BAB 22 PENURUNAN NILAI ASET Penurunan nilai pinjaman yang diberikan dan piutang dibentuk sebesar estimasi kerugian

yang tidak dapat ditagih. Penurunan persediaan dinilai berdasarkan harga jual dikurangi biaya untuk menyelesaikan dan menjual. Entitas harus menilai pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat indikasi penurunan nilai pada aset. Jika ada, entitas harus mengestimasi nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual aset tersebut. Pengungkapan masing-masing kelompok aset adalah sebagai berikut: 1. jumlah kerugian penurunan nilai yang diakui dlm laporan laba rugi sesuai periode terjadinya; 2. jumlah dari pemulihan kerugian penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi sesuai periode terjadinya; 3. Informasi mengenai pinjaman yang diberikan, persediaan, aset tetap, property investasi, aset tidak berwujud, investasi pada entitas asosiasi, dan investasi pada joint venture. BAB 23 IMBALAN KERJA Imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yang diberikan oleh entitas sebagai pertukaran atas jasa yang diberikan oleh pekerja, termasuk direktur dan manajemen. Pengakuan umum imbalan kerja dapat sebagai kewajiban, setelah dikurang jumlah yang telah dibayar baik secara langsung kepada pekerja atau sebagai kontribusi kepada dana imbalan kerja atau sebagai beban. Imbalan dapat berupa berikut ini. 1. Imbalan kerja jangka pendek, meliputi: upah, gaji dan iurang jaminan sosial; cuti berimbalan jangka pendek; bagi laba dan bonus terutang dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan sat pekerja memberikan jasa terkait; dan imbalan non moneter. 2. Imbalan pasca-kerja adalah imbalan kerja yang terutang setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya. Termasuk tunjangan pensiun atau asuransi jiwa dan perawatan kesehatan pasca kerja.

BAB 25 MATA UANG PELAPORAN Mata uang fungsional adalah mata uang utama dalam arti substansi ekonomi. Karena pesangon tidak memberikan entitas manfaat ekonomi masa datang. BAB 24 PAJAK PENGHASILAN Pajak penghasilan termasuk pajak domestik dan luar negeri sebagai dasar pengahsilan kena pajak.3. maka entitas harus segera mengakui sebagai beban dalam laporan laba rugi. Entitas harus mengungkapkan secara terpisah komponen-komponen utama beban pajak penghasilan. 0. dan indikator biaya. Mata uang pencatatan adalah mata uang yang digunakan oleh entitas untuk membukukan transaksi. indikator harga jual. Imbalan kerja jangka panjang adalah yang tidak seluruhnya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah pekerja memberikan jasanya. Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan keuangan. Apabila jumlah pajak yang harus dibayar melebihi jumlah yang terutang. dan kompensasi yang tertunda yang dibayarkan 12 bulan atau lebih setelah akhir periode kompensasi tersebut diperoleh. Mata uang pencatatan harus sama dengan mata uang pelaporan. yaitu mata uang utama yang dicerminkan dalam kegiatan operasi entitas. imbalan cacat jangka panjang. Terdiri dari kompensasi cuti jangka panjang seperti cuti pengabdian atau cuti hari raya. Pesangon pemutusan kerja adalah pembayaran entitas kepada pekerja nya bila diberhentikan dari pekerjaan. Penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dilakukan dengan . bagi hasil dan bonus yang terutang 12 bulan atau lebih setelah akhir periode di mana pekerja memberikan jasa terkait. maka entitas harus mengakui kelebihan tersebut sebagai aset. imbalan pengabdian. antara lain: indikator arus kas. Suatu mata uang merupakan mata uang fungsional jika memiliki indikator. Entitas harus mengakui kewajiban atas seluruh pajak penghasilan periode berjalan dan periode selanjutnya yang belum dibayar. Mata uang pelaporan yang digunakan oleh entitas di Indonesia adalah mata uang rupiah.

Laporan keuangan harus disajikan kembali jika entitas merubah mata uang pelaporan. BAB 27 PERISTIWA SETELAH AKHIR PERIODE PELAPORAN Peristiwa setelah akhir periode pelaporan adalah peristiwa-peristiwa. dengan menggunakan kurs tunai (spot rate) pada tanggal transaksi antara mata uang fungsional dan mata uang asing tersebut. Jika entitas menyajikan laporan keuangan atau informasi keuangan lainnya dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsional atau mata uang pelaporan. yaitu: Peristiwa yang memberikan bukti atas suatu kondisi yang . baik menguntungkan maupun tidak menguntungkan. sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan. dan memperoleh atau melepas aset. mengungkapkan mata uang yang digunakan. maka entitas harus: mengidentifikasi informasi tambahan. meminjam atau meminjamkan dana. BAB 26 TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING Transaksi mata uang asing adalah transaksi yang didenominasi atau harus diselesaikan dalam mata uang asing. pada pengakuan awal dalam mata uang fungsional. dan mengungkapkan mata uang fungsional dan metode penjabaran yang digunakan untuk menentukan informasi tambahan. Entitas harus mencatat transaksi mata uang asing. Pada akhir periode pelaporan . yang meliputi transaksi yang timbul ketika entitas: membeli atau menjual barang atau jasa. dan pos non moneter yang diukur pada nilai wajar maka dicatat dengan kurs pada tanggal nilai wajar. yang terjadi setelah akhir periode pelaporan sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan. Entitas harus mengungkapkan: mata uang yang disajikan dalam laporan keuangan dan jumlah selisih kurs yang diakui dalam laporan laba rugi. Ada dua jenis peristiwa setelah akhir periode pelaporan. Tanggal transaksi adalah tanggal dimana transaksi pertama kali memenuhi syarat pengakuan sesuai dengan SAK ETAP.pengukuran kembali akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional tersebut telah digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi. Entitas harus mengakui keuntungan atau kerugian selisih kurs pada laporan laba rugi periode terjadinya yang timbul dari penyelesaian transaksi moneter. entitas harus melaporkan pos moneter dengan kurs tanggal neraca.

maka entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif. juga informasi yang diperlukan tentangtransaksi dan saldonya untuk memahami dampak potensial hubungan tersebut terhadap laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyatakan bahwa transaksi tersebut dilakukan setara dengang pihak yang faham dan berkeingingan untuk melakukan transaksi kecuali syarat tersebut dapat dibenarkandapat dibenarkan. namun jika tidak praktis.telah terjadi pada akhir periode pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang memerlukan penyesuaian) dan peristiwa yang mengindikasikan timbulnya suatu kondisi setelah akhir periode pelaporan (peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian).Entitas harus mengungkapkan tanggal penyelesaian laporan keuangan. walaupun ada atau tidak terdapat transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. BAB 29 KETENTUAN TRANSISI Entitas menerapkan SAK ETAP secara retrospektif. maka entitas tidak boleh mengakui dividen tersebut sebagai kewajiban pada akhir periode pelaporan. jasa atau kewajiban antar pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa. BAB 28 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA Entitas harus memberikan pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangannya untuk memberi perhatian pada kemungkinan posisi keuangan dan laba atau rugi entitas telah terpengaruh oleh adanya pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa serta transaksi dan saldo dengan pihak-pihak tersebut. Entitas harus mengungkapkan untuk setiap kategori peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian. terlepas dari harga yang dibebankan. Jika terdapat transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya . Hubungan antara entitas induk dan entitas anak harus diungkapkan. maka harus diungkapkan sifat dari hubungan tersebut. Transaksi pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pengalihan sumber daya. Jika entitas mengumumkan dividen kepada pemegang saham setelah akhir periode pelaporan.

Jika SAK ETAP diterapkan dini. BAB 30 TANGGAL EFEKTIF SAK ETAP diterapkan untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011. entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP. Pada tahun awal penerapan SAK ETAP.berdasarkan SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang sama dengan menggunakan kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan. tetapi berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. . Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK nonETAP dalam menyusun laporan keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP. maka entitas harus menerapkan SAK ETAP untuk penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2010. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP. Penerapan dini diperkenankan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful