BAB I PENCARIAN KEBENARAN A. Dapatkah Manusia Mencapai Kebenaran?

Pada zaman dahulu orang beranggapan bahwa kebenaran itu tidak bisa dimiliki oleh manusia. Kebenaran adalah milik Tuhan. Namun ada beberapa kelompok yang berbeda pendapat. Kelompok yang berbeda ini ada dua kelompok yaitu kelompok Agnotisisme dan Notisisme. Kelompok Notisisme beranggapan bahwa setiap manusia memiliki keterbatasnya, dan untuk mencapai suatu kebenaran maka kebenaran yang kan didapatkan adalah kebenaran yang relatif. Sedangkan kelompok Agnotisisme menjelaskan bahwa kebenaran yang akan dicapai manusia adalah kebenaran yang absolute dan pasti tidak akan berubah sampai kapanpun. B. Cara Mencari Kebenaran Manusia akan selalu berkembang disaat mekera menyadari bahwa ada sesuatu hal yang tidak diketahui didalam diriny. Hal itulah yang membuat manusia ingin selalu mencari kebenaran dengan kata lain manusia selalu ingin mencari “sesuatu” dan sesuatu inilah yang menjadikan manusia selalu memiliki rasa keingi tahuan untuk mengambangkan ilmu pengetahuan dan untuk mencari sebuah kebenaran. Perkembangan manusia yang menggunakan nalar untuk mencari pengetahuan. Ada beberapa hal yang mendasari bahwa nalar dan ilmu pengetahuan berhubungan untuk menemukan sebuah kebenaran. Secara prinsip, penggunaan kedua hal ini memiliki perbedaan dari beberapa sisi. Pertama, ilmu pengetahuan dikembangkan melalui strukter-struktur teori dan diuji konsistensi internalnya. Hal ini berbeda dengan nalar sehat yang sangat sulit untuk mencari struktur teorinya. Kedua, dalam upaya mengembangkan struktur teori tersebut dalam ilmu pengetahuan, dilakukan tes maupun pengujian empiris, yang dapat dilakukan semua orang. Seandainya dilakukan uji mepiris hasil antara orang yang satu dengan orang yang lainnya berbeda, tergantung kemampuan daya nalar yang bersangkutan. Ketiga, dalam ilmu pengetahuan, pengujian-pengujian dilakukan dengan menggunakan berbagai prasyarat yang berfungsi untuk memberikan kontrol. Keempat, berbeda dengan pengunaan nalar sehat, ilmu pengetahuan menekankan adanya hubungan antara fenomena secara sadra dan sistematis. Pola hubungan yang dilakukan tidak dilakukan secara asal-asalan. Dalam penjelasan sebelumnya dijelaskan bahwa manusia dalam hidupnya selalu berusaha untuk mencari sesuatu yang dianggapbenar yaitu kebenaranitu sendiri. banyak cara yang dilakukan untuk mendapatkan kebenaran dari mulai menggunakan cara yang tidak disengaja (secara kebeltulan) ataupun dengan model yang dapat dipertanggungjawabkan
1

secara ilmiah. Proses pencarian kebenaran dapat dilakukan dengan cara kebetulan, trial dan eror, melalui otoritas, metode problem solving, berpikir kritis berdasarkan pengalaman, melalui penyelidikan ilmiah. Berikut adalah beberapa pamaparan mengenai masing-masing cara. 1. Secara Kebetulan Secara kebetulan bisa juga diartikan bahwa bagaimana kita menemukan sebuah kebenaran atau sebuah ilmu pengetahuan secra tidak sengaja. Contohnya adalah penemuan yang secra tidak sengaja kemudian diteliti secara intensif. Peristiwa seorang ilmuan yang tercengang saat masuk kedalambak mandinya (bathtub) dan melihat air keluar dari bak mandi saat dirinya masuk dan berendam. Peristiwa itu diulangi berkali-kali hingga akhirnya dia bisa menemukan sebuah teori ilmu fisika dan ilmuan itu bernama Archimedes yang secara gemilang menemukan hukum yang sekarang kita kenal dengan hukum Archimedes. 2. Trial dan Eror Model Trial dan Eror adalah model untuk mendaptkan sebuah kebenaran dimana naluri manusia untuk manemukan kebenaran yang belum mengetahuinya. Motode ini bisa juga disebut dengan model spekulasi atau biasa disebut sebagai model untunguntungan karena lebih banyak mengandlakn faktor keberuntngan. Model trial dan eror ini bisa dilakukan dengan cara terus mencoba dan jika melakukan kegagalan maka pengalaman sebelumnya dapat dijadikan sebuah pelajaran. Namun, metode ini hanya bisa dikatakan mengandalkan naluri manusia saja bukan secara ilmiah. Jadi metode ini sebaiknya dihindari. 3. Melalui Otoritas Otoritas dapat dimaknai sebagai kekuasaan atau wewenang. Dalam artian orang yang mempunyai kekuasaan yang bisa mendapatkan sebuah kebenaran atau dapat mengeluarkan sebuah kebenaran. Namun, otoritas ini memiliki kelamahan karena hanya berpihak pada kelompok tertentu yang memiliki otoritas. Dalam artian hanya mementingkan golongan. Sehingga, penentuan kebenaran tidak dapat dipertanggung jawabkan. 4. Metode Problem Solving Metode problem solving yang dikembangkan oleh Karl. Popper pada tahun 1937 merupan variasi moden trial dan eror. Metode ini menunjukkan skema sebagai berikut. P1-TS-EE-P2
2

P1: Problem awal TS : Solusi tentatif - teori yang dicoba ajukan EE : “eror diminution” evaluasi dengan tujuan menemukan dan kesalahan P2 : Situasi baru yang diakibatkan oleh evaluasi kritis atas solusi tentatif terhadap problem awal sehingga timbul problem baru. 5. Berpikir Kritis/ Berdasarkan Pengalaman Contoh dari metode berpikir kritis berdasarkan pengalaman adalah berpikir secara induktif dan deduktif yang diciptakan olrh Francis Bacon. Secara deduktif artinya berpikir dari hal yang umum ke yang khusus, dam berpikir induktif adalah berpikir yang khusus ke umum. Metode deduktif dan induktif merupakan cara berpikir dan bukan metode untuk menganalisis data. 6. Melalui Penyelidikan Ilmiah Bagi kalangan akademis, kebenaran inilah yang dikedepankan, yaitu kebenaran yang didasari pada temuan empiris ilimiah, bukan nebenaran spekulasi tentatif. Kebenaran ilmiah memungkinkan orang untuk melacak dan membuktikan benar atau tidaknya ungkapan teori yang diajukan. C. Kriteria Kebenaran 1. Teori Koherensi Teori koherensi yaitu bahwa suatu pernyataan dianggap bila pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Dalam materi geografi dijelaskan bahwa bumi bulat. Pernyataan ini benar sebab pernyataan terdahulu juga menyebutkan hal yang sama. 2. Teori Korespondensi Tokoh utama teori korespondensi adalah Bertrand Ussel. Dalam teori ini suatu pernyataan dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung berkorespondensi dengan objek yang dituju pernyataan tersebut. 3. Teori Pragmatis Tokoh dari teori pragmatis adalah Charle S. Piere. Pemahaman yang dimunculkan dalam teori ini adalah bahwa kebenaran adalah suatu pernyataan ukur melalui kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsiaonal dalam kehidupan praktis. Secara sederhana dijelaskan bahwa seseuatu itu dianggap benar jika hal itu memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. membuang

3

BAB II KONSEP DASAR PENELITIAN A. Asumsi Ilmu Pengetahuan 1. Klasifikasi Ilmu pengetahuan berasumsi bahwa objek-objek itru dapat diklasifikasikan menurut jenis, bentuk, dan fungsinya. Dengan mengklasifikasikan objek seperti ini, selanjutnya dapat digunakan untuk membandingkan antara objek yang stu dengan objek yang lain. Pengklasifikasian ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan peneliti untuk mengenali objek yang ditelitinya. 2. Tidak Ada yang Berubah Dalam Jangka Waktu Tertentu Biasanya saat melakukan penelitian yang bersifat nonlaboraturium data atau obejk yang akan diteli akan dapat berubah-ubah sehingga menyulitkan peneliti. Oleh karena itu diasumsikan bahwa objek yang akan diteliti tidak akan mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. 3. Determinisme Dalam penelitian dapat diasumsikan bahwa adanya suatu gejala karena adanya sebuah kebetulan, tetapi ada penyebabnya. Dengan demikian, seorang peneliti memahami bahwa munculnya suatu variabletertentu dapat diakibatkan atau justru mengakibatkan munculnya variable lain. B. Karakteristik Suatu Penelitian Proses penelitian harus berdasarkan pada prinsip-prinsip dan cara berpikir yang ilmiah yaitu rasional, sitematis, dan empiris. Menurut Tuckman (1982), karakteristik proses penelitian adalah: Sitematis a. Model Penelitian Kuantitatif 1. Peneutuan Variabel yang akan diuji Penentuan variable akan memudahkan peneliti untuk melakuakn penelitiannya. Namun, sebelum menentukan variable hendaknya peneliti melakukan perhitungan terseebih dahulu mengenai hubungan dari objek sehingga akan memudahkan penelitian. 2. Perumusan Masalah Rumusan masalah merupakan titik tuju aktivitas penelitian sebab rumusan masalah inilah yang hendak diketahui jawabannya. Sehingga, jalan penelitian akan terarah dan fokus terhadap rmusan masalah yang sejak awal telah ditentukan.
4

3. Pelacakan Informasi tentang Penelitian Terdahulu Pelacakan informasi terdahulu ini berfungsi agar pada saat melakukan penelitian tidak ada yang namanya persamaan atau dublikasi tema yang nantinya akan dilanjutkan ke tahap penelitain. 4. Pengajuan Teori yang Akan Digunakan Sebagai Model (Fisikalisasi Teori) Pengajuan teori ini difungsikan sebagai landasan pada saat akan melakukan penelitian. Sehingga nantinya peneliti akan menemukan teori baru yang setidaknya berkaitan dengan landasan teori. Tentu saja teori yang dibangun ini adalah model yang akan digunakan pada saat penelitian secara empiris. 5. Pengajuan Hipotesis Hipotesis dibuat atas landasan teori yang telah diajukan sebelumnya. Selanjutnya hipotesis akan diuji secara empiris untuk membuktikan kebenarannya atau tidak. 6. Penentuan Desain Penelitian Penentuan desain penelitian ini difungsikan agar nantinya peneliti akan memperoleh data yang akurat yang didalamnya terdapat penjelasan desain penelitian yang nantinya akan disampaikan, teknik pengumpulan data teknik sampling dan teknik analisis data serta yang terakhir adalah penarikan kesimpulan. 7. Pengujian Hipotesis yang Diajukan Setelah menentukan hipotesis maka proses selanjunya adalah menguiji hipotesis tersebut. Biasanya penelitian yang menggunakan uji hipotesis dan menggunakan teori adalah penelitian yang bersifat kuantitatif. Namun, tidak selalu bahwa pengujian hipotesis menghasilkan jawaban benar, jika mendapatkan hasil yang salah maka penelitian yang dilakukan dianggap gagal. 8. Penarikan Kesimpulan Berdasarkan Hasil Uji Hipotesis Setelah pengujian hipotesis dilakukan, maka langkah selanjtnya adalah melakukan interpretasi dan membuat kesimpulan berdasarkan pada hasil uji hipotesis yang telah dilakukan. b. Model Penelitian Kualitatif 1. Penentuan Tema Penelitian Tema dalam penelitian kualitatif sangatlah penting. Hal ini dikarenakan tema akan menentukan arah penelitian yang akan kita lakukan selanjtnya. Sehingga diawal penelitian peneliti menerti apa yang harus dilakukan pada saat penelitian sedang berjalan

5

2. Penentuan Fokus Penelitian Peneliti harus menentukan maslah atau tema dari penelitian yang kan dilakukan . Dari fokus penelitian ini kemudian akan diajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. 3. Pelacakan Informasi tentang Penelitian Terdahulu Pelacakan informasi terdahulu adalah yang sama saat melakukan penelitian kualitatif. Namun, fokus dalam pelanacakan informasi ini adalah hal yang sesuai dengan tema. 4. Pengambilan Data dan Reduksi Data Proses pengambilan data dan reduksi data dalam penelitian kualitatif tidak harus menunggu data terkumpul semuanya. Bisa saja pada saat pertemuan pertama dengan subjek peneliti sudah banyak menemukan data. Maka bisa dilakukan reduksi data. Proses ini dilakkan utuk lebih memfokuskan masalah pada apa yang diinginkan. 5. Penerikan Kesimpulan Sesuai Konteks Penelitian kesimpulan pada penelitian kualitatif terbatas pada konteks yang sesuai dengan hal yang ditelitinya. Logis Kareakteristik proses penelitian selanjtnya adalah logis. Langkah-langkah penelitian yang sitematis itu urutannya harus logis pada setiap tahap atau pada setiap bagian sehingga validitas internal secara relatif dapat terpenuhi. Ketidaklogisan pada proses pelaksanaan penelitian terlihat pada data yang diperoleh dan ketidaksesuaian konsep atau teori yang diajukan dengan tema ataupun model penelitian serta proses pengambilan kesimpulan yang keliru. Empiris Rasional Penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti haruslah empiris. Penelitian yang dikatakan empiris adalah penelitian yang dapat diindra oleh manusia dan terjadi dalam kehidupan atau realitas yang nyata. Namun, penelitian tidak hanya dilakukan secara empiris tetapi juga harus rasional. Dimana penelitian yang dilakukan dapat dipahami secara rasional oleh masyarakat luas. Bersifat Reduktif Proses reduksi sebenarnya merupakan bagian usaha untuk menterjemahkan realita menjadi pernyataan yang bersifat konseptual sehingga dapat digunakan untuk memahami hubungan kejadian sesuatu dengan yang lainnya untuk melakukan prediksi bagaimana kejadian itu akan berlangsung. Redukdi data baik itu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif tetap harus dilaksanakan terutama pada pendekatan penelitian kualitatif yang lebih
6

banyak menggunakan model wawancara dan observasi. Dengan dua model pengumpulan data tersebut seorang peneliti kualitatif akan banyak mendapatkan data yang mungkin saja tidak terkait sehingga perlu dilakukan reduksi data. Bersifat Replicable Penelitian itu bersifat ilmiah, maka penelitian itu harus dapat diulangi oleh orang lain. Sehingga dalam pembuatan laporan penelitian harus sistematis dan didalamnya harus terdapat instrumen tertentu yang menjelaskan detail penelitian. Bersifat Transmitable Penelitian harus bersifat transmitable dalam artian hasil penelitian berguna atau dapat dibagi dengan dengan orang lain. Dengan kata lain, penelitian tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga dibuat agar orang lain mengerti tentang keilmuan yang diperoleh dari hasil penelitian. Berencana dan Sesuai dengan Konsep Ilmiah Berencana artinya penelitian sudah dirancang atau disiapkan sebelumnya. Sehingga ketika dilapangan peneliti tidak harus bingung untuk melakukan apa, dan juga penelitoian harus sesuai dengan konsep ilmiah. C. Rangkaian Kegiatan Penelitian 1. Peneliti dihadapkan pada Suatu Kebutuhan atau Tantangan Adanya kebutuhan atau tantangan itu membuat penliti menjadi lebih berfikir untuk melakukan sesuatu sebagai upaya untuk mengatasi tantangan tersebut. 2. Merumuskan Masalah Hasil dari tantangan tersebut haruslah dibuat sebuah rumusan masalah sehingga batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk pemcahan maslah tersebut. Dalam penelitian kualitatif rumasan masalah hendaklah didahului dengan identifikasi masalah. 3. Menetapkan Hipotesis Penetapan hipotesis harus didasari dengan teori teori yang terkait dengan hipotesis yang akan dibuat. Namun, tidak semua penelitian membutuhkan hipotesis. Hanya saja penelitian kuantitatif saja yangbiasanya selalu menggunakan hipotesis. 4. Mengumpulkan Data untuk Uji Hipotesis Dalam menguji hipotesis seorang peneliti harus mengumpulkan data terlebih dahulu. Data yang didapkan harus sesuai dengan hipotesis yang telah kita buat. Sehingga didalam pengujian hasil yang meleset tidak jauh berbeda dengan hipotesis.

7

5. Menarik Kesimpulan Setelah kita melakukan pengumpulan data dan pengujian, maka langkah selanjtnya dalah menarik kesimpulan yang akhirnya membuat penelitian kita menjadi sebuah loenelitian yang ilmiah. D. Jenis-Jenis Penelitain 1. Penelitian menurut bidangnya: administrasi, sejarah, ekonomi, teknologi, pendidikan, psikologi dan seterusnya. 2. Penelitian menurut tempatnya: lapangan dan laboratorium 3. Penelitian menurut tujuan umunya: eksploratif, pengembangan, verifikasi. 4. Penelitian menurut pemakaiannya: penelitian murni dan penelitian terapan 5. Penelitian menurut tarafnya: penelitian deskriptif dan inferensial 6. Penelitian menurut pendekatannya: penelitian cross sectional, longitudinal dan eksperimen. E. Beberapa Pengertian Dasar 1. Konsep Konsep adalah definisi yang ajan digunakanuntuk menggambarkan gejala secara abstrak. 2. Contruc (Konsepsi) Contruc (Konsepsi) adalah konsep yang diciptakan dan digunakan dengan kesengajaan dan kesadaran untuk tujuan-tujuan ilmiah tertentu. 3. Proposisi Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep. Ada dua yaitu aksioma atau posultat yaitu proposisi yang kebenarannya sudah tidak ada lagi dalam penelitian. Dan Teorema yaitu proposisi yang dideduksikan dari aksioma 4. Teori Teori adalah rangkaian asumsi , konsep, konstruk, dan definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep (Kerlinger, 1986). Karakteristik konsep yaitu harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya dan harus cocok dengan fakta-fakta empiris. 5. Logika Ilmiah Logika ilmiah adalah gabungan antara logika deduktif dan induktif yang didalamnya terdapat rasionalisme dan empirisme bersama-sama dalam suatu sistem dengan mekanisme korektif.

8

6. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang diteliti. 7. Variable Variable adalah kontruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang dpelajari dan memiliki variasi nilai. 8. Definisi Operasional Definisi operasional adalah spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur atau memanipulasi suatu variable.

9

BAB III DUA PENDEKATAN PENELITIAN A. Karakteristik Penelitian Kualitatif 1. Bersifat Alamiah Penelitian kualitatif berlangsung secara alamiah yaitu sebagaimana adanya (natural setting). 2. Bersifat Dinamis dan Berkembang Fenomena yang dilihat peneliti adalah dinamis dan terus berkembang oleh karena itu peneliti harus mengikuti subjek dalam kurun waktu yang cukup lama. 3. Fokus Penelitian Dalam penelitian kualitatif, fokus penelitian sering digunakan dengan istilah lainnya adalah rumusan masalah. 4. Bersifat Deskriptif Penelitian kualitatif memiliki sifat penggambaran secara mendalam tentang situasi atau proses yang diteliti. Sehingga, penelitian kualitatif tidak membutuhkan hipotesis. 5. Sasaran Penelitian Berlaku sebagai Subjek Penelitian Subjek penelitian istilahnya adlah informan atau key informan. Dalam hal ini peneliti harus memperlakukan informan sesuai dengan keadaaan yang sebenarnya. 6. Data Penelitian Bersifat Deskriptif Data penelitian kualitatif berupa cerita, penuturan informan, dokumen-dokumen pribadi, seperti foto, catatan pribadi/ diary (buku harian), perilaku, gerak tubuh, mimic dan banyak hal lain yang tidak didominasi oleh angka-angka sebagaimana penelitian kuantitatif. 7. Berfokus pada Proses dan Interaksi Subjek Fokus utama penelitian kualitatif terletak pada proses interaksi dan subjek. Dengan begitu, segala aktivitas gerak, perilaku, sikap, ungkapan verbal ataupun non verbal menjadi fokus peneliti. 8. Subjek Terbatas Sumber data dalam penelitian kualitatif adalah orang-orang yang dianggap tahu dengan fenomena yang diteliti dan dipilih berdasarkan pada kriteria yang disepakati peneliti sendiri sehingga subjeknya terbatas.

10

9. Pemilihan Subjek Dilakukan Secara Purposive Dalam penelitian kualitatif pemilihan subjek secara acak akan dihindari, dan lebih memilih seseorang key person yang dianggap mengetahui semua tentang fenomina yang akan diteliti. 10. Kontak Personal Secara Langsung Kegiatan lapangan merupakan hal utama dalam penelitian kualitatif, dalam proses pengambilan datanya peneliti mengembangan hubungan personal secara langsung dengan subjek. 11. Human Instrumen Pada penelitian kualitatif pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri yang disebut sebagai human instrument atau key instrument. Kemampuan peneliti akan berpengaruh terhadap hasil data. 12. Mengutamakan Data Langsung Penelitian kualitatif seorang peneliti terjun langsung ke lapangan sehingga peneliti akan beruasaha mendapatkan data langsung dari sumber asli, bukan sumber ke dua. 13. Pengumpulan Data dengan Observasi Terlibat Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi secara langsung dan terlibat dalam pros yang sedang dialami oleh subjek penelitian. 14. Hubungan antara Peneliti dengan Informan Terjalin Akrab Interaksi antara peneliti dengan subjek penelitian terjalin akrab dan setara. Jika terjalin hubungan yang akrab dan setara akan lebih mudah bagi peneliti untuk menggali indormasi sebanyak-banyaknya pada informan. 15. Prespektif Holistik Penelitian kualitatif bersifat holistic, meliputi seluruh isi kehidupan subjek yang diteliti, sehingga akan memperoleh pemahaman yang menyeluruh dan utuh. 16. Baerorientasi pada kasus Unik Kasus unik yang dimaksudkan adalah setiap fenomena yang diteliti ada kasus-kasu tertentu yang sifatnya khas dan unik untuk situasi seperti itu. 17. Netralitas Empatik dalam konteks netralitas mengacu pada sikap peneliti terhadap temuan-temuan penelitiannya dan empatik mengacu pada sikap peneliti terhadap subjek penelitiannya. 18. Keabsahan Data Peneliti harus menunjukkan bahwa datnya valid da reliable, dengan cara memilih pihak ketiga untuk memperoleh keabsahan data dan memprjelas hasil penelitian.
11

19. Analisis Data Dilakukan Secara Induktif Analisis induktif dilakukan dengan memulai serangkaian observasi khusus yang kemudian memunculkan tema-tema atau kategori-kategori, serta pola-pola hubungan yang nantinya akan dapat ditemukan kenyataan-kenyataan ganda. 20. Kebenaran Emik Kebenaran emik adalah sisi kebenaran kualitatif yang terletak lebih pada sisi informan. 21. Simpulan Bersifat Subjektif Simpulan analisis bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan sifatnya yang subjektif individual emik. 22. Bersifat Lentur (fleksible) Penelitian kualitatif bersifat lentur dikarenakan proses pengambilan makna berjalan melalui proses yang berkesinambungan dan kumulatif. 23. Pentingnya Makna Terdalam (Depth Meaning) Makna-makna muncul ketika ditemukan berbagai symbol, artefak, perilaku, sikap, ataupun bahasa-bahasa non verbal yang ada disekitar informan yang haris dipahami. 24. Proses Pengumpulan dan Analisis Data Stimultan Pengumpulan data dan analisis data bisa dilakukan secara bersamaan saat pengumpulan data dilakukan, saat itu pula dilakukan analisis data dan reduksi data sehingga data berikutnya akan diketahui. B. Karakteristik Penelitian Kuantitatif 1. Rinci Dalama pembuatan proposal penelitian kuantitatof semuanya harus dijelsakan secara terperinci, luas dan banyak menggunakan literature sebagai pendukung. 2. Penelitian Diorientasikan untuk Melihat Variable, Menguji Teori, dan Mencari Generalisasi Bernilai Positif Penelitian kuantitatif meilihat fenomena berdasarkan pada teori yang dimilikinya, dan orientasi akhir adlah simpulan yang digeneralisasikan secra luas. 3. Desain Spesifik, Jelas, Rinci dan Ditentukan Sejak Awal Desain penelitiannya telah sejak awal dirancang lebih spesifik, memiliki kejelasan arah, dan telah terinci secara jelas sejak awal yang nantinya akan dijadikan pegangan pada saat melakukan penelitian.

12

4. Menggunakan Logika Eksperimen Menggunakan logika eksperimen yaitu dengan cara melakukan manipulasi terhadap variable-variable penelitian yang dapat diukur secara kuantitatif. 5. Mencari Hukum Universal yang Dapat Meliputi Semua Kasus walaupan dengan pengolahan statistik decapai tingkat probabailitas dengan mementingkan sample untuk generalisasi, penlitian kuantitatif berupaya mencari hukum universal yang dapat meliputi semua kasus. 6. Data Berupa Angka Dalam penelitian kuantitatif data yang didapatkan banyak berupa angka. Sehingga untuk melakukan pengukuran validitas dilakukan perhitungan statistika. 7. Subjek Banyak Subjek yang dilakukan pada penelitian kuantitatif jumlahnya harus banyak. Hal ini dikarenakan hasil penelitian kuantitatif harus digeneralisasikan. 8. Menggunakan Alat Pengumpul Data Alat yang digunakan dalam proses pengumpulan data pada penelitian kuantitatif adalah angket, tes, wawancara, quistionare’s guide, chek list dan lain sebaginya. Sebelum disebarkan alat pengumpul data ini terlebih dahulu dilakukan uji instrument. 9. Netralitas dalam Pelaksanaan penelitian proses netralitas ini hanya dengan dilakukan pengamatan yang hanya menaliti gejalagejala yang dapat diamati secara langsung dan mengabaikan apa yang tidak diamati dan diukur dengan instrument yang valid dan reliable. Cara menetukan netralitas adalah dengan cara memfokuskan apa yang sedang diteliti. 10. Bersifat Otomatis Bersifat otomatis yaitu memecah kenyataan dalam bagian bagian yang kecil dan mencari hubungan antar bagian (antar variable). 11. Bersifat Reduksi Proses penelitian kuantitatif didalmnya melakukan penyederhanaan (simplikasi) terhadap kenyataan (reduksi dilakukan dengan cara mengambil salah satu bagian terkecil dari kehidupan subjek) kemudian dilakukan generalisasi. 12. Bersifat Deterministik Peneliti kuantitatif telah melakukan pola deterministik sejak awal terkait dengan variable yang akan ditelitinya.

13

13. Ada Intervensi terhadap Subjek Dalam upaya memperoleh data bagi penelitiannya akan melakukan intervensi terhadap aktivitas subjek dengan harapan akan memunculkan respon yang diharapkan peneliti. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memeberikan perlakuan (treatment), baik berupa pemberian angket, kuisioner, skala ataupaun pengkondisian perilaku. 14. Menguji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan dengan banyak menggunakan formula statistik sedangkan ukuran ataupun kriteria telah ditetapkan sejal awal oleh penliti. 15. Generalisasi Berdasarkan Sample Generalisasi berdasarkan sample lebih kecil daripada populasi dilakukan dengan asumsi gejala yang terjadi pada sample juga terjadi pada populasinya. Berdasarkan atas asumsi inilah, peneliti melakukan generalisasi bukan ats nama sample tetapi generaliasi atas nama populasi. 16. Interaksi Peneliti dengan Subjek Jauh Hubungan peneliti dengan subjek jauh, dalam artian tanpa ada kontak. Hal ini yang menyebabkan hasil penelitian kuantitatif lebih objektif. 17. Analisis Data Setelah Data Terkumpul Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul dengan melakukan uji analisis statistik dengan konsep deduktif. 18. Kebenaran Bersifat Etik Untuk membuktikan benar atau tidaknya penelitianyang dilakukan peneliti akan mengacu pada teori yang digunakannya. C. Keterbatasan Penelitian Kualitatif 1. Kualitas Tergantung Pada Pengalaman Peneliti Dalam penelitian kualitatif telah dijelaskan bahwa peneliti bertindak sebagai instrument penelitian. Bagi peneliti yang masih awal biasanya menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara. Namun, hasil yang didapatkan terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sedangkan peneliti yang sudah memiliki pengalaman melakukan penelitian dengan teknik quisioner’s guide yang sebelumnya telah dirancang. Sehingga jawaban yang didapatkan sesuai dengan apa yang diharpakan.

14

2. Subjektivitas Tinggi Dalam penelitian kualitatif peneliti dan subjek memiliki hubungan yang erat dan terkadang menimbulkan kekhawatiran bahwa data yang didapatkan tidak objektif. Padahal, peneliti biasanya mengatasi hal itu dengan melakukan triangulasi. 3. Perubahan Perilaku Informan Perubahan perilaku informan ini terjadi ketika informan menyadari bahwa dirinya sedang diteliti. Sehingga terkadang jawaban yang didapatkan tidak natural. 4. Waktu Pengumpulan Data Lama Dalam penelitian kualitatif dalam mendapatkan data yang diinginkan peneliti harus memperpanjang masa observasi atau wawancara sehingga nantinya akan mendaptakan kevalidan data. Namun, dengan melakukan penelitain dengan cara memperpanjang masa observasi peneliti sendiri juga merasa bosan. 5. Tidak Ada Prosedur Standar Penelitain kualitatif memiliki sifat yang lentur dan prosedur penelitiannya dapat dibah pada saat melakukan penelitian dilapangan, sehingga penelitian ini tidak ada standar yang ketat. 6. Kesulitan Mandapatkan Informan Kunci Peneliti awal maupun senior terkadang sulit untuk menentukan infoman kunci, hal ini dikarenakan pengamatan yang dilakukan peneliti belum sepenuhnya menjelaskan tentang diri si informan. 7. Interpretasi Beda Antar Peneliti Interpretasi yang dilakukan peneliti mungkin berbeda dengan peneliti yang lainnya. Hal ini dikarenakan kemampuan untuk mengkritisi dan kepekaan terhadap apa yang dimiliki peneliti berbeda. 8. Sulit Mengeneralisasikan (Tidak Dimaksudkan untk Generalisasi) Penlitian kualitatif memiliki pendekatan emik. Bukan pendekatan etik. Sehingga sangat sulit untuk melakukan generalisasi. Namun, format penelitian di Indonesia mengharuskan penelitian kualitatif harus memilki hasil akhir kesimpulan. 9. Sulit Mengabaikan Teori yang Dimiliki Peneliti Salah satu cirri penelitian kualitatif adalah peneliti harus turun langsung kelapangan dengan mengabaikan konsep-konsep teori yang telah ditentukan yang nantinya penelitian kualitatif yang dilakukan sarat bias.

15

10. Keterbatasan Peneliti Penelitian kualitatif mengharapkan kedalaman informasi yang nantinya akan dibuatnya. Sehingga dibutuhkan beberapa subjek. Namun, keterbatasan peneliti tidak akan bisa mengamati perkembangan objek dalah waktu yang bersamaan dan tempat yang berbeda. D. Keterbatasan Penelitian Kuantitatif 1. Lama Proses Perencanaan Proses penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan positivistik cenderung mempersiapkan pelaksanaan secara ketat. Pelaksanaan ini dituangkan kedalam bentuk proposal yang harus dibuat dengan sempurna yang akan memakan waktu lebih lama. 2. Sulit Memperdalam Data Dalam desain penelitian kuantitatif peneliti melakukan penelitian menggunakan anget/ skala/ test. Hasil penelitian hanya terbatas pada hal itu saja. Jika peneliti menemukan hal yang menarik maka peneliti akan kesulitan untuk memperdalam data. 3. Kelemahan Angket/ Skala/ Test a. Responden tidak dapat mengkomunikasikan hal-hal yang penting diluar angket tersebut. b. Peneliti dan responden menjaga jarak. Sehingga interaksi yang terjalin bersifat kaku. c. Ada kecenderungan responden mengisi angket hanya untuk kesenangan peneliti saja. Sehingga terjadi bias data. d. Dalam menjawab angket yang diberikan rsponden cenderung melihat faktorfaktor sosial. Dalam artian menjawab pernyataan dengan melihat jawaban mayoritas bukan atas jawabannya sendiri. e. Dalam menjawab angket terkadang peneliti memberikan obsi lima jawaban. Sehingga responden akan cenderung lebih mengamankan dririnya dengan memilih jawaban atau opsi yang ditengah (central tendency) f. Jika angket berasal dari luar maka peneliti akan melakukan penerjemahan secara berulang-ulang melihat kondisi adat dan budaya lokal. Hal ini akan memakan waktu yang lama dan akan merepotkan peneliti. g. Angket digunakan sebagai instrument penting dalam mendapatkan data. Bagi pemula akan kesulitan membuat angket yang baik. Sehingga kemungkinan data yang didapatkan akan tidak berguna.

16

BAB IV MERENCANAKAN PENELITIAN A. Ktriteria Proposal Penelitian yang Baik Penelitian dimulai dari beberapa tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil penelitian. Hal-hal yang dlakukan saat persiapan adalah proses pemilihan tema, menntukan fokus dan masalah penelitian, merumuskan hipotesis (jika ada), menyusun landasan penelitian dan kajian pustaka, menentukan subjek penelitian, mengumpulkan instrument pengumpulan data, dan menentukan teknik analisis data yang kemudian dituangkan kedalam proposal. Tentang proposan yang baik, Robson (1993) memberi arahan dengan rangkaian kalimat berikut: 1. A good proposal is direct and straight forward 2. A good proposal communicates well 3. A good proposal a well organized B. Komponan Proposal Penelitian Kuantitatif 1. Latar Belakang Penelitian Latar belakang mengungkapkan tentang rasionalisme, mencakup permasalahan. Bisa dimulai dengan menjelaskan tentang variable dependen terlebih dahulu kemudian menghubungkannya dengan variable bebasnya. 2. Identifikasi Masalah Penelitian Mengidentifikasi masalah secara tidak langsung memetakan tema yang akan diteliti dan terkait dengan judul penelitian. 3. Batasan dan Perumusan Masalah Dari semua identifikasi tidak semua dapat dijadikan rumusan masalah, perlu adanya batasan-batasan sehingga penelitian tetap fokus. 4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Setelah menentukan masalah penelitian, peneliti membuat tujuan penelitian yang berhubungan dari rumusan masalah. Kemudian menjelaskan kegunaan penelitian yang dilihat dari sudut akademi (ilmiah) dan sisi praktis bagi lembaga tempat dilaksanakannya peneliti atau lembaga asal peneliti atau juga masyarakat umum. Bentuk tujuan penelitian merujuk pada:   Pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab Hipotesis yang akan diuji sehingga menjadi arah

17

Tujuan penelitian merujuk pada:          Unit yang seharusnya diobservasi Komponen yang harusnya diobservasi Proses pengobservasiannya

Beberapa hal penting tentang tujuannya adalah: Sasaran penelitian yang akan dilaksanakan Mengetahui tentang permasalahan penelitian Akar permaslahan penelitian Faktor yang menjadi penyebabnya Penangannya Tujuan akan mempengaruhi desain

5. Penelitian Terdahulu Dengan mencantumkan pnelitian terdahulu peneliti akan mengetahui posisi dirinya dalam wacana tema yang akan ditelitinya baik sebagai replikasi tema, pembaharuan atau gagasan baru atas rangkaian penelitian yang sama. 6. Landasan Teori Peneliti harus menjelaskan teori-teori yang digunakan untuk landasan penelitian. 7. Perumusan Hipotesis Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis. Penelitian yang akan menguji teori saja yang menggunakan hipotesis. Hipotesis ditulis dalam kalimat berita. 8. Metode Penelitian Menjelaskan tentang subjek penelitian, proses penentuan sample, jumlah sample, cara mengumpulkan data, penyusuna alat ukur/ skala/ instrument/ angket, teknik uji rehabilitas dan validitas alat dan teknik analisis data. C. Komponen Proposal Penelitian Kualitatif 1. Latar Belakang Masalah Mengungkapkan alasan yang rasioanl yang menjadikan tema itu menarik untuk diteliti. 2. Fokus Penelitian Fokus penelitian dalam kualitatif adalah istilah lain rumusan masalah. 3. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan yang dibuat tetap dengan tujuan memfokuskan penelitian yang akan dilakukan. Ada beberapa pertanyaan penelitian, namun fokus tetap satu.
18

4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan dan kegunaan penelitian sama halnya dengan penelitian kuantitatif. 5. Penelitian Terdahulu Prinsipnya untuk mencantukan penelitian yang terdahulu adalah jangan menyatkan penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang belum pernah dilakukan sebelumnya. 6. Konsep Teoritis Istilah lainnya adalah erangka teoritis. teori-teori yang diajukan bukanlah teori-teori mati yang akan dibawanya kedalam seluruh kegiatan penelitian. 7. Metode Penelitian Bagian bahsan yang diteliti dalam metode penelitian adalah subjek (informan), alat pengumpul data dan teknik analisis data. D. Masalah Penelitian 1. Aktualitas Masalah Permasalahan yang diangkat haruslah permasalah yang sedang hangat dibicarakan didunia keilmuan, disarankan tidak memilih permaslahan yang sudah usang. 2. Kemudahan dalam Melaksanakan Dalam melakukan penelitian harus memikirkan tentang kemudahan dalam pelaksanaanya sesuia dengan kemampuan peneliti. Sehingga nantinya hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan peneliti. 3. Ketersediaan Data Peneliti seharusnya sudah memprediksikan terlebih adahulu ketersediaan data yang dibutuhkan pada saat penelitian sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian. 4. Signifikasi Masalah Penting tidaknya sebuah penelitian terlihat dari informasi yang didapatkan dalam penelitian tersebut. 5. Menarik untuk Diteliti (Interested) Menarik untuk diteliti sebenarnya tergantung pada peneliti. Namun, menarik dan tidaknya bisa dilihat dari sifatnya yang khas, unik, serta mengandung peluang untuk dilakukannya diskusi dan pemecahan terhadap masalah yang diteliti.

19

E. Sumber Masalah Penelitian 1. Dari Pengalaman Pengalaman peneliti sangat berpengaruh terhadap penelitian. Hal ini dilihat dari segi setiap peneliti yang menguasai sebuah bidang maka bidang tersebut digunakan sebagai hal untuk melakukan penelitian. Jika, peneliti tidak menguasai bidang yang akan ditelitinya maka akan menyulitkan peneliti itu sendiri. 2. Dari Teori Masalah dari teori muncul karena setiap melakukan penelitian peneliti harus memakai teori-teori yang digunakan sebagai dasar. Sehingga penelitian yang dilakukan tidak asal-asalan. 3. Dari Hasil Penelitian Terdahulu Peneliti diharus membaca hasil penelitian terdahulu. Sehingga peneliti akan mendapatkan banyak masukan mengenai penelitian yang akan dilakukan. F. Perumusan Judul Penelitian Untuk penelitian kuantitatif peneliti harus memuat unsur-unsur sebagai berikut: 1. Sifat penelitian 2. Variable penelitian 3. Subjek penelitian 4. Lokasi penelitian 5. Jenis Penelitian 6. Waktu Penelitian Untuk penulisan judul yang baik sebaiknya: 1. Judul harus mencantumkan topik penelitian 2. Judul harus jelas dan mudah dipahami 3. Judul tidak perlu puitis 4. Judul ditulis singkat 5. Judul ditulis dalam kalimat berita 6. Judul ditulis secara logis 7. Hindari menggunakan singkatan 8. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar G. Perumusan Masalah Penelitian Ada beberapa macam masalah penelitian: 1. Bila peneliti hanya mempermaslahkan satu variable saja maka penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif.
20

2. JIka peneliti ingin membuat dua hubungan, maka diklsifikasikan penelitian korelatif (simetris maupun kaisalitas) 3. Peneliti menekankan perbedaan variable maka, permaslahan termasuk dalam kategori komparatif. H. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tidak berisi tujuan subjektif dari peneliti, melainkan tujuan utama dilaksanakannya penelitian. I. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian juga berisi manfaat peneliti dalam melaksanakan penelitian dan dilihat dari sisi kelembagaan atau bidang ilmu yang ditekuni peneliti. J. Penelitian Terdahulu dan Keaslian Penelitian Mencari penelitian terdahulu dan keaslian penelitian sangat menguntungkan peneliti, karena hal ini akan menghindarkan peneliti dari adanya dublikasi. K. Perumusan Hipotesis Ada beberapa syarat dalam penulisan hipotesis antara lain: 1. Dirumuskan dalam kalimat berita 2. Tidak bermakna ganda 3. Dirumuskan secara operasional

21

BAB V ISTILAH PENELITIAN KUALITATIF A. Studi Kasus Bogdan (1990) mendefinisikan studi kasus sebagai kajian yang rinci atas peristiwa tertentu. Robson (1993) lebih memposisikan studi kasus sebagai strategi untuk melakukan penelitian. Ary (1982) bahwa studi kasus adalah suatu penyelidikan secara intensif terhadap orang-orang tertentu. Ada tipe studi kasus yaitu: 1. Studi Kasus Intrinsik Studi kasus yang menekankan pada pemahaman yang mendalam terhadap kasus tunggal. 2. Studi Kasus Instrumental Menekankan pada kasus tunggal untuk mendeskripsikan atau menguraikan secara detail ataupun memperbaiki teori. 3. Studi Kasus Kolektif Mempelajari kasus secara bersamaan, agar dapat meneliti fenomena, populasi atau kondisi umum. B. Fenomenologi Berasal dari Edmund Husserl yang meyakini objek ilmu itu tidak terbatas pada hal yang empiris saja, tetapi juga yang berasal dari luar yaitu presepsi, pemikiran, kemauan. C. Etnomologi Oleh Harold Garfinkel yang merujuk pada memepelajari perilaku sosial sebagimana adanya yang menekankan pada interaksi secara wajar. D. Etnografi Mendeskripsikan kebudayaan dan aspek-aspek kebudayaan. Etnografi memiliki karakteristik: 1. Menekankan pada penggalian alamiah sosial yang khusus tanpa maksud menguji hipotesis. 2. Cenderung bekerja dengan data terstruktur dan rancangan penelitian bersifat terbuka 3. Peneliti bertindak sebagai instrument 4. Kasus cenderung sedikit dan dikaji secara mendalam 5. Analisis tentang fungsi dan makna perilaku manusia ditafsirkan secara eksplisit dalam bentuk deskripsi dan penjelasan verbal. 6. Tidak menggunakan analisis statistik, namun tidak menolak data yang berupa angka.

22

BAB VI DATA KUALITATIF A. Pengertian Data dan Fakta Data adalah segala keterangan (informasi) mengenai semua hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Fakta adalah ralita atau kenyataan yang tampak dalam bentuk fenomega atau gejala yang merupakan kejadian-kejadian yang khas, informasi gejala tersebut berbentuk abstraksi. B. Berbagai Macam Data Penelitian Kualitatif 1. Catatan Lapangan Merupakan catatan yang ditulis secara rinci, cermat, luas, dan mendalam yang diperoleh peneliti dengan cara wawancara dan observasi. a. Catatan Lapangan Deskriptif Merupakan deskripsi yang sedang diamati oleh peneliti. Catatan deskriptif mencakup bidang-bidang seperti: 1. Gambaran tentang subjek: meliputi penampilan fisik, pakaian, perilaku khas, gaya bicara dan tindaknnya. 2. Rekronstuksi Dialog: upaya mencatat isi percakapan peneliti dan subjek. 3. Deskripsi latar fisik: mencatat bemua benda disekitar subjek dan menggambarkannya dalam bentuk sketsa sebagai latar fisik. 4. Catatan mengenai kejadian-kejadian khusu: deskripsi teantang pihak-pihak yang terkait dalam kejadian, dengn cara bagaiman dan sifat perbuatan tindaknnya. 5. Tingkah laku pengamat: berfungsi menilai adanya pengaruh-pengaruh yang tidak menguntukngkan dalam penelitian. b. Catatan Lapangan Reflektif Catatan lapangan reflektif yaitu catatan yang memiliki unsur intervensi penelti berupa perasaan dan pikiran pengamat yang berfungsi memperjelas data deskriptif. Catatan ini meliputi: 1. Refleksi tentang analisis: catatan berupa tema yang muncul dilapangan, keterkaitan data, pengembangan gagasan, dan pikiran yang muncul. 2. Refleksi tentang metode: memuat tentang bahan mengenai prosedur atau strategi yang digunakan dalam penelitian. 3. Refleksi tentang dilemma etik dan konflik: refleksi yang ditimbulkan dari penelitianya karena peneliti hidup dan tinggal bersama subjek.

23

4. Refleksi tetang kerangka pikiran pengamat: ketika dilapangan peneliti akan membandingkan asumsi yang dimiliknya dengan kenyataan dilapangan. 5. Informasi lain: informasi lain adalah informasi yang mendukung antara subjek ataupun tema penelitian. c. Bentuk Catatan Lapangan Membahan tentang judul atau tema, waktu dan aktivitas terjadi, siapa yang terlibat dalam aktivitas, menjelakan aktivitas yang sedang terjadi, dan tempat kejadian. d. Penulisan Catatan Lapangan Dalam penulisan catatan lapangan memuat beberapa tahapan yaitu segera mencatat informasi yang didapatkan saat melakukan obsevasi lapanga, menunda diskusi tentang hasil amatan sebelum semuanya ditulis secara terperinci, dalam menulis catatan lapangan haruslah dimulai dengan catatan singkat yang memuat hal-hal yang penting, tahapan selanjutnya adalah mengurutkan peristiwa yang terjadi selama penelitian, langkah selanjutnya adalah menuliskan seluruh rangkaian kejadian secara apa adanya, dan tahapan selanjutnya adalah berpikiran bahwa catatan lapangan bukan hasil ahkir penelitian dan perlu diakukan hal lain yang mendukung hasil penelitian. 2. Sumber Data Tertulis dan Rekaman a. Dokumen pribadi: surat pribadi, buku harian dan autobiografi (pemikiran, perasaan ataupun aktivitas subjek). b. Dokumen instansi/ kantor: berfungsi untuk memperoleh kejelasan data tentang arah tujuan organisasi yang bersangkutan. c. Fotografi: foto hasil temuan (foto yang dihasilkan oleh orang lain) dan foto hasil peneliti d. Film: memberikan gambaran yang lebih dinamis tentang subjek yang diteliti. e. Audio Cassette: berisi suara atau hasil wawancara dengan subjek. f. Statistik Kantor 3. Oral History Oral history adalah sejarah lisan yang merupakan catatan peristiwa yang dituturka oleh pelaku sejarah atau orang yang mengetahui seluk beluk sejarah tersebut. 4. Sejarah Hidup Sejarah hidup berhubungan dengan pelaku sejarah, data bisa berupa lisan atau tulisan seperti autobiografi.

24

5. Family Stories Falimy stories ada;ah sejarah sebuah keluarga yang bersangkutan yang dijadikan subjek penelitian. 6. Jurnal Jurnal yang digunakan adalah jurnal yang biasanya dimuat secara berkala dan ditulis oleh para ahli kemudia dipilih yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. 7. Material Culture Material culture adalah sebuah teks tertulis yang dilengkapi dengan symbol-simbol tertentu yang kemudian diwujudkan dalam bentuk barang atau benda ataupun karya manusia. Merupakan bukti diam yang meiliki kekayaan makna tersembunyi.

25

BAB VII VARIABLE dan DATA KUANTITATIF A. Macam-Macam Variable 1. Variable Diskrit Istilah lain dari variable ini adalah variable nominal atau variable katagorik. Artinya pemilihan variable berdasarkan penggolongan atau tidak tumpang tindih antara kategori satu dengan kategori yang lainnya. 2. Variable Kontinum Memiliki beberapa cirri-ciri yaitu, mempunyai cirri bersambung, dapat dibuat klasifikasi berdasarkan kualitas, penggumpulan data menggunakan atal ukur, diperolah dari data ordial, interval dan rasio. Berdasarkan penciriannya, variable kontinum dibagi menjadi tiga bagian yaitu: a. Variable Ordinal: variable yang disusun berdasarkan atas jenjang dalam atribut tertentu atau variable yang menunjukkan jenis-jenis tingkatan. b. Variable Interval: variable yang dihasilkan dari hasil pengukuran. Contohnya jarak Semarang- Yogyakarta 120 km. c. Variable Rasio: variable rasio adalah variable perbandingan. B. Variable Dalam Penelitian Eksperimen 1. Variable Indeendent Istilah lainnya adalah variable stimulus, variable prediktor, variable antecedent, vadiable eksogen dan dalam istilah yang lebih umum adalah variable bebas. Variable bebbas ini merupakan sebab hadirnya variable terkait. 2. Variabele Dependent Istilah lainnya adalah variable output, variable kriteria, variable konsekuen, variable endogen dan dalam istilah yang lebih umum adalah variable terkait. Variable terkait ini adalah variable yang dipengaruhi atau variable yang menjadi akibat karena adanya variable bebas. 3. Variable Moderator Variabl moderator adalah variable yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variable bebas dan variable terkait. 4. Variable Interving Merupakan variable yang secara teoritis mempngaruhi hubungan antara variable bebas dan terkait.

26

5. Variable Kontrol Variable control adalah variable yang sebelumnya telah ditetapkan oleh peneliti sebagai variable perbandingan. 6. Variable Laten Variable laten merupakan bentuk teoritis atau hipotesis utama yang tidak dapat diukur secara langsung. 7. Variable Terukur Variable terukur adalah variable yang datanya harus dicari melalui penelitian lapangan misalnya melaui instrument-instrument penelitian. C. Mendefinisikan Variabe Operasional Definisi operasional merupakan definisi yang lebih operasional tentang variable itu sendiri dan tentu saja bagaimana mengukur variable itu, agar variable lebih spesifik. D. Data Penelitian Kuantitatif 1. Menurut Asalnya a. Data Literer: data yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis, seperti buku, majalah, koran dan tulisan internet. b. Data Dokumenter: data dokumenter tertulis (relief candi), data dokumenter terekam, data dokumenter verbal (norma, budaya, agama), data dokumenter material budaya (senjata, rumah pakaian adat). c. Data Laboratoris: data yang diperoleh dari hasil penelitian laboratorium. d. Data Empiris: data yang diperoleh langsung dari sumber di lapangan. 2. Menurut Pengukurannya a. Data Kuantitatif: data yang didominasi oleh angka (panjang, lebar volume). b. Data Kualitatif: data merujuk pada kualitas objek (istimewa, baik, buruk) 3. Menurut Derajat Sumbernya a. Data Primer: data yang diperoleh dari informan asli. b. Data Sekunder: data yang diperoleh dari sumber ke dua. 4. Menurut Penggolonggannya a. Data Diskrit: data yang ditetapkan atas dasar penggolongan (pria-wanita) b. Data Kontinum: terdiri dari data ordinal (data berdasar pada jenjang), data interval (terdapat satuan pengukuran), data rasio (data memiliki skala prbandingan).

27

BAB VIII SUBJEK PENELITIAN A. Pengertian Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah individu, benda atau organisme yang dijadikan sumber informasi yang dibutuhkan dalam pengumpulan data penelitian. Biasanya lebih dikenal dengan sebutan responden atau informan. B. Penentuan Subjek Penelitian Dalam penelitian kualitatif pemilihan subjek penelitain dapat menggunakan criterionbased selection (Muhajir, 1993). Selain itu dalam menentukan informasn dapat juga digunakan snowball sampling. C. Populasi dan Sample Cara populasi dilakukan apabila pengambilan subjek penelitian meliputi keseluruhan populasi yang ada. Cara sample adalah mengambil sebagian dari populasi yang ada. D. Ukuran Sample Penelitian 1. Unit Analisis: sautuan subjek yang dijadikan populasi penelitian (guru, siswa) 2. Pendekatan atau Model Penelitian: dalam penelitian kualitatif subjek yang dijadikan informan sedikit, dan pada penelitian kuantitatif subjek yang dijadikan penelitian banyak. 3. Banyaknya Karakteristik Khusus (Ciri Utama) Populasi: semakin banyak karakteristik khusus (ciri utama) populasi maka semakin banyak pula informannya. 4. Keterbatasan Peneliti: keterbatasan peneliti harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah sample ataupun populasinya. 5. Teknik Sampling a. Cluster Sampling (Sampling Kelompok): teknik ini digunakan apabila dalam meneliti terdapat kelompok-kolompok yang memliki cirri-ciri sendiri. b. Stratified Sampling: teknik bertingkat ini digunakan apabila terdapat kelompokkelompok subjek yang diteliti memiliki tingkatan. c. Purposive Sampling: teknik pengambilan sampling yang digunakan peneliti jika memiliki pertimbangan pertimbangan tertentu dalam pengambilan subjek. d. Area Sampling: berhubungan dengan penelitian yang mempertimbangkan wilayah-wilayah tertentu. e. Duble sampling: mengharuskan peneliti mengambil sejumlah dua kali ukuran sample yang ditentukan (peneliti mengambi 50 sample maka harus jadi 100 sample).
28

f. Quota Sampling: digunakan jika peneliti ingin terlebih dahulu menentukan sample penelitiannya karena keterbatasan quota. g. Incidental Sampling: aplikasinya dalah peneliti menganalisis unit analisisnya kemudian membagikan skala, angket kepada subjek. Setelah mendapat jawaban tersebut batu ditentukan samplenya. h. Propotional Sampling: teknik pengambilan sample yaitu berdasarkan pertimbangan jumlah masing-masing kelompok subjek. i. Random Sampling: pengambilan secara acak (sampling acak sederhana, sampling acak beraturan, sampling acak dengan bilangan random). j. Snow Ball Sampling: jumblah subejk yang awlanya ditentukan sedikit maka lama kelamaan akan bertambah banyak. k. Multi Stage Sampling: teknik ini merupakan gabungan dari beberapa teknik pengambilan sample. Hal ini digunakan karena untuk menentukan pengelompokan berdasarkan kroteria sulit sehingga dilakukan teknik ini.

29

BAB IX ALAT PENGUMPUL DATA A. Mengenal Alat Pengumpul Data 1. Angket: daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan. a. Angket Tertutup:yaitu angket yang disajikan dengan serangkaian alternatif sedangkan responden hanya memberikan tanda silang, melingkar maupaun mencentang pad jawabn yang sesuai dengan dirinya. b. Angket Terbuka: responden disajikan berbagai pernyataan yang nantinya akan dijawab sesuai dengan dri responden. c. Angket Campuran: adalah gabungan antara angket terbuka dengan angket tertutup. 2. Daftar Cocok (Check List): daftar cocok yang cara menjawabnya dicentang maupaun disilang sesuai dengan perintah yang diajukan. 3. Skala (Scale): bentuk pernyataanya saama dengan angket tertutup. Namun, pilihan jawabannya merupakan perjenjangan. Biasanya menggunakan 5 alternatif yaitu sangat setuju, setuju, ragi-ragu, tidak setuju dan sanagt tidak setuju. B. Teknik Observasi Observasi merupakan proses pencatatan fenomena yang dilakukan secara sitematis. Beberapa keunggulan teknik ini menurut Guba & Lincon (1991) adalah: 1. Teknik pengamatan ini didasarkan pada pengalaman secara langsung. 2. Teknik ini juga memungkinkan untuk melihat, mengamati dan kemudian mencatan hal apa saja yang termasuk dalam keadaan sebenarnya. 3. Kemungkinan dalam pengamatan mendapatkan sebuah peristiwa dalam situasi yang berkaitan pengetahuan langsung yang diperoleh dari data. 4. Terkadang penliti merasa ragu-ragu sehingga diadakan penelitian ulang. 5. Pengamatan mengungkinkan peneliti mengerti stuasi-situasi yang rumit. 6. Dalam kasus tettentu pengamatan bisa menjadi hal yang sangat bermanfaat. Jehoda dkk. (1958) memberi batasan keilmiahan teknik ini. Selama masih menggunakan kaidah, teknik ini dianggap ilmiah yaitu: 1. Mengapdi pada tujuanpada tujuan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. 2. Direncanakan secra sistematis bukan secara tidak terukur. 3. Dicatat dan dihubungkan dengan proporsi-proporsi yang lebih umum, tidak hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu belaka.
30

4. Dapat dicek dan dikontrol valditas dan reliabilitas ketelitiannya sebagaimana data ilmiahnya. Dalam melaksanakan observasi harus diperhatikan beberapa hal: 1. Mencari selengkap lengkapnya tentang hal-hal yang ingin diobservasi. 2. Pahami tujuan umum dan tujuan khusus penelitian yang sedang dilakukan, focus penelitian, pertanyaan-pertanyaan penelitian beru kemudian ditentukan materi atau objek yang hendak diobservasi. 3. Batasi ruang lingkup serta materi atau objek yang akan diobservasi sehingga tidak melebar. 4. Mencatat hasil observasi sedetail mungkin. 5. Transipkan segera hasil rekaman. Ada beberapa pola dalam observasi yaitu: 1. Pengamatan secara lengkap: pengemat menjadi anggota masyarakat yang diamati secara penuh. 2. Pemeran Serta Sebagai Pengamat: peneliti tidak sepenuhnya menjadi pemeran hal ini dikarenakan peneliti harus melakukan pengamatan yang lainnya. 3. Pengamatan Sebagai Pemeran Serta: peranan pengamat telah se[enuhnya diketahui oleh subjek bahkan didukung oleh subjek. 4. Pengamatan Penuh: dalam proses ini peneliti bebas mengamati semua aktivitas dan semua gerak gerik subjek tanpa diketahui oleh subje. Sehingga peneliti perlu menjaga jarak dengan subjek. C. Teknik Wawancara Model wawancara dapat yang dapat dilakukan meliputi wawancara tak berencana yang berfokus dan wawancara sambil lalu. Wawancara tak berencana berfokus ad;ah pertanyaan yang diajukan tidak secara terstruktur, namun selalu berpusat pada pokok permasalahan tertentu. Wawancara sambil lalu adlah wawancara yang dituju pada orangorang yang dipilih tanpa memalui seleksi terlebih dahulu secara teliti, tetapi dijumpai secara kebetulan (Koentjaraningrat, 1986; Danandjaja, 1988). 1. Etika Wawancara: memberi tahu topic penelitian, melindungi identitas subjek (informan), menghormati hal-hal yang dianggap “Tabu”, memahami bahasa dan budaya informan, gunakan penerjemah (interpreter), informan sebagai pemandu peneliti, memperhatikan penampilan diri, tidak menjelaskan secara detail kepada informan tentang topic penelitian dan keinginan peneliti, tidak mengalihkan focus

31

pembicaraan, harus bersikap netral, memposisikan informan sebagai yang paling tahu, dan ikuti pandangan dan pemikiran informan. 2. Jenis Wawancara: wawancara terstruktur (peneliti menyipakan terlebih dahulu bahan pertanyaan), wawancara tidak terstruktur (bisanya dalam penelitian kualitatif), wawancara kelompok (pertanyaan diajukan secra simultan antara oleh indivu yag telah dipilih dalam suatu kelompok), wawancara bergender (pengelompokkan berdasarkan status peran ex. pria dan wanita), wawancara berbingkai (wawancara dengan cara membuat bingkai terlebih dahulu kerarah topic pembicaraan), wawancara interpreting (menginpretasikan kembali apa yang diucapkan oleh informasn nauman tidak mengubah informasi asli). D. Focus Group Discussion Focus Group Discussion adalah diskusi kelompok terfokus. Tujuannya adalah mendapatkan informasi sebanyak banyaknya tentang satu tema yang menjadi focus penelitian. 1. Pedahuluan a. Mengucapkan terima kasih pada peserta yang hadir b. Memperkenalkan diri kemudian memperkenalkan semua peserta c. Menginagtkan peserta tetang pentingnya peran masing-masing individu 2. Pelaksanaan Kegiatan a. Memulai dengan mengungkapkan tema diskusi b. Menyampaikan agar peserta tertarik memberikan saran dan komentar c. Menyampaikan perbolehan jika terjadi perbedaan pendapat d. Setiap peserta boleh menyampaikan pendapat tanpa harus menunggu giliran e. Ada kemungkinan topic diskusi akan berkembang ke topic utama f. Setelah satu topic selesai dibahas maka akan membahas topic selanjutnya 3. Materi Diskusi Bagian pertama membicarakan tentang: a. Masalah yang timbul b. Penyebab timbulnya masalah c. Presepsi masyarakat tentang timbulnya masalah tersebut d. Akibat maslah tersebut

32

4. Penutup Diskusi Menyamppaikan hasil ringkasan diskusi dan hal-hal yang penting. Masih memperbolehkan jia masih ada peserta yang ingin berpendapat. Menyampaikan terimakasih pada peserta yang sudah mau hadir dan berpartisipasi. E. Human Instrument Dalam penelitian kualitatif biasa dikenal istilah human instrument yaitu peneliti bertidak langsung selaku instrument penelitian. Kelemahannya adalah peneliti tidak bisa berada dalam situasi yang berbeda.

33

BAB X MENGEMBANGKAN INSTRUMEN A. Proses Pengembangan Instrumen Fernandes (1994) mengajukan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh seorang pmbuat instrument meliputi, specification of purpose, translating the purpose in operational terms, formulating the objectives in behavioral terms, test blue print, intem format and item writing revision, item try out and analysis, assembly of final test, standardization administration for norms, directions, time limit, scoring, attributes of test score reability, validity norms. Mengacu pada paparan sebelumnya tahapan proses pengembangan isntrumen secara singkat yaitu: 1. Pendefinisian Alat Ukur: merumuskan tujuan digunakannya alat ukur (eksploratif, konseling, diagnostik), juga mengenali ranah yang diukur, dasar konseptual teoritis yang digunakan, dan subjek yang dikenai instrument. 2. Memilih Model Skala yang Digunakan: Murphy dan Davidshofer (1991), ada tiga model skala yang bisa digunakan yaitu, penskalaan rasional, penskalaan empiris, dan skala analisis factor. 3. Menuliskan Pernyataan atau Pertanyaan: Murphy dan Davidshofer (1991) menuliskan ada 3 rambu dalam menuliskan pertanyaan atau pernyataan yaitu, panjangnya butir pernyataan (tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek), penggunaan kosakata dalam penulisan butir pernyataan, jenis kelamin, rasa tau bahasa yang kasar. 4. Uji Coba Instrument: tujuan uji coba instrument yaitu, mengidentifikasikan soalsoal yang lemah, mengidentifikasikan taraf kesukaran soal, mengindentifikasikan kemampuan daya beda soal, menentukan lamanya waktu mengerjakan soal-soal tersebut, untuk menghindari adanya bias dala setiap soal. 5. Analisis Butir Soal: beberapa informasi yang didapatkan dari analisis butir soal adalah, tingkat validitas butir soal, tingkat reabilitas, tingkat kesukaran butir soal, ICC (grafik menggambarkan hubungan antara peluang jawaban), indeks diskriminasi soal (kemampuan soal dalam membedakan anatara orang yang memiliki skor pada kelompok atas dan pada kelompok bawah), tingkat keberfungsian pengecoh. 6. Revisi Butir Pernyataan: tujuan revisi ini adalah, mengidentifikasikan butir soal yang dianggap kurang dan apa yang dapat seharusnya diukur (lemah), mendeteksi dan memperbaiki soal yang lemah tersebut, membuang soal yang dianggap tidak

34

memenuhi persyaratan, membuang soal yang memiliki kesulitan tinggi atapun rendah, mengganti pengecoh yang kurang berfungsi atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. 7. Pemberian Norma: pedoman untuk menuliskan norma yaitu, karakteristik yang ditentukan instrument haruslah berurutan, instrument mencerminkan definisi operasional, sebaran pertanyaan dari rendah ke tinggi, kelompok yang digunakan sebagau dasar penyusunan statistik deskriptif harusnya sesuai dengan deskriptif dan tujuannya, data hendaknya tersedia untuk kelompok. 8. Pemberian Skor: menentukan penggunaan skor apakah skor mentah, skor persentil, ataupun skor baku. 9. Standarisasi Instrumen: tujuannya adalah mengeleminasi sebanyak mungkin hadirnya variable luar yang mempengaruhi penampilan instrument. 10. Publikasi Instrumen: ada beberpa hal yang dilakukan oleh pengembang instrument yaitu, menggunakan subjek tersebut pada subjek yang berbeda, mencatat hasil kegiatan pada butir, tentang validitas, reabilitas, subjek, jumlah peserta dan kapan hal tersebut dilakukan. B. Adaptasi Instrumen Dari Luar Negeri 1. Ekuivalensi Translasi: model ekuivalensi translasi dapat dilakukan dengan cara, menerjemahkan instrument secara tepat satu kata memiliki satu terjemahan yang tepat dalam bahasa local, kemudian dari terjemahan tersebut kembali dilakukan terjemahan ulang kedalam bahasa asli isntrumen tersebut, seandainya hasilnya tetap sama msks kesalahan dalam menerjemahkan ataupun ada satu kata dalam instrument awal yang memiliki makna ganda dalam bahasa local akan menyebabkan rendahnya validitas instrument tersebut. 2. Ekuivalensi Konsep: penggunaan bahasa ataupun kata kata dalam budaya barat agar bisa digunakan oleh peneliti di Indonesia peneliti harus mengartikan bhasa tersebut agar nantinya intrumen dapat diterima karena sesuai dengan kultur dan budaya masyarakat Indonesia. 3. Ekuivalensi Matrik: yaitu kesetaraan pengukuran yang digunakan. Hal ini dilakukan kaitannya dengan skala pengukuran yang biasa digunakan oleh budaya setempat.

35

BAB XII KESAHIHAN DAN KETERANDALAN A. Validitas Alat Ukur Kuantitatif 1. Pengertian Validitas Pengertian valid dapat dilihat dari dua segi. Pertama, bila dalam menyusun suatu instrument penusun berusaha menyusun soal-soal yang logis diperkirakan dapat mengukur apa yang mau diukur, hal ini baik didapatkan dari pikiran sendiri atau pertukaran pikiran dengan orang lain atau para ahli maka hal yang didapatkan bisa dikatakan content validity. Dalam artian isiny diperkirakan sesuai dengan apa yang seharusnya diukur. Kedua, adlah bila instrument yang digunakan telah dibandingkan dengan instrument yang sebelumnya telah digunakan maka hasilnya bisa dikatakan empiral validity, yang artinya intrumen tersebut telah dianggap valid. Konsep valid sebuah instrument pada akhirnya akan juga menentukan valid tidaknya data yang diperoleh oleh peneliti, akan merujuk setidaknya pada ketepatan alat yang nantinya akan digunakan oleh peneliti. Dalam bidang psikologi ada tiga konsep validitas yaitu: a. Validitas Penelitian: bermakna adanya kesesuaian hasil-hasil simpulan sebuah penelitian dengan kondisi nyatanya dilapangan. Validitas ini mencakup dua sisi yaitu validitas internal (menyangkut kesesuaian hasil penelitian dengan kondisi sebenarnya) dan validitas eksternal (kesesuaian generalisasi hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya). b. Validitas Item (Butir Soal): tingkat korelasi antara skor buti soal (item) dengan skor total (seluruh). c. Validitas Test: merujuk pada kemampuan alat ukur untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk mengetahui kemapuan alat ukur bisa dilihat dari: 1. Validitas Isi: merujuk pada sejauh mana isi sebuah tes/ skala/ instrument mngukur apa yang seharusnya diukur. Sebagai contoh mengukur motivasi. 2. Validitas Konstruk: mengacu pada teori yang digunakan oleh seorang peneliti, bukan banyaknya pendapat para ahli tentang atribut atau variable yang akan diteliti. Untuk mengetahui validitas konstruk sebuah skala dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu analisis factor (teknik untuk menganalisis pola interkorelasi diantara banyak variable yang memisahkan dimensi-dimensi untuk memisahkan pola tersebut), dan analisis multi traid multi method (digunakan untuk menentukan valid tidaknya suatu instrument tertentu yang telah dibuat oleh peneliti), selanjutnya adalah criterion related validity (dilakukan dengan cara membandingkan
36

berdasarkan criteria, caranya dapat menggunakan angka determinan yang merupakan kuadrat hasil korelasi antara dua perangkat alat ukur). B. Menghitung Validitas Formula yang digunakan adalah sebagai berikut:
∑ ( ̅) ̅

√∑ Keterangan:

̅

̅

̅

= skor responden ke-j pada butir pertanyaan i = rata-rata skor butir pertanyaan i = total skor seluryh pertanyaan untuk responden ke-j = rata-rata total skor = kolerasi antara butir pertanyaan ke-I dengan total skor

C. Harga Validitas yang Diterima Biasanya harga validitas ditunjukan dengan besarnya harga korelasi. Umumnya satu item dinyatakan valid jika memiliki harha diatas 3.0. meskipun demikian, ada juga pakar yang menyatakan bahwa harga validitas item dapat sebesar 0,25. Kedua harga ini dapat saja digunakan sebagai patokan untuk menyatakan valid tidaknya satu item tertentu. D. Reabilitas Alat Ukur Kuantitatif 1. Pengertian Reabilitas Reabilitas adalah tingkat kejekan saat digunakan kapan dan oleh siapa saja sehingga akan cenderung menghasilkan data yang sama atau hamper sama dengan sebelumnya. 2. Faktor yang Mempengaruhi Reabilitas a. Kondisi yang terkait dengan alat ukur: bisa berupa panjang tes dan kualitas butir soalnya. b. Kondisi yang terkait Testee: bagaimana peneliti mengambil subjek sebagai sample penelitiannya. Jika subjek yang diambil memiliki tingkat heterogen yang tinggi cenderung akan menghasilkan reabilitas yang tinggi dibandingkan jika diujicobakan pada kelompok tertentu yang homogeny. c. Kondisi yang berhubungan dengan penyelenggara tes: proses penyelenggaraan tes bersifat administratif akan banyak mempengaruhihasil tes. Beberapa hal diantaranya adalah ada atau tidaknya petunjuk mengerjakan tes, pengawasan yang tertib dan teratur dan lingkungan tenpat tes.

37

3. Mode Estimasi Reliabilitas Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa reabilitas sekaligus juga menunjukkan derajat kesalahan pengukuran tak dapat ditentukan secra pasti, melainkan hanya dapat diestimasi. Untuk mengestimasi reabilitas dapat digunakan tiga pendekatan yaitu: a. Test-Retest Reability: metode ini digunakan untuk menilai konsistensi pengukuran yang dilakukan antar waktu yang berbeda, namun masih ada jeda waktu pengukuran. Jadi diharuskan melakukan dua kali pengukuran. b. Parallel-Forms Reability: mengharuskan menggunakan dua alat ukur yang memenuhi unsure pararel. Pararel bermakna bahwa kedua alat tersebut memiliki kesamaan dalam tingkat penyekoran daya diskriminan, jumlah item, dan lain-lain. c. Single Trial Administration: metode ini mengunakan seperangkat tes kepada sekelompok subjek sebanyak satu kali kemudian akan menghasilkan informasi tentang tingkat konsistensi internal alat ukur. Beberapa metode eksistensi internal adalah: 1. Split Half Method (Belah Dua): pembelaha soal skor ganjil genap (menggolongkan ganjil dalam satu kelompok dan genap dalam satu kelompok sendiri), pembelahan skor soal awal akhir. 2. Metode Rumus Flanagan: membelah alat ukur tes menjadi dua bagian yang sama. 3. Metode Rulon: mengembangkan formula reabilitas sederhana, yakni saat intrumen dibagi dalam dua bagian genap ganji, jika terjadi perbedaan diantara skor-skor tersebut dapat diindikasikan adanya kesalahan pengukuran. 4. Teknik KR20: yang dikembangkan oleh Kuder dan Richrdson mengembangkan titik reabilitasnya berdasarkan pada statistik butir soal. 5. Teknik KR21: pengembangan dari teknik KR20 6. Metode Analisis Varians: beberapa langkah untuk menentukan harga reabilitasnya adalah, mencari jumlah kuadrat testee, mencari jumlah kuadrat item, mencari jumlah kuadrat total, mencari jumlah kuadrat residu, mencari varian testee dan varian residu dengan melihat tabel anava, menghitung harga reabilitas. E. Keabsahan Data Kualitatif Salah satu syarat bagi analisis data adalah dimilikinya data yang valid dan reliable. Dengan mengacu asa Moleong (1994), untu membuktikan validitas data ditentukan oleh kredibilitas temuan dan interpretasinya dengan mengupayakan temuan dan penafsiran yang dilakukan sesuai dengan kondisi yang senyatanya dan disetuji oleh subjek penelitian. Cara yang digunakan antara lain, memperpanjang obsevasi, pengamatan yang teru neberus,
38

triangulasi, membicarakan hasil temuan dengan orang lain, menganalisis kasus negative, menggunakan bahan refrensi. Dalam penelitian kualitatif juga dikenal dengan data jenuh yaitu pada saat memperpanjang waktu penelitian informan tetap mengeluarkan jawaban yang sama pada saat itu juga penelitian bisa dihentikan.

39

BAB XII ANALISIS DATA KUALITATIF A. Pengelolaan Data Dalam penelitian kualitatif melibatkan banyak data verbal. Jumlah data kualitatif yang banyak itu perlu diperkecil dan dikelompokkan dalam kategori-kategori yang ada. Mengingat proses analisisnya terkadang tidak langsung dilakukan pada data tersebut, maka perlu dilakukan proses penyimpanan dan suatu saat diharapkan data tersebut dapat dikonstruksikan dengan baik sesuai dengan tema yang dianalisis. B. Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman Huberman dan Miles mengajukan model analisis data yang disebutnya sebagai model interaktif. Model interaktif ini terdiri dari tiga hal utama yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Proses analisis interaktif ini merupakan proses siklus dan interaktif. Artinya peneliti harus siap bergerak diantara empat sumbu kumparan itu yaitu: 1. Pengumpulan Data: dalam penelitian kualitatif banyak sekali data yang akan didapatkan dari hasil penelitian tidak hanya dalam bentuk kata-kata melainkan bisa dari dokumen pribadi, foto, pengalaman pribadi jurnal, sejarah hidup dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti bisa menjadi partisipan observarian, dalam artian peneliti terlibat langsung dalam proses pengambilan data dilapangan. Untuk wawancara dengan informan kunci peneliti harus mengajukan pertanyaan yang mengcakup 5W+1H yang dikembangkan secara lebih detail. Beberapa hal yang mungkin dapat dijadikan pedoman saat pengambilan data yaitu, focus pada objek penelitian (melakukan penyempitan lingkup pengumpulan data), tentukan jenis penelitian (apakah merupakan kasus organisasi, studi pengamatan atau riwayat hidup), membuat pertanyaan analitis (pertanyaan yang dapat menghantarkan peneliti kepada suatu konsep yang menjadi dasar masing-masing suatu kajian), memulai dari yang makro (dalam proses penelitian nantinya harus dimulai dari hal yang makro kemudian menuju hal yang lebih mikro), mengomentari gagasan (dalam penelitian gagasan yang muncul bisa dikomentari oleh peneliti), memo untuk diri sendiri (menulis memo untuk diri sendiri tentang hal-hal yang telah ditemukan dan dipelajari). 2. Tahap Reduksi Data : Tahap Reduksi data bisa diartikan sebagai sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan informasi data kasar yang muncul pada catatan-catatan yang tertulisa dari lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus menerus sejalan dengan penelitian yang sedang
40

berlangsung. Dalam penelitian kualitatif meskikun data masih tergolong sedikit harus segera dilakukan reduksi data agar memudahkan peneliti dalam mengelompokkan data sesuai dengan topic penelitian. 3. Display Data Display data bisa dikatakan sebagai proses penyampaian data. Miles dan Huberman (1992) menyatakan bahwa penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersususn memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pegambilan tindakan. 4. Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan Bisa juga diartikan sebagai penarikan arti terhadap data yang telah ditampilkan. Pemberian ini akan memberikan interpretasi bagi peneliti dalam prose penarikan kesimpulannya. Miles dan Huberman (1992) menyatakan bahwa dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteratoran, pola-pola penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin ada, alur sebab akibat dan proposisi. C. Analisis Maju Bertahap James Spradley Spradley (1990) mengajukan model lain dalam penelitian kualitatif, yang disebutnya dengan analisis maju bertahap yang terdiri dari, analisis domain, analisis taksonomi, dan analisis kompensional. Analisis ini dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Hal yang menarik dalam penelitian adalah observasi terlibat, wawancara mendalam, dan analisis data yang dilakukan secara maju dan bertahap. Dengan mengajukan model yang digunakan oleh Spradley focus pengamatan dilakukan terhadap tiga komponan utama yaitu, ruang (tempat), actor (pelaku), dan aktivitas (kegiatan). Adapun yang masuk dalam analisis kegiatan a=yaitu analisisi domain, analisis taksonomi, dan analisis komponensial. D. Analisis Domain Analisis domain adalah suatu kategori pengertian budaya yang memasukkan kategorikategori yang lebih kecil lainnya. Domain-domain budaya dibentuk oleh tiga unsure yaitu: 1. Cover Term Merupakan istilah atau perilaku terselubung yang melekat pada subjek penelitian. Contoh bapak adalah laki-laki dari suami yang melahirkan saya. Istilah bapak yang umum digunakan di Indonesia bukan berarti sama maknanya dengan konteks diatas. 2. Included Term Includen term (istilah/ bagian perilaku), yaitu nama untuk seluruh kategori kecil yang telah tercakup dalam domain. Misalnya dosen senior, mahasiswa berprestasi.
41

3. Semantic Relationship Merupakan penghubunga antara cover term dan included term. Domain utama ditentukan oleh tiga jenis cover term dan included term, yaitu sebagai berikut: a. Folk domain (domain peserta), terdiri atas istilah-istilah yang berasal dari orangorang pada situasi social yang sedang diteliti. b. Analitic domain (domain analitis), terdiri atas bahasa peneliti berdasarkan gagasan yang disimpulkan melalui pengamatan tentang apa yang dilakukan dan dikatakan orang-orang dan berkaitan dengan barang-barang yang digunakan. c. Mixed domain (domain campuran), terdiri atas istilah peserta dan analitis yang digunakan secara umum. E. Langkah Analitis Domain 1. Pilih salah satu hubungan simantik. Ada 9 hubungan simantik dalam rentang budaya yang luas yaitu, termasuk, spasial/bagian, sebab-akibat, rasional/alasan, lokasi untuk tindakan, fungsi, alat-tujuan, uruta, memberi atribut/cirri-ciri. 2. Siapkan lembar analisis domain pertama. 3. Pilih satu sample catatan lapangan, dari catatan lapangan yang dibuat terakhir. 4. Cari kemungkinan cover term dan included term yang sesuai dengan hubungan semantic dari sample catatan lapangan dan tuliskan domain domain yang ditentukan pada lembar analisis domain kedua. 5. Ulangi usaha pencarian domain yang ditemukan. F. Analisis Taksonomi Analisis taksonomi digunakan untuk memperjelas istilah atau bagian perilaku dalam domain khusus serta untuk menemukan bila dan bagaiamanakan istilah/perilaku tersebut secara sistematis dihubung-hubungkan atau diorganisasikan. Langkah untuk melakukan pengamatan terfokus adalah: 1. Membuat daftar domain yang terpilih secara tentative untu pengamatan terfokus. 2. Menuliskan pertanyaan-pertanyaan structural yang berkaitan dengan domain tersebut. 3. Menemukan tempat untuk melakukan pengamatan terfokus. 4. Mengidentifikasi kegiatan ditempat peneliti berpartisipasi. 5. Melakukan observasi terfokus dan membuat catatan lapangan. G. Langkah Analisis Taksonomi 1. Pilih satu domain terlebih dahulu untuk dianalisis. 2. Cari kesamaan atas dasar hubungan semantic yang sama, yang digunakan untuk domain terpilih.
42

3. Cari tanbah istilah bagian. 4. Caro domain yang lebih besar dan lebih inklusif, barangkali dapat dimasukkan sebagai subdomain yang sedang dianalisis. 5. Bentuk taksonomi sederhana. 6. Adakah pengamatan terfokus yang mengecek analisis yang telah dilakukan. 7. Bangun taksonomi secara lengkap. H. Analisis Komponensial Analisis komponensial adalah pencarian secra sistematis atribut-atribut yang berhubungan dengan kategori budaya, yakni dengan mengkobtraskan antar elemen dalam domain yang diperoleh dari hasil pengamatan terseleksi dan wawancara kontras. Pada bagian pembahsan tentang wawancara telah diungkap adanya dua model pertanyaan kontras yaitu: pertanyaan kontras dyadic, yaitu pertanyan yang membandingkan dua anggota dari suatu domain dengan menanyakan,”dengan cara bagian dua hal tersebut berbeda?”. Pertanyaan kontras triadic yaitu pertanyaan yang menggunakan tiga istilah atau kategori dalam waktu yang sama dan menanyakan,” dua manakah yang sama, namuan berbeda dengan yang ketiga?”. Pertanyaan kontras dengan katu pemisah, yaitu pertanyaan yang digunakan untuk lebih mempermudah melihat perbedaan yang ada diantara kategori-kategori budaya. I. Langkah Analisis Komponensial 1. Memilih dan menentukan domain yang dianalisis. 2. Menginventearisasi seluruh kontras (beda) yang ditemukan. 3. Menyiapkan dan membuat lembar paradigmatic. 4. Mengidentifikasi dimensi kontras yang memiliki dua nilai. 5. Menggabungkan dimensi kontras yang saling berkaitan. 6. Menyiapkan pertanyaan kontras untuk cirri yang tidak ada. 7. Mengadakan observasi yang selektif untuk menemukan informasi yang hilang. 8. Menyiapkan lembar peradigma yang lengkap. J. Tema Budaya Tema budaya adalah prinsip yang terdapat dalam sejumlah domain yang berfungsi sebagai hubungan antar-subsistem dari pengertian budaya. Adapun atas tema itu sendiri, ada yang secra eksplisit tampak, namun adapula yang implisit. K. Langkah Ketentuan Tema Budaya 1. Bergaul dengan masyarakat dalam proses penelitian berlangsung. 2. Menganalisis istilah istilah tersembunyi. 3. Melakukan pencarian domain yang lebih luas.
43

4. Menguji dimensi-dimensi yang kontras ditemukan. 5. Meidentifikasi domain yang telah terorganisasi. 6. Membuat skema tentang budaya setempat.

44

BAB XIII ANALISIS DATA KUANTITATIF A. Tahapan Analisis Data Sarlito (dalam Bugin dan Widjajati, 1992:229) menyebutkan dua langkah dalam menganalisis data yaitu, pencatatan hasil penelitian da prosedur pengolahan dan interpretasi data. Sementara itu Suharsimi Arikunto menyebut langkah yang sama menjadi tiga bagian yaitu persiapan, tabulasi dan penerpan data sesuai dengan pendekatan penelitian. Penjelasan tentang tahapan Suharsimi adalah sebagai berikut: 1. Persiapan a. Cek identiras responden sesuai dengan informasi yang diharapkan. b. Cek kelengkapan data yang akan diterima (isi instrument, jumlah instrument yang seharusnya ada). c. Cek jawaban responden terhadap variable-variable yang utama. 2. Tabulasi Kegiatan tabulasi adalah kegiatan memasukkan data dalam tabel-tabel yang telah dibuat (biasanya dengan sistem tally, yaitu menghitung frekuensi atau jumlah atau memberi tanda coret atau garis tally) dan mengatur angka-angka yang dapat dianalisis. Kegiatan tabulasi adalah sebagai berikut: a. Scoring terhadap item-item yang diberi skor. b. Koding, yaitu memberi kode0kode tertentu terhadap item yang bersangkutan tidak diberi skor. 3. Penerapan Data Sesuai dengan Pendekatan Penelitian Pada tahapan ini peneliti melakukan tahapan analisis data yang ada sesuai dengan enis penelitian. Tentunya dalam kajian ini adalah analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dibedakan atas analisis yang isfatnya deskriptif dan analisis uji interensial atau lebih dikenal dengan uji hipotesis. Adapun uji inferensial merupakan cara menguji hipotesis yang diajukan pneliti. Hipotesis biasanya ditandai dengan adanya uji H1 atau H0. Kemudian peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang sesuai dengan konteks penelitian. Setelah pertanyaan tersebut dapat terjawab maka akan dapat b=dilakukan teknik analisis data menggunakan beberapa cara seperti berikut: a. Distribusi frekuensi adalah teknik analisis statistik yang digunakan untuk mendeskripsikan kondisi angka-angka suatu gejala dengan menggunakan dasar frekuensi kemunculan angka atau data yang ada dalam suatu rentangan kelas. Distribusi frekunsi dibagi menjadi dua seperti berikut:
45

1. Distribusi frekuensi relatif: jika angka-angka frekuensinya tidak dinyatakan dalam bentuk angka-angka yang absolute, tetapi dalam bentuk angka relatif/ presentase. 2. Distribusi frekuensi kumulatif: jika angka-angka frekuansinya dinyatakan dalam bentuk ukukan “kurang dari” atau “lebih dari”. b. Ukuran gejala pusat merupakan suatu bilangan yang menunjukkan sekitar mana bilangan-bilangan yang ada dalam sekumpulan data itu tersebar. Oleh karena it, ukuran gejala pusat sering disebut dengan harga rata-rata. Ukuran gejala pusat meliputi median, modus, kuartil, desil, presentil. c. Pengukuran variasi merupakan pengukuran yang muncul karena penerapan pengukuran sipersi yang digunakan untuk membandingkan variabilitas nilai-nilai observasi data lainnya. Pengukuran variasi meliputi, range (jarak), deviasi rata-rata (rata-rata harga mutlak), standar deviasi, koefisien variasi (rasio), standart score (alat untuk menilai besarnya harga). B. Cara Pemaknaan Data 1. Penggunaan rumus Statistik dalam Pendekatan Kuantitatif Teknik statistik ini digunakan jika peneliti akan menguji hipotesis, baik berupa hubungan, pengaruh, ataupun komparasional. 2. Analisis Statistik Deskriptif Dalam menganalisis dengan menggunakan alanisis statistik deskriptif, biasanya formula yang digunakan adalah mencakup keseluruhan atau setidaknya terdiri dari mode, mean, presentase dan standar deviasi, selanjutnya akan digunakan sebagai cara untuk mengelompokkan variable yang diteliti. 3. Statistik Inferensial (Digunakan untuk Menguji Hipotesis) a. Mencari Hubungan 1 Variable Bebas dan 1 Variable Terkait Untuk mencari hubungan satu variable bebas dan 1 variable terkait bisa menggunakan analisis korelasi. Analisis korelasi adalah sekumpulan teknik statistika yang digunakan untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variable. Untuk itu peneliti melakukan uji hipotesis. Sebelum dapat melakukan pengujian terhadap data yang diperoleh, untuk menggunakan analisis korelasi, seorang penliti harus menggunakan uji asumsi terlebih dahulu. Berikut ini adalah beberapa asumsi yang harus terpenuhi sebagai uji syarat untuk menentukan analisis korelasi yaitu, data harus berdistribusi normal, samplenya harus random, hubungan antara variable X dan Y merupakan garis lurus atau hubungan linier. Rumus yang bisa digunakan adalah (rumus halus, peta korelasi dan angka kasar).
46

b. Mencari Hubungan Dua Variable Bebas dengan 1 Variable Terkait Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan analisis korelasi adalah untuk mencari hubungan antara dua variable atau lebih. Pada korelasi sederhana, variable bebasnya terdiri dari salah satu variable saja. Sementara itu, pada analisis korelasi ganda jumlah variable bebas dua atau lebih. c. Mencari Hubungan dengan 2 Variable Bebas dengan 1 Variable Terkait dengan Cara Mengeliminasi Salah Satu Variable Bebas Korelasi ganda erat hubungannya dengan korelasi parsial. Sama halnya dengan korelasi ganda, dalam korelasi parsial terdapat variable terikat Y dan beberapa variable bebas X. Tujuan menggunakan analisis korelasi parsial (dengan pengontrolan terhadap variable bebas lainnya) adalah untuk menemukan harga korelasi murni, terlepas dari variable-variable bebas lainnya. d. Mencari Pengaruh 1 Variable Berbas terhadap 1 Variable Terkait Mencari pengaruh 1 variable berbas terhadap 1 variable terkait, erat hubungannya dengan regresi. Ada dua macam regresi yaitu regresi linier sederhana, dan yang kedua adalah regresi linier ganda. Bagi regresi linier sederhana, satu variable dipengaruhi (dependent) oleh variable lainnya. Variable yang mempengaruhi ini disebut variable bebas (independent) atau dalam kajian regresi disebut predictor. Selanjutnya, variable yang dipengaruhi ini disebut dengan variable tak bebas atau variable terikat. Tugas analisis regresi yaitu, mencari korelasi antara variable bebas dan variable terkait, menguji apakah korelasi itu signifikan, mencari persamaan garis regresinya, menemukan sumbangan relative antara sesame predictor jika prediktorya lebih dari satu. Mencari Pengaruh 2 Variable Bebas atau Lebih terhadap 1 Variable Terikat Agresi linier sederhana dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh satu variable bebas terhadap satu variable terikat. Apabila ingin mengetahui pengaruh variable bebas terhadap variable terikat, formula statistika yang sesuai adalah analisis regresi linier ganda. Membandingkan Antarvariable atau Kelompok Banyak penelitin yang membandingkan atara dua keadaan atau tepatnya dua kelompok sample, yang pada akhirnya digeneralisasikan pada opulasi. Untuk keperluan itu digunakan daftar distribusi sampling mengenai selaisih yaitu selisih rata-rata.

47

Membandingkan Lebih Dari 2 Variable (Kelompok) Teknik analisis yang digunakan untuk membandingkan mean lebih dari dua buah adalah analisis varians. Analisis varians dibagi menjadi tiga macam yaitu, analisis varians satu jalur, analisis varians dua jalur, analisis varians tiga jalur. Analisis variansi adalah suatu teknik untuk menganalisis atau menguraikan seluruh variansi antar bagian-bagiannya yang bermakna. Model efek tetap adalah suatu model yang perlakuannya ditetapkan sesuai dengan tujuan untuk melakukan percobaan.

48

BAB XIV LAPORAN PENELITIAN A. Pentingnya Laporan Penelitian Laporan Penelitain memiliki makna penting bagi peneliti yaitu sebagai berikut: 1. Laporan tersebut menunjukkan bahwa peneliti telah selisai melakukan penelitian. 2. Temuan-temuan dilapangan harus dibukukan dalam sebuah karya ilmiah. 3. Karya ilmiah tersebut menjadi hak peneliti. 4. Dengan adanya laporan penelitian akan menambah kajian ilmi yang digelutinya. 5. Bagi para praktisi kemungkinan akan menerapkan penelitian dalam lingkup lebih luas 6. Bagi para peneliti lebih lanjut dapat digunakan sebagi rujukan. B. Isi Laporan Penelitian 1. Pendahuluan Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian (mencari jawaban persoalan yang ingin diketahui), dan manfaat penelitian. 2. Konsep Teoritis Tentang sumber bagi penulisan konsep teoritis, dan dapat digunakan pustaka cetak seperti buku ilmiah umum, buku-buku teoritis, skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal ilmiah. Sedapat mungkin gunakan jurnal ilmiah sebagai acuan karena jurnal ini telah dipublikasi sehingga bernilai ilmiah tinggi. Saat ini informasi yang ada dalam dunia elektronik begitu banyak, terutama dari jaringan internet. Untuk itu peneliti, peneliti juga harus memberi perhatian pada kajian-kajian yang dilakukan di dunia maya tersebut, sebab mungkin saja artikel yang di upload justru memiliki kabaharuan yang tinggi. 3. Metode Penelitian Pada bagian metode ini dijelaskan tentang variable yang ada pada penelitian yang dilakukan. Penjelasan ini maksudnya adalah memberikan definisi operasionalmasing-masing variable, serta kedudukan variable dalam kontruk penelitian yang dilakukan. Selain itu dalam penelitian ini dijelaskan metode penelitian yang digunakan kualitatif atau kuantitatif, dan juga dijelaskan populasi dan sampling, serta teknik pengambilan sampling dan juga teknik analisis data. 4. Hasil Penelitian Semua hasil penemuan dalam penelitian dituliskan, dan juga menjelaskan tentang metode-metode statistik yang digunakan dalam melakukan alnalisis data. Setelah mendapatkan hasil, maka peneliti juga harus memaparkan pembahasan secara terperinci dari hasil penelitian.
49

5. Kesimpulan, Diskusi, Saran Kesimpulan akhir dibuat setelah semuanya selesai dan merupakan hal yang harus sesuai dengan rumusan masalah. Hal ini dilakukan agar kesimpulan yang dibuat focus dan tidak melebar kemana-mana. Diskusi ini mengungkap hal-hal yang menarik yang didapatkan dilapangan. Dalam konteks diskusi inilah saran dibahas, sehingga saran yang diajukan merupakan saran yang kongkret. Saran tersebut haruslah relevan dengan hasil diskusi. Saran dibuat untuk bebrapa implikasi yaitu implikasi secara teoritis, saran praktis, dan saran untuk peneliti lebih lanjut. 6. Kelengkapan Laporan Penelitian Kelengkapan laporan penelitian antara lain, kata pengantar, daftar isi, Abstrak/ intisari, lembar pernyataan keaslian penelitian, lembar pengesahan, daftar pustaka, keterangan pelaksanaan penelitian, lampiran, aturan penulisan daftar pustaka (nama penulis karya, tahun terbit karya, judul buku, tempat terbit, nama penerbit, penulisan daftar pustaka dibuat secara alfabetis, gelar kesarjanaan penulis tidak perlu ditulis).

50

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful