LAPORAN KUNJUNGAN KE MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG PERANAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER ILMU DALAM KAJIAN FILOLOGI

INGEU WIDYATARI HERIANA 180110110055 SATRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I: PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan I.3 Landasan Teori BAB II: PEMBAHASAN II.1 Profil Museum Sri Baduga, Bandung II.2 Koleksi Museum Sri Baduga II.3 Telaah Naskah BAB III: PENUTUP III.1 Kesimpulan III.2 Kata Penutup III.3 Lampiran DAFTAR PUSTAKA

i ii-iii 1-5 1-2 2 3-5 6-3 6-12 13-30 31 32-45 32 33 34-45 46-47

i

KATA PENGANTAR Assalammu „alaikum W. W. Bismillaahirmaanirrahiimi. Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata‟ala karena berkat rahmat dan karunia-Nya saya bisa dengan ulet dan semangat menyusun dan membuat “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” ini dengan baik. Penyusunan “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” dimaksudkan untuk membantu mahasiswa dalam proses perkuliahan, khususnya dalam meningkatkan penguasaan kompetensi kurikulum sesuai dengan bidangnya dan meningkatkan semangat belajar mahasiswa yang sesungguhnya. “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” saya susun dan buat dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami mahasiswa secara mandiri. “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” disusun dan dibuat berdasarkan pengamatan menggunakan teknik penelitian observasi lapangan dan materi kuliah dari proses perkuliahan yang dikembangkan sesuai dengan silabus perkuliahan sebagaimana tertuang dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi. Saya menggunakan sumber dari kunjungan langsung ke tempat, dunia maya, dan mata kuliah Filologi yang dibimbing oleh Djarlis Gunawan, M.Hum dan Yudi Permadi, M.Pd . Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu penyelesaian “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” ini. Tanpa materi perkuliahan Filologi yang dibimbing oleh Djarlis Gunawan, M.Hum dan Yudi Permadi, M.Hum, situs dunia maya, dan pengarahan petugas tempat wisata, “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” ini tidak akan berhasil saya susun dan buat dengan baik.

ii

Saya berharap “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan penguasaan kompetensi mahasiswa sesuai dengan standar kompetensi kelulusan atau penilaian yang diharapkan dan menambah wawasan bagi para pembaca.

Jatinangor, 1 Mei 2012

Penulis

iii

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Lemahnya pengetahuan, hak paten, nasionalisme atau rasa memiliki bersama atas segala kekayaan milik Nusantara, sejak zaman kolonialisme banyak kekayaan Indonesia yang diambil oleh para penjajah namun, dibiarkan begitu saja oleh rakyat Indonesia. Contohnya naskah-naskah kuno, benda-benda pusaka, hasil alam, makanan dan minuman tradisional, kesenian dan kebudayaan tradisional asli Indonesia yang punya nilai sejarah, cerita-cerita, dan makna luar biasa untuk dimanfaatkan bagi rakyat kita sendiri. Hingga sekarang masyarakat luar negeri lebih menghargai dan mempelajari kebudayaan kita untuk mendalami bagaimana rahasia-rahasia kebudayaan, kekayaan, dan kehidupan rakyat kita. Mereka menyimpan baik-baik layaknya curian itu seutuhnya milik mereka agar tidak ada yang merebutnya kembali. Atau mungkin suatu saat mereka memanfaatkan pengetahuan yang telah didapat untuk membodohi lalu menjajah kita lagi. Mengerikan bukan? Masyarakat Indonesia khususnya generasi muda sebagai penanggung jawab nasib bangsa selanjutnya, masih sedikit pengetahuan mengenai warisan buadaya sendiri. Mereka masih canggung, terkejut, atau pun kagum ketika diperlihatkan hal-hal yang baru mengenai kebudayaan yang padahal sudah lama ada di negeri kita sendiri. Contohnya, kebanyakan generasi penerus lupa dengan tokoh-tokoh pahlawan daerah, tokoh-tokoh masyarakat pejuang, tanggal-tanggal penting bersejarah, tempat-tempat bersejarah, terkejut saat melihat benda-benda pusaka yang belum diketahui sebelumnya, dan lain-lain. Hal tersebut memalukan jika persoalan-perseolan itu ditanyakan dan tidak bisa terjawab. Mengenai peninggalan berupa benda pustaka yang menyimpan nilai sejarah perjuangan bangsa, generasi penerus tidak acuh. Benda-benda bersejarah dinilai hanya sebagai pajangan tanpa mengetahui hal-hal istimewa yang dimiliki. Hal tersebut karena lemahnya kegiatan publikasi di masyarakat dan sulitnya menjangkau daerah yang bersangkutan karena warisan budaya Nusantara dan peninggalannya tersebar di seluruh Indonesia.

1

Semakin kuatnya pengaruh globalisasi menyebabkan rakyat Indonesia sendiri kurang dominan memperhatikan apa yang telah kita miliki. Alih-alih melestarikan. Rakyat Indonesia zaman sekarang lebih mengaggumi benda-benda buatan Luar negeri daripada hasil bumi pertiwi.

I.2 Maksud dan Tujuan Langkah yang Saya lakukan adalah memperkenalkan terlebih dahulu bukti-bukti fisik perjuangan rakyat Indonesia terdahulu sebagian yang berhasil terjaga di Museum berupa naskah, benda-benda pusaka, seperti kris, tombak, meriam, pedang, alat dapur, perhiasan, pakaian, kendaraan, dan lain-lain. Agar kita mengenal fungsi, wujud, cara memakai benda-benda luar biasa tersebut yang dipakai untuk berjuang melawan penjajah. Sehingga muncul hasrat juang, ingin memiliki bersama, dan ingin merebut kembali milik kita. Cerita sejarah mengenai kehidupan masyarakat Jawa Barat, masyarakat terdahulu dalam naskah kuno, dan peninggalan benda pusaka diuraikan agar timbul rasa nasionalisme ingin seperti para pejuang yang bersikap tangguh tidak mudah putus asa. Musyawarah anggota masyarakat terdahulu memunculkan semangat kita untuk menjaga kesatuan bangsa. Agar muncul rasa kagum dalam diri kita terhadap rakyat Indonesia terdahulu yang berjuang sampai titik darah penghabisan hingga menghasilkan kisah sejarah yang luar biasa untuk kita miliki bersama dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” ini disusun dan dibuat untuk mempublikasikan sebagian kecil dari warisan budaya yang ada karena sulitnya menjangkau daerah yang memiliki warisan budaya Nusantara dan peninggalannya. Dengan laporan ini, masyarakat Indonesia bisa membaca lantas mengetahui tanpa mendatangi daerah yang bersangkutan. Dengan gambar-gambar yang dicantumkan pada bagian lampiran laporan pun pembaca bisa melihat bagaimana wujud peninggalan dan ikut merasakan berkunjung ke tempat yang bersangkutan. Studi terhadap naskah lama akan mengungkap budaya lama yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat masa kini dan mendatang. Amin.

2

I.3

Landasan Teori

I.3.1 Pengertian Filologi Secara etimologi Filologi berasal dari bahasa Yunani terdiri atas dua kata, yaitu philein yang artinya cinta dan logos yang artinya kata, ilmu. Bentukan kedua kta tersebut manjadi cinta kata atau senang bertutur. Menurul istilah Filologi adalah ilmu yang mempelajari naskah-naskah kuno, tua, atau lama. Dapat juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip dari zaman kuno. Selai itu juga kata manuskrip sendiri memiliki arti, antara lain manu yang artinya tangan dan skrip yang artinya tulisan. Secara umum filologi adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan kerohanian sesuatu bangsa dan kekhususannya atau yang menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusatraan. Ilmu lain yang berdamingan dengan ilmu Filologi, yaitu Kodilogi yang merupakan sub bagian dari ilmu Filologi yang mempelajari asal-usul atau seluk-beluk naskah. Biasanya membahas isi, wujud, kertas, bentuk gulungan, asal teks didapat, dan sebagainya. Tekstologi adalah ilmu yang mempelajari tentang teksnya.

3

I.3.2 -

Kedudukan Filologi di Antara Ilmu-Ilmu Lain

I.3.2.1 Ilmu Bantu Filologi Linguistik, Ilmu yang mempelajari bahasa. Di _deolo Barat atau Amerika Linguistik dipandang sebagai kelanjutan dari ilmu Filologi. Jadi, sebenarnya tidak ada lagi ilmu Flologi:    Etimilogi, ilmu yang mempelajari asal-usul kata. Contohnya membahas asal-usul nama suatu tempat Sosiolinguistik, Hubungan bahasa dengan perilaku masyarakat. Contohnya bahasa masyarakat Banten yang kasar Stilistika, mengenai gaya bahasa yang _deo membantu mengetahui usia suatu naskah. Contonya naskah berbahasa Arab pada Zaman Nabi   Paleografi, paleo artinya tua, grafi artinya tulisan. Jadi, paleografi adalah ilmu yang mempelajari tulisan-tulisan lampau, lama, atau tua: Epigrafi, tulisan yang ada pada prasasti. Ilmu Sastra, pendekatan bagaimana sastra dipelajari: Pendekatan Mimetik, pendekatan dengan cara meniru-niru kenyataan (_deolog) dengan hal-hal yang mempelajarinya. Contohnya Kitab Negarakertagama yang berisi bahwa Nusantara bahkan Asia pernah dikuasai Maja Pahit.  Pendekatan Pragmatik, Pendekatan yang membahas karya sastra dengan pembacanya. Naskah kuno disebarkan dengan cara membaca tulisan tetapi lebih banyak mendengar karena banyak yang tidak mengerti atau mengenal aksara. Contohnya Kitab zaman stratifikasi _deolo hanya kaum Brahmana yang hanya _deo membaca.  Pendekatan Ekspresif, Pendekatan yang membahas karya sastra dengan pujangganya atau penulisnya (penciptanya). Contohnya katya-karya Romantisisme dan Hiperbola.

4

Pendekatan Objektif, pendekatan yang membahas karya sastra diperlakukan sebagai struktur yang otonom tidak melihat siapa yang menulis, siapa pembaca, tetapi hanya sebagai objek. Contohnya hubungan sosiologi dalam masyarakat.

-

Ilmu Agama, selalu dipakai sebagai sumber, Patokan, acuan, asal dari semua aspek. Ilmu Sejarah, segala penamuan harus dicerna, tidak _deo dipercaya sepenuhnya karena sesungguhnya fakta harus dicari.

-

Imu Antropologi, mengenai asal-usul manusia (aspek folk) karena manusia menghasilkan kebiasaan atau kebudayaan (aspek lor).

-

Ilmu Filklor, ilmu yang mempelajari suatu tradisi yang dihasilkan kelompok masyarakat (kolektif) yang memiliki cirri fisik sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya kemudian diwariskan terus-mnerus secara turun-temurun.

I.3.2.2 Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu-Ilmu Lain Filsafat, naskah lama diambil sebagai filsuf suatu _deolo atau bangsa sebagai sumber. Contohnya _deology, konstitusi, Infrastruktur, dan lain-lain.

5

BAB II PEMBAHASAN II.1 Profil Museum Sri Baduga, Bandung

(Sumber: www.sribadugamuseum.com) 6

II.1.1 Sejarah / Latar Belakang Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang sebagian besar dihuni oleh orang Sunda, maka sering disebut Tatar Sunda atau Tanah Sunda. Dari perjalanan sejarah dan lingkup geografis Budaya Jawa Barat secara umum berada pada lingkup budaya Sunda, sebagai budaya daerah yang menunjang pembangunan kebudayaan nasional. Tinggalan budaya yang bernilai tinggi banyak tersebar di kawasan Jawa Barat, baik yang hampir punah maupun yang masih berkembang hingga kini. Perkembangan budaya Jawa Barat berlangsung sepanjang masa sesuai dengan pasang surut pola kehidupan. Dalam garis perkembangnnya tidak sedikit pengaruh budaya luar yang masuk. Hal ini disebabkan wilayah Jawa Barat berada pada posisi yang strategis dari berbagai aspek mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Pengaruh budaya luar cenderung mempercepat proses kepunahan budaya asli Jawa Barat. Kehawatiran terhadap ancaman erosi budaya di Jawa Barat, maka pemerintah mengambil kebijakan untuk mendirikan museum di Jawa Barat, yang kini dikenal “Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga.” Pembangunan gedung dirintis sejak tahun 1974 dengan mengambil model bangunan tradisional Jawa Barat, berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern. Gedung dibangun di atas tanah bekas areal kantor kewedanaan Tegallega seluas 8,415,5 m. Bangunan bekas kantor Kewedanaan tetap dipertahankan, sebagai Bangunan Cagar Budaya yang difungsikan sebagai salah satu ruang perkantoran. Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1980, dengan nama Museum Negeri Jawa Barat, diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI , Dr. DAUD JOESOEF didampingi oleh Gubernur Jawa Barat H. Aang Kunaefi (1975-1985) tanggal 5 Juni 1980. Pada tanggal 1 April 1990 terjadi penambahan nama Sri Baduga, diambil dari gelar seorang raja Pajajaran yang memerintah tahun 1482-1521 Masehi. Dengan demikian nama lengkap museum waktu itu adalah Museum negeri {ropinsi Jawa Barat “Sri Baduga.” Pada era Otonomi Daerah (OTDA) berdasarkan Peraturan Daerah No.5 Tahun 2002 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) bergabung dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dengan nama Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga hingga sekarang.

7

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 64 Tahun 2002 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas pada UPTD di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata struktur organisasi Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga terdiri atas Kepala, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pengembangan, Seksi Pemasaran, dan Pejabat Fungsional. Pada tahun 2010 terjadi perubahan struktur organisasi melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 43 tahun 2010, yaitu Kepala, Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Perlindungan, Seksi Pemanfaatan dan Kelompok Pejabat Fungsional. Berdasarkan jenis kegiatan yang dilaksanakan unsur organisasi non teknis dan teknis. Kegiatan non teknis bersifat administratif dilaksanakan oleh Subbag Tata Usaha. Sedangkan yang bersifat teknis dilaksanakan oleh pejabat fungsional Pamong Budaya yang dikukuhkan melalui SK Gubernur No. 821.27/Kep.3-C/Peg/2004 tetang Pengangkatan Kembali Jabatan Fungsional Pamong Budaya di Museum Sri Baduga. Dalam melaksanakan pekerjaannya, para Pejabat Fungsional berkoordinasi dengan Kepala Seksi yang berkaitan dengan bidang kerjanya. (Sumber: www.sribadugamuseum.com). II.1.2 Tupoksi dan Visi Misi Tugas Pokok dan Fungsi : Melaksanakan pengunpulan, perawatan, penelitian, penyajian dan bimbingan edukatif. Visi: Museum sebagai pusat dokumentasi, informasi dan media pembelajaran serta objek wisata budaya unggulan Jawa Barat. Misi: 1) Mengumpulkan, meneliti, melestarikan dan mengkomunikasikan benda tinggalan budaya Jawa Barat kepada masyarakat.

2) Mengembangkan/memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai luhur budaya daerah.

3) Meningkatkan fungsi museum sebagai laboratorium budaya daerah dan filter terhadap 4) pengaruh Menanamkan nilai-nilai buruk luhur budaya budaya global. daerah.

5) Menata museum sebagai salah satu aset wisata budaya. (Sumber: www.sribadugamuseum.com). 8

II.1.3 Struktur Organisasi Kepala Museum: Memimpin mengkoodinasikan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan pengetahuan museum. Subbag Tata Usaha: Melaksanakan penyusunan rencana kerja pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan, perlengkapan, umum dan pelaporan. Kelompok Jafung: Adalah pegawai museum yang diberi tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan pembinaan kebudayaan. Seksi Perlindungan: Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan pemeliharaan, penyimpanan dan pengamanan koleksi. Seksi Pengembangan: Menyusun dan melaksanakan rencana pengembangan dan pendayagunaan koleksi museum. Seksi Pemasaran: Melaksanakan penyusunan rencana peningkatan promosi museum.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com). 9

II.1.4 Koleksi Museum Koleksi yang disajikan pada pameran tetap museum Sri Baduga ditata menyajikan benda benda bukti kebudayaan Jawa Barat. Kondisi geografis dan kekayaan alam berpengaruh pada tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Jawa Barat. Fase-fase perkembangan tersebut dikelompokkan dalam bentuk pameran dalam tiga lantai ruang pameran tetap museum. Museum Sri Baduga yang memiliki jumlah koleksi sebanyak 6600 koleksi terdiri dari 6346 buah, 220 set, 23 stel dan 11 pasang yang kemudian dikelompokan menjadi 10 klasifikasi. 1. Geologika / Geografika 2. Biologika 3. Etnografika 4. Arkeologika 5. Historika 6. Numismatika / Heraldika 7. Filologika 8. Keramologika 9. Seni rupa 10. Teknologika : 79 buah, 3 set, 0 stel, 0 pasang. : 180 buah, 1set, 0 stel, 0pasang. : 2420 buah, 179 set, 20 stel, 9 pasang. : 953 buah, 3 set, 0 stel, 0 pasang. : 16 buah, 6 set, 3 stel, 0 pasang. : 1705 buah, 0 set, 0 stel, 0 pasang. : 145 buah, 0 set, 0 stel, 0 pasang. : 599 buah, 1 set, 0 stel, 0 pasang. : 134 buah, 0 set, 0 stel, 2 pasang. : 115 buah, 27 set, 0 stel, 0 pasang.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com).

10

II.1.5 Lokasi Museum Sri Baduga merupakan museum pemerintah Pripinsi Jawa Barat yang berdomisili di Ibukota Propinsinya Bandung. Dari sisi Geografi kota ini terletak diantara 1070 36' Bujur Timur dan 600 55' Lintang Selatan. Selain kota ini menjadi kota yang bersejarah pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia juga memiliki posisi geografis yang sangatlah strategis baik dari sisi, komunikasi, perekonomian dan transportasi berada dalam poros jalan raya nasional dan poros jalan raya wisata.Kota yang berada pada ketinggian 791 m dpl yang dikelilingi perbukitan dan gunung disekitarnya sangat potensial secara ekosistem dan lingkungan. Ditambah lagi dengan kondisi iklim kota yang lembab dan sejuk dengan temperatur rata rata 23,1o C dan curah hujan rata rata 204,11 mm / tahun memungkinkan orang untuk nyaman beraktifitas dan berekreasi.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com). 11

II.1.6 Denah - Lantai 1: Batuan(geologi), Flora, Fauna, Manusia Purba (Homo Erectus) dan Prasejarah (Homo Sapiens), Cekungan Danau Bandung Purba. Religi masyarakat dari masa Prasejarah sampai Hindu-Budha. Lantai 2: Religi masyarakat ( masa Islam, Kong Hu Cu, Teoisme dan Kristen) system pengetahuan, Bahasa, Peralatan Hidup. Lantai 3: Mata pencaharian, Teknologi, Kesenian, Pojok Sejarah Perjuangan Bangsa, Pojok Wawasan Nusantara dan Pojok Bandung Tempo Dulu.

(Sumber: www.sribadugamuseum.com) 12

II.2 Koleksi Museum Sri Baduga 1. Geologika / Geografika

TEODOLIT Ukuran : Ukuran P: 90 cm, T: Kaki 120 cm, d: 10 cm Asal : Pangalengan, Kab. Bandung

Teodolit adalah alat ukur sudut yang biasa digunakan oleh Juruh ukur tanah. Terbuat dari besi dan pada kedua ujung pipa ber-diameter 10 cm dengan panjang 90 cm ditutup tabung kuningan berbentuk kotak. Pada sisi belakang batang pipa tertera plat kuningan bertuliskan nomor dan negara pemegang hak paten. Sedang pada sisi depan terdapat dua buah lubang berkaca untuk membidik sudut sasaran. Pada bagian tengah terdapat dua buah gelang kuningan tempat mengikatkan besi hitam sebagai pegangan tangan untuk mengatur posisi teodolit. Pada sisi belakang pipa antara kedua gelang kuningan terdapat tiga buah lubang bertutup kaca, masing-masing ber-fungsi sebagai teropong untuk membidik sasaran, yang layarnya dilengkapi angka-angka dan jarum pengukur sudut.Teodolit ini diletakkan pada dua buah besi bercabang yang terdapat pada permukaan standar besi berkaki tiga. Alat ukur sudut dibuat pada abad ke-19 di negara Jerman. 13

2.

Biologika

FOSIL RUAS TULANG BELAKANG IKAN PAUS PURBA Ukuran : T: 21 cm, P: 17cm, d: 30 cm Asal : Surade, Sukabumi

Fragmen fosil ruas tulang belakang seluruh-nya berjumlah 6 buah berwarna putih bercampur tanah, salah satu fragmen tidak utuh (sompel). Pada sisi samping kiri dan kanan atas ruas terdapat ba?gian mencuat di permukaan tulang rusuk yang telah patah. Menurut Yan Rizal seorang Paleontolog dari ITB, fosil tulang-tulang tersebut diperkirakan ruas tulang punggung binatang purba se-jenis ikan paus yang diperkirakan hidup sekitar 8 juta tahun yang lalu. Lokasi temuan yang termasuk ke dalam zona pegunungan selatan Jawa Barat, dan diper?kirakan dulunya merupakan zona laut.

14

TENGKORAK KEPALA KERBAU PURBA Ukuran : Fosil, ukuran P: 183 cm; L: 36 cm Asal : Jakarta

Fosil tengkorak kerbau purba (Bubalus Paleo Kerabau) ini terdiri dari tengkorak kepala bagian atas serta kedua tanduk, tulang rahang bawah dengan gigi bawah dan beberapa potongan tulang lainnya. Hewan ini diperkirakan pernah hidup di Pulau Jawa kurang lebih 1,8 juta tahun yang lalu (masa Plestosen akhir).Fosil hewan ini ditemukan di desa Sukadami, Kabupaten Bekasi.

15

3.

Etnografika

ANGKLUNG GUBRAG Ukuran : T: Besar 183 cm, L: Besar 91 cm Asal : Jakarta

Angklung Gubrak adalah angklung khas suku Baduy selain sebagai sarana hiburan juga dipakai sebagai sarana upacara.Angklung Gubrak merupakan kesenian pusaka,karena dipertunjukan pada saat tertentu,yaitu waktu melaksanakan upacara mnyongsong musim tanam(nyesek) dan musim kemarau sebagai syarat untuk musim hujan.Menurut kepercayaan bunyi-bunyian yang ditimbulkan dapat membangunkan Dewi Sri untuk menjaga ladang agar tetap subur.Dalam satu perangkat terdiri 6 (enam) buah yiitu : Angklung gunjing (2 buah), Engklok(2 buah), dan roel 2 buah.Setiap angklung memiliki tiga buah rumpung dengan ukuran berbeda.Bahan terbuat dari bambu berdiameter besar dan tinggi.Bentuk setiap rumpung dicowak membentuk resonator dan bumbung peredam suara serta kaki di letakan pada cowakan hingga dapat digetarkan tiang atas dihiasi jumbai-jumbai daun yang dibentuk kepang. 16

KAIN PANJANG BATIK MERAK NGIBING Ukuran : Kain, ukuran P: 240 cm; L: 106 cm Asal : Tasikmalaya

Kain panjang atau samping kebat batik ini dibuat dengan tehnik tulis, di atas bahan mori primisima. Warna dasar pulas gumading (soga/krem kekuningan) ciri khas warna kain batik Garutan. Motif latar rereng/rereng apel, sedang motif utama burung merak sedang bercengkrama saling memamerkan ekornya yang indah sehingga para perajin batik Garut menyebutnya merak ngibing. Kain panjang ini biasanya digunakan sebagai pelengkap busana tradisional yang dipadukan dengan kebaya. 17

4. Arkeologika

REPLIKA PRASASTI CIARUTEUN Ukuran Asal : Fiber qlass, T: 168 cm, L: 130 cm : Bandung

Benda asli terbuat dari batu andesit, ditemukan dialiran sungai Ciaruteun. Kini prasasti tersebut dipindahkan kedarat dan diberi cungkup ( Pelindung ). Prasasti ini sebagai bukti hadirnya Kerajaan Tarumanagara (+ abad 5 Masehi ) di Jawa Barat dan sekaligus awal dikenalnya tradisi tulis. Pada prasati ini terdapat pahatan sepasang telapak kaki, gambar labalaba dan empat baris tulisan dalam aksara pallawa dan bahasa sansakerta, berbunyi: vikrantasya vanipateh srimatah purnnavarmmanah tarumanagarendrasya visnor iva padadvayam Artinya : Ini ( bekas ) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu ialah kaki yang mulia Purnawarman raja di negeri Taruma raja yang gagah berani di dunia. 18

PATUNG ARGASURYA Ukuran : L dan T: 30 cm, d: 25 cm Asal : Cirebon Timur Jawa Barat

Pembuatan patung nenek moyang ini masih kasar,berwarna kemerah-merahan. Bentuknya gemuk pendek,muka bundar dan agak gepeng,kepala gundul,mata sebelah kanan bundar.sebelah kiri sipit,hidung pesek,bibir tebal,telinga agak ke belakang dan tebal serta pipi kembung.Posisi patung dalam keadaan duduk dengan berpangku tangan.

19

5. Historika

KERETA KENCANA PAKSINAGALIMAN Ukuran : Kayu, P: 430 cm, L: 175 cm, T: 170 cm Asal : Cirebon

Merupakan Kereta Kencana Kesultanan Cirebon, bentuk kereta memadukan 3 unsur binatang yakni: Paksi = Burung, Naga = Ular, dan Liman = Gajah. Badan kereta sebagai tempat duduk penunggangnya berbentuk badan gajah. Sisi kiri dan kanannya dihiasi sayap burung garuda, dibagian ekor, dan leher, naga sedangkan profil wajah mencerminkan naga dan gajah. Pada leher tertera angka tahun dalam huruf Jawa 1530 Saka ( 1608 M ). Diperkirakan dibuat pada Masa pemerintahan Panembahan Ratu. Kereta ini diduga sebelumnya hanyalah sebuah jampana atau tandu tampak pada bagian badan yang merupakan kesatuan yang utuh. Kontruksi putaran roda dibagian depan mengadopsi dari kebudayaan Cina. Sedangkan bentuk roda belakang seperti payung dengan kemiringan as 400 dan ukuran dalam satuan sentimeter merupakan pengaruh budaya Eropa. Sejak tahun 1930 kereta kencana yang asli tidak lagi digunakan dan disimpan di museum keluarga kanoman. Awalnya kereta kencana ini dipakai kirab pengantin keluarga sultan. Kereta kencana yang ada di Museum Sri Baduga merupakan replika, bentuk dan ukurannya dibuat sesuai asli. 20

REPLIKA MAHKOTA BINOKASIH SANGHYANG PAKE Ukuran Asal : Alpaka lapis emas, T: 28 cm, d: 18cm, P: 35cm : Jogyakarta

Mahkota ini dibuat oleh Sanghyang Bunisora Suradipati untuk penobatan Raja Galuh bernama Prabu Niskala Wastukencana pada tahun 1371. Ketika Kerajaan Pajajaran runtuh, mahkota diserahkan Prabu Geusan Ulun (Raja Sumedanglarang) dan menjadi benda pusaka leluhur Bupati Sumedang Pangeran Soeria Koesoema Adinata (Pangeran Sugih). Pada masa pemerintah bupati Pangeran Soeria Koesoema Adinata Pangeran Sugih (1937-1946), mahkota tersebut dipakai untuk hiasan kepala pengantin keluarga dan keturunan leluhur Sumedang. Mahkota terbuat dari emas 18 karat, berat 1,3kg meniru mahkota Batara Indra. Bagian utama dari mahkota adalah kuluk atau tarbus (sejenis kopiah bentuk bundar tinggi) Ragam hias meliputi : kuncup bunga teratai pada bagian puncak kuluk, turida jamang sadasaeler, menyerupai kelopak bunga berhiaskan permata hijau (jamrud), terleytak di bagian depan, jamang susun dua di atas turida, ?ron? hiasan tumpal bersusun 3 di sisi kiri-kanan kuluk (bagian pelipis ). Sumping Prabu Ngayun berbentuk seperti sayap bersusun 3, pada bagian ?jungkat penaras? berbentuk helai-helai daun dan garuda menghiasi bagian belakang mahkota. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang disimpan di Museum Sri Baduga merupakan replikanya. 21

6. Numismatika / Heraldika

UANG KERTAS GUNTING SAFRUDIN Ukuran Asal : Kertas, P: 7,8 cm, L: 7,4 cm : Bandung

Untuk mengurangi peredaran uang asing dan menekan devaluasi maka pada tanggal 20 Maret 1950 Mentri keuangan RIS (Republik Indonesia Serikat), Mr. Sjafruddin Prawiranegara dengan surat keputusan Mentri keuangan Pemerintah Republik Indonesia Serikat (Kabinet Hatta) No. PU/1 tanggal 20 Maret 1950 mengeluarkan kebijakan dramatis yaitu melakukan pengguntingan uang yang dikeluarkan De Javansche Bank, dan Hindia Belanda pecahan bernilai 5 rupiah (gulden) ke atas.

Potongan uang bagian kanan ditukar dengan obligasi Negara jaminan biaya 3 % pertahun dalam jangka 40 tahun, sedangkan bagian kiri dinyatakan masih berlaku sebagai alat pembayaran yang syah dengan nilai 50 % dari nilai sebelumnya dan berlaku hingga tanggal 8 April 1950 jam 18.00. 22

KELUH Ukuran : Logam, d: 1,3 cm Asal : Bandung

Benda-benda dari bahan perunggu yang menyerupai perhiasan ini diperkirakan pernah digunakan masyarakat prasejarah sebagai alat tukar kurang lebih 1000 tahun yang lalu.Benda-benda berbentuk terompet, binatang dan anting serta cincin ini banyak ditemukan di daerah Jawa Timur dan masyarakat setempat menyebutkan Keluh atau di dalam istilah Numismatik disebut Dumblee Ring atau Interapted Ring.

23

7. Teknologika

TELEPON Ukuran : P: 0 cm, L: 0 cm, Tb: 0 cm, T: 0 cm, B: 0 cm, d: 0 cm Asal : Pangalengan, Bandung

Terdiri dari tiga bagian kotak sebagai badan telepon, tempat penyangga dan gagang telepon. Kotak kayu berwarna coklat berfungsi sebagai wadah perangkat receiver penerima dan transever yang pendek terdapat engkol pemutar untuk mengirim tanda ke Telepon lain. Di atasnya kotak kayu terdapat dua tiang sejajar dilengkapi dudukan menyerupai tanduk kerbau yang bisa turun naik, bila ditekan untuk meletakan gagang Telepon. Gagang Telepon berbentuk panjang agak melengkung dengan kedua ujungnya membulat dan berlubang-lubang baik pada permukaannya, satu bagian untuk mendengar dan bagian yang lain untuk pembicaraan. Antara gagang dan kotak dihubungkan dengan seutas kabel. Untuk menerima Telepon masuk dihubungkan dengan kabel ke sentral yang berbentuk bundar. 24

GAMBAR TOONG Ukuran : Kayu dan Kaca, T: 135 cm, L: 78 cm Asal : Tasikmalaya Gambar toong sejenis tontonan anak-anak berupa gambar disimpan dalam sebuah kotak dengan alat penerang lampu semprong/lampu minyak melalui lensa teropong yang dipasang pada sisi dindingnya. Anak-anak yang menonton duduk diatas bangku yag telah disediakan. Selama gambar di dalam kotak ditampilkan, pengamen/pemilik tontonan anak-anak ini berceritera sesuai gambar yang ditayangkan sambil memainkan akordeon. Bagian kotak pipih dibagian atas berfungsi sebagai wadah gambar yang dilengkapi tali-tali berbandul uang kepeng pada dinding depan dan belakang untuk menaik-turunkan gambar dan membuka-menutup layar lensa. Kotak cembung di bagian tengah berisi lensa dan lampu semprong. Kotak tinggi ramping paling bawah berdaun pintu untuk menyimpan akordeon dan pakaian ganti. Tontonan anak-anak ini dijajakan ke kampung-kampung. Pada saat berpindah tempat kotak gambar toong dan peralatan lainya diangangkut dengan cara dengan cara dipikul. Teknologi gambar toong merupakan cikal bakal teknologi playstation di zaman modern saat ini. 25

8. Keramologika

WASTAFEL Ukuran : Tanah liat, Wadah air bersih T: 18,5 cm, d: 25 cm Wadah air kotor T: 16,5 cm, d: 36 cm Asal : Majalengka

Wastafel atau tempat cuci tangan berasal dari Eropa dibuat awal abad 20 Masehi. Wadah berbentuk setengah belahan tong/drum untuk air bersih, sedangkan wadah berbentuk waskom untuk menampung air kotor bekas cuci tangan. Baik wadah penampung air bersih maupun air kotor tidak dilengkapi dengan saluran air untuk mengisi maupun untuk membuang. Ragam hias dua buah ban berisi motif meander dan sebuah buket bunga mawar. 26

9. Seni rupa

LUKISAN KANVAS `PANGERAN KORNEL Ukuran : Kanvas, Cat minyak P: 340 cm, L: 210 cm Asal : Bandung

Lukisan ini dibuat oleH seni rupa asal Bandung bernama Hendra Gunawan dengan gaya lukisan naturalis dengan ciri khas kaki digambarkan lebih kecil dari aslinya dan sapuan cat dilakukan pada kanvas hanya dilakukan sekali. Menggambarkan bagian dari sejarah pembuatan jalan raya Anyer-Panarukan, pada saat membuka hutan dan meratakan cadas (bukit batuan) di daerah Sumedang yang kemudian terkenal dengan sebutan Cadas Pangeran. Pembuatan jalan dikerjakan secara paksa (rodi) oleh rakyat Sumedang, yang kemudian ditentang oleh Bupati Sumedang yang dikenal dengan julukan Pangeran Kornel. Pada saat Daendels meninjau lokasi pembuatan jalan, Pangeran Kornel menyalami Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu, dengan tangan kirinya. sementara tangannya memegang keris untuk menunjukan sikap menentang kerja paksa terhadap rakyatnya. 27

TEMPAT BUMBU Ukuran : Kristal & Alpaka, d: nampan 17 cm, T: Botol 27 cm Asal : Sumedang

Seperangkat tempat bumbu yang terbuat dari Kristal ini terdiri dari 5 buah botol untuk menyimpan merica, garam, kecap dll. Botol-botol tadi disimpan di atas nampan perak dan biasa disimpan di atas meja makan sebagai tempat bumbu atau hanya sebagai hiasan di rumah-rumah para bangsawan. Diperkirakan dibuat sekitar abad 19 M.

28

10. Filologika

NASKAH SANGHYANG RAGA DEWATA Ukuran : Lontar, P: 21,5 cm, L: 6,5 cm Asal : Sukaraja Tasikmalaya Terdiri dari 25 lempir atau 25 halaman. Aksara Pranagari Bahasa Sunda kuno. Bentuk gubahan prosa lirik berisi mythos pencipta alam semesta yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan sang bayu. Setelah itu diciptakan bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa. Dari bumi dijadikanlah sebutir telur sekepal tanah dan menjelma menjadi Batara Guru yang ditempatkan di gunung kahyangan. Manusia dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya yang seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan siksa (ajaran) Sanghyang Darma. Manusia yang dapat menjalankan ajaran tersebut kelak dapat mencapai surga abadi. 29

NAHWU SHOROF Ukuran : P: 19,5cm, L: 31,4 cm, 274 hal Asal : Majalengka

Keadaan naskah cukup baik, lengkap, dan masih dapat dibaca. Naskah ini berukuran 19,5 x 31,4 cm dengan ukuran ruang tulisan 12,5 x 17 cm, jumlah baris per halaman 14 s.d. 15 baris, beberapa halaman hanya terdiri 5 baris. Naskah ini teksnya berbentuk prosa, tulisan jelas karena hurufiiya besar serta tintanya berwarna hitam, jarak antar baris sekitar 1,7 cm. Naskah ini berasal dari Majalengka, disalin oleh 1 orang penyalin, berupa Isi naskah keagamaan sehingga sering digunakan dalam pengajian. Naskah

Kandungan

Isi teks naskah ini berisi tata cara atau kaidah-kaidah dalam membaca Al-Quran, sehingga disebut Naskah Nahwu Shorof. Selain itu, naskah ini berisi pula tafsirAlQuran. Teks naskah ini terdiri dari beberapa teks (judul) yang berisi tentang: KitabSarafAl-Kailani Kitab AI-Awamil Kitab Jurumiah Syarah Mukhtashar Al-Awamil 30

II.3 Telaah Naskah Pada kunjungan ke Museum Sri Baduga, Bandung, saya mendatangi perpustakaan museum tersebut. Di sana terdapat sumber-sumber ilmu yang dapat dipelajari dari koleksi-koleksi museum. Salah satunya Kitab Al Awamil dari bagian Naskah kuno Nahwu Sharaf yang telah dijelaskan sebelumnya sebagai koleksi filologika Museum Sri Baduga, Bandung. Berikut rincian identitas kitab Al Awamil yang saya telaah dari buku sumber yang sudah berhasil menerjemahkan naskah kuno aslinya. 1. Judul Naskah 2. Nomor naskah 3. Asal naskah 4. Keadaan naskah 5. Bahan naskah : Kitab Al-Awamil. : 07.04.02 : Tidak diketahui : Masih baik dan semua tulisannya masih jelas. : Daluang, kertas tradisional yang terbuat dari kulit pohon paper mulberry (Sd. Saeh) yang diproses secara tradisional. 6. Ukuran naskah 7. Ruang naskah 8. Tebal naskah 9. Jumlah baris perhalaman : 20x31 cm : 9x10 cm : 47 halaman : Tiga baris perhalaman baik di awal, tengah, maupun akhir. 10. Aksara naskah 11. Tinta yang digunakan 12. Bentuk teks : Aksara Arab. : Tinta berwarna hitam. : Prosa.

31

BAB III PENUTUP III.1 Simpulan Cara untuk melestarikan warisan budaya berupa peninggalan benda-benda pusaka atau pun tradisi kegiatan orang-orang terdahulu bisa dimulai dengan membaca. Hal yang paling penting adalah bagaimana masyarakat bisa mendapatkan bacaan untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Melalui “Laporan Kuliah Kerja Lapangan Wrisan Budaya Sebagai Teladan Masyarakat Pewaris dalam Kajian Filologi” ini saya sangat berharap bahwa masyarakat tergugah rasa memiliki, cinta tanah air, dan ingin tahunya, lalu menerapkannya dengan melakukan kegiatan pelestarian. Melalui penjabaran-penjabaran mengenai suatu benda, lokasi, dan identitas yang menarik, pembaca meningkatkan semangatnya untuk melestarikan warisan budaya yang diperlakukan tak acuh oleh masyarakat Indonesia dan meningkatkan rasa memiliki bersama. Naskah kuno yang berhasil diterjemahkan dan ditelaah hingga menjadi buku dapat dengan mudah dibaca oleh masyarakat mengenai isinya, sehingga dapat menambah pengetahuan pembaca. Hal tersebut meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai warisan budaya, lalu mereka secara perlahan dapat melestarikan dan mengembangkan harta Nusantara yang telah ada. Karena sesungguhnya apabila tidak mengenal, maka tidak menyayangi.

32

III.2 Kata Penutup Alhamdulillaahirrabbil „alamin. Laporan “Laporan Kunjungan ke Museum Sri Baduga Bandung Peranan Museum sebagai Sumber Ilmu dalam Kajian Filologi” ini telah selesai saya susun dan buat dengan baik. Kritik dan saran yang bersifat membangun saya harapkan sebagai upaya penyempurnaan penyusunan dan pembuatan laporan selanjutnya. Wassalammu „alaikum W. W.

Jatinangor, Mei 2012

Penulis

33

III.3 Lampiran III.3.1 Brosur Museum Sri Baduga, Bandung

34

35

35

37

III.3.2 Katalog Naskah

38

III.3.3 Terjemahan Naskah Nahwa Shoraf dalam Katalog

39

40

III.3.3 Buku Sumber Hasil menerjemahkan Kitab Al-Awamil

41

III.3.4 Ringkasan Isi Kitab Al-Awamil

42

43

44

45

DAFTAR PUSTAKA http://www.facebook.com/ingeu.heriana http://www.sribadugamuseum.com/ “Sejarah / Latar Belakang” dalam http://www.sribadugamuseum.com/profil.php?req=2 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 17:00) “Lokasi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/profil.php?req=5 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 17:00) “Denah” dalam

http://www.sribadugamuseum.com/view.php?a=assets/profil/denah.png&w=480&h=29 8&b=/profil.php?req= (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 17:58) “Koleksi” dalam

http://www.sribadugamuseum.com/viewket.php?kat=kol&nid=3&b=/koleksi_det.php?r eq= , (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 18:54) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=3 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 18:55) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=5 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 19.00) “Koleksi” dalam

http://www.sribadugamuseum.com/viewket.php?kat=kol&nid=14&b=/koleksi_det.php ?req= (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 19:02) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=6 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 19:03) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=10 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 19.06) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=8(diakses

pada 1 Juni 2012 pukul 19.07) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=9 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 19.07) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=7 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 19.09)

46

“Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi.php (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 20.11) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=1 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 20.11) “Koleksi” dalam

http://www.sribadugamuseum.com/viewket.php?kat=kol&nid=32&b=/koleksi_det.php ?req= (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 20.11) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=4 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 20.18) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/koleksi_det.php?req=2 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 20.20) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/ (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 10.11) “Koleksi” dalam http://www.sribadugamuseum.com/profil.php?req=1 (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 10.11) “Koleksi” dalam

http://www.sribadugamuseum.com/view.php?a=assets/profil/sej1.jpg&w=640&h=468 &b=/profil.php?req= (diakses pada 1 Juni 2012 pukul 10.13)

47

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful