 sampai April 1957 pada masa kabinet Ali Sastroamidjojo Sebelum itu yang ada hanya parlemen dan kabinet yang ditunjuk yang berlangsung sejak Agustus 1945 sampai Februari 1956. Semi kediktaktoran yang menggantikan kabinet Ali memberikan tempat pada kediktaktoran militer yang tampaknya sesuai bagi Indonesia masa itu. Keadaan itu sebenarnya dapat menjadi alasan bagi Soekarno untuk mengambil kendali di tangannya sendiri. Seperti ditunjuk oleh Daniel Lev, Nasution dan MBAD nya memegang peran utama di balik demokrasi terpimpin. Dengan itu merekalah dengan mudah memetik hasil terbesar. Demokrasi Terpimpin semacam itulah yang menjadi peralihan bagi pihak militer untuk menginflitrasi pemerintahan sipil menuju kediktaktoran sebenarnya. Hal itu terjadi dalam berbagai keadaan ekonomi dan sosial yang memburuk dan tak stabil yang berlangsung serempak. ( Bob Hering , 2001: 17 – 18 )

17

Pandangannya terhadap dunia luar juga nampaknya tidak banyak berubah. Sikap antiimperialisme meskipun diselubungi dengan istilah-istilah baru, warna intinya tetap sama. Nekolim (neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme) adalah istilah tahun 1960-an yang berasal dari istilah anti imperialisme tahun 1920-an, yang diciptakan agar cocok dengan situasi ketika penjajahan langsung sudah terlempar keluar, tetapi imperialisme dalam bentuk pengasaan ekonomi dari lingkungan pengaruh Barat masih berlaku. Pandangan lain dari perasaan serupa adalah konsep perjuangan antara “ kekuatan-kekuatan yang sedang tumbuh” dan “ kekuatan-kekuatan yang sedang runtuh “, kemudian diperas secara khas oleh Soekarno menjadi konsep Nefo kontra Oldefo. Inti konsep ini dijelaskan pertama kali oleh Soekarno pada sidang umum PBB bulan September 1960 dalam pidatonya yang berjudul “ Membangun Dunia Kembali “. Dalam pidato itu diterangkan perbedaan a ntara “ negeri-negeri yang sedang tumbuh dan negeri-negeri tua yang sedang mempertahankan kekuasannya yang sudah mapan”. Soekarno secara cepat menggarap arti perpecahan Moskow-Peking yang membawa akibat-akibat berupa pengaruh yang berkepanjangan terhadap persekutuanpersekutuan internasional yang sedang berjalan. Kepada sidang pendengar PBB itu ia menjelaskan, bahwa konflik dunia yang sebenarnya bukanlah perang dingin (dengan kemungkinan berdirinya kekuataan ketiga yang netral ), tetapi disebabkan oleh imperialisme baju baru pada satu pihak dan nilainilai keadilan, persamaan dan kemerdekaan bagi rakyat-rakyat yang sudah sekian lama tertindas di dunia, pada pihak lain . Kepada “ negeri-negeri yang sudah mapan “ ia kemukakan imperialisme belum mati ….” Banyak di antara Tuan-tuan dalam sidang ini tidak pernah mengernal imperialisme,” Tetapi saudara-saudara saya yang di Asia dan Afrika telah mengenal cambuk imperialisme. Mereka telah menderitanya, mereka mengenal bahayanya dan kelicikannya serta keuletannya “. Istilah-istilah seperti “ Revolusi umat manusia” telah digunakan untuk menunjukkan batas-batas yang luas dari perjuangan itu, dan revolusi Indonesia dikatakannya berjalan bersamaan dengan revolusi umat manusia. Ini. Di Beldrago, setahun kemudian pada konpernsi negara-negara Non-Blok yang juga disponsori Indonesia, Soekarno mengembangkan gagasan ini lebih lanjut, ia secara khusus menekankan pemakaian istilah Nefo, kekuatan-kekuatan baru yang sedang tumbuh, kekuatan-kekuatan kemerdekaan dan keadilan ; dan Oldefo, kekuatan-kekuatan yang sedang mempertahankan kekuasaanya yang sudah mapan,” kekuatan yang bersifat menguasai”. Keamanan dunia senantiasa terancam oleh Oldefo itu.

18

Konsep ini mecerminkan kecurigaan Soekarno yang sungguh nyata, dan tentu Oldefo dimaksudkan untuk Barat dan negara-negara Barat. Dia tidak melupakan simpati Barat terhadap para pemberontak di negerinya pada tahun 1958. Dari sudut ini, dan juga dari kaca mata Indonesia, Barat tidak henti-hentinya menjadi ancaman bagi negeri itu sejak Indonesia mencapai kemerdekaannya atau bahkan sesudah hubungan ekonomi Indonesia – Belanda putus, telah timbul bentuk-bentuk dominasi lain, dan Soekarno menyadari kebencian semua negara ketiga jika melihat keterbelakangan ekonomi dan kerendahan martabat bangsanya dalam situasi dunia yang masih dikuasai negara-negara besar. Ia mencurahkan isi hati dan perasannya pada tahun 1963 dengan mengatakan : “Kolonialisme dan imperialisme adalah kenyataan-kenyataan hidup dalam dunia kita ini. Rasa kuasanya, keangkuhannya terhadap kita yang pernah menjadi bangsa jajahannya telah disasarkan kepada batang leher kita lewat persnya, lewat para politisinya, lewat turis-turisnya yang hanya menjadi pencerminan dari sikap-sikap yang ditanamkan kepada mereka oleh kekuatan-kekuatan yang berkuasa di masyarakat negerinya sendiri. Campur tangan politik, ekonomi, dan militernya telah disasarkan kepada kita, kadang-kadang dengan cara halus dan sering secara kasar. Pada setiap usaha untuk mengangkat kehidupan lebih baik bangsa kita, kita mengalami bahwa mereka telah mengerahkan keunggulan teknologinya untuk memanipulasi situasi supaya bangsa-bangsa kita tetap dibikin tunduk kepada kepentingankepentingan diri mereka. “ Antithesis Nefo-Oldefo dalam beberapa hal telah dirumuskan dalam pengertian bekas jajahan dan bekas penjajahnya “ yang sedapat mungkin mempertahankan kepentingan ekonominya dan kadang-kadang juga kepentingan politik dan militernya”. Tetapi ini pun tidak bisa disipmpulkan secara lengkap sebagai sutu keseluruhan. Ada unsur-unsur pembedaan antara yang kaya dan yang miskin – kekuatan-kekuatan baru yang sedang tumbuh, kata Soekarno, hanya memperingatkan negeri-negeri yang sudah melimpahlimpah kemakmurannya, bahwa mereka tidak mungkin terus-menerus bisa mengadakan pengisapan terhadap bangsa-bangsa yang dilanda kelaparan dan kemiskinan. Dalam pidato itu juga tersirat sekilas isyarat, bahwa koinflik itu adalah antara negara-negara Sosialis dan Kapitaliis. Dalam pidato 17 Agustus tahun 1963, Soekarno mengumumkan bahwa negara-negara yang sedang tumbuh itu terdiri dari ‘bangsa-bangsa Asia, bangsa-bangsa Afrika, bangsa-bangsa di Amerika Latin, bangsa-bangsa sosialis, golongangolongan progresif di negara-negara kapitalis. Tetapi juga negara-negara
19

yang berada di perbatasan Cina, Vietnam Utara dan Korea Utara, yaitu negara-negara yang penduduknya telah diterlantarkan dan diserang, termasuk negara-negara yang sedang tumbuh. Tetapi, bagaimana dengan Rusia – negara komunis yang terlibat dalam sengketa ideologi dengan Cina ? Bagaimana dengan Perancis yang jelas termasuk Oldefo, tetapi yang sedang mengadakan pendekatan yang bersifat damai dengan kekuatan-kekuatan yang sedang tumbuh? Terlepas dari sejumlah pernyataan yang bisa diajukan, daya dorong konsep ini jelas terasa. Gagasan Nefo dan Oldefo bukan suatu teori ilmiah untuk menerangkan orde internasional, tetapi suatu kerangka pemikiran yang secara luas bersifat menggolong-golongkan yang dipakai untuk membedakan kawan dan lawan dalam perjuangan yang berlangsung dalam tubuh rde internasional. Setidak-tidaknya pemikiran ini menunjukkan, bahwa Soekarno, seperti sikapnya selama ini, tetap melihat dunia Barat sebagai musuh pokok Indonesia. ( John D Legge, 1985 : 394 – 397 ) Satu-satunya tema utama dalam pidato-pidato Soekarno pada tahun 1960-an itu ialah tentang revolusi. Meskipun dahulu Soekarno menulis dan berbicara tentang revolusi Indonesia, sekarang konsepnya berkonteks lain, disesuaikan dengan lingkungan Demokrasi Terpimpin. Dahulu sebagai orang muda, Soekarno hanya memusatkan pikirannya pada revolusi, yakni menumbangkan kekuasaan kolonialisme Belanda. Pada tahun 1930-an, dalam Mencapai Indonesia Merdeka, Soekarno telah menyadari bahwa di seberang “jembatan emas“ yang mengantarkan bangsa Indonesia kepada kemerdekaan, masih ada masalah-masalah lain yang harus diatasi, sebelum masyarakat adil dan makmur tercapai. Pembagian tentang tahap-tahap revolusi nasional dan revolusi sosial telah diuraikannya lebih lanjut dalam Sarinah. Pembagian ini ada kesamaannya dengan teori Marx tentang tahaptahap revolusi, sekurang-kurangnya ada tahap-tahap yang berturut-turut, dalam pengertian bahwa revolusi sosial harus menunggu sampai selesainya revolusi nasional. Soekarno berbicara dalam kondisi Indonesia, “pada tingkat revolusi nasional di mana kita membangun suatu Negara Nasional, dan tingkat revolusi sosial di mana kita membangun Sosialisme,” Kata Soekarno. Masa Depan Irian Barat menjadi sumber konflik dan ketegangan antara Indonesia dan Belanda sejak Konferensi Meja Bundar 1949, yang membiarkan statusnya tetap terkatung-katung berdasarkan negoisasi di antara kedua negara ini. Masing-masing pihak menginprestaikan keburaman kesepakatan KMB sesuai dengan kepentingannya, dan perselisihan terhadap
20

wilayah ini kian memburukkan hubungan keduanya disepanjang 1950-an. Semua arus opini rakyat Indonesia menyatu kepada tuntutan agar sisa-sisa terakhir wilayah kerajaan Hindia Belanda itu diserahkan kepada Republik yang baru. Dengan datangnya Demokrasi Terpimpin, pembebasan Irian Barat menjadi bukan hanya momen besar bagi Soekarno secara pribadi, tetapi sekarang ia sendiri bisa berperan langsung yang kuat dan besar di tubuh pemerintahan, sekaligus juga menguji kapasitas kepemimpinannya. Soekarno menjadikan isu ini prioritas utamanya sehingga dengan posisinya sekarang ia mulai bisa mewujudkan ambisi-ambisinya, karena ternyata d balik ini semua, Presiden ingin memegang peran lebih mencolok bagi negerinya dan di pentas dunia. Ada sejumlah alasan untuk ambisi besar ini ; keinginan Soekarno untuk membuktikan betapa pentingnya revolusi nasional yang sudah dipimpinnya di pentas sejarah Indonesia dan dunia; keyakinannya kalau Indonesia dapat memenangkan pengharagaan dan prestise yang hanya bisa dicapai dengan mengusung sudut pandang distingsif untuk mengemban urusan-urusan dunia; kepuasan pribadi yang diperoleh dengan menampilkan figure pribadinya secara kuat di dunia internasional ; kesadaran kalau wilayah politik sangat cocok dengan gaya kepribadian dan talentanya, sehingga dapat mengembangkan peran politisnya lebih jauh untuk membungkam nafsu para jenderal dan lawan politiknya ; dan penghargaannya terhadap fakta kalau pengorganisasian terjhadap tujuan dan target musuh di luar negeri dapat menyatukan bangsa dan mengalihkan tuntutan dan kritik rakyat dari kegagalan internal pemerintahan. Situasi-situasi tertentu juga berkombinasi sehingga mengarhkan Soekarno menuju pandangan anti-kolonial dan anti-imperialis yang radikal di panggung politik dunia. Sejauh terkait Irian Barat, sekutu yang paling tersedia dan paling siap untuk melakukan serangan ke kubu-kubu kolonial, seperti yang sudah dialami sendiri oleh Presiden Soekarno dan terbukti secara factual di tahun-tahun sebelumnya, pandangan-pandangan Komunis dan negara-negara Afro-Afrika militan. Barat sendiri sebenarnya tidak begitu menanggapi klaim-klaim Indonesia di periode Demokrasi Terpimpin ini. Khususnya Amerika Serikat melihat masalah ini mudah saja diselesaikan karena suara-suara yang menolak kaum nasional radikal cukup besar dan keduanya akan tetap diam kalau tuntutan Soekarno terhadap Irian Barat dipenuhi sehingga dari sinilah intervensi diplomasi Amerika Serikat dimulai. Akan tetapi, apa pun yang dipikirkan Barat, dunia akhirnya melihat radikalisme memiliki kebenaran dalam logika politiknya.
21

Soekarno yang seperti mendapat angin segar ini mulai mengarahkan perhatian lebih jauh kepada rumusan yang bisa mengekspresikan pendekatan aktivisnya kepada perjuangan anti-imperialis. Ambisinya untuk membuat Indonesia pusat solidaritas dan militansi Afro-Asia telah mendorongnya melakukan serangkaian tur dunia dalam upayanya memenangkan teman dan mengobarkan iklim opini yang sama di berbagai negeri. Ia juga melobi untik mulai diadakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung jilid dua guna meneruskan tradisi yang sudah dibangun di Bandung pada 1965. Rencananya untuk membuat sebuah lembaga Asia-Afrika yang permanen mencerminkan ketidaksabarannya dengan pandangan dan kepemimpinan Non-Blokbangsa-bangsa yang dikepalai Yugoslavia, India dan Republik Arab Bersatu. Untuk beberapa waktu Soekarno sudah menyadari konflik antara pandangannya itu dengan masalah-masalah riil di dunia karena terlalu menajamkan fokus kepada penghancuran sisa-sisa imperialisme. Lagi pula Tito dan Nehru selalu menghindar untuk terlibat dalam konflik-konflik kekuatan besar, menjadikan isu damai sebagai cara yang paling mereka anggap tepat untuk memainkan peran masing-masing di pentas dunia. Meskipun Nehru berpendapat konflik-konflik kekuatan besar mestinya diperlunak sehingga perhatian lebih banyak diberikan kepada masalahmasalah yang berkembang di negara-negara baru, tetapi Soekarno dan beberapa pemimpin Afrika Barat melihat seluruh konsentrasi itu tergantung kepada niat baik Eropa dan hubungan Soviet-Amerika sebagai dasar tuntutan mereka terhadap keseimbangan dalam sistem politik internasional. Bagi kaum radikal, konsep “tidak ingin ada tandingan“-lah yang mendasari supremasi kekuatan-kekuatan besar sehingga memperlakukan masalahmasalah negara-negara baru tidak lebih imbas yang tidak mengutungkan dari pertentangan kepentingan raksasa-raksasa tersebut, meski tuntutan merka jelas berbeda jauh dari anggapan demikian karena yang diinginkan adalah bebas sepenuhnya dari mesin-mesin imperialis. ( Rex Mortimer , 2011 : 215 – 219 ) Pada akhir tahun 1961 perasaan akan datangnya klimkas nampak menyelimuti pertikaian atas Irian Barat. Pada bulan Desember, Soekarno mengumumkan Tiga Komando Rakyat, yang disebut dengan bahasa singkatan yang penuh kepahlawanan pada waktu itu Trikora. Maksud simbol ini diperl;ihatkan pada peringatan “ aksi polisionil “ Belanda yang kedua yaitu memobilisasi massa secara total. Seorang panglima militer yang bertugas membebaskan Irian Barat diangkat, disertai dengan inflitrasi yang
22

meningkat melalui laut dan terjung langsung ke dalam wilayah Irian Barat . Bersamaan dengan itu, Soebandrio menegaskan kembali penggunaan konfrontasi dalam semua bidang “yang berarti kita akan menghadapi perlawanan Belanda dengan sikap yang sama dalam bidang politik, ekonomi, dan kalau perlu juga dalam bidang militer.” Konsep konfrontasi yang diperkenalkan lebih dua tahun sebelumnya, memperlihatkan pengikatan diri Indonesia terhadap diplomasi paksaan. Istilah itu dihidupkan lagi ketika Malaysia menggantikan Irian Barat sebagai sasaran dendam antiimperialisme. Walaupun Soekarno mengancam berperang, dia tidak mempunyai jalan lain atau penolong untuk itu. Akan tetapi dengan meningkatkan suasana kritis, dia berhasil mengingatkan Amerika Serikat sehingga merasa harus mengambil prakarsa yang menentukan untuk menyelesaikan pertikaian demi keuntungan Indonesia. Dalam proses selanjutnya, dia berhasil menarik semacam intervensi pihak ketiga yang memang telah lama dicari. Pada bulan Februari 1962, Robert Kennedy, jaksa agung dan adik presiden Amerika Serikat berkunjung ke Jakarta dan Den Haagdengan tujuan menganjurkan perundingan antara kedua belah pihak. Sebelum kunjungan itu, Belanda telah diberi tahu bahwa mereka tak dapat menyadarkan diri pada bantuan Amerika Serikat seandainya berlangsung konfrontasi fisik atas wilayah tersebut. Akibatnya bersamaan dengan itu terjadfi perubahan sikap pemerintah Australia yang memperlemah posisi diplomatik Belanda. Perdana Menteri Belanda sudah menunjukkan kesediaan memasuki perundingan tanpa syarat apa pun. Proses perundingan tidaklah berjalan dengan lancar. Usaha Belanda untuk membuat setiap penyerahan wilayah bersyarat pada penerimaan jaminan yang memuaskan atas penentuan nasib sendiri yang dipandang oleh Indonesia sebagai hal yang telah diselesaikan pada tahun 1949. Ketika pembicaraan formal di PBB pada pertengahan tahun 1962 berakhir, inflitrasi kadang kala dan juga terjun payung secara menakjubkan di atas kota Maurauke, berperan untuk mempertahankan suasana krisis. Angkatan Bersenjata Indonesia sudah mencapai titik yang memungkinkan suatu invasi total yang sukses atas Irian Barat. Ketika perang belum digelar, terjadi suatu persetujuan kompromi yang memasukan prinsip penyerahan administrasi kepada Indonesia. Indonesia menerima suatu cara penyerahan secara tak langsung dan menerima ketentuan mengenai beberapa rumusan penentuan nasib sendiri oleh
23

penduduk Papua. Persetujuan akhir dicapai pada tanggal 15 Agustus 1962 yang memungkinkan Soekarno memperlihatkan kemenangannya yang pasti dalam pidato tahunan untuk memperingati hari kemerdekaan Suatu kompromi berikutnya mengizinkan pengibaran bendera nasional Indonesia menggantikan bendera Belanda di samping bendera PBB pada tanggal 31 Desember 1962 yang berarti memenuhi janji Soekarno kepada khalayak bahwa Irian Barat akan kembali ke pangkuan Ibu Pettiwi pada akhir tahun tersebut. Suatu persetujuan menyelamatkan muka juga dicapai melalui interbensi dan mediasi diplomasi Amerika Serikat sehingga mampu mengalkhiri peryikaian yang pahit yang telah memperburuk hubungan natara Indonesia dan Belanda yang dicapai setelah kemerdekaan. Pada suatu sisi, keberhasilan mencapai tuntutan yang telah lama diperjuangkan merupakan pemenuhan aspirasi nasionalis yang sah yang dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan demi kemerdekaan nasional. Pertikaian atas Irian Barat juga berfungsi sebagai katalis dalam mempercepat laju perubahan politik internal dan dalam memperkenalkan suatu pola yang tetap dalam keseimbangan namun tak stabil dengan ungkapan revolusioner bahkan dengan praktek yang revolusioner pula. Bagi Presiden Soekarno, yang mempunyai formula kepribadian dan ideologi yang mendominasi pola politik ini, penyelesaian Irian Barat merupakan kemenangan pribadi. Tak disangsikan lagi bahwa prestasi itu dicapai dengan diplomasi paksaan, Sanksi terakhir berupa penggunaan angkatan bersenjata ternyata tak perlu. Irian Barat telah dikembalikan kepada republik, sebagaian besar karena kemampuan Soekarno menggunakan alih senjata dari Uni Soviet kepada Indonesia untuk mempengaruhi pemerintah Amerika Serikat agar menggunakan pengaruh politiknya terhadap pemerintah Negeri Belanda supaya yang terakhir ini mengubah oposisinya yang keras untuk menyerahkan wilayah itu kepada Indonesia. Suatu varian teknik diplomasi, yang dicoba dan diuji pada puncak perjuangan kemerdekaan, telah digunakan dengan berhasil. Akan tetapi karakteristik utama sistem politik Demokrasi Terpimpin tidak berubah karenanya, Soekarno telah mendemonstrasikan bahwa ketrampilan politiknya dan semangat revolusioner dapat menjamin tercapainya tujuan nasional. Kemenangan atas Irian Barat menyebabkan dia bertahan pada puncak sistim politik tersebut. ( Michael Leifer, 1989 : 95 – 99 ) Ketika Tengku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia, pada bulan Mei 1961 mengemukakan pikirannya tentang suatu bentuk federasi yang merliputi Malaysia, Singapura dan daerah-daerah Kalimantan Uatara bekas
24

jajahan Inggris, Indonesia tidak menyatakan keberatannya. Tetapi dengan adanya pemberontakan di Brunai pada bulan Desember 1962 di bawah pimpinan A.M. Azhari, ketua partai terbesar wilayah itu, yang bertujuan membentuk negara merdeka Kalimantan Utara yang meliputi tiga wilayah bekas jajahan Inggris itu, telah menimbulkan keraguan besar mengenai kesediaan penduduk wilayah-wilayah itu masuk ke dalam federasi. Situasi ini telah memberikan kepada Soekarno yang selama ini sibuk dengan sengketa Irian Barat, kesempatan untuk mengungkapkan kecuriogaannya yang terpendamm selama itu terhadap rencana Malaysia. Pada 8 Januari 1963, ia menolak gagasan Malaysia dan tidak lama kemudian Menteri Luarnegeri Soebandrio mengumumkan konfrontasi terhadap federasi baru itu. Konfrontasi yang dimaksuk Soebandrio berarti melaksanakan tekanan diplomasi dan ekonomi serta penggunaan militer yang sangat terbatas yaotu pada tingkat yang serendah-rendahnya. Keberhasilan perjuangan Irian Barat dan kebijaksanannya yang ditempuh dalam menuyelesaikan wilayah ini pada paruh pertama tahun 1962 telah memberikan Indonesia suatu model untuk ditempuh. Terdapat banyak alasan mengapa Indonesia di bawah pimpinan Soekarno melaksanakan reaksi yang merugikan dalam menghadapi gagasan Malaysia. Sebagai wujud dari kebanggan bangsanya, Soekarno cepat menangkap setiap pertanda yang kelihatannya kecil, dan dalam hal ini ia sangat peka, karena menyangkut suatu negara imperialis yang melepaskan kekuasaan dengan cara-cara yang diperhitungkan akan terus mempertahankan pengaruhnya di kawasan itu. Sesungguhnya, pembentukan Malysia menurut pengamatan Soekarno Adalah suatu tindakan kekuatan neo-kolonilisme yang menjadi bagian dari gerakan pengepungan terhadap Indonesia. Dalam kerangka pandangan dunianya, posisi Indonesia sebagai Nefo terjepit di antara musuhmusuh Oldefo yang melindunginya, jika dilihat bahwa di sebelah uyara terdapat bekas-bekas jajahan Inggris yakni Malaysia sampai Kalimntan Utara dan di Selatan ada Australia dan Selandia Baru. Soekarno pun tidak dapat melepaskan kecurigannya terhadap Malaysia pada tahun 1958 bersimpati dengan kaum pemberontakak di Indonesia. Perasaannya telah ditunjang oleh kesadaran akan perbedaan-perbedaan yang besar antara Indonesia dan Malaysia. Menurut pandangannya, Malaysia telah mendapatkan kemerdekaannya secara mudah, tidak berjuang untuk mendapatkannya dan oleh sebab itu dianggap barang murahan jika dibandingkan dengan kemerdekaan Indonesia telah diperjuangkan secara mati-matian. Apabila, hampir dapat dipastikan, kemerdekaan Malaysia
25

adalah selubung untuk melanjutkan pengaruh dan kekuasaan Inggris di bidang ekonomi, politik dan militer. Pangkalan perang Inggris di Singapura menjadi bahan pertimbangan Soekarno demikian juga kepentingan ekonomikeuangan Inggris di Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara. Dalam pengertian sosial, Malaya yang lahir di dunia tanpa melalui suatu revolusi, akan hadir sebagai negara konservatif aristokrat jika dibandingkan dengan nasionalisme radikal Indonesia. Perwujudan perbedaan sifat ini adalah kontras seperti tercermin antara kepribadian Tengku Abdul Rachman si Pangeran Melayu, didikan Inggris, pemilik kuda pacu, dan Soekarno, si pemimpin model Yacobin dari aristokrasi rendahan Jawa dan ditempah dalam kancah perjuangan yang panjang melawan kekuasaan kolonialisme Belanda. ( John D Legge, 1985 : 415 – 417 ) Konperensi Non Blok Kairo 1964 merupakan suatu titik penting dalam usaha Soekarno mendapatkan dukungan internasional atas konfrontasinya terhadap Malaysia. Tetapi anggota-anggota Non-Blok menolak memandang Malaysia sebagai suatu manifestasi neokolonialisme. Strataegi diplomatiknya melawan Malaysia tenggelam dalam kegagalan Konpernsi Asia Afrika yang sedianya berlangsung di Aljazair pada bulan Juni 1965. Kudeta yangdilancarkan oleh Kolonel Honuari Boumedianne menggeser Presiden Ben Bella dari jabatannya terjadi ketika Soekarno tengah dalam perjalanan menuju ibu kota Aljazair. Ditengah-tengah kegagalan diplomatic yang berulang-ulang dan kegagalan memperlihatkan keberhasilan militer baik di Kalimantan Utara maupun di Sememenanjung Malaysia, dan berlawanan dengan situasi dalam negeri yang tengah mengalami proses perubahan politik. Presiden Soekarno tinggal memiliki sumber dan pilihan yang terbatas untuk menerus perjuangan revolusioner yang romantik. Pada situasi seperti ini, perwiraperwira senior militer telah mempunyai keraguan yang serius mengenai manfaat konfrontasi dan mulai terlibat dalam pembicaraan pendahuluan secara rahasia dengan wakil Malaysia di Bangkok dan Hongkong. Mereka melihat kecil sekali manfaatnya meneruskan konfrontasi, karena kegagalannya untuk menimbulkan dampak apapun telah memperlihatkan kelemahan-kelemahan yang dituduhkan pada tuibuh angkatan bersenjata yang pada gilirannya mengabsahkan tuntutan PKI untuk mempersenjatai para pekerja dan petani sebagai angkatan kelima. Untuk mempertahankan revolusi menghadapi ancaman dari imperialisme. (Michael Leifer, 1989 : 151 – 152 )

26

Konfronrasi Indonesia terhadap Malaysia merupakan suatu kegiatan bersahaja apabila dibandingkan dengan konfrontasi antarkekuatan politik dalam negeri yang keras dan berdarah yang berlangsung akibat upaya kudeta yang gagal terutama di Jakarta pada pagi subuh tanggal 1 Oktober 1965. ( Michael Leifer, 1989 : 153 ).Ketika terjadi penculikan disertai pembunuhan terhadap sejumlah jendral TNI AD, Soekarno menginap di rumah istrinya, Dewi di Slipi, setelah sebelumnya berpidato dalam suatu pertemuan di Senayan. Dari situ, Soekarno kemudian mengambil Dewi dari satu resepsi di Hotel Indonesia. Pagi harinya Soekarno dibangunkan dan diberitahu tentang tembak-tembakan dan kerusuhan-kerusuhan yang telah terjadi malam itu. Soekarno kemudian siap berangkat ke Istana, tetapi setelah mendengar adanya pasukan-pasukan di Medan Merdeka. Soekarno mengubah tujuannya ke rumah istrinya yang keempat, Haryatie, dan kemudian ke Halim. Ketika tiba di Halim sekitar jam 9 pagi Soekarno menjumpai tokoh-tokoh lain sudah berada di sana, Laksamana Madya Omar Dhani dan Jenderal Soepardjo. Soepardjo yang menjadi komandan Pasukan Tempur ke-4 Tentara Strategis Angkatan Darat di Kalimantan.telah meninggalkan tugasnya tanpa izin beberapa hari sebelumnya dan tidak melapor kepada atasannya, Jendral Soeharto. Pagi-pagi sekali pada 1 Oktober, Soepardjo mencari Presiden di Istana, tetapi karena tidak menemuinya Soepardjo terbang dengan helikopter ke Halim. Pada perjumpaan pertama di Halim, Soepardjo melaporkan kepada Soekarno kejadian semalam. ( John D Legge, 1985 : 445 – 448 ) Bagi Presiden Soekarno wajah Gerakan 30 September pada 1 Oktober ialah Brigadir Jendral Soepardjo. Presiden tidak berjumpa dengan lima pimpinan inti Gerakan 30 September saat ia berada di Halim. Dari siaran radio pagi hari itu, satu-satunya orang lain yang dengan pasti diketahuinya terlibat ialah Letnan Kolonel Untung. Demikian juga, Soekarno tidak bertemu dengan DN Aidit dan barangkali tidak pernah diberitahu bahwa Aidit ada di kawasan pangkalan udara. Mengingat satu-satunya orang yang dijumpai Presiden Soekarno adalah Soepardjo. Presiden kemungkinan pagi itu telah menyimpulkan bahwa Gerakan 30 September memang benar seperti yang dinyatakan dalam siaran radio pertama : suatu gerakan murni intern Angkatan Darat yang dirancang untuk membersihkan sayap kanan, serta untuk mempertahankan dirinya selaku presiden. ( John Rossa, 2008 : 72 ) . Usai mendengarkan laporan Brigjen Soepardjo itu, Presiden Soekarno menanyakan, apakah ia mempunyai bukti (tentang beberapa Jendral
27

Angkatan Darat yang akan melakukan kudeta pada tanggal 5 Oktober 1965). Brigjen Soepardjo menjawab, punya, dan menambahkan, jika diperintah ia akan mengambilnya di Markas Besar Angkatan Darat. Namun sampai ia “ menghilang pada 2 Oktober, Soepardjo tidak pernah dapat menyerahkan bukti-bukti itu kepada Presiden Soekarno. Permintaan kepada Brigjen Soepardjo untuk memberikan bukti, menunjukkan bahwa Presiden Soekarno ingin mendapatkan kepastian tentang ada atau tidaknya kelompok di Angkatan Darat yang dekat dengan CIA, yang berencana melakukan kudeta terhadap dirinya. Kepastian itu dianggap penting oleh Presiden Soekarno mengingat pada hari-hari itu desas-desus tentang adanya Dewan Jendral yang bekerjasama dengan CIA itu sangat santer. ( James Luhulima, 2007 : 98 ) Pada siang hari, RRI menyiarkan pengumuman yang secara tidak langsung memberhentikan Soekarno sebagai presiden. Di Halim orang yang berbicara atas nama Gerakan 30 September tetap memberlakukannya sebagai seorang presiden. Tetapi melalui gelombang-gelombang radio, Gerakan 30 September mencanangkan secara sepihak telah mendemisionirkan kabinet Soekarno. Soekarno entah mendengar sendiri atau diberi tahu tentang isi pengumuman Gerakan 30 September itu. Ia tidak senang. Soekarno sudah memutuskan untuk tidak mendukung Gerakan 30 September pada saat Dewan Revolusi itu diumumkan melalui radio. Tapi mendengar kabinetnya sudah didemisionerkan pastilah lebih memperkeras penentangannya terhadap Gerakan 30 September. ( John Rossa, 2008 : 72 – 76 ) Kendati bernafas pendek Gerakan 30 September mempunyai dampak sejarah yang penting. Ia menadai awal berakhirnya masa kepresidenan Soekarno, sekaligus bermulanya kekuasaan Soeharto. Sampai saat itu Soekarno merupakan satu-satunya pemimpin nasional yang paling terkemuka selama dua dasawarsa lebih, yaitu dari sejak ia bersama pemimpin nasional lain, Mohammad Hatta, pada 1945 mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Ia satu-satunya presiden negara-bangsa baru itu. Dengan kharisma, kefasihan lidah, dan patriotisme yang menggelora, ia tetap sangat popular di tengahtengah semua kekacauan politik dan salah urus perekonomian pascakemerdekaan. Sampai 1965 kedudukannya sebagai presiden tidak tergoyahkan. Sebagai bukti populeritasnya baik Gerakan 30 September maupun Mayor Jenderal Soeharto berdalih bahwa segala tindakan yang mereka lakukan merupakan langkah untuk membela Soekarno. Tidak ada

28

pihak mana pun yang berani memperlihatkan pembakangannya terhadap Soekarno. Soeharto menggunakan Gerakan 30 September sebagai dalih untuk merongrong legitimasi Soekarnmo, sambil melambungkan dirinya ke kursi kepresidenan. Pengambilalihan kekuasaan negara oleh Soeharto secara bertahap, yang dapat disebut sebagai kudeta merangkak, dilakukannya di bawah selubung usaha untuk mencegah kudeta. Kedua belah pihak tidak berani menunjukkan ketidaksetiaan terhadap presiden. Jika bagi Presiden Soekarno aksi Gerakan 30 September itu sendiri disebutnya sebagai “riak kecil di tengah samudera besar Revolusi,” sebuah peristiwa kecil; yang dapat diselesaikan dengan tenang tanpa menimbulkan guncangan besar terhadap struktur kekuasaan, bagi Soeharto persitiwa itu merupakan tsunami pengkhianatan dan kejahatan, yang menyingkap adanya kesalahan yang sangat besar pada pemerintah Soekarno. Soeharto menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi Gerakan 30 September, dan selanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orang-orang yang terkait dengan partai itu. Tentara Soeharto menangkapai satu setengah juta orang lebih. Semuanya dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September. Dalam salah satu pertumpahan darah terburuk di abad keduapuluh, ratusan ribu orang dibantai Angkatan Darat dan milisi yang berafiliasi dengannya, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dari akhir 1965 sampai pertengahan 1966. ( John Rossa, 2008 : 4 – 5 ) Ketika pembunuhan tetap berlanjut, Presiden Soekarno berbicara menentang kejadian-kejadian yang merupakan “epilog” dari insiden Gerakan 30 September. “ Epilog ini”, katanya “ telah mengganggu sukmaku, telah membuatku sedih, membuatku khawatir ….Dengan terus terang kukatakan aku meratap kepada Allah, bertanya kepada Tuhan, bagaimana ya Allah, Robbi , bagaimana semua ini dapat terjadi ? “ . Ia menambahkan, : Kalau kita melanjutkan keadaan seperti ini, saudara-saudara kita akan masuk ke dalam neraka, benar-benar kita masuk neraka.” Walaupun tak perlu diragukan bahwa Soekarno benar-benar ngeri melihat bayangan suatu bangsa yang bersatu diremukkan oleh pemandangan di mana orang-orang Indonesia membunuh secara kejam orang-orang Indonesia lainnya, namun ia juga sepenuhnya sadar akan implikasi politik dari semangat anti-PKI itu. Nasakom mempunyai arti yang lebih daripada konsep kesatuan nasional, dengan mengakui peranan integral dari PKI, ini merupakan syarat utama dari sistem politik yang menjadi dasar
29

pemerintahan Soekarno. Tanpa adanya PKI untuk mengimbangi kekuasaan Angkatan Darat, maka peranan presiden sendiri akan menjadi terbatas. ( Harold Crouch, 1986 : 173 – 174). Pengambilan alih kekuasaan oleh tentara dan pembasmian PKI berarti pengakhiran keseimbangan politik yang hendak dipertahankan oleh Presiden Soekarno. Pertanyaan tentang peranannya pada tanggal 1Oktober – selama ia beberapa jam berada di Halim -, penolakannya untuk menyalahkan PKI mengadakan kudeta serta kegagalannya menghadirkan gagasan Nasakomnya sebagai wacana baru, membuat hancur posisinya. Dalam upaya untuk merebut kembali prakarsa politik. Presiden Soekarno tidak mengikutsertakan Jenderal A.H. Nasution dalam kabinet yang dibentuknya pada bulan Februari 1966. Namun, ia kewalahan dengan adanya demontrasidemonstrasi dari front-mahasiswa dan kelompok-kelompok agama yang dengan bantuan diam-diam pihak tentara seluruhnya melumpuhkan lalulintas di Jakarta. ( Bob Hering , 2012 : 30-31) Soekarno sadar betul bahwa lahirnya gerakan mahasiswa tidak sekadar sebuah kekuatan moral yang mengontrol kekuasaannya. Sebaliknya Soekarno telah mendengus adanya kekuatan lain dalam gerakan mahasiswa tersebut, yaitu militer yang ingin mendongkel kekuasaannya. Namun Soekarno tidak langsung menuduh militer mendalangi gerakan mahasiswa melainkan menuduh neo kolonialisme dan neo imperialisme sebagai dalangnya. Bahkan belakangan ini terang-terangan menuduh CIA turut mendalangi. Meskipun Soekarno tidak menunjukkan bukti-bukti, namun ia yakin ini merupakan serangkaian provokasi Amerika untuk menjatuhkan dirinya, sejak peristiwa pemberontakan PRRI/Permesta, hingga berbagai pemberontakan lain di berbagai daerah Indonesia lain. Bahkan ada bantuan dana yang begitu besar untuk membantu gerakan mahasiswa dari Kedutaan Besar Amerika. ( Abdul Mun”im DZ, 1999 : 18 ) Aksi-aksi demikian diadakan berulang kali dengan tuntutan agar para menteri golongan kiri dikeluarkan dan agar diadakan Sidang MPRS. Ancaman perang saudara telah mendesak. Presiden Soekarno mengalami tekanan berat dengan adanya sejumlah tuntutan yang harus dipenuhinya. Oleh karena itu Presiden Soekarno mengadakan sidang kabinet. Saat itulah “ pasukan liar “ yang dipimpin Kemal Idris mengepung Istana Negara, untuk menekan Soekarno yang sedang bersidang di dalamnya. Melihat gelagat tidak baik itu, Presiden Soekarno segera meninggalkan sidang, diikuti Subandrio dan Chaerul Saleh menuju Istana Bogor. Saat itu Soeharto
30

mengatakan bahwa :” saya tidak bertanggung jawab (terhadap keselamatan Soekarno) kalau saya tidak diberi kekuasaan untuk mengatasi keadaan ini.” Ini bukan omongan biasa atau penilaian terhadap keadaan, melainkan mengandung ancaman bahwa Soekarno harus melimpahkan kekuasaan keamanan pada dirinya. Bisa dilihat bahwa penguasa keadaan darurat semacam itu berarti memegang kekuasaan politik secara riil, sebab penguasa keadaan darurat dan genting semacam itu bisa bertindak apa saja tanpa konsultasi dengan DPR, termasuk tidak perlu berkonsultasi lagi dengan Presiden. Akhirnya Soeharto mengutus tiga orang perwira tinggi, M Jusuf, Amir Machmud dan Basuki Rachmat untuk meyakinkan (memaksa) pada Soekarno untuk memberikan wewenang (menyerahkan kekuasaan) pada Soeharto. Akhirnya Soekarno menyerahkan dengan menandatangani surat pelimpahan kekuasaan keamanan pada Soeharto, yang sebagai Pangkostrad berwenang mengurusi masalah keamanan setelah Ahmad Yani sebagai KSAD meninggal. Walaupun wewenang yang diberikan pada Soeharto hanya sebatas memulihkan keamanan sebagaimana tugas rutinnya sebagai Pangkostrad, tetapi Soeharto tampaknya melalui wewenang yang diberikan, dan tidak pernah melaporkan tugasnya pada Presiden Soekarno Bahkan dengan berbagai cara, ia mendorong partai politik dan mahasiswa untuk mendongkel Soekarno dari kekuasaannya. Saat itu Soekarno masih tetap sebagai Presiden, tetapi sebenarnya kekuasaan eksekutif secara riil setelah menandatangan Supersemar telah berpindah ke tangan Jendral Soeharto. ( Abdul Mun’im DZ, 1999: 35 – 38 ) Bagi Soekarno, Surat Perintah Sebelas Maret itu secara nyata, meskipun tidak resmi, telah menjadi akhir dari karir politiknya. Pada 16 Maret dalam usahanya untuk membantah. Soekarno mengeluarkan suatu “Pengumuman” untuk menjelaskan Perintah 11 Maret itu, dan menyatakan bahwa ia masih mempunyai kekuasaan penuh sebagai Kepala Eksekutif pemerintah, dan Mandataris MPRS. Soekarno hanya bertanggung jawab kepada MPRS dan kepada Tuhan, katanya. Dan Soekarno menekankan bahwa hanya ia yang dapat mengangkat menteri-menteri. Pengumuman ini bukanlah penarikan kembali penyerahan kekuasaan kepada Soeharto. Pada 16 Maret, Soekarno agaknya berpikir untuk menolak tuntutan mereka yang menghendaki perubahan kabinet. Namun ini adalah sikap yang sia-sia yang tentu ikut menyebabkan Soeharto bertindak cepat dan tepat untuk menunjukkan siapa sebenarnya yang berkuasa dalam memerintahkan penangkapan lima belas menteri dua hari kemudian. Ketika Kabinet baru itu sudah tersusun,
31

Soekarno dihadapkan pada tugas yang merendahkan martabat dirinya yakni mengumumkan komposisi kabinet itu. Ini adalah terlampau berat baginya – Soekarno membacakan beberapa nama dari susunan menteri itu, kemudian menyerahkan daftar ini kepada Leimena untuk membacakan seterusnya dan ia sendiri kemudian segera meninggalkan ruangan. (John D Legge, 1985 : 462 – 467 ) Dalam bulan Juli 1966, MPRS, di bawah pimpinan Jenderal Nasution mencabut gelar “ Presiden seumur hidup” dari Presiden Soekarno, sementara Jenderal Soeharto bersamaan dengan itu diangkat sebagai ketua presedium kabinet. Tekanan pada Presiden Soekarno yang hanya menyandang gelar Presiden yang kosong, makin ditingkatkan. ( Bob Hering , 2012: 31 ). Tetapi Soekarno menolak peranan sebagai penguasa konsitusional saja. Kepribadian Soekarno dan pemahamannnya tentang tanggung jawabnya sebagai Pemimpin Besar Revolusi membuat ia tidak mungkin menerima perlakuan semacam itu. Ia telah terbiasa memimpin pemerintahan, tidak sudi menanggung penghinaan melihat kebijakansanaanya diputarbalikkan oleh bawahan-bawahannya yang bertindak atas namanya. Baginya politik bukan hanya masalah pembagian keuntungan-keuntungan sambilan dari kekuasaan (walaupun aspek ini tidak diabaikan), tetapi adalah suatu perang moral yang sungguh melawan kolonialisme dan imperialisme serta kekuatan-kekuatan di dalam negeri yang menolak konsepsinya mengenai persatuan bangsa Indonesia. Ia tidak hersedia duduk dalam jabatan kepresiden sementara para pemimpin Angkatan Darat menghancurkan sekutu-sekutunya di dalam negeri dan berpaling ke “Imperalis” Barat untuk memperoleh bantuan ekonomi mereka. Kendati demikian, Soekarno tidak menyeruhkan pengikut-pengikutnya untuk mempertahankannya tetapi secara terusmenerus mengucapkan tema-tema ideologis masa lalu yang sangat dibenci oleh para pemimpin Angkatan Darat, yang merupakan simbol-simbol dari perlawanannya. ( Harold Crouch, 1986 : 227 ) Pada saat bersamaan, terjadi persetujuan yang memungkinkan penjalinan hubungan diplomati normal antara Indonesia dan Malaysia. Persetujuan ini memuat ketentuan yang lebih eksplisit mengenai persyaratan pemulihan hubungan. Malaysia setuju memberikan rakyat Sabah dan Serawak ‘ suatu kesempatan untuk menegaskan kembali, segera setelah dapat dilaksanakan dengan cara yang bebas dan demokratis melalui pemilihan umum keputusan mereka sebelumnya tentang status mereka di Malaysia.” Selain itu, pemerintah Malaysia setuju akan ketentuan tambahan secara rahasia bahwa pemulihan hubungan diplomatik didasarkan pada pemilihan di Kalimantan
32

Utara ; hal ini penting untuk mengatasi sisa-sisa oposisi Soekarno dan memuaskan kebanggaan militer. ( Michael Leifer, 1989 : 158 ) Semenjak bulan Juli 1966 sampai bulan Februari 1967, diadakan sebuah kampanye yang sengaja dimaksudkan untuk menjatuhkan wibawanya. Pada bulan Februari 1967, MPRS memutuskan untuk menyerahkan seluruh kekuasaan Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Pada hakikatnya Soekarno di penjara di istananya di Bogor dan kemudian berpindah kerumahnya di Batutulis, Bogor sebagai tahanan rumah. Setelah itu ia berpindah ke Wisma Yaso, Jakarta, tempat tinggal Dewi yang sudah ditinggalkan. ( Bob Hering, 2012 : 31) Soekarno sekarang terdampar dalam kesepian dan keterpencilan. Disisihkan bukan saja dari kekuasaan, tetapi juga dari hubungan-hubungan anak manusia yang memberi semangat kepada kehidupan ini, Soekarno sekarang hidup dalam kesehatan yang terus menurun dan pikiran yang semakin risau. ( John D Legge, 1985 : 462 – 467 ) Hukuman tahanan rumah, adalah penjara terberat dalam hidupnya. Keadaan sudah berubah. Soekarno masih memaklumi ketika tahun tahun 1929 – 1931 dimasukkan ke Penjara Banceu dan Sukamiskin, Bandung. Demikian pula ketika diasingkan ke Ende, Flores, dan Bengkulu pada tahun 1934 dan 1938. Di sana meski meski berada dalam tahanan, Soekarno masih bisa menikmati bacaan, bahkan sesekali bermain musik dengan sesama tahanan. Begitupun dalam hubungan sosial, hampir tiada hambatan. Soekarno bebas bercengkrama dengan penduduk setempat, bahkan berkirim surat dengan teman sejawat. Hukuman isolasi dan tahanan rumah telah merampas berbagai kebebasannya, termasuk kebebasan paling pribadi. ( Reni Nurhayati , 2008 : 79 ) Hari Minggu, pada tanggal 21 Juni 1070, putra sang fajar telah menghembuskan nafas terakhir. Jenazah Soekarno dibaringkan di Wisma Yaso. Sementara beribu-ribu orang Jakarta di Wisma Yaso berjalan melewati tempat di mana jenazah disemayamkan, dibelakang layar orang berdiksi tentang pertanyaan di mana Soekarno harus dimakamkan. Soeharto agaknya tidak bersedia menciptakan sebuah tempat perziarahan untuk para pengagum lelaki yang dengan perlahan-lahan tetapi pasti telah ia singkirkan dari kursi kepresidenan. Dalam sebuah rapat kabinet yang dipimpin oleh Soeharto untuk mana Mohammad Hatta juga diundang, akhirnya diambil keputusan : Soekarno akan dikubur dengan upacara kenegaraan, ia akan dikubur di sebelah ibunya di Blitar dan akan diumumkan masa berkabung selama satu minggu. ( Lambert J Giebel, 2005 : 242 – 245 )
33

Kendati Soekarno telah meninggal kita. Pemikiran Soekarno mempunyai impak yang nyata dari pemimpin-pemimpin dari generasi 1928, 1945 dan 1966. Kebanyakan mereka merasa bahwa Soekarno telah meletakkan Indonesia diatas peta, karena keberhasilannya memperjuangkan posisi Indonesia sebagai pemimpin yang merdeka dan bersandar kepada diri sendiri ditengah bangsa-bangsa lain. Mereka menyatakan bahwa politik luar negeri Soekarno telah membangkitkan rasa kebangggan nasional: “Dunia mengenal Indonesia karena mengenal Soekarno.” Kritik kepada Soekarno hampir tidak pernah mengenai dasar-dasar politik luar negerinya, tetapi semata-mata terletak dalam kegagalannya membangun kekuatan ekonomi dalam negeri yang cukup mampu mendukung politik kepemimpinan internasional dan politik berdikari. Konsep mengenai konflik antara NEFOS dan OLDEFOS masih diterima secara luas oleh pemimpin-pemimpin Indonesia sebagai suatu cara berguna untuk membagi dunia ini. Banyak pemimpin Indonesia sekarang menangkap kembali konsep NEFOS–OLDEFOS dalam terminologi ekonomi, mengurangi dimensu ideologinya dan menganggap terutama sebagai pertentangan kepentingan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin. Tendensi dari negara-negara besar untuk mengecualikan negaranegara berkembang dari proses pengambilan keputusan mengenai masalahmasalah penting merupakan salah satu pertimbangan untuk membenarkan dikotomi NEFOS-OLDEFOS itu.

Makalah ini dipresentasikan di Sekolah Para Pendiri Bangsa Megawati Institut pada tanggal 15 Meu 2012.

34

Bibliografi Abeyasekere, Susan,” Koperator dan Non-Koperator Kegiatan Politik Nasionalis,” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed). 1986. Gelora Api Revolusi. Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta : BBC dan PT Gramedia, Hlm. 61 – 67. Crouch, Harold. 1986. Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta : Sinar Harapan. Dahm, Bernhard. 1987 . Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta : LP3ES. Giebels, Lambert J. 2005. Pembantaian yang ditutupi. Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno. Jakarta : Grasindo. Hering, Bob. 2001. Soekarno. Bapak Indonesia Merdeka 1901 – 1945. Jakarta : Hasta Mitra. Hering, Bob. 2012. Soekarno Arsitek Bangsa. Jakarta : Penerbit Buku Kompas. Ingleson, John.1983.Jalan Ke Pengasingan. Pergerakan Nasiona lIndonesia Tahun 1927 – 1934. Jakarta : LP3ES. Ingleson, John. “ Sukarno, PNI dan Perhimpunan Indonesia.” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed). Gelora Api Revolusi. Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta : BBC dan PT Gramedia , Hlm. 55 – 61. Legge, John D 1985. Sukarno Sebuah Biografi Politik. Jakarta : Sinar Harapan. Leifer, Michael. 1989.Politik Luar Negeri Indonesia. Jakarta : PT Gramedia. Luhulima, James. 2007. Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965. Jakarta : Penerbit Buku Kompas. Mortimer, Rex. 2011. Indonesian Communism Under Sukarno. Ideologi dan Politik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
35

Mun’in DZ, Abdul,” Gerakan Mahasiswa 1966 Di Tengah Pertarungan,” dalam Muridan S Widjojo et al. 1999. Penakluk Rezim Orde Baru Gerakan Mahasiswa”98. Jakarta : Sinar Harapan, Hlm. 17 – 44. Nuryanti, Reni. 2008. Tragedi Sukarno. Dari Kudeta Sampai Kematiannya. Yogyakarta : Ombak. Ricklefs, Merle,” Naga-Naga Terbangun,” dalam Colin Wild dan Peter Carey (ed), 1986. Gelora Api Revolusi. Sebuah Antologi Sejarah. Jakarta : BBC dan PT Gramedia, hlm. 1 – 7 . Ricklefs, MC. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Rossa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal. Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta : Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra.

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->