ANGKATAN KERJA PENDAHULUAN Penduduk merupakan sumber penawaran tenaga kerja.

Kelahiran atau fertilitas menyebabkab pertambahan jumlah penduduk, termasuk jumlah angkatan kerja. Mortalitas menyebabkan berkurangnya jumlah angkatan kerja. Penurunan mortalitas bayi menyebabkan meningkatnya harapan hidup sehingga bayi-bayi yang lahir nantinya akan mencapai usia kerja. Sementara itu, variabel demografi ketiga, yaitu migrasi, dapat menambah atau mengurangi jumlah penduduk usia kerja tergantung situasi ekonomi suatu negara atau daerah. Usia kerja sering disebut sebagai usia dimana tenaga kerja secara potensial dapat melakukan kegiatan ekonomi-produktif, yaitu memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Hasil produksi tersebut tidak hanya dipergunakan oleh mereka yang terlibat dalam kegiatan produktif, tapi dipergunakan atau dikonsumsi oleh seluruh penduduk, termasuk bayi dan anak-anak. Perhatian para ahli kependudukan dan ekonomi kepada kelompok penduduk yang berada dalam usia produktif-ekonomis merupakan salah satu penyebab berkembangnya studi ekonomi-kependudukan. Setelah menjadi dewasa, sebagian besar orang merasa harus mempunyai penghasilan sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Mereka masuk ke “pasar kerja” untuk mencari pekerjaan (sebagai pekerja) atau menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri (sebagai entrepreneur), baik dalam skala besar seperti perusahaan dengan banyak pegawai/buruh ataupun skala kecil di sektor informal. Hal yang dibicarakan dalam bab ini adalah pengenalan dasar konsep ketenagakerjaan, beserta sedikit ilustrasi data empiris yang dilihat dari kacamata disiplin ekonomi-kependudukan. STUDI DEMOGRAFI DAN KARAKTERISTIK EKONOMI PENDUDUK Di masyarakat, banyak topik yang bersifat ekonomi ketenagakerjaan dianggap hanya “kepunyaan” ekonom. Meskipun demikian, dalam kenyataanya, analisis topik tersebut memerlukan data yang berasal dari disiplin ilmu demografi, seperti Sensus dan Supas (Survei Penduduk Antar Sensus), atau ilmu sosial lainnya seperti Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Contoh studi demografi yang menghasilkan informasi ekonomi ketenagakerjaan adalah sebagai berilut: 1. jumlah tenaga kerja (manpower), angkatan kerja (labor force), serta proporsi penduduk berusia dewasa yang terlibat secara aktif dalam kegiatan ekonomi di suatu negara. 2. Jumlah orang yang menganggur (unemployed) atau setengah menganggur (underemployed), dan proporsi mereka terhadap angkatan kerja secara keseluruhan. 3. Komposis angkatan kerja menurut: a. lapangan pekerjaan (industry), yaitu meliputi ragam dari lapangan pekerjaan dan jumlah orang yang berada di amsing-masing lapangan pekerjaan tersebut. b. jenis pekerjaan (occupation), yang meliputi ragam jenis pekerjaan dan jumlah orang yang berada pada masing-masing jenis pekerjaan tersebut. c. status pekerjaan, yakni apakah penduduk bekerja di sektor formal atau informal. 4. Regularitas dari pekerjaan yang dilakukan oleh angkatan kerja, karena terdapat pekerjaan yang hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja (part-time), atau jumlah jam kerja yang dilakukan dalam satu hari atau satu minggu. 5. Tingkat pendapatan atau upah dan distribusinya di kalangan penduduk yang bekerja. Banyak hal mengenai kehidupan sosial di masyarakat dapat dijabarkan kalau kita mengetahui komposisi penduduk yang bekerja atau mencari kerja menurut umur, jenis kelamin, lapangan pekerjaan, jenis pekerjaannya, atau status pekerjaan. Misalnya, berapa banyak penduduk usia muda yang seharusnya masih sekolah telah memasuki pasar kerja tanpa keterampilan sehingga pendapatannya rendah? Kemudian, berapa banyak penduduk lansia dipaksa untuk tetap bekerja karena jumlah pensiun yang diterima tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, atau bahkan tidak mempunyai penghasilan

sama sekali. Berapa banyak wanita yang bekerja? Apakah pekerjaan yang dilakukan kaum wanita itu betul-betul mencerminkan kemajuan wanita, ataukah merupakan cerminan bahwa para wanita itu terpaksa bekerja untuk menambah penghasilan keluarga karena belum tercukupinya kebutuhan? Selain tiu, kita juga ingin mengetahui bidang apa saja yang dikerjakan oleh para wanita, anak-anak dan orangorang yang sudah berusia lanjut, serta berapa jam mereka harus bekerja dalam satu hari. Sesungguhnya, keadaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat suatu negara cenderung dipengaruhi oleh besarnya jumlah oran yang mempunyai penghasilan. Besarnya penghasilan antara lain tergantung dari kualifikasi tenaga kerja (seperti pendidikan, ketrampilan, dan keahlian) atau regularitas pekerjaan. Faktor lain yang dapat menghambat peningkatan kesejahteraan adalah kalau tingkat pertumbuhan kesempata kerja lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja. KONSEP DAN DEFINISI KETENAGAKERJAAN Penduduk di suatu negara mengonsumsi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi hanya sebagian dari mereka yang secara langsung terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan memproduksi barang dan jasa tersebut (disebut kegiatan produktif). Berdasarkan pemikiran tersebut dapat diaktakan bahwa penduduk di suatu negara dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu: 1. Penduduk yang “aktif” secara ekonomi (economically active population) 2. Penduduk yang “tidak aktof” secara ekonomi (economically inactive population) Penduduk yang aktif secara ekonomi terdiri dari dua kelompok. Kelompok petama adalah penduduk yang bekerja memproduksi barang dan jasa dalam perekonomian. Kelompok kedua adalah penduduk yang belum bekerja, tetapi sedang aktif mencari pekerjaan (termasuk mereka yang baru pertama kali mencari pekerjaan). Penduduk yang tidak aktif secara ekonomi adalah mereka yang tidak bekerja atau tidak sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini tidak memproduksi barang dan jasa, dan hanya mengonsumsi barang yang diproduksi orang lain. Dalam studi kependudukan atau demografi terdapat beberapa konsep atau definisi yang dipakai seperti yang tertera di bawah ini. KONSEP TENAGA KERJA (MANPOWER) Dalam studi kependudukan sering disebut 'tenaga kerja' yang diterjemahkan dari istilah manpower, yakni seluruh penduduk yang dianggap mempunyai potensi untuk bekerja secara produktif. Dulu Indonesia sering kali menyebutkan tenaga kerja sebagai seluruh penduduk berusia 10 tahun ke atas (lihat hasil SP 1971, 1980, dan 1990). setelah itu dipakai ukuran 15 tahun ke atas yang disesuaikan dengan ketentuan internasional. Dalam dunia industri atau bisnis konsep 'tenaga kerja' diartikan sebagai personel yang bekerja dalam industri atau bisnis. KONSEP GAINFUL WORKER Konsep ini menunjukkan aktivitas ekonommi apakah seseorang pernah bekerja atau yang biasanya dilakukan seseorang (usual activity), mungkin saat sensus atau survei masih bekerja atau sudah tidak bekerja lagi. Dalam konsep gainful worker ini tidak ditentukan referensi/batasan waktu tertentu, artinya kegiatan ekonomi yang dilakukan atau pernah dilakukan selama hidup seseorang pada saat pencacahan. Seseorang dapat saja melaporkan bekerja padahal sudah lama tidak bekerja lagi. Oleh karena tak ada batasan waktu, maka kita tidak tahu kapan ia bekerja, apakah pernah bekerja atau sedang bekerja. Lagipula mereka yang sedang mencari pekerjaan untuk pertama kali tidak tercatat sebagai economically active population. Jumlah pengangguran yang tercatat memakai konsep ini akan sedikit sekali. Konsep ini sudah jarang dipakai dalam analisis. KONSEP ANGKATAN KERJA (LABOR FORCE CONCEPT) Dalam SP 1940, United States Bureau of Census telah memelopori penggunaan konsep baru yang disebut labor force concept, atau konsep Angkatan Kerja. Dua perbaikan diusulkan dalam konsep ini yaitu:

1. Activity concept, bahwa yang termasuk dalam angkatan kerja (labor force) haruslah orang yang secara aktif bekerja atau sedang aktif mencari pekerjaan. 2. Aktivitas tersebut dilakukan dalam suatu batasan waktu tertentu sebelum wawancara. Dengan kata lain, konsep angkatan kerja umumnya disertai dengan referensi waktu. Berdasarkan konsep tersebut, angkatan kerja (labor force) dibagi menjadi dua, yaitu: 1. bekerja. 2. Mencari pekerjaan (menganggur), yang dapat dibedakan antara: a. mencari pekerjaan, tetapi sudah pernah bekerja sebelumnya, dan b. mencari pekerjaan untuk pertama kalinya (belum pernah bekerja sebelumnya) dari pengertian di atas, angkatan kerja dapat dikatakan sebagai bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan produktif, yaitu memproduksi barang dan jasa dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, dalam konsep angkatan kerja ini harus ada referensi waktu yang pasti, misalnya satu minggu sebelum pencacahan. Jadi, perbedaan antara konsep angkatan kerja dengan konsep gainful worker adalah tentang ada atau tidaknya referensi waktu. Secara demografis, besarnya angkatan kerja dapat diliha melalui angka partisipasi angkatan kerja (labor force participation rate), yaitu berapa persen dari jumlah tenaga kerja yang menjadi angkatan kerja. Dalam konsep angkatan kerja, yang dimaksud dengan bekerja adalah mereka yang mempunyai pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, baik berupa uang ataupun barang. KONSEP PEMANFAATAN TENAGA KERJA (LABOR UTILIZATION APPROACH) Berbeda dengan kosep labor force, pendekatan labor utilization ini dimaksudkan untuk lebih menyempurnakan konsep angkatan kerja, terutama supaya lebih sesuai dengan keadaan negara berkembang. Pendekatan dalam konsep ini lebih ditujukan untuk melihat potensi tenaga kerja, apakah telah dimanfaatkan secara penuh. Dengan konsep ini, angkatan kerja dikelompokkan sebagai berikut: a. Pemanfaatan cukup (fully utilized). b. Pemanfaatan kurang (under-utilized), karena jumlah jam kerja yang rendah, pendapatan/upah atau gaji yang rendah dan tidak sesuai dengan kemampuan atau keahliannya. c. Pengangguran terbuka (open unemployment). Pengangguran terbuka dan pemanfaatan kurang karena jumlah jam kerja yang rendah mencerminkan kelebihan penawaran tenaga kerja (supply of labor) dibandingkan dengan permintaan akan tenaga kerja (demand of labor). Sementara itu, pemanfaatan kurang karena pendapatan/gaji yang rendah dipakai untuk mengukur dimensi lain, yaitu produktivitas yang rendah dati pekerja. KONSEP PENGANGGURAN Sebagaimana telah diuraikan, yang dimaksud dengan pengangguran adalah bagian dari angkatan kerja yang pada saat pencacahan sedang aktif mencari pekerjaan. Pengertian ini sering disebut sebagai pengangguran terbuka (open unemployment). PENGANGGURAN TERBUKA (OPEN UNEMPLOYMENT) Pengangguran terbuka terdiri dari (lihat Sakernas 2006, Semester 1, Februari 2006): 1. mereka yang mencari pekerjaan. 2. Mereka yang mempersiapkan usaha. 3. Mereka yang tida mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (discouraged workers). 4. Mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja.

Dalam kehidupan sehari-hari, masalah yang lebih sering dihadapi adalah masalah setengah menganggur atau pengangguran tidak kentara. SETENGAH MENGANGGUR (UNDEREMPLOYED) Setengah menganggur (underemployed) adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu). Setengah menganggur terdiri dari: 1. setengah pengangguran terpaksa, yakni mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam seminggu) dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan. 2. Setengah menganggur sukarela, yakni mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain (sebagian piahk menyebutkan sebagai pekerja paruh waktu atau part time worker). PENGANGGURAN TIDAK KENTARA Sementara itu, dalam konsep angkatan kerja, pengangguran tidak kentara dimasukkan dalam kegiatan bekerja, karena mereka memenuhi persyaratan dari definisi “bekerja”. Akan tetapi, sebetulnya jika dilihat dari segi produktivitas dalam pekerjaan, maka mereka adalah penganggur. Sebagai contoh, ada empat orang bekerja membuat sebuah kursi, padahal sebenarnya bobot pekerjaannya cukup dikerjakan oleh dua orang saja dengan waktu yang sama. Kondisi seperti ini umumnya terjadi karena dalam pasar kerja terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja dan sempitnya lapangan kerja. PENGANGGURAN FRIKSIONAL Seseorang yang sudah berhenti bekerja karena ingin pindah pekerjaan, sering kali tidak langsung mendapatkan pekerjaan ayng baru. Selama seseorang aktif mencari pekerjaan yang baru maka ia berstatus penganggur. Jadi, pengangguran friksional sebenarnya adalah pengangguran karena tenggang waktu sebelum mendapatkan pekerjaan. Dalam analisis ketenagakerjaan, tenggang waktu itu sering dusebut 'waiting time' BUKAN ANGKATAN KERJA (NOT IN THE LABOR FORCE) Bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja (manpower) yang tidak bekerja ataupun mencari pekerjaan. Jadi, mereka adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya tidak teerliba atau tidak berusaha untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Dalam semsus-sensus penduduk di Indonesia dikemukakan bahwa penduduk berumur 10 tahun ke atas (atau 15 tahun ke atas setelah SP 1990) ayng termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah mereka yang selama seminggu yang lalu mempunyai kegiatan hany: 1. bersekolah 2. mengurusi rumah tangga 3. pensiunan, dan/atau mendapat penghasilan bukan dati bekerja (misalnya warisan, deposito, dan lain-lain) 4. berada di rumah sakit dalam waktu lama, di lembaga-lembaga permasyarakatan, dan sebagainya. Dari berbagai konsep di atas, dapat dibuat bagan ketenagakerjaan sebagai berikut.

UKURAN-UKURAN DASAR ANGKATAN KERJA Dalam studi ketenagakerjaan, dipakai beberapa ukuran yang menggambarkan situasi ketenagakerjaan suatu negara atau sekelompok masyarakat. Umumnya, indikator ketenagakerjaan memakai angka (rate),

seperti angka partisipasi angkatan kerja (labor force participation rate) yang menggambarkan perbandingan jumlah angkatan kerja terhadap jumlah tenaga kerja (penduduk 15 tahu ke atas). Angka ini sering disebut angka partisipasi umum, tetapi untuk analisis yang lebih mendalam dipakai ukuran yang lebih spesifik. ANGKA AKTIVITAS KASAR (CRUDE ACTIVITY RATE) Angka aktivitas kasar adalah jumlah angkatan kerja dibagi dengan jumlah seluruh penduduk 15 tahun ke atas dan dinyatakan dalam persentase. Angka ini dikatakan kasar sebab belum mencerminkan faktorfaktor yang memengaruhi jumlah angkatan kerja, antara lain komposisi umur penduduk dan jenis kelamin. Akan tetapi, angka ini dapat digunakan untuk melakukan perbandingan, dimana peneliti ingin menunjukkan jumlah relatif dalam angkatan kerja tanpa memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhinya. ANGKA AKTIVITAS MENURUT UMUR DAN JENIS KELAMIN (AGE-SEX-SPECIFIC ACTIVITY RATE) Perhitungan ini paling banyak dipakai dalam analisis ketenagakerjaan dan biasa disebut dengan angka partisipasi angkatan kerja (APAK) menurut umur dan jenis kelamin. Angka ini merupakan angak dasar (basic rates) yang dipelajari dan menjadi dasar untuk membuat proyeksi angkatan kerja. APAK selanjutnya dapat dipecah menurut tingkat pendidikan, status perkawinan, tempat tinggal apakah di perkotaan atau pedesaan, dan lain-lain. ANGKA AKTIVITAS MENURUT JENIS KELAMIN (SEX-SPECIFIC ACTIVITY RATE) Angka aktivitas menurut jenis kelamin adalah jika angka aktivitas (atau angka partisipasi) disajikan untuk laki-laki dan untuk perempuan. Dilihat dari perbedaan, biasanya angka aktivitas untuk laki-laki lebih tinggi daripada angka aktivitas untuk perempuan.

SUMBER-SUMBER DATA Garis besar sumber data untuk keperluan analisis ketenagakerjaan yang dipakai di Indonesia adalah Sensus Penduduk (SP), Survei Penduduk Antar Sensus (Supas), Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Dalam memeliti mengenai ketenagakerjaan hendaknya diperhatikan definisi bekerja, referensi waktu yang berbeda dari berbagai sensus, serta dalam metodologi pengambilan sampelnya. Dari pengamatan, sejarah pengumpulan data angkatan kerja di Indonesia terdapat perubahan referensi waktu dan tambahn definisi tentang bekerja. Di bawah ini disajikan kronologi perkembangan konsep dan definisi ketenagakerjaan yang dipakai Biro Pusat Statistik (Catatan: Sekarang Statistik Indonesia). KONSEP DAN DEFINISI BEKERJA MENURUT SENSUS PENDUDUK 1971 Konsep yang digunakan : Labor Force Concept Referensi waktu : Satu minggu sebelum pencacahan, lamanya bekerja paling

sedikit 2 hari dalam seminggu Keterangan dikumpulkan dari : Penduduk usia 10 tahun ke atas Kelompok Kegiatan Penduduk :1. bekerja 2. mencari pekerjaan 3. sekolah 4. mengurus rumah tangga 5. penerima pendapatan 6. lainnya. Kelompok angkata kerja yang digolongkan bekrja adalah sebagai berikut. 1. mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan seuatu pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit dua hari dalam seminggu. 2. Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan tidak melakukan pekerjaan atau bekerja kurang dari dua hari, tetapi mereka adalah: a. Pekerja tetap, pegawai-pegawai pemerintah atau swasta yang sedang tidak masuk kerja karena cuti, sakit, mogok, mangkir, dan sebagainya. b. Petani-petani yang mengusahakan tanah pertanian yang tidak bekerja karena menunggu panenan atau menunggu hujan untuk menggarap sawah dan sebagainya. c. Orang-orang yang bekerja dalam bidang keahlian, seperti dokter dan tukang cukur. Kelompok angkatan kerja yang digolongkan mencari pekerjaan adalah sebagai berikut: 1. mereka yang belum pernah bekerja dan sedang berusaha mencari/mendapatkan pekerjaan. 2. Mereka yang bekerja, tetapi pada saat pencacahan sedang menganggur dan berusaha mendapatkan pekerjaan. 3. Mereka yang dibebastugaskan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. Kelompok penduduk berusia 10 tahun ke atas yang bukan angkatan kerja adalah: 1. bersekolah, yakni yang kegiatannya sedang bersekolah 2. mengurus rumah tangga, yakni mereka yang mengurus rumah tangg tanpa mendapat upah. 3. Penerima pendapatan, yakni mereka yang telah melakukan suatu kegiatan, tetapi memperoleh penghasilan, misalnya dari uang pensiun, bunga simpanan, hasil persewaan, dan sebagainya. 4. Lain-lain, yakni mereka yang hidupnya bergantung pada bantuan dari orang lain karena sesuatu hal, misalnya, karena usia lanjut, lumpuh, dan sebagainya. Apabila seseorang mempunyai lebih dari satu kegiatan, misalnya sekolah sambil mengurusi rumah tangga, maka dalam analisis umumya hanya dimasukkan ke dalam salah satu kegiatan di atas menurut kegiatan utamanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful