1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pendidikan adalah upaya untuk mencerdasakan kehidupan bangsa. Hal ini cukup berlasan karena kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kemajuan pendidikannya. Namun harus dipahami pendidikan harus ditopang dengan karakter masyarakat yang kuat sehingga berbagai pelanggaran norma-norma

dalam kehidupan sosial dapat diminalisir. Oleh karena itu, peran masyarakat dalam mendidik generasi mudah harus lebih diintensifkan seperti peran orang tua dirumah dan peran pendidik di lembaga-lembaga pendidikan Berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan tidak lepas dari peran orang tua yang kurang memahami karakter anak-anaknya. Banyak orang tua tidak tahu mengasuh anak-anaknya, sehingga dia berlaku kasar seperti menggunakan kata-kata kasar, melakukan penyiksaan fisik dan tidak memberikan kasih sayang serta perhatian cukup. Kekerasan tersebut dilakukan biasanya dengan dalih ingin memberikan pelajaran pada anak-anak mereka. Padahal sebenarnya para orang tua tersebut justru sedang mewarisi pola perilaku atau budaya kekerasan kapada anakanaknya, yang mana nantinya mereka akan meniru perilaku agresif orang tuanya, sehingga mereka menjadi manusia yang agresif, senang melakukan kekerasan dan teror, bahkan bisa menjadi pelaku kriminal. Kehangatan sikap orang tua penting bagi anak. Kapanpun sikap orang tua tetap dituntut bersikap hangat, sekalipun anak melakukan dawdling atau berlehahlehah dan membuang-buang waktu. Kehangatan orang tua akan membuat

1

2

dawdling yang dilakukan anak tidak berhasil. Tetapi merasa tetap disayang oleh orang tua. Watak (karakter) adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan nilai-nilai, misalnya jujur, pembohong, rajin, pemalas, pembersih, penjorok, dan sebagainya. Semakin dewasa usia anak, semakin sulit baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruknya, tetapi tidak mampu mengubahnya. Karena sifat-sifat buruk itu sudah kuat mengakar di dalam dirinya, dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Maka berbahagialah para orang tua yang selalu memperingati dan mencegah anaknya dari sifat-sifat buruk sejak dini, karena dengan demikian, mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa datang.” Pernyataan dan defenisi di atas secara tegas mengimplikasikan diperlukannya pendidikan karakter (akhlak), yaitu memberi pengetahuan akan ”mana yang baik dan mana yang buruk” sehingga membuatnya menjadi seorang yang berkarakter (Insan Kamil). Oleh karena itu pendidikan karakter adalah usaha untuk mencegah tumbuhnya sifat-sifat buruk yang dapat menutup fitrah manusia, serta melatih anak untuk terus melakukan perbuatan baik sehingga mengakar kuat dalam dirinya dan akan tercermin dalam tindakannya yang senantiasa melakukan kebajikan. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Pada usia ini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman akhlak atau karakter pada seseorang sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah

3

usaha yang strategis. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter atau berakhlak mulia apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Fajar Maulana Haji dalam bukunya’ ”Mendidik Anak Sejak Dini”,

mengemukakan sebuah pengalaman menarik yang patut ditiru yang telah dilakukan oleh Ibu dari Imam Syafi’i, yaitu mengaji al-Quran ketika sedang menyusui. Sehingga selama bayi menghisap ASI, telinganya terus mendengar lantunan ayat-ayat suci al-Quran. Apalagi, pendengaran pintu terpenting masuknya informasi dari luar bagi bayi. Ini terutama bagi bayi baru lahir, sebelum kelak penglihatan memegang peranan yang besar. Inilah yang oleh Tokoh-tokoh pendidikan sering dikatakan, ”Pengalaman emosi positif anak ketika kecil akan mempengaruhi perkembangan jiwa yang sehat selanjutnya.” Sekolah diharapkan bukan hanya membentuk anak-anak menjadi pintar melainkan juga membentuk mereka untuk menjadi baik, menjadi warga negara dan pemimpin yang baik. Pendidikan karakter dapat diharapkan untuk membentuk kedua hal tersebut (Mussie Hailu, Pendidikan Karakter, 2004). Pendidikan memiliki tujuan untuk membentuk karakter (Herbert Spencer). Mendidik seseorang dalam pemikiran dan bukan dalam moral-akhlak sama saja dengan mendidik penjahat dalam masyarakat (Theodore Roosevelt). Kutipan-kutipan diatas adalah sesuai dengan pernyataan Socrates 2400 tahun yang lalu mengenai tujuan yang paling mendasar dari pendidikan, yaitu untuk membuat seseorang menjadi ”good and smart”. Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang baik (beramal

dan bernegara. B. bertetangga. dan Oleh karena itu penulis ingin melakukan penelitian dengan judul ” (Penerapan Pendidikan Berbasis karakter pada Pembelajaran Sosiologi untuk Meningkatkan Kemampuan Berprilaku Positif Siswa Kelas X SMA negeri 1 Kindang.4 saleh).siswa senang melakukan aksi tauran. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dan hasil Observasi awal tersebut di atas. Berdasarkan hasil Observasi awal penulis.tindakan yang tidak beretika atau tidak berahlakseperti siswa yang senang bolos sekolah pada saat jam pelajaran berlangsung. maka penulis termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul : “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan berprilaku positif siswa melalui Penerapan Pendidikan Berbasis Kerakter pada Pembelajaran Sosiologi pokok . sebelum melakukan penelitian bahwa di SMA Negeri 1 Kindang Kab. Bulukumba”). hal. Kab. Karenanya sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berakhlak yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. bermasyarakat.hal tersebut diatas sangat jelas merupakan tindakan. bahkan siswa sering meminum minuman keras. dan dapat hidup secara bijak dalam seluruh aspek kehidupan keluarga.norma etika dan senang tiasa berahlak mulia dan baik dalam kehidupan sekolah secara khusus dan dalam kehidupan masyarakat secara umum. Bulukumba ditemukan masih seringnya siswa melakukan tindakan.tindakan yang tidak sesuai dengan kerakter siswa yang seharusnya mengedepankan norma.

Manfaat teoretis Manfaat teoretis yang diharapkan dari penelitan ini adalah. Manfaat praktis Secara praktis dari penelitian ini bermanfaat bagi guru. 2. maka penelitian ini bertujuan: “Untuk mengetahui peningkatkan kemampuan berprilaku positif siswa melalui Penerapan Pendidikan Berbasis Kerakter pada Pembelajaran Sosiologi pokok bahasan Prilaku menyimpang siswa kelas X SMA negeri 1 Kindang. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas. Bulukumba?” C. .pemerintah. Kec. 2. siswa.sekolah dan peneliti pendidikan. Kab. sebagai berikut. Kab. Dapat dijadikan acuan pengembangan teori pembelajaran sosiologi khususnya dalam pembelajaran berbasis karakter . 1. Dapat menambah referensi strategi pembelajaran sosiologi khususnya penerapan pembelajaran berbasis karakter. Bulukumba” D. Kec. Kindang. 1.5 bahasan Prilaku menyimpang siswa kelas X SMA Negeri 1 Kindang. Kindang.

5. Mediator.6 1. Bagi sekolah dari penelitian ini dapat meningkatkan mutu sekolah melalui penerapan pendidikan berbasis karakter. Bagi guru. Bagi pemerintah dari penelitian ini dapat menjadi masukan untuk di tindak lanjuti sesuai dengan harapan kepala sekolah dan guru-guru yang berperan sebagai pengajar dan bertindak sebagai dan penilaian pembelajaran Inspirator. agar mempermudah bagi sekolah untuk maju dan berkembang. 4. Bagi peneliti.Fasilitator. dan Evaluator.Teman. pengalaman. dari penelitian ini dapat menambah wawasan. pembimbing. sebagai bahan masukan kepada guru bidang studi Sosiologi tentang perencanaaan. 3. Bagi siswa. . 2. dan pengetahuan pembelajaran yang inovatif serta lebih menunjang dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki. penelitian pembelajaran berbasis karakter memberikan peluang untuk mengungkapkan gagasan sesuai pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.pengasuh yang memiliki cintah kasi sayang dalam mendidik anak didiknya. pelaksanaan. berbasis karakter siswa.Supervisor.

pembawaan. halaman 263). Mempunyai akhlak mulia (karakter yang baik) adalah tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan. Maka Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Kata karakter berasal dari Yunani. Tinjauan Pustaka 1. menimbulkan perubahanperubahan yang mendalam (Kamus Inggris-Indonesia. Partanto dan M. educare yang dalam bahasa Inggeris bermakna to bring about some. karya John M. ”khuluq atau hilqun. Echols dan Hassan Shadily) Kata karakter dalam Kamus Ilmiah Populer karangan Pius A. diartikan watak. charassein. Sedangkan kata Akhlak yang serupa dengan karakter berasal dari bahasa Arab. tabiat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia. kata ini kemudian berhubungan dengan 7 . Dalam bahasa Latin. Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan berasal dari akar kata didik yang berarti memelihara dan memberi latihan. Dahlan Al Barry. halaman 83. pembiasaan. tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan (proses ”pengukiran”). yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola.7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A.

dari padanya timbul perbuatan dengan mudah. berarti bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu . Pendidikan Karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik (habit). ”Akhlak adalah kebiasaan kehendak. Nilai-nilai universal ini harus dapat menjadi perekat bagi seluruh anggota masyarakat walaupun berbeda latar belakang budaya. mengemukakan Akhlaq adalah keadaan orang yang mengajaknya untuk melakukan perbuatan tanpa pertimbangan pikiran”. tanpa memerlukan pertimbangan pikiran”. ”Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa. sementara Prof. Nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan kepada anakanak adalah nilai universal yang mana seluruh agama. dan budaya pasti menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut. DR. suku dan agama. tradisi. Menurut Ibnu Maskawaihi dalam kitabnya ”Tahdhibul Akhlaq wa Tath-hirul A’raq” halaman 25. sehingga sifat anak sudah terukir sejak kecil. Ahmad Amin dalam bukunya ”Al-Akhlak” halaman 70. maka kebiasaan itu disebut akhlak. sedang menurut kitab ”Ihya Ulumuddin” karya besar Imam Al-Ghazali pada juz III halaman 56. Sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Allah menurunkan petunjuk melalui para Nabi dan Rasul-Nya untuk manusia agar senantiasa .8 kata Khaliq (pencipta) dan Makhluq (yang dicipta).

dan nilai-nilai yang perlu disosialisasikan kepada anak-anak. yang kemudian dirangkum menjadi 9 Pilar Karakter (Akhlak-Moral). yaitu 1). Oleh karena itu Allah menurunkan Nabi/Rasul atau orang-orang bijak untuk mendidik dan mengingatkan kembali akan perlunya menjalankan prinsip-prinsip kebajikan agar manusia dapat memelihara fitrahnya. ini masih mengakui adanya pengaruh lingkungan yang dapat mengganggu proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberikan pembenaran perlunya faktor nurture.9 berperilaku sesuai dengan yang diinginkan Allah sebagai wakil Allah di muka bumi ini. 2. pendidikan. Cinta Allah dan Segenap Ciptaan-Nya . atau lingkungan budaya . Fitrah manusia yang menurut perspektif agama adalah cenderung kepada kebaikan. Jenis-jenis Karakter yang perlu Ditanamkan IHF (Indonesia Heritage Foundation) telah menyusun serangkaian nilai yang selayaknya diajarkan kepada anak-anak.

Kejujuran. (Qs. mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sebagai cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat).(Qs. bahwa siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. Al-Anfaal [8] : 58) . maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Az-Zakhruf [89] :44) 3). Amanah. Bijaksana ”Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) penghianatan dari suatu golongan . (Qs.10 ”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingantandingan selain Allah. Al-Baqarah [2] : 165) 2). Kemandirian dan Tangung Jawab ”Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggunan jawab”. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.

.. bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. ...11 4)... . dan kami berikan kepadanya injil dan kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Kreatif dan Pekerja Keras ”Dan berapa banyak nabi yang berperang. Hormat dan Santun Kemudian kami iringkan di belakang mereka Rasul-rasul Kami dan Kami ” .. Al-Israa’ [17}:26) 6). (pula) Isa putra Maryam.” (Qs... dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.. (Qs. Dermawan. Suka menolong dan Gotong Royong ”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya. Al-Hadiid [57]:27) 5). kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.. .. Percaya diri... Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah.

.. Kepemimpina dan Keadilan Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benarbenar penegak keadilan menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. (Qs.. 7).. Allah menyukai orang-orang yang sabar”. .. An-Nisa [4]:135) 8). ” (Qs. An-Nisa [4]:135) ”Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benarbenar penegak keadilan menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu . Ali Imran [3]:146).(qs.. Baik dan Rendah Hati Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kabajikan.12 dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). maka . .

mngembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan dengan baik serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera. mengasuh. (Qs. dan penanaman nilai kepada anak adalah sangat besar. Fungsi keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik. Toleransi. Bagaimana Anak-anak mengembangkan potensi karakternya a. sosialisasi. Keluarga yang harmonis dimana ayah dan ibu saling berinteraksi dengan . Keamanan dan Kesatuan ”Atau apakah mereka mengatakan: ”Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang”. Segala perilaku orang tua dan pola asuh yang diterapkan didalam keluarga pasti berpengaruh dalam pembentukan kepribadian atau karakter seseorang. Pendidikan Karakter/ Akhlak dimulai dari dalam keluarga Keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana seorang anak dididik dan dibesarkan. maka itulah yang lebih baik baginya. Al-Baqarah [2]:184) 9). Al-Qamar [54]:44) 3. (Qs. Berbicara mengenai pembangunan karakter. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.13 ”Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kabajikan. maka tidak lepas dari bagaimana membentuk kepribadian individu-individu sejak dini dari dalam keluarga. dan mensosialisasikan anak. Peran keluarga dalam pendidikan. dan sekolah.

kesehatan jasmani dan rohani. kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. sehingga apa yang didapatkannya di sekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya.14 kasih sayang dan selalu ada kebersamaan keluarga. . karena anka-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah. b. akan memberikan suatu lingkungan yang kondusif bagi pembentukan akhlak dan karakter anak. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Sebetulnya apa yang tercantum di dalam Undang-Undang RI (Nomor 4 tahun 1950 Nomor 12 tahun 1954. Pendidikan karakter/ Akhlak di sekolah Sekolah adalah tempat yang sangat strategis untuk pendidikan karakter. dan selanjutnya ditegaskan lagi dalam pasal 24 Nomor 2 tahun 1989) tentang tujuan pendidikan di Indonesia adalah sudah sesuai dengan harapan untuk membentuk manusia good and smart. Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Sebuah pendidikan yang berhasil adalah yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter yang sangat diperlukan dalam mewujudkan sebuah negara kebangsaan yang terhormat. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. Misalnya seperti yang tercantum dalam kalimat ”Pendidikan Nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.

adalah jauh dari gambaran remaja terdidik yang berbudi luhur dan bertanggung jawab. misalnya pelajaran agama.15 Namun kalau kita melihat kondisi Indonesia sekarang setelah lebih 50 tahun penyelenggaraan pendidikan dijalankan. penggunaan narkoba. kewarganegaraan dan pancasila.2004:79) menunjukkan bahwa pengalaman anakanak di masa TK dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak selanjutnya. Para siswa diharapkan dapat menguasai materi yang keberhasilannya diukur hanya dengan kemampuan . Pendidikan karakter di sekolah hendaknya dimulai dari usia TK. Termasuk juga perilaku orang dewasa yang tidak sesuai dengan kaidahkaidah moral yang juga merupakan produk dari bagaimana mereka dididik sebelumnya. Padahal ada beberapa mata pelajaran yang berisikan pesan-pesan moral. tetapi tidak cerdas secara emosi yang berdampak negatif terhadap kualitas SDM secara keseluruhan. Namun proses pembelajaran yang dilakukan adalah dengan pendekatan penghafalan (kognitif). Indonesia belum mempunyai pendidikan karakter yang efektif untuk menjadikan bangsa Indonesia yang berkarakter (tercermin dari tingkah lakunya). Schweinhart (1994) dalam (”Pendidikan Karakter”. dan bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya. maka sudah selayaknya kita mempertanyakan ”apa yang salah dengan sistem pendidikan nasional kita?” banyaknya kasus keterlibatan remaja dalam tawuran. Hal ini berarti banyak orang Indonesia yang cerdas otaknya. Hasil studi yang dilakukan Lawrence J.

akan terbawa sampai dewasa. maka bagaimana mata pelajaran dapat berdampak positif kepada perubahan perilaku. 4. Rasa tidak percaya diri yang telah terbentuk pada usia dini. kurang mendapat perhatian. akan membuat muridnya menjadi tidak percaya diri. Guru yang jarang sekali memberikan pujian kepada anak. tetapi lebih banyak mengkritik dan memarahi anak adalah salah satu faktor yang sering menjadi penyebab seorang anak tidak .16 anak menjawab soal ujian (terutama dengan pilihan berganda) karena orientasinya semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus. Murid-murid sebaiknya didorong untuk aktif berdiskusi. Seorang guru yang tidak pernah memberikan pujian atau kata-kata positif. kecuali cemoohan dan kata-kata negatif. yaitu dengan membuat anak merasa rendah diri. Bagaimana Menjadi Pendidik Karakter yang Berhasil a. Peran guru dalam membangun citra diri yang positif pada anak sangat besar pengaruhnya. tetapi tidak sedikit oknum/ orang yang tetap melakukannya. Semua orang dipastikan mengetahui baik bahwa berbohong dan korupsi itu salah dan melanggar ketentuan agama. dan guru selalu memberikan komentar positif kepada setiap pandapat yang dilontarkan kepada anak. Guru sebagai pembangun citra diri positif Banyak perilaku guru yang dapat ”membunuh” karakter anak. Dengan cara seperti ini. Sehingga apa yang terjadi adalah kesenjangan antara pengetahuan moral (cognition) dan perilaku (action). murid-murid menjadi bersemangat untuk masuk sekolah.

anak-anak ! betul tidak jawaban si Anu?”. mungkin ada jawaban lain?” atau ” sudah hampir benar. Guru sebagai model atau tokoh idola ”Siapa yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin orang lain. ”Itu salah. Orang yang mengajar dirinya sendiri adalah lebih berhak dimuliakan dan dihargai dari orang yang hanya menasehati orang lain” (Sayyidina Ali). Kita semua pasti pernah melihat atau mempunyai pengalaman tentang sikap guru yang seperti itu. Menjadikan guru sebagai pendidik karakter tidak cukup hanya dengan membekali mereka dengan teori dan seperangkat kurikulum saja tetapi juga menyangkut bagaimana seorang guru menjadi idola bagi .seharusnya reaksi guru adalah. kamu tidak belajar. ”jawabannya belum lengkap. Banyak guru yang bersikap negatif ketika mendapatkan muridnya tidak dapat menjawab dengan perkataan. tetapi coba kamu ulangi lagi mungkin ada bagian yang kamu lupakan” Sering terjadi guru mempermalukan anak di depan kelas. ya !?” lihat dan perhatikan. sebelum dengan tutur kata. ia akan takut gemetaran ketika harus menjawab pertanyaan gurunya. sehingga ia menjadi tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas b. memarahi atau bahkan menghukumnya. Sekali anak dipermalukan. hendaknya ia mulai dengan mengajar dirinya sendiri sebelum mengajar orang lain dengan perilaku (mencontohkan dengan perilakunya).17 percaya diri. misalnya ketika di kelas ia tidak dapat menjawab pertanyaan guru.

yaitu membangun suasana yang positif untuk menarik hati anak. mampu mengelola emosinya dengan baik. Tentunya ini tidak mudah karena seorang pendidik karakter harus merasakan pentingnya ”misi suci” yang sedang dijalaninya. . Pengajaran yang baik berasal dari identitas dan itegritas gurunya) c.18 muridnya. serta mampu menghidupkan suasana. Melibatkan diri secara total memang memerlukan sikap dedikasi dan kecintaan terhadap profesi yang sedang dijalaninya. dapat membangun hubungan personal dengan murid-muridnya. tetapi juga mampu memberikan spirit. sehingga anak bergairah dan mencintai materi yang diajarkan. Mendidik dengan melibatkan diri Seorang pendidik karakter yang berhasil adalah yang dapat melibatkan dirinya secara menyeluruh (pikiran dan perasan) ketika sedang mengajar. mempunyai kemampuan berkomunikasi secara efektif. sehingga setiap perkataan dan tingkah laku guru akan ditiru oleh muridnya. yang harus melibatkan aspek emosi dan afektif dari guru sendiri. 2004:161) bahwa: ”Good teaching can never be reduced to technicue good teaching comes from the identity and integrity of the teacher” (Pengajaran yang baik tidak pernah direduksi hanya menyangkut teknik saja. Mendidik karakter adalah seni bagaimana menyentuh hati agar dapat menumbuhkan sifat-sifat mulia pada anak. Oleh karena itu seorang pendidik karakter selain berperan sebagai operator metode dan kurikulum. Seperti yang dikatakan oleh Parker Palmer dalam (“Megawangi Ratna”.

bernama Usha Balamore.. Istilah ”fall in love in goodness” dicetuskan oleh seorang guru TK di Amerika Serikat.. mereka ingin mengubah segala pengalamannya menjadi pemikiran. Karena banyak faktor lain yang mempengaruhinya. tetapi belum menjamin akan berhasil dalam membentuk karakter anak.19 d. Begitu pula perannya sebagai pendidik harus mencakup pengertian bahwa anak-anak adalah produsen. bukan sebagai konsumen.. Guru yang penuh inspirasi Para guru seperti halnya anak-anak dan siapa saja merasa butuh untuk mengembangkan kemampuannya. Caranya adalah dengan kerap/ sesering mungkin melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada para muridnya agar berpikir dan berani mengekspresikan pemikirannya. e. Seorang pendidik karakter yang baik adalah yang dapat memberikan inspirasi yang menggairahkan kepada muridnya sehingga murid dapat jatuh cinta pada kebaikan. Menebar benih-benih kebaikan tanpa pamrih walaupun guru telah berusaha maksimal untuk menjadi guru yang ideal.. para guru harus belajar menginterpretasikan segala proses yang berlangsung daripada menunggu untuk mengevaluasi hasil. (Pendidikan Karakter 2004:167). pemikiran menjadi renungan. dan renungan menjadi tindakan baru. Usha Balmore digambarkan oleh rekannya sebagai guru yang selalu memberikan inspirasi kepada murid-muridnya dengan mengarahkan mereka untuk mendiskusikan masalah moral. misalnya .

baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada mahluk sosial. suasana rumah yang tidak mendukung. Perilaku Menyimpang a. apalagi kalau suasana rumah dan lingkungan sama sekali tidak mendukung. Definisi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku.20 pendidikan di rumah. 5. perbuatan. pengaruh kawan. dan sebagainya. Pengertian prilaku menyimpang Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilainilai kesusilaan atau kepatutan.[1] Dalam kehidupan masyarakat. siswa sekolah yang rentan terhadap perilaku negatif akan menjadi lebih baik daripada tidak mendapatkan bimbingan sama sekali di sekolah. Justru dengan mendapatkan bimbingan moral dari guru dengan penuh perhatian dan kasih sayang. atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan normanorma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Namun dengan memberikan pendidikan karakter kepada anak didik tetap lebih baik dari pada tidak sama sekali. Namun demikian . semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat.

Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. ada kalanya penyimpangan bisa diterima masyarakat. misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan. Horton (1994) perilaku menyimpang memiliki ciriciri sebagai berikut : 1. . Adapun pembunuhan dan perampokan merupakan penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat. Ciri-ciri dan peyebab prilaku menyimpang Menurut Paul B. 2. misalnya wanita karier. Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif.21 di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat. b. sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation). Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok. Penyimpangan harus dapat didefinisikan. dan mengganggu siswa lain. berbohong.Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus bisa dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya. mencuri.

Dikatakan relatif karena perbedaannya hanya pada frekwensi dan kadar penyimpangan. Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakukan secara terbuka.Bahkan orang yang telah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal. Artinya. Norma penghindaran adalah polaperbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka. 4. akan tetapi pada batasbatas tertentu yang bersifat relatif untuk semua orang. Akan tetapi pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan). Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar. 5.22 3. Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena . Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Semua orang pernah melakukan perilaku menyimpang. Jadi secara umum. Jadi norma-norma penghindaran merupakan bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga. penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif.

yaitu 1). Sedangkan penyebab terjadinya prilaku menyimpang disebabkan oleh beberapa hal: Menurut Wilnes (1998) dalam bukunya ''Punishment and Reformation'' sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua. Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga.23 kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial. berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif). yaitu sebagai berikut : 1). Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar lingkungan . seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi Untuk lebih jelasnya. . Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir). 2). Misalnya keadaan rumah tangga. misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak ''(broken home)''.

Ikatan sosial yang berlainan. Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang)Hal inilah yang dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Proses belajar yang menyimpang. 3). 5). Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang.24 2). Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang [[perilaku]] menyimpang. 4). maka terjadilah perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. . Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang. karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok.

termasuk kemampuan akademik. Anak perlu diterangkan mengapa memanggil temannya dengan nama julukan yang buruk tidak baik. Hubungan karakter dengan kemampuan berprilaku anak saling terkait satu sama lain karena untuk mendidik anak selalu menggunakan prilaku yang positif. percaya diri. terdapat negara yang sejahtera. karena di dalam akhlak mulia setiap warga negara. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. kemampuan berinteraksi sosial dengan kawannya.25 B. Pendidikan karakter yang diberikan pada anak-anak pra sekolah dapat membentuk perilaku positif. Hal ini dapat dimengerti karena manusia yang berkarakter adalah manusia yang setiap pikiran dan tindakannya akan memberikan manfaat atau nilai tambah kepada lingkungannya. karena . Untuk mengimplikasikan diperlukannya pendidikan karakter (akhlak) yaitu memberi pengetahuan akan ”mana yang baik dan mana yang buruk” serta membuat sifat-sifat baik mengakar didalam diri anak sehingga membuatnya menjadi seseorang yang berkarakter/ berakhlak (Insan Kamil). Selain penting mengajarkan dengan contoh. Usia paling efektif pembentukan karakter dimulai sejak dini. kemampuan mengelola emosi. perlu juga mengajarkan dengan kata-kata. interaksi yang baik dengan gurunya. Kerangka pikir Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki ilmu dan akhlak yang mulia.

BAGAN KERANGKA PIKIR Pengajaran Pendidikan Sosiologi Prilaku Menyimpang Pendidikan berbasis Karakter Pelaksanaan Perencanaan Siklus I dan Siklus II Penilaian Analisis Temuan C. maka dapat meningkatkan prilaku positif siswa di SMA Negeri 1 Kindang. mengapa berbohong itu tidak bagus. karena dapat merusak kepercayaan orang dan sebagainya.26 akan menyakiti hatinya. Hipotesis Adapun hipotesis sementara dalam penelitian ini adalah jika menerapkan pendidikan berbasis karakter. Kabupaten Bulukumba .

(1) Perencanaan.27 BAB III METODE PENELITIAN A. (2) Tindakan. Penelitian tindakan kelas ditujukan sebagai perbaikan atas hasil refleksi terhadap tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil. Model tindakan ini terdiri dari empat komponen dalam satu siklus yaitu. (3) Observasi. (4) Refleksi. B. Dari ke empat komponen tersebut dilaksanakan secara berurutan dalam dua siklus. Siklus Penelitia Siklus PTK dapat digambarkan seperti pada gambar diagram berikut: Siklus I Perencanaan Pelaksanaan tindakan Refleksi Penilaian Perencanaan Refleksi Siklus 2 Penilaian Kesimpulan dan saran Pelaksanaan Tindakan 27 . Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang melibatkan penelitian berulang-ulang untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa dengan melakukan tindakan tertentu.

mengefaluasi dan melakukan refleksi. 9) Peneliti dan mitranya melakukan pengamatan dan melaksanakan tindakan. 8) Peneliti dan mitranyamerencanakan sekaligus merencanakan tindakan II. 12)Kegitan berakhir setelah ditemukan modal pembelajaran yang efektif sesuai yang ditargetkan . 11)Selanjutnya peneliti dan praktisi merencanakan dan sekaligus melaksanakan tindakan III. evaluasi dan refleksi tersebut. 6) Dari kegiatan observasi. ditemukan sejumlah informasi tentang efektif tindakan II yang telah dilakukan. Problem konkret diperoleh dengan melakukan obserfasi 2) Peneliti bersama-sama dengan mitranya menentukan satu problem yang perlu segera mendapat penanganan. 7) Peneliti dan mitranya merancang tindakan II yang diharapkan lebih baik daripada tindakan I. ditemukan sejumlah informasi tentang efektif tidaknya tindakan yang telah dilakukan.28 Dari bagan dan diagram diatas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Peneliti bersama mitranya meneliti problem konkret dalam pembelajran berbasis karakter pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Kindang Kec.Kindang Kab. evaluasi dan refleksi tersebut. 3) Peneliti dan mitranya bersama-sama merumuskan perencanaan tindakan 4) Peneliti bersama dengan mitranya melaksanakan tindakan I 5) Peneliti bersama dengan mitra secara bergantian melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Bulukumba. 10) Dari kegiatan observasi.

Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah 2. Rancangan Perencanaan Tindakan 1) Analisis kurikulum Pendidikan Sosiologi KTSP kelas X kompetensi dasar Prilaku menyimpang 2) Membuat perangkap pembelajaran Pendidikan Sosiologi yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran 3) Membuat lembar obserasi untuk mengamati dan mengidentifikasi segala yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung 4) Guru mempersiapkan soal berupa essay tes yang dijadikan tugas kelompok 5) Membuat alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal b. Siklus 1 a.29 C. Pelaksanaan Penelitian Seperti yang telah diuraikan pada bagian siklus penelitian. pelaksanaan tindakan secara rinci digambarkan sebagai berikut: 1. Guru membimbing siswa merumuskan masalah penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya . Rancangan Pelaksanaan Tindakan 1.

Guru mencatat hal yang dialami oleh siswa dan kondisi belajar siswa berdasarkan lembar observasi yang sudah disiapkan dalam hal ini mengenai kehadiran siswa. Rancangan Pengamatan Hasil Tindakan Obeservasi ini dilakukan pada saat guru melaksankan proses belajar mengajar. 8. Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpulkan dan mengorganisasi data. perhatian dan keaktifan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Rancangan Refleksi . 7. Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ditanamkan c. Selama siswa bekerja. membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat 5. Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskannya.30 3. Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan sesuatu konsep. Guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan masalah. 6. 4. guru membimbing dan memfasilitasinya. d.

saran perbaikan melalui tes wawancara 2. Rancangan Perencanaan Tindakan 1) Melanjutkan tahap perencanaan pada siklus 1 2) Dari hasil refleksi siklus 1. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut 1) Menilai dan mengamati perkembangan hasil belajar siswa setiap kelompok serta nilai tes akhir 2) Mengamati dan mencatat perkembangan-perkembangan yang dialami siswa pada saat belajar baik perorangan maupun kelompok 3) Menarik beberapa simpulan dari hasil analisas refleksi dan keseluruhan data yang diperoleh 4) Memberikan simpulan pada siswa untuk memberi tanggapan. . guru menyusun rencana baru untuk ditindaklanjuti.31 Merefleksi setiap hal yang diperoleh dari lembar observasi. atau mengawasi siswa lebih tegas lagi dan memberikan arahan serta motivasi kepada siswa yang kurang memperhatikan pelajaran atau tidak 3) Anggota kelompok diacak dengan tetap memperhatikan heterogenitas kelompok dan memberi motivasi siswa agar lebih bersemangat belajar pendidikan sosiologi secara kelompok. Siklus 2 a.

Rancangan Pelaksanaan Tindakan Tindakan siklus 2 ini adalah melanjutkan langkah-langkah siklus 1 dan memperbaiki yang dianggap perlu dalam memecahkan masalah. Rancangan Refleksi Hasil Tindakan Pada tahp ini umumnya langkah-langkah pada siklus 1 dilaksanakan pada siklus 2. Setting Penelitian 1) Keadaan lingkungan sekitar sekolah Keadaan lingkungan sekitar SMA Negri 1 Kindang Kec. D. Tindakan yang perlu dilaksanakan adalah sebagai berikut: 1) Melanjutkan tindakan model pembelajaran kooperatif 2) Kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas diberikan bimbingan secara langsung 3) Lembar jawaban dari masing-masing kelompok dan individu dikoreksi dan dibetulkan kemudian dikembalikan untu menjadi bahan diskusi 4) Guru memberikan ujian c.Kindang Kab.Bulukumba yang dijadikan sasaran dan subjek dalam penelitian yaitu sudah dalam tahap perkembangan pemahaman masalah pendidikan dimana .32 b. Rancangan Pengamatan Tindakan Pada tahap ini melanjutkan siklus 1 d.

E. sedangkan perempuan 17 orang. mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. 3) Keadaan Guru Sekolah ini di bina oleh 19 Guru PNS dan 11 Guru Tidak Tetap secara keseluruhan jumlah tenaga pendidik di SMA Negri 1 Kindang Kec. Laki-laki 9 orang termasuk bujang sekolah dan perempuan 21 orang termasuk guru agama.33 orang tua siswa sudah banyak membantu guru dalam hal membimbing dan mengarahkan anaknya untuk belajar di rumah.Bulukumba baik PNS maupun GTT sebanyak orang. Keadaan Murid Jumlah Siswa sebanyak 35 orang. Adapun bentuk observasi yang dilakukan adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan proses belajar siswa pada metode pemberian tugas yang diberikan oleh guru .Kindang Kab.Bulukumba jumlah siswanyaTiga puluh lima orang dimana siswa laki-laki Delapanbelas orang dan perempuan tujubelas orang. 2). murid laki-laki 18 orang. Di kelas X SMA Negri 1 Kindang Kec. Kindang Kab. yaitu: 1. Observasi Observasi adalah teknik penelitian dalam mendatangi lokasi penelitian. Tekhnik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis tekhnik pengumpulan data. yang mana tingkat aktifitas belajarnya berbeda-beda maka dalam penelitian ini difokuskan pada kelas X.

F.34 2. standar deviasi. Tes Tes merupakan alat pengumpul data untuk mengetahui kemampuan individu terhadap keterampilan tertentu dalam memperlihatkan hasil belajar.Bulukumba G. Instrumen Penelitian Yang menjadi instrumen penelitian tindakan kelas ini adalah tes pemberian tugas kepada siswa tentang prilaku positif sebagai upaya peningkatan hasil belajar Pendidikan Sosiologi siswa dari Siklus I ke Siklus II. atau dalam meggunakan kemampuan psikologis untuk memecahkan suatu persoalan. Teknik Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Sehingga penggunaan model pembelajaran Pendidikan Berbasis Karakter dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Sosiologi siswa Kelas X SMA Negri 1 Kindang Kec. Untuk analisis kuantitatif digunakan analisis deskriptif yaitu skor rata-rata. nilai minimum dan maksimun siswa. Adapun nilai analisis kualitatif yang digunakan teknik kategori penguasaan materi oleh siswa dengan pengkategorian berdasarkan kategori standar yang ditetapkan Depdikbud (1993: 6) sebagai berikut : yang diperoleh . frekuensi.Kindang Kab.

f f 1 i i Keterangan x x1 f1 : Skor rata-rata : Nilai ulangan : Frekuensi (banyaknya siswa) Σ x1.34 35 .2001) 1. f1 : Jumlah perkalian nilai ulangan dengan frekuensi Σ f1 : Jumlah siswa 2.54 55 . Nilai Variansi s 2  s  = 2  f x n i 1 i i x  2 n 1 Keterangan s  2 : Nilai Variansi : Frekuensi (banyaknya siswa) : Nilai ulangan f1 x1 .64 65 . Skor rata-rata x  x = x .84 85 .35 0 .100 dikategorikan “sangat rendah” dikategorikan “rendah” dikategorikan “sedang” dikategorikan “tinggi” dikategorikan “sangat tinggi” Data dianalisis dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Arif Tiro.

Standar deviasi s   f x n s = i 1 i i x  2 n 1 Keterangan .36 x n : Skor rata-rata : Jumlah siswa 3.

Jakarta : Indonesia Heritage Fondation Megawangi.Ali. Untuk Madrasah Aliyah. . Latifah. Surabaya. Bahdin.37 DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. Wiyono. Arkola.Farrah Dina. 2006 ”Kumpulan Makalah Pelatihan” Depok Indonesia Heritage Fondation Hasan. Pen. H. CV. Horton. Wicaksana. Drs. Puspitawati. Maulana. Drs. “Mendidik Anak Sejak Dini”. ”Kamus Ilmiah Populer”. Drs. Balai Pustaka. Melly. Ratna. Pius dan M. Dahlan Al Barry. Jakarta: Kencana. Megawangi.2005.Partanto. Pen. ”Mari Kita Akhiri Kekerasan Pada Anak. Guru Semai Benih Bangsa. dkk. Drs. 1994. Herien. ”Kamus Inggris-Indonesia”. H. 1979 “Akhlak-Tauhid”. Edi. Bachtiar. 2002. 2002. Wahyu. Toha Putra”. Semarang A. 2006 “Pendidikan Yang Patut dan Menyenangkan”. Bandung: Angkasa Paul B.. 2000. Gramedia Jakarta. ”Terjemah dan Tafsir Al-Qur’an” (Adz-dzikraa). Wiyono. Edi. “123 Hadist Pembina Iman dan Akhlaq”. Sholeh. Ratna. Pen. Pen. Jakarta: Viscom Pratama. Semarang. Human Behaviorist. New York: Pedati Publishing. MM dan Ardial. Ratna. Ratna. Jakarta Echols. PT. 1981. 2005.” Jakarta : Indonesia Heritage Fondation.Si.. Mustaghfiri. Departemen Pendidikan Nasional. “Psikilogi Perkembangan” Jakarta : Rineka Cipta. M. Haji Fajar. John M. Arfah. ”Statisti II” Makassar Asror. Megawangi. Abu.1994. 2005 ”Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”. ”Pendidikan Karakter”. Surabaya : Jawara Offset. Munawar. 2004. 2007 Surin.”Pendidikan Holistik”. 2006. Drs. Dan Hassan Shadily. Jakarta : Indonesia Heritage Fondation. H. Herien. Drs. M. Pen. SE. Megawangi. Nur Tanjung. H. ”Kamus Besar Bahasa Indonesia” edisi III. Puspitawati. 1991.

Punishment and Reformation.38 Wilnes.1998. . Michael. California: University of California Press.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.