You are on page 1of 6

BAHAN MASUKAN UNTUK

DEWAN PERWAKILAN DAERAH

6TH ASIAN WOMEN PARLIAMENTARIANS’ AND MINISTERS’ CONFERENCE ON


FINANCING MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS

MONGOLIA, 23-24 SEPTEMBER 2008

Poverty and Hunger

- Merujuk pada definisi kemiskinan dalam Strategi Nasional Penanggulangan


Kemiskinan (SNPK) Indonesia, kemiskinan tidak dipahami sebatas
ketidakmampuan ekonomi. Kemiskinan adalah “kondisi di mana seseorang atau
sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya
untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat”.

- Hak-hak dasar tersebut meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan,


pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam,
dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak
kekerasan, serta hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik.

- MDGs menetapkan indikator penurunan proporsi penduduk dengan tingkat


pandaptan di bawah US$1 (ppp) per hari menjadi setengahnya dalam kurun
waktu 1990-2015. Di Indonesia, presentase penduduk dengan pendapatan di
bawah US$1 (ppp) mengalami penurunan yang sangat berarti dari 20,60 % pada
tahun 1990 menjadi 7,54 % pada tahun 2006. Dengan demikian, dapat pula
dikatakan bahwa Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan MDGs jauh
sebelum tahun 2015.

- Namun demikian, terdapat kekhawatiran dengan berkembangnya isu global


lingkungan yang dapat mempengaruhi pencapaian target tersebut, khususnya
dalam konteks ketahanan pangan, permasalahan penduduk miskin adalah daya
beli yang rendah. Dari sisi peran gender, perempuan biasanya menjadi tumpuan
harapan untuk dapat mengelola kondisi keuangan yang terbatas untuk berbagai
kebutuhan keluarga tanpa meninggalkan kebutuhan pokok keluarga, antara lain

1
yaitu pangan. Peran tersebut menyebabkan beberapa perempuan mengambil
beberapa alternatif, seperti: pengurangan jumlah makanan, menunda kebutuhan
lain seperti pendidikan dan kesehatan, berusaha bekerja untuk menambah
penghasilan, dan mengolah bahan pangan alternatif bagi keluarganya. Selain itu,
ketidaksetaraan relasi gender di dalam masyarakat dan khususnya dalam
keluarga di mana perempuan lebih banyak berperan melayani kebutuhan semua
keluarga, menyebabkan perempuan mengkonsumsi bahan pangan paling sedikit
dibanding anggota keluarga lainnya. Beberapa solusi yang diambil seringkali
menyebabkan kondisi keluarga miskin menjadi semakin buruk, misalnya gizi
buruk pada anak dan ibu hamil, anak putus sekolah, depresi, bahkan dapat
berujung kematian.

- Rendahnya daya beli masyarakat antara lain disebabkan oleh terbatasnya


kesempatan kerja dan berusaha, bagi laki-laki dan perempuan. Keterbatasan
lapangan kerja, juga mendorong perempuan dan laki-laki untuk bermigrasi, baik
di dalam negeri maupun ke luar negeri. Dalam hal ini, karena penduduk miskin
umumnya berpendidikan dan memiliki keterampilan rendah, pekerjaan yang
tersedia adalah pekerjaan non produktif, bersifat informal, dan minim/tanpa
perlindungan. Para pekerja migran ini, khususnya perempuan dan anak
perempuan, juga berpotensi untuk menjadi pekerja ilegal dan korban kekerasan,
termasuk perdagangan orang dan eksploitasi seksual. Pekerja migran ilegal dan
korban perdagangan orang, bukan hanya menjadi masalah bagi negara pengirim
tapi juga bagi negara penerima.

- Kerjasama internasional penghapusan perdagangan orang harus ditingkatkan


dengan mekanisme pengawasan yang lebih ketat dalam proses rekruitmen dan
penempatan. Pemantauan para pekerja migran, baik di negara pengirim, transit,
dan penerima ditingkatkan. Negara pengirim berkewajiban meningkatkan
keterampilan dan pendidikan warga negaranya agar dapat bersaing mengisi
pekerjaan-pekerjaan produktif, bersifat formal, dan dengan upah yang kompetitif.

- Terkait dengan kekerasan berbasis gender, WHO telah mencatat bahwa


kesejahteraan dan program pengentasan kemiskinan tidak akan pernah berhasil
jika masyarakat dan negara tidak dapat mengatasi berbagai bentuk kekerasan,
eksploitasi, dan penelantaran terhadap perempuan dan anak. Upaya-upaya
untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak perlu
ditingkatkan, serta peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum juga
harus dilaksanakan secara konsisten.

- Dalam konteks sumber daya alam dan lingkungan hidup, pola pembangunan
yang mengurangi, dengan skala lebih cepat daripada kemampuan melestarikan

2
keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya menyebabkan kerusakan
lingkungan yang berkelanjutan. Hal ini tentu saja menyebabkan pemiskinan dan
bencana alam. Bersama dengan pemanasan global dan perubahan iklim akibat
kerusakan lingkungan, perempuan mengalami dampak yang lebih hebat
dibanding laki-laki. Salah satu contoh adalah kelangkaan air bersih dan bahan
bakar, yang telah berkontribusi menambah beban waktu dan tenaga bagi
perempuan, utamanya perempuan miskin. Contoh lainnya adalah pengolahan
sampah dan limbah yang tidak bertanggungjawab, terutama yang terjadi di
rumah tangga miskin, menambah peluang perempuan terpapar pada berbagai
penyakit yang tidak mampu diobati.

- Permasalahan perubahan iklim juga mempunyai dimensi gender, dimana


perempuan miskin kembali menjadi kelompok yang paling rentan terhadap
permasalahan kerusakan lingkungan. Sebagai gambaran, kelompok masyarakat
miskin, dimana perempuan mencapai 70%, merupakan penyumbang emisi gas
rumah kaca terendah, namun paling rentan pada dampak yang diakibatkannya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok penduduk miskin, yang paling
sedikit kontribusinya pada kerusakan lingkungan, menerima akibat terburuk
karena mereka juga miskin informasi dan sumberdaya ekonomi untuk
menangani dampak ini. Bahkan perempuan sering dimarginalkan dalam proses
perencanaan dan pelaksanaan upaya penanggulangannya.

- Pola pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan sumberdaya alam dan


dampaknya bagi generasi yang akan datang perlu ditingkatkan. Pemerintah,
swasta, dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan perlu menyadari bahwa
kerusakan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, laki-laki dan perempuan.
Oleh karena itu perempuan perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Kendala struktural dan kultural yang menghambat keterlibatan perempuan harus
dihapus agar perempuan memiliki representasi yang seimbang untuk
menyuarakan pendapatnya.

- Untuk itu, berbagai upaya perlu dilakukan Pemerintah, antara lain: 1)


memperdalam kajian tentang dampak krisis energi dan sumberdaya alam pada
penduduk miskin menurut daerah tempat tinggal dan jenis kelamin. Kebutuhan
masyarakat perkotaan dan perdesaan mungkin berbeda dan membutuhkan
intervensi yang berbeda pula; 2) meningkatkan kajian sumber-sumber energi
alternatif dan sosialisasinya pada masyarakat luas secara transparan; dan 3)
mengupayakan pendidikan masyarakat tentang perubahan iklim, krisis energi,
upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan
memperbaiki kerusakan lingkungan.

3
Education and Health

- Dalam konteks pendidikan dan kesehatan, meskipun sudah ada kemajuan


berarti untuk menigkatkan partisipasi dan akses perempuan terhadap
pendidikan, menurunkan buta aksara penduduk usia muda dan produktif dan
meningkatkan rata-rata harapan hidup penduduk (sebagai indikator komposit
capaian kesehatan), masih tertinggal catatan penting yang harus diselesaikan
oleh Pemerintah Indonesia.

- Angka Partisipasi Murni (APM) sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (7-12


tahun) dan APM Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Trsanawiyah (13-15
tahun) dari tahun 1992 sampai tahun 2006 secara nasional menunjukkan
kecenderungan membaik. Pada tahun 1992, APM SD/MI tercatat 88,7% dan
pada tahun 2007 mencapai 93,75% (Susenas 2007). Sementara itu APM
SMP/MTs thuan 1992 adalah 41,9% dan mencapai 66,64% pada tahun 2007
(Susenas2007). Jika kecenderungan ini mampu diperthanakan, maka Indonesia
diperkirakan berhasil mencapai target MDGs pada tahun 2015. Sedangkan
Angka Partisipasi Kasar (APK) sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan APK
Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Trasnawiyah dari tahun 1993 sampai
tahun 2006 secara nasional menunjukan kecenderungan membaik. APK SD?MI
sejak tahun 1992 sudah mencapai 102,0 %. Pada tahun 2006, angka ini menjadi
109,95%. Namun untuk tingkat SMP/MTs, APKnya masih jauh tertinggal
dibandingkan dengan APK SD/MI. Pada tahun 1992 APK SMP/MTs masih
berada di angka 55,6% dan pada tahun 2006 baru mencapai 88,68%. Indikator
ini menginformasikan bahwa berbagai program SD?MI dan SMP/MTs non-
reguler berhasil menjaring kembali murid SD/MI dan SMP/MTs untuk
menuntaskan masa belajar mereka di bangku SD/MI maupun SMP/MTs.
Informasi ini juga menunjukkan bahwa dalam perjalanan mengikuti proses
belajar megajar, ternyata masih banyak siswa SD/MI yang tidak dapat
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

- Capaian tingkat pendidikan secara langsung berkorelasi dengan tingkat


kemiskinan. Sebagai contoh, statistik menunjukkan bahwa sebagian besar buta
aksara terjadi pada kelompok keluarga miskin, masih ada sekitar 2,3 persen atau
5 juta penduduk kelompok umur 15-24 tahun dengan pengeluaran terbawah
yang tidak dapat membaca dan menulis (Susenas 2006). Pada kelompok
penduduk umur 15-24 tahun yang buta aksara dan miskin, kondisi ini diperburuk
dengan terbatasnya lapangan kerja formal dan minimnya layanan dasar yang
murah, seperti layanan kesehatan dan pendidikan. Hidup sehat menjadi prioritas
kesekian karena pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, air bersih, dan makanan
yang dapat dijangkau membuat mereka terpapar risiko tinggi terhadap penyakit-
penyakit kronis, seperti kanker, TBC, demam berdarah, dan lain-lain.

4
- Dari aspek disparitas gender di capaian bidang pendidikan dan kesehatan,
perempuan masih tertinggal dari laki-laki hampir di seluruh tingkatan pendidikan,
terutama di tingkat menengah ke atas, dan masih banyak masalah-masalah
kesehatan perempuan dan anak yang off track. Hal tersebut antara lain
dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Oleh karena itu, rekayasa sosial dalam
rangka mengubah mind set masyarakat tentang peran dan relasi laki-laki dan
perempuan serta pemenuhan hak pendidikan dan kesehatan bagi perempuan
dan anak perempuan perlu diupayakan mengingat beberapa nilai sosial budaya
yang mengakar di masyarakat menyebabkan perempuan dan anak perempuan
belum seluruhnya memperoleh hak atas pendidikan yang setara dengan laki-laki
dan hak kesehatan, khususnya hak kesehatan reproduksi.

- MDGs menetapkan dua tujuan (ke-4 dan ke-5), untuk mengukur pencapaian
pembangunan di bidang kesehatan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan
angka kematian balita sebesar dua-pertiga dan angka kematian ibu (AKI)
sebesar tiga-perempat dalam kurun waktu 1990-2015. Angka kematian bayi
(AKB) berhasil diturunkan dari 68 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1992
menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003 (Bappenas, 2007).
Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian Indonesia on track dengan target yang
ditetapkan MDGs. Kondisi yang berlawanan terjadi pada target pemerintah untuk
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 1994 mencatat angka kematian ibu sebesar 390 per 100.000
kelahiran hidup. Namun pada tahun 2002-2003 AKI hanya mampu diturunkan
menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk memenuhi target MDGs, maka
pada tahun 2015 Indonesia harus mampu menurunkan AKI menjadi 102. Angka
tersebut merupakan target yang sangat ambisius bagi Indonesia mengingat
dalam kurun waktu 9 tahun dari tahun 1994 sampai dengan 2002-2003,
Indonesia hanya mampu menurunkan AKI sebesar 83 per 100.000 kelahiran
hidup. Indonesia masih memerlukan komitmen tinggi dan kerja keras semua
pihak, pemerintah dan masyarakat untuk mampu mencapai angka yang
ditargetkan dalam MDGs.

- Kematian ibu dalam proses kehamilan dan melahirkan serta kematian bayi dan
balita dipengaruhi oleh banyak faktor di luar fasilitas kesehatan. Status gizi
selama ibu hamil, kekerasan dan eksploitasi, beban majemuk akibat pembakuan
peran gender, dan nilai sosial budaya adalah beberapa faktor yang secara
empirik terbukti berkontribusi pada tingginya angka kematian ibu dan bayi. Oleh
karena itu, tindakan preventif adalah upaya strategis untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Salah satu upaya yang dapat diambil adalah
meningkatkan status kesehatan penduduk di seluruh kelompok umur (life cycle-
based approach) dengan memperhatikan isu-isu kontemporer yang berkembang
dan kerentanan terhadap penyakit-penyakit baru atau re-emerging diseases. Hal

5
ini akan menghemat lebih banyak sumberdaya, sehingga investasi pemerintah
dapat diarahkan pada upaya-upaya lain, seperti menciptakan tenaga kerja yang
handal, kompetitif, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Environmental Sustainability

- Kerusakan lingkungan hidup akibat pembangunan akan mempersulit kehidupan


generasi yang akan datang. Pola pembangunan harus diubah menjadi
pembangunan yang ramah lingkungan dengan landasan pemikiran bahwa
sumberdaya alam yang tak terbarukan adalah pinjaman dari generasi yang akan
datang. Perempuan sebagai agen perubahan dapat ditingkatkan perannya, di
semua lini, untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidup. Banyak gerakan-
gerakan perempuan untuk lingkungan hidup di seluruh dunia menjadi titik awal
perubahan pola hidup dan sosial lingkungan kemasyarakatan guna mewujudkan
dunia yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan untuk generasi yang akan
datang.

- Skala program-program, baik substansi, cakupan wilayah maupun pelaku


pelestarian keanekaragaman hayati dan budaya perlu ditingkatkan agar
memberikan dampak yang optimal dalam rangka menjaga keseimbangan
lingkungan dan mencegah kerusakan alam. Hal ini mengingat bahwa kerusakan
lingkungan dan perubahan iklim lebih banyak diakibatkan oleh ulah manusia
dibanding fenomena alam.

- Penegakan hukum bagi pelaku pembangunan yang merusak dan/atau


mencemari lingkungan hidup perlu ditingkatkan. Kerusakan lingkungan yang
berkelanjutan akibat pola konsumsi energi yang berlebihan akan memperburuk
tingkat kemiskinan suatu bangsa. Data terpilah menurut jenis kelamin dan
wilayah tempat tinggal tentang penggunaan energi perlu disediakan dalam
rangka mempelajari peluang energi alternatif yang tepat bagi setiap kelompok
penduduk.

- Rencana aksi penanggulangan dampak perubahan iklim perlu diperkuat dengan


analisis dampak kerentanan dan kapasitas laki-laki dan perempuan
mengadaptasi perubahan iklim.