P. 1
KLIMATOLOGI&KESEHATAN

KLIMATOLOGI&KESEHATAN

4.79

|Views: 2,187|Likes:
Published by melanie87

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: melanie87 on Jan 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

Global Environmental Change dan Masalah KesehatanLingkungan

1. Pendahuluan Setiap peralihan musim, terutama dari musim kemarau ke musim penghujan, kita menyaksikan berbagai masalah kesehatan melanda tanah air kita, termasuk yang paling sering terjadi adalah wabah demam berdarah (dengue fever). Sebagian masalah ini langsung atau tidak langsung terkait dengan Global Environmental Change (GEC) atau perubahan lingkungan global. Kesehatan populasi manusia manapun, jika ditinjau secara mendasar, terkait dengan kondisi sosial dan lingkungan. Sementara itu selama berabad-abad masyarakat manusia memperolah keuntungan tetapi juga kerugian dari perubahan-perubahan yang mereka lakukan terhadap lingkungan sekitarnya. Nampaknya serangan berbagai wabah penyakit menuntun kita untuk lebih arif memperhatikan dan memperlakukan lingkungan sekeliling. Bagi para peneliti, kondisi ini menjadi tantangan ilmiah sekaligus tantangan kemanusiaan, sampai sejauh mana aktifitas penelitian mampu menjawab permasalahan kesehatan masyarakat, satu masalah riil yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Seperti kita ikuti bersama, akhir-akhir ini diskusi tentang global change banyak diangkat. Berbagai perubahan sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan politik mengharuskan jalinan hubungan di antara masyarakat manusia di seluruh dunia. Fenomena ini dirangkum dalam terminologi globalisation. Ditengah riuh rendah globalisasi inilah muncul wacana GEC. GEC sendiri diartikan sebagai perubahan dalam skala besar pada sistem bio-fisik dan ekologi yang disebabkan aktifitas manusia. Perubahan ini terkait erat dengan sistem penunjang kehidupan planet bumi (life-support system). Ini terjadi melalui proses historis panjang dan merupakan agregasi pengaruh kehidupan manusia terhadap lingkungan, yang tergambar misalnya pada angka populasi yang terus meningkat, aktifitas ekonomi, dan pilihan-pilihan teknologi dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Saat ini pengaruh dan beban terhadap lingkungan hidup sedemikian besar, sehingga mulai terasa gangguan-gangguan terhadap Sistem Bumi kita. GEC yang terjadi seiring tekanan besar yang dilakukan manusia terhadap sistem alam sekitar, menghadirkan berbagai macam risiko kesehatan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Sebagai contoh, kita terus mempertinggi konsentrasi gas-gas tertentu yang menyebabkan meningkatkan efek alami rumah kaca (greenhouse) yang mencegah bumi dari pendinginan alami (freezing). Selama abad 20 ini, suhu rata-rata permukaan bumi meningkat sekitar 0,6 oC dan sekitar dua-per-tiga pemanasan ini terjadi sejak tahun 1975. GEC penting lainnya adalah menipisnya lapisan ozon, hilangnya keaneragaman hayati (bio-diversity), degradasi kualitas lahan, penangkapan ikan melampaui batas (over-fishing), terputusnya siklus unsur-unsur penting (misalnya nitrogen, sulfur, fosfor), berkurangnya suplai air bersih, urbanisasi, dan penyebaran global berbagai polutan organik. Dari kacamata kesehatan, hal-hal di atas mengindikasikan bahwa kesehatan umat manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi di luar batas kemampuan daya dukung ruang lingkungan dimana mereka hidup. Dalam skala global, selama seperempat abad ke belakang, mulai tumbuh perhatian serius dari masyarakat ilmiah terhadap penyakit-penyakit yang terkait dengan masalah lingkungan, seperti

1

kanker yang disebabkan racun tertentu (toxin related cancers), kelainan reproduksi atau gangguan pernapasan dan paru-paru akibat polusi udara. Secara institusional International Human Dimensions Programme on Global Environmental Change (IHDP) membangun kerjasama riset dengan Earth System Science Partnership dalam menyongsong tantangan permasalahan kesehatan dan GEC. Pengaruh perubahan iklim global terhadap kesehatan umat manusia bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja keras dan pendekatan inter-disiplin diantaranya dari studi evolusi, bio-geografi, ekologi dan ilmu sosial. Di sisi lain kemajuan teknik penginderaan jauh (remote sensing) dan aplikasi-aplikasi sistem informasi geografis akan memberikan sumbangan berarti dalam melakukan monitoring lingkungan secara multi-temporal dan multi-spatial resolution. Dua faktor ini sangat relevan dengan tantangan studi GEC-kesehatan lingkungan yang memerlukan analisa historis keterkaitan GEC dan kesehatan serta analisa pengaruh GEC di tingkat lokal, regional hingga global.

2. Bagaimana GEC Mempengaruhi Kesehatan Manusia? Ada tiga alur tingkatan pengaruh GEC terhadap kesehatan (perhatikan ilustrasi gambar). Pengaruh ini dari urutan atas ke bawah menunjukkan peningkatan kompleksitas dan pengaruhnya bersifat semakin tidak langsung pada kesehatan. Pada alur paling atas, terlihat contoh bagaimana perubahan pada kondisi mendasar lingkungan fisik (contohnya: suhu ekstrim atau tingkat radiasi ultraviolet) dapat mempengaruhi biologi manusia dan kesehatan secara langsung (misalnya

2

sejenis kanker kulit). Alur pada dua tingkatan lain, di tengah dan bawah, mengilustrasikan proses-proses dengan kompleksitas lebih tinggi, termasuk hubungan antara kondisi lingkungan, fungsi-fungsi ekosistem, dan kondisi sosial-ekonomi. Alur tengah dan bawah menunjukkan tidak mudahnya menemukan korelasi langsung antara perubahan lingkungan dan kondisi kesehatan. Akan tetapi dapat ditarik benang merah bahwa perubahan-perubahan lingkungan ini secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab atas faktor-faktor penyangga utama kesehatan dan kehidupan manusia, seperti produksi bahan makanan, air bersih, kondisi iklim, keamanan fisik, kesejahteraan manusia, dan jaminan keselamatan dan kualitas sosial. Para praktisi kesehatan dan lingkungan pun akan menemukan banyak domain permasalahan baru di sini, menambah deretan permasalahan pemunculan toksiekologi lokal, sirkulasi lokal penyebab infeksi, sampai ke pengaruh lingkungan dalam skala besar yang bekerja pada gangguan kondisi ekologi dan proses penyangga kehidupan ini. Jelaslah bahwa resiko terbesar dari GEC atas kesehatan dialami mereka yang paling rentan lokasi geografisnya atau paling rentan tingkat sumber daya sosial dan ekonominya. 3. Aktifitas Ilmiah Lingkungan untuk Kesehatan Sebagaimana disinggung di atas, masyarakat manusia sangat bervariasi dalam tingkat kerentanan terhadap serangan kesehatan. Kerentanan ini merupakan fungsi dari kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Kerentanan juga bergantung pada beberapa faktor seperti kepadatan penduduk, tingkat ekonomi, ketersediaan makanan, kondisi lingkungan lokal, kondisi kesehatannya itu sendiri, dan kualitas serta ketersediaan fasilitas kesehatan publik. Wabah demam berdarah yang melanda negeri kita menyiratkan betapa rentannya kondisi kesehatan-lingkungan di Indonesia saat ini, baik dilihat dari sisi antisipasi terhadap wabah, kesigapan peanggulangannya sampai pada penanganan para penderita yang kurang mampu. Merebaknya wabah di kawasan urban juga menyiratkan kerentanan kondisi lingkungan dan kerentanan sosial-ekonomi. Hal ini terkait dengan patron penggunaan lahan, kepadatan penduduk, urbanisasi, meningkatnya kemiskinan di kawasan urban, selain faktor lain seperti rendahnya pemberantasan nyamuk vektor penyakit sejak dini, atau resistensi nyamuk sampai kemungkinan munculnya strain atau jenis virus baru. Pada dekade lalu penelitian ilmiah yang menghubungkan pengaruh perubahan iklim global terhadap kesehatan dapat dirangkum dalam tiga katagori besar. Pertama, studi-studi empiris untuk mencari saling-hubungan antara kecenderungan dan variasi iklim dengan keadaan kesehatan. Kedua, studi-studi untuk mengumpulkan bukti-bukti munculnya masalah kesehatan sebagai akibat perubahan iklim. Ketiga, studi-studi pemodelan kondisi kesehatan di masa depan. Penelitian empiris jenis pertama dan kedua dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan pengetahuan serta memperkirakan kondisi kesehatan sebagai tanggapan terhadap perubahan iklim dan lingkungan (scenario-based health risk assessment). Akan tetapi, menimbang variasi kerentanan sosial-ekonomi yang telah kita singgung, keberhasilan sumbangan ilmiah di atas hanya akan optimal jika didukung paling tidak dua faktor lain, yaitu faktor administratif-legislatif dan faktor cultural-personal (kebiasaan hidup). Administrasilegislasi adalah pembuatan aturan yang memaksa semua orang atau beberapa kalangan tertentu

3

untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan penanggulangan menghadapi masalah ini. Cakupan kerja faktor ini adalah dari mulai tingkatan supra-nasional, nasional sampai tingkat komunitas tertentu. Selanjutnya secara kultural-personal masyarakat didorong secara sadar dan sukarela untuk melakukan aksi-aksi yang mendukung kesehatan-lingkungan melalui advokasi, pendidikan atau insentif ekonomi. Faktor ini dikerjakan dari tingkatan supra-nasional sampai tingkat individu. 4. Catatan Penutup Sejauh pengamatan penulis, aktifitas penelitian yang menghubungkan kajian lingkungan dan kesehatan secara integral serta kerja praktis sistematis dari hasil penelitian ilmiah di atas masih sangat sedikit dilakukan di Indonesia. Menghadapi tantangan lingkungan dan kesehatan ini diperlukan terobosan-terobosan institusional baru diantara lembaga terkait lingkungan hidup dan kesehatan, misalnya dilakukan rintisan kerjasama intensif yang diprakarsai Departemen Kesehatan, Departemen Sosial dan Kementerian Lingkungan Hidup bersama lembaga penyedia data keruangan seperti Bakosurtanal (pemetaan) dan LAPAN (analisa melalui citra satelit). Untuk mewujudkan kerjasama di tataran praktis komunitas atau LSM pemerhati lingkungan hidup mesti berkolaborasi dengan Ikatan Dokter Indonesia bersama asosiasi profesi seperti Ikatan Surveyor Indonesia (ISI), Masyarakat Penginderaan Jauh (MAPIN) dalam mewujudkan agenda-agenda penelitian dan program-program penanganan permasalahan kesehatan dan perubahan lingkungan di tingkat lokal hingga nasional. Hadirnya wacana dan penelitian GEC dengan kompleksitas, ketidakpastian konsep-metodologi, dan perubahan-perubahan besar di masa depan, telah menghadirkan tantangan-tantangan dan tugas-tugas bagi komunitas ilmiah, masyarakat dan para pengambil keputusan. Penelitian ilmiah yang cenderung lamban, kini harus berganti dengan usaha-usaha terarah dan cepat menghadapi urgensi penanganan masalah kesehatan-lingkungan. Kemudian dalam gerak cepat pula informasi yang dihasilkan dunia ilmiah, walaupun dengan segala ketidaksempurnaan dan asumsi-asumsi, didorong untuk memasuki arena kebijakan. Masalah kesehatan dan GEC ini merupakan isu krusial dan bahkan isu sentral dalam diskursus internasional seputar pembangunan yang berkelanjutan (sutainable development).
Lingkungan Rusak, Energi Fosil Telan Jumat, 09 Gelombang Ribuan Korban Dec 2005 Panas Melanda di Eropa 19:43:13

Pdpersi, Eropa - Jumlah kasus heat stroke(serangan panas yang terlampau kuat) yang mematikan, infeksi salmonela dan hay fever (demam akibat alergi rumput kering) di seluruh Eropa terus meningkat. Hal itu terkait pemanasan global yang kini makin menghebat. Pemerintah Eropa kini berupaya keras mencegah perubahan iklim yang kian ekstrim. Demikian pernyataan resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), belum lama ini. "Semula ilmuwan meyakini pengaruh perubahan iklim terhadap kesehatan baru tampak dalam jangka panjang. Namun, pnelitian menunjukkan beberapa pengaruhnya mulai terlihat sekarang," kata Roberto Bertollini, direktur lingkungan dan kesehatan WHO di Eropa.

4

"Kita perlu memastikan bahwa kesehatan menjadi pijakan untuk memajukan agenda mengenai perubahan iklim," lanjut Bertolinni, di sela-sela konferensi 189 negara untuk mengatasi pemanasan global. Negara-negara miskin adalah pihak yang paling dirugikan akibat naiknya suhu rata-rata yang dipicu terperangkapnya emisi panas. Emisi berasal dari pembakaran bahan bakar fosil oleh penduduk bumi. Temperatur yang lebih panas juga dapat menyebabkan meningkatnya gagal panen dan kekeringan. Kondisi cuaca ekstrim di Eropa mulai terlihat ketika gelombang panas pada 2003 menewaskan 35.000 orang. "Kami mengimbau kepada mereka yang memiliki kekuatan agar mengambil langkahlangkah dan mengurangi potensi dampak perubahan iklim pada kesehatan kita," kata Maira Neira, direktur WHO untuk perlindungan lingkungan manusia. Pengaruh manusia terhadap iklim dapat melipatgandakan risiko kematian akibat gelombang panas di Eropa. Di Inggris, angka kematian tahunan akibat panas dapat meningkat menjadi 3.300 kematian pada 2050 dari 800 kematian pada beberapa dekade terakhir.

Armi Susandi dari Departemen Teknik Geofisika dan Meteorologi, mengulas proyeksi emisi karbon di Indonesia dalam skenario dasar dan skenario mitigasi berdasarkan konsumsi energi fosil di Indonesia. Meningkatnya konsentrasi karbondioksida menyebabkan perubahan iklim secara global lebih panas. Akibat fisik dan efek langsung pada manusia menjadi penentu dalam mengambil langkah jangka panjang pembangunan berkelanjutan Indonesia. Selain itu Potensi hutan yang dimiliki Indonesia sebagai Clean Development Mechanism (CDM) merupakan ujung tombak dalam menangkal perubahan iklim global. Aset hutan yang mampu menyerap karbondioksida juga diproyeksikan mampu mendatangkan keuntungan 12 miliar US dolar per tahun diakhir abad 21. Selain itu potensi 70 persen lautan Indonesia juga mampu menyerap karbondioksida dalam skala besar. Tantangan bagi para peneliti dan ilmuwan untuk meningkatkan posisi tawar indonesia dalam perundingan perdagangan emisi internasional. Namun di sisi lain, Indonesia juga harus menyiapkan rencana jangka panjang menghadapi pertengahan abad 21. Sebuah studi tentang akibat dari perubahan iklim global memproyeksikan penurunan kesehatan masyarakat mencapai titik tertinggi pada tahun 2060. Dan setelah itu akan menurun dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar bebas emisi pada akhir abad 21. "Kualitas udara akan makin buruk dan pengaruh dampak lingkungan juga akan makin mengancam kesehatan wanita," kata Dr. Nia. Semakin hari cuaca di kota besar semakin terasa terik dan panas, udara juga semakin kotor. Belum lagi efek rumah kaca yang sangat mempengaruhi kesehatan kulit. "Penyakit yang berhubungan dengan kualitas udara yang buruk akan menjadi ancaman besar bagi wanita," kata Nia. Yang paling banyak diantaranya adalah penyakit pernapasan dan kanker kulit. Jika di tahuntahun mendatang lingkungan sekitar kita tidak mendapatkan perhatian dalam pemeliharaannya, maka tingkat polusi di kota akan semakin besar.

5

"Pada akhirnya, perempuan juga yang akan banyak dirugikan," katanya. (angela)

MENANTI BUMI TENGGELAM !
Oleh : JR Pahlano DAUD * Kandungan air bumi sangat berlimpah, volume seluruhnya mencapai ~1.4 milyar km3. Lebih dari 97 persen merupakan air laut, 2 persen berupa gunung-gunung es di kedua kutub bumi dan sekitar 0,75 persen air tawar yang mendukung kehidupan makhluk hidup di darat. Dari luas permukaan bumi 510 juta km2, 70.8 persen (361.13 juta km2) planet kita ditutupi oleh air sehingga tidak mengherankan warnanya biru dibanding planet-planet lain dan sebenarnya beralasan penamaan ‘bumi’ (‘earth’ dengan bahasa Latin humus/terra berarti tanah/daratan) adalah suatu kekeliruan. Lautan memang tidak tersebar merata di permukaan bumi, menutupi 80 persen belahan selatan dan 61 persen di belahan utara di mana terdapat sebagian besar daratan dunia. Paparan benua (continental), hanya mencakup 7-8 persen seluruh luas lautan dengan kemiringan landai sampai kedalaman 200 meter, kemudian menurun tajam hingga 3-5 km (kedalaman ratarata lautan 4 km). Dataran abisal ini seragam kedalamannya menutupi daerah dasar lautan yang rata dan sangat luas. Jika diamati perbandingan ‘massa’ daratan dan lautan dengan mengandaikan seluruh daratan diratakan maka yang tersisa hanyalah massa air dengan kedalaman lebih dari 3 km. Kebanyakan pegunungan tertinggi bumi berkisar antara 5 - 8 km seperti pegunungan Himalaya dengan elevasi tertinggi di Everest (8.850 m). Sedangkan kedalaman palung-palung laut berkisar 7 sampai 11 km dengan palung terdalam Mariana di Pasifik 11.033 meter (panjang 1.554 mil, lebar 44 mil). Sekalipun ditenggelamkan gunung Everest ke laut terdalam dunia ini masih tersisa massa air diatasnya dengan kedalaman lebih dari 2 km (2,183 m). Bumi diciptakan Tuhan dengan sempurna. Berbagai proses biologi, fisika, kimia di alam semesta ini berjalan dengan baik. Darat, laut dan berbagai flora/fauna yang mendiaminya dijadikan untuk mendukung kehidupan manusia. Tudung kutub utara dan kutub selatan yang diselimuti es menjaga kestabilan rotasi dalam sistem tatasurya. Demikian pula stratifikasi vertikal daratan, lautan dan atmosfer bumi menghasilkan kenyamanan hidup bagi yang tinggal di permukaannya. Energi yang didapat dari cahaya matahari sebagian dimanfaatkan lewat tumbuh-tumbuhan dan berbagai organisme lainnya, menyediakan sumber pangan bagi makhluk hidup di dalamnya. Jika lebih banyak energi hilang di angkasa dibanding yang ditangkap dari matahari, planet ini akan dingin. Jika energi sedikit yang menghilang maka planet ini bergerak panas. Dewasa ini, ketika di pedesaan cuaca sejuk, maka akan terasa panas di perkotaan. Bangunan, jalan aspal dan trotoar di perkotaan mengabsorbsi lebih banyak cahaya matahari. Pedesaan lebih sejuk karena adanya evaporasi (penguapan) air di danau/sungai dan dari tumbuhan di hutan-hutan. Hal ini terjadi tak lepas dari berlangsungnya proses sistem alam yang merupakan suatu kesatuan besar ekosistem bumi. Sebagian sinar matahari yang masuk dipantulkan ke angkasa dan diserap oleh gas-gas atmosfer yang menyelimuti bumi. Sinar itu pun kemudian terperangkap di bumi dan situasi ini terjadi seperti dalam rumah kaca yaitu pada saat panas masuk terperangkap, menghangatkan seisi rumah kaca tersebut. Fenomena ini dinamakan efek rumah kaca, sedangkan gas-gas penyerap sinar disebut gas rumah kaca. Apabila efek rumah kaca tidak terjadi, bumi akan menjadi tempat yang tidak nyaman untuk dihuni, karena akan bersuhu lebih dingin. Gas rumah kaca (seperti: CO2, CH4, N2O, HFCS, PFCS, dan SF6) dihasilkan dari kegiatan antropogenik berupa penggunaan energi untuk berbagai

6

keperluan seperti ‘pembakaran’ bahan bakar fosil, mulai dari memasak sampai pembangkit listrik. Karena kegiatan tersebut umum dilakukan manusia maka seiring dengan meningkatnya populasi (per 26/02/2006= 6.5 milyar orang) konsentarsi gas rumah kacapun meningkat. Akibatnya, semakin banyak panas yang terperangkap di dalam bumi. Saat ini, iklim berubah perlahan tapi pasti, suhu bumi pun memanas dan inilah yang dinamakan sebagai pemanasan global (global warming). Umumnya masyarakat mengetahui dan selalu mendengar mengenai isu pemanasan global. Ini sangat erat kaitannya dengan perlakuan manusia terhadap lingkungan, perilaku terhadap bumi yang didiaminya. Banyak yang kurang menyadari berbagai sumber-sebab-akibat dari pemanasan global terhadap penghuni bumi ini. Padahal, telah banyak bukti dan fakta ilmiah berbicara mengenai dampak pemanasan global yang menyebabkan perubahan ekologis; terancamnya kesehatan manusia seiring dengan berubahnya iklim, meningkatnya suhu disertai naiknya air laut. Perlahan-lahan daratan bumi terutama wilayah rendah yang didiami berkurang; efeknya dapat menghilangkan pulau-pulau dari peta dunia termasuk Indonesia. Tidak mengada-ada pemanasan global saat ini bukan hanya merupakan isu semata namun merupakan fakta dimana manusia sedang menghadapinya, sedang menanti kapan bumi tenggelam. Perubahan Iklim. Musim panas semakin panas dan musim dingin semakin dingin. Di saat kemarau terjadi kekeringan sedangkan di saat hujan terjadi kebanjiran. Kondisi iklim tidak lagi pasti, tidak stabil karena perubahan curah hujan dan suhu. Kenyataan ini memberikan gambaran bahwa iklim bumi memang sedang berubah tak terduga. Kondisi perubahan ini dapat dirasakan oleh masyarakat dengan adanya banjir karena curah hujan yang berlebihan, bahkan belakangan ini hujan batu es mulai terjadi di beberapa kota di Indonesia. Awal tahun ini dan pada beberapa tahun sebelumnya hampir seluruh wilayah mengalami kebanjiran termasuk Sulawesi Utara. Bukan merupakan siklus, selain memang dampak langsung akibat kerusakan lingkungan, berkurangnya hutan dan daerah resapan air, justru yang kurang disadari sebenarnya berhubungan erat dengan pemanasan global. Di belahan dunia bagian utara, musim dingin saat ini turut merenggut korban jiwa seperti di Jepang dan Rusia. Untuk menyisihkan salju yang luar biasa tebal, Jepang mengoperasikan mesin keruk spesial. Di India ratusan orang meninggal akibat kedinginan. Sementara di Australia mencatat tahun 2005 sebagai tahun yang paling panas. Kepanikan juga melanda warga Rusia gara-gara salju turun tapi bukan salju putih seperti biasa, melainkan salju merah. Badai pasir yang terangkut dari Mongolia menimbulkan fenomena ini (Ananova,14/3/2006). Selain turut memperluas gurun di dunia, salju merah yang mengguyur Rusia hanya beberapa pekan setelah salju kuning menyelimuti wilayah Pulau Sakhalin di Rusia timur jauh akibat oleh polusi dari pabrik minyak dan gas. Peningkatan Suhu. Badan dunia PBB lewat Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 1990) menyimpulkan bahwa sejak akhir 1980-an pemanasan global terlihat nyata dan meningkat tajam 0.3 - 0.6 derajat Celcius. Tahun 1987 dan 1988 tercatat sebagai dimulainya suhu global rata-rata tertinggi, pemecah rekor di Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara. Pada tahun yang sama juga diikuti terjadinya banjir besar di Korea dan Bangladesh. Bangladesh, di awal 1991 mengalami banjir lagi disertai angin puyuh yang menimbulkan banyak korban jiwa. Survey WWF (2006) melaporkan bahwa lapisan es di pegunungan tertinggi dunia, Himalaya, telah mencair dengan cepat dan berpotensi menimbulkan kesulitan pasokan air. Himalaya memiliki cadangan air beku terbesar dunia setelah wilayah kutub. Lelehan es-nya mengaliri sungai-sungai besar Asia (Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning). Namun peningkatan suhu menjadikan lapisan es menurun cepat dengan laju 10-15 m/tahun, sehingga menimbulkan banjir. Setelah cadangan es habis, kekeringan pasti melanda (lLiveScience.com). Ratusan juta orang di China, India, dan Nepal

7

bahkan yang tinggal jauh dari Himalaya bergantung pada pasokan air dari pegunungan ini. Banyak di antara mereka hidup pada daerah rawan banjir yang sebagian besar lahan pertaniannya mengandalkan sungai-sungai tersebut. Beberapa penelitian mengindikasikan temperatur bumi bisa meningkat lagi 2 derajat Celcius di atas masa sebelum industri, dalam waktu kurang dari 20 tahun saja. Tanda-tanda kenaikannya sudah terlihat dimana-mana. Kini rata-rata suhu tahunan di Nepal telah meningkat 0.06 Celcius, dan tiga sungai yang bersumber dari salju telah berkurang alirannya. Sedangkan gletser Gangotri di India telah turun 23 m/tahun (bbc.co.uk). Bukti lain juga terlihat bukan hanya di Himalaya, Kilimanjaro (5.895 m) gunung tertinggi kebanggan Afrika yang oleh suku-suku setempat disebut gunung putih/bercahaya (Kilima Dscharo/Njaro) puncaknya yang bersalju kini mulai hilang. Foto udara di tahun 1993 dan 2000 menunjukkan perbedaan mencolok pada bagian atas gunung di Tanzania itu, lapisan saljunya tampak semakin sedikit dibanding foto awal (theclimategroup.org). Sesungguhnya hal ini hanya bukti lain dari efek kenaikan suhu bumi, banyak contoh yang kita rasakan sendiri seperti makin menipisnya salju di Puncak Jaya-Papua atau makin panasnya kota-kota di Indonesia. Pertengahan tahun lalu, seorang penjelajah kutub dari Inggris mengatakan bahwa suhu udara musim panas di Kutub Utara meningkat dengan laju yang sangat cepat. Bagianbagian yang seharusnya berupa es kini menjadi air. Ben Saunders, membatalkan rencananya untuk meluncur dengan ski dari Rusia melalui Kutub Utara ke Kanada karena terheran-heran pada banyaknya es yang meleleh. Ini adalah kali ketiga ia berada di Kutub Utara selang tiga tahun terakhir (Reuters, 2005). Studi terbaru NOAA (National Oceanic & Atmospheric Administration) menunjukan bahwa tahun 2005 memang merupakan tahun terpanas kedua (setelah 1998). Peningkatan temperatur global ratarata tahun lalu sebesar 0.3 Celcius (0.54 Fahrenheit) sedikit lebih panas dibanding tahun 2002-2003-2004 (diurutkan berdasarkan tahun terpanas satu abad terakhir). Pencitraan satelit NASA (National Aeronautics and Space Administration) dengan sensor AMSR-E Jepang (Advanced Microwave Scanning Radiometer-EOS) menunjukkan pemanasan yang paling signifikan terjadi di wilayah Artik-Kutub Utara, dimana tudung esnya telah menyusut drastis selang 1978-2003 (foto). Sejak November 1978 (foto atas), atmosfir Artik telah meningkat panasnya 7 kali lebih cepat dibanding pemanasan rata-rata di belahan bumi bagian selatan (LiveScience.com). Prof.H.Pollack (Michigan Univ.) dan Dr.H.Beltrami (St.Francis Xavier Univ.) lebih menegaskan efek pemanasan global dengan mengkaji bebatuan inti yang dideteksi pada lapisan kerak bumi. Pemanasan bebatuan dasar pembentuk benua continental rocks melengkapi komponen penting dalam sistem tata iklim bumi yang telah lebih banyak diteliti, yaitu permukaan lautan, lapisan atmosfir bumi, dan permukaan es (cryosphere). Dari data 616 titik pengeboran yang tersebar di berbagai pelosok benua Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Australia, dan Eropa, memperlihatkan kenaikan panas yang dikandung selama 500 tahun terakhir. Lebih dari separuh pemanasan intens terjadi pada kurun waktu sejak permulaan abad ke-20 dan hampir sepertiganya sejak tahun 1950-an (Geophysical Research Letters, 2002). Secara mendasar pemanasan yang terdeteksi pada batuan ini sangat serupa dengan hasil studi pola pemanasan atmosfir bumi, lautan, maupun lapisan muka es. Ini menyimpulkan betapa seriusnya tingkat pemanasan global yang tengah berlangsung. Suhu yang lebih panas dapat menyebabkan meningkatnya gagal panen dan kekeringan. El-Nino dengan frekwensi yang lebih sering disertai efek yang lebih dahsyat akan terjadi. Selain itu, gurun di berbagai belahan dunia pun dilaporkan semakin meluas diikuti berkurangnya hutan. Naiknya Permukaan Laut. Tahun lalu, naiknya permukaan laut mendorong penduduk Lateu di Pulau Tegua, Vanuatu (Pasifik) membongkar rumah kayunya dan berpindah ke pulau terdekat yang 600 meter lebih tinggi. Pulau karang seluas 30.72 km3 itu telah menyusut. Pohon-pohon kelapa di pinggir pantai terendam, dan ini adalah dampak dari

8

pemanasan global yang jelas terlihat kerugiannya bagi sebuah komunitas. Erosi, air pasang yang tinggi karena badai menjadi semakin besar dalam tahun-tahun terakhir dan menyebabkan pulau Tegua tidak lagi berpenghuni karena sering disapu banjir 4-5 kali dalam setahun. Dua pulau lain tak berpenghuni di Kiribati yaitu Tebua Tarawa dan Abenuea, sebelumnya juga telah tenggelam tahun 1999. Program Lingkungan PBB (UNEP) menyatakan bahwa wilayah Lateu menjadi salah satu-kalau tidak boleh dikatakan yang pertama-daerah secara formal pindah karena pengaruh buruk pemanasan global. Penduduk Pasifik yang kebanyakan tinggal di pulau karang adalah kelompok paling beresiko. Sekitar 2.000 penduduk kepulauan Cantaret di Papua New Guinea berencana pindah ke pulau tedekat Bougainville. Maladewa (Maldives) tahun 1987 juga mengalami banjir akibat ombak pasang. Selain disapu Tsunami, negara kepulauan yang menggantungkan devisanya dari pariwisata bahari terancam hilang dari peta bumi (RealClimate.org). Banjir-badai akibat gelombang pasang yang terjadi barubaru ini di kep.Maluku sampai kep.Sangihe dengan ketinggian 50 cm juga merupakan pertanda pemanasan global. Indonesia sebenarnya telah dan akan mengalami hal yang sama namun hiruk-pikuk politik dan isu lain lebih mengemuka dan diminati sehingga ancaman ini diabaikan. Di Kutub Utara, penduduk asli di Shismaref-Alaska dan Tuktoyaktuk-Kanada juga berencana untuk pindah. Penduduk Artik dan pulau-pulau kecil di dunia kini menghadapai ancaman yang sama. Menurut penelitian IPCC (1990), permukaan laut telah naik di akhir abad 20 lalu dengan peningkatan sebesar 10-20 cm. Peneliti lain juga menemukan kenaikan permukaan air laut sebesar 19.5 cm antara 1870-2004 dan kenaikannya semakin cepat secara eksponensial pada 50 tahun terakhir ini. Jika kecenderungan tersebut berlanjut, permukaan laut secara global akan mengalami kenaikan lebih dari 30 cm selama abad ke-21 (Geophysical Research Letters, 2005). Mengkhawatirkan karena peningkatan permukaan laut sebesar 30-50 cm mempengaruhi habitat daerah pantai. Peningkatan 1 meter saja akan membuat beberapa negara pulau tak dapat dihuni, menggusur puluhan juta orang, mengancam daerah perkotaan yang rendah, membanjiri lahan produktif dan mencemari persediaan air tawar. Lima tahun terakhir ini, lelehan es Antartika (kutub selatan) dilaporkan bertanggung jawab terhadap sedikitnya 15 persen kenaikan permukaan laut dunia atau sekitar 2 mm/tahun. Beberapa bagian utama gunung-gunung es Antartika telah pecah pada dekade ini. Beting es Larsen A, yang berukuran 1.600 km2 pecah tahun 1995. Beting es Wilkins seluas 1.100 km2 runtuh tahun 1998, dan Larsen B yang luasnya 13.500 km2 terlepas tahun 2002. Pemanasan global telah mencairkan es di Antartika lebih cepat dari perkiraan semula dalam kurun 50 tahun terakhir. Dalam pengumuman hasil penelitian di Konferensi Perubahan Iklim di Exeter baru-baru ini, para ilmuwan British Antarctic Survey (BAS) mengatakan kenaikan permukaan laut akibat lelehan es selama ini masih kurang diperhatikan. Prof.C.Rapley, direktur BAS mengatakan bahwa Antartika seperti "raksasa yang dibangunkan", di mana lelehan es-nya memberi dampak besar pada kenaikan permukaan air laut dunia, namun kebangkitannya tak dirasakan. Melelehnya semenanjung Antartika bahkan telah menghilangkan lautan es yang dahulu berfungsi menahan gerakan gletser. Akibatnya, gletser kini mengalir ke lautan enam kali lebih cepat dibanding sebelumnya (bbc.co.uk). Sejak akhir 1960-an, sebagian besar air Samudra Atlantik Utara menjadi kurang asin akibat melelehnya gletser. Hujan dan aliran air meningkat, menyebabkan lebih banyak air tawar mengalir ke laut. Dr.R.Curry dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) menemukan bahwa selama dekade terakhir air tawar telah terkumpul di lapisan Laut Nordic bagian atas hingga kedalaman 1.000 meter. Dr.C.Mauritzen (Norwegian Meteorological Institute) memperhitungkan ada ekstra 19.000 km kubik air mengalir ke laut antara tahun 1965-1995. Sebagai perbandingan, sungai Mississippi mengalirkan sekitar 500 km3 air tawar/tahun. Sedangkan Amazon, sungai terbesar dunia memasok

9

sekitar 5.000 km3 ke lautan tiap tahun (NewScience.com). Karena air dengan kadar garam rendah kurang padat, maka penambahan air tawar ke laut mempengaruhi alirannya-seperti sistem arus Atlantik yang mempertemukan air dingin dari wilayah Artik dengan air hangat daerah tropis. Lapisan atas arus ini terdiri dari aliran air hangat bergerak ke utara sepanjang permukaan laut. Sampai di wilayah lintang tinggi, aliran air hangat ini menjadi dingin dan tenggelam menuju lapisan bawah-melepaskan panas ke atmosfer di wilayah utara. Bila banyaknya air tawar yang masuk ke laut mengubah aliran ini baik musiman maupun jangka panjang maka akan mempengaruhi banyak hal, mulai terbentuknya badai hingga banjir dan udara panas (lihat ‘Hurricane Katrina’ di AS tahun lalu). Sejauh ini memang belum ada perubahan signifikan yang diteliti berkaitan dengan makin banyaknya air tawar yang masuk ke laut, namun diperkirakan perubahan seperti itu akan terjadi bila pemanasan global terus berlangsung. Perubahan ekologis. Dampak dari pemanasan global juga memberikan bermacam tekanan atas kehidupan berbagai kawasan ekosistem. Rusaknya lingkungan oleh manusia turut berimbas pada manusia, namun satwa-lah yang pertama kali merasakan dampaknya. Mulai dari yang berukuran besar sampai organisme berukuran kecil. Dari perubahan perilaku sampai pada perubahan genetik. Berbagai species terancam punah dengan tidak stabilnya populasi akibat berubahnya iklim dan suhu. Proses biologi hewan-hewan dan tumbuhan juga berubah, mis: proses hibernasi Marmut terlihat lebih cepat dibanding 30 tahun lalu ataupun perubahan tumbuhan akibat proses fotosintesis yang meningkat sehingga musim berbunga lebih awal dan cepat rata-rata 0,8 hari/tahun. Perubahan iklim-musim akan merangsang tanaman untuk memproduksi lebih banyak serbuk sari, juga meningkatkan pertumbuhan jamur. Dr.L.Dyer, ecologist dari Tulane Univ. menyimpulkan bahwa perubahan cuaca dapat menyebabkan pertumbuhan populasi ulat besar-besaran hingga mengancam tanaman pertanian. Jika dibiarkan, pada akhirnya dapat menimbulkan ancaman kelaparan dunia (Proceedings of the National Academics of Science/pnas.org). Satwa daratan yang dilindungi dan endemik sekalipun seperti Gajah dan Harimau Sumatra, dll, kini memperlihatkan keanehan. Selain memang habitatnya secara langsung menyusut akibat desakan manusia, yang kurang disadari adalah dampak dari pemanasan global. Januari lalu, seekor Paus hidung botol yang biasa hidup di Laut Atlantik Utara sempat berenang melewati gedung parlemen Inggris di sungai Themmes ’pusat kota’ London (nature.com/news.bbc.uk). Saat ini, berbagai perilaku hewan seperti mamalia laut paus dan lumba-lumba yang mendamparkan diri tanpa sebab selalu dikaitkan dengan pemanasan global. Selain menciutnya beruang es, burung di laut Bering-Alaska juga berkurang kecerdasannya dan menderita penurunan daya tahan hidup serta kemampuan berkembang biak. Berdasarkan pengamatan Royal Society for the Protection Birds (RSPB), sejak 1980-an, populasi burung kaki merah Kittiwake menurun hampir setengahnya selama dua dekade terakhir. Kemerosotan populasi ini dipicu oleh pola makan yang berubah, seiring dengan rusaknya ekosistem. Ikan-ikan mengalami penurunan kadar lipid dalam tubuhnya. Paling mencolok adalah berkurangnya jumlah ikan yang mengandung lemak tinggi, seperti ikan Capelin. Padahal, ikan dengan kadar lemak tinggi adalah makanan yang sehat bagi burung-burung untuk mendukung kemampuan intelegensinya, termasuk Kittiwake. Setelah dianalisa lebih jauh, pola makan ini terkait dengan perubahan iklim, di mana meningkatnya suhu udara laut Bering pada periode yang sama memicu penurunan populasi ikan (news.bbc.co.uk 2005). Studi ini menyimpulkan, bukan manusia saja yang belakangan ini menderita kekurangan gizi, satwa juga. Kian tinggi suhu permukaan laut, kiat buruk pula kondisi ekosistem di dalamnya. Terumbu karang penghalang terbesar dunia (Great Barrier Reef, Australia) kembali dilaporkan terlihat putih memucat setelah kejadian yang sama tahun 1998 dan 2002 lalu yang juga melanda sebagian besar terumbu dunia sampai batas distribusinya di bagian

10

utara (Jepang selatan). Survey Februari 2006 lalu yang dilakukan Dr.R.Berkelmans menggambarkan kematian coral besar-besaran (95-98 persen) disebabkan kenaikan suhu air laut secara tiba-tiba di sekitar kep.Keppels yang masuk wilayah Queensland. Penyebab utamanya dihubungkan dengan suhu tahunan wilayah Australia mencapai yang tertinggi dalam catatan sejarah sepanjang tahun lalu. Naiknya suhu air laut di atas normal selama musim panas menyebabkan coral sekitar kepulauan tersebut memucat (aims.gov.au). Kejadian yang sama juga terjadi di Karibia musim panas 2005 lalu. Pemutihan besar-besaran di kep.Karibia sekitar pulau Virgin yang masuk wilayah AS, memanjang dari Florida Keys ke Tobago serta Barbados di selatan Panama dan Kosta Rika. Pemutihan coral (bleaching) mungkin akan mendunia sebagai bagian dari naiknya suhu air laut. Naiknya suhu menyebabkan alga (zooxanthellae) yang hidup berasosiasi dengan coral berubah dan turut berdampak pada pasokan nutrisi juga warna pada karang. Coral akan mati meninggalkan bongkahan kalsium berwarna putih jika perairan tidak segera mendingin sesuai batasan hidupnya. Meningkatnya polusi, penangkapan ikan berlebihan, reklamasi pantai, dan penyakit adalah faktor lain yang mengancam keberadaannya. Ekosistem terumbu karang (coral reef) merupakan tempat hidup yang penting bagi berbagai spesies ikan, penghalang erosi, dan lokasi bagi wisata ekologi (ecotourism). Dengan naiknya suhu dan permukaan air laut maka dasar lautan makin dalam, sinar matahari semakin sulit menjangkau tempat hidup alga-coral hingga dikhawatirkan terumbu karang akan punah di akhir abad ini jika penyebabnya tidak segera ditekan. Dari hampir 1.500 species flora/fauna yang diamati Prof.T.Root, dkk (Stanford Univ.) terdapat 1.200 sp. memperlihatkan perubahan tetap akibat berubahnya suhu. Banyak spesies saat ini termasuk ikan-ikan cenderung bermigrasi-bergerak ke arah utara bumi, ke tempat yang lebih dingin. Vegetasi tumbuhan diperkirakan berpindah 100-150 km ke arah kutub untuk beradaptasi dengan peningkatan suhu sebesar 1 derajat Celcius (Nature, 2003). Hal yang sama terjadi pada hutan mangrove. Mangrove yang peka selain terhadap perubahan salinitas air dan laju sedimentasi pasti tak dapat menghindar jika air laut naik. Selama masa perubahan iklim yang bertahap, seperti terjadi pada waktu lalu, kawanan hewan perumput bergerak mengikuti vegetasi diiringi oleh karnivora yang memangsa mereka. Perubahan iklim yang cepat tak memberikan harapan bagi penyesuaian seperti ini. Tentunya organisme yang tak dapat beradaptasi dengan perubahan akan terisolasi dan punah. Pemanasan global dapat mereduksi keanekaragaman genetik dan ini berarti walaupun keanekaragaman spesies tinggi, namun karena kurang dalam jumlah maka lebih rentan dan terancam punah akibat penyakit serta rendahnya keanekaragaman genetik. Berdasarkan berbagai jurnal penelitian ilmiah terbaru, ternyata ada banyak sekali bukti yang mana pemanasan global mempengaruhi kehidupan flora/fauna termasuk manusia di dalamnya. Tidak akan pernah cukup diurai dalam tulisan ini, namun dipastikan bumi saat ini berjalan tidak alamiah lagi. Kesehatan Manusia. Dalam satu ekosistem, kehidupan antara satu habitat dengan habitat lainnya saling terkait. Saat beberapa satwa menjadi korban, esok atau lusa, satwa lain bahkan manusia sekalipun akan mengalaminya. Hal ini signifikan berpengaruh terlihat dari kondisi kesehatan manusia dewasa ini. Berubahnya iklim membuat orang-orang lebih sering bersin. Sebuah studi menemukan, makin banyaknya gejala alergi yang muncul dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, mis.peningkatan kadar karbondioksida serta suhu atmosfer. Sekitar 40 juta warga Amerika menderita demam tinggi karena alergi terhadap jerami, sementara 16 juta orang dewasa terserang asma. Walaupun gen sangat berpengaruh, penelitian terbaru menemukan bahwa suhu tinggi dan kadar karbondioksida yang berlebihan memperburuk serangan alergi musiman. Dr.C.Rogers (2004), dari Harvard Univ. menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan jumlah penderita alergi dan asma secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir dihubungkan dengan perubahan iklim (chge.med.harvard.edu).

11

Meningkatnya angka heat stroke (serangan panas kuat) yang mematikan, infeksi Salmonela dan hay fever (demam akibat alergi rumput kering) di seluruh Eropa beberapa tahun terakhir ini erat terkait dengan pemanasan global. Para scientist meyakini pengaruh perubahan iklim terhadap kesehatan akan tampak lebih jelas kedepan. Di Inggris, angka kematian tahunan akibat panas diprediksi meningkat menjadi 3.300 kematian pada tahun 2050 dari 800 kematian dekade terakhir. Gelombang panas yang melanda Eropa musim panas lalu tak disadari telah menewaskan 25.000 orang, jumlah yang sangat besar dibanding korban terorisme. Penyakit tropis (seperti malaria dan demam berdarah) juga mengalami peningkatan. Selain itu munculnya penyakit-penyakit baru/jarang yang lebih mematikan seperti flu burung, diyakini sangat terkait dengan pemanasan global. Negara-negara miskin merupakan pihak yang paling parah merasakan akibat naiknya suhu rata-rata disebabkan terperangkapnya emisi panas yang sebagian besar berasal dari polusi, pembakaran bahan bakar fosil oleh penduduk bumi. Menurut kajian WHO (2005)(reuters.com/antara.co.id), pengaruh manusia terhadap iklim dapat melipatgandakan risiko kematian akibat gelombang panas tidak hanya di Eropa namun terasa di seluruh penjuru bumi. Masa Depan Bumi. PBB mengacu pada Dewan Kutub Utara dan berbagai scientist dunia memperingatkan bahwa daerah kutub akan meleleh sebelum abad ini berakhir. Panel ilmuwan memperkirakan bila tidak ada intervensi serius, Kutub Utara-Artik "gundul" tanpa es pada setiap musim panas, dimulai tahun 2100. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 2001) memperkirakan permukaan air laut akan mengalami kenaikan rata-rata hampir 1 meter antara 1990-2100. Kombinasi dari berbagai sumber penyebab pemanasan global yang meningkat sebenarnya menghasilkan pola eksponensial yang lebih menakutkan. Prakiraan dengan menggunakan supercomputer AS-Jepang memperlihatkan perubahan iklim dapat mencairkan lapisan es abadi sedalam 3,35 meter di bagian utara bumi. Sekalipun sebelumnya terjadi pencairan es di kutub utara, tapi dalam 40 tahun terakhir lapisan es yang cair bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Melelehnya gunung es di kedua kutub bumi adalah dampak logis yang tidak bisa dicegah. Proses yang berlangsung lambat tapi lajunya semakin cepat menenggelamkan bumi. Sir David King, penasehat pemerintah Inggris bidang Sains dan beberapa peneliti lainnya memprediksikan jika es di Greenland habis meleleh maka permukaan laut akan naik 6 - 7 meter. Jika Antartika meleleh, naiknya menjadi 110 meter dan kota-kota di daerah pesisir apalagi di bawah permukaan laut lebih dulu menghilang termasuk London dan New York (Nature, LiveScience, Reuters, 2005). Di Indonesia, Jakarta dan 69 kota lainnya termasuk Manado tentunya bakal hilang. Daratan perlahan berkurang dan pertikaian bahkan peperangan antar negara pasti akan terjadi karena memperebutkan lahan dan sumberdaya yang tersisa. Memang ada perdebatan mengenai masa depan bumi, apakah planet kita menjadi makin panas, dan seberapa besar manusia berperan dalam pemanasan itu. Banyak berpendapat, menghangatnya suhu bumi disebabkan oleh emisi gas rumah kaca oleh manusia, sementara ilmuwan lainnya menunjuk pada apa yang mereka katakan putaran alami penghangatan dan pendinginan. Ada yang mengatakan bahwa skenario bencana kedepan tak akan terjadi 100 persen karena perkembangan teknologi (mesin mobil hidrogen, low-flush toilet dll) serta meningkatnya kesadaran lingkungan akan membantu alam menghadapi efek jelek polusi dari kegiatan manusia. Perdebatan ini semakin dikeruhkan oleh kepentingan bisnis dan strategi politik negara, baik negara dunia pertama maupun dunia ketiga. Yang pasti kecenderungan telah terlihat, bumi menjadi lebih panas, sementara dan terus berlangsung. Para ahli klimatologi (LiveScience.com) membuktikan bahwa pemanasan global terjadi karena Bumi menyerap lebih banyak energi Matahari daripada yang dilepas kembali ke ruang angkasa. Suhu permukaan laut yang dimonitor dari ribuan pelampung tersebar di berbagai lokasi dihitung selisih energi

12

matahari yang diterima oleh atmosfer dengan yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Dikombinasikan dengan model iklim yang kompleks meliputi aktivitas atmosfer, laut, angin, arus, gas, dan zat pencemar lainnya, tampak bahwa atmosfer menyerap energi 0,85 watt/m2 (setara 7 triliun bola lampu 60 watt) lebih dari energi yang dilepaskan kembali. Penyerapan energi sudah terlampau besar hingga peningkatan suhu bumi tak dapat dicegah kecuali manusia menghentikan produksi gas rumah kaca. Bukti ini semakin menguatkan pendapat bahwa aktivitas manusia adalah penyebabnya. Efek rumah kaca terbentuk terutama dari gas karbondioksida (CO2) dihasilkan pembakaran bahan bakar fosil, pembangkit listrik, pabrik, kendaraan bermotor, polusi, dll (belum lagi jika ditambah penipisan Ozon) menyerap radiasi panas yang dipantulkan bumi dari yang seharusnya dilepaskan ke ruang angkasa. Data terkini yang diambil NOAA dari Pegunungan Rocky-AS menunjukkan bahwa kadar CO2 meningkat secara signifikan. Konsentrasi polutan di atmosfer bahkan mencapai rekor tertinggi sebesar 381 part per million (ppm). 100 ppm lebih tinggi selama sejuta tahun, kemungkinan 30 juta tahun dari ketika rata-rata masa pra-industrialisasi bumi dimulai. Tahun 2005 lalu, terjadi kenaikan yang sangat besar mencapai 2,6 ppm. Angka ini sangat mengkhawatirkan dan menjadi patokan baru bagi ilmuwan di seluruh permukaan bumi. Rata-rata kenaikan dalam 30 tahun terakhir sangat pesat dan yang menjadi kecemasan adalah kita tidak tahu pada angka berapa titik balik kandungan polutan CO2 di atmosfer (Nature, BBC News). Andaikan emisi karbondioksida menjadi makin tinggi, bencana akan terjadi lebih cepat, namun apabila kita bisa menguranginya maka proses tersebut akan menjadi lebih lambat. Sejak ditandatanganinya Protokol Kyoto 1997 (satu-satunya kesepakatan internasional untuk mengurangi gas rumah kaca), berbagai negara dunia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. 16 Februari 2005, Protokol Kyoto yang diratifikasi 161 negara mulai berlaku menetapkan negara-negara industri agar mengurangi emisi global sebesar 5.2 persen di bawah tingkat emisi tahun 1990 dalam jangka waktu 20082012. Namun kesepakatan itu menghadapi tantangan besar dan tidak diindahkan Amerika Serikat, produsen karbondioksida terbesar dunia. Hanya AS dan Australia menolak ikut demi membela kepentingan ekonominya. Disamping itu negara berkembang seperti Cina dan India turut menghambat pelaksanaan Protokol Kyoto. Indonesia-pun sepantasnya mengambil langkah kontributif memangkas emisi dalam upaya memperlambat pemanasan gobal. Namanya saja pemanasan global, sehingga upaya penanggulangannya pun harus bersifat global, oleh seluruh warga bumi. Kejadiankejadian klimatik yang ekstrem akibat pemanasan global pasti menyebabkan biaya sosial-ekonomi tinggi, terutama hancurnya sumber pangan manusia. Merugikan dunia di segala sendi kehidupan. Dengan tanda-tanda alam yang jelas, tiba saatnya semua bersatu melawan pemanasan global, keterlambatan melakukan hal ini akan melahirkan petaka di masa depan. Tak beda jauh dengan apa yang digambarkan film The Day After Tomorrow karya Roland Emmerich. Sebuah gambaran “kiamat dunia” datang karena ketidakpedulian manusia terhadap lingkungannya, mempengaruhi seluruh negara dan bangsa. Badai topan dan tornado, hujan batu es, es di kutub meleleh, naiknya permukaan air laut, jaman es penuh kebekuan datang kembali. Pelepasan gas CO2 yang memanaskan suhu secara global, pecah dan melelehnya dataran/gunung es di kutub dan perubahan pergerakan arus udara dan air laut saat ini sudah dan sedang terjadi. Berbagai bukti-fakta disekitar kita yang diuraikan sebelumnya hanyalah sebagian kecil dari berbagai penelitian para ilmuwan dunia. Kecenderungan ini patut dipikirkan setiap orang, sebab mencair dan menyusutnya es dan naiknya permukaan air laut, bertambah hebatnya badai, dan sejenisnya adalah tahap awal dari dampak yang lebih besar yang kelak dihadapi oleh setiap orang di Bumi. Tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa manusia memang menciptakan kiamatnya sendiri, dan hal ini sesuai pula dengan nubuatan Alkitab

13

mengenai akhir zaman. Refleksi yang sangat penting saat ini tentang bagaimana kita telah memperlakukan lingkungan dan alam kita sendiri. Berlomba larut dalam dosa tak hanya terhadap sesama manusia, namun terhadap alam ciptaan Tuhan. Efek ketidaknyamanan pada tubuh dan kerusakan telah terlihat di sekitar kita. Sudah cukup untuk tidak ambil pusing masalah ini, dan saatnya bertindak walau dari hal sekecilpun. Reserve, Reuse, Recycle dan Replant lingkungan kita dan selalu ingat untuk mencintai karya ciptaan Tuhan. Sumatera dan Kalimantan dalam Kabut Asap News: Tue, 06-Jul-2004 11:05 WIB(719) Sumber: Kompas, 30 Juni 2004 Dalam beberapa hari terakhir Kota Pakanbaru diselimuti kabut asap, demikian pula dengan Kota Pontianak. Salah satu risiko yang muncul adalah tertundanya jadwal penerbangan, selain gangguan kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang mulai meningkat, seiring dengan meningkatnya kekeringan lahan akibat curah hujan yang mulai berkurang. Tampaknya kondisi seperti ini senantiasa berulang hampir setiap tahun, meskipun semua pihak sudah mengetahui bahwa dampaknya sangat merugikan, baik terhadap kesehatan, transportasi, maupun perekonomian. Penyebaran asap di atas Sumatera saat ini seperti terlihat dari citra satelit Fengyun dan Modis (Gambar 1). Tampak asap hanya meliputi daerah tertentu di sekitar Pakanbaru dan sedikit di atas Pontianak. Tanggal 22 Juni 2004 (Gambar 2a) jumlah hotspot yang terdeteksi dari data Modis TERRA, baik di Sumatera maupun di Kalimantan, relatif sedikit. Namun, tanggal 24 Juni 2004 (Gambar 2b) jumlah hotspot yang terdeteksi meningkat signifikan, terutama di Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Tanggal 24 Juni 2004 hotspot terdeteksi pula di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memang seolah menjadi persoalan yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Tanpa mengurangi arti upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang telah dilakukan selama ini oleh pemerintah pusat dan daerah, dan jika kebakaran hutan dan lahan merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan sama sekali, maka pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah setiap tahun jumlah kebakaran akan sama di setiap daerah? Apakah kabut asap dan risiko pencemaran lintas batas yang ditimbulkan akan sama setiap tahun? Apakah dapat diprediksi sampai kapan pencemaran asap akan berlangsung? Sejarah "hotspot" Hotspot adalah titik panas yang diindikasikan sebagai lokasi kebakaran hutan dan lahan. Parameter ini sudah digunakan secara meluas di berbagai negara untuk memantau kebakaran hutan dan lahan dari satelit. Berdasarkan hotspot yang diolah dari data satelit NOAA-AVHRR yang direkam oleh Stasiun Bumi Satelit Lingkungan dan Cuaca-LAPAN selama periode 1996-2002, diketahui akumulasi jumlah hotspot untuk daerah Riau mencapai lebih dari 5% per bulan (dari total jumlah hotspot dalam setahun) selama 10 bulan (JanuariOktober). Jumlah hotspot di Riau mencapai puncaknya bulan Juli. Sedangkan jumlah

14

hotspot selama periode yang sama di Sumatera Selatan lebih berfluktuasi dibanding di Riau (Gambar 3). Hal ini terlihat dari persentase jumlah hotspot di Sumatera Selatan yang relatif kecil selama bulan Januari-Juni dan November-Desember, sedangkan pada bulan Juli-Oktober persentase hotspot di daerah ini cukup tinggi dengan puncak pada bulan September. Berbeda dengan daerah-daerah di Sumatera, wilayah Kalimantan memiliki daerah-daerah yang termasuk rawan kebakaran hutan dan lahan dengan puncak jumlah hotspot yang hampir sama, yaitu bulan Agustus-September. Ada tiga provinsi di Kalimantan yang menunjukkan jumlah hotspot cukup besar yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Hal ini seperti yang tampak dari peta sebaran hotspot selama sebulan pada beberapa tahun khususnya pada bulan Agustus/September (Gambar 4). Meskipun pada bulan-bulan tersebut jumlah hotspot di Kalimantan adalah yang terbesar dalam setahun, kondisi antar- tahun menunjukkan perbedaan. Jumlah hotspot terbesar terdapat pada tahun 1997, kemudian menurun secara signifikan tahun-tahun berikutnya. Jumlah ini agak meningkat lagi pada tahun 2002. Pengaruh cuaca Pada dasarnya setiap proses pembakaran akan menghasilkan asap. Namun jumlah atau kepekatan asap yang dihasilkan sangat ditentukan oleh jenis bahan bakaran dan kadar airnya. Cuaca, khususnya curah hujan dan stabilitas atmosfer, merupakan faktor yang sangat memengaruhi kebakaran hutan dan lahan terutama dalam dua aspek. Pertama, cuaca (curah hujan, suhu, kelembapan, dan angin) menentukan kadar air bahan bakaran sehingga dapat dimengerti bila pada kondisi cuaca cerah dan suhu tinggi maka bahan bakaran menjadi cepat kering dan mudah terbakar. Anomali atau penyimpangan iklim, seperti El Nino maupun osilasi atmosfer di atas Samudera Hindia (yang dikenal sebagai Indian Ocean Dipole Mode Event), akan menyebabkan kondisi cuaca yang ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia. Sebagian wilayah Sumatera dipengaruhi oleh salah satu atau kedua penyimpangan iklim tersebut, sedangkan sebagian wilayah Kalimantan dipengaruhi oleh El Nino/La Nina sehingga daerah-daerah yang termasuk rawan kebakaran hutan dan lahan berpeluang terkena dampak dari salah satu fenomena penyimpangan iklim. Saat terjadi El Nino, bahan bakaran menjadi sangat cepat kering dan mudah terbakar akibat kurangnya curah hujan, seperti yang terjadi pada tahun 1997. Sebaliknya saat La Nina, bahan bakaran menjadi lebih lambat kering dan sulit terbakar akibat bertambahnya curah hujan seperti yang terjadi pada tahun 1998. Kedua, kondisi cuaca melalui komponen stabilitas atmosfer sangat memengaruhi penyebaran asap. Stabilitas atmosfer adalah kondisi yang menggambarkan tingkat kemudahan/kesulitan gerak pengangkatan massa udara secara vertikal. Dengan demikian profil kondisi atmosfer vertikal sangat menentukan stabilitas atmosfer. Unsur cuaca/iklim yang sangat menentukan stabilitas atmosfer adalah strata suhu dan tekanan pada lapisan troposfer (lapisan terbawah dari atmosfer). Pada kondisi atmosfer yang stabil, maka udara sulit untuk bergerak naik, sehingga bila terjadi asap juga akan sulit untuk menyebar dan jika asap terus terjadi makin lama kepekatan asap makin bertambah. Pada kondisi atmosfer

15

tidak stabil maka udara sangat mudah bergerak naik, sehingga bila terjadi asap akan mudah menyebar dan mengalami "pengenceran" di atmosfer. Pada kondisi atmosfer netral, maka udara relatif tenang sehingga asap masih dapat menyebar meskipun tidak semudah seperti pada atmosfer tidak stabil. Pada saat terjadi penyimpangan iklim seperti El Nino, atmosfer pada umumnya akan menjadi lebih stabil daripada kondisi normalnya. Maka jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, asap yang dihasilkan akan lebih sulit menyebar dan makin lama makin pekat sehingga sangat membahayakan kesehatan maupun transportasi. Prediksi "hotspot" Jika perilaku kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah sudah diketahuitermasuk perilaku asapnya pada berbagai kondisi udara/cuaca-maka pertanyaan yang mungkin muncul adalah bagaimana dengan kebakaran hutan dan lahan saat ini? Apakah jumlah hotspot akan bertambah dalam bulanbulan mendatang? Apakah sebaran asapnya akan makin berkembang mengkhawatirkan atau berkurang dalam bulan-bulan yang akan datang sehingga tak perlu khawatir dengan pencemaran asap yang melintasi batas negara (transboundary haze pollution)? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut tampaknya sangat tidak mudah. Hal ini mengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah yang sangat kompleks yang melibatkan faktor-faktor alam (cuaca/iklim, bahan bakaran) maupun manusia (kegiatan pemanfaatan lahan, ekonomi, dan budaya) dan bahkan kelembagaan. Namun, untuk tidak merumitkan persoalan lebih jauh bisa digunakan konsep peluang. Artinya, dapat dihitung bagaimana peluang jumlah hotspot pada bulan-bulan mendatang di beberapa daerah yang rawan kebakaran dan bagaimana peluang pencemaran asap dari kebakaran hutan dan lahan. Tentunya hal ini dilakukan dengan didasarkan pada berbagai jenis data historis maupun prediksi dari sumber- sumber yang cukup dapat diandalkan. Data "hotspot" Jumlah hotspot yang terjadi hingga pertengahan Juni 2004, baik di Sumatera maupun Kalimantan, masih lebih rendah dibandingkan dengan jumlah rataratanya selama 7 tahun terakhir. Dengan demikian terdapat peluang peningkatan jumlah hotspot hingga akhir Juni 2004. Pada Juli 2004 jumlah hotspot di Riau berpeluang meningkat tetapi selanjutnya akan berkurang pada bulan Agustus 2004. Hal ini diperkuat dengan perkembangan cuaca di wilayah Sumatera bagian utara yang akan mengalami penurunan curah hujan hingga bulan Juli-Agustus. Jumlah hotspot akan benar- benar berkurang mulai Oktober 2004 karena dua hal, yaitu mulai bulan tersebut curah hujan meningkat dan aktivitas yang berhubungan dengan pemanfaatan lahan (terutama pembersihan/pembukaan lahan) pada bulan tersebut umumnya sudah berakhir. Di Sumatera Selatan jumlah hotspot masih belum mengalami peningkatan secara nyata hingga bulan Juli 2004. Jumlah hotspot berpeluang meningkat secara nyata pada bulan Agustus 2004 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan September 2004. Sebagaimana halnya di Riau, hal ini pun berhubungan dengan kondisi cuaca/curah hujan maupun aktivitas manusia/masyarakat dalam memanfaatkan lahan di Sumatera Selatan. Seperti yang penulis alami pada

16

saat melakukan penelitian di lapangan tentang kebakaran hutan dan lahan tahun 2003 di kedua provinsi tersebut, tampaknya kebakaran hutan dan lahan di Riau maupun Sumatera Selatan memiliki siklus masing-masing. Peluang di Kalimantan Peluang peningkatan jumlah hotspot di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, akan terjadi mulai bulan Juli 2004 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus-September 2004. Dengan mengacu pada prediksi iklim dari berbagai institusi riset iklim internasional, seperti IRI dan NCEP/NOAA, tahun 2004 diprediksikan dengan peluang normal yang lebih besar daripada El Nino selama Juli-September 2004, sedangkan bulan Desember 2004-Januari 2005 peluang kondisi normal menurun sehingga hampir sama dengan peluang El Nino. Maka kalaupun terjadi El Nino intensitasnya diperkirakan relatif lemah. Bahkan peluang terjadinya La Nina agak meningkat memasuki peralihan ke musim penghujan, sehingga kondisi cuaca/iklim pada tahun 2004 diprediksikan normal. Dengan demikian jika pada tahun 2004 kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dihindarkan sama sekali, maka penyebaran asapnya pun tidak seperti pada tahun 1997. Hanya saja, semuanya berpulang kembali kepada faktor manusia di daerah-daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan, sehingga gambaran-gambaran peluang tersebut sematamata merupakan salah satu pendukung bagi para penentu keputusan/kebijakan untuk menentukan langkah- langkah antisipatif. *Erna Sri Adiningsih Bidang PSDAL Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh-Lapan Puncak Hujan Januari-Februari

JAKARTA -- Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan kondisi curah hujan di Jakarta pada musim hujan kali ini tidak berlebihan. Penyimpangan siklus hujan yang signifikan sehingga menyebabkan banjir, diharapkan tak terjadi. ''Kondisi musim hujan di bulan ini dan bulan depan diperkirakan di bawah normal, sehingga curah hujan tidak akan timbul berlebihan,'' kata Kepala Pusat Sistem Data dan Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara BMG, Suroso, di Jakarta, Rabu (8/11). Namun, Suroso mengingatkan masyarakat Jakarta mewaspadai puncak hujan yang diprediksi terjadi pada 10 hari terakhir Januari dan awal Februari 2007. ''Perlu antisipasi karena diperkirakan saat itu puncak curah hujan tertinggi terjadi,'' katanya. Dalam kondisi normal, curah hujan dalam sebulan di wilayah selatan Jakarta rata-rata 350 milimeter. Sedangkan wilayah utara Jakarta rata-ratanya 400 milimeter. ''Yang perlu diwaspadai itu bila curah hujan lebih dari 100 milimeter dalam sehari,'' jelas Suroso. Untuk Jakarta, waktu hujan terbagi dua. Di bulan November, wilayah selatan Jakarta bakal terguyur hujan lebih dulu, yang meliputi Jakarta Selatan bagian selatan dan Jakarta Timur bagian selatan. Menyusul kemudian di bulan Desember, wilayah utara Jakarta mulai disiram hujan. Area hujan di bulan Desember ini mencakup Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat,

17

Jakarta Timur bagian utara, dan Jakarta Selatan bagian utara. Pembagian wilayah utara dan selatan, dibatasi Jalan Gatot Subroto, Jaksel, yang ditarik membentang dari barat ke timur. Dengan kondisi curah hujan seperti ini, BMG memperkirakan banjir besar seperti pada 2002 yang menggenangi Jakarta tak akan terjadi. Apalagi banjir kala itu lebih dikarenakan Jakarta menerima kiriman air akibat curah hujan lebat di kawasan Puncak, Jabar. Curah hujan di Jakarta sendiri saat itu sebenarnya tidak terlalu besar. Namun, tumpahan air hujan yang tidak diimbangi kemampuan muat aliran sungai di hulu Jakarta menyebabkan banjir merendam Ibu Kota. Untuk tahun depan, Suroso memperkirakan curah hujan di daerah tetangga Jakarta akan lebih rendah dari tahun lalu. Meski curah hujan di Jakarta diperkirakan tak selebat tahun sebelumnya, menurut Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, Pemprov DKI tetap mempersiapkan skenario terburuk. Sistem peringatan dini (early warning system) bahkan telah difungsikan, termasuk dengan menyiagakan pusat krisis. Sebanyak 40.530 personel disiapkan yang merupakan gabungan Dinas Tramtib dan Linmas DKI Jakarta, petugas Pemprov DKI Jakarta, TNI, Polri, PMI, dan SAR disiapkan.

Faktor Penyebab Pencemaran Udara (Causes)
Masalah pencemaran udara pada umumnya hanya dikaitkan dengan sumber pencemar, namun sebetulnya banyak faktor-faktor lain yang secara tidak langsung bertanggungjawab terhadap terjadinya pencemaran udara. Beberapa faktor yang memiliki pengaruh penting diantaranya adalah pertumbuhan penduduk dan laju urbanisasi yang tinggi, pengembangan tataruang yang tidak seimbang, tendensi perubahan gaya hidup yang disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi, ketergantungan terhadap minyak bumi, serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dan pengambil keputusan mengenai masalah pencemaran udara. 1. Pertumbuhan Penduduk dan Laju Urbanisasi Pertumbuhan penduduk dan laju urbanisasi yang tinggi merupakan faktor-faktor penyebab pencemaran udara yang penting di perkotaan. Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi mendorong pengembangan wilayah perkotaan yang semakin melebar ke daerah pinggiran kota/daerah penyangga. Sebagai akibat, mobilitas penduduk dan permintaan transportasi semakin meningkat. Jarak dan waktu tempuh perjalanan sehari-hari semakin bertambah karena jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja atau aktivitas lainnya semakin jauh dan kepadatan lalu lintas menyebabkan waktu tempuh semakin lama. Indikasi kebutuhan transportasi dapat dilihat pada perkiraan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang pesat jika skenario business-as-usual atau tanpa pengelolaan sistem transportasi masih berlaku. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan kebutuhan akan transportasi mengakibatkan bertambahnya titik-tik kemacetan yang akan berdampak pada peningkatan pencemaran udara. 2. Penataan Ruang Pembangunan kantor-kantor pemerintah, apartemen, pusat perbelanjaan dan bisnis hingga saat ini masih terkonsentrasi di pusat kota. Akibatnya, harga tanah di pusat kota meningkat sangat signifikan. Bersamaan dengan laju urbanisasi yang tinggi, kebutuhan akan perumahan yang layak di tengah-tengah kota dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat banyak tidak dapat dipenuhi. Pembangunan perumahan akhirnya bergeser ke daerah pinggiran kota atau kota-kota penyangga karena harga

18

tanahnya masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan di pusat kota. Kota penyangga pada akhirnya menjadi pilihan tempat tinggal masyarakat yang sehari-hari bekerja di pusat kota. Pengembangan kawasan industri juga diarahkan ke daerah-daerah penyangga. Selain alasan mahalnya harga tanah juga karena seringnya industri yang berlokasi di pusatpusat kota menjadi pusat perhatian atau gugatan masyarakat karena pencemaran yang ditimbulkan, sehingga industri-industri tersebut harus direlokasi ke luar kota. Selain itu, pemantauan kegiatan industri yang berpotensi mencemari lingkungan akan lebih mudah dan efektif jika industri-industri berada dalam kawasan industri. Beberapa pengembang kawasan mengintegrasikan pembangunan perumahan dan industri dalam satu area atau menyediakan perumahan murah untuk karyawan yang masih lajang, sehingga pekerja-pekerja industri dapat tinggal lebih dekat dengan tempat kerjanya. Pada prinsipnya pembangunan kawasan-kawasan terintegrasi tersebut bermanfaat dalam mengurangi kebutuhan transportasi. Namun, seiring dengan meningkatnya tuntutan ekonomi masing-masing keluarga, keperluan mendapatkan pekerjaan menjadi jauh lebih penting dibanding dengan jarak yang harus ditempuh antara tempat tinggal dan tempat kerja. Sehingga, jika suami dan istri tidak bekerja di daerah yang sama, maka salah satunya memerlukan transportasi. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan transportasi dan jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja di pusat-pusat kota maupun di kawasan industri. Jumlah perjalanan dengan kendaraan dari luar kota yang tinggi dan ditambah lagi dengan perjalanan penduduk kotanya sendiri telah menimbulkan kemacetan terutama pada jam puncak pagi dan sore hari. Konsentrasi pembangunan perumahan di daerah penyangga juga membawa persoalan tersendiri bagi daerah penyangga tersebut. Pembangunan perumahan yang terlalu pesat telah menyebabkan kemacetan. Kawasan perumahan dengan akses jalan masuk utama yang terbatas telah menyebabkan kemacetan pada jalan-jalan utama tersebut, termasuk pada akhir pekan. Permasalahan utama dalam hal ini adalah karena pembangunan kawasan perumahan tidak disertai dengan pembangunan sistem transportasinya. Akibatnya, banyak masyarakat yang tinggal di kawasan perumahan terpaksa menggunakan kendaraan pribadi karena ketiadaan sistem angkutan umum yang memadai. Ketika biaya perjalanan dengan kendaraan pribadi semakin mahal dan angkutan umum tidak tersedia, penggunaan kendaraan secara bersama (car pooling) menjadi alternatif atau akhir-akhir muncul “feeder buses” yang membawa pekerja dari kawasan perumahan di luar kota ke lokasi terdekat dengan tempat kerja masingmasing di pusat-pusat kota. Untuk mengatasi permasalahan ini pemerintah perlu mensyaratkan pembangunan sistem transportasi dalam pembangunan kawasan perumahan baru. Perlu pula didorong penggunaan kendaraan secara bersama dan penyediaan angkutan karyawan oleh industri agar beban lalu lintas menjadi berkurang. 3. Pertumbuhan Ekonomi yang Mempengaruhi Gaya Hidup Industri manufaktur di Indonesia tumbuh signifikan pada pertengahan 1990 sebelum krisis ekonomi terjadi di Indonesia dan Asia pada tahun 1998. Indonesia menjadi negara tujuan untuk pengembangan industri dengan pertimbangan murahnya biaya tenaga kerja dan disediakannya beberapa insentif oleh pemerintah, seperti pemberian tax holiday dan insentif fiskal lainnya; termasuk pula pengembangan kawasan industri beserta infrastrukturnya dengan tujuan agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi perubahan gaya hidup penduduk kota adalah kontribusi sektor industri manufaktur dan sektor jasa terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu kota. Pada umumnya di kotakota besar kontribusi sektor industri manufaktur dan sektor jasa (perdagangan, restoran, hotel) telah melampaui kontribusi sektor primer (pertanian dan

19

pertambangan) dalam PDRB. Perubahan struktur ekonomi kota tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif. Salah satunya adalah meningkatnya pencemaran udara karena meningkatnya konsumsi energi untuk kegiatan industri, pengangkutan orang dan barang, dan kebutuhan rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi juga mendorong perubahan gaya hidup penduduk kota sebagai akibat dari meningkatnya pendapatan. Walaupun bukan menjadi satu-satunya alasan, namun meningkatnya pendapatan ditambah dengan adanya kemudahan-kemudahan pembiayaan yang diberikan lembaga keuangan telah membuat masyarakat kota berupaya untuk tidak hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan pokok tetapi juga berupaya meningkatkan taraf hidup atau status sosial, misalnya dengan memiliki mobil, sepeda motor, dan barang-barang lainnya serta menggunakannya dengan frekuensi yang lebih sering sehingga pada akhirnya akan menambah konsumsi energi. 4. Ketergantungan Pada Minyak Bumi Sebagai Sumber Energi Saat ini masyarakat perkotaan sangat tergantung pada sumber energi yang berasal dari minyak bumi dengan konsumsi yang terus-menerus menunjukkan peningkatan. Sektor transportasi merupakan konsumen BBM terbesar yang diakibatkan terjadinya lonjakan penjualan kendaraan bermotor. Sebagai konsekuensinya emisi gas buang kendaraan bermotor menyumbang secara signifikan terhadap polusi udara yang terjadi di perkotaan. Untuk waktu yang cukup lama, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan subsidi harga Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga menimbulkan perilaku penggunaan BBM yang boros dan tidak effisien antara lain mendorong orang untuk menggunakan kendaraan untuk melakukan perjalanan yang tidak perlu. Setelah dikuranginya subsidi BBM, berdasarkan laporan penjualan Pertamina, telah terjadi penurunan penjualan BBM. Dalam rangka upaya diversifikasi sumber energi dan penurunan emisi gas buang dari kendaraan bermotor maupun industri, pemerintah Indonesia telah memperkenalkan penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG), serta Liquified Petroleum Gas (LPG) sebagai pengganti BBM. Sekalipun kontribusi bahan bakar gas terhadap pada bauran energi (Energy-Mix) Indonesia masih kecil, namun terjadi kecenderungan peningkatan penggunaan BBG pada sektor industri. Diharapkan, dalam waktu mendatang semakin banyak industri yang juga beralih dari penggunaan bahan bakar minyak ke bahan bakar gas ataupun sumber energi alternatif lainnya sehingga hal ini akan mengurangi kontribusi sektor industri terhadap pencemaran udara di Indonesia. Pemanfaatan BBG maupun LPG pada sektor transportasi yang sudah dimulai sejak 1986 kurang menunjukkan keberhasilan, faktor penghambatnya antara lain adalah rendahnya harga bahan bakar minyak bersubsidi sehingga mengurangi daya saing. Namun dengan kenaikan harga BBM yang telah diberlakukan pemerintah dengan tujuan untuk mengurangi beban APBN untuk subsidi BBM, pengembangan bahan bakar alternatif mulai digalakkan. Sebagai contoh, beberapa instansi pemerintah maupun swasta dan lembaga-lembaga non pemerintah telah meluncurkan program pengembangan bio-diesel sebagai salah satu pengganti minyak solar. Bio-diesel akan mampu bersaing dengan minyak solar apabila harga minyak solar tersebut dapat dijaga pada tingkat harga sekarang. Namun demikian masih tersisa pertanyaan bahwa apabila harga minyak internasional turun, apakah hal itu juga akan menurunkan harga BBM dalam negeri, yang akan berpengaruh terhadap kelangsungan pengembangan bahan bakar nabati. Pemanfaatan berbagai jenis sumber energi, seperti gas bumi, LPG, serta batu bara, dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan trend yang positif dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Pada tahun 2000, misalnya, kontribusi minyak bumi masih 73.28% terhadap bauran energi (energy-mix), namun pada tahun 2003 porsi ini menurun menjadi 67.45%. Perbaikan bauran energi ini sejalan dengan upaya Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi.

20

Sejak tahun 2001 impor minyak bumi Indonesia telah melebihi ekspor minyak bumi, yang menjadikan Indonesia sebagai negara “net oil importer”, serta menempatkan Indonesia pada kondisi yang berbahaya dalam hal pemenuhan kebutuhan energinya. Di sisi lain infrastruktur energi non minyak masih sangat terbatas. Dengan pertimbangan pemasukan devisa negara serta keamanan pasokan energi dan peluang pengembangan infrastruktur energi, seperti tertuang dalam Blue-print Pengelolaan Energi Nasional 2005 – 2025 yang disusun oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, diharapkan minyak bumi hanya akan berkontribusi sekitar 26.2% dari sumber energi Indonesia pada tahun 2025. Pembakaran minyak bumi yang memiliki gugus rantai hidrokarbon yang panjang akan lebih sulit dibandingkan dengan pembakaran gas alam yang memiliki gugus rantai hidrokarbon yang lebih pendek, sehingga pembakaran yang dilakukan dalam ruang mesin tidak akan dapat dilakukan dengan sempurna, dan pada akhirnya tentu akan menghasilkan emisi gas buang yang lebih tinggi. Dengan demikian, menurunnya proporsi minyak bumi dalam bauran energi membawa keuntungan tersendiri terhadap upaya penurunan pencemaran udara. Untuk merealisasikan rencana bauran energi tersebut diperlukan dukungan sektor swasta ataupun instansi lainnya. Juga, pemerintah perlu menjaga agar harga BBM diatur sedemikian rupa sehingga upaya pengembangan bahan bakar alternatif masih menarik apabila dilihat dari harga jualnya. Disamping itu, mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu penghasil bahan bakar gas, maka sudah selayaknya pemerintah memprioritaskan dan mengupayakan pemanfaatan bahan bakar gas tersebut di dalam negeri, karena selain akan dapat menurunkan pencemaran udara hal ini juga akan dapat mengurangi beban masyarakat, termasuk industri, mengingat harga bahan bakar gas lebih murah dibanding bahan bakar minyak. 5. Perhatian Masyarakat Partisipasi aktif masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan pengendalian pencemaran udara. Menyadari hal tersebut dan dengan dipromosikannya kebijakan good governance di semua sektor maka pemerintah kota dan beberapa institusi non pemerintah telah berupaya melaksanakan kegiatan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat mengenai polusi udara serta berupaya untuk melibatkan masyarakat dalam menetapkan suatu kebijakan. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, telah dicapai tingkat kesadaran masyarakat dan pengambil keputusan yang relatif tinggi seperti yang diperlihatkan pada hasil survei yang telah dilaksanakan oleh LP3ES dan Asdep Emisi – KLH di beberapa kota serta CAP Swisscontact tahun 1999 – 2005 khusus di DKI Jakarta. Namun tingkat kesadaran tersebut ternyata belum mampu menggerakkan mereka untuk melakukan tindakan nyata penurunan pencemaran udara. Ini berarti dukungan dan partisipasi masyarakat dan pemerintah terhadap upaya pengendalian pencemaran udara masih tetap rendah. Meskipun beberapa Pemerintah Kota menyadari kondisi tersebut, namun belum ada upaya khusus yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat secara sistematis. Kendala utama pelaksanaan kegiatan peningkatan perhatian masyarakat oleh pemerintah adalah terbatasnya anggaran yang tersedia. Permasalahan lainnya adalah ketidaktersediaan sarana dan prasarana yang memadai bagi institusi-institusi yang bertanggung jawab dalam bidang informasi dan komunikasi. Kurangnya koordinasi antara institusi teknis terkait dengan institusi-institusi di bidang informasi dan hubungan masyarakat juga merupakan kendala sehingga kegiatan peningkatan perhatian masyarakat tidak dapat dilaksanakan secara efektif. Di lain pihak, rendahnya partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian pencemaran udara juga disebabkan terbatasnya contoh/tauladan yang diberikan oleh pemerintah. Sebagai contoh, pemerintah mempromosikan penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan tetapi pemerintah sendiri tidak menggunakannya pada kendaraan dinas/operasional pemerintah. Masalah lainnya adalah terkait dengan kredibilitas dan kesiapan program pengendalian pencemaran udara. Misalnya, persepsi masyarakat yang menyebutkan bahwa kinerja Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) berkala untuk

21

kendaraan angkutan umum dan barang selama ini buruk dapat menghambat kampanye program yang sama yaitu Pemeriksaan dan Perawatan kendaraan bermotor pribadi. Terbatasnya data dan informasi yang diperlukan oleh masyarakat untuk lebih memahami masalah pencemaran udara juga menjadi kendala. Pada beberapa kasus, meskipun data tersedia namun masyarakat sulit mendapatkannya. Kajian khusus perlu dilakukan terhadap pendekatan-pendekatan program peningkatan perhatian masyarakat baik oleh pemerintah maupun pihak lain agar upaya tersebut dapat menghasilkan tindak nyata atau partisipasi aktif semua pihak. Selanjutnya, kampanye publik yang intensif dan terencana, yang melibatkan masyarakat secara luas, termasuk pelajar-pelajar (dampak terhadap kesehatan dan lingkungan) perlu dibuat dan dilaksanakan. Kampanye publik yang akan dilakukan harus dapat menumbuhkan ketertarikan (interest) dan keinginan (desire). Untuk mencapai hal tersebut tahapan-tahapan berikut ini perlu dilakukan: - Create Awareness (memberikan pengetahuan) yaitu untuk menarik perhatian masyarakat dan perlu dilakukan terus menerus. - Create understanding (memberikan pemahaman) yaitu untuk menimbulkan keprihatinan (emotional involvement) dengan cara memberikan data, fakta, dan kesaksian yang didukung oleh pihak ketiga (opinion leaders). - Create Action yaitu mendorong tindakan, perubahan sikap, atau kebijakan serta disediakannya sarana/fasilitas untuk melaksanakan tindakan. Perlu juga diperhatikan bahwa informasi yang diberikan kepada masyarakat sedapat mungkin mencakup semua aspek yang terkait dengan pencemaran udara; seperti data kualitas udara; faktor-faktor yang mempengaruhi pencemaran udara (bahan bakar, baku mutu dan teknologi, pemeriksaan dan perawatan, manajemen transportasi, dan lain-lain); contoh-contoh tindakan nyata yang telah dilakukan; serta bagaimana pemangku kepentingan seperti sektor swasta, LSM, universitas dan instansi lainnya dapat berperan.

Sumber-Sumber Pencemaran Udara (Sources)
Sumber pencemaran udara dapat dikategorikan atas sumber bergerak dan sumber tidak bergerak, yang meliputi berbagai sektor termasuk transportasi, industri, dan domestik. Pada umumnya proses pembakaran bahan bakar fosil, baik yang di dalam mesin (transportasi), proses pembakaran dan pengolahan industri, maupun pembakaran terbuka (domestik) mengeluarkan pencemar-pencemar udara yang hampir sama; walaupun secara spesifik jumlah relatif masing-masing pencemar yang diemisikan tergantung pada karakteristik (properti) bahan bakar dan kondisi pembakaran. 1. Kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) Ketersediaan bensin tanpa timbal (unleaded gasoline) dan minyak solar dengan kandungan belerang rendah merupakan faktor kunci dalam penurunan emisi kendaraan, karena bahan bakar jenis tersebut merupakan prasyarat bagi penggunaan teknologi kendaraan yang mutakhir yang mampu mengurangi emisi kendaraan secara signifikan. Spesifikasi bahan bakar yang tersedia di Indonesia mengikuti spesifikasi bahan bakar yang berlaku saat ini sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal (Dirjen) Minyak dan Gas (Migas) No. 108. K/72/DDJM/1997 yang memperbolehkan kandungan timbal hingga 0.30 gram/liter serta tekanan uap (Reid Vapour Pressure) 62 kPa pada suhu 37,8° C untuk bahan bakar bensin. SK Dirjen Migas No. 113.K/72/DJM/1999 juga memperbolehkan kandungan belerang hingga 5000 ppm dan angka setana minimum 48 pada bahan bakar solar. Dengan kualitas bahan bakar sesuai dengan spesifikasi tersebut sulit untuk mewajibkan produsen kendaraan bermotor memasang peralatan pereduksi emisi (katalis) pada kendaraan. Walaupun bensin tanpa timbal telah tersedia di beberapa wilayah di Indonesia, namun ketidaktersediaan bensin tanpa timbal di hampir seluruh wilayah Indonesia belum dapat mendukung penerapan teknologi

22

tersebut. Alternatif bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan BBM adalah biodiesel dan bahan bakar gas. 2. Emisi Kendaraan Bermotor Kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang penting di daerah perkotaan. Kondisi emisi kendaraan bermotor sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan bakar dan kondisi pembakaran dalam mesin. Pada pembakaran sempurna, emisi paling signifikan yang dihasilkan dari kendaraan bermotor berdasarkan massa adalah gas karbon dioksida (CO2) dan uap air, namun kondisi ini jarang terjadi. Hampir semua bahan bakar mengandung polutan dengan kemungkinan pengecualian bahan bakar sel (hidrogen) dan hidrokarbon ringan seperti metana (CH4). Polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor yang menggunakan BBM antara lain CO, HC, SO2, NO2, dan partikulat. Pengalaman dari negara-negara maju menunjukkan bahwa emisi zat-zat pencemar udara dari sumber transportasi dapat dikurangi secara substansial dengan perbaikan sistem pembakaran dan penggunaan katalis (catalytic converter) dan juga pengendalian manajemen lalu lintas. Walaupun diasumsikan bahwa di masa mendatang reduksi emisi per kendaraan per kilometer akan dapat tercapai sebagai hasil dari penerapan teknologi dan sistem kontrol emisi, namun emisi agregat akan tetap tinggi karena jumlah sumber individu yang terus meningkat secara signifikan. Artinya, kontrol kualitas emisi harus diimbangi dengan kontrol jumlah sumber emisi (volume kendaraan). Tingginya emisi kendaraan bermotor disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah: • Sistem kontrol emisi kendaraan bermotor tidak diterapkan • Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) berkala untuk kendaraan umum tidak berjalan efektif • Pemeriksaan emisi kendaraan di jalan sebagai bagian dari penegakan hukum (terkait dengan pemenuhan persyaratan kelaikan jalan) belum diterapkan • Kendaraan bermotor tidak diperlengkapi dengan teknologi pereduksi emisi seperti katalis karena tidak tersedianya bahan bakar yang sesuai untuk penggunaan katalis tersebut • Kualitas BBM yang rendah • Penggunaan kendaraan berteknologi rendah emisi yang menggunakan bahan bakar alternatif masih belum memadai • Pemahaman tentang manfaat perawatan kendaraan secara berkala yang dapat menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar masih kurang • Disinsentif terhadap kendaraan-kendaraan yang termasuk dalam kategori penghasil emisi terbesar belum diperkenalkan. Terkait dengan kinerja PKB, evaluasi yang dilakukan dalam studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa sistem PKB masih belum efektif menurunkan emisi gas buang kendaraan umum. Sistem PKB yang telah diperkenalkan sejak awal 1990-an perlu diperkuat dan ditingkatkan agar dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam reduksi emisi. Undang-undang No.14/1992 tentang Lalulintas dan peraturan pelaksanaannya termasuk Peraturan Pemerintah (PP) No. 43/1992 saat ini sedang diamendemen. Salah satu klausul penting dalam rancangan perubahan peraturan perundangan tersebut adalah bahwa semua jenis kendaraan bermotor (umum dan pribadi) wajib diuji kelaikan jalan secara berkala. Rancangan perubahan PP juga menyebutkan privatisasi uji kelaikan jalan, yang berarti memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk terlibat dalam investasi dan operasi pusat-pusat pengujian yang akan melayani sejumlah besar kendaraan pribadi. Uji emisi akan menjadi salah satu bagian dari uji kelaikan jalan. Diharapkan, dengan perluasan objek uji kelaikan jalan ditambah dengan perbaikan sistem PKB yang ada saat ini, akan dapat memberikan kontribusi

23

pengurangan emisi hingga 50%. Pemeriksaan di jalan merupakan strategi yang efektif untuk memastikan kendaraan wajib uji memenuhi persyaratan ambang batas emisi dan sekaligus memvalidasi hasil uji PKB. Teknologi pereduksi emisi gas buang seperti catalytic converter belum dapat diaplikasikan karena pra kondisi spesifikasi bahan bakar belum dapat dipenuhi, yaitu bahan bakar bensin bebas timbal dan bahan bakar solar berkadar sulfur rendah. Jika bahan bakar alternatif seperti biodiesel tersedia secara luas dan dengan harga yang kompetitif, maka peralihan secara bertahap dari penggunaan bahan bakar fosil ke bahan bakar alternatif akan memberikan manfaat nyata bagi kualitas udara dan kesejahteraan manusia. Mengingat semakin besarnya kontribusi pencemaran udara dari kendaraan bermotor di beberapa kota di Indonesia, beberapa kota telah mulai mengembangkan bahkan DKI Jakarta telah memberlakukan sistem Pemeriksaan dan Perawatan (P&P) yang bertujuan untuk mengidentifikasi kendaraan-kendaraan yang beroperasi (in-use vehicles) yang tidak memenuhi ambang batas emisi polutan untuk parameter CO, HC, dan opasitas. Kendaraan yang tidak memenuhi ambang batas tersebut dipersyaratkan untuk diperbaiki hingga emisinya memenuhi ambang batas. Pemeriksaan dan perawatan diperlukan karena sejalan dengan usia pakai kendaraan kinerja mesin dan kondisi gas buang akan menurun. Melalui perawatan rutin seperti penyetelan mesin, pembersihan filter udara, dan lain-lain emisi gas buang CO dapat berkurang hingga 50%, HC hingga 35%, dan partikulat hingga 45%. Disamping itu efisiensi bahan bakar pun dapat mencapai antara 3%-10%. Tanpa langkah pengendalian emisi lalu lintas yang konkret, pertumbuhan kendaraan bermotor yang cepat di kota-kota besar disertai dengan kondisi emisi rata-rata kendaraan yang melebihi ambang batas emisi akan memperburuk kualitas udara dan menimbulkan kerugian biaya kesehatan, produktivitas, dan ekonomi yang makin besar. 3. Sistem Transportasi dan Manajemen Lalu Lintas Sistem manajemen transportasi dan tata ruang perkotaan mempengaruhi pola pergerakan manusia dan kendaraan di suatu kota yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas udara. Pengendalian pencemaran udara melalui peningkatan sistem transportasi terfokus pada dua aspek, yaitu pengurangan volume kendaraan dan pengurangan kepadatan lalu lintas. Makin banyak volume kendaraan yang beroperasi di jalan, makin banyak jumlah emisi gas buang total. Di negara-negara maju, walaupun catalytic converter telah dapat mengurangi emisi gas buang per kendaraan per kilometer tempuh, jika jumlah kendaraan semakin banyak dan jarak kilometer semakin bertambah maka jumlah emisi total tetap meningkat. Artinya, sistem transportasi memegang peranan penting dalam pengendalian pencemaran udara perkotaan. Pertumbuhan kendaraan yang pesat di kota-kota besar termasuk mencerminkan kurang memadainya sistem transportasi kota. Banyak orang terdorong untuk menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor karena ketiadaan transportasi umum yang nyaman, aman, dan tepat waktu. Sistem transportasi belum terintegrasi ke dalam pengembangan wilayah. Pada banyak kasus, pembangunan perumahan di luar pusat kota tidak diikuti dengan pengembangan sistem transportasi yang menghubungkan lokasi perumahan dengan lokasi komersial dan perkantoran di pusat kota. Kondisi ini mendorong orang untuk menggunakan kendaraan pribadi guna memenuhi kebutuhan transportasi mereka sehari-hari sehingga kendaraan pribadi mengambil porsi transportasi jalan yang lebih besar dibanding moda transportasi lainnya. Di seluruh Indonesia, komposisi sepeda motor adalah yang terbesar terhadap jumlah kendaraan bermotor yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: 1) sepeda motor merupakan alat transportasi alternatif di pedesaan dan perkotaan yang

24

harganya terjangkau masyarakat luas, 2) adanya kemudahan yang ditawarkan oleh lembaga pembiayaan kepada masyarakat untuk membeli sepeda motor, seperti cicilan dengan bunga ringan atau tanpa uang muka, 3) pada kurun waktu sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di bulan Oktober 2005, tingkat ekonomi dan daya beli masyarakat cukup baik sehingga mendorong kenaikan penjualan sepeda motor yang mencapai 30% selama 5 tahun terakhir ini (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia – AISI, 2005). Motorisasi semakin membuat moda transportasi tidak bermotor menjadi rentan dan marjinal. Tidak hanya angka kecelakaan yang meningkat, dampak motorisasi juga menyebabkan kemacetan, pencemaran udara dan kebisingan, tingginya konsumsi bahan bakar, dan berkurangnya pembangunan infrastruktur kota dan lahan terbuka hijau untuk kualitas hidup masyarakat kota yang lebih baik. Kepadatan dan kemacetan lalu lintas menyebabkan kendaraan tidak dapat beroperasi pada kecepatan optimum yaitu kecepatan kendaraan yg menghasilkan emisi gas buang minimum. Upaya pemerintah dalam mengatasi persoalan kemacetan antara lain dengan membangun jalan baru, memperlebar jalan, atau membangun jalan tol, namun ternyata hal ini tidak memecahkan masalah bahkan semakin menambah jumlah kendaraan di jalan yang akhirnya semakin menambah kemacetan. Masalah sumber pencemar transportasi di suatu kota tidak terlepas dari kontribusi sumber pencemar dari wilayah sekitarnya akibat perjalanan manusia ke dan dari suatu kota setiap hari untuk melakukan berbagai kegiatan (bekerja, sekolah, distribusi barang, dan sebagainya). Perjalanan tersebut dilakukan dengan menggunakan berbagai moda transportasi seperti sepeda motor, transportasi umum (bus, kereta api), dan mobil pribadi. Bus-way di Jakarta merupakan terobosan baru dalam penyediaan sistem angkutan umum yang cepat. Upaya fenomenal ini dilakukan dengan mempersempit ruas jalan utama dan mengalihkannya untuk jalur bus. Pada awalnya upaya ini mendapatkan resistensi karena mengurangi kenyamanan pengguna kendaraan pribadi, namun pada akhirnya diterima semua pihak karena manfaat yang diperoleh melebihi biaya yang harus dikeluarkan termasuk biaya kemacetan. Kerugian ekonomi akibat kemacetan (pengoperasian kendaraan dan waktu tempuh) mencapai Rp. 5.5 trilyun per tahun (SITRAMP, 2004). Jika upaya untuk mengurangi kemacetan tidak dilakukan, maka hingga tahun 2020 kerugian dapat mencapai Rp. 65 trilyun. Pada umumnya kinerja angkutan umum di Indonesia masih buruk karena faktor kenyamanan, keamanan, dan tepat waktu masih belum dapat dipenuhi. Kemacetan sering pula disebabkan oleh ketidakdisiplinan pengemudi angkutan umum tersebut yang menurunkan dan menaikkan penumpang dimana saja di sepanjang ruas jalan termasuk pula ketidakdisiplinan penumpang sendiri. Hal ini dikarenakan pola manajemen angkutan umum yang bersifat “mengejar setoran” sehingga pengemudi cenderung mengabaikan rambu-rambu lalu lintas semata untuk mendapatkan penumpang sebanyak mungkin. Pengusaha/pemilik angkutan umum menetapkan setoran minimum yang harus diserahkan oleh pengemudi atau penyewa kendaraan setiap harinya. Moda transportasi berbasis rel masih belum memadai misalnya kenyamanan dan keamanan kurang terjamin sehingga transportasi kereta api ini belum dapat menarik para pengguna mobil pribadi. Walaupun jumlah penumpang kereta api meningkat dari tahun ke tahun, tetapi jumlah pengguna transportasi rel masih tidak sebanding dengan jumlah pengguna transportasi jalan. Untuk perjalanan pendek dengan jarak 1 – 3 km, sebagian besar pengguna jalan di kota-kota besar di Indonesia melakukannya dengan menggunakan kendaraan bermotor dan hanya kurang dari 10% yang berjalan kaki. Hal ini disebabkan kondisi sarana untuk pejalan kaki yang buruk. Padahal fasilitas bagi pejalan kaki adalah

25

penting apabila sistem angkutan umum akan ditingkatkan dan upaya mengurangi motorisasi dilakukan karena semua penumpang angkutan umum berjalan kaki pada sebagian perjalanannya. Untuk itu, fasilitas trotoar, penyeberangan jalan, dan halte merupakan bagian yang mendasar. Pengguna angkutan umum perlu menyeberang jalan lebih sering dibanding pengguna kendaraan pribadi. Ini berarti fasilitas penyeberangan yang aman seperti rambu-rambu dan lampu penyeberangan atau tempat berlindung di tengah-tengah jalan yang lebar (lebih dari 3 jalur) sangat diperlukan. Selain itu, disiplin pengguna jalan juga perlu ditingkatkan, contohnya pengendara sepeda motor atau bahkan pengemudi mobil masih terlihat melanggar rambu lampu penyeberangan. Sarana halte bus masih belum memadai; tidak ada informasi mengenai rute dan jadwal perjalanan. Beberapa langkah disinsentif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas secara parsial dilakukan dengan cara pembatasan minimum penumpang kendaraan atau pembatasan jenis kendaraan bermotor pada ruas jalan atau wilayah tertentu dan pada waktu tertentu, misalnya kawasan three-in-one dan pembatasan waktu melintas bagi truk dengan jumlah berat beban tertentu. Namun perlu diperhatikan bahwa pengendalian kepadatan lalulintas di suatu kawasan tanpa upaya mengurangi volume kendaraan secara keseluruhan tidak akan mengurangi emisi gas buang total karena yang terjadi adalah pengalihan volume kendaraan dari satu ruas jalan/kawasan ke ruas jalan/kawasan yang lain. Ada kemungkinan lokasi kepadatan baru akan muncul dan efek berantai dapat terjadi. Pada akhirnya, aspek tata ruang perkotaan yang menentukan pola transportasi kota yang menjadi kunci permasalahan. Sebagai kesimpulan, kemacetan lalu lintas dan pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia disebabkan oleh manajemen kebutuhan transportasi yang tidak efektif, kurangnya infrastruktur untuk transportasi tidak bermotor (pejalan kaki), belum tersedianya transportasi cepat masal, interkoneksi bus masih belum memadai, kapasitas bus yang terbatas, dan rendahnya kualitas layanan bus. Ini berarti, strategi utama yang dilakukan untuk mengurangi volume kendaraan adalah menyediakan transportasi umum masal yang cepat, aman dan nyaman, dan yang memiliki akses yang luas. Transportasi umum masal ini harus memiliki keuntungan komparatif agar pengguna kendaraan pribadi beralih ke kendaraan umum. Upayaupaya lain yang dapat dilakukan diantaranya: a) mengalihkan sebagian ruas jalan untuk trotoar pejalan kaki, b) menggunakan kendaraan secara bersama (car pooling), c) memperkenalkan tempat kerja virtual dengan memanfaatkan sarana telekomunikasi (telecommuting) sehingga mengurangi perjalanan. 4. Emisi Industri Pembakaran bahan bakar untuk berbagai kegiatan industri termasuk pembangkitan listrik, produksi kimia dan produk lainnya, pengolahan logam, insinerasi, penggunaan bahan bakar industri, dan lain-lain merupakan sumber pencemar industri yang utama. Jenis bahan bakar yang digunakan industri, berdasarkan klasifikasi energi Indonesia, meliputi batu-bara (batu bara, kokas, dan kayu), dan bahan produk minyak [Marine Fuel Oil (MFO), High Speed Diesel (HSD), minyak tanah, bensin, minyak sisa, industrial diesel oil (IDO), dan liquified petroleum gas (LPG) ], serta gas alam. Kualitas bahan bakar, bersamaan dengan jenis bahan baku, proses industri, dan kontrol emisi sangat mempengaruhi kualitas emisi industri. Sebagai contoh, kandungan belerang dalam MFO di Indonesia lebih tinggi dari dalam HSD, minyak tanah, dan IDO, sehingga MFO menghasilkan polutan SO2 per satuan volume yang lebih tinggi dibanding bahan bakar minyak lainnya. Selain itu, kontribusi industri-industri manufaktur yang dikelompokkan berdasarkan Kelompok Lapangan Usaha Industri (KLUI) atau Internatinal Standard of Industrial Code (ISIC) terhadap pencemaran udara juga signifikan secara agregat. Fasilitasfasilitas di industri yang mengemisikan zat-zat pencemar udara diantaranya adalah: boiler, generator, cement dan ceramic kiln, turbin gas, pengering tanah liat atau

26

deterjen, tungku pemanasan logam dan kaca, insinerator, oven, dan lain-lain. Berdasarkan jumlah energi yang dihasilkan, komposisi terbesar penggunaan bahan bakar di industri (termasuk pembangkit listrik) adalah gas alam. Namun demikian pemakaian bahan bakar minyak dan batubara juga cukup tinggi, yaitu 51% dari total energi sehingga kontribusi bahan bakar yang mengandung ‘zat kotoran’ yang lebih banyak dibanding gas alam ini terhadap emisi pencemar udara juga tinggi. Dalam perhitungan beban emisi, sumber industri dibagi atas 1) sumber titik besar (large point sources – LPS) dan 2) sumber industri kecil yang dikelompokkan menjadi sumber area industri (industrial area sources). Yang termasuk dalam LPS diantaranya adalah pembangkit listrik, industri semen, logam dan baja, keramik, pulp dan kertas, dan lain-lain, dengan catatan bahwa data spesifik setiap industri tersebut diperoleh. Sedangkan industri-industri lain yang tidak termasuk dalam LPS dikelompokkan ke dalam sumber industri area. Perhitungan beban emisi ditentukan oleh diantaranya faktor emisi, volume aktivitas, dan efisiensi kontrol emisi suatu sistem/teknologi pereduksi emisi (jika digunakan di industri). Faktor emisi untuk fasilitas dan kegiatan tertentu dapat berbeda-beda. Pengendalian pencemaran udara dari sektor industri dilakukan dengan menerapkan baku mutu emisi sumber tidak bergerak (industri). Pengelolaan lingkungan termasuk pemenuhan baku mutu emisi industri menjadi persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelaku industri untuk memperoleh Izin Usaha Industri (IUI). Pemberian IUI tersebut dikaitkan dengan penilaian kelayakan lingkungan suatu rencana kegiatan (industri) yang dilakukan melalui mekanisme Analisa mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/UPL) atau Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL). Baku Mutu Emisi (BME) industri diatur dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (KepMen LH) No. 13 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. BME tersebut mencakup nilai ambang batas emisi untuk lima jenis industri, yaitu: industri besi baja, industri pulp dan kertas, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, industri semen, dan industri lain-lain (yang tidak termasuk dalam empat kegiatan di atas). Selain itu, tambahan cakupan industri yang diatur ambang batas emisinya dalam KepMen LH yang diterbitkqan beberapa waktu lalu adalah KepMen LH No. 129/2003 untuk kegiatan minyak dan gas serta KepMen LH No. 133/2004 untuk industri pupuk. Pada intinya, peraturan-peraturan tersebut di atas menyebutkan bahwa setiap pelaku industri berkewajiban melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, termasuk di dalamnya pengelolaan dan pemantauan kualitas emisi industri. Hasil pemantauan dilaporkan kepada instansi-instansi pemerintah, yaitu instansi teknis yang berwenang dalam bidang perindustrian dan instansi yang bertanggung jawab dalam bidang lingkungan hidup. Beberapa faktor yang menyebabkan pencemaran udara dari beberapa industri namun tidak terpantau adalah: • Tingkat ketaatan industri untuk memenuhi peraturan lingkungan masih rendah; tidak ada sanksi yang tegas yang diterapkan pada industri yang melebih BME kecuali jika telah terjadi pencemaran yang menggangu masyarakat sekitar sehingga menimbulkan protes. • Kapasitas sumber daya pemerintah terbatas untuk melakukan pemantauan dan pengawasan secara komprehensif; pemantauan hanya dapat dilakukan secara acak sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan anggaran. Salah satu upaya mengatasi hal ini adalah dengan mewajibkan manajemen kawasan industri melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan di dalam kawasan industrinya. Pengawasan satu persatu industri di suatu kawasan akan tidak efektif bagi pemerintah.

27

• BME hanya mengatur industri-industri yang berpotensi besar mencemari udara, sedangkan industri-industri yang tidak berpotensi besar mencemari udara dikelompokkan ke dalam industri lain-lain dan harus memenuhi BME dengan jumlah parameter yang sama untuk semua industri. BME ditetapkan berdasarkan konsentrasi parameter, bukan beban emisi. Hal ini mengakibatkan beberapa industri terbebani melakukan pemantauan parameter yang tidak signifikan untuk industri terkait, yang pada akhirnya menyebabkan industri cenderung mengabaikan peraturan. • Kurangnya koordinasi antar instansi yang mengeluarkan IUI dan yang menyetujui dokumen lingkungan kadang menyebabkan IUI dikeluarkan sebelum dokumen lingkungan disetujui atau kepentingan pertumbuhan industri melebihi kepentingan penilaian kelayakan lingkungan. • Sistem insentif fiskal bagi industri yang menurunkan emisi secara signifikan melalui penerapan produksi bersih dan kontrol emisi tidak diterapkan; hanya industri-industri besar yang memerlukan label lingkungan untuk kepentingan pemasaran dan ekspor produknya yang melakukan pengelolaan lingkungan lebih karena kebutuhan dan bukan hanya karena peraturan. 5. Sumber Pencemar Lainnya Disamping jalan raya dan sumber-sumber industri, di daerah perkotaan terdapat berbagai sumber anthropogenik lainnya yang dapat memberikan kontribusi yang cukup berarti pada total beban suatu jenis pencemar. Aktivitas domestik dan penggunaan bahan bakar untuk keperluan rumah tangga dapat mengemisikan NOx, partikulat, CO, dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC). Pada akhir-akhir ini, dalam upaya untuk mengurangi konsumsi BBM, pemerintah menganjurkan penggunaan briket batubara untuk keperluan rumah tangga. Hal ini diperkirakan akan menambah emisi pencemar-pencemar tersebut di atas dan pencemar SO2. Selain itu, terdapat sumber-sumber pencemar udara lain di wilayah perkotaan seperti pembakaran sampah secara terbuka, saluran air buangan, dan stasiun pengisi bahan bakar (SPBU). SPBU mengemisikan senyawa VOC dari penguapan bahan bakar pada saat pengisian tangki penyimpan dan tangki bahan bakar pada kendaraan. Emisi fugitive dari SPBU kemungkinan mempunyai kontribusi yang cukup berarti terhadap total emisi hidrokarbon tetapi hal ini belum banyak mendapat perhatian dan belum pernah diperhitungkan sebagai salah satu sumber VOC yang penting dalam kegiatan inventarisasi emisi di Indonesia. Saluran air kotor dan air hujan di wilayah perkotaan yang tidak terawat dengan baik dapat tersumbat dan menjadi sumber emisi gas berbau seperti hidrogen sulfida (H2S) dan NH3. Emisi gas-gas tersebut, terutama NH3 merupakan prekursor deposisi asam (hujan asam) yang penting. Gas-gas ini juga diemisikan dari dekomposisi sampah, terutama sampah organik. Sumber NH3 lain yang umumnya tidak berlokasi di wilayah perkotaan atau berbatasan dengan wilayah perkotaan tetapi cukup penting untuk diperhitungkan adalah kegiatan pertanian dan peternakan. Pengelolaan sampah pada saat ini menjadi tantangan besar di berbagai kota besar. Karena minimnya sumber daya untuk mengelola sanitary landfill yang memenuhi syarat, pada umumnya sampah ditimbun secara terbuka (open dumping). Praktek ini menimbulkan masalah lingkungan yang kompleks, termasuk masalah pencemaran udara. Proses dekomposisi aerob dan anaerob memproduksi emisi gas CO2 dan CH4, gas-gas yang penting peranannya sebagai gas rumah kaca (GRK). Adanya akumulasi gas metana juga menyebabkan terbakarnya timbunan sampah sehingga terjadi emisi partikulat, CO dan HC. Sebagai GRK, CH4 mempunyai nilai GWP (global warming potential) sebesar 21 kali kekuatan CO2. Pada suatu studi di daerah Bandung (Damanhuri et al, ….) gas metana yang terukur di udara ambien di lokasi open dumping berkisar antara 4 – 14 ppmv, dan gas CO2 antara 550 – 975 ppmv. Konsentrasi tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi rata-rata CH4 secara global sebesar 1,7 ppmv dan CO2 sebesar 360 ppmv (Wayne, 2000).

28

Pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan oleh lembaga di bawah pemerintah kota (misalnya, Perusahaan Daerah Kebersihan). Pada saat ini sumber daya yang tersedia untuk pengumpulan dan pembuangan akhir sampah umumnya belum dapat melayani kebutuhan seluruh penduduk kota tersebut. Akibatnya sebagian masyarakat terpaksa mengatasi timbulan sampah masing-masing dengan berbagai cara. Sebagai contoh pada survei yang baru saja dilakukan di kota Bandung (Irsyad et al, 2005), sekitar 29% dari rumah tangga yang tidak terlayani oleh sistem pengangkutan sampah perkotaan melakukan pembakaran sampah secara individual di sekitar tempat tinggal mereka, rata-rata sebanyak 63 kali dalam 100 minggu. Persentase penanggulangan sampah dengan cara pembakaran terbuka ini menempati proporsi terbesar dari berbagai cara penanggulangan lain seperti pengomposan, mengubur, mendaur ulang, dan lain-lain. Pembakaran sampah terbuka yang dilakukan oleh masyarakat dapat mengemisikan pencemar udara dengan proporsi yang cukup besar, tetapi belum banyak studi yang memperhitungkan kontribusi aktivitas ini terhadap total beban pencemar. Studi yang menyertakan pembakaran sampah terbuka sebagai salah satu sumber pencemar adalah Soedomo et al (1991). Studi tersebut memperkirakan sekitar 10-20% dari emisi total suspended particulate (TSP) dan HC di Jakarta berasal dari pembakaran sampah terbuka.

Pajanan (Exposure)
Ambang batas yang ditetapkan di dalam baku mutu kualitas udara ditentukan berdasarkan kajian mendalam hasil studi-studi hubungan dosis-respons (doseresponse) antara konsentrasi pencemar tertentu dan tingkat respons yang dirasakan oleh reseptor; contohnya konsentrasi pencemar yang dapat menyebabkan simptom gangguan kesehatan pada sistem atau organ manusia (misalnya gangguan pada jantung atau sistem pernafasan) atau kerusakan yang dapat dilihat pada daun-daunan tanaman. Dampak kesehatan dan dampak lingkungan yang terjadi tergantung pada besarnya konsentrasi pencemar di udara ambien. Bila memungkinkan, pengukuran dampak dilakukan pada reseptor, tetapi pengukuran secara langsung tersebut umumnya cukup rumit dan membutuhkan biaya tinggi bila dibandingkan dengan pengukuran tingkat konsentrasi pencemar di udara ambien. Perkiraan besarnya dampak yang terjadi diprediksi dengan melihat hubungan statistik antara konsentrasi di udara ambien dengan respons gangguan kesehatan berdasarkan studi-studi dosis-respons. Oleh sebab itu, pemantauan pencemar di udara ambien sangat penting untuk mengevaluasi tingkat konsentrasi yang terpajan pada reseptor. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengevaluasi dan mengestimasi besaran dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pencemar tertentu. 1. Pencemar Udara 1.1 Particulate Matter (PM10) Partikulat adalah padatan atau likuid di udara dalam bentuk asap, debu dan uap, yang dapat tinggal di atmosfer dalam waktu yang lama. Di samping mengganggu estetika, partikel berukuran kecil di udara dapat terhisap ke ke dalam sistem pernafasan dan menyebabkan penyakit gangguan pernafasan dan kerusakan paru-paru. Partikulat juga merupakan sumber utama haze (kabut asap) yang menurunkan visibilitas. Partikel yang terhisap ke dalam sistem pernafasan akan disisihkan tergantung dari diameternya. Partikel berukuran besar akan tertahan pada saluran pernafasan atas, sedangkan partikel kecil (inhalable) akan masuk ke paru-paru dan bertahan di dalam

29

tubuh dalam waktu yang lama. Partikel inhalable adalah partikel dengan diameter di bawah 10 µm (PM10). PM10 diketahui dapat meningkatkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pernafasan, pada konsentrasi 140 µg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak, sementara pada konsentrasi 350 µg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronkhitis. Toksisitas dari partikel inhalable tergantung dari komposisinya . Partikel yang terhirup (inhalable) juga dapat merupakan partikulat sekunder, yaitu partikel yang terbentuk di atmosfer dari gas-gas hasil pembakaran yang mengalami reaksi fisik-kimia di atmosfer, misalnya partikel sulfat dan nitrat yang terbentuk dari gas SO2 dan NOx. Umumnya partikel sekunder berukuran 2,5 mikron atau kurang. Proporsi cukup besar dari PM2,5 adalah amonium nitrat, ammonium sulfat, natrium nitrat dan karbon organik sekunder. Partikel-partikel ini terbentuk di atmosfer dengan reaksi yang lambat sehingga sering ditemukan sebagai pencemar udara lintas batas yang ditransportasikan oleh pergerakan angin ke tempat yang jauh dari sumbernya (Harrop, 2002). Partikel sekunder PM2,5 dapat menyebabkan dampak yang lebih berbahaya terhadap kesehatan bukan saja karena ukurannya yang memungkinkan untuk terhisap dan masuk lebih dalam ke dalam sistem pernafasan tetapi juga karena sifat kimiawinya. Partikel sulfat dan nitrat yang inhalable serta bersifat asam akan bereaksi langsung di dalam sistem pernafasan, menimbulkan dampak yang lebih berbahaya daripada partikel kecil yang tidak bersifat asam. Partikel logam berat dan yang mengandung senyawa karbon dapat mempunyai efek karsinogenik, atau menjadi carrier pencemar toksik lain yang berupa gas atau semi-gas karena menempel pada permukaannya. Termasuk ke dalam partikel inhalable adalah partikel Pb yang diemisikan dari gas buang kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar mengandung Pb. Timbal adalah pencemar yang diemisikan dari kendaraan bermotor dalam bentuk partikel halus berukuran lebih kecil dari 10 dan 2,5 mikrometer. Partikulat diemisikan dari berbagai sumber, termasuk pembakaran bahan bakar minyak, (gasoline, diesel fuel), pencampuran dan penggunaan pupuk dan pestisida, konstruksi, proses-proses industri seperti pembuatan besi dan baja, pertambangan, pembakaran sisa pertanian (jerami), dan kebakaran hutan. Hasil data pemantauan udara ambient di 10 kota besar di Indonesia menunjukan bahwa PM10 adalah parameter yang paling sering muncul sebagai parameter kritis (Bapedal, 2000, 2001; KLH, 2002, 2003, 2004). 1.2 Ozone (O3) Ozon termasuk kedalam pencemar sekunder yang terbentuk di atmosfer dari reaksi fotokimia NOx dan HC. Ozon bersifat oksidator kuat, karena itu pencemaran oleh ozon troposferik dapat menyebabkan dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia. Laporan Badan Kesehatan Dunia menyatakan konsentrasi ozon yang tinggi (>120 µg/m3) selama 8 jam atau lebih dapat menyebabkan serangan jantung dan kematian atau kunjungan ke rumah sakit karena gangguan pada sistem pernafasan. Pajanan pada konsentrasi 160 µg/m3 selama 6,6 jam dapat menyebabkan gangguan fungsi paru-paru akut pada orang dewasa yang sehat dan pada populasi yang sensitif. Emisi gas buang berupa NOx adalah senyawa-senyawa pemicu (precursor) pembentukan ozon. Senyawa ozon di lapisan atmosfer bawah (troposfer bawah, pada ketinggian 0 – 2000m) terbentuk akibat adanya reaksi fotokimia pada senyawa oksida nitrogen (NOx) dengan bantuan sinar matahari. Oleh karena itu potensi produksi ozon troposfer di daerah beriklim tropis seperti Indonesia sangat tinggi. Karena merupakan pencemar sekunder, konsentrasi ozon di luar kota --di mana tingkat emisi prekursor umumnya lebih rendah-- seringkali ditemukan lebih tinggi daripada konsentrasi ozon di pusat kota. Percepatan produksi ozon dibantu dengan kehadiran senyawa lain seperti NOx, hidrokarbon, CO dan senyawa-senyawa radikal yang juga diemisikan dari pembakaran

30

bahan bakar fosil. Puncak pola fluktuasi harian ozon umumnya terjadi setelah terjadinya puncak konsentrasi NOx dan efek yang lebih merugikan terhadap kesehatan karena adanya kombinasi pencemar NOx dan ozon dapat terjadi. Diketahui bahwa kombinasi NOx-O3 dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru (Hazucha, 1996). Selain menyebabkan dampak yang merugikan pada kesehatan manusia, pencemar ozon dapat menyebabkan kerugian ekonomi akibat ausnya bahan atau material (tekstil, karet, kayu, logam, cat, dlsb), penurunan hasil pertanian dan kerusakan ekosistem seperti berkurangnya keanekaragaman hayati. Penelitian di negara Asia seperti Jepang dan Pakistan menunjukan bahwa pajanan ozon pada tanaman padi menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan berkurangnya hasil produksi (Agrawal et al., 1999). 1.3 Carbon Monoxide (CO) Gas karbon monoksida (CO) adalah gas yang dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna. Gas ini bersifat tidak berwarna, tidak berbau, tidak menyebabkan iritasi. Gas karbon monoksida memasuki tubuh melalui pernafasan dan diabsorpsi di dalam peredaran darah. Karbon monoksida akan berikatan dengan haemoglobin (yang berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh) menjadi carboxyhaemoglobin. Gas CO mempunyai kemampuan berikatan dengan haemoglobin sebesar 240 kali lipat kemampuannya berikatan dengan O2. Secara langsung kompetisi ini akan menyebabkan pasokan O2 ke seluruh tubuh menurun tajam, sehingga melemahkan kontraksi jantung dan menurunkan volume darah yang didistribusikan. Konsentrasi rendah (<400 ppmv ambient) dapat menyebabkan pusingpusing dan keletihan, sedangkan konsentrasi tinggi (>2000 ppmv) dapat menyebabkan kematian. CO diproduksi dari pembakaran bakan bakar fosil yang tidak sempurna, seperti bensin, minyak dan kayu bakar. Selain itu juga diproduksi dari pembakaran produk-produk alam dan sintesis, termasuk rokok. Konsentrasi CO dapat meningkat di sepanjang jalan raya yang padat lalu lintas dan menyebabkan pencemaran lokal. CO kadangkala muncuk sebagai parameter kritis di lokasi pemantauan di kota-kota besar dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, tetapi pada umumnya konsentrasi CO berada di bawah ambang batas Baku Mutu PP41/1999 (10,000µg/m3/24 jam). Walaupun demikian CO dapat menyebabkan masalah pencemaran udara dalam ruang (indoor air pollution) pada ruang-ruang tertutup seperti garasi, tempat parker bawah tanah, terowongan dengan ventilasi yang buruk, bahkan mobil yang berada di tengah lalulintas. 1.4 Carbon Dioxide (CO2) Karbon dioksida (CO2) adalah gas yang diemisikan dari sumber-sumber alamiah dan antropogenik. Karbon dioksida adalah gas yang secara alamiah berada di atmosfer Bumi, berasal dari emisi gunung berapi dan aktivitas mikroba di tanah dan lautan. Karbon dioksida akan larut di dalam air hujan dan membentuk asam karbonat, menyebabkan air hujan bersifat lebih asam bila dibandingkan dengan air tawar. Tetapi akibat aktivitas manusia (pembakaran batubara, minyak dan gas alam) konsentrasi global CO2 telah meningkat sebesar 28% dari sekitar 280 ppmv pada awal revolusi industri di tahun 1850an menjadi 360 ppm pada masa kini (IPCC, 1996). Masalah utama dari peningkatan CO2 adalah perubahan iklim. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca (GRK) karena potensi pemanasan globalnya (GWP/Global Warming Potential). Pada saat ini tidak hanya CO2 yang dikenal sebagai GRK tetapi juga pencemar udara lainnya seperti metana, ozon, kloroform, N2O dan HFCs. 1.5 Nitrogen Oxide (NOx) Oksida nitrogen (NOx) adalah kontributor utama smog dan deposisi asam. Nitrogen oksida bereaksi dengan senyawa organic volatile membentuk ozon dan oksidan lainnya

31

seperti peroksiasetilnitrat (PAN) di dalam smog fotokimia dan dengan air hujan menghasilkan asam nitrat dan menyebabkan hujan asam. Smog fotokimia berbahaya bagi kesehatan manusia karena menyebabkan kesulitan bernafas pada penderita asma, batuk-batuk pada anak-anak dan orang tua, dan berbagai gangguan sistem pernafasan, serta menurunkan visibilitas. Deposisi asam basah (hujan asam) dan kering (bila gas NOx membentuk partikel aerosol nitrat dan terdeposisi ke permukaan Bumi) dapat membahayakan tanam-tanaman, pertanian, ekosistem perairan dan hutan. Hujan asam dapat mengalir memasuki danau dan sungai lalu melepaskan logam berat dari tanah serta mengbah komposisi kimia air. Hal ini pada akhirnya dapat menurunkan dan bahkan memusnahkan kehidupan air. Oksida nitrogen diproduksi terutama dari proses pembakaran bahan bakar fosil, seperti bensin, batubara dan gas alam. 1.6 Sulfur Dioxide (SO2) Gas sulfur dioksida (SO2) adalah gas yang tidak berbau bila berada pada konsentrasi rendah tetapi akan memberikan bau yang tajam pada konsentrasi pekat. Sulfur dioksida berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan batubara. Pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah sumber utama pencemaran SO2. Selain itu berbagai proses industri seperti pembuatan kertas dan peleburan logam-logam dapat mengemisikan SO2 dalam konsentrasi yang relatif tinggi. SO2 adalah kontributor utama hujan asam. Di dalam awan dan air hujan SO2 mengalami konversi menjadi asam sulfur dan aerosol sulfat di atmosfer. Bila aerosol asam tersebut memasuki sistem pernafasan dapat terjadi berbagai penyakit pernafasan seperti gangguan pernafasan hingga kerusakan permanent pada paruparu. Pencemaran SO2 pada saat ini baru teramati secara lokal di sekitar sumbersumber titik yang besar, seperti pembangkit listrik dan industri, meskipun sulfur adalah salah satu senyawa kimia yang terkandung di dalam bensin dan solar. Data dari pemantauan kontinu pada jaringan pemantau nasional pada saat ini jarang mendapatkan SO2 sebagai parameter kritis, kecuali pada lokasi-lokasi tertentu. Lokasi pemantauan di Surabaya UAQi, Utara yang diduga menerima emisi jarak jauh dari sumber pencemar di daerah Gresik kadangkala mendapatkan SO2 sebagai parameter kritis (data from DLH Surabaya, 2005). KOnsentrasi SO2 yang relative tinggi juga ditemukan di sekitar lokasi industri di daerah Karawang, walaupun secara umum nilai rata-ratanya masih tetap berada di bawah ambang batas Baku Mutu Kualitas Udara (data BPLHD Jabar, 2004). 1.7 Volatile Organic Compounds (VOCs) Senyawa organic volatile (VOC) adalah senyawa organic yang mudah menguap. Banyak senyawa organic volatile memiliki karakteristik mudah menguap/ berubah dari fasa cair menjadi fasa gas pada temperatur ruang. VOC termasuk benzena, pelarut seperti toluen dan xilen serta perkloroetilen. VOC dilepaskan dari pembakaran bahan bakar, seperti bensin, kayu, batubara, bahan-bahan pelarut, cat, lem dan produkproduk lain yang digunakan di rumah dan kantor. Emisi kendaraan bermotor adalah sumber VOC yang penting. Berbagai senyawa VOC adalah pencemar udara yang berbahaya, benzene, formaldehida, benzo – a – pirena (BaP). VOC juga merupakan precursor ozon yang dapat meningkatkan produksi ozon meningkat dengan cepat. Hidrokarbon, termasuk VOC tidak dipantau oleh jaringan pemantau nasional, tetapi sistem yang pernah terpasang dan beroperasi di Jakarta pada tahun 1995 – 2000 mengukur senyawa hidrokarbon sebagai NMHC (hidrokarbon non metana). Pemantauan HC selama proyek JICA tahun 1996 menunjukan bahwa nilai konsentrasi rata-rata 3-jam NMHC di seluruh stasiun pengamatan telah melampaui ambang batas Baku Mutu DKI Jakarta, Walaupun pada saat ini jaringan pemantau tidak mengukur senyawa HC seperti NMHC, pengamatn JICA membuktikan bahwa di samping PM10 dan O3 yang sering menjadi parameter kritis, HC juga perlu mendapat perhatian, Hal ini disebabkan juga karena banyak senyawa NMHC adalah juga merupakan precursor

32

O3. Sebagaimana ditunjukan dalam repartisi emisi HC (lihat bagian Inventarisasi Emisi), yang mengestimasi bahwa lebih dari 90% HH diemisikan dari berasal dari emisi gas buang, data-data ini menunjukkan bahwa konsentrasi ambient HC yang tinggi diperkirakan juga berasal dari sumber yang sama dengan precursor O3 yang lain (NOx dan CO). Analisis ini menggambarkan bahwa untuk menurunkan pencemaran O3, strategi penurunan emisi kendaraan bermotor juga harus secara komprehensif mengendalikan emisi HC. 1.8 Timbal (Pb) Timbal adalah logam yang sangat toksik dan menyebabkan berbagai dampak kesehatan terutama pada anak-anak kecil. Timbal dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf dan masalah pencernaan, sedangkan berbagai bahan kimia yang mengandung timbale dapat menyebabkan kanker. Dimulai di Jabodetabek pada bulan Juli 2001 lalu di Denpasar, Batam dan Cirebon kandungan Pb di dalam bensin telah dihapuskan, yang secara langsung telah menurunkan konsentrasi timbal di udara. Tetapi baru kota-kota tersebut yang mendapatkan pasokan bensin tanpa timbal. 2. Ketersediaan Data Kualitas Udara Pemantauan kualitas udara dilakukan oleh beberapa lembaga pemerintah untuk berbagai tujuan. Kementrian Lingkungan Hidup melakukan pemantauan kualitas udara yang dilaksanakan melalui Pusat Pengelolaan Lingkungan (Environmental Management Centre, EMC), Badan-Badan dan Dinas-Dinas Lingkungan Hidup Daerah, Laboratorium Kesehatan Lingkungan (BTKL), Badan Meteorologi dan Geofiska (BMG), PTNBR (BATAN), LAPAN, Departemen Kesehatan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan Raya (Puslitbang Jalan Raya), dan berbagai lembaga pendidikan tinggi/universitas. Pada tahun 2000 pemerintah mulai mengoperasikan jaringan pemantau kontinu otomatis di 10 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Denpasar, Jambi, Medan, Palangkaraya, Pekanbaru, Pontianak, Semarang dan Surabaya. Sistem pemantauan tersebut memantau konsentrasi CO, SO2, NOx, O3 dan debu (PM10). Data yang diperoleh dari pemantauan ini dipergunakan untuk menghitung Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan ditampilkan pada papan display ISPU yang tersebar di beberapa lokasi di dalam kota. Perhitungan ISPU dilakukan berdasarkan data pemantauan selama 24 jam (dari 15:00 – 15:00 hari berikutnya). Indeks ISPU untuk tiap parameter yang dipantau menunjukan kualitas udara selama periode 24 jam pemantauan.

• • • • •

Nilai indeks <51 menunjukan kualitas udara “Baik”; 50<indeks<101 kualitas udara “Sedang”; 100<indeks<199 kualitas udara “Tidak Sehat”; 00<indeks<299 kualitas udara “Sangat Tidak Sehat”; 2 dan >300 “Berbahaya”.

ISPU dihitung dengan menggunakan data 24 jam sebelumnya, dengan kata lain sebetulnya menunjukan kualitas udara pada hari sebelumnya. Informasi ini umumnya tidak diketahui oleh masyarakat, dan menimbulkan kesalah pengertian yang umum berupa anggapan bahwa data yang ditampilkan adalah data saat ini (real-time). ISPU bertujuan untuk menampilkan kualitas udara rata-rata di seluruh wilayah kota, sehingga angka ISPU yang ditampilkan adalah yang nilainya paling tinggi dari seluruh parameter di semua lokasi pemantauan. Hal ini juga umumnya belum diketahui oleh masyarakat luas sehingga terdapat kesalahan anggapan lain bahwa ISPU yang ditampilkan adalah kualitas udara pada lokasi papan display. Bila data dari tahun ke tahun terdokumentasi dengan baik, statistic ISPU dapat digunakan untuk menganalisis secara umum kecenderungan kualitas udara di suatu

33

kota, serta berguna untuk membandingkan kualitas udara di beberapa kota di Indonesia yang telah memiliki sistem pemantauan kontinu. Data ISPU bahkan dapat digunakan untuk perbandingan dengan kota-kota di negara lain, sepanjang negara tersebut menggunakan sistem indeks dan kategori kualitas udara yang sama. Karena untuk menghitung ISPU membutuhkan ketersediaan data dari pemantauan selama 24 jam, ISPU dapat digunakan sebagai informasi untuk peningkatan kesadaran masyarakat (public awareness), tetapi tidak sepenuhnya dapat digunakan sebagai sarana peringatan dini masyarakat (public warning), sebagaimana dibuktikan dari hasil survey. Persentase data hilang yang terdapat di semua kota menggambarkan bahwa tidak ada satu pun kota yang dapat mengoperasikan peralatan pemantau selama setahun penuh, umumnya dikarenakan adanya masalah klasik keterbatasan biaya untuk operasi dan perawatan. Bahkan selama sepanjang tahun sistem pemantau di Denpasar tidak beroperasi. Walaupun data tidak lengkap, pada umumnya PM10 dan ozon tetap merupakan parameter pencemar yang sering ditemukan sebagai parameter kritis. Tetapi, pada saat ini belum ada data pengamatan yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan dan penyusunan strategi dan rencana aksi untuk secara spesifik mengendalikan kedua pencemar ini. Selain itu, sistem pemantauan hanya mencakup wilayah perkotaan sehingga informasi untuk mengetahui emisi lintas batas dari pencemar-pencemar ini maupun precursornya serta dampaknya termasuk yang berada di luar daerah perkotaan sangat sedikit diketahui. Kendala-kendala dalam pelaksanaan analisis data kualitas udara ambient disebabkan oleh antara lain:

• • • •

• •

Tidak adanya data konsentrasi background udara yang belum tercemar yang dapat digunakan sebagai acuan menentukan pencemaran udara yang disebabkan oleh aktivitas manusia Pemantauan kualitas udara secara kontinu dan otomatis baru dilaksanakan di 10 kota, ada lebih banyak lagi kota yang tidak memiliki sistem pemantau. Jumlah stasiun pemantau di kota yang telah memiliki jaringan pemantau juga masih terbatas dan belum cukup untuk mewakili variasi spasial pencemar Bila sudah ada kegiatan pemantauan di kota-kota yang belum memiliki alat pemantau otomatis, umumnya kegiatan tersebut difokuskan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan jalan raya, tidak mempertimbangkan kemungkinan adanya sumbersumber pencemar lain yang mungkin ada dan memberikan kontribusi yang cukup dominan Pemantauan pada lokasi reseptor sensitif di luar daerah perkotaan, dimana dampak terhadap lingkungan dapat terjadi tetapi sumber pencemar berada di lokasi lain (long-range pollution) hampir dapat dikatakan tidak ada Dana yang tersedia untuk pemantauan dan pengoperasian alat-alat pemantau otomatis yang sudah ada sangat terbatas, sehingga dalam banyak kasus tidak semua stasiun pengamat dapat beroperasi. Hal ini menyebabkan terdapatnya kehilangan data pencemar udara yang diperlukan untuk menentukan ISPU.

Kondisi ini menurunkan validitas data ISPU atau data kualitas udara lain yang ditampilkan Kementrian lingkungan hidup telah mengeluarkan Keputusan Mentri dalam hal Ambang Batas Baku Mutu Kualitas Udara Ambien. Tetapi, dengan adanya perbedaan kondisi dan karakteristik alam dan perkotaan, di beberapa daerah mungkin diperlukan peraturan baku mutu yang sesuai dengan kondisi daerah. Baku Mutu daerah dapat berbeda dari Baku Mutu Nasional, bila hal ini terjadi, maka ambang batas yang ditetapkan harus lebih ketat dari ambang batas nasional. Pada saat ini, belum banyak daerah yang memiliki Baku Mutu Daerah. Penyusunan baku mutu tersebut akan membutuhkan informasi dari studi-studi dan pengkajian hasil-hasil studi mengenai analisis resiko dan hubungan dosis-respons antara pencemar udara dan kesehatan manusia, tanaman pertanian, dan ekosistem. Data-data tersebut pada

34

umumnya belum banyak tersedia. Data pemantauan kualitas udara dapat digunakan untuk mengetahui distribusi dan variasi pemajanan pencemar udara, dan selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi dan menentukan prioritas dalam pengelolaan kualitas udara. Dengan keterbatasan sumber daya pemantauan yang terjadi pada saat ini, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai distribusi spasial dan temporal pencemaran udara adalah dengan melakukan pemodelan. Pemodelan dapat juga digunakan untuk mengestimasi dan mengevaluasi dampak dari aksi pengelolaan kualitas udara yang telah atau akan diimplementasikan. 3. Inventarisasi Emisi yang Terbatas Inventarisasi emisi adalah basis data mengenai sumber-sumber pengemisi pencemar udara yang komprehensif yang dilengkapi dengan nilai beban pencemar untuk tiaptiap parameter yang diinventarisasi yang terdapat pada suatu lokasi geografis dan pada periode waktu tertentu. Inventarisasi emisi umumnya meliputi beberapa pencemar criteria seperti TSP, PM10, hidrokarbon total, NOx, SO2 dan CO. Inventarisasi dapat pula dilakukan untuk jenis-jenis pencemar lain seperti logam berat (timbale, merkuri), pencemar organik persisten (POP) dan pencemar udara berbahaya (HAP). Berkaitan dengan masalah perubahan iklim pada saat ini inventarisasi juga dilakukan terhadap GRK seperti CO2 dan CH4. Beban emisi suatu pencemar di suatu kota adalah total massa yang diemisikan dari sumber-sumber dalam suatu periode tertentu, misalnya dalam 1 tahun. Beban emisi dalam IE umumnya dilaporkan dalam unit massa per unit waktu (mis, ton SO2/tahun). IE perlu dilakukan secara teratur, sedikitnya setiap 2 tahun sekali. Tujuan dan kegunaan pembaharuan data IE adalah:

• • • • •

Pengkajian kualitas udara Pengamatan tren emisi Input pemodelan kualitas udara Mengevaluasi scenario di masa yang akan datang, seperti memprediksi dampak suatu rencana aksi pengelolaan terhadap perbaikan kualitas udara, dampak adanya sumber pengemisi baru, atau scenario penurunan emisi Panduan untuk mengembangkan dan menyempurnakan jaringan pemantau kualitas udara.

Pada saat ini IE belum disadari sepenuhnya sebagai aspek yang penting dalam pengelolaan kualitas udara di Indonesia. IE membutuhkan pembaharuan data yang teratur minimal 2 tahun sekali. Secara singkat, permasalahan di dalam IE nasional adalah karena tidak adanya ketersediaan data yang tertata secara sistematis dan belum adanya metode standar yang dapat digunakan sebagai acuan untuk pembaharuan, estimasi dan evaluasi emisi. Masalah yang lain berhubungan dengan keakuratan dari estimasi, a.l. karena belum lengkapnya jenis-jenis sumber-sumber yang diinventarisasi serta kelangkaan factor emisi yang sesuai untuk kondisi local. 4. Pemodelan yang Tidak Berkembang Pemodelan sangat bermanfaat sebagai sarana untuk memprediksi kualitas udara yang digunakan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kebijakan dan peraturan dalam pengelolaan kualitas udara. Sebagai contoh, Peraturan Lingkungan Hidup 1995 di Inggris (UK 1995 Environment Act) mewajibkan pemerintah daerah/kota untuk melakukan prosedur pengkajian kualitas udara di wilayah masing-masing. Pada Tahap Kesatu dari pengkajian terseut dilakukan pengumpulan data-data yang tersedia yang

35

mencemari. Evaluasi data kualitas udara yang diperoleh digunakan untuk mengetahui apakah wilayah yang menjadi tanggung jawab administrasi pemerintah kota tersebut telah memenuhi sasaran Baku Mutu Kualitas Udara yang ditetapkan di dalam Strategi Kualitas Udara Nasional. Bila ditemukan konsentrasi yang telah melebihi ambang batas, maka pemerintah kota tersebut diwajibkan untuk melakukan pengkajian Tahap Kedua, yang dapat meliputi pemodelan awal untuk mengetahui besaran konsentrasi di wilayah-wilayah yang diperkirakan akan melebihi ambang batas Baku Mutu. Hasil pemodelan awal kemudian digunakan untuk menentukan apakah pemerintah kota diwajibkan untuk melakukan analisis yang lebih rinci meliputi inventarisasi emisi yang lebih mendetail, pemodelan yang lebih teliti (misalnya dengan ADMS atau model lain yang sejenis), pemantauan secara kontinu dan akhirnya menetapkan Wilayah Pengelolaan Kualitas Udara/WPKU (Air Quality Management Areas/AQMA). Setelah lokasi-lokasi WPKU tersebut ditetapkan, maka pemerintah kota yang bersangkutan diwajibkan menyusun rencana aksi untuk tiap-tiap lokasi WPKU yang mencakup rencana kegiatan yang rinci berikut target waktu pencapaian sasaran kualitas udara yang ditetapkan. Dengan menggunakan prosedur ini, pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya dalam implementasi rencana aksi untuk mengendalikan pencemaran udara menjadi lebih terarah dan tepat sasaran. Rencana aksi tersebut dapat dipusatkan hanya terhadap pencemar-pencemar yang konsentrasinya melebihi ambang batas, terhadap sumbersumber yang memberikan kontribusi terbesar, serta di lokasi-lokasi di mana ambang batas telah terlampaui. Sementara itu untuk wilayah-wilayah yang telah memenuhi sasaran, kegiatan lebih diarahkan pada tindakan-tindakan pencegahan. Pendekatan yang kurang lebih sama juga diterapkan di Amerika Serikat dengan menggunakan modelmodel standard yang dikembangkan oleh USEPA seperti AERMOD dan ISC3. Bila pemodelan yang digambarkan diatas dikembangkan untuk tujuan pengelolaan kualitas udara di wilayah perkotaan, terdapat pula jenis-jenis model lain yang dikembangkan untuk kebutuhan yang lebih spesifik, seperti untuk memprediksi dampak pada reseptor. Misalnya model untuk memprediksi dampak hujan asam, pencemaran udara lintas batas dan oksidan fotokimia. Jenis-jenis model ini umumnya memiliki skala ruang yang lebih besar daripada model disperse yang digunakan untuk tujuan regulasi di wilayah perkotaan.

5. Penyebarluasan Informasi Kualitas Udara yang Tidak Teratur Sistem Pemantauan Kualitas Udara (Air quality monitoring system AQMS) telah dioperasikan sejak tahun 2001 di 10 kota. Instansi pemerintah yang bertanggungjawab terhadap lingkungan hidup, seperti Bapedalda atau BPLHD, pada tingkat kota/kabupaten menjadi penanggungjawab pengoperasian stasiun pemantauan tetap, kecuali untuk DKI Jakarta, sedangkan stasiun bergerak (mobile station) dioerasikan oleh pemerintah tingkat propinsi. Instansi-instansi tersebut tidak hanya bertanggungjawab untuk pengoperasian, tetapi juga untuk pemeliharaan stasiun pemantauan tersebut. Dengan sistem yang dibangun, di regional center hasil pemantauan kualitas udara didownload melalui modem dari stasiun pemantau untuk selanjutnya akan dikirim ke main center di Kementerian Lingkungan Hidup. Setelah diproses di regional center, hasil pemantauan kualitas udara pada tingkat daerah akan dimunculkan pada papan display yang tersedia di beberapa lokasi. Sementara itu hasil pemantauan yang dikirim oleh 10 kota ke main center, setelah diproses akan dimunculkan papan display yang terdapat di Kementerian Lingkungan Hidup. Biasanya, hasil pemantauan kualitas udara hanya dipublikasikan dalam bentuk data ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara), melalui papan display yang tersedia dengan jumlah yang terbatas. Upaya lain yang dilakukan adalah melalui website, leaflet atau booklet, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh BPLHD Jakarta secara teratur. Untuk

36

tujuan tertentu, masyarakat dapat juga meminta data kualitas udara dalam bentuk konsentrasi. Disayangkan, bahwa kebanyakan masyarakat yang pernah melihat papan display kualitas udara mendapatkan pengertian yang salah terhadap informasi tersebut. Berdasarkan survey yang dilaksanakan oleh Swisscontact pada tahun 2005 yang melibatkan 1,400 responden di Jakarta, hanya 51.36% dari responden tersebut yang sudah pernah melihat papan display, dan sekitar 90% dari responden tersebut menganggap bahwa data yang ditampilkan adalah data real time yang diukur pada daerah sekitra data display tersebut. Namun demikian, sekitar 70% dari responden menganggap bahwa display data ISPU tersebut bermanfaat untuk mendapatkan perhatian masyarakat terhadap permasalahan pencemaran udara. Untuk menghindari slah pengertian terhadap data ISPU yang ditampilkan adalah sangat penting bahwa pemerintah mengevaluasi bentuk informasi yang akan ditampilkan pada data display tersebut. Juga, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk menyediakan data real time. Namun, apapun bentuk informasi yang diberikan kepada masyarakat, diharapkan bahwa informasi tersebut disertai dengan penjelasan yang baik.

Dampak dari Pencemaran Udara
Perhatian masyarakat terhadap kualitas udara semakin besar ketika mengetahui dampaknya terhadap kesehatan anak-anak, terutama yang berhubungan dengan insiden dan prevalen asma. Walaupun belum disepakatinya bukti-bukti yang menunjukkan bahwa asma disebabkan oleh pencemaran udara, temuan terbaru menunjukkan bahwa pencemaran udara menjadi pencetus gejala-gejala asma. Beberapa komponen hidrokarbon dari gas buang kendaraan bermotor, seperti polycyclicaromatic hydrocarbons (PAH) pada partikel diesel, diketahui sebagai penyebab kanker, demikian juga benzena dan 1,3-butadiene. CO, yang banyak ditemukan dalam konsentrasi tinggi di perkotaan, diketahui dapat memperburuk penyakit jantung dengan cara mengganggu kapasitas darah dalam mengangkut oksigen. Penelitian epidemiologi terkini menemukan bahwa partikulat diesel bertanggung jawab terhadap peningkatan gangguan penyakit-penyakit paru-paru dan jantung bahkan di tingkat pencemaran yang relatif rendah (Colville, et al., 2001). Timbal yang digunakan sebagai peningkat oktan dalam bensin bertimbal diketahui sebagai penyebab kerusakan susunan syaraf dan menurunkan tingkat kecerdasan (IQ). Pajanan timbal jangka panjang menunjukkan pada setiap peningkatan 10 sampai 20 µg/dl timbal darah berhubungan dengan kehilangan IQ dua setengah poin (EPAQS, 1998). Dalam studi-studi laboratorium, sudah sejak lama diketahui bahwa SO2 menyebabkan batuk pada pajanan konsentrasi tinggi dalam jangka pendek, terutama terhadap mereka yang menderita asma. Pencemar udara dari jalan raya sebagai penyebab gangguan kesehatan di perkotaan negara maju saat ini adalah NO2 (Colville et al., 2001). Keterkaitan antara NO2 dengan kesehatan masyarakat termasuk peningkatan total angka kematian karena penyakit jantung, kematian bayi, kunjungan pengidap asma di unit gawat darurat, dan perawatan penyakit paru di rumah sakit. NO2, bersama dengan volatile organic compounds (VOCs) merupakan komponen penyebab munculnya ozone (O3) dan pencemar fotokimia lainnya (Sillman, 1999). O3 telah diketahui memperparah gejala asma, selain juga dapat merusak pertanian.

37

Selain dampak kesehatan masyarakat dan lingkungan perkotaan, emisi dari sarana transportasi turut berkontribusi terhadap dampaknya bagi atmosfer, seperti deposisi asam, penipisan ozon di stratosfer, dan perubahan iklim global. Gas buang SO2 dan NOx lebih jauh dapat memunculkan proses pengasaman di atmosfer melalui oksidasi, yang merubahnya menjadi asam sulfur dan asam nitrat. Meskipun pencemaran dari sarana transportasi masih jauh untuk menjadi sumber penipisan lapisan ozon di stratosfer, namun unit penyejuk udara (AC) dalam kendaraan bermotor ternyata ikut berkontribusi terhadap terjadinya dampak tersebut. Kontribusi terbesar emisi dari transportasi adalah CO2 dan H2O, dikenal sebagai gasgas greenhouse, yang dibawah pengawasan ketat berkaitan dengan dampaknya terhadap pemanasan dan perubahan iklim global. Disamping manfaat penggunaannya dalam menurunkan emisi NOx, VOCs, and CO, catalytic converter juga mempunyai kelemahan, karena meningkatkan emisi CO2, N2O, dan NH3 yang berkontribusi pada perubahan iklim dan deposisi asam. Sementara emisi dari N2O meningkat sebanyak 10 faktor (Wade et al., 1994), N2O dalam skala kecil juga dianggap bertanggungjawab terhadap pemanasan global. Sementara itu, sedikit saja peningkatan CO2 akan memberikan dampak yang lebih besar. 1. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Kesehatan Telah lebih dari dua dasawarsa ini penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan gangguan saluran pernafasan lain selalu menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak yang dilaporkan oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat seperti: Puskesmas, Klinik, dan Rumah Sakit. Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan saluran pernapasan lain adalah: rendahnya kualitas udara di dalam rumah dan atau di luar rumah baik secara biologis, fisik, maupun kimia. Hampir semua penyakit dan kematian yang terkait dengan pencemaran udara tersebut tercatat dan dilaporkan oleh Departemen Kesehatan melalui rumah sakit, puskesmas, dinas kesehatan provinsi dan kota/kabupaten. Namun, baik di tingkat pusat, provinsi, kota atau kabupaten, struktur organisasi yang spesifik menangani penanggulangan berikut pengawasan dampak kesehatan kualitas udara tersebut belum ada di institusi kesehatan. Sehingga, situasi dan kondisi ini dapat memperlemah upaya penanggulangan dampak kesehatan pencemaran udara berikut surveilans-nya. Dimana pada gilirannya, berakibat pada lemahnya informasi tentang kondisi senyatanya dampak kesehatan yang disebabkan oleh pencemaran udara. 2. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Tumbuhan Di dalam lingkungan perkotaan terdapat berbagai macam tumbuhan yang dapat ditemukan di taman-taman kota, di pinggir jalan, di taman-taman perumahan, dan bagian-bagian lainnya. Saat ini, ditemukan keanekaragaman spesies yang lebih besar meskipun terancam punah akibat polusi terutama yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Kualitas udara merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan vegetasi di lingkungan perkotaan. Beberapa studi menunjukkan bahwa palawija dan tumbuhan lain yang ditanam sepanjang jalur jalan utama dari wilayah pinggir kota sampai dengan pusat kota memperlihatkan tingkat pertumbuhan yang rendah di lokasi sekitar kota. Efek dari masing-masing pencemar sulit untuk diketahui, dan kerusakan tumbuhan kemungkinan merupakan hasil dari campuran pencemar di udara. Tetapi kadar ozon yang tinggi telah memperlihatkan kerusakan species tumbuhan dalam beberapa studi. Beberapa spesies terutama yang berdaun pendek seperti bayam dan semanggi peka terhadap ozon, dan kerusakan tampak setelah pajanan yang pendek. Meskipun tidak ada pengetahuan rinci tentang efek ozon terhadap spesies, diasumsikan bahwa

38

kerusakan struktur sel diakibatkan masuknya ozon ke dalam stomata. Ozon dapat mengganggu fungsi stomata dan kemudian merusak keseimbangan kelembaban. 3. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Bangunan Kadar sulfur dioksida yang tinggi di udara telah diketahui dapat mengakibatkan kerusakan bangunan. Namun meskipun kadar SO2 rendah, kerusakan bangunan masih terjadi. Hal ini dapat diakibatkan meningkatnya konsentrasi ozon dan nitrogen di dalam lingkungan perkotaan. Percobaan-percobaan yang dilakukan telah memperlihatkan bahwa campuran pencemar-pencemar seperti ozon, nitrogen dioksida dan sulfur merusak batu lebih cepat dibandingkan dengan satu persatu pencemar tersebut. Masalah penting terkait dengan pencemaran udara perkotaan adalah kotornya bangunan-bangunan. Kepadatan area perkotaan semakin meningkat, asap dan partikel udara yang berasal dari kendaraan bermesin diesel telah mengambil alih asap dari batu bara sebagai penyebab utama kotornya permukaan bangunan. Jelaga dan partikel lainnya dapat bergabung dengan pencemar dan meningkatkan bahaya pengikisan bangunan-bangunan. 4. Biaya Ekonomi Akibat Pencemaran Udara Perhitungan nilai ekonomi dari dampak polusi udara terhadap kesehatan hanya dapat tersedia untuk Jakarta. Metoda perhitungan dilakukan dengan melakukan estimasi terhadap kondisi dari penduduk yang tinggal di daerah tertentu dan tingkat polusi udara yang melebihi batas kualitas udara ambien di daerah tersebut. Beberapa studi telah dilaksanakan untuk menghitung kerugian ekonomi yang disebabkan oleh polusi udara:

• •

Jakarta Urban Development Project (JUDP III). Studi dilaksanakan pada tahun 1994 dan memperkirakan bahwa kerugian ekonomi yang disebabkan karena penurunan IQ anak-anak pada tahun 1990 mencapai Rp 176 Milyar dan akan meningkat menjadi Rp 254,4 Milyar jika bensin bertimbal tidak dihapuskan pada tahun 2005; Studi yang dilaksanakan oleh Bank Dunia (Ostro et al, 1994) memperkirakan bahwa kerugian ekonomi yang disebabkan oleh polusi udara di Jakarta sebesar Rp 500 Milyar yang diperhitungkan dari 1.200 kematian prematur, 32 juta masalah pernapasan, dan 464.000 kasus asma; URBAIR 1997 melaporkan bahwa kerugian ekonomi yang disebabkan oleh PM10 dan Pb mencapai Rp 1 Trilyun; ADB RETA pada Tahun 2002 memperkirakan kerugian ekonomi terhadap kondisi kesehatan yang disebabkan SO2, NO2 dan PM10. Perhitungan dampak tersebut termasuk estimasi terhadap kelahiran prematur, kegiatan harian yang menjadi terbatas, kunjungan rumah sakit, kunjungan ruang gawat darurat, serangan asma, sakit asma terhadap anak-anak, simptom asma, dan bronchitis kronis. Diperkirakan dampak kesehatan yang disebabkan oleh PM10 di Jakarta sekitar Rp 1,7 Trilyun pada Tahun 1998 dan akan meningkat menjadi Rp 4,2 Trilyun pada Tahun 2015; yang disebabkan oleh NO2 sekitar Rp 41,7 Milyar pada Tahun 1998 dan akan meningkat menjadi Rp 132,7 Milyar pada Tahun 2015; yang disebabkan oleh SO2 sekitar Rp 1,8 Trilyun pada Tahun 1998 dan akan meningkat menjadi Rp 4,3 Triyun pada Tahun 2015; 1.8 trillions rupiah in 1998 and would increase to 4.3 trillions rupiah in 2015; dimana kondisi pada Tahun 2015 akan terjadi jika tidak dilakukan sesuatu yang signifikan. SITRAMP pada Tahun 2004 melaporkan bahwa kerugian ekonomi sebagai akibat dari waktu tempuh yang lebih lama untuk jarak tertentu akan mencapai Rp 2,5 Trilyun per tahun dan meningkat menjadi sekitar Rp 5,5 Trilyun dengan

39

memperhitungkan meningkatnya biaya operasional kendaraan sebagai dampak dari kemacetan. 5. Dampak Pencemaran Udara terhadap Pemanasan Global Pemanasan global merupakan peningkatan secara gradual dari suhu permukaan bumi yang sebagian disebabkan oleh emisi dari zat-zat penecmar seperti karbondioksida (CO2), metan (CH4) dan oksida nitrat (N2O), serta bertanggungjawab terhadap perubahan dalam pola cuaca global. Karbondioksida dan zat pencemar lanilla berkumpul di atmosfer membentuk lapisan yang tebal menghalangi panas matahari dan menyebabkan pemanasan planet dengan efek gas rumah kaca. Pemanasan global merupakan fenomena yang kompleks, dan dampak sepenuhnya sangat sulit diprediksi. Namun, setiap tahunnya para ilmuawan makin banyak belajar tentang bagaimana pemanasan global tersebut mempengaruhi planet, dan banyak diantara mereka setuju bahwa konsekuensi tertentu akan muncul jika kecenderungan pencemaran yang terjadi saat ini berlanjut, diantaranya adalah:

• • •

Peningkatan permukaan laut yang disebabkan oleh mencairnya gunung es akan menimbulkan banjir di sekitar pantai; Naiknya temperatur permukaan air laut akan menjadi pemicu terjadinya badai terutama di bagian tenggara atlantik Rusaknya habitat seperti barisan batu karang dan pegunungan alpen dapat menyebabkan hilangnya berbagai hayati di wilayah tersebut Baru-baru ini, dalam pernyataan akhir tahunnya, Pelangi, satu institusi yang memfokuskan diri dalam penelitian dan mitigasi perubahan iklim menyebutkan bahwa suhu permukaan bumi di sebagian besar wilayah Indonesia telah meningkat antara 0.5 – 1 derajat Celsius dibandingkan pada temperature rata-rata antara tahun 1951 – 1980, yang mana peningkatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca.

Pembangkit listrik, industri dan kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran karbondioksida. Studi yang dilaksnakaan oleh GTZ pada saat pengembangan strategi nasional tentang mekanisme pembangunan perkelanjutan (clean development mechanism – CDM) memperkirakan bahwa Indonesia akan mengkontribusikan sekitar 672 juta ton CO2; ini merupakan kenaikan hamper 200% dibandingkan dengan tahun 2000 yang terutama disebabkan oleh pemakaian energi pada sector-sektor tersebut. Para ilmuawan telah meneliti kemungkinan-kemungkinan perubahan cuaca yang tibatiba yang dipicu oleh pemanasan global dan menyebabkan sebagian dari dunia ini mengalami pemanasan atau pendinginan yang tiba-tiba dalam kurun waktu yang relatif singkat (beberapa tahun). Sementara kejadian seperti ini masih merupakan spekulasi, beberapa dampak pemanasan global telah dapat diamati dan dirasakan. Dengan melihat kepada dampak dari pemanasan global tersebut adalah sangat penting apabila Indonesia dapat berperan dalam menurunkan emisi yang berpengaruh terhadap efek rumah kaca. Sasaran utama harusnya diarahkan pada penurunan konsumsi energi atau menggantikan pemakaian energi dengan sumber energi baru yang memiliki pengaruh lebih kecil atau tidak berpengaruh sama sekali terhadap pemanasan global. Dalam konteks ini, terutama disebabkan potensi yang sangat besar dalam penurunan emisi melalui penerapan kebijakan dalam bidang kehutanan maupun energi, khususnya setelah naiknya harga bahan bakar, maka Indonesia dapat memanfaatkan Protokol Kyoto yang menyediakan mekanisme bagi negara berkembang untuk mendapatkan insentif dari negara maju untuk upaya-upaya penurunan gas rumah kaca melalui mekanisme pembangunan berkelanjutan (Clean Development Mechanism - CDM).

40

Untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut pemerintah baru-baru ini telah membentuk dan menetapkan anggota komite nasional untuk mekanisme pembangunan bersih (National Committee for Clean Development Mechanism) yang diketuai oleh slah satu Deputy Menteri Lingkungan Hidup. Komite ini telah menerima sejumlah Project Design Document (PDD) untuk dimasukkan dalam CDM. Dari sejumlah propsal yang masuk tersebut, sebanyak 5 proposal telah disetujui oleh komite ini untuk selanjutnya disampaikan ke Executive Board dari UNFCC. Dari sedikitnya jumlah proposal yang diterima oleh komite tersebut, diduga sangat sedikit sektor swasta yang tertarik untuk memanfaatkan peluang ini, diduga hal ini terutama disebabkan oleh prosedur yang sangat kompleks dan juga investasi yang relative mahal. Oleh karena itu, untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari mekanisme tersebut pemerintah perlu mengintensifkan promosi dari mekanisme ini kepada sector swasta serta memfasilitasi sector swasta dengan institusi keuangan sehingga institusi keuangan tersebut dapat menyediakan investasi awal yang dibutuhkan.

Kerangka Kelembagaan
Antara lain: tata dan kapasitas kelembagaan, kebijakan peraturan dan standar penegakan hukum serta ketersediaan dana berperan penting dalam upaya peningkatan kualitas udara perkotaan. 1. Tata dan Kapasitas Kelembagaan Instansi pemerintah di tingkat pusat yang terkait dengan pengelolaan kualitas udara adalah Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian, dan Departemen Kesehatan. Beberapa instansi lain yang juga memiliki peranan tertentu dalam hal pengelolaan kualitas udara diantaranya adalah Departemen Dalam Negeri, Kementerian Riset dan Teknologi, dan lain-lain. Permasalahan pengelolaan kualitas udara merupakan isu lintas sektoral, namun hingga saat ini hanya instansi di bidang lingkungan hidup yang secara jelas menyebutkan pengelolaan kualitas udara sebagai bagian dari tugas pokok dan fungsinya. Kondisi yang sama juga terjadi pada tingkat daerah. Koordinasi antar instansi merupakan hal utama yang harus diperhatikan agar pengelolaan kualitas udara berjalan secara efektif dan efisien sehingga perlu disusun kerangka bersama yang dikembangkan dan diadopsi oleh pemerintah terkait dengan isu kualitas udara. Permasalahan kualitas udara dianggap sebagai isu yang penting namun kenyataannya tidak pernah diprioritaskan. Hal yang juga dibutuhkan dalam pelaksanaan pengendalian pencemaran udara adalah kapasitas baik dari segi kualitas maupun kuantitas dari petugas pemerintah. Keterbatasan jumlah staf akan menimbulkan kesulitan dalam melaksanakan pengawasan yang baik terhadap pelasanaan peraturan yang terkait dengan pengendalian kualitas udara. Pemerintah perlu mengkaji peran dan fungsi berbagai instansi pemerintah yang terlibat dalam upaya pengendalian pencemaran udara agar tumpang tindih peran dapat dihindarkan. Kebijakan pengelolaan kualitas udara perlu disusun dan disepakati bersama, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar pelaksanaan kegiatan dalam bidang-bidang yang terkait dengan upaya peningkatan kualitas udara. Dengan adanya kebijakan bersama ini maka sekaligus perlu dibentuk tim koordinasi untuk implementasi kebijakan tersebut. Hampir semua peraturan yang ada saat ini disusun oleh sektor-sektor, sehingga sering

41

diartikan hanya berlaku untuk sektor tersebut dan timbul kesulitan dalam mengaplikasikan peraturan tersebut di sektor lain, namun demikian harus diakui, bahwa banyak kebijakan yang baik yang disusun dan diimplementasikan oleh pemerintah. 2. Penegakan Hukum Ada dua prinsip dasar yang dianut pemerintah dalam penegakan hukum lingkungan, yaitu, command and control atau atur dan awasi dan self monitoring atau awasi diri sendiri. Pada command and control, pemerintah menetapkan dan memantau pelaksanaan dari peraturan-peraturan dan standar yang harus dipatuhi oleh industri, pemilik kendaraan ataupun kegiatan lain yang berpotensi mencemari udara. Pada self monitoring atau awasi diri sendiri; pelaku kegiatan yang dapat mencemari udara diharuskan untuk memantau emisi yang dikeluarkan dan melaporkannya kepada instansi pemerintah terkait. Di bidang penataan peraturan lingkungan di negaranegara maju, kedua prinsip dasar tersebut biasanya dilengkapi dengan market based incentives yaitu untuk mendorong pelaku kegiatan agar menurunkan polusi yang dihasilkan dengan biaya seminimal mungkin, mengingat bahwa biaya pengendalian pencemaran udara merupakan biaya tambahan (external) yang harus dibayar oleh industri, dan biaya ini tidak dimasukan dalam biaya produksi. Peraturan-peraturan yang terkait dengan pengendalian pencemaran udara di Indonesia sangat kental dengan nuansa ”command and control”, yang dikombinasikan dengan “self monitoring”. Mengingat bahwa pencemaran udara juga dianggap sebagai tindakan criminal maka orang atau industri yang mencemari dapat disidangkan di pengadilan criminal dan juga apabila dinyatakan bersalah dapat dikenakan denda (”polluter’s pay principle”). Namun, dalam banyak kasus, apabila emisi industri atau kendaraan melebihi baku mutu atau ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah, peraturan atau undang-undang tidak mampu menjerat pelaku pencemaran tersebut. Ketiadaan mekanisme penerapan hukum dan kurangnya koordinasi diantara instansi terkait dengan tumpang tindih tugas pokok dan fungsi dianggap menjadi hambatan paling besar dalam penerapan undang-undang maupun peraturan tersebut. Disisi lain, pemerintah tidak menyediakan insentif ekonomi yang memadai untuk memotivasi pencemar dalam mengurangi pencemarannya. 3. Inisiatif Daerah dalam Pengelolaan Kualitas Udara Dengan ditetapkannya UU No. 22/1999 tentang otonomi daerah yang secara resmi mulai berlaku pada 2001, yang selanjutnya telah direvisi menjadi UU No. 32/2004, pengelolaan lingkungan menjadi salah satu tugas wajib yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kota/kabupaten. Tugas pemerintah pusat akan lebih difokuskan pada penyediaan kebijakan yang bersifat nasional dan berbagai pedoman yang akan digunakan oleh pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melaksanakan kebijakan, strategi dan rencana aksi mereka sendiri. Dalam rangka pengendalian pencemaran udara PP No. 41/1999 tentang pengendalian pencemaran udara sudah mengakui peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan kebijakan, strategi dan rencana aksi pengendalian pencemaran udara, walaupun koordinasi secara keseluruhan masih berada pada Kementerian Lingkungan Hidup. Dengan ditetapkannya UU No. 32/2004 peran pemerintah daerah diperkuat, sehingga pemerintah daerah menjadi penanggungjawab secara keseluruhan mulai dari pengembangan hingga pelaksanaan kebijakan, strategi dan rencana aksi di provinsi, kota/kabupaten masing-masing. Namun demikian, belum semua hal menjadi tanggungjawab daerah; beberapa kebijakan terkait dengan pencemaran udara masih menjadi tanggungjawab pemerintah pusat, khususnya yang berhubungan dengan penyediaan dan kualitas bahan bakar minyak dan uji tipe kendaraan bermotor. Di lain pihak, hal-hal yang secara langsung dan signifikan dapat menurunkan pencemaran udara sudah menjadi tanggungjawab pemerintah daerah, seperti halnya pengelolaan transportasi dan lalulintas, emisi industri dan kendaraan.

42

Berbagai pedoman teknis yang sangat dibutuhkan oleh daerah dalam rangka upaya penurunan pencemaran udara belum disediakan oleh instansi pemerintah pusat terkait. Ketersediaan pedoman teknis ini sangat penting mengingat kondisi daerah yang berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda pula, meskipun harus tetap berada dalam kerangka kebijakan nasional. Beberapa kota metropolitan dan kota besar telah mengembil inisiatif sendiri untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kebijakan, strategi dan rencana aksi pengendalian pencemaran udara, seperti DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung. Untuk memperbaiki kualitas udara perkotaan pemerintah pusat perlu memperkuat peran dari pemerintah daerah pada tingkat provinsi dan kota/kabupaten dan mendorong mereka untuk berani mengambil inisitif. Pemerintah pusat perlu mengembangkan dan melaksanakan program peningkatan kapasitas sehingga daerah mampu mengembangkan dan melaksanakan kebijakan, strategi dan rencana aksi yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. 4. Pendanaan Pemerintah menaruh perhatian terhadap masalah pencemaran udara dan dampaknya, tetapi belum pernah meletakannya sebagai prioritas utama karena lebih fokus kepada persoalan-persoalan yang hasilnya dapat dilihat dalam jangka pendek, sedangkan pelaksanaan strategi pengurangan pencemaran udara baru akan menunjukkan hasil dalam jangka waktu panjang. Berdasarkan Peraturan Presiden No.7/2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (PPJMN 2004 - 2009), APBN hanya mengalokasikan 1% untuk program lingkungan hidup. Kondisi ini tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, alokasi belanja (rutin dan pembangunan) untuk sektor sumber daya alam dan rencana wilayah/lingkungan hidup dalam Tahun Anggaran 2003 hanya sekitar 0,41%, yang hampir tidak berbeda dengan alokasi dalam Tahun Anggaran 1998/1999 (sekitar 0,49%). Alokasi belanja pemerintah didasarkan kepada sektor atau departemen dan tanpa mempertimbangkan keterkaitan antar sektor atau departemen sehingga menyebabkan permasalahan pencemaran udara sebagai tanggungjawab Kementerian Lingkungan Hidup. Berdasarkan UU No.32/2004 tentang Pemerintah Daerah, telah ditetapkan bahwa pengelolaan lingkungan menjadi tanggungjawab pemerintah daerah. Dengan hanya mengandalkan penerimaan daerah untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban daerah, termasuk untuk kegiatan pembangunan lainnya, maka dapat diprediksi bahwa program peningkatan kualitas udara tidak dapat dilaksanakan secara efektif oleh pemerintah daerah. Disisi lain, pemerintah daerah tidak memiliki banyak keleluasaan untuk menerima pembiayaan dari sumber lain, utamanya yang bersumber dari pinjaman luar negeri, sebagai dampak kompleksnya persyaratan dan prosedur terkait dengan penerusan pinjaman luar negeri dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, seperti yang dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 54/2005 tentang Pinjaman Daerah. Dalam konteks lingkungan global, terdapat beberapa jenis pendanaan potensial yang bersumber dari kerjasama Internasional, antara lain Global Environment Fund (GEF) dan hibah lainnya yang belum digunakan secara maksimal oleh pemerintah untuk issuissu kualitas udara. Karena pencemaran udara memiliki keterkaitan erat dengan perubahan iklim, terdapat peluang yang besar untuk memperoleh pendanaan tersebut dalam rangka membiayai pengurangan pencemaran udara, utamanya jika didisain dalam kerangka Clean Development Mechanism (CDM).

43

44

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->