PROSEDUR medikolegal

PROSEDUR MEDIKO – LEGAL

Dr. Arif Wahyono, SpF

PROFESI KEDOKTERAN

SUMPAH HIPOKRATES :
LARANGAN-LARANGAN  KEWAJIBAN-KEWAJIBAN (Hindari perbuatan amoral / non standar)

UTAMAKAN
  

KEBEBASAN PROFESI RAHASIA KEDOKTERAN ETIKA KEDOKTERAN

Prosedur mediko-legal

Adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur mediko-legal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran

RUANG LINGKUPNYA
 

pengadaan visum et repertum, tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan, kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik , tentang fitness / kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik,

KEWAJIBAN DOKTER MEMBANTU PERADILAN
PASAL 133 KUHAP

Buat VeR

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya

Ps 133 (2-3) KUHAP:

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

SANKSI HUKUM BILA MENOLAK
PASAL 216 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undangundang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasar- kan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau mengga-galkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

BEDAH MAYAT (AUTOPSI)

Manfaatnya : (autopsi forensik)
   

Memperkirakan sebab kematian Memperkirakan saat kematian Untuk kepentingan peradilan Hukum Pidana

Perkembangan sekarang :
 

Autopsi klinis  Hk.Perdata Autopsi anatomis  UU kesehatan

KELUARGA TIDAK SETUJU, GIMANA ?

Sebenarnya BUKAN kewajiban dokter untuk menjelaskan Pasal 134 KUHAP ayat (1) :

(1) dalam hal diperlukan dimana utk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik WAJIB memberitahu terlebih dulu kepada keluarga korban

Pasal 134 ayat (2-3) KUHAP :

(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik WAJIB menerangkan SEJELASJELASNYA tentang maksud dan tujuan perlu dilakukan pembedahan tersebut (3) Apabila dalam waktu 2 hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaiman dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang – undang ini

MENOLAK PEMERIKSAAN MAYAT
PASAL 222 KUHP

Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalanghalangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah

KENYATAANNYA…..

Dokter ikut menjelaskan apa manfaatnya bedah mayat Pengetahuan tentang UU, kadang polisipun ada yang tidak memahami Dokter dianggap orang yang paling tahu tentang segala sesuatu ttg tubuh manusia

PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM menurut Ps 133 KUHAP
  

WEWENANG PENYIDIK TERTULIS (RESMI) TERHADAP KORBAN, BUKAN TERSANGKA ADA DUGAAN AKIBAT PERISTIWA PIDANA BILA MAYAT :
 

IDENTITAS PADA LABEL JENIS PEMERIKSAAN YANG DIMINTA DITUJUKAN KEPADA :
AHLI KEDOKTERAN FORENSIK  DOKTER DI RUMAH SAKIT

PEJABAT YG BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM
 

PASAL 133 KUHAP : PENYIDIK PASAL 6 (1) KUHAP :

PENYIDIK ADALAH :

PEJABAT POLISI NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEJABAT PNS TERTENTU YG DIBERI WEWENANG KHUSUS OLEH UNDANGUNDANG

YG MEMBUTUHKAN VISUM ET REPERTUM ADALAH KASUS PIDANA UMUM, SEHINGGA PENYIDIKNYA ADALAH POLISI. PENYIDIK PNS TIDAK BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM

PASAL 11 KUHAP :

PENYIDIK PEMBANTU MEMPUNYAI WEWENANG SEPERTI TERSEBUT DALAM PASAL 7 (1), KECUALI MENGENAI PENAHANAN YANG WAJIB DIBERIKAN DENGAN PELIMPAHAN WEWENANG DARI PENYIDIK. MENDATANGKAN AHLI ATAU MEMINTA VISUM ET REPERTUM BOLEH DILAKUKAN PENYIDIK PEMBANTU.

JADI, YANG BERWENANG MEMINTA VISUM ET REPERTUM ADALAH :
 

PENYIDIK POLISI DAN PENYIDIK PEMBANTU POLISI

PASAL 2 PP No 27 TAHUN 1983 (2) Penyidik adalah :
a.Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurangkurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua polisi (Ajun Inspektur Dua)

PASAL 3 PP No 27 TAHUN 1983 (2) Penyidik pembantu adalah :
a.Pejabat Polisi Negara RI tertentu yg sekurang-kurangnya berpangkat Sersan Dua polisi; b.Pejabat PNS tertentu yg sekurangkurangnya berpangkat Pengatur Muda (golongan II/a) atau yang disamakan dengan itu.

PASAL 2 (2) PP No 27 TAHUN 1983
(2) Dalam hal di suatu Sektor Kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan Kepolisian yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya adalah penyidik.

ARTINYA :

TIDAK SEMUA POLISI BERPANGKAT PELDA KE ATAS ADALAH PENYIDIK TIDAK SEMUA POLISI BERPANGKAT SERSAN ADALAH PENYIDIK PEMBANTU SETIAP KAPOLSEK PASTI PENYIDIK

JENJANG KEPANGKATAN POLISI


 

JENDERAL KOMISARIS JENDERAL INSPEKTUR JENDERAL BRIGADIR JENDERAL


    

KOMISARIS BESAR AJUN KOMISARIS BESAR KOMISARIS AJUN KOMISARIS INSPEKTUR SATU INSPEKTUR DUA

 

AJUN INSPEKTUR SATU AJUN INSPEKTUR DUA BRIGADIR KEPALA BRIGADIR BRIGADIR SATU BRIGADIR DUA AJUN BRIGADIR AJUN BRIGADIR SATU AJUN BRIGADIR DUA SABHARA SABHARA SATU SABHARA DUA

 


  


  

DALAM PRAKTEK

SURAT PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM :  SURAT TERTULIS  SURAT RESMI (KOP SURAT, NOMOR, TANGGAL, ALAMAT SURAT, ISI, TANDATANGAN, NAMA JELAS, PANGKAT, NRP, STEMPEL DINAS)  MENGATAS-NAMAKAN KAPOLSEK (PENYIDIK) SEBAGAI PEJABAT ATRIBUTIF.

PENANDATANGAN SURAT (PEJABAT MANDAT) BOLEH SIAPA SAJA YANG SECARA ORGANISATORIS BERWENANG MENGATASNAMAKAN PEJABAT ATRIBUTIF.

KEWAJIBAN DOKTER SEBAGAI SAKSI

PASAL 120 KUHAP
(1)

Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.

PASAL 180 KUHAP
(1) Dalam hal diperlukan untuk

menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang Pengadilan, Hakim Ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan

PERMINTAAN SEBAGAI SAKSI AHLI (masa persidangan)
PASAL 179 (1) KUHAP :  Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan PASAL 224 KUHP :  Barangsiapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam : dalam perkara pidana, dengan penjara paling lama sembilan bulan.

KETERANGAN AHLI

PASAL 1 BUTIR 28 KUHAP :

Keterangan Ahli adalah keterangan yang diberikan seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.

(Pengertian K.A. secara umum atau generik)

Agar dapat diajukan ke sidang pengadilan sebagai upaya pembuktian, harus “dikemas” dalam bentuk ALAT BUKTI SAH

ALAT BUKTI SAH

PASAL 183 KUHAP :
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

PASAL 184 KUHAP :
Alat bukti yang sah adalah : (a) Keterangan saksi, (b) Keterangan ahli, ( c ) Surat, (d) Petunjuk, (e) Keterangan terdakwa

KETERANGAN AHLI DIBERIKAN SECARA LISAN

PASAL 186

Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu menerima jabatan atau pekerjaan (BAP saksi ahli).

PENJELASAN PASAL 186

ALAT BUKTI SAH KETERANGAN AHLI

KETERANGAN AHLI DIBERIKAN SECARA TERTULIS
PASAL 187 KUHAP

Surat sebagaimana tesebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c , dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :

(c) surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;

ALAT BUKTI SAH SURAT

KETERANGAN AHLI

GENERIK (ps 1 butir 28)

LISAN
DI SIDANG : (Ps 186) Ahli memberikan KA di sidang

SEBELUM SIDANG (Penjelasan 186) contoh : BAP Saksi Ahli TERTULIS (PASAL 187) : contoh : Visum et Repertum

TERIMA KASIH DAN INGATLAH SELALU

CIRI SIKAP PROFESIONAL : •KEBEBASAN PROFESI •OBYEKTIF •ILMIAH •IMPARTIAL

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful