You are on page 1of 1

arsitektur

REPUBLIKA AHAD, 17 OKTOBER 2010

B2
FOTO-FOTO: ISLAM.PENZBERG.DE

MASJID PENZBERG
Gaya Kontemporer Islam di Kaki Pegunungan Alpen

MENARANYA DITULISI KALIGRAFI TENTANG SERUAN UNTUK MENUNAIKAN SHALAT LIMA WAKTU.

Oleh Syarif Abdussalam

ahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Terjemahan ayat Alquran surah Al-Hujurat ayat 13 itu, tertulis dengan jelas dalam bahasa Jerman pada salah satu sisi gerbang sebuah masjid yang beralamat di Bichlerstrasse 15, Penzberg, Bayern, Jerman. Penzberg adalah sebuah kota dengan jumlah penduduk sekitar 16.000 jiwa yang berada di bagian selatan Jerman, yaitu di kaki Pegunungan Alpen. Muslim Penzberg merupakan minoritas di kota ini, hanya berjumlah sekitar seribu jiwa. Penzberg merupakan kota multikultur, yang ditempati sekitar 70 suku bangsa di dunia. Begitu juga dengan komunitas Muslimnya. Kebanyakan berasal dari Albania, Turki, dan Bosnia. Masjid Penzber didirikan atas prakarsa komunitas Muslim Jerman yang tergabung dalam Islamische Gemeinde Penzberg eV atau Jamaah Islam Penzberg. Organisasi Islam yang didirikan pada 1994 ini, dikenal sangat multietnis, netral, dan terbuka. Sebelum memiliki masjid seperti sekarang, Muslim Penzberg dulunya biasa melakukan shalat di sebuah bangunan tua bekas kandang sapi. Baru pada September 2005 setelah masjid yang diberi nama Forum Islam ini diresmikan, Muslim Penzberg bisa beribadah dengan sangat nyaman di masjid barunya. Biaya pembangunan masjid yang mencapai tiga juta Euro yang merupakan sumbangan dari Sultan bin Muhammad Al-Qassimi, emir dari Uni Emirat Arab (UEA). Perancang Forum Islam atau Masjid Penzberg adalah Alen Jasarevic, seorang arsitek Muslim keturunan Bosnia. Berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid lainnya di Jerman yang menggunakan gaya arsitektur Turki Usmani, Jasarevic merancang masjid ini dengan gaya kontemporer. Ketika masjid-masjid lainnya dilengkapi kubah dan menara, Masjid Penzberg lebih memilih untuk tidak memiliki kedua ornamen tradisional masjid tersebut. Jasarevic berpendapat bahwa masjid dengan gaya kontemporer dinilai dapat lebih diterima di Eropa daripada gaya arsitektur lainnya. Selain

inovatif, hal ini sejalan dengan harapan Muslim Penzberg, yaitu menginginkan sebuah masjid yang dapat diterima masyarakat sekitarnya tanpa menimbulkan protes dan dapat dijadikan tempat untuk berinteraksi antara sesama Muslim dan warga lainnya. Setelah masjid ini diresmikan, harapan Muslim Penzberg menjadi kenyataan. Tercatat semenjak hari peresmiannya, masjid ini telah didatangi puluhan ribu pengunjung, baik Muslim maupun non-Muslim. Komunitas Muslim Penzberg memiliki hubu-ngan yang sangat baik dengan warga lainnya termasuk pemeluk Kristen dan Yahudi. Menurut Jasarevic, ilmu arsitektur selama berabad-abad telah memberikan kontribusinya pada kelancaran dakwah dan pencitraan Islam di berbagai negeri. Pembangunan sebuah masjid selalu mengikuti kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitarnya. Contohnya adalah Masjid Raya Xian di Cina yang dibangun dengan gaya arsitektur Dinasti Ming. Penyesuaian arsitektur masjid dilakukan sebagai salah satu langkah untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan sosialnya sehingga Islam bisa diterima dengan baik oleh semua lapisan masyarakat. Langkah inilah yang dilakukan oleh Muslim Penzberg untuk memulai komunikasi yang baik dengan warga lainnya.

Kontemporer
Masjid Penzberg adalah bangunan masjid dengan gaya kontemporer yang sarat dengan dengan sentuhan seni Islami. Bangunan yang dinding eksteriornya didominasi oleh corak batu bata berwarna pasir pantai ini memiliki denah berbentuk huruf L. Masjid Penzberg memiliki sebuah menara yang unik berupa susunan tiga buah kubus setinggi 13 meter. Menara ini tidak terbuat dari batu bata atau semen seperti pada umunya, tetapi rangkaian kaligrafi yang membentuk tiga buah kubus baja antikarat. Kaligrafi Arab yang membentuk menara ini adalah teks ajakan untuk mendirikan shalat, yaitu azan. Tulisan seruan shalat di menara ini se-nantiasa tampak selama 24 jam sehari tanpa mengganggu para tetangga. Ini sebagai salah satu solusi, saat menara di larang seperti di Swiss. Berdiri dengan elegan di dekat pusat kota, Masjid Penzberg berbaur dengan gaya arsitektur bangunan lain di sekitarnya. Tidak seperti kebanyakan pintu masjid lainnya dari bahan kayu berukir, Masjid Penzberg memiliki pintu utama yang terbuat dari bahan metal polos. Di atasnya terdapat sebuah jendela besar yang memantulkan warna langit dan awan Kota Penzberg. Pintu masjid diapit oleh gerbang berupa dua lembar balok beton yang tingginya hampir setara dengan tinggi bangunan. Pada balok beton sebelah kiri tertulis terjemahan bahasa Jerman dari surah Al-Fatihah dan

surah Al-Hujurat ayat 13, sedangkan pada lembar balok beton sebelah kanan tertulis ayatayat Alquran tersebut dalam bentuk kaligrafi bahasa Arab. Dengan demikian, kedua lembar balok beton ini terlihat seperti sebuah Alquran terjemahan bahasa Jerman berukuran besar yang sedang terbuka, menyambut siapa pun yang datang ke masjid ini untuk beribadah atau sekadar berkunjung dan mempelajari Islam. Bila biasanya pintu utama masjid langsung mengantarkan jamaah dan pengunjung ke ruang shalat utama, di Masjid Penzberg, seorang jamaah akan langsung memasuki koridor (flur) yang mirip dengan rumah-rumah di Jerman, dan sekaligus menghubungkannya dengan pintu-pintu lainnya. Di sebelah kiri koridor terdapat pintu perpustakaan dan tangga menuju ruang shalat wanita di lantai kedua. Sedangkan di sebelah kanan terdapat pintu ruang shalat utama untuk laki-laki. Ujung koridor ini terhubung dengan lapangan parkir dan taman. Di dalam bangunan berlantai tiga ini, juga terdapat sebuah perpustakaan multimedia dengan koleksi berjumlah lebih dari 6000 buah. Bangunan masjid ini juga memiliki aula, ruang administrasi, dan beberapa ruang kelas. Di bagian luar masjid terdapat taman, teras, dan tempat parkir. Keseluruhan bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 1.600 meter persegi. Walaupun memilih gaya kontemporer untuk seluruh struktur bangunannya, Jasarevic tidak serta-merta meninggalkan unsur-unsur seni Islami sebagai penghias sekaligus jiwa dari masjid ini. Hiasan arabes berupa permainan garis-garis geometri sederhana dan kaligrafi bahasa Arab tetap menghiasi seluruh interior ruang shalat. Bentuknya terinspirasi dari corak hiasan Masjid Kordoba, Spanyol. Sementara itu, langit-langit, panel, dan beberapa buah tiang artistik di ruang shalat utama dihiasi oleh kaligafi 99 nama Allah (Asmaul Husna) dan rangkaian garis geometri yang

membentuk bintang-bintang. Keseluruhan mihrab masjid dibentuk oleh rangkaian kaligrafi yang terbuat dari bahan metal berwarna emas. Untuk tempat berkhutbah, sebuah mimbar tinggi berukir corak geometri berdiri di sebelah depan kanan ruangan shalat. Sebagai tambahan sumber energi, di atap masjid yang berbentuk datar ini dipasang 22 panel tenaga matahari seharga 40 ribu Euro. Panel-panel ini merupakan sumber energi untuk sistem penghangat ruangan dan pemanas air. Pencahayaan interior ruang shalat mengandalkan beberapa buah lampu kecil khas gaya minimalis yang ditempatkan di langit-langit dan lantai dekat jendela. Dan pada siang hari pencahayaan interior didukung oleh jendela-jendela besar di sebelah kanan dan kiri ruang shalat. Bagian terdepan ruang shalat ini bukanlah sebuah dinding beton, melainkan rangkaian 24 jendela daur ulang berwarna biru yang menghadap ke arah kiblat. Pada waktu siang, cahaya matahari akan dibiaskan oleh rangkaian jendela untuk menghasilkan cahaya berwarna kebiruan. Pada malam hari pemandangan masjid akan menjadi lebih indah, khususnya pada bagian eksterior. Seluruh dinding luar masjid disinari oleh lampu sorot, memperjelas efek visual dari corak batu bata pada permukaan dindingnya. Jendela-jendela masjid yang berukuran besar memancarkan cahaya yang berasal dari dalam ruangan, menegaskan corak geometri berbentuk bintang dan motif bintik-bintik biru pada setiap jendelanya. Tidak ketinggalan, menara masjid ikut menghiasi pemandangan malam kota yang berada di kaki Pegunungan Alpen ini. Cahaya dari dalam menara memancar dan menembus celah-celah ukiran kaligrafinya. Karya besar Jasarevic ini sekarang menjadi salah satu ikon Kota Penzberg. ed: syahruddin el-fikri Syarif Abdussalam adalah MahasiswaUnpad Bandung

Oleh Syarif Abdussalam

Transparansi H untuk Integrasi

ampir 60 persen bangunan Masjid Penzberg ditutupi oleh kaca jendela. Dari luar, kita bisa dengan mudah melihat kegiatan yang sedang berlangsung di ruang shalat, ruang kelas, atau perpustakaan. Gaya kontemporer yang lebih terbuka ini merupakan sebuah cara untuk mempresentasikan identitas sekaligus keinginan Muslim Penzberg untuk bisa berintegrasi dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitarnya. Kondisi bangunan seperti ini akan membuat semua lapisan masyarakat tidak enggan untuk mengunjungi Masjid Penzberg. Fungsi masjid sebagai wadah komunikasi memang dinilai sangat penting

di tengah Kota Penzberg yang memiliki penduduk multietnis dan terbuka ini. Selain sebagai tempat beribadah bagi umat Muslim, Masjid Penzberg juga menggelar berbagai kegiatan pelayanan rutin yang ditujukan untuk semua masyarakat Penzberg, di antaranya adalah kelas pembelajaran Islam, konsultasi agama dan sosial, kursus bahasa, seminar, diskusi antaragama dan antarkultur, konferensi, open house, kelompok bermain anak, dan bimbingan belajar. Semua kegiatan ini membuat Masjid Penzberg tidak pernah sepi.

Terbaik di Bayern
Pada waktu perencanaan dan proses pembangunannya, masjid ini sempat menuai keresahan dari masyarakat sekitar. Mereka khawatir dengan kehadiran sebuah

bangunan asing yang akan mereka lihat setiap hari. Maklum saja, kebanyakan orang Jerman berpikir kalau sebuah masjid pastilah berdiri dengan kubah dan menara khas Turki yang asing bagi mereka. Masjid masih dianggap sebagai sebuah tempat beribadah orang-orang yang tidak ingin berbaur dengan masyarakat lain. Pemikiran ini akhirnya terpatahkan sejalan dengan hadirnya sebuah masjid dengan gaya yang lebih bersahabat dan membaur serta aktivitas-aktivitas masjid yang selalu berusaha merangkul warga sekitarnya. Kekhawatiran masyarakat Penzberg pun akhirnya berubah menjadi sebuah kebanggaan ketika masjid ini memenangi Wessobrunner Architekturpreis, sebuah penghargaan yang diberikan setiap lima tahun sekali untuk karya arsitektur terbaik

di seluruh Negara Bagian (provinsi) Bayern. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, Masjid Penzberg berhasil mengalahkan puluhan bangunan yang menjadi pesaingnya. Wali Kota Penzberg, Hans Mummert, menyatakan, penghargaan tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi Kota Penzberg. Benjamin Idriz, imam Masjid Penzberg, menambahkan, inilah pertama kalinya sebuah masjid di Jerman memenangi penghargaan arsitektur. Masjid Penzberg diakui karena arsitekturnya yang luar biasa, sama halnya dengan aktivitas sosial, budaya, dan pendidikan yang diselenggarakan di dalamnya. Alen Jasarevic pun berharap Masjid Penzberg bisa menjadi inspirasi bagi Muslim lainnya di Jerman.
ed: syahruddin el-fikri