You are on page 1of 20

MAKALAH TEKNIK PENGAWETAN TANAH DAN AIR Perancangan Teknik Pengawetan Tanah dan Air

Disusun oleh : Kelompok Dua (2) Nama : Said Panji P. Rimba Yudha Tafsir Nilam Qalby Rizqi Hasan Iwan Feby H. RiyanHermansyah Nela Angela S. DwiPretti S. Ardy Yusuf Wibawa Oki Ahmad Luthfi (240110090001) (240110090002) (240110090003) (240110090004) (240110090005) (240110090006) (240110090007) (240110090008) (240110090009) (240110090010) (240110090071)

JURUSAN TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Negara Indonesia adalah Negara yang memiliki iklim tropis dengan curah hujan diatas 2000mm dengan luas daratan seluas 1.922.570 km, dengan potensi hujan yang sangat besar, daratan Indonesia sangatlah terancam dengan adanya erosi yang disebabkan oleh air. Erosi adalah penggerusan lapisan tanah bagian atas atau top soil yang disebabkan oleh air dan angin (Nurpilihan, 2001). Salah satu factor penentu erosi adalah erosivitas hujan. Erosi salah satu kejadian alam yang tidak dapat dihentikan, tetapi erosi dapat diredam dampaknya supaya tidak terlalu besar berpengaruh pada tanah, karena jika lapisan top soil sudah tidak terdapat pada tanah maka produktivitas pada tanaman tidak akan maksimal. Erosi dapat dikendalikan secara mekanik, kimia, vegetasi dan biologi. Dalam pengendalian secara mekanik yaitu dengan memotong panjang lereng, baik dengan pembuatan teras ataupun guludan. Lalu pengendalian secara kimia dengan cara menambahkan cairan kimia kedalam tanah untuk memperkuat agregat-agregat tanah supaya tidak mudah tergerus oleh hujan, dan pengendalian secara vegetasi dan biologi, bisa dengan mengatur pola tanam dan penambahan mulsa yang diharapkan bisa menjadi bahan organic ketika mulsa terdekomposisi oleh bakteri-bakteri dalam tanah.

1.2.Tujuan Untuk mengetahui cara memanipulasi nilai erosi supaya tidak melebihi nilai soil tolerance erosi ( STE ).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tindakan konservasi tanah dan air bertujuan untuk melindungi tanah terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh butirbutir air hujan yang jatuh, memperlambat aliran permukaan (run off), memperbesar kapasitas infiltrasi dan memperbaiki aerasi serta memberikan penyediaan air bagi tanaman (Utomo, W.H, 1983). Menurut Arsyad (2000), ada beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai tindakan konservasi, antara lain : 1. Cara mekanik (pengolahan tanah, pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, terras dan tanggul), 2. Cara vegetatif (penanaman tanaman yang dapat menutupi tanah secara terus menerus, pola pergiliran tanaman, penanaman strip/alley cropping, sistem penanaman agroforestry dan pemanfaatan sisa-sisa tanaman sebagai mulsa dan bahan organik),

Pendekatan secara kombinasi antara cara mekanik dan vegetatif adalah yang umum dilakukan karena lebih menguntungkan. Beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan tindakan koservasi melalui cara vegetatif, bahwa budidaya lorong/alley cropping dapat menurunkan laju erosi tanah sebesar 0,7 ton/ha/th dan aliran permukaan sebesar 1,51 m3/ha/th pada musim ke VI penanaman dengan produksi jagung 0,73 ton/ha. Selai itu kemampuan

budidaya lorong dalam menurunkan laju erosi dan aliran permukaan terbukti lebih rendah dibanding system penanaman agroforestry. Mengembalikan bahan organik dan sisa-sisa pangkasan ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah dan kimia tanah, serta mempertahankan kandungan bahan organik tanah dapat melengkapi kelebihan budidaya lorong. Hasil penelitian yang menunjukkan tindakan konservasi, seperti

penggunaan sisa-sisa tanaman (jerami padi dan jagung) sebagai mulsa yang disebarkan di atas permukaan tanah pada lahan pertanaman pangan menurunkan laju erosi tanah sebesar 80 sampai 100% (Kurnia, et al. 1997). Penelitian penggunaan mulsa sebagai tindakan konservasi secara vegetatif

ternyata dapat mencegah hilangnya unsur hara makro N, P, dan K dan dilaporkan bahwa perbandingan jumlah unsur hara N, P, dan K yang hilang akibat erosi tanah pada penggunaan mulsa jerami padi dan Mucuna sp, berturut-turut sekitar 5,1% dan 26,8% dibandingkan perlakuan kontrol. Selain itu yang dilakukan pada penerapan pola tanam kacang tanahjagung-kedele dengan teknik pemanenan air (rorak bergulud + mulsa vertikal) dapat menurunkan aliran permukaan dan besarnya erosi tanah masing-masing sekitar 88% dan 94% serta dapat memperbaiki kualitas tanah pada lahan kering di Malang, Jawa timur. Secara mekanis teras dengan tanaman penguat. Efektivitas teras dalam mengurangi erosi lebih tinggi apabila dikombinasikan dengan tanaman penguat teras. Sebagai contoh, pada tanah Latosol (Oxisols) di Gunasari, laju erosi pada tahun pertama hanya 1,2 t/ha dan pada tahun kedua menurun lagi sampai 0,4 t/ha apabila teras bangku diperkuat lagi dengan Brachiaria decumbens (Haryati et al., 1992). Selain itu, tanaman penguat teras, memberikan nilai tambah lain yaitu sebagai sumber pakan ternak dan bahan organik tanah. Jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai tanaman penguat teras adalah tanaman legum seperti hahapaan (Flemingia congesta), gamal (Gliricidia sepium) dan rumput seperti bahia (Paspalum Notatum), bede (Brachiaria decumbens), setaria (Setaria sphacelata), gajah (Penisetum purpureum) atau akar wangi (Vetiver zizanoides). Selain itu cara strip tanaman (rumput) searah kontur merupakan sistem penanaman rumput yang rapat pada garis kontur, yang berfungsi sebagai penahan aliran permukaan dan erosi, sehingga dapat mendorong terbentuknya teras secara perlahan (teras kredit). Teknik strip dapat mengontrol aliran permukaan dan erosi, serta menyediakan rumput pakan atau mulsa. Pertanaman lorong (alley cropping) merupakan sistem penanaman pohon atau semak jenis legum yang ditanam rapat searah garis kontur, dengan jarakantar lajur 4-8 m tergantung kemiringan lahan, sehingga membentuk lorong-lorong, yang ditanami tanaman pangan sebagai tanaman utama. Legum pohon atau semak yang ditanam rapat berfungsi untuk menyaring partikel tanah yang tererosi dan mengendalikan aliran permukaan. Teknik ini selain mampu

menekan erosi dan aliran permukaan, juga mampu memperbaiki kesuburan tanah, menghasilkan kayu bakar dan pakan ternak. Pertanaman lorong dan strip rumput merupakan teknik konservasi vegetative yang efektif dalam menekan erosi dan aliran permukaan. Praktek-praktek bercocok tanam bersifat merubah keadaan penutup lahan, dan karenanya, dapat mengakibatkan terjadinya erosi permukaan pada tingkat atau besaran yang bervariasi. Oleh karena besaran erosi yang berlangsung ditentukan oleh intensitas dan bentuk aktivitas pengolaham lahan, maka prakiraan besarnya erosi yang terjadi akibat aktivitas pengelolaan lahan tersebut perlu dilakukan. Dari beberapa metode untuk memprakirakan besarnyta erosi permukaan, metode Universal Soil Loss equation (USLE) yang dikembangkan oleh Wischmeir dan Smith (1978) adalah metode yang paling umum digunakan untuk memprakirakan besarnya erosi. Istilah universal atau umummenunjukkan bahwa persamaan atau metode tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya erosi untuk bebagai macam kondisi tataguna lahan dan konsdisi iklim yang berbeda. Anggapan seperti inilah yang sering kali menjadi sumber kesalahan dalam memperkirakan besarnya erosi, terutama di tempat yang memiliki karakteristik iklim (terutama intensitas hujan) dan biofisik berbeda dari tempat dimana persamaan tersebut dikembangkan. Perlu diketahui bahwa persamaan USLE pertama kali dikembangkan di daerah pertanian di Amerika Utara dengan karekteristik iklim sedang (intensitas hujan umumnya rendah) dan topografi tidak terlalu bergunung. Kenyataan inilah yang perlu dipertimbangkan sehingga dalam pemakaian persamaan USLE dapat dikenali faktor pembatasnya dan bahkan apabila dianggap perlu, persamaan terseubt dapat dimodifikasi (terutama dalam menentukan besarnya masing-masing variabel penyusun persamaan USLE dan bahkan perubahan variabel itu sendiri). Sebelum USLE dikembangkan lebih lanjut, perkiraan besarnya erosi dilakukan dengan berdasarkan data atau informasi kehilangan tanah di suatu tempat tertentu. Dengan demikian, prakiraan besarnya erosi tersebut dibatasi oleh faktor topografi, vegetasi dan meteorologi. Menyadari adanya keterbatasan dalam menentukan besarnya erosiuntuk tempat-tempat diluar lokasi yang telah diketahui spesifikasi tanahnya tersebut, maka dikembangkan cara untuk memperkirakan

besarnya erosi dengan persamaam matematis yang dikenal dengan persamaan USLE:
A R K LS C P

= besarnya kehilangan tanah per satuan luas lahan, diperoleh dari perkalian faktor tersebut pada persamaan diatas. Besarnya kehilangan tanah atau erosi dalam hal ini hanya terbatas pada erosi kulit dan erosi alur. Tidak termasiuk dari erosi yang berasal dari tebing sungai dan juga tidak termasuk sedimen yang terendap di bawah lahan yang memiliki kemiringan yang besar.

= faktor erosivitas curah hujan dan air larian untuk daerah tertentu, umumnya diwujudkan dalam bentuk indeks erosi rata-rata (EI). Faktor ini juga merupakan besarnya tenaga curah hujan yang dapat menyebabkan terjadinya erosi

= faktor erodibilitas tanah untuk jenis tanah tertentu, dan merupakan kehilangan tanah per satuan luas untuk indeks erosivitas tertentu. Faktor K adalah indeks erodibilitas tanah yaitu angka yang menunjukkan mudah tidaknya partikel tanah terkelupas dari agreget tanah oleh gempuran air hujan atau air larian

= faktor panjang kemiringan lereng yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah untuk panjang lereng. Notasi L dalam hal ini bukanlah panjang lereng yang sesungguhnya

= faktor gradien (beda) kemiringan yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah untuk tingkat kemiringan lereng tertentu dengan besarnya kehilangan tanah untuk kemiringan lereng 9%. Notasi S bukanlah kemiringan lereng yang sesungguhnya

= faktor cara bercocok tanam yang tidak memiliki satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah pada kondisi cara bercocok tanam yang diinginkan dengan besarnya kehilangan tanah pada keadaan tillled continuous fallow

= faktor praktek konservasi tanah yang tidak mempunyai satuan dan merupakan bilangan perbandingan antara besarnya kehilangan tanah pada

kondisi usaha konservasi tanah ideal dengan besarnya kehilangan tanah pada kondisi penanaman tegak lurus terhadap garis kontur.

2.1. Erosivitas (R) Erosivitas hujan merupakan besarnya tenaga kinetik hujan yang

menyebabkan terkelupas dan terangkutnya partikel-partikel tanah ketempat yang lebih rendah. Erosivitas hujan sebagian besar terjadi karena pengaruh jatuhan butir-butir hujan langsung diatas tanah dan sebagian lagi karena aliran air di atas permukaan tanah. Faktor erosivitas hujan merupakan hasil perkalian antara Energi Kinetik (E

) dari suatu kejadian hujan maksimum 30 menit ( I30 ). Kehilangan tanah karena erosi percikan, erosi lembar, dan erosi alur berhubungan erat dengan I30. Penggunaan intensitas hujan 30 menit maksimum menunjukkan bahwa tidak seluruh hujan berpengaruh nyata terhadap jumlah tanah yang hilang. Hujan dengan intensitas kecil pengaruhnya sangat kecil terhadap hilangnya tanah dari suatu tempat. Pada metode USLE, prakiraan besarnya erosi adalah dalam kurun waktu tahunan sehingga angka rata-rata faktor R dihitung dari data curah hujan tahunan sebanyak mungkin dengan persamaan: R =

100 X
i

EI

R = Erosivitas hujan rata-rata tahunan N = Jumlah kejadian hujan dalam kurun waktu satu tahun (musim hujan) X = Jumlah tahun atau musim hujan yang digunakan Pengukuran curah hujan dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu menggunakan penakar hujan atau menggunakan automatic rain gauge yang menghasilkan grafik hujan pada kertas pias selama 24 jam. Oleh karena alat penakar hujan otomatis jarang terdapat di setiap tempat pengamatan hujan, maka Bolls membuat perhitungan curah hujan (indeks erosivitas hujan) yang didasarkan pada data pengamatan curah hujan dari 47 stasiun cuaca selama 38 tahun di Pulau Jawa. Untuk mencari indeks erosivitas hujan tersebut diatas, dapat menggunakan rumus Bolls (1978) sebagai berikut:

(Rm) EI30 = 6,119 RAINm1,21 x DAYm-0,47 x MAX Pm0,53 Dimana : Rm RAINm DAYm = erosivitas curah hujan bulan rata-rata = jumlah curah hujan bulanan (cm) = jumlah hari hujan bulanan rata-rata pada bulan tertentu (cm)

MAX Pm = jumlah hujan maksimum selama 24 jam pada bulan tertentu (cm)

2.2.

Erodibilitas Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas tanah merupakan

jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman, tanpa usaha pencegahan erosi pada lereng 9 % dan panjang 22 m. Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh tekstur tanah (terutama kadar debu +pasir halus), bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah (Hardjowigeno, 2003).

2.2.1. Faktor yang Mempengaruhi Erodibilitas 1. Tekstur tanah Tekstur menunjukkan sifat halus atau kasarnya butiran-butiran tanah Tekstur ditentukan oleh kandungan pasir, debu dan liat yang terdapat dalam permukaan tanah. Tekstur tanah yang terlibat dalam butiran berjarak 200 mikron sampai ukuran 0,01 mikron. Butir-butir liat yang lebih kecil dari ukuran 0,01 mikron wujudnya dalam bentuk koloid. Suatu gumpal tanah tidak pernah tersusun hanya satu macam tekstur secara tersendiri. Langkah pertama untuk menentukan tekstur ialah menganalisa fraksi-fraksi tanah tersebut (Rafii, 1990). Debu merupakan fraksi tanah yang paling mudah tererosi karena selain mempunyai ukuran yang relatif halus, fraksi ini juga tidak mempunyai ikatan (tanpa adanya bantuan bahan perekat/pengikat) karena tidak mempunyai muatan. Berbeda dengan debu, liat meskipun merupakan ukuran yang sangat halus, namun karena mempunyai muatan, maka fraksi ini dapat membentuk

ikatan. Meyer dan Harmon (1984) menyatakan bahwa tanah-tanah bertekstur halus (didominasi liat) umumnya bersifat kohesif dan sulit dihancurkan. Walaupun demikian bila kekuatan curah hujan atau aliran permukaan mampu menghancurkan ikatan antar partikelnya maka akan timbul sedimen bahan tersuspensi yang mudah untuk terangkut atau terbawa aliran permukaan. Berikut ini adalah acuan pengamatan tekstur tanah : Tabel 1. acuan pengamatan tekstur
KEKASARAN KELICINAN KELENGKETAN & PLASTISITAS PEMBENTUKAN BOLA & BENANG TANAH Bola sangat kohesif, Sangat lengket dan plastis benang tanah mudah dibentuk cincin, sangat mengkilat Bola sangat Cukup licin dan halus seperti sutera Sangat lengket dan plastis kohesif, benang tanah dapat dibuat cincin, sangat mengkilap Bola cukup kohesif, Tidak kasar atau agak kasar Cukup lengket & plastis benang tanah tidak dapat dibentuk cincin, cukup mengkilat Bola cukup kohesif, Sangat licin & seperti sutera Sedikit sekali lengket dan plastis sukar dibentuk benang tanah, agak mengkilat Bola cukup kohesif, Sangat licin & seperti sutera Hampir tidak lengket dan plastis benang tanah sangfat sukar dibentuk, tidak mengkilat Agak Sedikit licin Cukup lengket & Bola sangat kohesif, Lempung Lempung berdebu debu Lempung liat berdebu Liat berdebu Liat KELAS TEKSTUR

Tidak licin

kasar sampai cukup kasar

plastis

benang tanah dapat dibentuk cincin Bola sangat kohesif,

berliat

Cukup kasar

Tidak licin

Sangat lengket dan plastis

benang tanah sukar dibentuk cincin, sangat mengkilat Bola cukup kohesif,

Liat berpasir

Cukup kasar

tidak licin

Cukup lengket dan plastis

benang panjang, tanah sukar dibentuk cincin, cukup mengkilat

Lempung liat berpasir

Cukup kasar

Agak licin

Agak lengket dan plastis

Bola cukup kohasif, sukar dibentuk benang Bola agak kohesif, tidak dapat dibentuk benang Bola agak kohesif, Lempung berpasir Lempung

Sangat kasar

Tidak licin

Tidak lengket & plastis

Sangat kasar sekali

Tidak licin

Tidak lengket & plastis

tidak dapat dibentuk benang Bola mudah pecah (tidak kohesif)

Pasir berlempung

pasir

Nilai M untuk beberapa klas tekstur tanah yang telah ditentukan dapat dilihat pada tabel 2 berikut Tabel 2. Nilai M untuk beberapa klas tekstur tanah
Kelas tekstur tanah Lempung berat Lempung sedang Lempung pasiran Lempung ringan Geluh lempung Pasir lempung debuan Geluh lempungan Campuran merata Nilai M 210 750 1213 1685 2160 2830 2830 4000 Kelas tekstur tanah Pasir Pasir geluhan Geluh berlempung Geluh pasiran Geluh Geluh debuan Debu Nilai M 3035 1245 3770 4005 4390 6330 8245

Sumber : RLKT dAS Citarum (1987) dalam Asdak (1995)

Berikut cara-cara menentukan kelas teksur tanah yang dilakukan dilapangan : 1) Letakkan sedikit tanah diatas telapak tangan, basahi sedikit demi sedikit agar dicapai keadaan plastik maksimum. Keadaan ini akan mempermudah kita dalam menentukan tekstur tanah tersebut 2) Rasakan adanya kekasaran, kelicinan, kelengketan dan

kekenyalan serta derajat kemengkilatan tanah dengan ibu jari dan telunjuk Kekasaran. Kekasaran sampel tanah yang kita ambil

menunjukkan sedikit banyaknya pasir yang terdapat pada tanah tersebut. Kelicinan. Kelicinan meunjukkan keadaan tingkat dalam penentuan jumlah debu. Terkadang karena gesekan antar partikel debu yang sangat banyak maka terasa seperti sabun. Kelengketan. Kelengketan dan plastisitas adalah pendugaan kandungan liat didalam tanah. Bila tanah lebih kenyal, maka akan lebih mudah dibentuk pola. Selain itu tanah yang banyak mengandung liat akan tampak megkilat dibandingkan tanah yang banyak mengandung pasir.

2. Struktur tanah Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung dengan satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok (cluster) yang disebut agregat yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering dan kekerasan (hardness) agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri (Suci dan Bambang, 2002).

Istilah struktur tanah merujuk cara butiran-butiran tanah saling mengelompok secara bersama-sama diikat oleh koloida tanah. Tingkat perkembangan struktur tanah ditentukan berdasarkan atas kemantapan dan ketahanan bentuk struktur tanah tersebut terhadap tekanan.

3. Permeabilitas Tanah Permeabilitas tanah adalah kecepatan air menembus tanah pada periode tertentu dan dinyatakan dalam cm/jam (Foth, 1978). Sedangkan menurut Hakim dkk (1986) permeabilitas tanah adalah menyatakan kemampuan tanah melalukan air yang bisa diukur dengan menggunakan air dalam waktu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas tanah menurut Hillel (1971) antara lain adalah tekstur tanah, porositas dan distribusi ukuran pori, stabilitas agregat dan stabilitas struktur tanah serta kadar bahan organik tanah.

4. Bahan Organik Bahan organik didefinisikan sebagai sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan dan terdiri dari baik masih hidup maupun mati. Di dalam tanah berfungsi dapat memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologi tanah. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penambahan bahan organik tanah lebih kuat pengaruhnya terhadap perbaikan sifat-sifat tanah dan bukan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Penggunaan bahan organik ke tanah harus memperhatikan kadar unsur hara C terhadap unsur hara lainnya misalnya N, P, K karena apabila terjadi nisbah sangat besar bisa menyebabkan terjadinya immobilisasi (Winarso, 2005). Bahan organik tanah adalah semua bahan di dalam tanah baik yang hidup maupun sudah mati. Pada terminologi tertentu biomassa tidak dimasukkan sebagai bahan organik tanah dan menggunakan istilah humus. Jumlah dan sifat bahan organik tanah sangat menentukan sifat biokimia, fisika, kesuburan tanah dan membantu menetapkan arah proses pembentukan tanah. Bahan organik menentukan komposisi dan mobilitas kation yang terjerap, warna tanah, konsistensi tanah, partikel density, bulk density, sumber unsur hara, pemantap agregat dan aktivitas organisme tanah (Muklis, 2007). Selain itu bahan organik tanah dibutuhkan untuk pembentukan dan pemantapan agregat- agregat tanah.

2.3.

Pengolahan Tanah Menurut Kontur Pengolahan tanah / penanaman mengikuti garis kontur dilakukan pada

lahan miring untuk mengurangi erosi dan aliran permukaan. Garis kontur adalah suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang tingginya sama dan berpotongan tegak lurus dengan arah kemiringan lahan. Bangunan dan tanaman dibuat sepanang garis kontur dan disesuaikan dengan keadaan permukaan lahan. Penanaman pada garis kontur dapat mencakup pula pembuatan perangkap tanah, teras bangku atau teras guludan, atau penanaman larikan. Pengolahan tanah dan penanaman mengikuti kontur banyak dipromosikan di berbagai daerah di Indonesia dalam mengembangkan pertanian yang berkelanjutan.

2.3.1. Keuntungan Mengurangi aliran permukaan dan erosi. Mengurangi kehilangan unsur hara. Mempercepat pengolahan tanah apabila menggunakan tenaga ternak atau traktor karena luku atau alat pengolah tanah yang lain.

2.3.2. Kelemahan Penentuan garis kontur yang kurang tepat dapat memperbesar resiko terjadinya erosi. Karena itu diperlukan ketrampilan khusus yang memadai untuk menentukan garis kontur. Membutuhkan pengerahan tenaga kerja yang cukup intensif.

2.4. Mulsa Mulsa adalah limbah tanaman yang setelah terkomposisi dapat dijadikan bahan organik yang digunakan sebagai penutup tanah. Mulsa biasanya digunakan pada lahan yang memiliki kemiringan >10% untuk mengendalikan tumbukan langsung butir-butir hujan kepermukaan tanah dapat ditambahkan mulsa sebagai penutup tanah.

2.4.1. Mulsa Organik Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah alang-alang/ jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-rumputan lainnya. Mulsa sisa tanaman ini dapat berasal dari daun, cabang ataupun batang tanaman. Namun setiap bagian memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Mulsa daun biasanya tinggi akan protein dan mudah terkomposisi. Sedangkan cabang dan batang tanaman sangat sulit hancur karna tinggi akan selulosa. Mulsa yang baik adalah mulsa yang dapat menutupi lahan, mudah terkomposisi, disukai oleh microorganisme, dan memiliki kandungan protein yang tinggi. Biasanya yang memenuhi kriteria di atas adalah tanaman kacang.

2.4.2. Mulsa Anorganik Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Penggunaan mulsa

sampah rumah tangga bila terkomposisi dengan baik maka akan menghasilkan kualitas mulsa yang baik. Namun mulsa rumah tangga ini memiliki kekurangan yaitu, mulsa limbah rumah tangga ini menimbulkan bau, menimbulkan binatang-binatang kecil seperti semut,kecoa dll, dan

memungkinkan timbulnya berbagai macam penyakit.

2.5. Teras Guludan Teras guludan adalah suatu teras yang membentuk guludan yang dibuat melintang lereng dan biasanya dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 10 15 %. Sepanjang guludan sebelah dalam terbentuk saluran air yang landai sehingga dapat menampung sedimen hasil erosi. Saluran tersebut juga

berfungsi untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah menuju saluran pembuang air. Kemiringan dasar saluran 0,1%. Teras guludan hanya dibuat pada tanah yang bertekstur lepas dan permeabilitas tinggi. Jarak antar teras guludan 10 meter tapi pada tahap berikutnya di antara guludan dibuat guludan lain sebanyak 3 5 jalur dengan ukuran lebih kecil. Sedangkan menurut Priyono et. al. (2002), teras guludan adalah bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah dan selokan / saluran air yang dibuat sejajar kontur, dimana bidang olah tidak diubah dari kelerengan permukaan asli. Di antara dua guludan besar dibuat satu atau beberapa guludan kecil. Teras ini dilengkapi dengan SPA sebagai pengumpul limpasan dan drainase teras. Teras gulud adalah guludan yang dilengkapi dengan rumput penguat dan saluran air pada bagian lereng atasnya. Teras gulud dapat difungsikan sebagai pengendali erosi dan penangkap aliran permukaan dari permukaan bidang olah. Aliran permukaan diresapkan ke dalam tanah di dalam saluran air sedangkan air yang tidak meresap dialirkan ke Saluran Pembuangan Air (SPA).

2.5.1. Persyaratan Cocok untuk kemiringan lahan antara 10-40%, dapat juga digunakan pada kemiringan 40-60%, namun kurang efektif. Dapat dibuat pada tanah-tanah agak dangkal (> 20 cm). Tetapi mampu meresapkan air dengan cepat.

2.5.2. Pembuatan dan pemeliharaan Buat garis kontur sesuai dengan interval tegak (IV = interval vertical) yang diinginkan. Pembuatan guludan dimulai dari lereng atas dan berlanjut ke bagian bawahnya. Teras gulud dan saluran airnya dibuat membentuk sudut 0,1- 0,5% dengan garis kontur menuju ke arah saluran pembuangan air.

Saluran air digali dan tanah hasil galian ditimbun di bagian bawahlereng dijadikan guludan. Tanami guludan dengan rumput penguat seperti Paspalum notatum, bebe (Brachiaria brizanta), bede (Brachiaria decumbens), atau akarwangi (Vetiveria zizanioides) agar guludan tidak mudah rusak.

Diperlukan SPA yang diperkuat rumput Paspalum notatum agar aman. Lereng atas Lereng bawah

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Perhitungan Suatu lahan dengan panjang lereng 150 m memiliki kecuraman 10%, diketahui bahwa persen debu 40 % dan pasir halus 5% , pasir 15% kandungan bahan organik 1,0 % serta memiliki struktur coarse granular(3) dan permeabilitas slow (5). Nilai R = 123,1782KJ/tahun (data tahun 1992 di daerah ...............) perolehan nilai dugaan erosi (A) dapat dilihat melalui persamaan matematis berikut ini: A = R x K xL x S x C x P Dimana : A : dugaan erosi (ton/ha/tahun) R : erosivitas curah hujan tahunan (KJ/tahun) K : faktor erodibilitas tanah L : faktor panjang lereng S : faktor kemiringan lereng C : faktor pengelolaan tanaman P : faktor tindakan konservasi tanah Data yang ada : R : 123,1782 KJ/tahun K={ K={ = 0,0825 LS = LS = = 3,041 C = 0,9 (jenis pertanaman : cabe, jahe dll (rempah-rempah) P =1 (teknik konservasi dengan penanaman/ pengolahan menurut kontur) A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,9 x 1 x (0,00138 S 2 + 0,00965 S +0,0138) x (0,00138 (10) 2 + 0,00965 (10) +0,0138)

} }

= 27.812 ton/ha/tahun Nilai dugaan erosi diatas sudah melebihi standar maksimum dugaan erosi pada umumnya yang besarnya 12 ton/ ha/tahun. Oleh karena itu harus ada teknik konservasi tanah dan air. Dalam hal ini ada beberapa teknik yang kami lakukan diantaranya sebagai berikut: a. Penggunaan mulsa dengan jerami 6 ton/ha (mengubah faktor P) Nilai P = 0,3 A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,9 x 0,75

A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,9 x 0,30 = 8,34 ton/ha/tahun b. Penanaman cabe +mulsa (mengubah nilai C) dan pembuatan teras gulud (mengubah faktor P) A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,9 x 0,30 C P

A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,9 x 0,30 x 0,183 = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,27 x 0,183 = 1,52 ton/ha/tahun c. Penambahan teknik penanaman/pengolahan menurut kontur dari alternatif yang kedua (b) A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,27 x 0,183

A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,27 x 0,75 x 0,183 A = 123,1782 x 0,0825 x 3,041 x 0,2025 x 0,183 = 1,145ton/ha/tahun Dengan penambahan teknik penanaman/pengolohan menurut kontur di dapat nilai pendugaan erosi yang lebih kecil dan pengolahan secara kontur jika dilihat dari analisis biaya tidak memerlukan biaya operasional yang besar.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Erosi dapat dikendalikan baik secara kimia, mekanik, vegetasi dan biologi Factor-factor erosi meliputi erosivitas (R), erodibilitas (K), panjang lereng (L), kemiringan lereng (S), pengelolaan tanaman (C), dan teknik konservasi praktis (P). Factor erosi yang dapat dimanipulasi adalah panjang lereng (L), pengelolaan tanam (C) dan teknik konservasi praktis (P). Pengendalian erosi haruslah dapat mengurangi nilai erosi dibawah soil tolerance erosion (STE) yang sebesar 12 ton/ha/tahun. Pengendalian erosi dengan menggunakan mulsa diharapkan dapat menjadi bahan organic setelah mulsa mengalami proses dekomposisi. 4.2 Saran Proses memanipulasi atau menurunkan nilai erosi haruslah dilakukan dan dipikirkan matang-matang karena keputusan yang diambil akan berhubungan dengan biaya operasional.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penerbit IPB, Bogor.

Arsyad, Sitanala. 2000. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu- Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Arsyad, Sitanala. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press.

Asdak, Chay.1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada Unuversity Press. Yogyakatara

Glenn O. Schwab., Delmar D. Fangmeir., William J. Elliot., Richard K. Frevert. 1992. Soil and Water Conservation. Fourth Edition. John Wiley and Sons, Inc.

Utomo, WH. 1994. Erosi dan Konservasi Tanah. Penerbit IKIP Malang. Malang.

Anonim, terdapat pada http//:google Pengolahan Tanah Penanaman Menurut Kontur diakses pada tanggal 28 Mei 2012 Pukul 20.00 WIB

Dephut.

Teras

Guludan:

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/JAMBI/teras_guludan. html diakses pada tanggal 28 Mei 2012 pukul 19.56 WIB

Deptan.

Teras

Guludan: diakses pada

http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/download/jukniskta.pdf tanggal 28 Mei 2012 pukul 20.01 WIB