MENELAAH PENDIDIKAN TENAGA PERAWATAN PESAWAT TERBANG DI INDONESIA

Nur Rachmat, Dipl. Ing.

Abstract
The growth in number of airlines and aviation accidents in the last decade has been increasing significantly. The number of victims and the value lost in each accident happened has become an interesting phenomenon to be observed and evaluated, especially in the point of view of aircraft maintenance practices and its personnel involved. The article tries to reveal the facts on the aircraft maintenance training/education practices in Indonesia covering the understanding/definition aspect, regulations aspect, actual condition & problems in aircraft maintenance training/education practices in Indonesia. Do the aircraft maintenance training/ education practices contributes to the increase in the number of accidents or is it merely due to the low fare war among the airlines. By knowing the facts on the aircraft maintenance training/education practices, it's expected that it will facilitate the aircraft maintenance training/education institutions and government to judge the contribution of the aircraft maintenance training/education practices to the increase in aviation accidents and to apply the strategy to maintain the proper training/education program as well as to achieve new program in aircraft maintenance training/education programs. Keywords: Aircraft Continued Airworthiness, Aircraft Maintenance, Aircraft Technician and License /Rating PENDAHULUAN Pendidikan Tenaga Perawatan Pesawat Terbang (Mekanik Pesawat Terbang) adalah merupakan salah satu pendidikan kompetensi yang diperlukan untuk menunjang berlangsungnya roda industri transportasi udara di dunia. Pendidikan pada bidang kompetensi ini berbeda dengan pendidikan pada kompetensi lain. Pendidikan pada bidang ini menuntut adanya suatu proses validasi kompetensi yang mengacu pada standar yang jelas oleh badan otoritas yang jelas pula. Sejak diberlakukannya kebijakan deregulasi penerbangan nasional tahun 2000, pasar penerbangan di dalam negeri mengalami perkembangan yang sangat pesat. Indikatornya adalah semakin banyaknya jumlah perusahaan penerbangan baru beroperasi dan meningkat tajamnya jumlah penumpang sejak tahun 2002 sampai dengan sekarang (© TRANSPOR Vol. 24 No. 3, 2006) .Perkembangan ini harus disertai dengan perkembangan yang pesat pula pada penyiapan tenaga kerja yang diperlukan untuk mendukung perkembangan dunia industri transpor perkembangan ini belum disertai dengan perkembangan di dunia pendidikan yang menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan. Di sisi lain pelaksanaan pendidikan pada bidang ini masih memiliki beberapa permasalahan yang cukup pelik dalam manajemen pengaturan dan pengenadalian sistem pendidikan di Indonesia. Di satu sisi sistem pendidikan pada umumnya di bawah manajemen & pengendalian Departemen Pendidikan Nasional (DepDikNas). Sementara pendidikan kompetensi tenaga perawatan pesawat terbang selain berada di bawah manajemen dan pengendalian DepDikNas juga berada di bawah manajemen dan pengendalian Departemen Perhubungan - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Tulisan ini mencoba membahas mengenai beberapa aspek yang ada di dunia pendidikan penyiapan tenaga kerja perawatan pesawat terbang khususnya dan tenaga penerbangan umumnya. Pembahasan dimulai dari pemahaman mengenai pengertian pendidikan tenaga perawatan pesawat terbang khususnya dan tenaga penerbangan umumnya, regulasi (peraturan) yang mengikat baik internasional maupun nasional, implementasinya secara internasional maupun nasional, sampai pada kondisi pendidikan tenaga perawatan pesawat terbang khususnya dan pendidikan tenaga penerbangan umumnya di Indonesia. Melalui tulisan ini diharapkan dapat diketahui / disimpulkan ada tidaknya kontribusi bidang pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang pada meningkatnya kasus – kasus kecelakaan pesawat terbang yang banyak terjadi di dunia transportasi udara di Indonesia belakangan ini. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan lembaga pendidikan penerbangan di Indonesia umumnya maupun khususnya lembaga pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang. Akan tetapi justru lebih dimaksudkan untuk menarik perhatian pemerintah pada dunia pendidikan ini khususnya sebagai satu solusi mengatasi permasalahan yang terjadi pada industri transportasi udara di Indonesia.

PEMBAHASAN

Pengertian/Definisi. Yang dimaksud dengan tenaga perawatan pesawat terbang (teknisi/engineer/mekanik) dalam hal ini adalah personil penerbangan yang bertanggungjawab pada perawatan pesawat terbang sehingga pesawat terbang terjamin keamanan, kenyamanan dan kehandalan dalam pengoperasiannya. Sementara yang dimaksud dengan perawatan dapat didefinisikan sebagai berikut di bawah;  Menurut definisi pada CASR Part 1, Perawatan (Maintenance) adalah inspeksi, overhaul, preservasi dan penggantian part, akan tetapi tidak termasuk perawatan pencegahan (inspection, overhaul, repair, preservation, and the replacement of parts, but excludes preventive maintenance).  Menurut Word Airlines Technical Operations Glossary: “Those actions required for restoring or maintaining an item in a serviceable condition including servicing, repair, modification, overhaul, inspection and determination of condition.” (Tindakan yang diperlukan untuk mengembalikan atau menjaga suatu item dalam kondisi layak dioperasikan termasuk tindakan servicing, perbaikan, modifikasi, overhaul, inspeksi dan penentuan kondisi suatu item (komponen).  Sementara perawatan pesawat terbang (aircraft maintenance) menurut CASR Part 65 dapat didefiniskan sebagai tindakan – tindakan yang diperlukan untuk menjamin keberlanjutan kelaikan terbang suatu pesawat terbang termasuk methode – methode dan prosedur – prosedur untuk perawatan besar, perbaikan, pemeriksaan /inspeksi, penggantian dan perubahan (modifikasi) atau perbaikan akibat kerusakan suatu struktur, komponen dan system pada pesawat terbang sesuai dengan methode yang ditentukan dalam petunjuk perawatan yang relevan dan standar keikan yang diterapkan. (Tasks required to ensure the continuing airworthiness of an aircraft including methods and procedures for the overhaul, repair, inspection, replacement, modification or defect rectification of aircraft structures, components and systems in accordance with the methods prescribed in the relevant Maintenance Manuals and the applicable Standards of airworthiness). Jadi yang dimaksudkan dengan tenaga perawatan pesawat terbang adalah personil penerbangan yang bertanggungjawab akan terjaminnya kelangsungan / keberlanjutan kelaikan terbang suatu pesawat terbang melalui kegiatan – kegiatan servicing, perbaikan, modifikasi, overhaul, inspeksi dan penentuan kondisi suatu item

(komponen) pesawat terbang. Demikian beratnya tanggungjawab tenaga perawatan pesawat terbang sehingga pendidikan tenaga perawatan pesawat terbang ini harus dilakukan mengikuti peraturan / regulasi yang ketat yang tekah ditentukan secara nasional maupun secara internasional. Regulasi yang mengikat. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization: ICAO) dalam Annex 1 memberikan panduan pengaturan mengenai pemberian personal licence tenaga penerbangan secara umum. Pemberian licence untuk tenaga perawat pesawat terbang (aircraft maintenance); technician/ engineer/ mechanic, air traffic controller, flight operation officer/ flight dispatcher, aeronautical station operator dan aeronautical meteorological personnel diatur pada Chapter 4 (Licences and Ratings for Personnel other than Flight Crew Member). Sementara pemberian licence untuk tenaga penerbang (pilot) dan anggota crew terbang (flight crew member; flight navigator, flight engineer, flight radio telephone operator) di atur pada Chapter 2 (Licences and Ratings for Pilots) dan Chapter 3 (Licences and Ratings for Flight Crew Member). Spesifikasi licence, rating dan persyaratannya di atur pada Chapter 5 (Specification for Personnel Licences) dan Chapter 6 (Medical Provisions for Licensing), Appendix 1 (Requirements for Proficiency in Languages Used for Radiotelephony Communication) dan Appendix 3 (Requirement for the Issue of the Multi-crew Pilot Licence – Aeroplane) dan Attachment A (ICAO Language Proficiency Rating Scale) dan Attachment B (multicrew Pilot Licence – Aeroplane – Levels of Competency). Sementara lembaga penyelenggara pendidikan / pelatihan yang menyiapkan tenaga penerbangan ini diatur pada Appendix 2 (Approved Training Organization). Aturan / regulasi tersebut di atas harus diimplementasikan oleh Negara – Negara anggota ICAO sebagai Contracting State yang telah menanda - tangani (meratifikasi) Perjanjian/Konvensi Chicago untuk ICAO pada tahun 1944 yang berlaku effektif sejak tanggal 15 September 1948. Indonesia sebagai salah satu Negara anggota ICAO telah mengimplementasikan aturan/ regulasi tersebut secara nasional dengan dikeluarkannya Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR) yang telah disyahkan melalui Undang – Undang Penerbangan (Aviation Act) No. 15 Tahun 1992. Khusus untuk pemberian personnel licence tenaga perawatan pesawat di atur pada CASR Part 65

(Aircraft Maintenance Engineer Licensing) dengan petunjuk pelaksanaannya di Advisory Circular AC65-2 (Aircraft Maintenance Engineer Licensing Examination Syllabus). dan pengaturan / regulasi lembaga pendidikan / pelatihannya di atur pada CASR Part 147 (Aircraft Maintenance Training Organization), Untuk pemberian personnel licence tenaga penerbang (pilot) dan tenaga pendukung penerbang (flight crew member) maupun tenaga pendukung operasi penerbangan (flight operation officer, flight dispatcher, dan lain – lain) diatur Part terpisah dan lembaga pelaksana pendidikan / pelatihannya di atur pada CASR Part 142 (Aircraft Training Organization). Selain regulasi tersebut di atas pendidikan tenaga penerbangan sebagai bagian dari pendidikan nasional di Indonesia juga harus mengikuti peraturan – peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia antara lain UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan peraturan lain yang dikeluarkan melalui DepDikNas (KepMenDikNas), baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi, dalam rangka memenuhi pengaturan /pengelolaan (manajemen) lembaga pendidikan di Indonesia. License Tenaga Perawat Pesawat Terbang License tenaga perawat pesawat terbang adalah merupakan suatu sertifikat tanda kecakapan seorang mekanik pada bidang pekerjaan perawatan pesawat terbang. Tanpa memiliki License atau sertifikat ini maka seorang mekanik pesawat terbang tidak diperbolehkan menangani perawatan pesawat terbang tanpa adanya pengawasan dan di bawah tanggungjawab dari orang / mekanik lain yang memiliki license/certificate yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dikerjakannya. License/ Certificate ini dikeluarkan oleh pihat badan otoritas, dalam hal ini adalah Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara – Departemen Perhubungan. Beberapa jenis license dikeluarkan oleh DSKU kepada tenaga perawatan pesawat terbang; Basic Certificate adalah merupakan satu license tanpa rating yang dikeluarkan oleh DSKU kepada personil yang telah memenuhi persyaratan umur, pengetahuan dan ketrampilan yang ditentukan pada CASR Part 65.. Certificate of Maintenance Approval adalah merupakan license akan tetapi kelompok atau jenis ratingnya terbatas sesuai dengan lingkup pemberlakuannya. License adalah dokumen sebagaimana dijelaskan pada Annex 1, Chapter 4, paragraph 4.2. Group rating adalah rating yang mencakup

satu group pesawat terbang atau komponen pesawat terbang. Group pesawat terbang atau komponen pesawat terbang sebagaimana ditentukan oleh pihak otoritas (DSKU). Type rating adalah rating untuk satu jenis individu pesawat terbang atau satu komponen pesawat terbang. Group or Type Rating, bila digabung / ditambahkan pada Basic Certificate, adalah merupakan satu Licence. Lingkup/scope dari satu group atau type rating menentukan kelompok (range) dari pesawat terbang atau komponen pesawat terbang dimana rating tersebut berlaku (valid). Lingkup dari satu rating adalah tetap. Lingkup untuk satu Certificate of Maintenance Approval dapat dibatasi sebagaimana ditentukan oleh pihak otoritas. Workshop engineer adalah orang yang memiliki/memegang License rating atau Certificate of Maintenance Approval yang memberikan hak (granting privileges) untuk mensertifikasi pesawat atau komponen pesawat setelah mengalami overhaul atau repair. Pengajuan (Application for) licences, certificates and ratings. Prosedur pemberian licence kepada seorang mekanik perawat pesawat terbang sebagaimana telah diatur di CASR Part 65 dan AC-65-2 dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut di bawah; Seorang pemohon licence harus memenuhi beberapa criteria persyaratan sebagai berikut (65.7): (a) Each applicant for the grant of a licence or certificate shall complete Form KU-071 or DAC Form 65.01, as appropriate, and submit it to the Director General with a payment of the appropriate application fee prescribed by regulations made under the Act. (b) Each application for a licence or certificate shall include a statement of experience, signed by a person or persons with knowledge of the applicant’s experience, showing that the applicant has complied with the appropriate experience requirements of this Part. (c) Each applicant for the grant of a licence or certificate on the basis that they are the holder of a current licence or certificate issued by a foreign contracting State to the Convention shall, in addition to the requirements of paragraph (a), produce that licence or certificate to the Director General. (d) Each applicant for the grant of an aircraft maintenance engineer licence rating shall complete DAC Form 65.01 and submit it to the Director General with a payment of the

appropriate application fee prescribed by regulations made under the Act. (e) Forms DAC 65.01 and KU-071 shall require: (1) the name and address for service in Indonesia of the applicant; and (2) such further particulars relating to the applicant as may be required by the Director General as indicated on the form. Pemberian (Issue of) licences, certificates and ratings. License, Certificate atau Rating akan dikeluarkan / diberikan kepada pemohon yang sudah memenuhi persyaratan berikut (65.9); (a) An applicant is entitled to a licence, certificate, or rating issued by the Director General under this Part if the Director General is satisfied that: (1) the applicant is a fit and proper person, and (2) the applicant has sufficient ability in reading, writing and understanding the English language to enable him or her to carry out the responsibilities of the holder of that licence, certificate, or rating, and (3) the applicant meets the eligibility requirements in the appropriate Subpart for the licence, certificate, or rating, and (4) the granting of the licence, certificate, or rating is not contrary to the interests of aviation safety. (b) An applicant for the grant of a licence, certificate, or rating on the basis that they are the holder of a current licence or certificate issued by a foreign contracting State to the Convention is eligible to a licence or certificate if the Director General is satisfied that: (1) the applicant is the holder of an acceptable licence or certificate, and (2) the applicant is a fit and proper person, and (3) the granting of the certificate or licence is not contrary to the interests of aviation safety, and (4) the applicant has passed the Air Law examination and oral examination required by this Part. Masa Berlaku dan Perpanjangan Licenses dan Certificates. Masa berlaku dan perpanjangan licenses dan certificates sebagaimana dapat dijelaskan berikut; (65.11 Validity and renewal of licences and certificates): (a) Unless suspended or cancelled by the Director General, a licence or certificate shall remain valid for the period specified in the document

(b)

(c)

(d)

(e)

and such period shall not exceed two years from the date of issue or previous renewal of the document. Upon application to the Director General, and showing compliance with this Part, the period of validity of such licences and certificates may be renewed for a further period not exceeding two years. An applicant for the renewal of a licence or certificate and the holder of a valid licence or certificate shall not exercise the privileges of the document unless, within the immediately preceding 24 months, has for periods totaling at least 6 months: (1) Exercised the privileges of the licence or certificate; or (2) Supervised the maintenance of aircraft relevant to the ratings held in an executive capacity; or (3) Performed a technical training function relevant to the ratings held in an approved maintenance training organization; or (4) Engaged in any combination of subparagraph (1), (2), or (3). Where an applicant does not meet the requirement of (c), the applicant shall show compliance with the requirements for the initial issue of a licence or certificate. It shall be the responsibility of the holder of a licence or certificate to present the original document at the appropriate office of the Director General before the date of expiry, together with a written statement detailing experience acquired during the previous 24 months, a current address for correspondence, and the name and address of the present employer.

Kondisi Pendidikan Penerbangan di Indonesia. Sejak dimulainya industri penerbangan di Indonesia, baik industri transportasi udara, industri perawatan pesawat terbang maupun industri manufaktur pesawat terbang, perkembangan pendidikan penerbangan di Indonesia belum dapat mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia industri penerbangan yang dimaksud di atas. Terlepas dari keadaan industri manufaktur pesawat terbang yang untuk sementara ini dikuasai oleh PT. Dirgantara Indonesia (PT.DI) sedang terpuruk oleh karena kondisi krisis ekonomi global yang berlangsung sejak tahun 1997-an dan oleh karena kurangnya dukungan / perhatian dari pemerintah. Pertumbuhan / perkembangan industri pengoperasian pesawat terbang (industri transportasi udara) mengalami kemajuan demikian pesatnya sejak satu dasa warsa belakangan ini. Perusahan –

perusahaan transportasi udara (maskapai penerbangan) baru bermunculan bagai jamur di musim hujan; sebut misalnya Lion Air, Batavia Air, Sriwijaya Air, AW Air dan lain – lain. Semakin banyaknya perusahaan transportasi udara ini tentu saja dibarengi dengan semakin banyaknya jumlah armada (pesawat terbang) yang beroperasi di Indonesia, dan dengan demikian semakin banyak pula tenaga perawatan pesawat terbang yang diperlukan untuk menjamin keberlanjutan kelaikan pengoperasian pesawat terbang tersebut. Namun sayang meningkatnya jumlah armada pesawat terbang yang ada ini belum dibarengi dengan penyediaan tenaga – tenaga perawatan pesawat terbang yang sesuai, bahkan dapat dikatakan belum ada peningkatan lembaga – lembaga pendidikan yang menyediakan tenaga – tenaga perawatan yang dibutuhkan. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) yang awalnya bernama Akademi Penerbangan Indonesia (1952), lalu berubah lagi jadi Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) Curug, sebelum akhirnya jadi STPI sejak tahun 2000. Melalui Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 2000, untuk sementara ini merupakan satu-satunya lembaga pendidikan /pelatihan yang mendominasi penyediaan tenaga – tenaga terampil di bidang perawatan pesawat terbang sedang mengalami krisis dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga penerbangan yang dijalankan selama ini (Kompas, 1/2007). Sebagai satu – satunya lembaga pendidikan / pelatihan tenaga penerbangan di Indonesia paling tua milik pemerintah (Departemen Perhubungan – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara) dan satusatunya yang telah memiliki otorisasi menyelenggarakan pendidikan/ pelatihan tenaga penerbangan di Indonesia yang telah diakui (approved) belum dapat mengimbangi kebutuhan tenaga terampil di bidang penerbangan yang semakin maju dan berkembang pesat. Demikian pula halnya dengan Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) yang pada awal didirikannya pada tahun 1983 bernama Politeknik – Institut Teknologi Bandung (Poltek – ITB) kemudian berubah nama menjadi Politeknik Negeri Bandung (POLBAN) seiring dengan lepasnya manajemen pengelolaan dari institusi pembinanya (Institut Teknologi Bandung (ITB)) pada tahun 1997 melalui SK. Mendiknas.Nomor: 085/0/1997 tanggal 28 April 1997, sebagai satu – satunya politeknik negeri yang memiliki jurusan / program studi teknik aeronautika (teknik penerbangan) yang sejak empat tahun belakangan mengkonsentrasikan penekanan pendidikan di Program Studi Teknik Aeronautika (PSTA) – Jurusan Teknik Mesin (JTM) pada bidang

kompetensi perawatan pesawat terbang juga masih dalam proses pengembangan. Upaya pengembangan yang dilakukan POLBAN dalam mengembangkan pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang juga menghadapi keadaan minimnya anggaran yang dimilikinya karena mahalnya sarana dan prasarana yang diperlukan dalam penyelenggaraan pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang. Demikian halnya dengan lembaga pendidikan penerbangan lain yang berada di bawah pengelolaan manajemen perguruan tinggi negeri maupun swasta di bawah naungan DepDikNas menghadapi permasalahan yang sama, sehingga belum ada satupun lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang yang dapat diakui (approved) oleh pihak otoritas (dalam hal ini oleh Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara – Departemen Perhubungan). Selain belum adanya lembaga pendidikan penerbangan di bawah manajemen / pengelolaan perguruan tinggi dibawah naungan DepDikNas yang diakui (tersertifikasi) oleh DSKU, keberadaan lembaga ini juga masih terkonsetrasi di pulau jawa (lihat Tabel 1.). Hal ini menunjukkan belum meratanya kesempatan pendidikan penerbangan secara umum di Indonesia. Untuk itu perlu dicari terobosan yang dapat menjawab meningkatnya kebutuhan tenaga terampil pada bidang penerbangnan secara umum dan khususnya bidang perawatan pesawat terbang untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga terampil pada bidang ini. Sementara keberadaan lembaga pendidikan / pelatihan penyelenggara pendidikan penyiapan tenaga penerbangan non-sekolah (perguruann tinggi) yang diakui oleh DSKU juga masih minim dan terpusat/ terkonsentarsi di pulau jawab (lihat Tabel 2.). Lembaga ini pada umumnya dimiliki oleh perusahaan jasa transportasi udara (maskapai penerbangan) misalnya: Garuda Indonesia Training Center (GITC) dan Merpati Training Center (MTC), yang hanya memberikan pendidikan / pelatihan secara spesifik (type rating course) untuk kebutuhan perusahaan untuk mendukung kelancaran operasional perusahaan. Sehingga hanya memberikan pendidikan / pelatihan pada pegawai / karyawan yang dimiliki maupun pegawai / karyawan yang dimiliki oleh maskapai lain yang meminta. Sementara pendidikan dasar teknik perawatan pesawat terbang (basic aircraft maintenance course) yang diperlukan oleh masyarakat umum yang ingin menjadi calon tenaga perawatan pesawat tidak dilakukan. Sehingga masih perlu ditingkatkannya jumlah lembaga pendidikan AMTO, baik pada tingkat dasar maupun khusus.

Tabel 1. Daftar Sekolah Menengah Kejuruan & Perguruan Tinggi Penerbangan di Indonesia
NO NAMA SEKOLAH / PERGURUAN TINGGI STATUS JURUSAN SEKOLAH / PT. SMK Negeri a. Motor & Rangka Pes. Ud. b. Listrik dan Avionik. Negeri a. Motor & Rangka Pes. Ud. b. Listrik dan Avionik. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NO 1 SMKPenerbangan Jakarta Gautama – Swasta Swasta Negeri Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta STATUS Negeri a. Motor & Rangka Pes. Ud. b. Listrik&Avionik.c.Otomotif. a. Motor & Rangka Pes. Ud. b. Listrik dan Avionik. a. Manufaktur, b. Avionik a. Motor & Rangka Pesawat. b. Listrik & Instr. Pes. Ud. a. Motor & Rangka Pes. Ud. b. Avionik. a. Motor & Rangka Pes. Ud. a. Motor dan Rangka Pes. Ud. b.Listrik& Instrumen Pes. Ud. a. Motor dan Rangka Pes. Ud. b.Listrik& Instrumen Pes. Ud. a. Motor dan Rangka Pes. Ud. b.Listrik& Instrumen Pes. Ud. a. Motor dan Rangka Pes. Ud. b.Listrik& Instrumen Pes. Ud. a. Motor dan Rangka Pes. Ud. b.Listrik& Instrumen Pes. Ud. JURUSAN PT. a. Teknik Pes. Ud., b. Teknik Listrik Bandara, c. Teknik Navigasi Udara, d. Lalu Lintas Udara, e. Penerbang. a. Jur. Tek.Penerbangan (S1), b. Jurusan Astronomi (S1), Prog. Studi Tek. Aeronautika a. Jurusan Tek. Penerbangan a. Teknik Penerbangan, b. Rangka Pes. c. Motor Pes., d. Avionika, e. Listrik Pes. a. Jurusan Transportasi Udara a. Manajemen Transportasi Udara, b. Manajemen Bandara Aircraft Maintenance & Engine (DII) Aeronautik, Avionika, Logistik Jakarta Bogor Bandung Malang Magetan Yogyakarta Sidoarjo Surakarta Semarang Padang Curug – Tangerang Ujung Pandang ALAMAT / LOKASI Tangerang Jakarta ALAMAT / LOKASI

1

SMK Penerbangan Jakarta

Negeri

Jakarta

2

SMK Penerbangan PGRI, Jakarta

SMK Penerbangan Angkasa, Bogor SMK Penerbangan Negeri – Bdg. SMK Penerbangan Angkasa – Malang SMK Penerbangan Angkasa – Magetan SMK Penerbangan Yogyakarta SMK Penerbangan Dharma Wirawan Pepabri, Sidoarjo SMK Penerbangan Bina Dirgantara – Surakarta SMK Penerbangan Wira Aqasa SMK Penerbangan SPAN SMK Penerbangan Dirgantara SMK Penerbangan Angkasa NAMA SEKOLAH / PERGURUAN TINGGI Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (PLP – Curug) AMTO 147 Institut Teknologi Bandung (ITB) Politeknik Negeri Bandung Universitas Surya Darma – Jakarta Universitas Nurtanio – Bandung

2 3 4 5

Negeri Negeri Swasta Swasta

Bandung Bandung Jakarta Bandung

6 7 8 9 10

S.T. Manajemen Transp.– Trisakti Sekolah Tinggi Penerbangan Aviasi (STPA) Lembaga Diklat Penerbangan Tutuko – Surakarta Sekolah Tinggi Teknologi Adisucipto – Yogyakarta Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan – Yogyakarta

Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta

Jakarta Jakarta Surakarta Yogyakarta Yogyakarta

Tabel 2. Daftar Lembaga Pendidikan Penerbangan Non-Sekolah/Perguruan Tinggi di Indonesia
NO 1 NAMA LEMBAGA / INSTITUSI Garuda Indonesia Training Center (GITC) STATUS LEMBAGA Negeri BIDANG KEGIATAN Pendidikan dan Latihan Teknisi Perawatan Pesawat Terbang dan Tenaga Front Office Officer untuk Ticketing, Cargo Handling, Pramugari, dll. Pendidikan dan Latihan Teknisi Perawatan Pesawat Terbang dan Tenaga Front Office Officer untuk Ticketing, Cargo Handling, Pramugari, dll. PPL, CPL, CPL Multi Engine / Instrumen Rating. PPL, CPL, CPL Multi Engine / Instrumen Rating. PPL, CPL, CPL Multi Engine / Instrumen Rating. Type Rating, 142 & 147 Type Rating, 142 & 147 ALAMAT / LOKASI Jakarta

2

Merpati Training Center (MTC)

Negeri

Surabaya

3 4 5 6 7

Deraya Flying School Alfa Flying School Aero Flyer Institute Batavia Training Center Lion Training Center

Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta

Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta

Sementara keberadaan lembaga pendidikan / pelatihan penyelenggara pendidikan penyiapan tenaga penerbangan non-sekolah (perguruann tinggi) yang diakui oleh DSKU juga masih minim dan terpusat/ terkonsentarsi di pulau jawab (lihat Tabel 2.). Lembaga ini pada umumnya dimiliki oleh perusahaan jasa transportasi udara (maskapai penerbangan) misalnya: Garuda Indonesia Training Center (GITC) dan Merpati Training Center (MTC), yang hanya memberikan pendidikan / pelatihan secara spesifik (type rating course) untuk kebutuhan perusahaan untuk mendukung kelancaran operasional perusahaan. Sehingga hanya memberikan pendidikan / pelatihan pada pegawai / karyawan yang dimiliki maupun pegawai / karyawan yang dimiliki oleh maskapai lain yang meminta. Sementara pendidikan dasar teknik perawatan pesawat terbang (basic aircraft maintenance course) yang diperlukan oleh masyarakat umum yang ingin menjadi calon tenaga perawatan pesawat tidak dilakukan.

Untuk alasan ini maka perlu ditingkatkannya jumlah lembaga – lembaga pendidikan tenaga penerbangan baik sekolah ataupun perguruan tinggi maupun non-sekolah/perguruan tinggi yang diakui oleh lembaga otoritas (DSKU) sesuai dengan regulasi penerbangan yang berlaku di Indonesia. Jenjang Pendidikan Tenaga Perawatan Pesawat Terbang. Jenjang pendidikan yang ada di dunia pendidikan penerbangan secara umum di Indonesia dimulai dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Pergruan Tinggi (PT) yang bervariasi mulai dari Sekolah Tinggi, Universitas, Institut, Akademi hingga Politeknik (Tabel 1) dengan ijazah yang dikeluarkan mulai dari SMK, Diploma 2, Diploma 3, Diploma 4 / S1 hingga S2. dan bidang kompetensi yang diajarkan mulai dari kompetensi rangka pesawat terbang, kompetensi mesin pesawat terbang, kompetensi avionika, kompetensi listrik pesawat terbang hingga manajemen transpostasi udara. Jenjang pendidikan tenaga perawatan pesawat terbang di Indonesia sebagaimana di diatur

pada CASR Part 147 terbagi menjadi dua kelompok yaitu; jenjang pendidikan dasar perawatan pesawat terbang (basic aircraft maintenance training) dan jenjang pendidikan perawatang khusus (type training). Jenjang pendidikan dasar perawatan pesawat terbang mengacu pada CASR Part 65 dikelompokkan dalam tujuh (7) kelompok kompetensi / keahlian yaitu kelompok A1, yaitu kelompok ahli perawatan rangka pesawat terbang bersayap tetap (airframe-aeroplane), kelompok A2, yaitu kelompok ahli perawatan rangka pesawat terbang bersayap putar (airframehelicopter), kelompok A3, yaitu kelompok ahli perawatan mesin piston (piston engine), kelompok A4, yaitu kelompok ahli perawatan mesin turbine (turbine engine), kelompok C1; yaitu kelompok ahli perawatan radio (Radio), kelompok C2; yaitu kelompok ahli perawatan instrumen pesawat terbang (Instrument) dan kelompok C4; yaitu kelompok ahli perawatan kelistrikan pesawat terbang (Electrics). Sementara jenjang pendidikan perawatan khsusus dikelompokkan dalam group dan type rating sebagai berikut;

Group: (a) Airframes; Group 1: metal stressed skin un-pressurized aeroplanes with fixed landing gear and not exceeding 5700 kg. Group 2: metal stressed skin unpressurized aeroplanes other than Group 1. Group 3: aeroplanes with principally wooden or tubular structure, fabric covered. Group 4: aeroplanes constructed principally of fibre reinforced plastic (FRP) or similar material. Group 5: piston engined helicopters. Group 6: turbine engined helicopters. (b) Engines; Group 1: normally aspirated piston engines. Group 2: turbocharged, supercharged or radial piston engines. (c) Electrical; Group 1: electrical systems in pressurized aeroplanes of 5700 kg or less and unpressurized airframes which have as their primary source of power: (i) DC generators, or (ii) Starter generators, or (iii) Alternators with selfcontained rectifiers Group 2: electrical systems which have as their primary source of power: (i) DC generators, or starter generators, and have frequency wild alternators installed for secondary services, or (ii) constant frequency AC from alternators driven by constant speed drive units. (d) Instruments; Group 1: general aircraft

instrument systems; basic flight instrument systems; oxygen systems; cabin pressurisation and air conditioning systems other than those fitted to pressurized aeroplanes of 5700 kg or more. Group 2: autoflight and navigation systems including air data computer systems, servo driven instruments, remote gyro systems including remote reading compasses, automatic flight control systems and inertial navigation systems other than those fitted to pressurized aeroplanes of 5700 kg or more. (e) Radio Group 1: airbornes communication systems including VHF, HF, CVR, audio and ELT Group 2: airborne navigation systems including ADF, VOR, ILS, VLF, Omega, marker beacon, GPS and GNSS Group 3: airborne primary and secondary radar including weather radar, doppler, radio altimeter, DME, transponder and TCAS. Type Ratings: Ratings for the following aircraft or components shall be issued by the Director General as type ratings for the individual aircraft or component types: (a) Airframes: Pressurized aeroplanes and helicopters that the Director General considers are not included in the Airframe Group 5 and 6 rating. (b) Engines: Turbine power-plants (c) Electrical: Electrical systems and equipment installed in pressurized aeroplanes of more than 5700 kg.

(d) Instruments: Integrated flight systems installed in pressurized aeroplanes of more than 5700 kg. (e) Radio: Complete radio installations installed in pressurized aeroplanes of more than 5700 kg. (f) Components: Overhaul and maintenance of aircraft components listed in 145.31 and 145.33. Peserta pendidikan dasar perawatan pesawat terbang (basic aircraft maintenance course) dinyatakan berhasil/lulus bila telah dinyatakan lulus ujian yang diadakan oleh pihak otoritas (DSKU) dan kepadanya akan diberikan sertifat dasar (basic certificate) atau juga dikenal dengan licence without rating. Untuk licence dengan rating atau lebih dikenal dengan type rating dapat diperoleh oleh seorang mekanik pesawat terbang yang telah memiliki basic certificate serta memiliki pengalaman praktis untuk jenis rating yang diinginkan selama waktu tertentu dan telah melalui pendidikan / pelatihan khusus untuk group / jenis komponen / part / pesawat terbang yang sesuai. Permasalahan yang ada di lembaga pendidikan tenaga penerbangan di Indonesia. Permasalahan yang ada di lembaga pendidikan penerbangan di Indonesia, khususnya di lembaga pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang sebagaimana telah disinggung di atas dapat diuraikan lebih jelas seperti di bawah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa lembaga pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang mempunyai dualisme dalam manajemen pengelolaan

dan pengendaliannya. Selain harus memenuhi aturan yang dikeluarkan oleh DepDikNas, lembaga pendidikan di bidang ini juga harus memenuhi aturan yang dikeluarkan oleh DepHub. Sementara mahalnya fasilitas dan peralatan yang harus dimiliki dan minimnya anggaran yang dimiliki oleh lembaga pendidikan ini menyebabkan sulitnya lembaga pendidikan ini pada umumnya belum dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh kedua departemen tersebut, khususnya dalam pemenuhan persyaratan sertifikasi oleh DSKU dan akreditasi oleh BAN. Meski sudah cukup banyak lembaga pendidikan (sekolah/perguruan tinggi) yang bergerak dalam peyelenggaraan pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang (Tabel 1.) namun hanya baru satu (STPI) yang sudah mendapat pengakuan/sertifikasi oleh DSKU. Sementara yang lain sedang dalam penyiapan memperoleh pengakuan/ sertifikasi oleh DSKU (misal POLBAN & UNNUR) dan yang lain belum jelas (tidak ada informasi) mengenai rencana sertifikasinya. Keadaan ini mengakibatkan lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut tidak dapat langsung diserap oleh perusahaan / maskapai penerbangan yang membutuhkan tenaga baru yang terampil pada bidang perawatan pesawat terbang. Hal ini dikarenakan pada umumnya lulusan lembaga pendidikan tersebut tidak membekali lulusannya dengan sertifikasi / linsensi yang diperlukan untuk dapat memasuki dunia pekerjaan perawatan pesawat

terbang. Permasalahan lain pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang adalah masih sedikit dan tidak menyebarnya lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang ini (Tabel 1. dan 2.). Sementara sejumlah maskapai penerbangan yang memiliki fasilitas perawatan pesawat yang ada dihampir setiap bandara di Indonesia belum dapat memberikan perhatian pada lembaga pendidikan untuk membantu kesulitan lembaga pendidikan dalam memberikan kesempatan melakukan praktek – praktek perawatan pesawat terbang. PENUTUP 1. Kesimpulan a. Pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang adalah pendidikan yang harus dijalankan mengacu pada dua regulasi yang dikeluarkan oleh dua lembaga pemerintah (DepDikNas dan DepHub). b. Masih belum adanya lembaga pendidikan lain yang diakui oleh pihak otoritas Indonesia (DSKU) selain satu – satunya yang sudah ada, menunjukkan masih belum memenuhinya standard pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang di Indonesia. c. Kelemahan utama yang dimiliki oleh lembaga pendidikan adalah dalam pemenuhan pengadaan peralatan dan sarana pendidikan yang memerlukan biaya tinggi.
2. Saran-Saran

mengatasi kendala yang dihadapi oleh lembaga pendidikan penerbangan pada umumnya. Pada tulisan selanjutnya akan penulis coba usulkan suatu pola pendidikan dimaksud dan diharapkan adanya masukan / komentar baik terhadap tulisan ini maupun tulisan yang akan diusulkan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. ICAO Annex 1. 2. CASR Part 1. 3. CASR Part 65 & AC-65-2. 4. CASR Part 147. 5. Nur Rachmat, 2006, Laporan Status Penyiapan PSTA Menjadi AMTO, Politeknik Negeri Bandung. 6. Harian Kompas, 7 Januari 2007. 7. Angkasa, Edisi Juni 2003.

Perlu diadakannya suatu pola / sistem pendidikan penyiapan tenaga perawatan pesawat terbang yang dapat

Nur Rachmat, Dosen Program Studi Teknik Aeronautika – Jurusan Teknik Mesin – Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), Task Force Persiapan Sertifikasi POLBAN sebagai Aircraft Maintenance Training & Education Center (PAMTEC) mengacu pada Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR) Part 147).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful