INTEGRASI SEKTOR SWASTA DALAM PENGURANGAN RESIKO BENCANA Oleh : Erwin Ruhiyat

Selama lebih dari 40 tahun, jumlah kejadian bencana dan dampaknya terhadap pembangunan manusia secara global telah tumbuh secara konsisten seiring bertambahnya tahun terutama di negara-negara berkembang. Secara intuitif anda mungkin berpikir bahwa peningkatan itu berhubungan dengan meningkatnya frekuensi dari apa yang disebut “trigger events” yaitu meningkatnya dampak dari bencana akibat fenomena alam yang lebih kuat dan sering terjadi karena adanya perubahan sistem iklim global (sebagai contoh adalah naiknya permukaan laut, hujan yang sangat lebat dan kekeringan yang berkepanjangan). Meningkatnya dampak dari bencana secara global juga dipengaruhi oleh makin bertambah banyaknya populasi yang hidup di berbagai kawasan, singkatnya meningkatnya kerugian akibat bencana terhadap umat manusia adalah hasil dari pertumbuhan populasi manusia di bumi. Sejak tahun 1990, pendekatan terhadap bencana telah memperoleh pijakan dasar teoritis sebagai hasil dari berbagai studi empiris mengenai dampak dan resiko bencana. Pendekatan ini bertujuan memahami bencana sebagai manifestasi dari pembangunan yang merujuk kepada pemukiman sebagai ancaman terhadap lingkungan hidup dan sebaliknya. Pendekatan baru dari pemahaman terhadap masalah bencana memerlukan cara pandang dan pendekatan yang berbeda, dimana karakter “tak dapat dihindari” dari bencana mulai dipandang bahwa dampak bencana dapat dihindari melalui bagaimana kita menjaga dan membentuk masyarakat, ekonomi, pemukiman selaras dengan lingkungan hidup sekitar kita melalui kegiatan pengurangan resiko bencana. Perlu juga diketahui dari cara pandang ini adalah tantangan dalam kegiatan pengurangan resiko bencana dimana komitmen dari seluruh pemangku kepentingan lebih dari sekedar tanggap darurat pasca bencana tetapi internalisasi dalam kondisi sosial dan institusi baik sektor publik maupun swasta.

Salah satu elemen yang paling memiliki pengaruh buruk dari proses inventarisasi resiko bencana adalah proses urbanisasi yang cepat, merupakan factor yang jelas melemahkan kemampuan manajemen berkelanjutan dari pemukiman (human settlements) dan meningkatnya kerentanan di kota-kota. Harus diperhatikan pula bahwa pertumbuhan populasi dan proses urbanisasi saja tidak meningkatkan resiko bencana, resiko juga diperparah dengan perencanaan buruk, kurangnya sumberdaya dan kemampuan untuk menjadikan pertumbuhan populasi dan urbanisasi sebagai kapasitas. Terlepas dari berbagai inisiatif yang dapat disebutkan, deklarasi oleh masyarakat internasional di Perserikatan Bangsa Bangsa/PBB menandakan awal dari decade pengurangan resiko bencana (International Decades for Natural Disaster Reduction/IDNDR 1990-2000). Deklarasi ini berlanjut kepada usaha institusional membidik isu-isu bencana dan munculnya sejumlah institusi yang berdedikasi untuk mengurangi bencana di planet ini. Terlepas dari antusiasme dan dorongan pada rentang tahun tersebut, pengkajian mengenai hasil dari IDNDR menunjukkan fakta yang bertolak belakang : terlepas dari usaha dan investasi yang telah dilakukan ternyata dampak bencana semakin meningkat. Hasil yang bertolak belakang dari IDNDR ini membuat PBB memperpanjang rentang waktu komitmennya untuk bergerak di bidang pengurangan resiko bencana yang hasilnya terbentuk program permanen yang disebut sebagai International Strategy for Disaster reduction/ISDR. Sebelum mengkaji isu-isu mengenai kerjasama public-swasta, disarankan untuk menggarisbawahi jenis kegiatan yang bisa dilakukan mengenai pengurangan resiko bencana dalam konteks koordinasi dan implementasi usahausaha pengurangan resiko bencana terutama bila dipahami sebagai factor yang memberikan kondisi untuk pembangunan berkelanjutan. Pendekatan

menyeluruh mengenai pengurangan resiko bencana memerlukan empat aksi kunci :

1. Identifikasi dan karakterisasi resiko, berkonsentrasi pada usaha-usaha untuk memperoleh pengetahuan mengenai ancaman dan kerentanan terhadap suatu area. 2. Pencegahan dan mitigasi resiko, berkonsentrasi pada rancangan dan implementasi langkah-langkah untuk menghindari paparan terhadap ancaman dan mengurangi tingkat kerentanan. 3. Kesiapsiagaan, berkonsentrasi pada pengutatan kapasitas operasional dan koordinasi antar-institusi untuk memastikan dilakukannya respon yang cepat dan tepat terhadap bencana. 4. Transfer resiko, berpusat kepada peningkatan transfer resiko financial akibat kehilangan harta benda bila terjadi bencana melalui implementasi kebijakan asuransi dan re-asuransi. Tidak disangsikan, area pertama dan terbesar dimana terdapat bukti jelas mengenai dukungan yang sector swasta berikan terhadap pengurangan resiko bencana adalah solidaritas dan dukungan penuh yang diberikan ketika terjadi kondisi sulit. Tentunya, bentuk solidaritas dan dukungan ini biasanya bantuan tanggap darurat bagi Negara atau kawasan dimana perusahaan swasta beroperasi. Sambil mengakui contoh yang patut dipuji dari solidaritas pihak swasta dalam menyediakan bantuan terutama logistic, penting untuk diingat bahwa efisiensi dari setiap bantuan kemanusiaan didasarkan pada tingkat kesiapsiagaan dan koordinasi antar donor dan penerima bantuan. Ini merunut kepada perlunya perkuatan kapasitas sector swasta dalam kesiapsiagaan dan respon terhadap bencana seperti membentuk jaringan untuk mendorong integrasi sector swasta dalam langkah-langkah pengurangan resiko bencana bersama pemerintah dan masyarakat seperti ikut serta menyusun protocol integrasi sector swata dalam respon terhadap bencana (tools/protokol yang menghubungkan sumberdaya kepada pihak yang membutuhkan dalam tanggap darurat, contoh : AIDMATRIX, organized plunder) dan business continouity program.

Kenyataan cenderung kontradiktif, dimana saat ini manajemen bencana merupakan subyek dari kompleksitas teknis yang rumit sehingga memerlukan usaha-usaha pelatihan serupa pendidikan akademik yang khusus dibidang manajemen bencana. Tantangan ini perlu dijawab pihak swasta dengan membuat kontribusi substansial untuk membantu inisiatif pelatihan manajemen bencana juga dengan mentransfer kemampuan mereka dalam beroperasi secara real-time dan efisiensi produksi untuk diterapkan dalam respon terhadap bencana. Tantangan utama yang harus diselesaikan dalam rangka kerjasama public-swasta untuk pengurangan resiko bencana adalah berhenti membatasi aksi-aksi yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dan respon terhadap bencana dan mulai bekerja dalam konteks inisiatif preventif merubah kondisi-kondisi penyebab bencana (kerentanan) untuk menjamin bencana tidak terjadi lagi. Kondisi yang ada sekarang adalah langkah-langkah untuk mengurangi kerentanan dan resiko masih kurang terutama oleh sector swasta dimana, usahausahanya masih berpusat pada langkah-langkah yang kurang menguntungkan daripada membuat kerangka kerja aksi pengurangan resiko bencana. Bagi sector swasta yang selalu berupa sector penting dengan kekuatan signifikan dalam kalkulasi dan membuat keputusan dimana untung-rugi harus maksimal, pilihan yang tersedia saat ini adalah untuk mendorong pencegahan dan mitigasi dari resiko dan mendorong cara-cara menghubungkan public-privat yang lebih efisien dalam rangka pengurangan resiko bencana. Dalam rangka memberikan saran mengenai garis tugas yang dapat dilaksanakan oleh sector swasta untuk menjamin partisipasinya dalam pencegahan dan pertimbangan: 1. Usaha-usaha yang berfokus kepada karakterisasi resiko, terutama di daerah-daerah dimana sector swasta beroperasi mitigasi bencana, tiga jenis usulan dapat menjadi sector

2. Usaha-usaha untuk mencegah peristiwa-peristiwa membahayakan, focus dalam menyediakan sector swasta dengan tools untuk mengikutsertakan kritria ancaman dalam pemilihan tempat untuk menempatkan fasilitas operasi perusahaan 3. Usaha-usaha fokus kepada mitigasi resiko, untuk mendorong langkahlangkah pengurangan resiko terhadap infrastruktur yang merupakan special interest bagi sector swasta Pengurangan resiko bencana merupakan dasar dan penting bagi praktek usaha yang sehat dan juga ikut berperan dalam pembentukan masyarakat tangguh dan pembangunan berkelanjutan seperti standarisasi bangunan dan pemetaan resiko untuk melindungi karyawan dan masyarakat. Tetapi ketika terjadi bencana seringkali usaha terganggu sehingga perencanaan bisnis dan pengurangan resiko bencana untuk mendorong kesempatan berusaha dan memberikan tingkat perlindungan yang lebih tinggi. Beberapa pemilik usaha seringkali melindungi usahanya dari bencana melalui asuransi untuk mentransfer resiko keuangan yang mereka hadapi kepada perusahaan penjamin asuransi. Corporate social Responsibility (CSR) adalah konsep yang terbuka bagi banyak intrepretasi yang mendorong sector swasta untuk berkomitmen bagi perkembangan social dan institusional lingkungan disekitarnya. Aplikasi prinsip ini harus dipandang sebagai suatu siklus dimana tidak terdapat garis pembatas antar elemen atau antar kerja social dengan pekerjaan komersial dari perusahaan, berikut adalah tiga area aksi dimana CSR harus lebih berperan : 1. Selaras dengan kerangka kerja legal dan aturan, kerjasama dan standar yang dibuat untuk operasi oleh otoritas lokal dan nasional 2. Mengurangi dampak social-ekonomi, politik dan lingkungan dari operasi perusahaan 3. Menciptakan nilai agregat social dalam lingkungannya, yang menghasilkan penguatan kapasitas institusi dan social bisa untuk

meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan

Tiga prinsip di atas telah mengadopsi karakteristik umum dari krisis lingkungan global yang terjadi saat ini, dimana dimensinya semakin mengkhawatirkan. Ini adalah krisis yang akarnya diasosiasikan sebagai “pernikahan buruk” antara manusia dan lingkungan hidupnya sehingga saling menghancurkan satu sama lain. Ini adalah panggilan bagi sector swasta terutama perusahaan-perusahaan besar yang dikarakterisasi dengan komitmen dan kontribusi kuat untuk mendorong pembangunan manusia di Negara-negara berkembang dan kawasan tempatnya beroperasi, komitmen untuk pengurangan resiko bencana harus didasarkan pada hal ini terutama bagi pertanyaanpertanyaan seperti : seberapa lestari portofolio pembangunan manusia secara lokal? Produk siapa yang memiliki potensi rusak ketika dihantam hujan lebat atau gempa bumi?

KESIMPULAN Semakin kuat tren kondisi resiko yang memburuk dan dampak bencana yang semakin parah oleh karena itu inisiatif untuk menjelajah mekanisme dan melakukan identifikasi dan mendorong cara-cara yang lebih baik dalam kerjasama public-swasta untuk pengurangan resiko bencana mendesak untuk dilakukan. Sesuai paradigma dominan mengenai peran sector swasta dalam mengurangi resiko bencana, pelibatan perusahaan dalam manajemen resiko merupakan strategi yang hanya menguntungkan pemerintah, sementara dengan mudah ditunjukkan bahwa jenis kerjasama ini mewakili konteks win-win solution antara pemerintah dengan sector bisnis komersial. Oleh karena itu, bila pendekatan pilantropi dari sector swasta meningkatkan dukungan terhadap pengurangan resiko bencana sangat mungkin untuk mendorong kerjasama public-swasta yang lebih lestari, menyebar dan efektif untuk pengurangan resiko bencana terutama pencegahan dan mitigasi sebagai strategi utama untuk menghadapi resiko bencana-dipertimbangkan sebagai prioritas utama kerjasama public-swasta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful