PENERAPAN MODEL SIMULASI SISTEM DINAMIS PADA ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN PERTAMINA TERHADAP PERFORMA PERUSAHAAN AGEN GAS

LPG (Studi kasus: PT. Endang, agen gas LPG 3 kg)

TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik Industri

Oleh Nama No. Mahasiswa : Asri Kusumaningtyas : 0522109

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2011

PENGAKUAN

Demi Allah, Saya akui karya ini adalah hasil kerja saya sendiri kecuali nukilan dan ringkasan yang setiap satunya telah saya jelaskan sumbernya. Jika dikemudian hari ternyata terbukti pengakuan saya ini tidak benar dan melanggar peraturan yang sah dalam karya tulis dan hak intelektual maka saya bersedia ijazah yang telah saya terima untuk ditarik kembali oleh Universitas Islam Indonesia.

Yogyakarta, Januari 2011

Asri Kusumaningtyas NIM: 05 522 109

ii

PENERAPAN MODEL SIMULASI SISTEM DINAMIS PADA ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN PERTAMINA TERHADAP PERFORMA PERUSAHAAN AGEN GAS LPG (Studi kasus: PT. Endang, agen gas LPG 3 kg)

TUGAS AKHIR

Oleh Nama : Asri Kusumaningtyas

No. Mahasiswa : 05 522 109

Yogyakarta, Januari 2011 Pembimbing

(Winda Nur Cahyo, S.T., M.T.)

iii

PENERAPAN MODEL SIMULASI SISTEM DINAMIS PADA ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN PERTAMINA TERHADAP PERFORMA PERUSAHAAN AGEN GAS LPG (Studi kasus: PT. Endang, agen gas LPG 3 kg)

TUGAS AKHIR

Oleh : Nama No. Mahasiswa : : Asri Kusumaningtyas 05 522 109

Telah Dipertahankan di Depan Sidang Penguji Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik Industri Yogyakarta, Januari 2011

Tim Penguji Winda Nur Cahyo, S.T., M.T. Ketua Drs. R. Abdul Djalal, MM Anggota I M. Ridwan Andi Purnomo, S.T., M.Sc. Anggota II

Mengetahui, Ketua Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

(Drs. Ibnu Mastur, MSIE )

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

“Kupersembahkan karya kecilku ini untuk Ayahanda Kristalti Garmadi dan Ibunda Endang Sihati Wiryani. Terima kasih untuk motivasi serta doa dan juga kasih sayang, pengertian, perhatian yang telah kalian berikan tanpa batas...”

v

MOTTO

“ Dan bersama kesukaran pasti ada kemudahan. Karena itu bila selesai suatu tugas, mulailah tugas yang lain dengan sungguh – sungguh. Hanya kepada Tuhanmu hendaknya kau berharap ” (QS. Asy-Syarh : 6 – 8)

“ Kesuksesan adalah sebuah proses, sebuah kualitas pikiran, sebuah tata cara hidup, dan sebuah penegasan hidup “ (Alex Noble)

“ Sungguh, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah dirinya ” (QS. Ar Ra’d : 11)

“ Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah ” (H.R Muslim)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayahnya. Sholawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat, serta orangorang yang bertaqwa, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul PENERAPAN MODEL SIMULASI SISTEM DINAMIS PADA ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN PERTAMINA TERHADAP

PERFORMA PERUSAHAAN AGEN GAS LPG di PT. Endang, agen gas LPG 3 kg. Laporan tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia. Dan juga sebagai sarana untuk mempraktekkan secara langsung ilmu dan teori yang telah diperoleh selama menjalani masa studi di Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungannya baik secara langsung maupun tidak. Dengan penuh rasa syukur Penulis ucapkan terima kasih kepada : 1. Ir. Gumbolo HS.,M.Sc. selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia 2. Drs. HM. Ibnu Mastur, MSIE selaku Ka. Prodi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia. Terima kasih untuk segala kesempatan yang telah diberikan untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.

vii

3. Winda Nur Cahyo S.T.,M.T. selaku dosen pembimbing yang telah berkenan memberikan bimbingan, petunjuk, saran serta waktunya dalam pembuatan Tugas Akhir ini. 4. Dra. Endang Sihati Wiryani dan Endang Setyowati, S.E. selaku Direktur Utama dan Manajer Keuangan PT. ENDANG yang telah memberikan izin penelitian, waktu, dan data-data yang diperlukan untuk penyelesaian Tugas Akhir ini. 5. Kedua orang tuaku tercinta yang telah memberikan kasih sayang, doa, dan dukungan baik secara material maupun immaterial. 6. Kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan dan penyusunan Tugas Akhir ini. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan laporan Tugas Akhir ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini masih banyak terdapat kekeliruan dan kekurangan. Untuk itu penulis menyampaikan permohonan maaf sebelumnya serta sangat diharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk penyempurnaan di masa mendatang. Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pembaca. Wassalamu’alaikum Wr.Wb. Yogyakarta, Januari 2011

Penulis

viii

ABSTRAK

Pelaksanaan program konversi minyak tanah ke gas LPG 3kg mengharuskan agen minyak tanah seperti PT. Endang mengikuti perubahan yang ditetapkan pemerintah dengan mengubah jenis usahanya menjadi agen gas LPG 3kg. Sebagai program baru, maka kebijakan-kebijakan yang diberlakukan untuk pelaksanaan program konversi minyak tanah tersebut juga terus dipantau dan diperbaharui bila perlu sesuai dengan perkembangan dari pelaksanaan program tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sistem dinamis. Simulasi dilakukan dengan membuat model sistem kebijakan lama dan model sistem kebijakan baru menggunakan software powersim studio 2005. Hasil simulasi model sistem dinamis untuk pemberlakuan kebijakan lama dengan PT. Endang sebagai obyek penelitian, menunjukkan bahwa penerapan kebijakan lama membuat agen ini mengalami fluktuasi pendapatan yang drastis seperti yang terlihat dalam grafik hasil simulasi model kebijakan lama dengan laba rata-rata hanya Rp. 6.120.716,657 /bulan. Kondisi tersebut berlaku hingga bulan Juni 2010 dengan dikeluarkannya kebijakan baru yaitu kebijakan kuota untuk setiap agen dan rayonisasi wilayah distribusi. Agen PT. Endang sendiri mendapatkan kuota dari Pertamina ±40.000 tabung/bulan untuk jumlah penebusan atau pembelian tabung. Dengan berlakunya kebijakan baru ini ternyata membuat agen seperti PT. Endang ini mengalami kondisi yang lebih baik dengan adanya peningkatan pendapatan seperti yang terlihat pada grafik hasil simulasi model baru yang menunjukkan peningkatan laba yang kontinu dengan laba rata-rata Rp. 34.695.021/bulan. Dengan demikian jelas bahwa kebijakan baru memberikan efek lebih baik bagi PT.Endang.

Kata kunci : System Dynamics, Kebijakan, Laba

ix

DAFTAR SIMBOL

Ei F H k n Oi R s2 t x dan μ α χ2

= Frekuensi teoritis (sistem nyata) = Fungsi tabel F = Hipotesis = Jumlah kelas = Jumlah data = Frekuensi observasi (hasil simulasi) = Replikasi = Variansi = Fungsi tabel T = Rata – rata = Tingkat kepentingan = Chi square

x

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..................................................................................................... ..i PENGAKUAN............................................................................................................. . ii LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING............................................................ ... iii LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI......................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................................... v MOTTO........................................................................................................................ vi KATA PENGANTAR................................................................................................ vii ABSTRAK.................................................................................................................... ix DAFTAR SIMBOL....................................................................................................... x DAFTAR ISI................................................................................................................ xi DAFTAR TABEL...................................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR.................................................................................................. xv BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ..........................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 7 1.3 Batasan Masalah ....................................................................................... 7 1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 8 1.5 Manfaat Penelitian .................................................................................... 8 1.6 Sistematika Penulisan ............................................................................... 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................... 10 2.1 Kajian Deduktif ...................................................................................... 10 2.1.1 Definisi Sistem ........................................................................... 10 2.1.2 Karakteristik Sistem ................................................................... 10 2.1.3 Definisi Model ........................................................................... 11 2.1.4 Karakteristik Model ................................................................... 11 2.1.5 Prinsip-prinsip Pemodelan Sistem ............................................. 11 2.1.6 Bagan Proses Pemodelan Sistem ............................................... 13 2.1.7 Simulasi ..................................................................................... 14 2.1.8 Definisi Simulasi ....................................................................... 14 2.1.9 Keuntungan Simulasi ................................................................. 14 2.1.10 Kerugian Simulasi .................................................................... 16 2.1.11 Systems Thinking ...................................................................... 16 2.1.12 Sistem Dinamik......................................................................... 17 2.1.13 Konsep Sistem dalam Metode Sistem Dinamis ....................... 18 2.1.14 Tujuan Model Sistem Dinamik ................................................ 20 2.1.15 Batasan Tertutup ...................................................................... 21 2.1.16 Bentuk Model Sistem Dinamik ................................................ 21 xi

2.1.17 Tahapan Pemodelan dalam Sistem Dinamik ........................... 22 2.1.18 Software Powersim .................................................................. 25 2.1.19 Validasi .................................................................................... 27 2.1.20 Tujuan Validasi ........................................................................ 27 2.1.21 Teknik Validasi ........................................................................ 28 2.1.22 Analisa Output Hasil Simulasi ................................................. 30 2.1.23 Desain Eksperimen ................................................................... 32 2.2 Kajian Deduktif ..................................................................................... 32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................................... 35 3.1 Identifikasi Masalah .............................................................................. 35 3.2 Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................... 35 3.3 Data ........................................................................................................ 35 3.3.1 Metode Pengambilan Data ....................................................... 35 3.3.2 Data yang Diperlukan .............................................................. 36 3.4 Perancangan model Konseptual .............................................................. 36 3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................................... 37 3.6 Validasi ................................................................................................... 37 3.7 Desain Eksperimen ................................................................................. 37 3.8 Rekomendasi dan saran .......................................................................... 38 3.9 Diagram Alir Penelitian .......................................................................... 39 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA .................................. 43 4.1 Pengumpulan Data ................................................................................. 43 4.1.1 Sejarah Perusahaan .................................................................... 43 4.1.2 Wilayah Distribusi ..................................................................... 44 4.1.3 Jumlah Penebusan DO (Delivery Order) ................................... 45 a. Tabel Penebusan DO Lama (Oktober 2009-Juni 2010) ....... 46 b. Tabel Penebusan DO Baru (Juli 2010-Oktober 2010) ......... 47 4.1.4 Jumlah Penjualan ....................................................................... 47 a. Tabel penjualan Lama .......................................................... 47 b. Tabel Penjualan Baru ............................................................ 48 4.1.5 Harga Beli .................................................................................... 49 4.1.6 Harga Jual .................................................................................... 50 4.2 Pengolahan Data ..................................................................................... 50 4.2.1 Causal Loop Diagram ................................................................. 50 4.2.2 Pemodelan dengan Powersim ...................................................... 54 a. Flow Diagram Model Kebijakan Lama ................... 54 b. Flow Diagram Model Kebijakan Baru ..................... 62 4.2.3 Validasi Model .............................................................................. 71 BAB V PEMBAHASAN ........................................................................................... 76 5.1 . Analisa Hasil Simulasi Model Kebijakan Lama ................................... 77 5.2 .. Analisa Hasil Simulasi Model Kebijakan Baru .................................... 79 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 81 6.1 .. Kesimpulan ........................................................................................... 81 6.2 .. Saran ..................................................................................................... 81 xii

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 82 LAMPIRAN .............................................................................................................. 84

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Simbol Variabel dalam Powersim ........................................................... 26 Tabel 2.2. Perhitungan Nilai F.................................................................................. 34 Tabel 4.1. Jumlah Penebusan DO (Lama) ................................................................ 44 Tabel 4.2. Jumlah Penebusan DO (Baru) ................................................................. 45 Tabel 4.3. Penjualan Gas LPG 3kg (Lama) .............................................................. 45 Tabel 4.4. Penjualan Gas LPG 3kg (Baru) ............................................................... 46 Tabel 4.5. Pricing Policy .......................................................................................... 47 Tabel 4.6. Rumus Matematis Flow Diagram Kebijakan Lama ................................ 54 Tabel 4.7. Data Historis dan Hasil Simulasi Model Kebijakan Lama ...................... 59 Tabel 4.8. Rumus Matematis Flow Diagram Kebijakan Baru .................................. 62 Tabel 4.9. Data Historis dan Hasil Simulasi Model Kebijakan Baru ....................... 68 Tabel 4.10. Distribusi Probabilitas Data Riil Laba ................................................... 71 Tabel 4.11. Distribusi Probabilitas Data Simulasi Laba ........................................... 71 2 Tabel 4.12. Penentuan Nilai χ hitung ........................................................................... 72 Tabel 4.13. Penggabungan Kelas .............................................................................. 72 Tabel 4.14. Hasil Validasi Data Laba pada Model Kebijakan Lama ........................ 73

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Jalur Distribusi LPG 3kg ........................................................................ 5 Gambar 2.1. Bagan Proses Pemodelan Sistem .......................................................... 13 Gambar 2.2. Diagram Umpan Balik Positif .............................................................. 19 Gambar 2.3. Diagram Umpan Balik Negatif ............................................................ 20 Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian ....................................................................... 37 Gambar 4.1. Wilayah Distribusi ............................................................................... 43 Gambar 4.2. Causal Loop Diagram .......................................................................... 51 Gambar 4.3. Flow Diagram Model Kebijakan Lama ............................................... 53 Gambar 4.4. Grafik Perbandingan Laba Data Riil dan Simulasi Model Kebijakan Lama .................................................................................................... 60 Gambar 4.5. Flow Diagram Model Kebijakan Baru ................................................. 61 Gambar 4.6. Grafik Perbandingan Laba Data Riil dan Simulasi Model Kebijakan Baru ..................................................................................................... 68

xv

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Liquefied Petroleum Gas (LPG) PERTAMINA dengan brand ELPIJI,

merupakan gas hasil produksi dari kilang minyak (Kilang BBM) dan Kilang gas, yang komponen utamanya adalah gas propana (C3H8) dan butana (C4H10) lebih kurang 99% dan selebihnya adalah gas pentana (C5H12) yang dicairkan. ELPIJI lebih berat dari udara dengan berat jenis sekitar 2.01 (dibandingkan dengan udara), tekanan uap Elpiji cair dalam tabung sekitar 5.0 – 6.2 Kg/cm2. Di Indonesia, minyak tanah memang lebih familiar untuk digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga. Harga LPG yang tergolong premium membuat masih sedikit masyarakat yang menggunakannya. Berdasarkan kegunaannya sebagai bahan bakar rumah tangga, penggunaan LPG di Indonesia masih kecil yaitu sekitar 10%. Mayoritas penduduk Indonesia masih menggunakan minyak tanah untuk memasak (lebih dari 60%). Sejak awal Pertamina meluncurkan produk LPG, merek jual yang digunakan adalah ‘Elpiji’. Salah satu strategi yang dilakukan Pertamina untuk menciptakan konsumen Elpiji adalah dengan menetapkan harga jual yang dibawah harga keekonomiannya. Selisih harga tersebut disubsidi Pertamina. Dengan begitu, sedikit demi sedikit konsumen elpiji mulai terbentuk terutama masyarakat di perkotaan. Produk awal Elpiji yang dikeluarkan oleh Pertamina terdiri dari dua jenis yaitu Elpiji tabung ukuran 12 kg untuk rumah tangga dan industri kecil, serta Elpiji tabung 50 kg untuk kalangan industri. Meskipun awalnya LPG diproduksi untuk

2

memenuhi kebutuhan bahan bakar gas rumah tangga, namun kemudian juga berkembang untuk pemenuhan kebutuhan lainnya seperti kebutuhan industri dan transportasi. Secara garis besar pemanfaatan LPG sebagai sumber energi digunakan untuk pemenuhan kebutuhan panas, penerangan dan sumber tenaga. Pemenuhan kebutuhan panas dari LPG didorong oleh kebutuhan rumah tangga seperti memasak, pemanas ruangan, pemanas air dan sebagainya. Kebutuhan inilah yang kemudian mendominasi pola konsumsi LPG Indonesia. Pada awalnya LPG dipasarkan bagi kalangan terbatas dengan produk tabung 12 kg dan 50 kg. Namun seiring terkait dengan permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan energi, dimana subsidi bahan bakar minyak tanah semakin lama semakin besar dan adanya arah kebijakan energi nasional yang baru, maka sejak tahun 2007 Pemerintah melakukan program konversi minyak tanah ke LPG dalam bentuk LPG 3 kg. Hal ini antara lain dilakukan untuk mereduksi subsidi minyak tanah yang semakin membengkak seiring dengan tingginya harga minyak dunia, menggantinya dengan subsidi LPG yang harganya relatif lebih murah. Akibat dari kebijakan tersebut, maka kemudian di pasar LPG muncul varian produk baru LPG yakni LPG 3 kg dengan harga subsidi yang dipastikan lebih murah dari LPG yang telah tersedia di pasar yaitu LPG 12 dan 50 kg yang harganya lebih mahal. Program Konversi Minyak Tanah ke LPG merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi subsidi BBM, dengan mengalihkan pemakaian minyak tanah ke LPG. Program ini diimplementasikan dengan membagikan paket tabung LPG beserta isinya, kompor gas dan accessories-nya kepada rumah tangga dan usaha mikro pengguna minyak tanah. Untuk mengurangi dampak sosial atas diberlakukannya program ini, pendistribusian LPG dilakukan oleh eks Agen dan Pangkalan Minyak Tanah yang diubah menjadi Agen dan Pangkalan Elpiji 3 kg.

3

Program ini ditugaskan kepada Pertamina, berkoordinasi dengan Departemen terkait, dan direncanakan pelaksanaannya secara bertahap antara tahun 2007 – 2010. Seiring perubahan tersebut, LPG kini menjadi perhatian banyak kalangan karena menjadi produk yang sangat dibutuhkan konsumen, sehingga permntaan naik cukup tajam sehingga harganya yang terus melambung dan pasokan sering terkendala dengan kelangkaan sebagaimana di beberapa wilayah, terutama untuk produk bersubsidi LPG 3 kg. Dalam hal ini, ditengarai selain konsumen minyak tanah yang beralih ke LPG juga terjadi peralihan konsumsi dari LPG jenis yang satu ke LPG yang lainnya. Kenaikan harga LPG 12 kg telah mendorong konsumen beralih mengkonsumsi LPG 3 kg yang sebenarnya merupakan komoditi khusus bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Berpindahnya masyarakat untuk

mengkonsumsi LPG 3 kg menyebabkan permintaan LPG 3 kg tersebut meningkat sehingga menimbulkan kelangkaan LPG bersubsidi. Di sisi lain, pasokan LPG juga tersendat sehingga masyarakat menganggap Pemerintah tidak siap dalam menjalankan program konversi tersebut. Dengan munculnya persoalan yang diakibatkan varian produk dalam komoditi LPG, yakni produk LPG 3 kg yang mendapat subsidi dan LPG 12 kg dan 50 kg yang tidak disubsidi dan dianggap sebagai produk murni milik pelaku usaha dalam hal ini Pertamina, maka kompleksitas permasalahan dalam industri LPG meningkat. Dalam program ini, para eks-agen minyak tanah harus mengikuti peraturan pemerintah untuk mengkonversi jumlah minyak tanahnya secara bertahap hingga akhirnya menjadi agen gas LPG 3 kg sepenuhnya. Eks-agen minyak tanah tidak serta merta menjadi agen gas LPG, baik agen lama (eks-agen minyak tanah) maupun agen baru harus memenuhi syarat-syarat dalam rangka program konversi minyak tanah ke LPG sebelum diangkat menjadi agen gas LPG definitif atau tetap. Untuk memulai

4

menjadi agen gas LPG 3 kg, ada banyak hal yang harus dipersiapkan oleh para agen mulai dari modal awal gas hingga penetrasi pasar untuk gas LPG 3 kg. Kebijakan lama dalam rangka program konversi minyak tanah yang dikeluarkan Pertamina pada awal pelaksanaan program tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Penebusan DO minimal 39.000 tabung/bulan untuk setiap agen. 2. Belum adanya kebijakan kuota untuk setiap agen. 3. Belum adanya kebijakan rayonisasi dalam pendistribusian LPG 3 kg di wilayah Kab. Boyolali. Pelaksanaan kebijakan lama tersebut dimulai sejak diberlakukannya program konversi minyak tanah. Penebusan DO minimal 39.000 tabung/bulan/agen tidak sebanding dengan jumlah konsumsi gas LPG di Kab. Boyolali yaitu ± 57. 474 Mton (Metrik Ton), sedangkan terdapat 13 agen gas LPG di Kab. Boyolali. Belum adanya kuota penebusan atau pembelian menyebabkan tidak ada batas maksimum jumlah pendistribusian LPG oleh setiap agen, hal ini mengakibatkan terjadinya over supply gas LPG 3 kg di pasar LPG wilayah Kab. Boyolali. Kebijakan rayonisasi yang juga belum diberlakukan pada saat itu membuat pasokan LPG 3 kg dari agen bertambah dengan bisa masuknya agen-agen dari luar Kab. Boyolali.

5

Adapun jalur distribusi LPG dapat dilihat dalam bagan berikut:

Supply Point

Sub Agen

Konsumen

Pangkalan

Transportir LPG 3kg

Agen

Konsumen

Pangkalan

Sub Agen

Konsumen

Pangkalan

Gambar 1.1 Jalur Distribusi LPG Pengambilan gas LPG 3 kg oleh setiap agen dilakukan di SPPBE terdekat sesuai daerah operasi masing-masing agen. Dalam pendistribusiannya agen dapat dibantu oleh sub agen, baik agen maupun sub agen dapat mendistribusikan LPG 3 kg

6

melalui pangkalan-pangkalan atau pembelian langsung oleh konsumen ke tempat agen maupun sub agen gas LPG 3 kg. Adapun syarat-syarat untuk bagi eks-agen minyak tanah untuk menjadi agen LPG 3 kg (bersubsidi) definitif meliputi: 1. Memiliki persediaan tabung, untuk setiap 5 kl minyak tanah equivalent dengan 1500 tabung. 2. Pergudangan seperti ketentuan. 3. Armada seperti ketentuan. 4. Kewajiban memenuhi penebusan 39.000 tabung per bulan. 5. Serta ketentuan-ketentuan lainnya. Untuk masa waktu perpanjangan agen LPG 3 kg sementara dimulai dengan Surat penunjukan sementara 1 (pertama) berlaku 6 bulan, Surat penunjukan sementara 2 (kedua) berlaku 6 bulan, dan terakhir surat penunjukan 3 (ketiga) berlaku 2 bulan. Selayaknya program baru, maka kebijakan-kebijakan yang diberlakukan untuk pelaksanaan program konversi minyak tanah tersebut juga terus dipantau dan diperbaharui bila perlu sesuai dengan perkembangan dari pelaksanaan program tersebut. Jika sebelumnya, belum ada kepastian kuota dan rayonisasi pemasaran maka, per 1 Mei 2010, telah disepakati kebijakan baru berupa pembagian kuota dan rayonisasi pemasaran gas Elpiji 3kg. Dengan ditetapkannya jumlah kuota untuk setiap agen, maka kebijakan target penebusan LPG 3 kg minimal 39.000 tabung/bulan sudah tidak berlaku lagi. Keadaan ini masih berlangsung hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kebijakan sebelumnya dengan kebijakan yang berlaku saat ini dengan mensimulasikan kedua model untuk kemudian

7

didapatkan kebijakan mana yang lebih baik untuk perusahaan dalam hal ini PT. Endang, sebagai alat untuk menguji efektivitas kebijakan itu sendiri.

1.2

Rumusan Masalah Adapun beberapa masalah yang dapat dirumuskan berdasarkan uraian diatas

adalah sebagai berikut: 1. Berapakah laba yang diperoleh perusahaan berdasarkan hasil simulasi kedua model sistem kebijakan tersebut? 2. Kebijakan yang manakah yang lebih menguntungkan untuk perusahaan?

1.3

Batasan Masalah Pembatasan masalah bertujuan untuk lebih memfokuskan kajian yang akan

dilaksanakan sehingga tujuan penelitian dapat tercapai dalam waktu yang singkat dan terkontrol dengan baik. Adapun batasan-batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tidak dibuat model eksperimen. 2. Hanya membandingkan dua model sistem kebijakan yang berbeda.

1.4

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengembangkan model sistem dinamis yang dapat digunakan untuk menganalisa pengaruh kebijakan-kebijakan Pertamina selaku induk perusahaan agen gas LPG terhadap jumlah laba yang diperoleh perusahaan agen gas LPG itu sendiri (PT. Endang).

8

2. Menentukan kebijakan manakah yang lebih menguntungkan untuk perusahaan berdasarkan hasil simulasi kedua model sistem kebijakan.

1.5

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Perusahaan, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk melakukan evaluasi terhadap performa perusahaan (PT. Endang). 2. Bagi Pemerintah, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk evaluasi terhadap implementasi kebijakan Pertamina dalam pelaksanaan Program Konversi Minyak Tanah tersebut. 3. Menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang simulasi menggunakan metode sistem dinamik.

1.6

Sistematika Penulisan Agar lebih terstruktur, tugas akhir ini disusun dengan sistematika penulisan

sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan secara singkat mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab Kajian Pustaka berisi uraian tentang hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan. Di samping itu juga berisi tentang konsep dan prinsip dasar yang

9

diperlukan untuk memecahkan masalah penelitian, dasar–dasar teori untuk mendukung kajian yang akan dilakukan. BAB III METODE PENELITIAN Bab ketiga ini menguraikan bahan atau materi penelitian, alat, tata cara penelitian dan data yang akan dikaji serta cara analisis yang dipakai dan sesuai dengan bagan alir yang telah dibuat. BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Bab ini menguraikan data–data yang dihasilkan selama penelitian dan pengolahan data tersebut dengan metode yang telah ditentukan hasil analisis. BAB V PEMBAHASAN Bab ini membahas hasil penelitian berupa tabel hasil pengolahan data, grafik, persamaan atau model serta analisis yang menyangkut penjelasan teoritis secara kualitatif, kuantitatif maupun statistik dari hasil penelitian dan kajian untuk menjawab tujuan penelitian. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan memuat pernyataan singkat dan tepat yang dijabarkan dari hasil penelitian serta pembahasan untuk membuktikan hipotesis atau menjawab permasalahan. Saran dibuat berdasarkan pengalaman dan pertimbangan penulis, ditujukan kepada para peneliti dalam bidang yang sejenis, yang ingin melanjutkan dan mengembangkan penelitian yang telah dilakukan.

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Deduktif 2.1.1 Definisi Sistem Sistem merupakan kesatuan dari objek-objek (elemen-elemen) yang terhubung melalui sebuah mekanisme tertentu dan terikat dalam hubungan interdependensi, yang mempunyai tujuan bersama. Dengan demikian, setidaknya ada tiga hal penting berkaitan dengan sistem yaitu objek atau elemen, interdependensi, dan tujuan.

2.1.2 Karakteristik Sistem Antar objek di dalam sistem maupun dengan objek di luar sistem terdapat hubungan yang bersifat umpan balik yang menyebabkan sistem senantiasa bersifat dinamis. Sedangkan lingkungan sistem adalah segala sesuatu yang tidak merupakan bagian dari sistem, tetapi keberadaannya dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi sistem. Sistem disebut terbuka jika ada objek di luar sistem yang mempengaruhi objek di dalam sistem, dalam hal sebaliknya, sistem disebut tertutup. Karakteristik yang lain: sistem bersifat continuous atau discrete bergantung kepada apakah variabel yang diamati mempunyai nilai pada setiap titik waktu atau hanya pada setiap perode waktu tertentu, atau bersifat deterministik atau stokastik jika tidak ada atau setidaknya satu variabel yang probabilistik. Proses karakterisasi sistem ini juga diharapkan memberikan gambaran model konseptual sistem tersebut, faktor input yang berpengaruh pada sistem (decision variable) dan output variables yang akan diukur

11

untuk mengevaluasi kinerja sistem tersebut.

2.1.3 Definisi Model Model merupakan suatu representasi dari sistem. Representasi dapat berbentuk scaled-down version, pictorial, verbal, schematic maupun simbol -simbol abstrak (formulasi matematik) yang dikenal dengan model matematik. Jika model yang diformulasikan sederhana maka solusinya cukup diperoleh secara anailitis (disebut model analitik), tetapi jika sangat kompleks, solusinya harus menggunakan teknik komputasi numeris (disebut dengan model simulasi). Dari sistem yang sama dapat dibangun model yang sederhana sampai model yang kompleks tergantung pada persepsi, kemampuan, dan sudut pandang analis/peneliti sistem yang bersangkutan.

2.1.4 Karakteristik Model Ali Basyah Siregar (1991), mengemukakan bahwa karakteristik model yang baik sebagai ukuran tujuan pemodelan yaitu : 1. Tingkat generalisasi yang tinggi. Makin tinggi tingkat generalisasi model, maka model tersebut akan dapat memecahkan masalah yang semakin besar, 2. Mekanisme transparansi. Model dapat menjelaskan dinamika sistem secara rinci, 3. Potensial untuk dikembangkan. Membangkitkan minat peneliti lain untuk menyelidikinya lebih lanjut, 4. Peka terhadap perubahan asumsi. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemodelan tidak pernah selesai (peka terhadap perubahan lingkungan).

12

2.1.5 Prinsip-prinsip Pemodelan Sistem a. Elaborasi. Pengembangan model dilakukan secara bertahap dimulai dari model sederhana hingga diperoleh model yang lebih representatif b. Sinektik. Pengembangan model yang dilakukan secara analogis (kesamaankesamaan) c. Iteratif. Pengembangan model yang dilakukan secara berulang-ulang dan peninjauan kembali.

13

2.1.6 Bagan Proses Pemodelan Sistem
Mulai

Identifikasi Masalah

Karakteristik Sistem

Formulasi Model

Analisis Model

Simulasi

Tidak

Estimasi Parameter dan Solusi

Valid ?

Ya

Implementasi

Gambar 2.1. Bagan Proses Pemodelan Sistem

14

2.1.7 Definisi Simulasi Suatu solusi analitis dari sebuah sistem yang digunakan untuk memecahkan berbagai masalah atau menguraikan persoalan-persoalan dalam kehidupan nyata yang penuh dengan ketidakpastian ketika solusi matematis tidak memadai, dengan menggunakan model atau metode tertentu dan lebih ditekankan pada pemakaian komputer untuk mendapatkan solusinya.

2.1.8 Keuntungan Simulasi Keuntungan menggunakan metode simulasi adalah sebagai berikut: 1. 2. Fleksibel Menghemat waktu (compress time) ; kemampuan dari menghemat waktu ini dapat dilihat dari pekerjaan yang bila dikerjakan akan memakan waktu tahunan tetapi kemudian dapat disimulasikan hanya dalam beberapa menit, bahkan dalam beberapa kasus hanya dalam hitungan detik. 3. Dapat melebar-luaskan waktu (expand time) : hal ini terlihat terutama dalam dunia statistik di mana hasilnya diinginkan tersaji dengan cepat.Simulasi dapat digunakan untuk menunjukkan perubahan struktur dari suatu system nyata (Real System) yang sebenarnya tidak dapat diteliti pada waktu yang seharusnya (Real Time). Dengan demikian simulasi dapat membantu memprediksi response dari Real System hanya dengan mengubah data parameter sistem. 4. Dapat mengawasi sumber-sumber yang bervariasi (control sources of variation) : kemampuan pengawasan dalam simulasi ini tampak terutama apabila analisis statistik digunakan untuk meninjau hubungan antara variable bebas (independent) dengan variable terkait (dependent) yang

15

merupakan factor-faktor yang akan dibentuk dalam percobaan. 5. Mengkoreksi kesalahan-kesalahan penghitungan (error in measurement correction) ; dalam prakteknya, pada suatu kegiatan ataupun percobaan dapat saja muncul ketidak-benaran dalam mencatat hasil-hasilnya Sebaliknya dalam simulasi komputer jarang ditemukan kesalahan perhitungan terutama bila angka-angka diambil dari komputer secara teratur dan bebas. Komputer mempunyai kemampuan untuk melakukan penghitungan dengan akurat. 6. Dapat dihentikan dan dijalankan kembali (stop simulation and restart) : simulasi komputer dapat dihentikan untuk kepentingan peninjauan ataupun pencatatan semua keadaan yang relevan tanpa berakibat buruk terhadap program simulasi tersebut. Dalam dunia nyata, percobaan tidak dapat dihentikan begitu saja. Dalam simulasi komputer, setelah dilakukan penghentian maka kemudian dapat dengan cepat dijalankan kembali (restart). 7. Mudah diperbanyak (easy to replicate) : dengan simulasi komputer percobaan dapat dilakukan setiap saat dan dapat diulang-ulang. Pengulangan dilakukan terutama untuk mengubah berbagai komponen dan variabelnya, seperti dengan perubahan pada parameternya, perubahan pada kondisi operasinya, ataupun dengan memperbanyak output. 8. 9. Tidak bertentangan dengan sistem nyata. Dapat solusi analitis yang menjawab pertanyaan what-if .

16

2.1.9 Kerugian Simulasi 1. 2. 3. Memerlukan masukan managerial yang baik Tidak menghasilkan langsung, solusi yang optimal. Tidak immune terhadap GIGO (Garbage In, Garbage Out). Artinya apabila kita memasukkan data yang salah, maka kita akan mendapatkan output simulasi yang salah juga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil simulasi tergantung dari input yang kita masukkan.

2.1.10 Systems Thinking Sistem merupakan sekelompok komponen yang bekerja bersama-sama untuk tujuan tetentu. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem ‘Terbuka’ (open) dan sistem ‘Umpan Balik’ (feedback) atau sistem ‘Tertutup’ (closed). Dalam sistem Terbuka, kegiatan sebelumnya tidak mempengaruhi kegiatan selanjutnya. Sebuah sistem terbuka tidak ada saling mempengaruhi terhadap kinerja sistem itu sendiri. Sedangkan pada sistem tertutup kegiatan berikutnya dipengaruhi oleh kegiatan sebelumnya. Sebuah sistem umpan balik memiliki struktur loop tertutup yang menggambarkan hasil kejadian sebelumnya mengontrol/mempengaruhi kejadian berikutnya. Sistem umpan balik dibagi menjadi umpan balik negatif dan umpan balik positif (Forrester, 1968). Systems Thinking adalah sebuah sebuah konsep untuk memahami

permasalahan-permasalahan yang kompleks dan perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya. Systems Thinking mempunyai 3 dimensi, yaitu; paradigma, bahasa, dan metodologi. Syarat awal untuk memulai systems thinking adalah adanya kesadaran untuk mengapresiasi dan memikirkan suatu kejadian sebagai sebuah sistem (systemic approach). Kejadian apapun, baik fisik maupun non fisik, dipikirkan sebagai unjuk

17

kerja atau dapat berkaitan dengan unjuk kerja dan keseluruhan interaksi antar unsur dalam batas lingkungan tertentu (Forrester, 1968). Berdasarkan pemahaman tentang kejadian sistemik tersebut, maka ada lima langkah yang harus ditempuh untuk menghasilkan model (bangunan pemikiran) yang bersifat sistemik. Kelima langkah tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Identifikasi proses untuk menghasilkan kejadian nyata. Identifikasi kejadian yang diinginkan (desired state). Identifikasi kesenjangan antara kenyataan dengan keinginan. Identifikasi mekanisme untuk menutup kesenjangan. Analisis kebijakan.

Endang dan Lukmanulhakim (2008) menambahkan beberapa poin mengenai definisi systems thinking diantarannya yaitu, “Systems thinking merupakan suatu kerangka kerja untuk melihat hubungan saling keterkaitan dan pola-pola daripada potret sesaat dan systems thinking berisi sekumpulan prinsip, perangkat, dan teknik yang memungkinkan kita dapat memahami permasalahan-permasalahan system dengan lebih baik.”

2.1.11 Sistem Dinamis Metode sistem dinamis berhubungan erat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang trend atau pola perilaku dinamik(sejalan dengan bertambahnya waktu) dari sebuah system yang kompleks. Penggunaan sistem dinamik diarahkan kepada bagaimana dengan memahami perilaku sistem tersebut orang dapat meningkatkan efektivitas dalam merencanakan suatu kebijakan dan pemecahan masalah yang timbul (Muhammadi et.al, 2001).

18

Objek yang dimodelkan dalam metode sistem dinamik adalah struktur informasi system. Model tersebut berisi faktor-faktor, sumber-sumber informasi, dan jaringan aliran informasi yang menghubungkan keduanya. Analog fisik dan matematik untuk struktur informasi itu dapat dibuat dengan mudah. Sebagai analog fisik, sumber informasi adalah suatu gudang sedangkan keputusan adalah aliran yang masuk ke dalam atau ke luar dari gudang. Dalam analogi matematik, gudang dinyatakan sebagai variable keadaan, sedangkan keputusan merupakan turunan dari variable keadaan tersebut (Muhammadi et.al, 2001). Pembuatan model dan simulasi model sebagai bagian dari metode sistem dinamik dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Pembuatan Konsep Pembuatan Model Simulasi Model Validasi Model Analisis Kebijakan

2.1.12 Konsep Sistem dalam Metode Sistem Dinamis Dalam metode Sistem Dinamik, konsep sistem yang berlaku mengacu pada sistem tertutup (closed system) atau sistem yang mempunyai umpan balik (feedback system). Struktur yang terbentuk dari loop umpan balik tersebut akan menghubungkan sebuah keluaran pada suatu periode tertentu dengan masukan pada periode yang akan datang. Jadi sistem umpan balik yang ada pada akhirnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam mencapai tujuan tertentu yang

diidentifikasikannya sendiri. Loop yang menjadi kerangka dasar sistem dinamis tersebut merupakan rangkaian tertutup yang menghubungkan masing-masing komponen/sektor yang terkait dalam sistem nyata secara komprehensif dan runtut.

19

Komprehensif mengindikasikan bahwa setiap komponen yang memiliki kompetensi terhadap obyek pengamatan akan dimodelkan dalam loop tertutup tersebut. Adapun komponen yang dimaksud meliputi variabel keputusan yang bertindak sebagai pengendali tindakan, level (state) dari suatu system (Muhammadi et.al, 2001). Informasi yang tersedia merupakan dasar pengambilan keputusan yang merubah keadaan sistem. Informasi ini seharusnya berasal dari keadaan (level) sistem sebenarnya. Namun, informasi tersebut dapat saja salah atau terlambat karena informasi yang ada bukan berasal dari sistem nyata yang diamati, melainkan berasal dari model sistem yang diamati oleh kita, sehingga dasar pengambilan keputusan berasal dari model sistem dinamis yang telah kita susun (Muhammadi et.al, 2001). Proses umpan balik dalam metode sistem dinamis, dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu umpan balik positif dan umpan balik negatif . Umpan balik positif atau juga yang biasa disebut dengan Reinforcing Loop merupakan Loop yang menciptakan proses pertumbuhan, dimana suatu kejadian akan mengakibatkan bertambahnya nilai ukuran variabel tersebut pada kejadian berikutnya secara terus-menerus (Coyle, 1996). Umpan balik ini memiliki ciri adanya ketidakstabilan, ketidakseimbangan, dan pertumbuhan. Contoh umpan balik positif adalah pada tingkat pertumbuhan penduduk dengan tingkat kelahiran (Coyle, 1996).

+

Kelahiran

Penduduk

+

Gambar 2.2. Diagram Umpan Balik Positif

20

Umpan balik yang lain adalah umpan balik negatif atau biasa disebut dengan negative/balancing Loop . Umpan balik ini memiliki perilaku untuk selalu mencapai tujuan tertentu (goal seeking). Umpan balik ini selalu berusaha untuk selalu memberikan koreksi sebagai tindakan dalam mengatasi kegagalan dalam mencapai tujuan, oleh karenanya umpan balik ini juga dikenal sebagai umpan balik keseimbangan. Contoh penggunaan umpan balik negatif adalah hubungan antara tingkat pertumbuhan penduduk dengan tingkat kematian (Coyle, 1996).

-

Penduduk

Kematian

-

Gambar 2.3. Diagram Umpan Balik Negatif

2.1.13 Tujuan Model Sistem Dinamis Model sistem dinamis bukan dibuat hanya untuk memberikan proses peramalan atau prediksi semata, tetapi lebih jauh dari itu sistem dinamis ditujukan untuk memahami karakteristik dan perilaku mekanisme proses internal yang terjadi dalam suatu sistem tertentu. Sistem dinamis sangat efektif digunakan pada sistem yang membutuhkan tingkat pengelolaan akan data yang banyak dengan baik. Dengan fleksibilitas yang dimiliki maka hal ini akan membantu dalam melakukan proses formulasi model, penentuan batasan model, validasi model, analisis kebijakan, serta penerapan model (Maani, Cavana, 2000) .

21

2.1.14 Batasan Tertutup Batasan sistem secara implisit menyatakan bahwa tidak ada pengaruh dari luar batas tersebut yang diperlukan untuk membangkitkan perilaku dari sistem yang diamati. Batasan sistem digambarkan sebagai sebuah garis imajiner yang memisahkan segala komponen yang kita amati di dalam sistem dan segala sesuatu yang mungkin bisa mempengaruhi sistem namun berada diluar sistem yang diamati (Wikner, 2005). Kriteria utama untuk menentukan batas sistem dengan benar adalah dengan membuat diagram umpan balik tertutup. Loop ini dibuat berdasarkan perilaku tertentu dari sistem yang kita anggap paling menarik dan merupakan titik awal dari pengamatan kita, serta berbagai gejala yang teramati (Sterman, 2000). Untuk menentukan komponen mana yang harus berada di dalam batasan sistem atau di luar, kita harus membedakan komponen yang secara eksplisit ada di dalam, secara eksplisit ada di luar, dan secara implisit ada di dalam. Pembedaan ini dilakukan dengan cara agregasi dan interpretasi variabel dan dihubungkan dengan tujuan pengamatan sistem yang diinginkan (Sterman, 2000).

2.1.15 Bentuk Model Sistem Dinamis Bentuk model Sistem Dinamis yang merepresentasikan struktur diagram

umpan balik adalah diagram sebab-akibat atau yang biasa dikenal dengan Causal Loop Diagram. Diagram ini menunjukkan arah aliran perubahan variabel dan polaritasnya. Polaritas aliran sebagaimana diungkapkan di atas dibagi menjadi positif dan negatif. Bentuk diagram lain yang juga menggambarkan struktur model sistem dinamis adalah Diagram Aliran atau Flow Diagram. Diagram aliran

merepresentasikan hubungan antar variabel yang telah dibuat dalam diagram sebab-

22

akibat dengan lebih jelas, dengan menggunakan berbagai simbol tertentu untuk berbagai variabel yang terlibat (Sushil, 1993).

2.1.16 Tahapan Pemodelan dalam Sistem Dinamis Proses pembuatan dan pengembangan model menggunakan metodologi sistem dinamik melibatkan tahapan-tahapan berikut (Stermann, 2000): 1. Artikulasi Permasalahan (Identifikasi dan definisi Permasalahan) Tahapan yang paling penting dalam pemodelan sistem dinamik adalah artikulasi permasalahan. Apa isu yang menjadi perhatian kita? Apa permasalahan yang akan kita coba untuk diketahui dan diamati? Apa permasalahan nyatanya, tidak hanya gejalanya yang sulit? Bagaimana kita mengartikulasikan permasalahn umpan balik dinamik (pemilihan batas). Permasalahan harus tidak hanya dinamik, akan tetapi juga mempunyai sifat umpan balik. Permasalahan-permasalahan dinamik yang digerakkan oleh variabel eksternal tidak berarti dalam topik sistem dinamik (studi sistem dinamik lebih melihat variabel endogen). Permasalahn dinamik dinyatakan dengan pola-pola perilaku yang mungkin dapat diobservasi dari data yang diplot atau pola perilaku tersebutdiperoleh dengan metode deduksi dari informasi kualitatif yang tersedia. 2. Memformulasikan Hipotesis Dinamik dan Konseptualisasi Model Tujuan dari tahapan ini adalah untuk membangun sebuah hipotesis, suatu teori kerja yang menjelaskan sebab dibalik permasalahan dinamik. Karena teori seharusnya menjelaskan dinamika perilaku sistem berdasarkan atas umpan balik dan interaksi antara berbagai komponen yang berbeda, dan ini menggambarkan cara pandang pengambil keputusan yang terlibat yang

23

dapat mempengaruhi permasalahan dalam sistem, untuk membangun hipo tesis untuk menjelaskan permasalahan. Sistem dinamik mencari penjelasan fenomena berdasarkan variabel-variabel endogen daripada variabelvariabel eksogen. Penjelasan-penjelasan yang didasarkan atas variabel eksogen tidak banyak gunanya ketika mereka mengartikulasikan dinamika variabel endogen dalam konteks variabel eksogen yang perilakunya diasumsikan pada awalnya dan tidak dapat diubah. 3. Pembuatan Model Dinamik (Model Simulasi) Pada tahap ini, proses pemodelan melibatkan pembuatan model formal yang lengkap dengan berbagai formulasi matematis yang menjelaskan hubungan sebab-akibat semua variabel, mengestimasi nilai-nilai parameter numerik dan nilai awal stock yang merepresentasikan sistem serta menguji konsistensi model secar internal terhadap hipotesis-hipotesis dinamik. 4. Pengujian dan Validasi Model Uji perilaku dirancang untuk membandingkan apakah perilaku model yang dibangun untuk variabel-variabel kunci dapat mewakili dan

merepresentasikan kondisi nyatanya. Pengukuran pola-pola perilaku melibatkan kemiringan (slope), nilai maksimum dan minimum, periode dan amplitudo osilasi, titik belok, dan sebagainya. Dua prinsip yang kritis adalah : pertama, jika validasi struktural tidak dilakukan pertama kali, maka validasi perilaku menjadi tidak berarti dalam sistem dinamik, dan kedua, pengujian perilaku tidak membandingkan nilai tiap nilai (point to point) perilaku model dengan perilaku nyatanya.

24

5.

Analisis Model Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memahami pentingnya sifat-sifat dinamika dari model. Ini dapat dilakukan sangat sulit (kadang-kadang sebagian) dengan menggunakan metode matematik/analitik. Meskipun ini tidak mungkin untuk menemukan solusi persamaan-persamaan model sistem dinamik secara matematik, kita kadang dapat menemukan level yang konstan setimbang dan menentyukan stabilitasnya. Lebih umum, analisis dilakukan dengan percobaan simulasi. Serangkaian logika yang berkaitan dengan simulasi dapat memberikan hasil yang cukup, informasi yang reliable (meskipun tidak tepat) tentang sifat-sifat model.

Menjalankan simulasi ini dikenal dengan uji sensitivitas, ketika mereka mencoba dinilai seberapa besar perilaku output berubah sebagai hasil dari perubahan dari parameter, input, dan kondisi awal, bentuk fungsi, atau perubahan struktur lainnya. 6. Perancangan untuk Perbaikan Tahap akhir adalah menguji alternatif-alternatif kebijakan yang baru untuk melihat seberapa besar kemungkinan model dapat memperbaiki dinamika model. Dalam tahapan akhir ini, alternatif kebijakan dirancang dan kemudian diuji dengan menjalankan simulasi. 7. Implementasi Tahapan ini dapat diterapkan jika studi sistem dinamik merupakan sebuah studi yang dapat diaplikasikan. Tahap ini merupakan tahap yang penting karena keberhasilan utama dari sebuah proyek aplikasi sistem dinamik berarti suatu demonstrasi dan peningkatan sistem yang terus menerus. Keberhasilan implementasi dalam beberapa pengertian bergantung pada

25

kondisi spesifikasi proyek yang tidak dapat diungkapkan dalam aturan atau prosedur umum.

2.1.17 Software Powersim Software Powersim merupakan dynamic systems tools untuk memodelkan dan mensimulasikan sistem yang ingin dianalisa serta memvalidasikan hasil simulasi tersebut kemudian. Variabel Level atau Variabel State menggambarkan suatu kondisi sistem pada setiap saat. Varibel ini dinyatakan dengan sebuah besaran kuantitas terakumulasi sebagai akibat aktivitas aliran sepanjang waktu. Variabel Rate menggambarkan suatu aktivitas, pergerakan (movement), dan aliran yang berkontribusi terhadap perubahan per satuan waktu dalam suatu level yang dinyatakan dalam suatu besaran laju perubahan. Variabel Auxilliary merupakan variabel tambahan untuk menyederhanakan hubungan informasi antara level dan rate. Variabel ini dinyatakan dalam persamaan matematik yang pada dasarnya merupakan bagian dari persamaan rate. Variabel eksogen merupakan pernyataan dari variabel luar sistem yang mempengaruhi sistem yang diselidiki. Variabel ini dinyatakan dalam bentuk fungsi dari waktu (Endang, Lukmanulhakim, 2008). Parameter atau konstanta merupakan input informasi untuk rate secara langsung maupun melalui variabel auxilliary. Parameter dinyatakan dalam persamaan parameter dan nilainya dapat diubah dalam periode simulasi lainnya sesuai dengan skenario eksperimen (Endang, Lukmanulhakim, 2008). Sumber (source) menyatakan asal aliran yang harganya tidak berpengaruh terhadap sistem dan endapan (sink) menyatakan tujuan dari suatu aliran yang tidak mempengaruhi sistem (Endang, Lukmanulhakim, 2008).

26

Tabel 2.1. Simbol Variabel dalam Powersim

SIMBOL

DEFINISI

Variable dalam memori yang

?
Level

mengakumulasi jumlah masukan dan keluaran dalam sistem.

Menerima, menghitung, dan kemudian

?
Auxiliary

menyampaikan sejumalh informasi mengenai perubahan variable pada setiap step waktu.

?
Constant

Nilai tetap yang tidak berubah sepanjang waktu.

Variable yang menghubungkan antara
?

aliran data yang masuk dan aliran data yang keluar. Rate

2.1.18 Validasi Validasi merupakan langkah untuk meyakinkan bahwa model

berkelakuan/bersifat seperti sistem nyatanya. Dan suatu pendekatan paling nyata

27

dalam suatu validasi adalah membandingkan model dengan output dari sistem nyatanya. Dua tujuan umum dalam validasi : 1. Menghasilkan suatu model yang representatif terhadap perilaku sistem nyatanya sedekat mungkin untuk dapat digunakan sebagai subtitusi dari sistem nyata dalam melakukan eksperimen tanpa mengganggu jalannya sistem. 2. Meningkatkan kredibilitas model, sehingga model dapat digunakan oleh para manajer dan para pengambil keputusan lainnya. Tipe validasi model : 1. Validasi asumsi Model asumsi ini dibagi kedalam dua kelas, yaitu asumsi struktural dan asumsi data. a. Asumsi struktural meliputi pertanyaan-pertanyaan bagaimana sistem beroperasi dan asumsi ini juga melibatkan penyederhanaan dan penggambaran kenyaataan dari sistem. Sebagaian penulis memisahkan asumsi ini kedalam validasi proses. b. Asumsi data harus didasarkan pada pengumpulan data yang reliabel/data terpercaya dan analisa statistik yang tepat dari suatu data. 2. Validasi Output Cara yang paling mudah untuk melakukan validasi ini adalah dengan pendekatan visual. Beberapa orang ahli mengamati dan membandingkan antara output model terhadap sistem riil. Metode lain yang digunakan adalah dengan pendekatan statisik.

28

2.1.19 Teknik Validasi Untuk melakukan validasi model apakah sesuai dengan sistem nyatanya dapat dilakukan dengan (Walpole, 1986) : 1. Uji kesamaan dua variansi Uji kesamaan dua variansi adalah pengujian apakah kedua data mempunyai variansi yang sama. Rumus yang dipakai adalah:

S F = 12 S2
Dengan hipotesis uji :
2 2 Ho : σ 1 = σ 2 : Variansi kedua populasi adalah sama 2 Hi = σ 12 ≠ σ 2 : Variansi kedua populasi adalah tidak sama

2

Level of significance = α Daerah krisis : Ho tidak ditolak jika F(1-α/2,n1-1,n2-1) < Fhitung < F(α/2,n1-1,n2-1) 2. Uji kesamaan dua rata-rata Uji kesamaan dua rata-rata adalah menguji apakah kedua data mempunyai rata-rata yang sama. Rumus yang dipakai untuk menguji hipotesis kesamaan dua rata-rata adalah:
X1− X 2
s _ _

t=

1 1 + n1 n2

dengan
(n1 − 1) s1 + (n2 − 1) s 2 n1 + n2 − 2 s2 =
2 2

dimana:

X 1 = rata-rata output sistem

29

X 2 = rata-rata output model
s1 = variansi output sistem s2 = variansi output model
2 2

n1 = jumlah output sistem n2 = jumlah output model
Hipotesis ujinya : Ho : μ1 = μ2 : Rata - rata kedua populasi adalah sama Hi : μ1 ≠ μ2 : Rata - rata kedua populasi adalah tidak sama Daerah kritisnya : Ho tidak ditolak jika -tα/2 < t < tα/2 3. Uji Kecocokan Model Simulasi Uji Kecocokan Model Simulasi adalah menguji apakah antara hasil model simulasi memiliki kecocokan dengan sistem nyata yang diamati. Model yang dipergunakan adalah uji Chi-Kuadrat. Rumus yang digunakan adalah: Oi = frekuensi observasi Ei = frekuensi teoritis Hipotesis ujinya: Ho : distribusi frekuensi hasil observasi sesuai dengan distribusi sistem nyata

Hi : distribusi frekuensi hasil observasi tidak sesuai dengan distribusi sistem nyata Level of significance = α Daerah kritis :

30

2 Ho tidak ditolak apabila χ (2 −α / 2,k −1) < χ tabel < χ (2α / 2,k −1) 1
2 Hi ditolak apabila χ (2 −α / 2,k −1) > χ tabel > χ (2α / 2,k −1) 1

Untuk menentukan banyak kelas yang akan digunakan, rumus yang dipakai adalah : k = 1 + 3,32 log N Untuk menentukan interval kelas, digunakan rumus :
i= xmax − xmin k

2.1.20 Analisa Output Hasil Simulasi Model simulasi kejadian diskret memiliki karakteristik yang berbeda dari sebagian besar jenis model yang ada. Hal itu dikarenakan model simulasi kejadian diskret terdiri dari banyak variabel random yang muncul bersamaan dalam suatu state yang membentuk karakteristik suatu mekanisme perubahan sistem yang diamati. Variabel random yang ada pada simulasi sistem kejadian diskret tidak hanya pada probabilitas input yang ada, bahkan hasil output simulasinya pun merupakan variabel random, karena memiliki probabilitas dan tidak dapat diestimasikan sebagai sesuatu yang pasti Sebuah pilihan pendekatan, untuk menentukan metode analisis yang tepat dari suatu model simulasi adalah dengan menilai tipe simulasi yang ada. Berkenaan dengan metode analisis, maka simulasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu terminating simulation dan non-terminating simulation. Perbedaan antara kedua jenis tipe tersebut adalah ketergantungannya pada kejelasan untuk menghentikan proses simulasi. Kedua jenis simulasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

31

1.

Terminating Simulation Simulasi terminating adalah simulasi yang mempresentasikan sebuah mekanisme kejadian yang memiliki “initial condition”, dimana simulasi ini dijalankan pada durasi waktu yang tetap (ditentukan). Kondisi inisial dapat dipahami sebagai sebuah kondisi dimana keadaan sistem akan di setup seperti keadaan semula setiap akan melakukan simulasi. Sebagai contoh adalah adalah sebuah sistem yang disimulasikan dimulai pada kondisi awal yang telah ditentukan, dan dihentikan setelah durasi waktu tertentu. Satu simulasi yang dapat dijadikan contoh adalah simulasi pada suatu bank dengan kondisi awal yang selalu 0 pelanggan dan memiliki durasi waktu kerja yang sama tiap harinya

2.

Non terminating Simulation Pada simulasi jenis terminating simulation berbeda dengan sistem produksi sebuah perusahaan manufaktur. Misalnya diketahui sebuah perusahaan manufaktur yang memiliki kegiatan produksi untuk membuat suatu produk yang dibagi-bagi kedalam beberapa stasiun kerja yang berurutan sampai selesainya produk tersebut. Meskipun perusahaan tersebut menetapkan bahwa setiap hari memiliki waktu kerja 10 jam dan 5 hari kerja dalam seminggu, akan tetapi sistem diatas termasuk dalam sistem non-terminating simulation Pada kondisi nonterminating penghentian simulasi tidak

didasarkan pada jam kerja sebagai mana pada sistem antrian, akan tetapi karena sistem pada dasarnya berjalan sepanjang waktu hanya dipotong oleh waktu istirahat tanpa ada inisialisai baru.

32

2.1.21 Desain Eksperimen Hal yang penting dalam penggunaan simulasi adalah seorang pemodel dapat membandingkan perancangan sistem alternatif dengan sistem riil - nya. Untuk membandingkan beberapa alternatif rancangan terhadap sistem awalnya

membutuhkan beberapa metode statistik. Desain eksperimen adalah suatu rancangan model alternatif yang dibuat dengan tujuan membandingkan model awal yang telah dibuat dengan model alternatif yang akan dibuat. Desain eksperimen merupakan langkah tambahan untuk melakukan percobaan guna mendapatkan ketepatan simulasi. Dari hasil desain eksperimen ini nantinya akan dipilih model terbaik yang mendekati sistem nyata terlebih dahulu dan dibandingkan dengan model awal. Jika ternyata antara model alternatif yang dibuat dengan model awal tidak terdapat perbedaan hasil maka model terpilih adalah model awal. Jika antara model awal dengan model alternatif ternyata terdapat perbedaan yang cukup signifikan maka akan dipilih model alternatif tersebut.

2.2 Kajian Induktif Penelitian mengenai topik system dynamics telah dilakukan beberapa kali. Diantara penelitian-penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Djoko Sihono Gabriel, (1995) mengembangkan model sistem dinamis pada permintaan penerbangan komersial. Dedi Dwi Haryadi, (1997) menggunakan sistem dinamis untuk meramalkan permintaan kendaraan niaga kategori IV (Jeep) di Indonesia. Abdillah, (2000) mengembangkan model dinamis untuk mengevaluasi strategi perusahaan dengan PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk. Sebagai obyek penelitian. Deni Almanda, (2004) memperkirakan emisi pembangkit listrik pada tahun 2020 dengan metode sistem dinamis. Ivonne Pongoh (2004), mengembangkan model sistem

33

dinamis untuk menganalisa kinerja PT. Indosat Tbk. Armand Omar Moeis, Akhmad Hidayatno, dan M. Rizky Satrio, (2005) yang membangun sebuah permainan simulasi bisnis “Executive Decision” dengan pendekatan sistem dinamis untuk meningkatkan kualitas pengalaman pembelajaran. Akhmad Hidayatno dan Iko Putera, (2006) membuat sebuah model permainan simulasi bisnis keluarga menggunakan metode sistem dinamis untuk memfasilitasi pelatihan interpretasi dan analisa laporan keuangan. Penelitian tersebut merupakan perkembangan dari penelitian sebelumnya. Wirabhuana, (2007) menerapkan model sistem dinamis pada analisis biaya total non produksi sebagai pengaruh dari kebijakan sektor produksi dan sumber daya manusia. Budisantoso Wirjodirjo, (2007) mengaplikasikan sistem dinamis untuk mengevaluasi performa para supplier dengan studi kasus pada sebuah perusahaan minyak dan gas. Uning Budiharti, Rudy Tjahjono, dkk., (2008) menggunakan pendekatan sistem dinamis untuk mengetahui model mekanisasi mesin perontok padi guna memprediksi produksi beras. Wikan, (2009) melakukan analisis peningkatan porto folio outstanding dengan pendekatan sistem dinamis pada BRI Syariah sehingga dapat dketahui penyebabnya yaitu naik turunnya pembiayaan outstanding dan tingkat pertumbuhan nasabah. Beberapa penelitian mengenai system dynamics yang lebih komplek juga pernah dilakukan oleh Bititci, Turner, et.al, (2000) melakukan studi sistem dinamis untuk pengukuran performansi sistem. Pavinder Monga (2001) mengembangkan sebuah model teknologi baru pada sistem perkapalan. Elena Revzina, (2003) menggunakan system dynamics untuk mengembangkan sebuah model proses logistik dengan software powersim. Wikner, (2005) menggunakan dinamyics analysis pada model sistem produksi dan inventory. Xiaojun Zhou, Lifeng Xi, Jay Lee, (2006) menggunakan sistem dinamis dalam penelitiannya yang berjudul A Dynamics

34

Opportunistic Maintenance Policy for Continously Monitored Systems. Kong Fanliang, Wang Guizhi, Ping Yu, (2008) mengaplikasikan Certain Martingale Methods untuk estimasi parameter dalam sistem dinamis. Tako A.A et.al, (2009) melakukan penelitian perbandingan untuk simulasi yang bersifat diskrit dan sistem yang bersifat dinamik dengan lima parameter yaitu berdasarkan pemahaman model, kompleksitas, validasi model, kegunaan model dan hasil simulasi dengan masing – masing keunggulan dan kelemahannya.

35

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Diagram Alir Penelitian Langkah-langkah penelitian dilakukan dengan mengikuti bagan alir sebagai

berikut:
Mulai

Kajan Pustaka

Identifikasi Masalah

Perumusan Masalah

Penetapan Tujuan

Pengumpulan Data 1. Data umum perusahaan 2. Data jumlah penebusan DO, Penjualan LPG, Biayabiaya, Harga Jual, Harga Beli 3. Data-data kebijakan lama
tidak

1. 2. 3. 4.

Pengolahan Data Flow Diagram Equation Runing Simulasi Analisis Hasil Simulasi

Valid?

Desain Kebijakan Baru Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

ya

36

3.2

Identifikasi Masalah Penelitian ini berusaha menganalisis pola hubungan antar kebijakan yang

mempengaruhi laba PT. Endang, sebuah eks-agen minyak tanah yang mengalami perubahan jenis usaha menjadi agen gas LPG 3 kg sebagai dampak dari adanya program konversi minyak tanah ke gas LPG. Faktor –faktor tersebut selain bersifat eksternal, serta kemungkinan adanya variabel internal yang berpengaruh.

3.3

Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mengambil kasus pada salah satu agen gas LPG 3 kg lama (eks-

agen minyak tanah) di Kabupaten Boyolali. Selanjutnya analisis akan menggunakan metode sistem dinamis dengan bantuan software simulasi.

3.4

Data

3.4.1 Metode Pengambilan Data Data-data penelitian diambil dari beberapa sumber sebagai berikut: 1. Studi Pustaka Pengumpulan data dengan mempelajari berbagai literatur yang sesuai dengan materi penelitian ini agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan kaidah teori yang benar. 2. Studi Lapangan Pengumpulan data ini dilakukan secara langsung dengan wawancara, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya jawab dengan Owner yang juga Director PT. Endang mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penelitian secara lisan.

37

3.

Studi Non Lapangan Pengumpulan data dilakukan secara tidak langsung dengan melakukan observasi, dalam hal ini dilakukan dengan merekapitulasi data yang telah ada, maupun mencatat kembali hasil-hasil penelitian untuk melengkapi data yang diperlukan.

3.4.2 Data yang Diperlukan Beberapa data historis perusahaan yang diperlukan adalah : 1. Data Inventory Agen 2. Data Penebusan DO Agen 3. Data Biaya Operasional 4. Data Penjualan 5. Data Keuangan 6. Data Permintaan

3.5

Perancangan Model Konseptual Model konseptual dibangun oleh komponen atau variabel yang mempengaruhi

perilaku sistem. Komponen atau variabel tersbut ditunjukkan oleh jenis data yang diperlukan. Dalam pembangunan model, masih dimungkinkan adanya penambahan jenis data selain yang disebutkan di atas. Model dalam kasus ini akan dibangun menggunakan software Powersim Studio 2005.

3.6

Metode Pengolahan dan Analisis Data Dalam penelitian ini Penulis menggunakan metode pemodelan Sistem

Dinamis. Pendekatan Sistem Dinamis merupakan salah satu penntdekatan pemodelan

38

kebijakan terutama dalam hal peningkatan pemahaman tentang bagaimana dan mengapa gejala dinamis suatu sistem terjadi, dengan alat analisis sebagai berikut: 1. Causal Loop Diagram (CLD) 2. Flow Diagram 3. Simulasi

3.7

Validasi Validasi model diperlukan untuk memastikan bahwa model telah berperilaku

seperti sistem nyata. Apabila model belum diyakini berperilaku sama dengan sistem nyata, maka langkah selanjutnya tidak akan bisa dilakukan. Dalam hal ini validasi dilakukan dengan membandingkan output model dengan output sistem nyata. Proses validasi menggunakan tiga metode, yaitu : a. Uji Kesamaan Dua Rata - Rata Uji kesamaan dua rata - rata adalah uji untuk membandingkan rataan suatu populasi dengan nilai tertentu ataupun populasi lain b. Uji Kesamaan Dua Variansi Uji kesamaan dua variansi digunakan untuk menguji apakah variansi suatu populasi sama dengan variansi populasi lain. c. Uji Chi-Square Uji chi-square biasa juga disebut sebagai uji pola atau frekuensi. Uji ini bertujuan untuk membandingkan pola data antara suatu kumpulan data dengan kumpulan data yang lain.

39

3.8

Desain Eksperimen Desain eksperimen adalah suatu analisis alternatif himpunan variabel-variabel

sistem dengan metode simulasi untuk mendapatkan alternatif yang memenuhi keinginan pemodel. Menurut Jerry Banks (Banks, 1996), “A class of linear statistical models for comparison and evaluation of a larger number of alternative sistem designs, known as experimental design models”. Pada penelitian ini, tidak dibuat suatu desain eksperimen tertentu karena fokus penelitian ini adalah hanya membandingkan antara model kebijakan sebelumnya dengan model kebijakan yang baru untuk kemudian menganalisis kebijakan baru tersebut.

3.9

Rekomendasi dan Saran Tahap desain eksperimen telah menghasilkan gambaran strategi yang

mendekati keinginan pengambil kebijakan. Selanjutnya diperlukan suatu penerapan strategi tersebut ke dalam sistem nyata sehingga harapan yang telah ditujukkan simulasi pada model dapat terwujud dalam sistem nyata.

40

BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Sejarah Perusahaan Sebelum menjadi Agen Gas LPG 3kg, PT. Endang sebelumnya merupakan Agen Minyak Tanah yang berdiri sejak Tahun 1967. Kemudian sekitar Tahun 1970-an Perusahaan Agen Minyak Tanah tersebut tergabung dalam PT. GAPERTA TAMA, yang merupakan perusahaan gabungan beberapa agen Minyak Tanah. Penggabungan ini disebabkan oleh pembagian jatah secara kolektif dari Pertamina selaku perusahaan resmi penyedia Minyak Tanah. Kondisi ini berlangsung hingga Tahun 2007 ketika Pemerintah memberlakukan Program Konversi Minyak Tanah ke Gas LPG. Berdasarkan UU/No. 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi serta Perpres/No. 104/2007 tentang Konversi Minyak Tanah ke Gas LPG, maka Program Konversi Minyak Tanah ke Gas LPG 3kg dimulai pada Tahun 2007. Seuai dengan Surat Edaran HISWANA MIGAS yang merupakan tangan panjang dari PT. Pertamina, yang menyatakan bahwa: a. Seluruh Agen Minyak Tanah (untuk kemudian disebut sebagai Agen Gas LPG Lama), harus mengikuti Konversi Minyak Tanah ke Gas LPG 3kg dengan mengalihkan jenis usahanya menjadi Agen Gas LPG 3kg. b. Seluruh Agen Minyak Tanah tidak semerta-merta menjadi Agen Gas LPG 3kg (definitif), melainkan tetap harus melalui proses dengan kontrak sebagai Agen Gas LPG 3kg Non Definitif.

41

dengan demikian maka PT. Endang pun harus mengkonversi jenis usahanya menjadi Agen Gas LPG 3kg. PT. Endang memulai Konversi dengan menjadi Agen Gas LPG Non Definitif pada Tahun 2007 hingga pertengahan Tahun 2010 sebelum akhirnya mulai 1 Juli 2010 menjadi Agen Gas LPG 3kg Definitif, dengan diberlakukannya kebijakan Pertamina soal kuota penebusan Gas LPG 3kg untuk setiap Agen.

4.1.2 Wilayah Distribusi Wilayah distribusi Agen Gas LPG 3kg PT. Endang tersebar di 19 kecamatan di Kabupaten Boyolali. Wilayah ini juga merupakan wilayah distribusi Gas LPG 3kg untuk keduabelas Agen Gas LPG 3kg lainnya yang ada di Kabupaten tersebut. Wilayah distribusi tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

42

Gambar 4.1. Wilayah Distribusi 4.1.3 Jumlah Penebusan DO (Delivery Order) DO (Delivery Order) adalah sejumlah order yang telah dibayar oleh pembeli (Agen) kepada penjual (SPPBE). DO digunakan untuk kemudian menebus atau mengambil barang, yang dalam hal ini adalah Gas LPG 3kg, ke SPPBE yang ditunjuk sebagai penyedia barang. Berikut adalah tabel data penebusan DO agen pada waktu sistem dengan kebijakan yang lama yaitu mulai Bulan Oktober 2008 hingga Bulan Juni 2010, dan data penebusan DO untuk sistem dengan kebijakan baru yang dimulai pada Bulan Juli 2010 sampai dengan Bulan Oktober 2010:

a. Tabel Penebusan DO Lama (Oktober 2009-Juni 2010) Tabel 4.1. Jumlah Penebusan DO (Lama) Tahun Bulan Oktober 2008 November Desember Januari Februari Maret 2009 April Mei Juni Juli Jumlah DO (Tabung/Bulan) 5150 5400 7600 8800 9700 10217 9423 12149 14046 12024

43

Agustus September Oktober November Desember

14270 16285 16205 18423 33060

Lanjutan Tabel 4.1 Jumlah Penebusan DO (Lama)

Januari Februari Maret 2010 April Mei Juni

21953 28337 31700 36550 32776 40560

b. Tabel Penebusan DO Baru (Juli 2010-Oktober 2010)

Tabel 4.2 Jumlah Penebusan DO (Baru) Tahun Bulan Juli Agustus 2010 September Oktober Jumlah DO 40000 36440 41480 40520

44

4.1.4 Jumlah Penjualan Jumlah Penjualan dalam penelitian ini adalah jumlah total refil Gas LPG 3kg yang terjual /bulan. Pada kasus ini permintaan=penjualan. Berikut data – data penjualan ketika berlaku kebijakan yang lama (Penjualan Lama) dan ketika berlaku kebijakan yang sekarang (Penjualan Baru) :

a. Tabel Penjualan Lama Tabel 4.3. Penjualan Gas LPG 3kg (Lama) Tahun Bulan Oktober 2008 November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni 2009 Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Penjualan (Tabung/Bulan) 4418 5208 7142 9029 7946 9966 9166 12020 13878 11836 13722 16077 15979 18222 32680

45

Lanjutan Tabel 4.3. Jumlah Penjualan Gas LPG 3kg (Lama)

Januari Februari Maret 2010 April Mei Juni

21727 27823 31700 36550 32770 40560

b. Tabel Penjualan Baru Tabel 4.4. Penjualan Gas LPG 3kg (Baru) Tahun Bulan Juli Agustus 2010 September Oktober Jumlah Penjualan (tabung/bulan) 486978000 437827000 487000000 485447000

4.1.5 Harga Beli Harga Beli merupakan harga beli refill Gas LPG 3kg per tabung yang ditentukan oleh PT. Pertamina selaku perusahaan yang ditunjuk pemerintah sebagai penyedia. Berdasarkan Pricing Policy atau kebijakan harga yang berlaku mulai per 1 Juli 2009 maka kebijakan harga beli refill Gas LPG 3kg per tabung adalah sebagai berikut:

46

Tabel 4.5. Pricing Policy Keterangn Harga Dasar Margin 1 Kg 3.463,64 400 3.863,64 PPN Harga Gas Jasa Angkut (Transport Fee) 10.488 386,36 4.250 354 1.159,09 11.550 1.062 3 Kg 10.390,91

Harga tersebut belum termasuk PPH 23 sebesar 2%, sehingga besar Jasa Angkut yang diperoleh menjadi: Jasa Angkut PPH 23 354 x 3 1.062 x 2% = = 1.062 21,24.

Jasa Angkut yang diterima Sehingga, Harga Beli

=

1.040,76 /tabung

=

11.550

=

10.509,24 /tabung

47

4.1.6 Harga Jual Harga jual merupakan harga jual agen kepada sub agen maupun pangkalan. Dalam Ketentuan Harga Jual memang tidak ada perbedaan harga jual baik dari agen kepada sub agen maupun harga jual dari agen kepada pangkalan, tetapi pada prakteknya harga jual tersebut berbeda-beda. Hal ini dikarenakan perbedaan jasa yang diberikan. Sub agen mengambil sendiri barang dari gudang agen, sedang untuk pangkalan dipasok oleh agen dengan pendistribusian menggunakan armada agen. Harga jual bervariasi, sebelum adanya kebijakan kuota, harga jual sangat fluktuatif. Harga jual untuk penjualan Gas LPG 3kg oleh PT.Endang sebelum kuota berada pada kisaran 12.500-13.000 rupiah/tabung. Setelah kuota harga jual mulai stabil dengan Harga Eceran Terendah 12.000 rupiah/tabung dan Harga Eceran Tertinggi 12.750 rupiah/tabung.

4.2 Pengolahan Data 4.2.1 Causal Loop Diagram Causal loop menjelaskan pola dasar hubungan antar komponen dalam sistem yang diamati. Pembuatan model ini berdasarkan wawancara kepada Direktur PT. Endang selaku owner agen Gas LPG 3kg ini. Pada penelitian ini causal loop yang digunakan untuk menggambarkan kedua sistem adalah sama, sebab yang dibandingkan adalah hasil kebijakan yang digunakan dalam sistem tersebut saja. Sebelum adanya penetapan kuota untuk masing-masing agen atau sistem dengan kebijakan lama, terjadi persaingan ketat di pasar. Akibatnya setiap agen harus bersaing mendapatkan pelanggan, terlebih lagi keadaan sebelum kuota setiap pangkalan bebas menerima pasokan dari agen mana saja. Agen ini (PT. Endang, red.)

48

termasuk salah satu agen yang merasakan kesulitan dalam persaingan memasarkan Gas LPG 3kg nya, sementara dari PT. Pertamina membuat ketentuan bahwa setiap agen harus dapat melakukan penebusan DO minimal 39.000 tabung/bulan. Sehingga sebelum adanya penetapan kuota, pembelian barang dilakukan berdasarkan kemampuan agen dalam memasarkannya. Pembelian dilakukan untuk memenuhi target penebusan DO per bulan yang telah ditentukan PT. Pertamina sebagai salah satu syarat untuk kemudian dapat menjadi Agen Gas LPG 3kg Definitif (Tetap). Setelah ditetapkannya kebijakan kuota, PT. Endang mendapatkan jatah kuota sebesar 40.000 tabung/bulan. Pengambilan/penebusan DO dijadwalkan setiap harinya, sehingga menjadi lebih teratur dari sebelumnya. Causal loop tersebut menunjukkan bahwa penebusan DO (Delivery Order) ditentukan berdasarkan persediaan yang ada di gudang. DO (Delivery Order) adalah surat bukti pembayaran LO (Leading Order) untuk kemudian digunakan untuk mengambil/menebus barang (Gas LPG 3kg, red.) ke SPPBE. LO (Leading Order) sendiri merupakan surat bukti pengajuan pembelian barang. Dalam kasus ini

permintaan=penjualan, gudang sebenarnya hanya tempat transit barang saja karena ini merupakan pendistribusian barang. Pembelian dilakukan dengan pengajuan LO (Leading Order), kemudian setelah LO dibayar, maka agen akan memperoleh DO (Delivery Order) untuk selanjutnya digunakan guna menebus/mengambil barang ke SPPBE. Setelah diambil maka barang didistribusikan ke pangkalan-pangkalan maupun melalui sub agen. Penggunaan sub agen tergantung pada kebijakan agen itu sendiri, artinya agen tidak harus menggunakan sub agen dalam pendistribusian barang tersebut. Hasil penjualan akan menghasilkan pendapatan. Setelah pendapatan tersebut dikurangi pengeluaran, maka dihasilkan laba agen. Perumusan kondisi di atas menghasilkan causal loop kedua model seperti gambar berikut :

49

+ Agents order policy

Kekurangan persediaan agen

-

+ DO agen

B1

+ Persediaan agen

Demand agen

-

-

Penjualan agen

+

DO yang dikirim ke agen

+ B2

+

GAP penebusan LPG

+

Pendapatan agen

+

Harga jual LPG

Gambar 4.2. Causal Loop Diagram

50

4.2.2 Pemodelan dengan Powersim Causal loop di atas selanjutnya diubah menjadi model matematis dengan memasukkan variabel - variabel hasil pengolahan data. Model yang dihasilkan memiliki lebih banyak komponen dari causal loop, karena tiap komponen dari causal loop bisa memiliki beberapa paramater ketika harus di ubah ke dalam bentuk model matematis. Berikut merupakan Flow Diagram untuk Model Sistem dengan Kebijakan Lama Model Kebijakan Baru: a. Flow Diagram Model Sistem dengan Kebijakan Lama

51

Penebusan DO

Stock

Penjualan_Agen Fee Pegawai

PP_21

Fee_Tabung

Permintaan_Custom er Total Fee pegawai

Lain-lain

Pemasukan

Laba

Pengeluaran

Total Beli PPN_23

Harga_Jual O

Harga beli

Jumlah PPN_23

Gambar 4.3. Flow Diagram Model Kebijakan Lama

52

Berikut adalah penulisan program atau rumus matematis ke dalam Model Sistem dengan Kebijakan Lama untuk setiap komponennya : Tabel 4.6. Rumus Matematis Flow Diagram Kebijakan Lama No KOMPONEN RUMUS SATUAN

1 Penebusan DO

EXPRND(18315,61905)*1<<tabung/mo> Tabung/mo >

2 Stock 3 Penjualan Agen 4 Permintaan Customer

0 Permintaan_Customer

Tabung Tabung/mo

EXPRND(18019,95238)*1<<tabung/mo> Tabung/mo >

5 Total Fee Pegawai

('Fee Pegawai'*Penjualan_Agen)/1<<tabung>>

Rupiah/mo

6 Fee Pegawai 7 Pemasukan

300

Rupiah

(Penjualan_Agen*Harga_Jual)/1<<tabung Rupiah/mo >>

8 Laba 9 Pengeluaran

0 'Total Beli'+'Total Fee pegawai'+Operasional+'Jumlah PPN_23'+'Lain-lain'

Rupiah Rupiah/mo

10 Fee Tabung 11 PP_21 12 Harga Beli

(354-PP_21)*3*1<<rupiah>> 354*2/100 (RANDOM(11550;11613)*1<<rupiah>>)Fee_Tabung

Rupiah Rupiah

53

Lanjutan Tabel 4.6. Rumus Matematis Flow Diagram

13 Total Beli

('Penebusan DO'*'Harga beli')/1<<tabung>>

Rupiah/mo

14 Harga Jual 15 PPN_23 16 Jumlah PPN_23 17 Operasional 18 Lain-lain

RANDOM(12500;13000)*1<<rupiah>> (Harga_Jual-'Harga beli')*10/100 (Penjualan_Agen*PPN_23)/1<<tabung>>

Rupiah Rupiah Rupiah/mo

EXPRND(8138693,048)*1<<rupiah/mo>> Rupiah/mo EXPRND(6119343)*1<<rupiah/mo>> Rupiah/mo

Di bawah ini merupakan keterangan dari beberapa rumus matematis di atas: 1. Penebusan DO Merupakan jumlah pengambilan atau pembelian Gas LPG 3kg yang dilakukan Agen. Variabel ini sangat mempengaruhi jumlah penjualan, sebab dalam model kebijaksanaan yang lama ini, jumlah penebusan DO yang dilakukan Agen dapat mengindikasikan jumlah penjualan Gas LPG 3kg Agen tersebut. Data jumlah penebusan DO yang dilakukan Agen yang dimasukkan dalam model simulasi ini, terlebih dahulu dicari pola distribusi nya dengan bantuan program STAT:FIT yang terdapat pada software PROMODEL. Hasil dari pencarian pola distribusi data tersebut memperlihatkan bahwa data berpola distribusi Exponential, maka digunakan distribusi exponential dalam rumus matematis flow diagram POWERSIM untuk variabel ini.

54

2. Stock Merupakan variabel yang menunjukkan kondisi jumlah persediaan yang ada di gudang Agen. Dalam model Stock ini angka 0 sebagai initial condition atau pemisalan jika terdapat 0 barang yang ada digudang pada awal bulan. 3. Penjualan Agen Dalam model ini diketahui bahwa penjualan=permintaan, sehingga rumas matemaris yang dimasukkan kedalam flow diagram untuk variabel penjualan adalah ‘permintaan_customer’. 4. Permintaan Customer Karena permintaan=penjualan, maka data ynag terdapat dalam flow diagram untuk variabel ini merupakan data jumlah penjualan Agen. Pola distribusi data dicara dengan bantuan program STAT:FIT dan diperoleh bahwa pola distribusi data ini adalah Exponential. 5. Total Fee Pegawai Yaitu hasil kali ‘Penjualan Agen’*’Fee Pegawai’, sehingga

menghasilkan jumlah Fee Pegawai total atau upah untuk semua pegawai per bulan. Setiap pegawai mendapatkan upah yang berbedabeda tergantung dari kemampuannya menjual barang. Cara ini digunakan untuk memompa semangat pegawai dalam bekerja. 6. Fee Pegawai Adalah upah yang didapatkan untuk setiap pegawai yang diambil dari keuntungan penjualan sebesar Rp.300/tabung. Jadi, setiap pegawai akan mendapatkan upah sebesar tersebut untuk setiap tabung yang berhasil mereka jual atau distribusikan.

55

7. Pemasukan Pemasukan merupakan jumlah total pendapatan dari hasil penjualan Gas LPG 3kg tersebut. Hasil jumlah pemasukan didapat dari ‘Jumlah Penjualan’ * ‘Harga Jual’. 8. Laba Laba adalah keuntungan yang diperoleh dari ‘Pemasukan’-

‘Pengeluaran’. Dalam flow diagram untuk variabel ‘Laba’, initial condition-nya pada awal bulan ‘Laba’=0. 9. Pengeluaran Pengeluaran merupakan jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan Agen untuk bisnis ini. 10. Fee Tabung Fee Tabung atau Transport Fee adalah tambahan dari Pertamina yang diberikan kepada agen sebagai uang pengganti transport dalam penebusan DO. Besarnya fee transport adalah Rp. 354/kg. 11. PP_21 Merupakan pajak fee transport atau fee tabung. Besarnya adalah 2%. 12. Harga Beli Harga beli dalam model ini adalah harga beli LPG 3kg oleh agen dari SPPBE atau harga penebusan LPG 3kg. Harga beli bervariasi dari data yang diambil, oleh karena itu digunakan random dengan memasukkan bilangan terkecil dan terbesar dari harga beli tersebut kemudian dikurangi ‘fee tabung’ karena harga beli yangada belum termasuk ‘fee tabung’.

56

13. Total Beli Total beli merupakan total jumlah pembelian tabung yang dikeluarkan agen. Jumlah tersebut diperoleh dengan mengalikan jumlah ‘penebusan DO’ dengan ‘Harga beli’. 14. Harga Jual Harga jual adalah harga jual LPG 3kg dari agen ke customer. Harga jual ini bervariasi, oelh karena itu digunakan random harga jual terkecil dan terendah. 15. PPN_23 Yaitu Pajak Keluaran yang dibayarkan agen ke Pertamina. Besarnya pajak ini adalah 10% dari selisih ‘harga jual’dengan ‘harga beli’. 16. Jumlah PPN_23 Merupakan jumlah Pajak Keluaran yang dibayarkan agen kepada Pertamina. Jumlah ini diperoleh denga mengalikan ‘Penjualan_Agen’ dengan ‘PPN_23’. 17. Operasional Yang dimaksud dengan ‘Operasional’ dalam model ini adalah biaya operasional yang dikeluarkan agen untuk kegiatan jual-beli Gas LPG 3kg ini. Data biaya operasional yang ada dicari pola distribusinya menggunakan STAT:FIT dan diperoleh bahwa data tersebut berpola distribusi exponential. 18. Lain-lain Merupakan biaya-biaya lain yang dikeluarkan agen seperti listrik, air, dll. Data biaya ini juga dicari pola distribusi nya terlebih dahulu dengan

57

menggunakan STAT:FIT dan hasilnya data biaya lain-lain berpola distribusi exponential. Hasil simulasi untuk komponen laba pada Model Kebijakan Lama ditunjukkan oleh tabel dan grafik berikut : Tabel 4.7. Data Historis dan Hasil Simulasi Tahun Bulan Riil Oktober 2008 November Desember Januari Februari Maret 2009 April Mei Juni Juli Agustus September 2009 Oktober November Desember Januari 2010 Februari 491843,1 4135733,6 24817173,86 17383855,3 3406312,2 -13294190,88 -9463743,789 10462537,13 -59430469,44 -9378587,56 -62655546,4 -120953123,5 -28739291,9 -26127150,12 -170120488,4 -148942625,8 26640591,22 Laba Simulasi 0 56412709,27 -32542940,1 -9894219,69 46116952,38 8465399,58 102890361 22785954,93 45461207,16 24651721,25 20986904,07 -47618994,3 -29299286,2 -43877901,7 -1119046,46 -145987693 66543859,47

58

Maret April Mei Juni

39522282 44981703 38119588,76 48173504,6

-13317661,4 12593463,61 -13242718 58526977,67

15000000 10000000 50000000 0 -5000000 -1E+08 -1.5E+08 -2E+08 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021 Data Asli Data Hasil Simulasi

Gambar 4.4. Grafik Perbandingan Data Laba Riil dan Simulasi Model Kebijakan Lama

b. Flow Diagram Model Sistem dengan Kebijakan Baru

59

Kuota Agen

Sisa Barang

Upah Pegawai per Tabung

penjualan agen persediaan do Demand Pangkalan Gaji Pegawai

Transport Fee Demand Sub Agen B_Lain-lain

Pembelian Tabung

Pendapatan Laba biaya dikeluarkan Harga Beli PPh 21 J_PPN Keluar HJ Pangkalan B_O HJ Sub Agen

PPN Keluar per Tabung

Rata-rata HJ

Gambar 4.5. Flow Diagram Model Kebijakan Baru

60

Berikut adalah penulisan program atau rumus matematis ke dalam Model Sistem dengan Kebijakan Baru untuk setiap komponennya :

Tabel 4.8. Rumus Matematis Flow Diagram Kebijakan Baru No 1 KOMPONEN DO RUMUS SATUAN

RANDOM(36440;41480)*1<<tabung/mo> Tabung/mo >

2 3 4 5

Kuota Agen Sisa Barang Persediaan Penjualan Agen

40000 'Kuota Agen'-'penjualan agen' 0 IF('Demand Pangkalan'+'Demand Sub Agen'<'Kuota Agen';'Demand Pangkalan'+'Demand Sub Agen';'Kuota

Tabung/mo Tabung/mo Tabung Tabung/mo

6 7 8

Demand Pangkalan Demand Sub Agen Gaji Pegawai

NORMAL(16634,5)*1<<tabung/mo>>

Tabung/mo

NORMAL(22930,25)*1<<tabung/mo>> Tabung/mo ('Upah Pegawai per Tabung'*'Demand Pangkalan')/1<<tabung>> Rupiah/mo

9

Upah Pegawai per Tabung

300

Rupiah

10

Pendapatan

(('Demand Pangkalan'*'HJ Pangkalan')+('Demand Sub Agen'*'HJ Sub Agen'))/1<<tabung>>

Rupiah/mo

11 12

Laba Biaya Dikeluarkan

0

Rupiah

B_Operasional+'Pembelian Tabung'+'Gaji Rupiah/mo

61

Pegawai'+'J_PPN Keluar'+'PPh 21'+'B_Lain-lain' 13 14 15 Transport Fee PPh 21 Harga Beli ( (354*3)*1<<rupiah/tabung>> (do*'Transport Fee')*2/100 ((11550)*1<<rupiah/tabung>>)-'Transport Fee' Rupiah Rupiah

Lanjutan Tabel 4.8. Rumus Matematis Flow Diagram

16 17 18 19 20

Pembelian Tabung HJ Pangkalan HJ Sub Agen PPN Keluar per tabung Rata-rata HJ

do*'Harga Beli' RANDOM(12400;12750)*1<<rupiah>> RANDOM(11800;12250)*1<<rupiah>> ('Rata-rata HJ'-'Harga Beli')*10/100 (('HJ Pangkalan'+'HJ Sub Agen')/2)/1<<tabung>>

Rupiah/mo Rupiah Rupiah Rupiah Rupiah/tab ung Rupiah/mo

21

J_PPN Keluar

'penjualan agen'*'PPN Keluar per Tabung'

22

B_Operasional

NORMAL( 17371699 )*1<<rupiah/mo>>

Rupiah/mo

23

B_Lain-lain

10000000

Rupiah/mo

62

Di bawah ini merupakan keterangan dari beberapa rumus matematis di atas: 1. Penebusan DO Dalam rumusan penebusan DO untuk model ini, bilangan yang dimasukkan menggunakan RANDOM sebab data yang digunakan sedikit. 2. Persediaan Merupakan variabel yang menunjukkan kondisi jumlah persediaan yang ada di gudang Agen. Dalam model Stock ini angka 0 sebagai initial condition atau pemisalan jika terdapat 0 barang yang ada digudang pada awal bulan. 3. Penjualan Agen Dalam model ini diketahui bahwa penjualan=permintaan yang dibatasi oleh adanya kebijakan kuota atau jatah per agen, sehingga rumus matematis yang dimasukkan kedalam flow diagram untuk variabel penjualan menggunakan fungsi IF('Demand Pangkalan'+'Demand Sub Agen'<'Kuota Agen';'Demand Pangkalan'+'Demand Sub Agen';'Kuota yang berarti ‘Demand Pangkalan’+ ‘Demand Sub Agen’ tidak boleh melebihi ‘Kuota Agen’. 4. Kuota Agen Kuota agen adalah kebijakan baru dalam model ini. Kuota merupakan jatah yang didapat agen dari Pertamina. Kuota penebusan LPG 3kg untuk PT. Endang adalah 40.000 tabung/bulan. 5. Sisa Barang Sisa barang merupakan ‘Kuota Agen’-‘Penjualan Agen’

63

6. Demand Pangkalan Karena permintaan=penjualan, maka data ynag terdapat dalam flow diagram untuk variabel ini merupakan data jumlah penjualan Agen ke Pangkalan. Pola distribusi data dicari dengan bantuan program Input Analyzer yang terdapat pada software Arena dan diperoleh bahwa pola distribusi data ini adalah Normal. 7. Demand Sub Agen Merupakan jumlah penjualan agen kepada sub agen. Pola distribusi data dicari dengan bantuan program Input Analyzer yang terdapat pada software Arena dan diperoleh bahwa pola distribusi data ini adalah Normal. 8. Gaji Pegawai Yaitu hasil kali ‘Penjualan Agen’*’Upah Pegawai per Tabung’, sehingga menghasilkan jumlah Gaji pegawai atau upah untuk semua pegawai per bulan. Setiap pegawai mendapatkan upah yang berbedabeda tergantung dari kemampuannya menjual barang. Cara ini digunakan untuk memompa semangat pegawai dalam bekerja. 9. Upah Pegawai per Tabung Adalah upah yang didapatkan untuk setiap pegawai yang diambil dari keuntungan penjualan sebesar Rp.300/tabung. Jadi, setiap pegawai akan mendapatkan upah sebesar tersebut untuk setiap tabung yang berhasil mereka jual atau distribusikan.

64

10. Pendapatan Pendapatan merupakan jumlah total pendapatan dari hasil penjualan Gas LPG 3kg tersebut. Hasil jumlah pemasukan didapat dari ‘Jumlah Penjualan’ * ‘Harga Jual’. 11. Laba Laba adalah keuntungan yang diperoleh dari ‘Pemasukan’-

‘Pengeluaran’. Dalam flow diagram untuk variabel ‘Laba’, initial condition-nya pada awal bulan ‘Laba’=0. 12. Biaya Dikeluarkan Biaya Dikeluarkan atau sama saja dengan ‘Pengeluaran’ merupakan jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan Agen untuk bisnis ini. 13. Transport Fee Transport Fee atau sama dengan ‘Fee Tabung’ adalah tambahan dari Pertamina yang diberikan kepada agen sebagai uang pengganti transport dalam penebusan DO. Besarnya fee transport adalah Rp. 354/kg. 14. PPh 21 Merupakan pajak fee transport atau fee tabung. Besarnya adalah 2%. 15. Harga Beli Harga beli dalam model ini adalah harga beli LPG 3kg oleh agen dari SPPBE atau harga penebusan LPG 3kg. Harga beli bervariasi dari data yang diambil, oleh karena itu digunakan random dengan memasukkan bilangan terkecil dan terbesar dari harga beli tersebut kemudian dikurangi ‘fee tabung’ karena harga beli yangada belum termasuk ‘fee tabung’.

65

16. Pembelian Tabung Pembelian tabung atau ‘Total beli’ merupakan total jumlah pembelian tabung yang dikeluarkan agen. Jumlah tersebut diperoleh dengan mengalikan jumlah ‘penebusan DO’ dengan ‘Harga beli’. 17. Harga Jual Pangkalan Harga jual adalah harga jual LPG 3kg dari agen ke pangkalan. Harga jual ini bervariasi, oelh karena itu digunakan random harga jual terkecil dan terendah. 18. Harga Jual Sub Agen Harga jual adalah harga jual LPG 3kg dari agen ke sub agen. Harga jual ini bervariasi, oelh karena itu digunakan random harga jual terkecil dan terendah. 19. Rata-rata HJ Merupakan rata-rata harga jual baik harga jual pangkalan maupun harga jual sub agen. 20. PPn Keluar per Tabung Yaitu Pajak Keluaran atau PPN pasal 23 yang dibayarkan agen ke Pertamina. Besarnya pajak ini adalah 10% dari selisih ‘harga jual’dengan ‘harga beli’. 21. J_PPN Keluar Merupakan jumlah Pajak Keluaran yang dibayarkan agen kepada Pertamina. Jumlah ini diperoleh denga mengalikan ‘Penjualan Agen’ dengan ‘PPN Keluar per Tabung’.

66

22. B_Operasional Yang dimaksud dengan ‘Operasional’ dalam model ini adalah biaya operasional yang dikeluarkan agen untuk kegiatan jual-beli Gas LPG 3kg ini. Data biaya operasional yang ada dicari pola distribusinya menggunakan Input Analyzer dan diperoleh bahwa data tersebut berpola distribusi Normal. 23. B_Lain-lain Merupakan biaya-biaya lain yang dikeluarkan agen seperti listrik, air, dll. Data biaya ini diperoleh melalui wawancara dengan pihak pengelola agen PT. Endang. Hasil simulasi untuk komponen laba pada Model Kebijakan Lama ditunjukkan oleh tabel dan grafik berikut :

Tabel 4.9. Data Historis dan Hasil Simulasi Model Kebijakan Baru Tahun Bulan Riil Juli Agustus 2010 September Oktober 33.265.981 33.431.650 32.349.863 39.732.590 Laba Simulasi 35427187 37550325 39398437 31981813

67

Perbandingan Hasil
50000000 40000000

LABA

30000000 20000000 10000000 0 1 2 3 4 Data Hasil Simulasi Data Asli

Gambar 4.6. Grafik Perbandingan Laba Data Riil dan Simulasi Model Kebijakan Baru

4.2.3 Validasi Model Validasi model dilakukan dengan cara membandingkan output model dengan data riil. Apabila dari perbandingan tersebut ternyata tidak ditemukan perbedaan antara model dengan data riil, maka model dapat diyakini validitasnya. Untuk membandingkan atau menguji validitas model digunakan tiga metode validasi yaitu uji kesamaan dua rata – rata, uji kesamaan dua variansi dan uji chi square. Komponen yang akan diuji adalah laba. Untuk jumlah laba pada Model Sistem dengan Kebijakan Lama pengujiannya adalah sebagai berikut : 1. Uji Variansi
2 Ho : σ 12 = σ 2 : Variansi kedua populasi adalah sama

2 Hi = σ 12 ≠ σ 2 : Variansi kedua populasi adalah tidak sama

Ho diterima apabila F(1-α/2,n1-1, n2-1) < Fhitung < F(α/2,n1-1, n2-1)

68

Dengan rumus

F=

S1 S2

2 2

maka diperoleh nilai F dengan perhitungan sebagai berikut :
3.84 2.73 = 1.405 F =

Dengan α = 0,05 dan v1 = n1 – 1 , serta v2 = n2 – 1 , maka diperoleh nilai
F1−α / 2 ( 20, 20 ) = 0.405 dan Fα / 2 ( 20, 20 ) = 2.464

Karena 0.405 < 1.405< 2.464, maka Ho diterima, yang berarti kedua populasi memiliki variansi yang sama.

2. Uji Kesamaan Dua Rata - Rata Ho : μ1 = μ2 : Rata - rata kedua populasi adalah sama Hi : μ1 ≠ μ2 : Rata - rata kedua populasi adalah tidak sama Ho diterima apabila – Tα/2 < t < Tα/2. Dengan rumus :
X1− X 2
s _ _

t =

1 1 + n1 n2

dihasilkan nilai t dengan perhitungan berikut :
t= (-19077132.26) − 6120716.657 17700443.43 = −1.423

Dengan α = 0,05 , nilai Tα/2 = 1,96. Karena – Tα/2 < t < Tα/2 , maka dapat diambil kesimpulan bahwa kedua populasi memiliki rataan yang sama.

69

3. Uji Chi Square Ho = Pola distribusi data kedua populasi adalah sama Hi = Pola distribusi data kedua populasi adalah tidak sama
2 Ho diterima apabila χ (2 −α / 2,k −1) < χ tabel < χ (2α / 2,k −1) 1

Untuk menentukan banyak kelas yang akan digunakan, rumus yang dipakai adalah :
k = 1 + 3,32 log N

dengan N adalah banyak data. Dengan rumus tersebut, jumlah kelas yang digunakan adalah :

k = 1 + 3,32 log 21 = 5.389 ≈ 5.4 ≈ 5
Untuk menentukan interval kelas, digunakan rumus :
i= xmax − xmin k

sehingga diperoleh nilai i dengan perhitungan sebagai berikut :
i= 102890361 − (-170120488.4) 5

= 54602169.88

70

Distribusi probabilitas untuk data riil dan simulasi ditunjukkan dengan dua tabel berikut :

Tabel 4.10. Distribusi Probabilistik Data Riil Laba Frekuensi Frekuensi Class Limit Kumulatif Relatif Probabilitas -170120488.4 -115518319.52 -60916149.64 -6313978.76 48288191.12 -115518318.52 -60916148.64 -6313978.76 48288191.12 102890361 3 6 10 20 21 3 3 4 10 1 21 0.14 0.14 0.19 0.47 0.05 1.00

Tabel 4.11. Distribusi Probabilistik Data Simulasi Laba Frekuensi Frekuensi Class Limit Kumulatif Relatif -170120488.4 -115518318.52 -115518319.52 -60916148.64 -60916149.64 -6313978.76 -6313978.76 48288191.12 48288191.12 102890361 1 1 8 17 21 1 0 7 9 4 21 Probabilitas 0.05 0 0.33 0.42 0.19 1.00

71

2 Perhitungan untuk menemukan nilai χ hitung ditunjukkan dengan tabel berikut

ini :

2 Tabel 4.12. Penentuan Nilai χ hitung

Class Limit -170120488.4 -115518318.52 -115518319.52 -60916148.64 -60916149.64 -6313978.76 48288191.12 -6313978.76 48288191.12 102890361

oi 1 0 7 9 4 21

ei 3 3 4 10 1 21

Tabel 4.13. Penggabungan Kelas Class Limit -170120488.4 -6313979.76 -6313978.76 102890361 oi 8 13 ei 10 11

2 Dari tabel tersebut terlihat bahwa χ hitung = (8-10)2/10 + (13-11)2/11 = 0.76

Dengan k = 1 maka diperoleh χ (20.975,1) = 0.00098, χ (20.025,1) = 5.02 Karena χ2tabel(0.975) < χ2hitung < χ2tabel(0.025) , maka Ho diterima, yang berarti bahwa pola distribusi data kedua populasi adalah sama.

72

Tabel 4.14 Hasil Validasi Data Laba pada Model Kebijakan Lama DATA No Metode Jumlah Oplah 1 Uji Kesamaan Dua Rata – Rata 2 Uji Kesamaan Dua Variansi 3 Uji Chi Square VALID VALID VALID Retur VALID VALID VALID

73

BAB V

PEMBAHASAN

Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sistem dengan dua kebijakan yang berbeda sehubungan dengan dilaksanakannya program konversi minyak tanah ke gas LPG 3kg. Oleh karena itu pada bab ini akan dilakukan pembahasan yang dapat memberikan penjelasan yang lebih dalam berdasarkan data - data hasil penelitian dan perhitungan pada bab sebelumnya untuk kemudian dibandingkan hasilnya antara kedua model sistem dengan kebijakan yang berbeda tersebut. Dalam penelitian ini simulasi untuk Model Kebijakan Lama dijalankan selama pemberlakuan kebijakan lama tersebut. Data yang diambil mulai bulan Oktober 2008 hingga bulan Juni 2010, tepat sebelum mulai berlakunya kebijakan yang baru.

Sedangkan simulasi untuk Model Kebijakan Baru dijalankan mulai berlakunya data hingga 4 bulan kedepan yaitu mulai bulan Juli 2010 hingga bulan Maret 2010. Dari output yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan hubungan matematis antara masing – masing variabel. Selain itu juga dapat untuk membandingkan model kebijakan mana yang lebih baik. Hasil dari keseluruhan simulasi adalah sebagai berikut:

74

Tabel 5.1. Hasil Simulasi untuk Bulan Oktober 2008-Juni 2010 Bulan Ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Laba 0 56412709,27 -32542940,1 -9894219,69 46116952,38 8465399,58 102890361 22785954,93 45461207,16 24651721,25 20986904,07 Bulan Ke12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Laba -47618994,3 -29299286,2 -43877901,7 -1119046,46 -145987693 66543859,47 -13317661,4 12593463,61 -13242718 58526977,67

5.1 Analisa Hasil Simulasi Model Kebijakan Lama Simulasi dilakukan untuk menguji kesesuaian model dengan sistem nyata. Simulasi pada Model Kebijakan Lama dilakukan selama pemberlakuan kebijakan. Data yang diambil adalah data mulai bulan Oktober 2008 hingga Juni 2010. Pada tahap validasi Model Kebijakan Lama, data yang digunakan adalah laba yang diperoleh agen. Variabel laba diambil sebagai parameter sebab laba merupakan ukuran terhadap performa perusahaan. Sukses atau tidaknya sebuah bisnis dilihat dari untung atau rugi yang diperoleh. Data tersebut diuji untuk membandingkan dengan data sistem nyata dan dinyatakan valid dengan menggunakan tiga metode yaitu uji kesamaan dua rata - rata, kesamaan dua variansi, dan uji chi square.

75

Dari hasil simulasi Model Kebijakan Lama dapat dilihat fluktuasi laba yang diperoleh agen dengan rata-rata laba Rp. 6.120.716,657. Bulan Oktober 2008 dimana initial condition untuk awal bulan adalah 0, maka laba yang diperoleh berdasarkan hasil simulasi bernilai 0. Kemudian mengalami kenaikan di bulan November 2008 dan penurunan sekitar 50% untuk bulan berikutnya yaitu bulan Desember 2008. Pada bulan Januari 2009 dapat dilihat bahwa perusahaan mengalami penurunan laba lagi sekitar 30% dari bulan sebelumnya. Bulan Februari 2009 laba meningkat drastis dan terus mengalami peningkatan hingga bulan Agustus 2009. Kemudian laba kembali mengalami penurunan pada bulan September 2009 hingga bulan Januari 2010. Bulanbulan berikutnya tampak laba mengalami pasang surut, naik kembali pada bulan Februari 2010, turun di bulan Maret 2010, lalu naik lagi di bulan April 2010, dan kembali turun di bulan Mei 2010. Hingga kemudian meningkat kembali pada bula Juni 2010. Laba yang sangat fluktuatif menunjukkan persaingan pasar yang ketat. Dengan kebijakan bahwa setiap agen diharuskan memenuhi target penebusan DO minimal 39.000 tabung/bulan dengan jumlah penebusan maksimal yang tidak ditentukan, sedangkan bertambahnya agen-agen baru menambah ketatnya persaingan pasar LPG 3kg di wilayah Kabupaten Boyolali. Sementara itu sosialisasi program konversi minyak tanah ke Gas LPG 3kg di wilayah tersebut saat itu juga belum merata sehingga permintaan dari masyarakat sendiri masih sangat kurang jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah agen dengan 39.000 tabung/bulan untuk setiap agennya.

76

5.2 Analisa Hasil Simulasi Model Kebijakan Baru Desain model kebijakan baru dibuat sesuai dengan kondisi yang berlaku saat ini. Pemberlakuan kebijakan baru dimulai terhitung sejak bulan Juli 2010 hingga sekarang. Oleh sebab itu data yang diambil mulai dari bulan Juli 2010 hingga bulan Oktober 2010. Waktu simulasi untuk Model Kebijakan Baru disesuaikan dengan keinginan pemodel. Dalam penelitian ini adalah 4 bulan sebelum yaitu sesuai data yang diambil hingga 4 bulan kedepan yaitu sampai bulan Maret 2010.

Tabel 5.2. Hasil Simulasi untuk Bulan Juli 2010-Maret 2011 Bulan Ke1 2 3 4 5 6 7 8 Laba 0 35427187 72977512 112375949 144357762 181020368 214871247 248663349

Hasil simulasi untuk Model Kebijakan Baru nampak jelas terlihat bahwa agen mengalami peningkatan yang relatif stabil terus menerus. Hal ini disebabkan karena kondisi pasar yang lebih stabil dengan adanya ketentuan kuota per agen. Harga jual lebih terkontrol, setidaknya setiap bulan agen ini pasti dapat menjual ± 40.000

77

tabung/bulan. Ketentuan berkurangnya ataupun bertambahnya kuota tergantung dari kebijakan Pertamina sebagai pusat penyelenggara kegiatan jual-beli gas LPG 3 kg ini.

78

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan Berdasarkan pengolahan data dan pembahasan yang telah dilakukan, maka

dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut : 1. Kebijakan lama kurang baik untuk perusahaan terbukti dengan ketidak stabilan kondisi pasar membuat laba yang diperoleh perusahaan tidak menentu, hal ini dapat dilihat dari grafik hasil simulasi yang fluktuatif dengan rata-rata hanya sekitar Rp. 6.120.716,657 per bulan. Sedangkan kebijakan baru membuat kondisi keuangan perusahaan jauh lebih baik dibanding saat kebijakan lama hal ini terlihat dengan peningkatan laba yang diperoleh perusahaan mencapai rata-rata Rp. 34.695.021 per bulan. 2. Berdasarkan hasil simulasi yang diperoleh dengan laba sebagai parameter untuk mengetahui efek kedua kebijakan tersebut kepada perusahaan, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang baru ini lebih baik dari kebijakan yang sebelumnya bagi perusahaan agen gas LPG (PT. Endang). 6.2 Saran Dari kesimpulan di atas, maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut : 1. Bagi peneliti yang ingin megembangkan penelitian ini selanjutnya dapat dibuat model eksperimen untuk mencari alternatif usulan model kebijakan yang lain.

79

2.

Penelitian mengenai konversi minyak tanah ini akan lebih baik jika obyek penelitian diperluas misalnya untuk satu Kabupaten atau Propinsi.

80

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, (2000). Strategi Perusahaan dengan Pendekatan Sistem Dinamik (Studi Kasus PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.). Available at

http.www.digilibui.com Akhmad Hidayatno, Iko Putera, (2006). Design Family-Owned Business Simulation Game Using Dynamic Systems Approach to Facilitate Practice of Interpreting and Analyzing Financial Reports. Jurnal Teknologi, Edisi Khusus no. 2 Teknik Industri Tahun XX. Armand Omar Moeis, Akhmad Hidayatno, M. Risky Satrio U., (2005). Pembuatan Permainan Simulasi Bisnis “Executive Decision” dengan Pendekatan Sistem Dinamis untuk Meningkatkan Kualitas Pengalaman Pembelajaran. Jurnal Teknologi, Edisi Khusus no. 2 Teknik Industri Tahun XIX. Arya Wirabhuana, (2007). Penerapan Model Simulasi Sistem Dinamis pada Analisis Biaya Total Non Produksi sebagai Pengaruh dari Kebijakan Sektor Produksi dan Sumber Daya Manusia. Available at http.www.google.com Background Paper: Analisis Kebijakan Persaingan dalam Industri Gas LPG Indonesia, (2009). Available at www.kppu.go.id Bititci, Umit S., Turner, T., and Begemann, C., (2000). Dynamic of Perfomance Measurement Systems. International Journal of Operations & Production Management, Vol. 20, No. 6. Budisantoso Wirjodirjo, (2007). Dynamic System Modeling Approach in Evaluating The Perfomance of Suppliers: A Case Study in Oil and Natural Gas Industry. Proceeding International Seminar on Industrial Engineering and Management. Agustus 29-30, Jakarta.

81

Coyle, R.G., (1996). Systems Dynamic Modelling. Chapman&Hall. London. Dedi Dwi Haryadi, (1997). Peramalan Permintaan Kendaraan Niaga Kategori IV (Jeep) di Indonesia dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Available at http.www.digilibui.com Deni Almanda, (2004). Perkiraan Emisi Pembangkit Listrik pada Tahun 2020 dengan Sistem Dinamik. Available at http.www.digilibui.com Djoko Sihono Gabriel, (1995). Model Dinamika Sistem Permintaan Penerbangan Komersial. Available at http.www.digilibui.com Emery, F.E, (1969). Systems Thinking. Penguin Books. New York. Endang Wirjatmi Trilestari, Lukmanulhakim Almamalik, (2008). Systems Thinking. STIA LAN Bandung Press. Bandung. Forrester, J..W., (1968). Principles of Systems. Pegasus Communication, Inc. New York. Gröbler, A., (2007). A Dynamic View on Strategic Resources and Capabilities Applied to An Example from The Manufacturing Strategy Literature. Journal of Manufacturing Technology Management, Vol. 18, No. 3. Howard, A., (1997). A New RAD-Based Approach to Commercial Information Systems Development: The Dynamic System Development Method. Journal of Industrial Management & Data Systems, 97/5, 175-177. Ivonne Pongoh, (2004). Model Sistem Dinamis Kinerja PT. Indosat Tbk. UI. Kong Fanliang, Wang Guizhi, Ping Yu, (2008). Certain Martingale Methods of Parameter Estimation in Dynamic System. Kybernetes Journal, Vol. 37, No. 9. Kotler, P., A.B. Susanto, (1999). Manajemen Pemasaran di Indonesia. Salemba Empat. Jakarta

82

Maani, Kambiz E. Cavana, Robert Y. (2000). System Thinking and Modelling : Understanding Change and Complexity. Prentice Hall. Muhammadi, Erman Aminullah, Budhi Soesilo, (2001). Analisis Sistem Dinamis : Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. UMJ Press. Jakarta. Pidato Kenegaraan Presiden RI, (2008). Available at www.indonesia.go.id Sterman, John D., (2000). Bussines Dynamics. Massachussets Institute of Technologies. USA. Sushil, (1993). System Dynamics : A Practical Approach for Managerial Problems. Wiley Eastern Limited. Tako A.A. et.al, (2009). Comparing Discrete-Event Simulation and System

Dynamics : Users Perceptions. Journal of the Operational Research Society (2009) 60, 296 – 312. Uning Budiharti, Rudy Tjahjohutomo, dkk., (2008). Dynamic System Approach to Find Out Mechanization Model of Rice Mill to Predict Rice Production. Indonesian Journal of Agriculture, 1(1), 7-12. Walpole, Ronald E., (1986) Ilmu Peluang dan Statistik untuk Insinyur dan Ilmuwan. Bandung : Penerbit ITB Wang Huanqiu, Gao Jinzhong, Xu Fengzhang, (1998). Dynamic Analysis of Coherent Fault Trees. Journal of Quality in Maintenance, Vol. 4, No. 2. Warren, Kim, (2002). Competitive Strategy Dynamics. John Willey & Son Ltd. Canada. Wikan (2009)., “Analisis Peningkatan Porto Folio Outstanding Dengan Pendekatan Sistem Dinamis Pada BRI Syariah”. Skripsi, tidak diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik Industri Universitas Islam Indonesia.

83

Wikner, J., (2005). Dynamic Analysis of A Production-Inventory Model. Kybernetes Journal, Vol. 34, No. 6. Xiaojun Zhou, Lifeng Xi, Jay Lee, (2006). A Dynamic Opportunistic Maintenance Policy for Continously Monitored Systems. Journal of Quality in Maintenance, Vol. 12, No. 3.

84

LAMPIRAN

1. a.

Printscreen Hasil Pencarian Distribusi Data Menggunakan STAT:FIT Pencarian Distribusi Data Penebusan DO Lama

85

b.

Pencarian Distribusi Data Penjualan Lama

c.

Pencarian Distribusi Data Biaya Operasional Lama

86

d.

Pencarian Distribusi Data Biaya Lain-lain Lama

2. a.

Printscreen Hasil Replikasi Simulasi Powersim Replikasi ke-1 simulasi model kebijakan lama

87

b.

Replikasi ke-2 hasil simulasi model kebijakan lama

c.

Replikasi ke-3 hasil simulasi model kebijakan lama

88

d.

Replikasi ke-4 hasil simulasi model kebijakan lama

e.

Replikasi ke-1 hasil simulasi model kebijakan baru

89

f.

Replikasi ke-2 hasil simulasi model kebijakan baru

g.

Replikasi ke-3 hasil simulasi model kebijakan baru

90

h.

Replikasi ke-4 hasil simulasi model kebijakan baru

91

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful