TUGAS MAKALAH MONILIASIS

Oleh : Kelompok IX Ilmasari Suprapti Prima Sulthonul Hakim Syarifudin Mira Utami Ningsih Ayu Puspita Irna Susanti 130915210 130915212 130915213 130915215 130915216 130915217 130915219

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karuniaNya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan muskuloskeletal dengan judul Asuhan Keperawatan Klien dengan moniliasis tepat waktu. Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing, teman-teman yang telah membantu kami dalam menyelesaikan dan menyempurnakan makalah kelompok ini. Kami menyadari bahwa tulisan kami ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, untuk itu kami sangat tebuka terhadap saran dan kritik bagi perbaikan tulisan kami. Semoga tulisan ini nantinya berguna bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya dalam memahami konsep dan keterampilan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sensori.

Surabaya, Oktober 2010 penulis

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang Infeksi jamur kandida (moniliasis) adalah salah satu tanda yang paling

awal dan paling umum ditemukan pada penderita HIV/AIDS. Candida albicans adalah jamur yang sering menyebabkan terjadinya kandidiasis. Sekitar 35% Candidada albicans dapat ditemukan pada apusan mulut yang dilakukan secara rutin. Moniliasis oral pada bayi baru lahir bukan merupakan temuan jarang di rumah sakit kelas penduduk di wilayah ini. Monilial infeksi rongga mulut dan saluran pencernaan di satu sisi dan dari saluran pernapasan dan sistemik infeksi di sisi lain telah menarik perhatian dalam literatur dalam beberapa tahun terakhir, 1, ~, G, 10.12,1, terutama berkenaan dengan kerjasama dengan lisan terapi

antibiotik spektrum luas. Dalam studi nistatin dalam pengobatan moniliasis lisan di chitdren`s mengaku Departemen Pediatrics, M.G.M. Medical College, lndore, diamati bahwa orang bayi di dalam Dia dehidrasi berikut diare dikaitkan dengan sariawan, kematian itu jelas lebih tinggi dibandingkan untuk yang pada bayi menderita diare dan dehidrasi tanpa sariawan. Dalam laporan terbaru oleh penulis pada moniliasis oral pada bayi baru lahir dalam kaitannya untuk moniliasis vagina pada ibu 9 itu diamati bahwa dari 500 bayi baru lahir yang penyeka oral diperiksa, 14,6 persen. menghasilkan budaya positif untuk. 5% kasus moniliasis menunjukkan sariawan klinis. Mengingat temuan dalam penyelidikan tersebut, kemudian belajar diperpanjang untuk tambahan 213 bayi yang baru lahir untuk menentukan kejadian dan sifat morbiditas dan kematian pada kelompok monilial dibandingkan dengan kontrol, total 713 bayi yang baru lahir yang tersedia untuk penyelidikan ini. \Diagnosis kandidiasis adalah dengan budaya jamur dari darah atau langsung dari tempat infeksi. Pada pasien ini, ditemukan plak putih yang meluas mengenai mukosa bukal dan permukaan ventral dan dorsal lidah, tepi hiperemis (-), sariawan (+). Selain itu terdapat lekopeni yang mengarahkan kecurigaan terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus.

2

1.1 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah konsep teori moniliasis? 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mengetahui dan mampu menjelaskan konsep moniliasis 1.2.2 Tujuan Khusus 1. Menjelaskan konsep teori dekubitus 1.3 Manfaat Menjelaskan dan mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien dekubitus.

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Moniliasis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida, terutama Candida albicans. Kandidiasis adalah infeksi

oportunistik yang sangat umum pada orang terinfeksi HIV. Infeksi ini disebabkan oleh sejenis jamur yang umum, yang disebut kandida. Jamur ini, semacam ragi, ditemukan di tubuh kebanyakan orang. Sistem kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Jamur ini biasa menyebabkan penyakit pada mulut, tenggorokan dan vagina. Infeksi Oportunistik ini dapat terjadi beberapa bulan atau tahun sebelum Infeksi Oportunistik lain yang lebih berat. (yogie, 2008). Moniliasis oral dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan klinis dari kandidiasis mukokutaneus di rongga mulut akibat munculnya etiologi dan faktor - faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya infeksi. Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Kandida sp, dimana Kandida albikan merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. Kandidiasis oral pertama sekali dikenalkan oleh Hipocrates pada tahun 377 SM, yang melaporkan adanya lesi oral yang kemungkinan disebabkan oleh genus Kandida.

2.2   

Penyebab Jamur Candida, terutam Candida albicans. Sering terjadi setelah lingkungan yang normal tergangtung oleh kelembaban atau panas Antibiotik sistemik dan steroid oral mungkin mengganggu flora normal dan menyebabkan lingkungan yang menguntungkan untuk pertumbuhan jamur  Sering ditemukan pada penderita yang sangat muda, gemuk, diabetes atau debil

4

2.3 Epidemiologi a. b. c. Terjadi terutama pada anak usia bayi. Pada anak-anak yang lahir dari ibu dengan moniliasica vaginitis. Diamati pada orang dewasa dengan imunosupresi dan pada pengguna steroid untuk waktu yang lama. 2.4 Tanda dan gejala Penyakit ini ditandai dengan plak-plak putih dari bahan lembut menyerupai gumpalan susu yang dapat dikelupas, yang meninggalkan permukaan perdarahan mentah. Penyakit ini biasanya menyerang bayi yang sakit atau lemah, individu dengan kondisi kesehatan buruk, pasien dengan tanggap imun lemah, serta kurang sering, pasien yang telah menjalani pengobatan dengan antibiotik.Oral thrush disebut dengan oral candidiasis atau moniliasis, dan sering terjadi pada masa bayi tetapi seiring dengan bertambahnya usia, angka kejadian semakin jarang, kecuali pada bayi yang mendapatkan pengobatan antibiotik.B.

EtiologiPada umumnya oral thrush disebabkan oleh jamur candida albicans yang ditularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi selama persalinan(saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan puting susu yang tidak bersih, atau cuci tangan yang tidak benar. Oral thrush pada bayi terjadi 7-10 hari setelah persalinan. Jamur candida albicans bersifat saprofit sehingga jika daya tahan tubuh bayi turun atau pada pengguna antibiotika yang lama dapat terjadi pertumbuhan jamur ini secara cepat dan dapat menimbulkan infeksi berupa oral thrush dan diare, sehingga apabila penggunaan antibiotik tertentu pada usia dibawah 1 tahun akan mengakibatkan sariawan atau oral thrush yang menetap. Candida albicans tahan terhadap hampir semua antibiotika yang biasa dipergunakan dan dapat berkembang sewaktu mikroorganisme lain tertekan.Oral thrush juga dapat terjadi karena bakteri di dalam mulut karena kurang menjaga kebersihan di mulut. Lesi-lesi mulut mempunyai konsistensi yang lunak, menonjol, bercak-bercak keputihan yang menutupi daerah-daerah yang kecil atau luas pada mukosa mulut, bercak bercak dapat dihapus dan meninggalkan

5

permukaan daging yang berdarahKeadaan ini didukung oleh abrasi mulut, kurangnya kebersihan mulut, superinfeksi setelah terapi antibiotika, malnutrisi, cacat imunologi, dan hipoparatiroidisme. Infeksi berat dapat menyebar menuruni esophagus.C. Pada bayi, gejala sariawan berupa suhu badan meninggi hingga 40 derajat Celcius, mengeluarkan air liur lebih dari biasa, rewel, tak mau makan atau makanan dimuntahkan, tak mau susu botol bahkan ASI, dan gelisah terus. Biasanya disertai dengan bau mulut yang kurang sedap, akibat kuman atau jamur. Sedangkan pada balita, kadang suhu yang naik tak terlalu tinggi dan nafsu makannya berkurang. Bentuk sariawan akan terlihat seperti vesikel atau bulatan kecil. Warnanya putih atau kekuningan. Mula-mula berdiameter 1-3 mm. Kemudian berkembang berbentuk selaput. Jika selaputnya mengikis, maka akan terlihat berbentuk seperti lubang/ulkus. Besarnya sariawan tetap, tidak membesar, melebar, atau menjalar seperti halnya bisul. Biasanya pemunculan vesikel ini bersamaan dengan timbulnya panas. Adakalanya vesikel baru muncul 1-2 hari setelah panas. Kadang malah tanpa disertai panas, jika vesikel yang muncul cuma satu. Yang membuat panas umumnya sariawan karena jamur candida atau virus herpes. Sebetulnya sariawan bisa sembuh sendiri seperti sariawan herpetik. Namun sariawan karena jamur harus diobati dengan obat antijamur. Biasanya memakan waktu penyembuhan sekitar seminggu. Jika sariawan tidak diobati akan bisa berkelanjutan. Memang tak sampai menyebar ke seluruh tubuh, paling hanya di sekitar mulut. Tetapi, sangat memungkinkan terjadinya diare, apabila jamurnya tertelan, mengalir lewat pembuluh darah. Gejala yang mudah dikenali, adalah lidah yang menjadi agak licin, berwarna kemerah-merahan, timbul luka dibagian bawah dan pinggir atau pada belahan bagian tengah lidah. Pada pipi bagian dalam tampak bintik-bintik putih, terkadang terdapat benjolan kecil yang dapat pecah sehingga mulut terasa perih. Secara keseluruhan Gejala oraltrush yaitu :

6

1.

Tampak bercak keputihan pada mulut, seperti bekas susu yang sulit dihilangkan.

2. 3. 4.

Bayi kadang-kadang menolak untuk minum atau menyusu Mukosa mulut mengelupas Lesi multiple (luka-luka banyak) pada selaput lendir mulut sampai bibir memutih menyerupai bekuan susu yang melekat, bila dihilangkan dan kemudian berdarah.

5.

Bila terjadi kronis maka terjadi granulomatosa (lesi berbenjol kecil) menyerang sejak bayi sampai anak-anak yang berlangsung lama hingga beberapa tahun akan menyerang kulit anak.

6.

gejala yang muncul adalah suhu badan meninggi sampai 40 derajat Celcius.

7.

Tak mau makan atau makan dimuntahkan, tak mau susu botol bahkan ASI, dan gelisah terus

8.

Bayi banyak mengeluarkan air liur lebih dari biasanya. Secara psikis, dia akan rewel.

2.5

Klasifikasi a. moniliasis akut: menghasilkan plak putih melekat seperti rennet, menyebar secara acak di mukosa mulut. Sisa untuk pelat adalah perdarahan yang tampak permukaan. Lesi intra oral biasanya disertai pembengkakan dan retakan dari sudut luka dan keropeng di wajahnya. b. Moniliasis kronis, adalah jenis langka infeksi Candida albicans, yang menyebabkan lesi granulomatosa biasanya dimulai pada masa bayi atau masa kanak-kanak. Progress penyakit tidak hanya terejadi pada mukosa oral tetapi juga kuku dan kulit wajah dan kulit kepala. Granuloma memanifestasikan moniliasico oleh reaksi inflamasi mendalam oleh granulasi jaringan produksi. Dalam kebanyakan kasus yang menyebabkan kematian

didapatkan keterlibatan abses paru dan sering disertai dengan lesi ginjal

7

2.6

Faktor-fakor penyebab moniliasis Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen. a) Faktor  endogen meliputi perubahan fisiologik, umur,dan

imunologik. Perubahan fisiologik seperti kehamilan (karena perubahan pH dalam vagina); kegemukan (karena banyak keringat); debilitas; latrogenik; endokrinopati (gangguan gula darah kulit);   b) Faktor penyakit kronik seperti: tuberkulosis, lupus

eritematosus dengan keadaan umum yang buruk. Umur contohnya: orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna. Imunologik contohnya penyakit genetik. eksogen meliputi: iklim, panas, dan kelembaban

menyebabkan respirasi meningkat, kebersihan kulit, kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, dan kontak dengan penderita misalnya pada thrush, dan balanopostitis. 2.7 Tipe-tipe kandidiasi Candidiasis dapat dibagi ke dalam jenis berikut ini: 1. Oral candidiasis. 2. Perlèche, luka dan radang pada tepi kanan/kiri mulut luar, penyebab candida albicans. 3. Candidal vulvovaginitis, infeksi membran mucous vagina. 4. Candidal intertrigo, infeksi pada kulit. 5. Diaper candidiasis, infeksi pada daerah yang ditutupi diaper (popok) bayi. 6. Congenital cutaneous candidiasis, infeksi pada kulit bayi lahir prematur. 7. Perianal candidiasis, infeksi pada kulit muara anus. 8. Candidal paronychia, infeksi pada lipatan kuku.

8

9. Erosio interdigitalis blastomycetica, infeksi pada kulit jari. 10. Chronic mucocuntaneous candidiasis, infeksi kronis pada kuku dan mukosa kulit. 11. Candidiasis sistemik, infeksi yang menyebar dan menyebabkan keracunan darah khususnya pada imun rendah. 12. Candidid, peradangan pada kulit tangan akibat jamur dari kaki (seperti dermatophytids). 13. Antibiotik candidiasis, dapat terjadi karena kelebihan pemakaian atau pe-resep-an berbagai antibiotik (seperti oxytetracycline yang umumnya digunakan untuk mengontrol acne). Efek dari antibiotik adalah mengurangi flora bakteri yang umum terdapat dalam sistem gastrointestinal, sehingga menimbulkan lingkungan yang kondusif untuk perkembangbiakan Candida yang ada karena tidak adanya kompetisi utama. Situasi ini dapat tetap stabil sampai pasien berhenti mengkonsumsi antibiotik. efek antibiotik yang diharapkan terjadi pada satu wilayah tubuh, akan berefek negatif pada wilayah lain jika pemakaiannya berlebihan, contohnya di wilayah genital/kemaluan. Bakteri flora yang normal terdapat pada wilayah kemaluan dan tidak berbahaya bagi tubuh akan banyak yang terbunuh oleh antibiotik ini. Gejalanya, akan muncul kemerahan dan rasa gatal (jamur-an pada genital wanita dan rasa gatal pada genital pria) yang dapat berlangsung selama periode pemakaian antibiotik. Ruam dapat diobati atau dikontrol oleh obat antifungal yang cocok, tetapi infeksi kemungkinan baru dapat terhapus bila keseimbangan jumlah bakteri / fungal asli telah dikembalikan seperti semula (dengan berhenti menggunakan antibiotik). 2.8 Pemeriksaan a. KOH preparation Uji hidroksida kalium adalah prosedur di mana kalium hidroksida (KOH) digunakan untuk mendeteksi jamur dengan melarutkan selsel manusia dalam suatu budaya. The difference in cell wall composition of human cells and fungal cells allows this procedure to
9

help distinguish the two cells. Perbedaan dalam komposisi dinding sel dari sel manusia dan sel jamur memungkinkan prosedur ini untuk membantu membedakan dua sel. KOH denatures the proteins in the human cell; only the fungal cells remain to be seen under the microscope. KOH denatures protein dalam sel manusia, hanya selsel jamur tetap terlihat di bawah mikroskop. b. Pengambilan sampel c. Endoskopi 2.7 Diagnosa banding Dapat dibagi berdasarkan tempatnya yaitu :  Kandidiasis kutis lokalisata dengan: 1). eritrasma: lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif, 2). dermatitis intertriginosa, 3). dermatofitosis (tinea)   Kandidiasis kuku dengan tinea unguium Kandidiasis vulvovaginitis dengan: 1). trikomonas vaginalis, 2). gonore akut, 3). Leukoplakia, 4). liken planus 2.8 Pengobatan Terdiri dari 2 cara pengobatan pada kandidiasis oral yaitu 1) Medik /pengobatan  Memberikan obat antijamur, misalnya :a. Miconazol : mengandung miconazole 25 mg per ml, dalam gel bebas gula. Gel miconazole dapat diberikan ke lesi setelah makan.b.Nystatin : tiap pastille mengandung 100.000 unit nistatin. Satu pastille harus dihisap perlahan-lahan 4 kali sehari selama 7-14 hari. Pastille lebih enak daripada sediaan nistatin lain. Nistatin ini mengandung gula. 2) Keperawatan

10

Masalah dari oral thrush pada bayi adalah bayi akan sukar minum dan risiko terjadi diare. Upaya agar oral thrush tidak terjadi pada bayi adalah mencuci bersih botol dan dot susu, setelah itu diseduh dengan air mendidih atau direbus hingga mendidih (jika botol tahan rebus) sebelum dipakai.

Apabila di bangsal bayi rumah sakit, botol dan dot dapat disterilkan dengan autoclaff dan hendaknya setiap bayi menggunakan dot satusatu atau sendiri-sendiri tetapi apabila tidak memungkinkan atau tidak cukup tersedia hendaknya setelah dipakai dot dicuci bersih dan disimpan kering, nanti ketika akan dipakai seduh dengan air mendidih.

Bayi lebih baik jangan diberikan dot kempong karena selain dapat menyebabkan oral thrush juga dapat mempengaruhi bentuk rahang.Jika bayi menetek atau menyusu ibunya, untuk menghindari oral thrush sebelum menyusu sebaiknya puting susu ibu dibersihkan terlebih dahulu atau ibu hendaknya selalu menjaga kebersihan dirinya.Adanya sisa susu dalam mulut bayi setelah minum juga dapat menjadi penyebab terjadinya oral thrush jika kebetulan ada bakteri di dalam mulut.

Untuk menghindari kejadian tersebut, setiap bayi jika selesai minum susu berikan 1-2 sendok teh air matang untuk membilas sisa susu yang terdapat pada mulut tersebut.Apabila oral thrush sudah terjadi pada anak dan sudah diberikan obat, selain menjaga kebersihan mulut berikanlah makanan yang lunak atau cair sedikitsedikit tetapi frekuensinya sering dan setiap habis makan berikan air putih dan usahakan agar sering minum.Oral thrush dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan mulut dan seringseringlah minum apalagi sehabis makan.

Sariawan dapat sembuh dengan sendirinya, kecuali sariawan akibat jamur yang harus diobati dengan obat antijamur. Masa

penyembuhan relatif lama, yaitu seminggu. Jika tak segera diobati, dapat berkelanjutan meski hanya menyebar di sekitar mulut saja.

11

Tapi jamur yang tertelan dan melewati pembuluh darah, juga bisa menyebabkan diare.  Saat sariawan, biasanya si kecil enggan makan atau minum. Berikut kiat untuk membantunya mendapatkan asupan yang dibutuhkan: a. Suapi makannya dengan menggunakan sendok secara perlahanlahan. Usahakan minum menggunakan sedotan dan gelas, untuk menghindari kontak langsung dengan sariawan serta tak menimbulkan gesekan dan trauma lebih lanjut. b. Berikan makanan yang bertekstur lembut dan cair, pada intinya yang mudah ditelan dan disuapi. Hindari makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin, agar tidak menambah luka. c. Makanan yang banyak mengandung vitamin C dan B serta zat besi, dapat memercepat proses penyembuhan. Misalnya buahbuahan dan sayuran hijau. Kekurangan vitamin C dapat memudahkan si kecil mengalami sariawan. d. Olesi bagian yang sariawan dengan madu.Jika telah diberi obat, biasanya obat kumur, tetapi tak juga sembuh, kemungkinan ada penyebab lain. Misalnya kuman yang telah bertambah, pemakaian obat dengan dosis tak tepat, atau cara memberi makanan yang membuat sariawan si kecil kembali mengalami trauma di lidah.  Bisa juga lantaran daya tahan tubuh anak yang rendah. Biasanya anak yang sering sariawan, lebih banyak akibat daya tahan tubuhnya rendah dan kebersihan mulut dan gigi yang tak terjaga.  Beberapa terapi non-obat tampaknya membantu. Terapi tersebut belum diteliti dengan hati-hati untuk membuktikan hasilnya, seperti: mengurangi penggunaan gula minum teh Pau d’Arco. Ini dibuat dari kulit pohon Amerika Selatan, memakai bawang putih mentah atau suplemen bawang putih. Bawang putih diketahui mempunyai efek anti-jamur dan antibakteri. Namun bawang putih dapat mengganggu obat protease inhibitor

12

kumur dengan minyak pohon teh (tea tree oil) dapat dilarutkan dengan air, memakai kapsul laktobasilus (asidofilus). Efek samping yang paling umum adalah mual, muntah dan sakit perut. Kurang dari 20 persen orang mengalami efek samping ini. Kandidiasis dapat kambuhan. Beberapa dokter meresepkan obat anti-jamur jangka panjang. Ini dapat menyebabkan resistansi. Ragi dapat bermutasi sehingga obat tersebut tidak lagi berhasil. Beberapa kasus parah tidak menanggapi obat-obatan lain. Amfoterisin B mungkin dipakai. Obat ini yang sangat manjur dan beracun, dan diberi secara intravena (disuntik). Efek samping utama obat ini adalah masalah ginjal dan anemia (kurang darah merah). Reaksi lain termasuk demam, panas dingin, mual, muntah dan sakit kepala. Reaksi ini biasa membaik setelah beberapa dosis pertama. 2.9 Pencegahan Sebenarnya Tidak ada cara untuk mencegah terpajan pada Candida. Obat-obatan tidak biasa dipakai untuk mencegah kandidiasis, Karena ada beberapa alasan: 1. Penyakit tersebut tidak begitu bahaya, 2. Ada obat-obatan yang efektif untuk mengobati penyakit tersebut, 3. Ragi dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat-obatan. Tetapi ada beberapa cara untuk mencegah penyakit moniliasis, misalnya:    Memperkuat sistem kekebalan tubuh adalah cara terbaik untuk mencegah jangkitan kandidiasis. Hindari berganti-ganti pasangan seks, (jika terpaksa) gunakan kondom (walau itu hanya mungkin melindungi daerah kontak seks), Jaga kebersihan, namun hati-hati terhadap bahan kimia tertentu yang dapat merusak keseimbangan mokroorganisme pada vagina dan anus.

13

Jangan minum antibiotik tanpa pengawasan medis (dokter) karena dapat menimbulkan resistensi (kekebalan) jamur terhadap antibiotik tersebut di kemudian hari, hal ini sudah sering dianjurkan.

14

WOC

15

BAB 3 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian 1. Identitas Moniliasis Oral dapat menyerang semua umur, baik pria maupun wanita, terutama pada bayi yang baru lahir. Meningkatnya prevalensi infeksi kandida albican ini dihubungkan dengan kelompok pekerja HIV/AIDS, penderita yang menjalani transplantasi dan kemoterapi maligna. Odds dkk (1990) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa dari 6545 penderita HIV/AIDS, sekitar 44,8% adalah penderita kandidiasis. Terdapat sekitar, 45% pada neonates, 45-65% pada anak – anak sehat, 50-65% pada pasien yang memakai gigi palsu lepasan, 65-88% pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang, 90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan 95 % pada pasien HIV/AIDS 2. Keluhan Utama Mulut terasa tebal, tidak dapat merasakan, gusi dan lidah luka, terbentuk fissure pada sudut mulut,nyeri pada mulut. 3. Riwayat Penyakit Sekarang Adanya plak mukosa mulut putih disertai pendarahan mukosa atau sekitarnya ketika serpihan putih tergerus atau lepas, bercak di mukosa pipi, bercak putih pada lidah dan langit – alngit mulut, kemerahan di bibir, kemerahan di sudut lidah dan luka, mulut terasa kering. 4. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah memiliki penyakit HIV, pengguan ARV, penggunaan obat-obatan, adanya riwayat transfuse bersama, seks bebas. 5. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah ada anggota keluarga yang mengalami/beresiko menderita HIV/AIDS

16

6.

Pemeriksaan Fisik a. Pemeriksaan cavum oral meliputi: - Rasa kebal, nyeri di mulut, gusi dan gigi - Pendarahan gusi - Mulut kering - Luka di mulut dan lidah - Kesulitan mengunyah - Perubahan rasa di mulut - Pseudomembran/plak putik pada lidah atau langit-langit - Caries gigi b. Pemeriksaan sistemik Peningkatan air liur, malaise dan kelemahan, penurunan BB,demam, mual dan muntah.

7.

Pengkajian Psikososial Persepsi tentang sakitnya, ekspresi klien, apakah kooperatif saat berkomunikasi, cemas, takut, sosialisasi dengan masyarakat.

8.

Personal Hygiene Bagaimana cara menggosok gigi yang benar, berapa kali sehari, apakah menggunakan anti jamur atau tidak.

3.2 Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan membrane mukosa oral berhubungan dengan peningkatan jumlah Kandida albicans. 2. Nyeri berhubungan dengan pelepasan plak pseudomembran. 3. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan selera makan sekunder akibat penurunan persepsi pengecap, kesulitan mengunyah. 4. Resiko penurunan penglihatan berhubungan dengan penyebaran Kandida Albicans ke retina.

17

3.3 Intervensi 1. Gangguan membrane mukosa oral berhubungan dengan peningkatan jumlah Kandida albicans. Tujuan : Mukosa oral berwarna merah muda Kriteria Standart : - mukosa oral tidak kering - tidak terdapat plak - lidah bersih - tidak terdapat stomatitis - tidak terdapat lesi - tidak terjadi perubahan rasa Intervensi : a. Jelaskan pentingnya hygiene oral setiap hari Rasional : meningkatkan pemahaman klien tentang perawatan mulut yang baik dan benar. b. Ajarkan perawatan mulut yang benar dengan menggunakan larutan air garam Rasional : kumur air garam dapat mengurangi iritasi dan lesi yang terdapat di mulut. c. Kurangi pemberian rasa manis Rasional : rasa manis meningkatkan jumlah mikroorganisme atau media kuman dalam mulut. d. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat anti jamur Rasional : anti jamur mengurangi pertumbuhan jamur didalam mulut, sehingga infeksi tidak semakin luas. e. Observasi keadaan mulut pasien. Rasional : mengetahui seberapa jauh perkembangan status atau kondisi mulut setelah dilakukan perawatan.

2. Nyeri berhubungan dengan pelepasan plak pseudomembran. Tujuan : Nyeri dapat berkurang Kriteria Standart :

18

-

Skala nyeri berkurang Tidak terdapat pendarahan pada mulut Lesi berkurang Pasien merasa lebih relaks

Intervensi : a. Jelaskan penyebab nyeri yang dialami pasien Rasional ; mengurangi persepsi negative terhadap nyeri yang dirasakan sehingga pasien dapat beradaptasi dengan nyeri. b. Kolaborasi pemebrian analgesic Rasional : analgesic membantu mengurangi nyeri c. Ajarkan tekhnik nafas dalam, relaksasi dan distraksi Rasional : membantu mengalihkan perhatian terhadap nyeri yang dirasakan. d. Evaluasi kualitas,kuantitas dan skala nyeri Rasional : membantu perkembangan perawatan nyeri untuk melakukan intervensi selanjutnya

3. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan selera makan sekunder akibat penurunan persepsi pengecap, kesulitan mengunyah. Tujuan : kebutuhan nutrisi adekuat Kriteria Standart : Tidak terjadi penurunan BB Pasien tidak tampak lemas Kadar Hb dan Albumin normal Porsi makan dihabiskan Intake dan output adekuat.

Intervensi : a. Berikan diit lunak sedikit tapi sering Rasional : diit lunak membantu mempermudah dalam mengunyah dan menelan sehingga klien tidak merasa sakit saat menelan. b. Motivasi klien untuk menghabiskan makanan

19

Rasional : dengan motivasi klien merasa diperhatikan dan lebih semangat untuk makan. c. Timbang BB setiap hari Rasional : berat badan merupakan indicator untuk mengetahui status nutrisi klien. d. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diit yang sesuai Rasional : membantu memenuhi kebutuhan nutrisi kliensesuai jumlah dan kebutuhan yang ideal. 3.4 Prioritas Keperawatan a. b. c. d. memperbaiki fungsi mulut, tenggorokan dan kulit Mencegah komplikasi Mendukung proses penyembuhan Memberikan informasi tentang proses penyakit dan pengobatan

20

BAB 4 KESIMPULAN Sebagian besar penyakit kandidiasis dapat diobati secara mudah dengan terapi lokal. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyakit ini menjadi lebih sering terjadi. Obat-obatan antijamur sistemik dapat dipakai, tetapi kandida mungkin menjadi resistan terhadapnya. Obat anti-jamur yang paling manjur, amfoterisin B, dapat menimbulkan efek samping yang parah. Beberapa terapi alam tampaknya memberi manfaat untuk mengendalikan infeksi kandida. Moniliasis oral dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan klinis dari

kandidiasis mukokutaneus di rongga mulut akibat munculnya etiologi dan faktor faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya infeksi. dalam

penatalaksanaannya diperlukan pemeriksaan dan penentuan diagnosa yang tepat berdasarkan gambaran klinis setiap lesi, anamnesis yang teliti, pemeriksaan laboratorium yang akurat oleh dokter gigi, yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan terapi pada pasien dengan menggunakan obat anti jamur. Obat anti jamur dapat diberikan secara topikal maupun sistemik, dengan syarat pemakaiannya harus sesuai dengan tipe kandidiasis yang akan dirawat. Seperti pada kasus di bawah ini yang mendapat terpai berupa penggantian glukosa dengan cairan dextrosa 5% 5 tetes per menit, karena pada dasarnya cairan harus di ganti pemasangannya setelah 5 hari, diit susu formula 35cc tiap 3 jam dinaikan bertahap sesuai dengan BB. Medikamentosa dengan injeksi ampisilin 165mg tiap 12 jam,Injeksi gentamisin 8mg tiap 12 jam ,Injeksi sanmol 0,35mg, Injeksi nistatin 4x1cc, candistatin 1cc tiap 6 jam serta dengan rencana edukasi perawatan neonatus dengan jemur pagi sebelum jam 9 selama setengah jam, perawatan mata, oral higiene, tali pusat dan kebersihan anogenital, pemberian ASI yang benar, cara pemandian bayi yang benar, pembuatan susu tambahan yang benar

21

DAFTAR PUSTAKA Jimmo. 2008. Infeksi candida. Online di www.blogkita.com tanggal 16 November 2010 Nasronuddin.2007. HIV dan AIDS, Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Sosial. Surabaya: Airlangga University Press. Price, Sylvia. A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses Penyakit. Jakarta: EGC

22

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful