Ciri-ciri fonologis dari dialek bahasa Oleh: Fatya Noor Azizah (120810044) Nur Aini (120810249) Lilik

Nur Indah Sari

Page 1

Pengertian Dialektologi
Dialektologi cabang dari merupakan linguistik Isolek merupakan istilah netral untuk perbedaan

ilmu tentang dialek atau
yang mengkaji perbedaanperbedaan isolek dengan memerlakukan perbedaan

dialek
oleh

atau
Hudson

bahasa,
(dalam

seperti yang disarankan Mahsun, 1995: 11).

tersebut

secara

utuh

(Mahsun, 1995: 11).
Page 2

Pengertian secara luas:
Penelitian tentang dialektologi berupaya untuk menjelaskan tentang perbedaan polapola linguistik, baik yang dilakukan secara diatopis yang mencakup variasi geografis maupun yang dilakukan secara sintopis, yang melibatkan faktor-faktor sosial (Poedjosoedarmo dalam Laksono, 2009: 2).

Page 3

Pengertian Dialek:
Menurut Meillet (1970:70) Ciri utama dialek ialah
perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan. Selain itu, ia juga mengemukakan ciri lain dari dialek, yakni dialek ialah seperangkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda, yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya jika dibandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama.
Page 4

Dialek dapat dibedakan menjadi lima macam:
1. Perbedaan fonetik (Guairaud, 1970:12). Perbadaan itu berada di bidang fonologi, dan biasanya si pemakai dialek atau bahasa yang bersangkutan tidak menyadari adanya perbedaan tersebut. 2. Perbedaan semantik, yaitu terciptanya katakata baru, berdasarkan perubahan fonologi dan geseran bentuk. Dalam peristiwa tersebut biasanya terjadi geseran makna.

Page 5

3. Perbedaan onomasiologis yang menunjukan nama yang berbeda berdasarkan satu konsep yang diberikan di beberapa tempat yang berbeda (guirad, 1970:16). Menghadiri kenduri misalnya , di beberapa daerah BS tertentu biasanya disebut ondangan,

4. pebedaan semasiologis yang merupakan kebalikan dari perbedaan onomasiologis yaitu pemberian nama yang sama untuk beberapa konsep yang berbeda (Guatid, 1970:18)

kondangan, dan kaondangan , sedangkan
di tempat lain disebut nyambungan.

Page 6

5. Perbedaan morfologis yang dibatasi oleh adanya system tata bahasa yang bersangkutan, frekuensi morfem-morfem yang berbeda, kegunaan yang berkerabat, wujud fonetisnya, daya rasanya, dan sejumlah faktor lainnya lagi (Guarid, 1970:18). Namun disini penulis akan membahas ciri-ciri fonologis dari dialek bahasa saja yang akan di bahas selanjutnya.

Page 7

Ciri-ciri Fonologis dari Dialek Bahasa
Untuk mengetahui ciri-ciri fonologis sebuah bahasa kita harus mengetahui bahasa protonya terlebih dahulu setelah itu dapat ditemukan bahasa-bahasa kerabatnya serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi.
Page 8

 Transkripsi fonetis merujuk pada bagaimana glos

diucapkan (glos merupakan bentuk yang dikenal dalam bahasa yang digunakan oleh pemakainya). Menurut Lauder (2002) untuk dapat melaksanakan transkripsi fonetis, peneliti harus mengenal dan menandai semua bunyi itu sesuai dengan pengucapannya.

 Contoh: bahasa indonesia, melanesia, polinesia bahasa protonya adalah melayu polinesia rumpunnya adalah rumpun austronesia. Misalnya kata ”cantik” dalam bahasa Indonesia dilafalkan dengan ”cantik” sedangkan dalam bahasa Malaysia dilafalkan dengan ”cantek”. Perbedaan pelafalan dua kata ini terletak pada adanya perbedaan fonem /i/ dan /e/ pada dua kata tersebut.
Page 9

Contoh lain dari ciri fonologis:
kata-kata yang berkorespondensi fonemis dalam bahasa-

bahasa kerabat:
Gloss Indonesia Padi Padi Dua Dua Udang Udaŋ

Jawa Sunda Batak

Pari Pare Page

(lo)ro Duwa Dua

Uraŋ Huraŋ udaŋ

Page 10

Ciri-ciri fonologis dilihat berdasarkan perbedaan korespondensi bunyi yang dikelompokan atas 4 kelompok, yaitu perbedaan berupa korespondensi vokal, variasi vokal, korespondensi konsonan dan variasi konsonan. 1. korespondensi vokal dan konsonan bahasa Jawa Kabupaten Semarang, ditemukan Zulaeha (2003): - korespondensi vokal penurunan bunyi vokal pada suku kata tertutup contoh : BJS (bahasa jawa standar) -> /gətIh/ BJKS (bahasa jawa kab semarang) -> /gətԑh/

Page 11

- Korespondensi konsonan * pengganti konsonan pada suku akhir. fonem /n/ pada BJB (bahasa jawa brebes) berkorespondensi dengan /ŋ/ pada suku akhir dalam BJKS : contoh : BJS -> /kuluban/ BJKS -> /kuban/ /kubaŋ/ * penghilang konsonan pada suku awal BJS -> /wudəl/ BJKS -> / udəl/

Page 12

* Penghilang suku yang bertekanan lemah contoh BJS -> /mburitan/ BJKS -> /mbitan/ * penambahan konsonan pada suku awal atau tengah contoh BJS -> /dalu/ BJKS -> /ndalu/

Page 13

SEKIAN & TERIMA KASIH

Page 14

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful