Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Dosen Pembimbing:
Dr. Abdul Rouf, Lc, MA

MUH. MASYRUR HASRUL
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA FAKULTAS USHULUDDIN IV

Tahun Akademik 2011 - 2012

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

2

A. Eksistensi Ilmu dalam Islam
Iman dan Ilmu khususnya ilmu Agama mempunyai kedudukan yang besar lagi mulia di dalam Agama Islam. Nilai Iman dan pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dalam diri setiap Muslim. Tinggi rendahnya derajat seseorang tergantung pada kualitas iman dan ilmunya. Iman adalah perwujudan dari hati dan Ilmu merupakan sarana untuk mengaktualisasikannya. Allah Ta’ala mengangkat derajat orang-orang yang beriman di atas orang-orang yang tidak beriman, dan Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman lagi berilmu di atas orang-orang yang beriman tapi tidak mempunyai ilmu terhadap agamanya. Firman Allah SWT:

ِ ِ ِ ﴾١١ : ‫يَرفَع اللَّهُ الَّذين آمنُوا منْكم والَّذين أُوتُوا الْعلْم درجات واللَّهُ بِما تَ عملُون خبِير ﴿سورة المجادلة‬ ِ ْ َ َ َْ َ َ ٍ َََ َ ِ َ َ َ َ ُْ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Mujadilah : 11) Karakteristik ajaran Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan terbuka dan akomodatif, tetapi juga selektif. Ini artinya bahwa Islam terbuka dan akomadatif untuk menerima berbagai masukan dari luar, tetapi bersamaan dengan itu Islam juga selektif, yakni tidak begitu saja menerima seluruh jenis ilmu dan kebudayaan melainkan ilmu yang sejalan dengan Islam.1 Sejarah telah memperlihatkan bahwa Islam memiliki peranan penting sebagai mata rantai peradaban dunia. Hal ini menunjukkan eksistensi perjalanan Islam sangat diwarnai dengan masa kejayaaan dalam pencapaian ilmu pengetahuan dan peradaban. Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk mempelajari ilmu serta dapat menghasilkan karya untuk kemaslahatan umat. Peranan ilmu pengetahuan saat ini tidak diragukan lagi akan manfaatnya, baik itu untuk pemiliknya sendiri, buat bangsa, Negara, Agama dan bahkan untuk dipersembahkan dalam dunia internasional. Sejalan dengan tuntutan bagi setiap orang untuk menuntut ilmu, maka Islam pun memandang bahwa pendidikan adalah hak begi setiap orang, laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat. Namun satu catatan bagi para penuntut ilmu untuk mendahulukan hal-hal yang berhubungan dengan syariat Agama kemudian yang lainnya. Syaikh Zarnuji dalam kitabnya, Ta’lim Muta’lim menyebutkan:

‫م ا : أفض العل م الا ا و أفض العم ظض‬

‫عل م الا ا‬

‫مس لم بل‬

‫إعل م بنه ه تيض ر عل‬ . ‫الاا‬

Artinya: “Ketahuilah bahwa tidak diharuskan bagi setiap Muslim menuntut segala ilmu, tetapi yang diharuskan adalah menuntut ilmu Hal, sebagaimana dinyatakan dalam “Ilmu paling utama adalah ilmu Hal dan perbuatan paling utama adalah memelihara Hal”. 2
1 2

Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A. (2009), Metodologi Studi Islam, Jakarta : Rajawali Press, Hal. 85 Syaikh Zarnuji (2007), Terjemah Ta’lim Muta’lim oleh Ali As’ad , Yogyakarta : Menara Kudus, Hadis Tematik Sosial

Hal 4

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

3

Ilmu Hal secara Etimologis ialah Ilmu tingkah laku, ilmu keadaan atau kondisi. Adapun secara terminologi ialah ilmu pengetahuan yang selalu diperlukan dalam melaksanakan Agama, yaitu Ilmu Ushuluddin dan Ilmu Fiqh. Dua macam ilmu ini tidak dapat diabaikan oleh setiap Muslim karena yang pertama akan membimbing iman dan ruhaninya, sedang yang kedua akan membimbing perbuatan jasmani dalam menunaikan tugas amanat Agamanya.3 Perintah menuntut ilmu secara jelas tersirat dapat dilihat dari lima ayat pertama surah al-Alaq yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Pada ayat tersebut, terdapat kata iqra ( ‫ )إقرأ‬yang diulang sebanyak dua kali. Kata tersebut menurut A. Baiquni selain berarti membaca dalam arti umum, juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisis dan penyimpulan secara induktif. Semua cara tersebut dapat digunakan dalam dalam proses mempelajari sesuatu. Islam memandang bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan jihad di jalan Allah. Islam menenpuh cara demikian karena dengan ilmu pengetahuan tersebut seorang dapat meningkatkan kualitas dirinya untuk meraih berbagai kesempatan dan peluang.4 Termasuk diantara nikmat Allah bagi manusia ialah dengan mengaruniakan kesiapan alamiah untuk belajar serta memperoleh ilmu, pengetahuan, keterampilan dan keahlian. Media Belajar akan mengantarkan manusia untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilannya agar dapat mencapai kesempurnaan insani yang hakiki. Dalam perkembangan masa kini, istilah pembelajaran atau pendidikan Islam menjadi salah satu bidang studi yang banyak mendapat perhatian dari para Ilmuwan. Untuk kajian kedua istilah tersebut, Naquib al-Attas mengajukan alternatif bahwa pendidikan Islam harus dibangun dari perpaduan istilah ‘ilm atau ‘allama (ilmu, pengajaran), ‘adl (keadilan), ‘amal (tindakan), haqq (kebenaran), nuthq (nalar), nafs (jiwa), qalb (hati), ‘aql (pikiran), maratib dan darajat (tatanan hirarkis), ayat (tanda-tanda), tafsir dan ta’wil (penjelasan dan penerangan) yang secara keseluruhan istilah tersebut terkandung dalam istilah adab (‫5.) داب‬ Berdasarkan berbagai istilah diatas, maka pendidikan dapat diartikan pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan dalam diri manusia. Dalam pendekatan kebahasaan, istilah pendidikan sering juga disandarkan dengan istilah Tarbiyah dalam bahasa Arab, To ex (keluar) dan Ducere duc (mengatur, memimpin) dalam bahasa latin. Menurut Al-Attas, secara semantic kata Tarbiyah tidak tepat dan tidak memadai untuk membawa konsep pendidikan Islam sebagaimana mestinya. Argumentasi ini ia ungkapkapkan bahwa pendidikan masa kini tidak bisa ditemukan dalam leksikon-leksikon bahasa Arab. Beliau juga bermungkapkapkan bahwa istilah tarbiyah berpuncak pada otoritas al-Quran sendiri, tidak secara alami mengandung unsure-unsur pengetahuan, intelegensi dan kebajikan lainnya. Berhubungan dengan uraian sebelumnya, makalah ini akan memaparkan beberapa hadis sekilas keutamaan Ilmu yang akan disajikan dalam bentuk kajian tematik sosial. Adapun uraiannya secara maksimal dikumpulkan dari beberapa literatur yang berkaitan dan tema ilmu. Mudah-mudahan kajian ini dapat menjadi salah satu rujukan serta memberikan wawasan baru dalam memaknai fadhilah ilmu khususnya dalam wacana sosial kehidupan.
3 4

Syaikh Zarnuji (2007), Terjemah Ta’lim Muta’lim oleh Ali As’ad , Hal 4 Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A. (2009), Metodologi Studi Islam, Jakarta : Rajawali Press, Hal. 87 5 Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A. (2009), Metodologi Studi Islam, Hal. 336 Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

4

B. Berlomba-lomba dalam Meraih Ridha Allah denga Ilmu
Kehidupan manusia tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya. Keberlangsungan hidup hanya dapat dijalankan dengan saling berintegrasi satu dengan yang lainnya. Konseplah inilah yang melahirkan dan menyimpulkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Namun dalam realisasinya, pada beberapa sisi kehidupan masih saja terdapat kesenjangan antara satu dengan yang lainnya. Diantara kesenjangan tersebut merupakan pembawaan manusia berupa motif-motif emosi yang tidak terkendalikan karena pengaruh hawa nafsu. Salah satu motif yang sering menghinggapi manusia ialah penyakit Hasad. Hasad merupakan rasa tidak senang melihat kenikmatan pada orang lain dan mengharapkan kenikmatan itu hilang dari orang tersebut. Sejalan dengan larangan Hasad, firman Allah dan surah al-Nisa ayat 32 menyebutkan:

Artinya: “Allah akan Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. al-Nisa : 32) Motivasi seseorang yang Hasad berusaha menjatuhkan lawannya dengan berbagai cara sekalipun bertentangan dengan ajaran syariat. Namun secara praktis, terdapat hasad yang dibolehkan yang dikenal dengan istilah ghibthah. Pada ghibthah, manusia berkeinginan memiliki kenikmatan seperti yang dimiliki orang lain tampa mengharapkan hilangnya kenikmatan itu dari orang tersebut.6 Motivasi inilah yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah sabdanya sebagai berikut:

ِ َّ َ ْ َ َ َ ‫وت تَ َمنَّوا ما فَض َ اللَّهُ بِه بَعضكم علَى بَعض لِلرج ا ِ هَِ ي مم ا ا ْ َس بُوا ولِلنِّس اص هَِ ي مم ا ا ْ َس بن واس نَلُوا‬ َّ ِ ِ ِ َ َ َ َّ ِ ِ ْ َ ََْ َ ِّ ٍ ْ َ ْ ُ َ ْ ٍ ِ ِ ﴾٢٣ :‫اللَّه من فَضلِه إِن اللَّه َ ان بِك ِّ ش ْ ص علِيما ﴿سورة النساص‬ ً َ َ ُ َ َ َّ ْ ْ َ

ِ َّ َ : َ ‫ظ َّثَنَا الْاميدي َا َ : ظ َّثَنَا سضيَان ، َا َ : ظدثَنِ إِسماعي ُ بْن أَبِ خالِد علَى غَير ما ، ظ َّثَنَاهُ الزه ري َ ا‬ ‫َ ٍ َ ِْ َ َد‬ ‫َد‬ ُّ ِ ْ ُّ ُّ ِ ْ َ ُ ُ ْ ُ ‫َد‬ َْ ُ ٍِ ٍ ِ َ َْ ُ ْ ِ ِ َّ‫سمعت َ يس بْن أَبِ ظازم َا َ : سمعت عبد اهلل بْن مسعود َا َ : َا َ النَّبِ ُّ صلى اهلل عليه وسلم : تَ ظس د ِإت‬ ََ َ ُْ َ َ َ َ َ َ ْ ُ ْ َ َِ ِ ْ ْ َ ِْ ‫فِ اثْ نََ ين رج آتَاهُ اللَّهُ ماتً فَسلِّط علَى هلَكِه فِ الْاق ورج آتَاهُ اللَّهُ الْاكمة فَهو يَقض بِها ويُعلِّمها. (رواه‬ َ َ َ ُ َُ َ َ َ ُ َ َ ِّ َ َ َُ ِْ َ َ
7

)‫البخاري‬

Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda : Tidak ada iri hati kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang diberi harta oleh Allah kemudia dipergunakannya dalam kebenaran dan orang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah kemudia dipergunakannya dengan baik dan diajarkannya”. (H.R. Bukhari) Hadis diatas menyebutkan kebolehan ghibtahah kepada orang yang diberi harta kemudian mempergunakannya dan orang yang diberi hikmah kemudian mengajarkannya.
Muhammad Utsman Najati (2005), Psikologi dalam Al-Quran Terj. M. Zaka Al-Farisi dari Judul Asli Al-Quran Wa Ilmun Nafsi, Bandung: CV Pustaka Setia, Hal. 148 7 Imam Bukhari (1313 H), Shahih Bukhari, Beirut : Darr Ihya al-Turas al-Araby, Jilid 1-3, Hal. 28 Hadis Tematik Sosial
6

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

5

Ibnu hajar menyebutkan bahwa sesungguhnya jabatan kepemimpinan sering menimbulkan iri hati dan dengki, namun ada hadis yang menunjukkan bahwasanya iri dan dengki tidak boleh kecuali dalam dua hal, yaitu ilmu dan kebaikan. Walaupun demikian, kebaikan tidak dapat dikatakan sebagai hal yang terpuji jika tidak berdasarkan ilmu. Sifat hasad dibolehkan jika nikmat tersebut dimiliki oleh orang kafir atau fasik yang dijadikan sebagai sarana untuk berbuat maksiat kepada Allah.8 Dalam sisi lain, hal ini serupa dengan persaingan yang jika dilakukan untuk ketaatan, maka termasuk perbuatan mulia sebagaimana firman Allah:

﴾٢٣ :‫وفِ ذَلِك فَلْيََ نَافَس الْمَ نَافِسون ﴿سورة المطضضين‬ َ ُ ُ ِ َ َ

Artinya: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”. (Q.S. al-Mutaffifin : 26) Namun sebaliknya, jika sebuah persaingan dilakukan untuk kemaksiatan, maka termasuk perbuatan yang tercela. Adapun jika dilakukan dalam hal-hal yang diperbolehkan, maka hukumnya adalah mubah. Pembatasan pada du hal tersebut (ilmu dan kebaikan) dikarenakan ketaatan kepada Allah dapat berupa ketaatan fisik dan harta. Dalam hadis diatas, ‫ّللا َ ا‬ Nabi telah mengisyaratkan kataatan dalam bentuk fisik, yaitu dalam sabdanya ( ٌٌ ‫رجُر ٌٌآتَره ٌٌُ ٌٌَُمره‬ َ َ ٌِّ ‫ .)فَسلِّ ٌٌعلَر ٌهَلَكتر ٌٌفر ٌا ْلحر‬Juga dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar (ٌٌَ ‫رجُر ٌٌ عطره ٌٌُ ٌٌَُا ْلقُرأْ آ ٌٌَفَهْر‬ ‫ّللا‬ َ َ‫ُ ط‬ َ ِ ِ ِ َ ‫َرهر‬ ٌ ‫ .)ٌقر ٌهر ٌآنَره ٌٌَاللَيْر ٌٌِوآنَره ٌٌَالنَه‬Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Yazid bin al-Akhnas dengan ‫ي‬ َ َ ِ Lafal ( ‫“ )رج ٌٌ عطه ٌٌُ ٌٌَُا ْلقُأْ آ ٌٌَفَه ٌٌٌَق ٌهر ٌآنَره ٌٌَاللَيْر ٌٌِوآنَره ٌٌَالنَه ٌٌوٌيتبر ٌمرهٌفير‬dan orang yang diberi Allah ‫َرهر‬ ‫ْ ي‬ ‫ّللا‬ ُ َ َ َ ِ al-Quran kemudian ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang dan mengikuti ajaran-ajarannya”. Kata hasad dalam hadis tersebut juga ditafsirkan secara hakiki (bukan kiasan), akan tetapi huruf istisna’ disini bersifat munqathi’ (terpisah dengan kalimat sebelumnya). Dengan demikian maksud hadis ini adalah meniadakan sifat hasad secara mutlak dan kedua hal ini (ilmu dan kebaikan) merupakan hal yang terpuji dan tidak mengandung unsur hasad. ٌ ‫إِ ٌٌَفِر‬ ٌِ ‫“ اثنَتَري‬kecuali kepada dua orang”, demikianlah disebutkan dalam banyak riwayat, yitu ْ ْ dengan huruf ta’ ta’nits. Sedangkan dalam bab “I’tisham”, Imam Bukhari menyebutkan dengan lafal (ٌِ ‫9 .)إِ ٌٌَفِ ٌاثنَتَي‬ ْ ْ ‫َ ا‬ ٌ ‫“ مره‬harta”, lafal ini disebutkan dalam bentu nakirah agar mencakup seluruh jenis harta, baik dalam jumlah banyak atau sedikit. ٌ ‫“ هَلَكتِ ر‬menghabiskannya”, kata tersebut ِ َ digunakan untuk menunjukkan bahwa ia membelanjakan semua hartanya sehingga ia tidak memiliki harta lagi. Kemudian diikuti dengan kata ٌِّ ‫ , فِر ٌا ْلحر‬yaitu dalam ketaatan kepada َ Allah. Kata ini disebutkan untuk menghilangkan adanya sifat boros yang berlebihan. َ َ ْ ِ ْ Kemudian, maksud ٌ ‫ الحكمر‬adalah al-Quran. Ada juga yang berpendapat bahwa bahwa yang dimaksud dengan hikmah adalah segala sesuatu yang melindungi sesorang dari kebodohan dan keburukan. Mulianya mempelajari ilmu syar’i (ilmu agama), menempuh berbagai cara untuk memahaminya, juga keutamaan mengajarkannya pada orang lain dalam rangka mengharapkan Ridha Allah. Inilah yang menyebabkan seseorang boleh iri (ghibthah) padanya, artinya ingin seperti itu.10

8

Ibnu Hajar Al-Azqalani (2007), Fath al-Baari, Jakarta : Pustaka Azzam, Cet VII, Jilid I, Hal. 316 Ibnu Hajar Al-Azqalani (2007), Fath al-Baari, Hal. 317-318 10 Muhammad Abduh Tuasikal (1432 H / 2011 M), Artikel, Riyadh
9

Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

6

Dalam lafazh hadits ‫“ ,ورجر ٌآتره ٌّللاٌالحكمر‬seseorang yang Allah beri karunia ilmu”, ini menunjukkan bahwa ilmu adalah cahaya dari Allah yang Allah beri kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi, ilmu itu diperoleh dengan dicari, perlu ada kesungguhan dalam menghafal, memahami, mengulang dan menyampaikannya pada yang lain. Cahaya ilmu ini diperoleh dengan kesungguhan berharap dan meminta pada Allah.11

C. Perolehlah Bekal dengan Ilmu untuk Hari Esok dengan Usaha Sunggug-sungguh
Ridha Allah adalah dambaan setiap Muslim yang menyadari bahwa itulah harta termahal yang pantas diperebutkan oleh manusia.Tanpa ridha Allah, hidup kita akan hampa, kering, tidak dapat merasakan nikmat atas segala apa yang telah ada di genggaman kita, bermacam masalah silih berganti menyertai hidup kita. Harta berlimpah, makanan berlebih namun ketika tidak ada ridha-Nya, semua menjadi hambar. Islam, sejak kelahirannya belasan abad yang lalu telah tampil sebagai agama yang memberikan perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Dalam kehidupan dunia ini, manusia haruslah memiliki pegangan dan petunjuk sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran dan Hadis agar tidak terjerumus dalam kemewahan duniawi. Inilah yang mengindasikan betapa perlunya ilmu sebagai penerang hidup. Pada sisi lain, Manusia harus mengingat bahwa kehidupan di dunia hanya sementara saja, adapun kehidupan yang hakiki ialah di akhirat. Firman Allah SWT:

﴾٢٣ :‫وما الْايَاةُ ُّهْ يَا إِت لَع ولَهو ول َّار اْلخرةُ خي ر لِلَّذين يَ َّ قون أَفََل تَ عقلُون ﴿سورة األهعام‬ َ ِ ْ َ َ ُ َ ِ ْ َ َ ِ ْ ُ ‫َ َ َ الد َّ ِ َ ْ َ َلد‬
Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”. (Q.S. al-An’am : 32) Memaknai ayat diatas, akan mengingat bagi setiap muslim untuk berusaha semaksimal mungkin melakukan berbagai kebajikan dan amal shaleh sebagai bekal pada hari kemudian yakni Akhirat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda:

ِ ٍْ ُ ُ َ ٍ َِ َ ِ َ ٍ َْ َ ُ َ ُ ‫ظ َّثَنَا يَايَ ى بْ ن أَيُّو َ و ُ َ يبَ ةُ - يَعنِ ى ابْ ن س عيد - وابْ ن ظج ر َ الُوا ظ َّثَنَا إِس ماعي ُ - ه و ابْ ن جعض ر - ع ن‬ ْ ْ َ ْ ‫َد‬ َ ْ ‫َد‬ ُ ِ ِ َ ِ َّ‫الْعَلَص عن أَبِيه عن أَبِى هريْرةَ أَن رسو َ اللَّه -صلى اهلل عليه وسلم- َا َ « إِذَا مات اإلهْسان اهْ قطَع عنْهُ عملُهُ إِت‬ َ ُ َ َّ َ َ ُ َْ ْ ََ َ َ َ ُ َ ِ َ َ ِ ِ ٍ ِ )‫من ثََلَثَة إِتَّ من صد َة جاريَة أَو علْم يُنَ ضع بِه أَو ولَد صالِح يَدعو لَهُ. (رواه مسلم‬ ُ ْ ٍ َ ٍ َ ْ ِ ُ َ ْ ٍ ْ ٍِ َ ٍ ََ ْ ْ
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda : Jika seorang wafat, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan Anak shaleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya”. (H.R. Muslim)12 Ketiga amalan yang disebutkan dalam hadis diatas tidak terlepas dari usaha dan kerja keras setiap insan selama hidupnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:
11 12

Muhammad Abduh Tuasikal (1432 H / 2011 M), Artikel, Riyadh Imam Muslim (1418 H / 1997 M), Shahih Muslim, Kairo : Darr al-Araby, Cet I, Jilid 3, Hal. 110 Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

7

)‫الرج من سبه وإن ولده من سبه (رواه النساص‬

‫إن أبي ما أ‬

Artinya: “Sungguh sebaik-baik yang dimakan oleh seorang adalah makanan yang berasal dari usahanya dan sesungguhnya anak itu termasuk hasil usahanya”. (H.R. al-Nasa’i) Shadaqah jariyah itu hasilnya dapat berupa wakaf dan lain sebagainya yang semua itu merupakan bekas dan peninggalan amal sebagai perwujudan dari usahnya ketika masih di dunia. Firman Allah SWT:

ٌ ﴾١٣ :‫إِهَّا هَان هُايِ الْموتَى وهَك ُ ُ ما َ َّموا وآثَارهم ﴿سورة يس‬ ْ َُ َ ُ‫ْ ُ ْ َ ْ َ ْ َ د‬
Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”. (Q.S. Yasiin : 12) Ilmu yang disebarluaskan dan kemudian diikuti oleh banyak orang setelahnya juga termasuk amal dan usahanya.13 Rasulullah Saw bersabda:

ِ ِ ِِ ِ َ )‫من دعا إِلَى هدى َ ان لَهُ من األَجر مثْ ُ أُجور من تَبِعهُ تَ يَن قص ذلِك من أُجورهم شيئًا (رواه مسلم‬ ًُ ََ َْ َْ ْ ِ ُ ْ َ َ ُ ُْ ْ َ َ َْ ِ ُ
Artinya: “Siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala 0orang-orang yang mengikutinya tampa harus menguranginya sedikit pun pahala mereka”. (H.R. Muslim) Keterangan diatas menunjukkan betapa pentingnya ilmu sebagai pedoman hidup serta dapat mengantarkan pemiliknya sampai pada tujuan yang hakiki yakni Akhirat. Seperti yang disebutkan pada hadis diatas, hanya ilmu yang bermanfaat saja yang dijamin mendapatkan balasan yang terus mengalir pahalanya. Kita memahami bahwa mendidik anak dan membelanjakan harta juga tidak terlepas dari penguasaan ilmu. Ini artinya, peranan ilmu sangat signifikan dalam melakukan apapun dalam hidup ini. Maka pantas jika orang-orang yang berilmu lagi beriman ditinggikan derajatnya disisi Allah SWT. Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) rahimahullaah mengatakan bahwa Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal: Pertama, mengenal Allah Ta’ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskan adanya pengagungan, tawakkal kepada Allah serta Ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah Ta’ala berikan. Kedua, mengetahui segala apa yang diridhai dan dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya untuk bersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan hal seperti diatasi bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh hati itu akan merasa khusyu, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit yang halal dari dunia dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qana’ah dan zuhud di dunia. 14
13 14

Ibnu Katsir (2004), Tafsir Ibnu Katsir, Bogor : Pustaka Ilmi al-Syafi’I, Hal. 591 Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 47). Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

8

D. Tamsil Sikap Manusia Terhadap Agama dan Ilmu
Rasulullah Saw memberikan perumpamaan kepada kita mengenai orang yang faham tentang agama Allah Ta’ala, maka ia memperoleh manfaat dari ilmunya dan memberikan manfaat kepada orang lain. Sebaliknya, perumpamaan orang yang tidak menaruh perhatian pada ilmu agama, dengan kelalaiannya itu mereka menjadi orang yang merugi dan bangkrut. Hal ini seperti disebutkan dalam hadis berikut:

ِ ِ ِ َْ ِ ِ َِ ‫ظ َّثَنَا مامد بْن الْعَلَص َا َ : ظ َّثَنَا ظماد بْن أُسامة عن بُريْد بْن عبد اهلل ، عن أَبِ بُردة ، عن أَبِ موس ى ، ع ن‬ َ ُ ُ َّ َ ُ ‫َ د‬ َ ُ ْ َ ََْ َْ َ ْ َ َ َ َ ُ ُ َّ َ ‫َ د‬ ِِ ِ ‫النَّبِ ِّ صلى اهلل عليه وسلم َا َ : مثَ ُ ما بَعثَنِ اللَّهُ بِه من الْهدى والْعلْم َ مثَ ِ الْغَي ِ الْكثِي ر أَص ا َ أَرض ا فَك ان‬ َ َ ًْ ْ َ ِ َ َ َ َ َ ِ َ َُ َ ِ ِ ِ ِ ِ ِ َ ِ ُْ َ َ ِ َ ِ َّ َ َ َ َ ِ َ َ ْ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ ‫منْ ه ا هَقيَّ ة َبلَ ت الْم اص فَنَهْ بََ ت الْك َ والْعش َ الْكثي ر وَ اهَت منْ ه ا أَج اد ُ أَمس كت الْم اص فَ نَ ض ع الل هُ به ا النَّ ا‬ ِ ِ ِ ‫فَشربُوا وسقوا وزرعوا وأَصابَت من ها بَائِضة أُخرى إِهَّما ه َ ِيعان تَ تُمسك ماص ، وتَ تُنبِت َ ً فَذلِك مثَ ُ من فَقه‬ ُ ْ َ ًَ ُ ِْ َ َْ َ َ َ َ َ َ ْ ً َ َ ْ ْ َ َ ُ ََ َ ْ َ َ َ ِ َ ِ ُ ِ ِ ِ َ ْ ِ ِ ِ .‫فِ دين اهلل وهَضعهُ ما بَعثَنِ اللَّهُ بِه فَ علِم وعلَّم ومثَ ُ من لَم يَرفَع بِذلِك رأْسا ولَم يَقبَ ْ هدى اهلل الَّذي أُرسلْت بِه‬ ُ ْ َ َ ََ َ ِ ْ َ ً َ َ َ ْ ْ ْ ْ َ ََ َ َ َ َ َ )‫(رواه البخاري‬
Artinya: “Dari Abu Musa r.a. bahwa Nabi Saw bersabda : “Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutusku untuk menyampaikannya, laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus”. (H.R. Bukhari)15 Al-Qurtubi dan yang lain-lain mengatakan, bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran Agama, beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika mereka membutuhkannya. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, demikian pula ilmu Agama dapat menghidupkan hati yang mati. Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu Agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan. Diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. Orang seperti ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat member menfaat bagi dirinya kemudian tanah tersebut dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat member manfaat bagi yang lain.16 Di antara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengamalkannya, akan tetapi dia mengajarkannya untuk orang lain. Maka, dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Orang
15 16

Imam Bukhari (1313 H), Shahih Bukhari, Beirut : Darr Ihya al-Turas al-Araby, Jilid 1-3, Hal. 30 Ibnu Katsir (2004), Tafsir Ibnu Katsir, Bogor : Pustaka Ilmi al-Syafi’I, Hal. 338-339 Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

9

inilah yang disebut dalam sabda beliau, “Allah memperindah seseorang yang mendengar perkataan-perkataanku dan dia mengajarkannya seperti yang dia dengar”. Di antara mereka ada juga yang mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta tidak menyampaikannya kepada orang lain, maka perumpamaannya tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya. Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua disebabkan keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga disebabkan tercela dan tidak bermanfaat. Jadi, perumpamaan hadits di atas terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan perumpamaan kedua, bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama Islam namun tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah tandus sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi َ Saw dalam sabdanya (‫“ )مررر ٌٌْلَررر ٌٌْيَأْ فَررر ٌٌْهِرررِلِ ٌٌَر ْسررره‬Orang yang tidak menaruh perhatian ‫َ ا‬ َ terhadapnya” atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain. Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama, bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam, tetapi ia mengingkari dan kufur kepadanya. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras, dimana air mengalir di atasnya, tetapi tidak dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dengan sabda ْ َ beliau (ٌ ِ‫“ )ولَ ٌٌْيَقبَ ٌٌْهُدَىٌ ٌٌالَِيٌ ُرْ س ْلتٌٌُه‬dan tidak peduli dengan petunjuk Allah”. ِ ِ ِ ِ‫ّللا‬ Ath-Thibi berkata “Manusia terbagi menjadi dua, yaitu : Pertama, manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain. Kedua, manusia yang tidak memanfaatkan ilmu bagi dirinya, namun ia mengajarkan kepada orang lain”. Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani, kategori pertama masuk dalam kelompok pertama karena secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatannya berbeda. Begitu juga dengan tanaman yang tumbuh, di antaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah, sebenarnya dia termasuk kelompok kedua seperti yang telah kami jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib, maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya.17 Demikianlah sebuah perumpamaan yang sangat indah mengenai sikap manusia terhadap Agama dan Ilmu. Melalui hadis diatas, memberikan sebuah pelajaran dengan metode analogis dengan hal yang factual dan sangat dekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Hadis diatas juga menyampaikan kepada setiap insan untuk lebih memprioritaskan dan senantiasa memperhatikan ajaran-ajaran syariat serta terus-menerus menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan tak lupa juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemulian akan ilmu tidak perlu diragukan lagi karena ilmu itu khusus dimiliki oleh manusia, sedang semu perkara selain ilmu dapat dimiliki oleh manusia dan juga binatang. Misalnya, keberanian, kenekadan, kekuatan, murah hati, belas kasih dan sebagainya selain ilmu. Dengan ilmu Allah memperlihat kemulian Nabi Adam a.s. atas para Malaikat dan memerintahkan mereka bersujud kepada beliau. Sesungguhnya mulianya ilmu itu karena kedudukannya menjadi wasilah terhadap kebaikan dan taqwa, suatu hal yang membuat manusia berhak memperoleh kemulian disisi Allah SWT dan kebahagian Abadi.18
17 18

Ibnu Katsir (2004), Tafsir Ibnu Katsir, Bogor : Pustaka Ilmi al-Syafi’I, Hal. 339-340 Syaikh Zarnuji (2007), Terjemah Ta’lim Muta’lim, Yogyakarta : Menara Kudus, Hal. 7-8 Hadis Tematik Sosial

ILMU DAN KEUTAMAANNYA
Ushuluddin IV

10

Daftar Pustaka
Al-Azqalani, Ibnu Hajar (2007), Fath al-Baari, Jakarta : Pustaka Azzam, Cet VII, Jilid I Ibnu Katsir (2004), Tafsir Ibnu Katsir, Bogor : Pustaka Ilmi al-Syafi’i Imam Bukhari (1313 H), Shahih Bukhari, Beirut : Darr Ihya al-Turas al-Araby, Jilid 1-3 Imam Muslim (1418 H / 1997 M), Shahih Muslim, Kairo : Darr al-Araby, Cet I, Jilid 3 Najati, Muhammad Utsman (2005), Psikologi dalam Al-Quran Terj. M. Zaka

Al-Farisi dari Judul Asli Al-Quran Wa Ilmun Nafsi, Bandung: CV Pustaka Setia Nata, Abuddin (2009), Metodologi Studi Islam, Jakarta : Rajawali Press, Cet XVI Syaikh Zarnuji (2007), Terjemah Ta’lim Muta’lim oleh Ali As’ad, Yogyakarta : Menara Kudus

Hadis Tematik Sosial

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful