P. 1
Pemeriksaan Lapang Pandang

Pemeriksaan Lapang Pandang

|Views: 1,147|Likes:
Published by RhevyPalmendha

More info:

Published by: RhevyPalmendha on Jun 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Lapangan pandang merupakan perluasan perifer dari dunia visual.1 Tranquair mengatakan bahwa lapangan pandang bagaikan sebuah pulau penglihatan ( island of vision ) di lautan yang gelap, dimana pulau tersebut merupakan lapangan pandang dan lautan gelap merupakan daerah sekililing yang tidak dapat dilihat.2 Lapangan pandang sendiri juga dibagaikan sebuah bukit, dimana ketajaman penglihatan yang terbaik berada di fovea atau puncak bukit dan menurun secara progresif ke perifer. Pada orang normal, lapangan pandang meluas hingga sekitar 50° ke arah superior, 60° ke arah nasal, 70° ke arah inferior, dan 50° ke arah temporal. Di sisi temporal lapang pandang terletak bintik buta antara 10° dan 20°. 3,4 Pada kelainan lapangan pandang, dapat terjadi penyempitan dari batas lapangan pandang tersebut atau adanya bintik buta di berbagai macam daerah di lapangan pandang. Oleh karena kelaianan lapangan pandang yang besar sekalipun dapat saja tidak jelas bagi pasien, pemeriksaan lapangan pandang sebaiknya dilakukan pada setiap pemeriksaan oftalmologis. Hasil dari pemeriksaan lapangan pandang dapat membantu diagnosis penyebabnya.5 Terdapat berbagai macam metode pemeriksaan lapangan pandang, dari yang sederhana hingga kompleks dan membutuhkan alat khusus. Antara lain pemeriksaan lapangan pandang yang sering digunakan adalah : tes konfrontasi, perimetri, dan kisi – kisi Amsler. Pemilihan metode pemeriksaan lapangan pandang dapat disesuaikan kebutuhan. Pemeriksaan – pemeriksaan tersebut tidak ada yang menimbulkan nyeri dan tidak memiliki risiko. 5,6

1

Retina terdiri dari 10 lapisan. Badan sel fotoreseptor tersebut mengeluarkan tonjolan ( processus ) yang bersinaps dengan sel bipolar. 1. hanya mengandung fotoreseptor kerucut. dan ditengahnya fovea terdapat foveola yang tampak sebagai cekungan dan merupakan bagian retina yang paling tipis. 1. Di pusat makula terdapat fovea yang berdiameter 1. Sel – sel fotoreseptor tersebut deteksi cahaya yang masuk ke dalam mata dan mengubah rangsangan cahaya tersebut menjadi impuls saraf. (5) lapisan inti dalam. dan (10) epitel pigmen retina. (4) lapisan pleksiform. (3) lapisan sel ganglion.aksonnya membentuk lapisan serat saraf pada retina dan menyatu membentuk nervus opticus pada discus opticus. 1. Medial dari fovea terdapa discus opticus. Pada bagian tengah – tengah retina posterior terdapat makula berdiameter 5 – 5. yang terdiri dari sel batang yang bertanggung jawab untuk penglihatan malam hari ( skotopik ) dengan beragam corak abu – abu dan sel kerucut yang bertanggung jawab untuk penglihatan siang hari ( fotopik ) dan warna. (2) lapisan serat saraf yang mengandung akson – akson sel ganglion yang berjalan menuju nervus optikus. Makula lutea merupakan daerah yang berdiameter 3 mm yang mengandung pigmen luteal kuning – xantofil. yang akson . yaitu bagian dari nervus opticus yang tampak dengan oftalmoskop. (8) membran limitans eksterna. yang secara klinis dinyatakan sebagai daerah yang dibatasi oleh cabang – cabang pembuluh darah retina temporal. (6) lapisan pleksiform luar. dimulai dari sisi dalamanya adalah sebagai berikut: (1) membran limitans interna. seemakin berkurang ke perifer. (7) lapisan inti luar. (9) lapisan fotoreseptor.6 mm. Kemudian sel bipolar bersinaps dengan sel ganglion. Fotoreseptor tersusun sedemikian rupa sehingga kerapatan sel kerucut meningkat di pusat makula ( fovea ). Anatomi Jalur Visual II. Fotoreseptor.5 mm ini merupakan zona avaskular retina. 3 2 . sedangkan kerapatan sel batang lebih tinggi di perifer. dan memberi tajam penglihatan yang optimal.BAB II PEMBAHASAN II. Retina membentang ke anterior hampir sejauh corpus ciliare dan berakhir pada ora serrata dengan tepi tidak rata. Retina Retina merupakan lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola mata.

8 3 . termasuk setengah bagian temporal makula berjalan ke posterior dalam tractus opticus sisi yang sama. dimana terdapat korteks visual primer ( area 17 ) dan korteks asosiasi visual ( area 18 dan 19 ). Di dalam chiasma opticum.Gambar 1. 7 II. serabut dari setengah bagian sisi nasal ( medial ) setiap retina. menyilang garis tengah dan masuk ke traktus opticus sisi kontralateral. Masing – masing tractus opticus berjalan mengelilingi penduculus cerebri menuju ke corpus geniculatus lateralis. sedangkan serabut – serabut dari setengah bagian temporal ( lateral ) setiap retina. 2. Akson – akson sel saraf di dalam corpus geniculatus lateralis keluar dan membentuk radiatio optica yang melintasi lobus temporalis dan parietalis dalam perjalanan ke korteks lobus oksipitalis. Nervus Opticus Nervus opticus meninggalkan rongga orbita melelui canalis opticus dam bergabung dengan nervus opticus sisi kontralateral membentuk chiasma opticum. tempat tractus opticus akan bersinaps. 3. temasuk setengah bagian nasal makula. Anatomi Retina. 1.

2.Gambar 2. Jaras Nervus Opticus. mendemonstrasikan kemampuan untuk melihat satu target dengan ukuran dan kecerahan tertentu. Bukit Penglihatan. 10 4 . Lapang pandang tidak rata. 9 II. daerah pusat mata dapat mendeteksi objek yang jauh lebih kecil dibandingkan di perifer.3 Tiap lapang pandang dapat direpresentasikan sebagai suatu jenis kontur. Lapangan Pandang Lapangan pandang merupakan seluruh daerah yang dapat dilihat tanpa mengalihkan pandangan. Ini berhubungan dengan papil saraf di mana tidak terdapat fotoreseptor. 1 Gambar 3. Hal ini menghasilkan ‘bukit penglihatan’ di mana objek yang dilihat dengan detil terbaik berada di puncak bukit ( di fovea ) dan berkurang secara progresif menuju ke perifer.

Dengan pemerriksaan teliti. 3. 3. Pasien diminta mengatakan kapan ia pertama kali melihat objek tersebut. 4 II. Dengan menggunakan mata yang tidak ditutup tersebut. bintik buta dan skotoma fokal dapat ditemukan. Pada pemeriksaan ini.3. pasien diminta untuk melihat ke mata pemeriksa pada sisi yang sama yang juga tidak tertutup. Lapang pandang pasien dibandingkan dengan lapang pandang pemeriksa. 1. dan kisi – kisi Amsler.6 II. 4. Di sisi temporal lapang pandang terletak bintik buta antara 10° dan 20°. lapangan padang pemeriksa diasumsikan normal. Semua pemeriksaan lapangan pandang dilakukan dengan menutup satu mata dan evaluasi mata yang terbuka secara bergantian. biasanya kepala jarum berukuran besar atau jari pemeriksa diletakkan di tengah – tengah antara pasien dan pemeriksa. perimetri. Lalu. 6 Lapangan pandang dapat diperiksa dengan berbagai metode. 60° ke arah nasal.6 5 . 70° ke arah inferior. antara lain : tes konfrontasi.Aspek luar dari lapangan pandang meluas hingga sekitar 50° ke arah superior. dan 50° ke arah temporal. Tes Konfrontasi Pemeriksaan konfrontasi tidak memerlukan alat khusus dan memberikan gambaran estimasi kasar lapangan pandang pasien yang dibandingkan dengan lapangan pandang pemeriksa. Tiap kuadran diperiksa dan lokasi bintik buta ditentukan. Pemeriksaan Lapangan Pandang Pemeriksaan lapangan pandang digunakan untuk menentukkan batas luar dari persepsi visual pada retina perifer dan kualitas berbagai penglihatan di area tersebut. Satu mata pasien ditutup dan pemeriksa juga menutup mata pada sisi yang sama. Sebaiknya pemeriksaan lapangan pandang dilakukan pada setiap pemeriksaan oftalmologik. Satu objek. Objek tersebut kemudian digerakkan dalam lapang pandang mulai dari perifer menuju ke pusat. Pada pemeriksaan ini pasien dan pemeriksa saling berhadapan dengan jarak 1 meter. pemeriksaan tersebut juga dilakukan pada mata sebelahnya. Masing – masing mata diuji secara terpisah karena lapangan penglihatan kedua mata saling tumpang – tindih. Pemeriksaan lapangan pandang dapat mendeteksi kehilangan penglihatan perifer dan memberikan gambaran peta dari defek penglihatan tersebut yang dapat membantu dalam menemukan penyebabnya.

diluar batas itu. (2) jarak yang tetap dari mata ke layar atau alat penguji. Sensitivitas penglihatan paling besar di pusat lapangan pandang ( fovea ) dan paling kecil di perifer. Isopter membentuk batas – batas terlihatnya objek. Perimetri tergantung pada respon pasien secara subjekstif. Teknik ini. Perimetri Perimetri digunakan untuk memeriksa lapangan pandang perifer dan sentral. (5) protokol yang universal. Objek itu perlahan – lahan digerikkan dari perifer ke pusat sampai ia pertama kali terlihat. nervus opticus. Pengukuran derajat kelengkungan itu tetap konstan. Dengan melalukan hal serupa dari berbagai arah. mula – mula diuji sensitivitas seluruh lapangan pandang terhadap satu objek uji ( dengan ukuran dan kecerahan yang tetap ). tercipata batas – batas peta yang disebut isopter yang khas untuk objek tersebut. Kerusakan suatu bagian tertentu pada jaras visual neurologik mungkin menimbulkan pola perubahan yang khas pada pemeriksaan lapangan pandan serial. Tes Konfrontasi. tidak tergantung jarak bidang dari mata yang diperiksa. (3) kadar pencahayaan dan kontras latar belakang yang seragam dan standar. dan hasilnya akan tergantung status psikomotor dan status penglihatan pasien. yaitu statik dan kinetik. objek 6 . yang digunakan terpisah pada setiap mata.Gambar 4. 5. Terdapat dua metode dasar penyajian objek. untuk pelaksaan uji oleh pemeriksa. Lapangan pandang mata diukur dan dipetakan menurut derajat kelengkungan ( degrees of arc ). metode – metode berikut telah distandarkan untuk memudahkan pengulangan dan memungkinkan perbandingan di kemudian hari. (4) target uji dengan ukuran dan kecerahan yang standar. Pemeriksaan perimetri memerlukan (1) fiksasi tetap dan perhatian pasien. Meskipun perimetri bersifat subjektif. 11 II. Alat ini secara klinis digunakan untuk mendeteksi atau memonitor hilangnya lapangan pandang akibat penyakit di tempat – tempat tersebut. mengukur fungsi retina. Pada perimetri kinetik. yang dapat dipakai sendiri – sendiri atau digabung selama pemeriksaan. dan jaras visual intrakranial secara bersama.

tercipta banyak isopter bagi mata tersebut. Pada perimeteri statik. Jika tidak terlihat ukuran atau intensitas cahaya secara bertahap dinaikkan sampai cukup besar atau cukup terang agar dapat terdeteksi. Pasien duduk 1 meter dari suatu layar hitam berukuran 2 m2 dengan target di tengah. 3. membentuk gambaran lapangan pandang. yaitu kesederhanaan dan kecepatannya.tidak terlihat. Saat pasien memandang target tersebut. dan kebebasan memilih jenis fiksasi dan objek uji. perimetri Goldmann. Makin kecil atau makin lemah objek yang diujikan. 1. seperti cahaya lemah. II. Batas – batas isopter diukur dan dipetakan dalam derajat kelengkungan. 3 Terdapat berbagai macam jenis perimetri. objek dengan ukuran 3 hiingga 50 mm digerakkan dari perifer ke pusat dan pasien memberi tahu ketika objek tersebut terlihat dan menghilang. Hal serupa dilakukan di lokasi – lokasi lain sehingga sensitivitas cahaya berbagai titik dalam lapangan pandang dapat dinilai dan digabungkan. disajikan pertama kali di lokasi tertentu. Jadi. antara lain: Tangent screen. Pemeriksaan ini menggunakan metode kinetik perimetri. Dengan mengulang uji menggunakan sejumlah objek yang ukuran atau kecerahannya berbeda. kemungkinan mengubah jarak subjek ke layar. makin sempit isopter yang dihasilkan. Sebuah objek uji yang sulit. 5. lokasi yang berbeda dalam lapangan pandang diuji satu per satu. Pemeriksaan ini memakai jarum dengan berbagai ukuran pada tongkat hitam yang ditampilkan pada layar hitam dan dipakai terutama untuk menguji lapangan pandang sentral 30°. dan computerized automated perimetri. makin besar isopter. termasuk warna yang berbeda.6 7 . Keuntungan metode ini. Ini disebut tingkat sensitivitas ambang untuk lokasi itu. Tangent Screen ( Bjerrum Screen ) Tangent screen merupakan alat sederhana untuk perimetri standar. Mata yang tidak diperiksa ditutup. makin baik lapangan pandang mata tersebut.

Perimetri Goldmann.4. Tangent Screen. 1. Satu mata ditutup dan mata yang tidak tertutup diposisikan sejajar dengan target fiksasi. Metode ini dapat menguji seluruh pandangan perifer dan menetapkan lapangan pandang pasien – pasien glaukoma. Pemeriksa duduk di belakang alat perimeter dan fiksasi mata pasien dimonitor melalui sebuah teleskop.5.12 II. dan dagu pasien dilatakkan pada chin rest.Gambar 5. Cahaya dengan berbagai ukuran dan intensitas disajikkan oleh pemeriksa.6. 2. Perimetri Goldmann ( Hemispheric Projection Perimeter ) Perimeter Goldmann adalah alat yang lebih canggih berupa sebuah meangkuk bulat putih yang terletak pada jarak tetap di hadapan pasien yang dapat digunakan untuk memeriksa baik lapangan pandang sentral dan perifer. pasien menekan buzzer untuk memberitahu pemeriksa. Pasien diposisikan di depan alat yang berbentuk mangkuk bulat tersebut.13 Gambar 6. memakai prinsip statik atau kinetik. 5. Ketika pasien melihat cahaya tersebut.3. 14 8 .

Gambar 7. mencegah variasi dari pihak pemeriksa.5. Keuntungan lainnya adalah tampilan uji telah terprogram dan terotomatisasi. makin baik sensitivitas viusal lokasi tersebut. Makin tinggi skor numerik. 5. dan informasi mengenai mampu atau tidaknya pasien menjalankan tes yang bisa diandalkan.13 9 .3. 3. Skor – skor numerik yang sesuai dengan ambang – sensitivitas setiap lokasi uji dapat disimpan dalam memori komputer dan dapat dibandingkan secara statistik dengan hasil pemeriksaan terdahulu atau dari pasien normal lainnya.4. Alat ini memakai mangkuk yang mirip dengan yang dipakai perimeter Goldmann. Analisis hasil uji memberikan informasi apakah kehilangan lapangan pandang bersifat difus atau fokal. menampilkan titik – titik cahaya uji dengan berbagai intensitas dan ukuran. 15 II. Computerized Automated Perimeter Computerized automated perimeter kini merupakan alat penguji lapangan padang yang paling sensitif dan paling canggih. tetapi memakai format penguji ambang statik kuantitatif yang lebih tepat dan komprehensif dari pada metode lain.6. Contoh Hasil Pemeriksaan Goldmann Perimetri. 1.

Garis – garis yang mengalami distorsi bergelombang ( metamorfopsia ) dapat menunjukkan eema makula atau cairan submakula. Kisi – kisi Amsler ( Amsler Grid ) Kisi – kisi Amsler merupakan gambar kotak – kotak kecil atau kisi pada selembar kertas yang dipakai untuk menguji lapangan pandang sentral 20°. Alat ini paling sering dipakai untuk menguji fungsi makula.5. 6. Sebuah skotoma atau daerah yang tak terlihat – sentral maupun parasentral – dapat menunjukkan penyakit makula atau nervus optikus. Mata yang satu dibandingkan dengan mata sebelahnya.3. Amsler grid diamati oleh masing – masing mata secara terpisah pada jarak baca 30 cm dan dengan memakai kacamata baca jika pasien memang memakainya. 1. Pasien melihat ke bagian tengah gambar tersebut dan melaporkan bila melihat garis – garis yang mengalami distorsi bergelombang atau daerah yang tidak terlihat.Gambar 8.13 10 . Contoh Hasil Computerized Automated Perimetry.6.10 II.4.

7. 8 11 . ablasio retina. stroke. stroke. dan kebutaan pada satu mata yang disebabkan oleh terputusnya salah satu nervus opticus. atau penyakit lain seperti. Hasil yang abnormal dapat mengindikasikan adanya kelaian sistem saraf sentral. degenerasi makula. apabila disebabkan oleh penyakit – penyakit makula atau nervus opticus. Kisi – kisi Amsler. 3 Selain itu.Gambar 8. hemianopsia bitemporalis yang disebabkan oleh terpotongnya chiasma opticum secara sagital. dan temporal arteritis. retinitis pigmentosa. gangguan kelenjar pituari. Hasil dari Pemeriksaan Lapangan Pandang Adanya defek pada lapangan pandang berupa bintik buta ( scotoma ) yang abnormal. 16 II. glaukoma.. hipertensi. Skotoma dapat sentral. pada hasil pemeriksaan lapangan pandang dapat juga ditemukan hemianopsia nasalis akibat lesi parsial pada lesi chiasma opticum. seperti tumor. hamianopsia homonim kontralatral karena terputusnya tractus opticus. Sedangkan. multiple sclerosis. atau trauma. Skotoma atau daerah fokal dalam lapangan pandang dengan sesitivitas yang berkurang dapat terjadi di berbagai lokasi di lapangan pandang. kelainan hipertiroid. retinopati diabetik yang diterapi dengan fotokoagulasi. serta kelainan dan penyakit sistem saraf pusat. optic glioma. skotoma perifer disebabkan oleh glaukoma stadium akhir. diabetes mellitus. seperti tumor.

Lokasi Skotoma.Gambar 9. 17 Gambar 10. Lesi Jaras Opticus. 18 12 .

dan computerized automated perimetry yang menggunakan alat yang lebih canggih dan sensitif. Pemeriksaan lapangan pandang beragam. sehingga sebaiknya dilakukan pada setiap pemeriksaan oftalmologis. Gangguan penglihatan dapat menimbulkan kesulitan membaca. Dapat juga terjadi gangguan penglihatan yang tidak disadari oleh pasien. dan detil – detil lain. Perimetri dapat dilakukan dengan beberapa cara. perimetri Goldmann. Pemeriksaan lapangan pandang sangat beragam dan berguna dalam menunjang diagnosis penyakit sistem saraf sentral atau penyakit – penyakit lain. seperti glaukoma dan degenerasi makular yang dapat menyebabkan defek pada lapangan pandang. namun ada yang sederhana. Selain itu. namun hanya memberikan estimasi kasar dari lapangan pandang seseorang. Abnormalitas pada lapangan pandang dapat berupa skotoma atau distorsi penglihatan yang dapat mengganggu penglihatan seseorang. antara lain perimetri yang sederhana yang menggunakan Tangent screen atau layar hitam dimana objek digerakkan pada layar tersebut. 3 13 . dapat juga digunakan kisi – kisi Amsler yang dapat menguji lapangan pandang sentral. mengenali wajah.BAB III KESIMPULAN Pemeriksaan lapangan pandang dapat menggunakan berbagai metode. Terdapat tes konfrontasi yang paling sederhana dan tidak membutuhkan alat khusus. dimana membutuhkan alat khusus perimeter Goldmann.

2006. Cooper SA. Edisi 9. Diunduh http://www. ThinkQuest.html 3. 2002.html 11. C 2010 [ tidak diperbaharui. Neuroanatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran.htm 10. 7.htm 6. C. Davydov A.com/content/9/6/324. Lusby FW. diunduh 2 Januari 2012 ]. Bron A. Heath – Phillip O.oculist. C 2010 [ tidak diperbaharui. 2011. Jakarta: Penerbit Erlangga. Assess and Interpret Visual Fields at the Bedside.abstract 12.thinkquest. 4. [ tidak diperbaharui. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Plitz – Seymour JR. Vorvick LJ. . China: Butterworth – Heinemann.com/retina-macula-foveafoveola/ 8. Diunduh dari: http://www. Riordan – Eva P.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v3/v3c049.forbestvision. 2011. Duanne’s Opthalmology.nlm. Diunduh http://www. Eye Anatomy. Practical Neurology C.nih. Diunduh dari: http://library. diunduh 2 Januari 2012 ]. Tangent Screen Examination. diunduh 2 Januari 2012 ]. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 20 – 22. 2. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy. 2012. Heath – Phillip O. Snell RS. C. 2007. James B. hal. Menon J. C.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v3/v3c049. 2010. Plitz – Seymour JR.org/26313/eye_work. [ tidak diperbaharui. Visual Field. Diunduh dari: http://www. diunduh 2 Januari 2012 ]. C. Visual Field in Glaucoma. Forbes Vision. Kanski JJ. Visual Field in Glaucoma. Pavon – Langston D.oculist. [ tidak diperbaharui. Whitcher JP. 2003. Drance SM. diunduh 2 Januari 2012 ]. Clinical Opthalmology. 2006. diunduh 2 Januari 2012 ]. Lecture Notes Oftalmologi.bmj. [ tidak diperbaharui. 9. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Diunduh dari: http://pn. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.DAFTAR PUSTAKA 1. Metcalf RA. Diunduh dari: dari: dari: 14 . Edisi 5. 370 – 374.gov/medlineplus/ency/article/003879. Edisi 5. 2006. Chew C. 5. Medline Plus. [ tidak diperbaharui. diunduh 2 Januari 2012 ]. Duanne’s Opthalmology. hal. Drance SM.

us/vf/tests. Basics in Neuro – opthalmology.edu/eye/Faculty%20Presentations/Visual%20Field%20Testing%20 Tech%20Seminar_files/slide0123_image067.utah. C.com/content/view/15/29/ 14.htm 18. Scotoma. [ tidak diperbaharui. [ tidak diperbaharui. C.djo. diunduh 2 Januari 2012 ]. 2011. C. Diunduh dari: http://www.e-advisor. Signs and Symptoms. YAP. Retina dan Vitreous. Diagnostic Tests. 2002. diunduh 2 Januari 2012 ].htm 15 . Mayer L. diunduh 2 Januari 2012 ]. A 16 – year Old Girl with Optic Disc Swelling. 2012. C. Mahmood U et al. Diunduh dari: http://www.edu/print.rightdiagnosis. C.ca/en/your-eyes/eye- conditions/amd/diagnosing/diagnostic-tests/ 17. Diunduh dari: http://www.html 15.jpg 13. C. Diunduh dari: http://umed. diunduh 2 Januari 2012 ]. [ tidak diperbaharui.ttuhsc. Rumah Sakit Dr. Diunduh dari: http://www. University of Utah School of Medicine.med. 2011.rsmyap. [ tidak diperbaharui.edu/neuronet/lectures/2002/Basics%20in%20NeuroOphthalmology.com/symptoms/impaired_vision/bookcauses-8a. Diunduh dari: http://www. Digree KB. diunduh 2 Januari 2012 ]. [ tidak diperbaharui. Visual Fields.harvard. 2011. diunduh 2 Januari 2012 ]. [ tidak diperbaharui.php?url=/physicians/gr/1443&print=1 16. Digital Journal of Opthalmology 2011.http://www. CNIB.cnib. 2008.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->