Pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Abadi dalam Kerangka Pelaksanaan Reforma Agraria1

Oleh Achmad Ya’kub2

1. Pendahuluan Sekarang ini Reforma agraria menjadi agenda yang diperbincangkan publik, yang sejak tahun 65-an menjadi momok yang menakutkan. Hal ini dapat dikatakan sebagai langkah maju akibat dari pergolakan politik di Indonesia terutama sejak tahun 1998. Berbagai momentum kebijakan menghiasi perjuangan kaum tani dalam mendorong kebijakan maupun praktek atas inisiatif sendiri untuk mewujudkan reforma agraria. Beberapa momentum kebijakan yang menyangkut agraria sebut saja misalnya3, TAP MPR No IX tahun 2001 tentang Pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam, Keppres 34/2003 tentang kebijakan Nasional dibidang pertanahan, RUU Pertanahan, RUU Sumberdaya Agraria4, Perpres 36 tahun 2005 tentang Pencabutan Hak atas Tanah untuk Kepentingan Umum, UU No. 7/2004 mengenai sumberdaya air, UU No 18 tahun 2004 tentang Perkebunan, UU keanekaragaman hayati, pencanangan Revitalisasi pertanian, perikanan dan Kehutanan tahun 2005, Program Pembaruan Agraria Nasional yang ditafsirkan atas pidato Presiden awal tahun 2007, dan UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Terakhir RUU Pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Abadi yang merupakan inisiatif dari Departemen Pertanian RI5. Disadari bahwa berbagai kebijakan yang menyangkut agraria tersebut melalui proses dan sebagai produk politik dengan dinamikanya tersendiri. Proses penetapan dan pengesahannya dianggap sebagai upaya mencari keadilan dan menjaga kestabilan politik dalam ranah ekonomi, sosial dan budaya.

1

tulisan disajikan dalam Focus Group Discussion dengan tema Menyelaraskan kebijakan lahan pertanian abadi dengan program pembaruan agraria nasional, diselenggarakan atas kerjasama DPR RI, Departemen Pertanian RI dan KPA di Bandung pada tanggal 7-8 Oktober 2007. 2 Achmad Ya’kub adalah Deputi Kajian Kebijakan dan Kampanye, Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). www.fspi.or.id , penulis dapat dihubungi melalui email : ayakub@fspi.or.id, dan hp; 08177 1234 7 3 Dapat dikatakan kebijakan-kebijakan tersebut memandatkan merubah UUPA, tidak menjadikan UUPA sebagai sandarannya/konsideran, kalaupun UUPA 1960 dijadikan konsideran namun isi dan perspektifnya bertentangan dengan semangat dari UUPA 1960 itu sendiri. 4 Kedua RUU tersebut dimaksudkan untuk merevisi/menyempurnakan UUPA 1960, namun nyatanya RUU tersebut intinya adalah ingin menggantikan UUPA 1960 5 Penulis menerima undangan dan draft V (25 sept 2007) RUU Pengelolaan lahan pertanian abadi pada tanggal 2 oktober 2007

Pemahaman ini dapat didekati melalui beberapa catatan mendasar yaitu. intervensi yang kuat dari pihak asing. tidak puasnya kalangan masyarakat terutama ormas tani atas proses pembuatan kebijakan. dan pengelolaan lahan pertanian abadi dalam kerangka pelaksanaan reforma agraria. pembangunan pertanian berorientasikan ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu sebelum mendalam mengkritisi dan memberikan masukan terhadap RUU Pengelolaan lahan pertanian pangan abadi haruslah memperhatikan kelima aspek diatas yang selalu rentan akan berulang lagi. 2. mendefinisikan kembali ketahanan pangan. pemodal maupun organisasi yang bertaraf internasional. September 2007. dalam pembahasan ini hanya menekankan analisa yang terjadi pada wilayah pertanian belum banyak mengenai pertambangan. baik negara asing. kedaulatan pangan. Kemudian barulah masuk pada wilayah substansi dan perspektifnya. 4. 6 Dikutip dari tulisan Achmad Ya’kub dan Susan Lusiana dkk dalam Draft Pedoman Perjuangan Reforma Agraria Sejati. 3. Upaya Reforma Agraria tersebut tidak membawa hasil yang berarti. dan kelautan 2 . kehutanan. keberpihakan kepada pegusaha yang begitu besar. Kebijakan agraria di Indonesia6 Tercapainya proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 merupakan titik tolak yang seharusnya dijadikan momen oleh seluruh warga Indonesia untuk memperbaiki struktur sosial dan struktur ekonomi yang sudah timpang sebagai awal dari proses pembangunan. Sebagai upaya untuk mengatasi ketimpangan agraria di Indonesia sejak tahun 1960 pemerintah Soekarno mengeluarkan kebijaksanaan pelaksanaan Reforma Agraria di Indonesia yang ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) No. 5. karena pelaksanaan Reforma Agraria dihentikan sejak pemerintahan orde baru memegang kekuasaan pada tahun 1965. sektoralisme kebijakan agraria masih terus terjadi dan dilanggengkan. proklamasi kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Selanjutnya pemerintah orde baru melakukan kebijakan yang mendorong terjadinya ketimpangan dalam struktur penguasaan sumber agraria yaitu diantaranya melalui revolusi hijau. penggunaan alat dan produk hukum untuk melindungi kepentingan para penguasa. yaitu: 1. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh pendiri bangsa. mengenai perjalanan kebijakan dan kenyataan agraria sekarang ini. agraria dan reforma agraria. 5 tahun 1960. substansinya dan perspektifnya semakin menjauhkan dari pelaksanaan reforma agraria sejati.Saya akan memberikan beberapa catatan pengalaman atas proses yang menghiasi penetapan dan pengesahan berbagai kebijakan tersebut.

Melalui program intensifikasi pertanian inilah perusahaan-perusahaan asing yang bergerak dalam benih. Selain itu. 3 . perkebunan. pemerintah menyalahgunakan Hak Menguasai Negara (HMN) yang tercantum dalam UUPA 1960. Kebijaksanaan yang demikian telah menyebabkan program revolusi hijau hanya menguntungkan petani pemilik lahan luas dan pemilik modal saja di pedesaan. parawisata real estate (perumahan). pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan keagrariaan yang memberikan kekuasaan kepada sekelompok orang untuk menguasai sumber-sumber agraria dengan tanpa batas dan sewenang-wenang. dan pengairan/ kelautan. investasi asing mulai masuk dalam bidang pertanian. Revolusi hijau merupakan suatu upaya modernisasi pertanian dengan memasukkan (introdusir) teknologi pertanian dibidang tanaman pangan. irigasi primer dan sekunder. perkebunan. HMN disalahartikan dan dimanipulasi untuk tidak mengakui kedaulatan rakyat. Melalui UU Penaman Modal Asing Tahun 1967. Pemerintah menggunakan cara-cara kekerasan dengan menggunakan aparat keamanan (TNI atau POLRI). Selanjutnya dalam rangka meningkatkan ekspor non-migas. pestisida. hutan industri dan peruntukan-peruntukan lainnya di luar sektor pertanian. UU Pertambangan dan UU Perairan. pembangunan DAM besar. maka lahan-lahan perkebunan tetap dikuasai oleh asing. Untuk menyukseskan program tersebut. Termasuk dalam masa itu adalah pemberian hutang pada Indonesia oleh lembaga keuangan internasional. lapangan golf. pupuk. kehutanan. Revolusi Hijau yang berintikan pada intensfikasi ini membuat pertanian menjadi seragam dengan menggunakan benih-benih unggul (HYV). dengan mengabaikan ketimpangan pemilikan dan penguasaan lahan pertanian yang telah terjadi di Indonesia sebelumnya. pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang mendorong terjadinya konversi lahan pertanian yang subur untuk dijadikan lahan industri. pestisida menanamkan investasinya. Hal ini terlihat dari tidak adanya pengakuan pemerintah yang nyata terhadap hakhak masyarakat adat dalam pemilikan dan penguasaan sumber agraria yang menjadi bagian hak-hak ulayatnya. tanah adat dan hutan rakyat untuk keperluan pihak pemilik modal besar. dan pembangunan pabrik-pabrik pupuk. untuk membangun bendungan-bendungan besar.Atas nama pembangunan. dan kelompok-kelompok teroraginisir serta birokrasi untuk memaksa rakyat menyerahkan lahan-lahan pertanian. Akibat dari kebijakan penanaman modal asing tersebut. Petani harus membeli inputinput untuk kegiatan pertanian mereka pada usaha-usaha besar yang dimiliki oleh perusahaan dari negara-negara maju. dan pupuk kimia. serta undang-undang lainnya yang berkaitan secara langsung dalam menggunakan sumber-sumber agraria. Hal ini diawali dengan dikeluarkannya UU Penanaman Modal Asing pada tahun 1967 yang kemudian diikuti oleh UU Pokok Kehutanan. pemerintah membangun sektor pertanian melalui program revolusi hijau dan alih teknologi. seperti Bank Dunia dan Asia Development Bank.

Jika pada masa Orde Baru para petani tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan akses pada sumber agraria secara memadai. Dalam hak penguasaan tanah dan air. hanya bentuk nya saja yang semakin halus. dan liberalisasi perdaganganinvestasi) telah membuat kehidupan petani bertambah buruk lagi. Bahkan perkembangan terakhir perusahaan-perusahaan tersebut sedang berusaha keras agar benih-benih trans genetik (genetic modified organism.36 tahun 2005 (Diperbaharui dengan UU No. Dalam hal benih. benih. pemerintah juga mengesahkan undang-undang penanaman modal No.65 tahun 2005). pada Maret 2007. Arah dari serangkaian kebijakan neoliberalisme ini pada garis besarnya adalah mencabut kedaulatan petani pada sumber-sumber agraria. 7 Agraris wet no 25/1870 mengatur tentang penggunaan lahan bagi perusahaan (HGU) paling lama selama 75 tahun 4 . Perusahaan besar mengiming-imingi dengan alasan benih yang mereka jual memiliki produktivitas yang tinggi. Perebutan kedaulatan petani diambil untuk kepentingan peningkatan keuntungan perusahaan-perusahaan besar yang memanfaatkan organisasi internasional-WTO. teknologi. melalui WTO sedang diatur melalui mekanisme TRIPS agar perusahaan-perusahaan besar penghasil benih bisa mematenkan benih-benih. penerapan kebijakan pembangunan bermuatan neoliberalisme (privatisasi. tidak hanya tanah tetapi air. namun kenyataan benih tersebut belum tentu memberikan hasil sesuai dengan yang dijanjikan. Tak ada yang berubah pada hakekatnya. jauh lebih lama dibandingkan dengan hukum agraria di jaman Belanda sekalipun7.7 tahun 2004 pemerintah juga telah menjual kekayaan alam berupa air kepada pihak swasta. pencabutan subsidi. Parahnya. karena benih transgenik kapas bt (bt cotton) pernah diterapkan di Bulu Kumba Sulawesi Selatan. Langkah ke arah penggunaan benih transgenik tersebut bukan tanpa alasan. serta memasukan isu-isu yang bisa memecah persatuan ditingkat regional. Penggunaan benih lokal sudah terancam dengan membanjirnya produk perusahaan agribisnis yang dijual secara massive. kredit. Hanya menjadi buruh. termasuk juga pasar. IMF dan Bank dunia. terminator seed. Dalam undang-undang tersebut. Selain itu melalui UU No. pupuk. memanfaatkan kekuasaan pemerintahan ditingkat nasional. pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melegitimasi pencabutan hak atas tanah atas nama kepentingan umum melalui UU No. GMO) bisa dipasarkan di Indonesia. Maka setelah masa transisi pada tahun 1998. 25 tahun 2007 yang justru menggadaikan tanah air Indonesia kepada para pemilik modal. Sehingga petani yang menggunakan benih tersebut harus membeli kepada perusahaan besar tersebut. Belum lagi perusahaan tersebut menjual benih yang sidah satu paket dengan jenis pupuk dan pestisida tertentu. hak guna usaha diberikan selama 95 tahun. karena faktor-faktor produksi dikuasai oleh pemodal.

Kedaulatan petani atas pupuk sebagai bahan penting dalam melakukan kegiatan pertanian juga semakin hilang. Kesepakatan ini disebut dengan FTA 5 . Belum lagi terdapat kebijakan pemerintah yang justru mengancam kedaulatan pasar bagi petani. Dengan penjualan produk dumping dari negara kaya ke Indonesia telah menyebabkan petani Indonesia semakin menjerit . tetapi juga produk pertanian yang diekspor. kearifan lokal dan teknologi yang telah turun temurun menjadi kebudayaan masyarakat (indegenous knowledge) tengah mendapatkan ancaman karena banyak ahli-ahli dan perusahaan besar asing yang mematenkan teknologi tersebut. Bila ini terlaksana maka petani harus membayar mahal ketika harus mengairi lahan-lahan sawahnya. Tertundanya perundingan di WTO akibat tidak adanya kesepakatan antar negara miskin dan negara maju saat ini justru menghadirkan ancaman baru. Seperti contohnya penolakan udang Indonesia oleh Amerika Serikat pada beberapa taun silam akibat pemerintah Indonesia menolak impor paha ayam dari Amerika. Padahal kebudayaan pertanian yang kini berlangsung sudah sangat tergantung dengan pupuk anorganik. Seringkali ekspor komoditas pertanian dihargai dengan harga yang murah dan seringkali menadapatkan perlakuan semena-mena. bukan produk pertanian yang dijual di tingkat domestik dan nasional saja. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena payung hukum yang mengatur telah ada. Petani selalu terjerat dengan harga komoditas pertanian yang murah. Kehidupan petani selanjutnya terancam dengan semakin tidak berdaulatnya petani dalam hal akses pasar. antara 2 kelompok negara ataupun antara negara dengan kelompok negara) yang membuat negara maju semakin leluasa dan mengeruk keuntungan negara miskin. Instrumen paten melalui HAKI (hak kekayaan intelektual) adalah salah satu instrumen yang mematenkan penemuan tersebut di Indonesia. yaitu Undang-Undang Sumberdaya Air yang baru saja disahkan. Kini sebagian besar petani di Indonesia menggantungkan pada pupuk anorganik yang diproduksi oleh industri pupuk. Saat ini negara-negara maju justru membuat kesepakatan perdagangan bilateral (antar 2 negara. Selain benih dan pupuk. Ketergantungan ini menunjukan bahwa petani harus membelanjakan uang untuk bisa mendapatkan pupuk. Hal ini dikarenakan oleh harga produk dumping yang lebih murah dibandingkan dengan harga dari produk yang dihasilkan oleh petani lokal. Ketika terdapat kebijakan pemerintah untuk menghapus subsidi pupuk maka seketika itu juga pendapatan petani menjadi berkurang. Pemberlakukan undang-undang ini memungkinkan swasta untuk melakukan pengelolaan atas irigasi dan air minum. Lagi-lagi WTO menjadi organisasi yang memaksakan liberalisasi perdagangan komoditas pertanian. Dalam hal teknologi. kini air sebagai bagian paling penting dari kegiatan pertanian juga tengah dalam proses untuk privatiasasi.

pada masa orde baru.6 persen tiap tahun. lebih dari sekitar 46 persen rakyatnya hidup dari pertanian. Jepang. Saat ini Indonesia sudah mulai membahas kesepakatan EPA dengan China. peraturan menteri pertanian No.7 juta pada tahun 2003 atau mengalami peningkatan 2. setidaknya tercatat 47 persen dari HPH sebesar 51.8 juta keluarga pada tahun 1993 menjadi 13. 8 Achmad Ya’kub dan Susan Lusiana.000 hektar. Korea. kita bisa membandingkannya dengan perkembangan perkebunan sawit di Indonesia.idem 6 . Sementara itu. Hal ini berbahaya karena biasanya EPA/FTA dilakukan oleh dua negara yang berbeda secara kemampuan. Jumlah rumah tangga petani yang penguasaan lahannya kurang dari 0. Amerika Serikat dan Jepang menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang dibebaskan secara perdagangan dan investasinya. Petani hidup dalam tingkat kesejahteraan yang rendah ketika terjadi peningkatan jumlah keluarga tani sebanyak 5. Sebagian besar dari mereka adalah buruh tani yang tidak memiliki lahan dan petani miskin. Realitas ini sangat berlawanan dengan situasi ekonomi sosial rakyat tani yang tiap tahun selalu cenderung menurun dalam penguasaan luas tanah (hanya sekitaran 0. Selain itu. Sebagian besar petani hanya mampu menyewa lahan per tahun. Sebanyak 60 persen luas perkebunan sawit di Indonesia diantaranya dikuasai hanya oleh 27 grup perusahaan.4 juta rumah tangga dari tahun 1993-2003 namun pada saat yang sama terjadi pengurangan dalam hal penguasaan tanah yang disertai dengan kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap petani.3 juta Hektar dimiliki 10 perusahaan.5 persen (2003). Pada dasarnya kesepakatan ini adalah untuk menjamin adanya perdagangan dan investasi yang bebas antar 2 negara. antara 2 kelompok negara ataupun antara negara dengan kelompok negara. semuanya adalah negara maju yang siap mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Kenyataannya Sekarang Ini8 Dilihat dari aspek demografi. sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di wilayah pedesaan. telah terjadi peningkatan luas lahan perkebunan sawit hingga mencapai 5 kali lipat.7 persen (1993) menjadi 56. 3 negara yaitu China.5 hektar termasuk petani yang menjadi penggarap telah mengalami peningkatan dari 10. Uni eropa dan Amerika Serikat.000 hektar padahal sebelumnya pemerintah hanya memberikan izin seluas 20. 2 tahun 2007 memberikan izin untuk mengembangkan areal perkebunan sawit untuk masing-masing holding (grup perusahaan) hingga 100.(Free Trade Agreement/ kesepakatan perdagangan bebas) atau diperhalus dengan istilah EPA (Economic Partneship Agreement/ kesepakatan mitra ekonomi).5 ha). Persentase rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga pemilik lahan juga mengalami peningkatan dari 52. Dari 5 rencana kesepakatan. Parahnya.3 sampai 0. Dalam empat belas tahun.

Tanah dijadikan komoditas pasar yang dengan mudah dipindahtangankan melalui mekanisme pasar. Selain itu terjadi juga perubahan orientasi ideologi negara. reforma agraria tidak dilaksanakan. Pemerintah dengan mudah disusupi kepentingan para pemodal dan pengusaha besar yang juga telah menyusupi organisasi –organisasi internasional guna memaksimalkan keuntungan mereka. Sudah bisa ditebak.Ketimpangan agraria yang tersisa dari zaman feodal terjadi semakin parah. Melalui produk hukum dan kebijakan yang berbau neoliberal pemerintah atas nama pembanguna malah telah melakukan penggadaian sumber-sumber agraria di Indonesia. Dengan ideologi yang kapitalistis. Perubahan orientasi tersebut secara otomatis mengubah paradigma pembangunan yang dipimpin oleh pemerintah. Tabel penyebab utama ketimpangan struktur penguasaan agraria Struktur agraria timpang Akibat zaman kolonial dan feodal Reduksionisme Utilitas Tanah Komoditisasi Tanah Struktur penguasaan Sumber -sumber agraria semakin timpang Tanah sebagai alat investasi Paradigma pembangunan berorientasi pertumbuhan Intervensi perusahaan melalui organisasi internasional Kemiskinan Struktural 7 . hanya masyarakat yang memiliki modal saja yang mampu mengakses dan menguasai tanah. karena sejak pemerintahan orde baru berkuasa – dibawah kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun. dari yang berorientasi kerakyatan (sosialis populis) menjadi kapitalistis. komodifikasi tanah menjadi semakin marak. Hal ini menyebabkan ekonomi wilayah pedesaan yang menjadi tempat tinggal rakyat tani mengalami penurunan kesejahteraan dari tahun ketahun.

Terdapat sekitar 17. tingginya tingkat urbanisasi. Hal ini telah membawa serangkaian masalah lainnya seperti tingginya angka kelaparan.75 persen rakyat miskin dimana 63 . kelautan dan kehutanan. dan pasar. alih fungsi areal persawahan. Pelaksanaan ini ditujukan bagi petani kecil. buruh tani dan masyarakat miskin secara luas. sehingga tercipta dasar pertanian modenn yang sehat. tingginya tingkat kriminalitas baik di desa ataupun dikota dan semakin terpuruknya kehidupan rakyat secara menyeluruh. Reforma agraria merupakan jalan yang paling memungkinkan untuk dapat memberdayakan rakyat pedesaan dari kedudukannya yang terpinggirkan. Reforma agraria tidak hanya berbicara masalah alat produksi saja yaitu tanah dan air. NTP sangat mudah berubah dan memiliki kecenderungan turun hingga berada dibawah level 100. data kemiskinan menunjukkan bahwa kondisi kemiskinan terparah terjadi di daerah pedesaan yang mana mayoritas penduduknya adalah petani. Angka kemiskinan di pedesaan telah meningkat tiap tahunnya dan angkanya mencapai dua kali lipat angka kemiskinan perkotaan. Sementara itu hampir 90 persen masyarakat pedesan adalah petani yang semakin hari tidak mendapatkan insentif dari sektor pertanian dan tidak bisa tertampung disektor lainnya seperti industri dan jasa. namun keseluruhan faktor produksi seperti benih.Ditinjau dari tingkat kemiskinan. tingginya angka pengangguran. susunan kepemilikan.810 kasus. pertambangan. FSPI mencatat berbagai konflik agraria yang terjadi dengan latar belakang di sektor perkebunan. Artinya tingkat pendapatan petani seringkali lebih kecil daripada tingkat pengeluarannya. Kemiskinan yang melanda pedesaan ini adalah akibat tidak adanya akses dalam mendapatkan alat-alat produksi. Reforma agraria selanjutnya diharapkan dapat menciptakan proses perombakan dan pembangunan kembali struktur sosial masyarakat. 58 persennya tinggal dipedesaan. Pada tahun 2006. teknologi dan alat pertanian. Kepala BPN dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa saat ini telah terjadi konflik agraria yang mencapai 2. khususnya masyarakat pedesaan. terjaminnya kepastian pemilikan tanah bagi rakyat sebagai sumber daya 8 . Dengan situasi yang sedemikian timpang tersebut maka konflik agraria tidak bisa dihindari. Menegaskan kembali Reforma Agraria reforma agraria adalah suatu upaya untuk menata ulang struktur penguasaan. pemanfaatan dan penggunaan sumber-sumber agraria yang timpang untuk kepetingan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. industri. sekaligus melepaskan diri dari penindasan kekuatan ekonomi besar dan penindasan kekuasaan politik kelas yang dominan. permodalan. Kerentanan hidup petani juga bisa dilihat dari fluktuatifnya NTP (Nilai tukar petani) dari waktu ke waktu.

dan persyaratan Penguasaan tanah10. Aspek Sosial : menciptakan struktur sosial yang lebih adil.dan seterusnya”. penguasaan dan pengaturan penyakapan tanah (sistem penggarapan)).kehidupan. terdapat 4 muatan kongkrit Land reform sebagai langkah awal dari reforma agraria yaitu diantaranya: Pengaturan ulang alokasi penyediaan tanah. Pengaturan ulang tata cara perolehan tanah dan Penataan ulang penggunaan tanah11. terciptanya sistem kesejahteraan sosial dan jaminan sosial bagi rakyat pedesaan. pola pembudidayaan. yang penting dan perlu dicatat adalah reforma agraria yang dimaksudkan tidak sekedar untuk mengatur struktur kepemilikan dan penguasaan tanah pertanian saja namun lebih luas dari itu. Tujuan dari Reforma agraria secara komprehensive dapat dari berbagai aspek yaitu sebagai berikut9 : 1. Aspek Ekonomi : Menciptakan ketahanan ekonomi keluarga. penguasaan. 5/1960 Pasal I: ”Bumi. Penataan ulang status. 2005 10 9 . Masalah utama dan mendesak waktu itu guna memperbaiki nasib penduduk negara agraris kitamemang berfokus pada pertanian dan land reform. serta penggunaan sumber agraria sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.. dan penggunaan tanah. Aspek Politik : Menghilangkan konflik dan menciptakan stabilitas yang sejati 5. Hal tersebut merupaka terjemahan secara langsung dari kontitusi negara yaitu UUD RI 1945 pasal 33 9 Disampaikan Gunawan Wiradi. Aspek Hukum : Menciptakan kepastian hukum mengenai hak-hak rakyat terutama kaum tani 2. Bapak pendiri Republik Indonesia telah merumuskan UUPA No. (b) Perubahan tentang luas pemilikan. air dan ruang angkasa…………. Perumusan UUPA 1960 jelas mencerminkan jarak pandang beliau-beliau sudah lebih jauh dari pengertian agraria dalam arti pertanian semata-mata. luas kepemilikan. menghilangkan penindasan manusia atas manusia 3. Aspek Psikologis: Meningkatkan ketahanan keluarga yang akan meningkatkan motivasi keluarga untuk bertani. Di dalam Land reform dilakukan perombakan cepat dalam 2 hal yaitu (a) Penyakapan tanah yakni hubungan dan kesepakatan antara pemilik dan penggarap tanah. Hal ini dikarenakan tanah sebagai faktor utama yang bisa mewadahi sumber-sumber agraria lainnya. terutama keluarga tani Memang dalam pelaksanaannya seringkali reforma agraria diimplementasikan secara sempit sebagai land reform (redistribusi kepemilikan. dalam seri diskusi tentang UUPA 1960 di sekretariat FSPI Tuma 1965:221 dalam GWR 2005 11 Gunawan Wiradi. Sementara itu. 4.

selain mencakup beragam objek agraria. sehingga kehutanan. dan tata ruang hanyalah istilah baru untuk unsur-unsur lama yang belum dipilah-pilah dan sudah termasuk dalam UUPA 1960.ayat 3. dan ruang angkasa” mencakup segala kekayaan yang ada dibawah dan diatasnya (baca Pasal I ayat I s/d 5). pertambangan. Insentif dan Proteksi Alat Produksi: Tanah Air Benih Iklim Budaya Pasca Produksi: Pasar 12 MT. jurnal 9 April 2004. lingkungan. sosial. yang berbunyi. irigasi. jalan. kekayaan dibawah sungai dan laut serta lingkungan sudah tercakup. Unsur subjek dalam hal ini menunjuk pada manusia yang menguasai dan memanfaatkan bumi dan segala isinya atau secara spesifik objek agraria12. air. dalam Harga analisis social “Pembaruan agrarian: antara negara dan pasar”. Felix S. Akatiga. jembatan. tetapi merupakan basis teraihnya kuasa-kuasa ekonomi. Dengan kata lain objek-objek agraria bukan sekedar berbentuk asset. pengertian agraria juga mencakup unsur kehidupan sosial yang secara implisit merujuk kepada subjek agraria. listrik. “Bumi. Artinya istilah-istilah sumber daya alam (yang bias modal dan eksploitatif) .”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. vol. dll) 1 0 . Distribusi Pengolahan Proses Produksi: Permodalan Teknologi Koperasi Pendidikan/ Sekolah Sarana Prasarana (rumah sakit. dan politik. Secara singkat reforma agraria (terutama di pertanian) digambarkan berikut ini.

pemerintah daerah. Pernyataan tersebut sekaligus juga merupakan dampak dari perjuangan panjang kaum tani yang selama ini tiada henti mendesak pemerintah untuk segera melaksanakan pembaruan agraria. Dengan demikian penting mendudukan RUU pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Abadi dalam pelaksanaan reforma agraria itu seperti apa?. dan Menangani konflik-konflik agraria. dan organisasi masyarakat untuk mempercepat pelaksanaan pembaruan agraria. TNI dan Kepolisian serta tentunya masyarakat untuk menyukseskannya. maupun konflik-konflik agraria yang mungkin muncul akibat pelaksanaan pembaruan agraria (iii) (iv) Keterkaitan secara langsung dengan RUU Pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Abadi terdapat pada point ke-tiga diatas. lembaga swadaya masyarakat. Melaksanakan penataan struktur penguasaan. Menteri Pertanian. Yaitu mengenai penataan. yaitu: (i) (ii) Merumuskan strategi dan tata cara pelaksanaan pembaruan agraria.Mendudukkan Pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Abadi dalam reforma agraria Pernyataan pemerintah Indonesia di media massa bulan September 2006 mengenai rencana pelaksanaan reforma agraria merupakan perkembangan baru dalam politik agraria Indonesia. pemilikan dan penggunaan tanah serta sumber-sumber agraria lainnya. Pokok-pokoknya adalah perlunya suatu kelembagaan yang kuat dan lintas departemen yang melibatkan DPR RI. Dalam kajian-kajian dan diskusi yang dilaksnakan oleh kalangan organisasi tani. Kelembagaan itu paling tidak memiliki empat tugas utama. Karena tanpa pemahaman itu akan sulit mengkritisi RUU-nya. organisasi buruh dan masyarakat adat terdapat pemahaman tentang bagaimana melaksnakan reforma agraria. Memimpin dan mengkordinasikan departemen-departemen terkait dan badan-badan pemerintah lainnya. Dalam pernyataan kepada publik itu hadir Menteri Kehutanan. dan Kepala Badan Pertanahan Nasional. pemilikan 1 1 . baik warisan masa lalu.

Nasionalisasi terhadap industri dan perusahaan asing di lapangan agraria. Pencabutan HPH. 6.Adanya keseimbangan fungsi sosial. mencegah alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian.Pengakuan sistem tenurial masyarakat adat. Akan diatur secara umum beberapa hal konkrit yaitu. 12. dan sebagainya. Agar bisa terus maju. Namun hal tersebut hanya menyelesaikan satu persoalan dari kerangka yang besar sehingga tidak menukik perubahannya. konflik agraria yang kualitas dan kuantitasnya terus tetap. Bila tidak maka. bisa saja kegelisahan atas konversi lahan pertanian pangan ini di urus melalui RUU ini. Diadakannya program-program penunjang seperti pengairan. harapan besar ditumpukan bagi pelaksanaan reforma agraria di Indonesia semakin lama memudar. Sehingga terhindar dari masalah baru dimasa depan. maka tidak ada pilihan lain. Audit terhadap HGU dll 4. Pembatasan pemberian izin usaha skala besar dalam sekala wilayah danm waktu bagi HPH. 10. penyuluhan. HGU air. 1. HGU.pemulihan dan restitusi hak kelola rakyat khususnya bagi masyarakat adat yang tanahnya terampas pada masa lalu. HTI dan KKP yang tidak sesuai dengan UUPA 1960 5. 11. 16. 2. dan tumpang tindihnya kebijakan agraria maka RUU ini memiliki pilihan sulit untuk terus diproses. Ditengah ketimpangan struktur kepemilikan dan penguasaan agraria. legalisasi atas tanah-tanah yang telah diditribusi kepada rakyat. menjalankan mandat kontitusi UUD 1945 pasal 33 dan UUPA 1960. HGU air.mencegah ekploitasi dan eksplorasi lahan dan kekayaan alam lainnya secara berlebihan. Pembatasan kepemilikan lahan (batas maksimum dan batas minimum). HGU. perkreditan. 13. HTI dan Kontrak Karya Pertambangan (KKP) 3. 15. Redistribusi atau penyediaan tanah untuk rakyat miskin petani kecil. 8. Pada tahap itulah sebenarnya RUU ini berjalan (lihat point 13 dibawah). Karena kalau pendekatannya berjangka pendek maka.Adanya sistem bagi hasil yang adil untuk petani. mendorong terlaksananya reforma agraria sejati dan memasukkan konsep pengendalian lahan pertanian pangan itu didalamnya. pendidikan. ekonomi dan ekologis dalam penyusunan tata ruang.Mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan. buruh tani. 7. Artinya ada suatu upaya yang komprehensif untuk menindaklanjuti perubahan mendasar atas tumpang tindihnya kebijakan agraria yang berupa sektoralisme. Dikembangkannya industri pendukung pertanian dan pengolah hasil pertanian oleh koperasi rakyat yang didukung oleh perusahaan negara. pemasaran. Karena kenyataan sekarang sudah mulai 1 2 . Sehingga RUU ini harus didudukkan dalam kerangka itu. 9. 14.dan penggunaan lahan.

pemahaman yang tak seragam atas reforma agraria mencuat dengan berbagai kebijakan Menteri Pertanian yang jauh dari itu (misalnya tentang luasan perkebunan kelapa sawit). pendekatan represif terhadap petani. sudah banyak konflik agraria yang terus bermunculan bahkan menewaskan petani. konsep ketahanan pangan dan kedaulatan pangan tidak bisa disandingkan begitu saja mengingat sejarahnya yang berbeda. pertama ketika Kepala BPN sedang sibuk-sibuknya mengkaji. dan tiadanya sandaran pada UUPA 1960. 6 Oktober 2007 1 3 .meragukan rakyat tani. Achmad Ya’kub Jakarta. keterlibatan peran masyarakat-BUMN-dan swasta. Maka sebagai penutup penulis menegaskan dan belajar dari pengalaman beberapa tahun terakhir bahwa energi kita banyak diarahkan dan berkutat pada reformasi hukum agraria. Karena penulis yakin dalam pembahasannya RUU draft ke V ini telah mengalami banyak masukan yang mendalam mengenai hal disampaikan. namun tidak akan dibahas secara mendetail mengingat diperlukan saat ini adalah pemahaman substasial dan perspektif mengenai reforma agraria sesuai mandat UUD 1945 pasal 33 dan UUPA 1960 yang harus dikedepankan. dalam setahun ini sejak diumumkan akan dilaksanakan reforma agraria pada september 2006. pendekatan produktifitas. Mengapa demikian. Kelima. keberpihakan RUU ini kepada siapa. sudah jauh-jauh hari menteri kehutanan memberikan pernyataan bahwa hutan-hutan negara tidak bisa di alihkan begitu saja untuk kepentingan redistribusi lahan. pelaksanaan reforma agraria sesuai mandat UUPA 1960 rasanya masih jauh. Penutup Sebenarnya penulis memiliki beberapa catatan bagi RUU ini secara khusus. Keenam. Keempat. Kedua. Penulis bermaksud memberikan beberapa point penting yaitu mengenai. Selain alasan keterbatasan waktu. masyarakat adat dan urban kota dengan melibatkan Militer dan kepolisian dalam penanganan konflik agraria terus saja terjadi. kesepakatan Kepala BPN dan Kapolri mengenai permasalahan pertanahan justru kontra produktif dengan upaya-upaya pelaksanaan Reforma agraria. merencanakan dan memformulasikan pelaksanaan reforma agraria justru muncul RUU ini. keterjebakan sektoralisme. Ketiga. seharusnya energi positif itu diarahkan sebesarbesarnya bagi dijalankannya reforma agraria sesuai mandat UUPA 1960.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful