PERTANIAN KONSERVASI

PERTANIAN KONSERVASI
(PERTANIAN BERKELANJUTAN I) 3 SKS (2-1)
Team Teaching : Dr. Hj. Ika Mertikawati, Ir., MS. (Koordinator) Prof. Dr. Hj. Aisyah D. Suyono, Ir. Prof. Dr. H. E. Hidayat, Salim, Ir. Dr. Rachmat Harryanto Ir., MS. Tamyid Syammusa, Ir., MS. Nanang Komarudin, Ir., SU. Dr. Hj. Siti Mariam, Ir., MS. Dr. Rina Devnita, Ir., MS., MSc. Daud Siliwangi Saribun, Ir., MS. Ridha Hudaya, Ir., MS. Dr. Maya Damayani, Ir., MS. Santosa Yudha, SP., MSc. Fahmi Rizal, SP., MT.

SUMBERDAYA LAHAN INDONESIA

  


Luas Wilayah Luas Daratan Luas Lautan Jumlah Pulau Panjang Pantai

: 600 Juta Ha : 191 Juta Ha : 419 Juta Ha : 17 Ribu : 80 Ribu Km

  


Jumlah G.Api Luas Rawa Lahan Berlereng Lahan Marginal Penduduk

: : : : :

127 29 Juta Ha 88 Juta Ha 126 Juta Ha 240 Juta

NERACA KAWASAN LINDUNG – BUDIDAYA DAN PENGGUNAAN TANAH DI INDONESIA DAN JAWA-BALI

Indonesia

Lindung Non Hutan 7%

Jawa Bali

Lindung Non Hutan 10% Lindung Hutan 8%

Budidaya Hutan 12%

Lindung Hutan 29%

Budidaya Hutan 37%

Budidaya Non Hutan 27%
Budidaya Non Hutan 70%

No 1.

Kategori Sifat Lahan Lereng Curam -Perbukitan <500 m Sangat Tertoreh -Pegunungan <500 m Cukup Tertoreh -Pegunungan <500 m Sangat Tertoreh Tanah Dangkal Drainase Buruk Tekstur Kasar Tekstur Liat Berat Kesuburan Rendah Salinitas Sulfat Masam Gambut

Luas Lahan ( Juta Ha) Sumatera Jawa/Bali Kalimantan Sulawesi Maluku/NT Papua

Jumlah 88,18

4,43 0,81

3,58 1,25

3,99 8,05

2,60 3,34

4,05 4,50

3,14 12,28

21,79 30,24

9,99 0,05 6,09 0,33 14,85 0,46 0,86 6,29

1,65 0,24 2,36 0,17 0,59 1,72 0,13 0,06 -

10,47 0,52 4,27 0,80 17,74 0,52 1,01 4,94

8,00 0,37 1,69 0,16 0,04 1,29 0,18 0,22 0,15

2,44 1,33 0,85 0,22 0,21 0,45 0,48 0,24 -

3,61 0,32 6,78 0,16 6,60 0,41 1,72 4,70

36,15 2,83 22,04 1,84 0,84 42,65 2,17 4,11 16,08

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

NO. 1. 2.

GOLONGAN TANAH HISTOSOLS ENTISOLS

LUAS (JUTA HA) 16,266 25,815

% 8,52 13,52

3. 4.
5. 6. 7.

INCEPTISOLS ULTISOLS
OXISOLS ALFISOLS MOLLISOLS

80,721 38,669
8,140 0,553 4,721

42,27 20,25
4,26 0,28 2,47

8.
9 10. 11.

SPODOSOLS
ANDISOLS VERTISOLS LAINNYA

1,694
2,581 0,820 1,001

0,89
1,35 0,43 0,52

No. 1. 2. 3. 4.

Pulau Sumatera Kalimantan Sulawesi Irian Jaya Jumlah

Rawa (Juta Ha) 8,50 8,69 0,16 11,51 28,86

Lahan Kering (>15%) (Juta Ha) 20,05 30,01 14,68 21,82 86,20

KELAS KEMAMPUAN LAHAN NO. PULAU IV V VI JUMLAH

1.
2. 3. 4.

JAWA/BALI/MADURA
SUMATERA KALIMANTAN SULAWESI

0,21
7,78 1,32 1,97

2,47
26,30 23,29 2,11

3,52
5,21 13,26 3,43

6,20
39,29 37,87 7,51

5.
6. 7.

PAPUA
NUSA TENGGARA MALUKU J U M LAH

1,14
2,07 1,11 15,51

17,76
2,20 3,43 77,54

6,69
0,42 1,21 33,73

25,59
4,69 5,75 126,77

SISTEM PERTANIAN DI INDONESIA

I. PERLADANGAN BERPINDAH

(EXTENSIVE SHIFTING CULTIVATION )

II. PERTANIAN INTENSIF MEMENUHI KEBUTUHAN SENDIRI

(INTENSIVE SUBSISTANCE AGRICULTURE ) (COMMERCIAL AGRICULTURE )

III. PERTANIAN KOMERSIAL

 Pertanian

ekstensif dg merambah hutan.  Sistem rotasi pada lahan kering berlereng.  Pertanian primitif (tebang, tebas, bakar & tanam).  Komoditas terbatas.  Tanpa input pertanian.  Tk. erosi tinggi menimbulkan lahan kritis.

 Pertanian

dilakukan secara intensif pd lahan basah atau kering.  Pertanian secara intensif (monokultur atau tumpangsari).  Menggunakan input pertanian.  Komoditas umumnya terdapat di pasaran.  Tingkat erosi relatif tergantung pengelolaannya.

 Pertanian

dilakukan sangat intensif pd lahan kering dg areal luas.  Pengelolaan secara modern dg input pertanian tinggi.  Pertanian komersial dg komoditas bernilai ekonomi tinggi.  Sistem pertanian berkelanjutan dg tingkat erosi rendah.

DEFINISI
Usaha penggunaan tanah secara efisien dan efektif sesuai dengan kemampuannya agar dicapai produktivitas pertanian secara optimal dan berkelanjutan.

Mencegah kerusakan tanah akibat erosi. - Memperbaiki tanah rusak & pemulihan tanah kritis. - Meningkatkan produktivitas tanah; pemanfaatan tanah rawa, pasang surut & reklamasi tanah bergaram. - Menetapkan kelas kemampuan lahan beserta dg tindakan / perlakuannya agar lahan dapat digunakan selama-lamanya.
-

RUANG LINGKUP

DEFINISI Upaya penggunaan air secara efisien dan efektif sesuai dengan penggu-naannya agar di-capai produktivitas pertanian yang berkelanjutan

RUANG LINGKUP
• Memelihara

jumlah dan kualitas air melalui pengelolaan tanah dan tanaman yang baik. • Pengaturan waktu aliran untuk mencegah banjir dan kekeringan. • Pemanfaatan air secara maksimum dg cara yg efisien.

DEFINISI
Proses deposisi materi partikel tanah yang terlepas dr agregatnya akibat tumbukan hujan dan penggerusan pada permukaan lahan oleh energi kinetik air

AKIBAT
Degradasi tanah/lahan kritis  Sedimentasi sungai/waduk  Banjir/kekeringan  Penurunan produktivitas tanah pertanian  Pencemaran lingkungan  Kondisi DAS kritis  Kerugian secara ekonomi  Program pembangunan terganggu

Pengaruh Produktivitas Tanah (%) Terhadap Kedalaman Tanah Tererosi (cm)

Pengaruh Erosi Terhadap Hasil Padi Ladang (GKP) (100 Kg/Ha)
12 10 8 6 4 2 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Slope8-15% Slope15-25%

Th

Tanaman Semusim < 20 Cm Tanaman Tahunan > 50 cm

Muka Air Tanah/ Simpanan Air Tanah

Degradasi Tanah
Penurunan produktifitas lahan akibat erosi yg merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga menimbulkan lahan-lahan kritis
Degradasi Tanah

Sifat Fisik Tanah Rusak

Sifat Kimia Tanah Rusak

Sifat Biologi Tanah Rusak

LAHAN KRITIS FISIK-TEKNIS

LAHAN KRITIS HIDRO-OROLOGIS

LAHAN KRITIS SOSIAL-EKONOMI

ASPEK KRITERIA

LAHAN KRITIS • Lahan tidak/kurang produktif dr segi pertanian. • Lahan dengan pengelolaan/penggunaan tidak memperhatikan daya dukung, kemampuan dan konservasi tanah.

ASPEK TK. KERUSAKAN FISIK

LAHAN POTENSIAL KRITIS

LAHAN SEMI KRITIS

LAHAN KRITIS

DEGRADASI LAHAN
(7 Juta Ha Potensial Kritis, 6 Juta Ha Semi Kritis dan 4,9 Juta Ha Kritis).

Deptan. : 18 Juta Ha Degradasi Lahan Dephut. : 13,2 Juta Ha Lahan Kritis (5,9

Juta Ha di Dalam Hutan dan 7,3 Juta Ha di Luar Hutan).

BPS : 38,6 Juta Ha Lahan Terdegradasi.

LAJU PENINGKATAN DAS KRITIS DI INDONESIA
1010 1100 1120 1130 1180 5090 4010 1260 2020 2010 2040 2050 2100 2080 2090 2120 21302140 5150 5160 5170

22 DAS Kritis Super Prioritas (1984)

1010 1100 1120 1130

1180 5090 4010 1260 2020 20102040 2050 2100 2080 2090 2120 21302140 5150 5160 5170

39 DAS Kritis Super Prioritas (1992)

62 DAS Kritis Super Prioritas (2005)

SIKLUS AIR

Kesetimbangan Air/Water Balance DAS

P = ET + RO + I

NERACA AIR
Pe = In + Po + Ro + Ev + Tr + Dws

NERACA AIR Pe = In + Po + Ro + Ev + Tr + Dws

☞ FUNGSI HIDRO-OROLOGIS & SIKLUS HIDROLOGI

Perlindungan Tanah & Pengaturan Tata Air Presipitasi – Infiltrasi – Perkolasi – Runoff- Transpirasi – Aliran Sungai Evaporasi

TIPE EROSI
I. EROSI NORMAL
(NORMAL EROSION/GEOLOGICAL EROSION)
- Terjadi secara alamiah. - Kehilangan tanah < / = pembentukan tanah.

II. EROSI DIPERCEPAT
(ACCELERATED EROSION) - Terjadi akibat faktor manusia. - Kehilangan tanah > pembentukan tanah.

FAKTOR PENYEBAB EROSI

E = f ( C, T, S, V, H )
E = Erosion (Erosi) C = Climate (Iklim) T = Topography (Topografi) S = Soil (Tanah) V = Vegetation (Tumbuhan) H = Human (Manusia)

PROSES EROSI
1). DETACHMENT 2). TRANSPORTABILITY 3). BETWEEN SETTLEMENT

4). SEDIMENTATION

Proses Erosi

PROSES TERJADINYA EROSI
(Meyer and Weischmeier, 1969)
Tanah dr Lereng Atas Hancuran Tanah oleh Air Hujan Hancuran Tanah oleh Run-Off Daya Angkut Air hujan Daya Angkut Run-Off

Hancuran Tanah dlm Perjalanan Total Tanah Hancur Bandingkan TTH < TDA TTH > TDA Tanah yang Diangkut ke Lereng Bawah Total Daya Angkut

Detachment

Pelepasan partikel tanah dr agregatnya akibat tumbukan butiran hujan (splash erosion/raindrop erosion). Kekuatan tumbukan: - Diameter butir hujan - Kecepatan hujan Energi kinetis hujan : m = masa butir hujan V = percepatan

Ek = ½ m.V2

Proses Splash Erosion
Sudut Jatuh Butiran Hujan pd Permukaan Tanah

Mekanisme & Proses Detachment pd Berbagai Sekuen Waktu

JENIS EROSI
1). Erosi Percikan (Splash

Erosion)

Erosi yang disebabkan oleh tumbukan / percikan langsung butiran air hujan pd permukan tanah.

2). Erosi Lembar (Sheet

Erosion)

Pengangkutan lapisan tanah secara tipis & merata berbentuk lembar pd permukaan bidang tanah.

3). Erosi Alur (Rill

Erosion)

Penggerusan aliran permukaan secara terkonsentrasi dg membentuk alur dangkal memanjang pd permukaan tanah.

4). Erosi Parit (Gully Erosion)
Prosesnya sama dg erosi alur, tetapi saluran yg terbentuk sangat dalam.

5). Erosi Tebing Sungai (Stream Bank Erosion)
Erosi yg terjadi akibat pengikisan tebing sungai oleh air yg mengalir dr bagian atas atau pengikisan oleh arus air yg kuat pd kelokan atau sepanjang sungai.

6). Tanah Longsor (Landslide)
Pengangkutan ate pemindahan tanah yg terjadi secara bersamaan/serempak dg volume yg besar akibat penjenuhan kandungan air tanah dan adanya lapisan kedap air berupa bidang gelincir.

Ketebalan Tanah Tererosi

Erosi pada zona akar vegetasi rumput

Erosi pada zona akar vegetasi hutan

Jenis - Jenis Erosi

Erosi Alur dan Parit

Rill Erosion

Gully Erosion

Jenis Erosi Lainnya
Tunnel Erosion

Pedestrial Erosion

Landslide

B. Erosi Alur (Rill Erosion)

Erosi Parit (Gully Erosion)

C. Gully erosion

C. Erosi Parit

D. Erosi Tebing Sungai (Stream Bank Erosion)

E. Tanah Longsor (Land Slides)

Tahapan Jenis Erosi
 


  

Raindrop E Sheet E Rill E Gully E Channel E Landslides

TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH

I.

METODE VEGETATIF

II. METODE MEKANIK III. METODE KIMIA

I. METODE VEGETATIF
No.
1

Jenis Teknologi Konservasi
Penanaman Tanaman Penutup Tanah (Cover Cropping)

2
3 4 5 6

Penanaman Rumput (Grass Planting)
Penanaman Menurut Kontur (Contour Cropping) Penanaman Dalam Strip (Strip Cropping) Rotasi Tanaman (Crop Rotation) Tumpangsari (Multiple Cropping)

Lanjutan No.
7

Jenis Teknologi Konservasi
Budidaya Lorong (Alley Cropping)

8
9

Sistem Talun
Penghijauan (Regreening)

10
11

Reboisasi (Reforestation)
Wanatani (Agroforestry / Agrosilvyculture)

1.1. Penanaman Tanaman Penutup Tanah (Cover Cropping)

1. Tanaman Penutup Tanah Rendah
(Low Cover Crop)

No.
1
2 3 4 5

Jenis Tanaman Penutup Tanah Rendah
Kalopo (Calopogonium cerulium)
Kacang Asu ( Calopogonium mucunoides) Sentro (Centrosema pubescens) Kacang Ruji ( Pueraria javanica) Kudzu (Pueraria thunbergiana)

6

Kudzu Tropis (Pueraria phaseoloides)

2. Tanaman Penutup Tanah Sedang (Medium Cover Crop) Jenis Tanaman No. Penutup Tanah Sedang
1 2 3 Lamtoro Merah (Acacia vilosa) Petai Cina (Leucaena glauca) Turi (Sesbania grandiflora)

4
5 6 7

Teprosia (Tephrosia candida)
Hahapaan (Flemingia congesta) Orok-orok (Crotalaria juncea) Orok-orok (Crotalaria usaramoensis)

3. Tanaman Penutup Tanah Tinggi (High Cover Crop) Jenis Tanaman No. Penutup Tanah Tinggi
1 2 Sengon Laut (Albizia valcata) Gamal (Griricidia maculata)

3
4

Gamal (Griricidia sephalum)
Gamal (Griricidia notatum)

5

Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala)

1.2. Penanaman Rumput (Grass Planting)

Penerapan Sekat Rumput

Teknik Penanaman Rumput

Jenis Tanaman Rumput
No.
1 2

Jenis Tanaman Rumput
Rumput Lamuran (Polytrias amaura) Rumput Lamuran Menjangan (Andropogon caricosus)

3 4 5 6

Rumput Belulang (Eleusine indica) Jukut Pait (Anastrophus compressus) Jawawut (Setaria viridae) Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Lanjutan

No.
7
8 9 10 11

Jenis Tanaman Rumput
Rumput BB (Brachiraria brizantha)
Rumput BD (Brachiraria decumbens) Rumput Bahia (Paspalum notatum) Kolonjono (Panicum muticum) Rumput Benggala (Panicum maximum)

12
13

Rumput Australia (Paspalum dilatatum)
Rumput Gajah (Pennisetum purureum)

1.3. Penanaman Menurut Kontur (Contour Cropping)

Penanaman Searah Garis Kontur

1.4. Penanaman Dalam Strip (Strip Cropping)

1.5. Rotasi Tanaman (Crop Rotation)

Jagung Jagung

Kedelai

1.6. Tumpangsari (Multiple Cropping)

1.7. Penanaman Sistem Lorong (Alley Cropping)

1.8. Sistem Talun

Penghijauan Daerah Pantai

1.9. Penghijauan (Regreening)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Jenis Tanaman Mangga (Mangifera indica) Alpukat (Persea americana) Nangka (Artocarpus integra) Kluwih (Artocarpus communis) Durian (Durio zibethinus) Rambutan Jambu Mete (Anacardium occidentale) Jambu Air (Psidium aquatica)

Lanjutan
No. 9 Jenis Tanaman Jambu Air (Psidium guajava)

10 11 12 13 14
15 16

Coklat (Theobroma cacao) Kopi (Coffea sp) Karet (Hevea braziliensis) Teh (Thea sinensis) Cengkeh (Eugenia aromatica)
Petai (Parkia speciosa) Turi (Sesbania grandiflora)

Lanjutan
No. 17 Jenis Tanaman Belimbing (Averrhoa carambola)

18
19 20 21

Angsana (Pterocarpus indicus)
Albasia (Albizia falcata) Gandaria (Bouca macrophylla) Manggis (Garcinia mangostana)

22
23 24

Rambutan (Nephelium lappaceum)
Sawo (Achras zapota) Sawokecik (Manikara kauki)

1.10. Reboisasi (Reforestation)

Jenis Tanaman Reboisasi
No. 1 Jenis Tanaman Puspa ( Schima moronhae)

2
3 4

Rasamala (Altingia excelsa)
Meranti (Shorea sp.) Damar (Agathis lorantifolia)

5
6

Akasia (Acacia auriculifurmis)
Mahoni Berdaun Besar (Swietenia macrophylla) Ekaliptus (Eucalyptus sp.) Mesopsis (Maesopsis eminii)

7
8

Lanjutan
No. 9 10 11 Jenis Tanaman Jati (Tectona grandis) Pinus (Pinus merkusii) Kaliandra (Calliandra sp.)

12
13 14 15

Kemlandingan (Leucaena glauca)
Sonokeling (Dalbergia latifolia) Mahoni Berdaun Kecil (Swietenia mahagoni) Jati Putih (Gmelina sp.)

16

Dll.

1.11. Wanatani / Pertanian Kehutanan (Agroforestry / Agrosilvyculture)

II. METODE MEKANIK
No.
1
2 3 4 5 6 7 8

Jenis Teknologi Konservasi
Pengolahan Tanah Minimum (Minimum Tillage)
Pemulsaan (Mulching) Pengolahan Tanah Menurut Kontur (Contour Cultivation) Rorak (Silt Pit) Galengan Penghubung (Tied Ridging) Drainase Air (Water Drain) Kolam/Embung (Ponds) Dam Pengendali (Check Dam )

No. LanjutanJenis Teknologi Konservasi
9 10 11 12 13 14 15 Bendungan / Waduk (Dam) Teras Berdasar Lebar (Broadbase Terrace) Guludan (Dike) Teras Bangku (Bench Terrace) Teras Individu (Individual Terrace) Teras Kebun (Garden Terrace) Alur Bedengan (Skip Furow)

16 17

Surjan (Alternating Bed) Kanal (Canal)

2.1. Pengolahan Tanah Minimum (Minimum Tillage)

2.2. Pemulsaan (Mulching)

Mulsa Kasar

Mulsa Organik

Mulsa Halus

Mulsa Plastik

2.3. Pengolahan Tanah Menurut Kontur (Contour Cultivation)

2.4. Rorak (Silt Pit)

2.5. Galengan Penghubung (Tied Ridging)

2.6. Drainase Air (Water Drain)
(1) Saluran drainase pelimpas diantara kawasan konservasi (hutan) atau penyangga dg kawasan budidaya (pertanian).

(2 Saluran drainase didalam daerah pertanian diantara petak/blok pertanaman.

(3) Saluran drainase pembuangan dari kawasan pertanian ke sungai.

Penampang Saluran Drainase
Saluran Pelimpas Banjir (Storm Water Drain)

Saluran Teras Berlereng (Graded Chanel Terrace)

Saluran Pembuangan Berumput (Grass Waterways)

2.7. Kolam / Embung (Ponds)

2.8. Dam Pengendali (Checkdam)

Penampang Konstruksi Dam Pengendali

Konstruksi Dam Pengendali

Jenis dan Material Dam Pengendali

2.9. Bendungan (Dam)

Bendungan Irigasi ( Saluran Penyadap, Saluran Utama, Saluran Primer, Saluran Sekunder, Jaringan Tersier & Jaringan Kwarter)

Bendungan Serbaguna (Pengendali Banjir, PLTA, Irigasi, PAM dll.)

Sedimentasi Pada Bendungan Akibat Erosi

Sedimentasi waduk Wonogiri

2.10. Teras Berdasar Lebar (Broadbase Terrace)

 Level Terrace (1 – 3 %)

 Graded Terrace (3 – 8 % )

2.11. Guludan (Dike)

Dike (1 – 6%)

Dike Terrace (6 – 15 %)

Credit Terrace (6 – 15 %)

1. Guludan Biasa (Regular Dike)

2. Teras Gulud (Dike Terrace)

3. Teras Kredit (Credit Terrace)

Guludan Pada Berbagai Teknik Konservasi

2.12. Teras Bangku (Bench Terrace)

Jenis Teras Bangku (8 – 50 %)

Level Bench Terrace

Sloping Bench Terrace

Step Terrace

Irrigation Terrace

1. Penampang Teras Bangku Datar (Level BenchTerrace)

2. Penampang Teras Bangku Berlereng (Sloping Bench Terrace)

3. Penampang Teras Tangga (Step Terrace)

4. Penampang Teras Irigasi (Irrigation Terrace)

PERANCANGAN TERAS
Ketentuan :
1). Pemilihan teras berdasarkan: kemiringan lahan, kedalaman solum, stabilitas / permeabilitas tanah, toksisitas tanah & curah hujan.
2). Tinggi teras (VI) & lebar bidang olah (HI) ditentukan oleh kemiringan lahan (S). 3). Kelengkapan teras (rorak, tanggul, talud, s.p.a., terjunan, saluran pembagi & pelimpas) ditentukan oleh jenis teras.

TEKNIK PERANCANGAN TERAS

VI = 0,12 S + 0,3 HI = VI / S X 100
VI = tinggi teras (m) Hi = lebar bidang olah (m) S = kemiringan lahan (%)

Tabel Rancangan Teras
% 1 3 4 5 6 7 8 9 - 10 11 - 15 30 50 VI (m) 0,4 0,7 0,8 0,9 1,0 1,1 1,3 1,5 1,9 3,9 6,3 HI (m) 42 22 20 18 17 16 15,5 15 14 13 12,5 TBL X X X X X X X GL + + + + + + + + + O O O O TB

Cara Pembuatan Teras

Penampang Teras Bangku

Konstruksi Teras Bangku

Penampang S P A

Penampang Terjunan

Teras Bangku dg SPA

Penanaman Teras Bangku

Teras Irigasi

Teras Bangku Datar

SPA dan Terjunan Teras

2.13. Teras Individu (Individual Terrace)

Penampang Teras Individu

2.14.Teras Kebun (Garden Terrace)

2.15. Alur Bedengan (Skip Furow)

2.16. Surjan (Alternating Bed)

2.17. Kanal (Canal )

Sistem Garpu

Sistem Sirip Ikan

2.16. Sistem Sekat/Kanal 2.18

Profil Kubah Gambut (Dome)

Penampang Sekat

III. METODE KIMIA
    

Soil Conditioner Organic Fertilizer Balance Fertilizer Zeoagricultur Liming

1. Pemantap Tanah (Soil Conditioner)
Definisi (De Boodt, 1971) Bahan kimia alami/buatan untuk memperbaiki sifat fisik tanah yg berfungsi sbg pembentuk struktur tanah dg pori-pori di dalam dan diantara agregat tanah yg sekaligus mantap/stabil dlm jumlah sedikit

Krilium (Van Bavel, 1950) Garam Na dr Polyacrylonitrile yg terhidrolisa (HPAN) yg dpt memperbaiki agregat tanah

Fungsi

Meningkatkan produktivitas tanah pertanian Stabilisasi tanah (konstruksi/fondasi) Menjaga kelestarian lingkungan

Karakteristik Pemantap Tanah
Kegunaan Bagi Pertanian
  

Persyaratan(Schamp,1976)
 

  

Memperbaiki agregat tanah Tahan thd aktivitas mikrobia Meningkatkan infiltrasi dan permeabilitas tanah Bersifat non toksik bg tanaman Mempengaruhi KTK tanah Mempengaruhi kurva pF dan kapasitas menahan air tanah (water holding capacity) Meningkatkan kelembaban tanah

 

Bahan hrs bersifat adhesif Dapat menyebar dan bercampur dg tanah Dapat membentuk agregat tanah yg stabil dlm air Tidak bersifat racun bagi tanaman (phytotoxic) Daya tahan cukup memadai Harus mudah diperoleh dan ekonomis

Jenis dan Bentuk Pemantap Tanah
No.
1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Jenis
Humus
Latex Emulsi Bitumen Polyurethane Lignosulphonate Polyvynil Alcohol (PVA) Polyvynil Acetat (PVAc) Polyethylene Glycol (PEG) Polyacrylamide (PAM) Polyacrylic Acid (PAA) Rubber Emulsion Polysacharride

Bentuk
Padat
Cairan Cairan Cairan Cairan Serbuk Cairan Cairan Cairan Cairan Cairan Serbuk

Keterangan
B.O. Alam
Karet Alam Aspal Alam Uresol 310 _ Elvanol 52 - 22 _ _ _ _ Petroset SB Terratack

13

Hydrolyzed Polyacrylonitrile (HPAN)

Cairan

Krilium

Hydrogel Polyacrylamid (PAM)

Teknik Aplikasi Pemantap Tanah
Sebelum SC Setelah

Disemprot pd permukaan tanah (surface application)

1
Sebelum SC

Tanah
Setelah Dicampur

Tanah

2
Sebelum Digali

20 – 25 cm Setelah

Disemprot pd permukaan tanah kemudian diolah/ dicampur (incorporation treatment)

SC

3

Tanah

Disemprot pd permukaan lubang penanaman (local/ pit treatment)

PREDIKSI EROSI
Persamaan Umum Kehilangan Tanah (Universal Soil Loss Equation) (USLE) (Wischmeier & Smith, 1969)

A=R.K.L.S.C.P
    


A R K L S C P

= Jumlah Tanah Tererosi (Ton/Ha/Th) = Jumlah Faktor Erosivitas Hujan (Joule) = Nilai Faktor Erodibilitas Tanah (K = A/R) = Indeks Faktor Panjang Lereng ( 22,1 m = 1) = Indeks Faktor Kemiringan Lereng (9 % = 1) = Indeks Faktor Pengelolaan Tanaman (Non Tanaman = 1) = Indeks Faktor Pengolahan Tanah/Praktek Konservasi Tanah (Non Konservasi = 1 )

Desain Plot Standar USLE
Panjang = 22,1 m (72,6 ft) Kemiringan = 9% Lebar = 4 m (13,12 ft)

Faktor Erosivitas Hujan (R)
Kemampuan hujan dengan energi kinetiknya untuk menimbulkan erosi pada suatu bidang lahan dalam waktu tertentu (Intensitas Hujan = EI30)

I. Rumus
1). Erosivitas Hujan Harian (Bols, 1978)
2 2,467( Rh) RH  ( 0,02727Rh  0,725)

RH = Erosivitas hujan harian Rh = Jumlah curah hujan harian (cm)

2). Erosivitas Hujan Bulanan (Bols, 1978)
RM  (Rain)
1,21 m

.(Days) m

0,47

.(Max.P) m

0,53

RM = Erosivitas hujan bulanan (Rain)m = Jumlah curah hujan bulanan (cm) (Days)m = Banyaknya hari hujan (Max.P)m = Hujan harian max. dlm 1 bln (cm)

3). Erosivitas Hujan Bulanan (Bols, 1978)
RM  2,21( Rain)
1,36 m

Tanpa data (Days)m dan (Max.P)m RM = Erosivitas hujan bulanan (Rain)m = Jumlah Curah hujan bulanan (cm)

II. Peta Iso-Erodent (Bols, 1978) III. Data Sekunder Hasil Penelitian

Peta Iso-erodent

Nilai Faktor Erodibilitas Tanah (K)
Kepekaan tanah terhadap erosivitas hujan dg kondisi lahan bera (P = 1), kemiringan lahan 9 % (S = 1) dan panjang lereng 22,1 m (L = 1)

Σ Erosi total setahun( A) Nilai Faktor Erodibilit as( K)  Σ Erosivitas hujan( R)

I. Rumus (Hammer, 1978)
2,713M 1,14 10 4 ) ( 12  a)  3,25( b - 2)  2,5( c - 3) ( K 100

M = Parameter ukuran butir : (% debu+ % pasir sangat halus) (100 -% liat), jika hanya fraksi pasir, debu dan liat; % pasir sangat halus=1/3X % pasir a = % bahan organik ; ( % C X 1,724) b = Kode Struktur Tanah
Tipe Struktur Very Fine Granular Fine Granular Medium – Coarse Granular Blocky – Platty - Massif Nilai 1 2 3 4

c = Kode Permeabilitas Tanah
Kelas Permeabilitas Rapid Moderate – Rapid cm/jam > 25,4 12,7 – 25,4 Nilai 1 2

Moderate Moderate - Slow
Slow Very Slow

6,3 – 12,7 2,0 – 6,3
0,5 – 2,0 < 0,5

3 4
5 6

II. Grafik Nomograf Indeks Faktor K (Wischmeier, 1971 ; Arnoldus 1976)

Indeks Faktor Panjang Lereng (L) & Kemiringan Lereng (S)
Panjang lereng 22,1m (Indeks Faktor L = 1) Kemiringan lereng 9 % (Indeks FaktorS = 1 )

Σ Erosi pd panjang lereng tertentu Indeks Faktor L  Σ Erosi pd panjang lereng 22,1 m Σ Erosi pd kemiringan lereng tertentu Indeks Faktor S  Σ Erosi pd kemiringan lereng 9 %

I. Rumus
1). LS ( L)
LS L S m
m 22,1

.( 0,065  0,045 S  0,0065S 2 )

= Indeks faktor panjang & kemiringan lereng = Panjang lereng (m) = Kemiringan lereng (%) = Eksponensial menurut S
S (%) <1 1–3 3–5 >5 m 0,2 0,3 0,4 0,5

No. 1 2 3 4

2).

λ LS   1,38  0,965 S  0,138 S 2 ) ( 100
LS = Nilai faktor panjang & kemiringan lereng  = Panjang lereng sebenarnya (m) S = Kemiringan lereng (%)

II. Grafik Nomograf Indeks Faktor LS

Indeks Faktor Pengelolaan Tanaman (C) & Tindakan Konservasi (P)
 

Lahan tanpa tanaman (Indeks Faktor C = 1) Lahan tanpa tindakan konservasi (Indeks Faktor P = 1)

Σ Erosi pd lahan dg tanaman tertentu Indeks Faktor C  Σ Erosi pd lahan tanpa tanaman
Σ Erosi pd lahan dg tindakan konservasi tertentu Indeks Faktor P  Σ Erosi pd lahan tanpa tindakan konservasi

Nilai Faktor C Beberapa Pertanaman Tunggal di Indonesia (Abdurachman dkk., 1981)
No.
1
2 3 4 5 6

Jenis Vegetasi
Rumput Brachiaria decumbens Th I Rumput Brachiaria decumbens Th II
Kacang Tunggak Sorghum Kedelai Sereh Wangi Kacang Tanah

Nilai Faktor C
0,287 0,002
0,161 0,242 0,399 0,434 0,200

7 8
9 10

Padi Gogo Padi Sawah
Kebun Campuran (Vegetasi Jarang) Semak Tidak Terganggu

0,561 0,010
0,495 0,010

Lanjutan
No.
11 12 13 14 15

Jenis Vegetasi
Semak Sebagian Berumput Alang-alang Permanen Alang-alang Dibakar Habis Pohon Tanpa Semak Pohon di Bawah Diolah Hutan Tidak Terganggu Albizzia dg Semak Campuran Albizzia Tanpa Semak dan Serasah Kentang Searah Lereng Kentang Searah Kontur Kapas + Tembakau *)

Nilai Faktor C
0,10 0,02 0,70 0,32 0,21 0,001 0,012 1,0 1,0 0,35 0,6

16
17

Lanjutan
No.
18 19 20 21

Jenis Vegetasi
Savana & Padang Rumput *) Hutan Rapat + Mulsa Tebal *) Kopi, Coklat *) Cover Crop *)

Nilai Faktor C
0,01 0,001 0,3 0,1

22

Tanpa Vegetasi
Pola Tanam Berurutan

1,0
0,498 0,357 0,588

23

Pola Tanam Tumpang Gilir + Mulsa Pola Tanam Tumpang Gilir

Nilai Faktor C Beberapa Jenis Pertanaman di Indonesia (Hamer, 1980)
No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Jenis Vegetasi
Tanah Diberakan + Diolah Periodik Sawah Beririgasi Sawah Tadah Hujan Tegalan Ubi Kayu Jagung Kacang-kacangan Kentang Padi Tebu

Nilai Faktor C
1,0 0,01 0,05 0,7 0,8 0,7 0,6 0,4 0,5 0,2

Lanjutan
No.
11 Pisang

Jenis Vegetasi
Sereh Wangi
Kopi + Cover Crop Cabe + Jahe Kebun Campuran • Kerapatan Sedang • Kerapatan Tinggi Shifting Cultivation Perkebunan dg Penutup Tanah Buruk • Karet • Teh • Kelapa Sawit

Nilai Faktor C
0,6

12
13 14 15 16

0,4
0,2 0,9 0,3 0,5 0,4 0,8 0,5 0,5

17

Lanjutan
No.
18
19 20 21 22

Jenis Vegetasi
Hutan Alam Penuh Serasah Hutan Alam Sedikit Serasah Hutan Produksi Tebang Habis Hutan Produksi Tebang Pilih Belukar/Rumput Kc. Tanah + Mulsa Jerami 4 ton/ha Kc. Tanah + Mulsa Jerami 2 ton/ha

Nilai Faktor C
0,001 0,005 0,5 0,2 0,3 0,049 0,377

23
24 25

Padi + Mulsa Jerami 4 ton/ha
Ubi Kayu + Kedele Ubi Kayu + Kc. Tanah

0,096
0,181 0,195

26
27

Padi + Kedele
Tumpang Gilir (Jagung – Padi - Singkong) + Mulsa Jerami 6 ton/ha

0,417
0,079

28

Rotasi (Padi – Jagung – Kc. Tanah)

Nilai Faktor P Beberapa Teknik Konservasi Tanah (Dirjen. RRL, 1986)
No.
1 2 3

Jenis Konservasi Tanah
Teras Bangku Sempurna Teras Bangku Sedang Teras Bangku Buruk Teras Tradisional Field Pits/Hill Side Ditch Contour Cultivation + Strip Cropping (0-8%) Contour Cultivation + Strip Cropping (9-20%) Contour Cultivation + Strip Cropping (>20%) Mulsa Jerami 6 t/ha/th Mulsa Jerami 3 t/ha/th Mulsa Jerami 1 t/ha/th

Nilai Faktor P
0,04 0,15 0,35 0,40 0,30 0,50 0,75 0,90 0,30 0,50 0,80

4

5

Lanjutan
No.
6 7

Jenis Konservasi Tanah
Padi Gogo - Kedelai + Mulsa Jerami 4 t/ha Padi Gogo – Jagung + Mulsa Jerami
Jagung + Mulsa Jerami Padi Jagung – Kc. Tanah – Kc. Hijau + Mulsa Teras Gulud + Padi - Jagung Teras Gulud + Ubi Kayu Teras Gulud + Kacang Tanah – Kedelai Teras Gulud + Sorgum – Sorgum Teras Gulud +Jagung - Kc. Tanah + Mulsa Teras Bangku +Jagung – Ubi Kayu – Kedelai Teras Bangku + Sorghum – Sorghum Teras Bangku Kc. Tanah - Kc. Tanah Teras Bangku Tanpa Tanaman

Nilai Faktor P
0,193 0,083
0,008 0,014 0,013 0,063 0,105 0,041 0,006 0,056 0,024 0,09 0,039

8

9

Lanjutan
No. Jenis Konservasi Tanah
Teras Gulud + Sorghum – Sorghum Teras Gulud + Padi – Jagung Teras Gulud + Ubi Kayu Teras Gulud + Kc. Tanah – Kedelai Teras Gulud + Kc. Tanah + Mulsa Strip Crotalaria – Sorgum – Sorgum Strip Crotalaria – Kc.Tanah – Ubi Kayu Strip Crotalaria – Padi Gogo – Kedelai Strip Rumput – Padi Gogo Contour Cultivation Tanpa Tindakan Konservasi

Nilai Faktor P
0.041 0,013 0,063 0,105 0,006 0,264 0,405 0,193 0,841 1,0 1,0

10

11

12 13

Pedoman Penetapan Nilai T (Thomson, 1957)
No. 1 Sifat Tanah dan Substratum Tanah Dangkal di Atas Batuan Nilai T Ton/Ha/Th 1,12

2
3

Tanah Dalam di Atas Batuan
Tanah dg Sub-soil Padat, di Atas Sub-strata tdk Terkonsolidasi Tanah dg Sub- soil Permeabilitas Lambat, di Atas Sub-strata tdk Terkonsolidasi Tanah dg Sub- soil Permeabilitas Sedang, di Atas Sub-strata tdk Terkonsolidasi

2,24
4,48

4

8,96

5

11,21

6

Tanah dg Sub-soil Permeabilitas Cepat, di Atas sub-strata tdk Terkonsolidasi

13,45

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful