You are on page 1of 16

KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER

MAKALAH HUKUM GENDER O L E H

ANNISA AYU SAPUTRI
NPM : 10.81.0122 UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN FAKULTAS HUKUM PRODI ILMU HUKUM TAHUN AKADEMIK 2011/2012

2 0 J a n u a r i 2 0 12 Penulis . penyusunan makalah Mata Kuliah Hukum Gender dengan judul “Kesetaraan dan Keadilan Gender” dapat penulis selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Dosen pembimbing. sekaligus sebagai tugas pengganti pelaksanaan Ujian Akhir Semester Ganjil Tahun Akademik 2011 / 2012. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini merupakan tugas perkuliahan Hukum Gender pada Fakultas Hukum Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjary. B a n j a r m a s i n .KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. oleh sebab itu sumbangan pemikiran yang bersifat koreksi untuk penyempurnaannya sangat di harapkan. akhirnya penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat bermamfaat dalam menunjang pelaksanaan perkuliahan yang sedang kita laksanakan bersama.

BAB I Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut.847. sistem upah yang merugikan.415) dari total (206. perempuan kurang dapat berperan aktif. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan penulis dalam menyusun makalah ini tiada lain adalah sebagai tugas mata kuliah Hukum Gender yang di berikan oleh Dosen pembimbing sebagai tugas perkuliahan Fakultas Hukum Universitas Islam Kalimantan yang juga merupakan tugas pengganti pelaksanaan pengganti Ujian Akhir Semester Ganjil Tahun Akademik 2011/2012. .264. Kurang berperannya kaum perempuan. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan.9% (102.

Peran Perempuan dalam Domestik dan Publik 6. Pengertian Keadilan dan Kesetaraan Gender 3. . Permasalahan dan Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender akibat Diskrimasi 5. Kesehatan dan Ekonomi 4.BAB II PERMASALAHAN Dalam makalah ini Penulis akan menguraikan beberapa pembahasan mengenai Kesetaraan Gender antara lain : 1. Pengertian Gender dan Seks 2. Kondisi Perempuan di Indonesia dalam Bidang Pendidikan. Upaya yang dilakukan Pemerintah dalam Rangka Mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Gender.

budaya setempat. berlaku sepanjang masa. berlaku dimana saja. Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. bukan merupakan kodrat Tuhan. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. di belahan dunia manapun. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. melainkan buatan manusia. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. dapat dipertukarkan. Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah.BAB III PEMBAHASAN 1. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan. seks tidak dapat berubah. . Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. tidak dapat dipertukarkan. fungsi. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. tergantung waktu. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Lain halnya dengan seks. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. sekarang dan berlaku selamanya.

sosial budaya.595 orang.9% perempuan). Thailand. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia menurut Gender digambarkan melalui Gender related Develpment Index (GDI). agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. 63. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. subordinasi. Menurut Gender related Development Index (GDI) Indonesia berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. 3. beban ganda. hukum. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. kesehatan dan ekonomi. dan dengan demikian mereka memiliki akses. GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara. 60. kesempatan berpartisipasi.2.1% diantaranya laki-laki dan 49. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. . Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. ekonomi.264. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. (50. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dari tiga aspek yaitu pendidikan. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara).

yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100. (Sumber: BPS. Estimasi Parameter Demografi.85% dan perempuan 12. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi.87%). Infant Mortality Rate (IMR).29% dengan komposisi laki-laki 5. . kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki.000 (SDKI 1994).28% sedangkan laki-laki 5. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002).8 tahun (1998) menjadi 67. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. 1998). Laki-laki 41.000 (SDKI 1997). Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. (Sumber: BPS.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. khususnya perempuan kepala rumah tangga. 337/100.7 tahun berbanding 65.Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. Pendidikan Di bidang pendidikan. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. dan menurun 307/100.9 tahun (2000).84%.9 tahun. perempuan 31. Dibidang kesehatan. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan.9. (Sumber: BPS. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS). Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan.8 sedangkan perempuan 7. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. angka harapan hidup (eo) pada periode 1998-2000 cenderung meningkat. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000.69% (Sumber: BPS. Angka buta huruf perempuan 12. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. (Sumber: BPS. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan.000 (SDKI 2002). 2. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. yaitu 69. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. angka kematian anak. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64.

diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan yakni 76. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. terhadap lakilaki dan perempuan. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. (Sumber: BPS. bukan saja bagi kaum perempuan. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. tetapi juga bagi kaum laki-laki. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). fungsi. Berbagai pembedaan peran.3. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. 2003). Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. norma ataupun struktur masyarakat. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. tujuan. Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. legislatif terhadap arti. 4. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah.34%. Ekonomi Di bidang ekonomi. secara umum partisipasi perempuan masih rendah. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Kemampuan.12% berbanding 44. Permasalahan dan Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender akibat Diskrimasi Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Hanya saja bila dibandingkan. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002). dan arah pembangunan yang responsif gender. peran. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. Statistik Kesejahteraan Rakyat. (BPS. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung.81%. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. yudikatif. . Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin.

1996). Mosse. eksploitasi. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. terutama pada perempuan. misalnya marginalisasi. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen aniani. Sebagai contoh. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani.Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalah-masalah sosial. 1. . Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. Mosse. Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Selanjutnya Achmad M. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. 1990). banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. 1997). Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. subordinasi. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. menyatakan. 1996. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. 1996). 1997. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. Pemotongan padi dengan peralatan sabit.

Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. 4. (perempuan). tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat izin suami. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. pemukulan dan .2. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. bisnis atau birokrat. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. muncul dalam bebagai bentuk. 3. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. ia dianggap tegas. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki-laki. Apabila seorang laki-laki marah. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Banyak kasus dalam tradisi. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan.

sepupu. tetapi juga yang bersifat non fisik. Pelaku bisa saja suami/ayah. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal indignity and rights). komunitas. terutama bila bergerak dalam bidang publik. mertua. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. terutama bagi anak-anaknya • Deklarasi HAM. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. Pelaku kekerasan bermacam-macam. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. dan bahkan dunia. Perempuan harus berpartisipasi secara setara dengan laki-laki dalam proses pengambilan keputusan yang membantu untuk mempromosikan perdamaian di semua bidang (Deklarasi Konferensi Mexico. . Sehingga bagi mereka yang bekerja.penyiksaan. dalam keluarga. 5. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidakadilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. 5. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. Berbagai observasi. anak laki-laki. Negara. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. keponakan. toleransi. Peran perempuan di domestik dan publik Perempuan memiliki peran penting untuk promosi perdamaian di berbagai aspek kehidupan. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Dirasakan banyak ketimpangan. selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. paman. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. majikan. ada yang bersifat individu. tetangga. Dalam proses pembangunan.

gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 25 tahun 2000 Propenas. • Konferensi ICPD. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita • Konferensi di Nairobi. 36 tahun 1990. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan . melalui UU No. 7 tahun 1984. melalui Keputusan Presiden No. UU No. 6.• 1963. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. Indonesia meratifikasi CEDAW. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. Instruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. • Secara Nasional antara lain: Adanya UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen. • Konferensi di Beijing. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. • Konferensi di Mexico. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam Rangka Mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Gender. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. • Pertemuan di Vienna.

pemahman. 2000 tentang Program Pembangunan Nasional-PROPENAS 2000-2004. meskipun masih belum optimal.• Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. UU No. kedudukan masih rendah. beban kerja masih berat. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. pelaksanaan. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. 25 th. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisadilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan . di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Di lain pihak. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. pada saat ini masih banyak kebijakan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai.

Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues . Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. Sarana dan Prasarana. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 20012004. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang.Semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Sumber Daya. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan.

. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. • Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). dan Problem Base Analysis (PROBA). propinsi dan kabupaten/kota. dan kabupaten/kota. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. propinsi. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. advokasi. kabupaten dan kota. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website.in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender.

bermasyarakat. sosial. pekerjaan. Kita sebagai manusia tentu masih banyak kekurangan oleh karena itu marilah kita bersama saling mengisi kekurangan itu dengan berbagi pengetahuan. dan budaya. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. Saran-saran Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa dapat mengetahui dan memahami Hukum Gender. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. Penulis menyadari bahwa kemampuan yang dimiliki masih sangat kurang dan sangat terbatas untuk meningkatkan kemampuan penulis maka sangat diharapkan sumbangan-sumbangan pemikiran dari mahasiswa lain dan Dosen Pembimbing.BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Karena penulis memahami sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam tahap pembelajaran. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. kondisi perempuan di bidang ekonomi. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. . Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. politik. berbangsa dan bernegara.