BAB II PEMBAHASAN

2.1. Bidang Kerja Lokasi Ketika melaksanakan prakerin di PT.Telkomsel pada departemen Tranmission and Mechanical Electrical Network Operation Jabodetabek,dalam hal ini yang di pelajari selama prakerin yaitu jaringan backbone di PT. Telkomsel Regional Jabodetabek.Dimana media transmisi yang digunakan dalam hal ini adalah serat optik dan radio.Dalam bidang kerja lokasi ini,saya mendapatkan ilmu dan pengalamaan baru.Beberapa pekerjaan yang dilakukan disana sebagai berikut:
2.1.1 Integrasi Kabel E-1 ( 2 Mbps )

Melakukan Integrasi kabel E-1 adalah suatu kegiatan penambahan jumlah kapasitas E-1 untuk user baru.Penambahan kapasitas ini disesuaikan dengan permintaan user.Tempat untuk melakukan integrasi ini yaitu pada Digital Distribution Frame ( DDF ) baik K-52 maupun K-57 sesuai port yang diminta.
2.1.2 Troubleshoot link Transmisi

Troubleshoot link Transmisi merupakan suatu kegiatan untuk mengatasi masalah yang terjadi pada perangkat.Biasanya gangguan lebih banyak terjadi pada kanal E-1 ( DDF ).Pada gangguan kanal E-1 kita dapatkan datanya dari MSC ataupun dari NMS. Data gangguan itu biasanya berupa AIS dan LOS yaitu diidentifikasikan bahwa gangguan itu berada pada sisi kita ( MSC A ) atau pada sisi lawan ( MSC B ).Langkah pertama untuk mengatasi gangguan ini adalah dengan mencari letak gangguan sebenarnya.Yaitu dengan melakukan loop, pertama
4

5

kita coba loop dari kanal MSC ke Tie Line Transmisi, lalu dikoordoinasikan kepada orang MSC yang memonitor di PC apakah kondisinya ok atau masih AIS atau LOS. Jika kondisi bagus, maka dicoba lagi dengan melakukan loop dari Tie Line transmisi ke DIU lalu koordinasi juga ke MSC. Jika kondisi masih ok juga coba kita lakukan loop lagi dari sisi kanal transmisi dan lakukan pula hal yang sama yaitu koordinasi dengan orang sentral. Rupanya lagi-lagi kondisi bagus berarti gangguan bukan terletak dari sisi MSC ke transmisi yang ada di MSC Apabila kondisinya seperti ini bisa diidentifikasikan bahwa gangguan berasal dari MSC lawan ( B ). Untuk penanganannya coba koordinasi dengan MSC lawan, biasanya dengan melakukan loop juga. Dimana kita bisa melihat kondisinya bagus melalui Bit Error rate ( BER test ). Setelah diketahui dimana gangguan itu timbulnya, maka sekarang lakukan perbaikan. Biasanya gangguan itu bisa disebabkan karena Tie Line yang kurang baik atau integrasi awal yang kurang kencang. Maka penanganan gangguan dapat dilakukan dengan pemindahan kanal E1 atau lakukan integrasi ulang. Sedangkan untuk gangguan perangkat multipleks sendiri, biasanya dilakukan loop juga. Namun loopnya bisa dilakukan dengan loop secara software.Ada dua loop yang bisa dilakukan, yaitu ”in loop dan out loop”. Setelah melakukan loop lalu koordinasi dengan MSC lawan. 2.1.3 Cut Over Cut Over adalah suatu kegiatan pemindahan jalur digital (

Kabel E-1 ) dari DDF ( K-52 dan K-57 ) yang lama ke DDF yang baru.Hal ini disebabkan karena perangkat yang terhubung dengan DDF sering mengalami kerusakan dan manajemen fisik.Selain itu, karena pemindahan pada media transmisi yang digunakan oleh perangkat.

Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010

6

2.1.4

Mengecek RSL SDH NERA Receive Signal Level ( RSL ) adalah besarnya nilai level yang

diterima oleh perangkat dari signal yang kirim oleh transmitter.Jadi mengecek RSL SDH NERA merupakan tindakan maintenance terhadap perangkat SDH NERA dengan melihat besarnya RSL yang diterima.Jika nilai RSL terlalu tinggi ataupun terlalu rendah maka akan muncul alarm pada monitor.Kegiatan ini dilakukan setiap hari karena perangkat rentan dari gangguan maupun kerusakan, meskipun maintenance telah dijalankan rutin tapi gangguan akan tetap terjadi.

Gambar 2.1 Mengecek RSL SDH NERA

2.1.5

Troubleshoot Pada Power Hopper Troubleshoot pada power hopper ini merupakan kegiatan yang

dilakukan berdasarkan pada alarm yang diberitahukan oleh NMS Vario Manager.Alarm yang sering muncul pada NMS tersebut adalah DRWR,ODU,CBL,LPBK,dan Radio.Tindakan penangganan yang dilakukan juga berbeda berdasarkan alarm yang muncul.Sebab masingKompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010

Dengan adanya crossconnect apabila suatu site mengalami masalah maka trafik dialihkan ke site yang masih berfungsi dalam suatu jaringan. Crossconnect pada Tellabs merupakan suatu kegiatan untuk menghubungkan sinyal 2 Mbps dari site A ke Site B. Gambar 2.1.2 Alarm Pada Power Hopper 2.7 masing alarm menimbulkan masalah yang berbeda pada link transmisi radio yang digunakan.7 Re-engineering Link Power Hopper Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .1. 2.Dimana dalam melakukan crossconnect harus selalu dilakukan protek untuk memproteksi trafik jika terjadi masalah agar trafik tetap berjalan dengan menggunakan media fisik berupa kabel patch cord yang dihubungkan ke power hopper dari 2 sisi yang berlawanan maupun melalui software agar jaringan tersebut bisa membentuk proteksi baik topologi ring maupun linier.6 Crossconnect Pada Tellabs Suatu jaringan transimisi baik optik maupun radio memerlukan proteksi terhadap perangkat untuk menjaga trafik agar tetap berjalan.

Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara.2.Pada transmisi radio kita harus memindahkan sinyal informasi ke pita frekuensi yang akan di transmisikan. karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut ( seperti molekul udara ).8 Re-engineering link adalah melakukan setting kembali pada perangkat yang sudah ada agar perangkat tersebut kembali memiliki performa yang baik.melakukan Crossconect pada sinyal 2 Mbps dan menguji hasil re-engineering dengan melakukan loop local dan BER ( Bit Error Rate ) Test 2.Sasaran hasil re-engineering ulang secara umum ada tiga yaitu • Persiapan untuk peningkatan fungsional • Migrasi system • Memperbaiki keandalan Dalam pelaksanaan re-engineering link Power Hopper ada beberapa tahapan yaitu menghubungkan Power Hopper dengan Tellabs.Untuk keperluan ini kita menggunakan Carrier Wave ( CW ) modulation. Teori Pendukung 2.1 Konsep Dasar Radio Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik ( gelombang elektromagnetik ).Tujuan utama dari modulasi CW adalah unutk menghasilkan termodulasi yang sesuai dengan karakteristik kanal transmisi yang akan digunakan Modulasi diperlukan Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .2.Dalam pelaksanaan ini tanpa menambah kapasitas link namun hanya memperbaiki performa perangkat agar kembali baik.

Transmitter Modulato r Receiver Channel Transmisi Demodulato r Message Carrier Wave Message Gambar 2. Pada Gambar 2.2 Propagasi Gelombang Radio Definisi dari propagasi gelombang adalah perambatan gelombang pada media perambatan.2.4 merupakan gambaran singkat tentang propagasi gelombang. Media perambatan atau biasa juga disebut saluran transmisi gelombang dapat berupa fisik yaitu sepasang kawat konduktor.suara. Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .9 dalam sistem transmisi untuk memindahkan sinyal informasi yang dapat berupa data. kedalam frekuensi radio tinggi yang beroperasi melalui kanal radio.gambar atau perpaduan diantaranya.3 Blok Diagram Transmisi Radio 2. kabel koaksial dan berupa non fisik yaitu gelombang radio atau sinar laser.

dimana kecepatan gelombang bergantung pada media. cahaya tampak ( visible light ).2.4 Propagasi Gelombang Gelombang radio termasuk keluarga radiasi elektromagnetik meliputi infra merah ( radiasi panas ). Nilai panjang gelombang λ berhubungan dengan frekuensi f dan kecepatan gelombang v.Gelombang elektromagnetik berasal dari interaksi antara medan listrik dan medan magnet. Untuk itu radius bumi diubah disesuaikan demikian hingga kelengkungan relatif antara gelombang dan bumi tetap seperti yang ditunjukkan Gambar 2. Pada kondisi atmosfir normal. Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .10 Gambar 2. ( λ= v / f dimana : v= c (ruang bebas)= 3 x 108 m s-1 2. dan panjang gelombang.5 Radius kelengkungan bumi yang telah disesuaikan dengan perbandingan antara radius efektif bumi dan radius bumi yang sesungguhnya disebut dengan faktor K.3 Pembiasan (Refraction) oleh Atmosfir Bumi Pada atmosfir bumi terjadi pembiasan gelombang sekitar 18 km dari permukaan bumi di daerah khatulistiwa dan sampai sekitar 8 dan 11 km di daerah kutub selatan dan utara. Dalam kasus ini medianya adalah ruang bebas free space/vacuum). ultraviolet. dalam perhitungan radius bumi ekuivalen biasanya digunakan K = 4/3. sinar-X.

11 Gambar 2. diantaranya adalah: Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .2. Selain dua keuntungan tersebut. Secara bersama-sama.5 Radius efektif bumi 2. Hirarki multiplexing SDH dapat dilihat pada gambar 2. Dalam dunia telekomunikasi.6 Gambar 2.6 Multiplexing SDH SDH memiliki dua keuntungan pokok yaitu fleksibilitas yang demikian tinggi dalam hal konfigurasi kanal pada simpul-simpul jaringan dan meningkatkan kemampuan manajemen jaringan baik untuk payload traffic-nya maupun elemen-elemen jaringan. sejumlah multiplexing sinyalsinyal dalam transmisi menimbulkan masalah dalam hal pencabangan dan penyisipan (add/drop) yang tidak mudah serta keterbatasan untuk memonitor dan mengendalikan jaringan transmisinya.4 SDH ( Synchronous Digital Hierarchy ) A. SDH juga memiliki beberapa keuntungan lainnya . Pengertian SDH SDH atau Synchronous Digital Hierarchy merupakan hirarki multiplexing yang berbasis pada transmisi sinkron yang telah ditetapkan oleh ITU-T. kondisi ini akan memungkinkan jaringannya untuk dikembangkan dari struktur transport yang bersifat pasif pada PDH ke dalam jaringan lain yang secara aktif mentransportasikan dan mengatur informasi.

520 Mbps (155 Mbps) 622. sangat dibutuhkan dalam lingkup yang kompetitif sekarang ini bagi perusahaan-perusahaan penyedia layanan telekomunikasi.488. Akses yang fleksibel.Bit rate atau kecepatan transmisi untuk level STM-N yang lebih tinggi juga telah distandarisasi sebagai kelipatan bulat (1.1 Standar Frame dan Kecepatan SDH 1.520 Mbit/s (155 Mbps). Struktur Frame SDH Struktur frame terendah yang didefinisikan dalam standar SDH adalah STM-1 (Synchronous Transport Module level 1) dengan laju bit 155. c. 16 dan 64) dari N x 155.080 Mbps (622 Mbps) 2. Devinisi Container Setiap sinyal tributary akan disusun ke dalam suatu container terlebih dahulu sebelum ditransmisikan dalam struktur frame STM-1.280 Mbps (10 Gbps) Tabel 2. Standar Frame STM – 1 STM – 4 STM – 16 STM – 64 Standar Kecepatan 155. B. Provisi yang cepat. e. 4. d.12 a. Standar SDH juga membantu kreasi struktur jaringan yang terbuka.320 Mbps (2.Pengertian Container adalah Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . seperti yang terdapat pada Tabel1. yakni pengarahan ulang (rerouting) lalu lintas komunikasi secara otomatis tanpa interupsi layanan.520 Mbps. b. Self-healing. Kemampuan memberikan informasi (detail alarm) dalam menganalisis masalah yang terjadi pada sistem.5 Gbps) 9.953. manajemen yang fleksibel dari berbagai lebarpita tetap ke tempat-tempat pelanggan.Ini berarti STM-1 terdiri dari 2430 byte dengan durasi frame 125μ s.

Setiap container mempunyai selang waktu 125 µS Jenis container adalah sebagai berikut : Symbol C-11 C-12 C-2 C-3 C-4 Untuk mentransmisikan sinyal 1544 Kbit/s 2048 Kbit/s 6312 Kbit/s 34368 Kbit/s 139264 Kbit/s Tabel 2.Kapasitas transmisi dari container selalu lebih besar dari kapasitas sinyal tributary ( PDH ) sehingga dalam proses pengepakan ( mapping ) digunakan teknik stuffing. bit-bit ini dapat berisi informasi atau bit-bit kosong tergantung kebutuhan. d.Fixed Stuff Bytes/bits Yaitu byte-byte atau bit-bit yang hanya dipakai untuk memenuhi satu container yang sifatnya tetap ( Fixed stuff ) dan tidak berisi informasi. Besarnya container diberikan dalam byte.Bytebyte atau bit-bit ini berfungsi untuk menyesuaikan bitrate dari sinyal PDH kedalam bitrate dari container c.Justification control bits Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . Sinyal sinyal tributary akan dipak kedalam salah satu container tersebut dan selanjutnya akan ditempatkan kedalam frame STM-1.Justification opportunity bits Yaitu bit-bit yang dipergunakan untuk penyesuaian yang lebih akurat.13 suatu kapasitas transmisi yang besarnya sudah ditentukan yang digunakan untuk keperluan transmisi sinyal tributary kedalam jaringan sinkron.Blok informasi ( misalnya sinyal PDH ) b.2 Jenis Container. Jadi container berisi : a.

yaitu VC orde rendah ( Low order VC/ LO-VC ) dan VC orde tinggi ( High order VC/ HOVC ). A. Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 didalam AU. Bagian dari frame STM-1 dimana posisi HO-VC bersifat fleksibel dinamakan AU. Virtual Container Setiap container akan diberi byte-byte tambahan untuk keperluan pengawasan container didalam suatu path ( Path overead ). Gabungan container dengan POH nya dinamakan Virtual Container ( VC ).VC yang harus disusun lagi ketingkat yang lebih tinggi termasuk dalam LO-VC sedangkan VC yang langsung disusun kedalam frame STM-1 termasuk HO-V. AU-PTR menunjukkan posisi HO-VC sendiri merupakan bagian dari frame STM-1.14 Yaitu bit-bit pengontrol stuffing untuk memberitahu penerima apakah justification opportunity bits berisi informasi atau hanya bit-bit stuffing. Dalam frame STM-1 bisa terdapat 1 x AU-4 atau 3 x AU-3. Virtual Container dibedakan menjadi dua tingkatan. Ada dua jenis AU yaitu AU-4 dan AU-3. VC merupakan struktur informasi yang tidak berubah selama transmisinya didalam suatu path tertentu. AU merupakan struktur informasi yang memberikan fungsi adaptasi antara higher order path layer dan multiplex section layer. 2. Didalam POH terdapat byte-byte yang fungsinya memonitor dan mengendalikan container yang bersangkutan selama proses transmisi sinyal dari pengirim ke penerima.Penempatan VC-3 bisa langsung kedalam frame STM-1 melalui AU-3 atau secara tidak langsung melalui AU-4 dimana 3 buah VC-3 disusun kedalam satu VC-4.Administrative Unit (AU) Virtual Container yang masuk kategori HO-VC ( VC-3 dan VC-4 ) akan langsung dususun kedalam frame STM-1. sedangkan AU . VC mensupport hubungan pada path layer. Didalam frame STM-1 terdapat blok pointer ( Blok AU-PTR ) yang menunjukkan hubungan fasa ( posisi ) antara HO-VC dengan frame STM-1.

Tributary Unit Group ( TUG ) Sebelum digabungkan kedalam HO-VC . Isi dari TU adalah LO-VC ditambah/ plus pointernya ( TU-pointer ). Frame STM-1 terdiri dari 3 blok dasar yaitu a. Tributary Unit ( TU ) Semua VC kecuali VC-4 bisa digabungkan kedalam satu VC yang lebih besar.15 B. beberapa TU terlebih dahulu digabungkan menjadi satu ( multipleksing byte per byte ) dan dinamakan TUG. Blok Section Over Head ( SOH ) sebagai transport information Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .Kapasitas transmisi setiap bytenya adalah 64 Kbit/s. C.AUG bisa dikatakan STM-1 tanpa SOH. Struktur Frame STM-1 Frame STM-1 terdiri dari 2430 byte ( 270 kolom x 9 baris )yang bila digambarkan secara dua demensi terdiri dari 270 kolom dan 9 baris. TU sendiri merupakan bagian dari HO-VC.Satu AUG bisa terdiri 1 x AU-4 atau 3 x AU-3 a. TU-12. Interval waktu untuk setiap frame sebesar 125 µS (Microsecond) dengan Frekuensi frame sebesar 8 KHz.Posisi VC yang kecil ( LO-VC ) didalam VC yang lebih besar ( HOVC ) sifatnya fleksibel.Administrative Unit Group (AUG) Beberapa AU dapat disusun secara byte interlaved menjadi satu AUG. TU-2 dan TU-3 b. Untuk itu diperlukan pointer.Ada dua jenis TUG yaitu TUG-2 dan TUG-3.Terdapat 4 jenis TU yaitu TU-11.

kemudian baris kedua kolom kolom pertama sampai baris kedua kolom 270 ( terakhir ) dan seterusnya sampai baris terakhir kolom pertama sampai baris terakhir kolom 270 (terakhir) 1. misalnya kesalahan konfigurasi pada operator Melakukan fungsi maintenance Melakukan fungsi controlling • • • Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . Overhead Fungsi oeverhead secara umum adalah : • • Turut serta dalam proses pembentukan Frame Mengawasi proses transmisi sinyal informasi dari pengirim sampai penerima Memonitor terjadinya kesalahan. c. Blok Payload (sinyal isformasi) Blok Pointer (Initial adress of Payload) Gambar 2.16 b. dimulai baris pertama kolom pertama sampai baris pertama kolom 270 ( terakhir ).7 Frame STM-1 Byte-byte dalam frame STM-1 ditransmisikan baris perbaris.

Pointer Digunakan untuk mengindentifikasikan awal alamat dari informasi. Sistem Pemultipeksan Pada SDH Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . b.Dengan teknik pointer byte-byte informasi dapat diambil secra tepat melalui proses demultiplex.Dengan adanya pointer ini sangat memudahkan pengaturan jaringan secara tersentralisasi. 3. D. Path Overhead (POH) Path Overhead terletak pada VC ( Virtual Container ).17 Overhead ada 2 macam yaitu : a. merupakan POH untuk beberapa VC-12. Terletak pada baris ke 5 sampai 9 dan kolom ke 1 sampai 9.Hubungan fasa antara byte-byte informasi dan frame SDH ditunjukan dengan pointer. Section Overhead (SOH) Section Overhead terletak pada 9 kolom awal sebagai monitoring. error checking dan path status. Information Payload Berisikan sinyal-sinyal informasi/tributary yang berukuran 9x 261byte. • Multiplex Section Overhead (MSOH) berfungsi untuk memonitor multiplex section dari SDH. merupakan POH untuk VC-12 2. yaitu: • • High Order Path Overhead ( HPOH ). dan servis. Terletak pada baris ke 1 sampai 3 dan kolom ke 1 sampai 9. Berfungsi sebagai label VC . maintenance. yaitu: • Regeneration Section Overhead (RSOH) berfungsi untuk memonitor regeneration section dari SDH. Low Order Path Overhead ( LPOH ). Terbagi menjadi dua berdasarkan fungsinya. Terbagi menjadi 2 berdasarkan letaknya.

• Container Mapping AU-4 kedalam STM-1 VC-4 didesign untuk mentransmisikan sinyal 140 Mbit/s.Pointer tersebut menunjukkan byte pertama dari VC-3 POH • AUG dalam STM-1 AUG berukuran 9 X 261 + 9 byte . Gabungan AUG dan SOH membentuk frame STM-1.Satu VC-3 berisi satu C-3 container ( 9 x 84 byte ) ditambah satu kolom 9 byte ) VC-3 POH. Pengalamatan dilakukan oleh AU-4 PTR setiap 3 byte. Setiap AU-3 mempunyai 3 byte untuk pointer. Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . Dengan adanya AU-4 PTR maka posisi VC-4 didalam AU-4 bersifat flesibel. AU-4 berisi VC-4 plus AU-4-PTR ( Pointer ). Kapasitas VC-4 adalah satu container C-4 ( 9 x 260 byte ) ditambah 9 byte VC-4 POH. Kapasitas transmisi AU-3 ( 87 kolom ) lebih besar dari VC-3 ( 85 kolom ).3 x AU-3 akan digabungkan secara byte perbyte kedalam frame STM-1 . • AU-3 dalam STM-1 VC-3 didesign untuk mentransmisikan sinyal 34 Mbit/s atau 45 ( Mbit/s.Sehingga diperlukan 2 byte pengisi ( fixed stuff ) untuk penyesuaian.AU-4 PTR menunjukkan posisi byte pertama dari VC-4 POH.Dalam satu frame STM-1 bisa ditransmisikan 3 VC-3 melalui 3 x AU3. bisa berisi satu AU-4 atau 3 buah AU-3.18 1. Setiap VC-4 akan disusun kedalam frame AU-4.

untuk menyamakan kapasitas sinyal-sinyal PDH dengan kapasitas container. Didalam Container terdapat : a.maka mapping sinyal-sinyal PDH kedalam container selalu dilakukan dengan cara menambahkan bit-bit yang dibutuhkan. Susunan bit-bit didalam container adalah tetap sehingga dinamakan Mapping • Mapping sinyal 2 Mbit/s kedalam C-12 Karena kapasitas container dibuat lebih besar dari pada kapasitas sinyal- sinyal PDH. sedangan untuk penyesuaian secara detail digunakan bit-bit S.Bitrate Container selalu lebih besar daripada bitrate sinyal plesiokronnya. Lihat gambar berikut: Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .Bit Stuffing yang tetap ( R ) Stuffing bit (R) yang posisinya sudah tetap digunakan untuk penyesuaian secara kasar.Overhead bit ( O ) e. untuk mengontrol Stuffing d. yang bitratenya lebih besar melalui justifikasi bit per bit maupun byte per byte.Justification Control Bit ( C ).Bit S .8 Struktur Sinyal SDH 2. yang bisa dikontrol sebagai Stuffing Bit atau bit informasi c.Bit-bit informasi ( I ) b.19 Gambar 2. Mapping sinyal Plesiokron Sinyal Plesiokron dimasukkan kedalam container .

Proses ini berlaku untuk VC-12 dan VC-3.Konektor juga yang akan berfungsi untuk menjaga agar serat optik dalam kabel bisa terhubung dengan baik ke perangakt transmitter maupun Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .2. Lihat gambar berikut : Sinyal VC Tributary Unit ( TU ) Ditambah Bit-bit Pointer Gambar 2.20 Sinyal PDH Ditambahkan bit-bit Container (C) Cn Gambar 2.9 Mapping Sinyal PDH kedalam Container 3.5 Jenis Konektor Fiber Optik Konektor digunakan untuk menghubungkan perangkat jaringan dengan kabel fiber optik juga merupakan faktor yang sangat penting untuk lancarnya komunikasi. Proses Aligning • Aligning VC Kedalam Tributary Unit ( TU ) Proses aligning sinyal-sinyal virtual container ( VC ) kedalam Tributay Unit ( TU ) dilakukan dengan cara menambahkan bit-bit Pointer ( PTR ) kedalam sinya-sinyal VC.10 Aligning Sinyal VC Kedalam TU 2.

• Square Connector ( konektor SC ) Gambar 2.21 perangakt receiver tanpa ada gangguan dan masalah dalam hubungan.yaitu : • Fiber Connector ( konektor FC ) Gambar 2. • Lucent Connector ( konektor LC ) Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .12 Konektor SC Konektor SC digunakan untuk kabel single mode dan bisa dicopot pasang.11 Konektor FC Konektor FC digunakan untuk kabel single mode dengan akurasi yang sangat tinggi dalam menghubungkan kabel dengan perangkat.Ada beberapa konektor yang biasa atau sering digunakan.Konektor ini tidak terlalu mahal.simple dan dapat diatur secara manual akurasinya dengan perangkat.

Kompetensi Keahlian 2.konektor ini hampir sama seperti konektor SC. 2.3. Dalam pelaksanaannya.3.22 Gambar 2.tetapi pada konketor LC memiliki pengunci dibagian atasnya.1 Pengertian Re-engineering Link Re-engineering link adalah melakukan setting kembali pada perangkat yang sudah ada agar perangkat tersebut kembali memiliki performa yang baik.Dalam pelaksanaan ini tanpa menambah kapasitas link namun hanya memperbaiki performa perangkat agar kembali baik.kita harus mempersiapkan bahan dan alat yang akan kita bawa ke site yaitu sebagai berikut : • Patchord SC to LC Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .kita harus mengetahui link yang akan dilakukan re-engineering agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan crossconnect maka seorang teknisi harus mengetahui konfigurasi link dan pemakaian trafik dalam link.3. 2.13 Konektor LC Konektor LC juga di gunakan untuk kabel single mode.2 Persiapan Sebelum melakukan aktivasi .

14 Transceiver Tellabs dan Krone LSA Gambar 2.15 BER Test dan Patchcord SC to LC Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .23 • • • • • • Transceiver Tellabs Kabel UTP Tipe Cross Over Krone LSA BER Test Laptop Kabel E1 Gambar 2.

6.3. Rapikan tata letak kabel patch cord dengan memasukkan ujung yang lain pada inlet ( Rak kabel ).16 Kabel Cross Over dan Kabel E-1 UTP 2. 4. Buka karet pelindung pada IDM ( In Door Module ). Berikut langkah-langkah melakukan koneksi yaitu : 1.24 Gambar 2. Lalu masukkan kabel patch cord tipe SC ke IDM 3. 5. 2. Pastikan bahwa kabel patch cord tidak mengalami banding. Masukkan kabel patch cord tipe LC ke dalam SIMX pada Tellabs.3 Mengkoneksikan Power dengan Tellabs Hopper Proses koneksi ini merupakan menghubungkan perangkat radio Power Hopper ) dengan multiplexer ( Tellabs ). Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .Media ( untuk mengkoneksikan yaitu menggunakan kabel patch cord SC to LC yang menghubungkan kedua sisi perangkat. Masukkan Tranceiver Tellabs kedalam SIMX( SDH Interface and Cross-connection Module ).

Add NE ( Network Element ) Prima Harapan • Koneksikan Controller ) .Lalu masukan NE Name (BSC Prima Harapan) kemudian Next • Lalu masukan Area ( 490001 ) Node ID ( NSAP number yang ada diatas Port RJ45 BSC Prima Harapan NSAP ( Network Service Access Point ) Address : 00A082FA2CCC01) lalu klik Finish.17 Koneksi pada Power Hopper dan Koneksi pada Tellabs 2. • Kemudian Extended Craft Terminal akan seperti gambar dibawah ini: Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .3. laptop dengan Tellabs dengan kabel UTP (Unshielded Twisted Pair ) jenis cross over ke IDC (In Door • • Buka Software Tellabs 6300 Extended Craft Terminal Lalu klik Add NE .25 Gambar 2.4 Proses Crossconect 1+1 BSC Prima Harapan-BTS Perjuangan A.

• Berikut adalah perbedaan yang terlihat sebelum dan setelah di setting Traffic Management : Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .Yang bertujuan agar antara site A bisa berkomunikasi dengan site B ataupun memantau site lain. Tunggu beberapa saat kemudian klik Refresh. lalu checklist dihilangkan lagi dan klik apply.Setting Traffic Management Setelah NE sudah terdapat pada Extended Craft Terminal langkah selanjutnya melakukan setting traffic management untuk melakukan koneksi dengan site lain yang ini dituju.26 Gambar 2.18 Extended Craft Terminal Prima Harapan B.Berikut langkahnya : • • • • Double klik BSC Prima Harapan yang ada di Extended Craft Terminal Buka Element Management lalu click Traffic Management Klik STMN O 0001 lalu klik Attribute lalu checklist Enable Trail Trace Identifier ketik nama site ( BSC Prima Harapan ).

19 Sebelum di Setting Traffic Management Gambar 2.27 Gambar 2.20 Setelah di Setting Traffic Management Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .

Dalam 1 VC4 terdapat 3 TUG yaitu TUG 3-1.1=STM1 ke-2) TUG 3-1 b) [00-0-04 PIM1] di Crossconnect ke VC4 00X(0= STM1 ke- 1.Setting Crossconnect E1 Setelah Setting Traffic Management selesai maka kita baru dapat melakukan Setting Crossconnect untuk menghubungkan antar sinyal 2 Mbps dari site A ke Site B melaui software Tellabs 6300 Extended .1=STM1 ke-2) TUG 3-3 Penjelasan : • PIM ( PDH Interface Module ) PIM merupakan output dari Tellabs yang arahnya ke DDF.28 C.Dalam setting Crossconnect E1 kali ini menggunakan konfigurasi 1+1 yang artinya 1 STM-1 sebagai main sedangakan 1 STM-2 sebagai proteksi. Berikut adalah data yang akan di setting Crossconnect : a) [00-0-05 PIM1] di Crossconnect ke VC4 00X(0= STM1 ke- 1. Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .Hal ini di ambil karena lebih efektif menggunakan konfigurasi 1+1 dari pada konfigusi 2+0 sebab kepadatan traffic di daerah cakupan masih belum padat.TUG 3-2 dan TUG 3-3. • VC4 ( Virtual Container ) VC4 sama dengan 1 STM yaitu 63 E-1.Dalam setiap TUG3 memiliki kapsitas 21 E1 yang merupakan turunan dari VC4.1=STM1 ke-2) TUG 3-2 c) [00-0-02 PIM1] di Crossconnect ke VC4 00X(0= STM1 ke- 1. • TUG3 ( Tributary Unit Group ) Merupakan gabungan dari beberapa TU ( Tributary Unit ).Setiap PIM memiliki kapasitas 21 E1.VC4 merupakan output dari Power Hopper yang terhubung ke Tellabs.

21 Setting Crossconect • Sedangkan untuk [00-0-04 PIM1] yaitu Klik [00-0-04 PIM1] sebagai destination lalu tekan ctrl+klik TUG 3-2 ( pada VC4 000 ) sebagai source lalu tekan ctrl+klik protection.Berikut langkah-langkah setting Crossconect yaitu : • • • Double klik BSC Prima Harapan yang ada di extended Craft Terminal Buka Element Management lalu click Traffic Management. Klik [00-0-05 PIM1] sebagai destination lalu tekan ctrl+klik 3-1 ( pada VC4 000 ) sebagai source lalu tekan ctrl+klik pada VC4 001 ) sebagai protection. TUG 3-2 ( pada VC4 001 ) sebagai • Kemudian klik Crossconnect & klik connect. Klik OK. Klik OK. TUG TUG 3-1 ( • • kemudian klik crossconnect & klik connect. • Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . Gambar 2.29 Setelah kita mengetahui tujuan dan konfigurasi apa yang akan digunakan maka tahap selanjutnya yaitu setting Crossconect E1 dari sisi BSC Prima Harapan ke BTS Perjuangan dan sebaliknya.

30 • Dan untuk [00-0-02 PIM1] mengikuti cara dan konfigurasi di atas.apakah sinyal yang dikirim oleh transmitter bisa di terima oleh receiver. Gambar 2.Uji kelurusan itu sendiri dengan melakukan BER test pada DDF kemudian di loop local dengan software untuk mengetahui apakah sinyal yang dikirim tembus ke sisi lawan.3.4 Menguji Hasil Re-engineering (Check E1 dgn BER Test) Tahap terakhir dalam melakukan Re-engineering yaitu dengan uji kelurusan. Konfigurasi E1 : [00-0-05] PIM1 Card E1 21 ke -1 ( E1 1-21 ) [00-0-04] PIM1 Card E1 21 ke -2 ( E1 22-42 ) [00-0-02] PIM1 Card E1 21 ke -3 ( E1 43-63 ) Berikut langkah untuk melakukan uji kelurusan link yaitu : Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .22 Hasil Setting Crossconect 2.

31 • • • • Double klik BSC Prima Harapan yang ada di extended Craft Terminal Buka Element Management lalu click Traffic Management. Lalu pasang kabel E1 tersebut ke port DDF yang akan di ukur. Jika pada saat diloop dengan software dan BER test menunjukkan alarm P-AIS maka terjadi putus pada sisi kita ( Gambar 2.Hal yang mesti dilakukan yaitu mengecek kemungkinan kesalahan dalam mengkoneksikan pada port DDF yang di sebabkan susunan DDF yang Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 . Lihat monitor yang muncul pada BER test jika bagus atau lurus maka akan muncul OK pada monitor ( Gambar 2. Gambar 2.22 ). Klik [00-0-05] PIM1 (21E1 pertama) lalu klik 2 Mbit/s 001 (E1 ke-1 dari 21E1 pertama) Klik Attribute lalu lihat pada kolom physical layer ubah pada kolom loopback dari off menjadi line lalu klik OK. Jika terjadi masalah maka akan muncul alarm pada monitor.23 Loop Local pada Software Tellabs • • • • Setelah di loop dengan software siapkan BER test yang telah terpasang dengan kabel E1 lalu hidupkan.21 ).

Gambar 2.32 tidak urut maka kita harus mencoba melakukan loop fisik pada setiap port DDF dalam satu rack. Sedangkan cara lain untuk mengatasi alarm P-AIS yaitu mengecek integrasi pada port DDF mungkin kurang kencang. Jika sudah ketemu port yang tertukar maka label port agar mudah untuk diidentifikasi.Untuk menyelesaikannya maka integrasi ulang ataupun pindah port. Dalam melakukan loop harus satu persatu agar mengetahui susunan yang sebenarnya pada port DDF.24 Tampilan pada BER test jika kondisi bagus Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .

33 Gambar 2.25 Tampilan pada BER test jika kondisi tidak bagus Kompetensi Keahlian Teknik Transmisi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful