P. 1
Makalah Biomol Klp 5

Makalah Biomol Klp 5

|Views: 229|Likes:
Published by Fisa Love

More info:

Published by: Fisa Love on Jun 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2015

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN

Saliva adalah suatu cairan rongga mulut yang kompleks dan terdiri atas campuran sekresi kelenjar ludah mayor dan minor yang ada pada mukosa rongga mulut. Saliva yang terbentuk dalam rongga mulut, kurang lebih 90% dihasilkan oleh kelenjar submaksilaris dan parotis, 5% oleh kelenjar sublingual, dan 5% lainnya dihasilkan oleh kelenjar ludah minor.

Setiap hari kelenjar saliva manusia menghasilkan 600 mL serosa dan mucin saliva yang mengandung mineral, elektrolit, buffer, enzim dan inhibitor enzim, faktor pertumbuhan dan sitokin, imunoglobulin, mucin, dan glikoprotein lainnya. Setelah melewati duktus dan masuk ke dalam rongga mulut, saliva akan bercampur dengan sel-sel darah, mikroorganisme (virus, bakteri dan jamur) dan produk-produknya, sel-sel epitel rongga mulut dan produk sel, sisa makanan, serta sekresi saluran pernapasan atas.

Meskipun kandungan terbesarnya adalah air, saliva memiliki peran fisiologis dalam lubrikasi dan perbaikan mukosa rongga mulut, pembentukan dan penelanan bolus makanan, pencernaan karbohidrat, memungkinkan fungsi indera pengecap, dan mengendalikan populasi mikroba orofaring. Saliva juga membantu pembentukan plak, melalui sifat supersaturasi dengan mineral gigi, suatu proses dimana email gigi dapat termineralisasi. Selain itu, saliva juga memiliki

komponen antimikroba dan agen buffer yang melindungi dan memelihara jaringan rongga mulut. Protein yang ditemukan dalam saliva, antara lain laktoferin, lisozim, peroksidase, defensin, dan histatin, dapat menghancurkan atau menghambat perkembangan mikroorganisme, yang memiliki sifat fungisidal.

BAB II

BIOMARKER SALIVA SEBAGAI ALAT BANTU DIAGNOSIS KANKER RONGGA MULUT

Komponen multifaktorial dalam saliva tidak hanya melindungi integritas jaringan rongga mulut, tapi juga memberikan petunjuk terjadinya penyakit atau kondisi sistemik dan lokal. “Biormarker” saliva ini telah seringkali dieksplorasi untuk memonitoring kesehatan dan diagnosis dini suatu penyakit. Biomarker saliva, seperti kalikrein, faktor pertumbuhan epidermal, dan p53 diperkirakan sebagai penanda tumor dalam keganasan pada payudara, ovarium, paru-paru, dan usus besar. Pemeriksaan menggunakan saliva sebagai alat diagnostik membuka jalan bagi berbagai pengujian dan penelitian klinis. Molekul-molekul yang disebutkan di atas juga dinyatakan sebagai penanda tumor potensial dalam karsinoma sel squamous rongga mulut.

Meskipun kanker rongga mulut cukup sering ditemukan pada pasien yang menjalani pemeriksaan rongga mulut, belum ada penanda tumor spesifik yang mampu mendeteksi dan menegakkan diagnosis kanker sacara sederhana dan efektif. Dalam berbagai macam kasus kecurigaan kanker di tempat pelayanan kesehatan primer (puskesmas), tidak dilakukan penegakkan diagnosis, pasien cenderung dirujuk ke dokter spesialis di rumah sakit sekunder atau tersier, setelah penyakit berkembang ke stadium lanjut. Penundaan tersebut menghalangi

Penyimpangan glikosilasi merupakan tanda universal kanker. mereka berperan penting dalam keganasan. Glikoprotein dan glikolipid merupakan kandungan penting membran sel. Glikoprotein saliva berperan penting dalam kandungan dan fungsi saliva. Peningkatan konsentrasi beberapa biomarker saliva dihubungkan dengan kanker payudara dan ovarium. sehingga. dan rasio protein total dalam serum berbagai jenis keganasan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa saliva berpotensi untuk mendeteksi lesi pra-kanker. untuk mencari informasi tentang biomarker saliva khusus untuk kanker rongga mulut menggunakan 4 macam sitokin dalam saliva dan ELISA. atau pelepasan sel-sel maligna. Kemungkinan kanker rongga mulut. seperti kanker lidah juga dilaporkan pada individu yang memiliki kandungan nitrit dan nitrat tinggi. . Penelitian terdahulu melaporkan peningkatan asam sialat (TSA). sekresi.dilakukannya perawatan dini dan mengharuskan pasien menjalani perawatan yang lebih ekstensif. menemukan bahwa konsentrasi keempat sitokin lebih tinggi pada grup pasien yang menderita kanker rongga mulut dibandingkan dengan grup kontrol. Glikokonjugat tersebut dilepaskan dalam sirkulasi melalui peningkatan turn-over [arus balik]. Dan peningkatan kandungan protein dalam saliva juga dihubungkan dengan karsinoma sel squamous. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Katakura dkk.

Perubahan proses glikosilasi dalam sel-sel tumor berperan dalam biosintesis beberapa oligosakarida tertentu. penderita Down’s syndrome. . Peningkatan kandungan asam sialat dalam serum penderita kanker rongga mulut menunjukkan peran potensial biomarker saliva ini dalam diagnosis dan menentukan stadium klinis penyakit keganasan. Beberapa penelitian melaporkan peningkatan konsentrasi asam sialat dalam saliva ibu hamil. Baxi dkk. dan diabetes mellitus. menyelidiki konsentrasi asam sialat dalam berbagai macam kanker dan menemukan konsentrasi asam sialat dalam serum penderita kanker lebih tinggi dibandingkan dengan subyek sehat. jadi. Konsentrasi asam sialat saliva dipengaruhi oleh berbagai jenis penyakit rongga mulut. sel-sel ganas mengandung residu asam sialat dalam jumlah besar.Asam Sialat Beberapa penelitian melaporkan signifikansi asam sialat sebagai salah satu penanda tumor. Dablesteen dkk. melaporkan terjadinya peningkatan kandungan asam sialat dalam kanker rongga mulut. Asam sialat merupakan unsur pokok dalam berbagai macam glikoprotein saliva dan merupakan mediator adhesi bakteri.

proteomik tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi konsentrasi setiap protein. Para peneliti telah menemukan sekitar 309 protein dalam whole saliva. Namun. peran kedua substansi tersebut dalam keganasan belum diketahui. dan 130 protein dalam pelikel email. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Shpitzer dkk. menemukan terjadinya perubahan komposisi saliva pada penderita . Perkembangan terbaru dalam proteomik berhasil mengidentifikasi berbagai macam protein. Streckfus dkk. para peneliti dapat mengidentifikasi protein yang terkandung dalam saliva. untuk mengevaluasi parameter biokimia dan imunologis dalam saliva penderita karsinoma sel squamour. Ditemukannya beberapa jenis protein tertentu dalam saliva dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya karsinoma sel squamous. yang sebagian besar hanya berupa trace amount [sedikit]. tidak ada protein dalam saliva yang mengindikasikan kanker rongga mulut secara spesifik. Namun. Namun. juga ditemukan dalam saliva. dan Bonassi dkk.Protein Total Konsentrasi protein dan gula total pada penderita karsinoma sel squamour rongga mulut juga meningkat. yang merupakan biomarker perkembangan penyakit dalam organ selain rongga mulut. melaporkan bahwa jenis protein tertentu. Dari database peptida beberapa jenis protein yang diketahui. dalam whole saliva dan sekresi setiap kelenjar.

Metode ini dikembangkan oleh Timothy Griffin dkk. Telah dikembangkan teknik baru yang dapat memisahkan dan menganalisis semua protein yang ditemukan dalam saliva manusia. Para peserta konferensi menganjurkan pengembangan pengujian yang lebih sensitif dan spesifik untuk mengukur dan memahami perubahan dalam saliva akibat terapi dan penyalahgunaan obat-obatan. dan penelitian yang dilakukan berhasil mengembangkan pengujian saliva yang lebih sensitif. yang menunjukkan gangguan lingkungan rongga mulut pasien tersebut dan menganjurkan analisis saliva sebagai alat diagnostik baru untuk kanker rongga mulut. di American Society of Biochemistry and Molecular Biology. bukan hanya yang terlarut didalamnya. .karsinoma sel squamous. yang dapat menguraikan protein penanda kanker rongga mulut dan penyakit lainnya dalam rongga mulut. Perkembangan Analisis saliva Untuk Mendeteksi Kanker Rongga Mulut Dengan diketahuinya manfaat saliva sebagai suatu cairan diagnostik. status nutrisi. serta perubahan akibat-pertambahan usia. pada tahun 1992. New York Academy of Sciences mensponsori konferensi besar yang membahas masalah ini. kelainan genetik. Konferensi tersebut menyadarkan potensi diagnosis menggunakan saliva. Teknik ini dinamakan “fraksionasi peptida tiga-tahap” [three-step peptide fractionation]. dan mampu meningkatkan pemahaman kita tentang hubungan antara kesehatan mulut dengan kesehatan umum. penyakit sistemik dan rongga mulut. fungsi endokrin.

dan sensor tersebut mampu membedakan setiap kasus antara saliva penderita kanker dan individu sehat.Mereka memeriksa sampel saliva dari empat pasien kanker dan menemukan lebih dari 1000 protein manusia. mengembangkan suatu sensor yang dapat digunakan untuk mendeteksi biomarker dalam sampel saliva yang berhubungan dengan kanker rongga mulut. dan beberapa diantaranya juga memiliki hubungan dengan kanker. dan menjadi alternatif pemeriksaan darah. Sensor tersebut dihubungkan dengan microchip yang telah diprogram untuk berikatan dengan protein spesifik. dan akan menghasilkan sinyal fluorosens saat molekul-molekulnya saling berikatan. hal ini merupakan penanda terjadinya keganasan. urin. termasuk protein penyebab kanker. Mereka juga memisahkan protein-protein dari lebih dari 30 jenis bakteri. Mereka menggunakan 20 sampel saliva-10 saliva sehat. . ataupun biopsi. dan beberapa koleganya di UCLA Micro Systems Laboratories. yang belum pernah ditemukan dalam saliva. dan 10 saliva dari penderita kanker. Sensor protein ultrasensitif tersebut dinyatakan dapat diaplikasikan dalam diagnosis berbagai macam penyakit. Sensor optik dalam alat tersebut mendeteksi protein IL-8 yang lebih tinggi dari konsentrasi normalnya dalam saliva. seorang profesor. Chih-Ming Ho. Deteksi klinis biomarker-penyakit menggunakan saliva merupakan metode yang non-invasif dan sederhana.

identifikasi mefik. pemeriksaan gigi. metode visual.BAB III IDENTIFIKASI GIGI DALAM FORENSIK Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Ada yang karies. kemudian ada yang dicabut. pemeriksaan dokumen. meliputi pemeriksaan sidik jari.atau diragukan orangtua -nya. Dalam sebuah perjalanan hidup manusia. Identifikasi personal sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. pemeriksaan pakaiandan perhiasan. masing-masing gigi memiliki riwayat yang berbeda. jenazah yang rusak. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak. Yang terutama dilakukan apabila kerusakan wajah dan bentuk tubuh . maka dari itu gigi bersifat s pesifik pada setiap orang dan dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengenali seseorang. identifikasi potongan tubuh manusia. identifikasi kerangka serta pemeriksaan anatomik. Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan. ditambal. bayi tertukar. Dikenal beberapa metode identifikasi forensik. Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua m etode yang digunakan memberikan hasil positif (tidak meragukan). Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal.

meskipun dipanasi pada suhu 2500 C atau terendam dalam air laut selama 1-4 minggu. dengan karakter: 1. . tidak akan mengalami kerusakan. Hanya sebagian kecil berkas DNA yang dipakai untuk pengujian. 2. sarah dan pembuluh limfe.sudah tidak mungkin dilakukan karena rusak parah. yaitu sehimpunan data yang menggambarkan susunan DNA yang dianggap khas untuk individu yang menjadi sampelnya. Gigi merupakan organ yang sangat kuat. meskipun jenazah sudah disimpan selama 22tahun. TES DNA Tes DNA adalah salah satu teknik biologi molekuler penanda genetik yang dipakai untuk pengujian terhadap materi profil DNA. pulpa. Gigi yang masih tertanam dalam tulang. Identifikasi gigi juga menguntungkan dari sisi penghematan biaya karena tidak membutuhkan biaya yang besar. dentin. dengan pendekatan biologi molekuler. Pada penyimpanan temperatur normal. 3. Sebab dalam pulpa terdapat DNA yang mengandung berbagai kode dan informasi gen. Pulpa terlindung dari jaringan keras sehingga tidak rusak meskipun pada pemanasan 150-4500 C. serta pulpa yang berisi pembuluh darah. Strukturnya terdiri atas enamel sebagai lapisan gigi terluar dan terkeras. gigi masih dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin.

diinkubasi pada suhu 56°C dalam alat ultrasonik selama 2 jam. Hasil bubukan tulang berukuran 100 micron sebanyak 1 gram yang tertampung dalam tabung steril nunc tersebut didekalsifikasi dengan 10 cc 0. gigi dibuat menjadi bubukan halus dengan cara dibor dengan mesin yang telahdimodifikasi sehingga kecepatannya dapat diatur (dirangkai serial dengan alat dimmer untuk lampu). yaitu dengan peluang satu diantara satu juta. Tes DNA ini sangat dipercaya dan sudah diakui keabsahannya dapat mengidentifikasi seseorang dengan keakuratan mencapai 100 %. Hilangnya bubukan tulang dapat diperkecil dengan menampung bubukan tersebut dalam tabung polypropylene 50 cc (nunc). Setelah divortex. Jikapun terdapat kesalahan itu disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interpretasi fragmenfragmenDNA oleh operator (manusia).seperti bagian DNA yang berisi pengulangan urutan basa (variable number tandam repeats / VNRT).Bubukan tulang akan langsung menyebar saat ditambah larutan .5). Isolasi DNA untuk gigi dapat dilakukan melalui beberapa tahapan: Pertama. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya.5 M EDTA (pH 7. pihak kepolisian maupun pengadilan khusunya untuk membantu mengungkap suatu perkara. sehingga banyak dimanfaatkan dalam analisis.

0 jenuh. Prosesdekalsifikasi dimonitor dengan penambahan larutan ammonium oxalate pH 3. hanya pada segmen tertentu dengan bantuan enzim DNA polymerase sebanyak 20hingga 40 siklus (umumnya 30 siklus). Siklus copy DNA template pada PCR . Walaupun dengan sampel DNA yang sedikit atau sudah mulai terdegradasi.EDTA. Jika larutan tetap jernih. PCR mampu menggandakan atau mengkopi DNA template hingga miliaran kali jumlah semula sehingga dapat diperoleh informasi. Jumlah DNA yang dihasilkan ditentukan dengan menggunakan "DNA DipStik Kit" DNA siap digunakan. dengan tingkat akurasi yang tinggi. Teknik Identifikasi DNA Metode Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu metode untuk memperbanyak DNA template tertentu dengan enzim polymerase DNA. proses dekalsifikasi dihentikan. Reaksi teknik ini didesain seperti meniru penggandaan atau replikasi DNA yang terjadi dalam makhluk hidup. Proses ini berlangsung secara in-vitro dalam tabung reaksi sebesar 200 µl. Gambar 1.

Enzim akan memperpanjang rantai baru ini hingga ke ujung. proses yang dinamakan Denaturation . Tahap Ketiga .yaitu dengan memanaskan segmen atau urutan DNA rantai ganda pada suhu 96o. Pada tahap ini. Biasanya dilakukan pada suhu optimum enzim (70-72oC) selama 5-15 menit untuk memastikan bahwa setiap rantai tunggal yang tersisa sudah diperpanjang secara sempurna. Pertama. Kemudian. dilanjutkan dengan proses replikasi. DNA polymerase akan memasangkan dNTP yang sesuai dengan pasangannya.disebut Extension atau Elongasi. yaitu suhu 70-72O C.Selain ketiga proses tersebut biasanya PCR didahului dan diakhiri oleh tahapan berikut.Tahap terakhir yang dilakukan setelah siklus PCR terakhir disebut tahap Final Elongasi. Tahapan ini dilakukan selama 1-9 menit di awalreaksi untuk memastikan kesempurnaan denaturasi dan mengaktifasi DNA Polymerase.Proses yang terjadi pada teknik ini serupa dengan cara DNA memperbanyak jumlahnya dalam sel. sehingga DNA rantai ganda akan memisah menjadi rantai tunggal. . Ada tiga tahap yang dilakukan di laboratorium. DNA polymerase ditambahkan dan dilakukan peningkatan suhu ke kisaran suhu kerja optimum enzim DNA polymerase. dan lamanya waktu ekstensi bergantung pada panjang daerah yang akan diamplifikasi. yaitu tahap Pra-denaturasi. Tahap kedua yaitu proses Annealing atau Hybridization.Tahap ini dilakukan dengan menurunkan suhu hingga ke kisaran 40-60 o C selama 20-40 detik. pada proses ini setiaprantai tunggal tersebut dipersiapkan dengan cara mengikatkannya dengan DNA primer.

Oleh karena kapasitas produksi segmen DNA yang tidak terbatas maka metode yang berdasarkan PCR memungkinkan untuk menganalisa DNA dalam jumlah sangat sedikit. .Hasil diperoleh dalam waktu singkat (dalam beberapa hari) c.Simpel dan mudah dilaksanakan di laboratorium. Proses PCR yang terjadi di laboratorium Keunggulan metode PCR antara lain adalah adalah: a. Konsentrasi DNA diperoleh dengan membandingkan kekompakan pita dan intensitas kecerahannya yang diamati pada pola elektroforesis sampel DNA dibandingkan marker DNA.Gambar 2. b. Penetapan hasil tes DNA ini dilakukan mencocokkan tipe DNA korban dengan tipe DNA pihak tercurigai atau dengan tipe DNA yang telah tersedia dalam database. maka konsentrasi sampel DNA dapat dianalisis. Berdasarkan pengamatan pada pita DNA hasil elektroforesis.

Imunitas ini dapat bertaahan lama . termasuk perkembangan sistem antigen dan adjuvant yang menstimulasi induksi respon antibody immunoglobulin A dalam saliva adalah kandidat primer untuk vaksin karies pada manusia.dengan diketahuinya kloning dan karakteristik fungsional faktor virulensi bakteri. Masa kerjanya setelah periode latin. Penelitian untuk mengembangkan vaksin karies yang efektif dan aman telah difasilitasi dengan adanya perkembangan dalam biologi molecular. dan perkembangan imunologi mukosa. agen dasar penyebab karies gigi. yang dapat diperoleh secara alami selama infeksi penyakit subklinis dan klinis atau dengan vaksinasi. Meliputi partisipasi aktif pejamu setelah pemberian immunogen. Imunisasi aktif adalah imunitas yang diperolah dengan adanya antibodi atau dari sel limfoid yang terbentuk sebagai hasil stimulasi antigenik. Vaksinasi adalah pemberian dalam jumlah kecil mikroba yang sudah diinaktivasi atau dilemahkan kepada orang sehat dengan tujuan untuk merangsang tubuh orang tersebut membentuk antibodi(kekebalan) terhadap mikroba tersebut.BAB IV VAKSIN KARIES Bukti bahwa bakteri spesifik menyebabkan karies dan fungsi kelenjar saliva sebagai efektor sistem imun mukosa menjadi dasar pengembangan vaksin untuk mencegah tingginya prevalensi penyakit mulut. Vaksinasi atau Imunisasi dibedakan atas dua jenis yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.

Partisipasi pejamu dalam menghasilkan faktor imun tidak dijumpai dan masa kerjanya segera. Penelitian yang dilakukan pada moyet dimana mukosa gingiva diinjeksi dengan peptida sintetik dari permukaan protein Streptococcus mutan menghasilkan antibodi protektif pada cairan gingiva dan saliva (bowen WH. Namun imunisasi aktif ini menyebabkan efek samping sistemik yaitu terjadinya lesi auto imun pada jatung dan organ lainnya (Russel.Imunisasi ini bersifat sementara. Sebagai salah satu contoh yaitu penggunaan peptida sentetik Streptococcus mutan. Bahan-bahan yang digunakan dalam imunisasi yaitu : a. Childders 1996.1999).1999) .serta tergantung ketahanan dan kemampuan limfosit untuk mengenal antigen spesifik. Imunisasi pasif adalah imunitas yang diperoleh dari pemberian antibiotik yang telah dibentuk sebelumnya atau sel limfoid yang disintisisasi secara khusus atau hasil dari pejamu yang diimunisaszi aktif. Imunisasi aktif Beberapa metode imunisasi aktif untuk mencegah karies gigi telah dilakukan pada dekade sebelumnya yaitu (Fontana.MW. Russel MW.1999): Penggunaan peptida sintetik Streptococcus mutan Antigen Streptococcus mutan digabungkan dengan sub unit toksin kolera Sistem pengantar liposom Imunisasi aktif dengan menggunakan bahan-bahan tersebut diatas memberikan hasil yang baik.1975.

1996) : Antibodi monoklonal yang diaplikasikan seecara topikal Susu sapi bovine yang telah diimunisasi Antibodi kuning telur Antibodi tanaman transgenik. Bila diberikan ke dalam host. Jika antigen dapat diidentifikasi.b. dan di dalam host berkembang respon imun terhadap protein tersebut. rangkaian DNA yang disandi untuk antigen protein sangat mungkin untuk disisipkan ke dalam pembawa/carrier genom (seperti beberapa poxvirus atau alphavirus). Naked DNA adalah rangkaian sederhana (simple sequences) dari DNA yang disisipkan ke dalam plasmid bakteri (extrachromosomal rings of DNA) dan disuntikkan ke dalam host. Dengan strategi yang sama. organisme ini (karena disisipi DNA) mengalami replikasi terbatas. Imunisasi pasif Meningkatnya penelitian pada imunisqasi pasif menghasilkan beberapa bahan yang dapat digunakan Yaitu (Mandel ID. Secara umum pengembangan imunisasi pasif dimungkinkan sejak ditemukannya antibodi monoklonal. naked DNA disuntik langsung ke dalam host untuk memproduksi respon imun. Pengembangan vaksin DNA Satu pendekatan yang sangat diminati saat ini adalah merangsang respon imun protektif yang dikehendaki dengan cara menyuntikkan DNA yang direkayasa dari organisme infeksius (enginereed DNA sequences). protein yang dikehendaki diproduksi. Hal ini telah terbukti .

Suatu gen imunogenik diinsersikan ke dalam plasmid (A). walaupun pemberian DNA secara transdermal atau intradermal lebih dianjurkan. tetapi penyuntikan DNA secara intramuskuler pada manusia gagal menghasilkan respon imun yang kuat.efektif pada animal models. . mutans dan S. Sel dipilih untuk ekspresi protein gen dan kemudian dibiakkan. China adalah sebuah perpaduan baru anti-karies DNA vaksin antigen pengkodean pGJGAC / VAX dari kedua S. yang kemudian diinsersikan ke dalam biakan jaringan (B). DNA plasmid kemudian diekstraksi dari sel dan dipurifikasi sebelum digunakan pada hospes yang akan diimunisasi (C) Salah satu contoh vaksin DNA yang sedang dikembangkan di Laboratory for Oral Biomedical Engineering of Ministry of Education. School of Stomatology. Gambar 3: Prinsip vaksinasi DNA. Wuhan University.

Mencit diimunisasi dengan plasmid pGJGAC / VAX dan kontrol melalui intramuskuler (im) atau intranasal (dalam) rute. Kemudian dilakukan penelitian kembali dimana dipergunakan protein flagellin rekombinan yang diturunkan dari Salmonella ( FliC ) sebagai adjuvant mukosa untuk vaksin DNA anti karies ( pGJA-P/VAX ) dan menganalisa efek protein FliC pada serum Pac-spesifik IgG dan respon antibody IgA spesifik Pac.sobrinus sehingga meningkatkan efek perlindungan dari vaksin DNA terhadap infeksi S. sobrinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FliC mendukung produksi IgG spesifik Pac dalam serum dan IgA sekretori IgA ( S-IgA ) dalam saliva tikus dengan imunisasi intranasal dengan pGJA-P / VAX plus FliC. Tetapi masih terdapat tantangan karena rendahnya immugenositas dari vaksin DNA. Fragmen CAT S. Sel CHO adalah transfected dan ekspresi protein fusi dideteksi dengan menggunakan imunohistokimia seluler dan Western blot. sobrinus OMZ176 gtf-I diamplifikasi dengan semisarangnya PCR dan kemudian dimasukkan ke dalam plasmid pGJA-P/VAX untuk membangun plasmid rekombinan pGJGAC / VAX. mutans ) pada gigi tikus. Selama percobaan berlangsung. ditemukan bahwa meningkatnya respon IgA spesifik Pac berhubungan dengan penghambatan . kolonisasi Streptococcus mutans ( S. darah dan air liur sampel dikumpulkan pada interval 2-minggu untuk pengujian antibodi dengan ELISA. dan pembentukan lesi karies. Lebih jauh lagi. mutans Ingbritt atau S.P/VAX. Tikus secara oral ditantang dengan S. pGJA-P/VAX atau pVAX1. Peneliti ini telah memperlihatkan bahwa vaksin DNA anti karies. menjanjikan untuk mencegah karies dental. pGJA. sobrinus 6715 dan kemudian diimunisasi dengan pGJGAC / VAX.

sebagai kandidat adjuvant mukosa untuk vaksi DNA anti karies imunisasi intranasal. pada penelitian ini menunjukkan bahwa rekombinan FliC dapat meningkatkan respon IgA spesifik dalam saliva dan kemampuan proteksi pGJA/VAX. . Sebagai kesimpulan.kolonisasi Streptococcus mutans pada permukaan gigi dan membantu meningkatkan proteksi terhadap karies.

. Sel punca yang dapat berdiferensiasi menjadi berbagai tipe sel. sel otot rangka. Sel punca mampu berkembang menjadi berbagai sel matang misalnya sel saraf. Alexander Maksimov pada tahun 1908.BAB V PENGGUNAAN SEL PUNCA DALAM KEDOKTERAN GIGI Sel Punca Istilah sel punca pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan Rusia. Gambar 4. dan kemampuannya untuk berdiferensiasi menjadi sel lain. sel otot jantung. yaitu kapasitas sel yang mampu memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri. Sementara penelitian tentang sel punca dikembangkan oleh peneliti asal Kanada pada tahun 1960-an. Sel punca adalah tipe khusus dari sel yang belum berdifensiasi yang dapat ditemukan di hampir setip jenis jaringan dan di seluruh kehidupan dalam organisme multisel. Sel punca memiliki sifat yang unik. sel pankreas dan sebagainya.

yang mengandung 50-150 sel ) morula embrio tahap awal. yaitu sel yang terdapat pada blastosit ( embrio tahap awal. Sel punca embrionik memiliki masalah teknis dan moral. serta dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan sel-sel khusus yang mempunyai .Tipe Sel Punca Terdapat dua tipe sel punca yaitu : 1. Sel-sel ini membentuk tiga lapis germ layer dan dapat berkembang menjadi 200 tipe sel yang berbeda. Gambar 5. Secara teknis sel punca embrionik sulit dikontrol dan dapat tumbuh menjadi tumor setelah diinjeksikan. Berasal dari jaringan dewasa yaitu sel yang dapat berproliferasi dalam periode yang panjang untuk memperbaharui diri. Sel punca embrionik Sel punca embrionik diperoleh dari embrio. usia 4-5 hari. Sel punca embrionik 2. dan pengambilan sel punca akan merusak embrio tersebut. dimana embrio tempat stem diambil akan berkembang menjadi manusia. Sel punca dewasa.

darah tali pusat. sel induced pluripotent. Gambar 6. . Sel punca dewasa mempunyai kemampuan mereplikasi diri yang panjang dan kemampuan berdiferensiasi ganda selama organisme hidup. dari sel adiposa. Sel Punca Dewasa Sumber Sel Punca Sel punca dapat diperoleh dari sumsum tulang. Sel punca dewasa memiliki sifat unik yaitu memiliki sifat undifferentiated dan dapat mempertahankan sifat ini sampai mereka terpapar dan merespon terhadap sinyal.karakteristik morfologi dan fungsi yang spesifik. cairan ketuban. dan dari gigi serta jaringan periodontal. dari zigot dan fetus.

Replacement therapy Oleh karena sel punca dapat hidup di luar organ tubuh. maka dapat dilakukan manipulasi terhadap sel tersebut tanpa mengganggu organ tubuh. Menemukan dan penelitian obat baru Untuk mengetahui efek obat terhadap berbagai jaringan. selanjutnya dapat dilacak jejaknya apakah sel punca ini berhasil mengekspresikan gen tertentu dalam tubuh pasien. 3. Pengunaan Sel Punca dalam Kedokteran Gigi Pemahaman tentang pertumbuhan gigi dan aspek biologi penyakit gigi telah berkembang pesat dalam 20 tahun terakhir ini. 2. 4.Peran Sel Punca Peran sel punca yang didapat dari riset dapat digunakan untuk : 1. . Terapi gen Sel punca digunakan sebgai pembawa transgen kea lam tubuh pasien. Patologi gigi-geligi kebanyakan bermanifestasi sebagai penyakit periodontal dan karies gigi. Sel punca yang telah dimanipulasi dapat dimasukkan kembali ke tubuh untuk menangani penyakit-penyakit tertentu. Pengetahuan tentang kemampuan reparatif periodonsium dan pulpa gigi seiring dengan kemajuan di bidang sel punca dan biomolekular akan menimbulkan cara terapi baru berdasarkan terapi sel. Mengetahui proses biologis Untk mengetahui perkembangan organisme dan perkembangan kanker.

. dan kardiomyosit. Sel punca ini digunakan sebagai pengganti sel secara autologus. adiposity. DPCs memiliki karakter multipoten dan potensial untuk berdiferensiasi menjadi kondrosit. Pulpa gigi dewasa dan pulpa gigi sulung yang telah tanggal dapat digunakan sebagai sumber sel punca. Sel Punca Pulpa Gigi ( Dental Pulp Stem Cells [ DPCs ] ) Pulpa gigi telah lama diketahui sebagai organ yang memiliki kapasitas reparatif dan regeneratif yang baik. myosit. Sel punca ini dapat diperoleh dari gigi sulung atau gigi permanen yang telah diekstraksi. Keadaan pasien seperti usia. Persiapan sel autologus dipengaruhi oleh keadaan pasien dan keadaan pulpa gigi dan periodonsium. merupakan sumber baru sel punca dewasa yang dapat digunakan untuk pengobatan regenerative.Sel punca gigi. berat badan. DPCs diisolasi dari gigi molar ketiga menggunakan perlakuan dengan enzim dari jaringan pulpa. status kesehatan umum pasien. diturunkan dari ektomesenkim. Sel yang ada dalam pulpa gigi dapat berdiferensiasi menjadi sel mirip odontoblas dan dapat membentuk dentin reparatif. ukuran dan lokasi lesi dapat mempengaruhi hasil perawatan menggunakan sel punca. osteoblas / osteosit. DPCs pertama kali diisolasi dari jaringan pulpa gigi sekitar 10 tahun yang lalu. sel saraf.

Aplikasi Klinis DPSCs dalam Regenerasi Kompleks Pulpa / Dentin Karies gigi adalah penyakit gigi yang paling sering terjadi. Pada karie terjadi infeksi jaringan mineral gigi. yang dikelilingi oleh lapisan sel seperti odontoblas. yang terkadang mencapai pulpa gigi yang menyebabkan inflamasi dan berpotensi menyebabkan hilangnya gigi. yang dicirikan dengan adanya badan sel terpolarisasi dan akumulasi nodul termineralisasi. Gambaran gigi dan jaringan periodontal ( kiri ). gambaran histologis akar gigi yang mengandung berbagai macam tipe sel. oksigen dan suplai persarafan bagi gigi. DPSCs mampu membentuk vaskularisasi seperti jaringan pulpa in vivo. DPSCs mempunyai potensi diferensiasi odontoblas. Pulpa gigi mempunyai fungsi penting untk menyediakan nutrient.Gambar 7. .

ligament periodontal ( PDL ). dengan struktur tubulus dentin. Walaupun penggunaan DPSCs secara prinsip biologi membuktikan bahwa regenerasi pulpa dapat terjadi menggunakan DPSCs. Jaringan Periodontal sebagai Sumber Sel Punca Jaringan di sekitar gigi. sel endothelial akan membuat re-vaskularisasi. yaitu jaringan periodontal yang terdiri dari gusi. sementum akar gigi. Ketika berkontak dengan dentin in vitro. . Transplantasi DPSCs pada tikus dapat membentuk jaringan kompleks pulpa-dentin. Penelitian in vivo terhadap anjing beagle juga menunjukkan bahwa kombinasi kalsium hidroksiapatit dan DPSCs dapat meregenerasi dentin. masih diperlukan penelitian lebih lanjut tentang potensi aplikasi klinisnya pada manusia. Langkah-langkah kultivikasi sel punca dari pulpa gigi Pada penggunaan klinis. tulang alveolar. dan neuron akan membentuk re-inervasi di jaringan pulpa yang mengalami regenerasi. DPSCs dapat berubah menjadi sel yang morfologinya mirip dengan odontoblas dengan badan sel terpolarisasi dan sel meluas ke tubulus dentin. regenerasi pulpa belum menjadi perawatan rutin dalam perawatan endodontik.Gambar 8. Sel ini kemudian berdiferensiasi menjadi odontoblas yang akan membentuk dentin.

Penelitian mengindikasikan bahwa jaringan periodontal mempunyai kapasitas regeneratif dan merupakan sel progenitor multipoten. Ketika ditransplantasikan secara subkutan pada tikus yang mengalami imunodefisiensi. Jaringan PDL tidak hanya dapat membentuk jaringan ikat kolagen. Jaringan PDL mengandung sel progenitor fibroblast. dan berbeda dengan maktrik termineralisasi yang diproduksi oleh sel stromal sumsum tulang manusia. Sel yang mengandung sel punca mesenkimal telah dapat diisolasi dari jaringan gusi. PDL juga mengandung populasi sel yang dapat berdiferensiasi dan dapat diperbaharui. memperlihatkan hasil perbaikan jaringan periodontal dengan terbentuknya struktur mirip PDL / sementum. Sel sementum manusia yang telah diisolasi. matrik termineralisasi yang dihasilkan oleh sel ini memperlihatkan bentuk sel yang identik dengan sementum. Sel ini memiliki fungsi imunomodulator yang unik. Setelah ekspansi kultur. osteoblas. dan endodermal ( hepatosit ). adiposity dan osteoblas. mampu memperbaiki diri. sel manusia ini kemudian ditranspalntasikan ke tikus yang telah di immunocompromised. Pada penelitian in vitro. osteoblas. PDL tikus dapat berdiferensiasi menjadi sel vaskular dan membentuk struktur mirip pembuluh darah. ektodermal ( saraf ). dan sementoblas. tetapi juga membentuk tulang alveolar dan sementum. terlihat bahwa PDLSCs dapat berdiferensiasi menjadi mesodermal ( adiposit. . klongenesitas. kondrosit ). PDL stem cells ( PDLSCs ) dapat berdifernsiasi menjadi sementoblas. dan memiliki kapasitas diferensiasi multipoten. dikloning secara in vitro dan in vivo.

bentuk.Penelitian-penelitian terkini menunjukkan PDLSCs pada model hewan telah menunjukkan keberhasilan dalam regenerasi periodontal. Penggunaan Sel Punca di Masa Datang Potensi penggunaan sel punca dalam bidang kedokteran gigi. tetapi terapi regenerasi periodontal ini sangat menjanjikan di masa datang. khususnya untuk terapi dan dan manipulasi gigi mencakup ukuran. Penelitian-penelitian saat ini telah menunjukkan kemajuan di bidang tooth engineering. Penelitian pada manusia belum pernah dilakukan. pertumbuhan dan erupsi gigi akan dapat terwujud. . dimana nantinya akan dimungkinkan dilakukannya pembentukan gigi dan pulpa gigi secara utuh.

berperan dalam lingkungan rongga mulut. hanya sedikit penelitian yang menggunakan saliva sebagai cairan diagnostik untuk kanker rongga mulut. saliva relatif mudah diperoleh dalam jumlah yang cukup untuk keperluan analisis. Minat dalam saliva sebagai alat bantu diagnostik telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bagi pasien. biaya penyimpanan dan pengirimannya juga lebih rendah dibandingkan dengan pemeriksaan serum dan urin. yang secara kolektif. Glikoprotein saliva berperan penting dalam sifat dan fungsi saliva.KESIMPULAN Saliva merupakan cairan kompleks yang mengandung berbagai unsur organik dan anorganik. Namun. Analisis biokimia saliva belum dievaluasi dalam laboratorium klinis. Di klinik dan laboratorium. . Sehingga kita dapat menghitung kandungan asam sialat dan protein total pada penderita kanker rongga mulut untuk mengembangkan metode diagnostik yang hemat biaya dan sederhana. teknik pengambilan saliva yang non-invasif akan mengurangi kecemasan dan ketidaknyamanan.

Indian J Denta Rest. Downloaded from http://www. alih bahasa. 48(4): 199-203. . Saliva as a diagnostic tool in medical science: a review study. Sumawinata N. Rai B. Shivashankara AR.in on Jan. Kharb S. Hallikeri K. Bull Tokyo Dent Coll.ijdr. 2(9): 9-12. J Can Dent Assoc. In: Dasar-dasar Karies dan Penanggulangannya. and total sugar in oral cancer: A preliminary report. Lawrence HP. 21 2009. Adv in med dent. 2008.DAFTAR PUSTAKA Kidd EAM. total protein. Salivary flow pattern and the health of hard and soft oral tissues. 2008. Jakarta: EGC. JADA. P. 4 2009/ Sanjay PR. 68(3): 170-4 Dawes C. Evaluation of salivary sialic acid. Bechal SJ.66-67. 2007. Faruk F. 139: 185-146. 19(4): 288-291. 2002. Takano N. Salivary Markers of Systemic Disease: Noninvasif Diagnosis of Disease and Monitoring of General Health. Katakura A. Karies dan saliva. Kamiyama I. 2008. Comparison of salivary cytokine levels in oral cancer patients and healthy subjects. Downloaded from http://www. et al.jada.org on Feb.ada.

Alastair J. et al. Sloan. Downloaded from http://www. International Journal of Pediatric Dentistry 19 : 61-70. A comprehensive Salivary Analysis for Oral Cancer Diagnosis. Smile Dental Journal Volume 4 Issue 2. Furunculoglu H. How ?. et al. Future Dentistry : Cell Therapy Meets Tooth and Periodontal Repair and Regeneration.htm. Sensors to Detect Oral Cancer in Saliva. 4 2009.Ozturk LK. Analyzing Saliva-Proteins May Help to Detect Oral Cancer. Anonim. Available at: http://www.br on Feb.us/article/emergingtech. 2009. Ghada A. Available at: http://CBS.medindia. peroxidation and sialic acid levels and carbonic anhydrase activity.htm. 2011. 2009. Raphael F. Dental Pulp Stem Cells : What. Jou Ca Res and Clin Oncol. Javier. December 2011. Caton. Atala MH. 4 2009. Accessed at: Feb. Association between dental-oral health in young adults and salivary glutathione. Piquepaille R. 2009 . 133(9): 613-617. et al.com/cancernews. Rachel J Waddington. Shpitzer T.com. 2007. Accessed at: Feb. Braz |J Med Biol Res Online Ahead of Print.bjournal. 4 2009. 2008. A New Era in Tissue Engineering. Dental Pulp Stem Cells. Karien. Gideon B. 2009. Journal of Cellular and Molecular Medicine. lipid. Where.

. Ph.MAKALAH APLIKASI BIOMOLEKULER DALAM KEDOKTERAN GIGI Oleh: Sheena Lionie Corry Jusuf Oksana Megasari Kustini Indah Diah Prastuti Ratna Ayu Alia Z. Sunardhi Widiyaputrta. Fitria Sari 160621110003 160621110004 160621110006 160421110001 160421110002 160421110005 160421110007 Pembimbing : Prof. drg.D PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012 .

........ BIOMARKER SALIVA SEBAGAI ALAT BANTU DIAGNOSIS KANKER RONGGA MULUT............................... IDENTIFIKASI GIGI DALAM FORENSIK.......DAFTAR ISI BAB I................. 15 BAB V .VAKSIN KARIES................................................................. PENDAHULUAN............PENGGUNAAN SEL PUNCA DALAM KEDOKTERAN GIGI....... ....................................................21 ..........9 BAB IV........................................................................1 BAB II................3 BAB III.......................

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->