1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Umum
Semua tumbuh-tumbuhan memerlukan air untuk pertumbuhannya, karena tanpa air
proses pengolahan atau pengambilan unsur hara oleh akar tanaman dari dalam tanah (ion
uptake) tidak akan dapat berlangsung, sehingga tanaman tidak akan bisa tumbuh. Dari sisi
lain apabila jumlah air di daerah pertumbuhan akar (root zone area) terlalu banyak, maka
jumlah oksigen pada tanah akan berkurang sehingga akan menghambat pertumbuhan
tanaman (kecuali padi), bahkan bisa mematikan tanaman.
Untuk mengatur pemberian air kepada tanaman baik jumlah, kualitas maupun waktu,
diperlukan suatu teknik pengaturan tersendiri, dan teknik tersebut disebut Irigasi (Irrigation
Engineering).
Kata irigasi berasal dari kata irrigate dalam bahasa Belanda dan irrigation dalam
bahasa Inggris. Irigasi mengandung beberapa pengertian, antara lain:
- Irigasi adalah usaha untuk memperoleh air yang menggunakan bangunan dan saluran
buatan untuk keperluan penunjang produksi pertanian.
- Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi
bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak.
- Irigasi adalah mengalirkan air secara buatan dari sumber air yang tersedia kepada
sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
- Irigasi, secara teknis menyalurkan air melalui saluran-saluran pembawa ke lahan
pertanian dan setelah air tersebut diambil manfaat sebesar-besarnya, kemudian
menyalurkannya kembali ke saluran-saluran pembuangan terus ke sungai
1

Secara garis besar, tujuan irigasi adalah mengalirkan air secara teratur sesuai
kebutuhan tanaman pada saat persediaan lengas tanah tidak mencukupi untuk mendukung
pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara normal. Pemberian air irigasi
yang efisien selain dipengaruhi oleh tata cara aplikasi, juga ditentukan oleh kebutuhan
tanaman, guna mencapai kondisi air tersedia yang dibutuhkan tanaman.

1
Angoedi, Ir. Abdullah, 1984. Sejarah Irigasi di Indonesia (History of Irrigation in Indonesia) Volume I.
Komite Nasional Indonesia, International Commission on Irrigation and Drainage (ICID). Jakarta.
2



Dengan demikian, irigasi dimaksudkan untuk mendukung produktivitas usaha tani
guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka ketahanan pangan nasional dan
kesejahteraan masyarakat, khususnya petani, yang diwujudkan melalui keberlanjutan sistem
irigasi meliputi kegiatan pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi.
Irigasi,sebagai cara pendistribusian air dari sumbernya ke lahan pertanian secara
umum memiliki beberapa fungsi antara lain:
- Memasok kebutuhan air tanaman
- Menjamin ketersediaan air
- Mengurangi kerusakan akibat frost
- Menurunkan suhu tanah
- Melunakkan lapisan keras pada saat pengolahan tanah

Banyak jenis irigasi yang sudah dikembangkan dewasa ini untuk dapat dipergunakan
pada berbagai sistem pertanian dan kondisi pertanian setempat, sebagian ada yang luasnya
hanya beberapa hektare, dan ada juga yang mencapai ribuan hektare. Pendistribusian air dari
sumbernya ke lahan pertanian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara pendistribusian
tersebut tergantung kepada banyak faktor, antara lain: jenis tanaman, jenis tanah, keadaan
topografi, ketersediaan tenaga kerja dan lain sebagainya.
Dewasa ini dikenal tiga jenis metode irigasi yakni:
- Irigasi Pancaran (Sprinkler Irrigation method)
- Irigasi Tetesan (Drip Irrigation method)
- Irigasi Permukaan (Surface Irrigation method)
Belakangan ini perkembangan penggunaan metode irigasi Drip dan Sprinkler sangat
pesat sekali, tetapi metode tradisional yaitu irigasi permukaan masih merupakan masih
metode irigasi yang paling banyak dipergunakan. Lebih dari 95% dari irigasi yang ada
menggunakan metode ini dan diperkirakan akan masih tetap bertahan sampai dengan
beberapa waktu mendatang.
Irigasi di Indonesia pada umumnya menggunakan irigasi permukaan sistem Basin,
dan tanaman yang diberi air dengan metode ini pada umumnya adalah tanaman padi. Di
beberapa daerah perkebunan di Indonesia seperti perkebunan tebu misalnya, cara pemberian
air dilakukan dengan irigasi permukaan sistem Furrow. Sistem pemberian air dengan metode
3



Sprinklerdan Drip masih jarang dipergunakan di Indonesia kecuali untuk keperluan
pembibitan di perkebunan-perkebunan besar. Jaringan irigasi merupakan satu kesatuan
saluran dan bangunan yang diperlukan untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan,
pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya.Secara hierarki jaringan irigasi
dibagi menjadi jaringan utama dan jaringan tersier.Jaringan utama meliputi bangunan, saluran
primer dan saluran sekunder.Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan saluran
yang berada dalam petak tersier.Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan air dari suatu
jarigan irigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
Dari segi konstruksi jaringan irigasi, sistem irigasi diklasifikasikan menjadi empat
jenis yaitu
2
:
1. Irigasi Sederhana
Adalah sistem irigasi yang sistem konstruksinya dilakukan dengansederhana, tidak
dilengkapi dengan pintu pengatur dan alat pengukur sehingga air irigasinya tidak
teratur dan tidak terukur, sehingga efisiensinya rendah.
2. Irigasi Setengah Teknis
Adalah suatu sistem irigasi dengan konstruksi pintu pengatur dan alat pengukur pada
bangunan pengambilan (head work) saja, sehingga airhanya teratur dan terukur pada
bangunan pengambilan saja dengan demikian efisiensinya sedang.
3. Irigasi Teknis
Adalah suatu sistem irigasi yang dilengkapi dengan alat pengatur dan pengukur air
pada bangunan pengambilan, bangunan bagi dan bangunan sadap sehingga air terukur
dan teratur sampai bangunan bagi dan sadap, diharapkan efisiensinya tinggi.

4. Irigasi Teknis Maju
Adalah suatu sistem irigasi yang airnya dapat diatur dan terukur pada seluruh jaringan
dan diharapkan efisiensinya tinggi sekali.

1.2.Latar Belakang
Kota Tebing Tinggi beriklim tropis dengan ketinggian 26-34 m di atas permukaan
laut,maka temperatur udara di kota ini cukup panas yang berkisar antara 25º C - 27º C.
Sebagaimana kota di Sumatera Utara, Kota Tebing Tinggi mempunyai musim kemarau dan

2
Pasandaran, E., 1991. Irigasi di Indonesia, Strategi dan Pengembangan. LP3ES, Jakarta.
4



musim penghujan, dengan jumlah curah hujan sepanjang tahun rata-rata 1.776 mm/tahun dan
kelembaban udara 80%-90%.
Sebagian besar wilayah Kota Tebing Tinggi digunakan sebagai pemukiman yaitu
sebesar 41,83%, kemudian untuk lahan pertanian sebesar 40,91%, perhubungan 4,74% dan
selebihnya digunakan untuk sarana sosial budaya, industri, dan lain-lainnya. Daerah ini
dilintasi oleh aliran sungai besar dan kecil sebanyak 4 (empat) buah, yaitu Sungai Padang,
Sungai Bahilang, Sungai Kalembah, dan Sungai Sibarau. Sungai yang paling besar melintasi
daerah ini adalah Sungai Padang dengan panjang aliran ± 2.150m dan lebar ± 65m, membujur
dari arah barat menuju ke arah timur yang terletak sebelah utara dari bagian pusat kota.
Selanjutnya Sungai Bahilang yang membujur di tengah kota dari arah selatan menuju ke utara
dengan panjang ± 1.500m dan lebar ± 15m. Sedangkan sungai-sungai kecil yang berada di
wilayah Kota yaitu Sungai Segiling, Sungai Sibangauan, Sungai Mandaris, Sungai Marimah,
dan Sungai Martebing. Sungai-sungai tersebut mempunyai pola aliran ke arah utara dan timur
laut.
Sungai Sibarau merupakan anak sungai Padang adalah satu dari beberapa sungai yang
mengalir di Kabupaten Kota Tebing Tinggi yang dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi
yang penting untuk mengairi lahan pertanian, termasuk menyediakan kebutuhan air pertanian
di Daerah Irigasi Paya Kapar / Kelurahan Pinang Mancung, Kecamatan Bajenis, Kota Tebing
Tinggi. Sungai Padang dan Sungai Sibarau memiliki luas DAS ± 919 km
2
dengan panjag
sungai ± 61 km.
Daerah irigasi Paya Kapar memiliki lebih kurang 125 ha areal pertanian dengan
jumlah petani 275 KK di Desa Piang Mancung. Daerah irigasi Paya Kapar sebagai daerah
irigasi teknis masih beroperasi hingga saat ini tentunya memiliki berbagai permasalahan baik
dari aspek teknis maupun non-teknis yang harus dipecahkan sebab irigasi ini merupakan
salah satu jawaban untuk tetap mempertahankan keberlangsungan pertanian di Desa Pinang
Mancung.
1.3.Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya survey di daerah irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung
adalah:
1. Menyelesaikan Tugas Irigasi
5



Tugas Irigasi merupakan suatu kewajiban bagi setiap mahasiswa Departemen Teknik
Sipil USU, yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya agar mahasiswa memperoleh
pengetahuan praktis di lapangan sebelum menyelesaikan studinya.
2. Mengetahui dan mempelajari daerah irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung
Tugas Irigasi ini merupakan dasar mahasiswa untuk mempelajari tentang
pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan kondisi daerah irigasi Paya Kapar /
Pinang Mancung, misalnya menghitung kebutuhan air, mengatur pola tanam dan
mempelajari bangunan-bangunan irigasinya.
3. Mendesain kembali jaringan irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung yang bermasalah
Mahasiswa juga diminta untuk dapat mendesain ulang jaringan irigasi Paya Kapar /
Pinang Mancung yang bermasalah sehingga mendapatkan debit saluran maksimum
berdasarkan data curah hujan, pola tanam dan data pendukung lainnya.

Adapun tujuan dibangunnya jaringan irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung adalah:
1. Memenuhi kebutuhan air irigasi untuk daerah pertanian dengan meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air irigasi.
2. Pembagian air irigasi dari jaringan irigasi utama sampai jaringan irigasi tersier.
3. Menentukan pola pengatur pendistribusian debit yang optimal.
4. Mengoptimalisasikan hasil produksi pertanian setempat.

1.4. Lokasi
Desa Paya Kapar / Pinang Mancung berada di Kecamatan Bajenis, Kotamadya Tebing
Tinggi. Pintu irigasi bendungan dan pembuangan air dari Sungai Sibarau terletak di
Lingkungan II kelurahan Pinang Mancung, Kecamatan Bajenis, Kotamadya Tebing Tinggi.
Desa Paya Kapar / Pinang Mancung secara geografis terletak antara koordinat 3
0
16’ 38,66”
LU - 3
0
22’ 39,89” LU dan 99
0
26’ 56,35” BT - 99
0
11’ 32,96” BT
6




Gambar 1.1 Peta Wilayah Sungai Sumatera Utara










Gambar 1.2 Peta Lokasi Daerah Irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung

1.5. Penduduk
Penduduk yang mendiami Desa Paya Kapar / Pinang Mancung berjumlah sekitar
5.698 jiwa yang dengan perincian sebanyak 2.856 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 2.842
jiwa berjenis kelamin perempuan. Masyarakat Desa Paya Kapar / Pinang Mancung umumnya
bermata pencaharian sebagai petani, peternak, pedagang, dan juga pegawai.
7



Organisasi petani di Desa Paya Kapar / Pinang Mancung cukup baik dan
terkoordinasi, seperti kelompok P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) dan Kelompok
Tani.Di Desa PayaLombang juga terdapat industri penggilingan padi.
1.6. Kondisi Geografis dan Topografi
Desa Paya Kapar / Pinang Mancung berada di Kecamatan Bajenis, Kotamadya Tebing
Tinggi. Pintu irigasi bendungan dan pembuangan air dari Sungai Sibarau terletak di
Lingkungan II kelurahan Pinang Mancung, Kecamatan Bajenis, Kotamadya Tebing Tinggi.
Desa Paya Kapar / Pinang Mancung secara geografis terletak antara koordinat 3
0
16’ 38,66”
LU - 3
0
22’ 39,89” LU dan 99
0
26’ 56,35” BT - 99
0
11’ 32,96” BT. Kotamadya Tebing Tinggi
beriklim tropis dengan ketinggian 26-34 m di atas permukaan laut,maka temperatur udara di
kota ini cukup panas yang berkisar antara 25ºC - 27ºC. Sebagaimana kota di Sumatera Utara,
Kota Tebing Tinggi mempunyai musim kemarau dan musim penghujan, dengan jumlah curah
hujan sepanjang tahun rata-rata 1.776 mm/tahun dan kelembaban udara 80% - 90%.
Daerah irigasi Paya Kapar memiliki lebih kurang 125 ha areal pertanian dengan
jumlah petani 275 KK di Desa Pinang Mancung. Daerah irigasi Paya Kapar sebagai daerah
irigasi teknis masih beroperasi hingga saat ini tentunya memiliki berbagai permasalahan baik
dari aspek teknis maupun non-teknis yang harus dipecahkan sebab irigasi ini merupakan
salah satu jawaban untuk tetap mempertahankan keberlangsungan pertanian di Desa Pinang
Mancung.
Akses jalan menuju Paya Kapar / Pinang Mancung hanya dapat dilalui oleh
kendaraan roda dua dengan kondisi jalan setapak. Daerah irigasi Paya Kapar dapat dicapai
melalui jalan darat, dari Medan ke lokasi daerah irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung sejauh
± 87 km dari kota Medan, dengan kondisi jalan aspal cukup bagus dan ada sebagian jalan
yang rusak, di mana rute yang ditempuh adalah Medan - Tebing Tinggi: ± 80 km dan Tebing
Tinggi - Daerah Irigasi: ± 7 km. Akses jalan menuju daerah irigasi Paya Kapar / Pinang
Mancung baik dan mudah dilewati.




8



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bangunan-bangunan Air

2.1.1 Bangunan Utama
Bangunan utama (headworks) dapat didefinisikan sebagai kompleks bangunan yang
direncanakan sepanjang sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam jaringan
saluran agar dapat dipakai untuk keperluan irigasi.Bangunan utama bisa mengurangi
kandungan sedimen yang berlebihan, serta mengukur banyaknya air yang masuk.
Bangunan utama terdiri dari bangunan-bangunan pengelak dengan peredam energi,
satu atau dua pengambilan utama, pintu bilas, kolam olak, dan (jika diperlukan) kantong
lumpur, tanggul banjir pekerjaan sungai dan bangunan-bangunan pelengkap.
Bangunan utama dapat diklasifikasikan ke dalam sejumlah kategori, bergantung
kepada perencanaannya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori:
- Pengambilan Bebas (Free Intake)
Pengambilan bebas ialah bangunan yang dibuat di tepi sungai yang mengalirkan air
sungai ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur tinggi muka air di sungai.Dalam keadaan
demikian, jelas bahwa muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah yang diairi dan
jumlah air yang dibelokkan harus dapat dijamin cukup.

TAMPAK ATAS BANGUNAN INTAKE
9




GAMBAR 2.1 SKETSA POTONGAN BANGUNAN INTAKE

Bangunan pengambil direncanakan dengan maksud untuk menyadap sebagian debit
air sungai guna memenuhi kebutuhan air irigasi pada areal irigasi. Namun demikian
perencanaan kapasitas pengambilan juga terhadap fleksibilitas pada kebutuhan yang lebih
tinggi selama umum proyek (120%×debit kebutuhan).
Perencanaan lebar pintu pengambilan dipertimbangkan terhadap rencana kapasitas
maksimum kebutuhan air, tinggi pengambilan dan kecepatan, dan selanjutnya dihitung
dengan menggunakan persamaan berikut:

Kapasitas rencana lubang pintu pengambilan:
................ (2.1)
dimana:
v = kecepatan rata-rata (m/s)
h = kedalamanair (m)
d = diameter butir (m)

Dengan kecepatan masuk sebesar 1-2 m/s diharapkan butir berdiameter di atas 0,04
tidak ikut kedalam saluran. Sedangkan rumus debit untuk pintu sorong adalah sebagai
berikut:
................ (2.2)
v
2
≥ 32 (h/d)
1/3
x d

10



dimana:
Q = debit penyadapan rencana (m
3
/s)
b = lebar bukaan pintu
g = percepatan gravitasi (m/s)
z = kehilangan tinggi energi (m)
a = tinggi bukaan (m)
Batas tinggi minimum ambang bangunan (P) berdasarkan karakteristik sediment
transportnya ditentukan seperti berikut:
a. Untuk sungai dengan material sedimen terangkut berupa lanau,
P
min
= 0,50 m
b. Untuk sungai dengan material terangkut berupa pasir dan kerikil,
P
min
= 1,00 m
c. Untuk sungai dengan material terangkut berupa batu-batu bongkah,
P
min
= 1,50 m

- Pengambilan dari Waduk
Waduk (reservoir) digunakan untuk menampung air irigasi pada waktu terjadi surplus
air di sungai agar dapat dipakai sewaktu-waktu terjadi kekurangan air.Jadi, fungsi utama
waduk ialah untuk mengatur aliran sungai.
Waduk yang berukuran besar sering mempunyai banyak fungsi (multipurpose) seperti
untuk keperluan irigasi, tenaga air pembangkit listrik, pengendali banjir, perikanan, dan
sebagainya.Waduk yang berukuran lebih kecil dipakai untuk keperluan irigasi saja.
- Stasiun Pompa
Irigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan secara gravitasi
ternyata tidak layak, dilihat dari segi teknis maupun ekonomis.Pada mulanya irigasi pompa
hanya memerlukan modal kecil, tetapi biaya eksploitasinya mahal.





11



2.1.2 Jaringan Irigasi

a. Saluran Irigasi
1. Jaringan Irigasi Utama
- Saluran primer membawa air dari jaringan utama ke saluran sekunder dan ke
petak-petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer ialah pada
bangunan bagi yang terakhir.
- Saluran sekunder membawa air dari saluran primer ke petak-petak tersier yang
dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas ujung saluran ini adalah pada
bangunan sadap terakhir.
- Saluran pembawa membawa air irigasi dari sumber air lain (bukan sumber
yang memberi air pada bangunan utama proyek) ke jaringan irigasi primer.
- Saluran muka tersier membawa air dari bangunan sadap tersier ke petak tersier
yang terletak di seberang petak tersier lainnya. Saluran ini termasuk dalam
wewenang dinas irigasi dan oleh sebab itu pemeliharaannya menjadi tanggung
jawabnya.

2. Jaringan Irigasi Tersier
- Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier di jaringan utama ke
dalam petak tersier lalu ke saluran kuarter. Batas ujung saluran ini adalah boks
bagi kuarter yang terakhir.
- Saluran kuarter membawa air dari boks bagi kuarter melalui bangunan bagi
sadap tersier atau parit sawah ke sawah-sawah.

b. Saluran Pembuang
1. Jaringan Saluran Pembuang Tersier
- Saluran pembuang kuarter terletak di dalam satu petak tersier, menampung air
langsung dari sawah dan membuang air tersebut ke dalam saluran pembuang
tersier.
- Saluran pembuang tersier terletak di antara petak-petak tersier yang termasuk
dalam unit irigasi sekunder yang sama dan menampung air, baik dari
pembuang kuarter maupun dari sawah-sawah. Air tersebut dibuang ke dalam
jaringan pembuang sekunder.
12



2. Jaringan Saluran Pembuang Utama
- Saluran pembuang sekunder menampung air dari jaringan pembuang tersier
dan membuang air tersebut ke pembuang primer atau langsung ke jaringan
pembuang alamiah dan ke luar daerah irigasi.
- Saluran pembuang primer mengalirkan air lebih dari saluran pembuang
sekunder ke luar daerah irigasi. Pembuang primer sering berupa saluran
pembuang alamiah yang mengalirkan kelebihan air tersebut ke sungai, anak
sungai atau laut.
2.1.3 Bangunan Bagi dan Sadap
- Bangunan bagi terletak di saluran primer dan sekunder pada suatu titik cabang
dan berfungsi untuk membagi aliran antara dua saluran atau lebih.
- Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder ke
saluran tersier penerima.
- Bangunan bagi dan sadap mungkin digabung menjadi satu rangkaian
bangunan.
- Boks-boks bagi di saluran tersier membagi aliran untuk dua saluran atau lebih
(tersier, subtersier atau kuarter)



TAMPAK ATAS BANGUNAN BAGI







GAMBAR 2.2 SKETSA BANGUNAN BAGI/SADAP
13



Untuk perencanaan bangunan bagi/sadap atau bangunan lainnya, digunakan standar
perencanaan irigasi KP-04 dan KP-Penunjang.
Hal-hal lain yang perlu untuk diperhatikan dalam perencanaan bangunan bagi/sadap
dalam hal ini:
a. Bangunan bagi/sadap direncanakan dengan konstruksi yang permanen dilengkapi
dengan pintu-pintu air.
b. Pintu-pintu yang mempunyai fungsi untuk membagi air ke saluran primer/utama
atau ke saluran sekunder.
c. Sedangkan pintu-pintu yang berfungsi menyadap air ke saluran tersier dibuat
dengan tipe pintu sorong yang dilengkapi dengan bangunan ukur ambang lebar.

Pintu pengatur direncanakan berupa pintu sorong.
1. Aliran Sempurna
Dimana untuk perhitungan hidrolis digunakan rumus aliran sempurna yang
dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:

................ (2.3)

dimana:
Q = debit aliran (m
3
/s)
b = lebar bukaan pintu (m)
a = tinggi bukaan pintu (m)
µ = koefisien aliran
g = percepatan gravitasi (9,81 m/s
2
)
h
1
= kedalaman air di depan pintu di atas ambang (m)

2. Aliran Tenggelam
Perhitungan hidrolis pintu sorong dengan aliran tenggelam digunakan rumus:

................ (2.4)

Q = µ b a √

Q = K µ b a√

14



dimana :
Q = debit aliran (m
3
/s)
K = faktor untuk aliran tenggelam
b = lebar bukaan pintu (m)
a = tinggi bukaan pintu (m)
µ = koefisien aliran
g = percepatan gravitasi (9,81 m/s
2
)
h
1
= kedalaman air di depan pintu di atas ambang (m)

2.1.4 Bangunan Pengukur dan Pengatur
Aliran akan diukur di hulu saluran primer, di cabang saluran jaringan primer dan di
bangunan sadap sekunder maupun tersier. Peralatan ukur dapat dibedakan menjadi alat ukur
aliran atas bebas (free overflow) dan alat ukur aliran bawah (underflow) beberapa dari alat-
alat pengukur dapat juga dipakai untuk mengatur aliran air.Untuk menyederhanakan
eksploitasi dan pemeliharaan, peralatan ukur yang dipakai di sebuah jaringan irigasi
hendaknya dibatasi sampai dua atau maksimum tiga tipe saja.
Peralatan berikut dianjurkan pemakaiannya di:
- Hulu Saluran Primer
Untuk aliran besar alat ukur ambang lebar dipakai untuk pengukuran dan pintu sorong
atau radial untuk pengatur.

- Bangunan Bagi/Bangunan Sadap Sekunder
Pintu Romjin dan Pintu Crump-de Gruyter dipakai untuk mengukur dan mengatur
aliran. Bila debit terlalu besar, maka alat ukur ambang lebar dengan pintu sorong atau
radial bisa dipakai seperti untuk saluran primer.
- Bangunan Sadap Tersier
Untuk mengatur dan mengukur aliran dipakai alat ukur Romjin atau jika fluktuasi di
saluran besar dapat dipakai alat ukur Crump-de Gruyter.Di petak-petak tersier kecil di
sepanjang saluran primer dengan tinggi muka air yang bervariasi, dapat
dipertimbangkan untuk memakai bangunan sadap pipa sederhana.


15



2.1.5 Bangunan Pengatur Muka Air
Bangunan pengatur muka air mengatur/mengontrol muka air di jaringan irigasi utama
sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan kepada
bangunan sadap tersier.
Bangunan pengatur mempunyai potongan pengontrol aliran yang dapat distel atau
tetap.Untuk bangunan pengatur yang dapat distel dianjurkan untuk menggunakan pintu
(sorong, radial, atau lainnya).
Bangunan pengatur diperlukan di tempat-tempat dimana tinggi muka air di saluran
dipengaruhi oleh bangunan terjun atau got miring (chute). Untuk mencegah meninggi atau
menurunnya muka air di saluran, dipakai mercu tetap atau celah kontrol trapesium
(trapezoidal notch).
2.1.6 Bangunan Pembawa
Bangunan pembawa membawa air dari ruas hulu ke ruas hilir saluran.Aliran yang
melalui bangunan ini bisa superkritis atau subkritis.
1. Bangunan pembawa dengan aliran superkritis
a. Bangunan terjun
Dengan bangunan terjun, menurunnya muka air (dan tinggi energi) dipusatkan di satu
tempat.Bangunan terjun bisa memiliki terjun tegak atau terjun miring. Jika perbedaan tinggi
energi mencapai beberapa meter, maka konstruksi got miring perlu dipertimbangkan.

GAMBAR 2.3 SKETSA BANGUNAN TERJUN
16



Pada daerah dengan kemiringan medan yang lebih terjal dari kemiringan saluran
rencana, maka direncanakan bangunan terjun dimana bangunan tersebut untuk menjaga
kemiringan dasar saluran. Bangunan terjun yang ada diusahakan berada pada setiap bangunan
sadap untuk memberikan keuntungan dalam pengaturan dan pangukuran debit.
Bangunan terjun tegak dibuat dengan perbedaan tinggi energi maksimum (Z) = 1,50
m dan jika melebihi 1,50 m dipakai bangunan terjun miring. Apabila pada satu ruas saluran
diperlukan adanya bangunan terjun yang sangat banyak, dimana hal tersebut menyebabkan
biaya pembuatan saluran menjadi lebih tinggi, maka perlu dibuat alternatif yang lain.
Pemilihan alternatif akan didasarkan pada keadaan yang secara teknis dapat
dipertanggungjawabkan dan dalam segi pembiayaan lebih ekonomis.
Untuk perhitungan hidrolis bangunan terjun digunakan rumus sebagai berikut:



................ (2.5)



dimana:
∆H = selisih tinggi energi hilir dan hulu (m)
H
d
= tinggi energi hilir di kolam olakan (m)
V
u
= kecepatan aliran di kolam olakan peredam (m/s)
Y
u
= tinggi air di kolam (m)
Fr = angka froude
N = tinggi ambang di ujung kolam olakan (m)

b. Got miring
Daerah got miring dibuat apabila trase saluran melewati ruas medan dengan
kemiringan yang tajam dengan jumlah perbedaan tinggi energi yang besar. Got miring berupa
Q = Cd 2/3 √

Z ( ∆H + Hd) – H1
Hd = 1,67 H1
Vu = 2,9 Z
Yu = q/Vu
Fr = Vu/(g Yu)

17



potongan saluran yang diberi pasangan (lining) dengan aliran superkritis, dan umumnya
mengikuti kemiringan medan alamiah.

2. Bangunan pembawa dengan aliran subkritis

a. Gorong-gorong
Gorong-gorong dipasang di tempat-tempat dimana saluran lewat di bawah bangunan
(jalan, rel kereta api) atau apabila pembuang lewat di bawah saluran. Aliran di dalam
gorong-gorong umumnya aliran bebas.


GAMBAR 2.4 SKETSA GORONG-GORONG

Gorong-gorong direncanakan karena saluran pembawa memotong jalan, sedangkan
gorong-gorong pembuang (cross drain) direncanakan karena saluran pembuang memotong
saluran pembawa tersebut. Gorong-gorong direncanakan berupa aliran bebas agar material
hanyutan (debris) dapat lewat dengan mudah.
Adapun bentuk gorong-gorong dapat direncanakan berbentuk bulat maupun segi
empat. Sedangkan perhitungan hidrolis gorong-gorong menggunakan persamaan sebagai
berikut:

18



1. Gorong-gorong aliran penuh
................ (2.6)
dimana:
Q = debit rencana (m
3
/s)
µ = koefisien debit
A = luas penampang gorong-gorong (m
2
)
z = kehilangan tinggi energi pada gorong-gorong (m)
g = percepatan gravitasi

2. Gorong-gorong aliran tidak penuh

................ (2.7)

................ (2.8)
dimana :
Q = debit aliran (m
3
/s)
n = koefisien kekasaran bahan
C
2
= koefisien
D = diameter gorong-gorong (m)
S
c
= kemiringan kritis dasar saluran

Karena terjadi perubahan pola aliran pada waktu masuk dan keluar, maka diperlukan
transisi.Sedang kehilangan tinggi diperhitungkan meliputi saat masuk, di gorong-gorong dan
pada saat keluar.
- Panjang Transisi
................ (2.9)
dimana :
L = panjang transisi (m)
B = lebar saluran (m)
Q = µ A √2

Q =

C2 D
8/3
SC
2

C2 =

/

L =

19



b = lebar gorong-gorong (m)
α = sudut penyempitan

- Kehilangan Tinggi
1. Transisi masuk
h
1
= 0,5 (

-

) ................ (2.10)
2. Di gorong-gorong
h
2
= S
2
x L
2
................ (2.11)
3. Transisi keluar
h
1
= 1,0 (

-

) ................ (2.12)

b. Talang
Talang dipakai untuk mengalirkan air irigasi lewat di atas saluran lainnya, saluran
pembuang alamiah atau cekungan dan lembah-lembah.Aliran di dalam talang adalah aliran
bebas.

c. Sipon
Sipon dipakai untuk mengalirkan air irigasi dengan menggunakan gravitasi di bawah
saluran pembuang, cekungan, anak sungai, atau sungai. Sipon juga dipakai untuk melewatkan
air di bawah jalan, jalan kereta api, atau bangunan-bangunan yang lain. Sipon merupakan
saluran tertutup yang direncanakan untuk mengalirkan air secara penuh dan sangat
dipengaruhi oleh tinggi tekan.

d. Jembatan Sipon
Jembatan sipon adalah saluran tertutup yang bekerja atas dasar tinggi tekan dan
dipakai untuk mengurangi ketinggian bangunan pendukung di atas lembah yang dalam.

e. Flum (Flame)
Ada beberapa tipe flum yang dipakai untuk mengalirkan air irigasi melalui situasi-
situasi medan tertentu, misalnya:
- Flum Tumpu (bench flame), untuk mengalirkan air di sepanjang lereng bukit yang
curam.
20



- Flum Elevasi (elevated flame), untuk menyeberangkan air di irigasi lewat di atas
saluran pembuang atau jalan air lainnya.
- Flum, dipakai apabila batas pembebasan tanah (right of way) terbatas atau jika
bahan tanah tidak cocok untuk membuat potongan melintang saluran trapezium
biasa.
Flum mempunyai potongan melintang berbentuk segi empat atau setengah
bulat.Aliran dalam flum adalah aliran bebas.

f. Saluran Tertutup
Saluran tertutup dibuat apabila trase saluran terbuka melewati suatu daerah di mana
potongan melintang harus dibuat pada galian yang dalam dengan lereng-lereng tinggi yang
tidak stabil.Saluran tertutup juga dibangun di daerah-daerah pemukiman dan di daerah-daerah
pinggiran sungai yang terkena luapan banjir.Bentuk potongan melintang saluran tertutup atau
saluran gali dan timbun adalah segi empat atau bulat.Biasanya aliran di dalam saluran
tertutup adalah aliran bebas.

g. Terowongan
Terowongan dibangun apabila keadaan ekonomi/anggaran memungkinkan untuk
saluran tertutup guna mengalirkan air melewati bukit-bukit dan medan yang tinggi. Biasanya
aliran dalam terowongan adalah aliran bebas.

2.1.7 Bangunan Lindung
Bangunan lindung diperlukan untuk melindungi saluran baik dari dalam maupun dari
luar.Dari luar bangunan itu memberikan perlindungan terhadap limpasan air buangan yang
berlebihan dan dari dalam terhadap aliran saluran yang berlebihan akibat kesalahan
eksploitasi atau akibat masuknya air dari luar saluran.
1. Bangunan Pembuang Silang
Gorong-gorong adalah bangunan pembuang silang yang paling umum digunakan
sebagai lindungan luar, lihat juga pasal mengenai bangunan pembawa.
21



Sipon dipakai jika saluran irigasi kecil melintasi saluran pembuang yang besar.Dalam
hal ini, biasanya lebih aman dan ekonomis untuk membawa air irigasi dengan sipon lewat di
bawah saluran pembuang tersebut.
Overchute akan direncana jika elevasi dasar saluran pembuang di sebelah hulu saluran
irigasi lebih besar daripada permukaan air normal di saluran.

2. Pelimpah (Spillway)
Ada tiga tipe lindungan dalam yang umum dipakai, yaitu saluran pelimpah, sipon
pelimpah, dan pintu pelimpah otomatis.Pengatur pelimpah diperlukan tepat di hulu bangunan
bagi, di ujung hilir saluran primer atau sekunder dan di tempat-tempat lain yang dianggap
perlu demi keamanan jaringan.Bangunan pelimpah bekerja otomatis dengan naiknya muka
air.


GAMBAR 2.5 SKETSA PELIMPAH (SPILLWAY)
3. Bangunan Penguras (Wasteway)
Bangunan penguras, biasanya dengan pintu yang dioperasikan dengan tangan, dipakai
untuk mengosongkan seluruh ruas saluran bila diperlukan.Untuk mengurangi tingginya biaya,
bangunan ini dapat digabung dengan bangunan pelimpah.

4. Saluran Pembuang Samping
Aliran buangan biasanya ditampung di saluran pembuang terbuka yang mengalir
paralel di sebelah atas saluran irigasi. Saluran-saluran ini membawa air ke bangunan
22



pembuang silang atau jika debit relatif kecil dibanding aliran air irigasi, ke dalam saluran
irigasi itu melalui lubang pembuang.

2.1.8 Jalan dan Jembatan
Jalan-jalan inspeksi diperlukan untuk inspeksi, eksploitasi, dan pemeliharaan jaringan
irigasi dan pembuang oleh Dinas Pengairan.Masyarakat boleh menggunakan jalan-jalan
inspeksi ini untuk keperluan-keperluan tertentu saja.
Apabila saluran dibangun sejajar dengan jalan umum di dekatnya, maka tidak
diperlukan jalan inspeksi di sepanjang ruas saluran tersebut.Biasanya jalan inspeksi terletak
di sepanjang sisi saluran irigasi.Jembatan dibangun untuk saling menghubungkan jalan-jalan
inspeksi di seberang saluran irigasi/pembuang atau untuk menghubungkan jalan inspeksi
dengan jalan umum.

2.1.9 Bangunan Pelengkap
Tanggul-tanggul diperlukan untuk melindungi daerah irigasi terhadap banjir yang
berasal dari sungai atau saluran pembuang yang besar.Pada umumnya tanggul diperlukan di
sepanjang sungai di sebelah hulu bendung atau di sepanjang saluran primer.
Fasilitas-fasilitas eksploitasi diperlukan untuk eksploitasi jaringan irigasi secara
efektif dan aman. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain meliputi: kantor-kantor di lapangan,
bengkel, perumahan untuk staf irigasi, jaringan komunikasi, patok hektometer, papan
eksploitasi, papan duga, dan sebagainya.
Bangunan-bangunan pelengkap yang dibuat di sepanjang saluran meliputi:
- Pagar, rel pengaman dan sebagainya, guna memberikan pengaman sewaktu terjadi
keadaan-keadaan gawat.
- Tempat-tempat cuci, tempat mandi ternak dan sebagainya, untuk memberikan sarana
untuk mencapai air di saluran tanpa merusak lereng.
- Kisi-kisi penyaring untuk mencegahtersumbatnya bangunan (sipon dan gorong-
gorong panjang) oleh benda-benda hanyut.
- Jembatan-jembatan untuk keperluan penyeberangan bagi penduduk.

23



2.2. Analisa Hidrologi

2.2.1 Curah Hujan
Curah hujan adalah salah satu sumber air bagi tanaman yang jumlah dan volumenya
diluar kontrol kita, tetapi walaupun demikian konstribusi air hujan terhadap perencanaan
irigasi adalah merupakan hal penting, terutama pada daerah irigasi yang mempunyai
keterbatasan sumber air.Belum ada satu metode untuk memperkirakan besarnya konstribusi
air hujan terhadap suatu skema irigasi seakurat metode untuk memperkirakan penggunaan air
oleh tanaman yang sudah dikembangkan.Perkiraan kontribusi curah hujan didekati dengan
teori probabilitas dan kelakuan-kelakuan curah hujan di suatu daerah masa lalu.
Sebelum melakukan proses pengolahan data curah hujan, data curah hujan tersebut
harus diperiksa secara manual. Data curah hujan harian terbesar misalnya harus realistik atau
akan memberikan hasil yang tidak diinginkan. Total curah hujan bulanan yang berulang
mugkin disebabkan karena kesilapan memasukkan data bulanan yang berulang. Pembulatan
curah hujan harian mungkin mengakibatkan ketidakakuratan dan tidak realistik.
Curah hujan bulanan dan tahunan perlu diperiksa dengan menggambarkan grafik
masa (double mass curve ) diantara stasiun pengamat curah hujan dan atau dengan stasiun
yang berada di sekitar lokasi daerah studi untuk memperlihatkan perolehan lokasi dari pada
stasiun curah hujan. Apabila periode pengamatan terlalu pendek.Data beberapa stasiun perlu
sama-sama dibandingkan.
Curah hujan efektif (effective rain fall) dan curah hujan yang berlebihan (axcess
rainfall) diperoleh berdasarkan data curah hujan harian, parameter curah hujan efektif
didasarkan atas total curah hujan setengah bulanan dan curah hujan yang berlebihan (axcess
rainfall), berdasarkan total curah hujan 3 harian pada setiap bulannya.
Tidak seluruh air hujan yang jatuh ke permukaan bumi efektif karena sebagian akan
hilang sebagai run off, perkolasi (deep percolation) dan evapotranspirasi. Hanya sebagian
dari hujan atau curah hujan yang tinggi dapat mengisi dan tersimpan di daerah akar tanaman
(root zone) dan efektivitasnya cukup rendah.
Hubungan antara curah hujan efektif bulanan rata-rata dan curah hujan bulanan rata-
rata diperlihatkan untuk besaran ET
Crop
yang berbeda. Pada saat pemberian air irigasi volume
24



air yang dapat disimpan dengan efektif pada laposan akar tanaman diperkirakan sebesar 75
mm.
Untuk mencari R
eff
digunakan seperti terlihat dihalaman berikut dalam bentuk tabel
dimana:
) 2 )( 1 ( ÷ ÷
=
n n
n
a ¿
=
÷
n
i
x xi
1
3
) (

................ (2.13)
2
1
1
2
) (
1
|
.
|

\
|
÷ =
¿
=
n
i
x xi
n
o ................ (2.14)
3
s
a
Cs = ................ (2.15)
k didapat dari tabel k value far pearson type iii distribusi r80% = [ x + k]
- Curah Hujan Andalan
Curah hujan andalan adalah curah hujan rerata daerah minimum untukkemungkinan
terpenuhi yang sudah ditentukan dan dapat dipakai untuk keperluanirigasi. Curah hujan
andalan digunakan untuk menentukan curah hujan efektif yang merupakan curah hujan yang
digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhan.
Curah hujan andalan untuk tanaman padi ditetapkan sebesar 80% sedangkan untuk
tanaman palawija sebesar 50%.
Langkah-langkah dalam penentuan curah hujan andalan yaitu:
1. Urutkan data curah hujan rerata daerah bulanan dari kecil ke besar.
2. Tentukan curah hujan andalan dengan rumus:
- R = n/5+ 1 (untuk keandalan sebesar 80%)
- R = n/2+ 1 (untuk keandalan sebesar 50%)

- Formula Curah Hujan Efektif
Curah hujan efektif adalah curah hujan yang digunakan tanaman untuk pertumbuhan.
Apabila curah hujan yang turun intensitasnya rendah, maka jumlah air tersedia tidak
mencukupi untuk pertumbuhan tanaman. Besarnya curah hujan efektif untuk tanaman
25



ditentukan per 10 harian bulanan. Untuk tanaman padi, nilai curah hujan efektifnya dapat
dihitung dengan menggunakan:

................ (2.16)

Sedangkan untuk tanaman palawija, nilai curah hujan efektifnya dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :

................ (2.17)
dimana :
Re = R50
Re = curah hujan efektif (mm)
R80 = curah hujan rancangan probabilitas 80% (mm)
R50 = curah hujan rancangan probabilitas 50% (mm)
n = banyaknya pengamatan
Langkah-langkah dalam menentukan curah hujan efektif yaitu:
1. Menentukan curah hujan andalan per 10 harian dalam tiap bulannya.
2. Menghitung curah hujan efektif dengan rumus :
- Re = (0,7 x R80) untuk padi
- Re = R50 untuk palawija










Re = (0,7 x R80)

Re = R50

26



Tabel 2.1 Contoh Curah Hujan Efektif:

Keterangan :
[1] : Bulan
[2] : Periode Persepuluh Harian
[3] : Jumlah Hari Perperiode
[4] : Curah hujan andalan dengan probabilitas 80%
[5] : Curah hujan andalan dengan probabilitas 50%
[6] : 0.7 * [4]
[7] : [6] / [3]
[8] : [5] / [3]


27



2.2.2 Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah kombinasi kehilangan air dari permukaan tanah (evaporasi)
dan tanaman (transpirasi). Kedua-duanya terjadi secara simultan dan sulit untuk membedakan
kedua proses tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi (ET) adalah:
a. Radiasi Matahari (Solar Radiation)
Evapotranspirasi adalah konversi dari air menjadi uap air, proses tersebut terjadi
sepanjang siang hari dan juga sering terjadi pada malam hari. Dari perubahan dari molekul air
menjadi gas diperlukan energi yang dikenal dengan latent heat of vovo rasion. Proses ini
sangat efektif terjadi dibawah penyinaran matahari langsung. Dengan adanya awan yang
melindungi penyinaran langsung matahari yang sampai kepermukaan bumi akan berkurang
sehingga mengurangi masukan energi, untuk proses evapotranspirasi.

b. Temperatur
Apabila temperatur ambient dari pada udara, tanah dan tanaman tinggi, proses
evapotranspirasi akan besar dibandingkan jika keadaan dingin, karena energi yang tersedia
akan lebih besar, selanjutnya semakin tinggi temperatur udara semakin tinggi pula
kemampuan untuk mengabsorpsi uap air, jadi temperatur udara mempunyai pengaruh ganda
di dalam proses terjadinya evapotranspirasi, sedangkan permukaan tanah, daun tumbuhan dan
temperatur air hanya mempunyai pengaruh tunggal.

c. Kadar Lengas Relatif (Relatif Humidity)
Apabila kadar lengas udara naik, kemampuan untuk mengabsorpsi uap air berkurang
dan evaporasi menjadi lautan. Manakala stomata daun tanaman terbuka, difusi uap udara
yang keluar dari daun tergantung pada perbedaan antara tekanan uap air didalam proses
rongga sel dan tekanan air pada atmosfir.

d. Angin
Dengan mengisapnya air ke atmosfir lapisan batas antara permukaan tanah (daun
tanaman) dan udara menjadi menjadi lembab dan harus digeser diam secara terus menerus
digantikan oleh udara kering ketika proses evapotranspirasi terjadi, pergeseran udara pada
lapisan batas tergantung pada kepada angin sehingga kecepatan angin sangat penting dalam
hal ini.

28



e. Variasi Elevasi/Ketinggian
Pada suatu zona iklim tertentu ET akan berbeda sesuai dengan ketinggian dihitung
dari elevasi permukaan air laut, ini sebenarnya bukan berbeda karena ketinggian itu sendiri
tetapi diakibatkan oleh temperatur, karena lengas dan kecepatan angin berhembus yang
berkaitan dengan ketinggian wilayah yang dimaksud juga radiasi matahari untuk wilayah
tinggi berbeda dengan wilayah yang rendah.

2.3 Perencanaan Jaringan Irigasi

Proses SIDLACOM dalam pembangunan/peningkatan jaringan irigasi
Dalam upaya pencapaian irigasi dengan tujuan OP mantap, maka di dalam setiap
pembangunan Jaringan Irigasi Baru atau Peningkatan Rehabilitasi jaringan perlu ditaati
proses Sidlacom yang merupakan singkatan dari survey, ivestigasi, desain, Land Aquictation
(Pembebasan Tanah), Construction, Operation and Maintenance sebagai berikut :

1. Proses Survey
Didalam proses survey hal-hal yang perlu dilihat dan dipertimbangkan guna
kemudahan pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan setelah pekerjaan selesai
(pelaksanaan Pasca Proyek) antara lain :


- Lokasi jaringan irigasi mudah dicapai
- Sumber Air cukup tersedia sepanjang tahun dan untuk jangka panjang serta
tidak mengganggu neraca air yang sudah ada (perlu data hidrologi yang
lengkap)
- Kwalitas air harus memenuhi kriteria untuk air irigasi.
- Jarak sumber air dan lokasi jaringan terjauh jangan terlalu panjang, agar air
dapat datang dengan tepat waktu.
- Daerah Irigasi tersebut mempunyai jumlah petani yang cukup.
- Diusahakan adanya jalan Inspeksi dan penghubung untuk kegiatan pemasaran
hasil-hasil pertanian dan sebagainya.
- Lokasi Daerah Irigasi tersebut dekat dengan pusat Kecamatan/pasar dan
mudah dicapai.
29




2. Investigasi.
Pada proses Investigasi beberapa hal yang harus ditinjau antara lain :
- Kondisi Lokasi tanah yang akan dijadikan tempat bangunan utama (hasil test
Laboratorium Tanah).
- Kondisi rencana Trace Saluran harus aman dari erosi saluran harus efisien, dari
tanah atau harus dilening.
- diusahakan lebih banyak galian daripada timbunan, agar biaya lebih ekonomis.

3. Disain
Dalam proses disain/perencanaan perlu ditinjau hal-hal sebagai berikut :
- Merencanakan konstruksi bangunan Utama yang mudah dalam pelaksanaan.
- Merencanakan saluran dengan tampang ekonomis (sudut + 60) jika Medan
memungkinkan.
- Menggunakan alat ukur/pintu-pintu yang mudah dan irit biaya dalam pelaksanaan
OP nantinya.
- Merencanakan Pola dan Jadwal tanam yang sesuai dengan kondisi Hidrology yang
ada, minimal mengikuti lokasi daerah irigasi yang terdekat.
- Menerapkan pemakaian air irigasi diantara (0,65-0,8) 1/detik/ha.
- Suplay air irigasi yang tepat waktu, cukup volume, tepat lokasi dengan kwalitas air
baik terjamin mencukupi sepanjang tahun.

4. Land Aquictation (Pembebasan Tanah)
Pada proses Pembebasan tanah ada 5 urutan yang harus dilalui antara lain :
a. Melaksanakan survey rencana trace saluran dan bangunan.
b. Proses ricikan tanah, berdasarkan rencana Trace saluran yang akan dibuat.
c. Proses penyuluhan dan sidang harga ganti rugi pembebasan tanah.
d. Proses pembayaran dan
e. Proses sertifikasi tanah-tanah yang telah dibebaskan.

Agar biaya lebih ekonomis perlu ditinjau hal-hal sebagai berikut :
- Luasnya Pembebasan tanah didasarkan atas rencana Trace Saluran, dengan
kelebihan tanah dikanan kiri dengan ukuran minimal setelah jalan inspeksi.
30



- Diusahakan Trace saluran tidak melewati bangunan-bangunan permanent seperti
pemukiman penduduk, tempat ibadah kuburan dan sebagainya.
- Lokasi saluran mudah dicapai untuk pelaksanaan pekerjaan OP.

Perlu ditekankan bila proses pembebasan tanah dilakukan bruntun dari a s/d e, maka
tidak akan timbul permasalahan atau gejolak dimasyarakat sekitarnya, namun sebaiknya bila
ada proses yang tertinggal seperti contohnya proses e, maka akan timbul masalah konflik
dengan masyarakat dibebaskan tanahnya, yang prinsipnya bila mereka rela diganti rugi
tanahnya itu sudah merupakan suatu hal yang positif dalam arti adanya partisipasi masyarakat
dalam pembangunan.

5. Konstruksi
Pada proses konstruksi agar pelaksanaan dilakukan sebaik-baiknya mengikuti pedoman
berupa buku kontrak yang telah dibuat Dinas terkait karenanya perlu dilakukan pengawasan
secara melekat (Waskat) pada intansi Pengairan, maupun oleh masyarakat melalui Wasmas
(Masyarakat + Legislatif) serta Wasnal (Irjen + BPKP + Itwilprop + Itwilkab).
Dengan demikian pada proses konstruksi ini semua Dinas terkait yang akan menerima
manfaat setelah proyek selesai sejak dini harus terlibatkan. Hal ini bertujuan antara lain :
- Kemungkinan adanya perubahan disain dilapangan disebabkan adanya kesalahan
informasi pada saat proses perencanaan disain.
- Kondisi lapangan saat disurvey telah berbeda dengan situasi saat pelaksanaan.
- Menerima masukan dari masyarakat, calon pemakai/pemanfaat konstruksi tersebut.

Proses yang dilaksanakan sejak survey s/d konstruksi adalah proses pembangunan
(Implementation phase), sedangkan proses selanjutnya yaitu operasi dan pemeliharaan atau
OP merupakan proses OP yang akan dibahas di bawah ini.

6. Operasi dan Pemeliharaan
Proses yang sangat penting di dalam pembangunan suatu jaringan irigasi adalah pada
saat proses operasi dan pemeliharaannya. Keberhasilan suatu konstruksi dapat dilihat pada
saat dilakukan uji coba (trial RUN) apakah sarana dan prasaran jaringan irigasi tersebut dapat
berfungsi sesuai dengan rencana atau tidak dan bila tidak sesuai berapa % penyimpangannya,
hal ini merupakan suatu Feed Back bagi proses surey, investigasi, Disain, Pembebasan tanah
dan sebagai Kontrol pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
31



Selama masa inilah disebut masa transisi atau persiapan O & P selama masa konstruksi
dan hendaknya dimasukkan dalam jadwal pelaksanaan kegiatan proyek (untuk jelasnya lihat
Gambar 4-2), selama masa Transisi ini staf Proyek dan Staf O & P dari Dinas/ Cabang Dinas
Pengairan akan bekerja sama.
























32



BAB III
KONDISI EKSISTING
DAERAH IRIGASI PAYA KAPAR / PINANG MANCUNG

3.1 Aspek Teknis Paya Kapar / Pinang Mancung
Di tinjau dari aspek teknis daerah irigasi ini termasuk daerah irigasi teknis, karena
sistem irigasi teknis mempunyai fasilitas bangunan yang sudah lengkap. Salah satu prinsip
rancang bangun dalam sistem irigasi teknis adalah pemisahan sistem jaringan pembawa
dengan sistem pembuang. Bangunan ukur dan bangunan pembagi menjadi sangat dibutuhkan
dalam pengolahan air irigasi. Petak tersier menjadi sangat penting karena menjadi dasar
perhitungan sistem alokasi air.
Luas daerah irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung adalah ±125 Ha yang sebagian
besar saluran irigasi terbuat dari dinding beton bertulang.
Berdasarkan aspek teknis daerah irigasi Paya Kapar / Pinang Mancung dapat di bagi
menjadi beberapa bagian, yaitu :
a. Free in Take
b. Bangunan penangkap sedimen
c. Syphon
d. Bangunan pembagi saluran primer, sekunder, dan tersier
e. Pintu air
f. Saluran pembuang

a. Free in Take
Sumber air yang dipakai untuk unit-unit irigasi Pinang Mancung adalah sumber air
yang berasal dari aliran sungai ular. Free in take pada saluran-saluran irigasi Pinang Mancung
tidak memiliki bendungan seperti daerah irigasi lainnya melainkan pengambilan air dilakukan
langsung dari sungai ular. Tetapi untuk memperoleh yang lebih baik lagi sebaiknya
pengambilan air berasal dari bendungan. Bendungan dapat menyimpan air pada musim hujan
33



dan menggunakannya pada musim kemarau ataupun pada saat tanaman membutuhkan iar
yang cukup untuk pertumbuhannya.

Gambar 3.1 Free intake / bangunan induk
Pengambilan air dari Sungai Sibarau dilakukan dengan membuat saluran sadap air
yang langsung menuju ke pintu air saluran primer. Pengambilan air dan pembagian air tiap
bangunan bagi bila tanpa bendung hanya dapat dilakukan bila ketinggian air yaitu 50 cm,
bila 35 cm-30 cm air dapat di bagi tapi agak sedikit kesulitan dalam membaginya karena air
terlalu sedikit. Apabila ketinggian air di bangunan bagi menurun hanya 10 cm-15cm air tidak
dapat di bagi, oleh karena itu di saluran tersier terpaksa air di rotasi/ sistem bergilir. Petugas
yang mengatur dan mengontrol pintu in-take ini adalah pengurus P3A (Persatuan Petani
Pemakai Air) dengan waktu yang telah terjadwal melalui musyawarah desa.
Secara umum free in-take saluran irigasi Pinang Mancung dapat di bagi menjadi :
- Saluran sadap utama dari sungai Sibarau
- Pintu air pemasukan
- Bangunan terjun

Saluran sadap utama dari Sungai Sibarau dibuat sepanjang ±10 meter dari tepi sungai
sampai ke pintu saluran primer dengan elevasi yang semakin turun. Tujuan dibuat kemiringan
34



yang menurun adalah agar air dapat masuk leih cepat dan banyak ke dalam saluran. Saluran
utama dibuat dari beton bertulang dan berbentuk trapesium.
Akhir dari saluran sadap utama ini berakhir di pintu saluran primer. Pintu ini
merupakan pintu putar manual yang terbuat dari baja dan berjumlah dua buah. Masing-
masing pintu dilengkai dengan kisi-kisi atau jaring besi yang bertujuan untuk mencegah
masuknya sampah-sampah atau endapan besar saperti ranting pohon, kayu dan sebagainya.
Kisi-kisi tersebut di pasang secara paralel yang berguna untuk mencegah masuknya kotoran
ketika diadakan pembersihan. Posisi kisi-kisi adalah masing-masing berada di depan pintu
air.
Bangunan air yang terdapat di belakang kisi-kisi berguna sebagai pemecah energi
sehinga kecepatan air yang masuk dapat diturunkan. Penurunan kecepatan air ini dilakukan
sebelum memasuki daerah kantong lumpur. Daerah kantong lumpur berfungsi sebagai tempat
endapan berdiam.
b. Bangunan penangkap sedimen
Di daerah irigasi Pinang Mancung bangunan penangkap sedimen terletak sekitar 5
meter dari pintu putar manual yang berbentuk seperti kolam penampungan. Bangunan
penangkap sedimen ini sangat penting perannya dalam menjaga kualitas air menuju saluran-
saluran yang dilaluinya, karena sedimen merupakan masalah yang harus dapat diselesaikan
karena dapat memperkecil luas tampang basah sehinnga kemampuan tampang untuk
mengalirkan debit perlu tidak di penuhi. Kecepatan aliran arus air dan kemiringan daerah
kantong lumpur adalah kecil karena agar kotoran yang melewati daerah sand-trap dapat
mengendap.

35




Gambar 3.2 Bangunan Penangkap Sedimen

Apabila sedimen telah mengendap ke dasar saluran maka diperlukan pengerukan. Di
desa Pinang Mancung, pengerukan dapat dilakukan pada saat :
- Penanaman benih (masa penanaman)
- Pertengahan masa tanam
- Penurunan benih (masa pemanenan)
- Saat hujan

Alat-alat yang digunakan untuk pengerukan endapan pada bangunan penangkap
sedimen adalah Backhoe (dilakukan pada saat masa penanaman/pemanenan) yang dilakukan
untuk pengerukan endapan yang banyak dan untuk endapan yang tidak begitu banyak yang
dilakukan secara rutin adalah memakai sekop yang berjaring dan endapan akan menyangkut
di jaringan tersebut.




36



c. Syphon
Syphon merupakan salah satu jenis urung-urung. Sistem pengaliran air didalam
syphon pada umumnya tidak menggunakan pompa ataupun yang lainnya. Syphon hanya
bergantung pada energi potensial pengaliran air. Syphon biasanya terbuat dari beton
bertulang berbentuk trapesium maupun segitiga dan pipa (PVC) yang berbentuk bulat pipa.
Di daerah irigasi Pinang Mancung syphon terbuat dari beton bertulang dan berbentuk
pipa yang juga diatur oleh pintu in-take. Kondisi syphon kira-kira 1,2 meter dari muka tanah.
Di daerah sekeliling syphon terdapat juga lapisan beton yang berguna agar syphon tidak cepat
rusak apabila di beri beban. Dimensi dari pipa syphon adalah terdiri atas diameter yang
berjarak ±60 cm.

d. Bangunan Bagi
Bangunan bagi di daerah irigasi Pulau Gambar adalah terdapat disepanjang saluran
primer, saluran sekunder, dan saluran primer. Setiap bangunan bagi memiliki beberapa pintu
sorong atau sebagai pintu intake untuk mendistribusikan air ke lahan-lahan irigasi (unit-unit
irigasi).

Bangunan bagi di daerah irigasi Pinang Mancung terdiri atas:
1) Bangunan bagi I

Bangunan bagi ini terdiri atas 3 pintu sorong yang terdiri atas 2 pintu sorong yang sejajar
dengan arah aliran air dan 1 pintu sorong yang tegak lurus dengan arah aliran air (intake
kanan) dan juga 2 bendungan (mercu tetap) yang terletak setelah kantong lumpur (sand-
trap). Bangunan ini masih berada di daerah saluran primer. Bangunan ini mengirimkan
air ke daerah persawahan desa Pinang Mancung.
37




Gambar 3.3 Bangunan Bagi I
2) Bangunan bagi II
Bangunan ini terdiri atas 2 pintu sorong yang terdiri atas 1 pintu yang sejajar
dengan arah aliran-aliran air dan 1 pintu intake dan juga 2 mercu tetap. Posisi
bangunan bagi ini masih berada di saluran primer. Bangunan ini mengirimkan air ke
daerah persawahan desa Pinang Mancung.

Gambar 3.4 Bangunan Bagi II
38



3) Bangunan Bagi III
Bangunan bagi ini terdiri atas 2 pintu sorong yang terdiri atas 1 pintu yang sejajar
dengan arah aliran –aliran air dan 1 pintu intake. Posisi bangunan ini masih berada di
saluran primer. Di bangunan bagi 4 ini terdapat 1 pintu sorong yang rusak sudah tidak
layak pakai lagi.

Gambar 3.5 Bangunan bagi III

4) Bangunan bagi IV
Bangunan ini sama dengan bangunan bagi 3,

Gambar 3.6 Bangunan bagi IV
39



f. Saluran Pembuang
Saluran pembuang di daerah irigasi Pinang Mancing mempunyai panjang drainase
sepanjang 20 km. Cara pembuangan tinggal membuka kayu-kayu penahan yang terdapat di
sepanjang pinggir-pinggir sawah, di daerah bawah dekat sungai bahkan ada saluran
pembuang yang menggunakan pintu klep yang menutup bila terjadi banjir.

3.2 Cara Pemberian Air Irigasi Pada Tanaman
Ketinggian air yang bisa di bagi tiap bangunan bagi 1, 2, 3, dan 4 adalah bila
ketinggian air mencapai 50 cm maka air sudah dapat di bagi, bila ketinggian air hanya 30-35
cm air dapat dibagi juga tapi prosesnya akan mengalami kesulitan di lapangan. Apabila
ketinggian air di pintu bagi menurun hanya 10-15 cm air tidak bisa dibagi di saluran tersier
oleh sebab itu terpaksa memakai sistem rotasi/bergilir.
Penggunaan air bila saat normal maka ketinggian pintu di buka setinggi 30 cm, bola
dalam keadaan musim kemarau ketinggian air bisa mencapai 50 cm bahkan lebih pintu di
buka sampai habis. Sedangkan bila musim hujan ketinggian pintu dikurangi dari keadaan
normal.
Air akan dikeringkan ketika 15 hari lagi padi mau dipanen. Sistem pemakaian air
yang diperlukan tanaman padi sebaiknya secara terputus-putus, yaitu dua hari dikeringkan
tiga hari air kemudian air disalurkan kembali, bila digenangi terus sampai dalam maka padi
tidak bisa beranak. Sedangkan air yang diperlukan tanaman padi memakai 2 cm, 2,5 cm
sampai 5 cm di waktu padi mau keluar.
Untuk mencegah meluapnya air pada daerah persawahan ketika terjadi banjir, maka
saluran tersier yang membawa air menuju petak sawah akan ditutup dan limpahan banjir akan
dibawa melalui saluran utama menuju bagian hilir.
Penanaman tanaman padi memiliki air yang tergenang sepanjang unit-unit irigasi
(petak sawah). Pemakaian air ini kurang dipahami oleh masyarakat setempat, ketinggian ideal
yang ditetapkan oleh kelompok petani pemakai air adalah 2-3 cm.
3.3 Pola Tanam
40



Pada tanggal 2 Juni 2012, kami melaksanakan kunjungan lapangan dan mengadakan
wawancara dengan Bapak Sunarto, salah seorang petani pengguna air di Desa Pinang
Mancung. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui seputar kegiatan bercocok tanam yang
umum dilakukan oleh para petani di Desa Pinang Mancung setiap tahunnya.

FOTO WAWANCARA
Dari wawancara tersebut kami mengetahui bahwa dalam bercocok tanam petani
mengunakan sistem P2T3 (Pemanfaatan Pola Tanam dan Tertib Tanam) yang telah terjadwal
dan disepakati bersama melalui musyawarah desa sesuai dengan kondisi musim. Pola tanam
masyarakat Pulau Gambar adalah padi, padi, kacang. Pola tanam ini dimaksud pada awal
pembenihan tanaman yang ditanam terlebih dahulu adalah padi kemudian padi dan baru
ditanami palawija (kacang hijau, kacang kuning, jagung, cabai, ubi, ketela pohon), baru
kembali ke awal siklus tadi yaitu padi dan seterusnya. Masyarakat memakai sistem/pola ini
dikarenakan memiliki tingkat panen yang sangat produktif. Alasan memakai pola tanam padi-
padi-palawija adalah:
- Memutus siklus setelah panen tanaman padi,
- Menyuburkan tanah kembali, dengan tanaman palawija seperti tanaman kacang yang
mampu menyuburkan tanah kembali.




41



1. Perhitungan Debit Pengambilan Rencana
Perkiraan kebutuhan air irigasi dibuat sebagai berikut:
 Kebutuhan bersih air di sawah untuk padi (NFR)
NFR = ET
c
+ P – Re + WLR

 Kebutuhan irigasi untuk padi
IR = NFR/e
Keterangan
ETc = penggunaan konsumtif (mm)
P = kehilangan air akibat per kolasi (mm/hari)
Re = curah hujan per hari (mm/hari)
E = efisiensi irigasi secara keseluruhan
WLR = penggantian lapisan air mm/hari

 Penggunaan Konsumtif (ET
c
)
ET
c
= Kc x ET
0

Kc = koefisien tanaman
ET
0
= Evaporasi potensian pennman mm hari

Koefisien tanaman untuk padi (Dirjen Pengairan, Bina Program PSA 010,1985)
Periode
Tengah
Tahun
Padi Palawija
Nedeco/Prosida FAO
Varietas Biasa Varietas Unggul Kedelai Kacang Hijau
1 1,1 1,1 0,5 0,40
2 1,1 1,1 0,75 0,60
3 1,1 1,05 1,0 0,97
4 1,1 1,05 1,0 1,05
5 1,1 0,95 0,82 0,80
6 1,05 0,95 0,45
7 0,95
8 0
Catatan: harga-harga koefisien ini aqkan dipakai bersama-sama dengan ecapotranspirasi
Penman yang sudah dimodifikasi dengan menggunakan cara pendekatan
NEDECO/PROSIDA atau FAO.
42



Evapotranspirasi acuan rata-rata ET
0
: mm/hari


 Kebutuhan air irigasi selama jangka waktu penyiapan lahan
IR = M e
k
/(e
k
– 1)

IR = kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan mm/hari
M = kebutuhan ait untuk mengganti menkonspensasi air yang hilang akibat
evaporasi M=eo+p
E
0
= Evaporasi air terbuka yang diambil dari 1,1 x ET0 selama penyiapan
lahan
K =MT/S
T =jangka waktu penyiapan lahan
S = air yang dibutuhkan untuk penjenuhan ditambah dengan 50 mm

Kebutuhan air untuk penyiapan lahan
Bulan
Minggu
M
Eo + P
LP = M ek/ (e k -1) mm/hari
T = 30 hari T = 45 hari
S= 250 mm s = 300 mm S= 250 mm s = 300 mm
Januari I 5,19 11,19 12,82 8,55 9,59
II 5,19 11.19 12,82 8,55 9,59
Februari I 5,79 11,56 13,17 8,94 9,98
II 5,79 11,56 13,17 8,94 9,98
Maret I 5,83 11,59 13,20 8,97 10,00
BULAN ET
0

Januari 2,90
Februari 3,45
Maret 3,49
April 3,49
Mei 2,98
Juni 3,42
Juli 3,40
Agustus 3,13
September 3,09
Oktober 2,94
Nopember 2,80
Desember 2,39
43



II 5,83 11,59 13,20 8,97 10,00
April I 5,84 11,59 13,20 8,98 10,01
II 5,84 11,59 13,20 8,98 10,01
Mei I 5,27 11,25 12,87 8,60 9,65
II 5,27 11,25 12,87 8,60 9,65
Juni I 5,77 11,55 13,16 8,93 9,96
II 5,77 11,55 13,16 8,93 9,96
Juli I 5,75 11,53 13,15 8,91 9,95
II 5,75 11,53 13,15 8,91 9,95
Agustus I 5,44 11,35 12,97 8,72 9,76
II 5,44 11,35 12,97 8,72 9,76
September I 5,39 11,32 12,94 8,68 9,72
II 5,39 11,32 12,94 8,68 9,72
Oktober I 5,24 11,22 12,84 8,58 9,62
II 5,24 11,22 12,84 8,58 962
Nopember I 5,08 11,13 12,75 8,47 9,52
II 5,08 11,13 12,75 8,47 9,52
Desember I 4,63 10,86 12,49 8,19 9,25
II 4,63 10,86 12,49 8,19 9,25

Skema pola tanam dengan koefisien tanaman
Bulan
Minggu
Koefesien Tanaman
C1 C2 C
Januari
I 0,00 0,00
II LP LP
Februari
I LP LP
II 1,10 LP
Maret
I 1,10 1,10 1,10
II 1,05 1,10 1,08
April
I 1,05 1,05 1,05
II 0,95 1,05 1,00
Mei
I 0,00 0,95 0,48
II 0,00 0,00
Juni
I
II
Juli
I
II
Agustus
I
II
September
I LP LP
II LP LP
Oktober
I 1,10 LP
II 1,10 1,10 1,10
Nopember
I 1,05 1,10 1,08
II 1,05 1,05 1,05
Desember
I 0,95 1,05 1,00
II 0,00 0,95 0,48

44



Tabel penggantian lapisan air

Bulan Minggu
WLR
mm/hari
Januari
I
II
Februari
I
II
Maret
I
II 1,65
April
I 1,65
II 1,65
Mei
I 1,65
II
Juni
I
II
Juli
I
II
Agustus
I
II
September
I
II
Oktober
I
II
Nopember
I 1,65
II 1,65
Desember
I 1,65
II 1,65

Diberikan kebutuhan air untuk penyiapan lahan selama 45 hari dengan harga E
0
+ P.
Yang diandaikan adalah kebutuhan sebesar 300 mm
Contoh: Februari II
E
0
+ P = 1,1 x ET
1go
+ P
= 1,1 x 3,45 + 2
= 5,795
LP = 8,94 mm/hari (interpolasi)
NFR = ETc + P + WLR - R
e

=8,94+ 0 – 0,19
= 8,75
DR =

=

= 1,56 ltr/dtk/ha

45




Pola tanam
Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jan Feb Mar
1

2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2






Perhitungan debit pengambilan rencana
Rumus : Qn = ( C
x
NFR
x
A ) / e (untuk sawah)

dimana : Qn = debit normal rencana pengambilan (m
3
/det)
C = koefisien reduksi golongan
NFR = Net Field Requirement, kebutuhan bersih air di sawah
(l/det/Ha)
A = luas areal irigasi (Ha)
e = efisiensi jaringan (tersier, sekunder dan saluran induk)

Dari hasil perhitungan maka dapat diperoleh:
Q = 1,56 x ( 1036 )
= 1,62m
3
/det


Hasil selengkapnya dari perhitungan rumus di atas dapat dilihat dalam tabel di bawah ini


46



ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI

Bu$lan€ Minggu
Re
Eto P WLR
Koefesien Tanaman Etc NFR DR
Padi Palawija Padi Palawija Padi Palawija Padi Padi Palawija Palawija Padi Palawija
mm/hari mm/hari mm/hari mm/hari mm/hari C1 C2 C C1 C2 C mm/hari mm/hari mm/hari lt/det/ha mm/hari lt/det/ha lt/det/ha lt/det/ha
Januari
I 0,61 2,9 2 0 0 0 1,39 0,16088 0,25
II 1,21 2,9 2 LP LP 8,55 7,33 0,84838 1,31
Februari
I 0,23 3,45 2 LP LP 0.50 0.25 8,94 0.86 8,71 1,008102 0 0 1,55 0
II 0,19 3,45 2 1,1 LP 0.75 0.50 0.63 8,94 2.15 8,76 1,013889 0.71 0,082176 1,56 0.13
Maret
I 0,51 3,49 2 1,1 1,1 1,1 1.0 0.75 0.88 3,83 3.05 5,32 0,615741 1.56 0,180556 0,95 0.28
II 1,4 3,49 2 1,65 1,05 1,1 1,08 1.0 1.0 1.0 3,75 3.49 6 0,694444 2.00 0,231481 1,07 0.36
April
I 1,12 3,49 2 1,65 1,05 1,05 1,05 0.82 1.0 0.91 3,66 3.17 6,19 0,716435 1.69 0,195602 1,1 0.30
II 0,56 3,49 2 1,65 0,95 1,05 1 0.45 1,05 0.64 3,49 2.21 6,58 0,761574 0.73 0,084491 1,17 0.13
Mei
I 0,51 2,98 2 1,65 0 0,95 0,48 0.45 0.23 1,41 0.67 4,55 0,52662 0 0 0,81 0
II 0,93 2,98 2 0 0 0.50 0.25 0 0.74 1,07 0,123843 0 0 0,19 0
Juni
I 1,49 3,42 2 0.75 0.50 0.63 2.14 0.72 0,083333 0.13
II 0,75 3,42 2 1.0 0.75 0.88 3.00 1.57 0,181713 0.28
Juli
I 1,31 3,4 2 1.0 1.0 1.0 3.40 2.0 0,231481 0.36
II 1,59 3,4 2 0.82 1.0 0.91 3.10 1.69 0,195602 0.30
Agustus
I 0,56 3,13 2 0.45 0.82 0.64 1.99 0.86 0,099537 0.15
II 2,29 3,13 2 0.45 0.23 0.70 0 0 0
September
I 3,69 3,09 2 LP LP 8,68 5 0,578704 0,89
II 5,65 3,09 2 LP LP 8,68 3,04 0,351852 0,54
Oktober
I 3,78 2,94 2 1,1 LP 8,58 4,8 0,555556 0,85
II 4,25 2,94 2 1,1 1,1 1,1 3,24 0,99 0,114583 0,18
Dopember
I 3,36 2,8 2 1,65 1,05 1,1 1,08 3,01 3,3 0,381944 0,59
II 4,43 2,8 2 1,65 1,05 1,05 1,05 2,94 2,15 0,248843 0,38
Desember
I 3,45 2,39 2 1,65 0,95 1,05 1 2,39 2,59 0,299769 0,46
II 1,82 2,39 2 1,65 0 0,95 0,48 1,14 2,97 0,34375 0,53


1


Karakteristik dari setiap tanaman dapat kita lihat pada uraian di bawah ini.
a. Padi
Umumnya varietas padi yang ditanam para petani di Desa Pulau Gambar
adalah jenis padi IR 64, Ciherang, dan Inpari 13.

Tabel 3.1 Deskripsi Varietas Padi
Deskripsi
Varietas
IR 64 Ciherang Inpari 13
Bentuk beras Panjang , ramping Panjang, ramping Panjang, ramping
Warna gabah Kuning bersih Kuning bersih Kuning bersih
Bentuk tanaman Tegak Tegak Tegak
Tekstur nasi Pulen Pulen Pulen
Kadar amilosa (%) 23 23 22,4
Rata-rata hasil
(t/ha)
5,0 6,0 6,59
Potensi hasil (t/ha) 6,0 8,5 8,0
Umur tanaman
(hari)
110-120 116-125 103
Tinggi tanaman
(cm)
115-126 107-115 101
Jumlah anakan
produktif (batang)
20-35 14-17 17
Ketahanan
terhadap hama
penyakit
Tahan wereng
coklat biotipe 1,2
dan agak tahan
wereng coklat
biotipe 3.
Agak tahan hawar
daun bakteri strain
Tahan terhadap
wereng coklat
biotipe 2 dan agak
tahan biotipe 3.
Tahan terhadap
hawar daun
bakteri strain III
Tahan hama
wereng coklat
biotipe 1,2, dan 3.
Rentan terhadap
hawar daun.
48


Ada beberapa tahapan yang dilakukan para petani dalam bercocok tanam
padi di Desa Pinang Mancung diantaranya yaitu: persemaian, pengolahan lahan,
penanaman, pemupukan, penyiangan, pengendalian dan pemberantasan hama dan
penyakit serta panen.

1. Persemaian
Persemaian dilakukan 25 hari sebelum masa tanam, persemaian dilakukan
pada lahan yang sama atau berdekatan dengan petakan sawah yang akan ditanami,
hal ini dilakukan agar bibit yang sudah siap dipindah, waktu dicabut dan akan
ditanam mudah diangkut dan tetap segar. Bila lokasi jauh maka bibit yang
diangkut dapat stress bahkan jika terlalu lama menunggu akan mati
Benih yang dibutuhkan untuk ditanam pada lahan seluas 1 ha sebanyak 20
Kg. Benih yang hendak disemai sebelumnya harus direndam terlebih dahulu
secara sempurna sekitar 2 x 24 jam, dalam ember atau wadah lainnya. Hal ini
dilakukan agar benih dapat mengisap air yang dibutuhkan untuk
perkecambahannya.
Bedengan persemaian dibuat seluas 100 m
2
/20 Kg. lahan untuk
persemaian ini sebelumnya harus diolah terlebih dahulu, pengolahan lahan untuk
persemaian ini dilakukan dengan cara pencangkulan hingga tanah menjadi lumpur
dan tidak lagi terdapat bongkahan tanah. Lahan yang sudah halus lumpurnya ini
kemudian dipetak-petak dan antara petak-petak tersebut dibuat parit untuk
mempermudah pengaturan air.
Benih yang sudah direndam selama 2 x 24 jam dan sudah berkecambah
ditebar di persemaian secara hati-hati dan merata, hal ini dimaksudkan agar benih
yang tumbuh tidak saling bertumpukan. Selain itu benih juga tidak harus terbenam
kedalam tanah karena dapat menyebabkan kecambah terinfeksi pathogen
(penyebab penyakit tanaman) yang dapat menyebabkan busuknya kecambah.
I.
Tahan virus kerdil
rumput.
dan IV.
Tahun dilepas 1986 2000 2009
49


Pemupukan lahan persemaian dilakukan kira-kira pada umur satu minggu
benih setelah ditanam (tabur). Kebutuhan pupuk yang digunakan yaitu, 2,5 Kg
Urea; 2,5 Kg SP36; dan 1 Kg KCL.


Gambar 3.22 Penyemaian Padi
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan bertujuan untuk mengubah sifat fisik tanah agar lapisan yang
semula keras menjadi datar dan melumpur. Dengan begitu gulma akan mati dan
membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah
menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air. Pada pengolahan tanah sawah
ini, dilakukan juga perbaikan dan pengaturan pematang sawah serta selokan.
Pematang (galengan) sawah diupayakan agar tetap baik untuk
mempermudah pengaturan irigasi sehingga tidak boros air dan mempermudah
perawatan tanaman. Tahapan pengolahan tanah sawah pada prinsipnya mencakup
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. Pembersihan
Sawah dibersihkan dari rerumputan, diperbaiki, dan dibuat agak tinggi.
Fungsi utama galengan disaat awal untuk menahan air selama pengolahan tanah
agar tidak mengalir keluar petakan. Fungsi selanjutnya berkaitan erat dengan
pengaturan kebutuhan air selama ada tanaman padi.
Saluran atau parit diperbaiki dan dibersihkan dari rerumputan. Kegiatan
tersebut bertujuan agar dapat memperlancar arus air serta menekan jumlah biji
50


gulma yang terbawa masuk ke dalam petakan. Sisa jerami dan sisa tanaman pada
bidang olah dibersihkan sebelum tanah diolah.
Jerami tersebut dapat dibakar atau diangkut ke tempat lain untuk pakan
ternak, kompos, atau bahan bakar. Pembersihan sisa-sisa tanaman dapat
dikerjakan dengan tangan dan cangkul .
b. Pencangkulan
Setelah dilakukan perbaikan galengan dan saluran, tahap berikutnya adalah
pencangkulan. Sudut-sudut petakan dicangkul untuk memperlancar pekerjaan
bajak atau traktor. Pekerjaan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan saat
pengolahan tanah.
c. Pembajakan
Pembajakan dan penggaruan merupakan kegiatan yang berkaitan. Kedua
kegiatan tersebut bertujuan agar tanah sawah melumpur dan siap ditanami padi.
Pengolahan tanah dilakukan dengan dengan menggunakan mesin traktor. Sebelum
dibajak, tanah sawah digenangi air agar gembur. Lama penggenangan sawah
dipengaruhi oleh kondisi tanah dan persiapan tanam. Pembajakan biasanya
dilakukan dua kali. Dengan pembajakan ini diharapkan gumpalan-gumpalan tanah
terpecah menjadi kecil-kecil. Gumpalan tanah tersebut kemudian dihancurkan
dengan garu sehingga menjadi lumpur halus yang rata. Keuntungan tanah yang
telah diolah tersebut yaitu air irigasi dapat merata. Pada petakan sawah yang lebar,
perlu dibuatkan bedengan-bedengan. Antara bedengan satu dengan bedeng
lainnya berupa saluran kecil. Ujung saluran bertemu dengan parit kecil di tepi
galengan yang berguna untuk memperlancar air irigasi.


51


Gambar 3.23 Pengolahan Tanah

3. Pelaksanaan Tanam
Setelah persiapan lahan selesai maka bibit pun siap ditanam. Bibit
biasanya dipindah saat umur 20-25 hari. Ciri bibit yang siap dipindah ialah
berdaun 5-6 helai, tinggi 22-25 cm, batang bawah besar dan keras, bebas dari
hama dan penyakit sehingga pertumbuhannya seragam.
Bibit ditanam dengan cara dipindah dari bedengan persemaian ke petakan
sawah, dengan cara bibit dicabut dari bedengan persemaian dengan menjaga agar
bagian akarnya terbawa semua dan tidak rusak. Setelah itu bibit dikumpulkan
dalam ikatan-ikatan lalu ditaruh disawah dengan sebagian akar terbenam ke air.
Bibit ditanam dengan posisi tegak dan dalam satu lubang ditanam 2-3 bibit,
dengan kedalaman tanam cukup 2 cm, karena jika kurang dari 2 cm bibit akan
gampang hanyut. Jarak tanam padi biasanya 20 x 20 cm.

Gambar 3.24 Penanaman Padi
4. Pengairan
Pengaliran air untuk tanaman padi sawah di Desa Pulau Gambar dilakukan
terputus putus. Pemberian air pada waktu dengan tinggi tertentu dan dihentikan
pada waktu tertentu dan seterusnya. Pemberian air secara terputus putus dengan
menggunakan rumus : I = 2 ½: 3 : 2: 2, artinya tinggi air diberikan 2 ½ cm dalam
petakan sawah; diberikan selama 3 hari berturut-turut; kemudian dikeringkan
selama 2 hari berturut-turut dan air dihentikan sepenuhnya 2 minggu sebelum
panen.
Selain itu pemberian air terputus-putus dapat juga dilakukan dengan cara:
52


a. Penggenangan air selama 30 hari sebelum tanam, bertujuan membantu
proses pelapukan sisa akar, jerami padi atau gulma dan mempermudah
dalam proses pengolahan lahan;
b. Pengeringan lahan selama 3 sampai 5 hari, bertujuan agar butiran lumpur
dapat melengket satu sama lainnya;
c. Pemberian air selama 2 sampai 3 hari sebelum tanam, bertujuan
mempermudah pemberian pupuk dasar dan mempermudah penanaman;
d. Tinggi genangan pada fase anakan 2,5 cm;
e. Fase primordia tinggi genangan 7 sampai 10, tujuannya pada fase
primordia ini kelembaban suhu tanaman perlu dijaga agar proses
pembentukan bakal malai tidak terganggu;
f. Fase pengisian malai tinggi genangan 5 cm dan;
g. Sawah dikeringkan 2 minggu sebelum panen, bertujuan agar pemasakan
malai padi merata.

5. Pemupukan
Tanah yang dibudidayakan cenderung kekurangan unsur hara bagi
tanaman, oleh karena itu diperlukan penambahan unsur hara yang berasal dari
pupuk organik maupun pupuk anorganik. Dosis pupuk tanaman padi sawah sangat
dipengaruhi oleh jenis dan tingkat kesuburan tanah, sejarah pemupukan yang
diberikan dan jenis padi yang ditanam.
Penggunaan dosis pupuk untuk padi sawah untuk lahan satu hektar adalah
sebagai berikut Urea 200 Kg, SP36 200 Kg, dan KCL 100 Kg. Pemupukan
dilakukan dua kali dalam satu kali budidaya (produksi) padi sawah. Pemupukan
pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 12 hari dengan dosis pupuk
sepertiga dari kebutuhan pupuk keseluruhan, sedangkan sisa pupuk diberikan pada
tahap kedua yaitu kira-kira pada waktu tanaman berumur 40 hari.
6. Penyiangan ( Pengendalian Gulma)
Perawatan dan pemelihraan tanaman sangat penting dalam pelaksanaan
budidaya padi sawah. Hal-hal yang sering dilakukan oleh para petani adalah
penyiangan (pengendalian gulma). Gulma merupakan tumbuhan pengganggu
yang hidup bersama tanaman yang dibudidayakan. Penyiangan dilakukan 2 tahap,
tahap pertama penyiangan dilakukan pada saat umur tanaman kurang lebih 15 hari
53


dan tahap kedua pada saat umur tanaman berumur 30-35 hari. Penyiangan yang
dilakukan adalah dengan cara mencabut gulma dan dimatikan dengan atau tanpa
menggunakan alat, biasanya penyiangan ini dilakukan bersamaan dengan dengan
kegiatan penyulaman.

7. Penyemprotan
Hama yang sering ditemukan menyerang tanaman padi sawah adalah
penggerek batang padi, walang sangit, wereng dan belalang. Pengendalian hama
dan penyakit yang dilakukan para petani adalah dengan menggunakan pestisida
untuk lahan seluas satu hektar petani hanya membutuhkan 2 orang tenaga kerja
dan dalam waktu satu hari pemyemprotan tersebut dapat diselesaikan.

8. Panen
Hasil padi yang berkualitas tidak hanya diperoleh dari penanganan budi
daya yang baik saja, tetapi juga didukung oleh penanganan panennya. Waktu
panen padi yang tepat yaitu jika gabah telah tua atau matang. Waktu panen
tersebut berpengaruh terhadap jumlah produksi, mutu gabah, dan mutu beras yang
akan dihasilkan. Keterlambatan panen menyebabkan produksi menurun karena
gabah banyak yang rontok. Waktu panen yang terlalu awal menyebabkan mutu
gabah rendah, banyak beras yang pecah saat digiling, berbutir hijau, serta berbutir
kapur.
Panen padi untuk konsumsi biasanya dilakukan pada saat masak optimal.
Adapun panen padi untuk benih memerlukan tambahan waktu agar pembentukan
embrio gabah sempurna. Saat panen di lapangan dipengaruhi oleh berbagai hal,
seperti tinggi tempat, musim tanam, pemeliharaan, pemupukan, dan varietas. Pada
musim kemarau, tanaman biasanya dapat dipanen lebih awal. Jika dipupuk dengan
nitrogen dosis tinggi, tanaman cenderung dapat dipanen lebih lama dari biasa.
Panen yang baik dilakukan pada saat cuaca terang.
Secara umum, padi dapat di panen pada umur antara 110-115 hari setelah
tanam. Kriteria tanaman padi yang siap dipanen adalah sebagai berikut:
1. Umur tanaman tersebut telah mencapai umur yang tertera pada deskripsi
varietas tersebut.
2. Daun bendera dan 90% bulir padi telah menguning.
54


3. Malai padi menunduk karena menopang bulir-bulir yang bernas.
4. Butir gabah terasa keras bila ditekan. Apabila dikupas, tampak isi butir
gabah berwarna putih dan keras bila di gigit. Biasanya gabah tersebut
memiliki kadar air 22-25%.
Cara panen yang dilakukan petani di Desa Pulau Gambar dengan
menggunakan arit. Setelah siap dipotong dengan arit disusun pada suatu tempat.
Panen dapat dilakukan dengan cara memotong batang berikut malainya. Batang
padi dipotong pada bagian bawah, tengah, atau atas dengan menggunakan sabit
(arit). Gabah hasil panen kemudian dirontokkan di sawah. Keterlambatan
perontokan dapat menunda kegiatan pengeringan dan dimungkinkan gabah
berbutir kuning.
Cara perontokan yang dipakai para petani dengan cara dihempaskan.
Setahap demi setahap batang padi yang telah dipotong dihempas pada kayu atau
kotak gebug agar gabah terlepas dari malai dan terkumpul di alas. Hempasan
diulang 2-3 kali sehingga tidak ada gabah yang tertinggal di malai. Jerami
kemudian ditumpuk di tempat yang lain.
Setelah selesai padi dipisahkan dari jerami, kemudian dianginkan, agar
segala kotoran-kotoran atau gabah-gabah yang hampa terpisah dengan gabah yang
berisi. Setelah gabah cukup kering diangkut ke rumah dengan menggunakan
sepeda motor dan juga manusia. Produksi padi di Desa Pulau Gambar rata-rata 7
ton/ha.
Waktu yang diperlukan mulai turun benih padi hingga panen biasanya
rata-rata 4 bulan (110-115 hari). Dengan pola tanam selama 4 bulan tersebut
dalam satu tahun petani di Desa Pulau Gambar akan mengalami dua kali panen
padi dan bercocok tanam palawija di 4 bulan lainnya.
Pada saat penyemihan benih seluruh areal persawahan secara serentak
menyemih benih sehingga akan panen secara bersama-sama. Pola tanam yang
secara serentak dapat mengatasi permasalahan burung yang memakan padi serta
hama lainnya pada saat sebelum panen.
Pola tanam yang tidak serentak akan membuat tanaman yang ditanami
seperti padi dan palawija akan mengalami kerusakan akibat serangan hama
55


penyakit sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak petani, pola tanam tidak
serentak ini terjadi pada tahun 1979. Rentang penaburan benih yang baik antara
7s/d 10 hari, karena bila terlalu jauh hama akan berpindah ke lahan lain (sifat
hama adalah bermigrasi). Hama yang sering menyerang tanaman adalah burung,
hama wereng coklat, beluk merah (hama yang masuk ke dalam batang tanaman),
serta tikus. Untuk tikus ini populasi sudah sangat jarang/menurun karena
masyarakat pernah melakukan pembasmian tikus secara besar-besaran.
Sistem pemakaian air yang diperlukan tanaman padi sebaiknya secara
terputus-putus, yaitu dua hari dikeringkan tiga hari air dialirkan kembali.
Sedangkan air yang diperlukan tanaman padi memakai 2 cm, 2,5 cm sampai 5 cm
pada waktu bulir padi mau keluar.
Untuk mencegah meluapnya air pada daerah persawahan ketika terjadi
banjir, maka saluran tersier yang membawa air menuju petak sawah akan ditutup
dan limpahan banjir akan dibawa melalui saluran utama menuju bagian hilir.
Penanaman tanaman padi memiliki air yang tergenang sepanjang unit-unit
irigasi (petak sawah). Pemakaian air ini kurang dipahami oleh masyarakat
setempat, ketinggian ideal yang ditetapkan oleh kelompok petani pemakai air
adalah 2-3 cm.
Masalah yang dihadapi petani di lapangan adalah adalah hama dan tikus.
Masalah yang lain adalah rebutan air. Rebutan air ini terjadi pada musim kemarau
dimana solusinya adalah sistem rotasi air (waktu 1 blok : 1 hari 1 malam).
Untuk panen para petani Desa Pulau Gambar menggunakan dua termin
bahkan terkadang sampai tiga termin. Untuk termin pertama biasanya dimulai dari
daerah di bagian bawah (Desa Pulau Gambar) dan termin kedua adalah daerah di
bagian atas (Desa Pulau Tagor).

b. Jagung
Di Desa Pulau Gambar tanaman jagung jarang ditanam biasanya berkisar
500-1000 batang saja. Benih jagung yang sering digunakan oleh petani di Desa
Pulau Gambar yaitu benih jagung jenis hibrida. Adapun varietas jagung hibrida
56


tersebut antara lain: varietas CPI-2, C7, Jaya 1, NK22, dan DK-3. Namun jenis
benih jagung yang sering mereka tanam adalah jenis varietas NK22, karena benih
dari NK22 ini lebih kecil dari varietas lainnya, sehingga dalam segi jumlah benih
untuk ukuran kantung kemasan yang sama, benih NK22 lebih banyak dari lainnya.
Adapun deskripsi dari varietas jagung di atas sebagai berikut :
Deskripsi Varietas Jagung Hibrida
Varietas jagung hibrida : CPI-2

Tanggal dilepas : 3 November 1992
Umur : 50% keluar rambut : 56 hari
Panen : + 97 hari
Batang : Tegap dan medium - tinggi
Warna batang : Pada batang bawah berwarna hijau agak
kemerahan
Tinggi tanaman : + 197 cm
Warna daun : Hijau tua
Perakaran : Baik
Kerebahan : Cukup tahan
Tipe biji : Setengah mutiara (semi flint)
Warna biji : Kuning
Baris biji : Lurus dan rapat
Jumlah baris/tongkol : 12 - 16 baris
Bobot 1000 biji : + 318 g
Rata-rata hasil : 6,2 t/ha
Potensi hasil : 8 - 9 t/ha
Ketahanan : Tahan terhadap penyakit bulai dan karat daun
Keterangan : Baik untuk dataran rendah sampai dataran tinggi
(ketinggian 1000 m dpl.)

Varietas jagung hibrida : C7
Tahun dilepas : 1997
Umur : 95 - 105 hari
Batang : Sedang - besar dan kuat
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : 185-200 cm
Daun : Agak tegak
Warna daun : Hijau
Keragaman tanaman : Baik
Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan rebah
57


Tongkol : Besar dan relatif panjang, berwarna putih
Tinggi tongkol : 85-100 cm
Tip filling : Baik
Kelobot : Menutup dengan baik, berwarna hijau
Tipe biji : Semi mutiara - mutiara
Warna biji : Jingga
Jumlah baris/tongkol : 16 - 18 baris
Bobot 1000 biji : + 320 g
Ketahanan : Agak tahan terhadap penyakit karat dan bulai
Rata-rata hasil : 8,1 t/ha
Potensi hasil : 10,0-12,4 t/ha
Daerah adaptasi : Lebih cocok untuk dataran rendah dan tinggi
Daerah pengembangan : Baik untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera
Selatan, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara
Keterangan : Toleran terhadap kekeringan

Varietas jagung hibrida : Jaya 1
Tanggal dilepas : 25 April 2002
Umur : Berumur dalam
50% polinasi : + 59 hari
50% keluar rambut : + 60 hari
Masak fisiologis : + 104 hari
Batang : Besar dan kokoh
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : 242 cm
Warna daun : Hijau tua
Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : Sangat baik
Kerebahan : Tahan rebah
Bentuk malai : Besar dan terbuka
Warna sekam : Krem
Warna anthera : Krem muda
Warna rambut : Merah muda
Tongkol : Silindris dan panjang
Kedudukan tongkol : Di tengah-tengah tinggi tanaman
Kelobot : Menutup tongkol sangat baik
Tipe biji : Semi mutiara
Jumlah baris/tongkol : 16 - 18 baris
Bobot 1000 biji : + 300 gram
Rata-rata hasil : 9 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 15,5 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan terhadap penyakit bulai
Daerah pengembangan : Beradaptasi baik pada dataran rendah sampai
ketinggian1200 m dpl.
58



Varietas jagung hibrida : NK22
Tanggal dilepas : 14 Februari 2003
Umur : Berumur dalam
50% polinasi : + 54 hari
50% keluar rambut : + 55 hari
Masak fisiologis : + 98 hari
Batang : Besar dan kokoh
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : + 235 cm
Warna daun : Hijau tua
Keragaman tanaman : Seragam
Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan rebah
Bentuk malai : Tegak, sedang, dan terbuka
Warna malai : Kemerahan
Warna sekam : Hijau bergaris
Warna anthera : Coklat tua
Warna rambut : Merah, 1-2 kuning
Tongkol : Silindris
Kedudukan tongkol : + 95 cm
Kelobot : Menutup tongkol sangat baik
Tipe biji : Semi mutiara
Warna biji : Kuning
Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris
Bobot 1000 biji : + 290 g
Rata-rata hasil : 8,70 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 10,48 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Peka penyakit bulai, agak tahan terhadap hawar
daun, dan karat
Daerah pengembangan : Beradaptasi pada dataran rendah sampai
ketinggian 850 m dpl.

Varietas jagung hibrida : DK-3
Tanggal dilepas : 17 Maret 2004
Umur : 50% keluar rambut : + 58 hari
Masak fisiologis : + 98 hari
Batang : Besar dan kokoh
Warna batang : Hijau
Tinggi tanaman : + 195 cm
Warna daun : Hijau
Keragaman tanaman : Baik
59


Perakaran : Baik
Kerebahan : Tahan rebah
Warna malai : Ungu
Warna sekam : Hijau
Warna anthera : Merah muda
Bentuk tongkol : Besar
Tinggi tongkol : Sedang (+ 103 cm)
Warna tongkol : Putih
Kelobot : Menutup tongkol dengan baik
Tipe biji : Semi mutiara
Warna biji : Oranye kuning
Jumlah baris/tongkol : 14 - 16 baris
Bobot 1000 biji : + 300 g
Rata-rata hasil : 9,25 t/ha pipilan kering
Potensi hasil : 11,94 t/ha pipilan kering
Ketahanan : Tahan terhadap penyakit karat, toleran terhadap
penyakit bulai
Keunggulan : Tahan terhadap kekeringan (stress air) dan tahan
rebah sesuai untuk daerah yang sering terjadi angin
dengan kecepatan yang tinggi seperti di Langkat
(Sumut).

Ada beberapa tahapan yang dilakukan para petani dalam bercocok tanam
jagung di Desa Pulau Gambar diantaranya yaitu: memilih benih, pengolahan
lahan, pemupukan lahan tanam, pembuatan lubang tanam, penanaman benih,
perawatan dan penyulaman benih pemupukan, penyiangan gulma, pemupukan
lanjutan, pengairan, pengendalian dan pemberantasan hama dan penyakit serta
panen.
1. Memilih Benih
Benih bermutu merupakan syarat utama untuk mendapatkan panen yang
maksimal. Disebut benih bermutu; jenisnya murni, bernas, kering, sehat, bebas
penyakit dan campuran biji rumput yang tidak dikehendaki. Kriteria ini biasanya
menghasilkan tanaman sehat, kekar, kokoh dan pertumbuhan yang seragam.

2. Pengolahan Lahan
a. Pengolahan Lahan dan Pembersihan Gulma
Sebelum jagung ditanam, lahan perlu dibersihkan dari gulma dan tanaman
liar. Gulma seperti alang alang, rumput teki, semak dan pohon perdu disiangi
sampai ke akar akarnya. Gulma itu dibakar, abunya ditaburkan ke lahan sebagai
60


kompos untuk kesuburan tanah. Gulma jangan dikubur, karena dikawatirkan akan
munculnya hama seperti rayap dan semut. Selain itu, alang alang dan rumput teki
bisa tumbuh kembali apabila hanya dikubur di dalam tanah. Selain gulma, pohon
pohon besar yang tumbuh di sekitar lahan dan berpotensi menghalangi masuknya
sinar matahari; untuk jagung melakukan proses fotosintesis, juga perlu ditebang.

b. Pencangkulan
Pencangkulan dilakukan dengan memindahlkan tanah bagian bawah
sedalam 15 s/d 20 cm ke atas permukaan lahan. Selain untuk menyeimbangkan
ketersediaan unsur hara antara bagian bawah dan bagian atas lahan, pencangkulan
juga dimaksudkan membuat tanah lebih remah dan gembur. Untuk lahan yang
memiliki jenis tanah gembur atau bekas tanaman semusim, pencangkulan cukup
dilakukan sekali saja. Sementara itu untuk lahan yang memiliki tanah berat,
pencangkulan perlu dilakukan dua kali lalu digaru. Jika lahan yang digarap terlalu
luas, pencangkulan bisa diganti dengan bajak agar pengerjaannya bisa lebih cepat.

c. Pembuatan Bedengan
Pembuatan bedengan untuk lokasi penanaman benih banyak dilakukan di
dataran rendah pada lahan kering, lahan bekas sawah, atau lahan tadah hujan.
Bedengan dibuat selebar 70 s/d 100 cm, dengan ketinggian antara 10 s/d 20 cm.
Sedangkan untuk panjangnya disesuaikan dengan kondisi, kontur, lahan. Di
daerah kering tinggi bedengan sebaiknya dibuat agak rendah untuk memudahkan
penyiraman karena jika terlalu tinggi membutuhkan banyak air saat penyiraman.
Di antara bedengan dibuat parit selebar 20 s/d 30 cm yang berfungsi untuk
mengatur keluar masuknya air di bedengan agar akar jagung tidak tergenang.
3. Pemupukan
Pemupukan dimaksudkan meningkatkan kandungan unsur hara di lahan
tanam. Waktu pemberian pupuk RI1, yang paling efektif selain bersama dengan
saat pencangkulan atau pembajakan bisa juga diberikan saat akan membuat
lubang tanam. Dengan cara begitu, pupuk RI1 yang diberikan akan tercampur
merata dengan lahan tanam. Sebagai pedoman untuk lahan 1 hektare diperlukan
12-15 liter pupuk RI 1.
61



4. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sedalam antara 2 s/d 5 cm menggunakan tugal, yakni
alat terbuat dari kayu bulat panjang ujungnya runcing. Jarak lubang adalah 20 x
20 cm atau 20 x 40 cm. Agar barisan lubang tanam yang dibuat menjadi teratur,
bisa digunakan alat bantu berupa tali yang dibentangkan sepanjang bedengan.
Sementara itu, untuk benih yang ditanam di parit bedengan, diperlukan jarak antar
lubang sepanjang 20 cm.
5. Penanaman Benih
Untuk menghindarkan hama dan jamur serta untuk merangsang
pertumbuhan dengan kualitas yang baik, sebelum ditanam benih direndam terlebih
dahulu ke dalam air yang sudah dicampur pupuk RI1 selama 30 menit. Sesudah
direndam perlu ditiriskan, tetapi tidak perlu diberi fungisida. Penanaman benih
dilakukan pada pagi atau sore, saat matahari tidak begitu terik. Setelah benih
masuk ke lubang, maka lubang itu harus ditutuip lagi dengan tanah secara ringan;
tidak perlu dipadat padatkan.
Waktu terbaik menanam benih adalah waktu akhir musim hujan agar saat
masa pertumbuhan hingga memasuki masa mengeluarkan buah, tanaman masih
mendapatkan pasokan air dan diharapkan saat panen tiba, musim kemarau telah
datang sehingga memudahkan proses pengeringan.
6. Perawatan dan Penyulaman Benih
Satu minggu setelah tanam benih akan tumbuh dan muncul tanaman muda.
Saat itu pengecekan harus dilakukan. Jika ada benih yang tidak tumbuh, mati, atau
tanaman muda terserang penyakit, segera lakukan penyulaman yakni melakukan
penanaman benih kembali yang proses dan tata caranya sama dengan penanaman
benih sebelumnya. Penyulaman ini dimaksudkan agar tanaman tumbuh seragam,
baik umur maupun sosoknya. Karena itu penyulaman tidak bisa dilakukan setelah
tanaman berumur di atas 25 hari, dikarenakan pada usia itu sistem perakaran
tanaman sudah tumbuh kuat sehingga benih sulaman tidak mampu bersaing
memperebutkan unsur hara.


62


7. Penyiangan Gulma
Penyiangan dilakukan dua kali; pada saat tanaman berumur 14 hari dan 40
hari setelah tanam. Untuk gulma seperti rumput atau perdu lain, penyiangan
dilakukan manual dengan cara mencabut seluruh bagian tanaman gulma sampai
ke akar akarnya. Setelah itu gulma dikumpulkan dan dibakar sampai habis!
Bersama penyiangan gulma yang kedua dilakukan juga pembubunan, yakni
menutup akar tanaman yang muncul ke permukaan tanah dengan menggunakan
tanah yang diambil di antara tanaman. Dengan menggunakan cangkul, tanah
dipindahkan ke barisan jagung yang ada di kanan dan kiri hingga tercipta parit
baru barisan tanaman. Hal ini dimaksudkan agar akar tanaman semakin
mencengkeram tanah sehingga tanaman tidak akan roboh saat diterpa angin.
8. Pupuk Lanjutan
Pada usia 15 s/d 30 hari setelah tanam atau setelah penyiangan pertama,
tanaman perlu diberi pupuk lanjutan. Dengan tetap menggunakan RI1, pemberian
pupuk ini dilanjutkan kembali setelah berusia 40 hari.
9. Pengairan
Pengairan dilakukan dengan sistem mengalirkan air ke dalam parit hingga
meresap ke seluruh bagian bedengan. Cara ini lebih efisien dibanding penyiraman
manual yang tentu memakan banyak waktu dan tenaga. Agar akar tanaman tetap
mudah bernafas, usahakan saat melakukan pengairan air tidak sampai
menggenangi bedengan. Untuk lahan yang tergolong kering atau saat tanaman
mulai mengeluarkan buah, pengairan harus dilakukan dengan teratur dan
terjadwal. Lahan yang terlalu kering atau kekurangan air saat proses pembuahan
akan mengakibatkan tongkol tumbuh kecil sehingga mengurangi jumlah produksi
pada saat panen.
10. Panen
Umur panen tergantung dari varietasnya. Tetapi ada beberapa ciri khusus,
salah satunya adalah ketika daun jagung, kelobot, sudah berwarna putih
kecoklatan dan tidak meninggalkan bekas apabila bijinya ditekan menggunakan
kuku. Sebelum dipanen, daun jagung dikupas dan dipangkas bagian atasnya
sehingga yang tersisa di pohon adalah buah jagung yang terkupas tetapi masih
tersisa daunnya. Perlakuan ini dimaksudkan untuk mempercepat proses
pengeringan jagung. Setelah beberapa hari di pohon dan bijinya tampak
63


mengering, barulah dilakukan pemetikan dengan mengambil waktu pada siang
hari, ketika cuaca terik, agar kadar air dalam biji tidak bertambah. Ingat, kadar air
yang tinggi menyebabkan buah jagung mudah terserang penyakit.
Pemetikan jagung bisa dilakukan dengan memetik buahnya saja, tongkolan, atau
sekaligus dengan daun keringnya. Jika jagung yang dipanen buahnya saja akan
lebih mudah diangkut menggunakan keranjang atau karung, maka jagung yang
dipanen dengan daunnya akan memudahkan pengangkutan bila menggunakan
pikulan. Setelah jagung dipanen, selanjutnya perlu dilakukan penjemuran,
pemipilan; memisahkan biji jagung dari tongkolnya, dan penyimpanan.


1
Tabel 3.2 Kegiatan Budidaya Padi dan Jagung di D.I. Paya Kapar / Pinang Mancung


65

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful