I.

2 Factor penyebab kegagalan fotografi dental
Hasil foto radiografis tang baik harus memenui syarat : 1. Kontras, detail dan ketajaman foto radiografis harus baik, setiap struktur anatomis dapat dibedakan dengan jelas, misalnya perbedaan email, dentin,kamar pulpa, saluiran akar, lamina dura dan tulang penyangga disekitarnya serta struktur anatomis oainnya yang penting untuk diinterprestasikan 2. Seluruh objek yang diperiksa dapat tampak secara keseluruhan dengan jelas pada film radigrafis yang dihasilkan. 3. Bentuk dan ukuran objek atau gigi tidak mengalami distorsi atau perubahan bentuk. Misalnya pada film radiografis intra oral proyeksi periapikal, tonjol bukal – palatal atau bukal – lingual terletak pada satu bidang (berhimpit) 4. Pada film radiografis intraoral proyeksi periapikal, daerah interdental,harus tampak jelas, kecuali pada kasus gigi berjejal. Pada pembuatan foto radiografis teknik intra oral atau ekstra oral ada beberapa factor yang harus diperhatikan untuk mendapat hasil foto radiografis yang baik. Factor penyebab kegagalan adalah : 1. Operator/ radiographer,pasien,dokter gigi a. Dalam peraturan pemerintah no. 11 tahun 1975 tentang persyaratan suatu instalasi atom, dikatakan bahwa suatu instalasi atom harus memiliki tenaga-tenaga yang cakap dan terlatih. Oleh sebab itu operator/radiographer harus memiliki dan menguasai kemampuan teknik pemotretan yang baik juga memperoleh pendidikan resmi dari Departemen kesehatan atau BATAN tentang Keselamatan Kerja dan Proteksi Radiasi.

Kesalahan yang disebabkan oleh Operator yang akan dibahas berikut ini terutama yang disebabkan oleh kecerobohan operator pada waktu pemotretan dan teknik proses pencucian film akan dibahas tersendiri. Superimposed Gambar radiografis tumpang tindih dengan gambaran selain gigi dan struktur anatomis disekitarnya, karena kelalaian operator memeriksa kesiapan pasien sebelum melakukan pemotretan. Gambaran tumpang tindih ini antara lain dapat berupa gambaran kacamata, cengkraman gigi tiruan lepasan,gigi tiruan kerangka logam, atau kawat alat orthodonsi. Pada teknik periapikal, pasien menahan film dengan jari apabila jari pasien pada daerahyang terkena sinar- X primer selama pemotretan akan tampak gambaran radiografis tulang jari tangan. Double expose : Film yang telah dipakai, sebelum dicuci dipakai lagi untuk pemotretan pasien lain(film dipakai dua kali pemotretan), sehingga akan tampak dua gambaran radiografis pasien yang berbeda pada satu film.

Sidik jari tangan : Gambaran sidik jari ini terjadi karena operator melakukan pencucian tanpa menggunakan clip film langsung dipegang oleh operator. Sehingga pada waktu pencucian dalam developer, gambaran sidik jari operator akan tercetak pada film radiografis yang dihasilkan. b. PENDERITA/ PASIEN Pemotretan pada pasien anak kadang-kadang sulit dilakukan, karena ada rasa takut yang berlebihan. Pasien sering bergerak atau merontah pada waktu pemotretan. Pasien lanjut usia juga

kadang – kadang sulit dilakukan pemotretan, karena pasien tidak dapat diam atau tremor yang mungkin terjadi. Pada pasien-pasien ini dapat terjadi double image.

Bentuk anatomis rahang sempit dan palatum dangkal dapat menyebabkan tidak seluruh struktur yang akan diperiksa dapat terproyeksi dengan utuh (terpotong). Sedangkan gigi yang berjejal atau pada gigi impaksi dapat terjadi tumpang tindih satu gigi dengan gigi geligi disekitarnya.

Pasien dengan reflex muntah tinggi juga dapat menyulitkan pemotretan. Terutama pemotretan region posterior rahang atas dan rahang bawah.

c.

DOKTER GIGI

Pengetahuan, ketelitian dan keterampilan dokter gigi juga mempengaruhi foto radiografis yang dihasilkan. Kelalaian dokter gigi pada waktu menulis surat rujukan , misalnya salah menulis elemen gigi atau region, tidak menulis maksud tujuan pemeriksaan radiografis atau regio, tidak menulis maksud tujuan pemeriksaan radiografis atau tidak menulis diagnose sementara berdasarkan pemeriksaan radiografis sebelumnya menyebabkan hasil pemeriksaan radiografis sebelumnya menyebabkan hasil pemeriksaan radiografis yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang dimaksud / diharapkan.

2. BAHAN/ MATERIAL

a.

Film

Beberapa hal yang harus diperharikan dalam melilai film radiografis adalah waktu kadaluarsa serta kemasan pembungkus film. Hal ini penting diperhatikan karena apabila kedua hal tersebut sudah tidak memenuhi syarat lagi, hasil foto radiografisnya tidak dapat sebaik yang diharapkan.

b. Bahan pencucian film

Developer dan fixed jenis powder yang penggunaanya harus dilarutkan terlebih dahulu, lebih baik dari pada yang sudah tersedia dalam bentuk cairan. Developer dalam bentuk cairan sering menyebabkan noda kuning pada hasil foto radiografis.

3. TEKNIK PEMOTRETAN a. Pengaturan posisi kepala penderita Kesalahan pengaturan posisi kepala penderita pada teknik intra oral (terlalu menunduk atau menengadah) menyebabkan kesulitan menentukan posisi tube (penentuan sudut vertical dan horizontal) atau menyebabkan tidak tercakupnya daerah yang akan diperiksa (terpotong) pada foto radiografis yang dihasilkan. Sedangkan pada teknik ekstra oral kesalahan pengaturan posisi kepala penderita dangat berpengaruh terhadap foto radiografis yang dihasilkan. Kesalahan berupa objek yang dituju tumpang tindih dengan struktur anatomis lain sehingga tidak terproyeksi dengan baik atau terjadi gambaran radiografis yang terpotong.

b. Peletakan film Pada teknik intra oral peletakan film dalam rongga mulut harus sedemikian rupa sehingga objek yang akan diperiksa terletak di pertengahan film, untuk itu perlu diperhatikan bahwa untuk letak film di gigi anterior film diletakkan vertical dan pada gigi posterior di letakkan horizontal. Dengan demikian seluruh gigi sampai dengan daerah periapikal dapat tercakup semua dalam film. Sisakan 2-3 mm antara jarak tepi permukaan gigi dengan permukaan oklusal atau insisal.

Sekalahan yang dapat terjadi apabila tidak diperhatikan hal-hal tersebut di atas adalah terpotongnya gambar radiografis yang dihasilkan. Gambaran ini juga dapat terjadi akibat kondisi anatomis pasien berupa palatum atau dasar mulut yang dangkal.

Kesalahan peletakan cassette pada teknik ekstra oral baik teknik pemotretan yang menggunakan cassette holder atau tidak adalah terpotongnya gambaran radiografis yang dihasilkan.

C. CARA MENAHAN FILM Pada teknik intraoral proyeksi periapikal yang benar adalah dengan menggunakan ibu jari atau telunjuk didaerah pertemuan antara mahkota dan gusi (di daerah lehar gigi). Penekanan yangh berlebihan dan menahan film pada daerah palatum, dapat menyebabkan film tertekuk yang gambarannya akan tampak mirip kasus elongasi, ujung akar gigi tampak membengkok sedankan mahkotanya tetap pada ukuran sebenarnya. Penekukan ini dapat pula terjadi karena gigig yang akan diperiksa terletak pada sudut rahang yaitu gigi kaninus-premolaratas maupun bawah. Pada teknik ekstraoral,pemahaman film sehingga tidak berpengaruh pada foto radiografis yang dihasilkan.

D. PENENTUAN SUDUT PEMOTRETAN Kesalahan penentuan vertical dapat berupa : Elongasi yaitu pemanjangan gambaran radiografis gigi yang dihasilkan, akibat penentuan sudut vertical terlalu besar. Kesalahn penentuan sudut horizontal : Horizontal overlapping yaitu gambaran radiografis yang tumpang tindih antara satu gigi dengan gigig yang berdekatan, akibat sinar-X tidak sejajar dengan permukaan interproximal gigi atau tidak tegak lupus dengan sumbu gigi yang diperiksa.

Cone cutting hádala terpotongnya sebagian gambaran radiografis gigi yang dihasilkan dengan batas tepi berupa lengkungan, terjadi akibat sinar-X tidak tepat pada pertengahan film, sehingga ada sebagian film yang tidak terkena sinar-X. Kesalahn penentuan sudut pemotretan pada teknik ekstraoral dapat menyebabkan gambaran tumpang tindih (overlapping) antara objek yang diperiksa dengan struktur anatomis disekitarnya. E. PENENTUAN KONDISI SINAR-X Kondisi sinar-X yang dihasilkan oleh statu pesawat sinar-X adalah : kV, mA, & sec. Pada umumnya pesawat sinar-X baik sudah mempunyai kV, dan mA yang sudah distandarisasi, sehinggga pada waktu melakukan pemotretan hanya diubah waktunya saja. Overexposed adalah kondisi waktu pemotertannya yang terlalu lama sehinggga gambaran radiografis yang dihasilkan akan tampak gelap/ hitam (radiolusen) secara keseluruhan. Underexposure terjadi bila waktu pemotretannya terlalu singkat dan gambaran radiografisnya yang dihasilkan akan tampak putih (radiopak) secara keseluruhan. Tidak ada gambaran sama sekali (film bening) tidak ada sinar-X yang mengenai film yang disebabkan pesawat rontgen rusak dan tidak menghasilkan sinar-X atau salah melakukan menekan tombol expose.

F. PROSESSING / PENCUCIAN FOTO RODIOGRAFIS Beberapa macam kesalahn dapat terjadi pada waktu proses pencucian film, baik intraoral maupun dalam kamar gelap, yaitu : Overdeveloped adalah kondisi waktu pencucian dalam developer yang telalu lama sehingga gambaran radiografis yang dihasilkan tampak hitam secara keseluruhan. Underdevelope adalah kondisi waktu pencucian dalam developer yang terlalu cepat

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful