(MENUJU DAERAH YANG MEMILIKI DAYA TARIK INVESTASI

)
Oleh: Ir. Usman Yassin, M.Si Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu PENDAHULUAN Sesuai dengan amanat UUD 1945, pemerintah daerah berwenang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pemberian otonomi bertujuan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Otonomi daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem NKRI. Prinsip otonomi seluas-luasnya adalah daerah diberikan kewenangan dan mengatur urusan pemerintahan diluar urusan Pemerintah pusat yang diatur dalam UU. Seiring dengan itu penyelenggaraan otonomi daerah harus selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat (Bukan nafsu dan keingianan sang penguasa saja). Selain itu juga harus menjamin keserasian hubungan antara Daerah dengan Daerah lainnya, artinya mampu membangun kerjasama antar Daerah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan mencegah ketimpangan antar Daerah, agar tidak terjadi backwash effect. Ada dua tujuan utama yang ingin dicapai melalui kebijakan desentralisasi yaitu tujuan politik dan tujuan administratif. Tujuan politik akan memposisikan Pemda sebagai medium pendidikan politik bagi masyarakat di tingkat lokal dan secara agregat akan berkontribusi pada pendidikan politik secara nasional untuk mempercepat terwujudnya civil society. Sedangkan tujuan administratif akan memposisikan Pemda sebagai unit pemerintahan di tingkat lokal yang berfungsi untuk menyediakan pelayanan masyarakat secara efektif, efisien dan ekonomis. Agar Daerah dapat menentukan isi otonomi yang sesuai dengan kebutuhan warganya, maka diperlukan adanya assessment atau penilaian atas isi otonomi Daerah untuk melaksanakan pelayanan kebutuhan dasar (basic services) dan kewenangan untuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Dengan demikian Daerah akan terhindar untuk melakukan urusan-urusan yang kurang relevan dengan kebutuhan warganya dan tidak terperangkap untuk melakukan urusan-urusan atas pertimbangan pendapatan semata. KONDISI UMUM PROVINSI BENGKULU Provinsi Bengkulu terdiri atas 8 kabupaten dan 1 kota, setelah pemekaran terdiri dari 93 kecamatan, 119 Kelurahan dan 1.120 desa, dengan luas wilayah 1.978.870 ha, jumlah penduduk akhir tahun 2005 sebanyak 1.598.177 jiwa, dengan tingkat kepadatan sebesar 81 jiwa /km2. Dalam hal kependudukan dan kemiskinan, diperoleh gambaran bahwa rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk tahun 2000-2005 adalah sebesar 0,46%/tahun dengan sebaran penduduk tidak merata. Kepadatan penduduk tertinggi ada di Kota Bengkulu yang mencapai 1.905 jiwa/km2 dan terendah di Kabupaten Mukomuko, yaitu 32 jiwa/km2. Sedangkan, tingkat pengganguran cenderung tidak berkurang yang pada tahun 2005 mencapai 6,15%. Begitu pula dengan tingkat kemiskinan yang meningkat

RELUNG INOVASI DALAM MEMBANGUN BENGKULU

menjadi 24,72% pada tahun 2006 dibandingkan dengan tahun 2005 yang sebesar 22,39%. Salah satu indikator yang menunjukan struktur perekonomian suatu daerah adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pemahaman terhadap karakteristik dan pola pertumbuhan PDRB akan dapat menjelaskan stuktur perekonomian daerah. Dari hasil kajian oleh Bank Indonesia Bengkulu dan LP2EM FE UNIB diketahui bahwa untuk bidang ekonomi, dalam kurun waktu 2000-2006 Provinsi Bengkulu masih bertumpu pada sektor pertanian yang berkontribusi rata-rata 39,7% terhadap total PDRB. Terbesar kedua adalah kontribusi oleh sektor sektor perdagangan-hotel dan restoran, yaitu 20,16%, sektor jasa-jasa 16,15%. Struktur perekonomian menunjukkan bahwa sektor pertanian masih mendominasi perekonomian Bengkulu dan sebagai Leading Sector diantara sektor-sektor yang lainnya. Sejalan dengan perekonomian yang masih bertumpu pada sektor pertanian, penduduk yang bekerja pada umumnya juga terserap pada usaha pertanian. Hal ini terlihat dari proporsinya yang cukup sigfikan dari tahun ke tahun. Tahun 2000 penduduk yang bekerja di sektor pertanian sebesar 69,20% dan pada tahun 2001 sebesar 69,07% dari hasil penduduk yang bekerja. Menurut perkiraan BPS Pusat, pada tahun 2006 luas area sawah di Provinsi Bengkulu hanya sekitar 108.864 hektar dengan produksi mencapai 408.887 ton. Luas area tersebut hanya 0,92% dari luas area persawahan di Indonesia sedangkan dari angka produksi hanya merupakan 0,75% dari total produksi beras Indonesia yang mencapai 54.663.594 ton. Sehingga baik dilihat dari luasan sawah maupun produksi belum mendominasi angka secara nasional. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa struktur ekonomi Provinsi Bengkulu masih bertopang pada sektor pertanian. Perbankan juga telah menjadikan sektor ini sebagai sektor utama untuk dibiayai melalui penyaluran kredit. Meski menurut luasan lahan, perkebunan lebih mendominasi dibanding tanaman bahan makanan namun secara PDRB justru sebaliknya. Hal ini dikarenakan, untuk Provinsi Bengkulu, nilai tambah yang diberikan hasil tanaman bahan makanan lebih banyak dibanding perkebunan. Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah tetap perlu memberikan prioritas kepada sektor pertanian yang saat ini menjadi penggerak utama perekomian di Provinsi Bengkulu. Terhadap subsektor perkebunan, Pemerintah Daerah diharapkan mampu mendorong terbentuknya industri pengolahan hasil perkebunan agar nilai tambah dari kegiatan ini tidak berpindah ke daerah lain. Subsektor tanaman pangan juga membutuhkan kebijakan yang mendukung peningkatan produktifitas seperti penyediaan bibit unggul, ketersediaan pupuk, irigasi, serta bimbingan dan teknologi pertanian yang tepat guna. Prioritas ini semakin perlu dengan melihat ironi saat ini dimana perekonomian Provinsi Bengkulu yang didominasi oleh pertanian tanaman pangan, namun untuk memenuhi kebutuhan beras harus mendatangkan dari daerah lain. Dari segi UMKM diperoleh gambaran bahwa UMKM dianggap menjadi salah satu sektor yang memainkan peranan penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Dari data statistik, terdapat 141.379 unit usaha di Provinsi Bengkulu, 123.862 unit dikategorikan mikro, 16.671 unit dikategorikan mikro, 632 unit dikategorikan menengah dan hanya 154 unit dikategorikan usaha besar, sisanya tidak teridentifikasi. Pada tahun 2006 sektor UMKM berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 9.378 orang. Diketahui pula bahwa terjadi pergeseran pada struktur ekonomi UMKM, yaitu terjadinya tendensi penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap keseluruhan UMKM. Sedangkan sektor non-pertanian dan aneka usaha sebaliknya mengalami peningkatan. Walapun tendensi perubahan tersebut tergolong masih kecil, namun tetap perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah karena hal tersebut tidak sesuai dengan

perencanaan jangka menengah (RPJMD) maupun yang berjangka panjang (RPJPD) yang menjadikan sektor pertanian sebagai leading sector. PDRB per kapita dapat digunakan sebagai indikator untuk menggambarkan tingkat kemakmuran penduduk suatu wilayah atau daerah. Pendapatan perkapita di Bengkulu dibandingkan secara nasional masih tergolong rendah, hal ini juga dipengaruhi pertumbuhan penduduk Bengkulu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. PDRB perkapita Propinsi Bengkulu tahun 2006 hanya sebesar Rp 7,27 juta/tahun, jauh dibandingkan PDB perkapita Indonesia sebesar Rp15,24 juta/tahun. Hal ini menggambarkan bahwa Provinsi Bengkulu masih termasuk daerah tertinggal atau daerah miskin. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa baik dari sisi kebijakan ekonomi, kebijakan ketenagakerjaan dan bidang UMKM persepsi masyarakat bermuara pada dua masalah utama yaitu kemiskinan yang dan tingkat penggangguran. Berdasarkan kajian itu, maka kebijakan pembangunan ekonomi Provinsi Bengkulu ke depan disarankan agar diprioritaskan pada program-program dan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada peningkatan pendapatan dan pengurangan pengangguran. Peningkatan pendapatan masyarakat diprioritaskan pada komunitas masyarakat miskin dan pengangguran. Salah satu kebijakan jangka pendek yang dapat diambil oleh PEMDA yaitu melalui kebijakan fiskal dengan intervensi pengalokasian keuangan daerah. Karena dalam era otonomi, daerah mempunyai keleluasaan untuk mengambil kebijakan fiskalnya yang berpihak kepada komunitas masyarakat miskin serta kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan pengurangan penganguran baik melalui pendidikan dan latihan untuk meningkatkan kualitas SDM penganggur maupun meningkatkan jiwa kewirausahaan yang diikuti oleh penyertaan modal pemerintah serta pendampingan yang terus-menerus. Provinsi Bengkulu mengalami penurunan nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dari 68,4 point pada tahun 1996 menjadi 59,3 poin pada tahun 1999, 66.2 pada tahun pada tahun 2002 (Mubyarto, 2005). IPM Provinsi Bengkulu berada pada pada peringkat 15 tahun 2002. TANTANGAN DAN PELUANG SUBSEKTOR PERKEBUNAN UNTUK MENINGKATKAN PDRB PROVINSI BENGKULU Secara sekilas orang akan beranggapan bahwa dalam hal perekonomian Provinsi Bengkulu disumbang oleh sektor Pertanian subsektor Perkebunan, sebagaimana secara umum terjadi di Pulau Sumatera. Namun anggapan tersebut ternyata kurang tepat, karena di Provinsi Bengkulu sektor yang dominan dalam pembentukan PDRB bukan subsektor perkebunan tetapi subsektor tanaman pangan. Masih rendahnya sumbangan subsektor perkebunan dalam pembentukan PDRB di Provinsi Bengkulu ditengarai disebabkan masih belum banyaknya aktivitas ekonomi lanjutan yang memanfaatkan hasil perkebunan sehingga nilai tambah dari aktivitas subsektor ini relatif kecil. Pabrik pengolahan minyak kelapa sawit misalnya, jumlah dan kapasitas mesinnya masih terbatas dibandingkan dengan hasil produksi petani. Keterbatasan ini selanjutnya berdampak pada nilai jual di tingkat petani menjadi rendah dan akhirnya pendapatan petani juga rendah. Contoh lain kopi yang banyak dibudidayakan di Provinsi Bengkulu, namun belum ada eksportir kopi di Bengkulu, sehingga ekspor dilakukan oleh daerah lain seperti Lampung dan Padang. Rendahnya produktivitas hasil perkebunan juga masih menjadi masalah dalam subsektor perkebunan. Rendahnya produktivitas ini disebabkan beberapa hal, untuk pohon karet misalnya banyak tanaman produksi yang telah berumur. Cara penyadapan karet yang salah, juga dapat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman karet.

Sedangkan untuk komoditas kelapa sawit, banyak tanaman petani berasal dari bibit asalan/bibit palsu sehingga hasil tandannya tidak optimal dan nilai jualnya juga kurang bagus. Di samping kendala di atas, ada beberapa kendala lainnya yang berpengaruh terhadap perkembangan industri perkebunan khususnya dalam skala besar, seperti; 1. Keterbatasan infrastruktur perhubungan Infrastruktur perhubungan terutama jalan dari/ke sentra produksi banyak yang rusak atau bahkan tidak beraspal. Sedangkan, pelabuhan laut Pulau Baai hingga kini masih terus mengalami pendangkalan. Untuk komoditas seperti kelapa sawit apalagi bila jauh dari pabrik pengolahan, lamanya perjalanan ke tempat pengolahan akan berdampak pada kualitas tandan buah segar. 2. Topografi tanah. Topografi tanah di Bengkulu bergelombang sehingga cukup sulit menyediakan lahan datar dengan luas lebih dari 5.000 ha. Bagi investor besar kondisi tanah tersebut kurang menguntungkan untuk perkebunan karena menimbulkan biaya ekstra untuk perawatan tanaman maupun pemanenan hasilnya. 3. Pelayanan Perizinan dari Pemerintah Daerah. Pelayanan perizinan dari instansi terkait di Pemerintah Daerah perlu dilakukan terobosan, misalnya pembentukan unit pelayanan satu atap. Dengan cara ini perizinan dapat lebih mudah, efisien baik dari segi biaya maupun waktu serta memberikan kepastian kepada calon investor. Upaya perbaikan pelayanan ini perlu dilakukan karena bila tidak, investor akan berpaling ke daerah lain yang memberikan pelayanan yang lebih baik. Beberapa kendala di atas bukan berarti pengembangan subsektor perkebunan sulit dilakukan di Bengkulu. Justru ini merupakan tantangan untuk mengembangkan potensi subsektor tanaman perkebunan masih terbuka lebar. Dari luas wilayah Propinsi Bengkulu 1.978.870 Ha, potensi untuk areal lahan perkebunan masih seluas lebih kurang 818.784,7 Ha. Sedangkan, lahan yang diusahakan oleh subsektor perkebunan baru seluas lebih kurang 344.360,3 Ha atau baru 42% yang dimanfaatkan. Mencermati harga komoditas utama perkebunan saat ini menunjukkan tren yang semakin membaik. Apalagi harga minyak bumi yang semakin mahal saat ini mendorong untuk pengembangan energi alternatif biodiesel dengan memanfaatkan minyak kelapa sawit. Kecenderungan ini tentunya membawa optimisme peningkatan harga minyak kelapa sawit. Demikian pula dengan harga karet yang dalam dua tahun terakhir juga meningkat secara signifikan, seiring dengan peningkatan harga karet sintetis dari minyak bumi. Konsekuensi peningkatan harga karet dan minyak sawit berimbas pada nilai ekspor kedua komoditas tersebut di Bengkulu. Nilai ekspor komoditas karet tahun 2005 sebesar 57.215 ribu USD, sedangkan tahun 2006 (sampai dengan Triwulan III) telah mencapai 67.215 ribu USD. Untuk minyak sawit tahun 2005 nilai ekspornya mencapai 17.591 ribu USD dan sampai dengan Triwulan III 2006 nilai ekspornya telah mencapai 36.739 ribu USD. Kendala-kendala pengembangan subsektor perkebunan seperti keterbatasan infrastruktur diharapkan dapat diatasi dengan pelaksanaan program pembangunan yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sedangkan kendala alam seperti topografi tanah dapat dilakukan kajian oleh instansi terkait atau Perguruan Tinggi di Bengkulu, karena pada dasarnya tanah di Provinsi ini tergolong subur. Pelaksanaan program revitalisasi pertanian pada 2007 yang dicanangkan Pemerintah Daerah diharapkan memperbaiki produktivitas subsektor perkebunan dengan adanya peremajaan tanaman produksi. Dengan demikian diharapkan subsektor perkebunan ini terus mendapatkan perhatian dari pihak/instansi terkait. Potensi yang ada pada subsektor ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat laju perekonomian di Provinsi Bengkulu sehingga dapat mengejar ketertinggalannya dengan daerah lain di Indonesia

Meningkatkan Daya Tarik Investasi Dalam konteks pembangunan regional, investasi memegang peran penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Investasi atau penanaman modal, baik PMDN maupun PMA membutuhkan iklim yang sehat dan kemudahan serta kejelasan prosedur penanaman modal. Iklim investasi juga dipengaruhi kondisi makroekonomi suatu negara atau daerah. Investasi akan masuk ke suatu daerah tergantung dari daya tarik daerah tersebut, dan adanya iklim investasi yang kondusif. Keberhasilan daerah untuk meningkatkan daya tarik terhadap investasi salah satunya tergantung dari kemampuan daerah dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan investasi dan dunia usaha serta peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat. Kemampuan daerah untuk menentukan faktor-faktor yang dapat digunakan sebagai ukuran daya saing daerah relatif terhadap daerah lainnya juga sangat penting dalam upaya meningkatkan daya tariknya dan memenangkan persaingan. Hal lain yang juga penting untuk diperhatikan dalam menarik investor, selain makroekonomi yang kondusif juga adanya pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur dalam artian luas. Hal ini menuntut perubahan orientasi peran pemerintah, yang semula lebih bersifat sebagai regulator, harus diubah menjadi supervisor, sehingga peran swasta dalam perekonomian dapat berkembang optimal. Berdasarkan identifikasi daya tarik suatu daerah Kabupaten/Kota terhadap investasi dengan pemahaman studi literatur, opini para pelaku usaha, masukan para ahli dan hasil riset KPPOD (Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah, 2003), menemukan variabel-variabel yang mempengaruhi daya tarik investasi kedalam 5 faktor, yaitu: (1) Kelembagaan, (2) Sosial Politik, (3) Perekonomian Daerah, (4)Tenaga Kerja dan Produktivitas, (5) Infrastruktur Fisik. Untuk masing-masing faktor tersebut memiliki variabel daya tarik investasi seperti terlihat pada Diagram 1. di bawah ini.

Gambar 1. Hirarki Faktor dan Variabel Daya Tarik Investasi Di Daerah KPPOD (2003) menyatakan bahwa Investasi secara umum dipengaruhi oleh akumulasi faktor, variabel dan indikator yang terdapat pada suatu daerah. Ditemukan ada lima faktor pembentuk daya tarik investasi suatu daerah, yaitu: (1) Kelembagaan dengan bobot 31%, (2) Sosial Politik, 26%, (3) Ekonomi Daerah, 17%, (4) Tenaga Kerja & Produktivitas, 13% dan (5) Infrastruktur Fisik, 13%

Dari faktor yang mempengaruhi daya tarik investasi daerah tersebut tampak bahwa kondisi Kelembagaan dan Sosial Politik suatu daerah sangat berpengaruh terhadap daya tarik investasinya. Faktor Kelembagaan dipengaruhi oleh empat 4 variabel, yakni (1) Aparatur dan Pelayanan, (2) Kepastian Hukum, (3) Keuangan Daerah, dan (4) Peraturan Daerah (Perda). Bobot dari keempat variabel tersebut adalah: (1) Kepastian Hukum dengan bobot 39%, (2) Perda 25%, (3) Aparatur dan Pelayanan 22%, (4) Keuangan Daerah sebesar 14%.

Bila dilihat lebih dalam tiap-tiap indikator, bobot terbesar yakni indikator Perda (juga merupakan variabel) yakni 25%, diikuti indikator Penegakan Hukum 17%, dan seterusnya (Gambar 4). Faktor Sosial Politik memiliki bobot sebesar 26%, dengan demikian ini cukup banyak berpengaruh terhadap daya tarik investasi pada suatu daerah secara umum. Faktor Sosial Politik terbentuk dari akumulasi 3 variabel (Keamanan, Sosial Politik, dan Budaya), yang terbagi lagi dalam 11 indikator. Bobot dari 3 variabel pada faktor Sosial Politik ini adalah: (1) Keamanan dengan bobot terbesar 60%, (2) Sosial Politik (27%), dan (3) Budaya (13%) (Gambar 5).

Melihat struktur bobot variabel dan indikator pada faktor Sosial Politik ini, dapat dipastikan bahwa peringkat Kabupaten berdasarkan faktor Sosial Politik sangat dipengaruhi oleh kondisi keamanan daerah yang bersangkutan. Berdasarkan faktor Sosial Politik, dari 156 kabupaten yang diperingkat, Kabupaten Bengkulu Selatan berada pada peringkat 112. Sedangkan Kota Bengkulu berada peringkat peringkat 32 dari 44 Kota Faktor Ekonomi Daerah memberikan kontribusi terhadap daya tarik investasi sebesar 17%. Faktor Ekonomi Daerah terdiri dari dua variabel, yakni: (1) Variabel Potensi Ekonomi dengan bobot 71%, dan Variabel Struktur Ekonomi dengan bobot 29%.

Variabel Potensi Ekonomi terdiri dari 3 indikator yaitu; PDRB Perkapita, Pertumbuhan Ekonomi (Pertumbuhan PDRB), dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk variabel Struktur Ekonomi Daerah, juga terdiri dari 3 indikator yakni, Nilai Tambah Sektor Primer, Nilai Tambah Sektor Sekunder, dan Nilai Tambah Sektor Tersier. Dari 6 Indikator pembentuk faktor Ekonomi Daerah, indikator PDRB Perkapita mempunyai bobot paling besar yakni sebesar 29%, disusul Perumbuhan Ekonomi 28%, IPM 14%, Nilai Tambah Primer 13%, Sekunder 9%, dan terakhir Nilai Tambah Tersier sebesar 7%. Dilihat dari bobot variabel dan indikator-indikator pada faktor Ekonomi Daerah ini, bahwa variabel Potensi Ekonomi dan indikator-indikatornya mempunyai kontribusi terbesar pada daya tarik daerah terhadap investasi berdasarkan faktor Ekonomi Daerah. Faktor Tenaga Kerja & Produktivitas, terbentuk dari 3 variabel yakni Produktivitas TK, Biaya Tenaga Kerja, dan Ketersediaan TK. Bobot masing-masing variabel adalah: (1) 35% untuk variabel Ketersediaan TK, (2) 24% untuk Produktivitas TK, dan (3) 41% untuk Biaya TK

Variabel Produktivitas TK yang juga sebagai indikator, sedangkan variabel Biaya TK terdiri dari dua indikator, yakni indikator Biaya TK sesuai aturan formal (UMP/UMK), dan indikator Biaya Tenaga Aktual yaitu upah total tenaga kerja yang berlaku dipasar tenaga kerja di suatu daerah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Sementara variabel

Ketersediaan Tenaga Kerja terdiri dari 3 indikator yakni, indikator Pencari Kerja, Tenaga Kerja Berpengalaman berdasarkan Pendidikan Minimal SLTP, dan indikator Tenaga Kerja Usia Produktif. Variabel dan indikator Produktivitas Tenaga Kerja merupakan variabel dengan bobot terbesar yang banyak menentukan daya tarik investasi daerah berdasarkan Faktor Tenaga Kerja & Produktivitas. Faktor Infrastruktur Fisik terbentuk dari 10 indikator, dikelompokkan dalam dua variabel yaitu: Ketersediaan Infrastruktur Fisik dan Kualitas Infrastruktur Fisik. Variable Ketersediaan Infrastruktur Fisik dan Kualitas Infrastruktur Fisik mempunyai bobot yang hampir berimbang yakni 56% untuk Ketersediaan dan 44% untuk Kualitas. Sementara jika dilihat dari bobot masing-masing indikator, Kualitas Sambungan Telpon mempunyai bobot paling besar yakni 15%, Ketersediaan Listrik 14%, Ketersediaan Jaringan Telon 13%, Ketersediaan Jalan Darat, Akses ke Pelabuhan Laut, dan Kualitas Sambungan Listrik masing-masing 11%, Kualitas Jalan, Kualitas Pelabuhan Laut masingmasing 7%, dan bobot terkecil adalah Kualitas Pelabuhan Udaara 6%, dan Ketersediaan/Akses ke Pelabuhan Udara 5% (Diagram 7).

Faktor Infrastruktur Fisik, sangat dibutuhkan untuk kemudahan akses terhadap infrastruktur utama seperti pelabuhan laut, pelabuhan udara, disamping juga ditunjang oleh kualtias dari infrastruktur yang bersangkutan. Secara geograsfis (geo-ekonomis) daerah-daerah dengan faktor Infrastruktur Fisik yang baik, dan berada di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi atau sebagai daerah penyangga kota-kota besar, akan menjadi daya tarik tersendiri untuk menjadi tujuan menginvestasikan dananya. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, yang telah memiliki infrastruktur secara lengkap dan kualitasnya juga baik, mendatangkan efek aglomerasi (agglomeration effect) bagi daerah-daerah di sekitarnya. Dengan demikian daerah-daerah di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi tersebut dapat memperoleh share infrastruktur yang ada di daerah pusat pertumbuhan ekonomi. Selain daerah berada di dekat pusat pertumbuhan, daerah yang berada pada alur distribusi juga dapat menjadi daerah tujuan investasi karena infrastruktur fisik yang relatif baik. Sebaliknya daerah dimana faktor infrastruktur fisik, secara geo-ekonomis berada jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi yang memiliki kelengkapan dan kualitas infrastruktur akan kurang dimintai oleh investor. Daerah-daerah seperti ini biasanya berada pada daerah cenderung terpencil, berada jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi, dan tidak dilintasi oleh jalur distribusi/perdagangan antar daerah. Akibatnya daerahdaerah tersebut menjadi kurang berkembang. Otonomi daerah memberikan peluang kepada pemda setempat untuk menjalin kerja sama dengan daerah sekitarnya serta untuk mengalokasikan lebih besar dana APBD untuk pembangunan infrastruktur fisik. Dengan demikian daerah-daerah ini dapat

memperoleh akses yang lebih baik ke pusat pertumbuhan ekonomi, atau bahkan membentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru. Permasalahan Investasi Dari Penjelasan di atas menunjukkan bahwa daya tarik investasi sangat tergantung pada kelembagaan, terutama berkaitan dengan biaya-biaya tidak resmi, pelayanan oleh birokrasi kepada para pelaku usaha, dan peraturan daerah. Hasil penelitian KPPOD (2003) terhadap pelaku usaha cukup terbebani dengan berbagai pungutan tidak resmi. Pungutan tidak resmi bisa dikelompokkan menjadi pungutan tidak resmi di lingkungan dan di luar birokrasi. Pungutan tidak resmi di lingkungan birokrasi dilakukan oleh aparat pemerintah daerah, dan dalam proses peradilan. Pungutan tidak resmi di luar birokrasi dilakukan di lingkungan mereka melakukan kegiatan usaha yang biasa dilakukan oleh aparat keamanan, kelompok masyarakat sekitar, kelompok preman dan sebagainya. Dari berbagai pungutan tersebut bila diakumulasikan besarnya pungutan tidak resmi yang harus dikeluarkan pengusaha berkisar 2 - 10% dari biaya produksi. Pelayanan Birokrasi Sektor-sektor usaha yang beroperasi di suatu daerah atau negara sangat wajar berhadapan dengan birokrasi. Hal ini disadari karena pelaku usaha yang bertanggung jawab tentu membutuhkan legalisasi dari otoritas pemerintah setempat. Konsekwensinnya adalah adanya kewajiban, seperti pengurusan perizinan, maupun kontribusi bagi pemerintah setempat seperti pajak, retribusi dan lain sebagainya. Pelaku usaha menganggap hal tersebut tidak memberatkan dengan catatan mereka juga mendapatkan hak serta pelayanan yang baik, seimbang dengan kewajiban yang mereka jalankan. Dalam prakteknya, mereka seringkali dihadapkan pada kualitas pelayanan yang tidak sesuai dengan harapan, bahkan menambah beban bagi kegiatan usaha mereka. Pelayanan birokrasi saat pengurusan perizinan, sertifikasi, pengawasan dan keperluan lainnya, sering selain harus membayar sebagaimana ketentuan resmi, juga masih harus membayar biaya-biaya tidak resmi. • Peraturan Daerah Pada era otonomi daerah ini peraturan daerah merupakan regulasi di tingkat Kabupaten/Kota yang dampaknya langsung pada pelaku usaha. Pelaku usaha di daerah menilai perda-perda atau kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemda dalam pelaksanaan otonomi daerah dinilai cukup mendukung atau sekurangnya tidak mengganggu/ menghambat kegiatan usaha mereka. Tetapi masih ada 20,2% pelaku usaha yang menyatakan bahwa perda-perda yang di keluarkan kurang mendukung kegiatan usaha mereka. Hal ini memperlihatkan bahwa perda-perda yang dibuat justru kontraproduktif terhadap kegiatan dunia usaha. • Permasalahan Faktor Sosial Politik Faktor Sosial Politik juga sangat mempengaruhi daya tarik investasi suatu daerah maupun secara nasional. Persoalan-persoalan yang ditemukan antara lain mengenai: •

a. Pelibatan Pelaku Usaha dalam Perumusan Kebijakan Daerah Kualitas kebijakan daerah melalui PERDA tentunya berkaitan erat dengan proses perumusan kebijakan tersebut. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi kualitas kebijakan yang dihasilkan yaitu dengan melibatkan stakeholders dalam proses perumusannya, terutama mereka yang berhubungan atau yang terkena dampak dari kebijakan tersebut. Banyak perda yang kurang akomodatif terhadap pelaku usaha. Proses perumusan kebijakan di berbagai daerah selama ini hanya melibatkan para

pelaku usaha yang tergabung dalam asosiasi, atau bahkan hanya para pengurusnya saja. Bentuknyapun hanya pasif sekedar formalitas, atau sekedar sosialisasi tanpa dapat mempengaruhi bentuk kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah. Dengan demikian stakeholder perlu dilibatkan pada perumusan kebijakan daerah agar lebih dapat mewakili masing-masing pihak. b. Mekanisme Pengawasan Kebijakan Pemda Oleh Masyarakat Dilihat dari sisi mekanisme pengawasan kebijakan pemda oleh masyarakat, pelaku usaha menilai pengawasan kebijakan pemda masih dinilai kurang baik bahkan tidak ada. Hal ini mempertegas bahwa pemerintah daerah juga kurang akomodatif terhadap pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan yang telah mereka tetapkan. c. Keamanan Secara umum kondisi keamanan di Indonesia relatif aman untuk kegiatan usaha. Walaupun masih ada investor asing yang menilai kondisi kemanan di Indonesia tidak kondusif untuk kegiatan usaha. d. Keterbukaan Masyarakat Sebagian besar pelaku usaha menilai sikap masyarakat terbuka terhadap kegiatan usaha namun ada kecenderungan bahwa di daerah kurang terbuka terhadap kegiatan usaha dari luar daerahnya, kecuali pada pelaku usaha lokal. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung kurang menerima investor yang berasal dari luar daerahnya. Masyarakat lebih suka jika kegiatan usaha dilakukan oleh para pelaku usaha yang berasal dari daerahnya sendiri. Jika ada orang dari daerah yang mampu melakukan kegiatan usaha, mengelola potensi daerahnya, mereka akan lebih terbuka / lebih suka dibandingkan jika dilakukan oleh orang dari daerah lain. e. Permasalahan yang Terkait denga Ekonomi Daerah Peran lembaga keuangan bagi kegiatan usaha sangat penting, disamping sebagai lembaga intermediasi – menarik dana dan menyalurkan dana dari masyarakan, termasuk didalamnya untuk penyediaan kredit permodalan bagi kegiatan usaha – lembaga keuangan seperti bank juga berfungsi sebagai penyaluran dana untuk kepentingan pembayaran antar dua pihak yang terkait kewajiban. Dari penilaian para pelaku usaha di daerah diketahui bahwa ketersediaan bank yang ada dinilai relatif cukup baik. f. Permasalahan Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan satu faktor penting dalam kegiatan usaha, karena merupakan penggerak utama kegiatan usaha. Rendahnya kualitas sumber daya manusia menyebabkan rendahnya kualitas tenaga kerja, dan pada akhirnya kualitas perekonomian, dan sosial budaya bangsa menjadi rendah. Sebagai alat ukur kualitas angkatan kerja tidak hanya cukup dilihat dari tingkat pendidikan formal saja. Hal tersebut terutama didasarkan pada alasan bahwa untuk bekerja, terutama di sektor non formal, sering tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, melainkan pendidikan non formal, seperti keterampilan dan pengalaman kerja. Dengan demikian idealnya harus dilihat juga pendidikan non formal dari angkatan kerja yang ada. g. Kualitas Tenaga Kerja Dari penilaian para pelaku usaha bahwa tenaga kerja secara rata-rata dikatakan mempunyai kualitas cukup untuk memasuki lapangan kerja yang tersedia. Ada perbedaan persepsi antara pelaku usahadengan sedikit karyawan dibandingkan dengan yang mempekerjakan banyak karyawan dalam menilai kualitas tenaga kerja. Para pelaku

usaha yang memiliki skala usaha besar dan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak, cenderung mempunyai penilaian kurang baik terhadap kualitas tenaga kerja yang ada, dibandingkan dengan yang memiliki skala usaha kecil dan tenaga kerja sedikit. h. Produktivitas Tenaga Kerja Kebutuhan dunia usaha terhadap tenaga kerja tidak hanya dilihat dari kualitas yang tercermin dari keterampilan dan pendidikan yang dimiliki oleh tenaga kerja, melainkan juga dilihat dari sisi produktivitas tenaga kerja. Produktivitas ini bisa diukur dari kemampuan seseorang dalam menghasilkan suatu output tertentu dalam satu satuan waktu tertentu. Ada indikasi bahwa tenaga kerja yang ada di berbagai daerah sekarang ini mendapat penilaian kurang produktif untuk perusahaan berskala besar dengan jumlah tenga kerja besar. Tenaga kerja kita masih kurang kompetitif / kurang siap untuk memasuki lapangan kerja yang full skill. ♦ Permasalahan Infrastuktur Fisik 1. Jalan Darat Berdasarkan hasil survei, menurut para pelaku usaha ketersediaan jalan darat di daerah saat ini dikatakan cukup memadai. Namun demikian masih ada yang menilai ketersedian jalan darat kurang bahkan sangat kurang memadai. Apabila dilihat secara terpisah antara daerah kota dan daerah kabupaten terlihat bahwa daerah kota memiliki ketersediaan dan kualitas jalan yang lebih baik dibandingkan dengan daerah kabupaten. Jalan dikota, 92,32% adalah jalan beraspal, sementara untuk kabupaten jalan yang beraspal hanya 66,94%. Dilihat dari kondisi permukaan atau kualitas jalan, daerah kota juga jauh lebih baik dibandingkan dengan daerah kabupaten. Temuan di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan dan kualitas jalan di daerah kota dan kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi infrastruktur fisik khususnya jalan darat sebagai sarana transportasi utama perlu mendapat perhatian yang serius. Jika kondisi ini tidak segera dibenahi tentunya akan menghambat kegiatan usaha, dan pada gilirannya akan menurunkan daya tarik terhadap investasi. Pemerintah daerah, khususnya daerah yang memiliki ketersediaan jalan kurang baik, perlu untuk mengalokasikan dana dalam APBD untuk menambah jumlah jalan, serta untuk pemeliharaan jalan yang sudah ada. 2. Listrik Hasil penelitiaan KPPOD (2003) melihat sebagian besar pelaku usaha menilai suplay listrik saat ini memadai (41,3% menilai memadai, 8,9% sangat memadai). Sementara yang menilai cukup memadai sebesar 32,4%. Sementara yang merasa bahwa suplay listrik kurang hingga sangat kurang memadai sebesar 20,7%. Dilihat dari kualitas sambungan kistrik dilihat sebagian besar pelaku usaha juga menilai baik (39,2%) dan sangat baik (6,7%). Sementara yang menilai sedang sebesar 32,9%, dan masih ada 21,2% pelaku usaha yang menilai kualitas suplay listrik kurang baik dan sangat tidak baik. Kualitas suplay listrik yang kurang baik ini ditunjukkan dengan tegangan listrik yang tidak stabil dan bahkan sering terjadi pemadaman secara bergiliran. Kualitas sambungan listrik yang kurang baik ini, banyak diantara para pelaku usaha yang harus menyediakan sumber pembangkit listrik sendiri seperti generator. Namun demikian sebagian pelaku usaha mengaku bahwa untuk pembangkit listrik yang disediakan sendiri ini mereka juga harus membayar pajak kepada daerah berupa pajak penerangan jalan. 3. Telpon Diantara jenis-jenis infrastruktur pendukung kegiatan usaha, ketersediaan dan kualitas sambungan telpon merupakan infrastruktur yang paling banyak dikeluhkan oleh

para pelaku usaha. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak daerah-daerah yang belum terjangkau oleh sarana komunikasi ini. RELUNG INOVASI Relung adalah celah dimana suatu kondisi spesifik yang memungkin suatu terobosan kebijakan dilakukan dari dua atau lebih keadaan permasalahan yang tidak menguntungkan, misalnya jika ada daerah di sekitar Provinsi Bengkulu telah lebih dahulu mengembangan konsentrasi pembangunan pada sektor tertentu dan semua faktornya mendukung, maka semestinya Pembangunan Provinsi Bengkulu harus membuat terobosan baru yang tidak menjiplak pembangunan di daerah sekitarnya. Hal ini akan meningkatkan daya saing, keunggulan kompetitif dan komparatif wilayah jika kita tidak ikut-ikutan mengembangkan seperti daerah sekitar kita. Persoalanya adalah diperlukan kemampuan kita untuk membidik sektor apa saja yang ada pada ranah relung inovasi tersebut? Dari hasil kajian dan penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa basis perekonomian kita hampir 40% (PDRB) bertumpu pada sektor pertanian, maka sektor ini harus menjadi perhatian utama kita. Relung inovasi pembangunan yang mungkin adalah membangun sektor pariwisata, hal ini dengan pertimbangan ptonensi yang kita miliki baik potensi sumber daya alam, peningalan sejarah maupun keragaman budaya. Persoalannya adalah bahwa pembangunan pariwisata bukan berada pada ruang hampa, karena sektor pariwisata sangat terkait dengan banyak elemen dan sektor-sektor yang lain. Dari banyak kajian menunjukan bahwa tren setter pariwisata di dunia saat ini mengharah pada sektor ekowisata. Dari studi Fennell (2001) terhadap difinisi ekowisata menunjukkan bahwa dari 85 difinisi yang dibuat para ahli sejak 1970 hingga 1999 menunjukkan bahwa secara konten paling tidak kita harus memperhatikan kata kunci dibawah ini: 1. Tempat dimana ecotourism diselenggarakan ( 53, 62,4 % ) 2. Konservasi ( 52, 61,2 % ) 3. Budaya ( 43, 50,6 % ) 4. Manfaat untuk masyarakat setempat (41, 48,2 % ) 5. Pendidikan ( 35, 41,2 % ) 6. Keberlanjutan (22, 25,9 % ) 7. Dampak (21, 25 % ) Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata harus mempertimbangkan ke tujuh kata kunci tersebut. Dalam konteks pembanguan pariwisata di Provinsi Bengkulu saat ini apakah ke tujuh elemen itu diperhatikan??? Sebagai suatu sistem maka pembangunan pariwisata tidak boleh hanya fokus pada satu elemen saja tanpa memperhatikan elemen yang lain. Paling kita harus memperhatikan tiga pilar utama pembangunan pariwisata secara berkelanjutan yaitu lingkungan, ekonomi dan sosial budaya (Gambar 8). Sedangkan ketiga pilar tersebut dari kajian para pakar paling tidak dibutuhkan 6 komponen utama pariwisata yang harus dibutuhkan, yaitu: (1) kelembagaan, (2) transportasi, (3) infrastruktur, (4) fasilitas dan pelayanan, (5) atraksi dan aktivitas, (6) akomodasi.

Gambar 8. Pembangunan Pariwisata dengan 3 Pilar Utama

Gambar 9. Enam Komponen Utama Pariwisata Faktor Aktor Tujuan Alternatif Model

Gambar 10. Faktor, aktor, tujuan dan alternatif pengembangan pariwisata (contoh kasus pengembangan Wisata di Danau Dendam tak Sudah; Usman Yasin, 2007)

Dari kajian yang dilakukan oleh Usman Yasin (2007) menunjukkan bahwa dari enam komponen utama pembangunan pariwisata yang paling penting kompen kelembagaan/institusi (37.6%), Atraksi dan Aktivitas (21.2%), infrastruktur (15.3%), fasilitas dan pelayanan (11.6%), Akomodasi (9%) dan transportasi (5.3%). Pembangunan pariwisata bukan merupakan tugas pemerintah saja, tetapi harus melibatkan semua stakeholder yang menjadi penentu berhasil tidaknya program pembangunan tersebut. Untuk itu sebagai sebuah sistem maka semua elemen, variabel dan sektor harus terorganisir dan saling terkait untuk mencapai tujuan dari pembangunan pariwisata tersebut yaitu untuk meningkatkan kesejehteraan masyarakat. KESIMPULAN Daya tarik investasi suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh potensi ekonomi berupa “anugerah alam” yang dimilikinya. Daya tarik investasi juga dipengaruhi oleh pelayanan birokrasi, keamanan, sosial budaya, tenaga kerja, dan sebagainya. Kelemahan di satu faktor, akan mempengaruhi daya tarik investasi secara keseluruhan. Proses perumusan kebijakan ternyata kurang melibatkan stakeholders-nya yakni pelaku usaha. Hal tersebut barangkali yang menjadi salah satu penyebab munculnya perda-perda yang kontraproduktif terhadap kegiatan usaha di daerah. Pelayanan birokrasi yang dilakukan oleh aparat pemda dinilai oleh sebagian besar pelaku usaha masih kurang baik. Dalam melakukan kegiatan usaha, pelaku usaha harus mengeluarkan total biaya tambahan dari berbagai jenis pungutan tidak resmi rata-rata sebesar 2%-10% dari total biaya produksi kegiatan usaha mereka. Faktor geo-ekonomis sangat berpengaruh terhadap ketersediaan dan kualitas Infrastruktur Fisik suatu daerah. Daerah-daerah di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi atau penyangga kota-kota besar, mendapatkan agglomeration effect dari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, yang telah memiliki infrastruktur secara lengkap dan kualitasnya juga baik. Sebaliknya daerah-daerah secara geo-ekonomis berada jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi kurang mendapat agglomeration effect (share infrastruktur). Pembangunan pariwisata dapat menjadi relung inovasi dalam melakukan terobosan pembangunan di Provinsi Bengkulu, asal saja sebagai sebuah sistem maka pembangunan pariwisata harus mempertimbangkan setiap elemen, variabel, sektor, faktor dan aktor mulai dari perencanaan, proses pembangunan dan evaluasi yang terarah dan teroganisir.