Realisasi Kesantunan Berbahasa Di Lingkungan Terminal Senen Jakarta Pusat

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL SENEN JAKARTA PUSAT BAB 1 PENDAHULUAN Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

1.1. Latar Belakang

Mendengar kata pedagang asongan, supir, kondektur, dan calo mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Pedagang asongan adalah para pedagang yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar terminal dan di dalam bus-bus. Mereka selalu berupaya untuk menarik pembeli agar membeli dagangannya, yang kadang juga suka terlihat sedikit memaksa. Supir adalah para pengemudi bus atau angkot yang selalu terlihat di lingkungan terminal. Kondektur adalah orang yang membantu supir untuk menarik penumpang ke dalam angkot atau bus, sedangkan calo adalah perantara atau reseller. Kata calo kadang bersifat negatif karena apa yang calo lakukan adalah menggunakan kesempitan orang menjadi suatu kesempatan. Calo juga identik dengan preman atau penguasa daerah tertentu yang sudah menjadi objek pencariannya. Di lingkungan terminal, kita terkadang sering mendengar pembicaraan yang diucapkan oleh pedagang asongan, supir, kondektur, dan calo yang sering mengucapkan kata-kata kasar. Penulis sendiri pernah melihat bagaimana para supir angkot atau bus dengan wajah ‘terpaksa’ memberi sejumlah persenan kepada calo. Mungkin bagi sebagian orang hal yang dilakukan calo itu biasa saja, sehingga mereka pantas menerima sejumlah uang. Lalu apa yang akan terjadi jika para supir dan kondektur tersebut tidak memberikan uang yang tidak sesuai dengan keinginan calo. Yang terjadi selanjutnya adalah teriakan kata-kata makian atau kata-kata kasar (sarkasme) yang keluar dari mulut calo tersebut kepada supir dan kondektur. Sarkasme yang keluar dari mulut calocalo itu biasanya adalah nama-nama binatang dan jenis kelamin seseorang seperti ‘anjing’, ‘monyet’, ‘babi’, dan sebagainya. Jika supir tidak menerima perkataan yang dilontarkan calo kadang-kadang mereka pun membalas dengan makian yang lebih kasar, sehingga sering terjadi “adu mulut” antara calo, supir, dan kondektur. Hal ini juga sering diikuti oleh pedagang asongan yang sering menambah suasana menjadi ricuh. Salah satu fenomena kebahasaan yang penulis dapatkan adalah tuturan yang diucapkan oleh salah satu calo dan supir angkot di Terminal Senen : Supir : “Yeuh duitna, dua rebu nya?” Calo : “ Anjing maneh mah ngan sakieu!” Supir : “ Terus mentana sabaraha? Urang ge can nyetor, teu boga duit sia!” Calo : “ Mbung nyaho aing mah, sarebu deui atuh!” Supir : “ Lebok tah duitna, blegug maneh mah!” Calo : “Eh…dasar supir monyet”.

Penulis akan meneliti fenomena kebahasaan yang terjadi pada tiga bahasa. tapi kadang juga tidak berpengaruh karena itu sudah menjadi hal yang lumrah untuk keduanya. atau solidaritas nasional.Fenomena kebahasaan di atas adalah penggalan beberapa kalimat realisasi kesantunan berbahasa yang diucapkan oleh calo dan supir angkot di Terminal Senen Jakarta Pusat. yaitu bahasa Sunda. bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (Halliday 1973. tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Svarvik (1972). Grenbaum. penggunaan bahasanya. yaitu fungsi menjadi hubungan. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah. Setiap peserta tindak ucap bertanggung . Berbahasa adalah aktivitas sosial. pendidikan. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Maksudnya. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan bicaranya. sarkasme adalah gaya sindiran terkasar. Finnocchiaro 1974. maka bahasa itu berfungsi direktif. yaitu mengatur tingkah laku pendengar (Finnocchiaro 1974. mengikuti Quirk. Leech. si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. marah. Sarkasme itu sendiri kadang bisa memancing kemarahan orang yang dituju. Biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa. Apabila dibandingkan dengan ironi dan sinisme. tetapi juga karena interaksi sosial yang mereka lakukan beragam. atau gembira. permintaan maupun rayuan. Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra Dilihat dari sudut penuturnya. Seperti aktivitas sosial lainnya. pembicara dan lawan bicara sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya. Jakobson 1960 menyebutkan fungsi emotif). Banyak hal yang membuat kata-kata kasar keluar dari pemakainya. Sarkasme adalah sejenis majas yang mengandung mengolok-olok atau sindiran pedas dengan menyakiti hati (Purwadarminta dalam Tarigan. Finnocchiaro 1974 menyebutkan interpersonal. ragam dapat diperinci menurut patokan daerah. dan bahasa Indonesia. dan sikap penutur. ditinjau dari sudut pandangan penuturnya. memelihara. bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sangat beragam. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih. tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. dan Jakobson 1960 menyebutkan fungsi retorikal). Memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan di telinga. maka sarkasme ini lebih kasar. Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara. Dalam masyarakat. Menurut Moeliono (1980:17). kegiatan bahasa bisa terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. imbauan. 1990:92). dan Halliday 1973 menyebutkan interactional). bahasa Jawa . Halliday 1973 menyebutkan fungsi instrumental. memperlihatkan perasaan bersahabat. Disini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu. Bila dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa disini berfungsi fatik (Jakobson 1960. Menurut Badudu (1975:78). Di dalam berbicara.

2. dan di dalam etika komunikasi itu sendiri terdapat moral. Poedjowijatna (1986). Sarkasisasi tersebut justru menjadikan keakraban tanpa sekat strata. Suparno menjelaskan dalam artikelnya. 2004:28). mudah marah. baik berupa mengolok-olok atau sindiran yang menyakitkan hati. Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra Fenomena kebahasaan ini tentu saja menarik untuk diteliti karena dapat menambah wawasan keilmuan linguistik saat ini. maka penulis tertarik untuk menelitinya. secara sederhana Prof. supir. Seperti tuturan yang diucapkan oleh calo. dan kondektur banyak yang tidak santun. Di dalam berbahasa juga terdapat etika komunikasi. Etika juga bisa diartikan sebagai ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia. Misalnya. . Penulis memilih analisis kesantunan berbahasa pada tuturan orang-orang penghuni terminal berdasarkan pertimbangan bahwa. Dengan demikian. budi pekerti dan akhlak (Burhanudin Salam. 2. Moral mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan yang memuat ajaran tentang baik dan buruknya perbuatan. 2001:102). susila. 2001:102). I. bahasa yang diucapkan oleh calo. bahwa ragam bahasa yang tidak santun ini menjadi hal yang lazim diucapkan. dan kondektur tidak mengandung unsur kesantunan berbahasa. supir. pedagang asongan. Jadi. katakatanya kasar. Etika sendiri juga sering digunakan dengan kata moral. 1. Identifikasi Masalah Hal-hal yang diidentifikasi dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra 1. karena penelitian mengenai kesantunan berbahasa ini masih jarang dilakukan. R. perbuatan itu dinilai sebagai perbuatan yang baik atau buruk (Burhanudin Salam. dapat disimpulkan bahwa realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal banyak yang tidak mengandung etika. dan kondektur. mengatakan bahwa sasaran etika khusus kepada tindakan-tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja. pedagang asongan. supir. Sementara itu. tidak akan pernah lepas dengan adanya pola berbahasa yang diucapkan kasar. Baik kalangan yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan. ragam bahasa yang kasar kerap kali menjadi instrumen komunikasi dalam pergaulan sebagian masyarakat Indonesia.jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi sosial itu (Alan dalam Wijana. dan bersifat memaksa saat meminta uang karena mereka merasa penguasa tempat tersebut. mana yang dinilai baik dan mana yang jahat. wujud ragam bahasa yang dipakai oleh calo. pedagang asongan. Dalam berkomunikasi. sehingga mereka yang menggunakan ragam bahasa tersebut dapat menikmatinya dengan senang dan bangga hati.

Tujuan 1. dan kondektur. . Batasan Masalah . dan kondektur? 4. pedagang asongan. dan kondektur. pedagang asongan. 1. ragam bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan oleh calo. pedagang asongan. tuturan calo. 2. 4. 1. 3. 1. pedagang asongan. supir. Bagaimana realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal? 2. pedagang asongan. penyimpangan-penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo. supir. pedagang asongan. Tujuan penelitian ini adalah 5. 4. pedagang asongan.3. untuk mencari tahu ragam bahasa yang digunakan oleh calo. mengetahui persepsi penyimak bahasa di luar lingkungan terminal terhadap kesantunan berbahasa calo. Untuk kajian linguistik. Apa sajakah wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo. supir. supir. Bagaimana penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo. pedagang asongan. 2. supir. supir. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini hanya terbatas pada hal-hal sebagai berikut: 1. dan kondektur dan. mendeskripsikan kesantunan berbahasa oleh calo. 4. pedagang asongan. pedagang asongan. dan kondektur di terminal angkot/bus. dan kondektur di lingkungan terminal dan. 6. 3. 1. hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya data tentang penelitian bahasa-bahasa kasar. mendeskripsikan penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo. supir. supir. Bagaimana persepsi penyimak bahasa yang berasal dari luar lingkungan terminal terhadap realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal? 1. supir. dan kondektur di lingkungan terminal. dan kondektur? 3. 3. penyimpangan-penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo. dan kondektur di lingkungan terminal. Rumusan Masalah: 1. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut. supir. dan kondektur yang tidak mengandung kesantunan. dan kondektur. ragam bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan oleh calo. supir. pedagang asongan.

BAB II Dapatkan bab ini setelah anda download. 3. dan kondektur. Metode Penelitian Latar belakang dan masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah masalahmasalah faktual. 2. Maksudnya. Istilah deskriptif itu menyarankan bahwa penelitian yag dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya. penulis juga mengumpulkan fakta-fakta mengenai respons para penutur bahasa Indonesia yang tidak menggunakan tuturan sarkasme yang diucapkan oleh calo. dan kondektur di lingkungan terminal. Selanjutnya. pedagang asongan. hal itu merupakan cirinya yang pertama dan terutama (Sudaryanto : 1992:62). supir. Dalam hal ini penulis membuat deskripsi tentang bagaimana tuturan yang digunakan oleh calo. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendokumetasikan nilai-nilai kesantunan yang dituturkan di lingkungan terminal. supir. pedagang asongan. Metode penelitian deskriptif kualitatif dipilih karena penulis mengidentifikasi serta mendeskripsikan masalah-masalah yang berkenaan dengan tuturan yang tidak santun dan respons penutur melalui wawancara. pedagang asongan. supir. penulis memperoleh data bagaimana persepsi yang muncul dari para penutur bahasa Indonesia ketika menerima tuturan yang tidak santun. dari kedua fakta tersebut di atas dapat diperoleh persepsi yang muncul dari penutur bahasa Indonesia ketika menerima suatu tuturan sarkasme calo. 1.2. dikarenakan banyak pembahasan. Data yang dihasilkannya berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang termasuk kategori sarkasme yang diucapkan oleh calo. Teknik Penelitian . maka dari itu saya memudahkan anda untuk mendownloadnya BAB III METODE DAN TEKNIK PENELITIAN Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra 3. pedagang asongan. Dengan demikian. Bahwa perian yang deskriptif itu tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaaan bahasa oleh penutur-penuturnya. sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya seperti potret: paparan seperti adanya. supir dan kondektur tersebut. dan kondektur. Selain itu. masalah kesantunan berbahasa adalah masalah yang sedang dihadapi oleh pemakai bahasa Indonesia sekarang.

penulis juga mewawancarai penutur bahasa yang bertutur kata sopan dan santun sehingga akan diketahui persepsi penyimak bahasa terhadap realisasi kesantunan berbahasa yang berasal dari luar lingkungan terminal. sehingga penulis akan mendapatkan data mengenai realisasi kesantunan berbahasa yang ada di lingkungan terminal. Setelah itu.3. supir. Teknik Wawancara setelah hasilnya ditranskripsi selanjutnya dengan mewawancarai calo. pedagang asongan. BAB IV ANALISIS DATA TUTURAN LANGSUNG BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL DAN RESPONS PARA PENUTUR BAHASA INDONESIA SERTA PEMBAHASAN Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra 4. kemudian melakukan wawancara kepada calo. pedagang asongan. Melalui teknik ini kita akan mendapatkan data tentang penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo. Selanjutnya. Selain itu. Teknik Catat hasil dari proses rekaman tuturan tersebut kemudian ditranskripsi beserta konteks yang dituturkan oleh calo. khususnya Terminal Senen Jakarta Pusat. dengan teknik rekam penulis merekam kejadian faktual di lapangan. teknik rekam. pedagang asongan. dan kondektur. pedagang asongan. supir. pedagang asongan. Selanjutnya. 1. Terakhir langkah dilakukan dengan teknik catat. dan kondektur di Terminal Senen Jakarta Pusat. dan kondektur dengan melakukan wawancara berstruktur untuk mendapatkan informasi yang relevan. selanjutnya mengobservasi situasi dan keadaan lingkungan terminal. 2. dan kondektur yang ada di lingkungan terminal. wawancara. supir. pedagang asongan. supir. dan kondektur. supir. Pengantar Pada bab ini akan dibahas bagaimana tuturan langsung dan pelanggaran prinsip . pedagang asongan. dan teknik catat. akan didapatkan data tentang wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo. dan kondektur. dan kondektur di lingkungan terminal. 4. Teknik Rekam Penulis meminta bantuan kepada teman yang berada di Jakarta Pusat menggunakan telepon genggam atau handphone untuk merekam tuturan yang diucapkan oleh calo. 2. Penulis terlebih dahulu mengobservasi dengan mengamati situasi dan keadaan lingkungan. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi. 3. supir. Teknik Observasi setelah data tertulis didapat. 1. proses pengumpulan data sebagai berikut: 1. yaitu mencatat semua kejadian dari tuturan calo. supir.

tetapi seringkali pula berhubungan dengan persoalan yang bersifat interpersonal. dan supir ditinjau dari kesantunan berbahasa. 1. pedagang asongan. supir dan kondektur yang melanggar prinsip sopan santun (Leech). Untuk itu dalam bab 4 ini penulis akan menganalisis tuturan kasar yang diucapkan oleh calo. Banyak hal yang menjadi penyebab mengapa orang-orang di terminal menuturkan tuturan kasar tersebut. supir. kondektur. maksim penerimaan. yaitu daerah Terminal Senen Jakarta Pusat. kecakapan dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah. 2. bijaksana diartikan sebagai sifat yang selalu menggunakan akal budi. Kartu data untuk menganalisis tuturan-tuturan yang terjadi di lingkungan terminal. Pelanggaran Maksim Kebijaksanaan Bijaksana adalah suatu sifat atau karakter. pedagang asongan. pedagang asongan. dan supir angkot yang berada di lingkungan terminal. Tuntunan-tuntunan untuk bertutur bijaksana agar tercipta hubungan antara diri . dan asertif. Tuturan-tuturan yang diucapkan oleh orang-orang yang berada di lingkungan terminal terutama calo. Ujaran asertif adalah ujaran yang lazim digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan. pedagang asongan. maksim kerndahan hati. serta bagaimana respons penutur bahasa Indonesia terhadap kesantunan berbahasa dari hasil wawancara. Pada keenam maksim di atas terdapat bentuk ujaran yang digunakan untuk mengekspresikannya. maksim kecocokan dan maksim kesimpatian. hanyalah tuturan yang mengandung kategori ketidaksantunan berbahasa. pedagang asongan. maksim kemurahan. Ujaran ekspresif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan sikap psikologis pembicara terhadap sesuatu keadaan. Selama beberapa hari penulis mengamati kejadian yang ada di lingkungan terminal tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).kesopanan yang diucapkan oleh calo. 4. adil. Prinsip Kesantunan memiliki sejumlah maksim. arif. supir dan kondektur. yakni maksim kebijaksanaan. sangat tidak enak didengar. Tuturan yang dianalisis hanyalah tuturan yang melanggar prinsip kesantunan Leech. Hampir sebagian besar tuturan yang diucapkan oleh mereka adalah tuturan kasar. Ujaran impositif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan perintah atau suruhan. Bentuk-bentuk ujaran yang dimaksud adalah bentuk ujaran impositif. dan melanggar Prinsip Kesantunan Leech. kondektur. Bentuk ujaran komisif adalah bentuk ujaran yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran. 2. Uraian ini menggambarkan analisis tuturan langsung yang diucapkan oleh calo. komisif. Prinsip Kesantunan Leech Berbicara tidak selamanya berkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual. prinsip kesopanan (Leech) dan respons para penutur bahasa Indonesia. ekspresif. Berikut ini penulis akan menganalisis tuturan langsung ketidaksantunan berbahasa di lingkungan terminal oleh calo. 4. dan respons para penutur bahasa Indonesia mengenai tuturan kasar di lingkungan terminal tersebut. Dalam mengumpulkan data penulis harus terjun langsung ke lapangan. dan kondektur.

Tuturan kasar yang diucapkan oleh calo. maksim penerimaan. Maksudnya . baik disengaja ataupun tidak disengaja. menyakitkan hati. 3. supir dan kondektur yang melanggar Prinsip Kesantunan Leech ternyata sudah menjadi bahasa sehari-hari yang mereka ucapkan jika berada di lingkungan terminal. maksim kemurahan. Pelanggaran terbesar ada pada maksim kebijaksanaan. 6. Persepsi penutur bahasa di luar lingkungan terminal seperti guru. pedagang asongan. Menurut mereka yang menjadi latar belakang penutur mengucapkan tuturan kasar adalah latar pendidikan yang rendah. Dalam konteks tuturan sehari-hari yang spontan. pedagang asongan. 1. supir dan kondektur menuturkan tuturan kasar adalah faktor lingkungan dan faktor social. maksim kerendahan hati.(penutur) dan lain (petutur). Maksim kebijaksanaan ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. pedagang asongan. 4. dipaparkan dalam ilmu bahasa Pragmatik. Wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo. mengolok-olok atau sindiran dan mengandung celaan getir. mahasiswa. supir dan kondektur melanggar maksim kebijaksanaan. karyawan swasta dan ustadz beranggapan bahwa tuturan yang ada di lingkungan terminal sebagian besar adalah tuturan kasar. Gagasan untuk bertutur santun itu dikemukakan oleh Leech dalam maksim kebijaksanaan. Wujud ragam bahasa tersebut sangat tidak enak didengar. supir dan kondektur sangatlah kasar. 2. 5. Penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo. Tuturan yang ada di lingkungan terminal khususnya di Terminal Senen Jakarta Pusat yang dituturkan oleh calo. pedagang asongan. maksim kecocokan dan maksim kesimpatian. pedagang asongan. Seperti misalnya terdapat nama-nama binatang yang sering diucapkan oleh mereka. Faktor yang menjadi penyebab calo. supir dan kondektur semuanya tidak mengandung unsur kesantunan berbahasa dan melanggar Prinsip Kesantunan Leech. bicara dengan kepahitan. lingkungan yang memungkinkan mereka untuk bertutur kasar dan landasan iman yang kurang kuat. SIMPULAN Setelah melakukan analisis terhadap tuturan langsung di lingkungan terminal dan respons penutur bahasa di luar lingkungan terminal. banyak kita jumpai pelanggaran terhadap maksim ini. namun jika mereka berada di luar lingkungan terminal mereka tidak menuturkan tuturan kasar tersebut. yang mengharuskan peserta tutur agar senantiasa berpegang teguh untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan pihak lain. penulis menarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1. Seperti tuturan di bawah ini: BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra 5. Faktor lingkungan timbul karena perbedaan asal daerah penuturnya.

EYD TERBARU (Permendiknas Nomor 46 Tahun 2009). Yogyakarta: Pustaka Timur. 1984. Jakarta : Balai Pustaka. Santun Berbahasa. 1994. Harimurti. SARAN Berdasarkan hasil analisis data dan simpulan yang telah penulis kemukakan di atas. pada bagian ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut: 1. Pokoknya Kualitatif. Sedangkan faktor sosial timbul karena perbedaan kelas sosial penuturnya karena para penghuni yang bekerja di lingkungan terminal sebagian besar memang status sosialnya rendah dan latar belakang pendidikan mereka juga rendah. Surabaya: Usaha Nasional. Abdillah. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). tabel atau yang lainnya yang dapat . sample yang lebih besar. 4. tidak terpaku pada apa yang dilihat dan didengar saja. 5. Berharap jika ada penelitian lanjutan. Agar dalam melakukan penelitian secara langsung ke lapangan penulis diberikan kemudahan dalam mendapatkan data dari sumber yang dituju. Kridalaksana. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia. Terutama pihak yang berwenang dalam bidang ini mampu memberikan bantuan demi melancarkan penelitian. dengan kajian yang menarik. 3. Alwi. _______. Harras. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. _______. Chaer. Linguistik Umum. Hasan. Hanafi. Abdul. Dunia Pustaka Jaya dan Pustaka Studi Sunda. Jakarta : PT. Kholid A. 2001. Oh iya. A. maka penelitian ini perlu mendapatkan perhatian dari para ahli bahasa. karena Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra ini saya posting tidak secara lengkapdikarenakan banyaknya lampiran. 1995. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. 2009. ____. Kamus Linguistik. Chaedar (2003). Seiring dengan masih jarangnya penelitian mengenai kesantunan berbahasa. Jakarta : Rineka Cipta. peneliti selanjutnya lebih berani mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan. Jakarta : PT. Penulis berharap ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik terhadap realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal. Gramedia.mereka menuturkan tuturan kasar tersebut karena memang lingkungan yang mereka hadapi menerima dan tidak terlalu peduli dan situasinya memang mendukung untuk mengucapkannya. Jakarta: Balai Pustaka. 2. 2. dan teknik analisis yang lebih mendalam untuk mendapatkan hasil kajian yang sempurna. DAFTAR PUSTAKA Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra Alwasilah.

Silahkan download ya. jangan lupa infokan ke teman teman yang lain di blog ini banyak artikel bermanfaat heeeheh ^_^ .blogspot.menyulitkan saya dalam membagi dalam bentuk uraian di blog aadesanjaya.com ini maka saya menyediakan link untuk mendownload.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful