Referat

ESOFAGITIS KOROSIF

Disusun oleh :
Nopriansyah Darwin Raissa Nurwany Amir Syahmi bin Mohd. Zainal

Pembimbing: Dr. Yoan Levia Magdi, SpTHT-KL

DEPARTEMEN ILMU THT - KL RUMAH SAKIT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011

HALAMAN PENGESAHAN

Referat Judul: Esofagitis Korosif

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di Bagian Ilmu Telinga Hidung Tenggorok – Kepala Leher Rumah Sakit Muhammad Husein Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang Periode 19 November 2011 – 16 Januari 2012

Palembang, Januari 2012

Dr. Yoan Levia Magdi, SpTHT-KL

baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga bantuan yang telah diberikan mendapatkan imbalan setimpal dari Allah SWT. yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu. Yoan Levia Magdi. Dan terakhir. Karena itu. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini. Allah SWT. kami haturkan terima kasih banyak atas bantuan yang telah diberikan hingga tugas diskusi kelompok ini dapat terselesaikan. Palembang. atas nikmat dan karuniaNya. bagi semua pihak yang terlibat. Kami menyadari bahwa didalam makalah diskusi kelompok ini masih banyak kekurangan baik itu dalam penulisan maupun isi referat. SpTHT-KL.KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam. Sholawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis mengucapkan terima kasih atas kontribusi dan bimbingan referat yang berjudul “Esofagitis Korosif” ini kepada Dr. Januari 2012 Penulis BAB I .

Akibatnya esofagitis korosif ini bisa menimbulkan beberapa keadaan. Pada fase akut. lama kontaknya dengan dinding esofagus. Kasus yang terjadi pada anak-anak biasanya karena tertelan zat korosif. BAB II . Di dalam rongga dada. basa kuat. Zat kimia yang tertelan dapat bersifat toksik atau korosif. Zat kimia yang bersifat korosif ini akan menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah. esofagus berada di mediastinum posterior mulai dari belakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri kemudian agak membelok ke kanan berada di samping kanan depan aorta torakalis bawah dan masuk dalam rongga perut melalui hiatus esofagus dari diafragma dan berakhir di kardia lambung. sengaja diminum atau tidak dan dimuntahkan atau tidak. jumlah zat korosif.PENDAHULUAN Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. seperti pada fase akut. sedangkan pada orang dewasa karena percobaan bunuh diri. Esofagitis korosif adalah peradangan di daerah esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena tertelannya zat kimia yang bersifat korosif misalnya asam kuat. esofagitis akut mudah dikenali karena berlansung cepat dan biasanya penyebabnya lebih mudah dikenali. fase laten dan fase kronis. konsentrasi zat korosif. Esofagitis korosif mempunyai keluhan gejala atau timbulnya manifestasi klinis sangat tergantung pada jenis zat korosif. Sedangkan pada fase laten dan fase kronis yang membutuhkan waktu yang lebih lama juga lebih sulit dikenali dan biasanya sudah menimbulkan komplikasi. dan zat organik. Akibatnya penanganan esofagitis korosif pada fase laten dan kronis juga lebih sulit.

yaitu setinggi C IV-V sampai Th IX. Anak-anak antara 8-10 cm. Pada bayi diameter esofagus ± 5 mm. dalam keadaan normal bersifat basa dan tidak tahan terhadap isi lambung yang sangat asam. Diameter esofagus bervariasi tergantung ada tidaknya bolus makanan atau cairan. Pada umur 5 tahun adalah 15 mm.yaitu setinggi C VI – Th XI. yaitu : 1.30 mm. Dinding esofagus terdiri dari 4 lapisan. 2. Pada keadaan istirahat ± 20 mm . Sub Mukosa Mengandung sel-sel sekretoris yang menghasilkan mukus yang dapat mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia. Panjang esofagus dewasa sekitar 25 cm.TINJAUAN PUSTAKA Anatomi Esofagus Tabung otot yang menghubungkan hipopharynx dengan gaster. . Mukosa Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanjut ke faring bagian atas.

Muskularis Otot bagian esofagus merupakan otot rangka. bagian yang diantaranya terdiri dari campuran antara otot rangka dan otot polos. Gambar 3. Sedangkan otot pada separuh bagian bawah merupakan otot polos. Lapisan dinding esofagus 3.Gambar 2. Lapisan esofagus dengan potongan longitudinal 4. Lapisan bagian luar (Serosa) .

Levator velli palatini mengakibatkan rongga pada lekukan dorsum lidah diperluas. Mencegah masuknya makanan dan minuman ke dalam nasofaring dan laring 5. Usaha untuk membersihkan kembali esofagus Proses Menelan dapat dibagi menjadi 3 fase. Pembentukan bolus makanan dengan ukuran dan konsistensi yang baik. Palatopharingeus bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut. selanjutnya terjadi kontraksi m. Pada akhir fase oral faring . 4. levator veli palatine. Upaya sfingter mencegah terhamburnya bolus ini dalam fase-fase menelan 3. Fisiologi Esofagus Dalam proses menelan terjadi hal-hal berikut : 1. Kerjasama yang baik dari otot-otot di rongga mulut untuk mendorong bolus makanan ke arah lambung 6. 2. palatum molle terangkat dan bagian atas di bidang posterior faring juga akan terangkat (passavant’s Ridge). Bolus terdorong ke posterior karena lidah terangkat ke atas. Terjadi secara sadar akibat kontraksi otot intrinsik lidah. 2. Kontraksi m. Bersamaan ini terjadi penutupan nasofaring akibat kontraksi m.Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan esofagus dengan strukturstruktur yang berdekatan. yaitu : 1. Fase Oral Makanan yang dikunyah dan bercampur liur akan membentuk bolus. Terjadi secara reflex dan berlangsung singkat selama 1-2 detik. Fase Pharyngeal Perpindahan bolus makanan dan atau cairan dari pharynx ke esofagus. Mempercepat masuknya bolus makanan ke faring saat respirasi. tidak adanya serosa mengakibatkan penyebaran sel-sel tumor lebih cepat (bila ada kanker esofagus) dan kemungkinan bocor setelah operasi lebih besar. Perpindahan bolus makanan dan atau cairan dari mulut ke pharynx. palatoglosus menyebabkan isthmus faucium tertutup diikuti kontraksi m.

maka sfingter akan berkontraksi lebih kuatm melebihi tonus introitus esofagus pada waktu istirahat sehingga makanan tidak akan kembali ke faring. plika ventrikularis. Berlangsung sekitar 5 – 10 detik. sehingga bolus makanan tidak akan masuk ke dalam saluran nafas. Ketiga sfingter laring. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat. palatofaring. tirohioid. 3. Esofagitis Korosif Definisi . dengan gerakan peristaltik oesophagus. sehingga introitus esofagus terbuka dan bolus masuk ke dalam esofagus. Selanjutnya bolus makanan akan meluncur ke arah esofagus karena valikula dan sinus piriformis sudah dalam keadaan lurus. Dalam keadaan istirahat sfingter esofagus bagian bawah selalu tertutup dengan tekana 8 milimeter Hg lebih dari tekanan di dalam lambung sehingga tidak terjadi regurgitasi lambung. Setelah bolus makanan lewat. yaitu plika ariepiglotika. stilofaring. salfingofaring. Pada akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika dimulainya peristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke distal. aryepiglotica. Fase Oesophageal Perpindahan bolus makanan dari oesophagus ke gaster. Dengan adanya rangsangan bolus makanan pada akhir fase faringal maka terjadi relaksasi m krikofaring.dan laring bergerak ke atas oleh kontraksi m. Gerak bolus di esofagus bagian atas masih dipengaruhi oleh kontraksi m. Dengan demikian refluks dapat dihindari. Bersamaan ini terjadi penghentian aliran udara ke laring karena refleks yang menghambat pernafasan. dan m. Konstriktor faring inferior pada kahir fase faringal. arytenoideus obligus. Aditus laring tertutup oleh epiglotis. dan plika vokalis tertutup karena kontraksi m. maka sfingter ini akan menutup kembali. Selanjutnya didorong ke distal oleh peristaltik esofagus. m. m. Dalam keadaan istirahat introitus esofagus selalu tertutup. m.

sedangkan zat kimia yang bersifat toksik hanya menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah. yang menyebabkan lisisnya jaringan serta seringkali menembus dinding esofagus. misalnya asam kuat. Anak di bawah 5 tahun dilaporkan sering tertelan zat yang bersifat korosif akibat ketidaksengajaan dan kelalaian. seperti gagal ginjal. Berdasarkan penelitian.00010. Etiologi Esofagitis korosif paling sering ditimbulkan oleh tertelannya zat pembersih rumah tangga.000 kasus pertahun di Amerika Serikat. . basa kuat. Zat kimia yang bersifat korosif akan menimbulkan kerusakan pada saluran yang dilaluinya. 95% kejadian tertelan korosif terjadi di rumah. Tidak ada perbedaan jenis kelamin dan ras yang mempengaruhi terjadinya esofagitis korosif. Hampir 73% terjadi saat produk lagi digunakan dan 24% terjadi saat produk dalam penyimpanan. Epidemiologi Angka kejadian esofagitis korosif tertelan asam kuat. Zat yang paling merusak adalah natrium hidroksida. Sedangkan pada remaja dan dewasa dilaporkan kasus cukup sering pada remaja sebagai percobaan bunuh diri. . cairan pemutih diperkirakan sekitar 3-5 % dari kasus kecelakaan dan bunuh diri atau sekitar 5. Zat kimia yang tertelan dapat bersifat toksik atau korosif. Anak di bawah 5 tahun dilaporkan sering tertelan zat yang bersifat korosif akibat ketidaksengajaan dan kelalaian. biasanya oleh anak-anak. Cairan pembersih saluran dapat merusak esofagus atau menimbulkan lesi gastrik yang serupa.Esofagitis korosif adalah peradangan pada esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat kimia yang bersifat korosif. Zat tertentu tidak hanya membakar terhadap esofagus tetapi mempunyai akibat sistemik berat. basa kuat dan zat organik. Sedangkan pada remaja dan dewasa dilaporkan kasus cukup sering pada remaja sebagai percobaan bunuh diri. atau lye. biasanya di dapur atau kamar mandi.

detergen baju dan detergen piring semuanya mengandung basa. oksalik dan nitrit. Basa tidak mempunyai rasa yang menyebabkan anak-anak mengkonsumsi dengan banyak. esofagitis korosif juga bisa disebabkan oleh bahan lain seperti detergen. Pembersih toilet. pembersih oven. Terdapat juga kasus melibatkan kalium hidroksida dan ammonium hidroksida. Selain disebabkan oleh asam dan basa. makanan panas dan susu. cairan (10-15%). sulfurik. 70% dari kasus esofagitis korosif adalah disebabkan oleh basa dengan natrium hidroksida merupakan kasus yang paling sering ditemukan. Kira-kira 20% kasus esofagitis korosif lainnya adalah disebabkan oleh asam seperti hidroklorida. Asam biasanya mempunyai rasa pahit yang menyebabkan anak-anak tidak mengkonsumsi dengan banyak. Konsentrasi basa berbeda berdasarkan agen. pembersih selokan. Pembersih saluran. dan penghapus karatan merupakan beberapa produk yang mengandungi asam di antara 8-65%.Diperkirakan. industri (30-35% dan granuler (50-95%). Zat yang sering menimbulkan terbakar pada esofagus 2 Pembersih saluran (NaOH) Cairan Plumbum Drano (cairan atau kristal) Pembersih open Easy off Amonia Tablet klinitest Pemutih Fosfat Asam Sulfat Nitrat Fenol Iodine Kalium permanganate Patofisiologi . bateri.

jumlah. Basa yang dalam bentuk kristal biasanya menyebabkan luka bakar linear sedangkan basa dalam bentuk cairan menyebabkan luka bakar sirkular. konsentrasi zat korosif. 2. Esofagitis korosif tanpa ulserasi Pasien mengalami gangguan menelan yang ringan. lamanya kontak dengan dinding esofagus. Biasanya ditemukan satu ulkus atau lebih (multipel). Manifestasi Klinis Keluhan dan gejala yang timbul akibat tertelan zat korosif tergantung pada jenis zat korosif. Pada esofagoskopi tampak ulkus yang tidak dalam yang mengenai mukosa esofagus saja. • Asam kuat yang tertelan akan menyebabkan nekrosis menggumpal (coagulation necrosis). sedangkan basa kuat menimbulkan kerusakan di esofagus lebih berat dari pada lambung. hanya terjadi edema di mukosa atau submukosa. Gejala klinik esofagitis kronik dibagi menjadi 5 bentuk klinis berdasarkan beratnya luka bakar yang ditemukan yaitu: 1. Esofagitis korosif dengan ulserasi berat tanpa komplikasi . • Zat organik misalnya lisol dan karbol biasanya tidak menyebabkan kelainan yang hebat. Secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah mencair. sengaja diminum atau tidak dan dimuntahkan atau tidak. • Asam kuat menyebabkan kerusakan pada lambung lebih berat dibandingkan dengan kerusakan esofagus. Secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah menggumpal. 3. Pada esofagoskopi tampak mukosa yang hiperemis tanpa disertai ulserasi. Esofagitis korosif dengan ulserasi sedang Ulkus sudah mengenai lapisan otot. 4.• Basa kuat menyebabkan terjadinya nekrosis mencair (liquifactum necrosis). Esofagitis korosif dengan ulserasi ringan Pasien mengeluh disfagia ringan.

Tempat tersering terbakar adalah tingkat krikofaringeus dan kardia. bibir. serta suhu badan yang meningkat. kegagalan sirkulasi. Kadang-kadang ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan nafas atas dan gangguan keseimbangan asam dan basa. sehingga terjadi striktur esofagus. Fase Laten Berlansung selama 2-6 minggu. fase laten (intermediate). muntah. yaitu fase akut. dan fase kronik (obstruktif). mual. suhu badan menurun. 5. sudah dapat menelan dengan baik akan tetapi prosesnya sebetulnya masih berjalan terus dengan pembentukan jaringan parut (sikatriks). Fase Akut Keadaan ini berlansung 1-3 hari. dan telah mengenai seluruh lapisan esofagus. Gejala klinis akibat tertelan zat organik dapat berupa perasaan terbakar di saluran cerna bagian atas. Pasien merasa ia telah sembuh. Pada pemeriksaan fisik ditemukan luka bakar di daerah mulut. Gejala yang ditemukan pada pasien ialah disfagia hebat.Terdapat pengelupasan mukosa serta nekrosis yang letaknya dalam. faring dan kadang-kadang disertai perdarahan. Pada fase ini keluhan pasien berkurang. erosi pada mukosa. odinofagia. Berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya esofagitis korosif dibagi dalam 3 fase. Fase Kronis Setelah 1-3 tahun akan terjadi disfagia lagi oleh karena telah terbentuk jaringan parut. Esofagitis korosif ulseratif berat dengan komplikasi Terdapat perforasi esofagus yang dapat menimbulkan mediastinitis dan peritonitis. Keadaan ini jika dibiarkan akan menimbulkan striktur esofagus. Terbakarnya pada bagian bawah esofagus disertai refluks. . dan pernafasan. kejang otot.

Perbedaaan pada dampak luka bakarnya yaitu nekrosis koagulatif akibat paparan asam kuat sedangkan basa kuat mengakibatkan nekrosis likuitaktif. kecuali bila terdapat tandatanda gangguan elektrolit. selain berdasarkan hasil anamnesis serta gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan esofagoskopi. 3. Sedangkan demam dan perdarahan dapat terjadi serta sering diiringi dengan muntah 2. . Pemeriksaan Fisik Selain penegakan diagnosis dari autoanamnesis atau alloanamnesis yang cermat serta diperlukan bukti-buki yang diperoleh ditempat kejadian. akan tetapi tergantung juga konsentrasi bahan tersebut. Anamnesis Berdasarkan anamnesis ditegakkan dengan adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organik. Pemeriksaan laboratorium Peranan pemeriksaan laboratorium sangat sedikit. Masuknya zat korosif melalui mulut dapat diketahui dengan bau mulut ataupun muntahan. Adanya luka bakar keputihan pada mukosa mulut atau keabuan pada bibir dan dagu menunjukkan akibat bahan kaustik atau korosif baik yang bersifat asam kuat maupun basa kuat. seperti pemeriksaan laboratorium. rasa nyeri yang hebat didalam mulut dan regio substernal. penunjang.Diagnosis 1. kerusakan terbesar bila PH > 12. Kerusakan korosif hebat akibat basa (basa) kuat pada esofagus lebih berat dibandingkan akibat asam kuat. diperlukan pemeriksaan elektrolit darah. serta ditunjukkan dengan keluhan utama pasien rasa terbakar pada daerah kerongkongan. Pemeriksaan penunjang Untuk menegakkan diagnosis. radiologik. serta bisa juga mengeluhkan susah menelan dan hipersaliva.

Esofagus mungkin terlihat normal. Pada esogoskopi akan tampak mukosa yang hiperemis. Esofagoskopi sendiri akan membuat dokter lebih pasti dalam .Pemeriksaan radiologik Foto Rontgen toraks postero-anterior dan lateral perlu dilakukan mendeteksi adanya mediastinitis atau aspirasi pneumonia. esofagogram perlu dibuat. Esofagogram perlu dibuat setelah minggu kedua untuk melihat ada tidaknya striktur esofagus dan dapat diulang setelah 2 bulan dievaluasi. Pada kasus esofagitis korosif zat asam. Pemeriksaan esofagoskopi Esofagoskopi diperlukan untuk melihat adanya luka bakar di esofagus. Pemeriksaan Rontgen esofagus dengan kontras barium (esofagogram) tidak banyak menunjukkan kelainan pada stadium akut. sebagian lain memperlihatkan edema dan ulserasi mukosa esophagus dengan atau tanpa pendarahan esophagus pada rontgen esofagogram. Jika ada kecurigaan akan adanya perforasi akut esofagus atau lambung serta rupture esofagus akibat trauma tindakan. edema dan kadang-kadang ditemukan ulkus. penelitian telah dilakukan oleh Muhletaler dan didapatkan hasil 6-50% penderita memperlihatkan adanya striktur.

ulkus dalam dan perdarahan masif.menegakkan diagnosis dan membuat perencanaan pengobatan sesuai dengan patolohi yang ada. eksudat. mulut dan faring sudah tenang. Esofagoskopi biasanya dilakukan pada hari ke tiga setelah kejadian atau bila luka bakar di bibir. obstruksi lumen . ulserasi dan pseudomembran Pengelupasan mukosa. yaitu: pasien tanpa eosophageal burns. Berikut derajat esofagitis korosif yang dilihat dari esofagoskopi : Tabel 1. Esofagoskopi yang dilakukan segera memiliki 2 keuntungan. dapat terhindar dari perawatan yang lama dirumah sakit. pada lebih dari 50% kasus. esofagoskopi sendiri memperlihatkan besar dan keparahan dari kerusakan esophagus. Derajat esofagitis korosif yang dilihat dengan esofagoskopi Derajat I II III Klinis Hiperemia mukosa dan udema Perdarahan terbatas.

Gejala tipikal atau klasik pada orang dewasa adalah: .4. Diagnosis Banding GERD (Gastro Esophageal Reflux Disease) Refluks Gastro Esofagus (RGE) didefinisikan sebagai aliran retrograde isi lambung ke dalam esofagus.

sesuai dengan derajat luka esofagus jika . serta menjaga jalan nafas. b. Terapi medik Protokol pengobatan secara medis pada fase awal kasus ini masih terbatas pada penggunaan steroid. glukosa 10% 2 botol. menjaga keseimbangan elektrolit. Antibiotika diberikan selama 2-3 minggu atau 5 hari bebas demam jika diberikan dengan steroid. Terapi esofagitis korosif akibat tertelan zat korosif dibagi dalam fase akut dan fase kronis. NaCl 0. 5. dan bila asam kuat diberi antasida). antibiotik serta penggunaan zat penetral (antidotum) dari agen penyebab. Untuk melindungi selaput lendir esofagus bila muntah dapat diberikan susu atau putih telur. dapat dilakukan netralisasi (bila zat korosif basa kuat diberi susu atau air. Terapi esofagitis korosif dibedakan antara tertelan zat korosif dan zat organik. Perawatan umum Perawatan umum dilakukan dengan cara memperbaiki keadaan umum pasien. Pada fase akut dilakukan perawatan umum dan terapi khusus berupa terapi medik dan esofagoskopi. Regurgitasi isi lambung secara spontan ke esofagus atau mulut. rasa terbakar/panas menjalar ke atas sampai tenggorok atau mulut 1-2 jam setelah makan atau setelah mengangkat berat atau posisi bungkuk. didefinisikan sebagai rasa panas substernal di bawah tulang dada. Antibiotik dapat dilanjutkan selama 4-8 minggu dengan harapan telah terjadinya reepitalisasi.9 % + KCl 5 meq/liter 1 botol.a. Jika terdapat gangguan keseimbangan elektrolit diberikan infuse aminofusin 600 2 botol. Penatalaksanaan Tujuan pemberian terapi pada esofagitis korosif adalah untuk mencegah pembentukan striktur. Rasa panas di dada terjadi setelah makan (postprandial heart burn). Jika zat korosif yang tertelan diketahui jenisnya dan terjadi sebelum 6 jam.

Kortikosteroid diberikan untuk mencegah pembentukan striktur.diberikan tanpa steroid.2 juta unit/hari. Pasien dengan terapi steroid ini harus di follow up secara berkala terutama pada 2 bulan pertama karena hampir 80% kasus akan mengalami gejala klinis striktur esofagus. Kortikosteroid harus diberikan sejak hari pertama dengan dosis 200-300 mg sampai hari ketiga. Pemberian steroid pada grade 2 dan grade 3 telah terbukti akan mengurangi kemungkinan terbentuknya striktur esofagus. Steroid. tetapi akan membantu mengoptimalkan proses penyembuhan. Setelah itu dosis diturunkan perlahanlahan tiap 2 hari (tappering off). . jika pasien sangat kesakitan. idealnya dilanjutkan sampai seluruh reaksi inflamasi menghilang dan telah terjadi reepitalisasi sempurna selama kurang lebih 1-3 bulan. Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri. Dosis yang dipertahankan (maintenance dose) ialah 2x50 mg perhari. Biasanya diberikan penisilin dosis tinggi 1-1. Antibiotik tidak akan mencegah pembentukan striktur. Morfin dapat diberikan. tergantung pada derajat luka.

Jika pada waktu melakukan esofagoskopi ditemukan ulkus. Pada . esofagoskop tidak boleh dipaksa melalui ulkus tersebut karena ditakutkan terjadinya perforasi. dan faring sudah tenang. mulut.Esofagoskopi Biasanya dilakukan esofagoskopi pada hari ke tiga setelah kejadian atau bila luka bakar di bibir.

Pasien dinasehatkan tidak mengkonsumsi alkohol. bisa juga timbul komplikasi berupa obstruksi karena terbentuknya striktur. setelah sebulan. Pada fase kronik biasanya sudah terdapat striktur esofagus. Perlu diketahui bahwa menegakkan diagnosis perforasi esofagus agak sulit karena lambatnya perkembangan gejala yang muncul. 6. Jika selama 3 kali dilatasi hasilnya kurang memuaskan sebaiknya dilakukan reseksi esofagus dan dibuat anastomosis ujung ke ujung (end to end). edema laring. perforasi esofagus. mediastinitis. Mediastinitis terjadi akibat kontaminasi jaringan mediastinum oleh isi dari esofagus yang mengalami perforasi esofagus.keadaan demikian sebaiknya dipasang pipa hidung lambung (pipa nasogaster) dengan hati-hati dan terus menerus (dauer) selama 6 minggu. Diet Pasien disarankan untuk mengkonsumsi makanan lembut atau cair hingga keluhan menelan hilang. bila keadaan pasien lebih baik dilakukan sekali 2 minggu. Sebaiknya dihindari makanan pedas yang bisa mengiritasi esofagus. Komplikasi tersering dari esofagitis korosif adalah mediastinitis dan perforasi esofagus. . Komplikasi Komplikasi esofagitis korosif dapat berupa syok. penyakit pernapasan kronia (contohnya asma) dan gagal tumbuh merupakan komplikasi yang sering didapatkan pada anak-anak. dan kematian. Dilatasi dilakukan sekali seminggu. sekali 3 bulan. dan demikian seterusnya sampai pasien dapat menelan makanan biasa. pneumonia aspirasi. Apnea. Pada kasus esofagitis yang dinyatakan sembuh. koma. Robekan kecil biasanya akan tertutup secara spontan tanpa ada infeksi mediastinum yang signifikan. Setelah 6 minggu esofagoskopi diulang kembali. Perforasi yang lebih serius yang ditandai dengan kebocoran yang terus menerus megakibatkan respon inflamasi dan infeksi pada jaringan di mediastinum. Untuk ini dilakukan dilatasi dengan bantuan esofagoskop.

7. lama kontak. kerusakan pada esophagus dan penatalaksanaan awal. adanya kelainan sebelumnya. Prognosis Prognosis dari esofagitis korosif tergantung pada jenis bahan yang terkena. konsentrasi. .

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Terapi esofagitis korosif dibedakan antara tertelan zat korosif dan zat organik. esofagitis korosif dengan ulserasi sedang. pemeriksaan radiologik. Keluhan dan gejala yang timbul akibat tertelan zat korosif tergantung pada jenis zat korosif. 8. Terapi esofagitis korosif akibat tertelan zat korosif dibagi dalam fase akut dan fase kronis. 4. 6. yaitu Esofagitis korosif tanpa ulserasi. pemeriksaan fisik. lamanya kontak dengan dinding esofagus. pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan esofagoskopi. 3. Zat kimia yang bersifat korosif akan menimbulkan kerusakan pada saluran yang dilaluinya. Penyebab dari esofagitis korosif adalah asam kuat. sedangkan zat kimia yang bersifat toksik hanya menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah. Berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya esofagitis korosif dibagi dalam 3 fase yaitu fase akut. 7. Esofagitis Korosif ialah Peradangan di esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat kimia bersifat korosif misalnya asam kuat. esofagitis korosif dengan ulserasi berat dengan komplikasi. basa Kuat. esofagitis korosif dengan ulserasi berat tanpa komplikasi. Diagnosis ditegakkan dari adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organik. . gejala klinis. basa kuat dan zat organik. fase laten (intermediate) dan fase kronik (obstruktif).dan zat organik. jumlah zat korosif. Esofagitis korosif dibagi dalam 5 bentuk klinis berdasarkan beratnya luka bakar yang ditemukan. Pada fase akut dilakukan perawatan umum dan terapi khusus berupa terapi medik dan esofagoskopi. esofagitis korosif dengan ulserasi ringan. sengaja diminum atau tidak dan dimuntahkan atau tidak. 5. konsentrasi zat korosif. 2.

Hal ini bertujuan agar penatalaksanaan segera dapat dilakukan.9. Penatalaksanaan segera perlu dilakukan untuk menghindari berbagai komplikasi yang tidak diinginkan di kemudian hari. mediastinitis. koma. dan kematian. pneumonia aspirasi. sehingga angka kematian dapat ditekan. Diharapkan dengan meningkatnya penemuan kasus dini. perforasi esofagus. . Diagnosis dini perlu segera ditegakkan berdasarkan autoanamnesis atau alloanamnesis yang cermat serta diperlukan bukti-buki yang diperoleh ditempat kejadian. Penatalaksanaan esofagitis korosif bertujuan untuk untuk mencegah pembentukan striktur. edema laring. Saran Esofagitis korosif sering terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan remaja atau dewasa yang melakukan percobaan bunuh diri. 10. Komplikasi esofagitis korosif dapat berupa syok. penanggulangan terhadap penyakit ini dapat diperbaiki.

Yuksel G.gov/pubmed/1508333 tanggal 1 januari 2012) 5. 207-10 (diakses di http://www.1998.ncbi. 167 7. Muhletaer CA. Canada. 2010.org/content/134/6/1137. Hadjat F.ncbi.full. The efficiency of sucralfate in corrosive esophagitis: A randomized. Turk J Gastroenterol. Macdonald R et al. 21 (1): 7-11. Corrosive esophagitis in children: a 30-year review. Emre K et al. Acid Corrosive Esophagitis: Radiographic Findings. Ni YH et al. 4th Edition. Gumurdulu Y. 2011 (diakses di http://emedicine. Prospective Study.com/article/174223 pada 1 Januari 2012) 6. Corrosive Esophagitis in Children. Collin S. 293-95 2. Gerlock AJ et al. 2009. Pediatric Surgery. Dhingra PL.nih. prospective study. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorokan Edisi 6. 2001 Mar. Nose and Throat. 2011 (diakses di http://emedicine. 7-11 8. Jakarta : Balai Penerbit FK UI. Thorax (1969). Siegel LG. Esofagus. Esophgaeal Stricture or Corrosive Esophagitis. Karakoc E et al.2007. 24.com/article/928891 pada 31 Desember 2011) Anonymous. Esophagitis.nih. Acute corrosive oesophagitis.AM J Roentgenol. Pediatric Esophagitis Treatment and Management. Elsevier. Dafoe et al. Istanbul. Penyakit dan Kelainan Esofagus.medscape. . India. Disorders of Oesophagus. Dalam : Buku Ajar Penyakit THT BOIES Edisi 6. 303-04 4. Jakarta : EGC. 2004. 1997.DAFTAR PUSTAKA 1. 2010.nlm. (diakses di: www. de Jong AL.455-73 3. Int J Pediatry Otorhinolaryngol. Jayant D. 291.pdf pada 2 Januari 2012) 9. dan Mediastinum. Disease of Ear. Huang YC. Sandeep M.57(3):203-11. 1980. Turk J Gastroenterol. Penyakit Jalan Nafas Bagian Bawah. 11.medscape.nlm. (diakses di http://www. 1969.ajronline. Elsevier. The Efficiency of Sucralfate in Corrosive Esophagitis: A Randomized.gov/pubmed/11223452 pada 3 Januari 2012) 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful