P. 1
Psikologi Perilaku Seksual Rah Madya - 08 Orientasi Seksual

Psikologi Perilaku Seksual Rah Madya - 08 Orientasi Seksual

|Views: 265|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Dwiki Ahsana Ramadhan on Jun 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2015

pdf

text

original

Mata Kuliah: Psikologi Seksual Kuliah ke: 9 Materi: Orientasi Seksual Dosen: Rah Madya Handaya,M.

Psi

Orientasi Seksual

Nevid, Rathus dan Rathus (1995) mendefinisikan orientasi seksual sebagai berikut: “Sexual orientation is the directionality of one’s sexual interests – toward members of the same gender, the opposite gender, or both genders”. Papalia (2004) mendefinisikan orientasi seksual sebagai: “Focus of consistent sexual, romantic, and affectionate interest, either heterosexual, homosexual, or bisexual”. Dari kedua definisi di atas terlihat bahwa orientasi seksual adalah arah ketertarikan seksual, romantis dan kasih sayang terhadap jenis kelamin yang sama (homoseksual), berbeda (heteroseksual) atau keduanya (biseksual). Menurut Nevid, Rathus dan Rathus (1995), orientasi heteroseksual adalah ketertarikan secara erotis dan kecenderungan untuk membina hubungan secara romantis dengan orang yang berbeda jenis kelamin dengan dirinya. Orientasi homoseksual adalah ketertarikan secara erotis dan kecenderungan untuk membina hubungan romantis dengan orang yang jenis kelaminnya sama. Sedangkan orientasi biseksual adalah ketertarikan secara erotis dan kecenderungan untuk membina hubungan romantis dengan orang yang jenis kelaminnya berbeda dan juga dengan orang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

1

A Continuum of Sexual Orientations The Kinsey Scale Kinsey membagi kontinum orientasi seksual menjadi 7 titik:

0

1

2

3

4

5

6

Exclusively heterosexual with no homosexual

Predominately heterosexual, but more than incidentally homosexual

Predominately homosexual, but more than incidentally heterosexual

Exclusively homosexual with no heterosexual

Predominately heterosexual, only incidentally homosexual

Equally homosexual and heterosexual

Predominately homosexual, but incidentally heterosexual

Bisexuality Mayoritas dari orang yang memiliki orientasi biseksual awalnya memiliki hubungan heteroseksual sebelum mereka memasukkan unsur homoseksualitas dalam hidup mereka. Tipe Biseksualitas Terdapat beberapa tipe biseksual: • Bisexuality as a real orientation Orientasi biseksual dimiliki sejak lahir dan rasa ketertarikan terhadap ke dua jenis kelamin berlangsung sampai masa dewasa. Orang yang memiliki orientasi ini kemungkinan mempunyai lebih dari satu pasangan pada saat yang bersamaan Beberapa riset menyatakan bahwa wanita cenderung lebih mudah untuk berganti perilaku seksualnya (straight, bisexual, lesbian) dibandingkan pria.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

2

Bisexuality as a transitory orientation Perilaku biseksual ini bersifat sementara yang dilakukan oleh orang heteroseksual atau homoseksual, dan mereka akan kembali kepada perilaku seksual sesuai dengan orientasi seksual mereka setelah periode eksperimen selesai. Misal: di penjara, sekolah asrama dengan 1 jenis kelamin

Bisexuality as a transitional orientation Terjadi saat seseorang “beralih” ke orientasi seksual yang lain dan bertahan menjalani orientasi seksual tersebut. Misal: seseorang yang telah lama menikah dan kemudian menjalani kehidupan sebagai seorang lesbian.

Bisexuality as a homosexual denial Perilaku biseksual dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari dari stigma sebagai seorang homoseksual Misal: menikah dengan lawan jenis namun tetap memiliki hubungan homoseksual.

HOMOSEKSUAL Pengertian Davison dan Neale (2001) menyatakan bahwa sampai tahun 1973, dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), homoseksualitas, yang diartikan sebagai hasrat atau aktivitas seksual yang diarahkan pada orang yang berjenis kelamin sama, masih dianggap sebagai penyimpangan seksual. Pada tahun 1973, Nomenclature Committee of the American Psychiatric Association merekomendasikan untuk menghilangkan kategori homoseksualitas sebagai penyimpangan dan menggantinya dengan kategori gangguan orientasi seksual. Kategori ini adalah untuk orang-orang homoseksual yang terganggu, mempunyai masalah, dan berharap untuk mengubah orientasi seksual mereka. Dalam buku DSM-III, terdapat kategori homoseksualitas yang egodistonik, yaitu orang yang mempunyai hasrat homoseksual, merasa hasrat seksual ini merupakan masalah, dan berharap dapat menjadi heteroseksual.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

3

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa orang yang mempunyai hasrat homoseksual tetapi tidak terganggu oleh hal tersebut, tidak dapat dikatakan sakit atau menyimpang (Oetomo,2001). Menurut Davison dan Neale (2001), pada edisi revisi DSM-III yang diterbitkan pada tahun 1987, diputuskan bahwa homoseksual yang ego-distonik tidak lagi dimasukkan dalam daftar sebagai suatu penyimpangan Pada DSM-IV Text Revision, yang terbit pada tahun 2000, homoseksualitas juga sudah tidak dimasukkan sebagai suatu penyimpangan. Nevid, Rathus dan Rathus (1995) menyatakan bahwa istilah homoseksualitas mengarah pada ketertarikan seksual pada sesama jenis kelamin, baik itu pada laki-laki maupun perempuan. Definisi homoseksual yang diberikan Nevid (1995) adalah: “Erotic attraction to, and preference for, developing romantic relationships with members of one’s own gender”. Oetomo (2001) memberikan definisi mengenai orang homoseks: “Orang homoseks adalah orang yang orientasi atau pilihan seks pokok atau dasarnya, entah diwujudkan atau dilakukan ataupun tidak, diarahkan kepada sesama jenis kelaminnya”. Dalam memandang kaum homoseksual ini, kaum heteroseksual

cenderung berfokus pada aspek seksual, padahal aktivitas seksual kaum homoseksual, seperti juga heteroseksual, hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan aktivitas mereka. Dalam hubungan kaum homoseksual terlibat banyak hal selain kegiatan seksual (Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Oetomo (2001) mengenai definisi yang diberikannya di atas: “laki-laki homoseks adalah laki-laki yang secara emosional dan seksual tertarik kepada laki-laki, dan wanita homoseks adalah wanita yang secara emosional dan seksual tertarik kepada wanita”.

Dari penjelasan di atas dapat kita lihat adanya keterlibatan faktor emosional dalam hubungan kaum homoseksual. Menurut Peplau dan Cochran, (dalam Nevid, Rathus & Rathus, 1995) fokus utama dalam kehidupan homoseksual adalah membangun kedekatan yang romantis dengan anggota

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

4

gender yang sama dan membentuk skema tentang cinta dan berbagi antara seseorang dengan pasangannya. Banyak kaum homoseksual yang tidak menyukai istilah homoseksual karena dianggap istilah tersebut terlalu berfokus pada perilaku seksual saja Mereka lebih menyukai istilah gay untuk laki-laki dan lesbian untuk perempuan. (Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Oetomo (2001) menyatakan bahwa penggunaan istilah gay dan lesbi mengacu pada gaya hidup, sikap bangga dan keterbukaan. Etiologi Homoseksual Banyak teori yang mencoba menjelaskan faktor-faktor penyebab seseorang menjadi homoseksual (Greene & Herek,1994). Sampai saat ini tidak ada jawaban yang pasti mengapa sebagian orang menjadi homoseksual dan yang lainnya menjadi heteroseksual (Rowlett,Patel & Greydaus, dalam Santrock,2002). Pandangan Biologis Psikolog Michael Bailey dan Richard Pillard (dalam Miracle,2003) menyatakan bahwa faktor biologislah penyebabnya, yaitu adanya ‘gay gene’ yang mempengaruhi perkembangan seseorang menjadi gay. Penelitian yang mereka lakukan adalah terhadap laki-laki kembar identik. Ditemukan bahwa kembar identik mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mempunyai orientasi seksual yang sama dibandingkan orang yang bersaudara tetapi tidak kembar. Jika salah satu dari kembar identik adalah gay, maka lebih dari 50% kemungkinan yang satu lagi adalah gay juga. Tingkat kemungkinan ini adalah tiga kali lebih tinggi dari kembar yang tidak identik. Penelitian lain dengan teori biologis adalah yang dilakukan oleh Simon LeVay (dalam Miracle,2003). Dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 1991, LeVay melaporkan bahwa terdapat perbedaan struktur otak pada gay dan yang bukan gay. Sel hipotalamik pada laki-laki heteroseksual ditemukan dua kali lebih besar dari gay Pandangan Psikoanalisa Freud (dalam Nevid, Rathus & Rathus, 1995), beranggapan bahwa gay terjadi karena kurang dekatnya hubungan antara anak laki-laki dengan ayah, dan juga hubungan yang terlalu dekat antara anak laki-laki tersebut dengan ibu.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

5

Menurut Freud, homoseksualitas berasal dari oedipus complex negative. Dalam oedipus complex positive, anak akan mencintai orangtua dari jenis kelamin berbeda. Pada oedipus complex negative berlaku sebaliknya, anak akan mencintai orangtua yang berjenis kelamin sama dan mengidentifikasi pada orangtua berjenis kelamin beda. Pada proses perkembangan, anak-anak harusnya akan menekan oedipus complex negative, tetapi pada homoseksual mereka gagal menekan hal tersebut dan tetap terfiksasi dengan keadaan ini. Seorang pria menjadi seorang homoseksual karena terus mencintai ayahnya dan mengidentifikasikan diri dengan ibunya. Jadi, menurut Freud, homoseksualitas seorang merupakan dalam kesinambungan cinta pada orangtua berjenis kelamin sama. Irving Bieber (dalam Miracle,2003), psikoanalis, penelitiannya menemukan bahwa ada suatu pola yang sama pada latar belakang keluarga homoseksual, yaitu ibu yang dominan dan overprotective serta ayah yang pasif, tidak menunjukkan kasih sayang dan menjaga jarak dengan anaknya. Pola keluarga seperti ini dipercaya akan mengembangkan ketakutan anak terhadap kontak heteroseksual karena sikap-sikap ibu tadi bisa menimbulkan kecemasan dalam diri anak. Setelah dewasa anak bisa berkembang menjadi seorang homoseksual. Pandangan Teori Belajar Miller (1993) menyatakan bahwa menurut para ahli teori belajar, suatu perilaku dipelajari melalui suatu proses belajar. Ada berbagai macam proses belajar, salah satunya adalah melalui peniruan (modeling), yaitu perilaku dipelajari melalui peniruan dari apa yang dilakukan oleh significant others. Jadi, bila seorang anak pada masa kecilnya menirukan perilaku significant other nya yang homoseksual, maka anak tersebut akan mempunyai perilaku homoseksual pula. Para ahli teori belajar juga menekankan peran reinforcement pada masa awal kehidupan sebagai faktor penentu orientasi seksual seseorang (Miracle,2003). Manusia secara umum mengulang aktivitas yang menyenangkan dan menghentikan yang tidak menyenangkan baginya. Oleh karena itu, orangorang yang terlibat dalam aktivitas homoseksual merasakan bahwa pengalaman homoseksual di masa kanak-kanak sebagai sesuatu yang menyenangkan dan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

6

kemudian akan dilanjutkan pada masa dewasa, sehingga berkembanglah orientasi seksual homoseksual (Gagnon & Simon, dalam Miracle, 2003). Pandangan Gender Nonconformity Banyak homoseksual memiliki dan merasakan tindakan dan perasaan yang “berbeda” dengan teman sebaya mereka semasa kanak-kanak, beberapa pria gay mulai merasakan perasaan berbeda tersebut ketika berusia 3 atau 4 tahun (Isay, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995). Perasaan berbeda tersebut berhubungan dengan “cross gender behavior”. Saghir dan Robins (dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995) melaporkan bahwa 67% pria homoseksual memiliki perilaku feminin di masa kecil mereka. Pria gay juga sering merasa lebih sensitif dibanding teman sebayanya dimasa kecil. Mereka mudah sekali menangis, mudah sakit hati, lebih sedikit punya teman pria dibanding teman wanita di masa kanak-kanak (Isay, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995). Mereka juga mengakui di masa kecil sering bermain dengan permainan perempuan, seperti boneka (Green; Bell, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995) atau memakai baju perempuan, lebih memilih ditemani orang dewasa perempuan daripada laki-laki, dan terlibat permainan seksual dengan anak laki-laki dan bukan dengan anak perempuan (Whitam, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995). Gambaran perilaku para homoseksual di masa kecil tadi, didukung pula dengan studi longitudinal yang menjelaskan bahwa mayoritas anak laki-laki yang feminin menjadi homoseksual ketika mereka dewasa (Brody; Green; Zuger, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995). Richard Green (1985) mengikuti perkembangan 44 anak laki-laki yang feminin selama 15 tahun, 75% dari mereka (33 orang) terbukti menjadi homoseksual atau biseksual. Green (dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995) menjelaskan mengenai bagaimana feminitas anak anak laki-laki yang ekstrim bisa menimbulkan homoseksualitas. Ia menyatakan bahwa keterpisahan sosial (social detachment) pada anak laki-laki dari teman sebayanya dan role model (terutama ayah) menciptakan suatu perasaan untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang dari lakilaki. Kebutuhan ini membuat mereka mencari laki-laki sebagai pasangan dalam berhubungan seks dan juga hubungan cinta pada masa remaja dan masa dewasa. Alan Bell (dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995) menjelaskan bahwa persepsi diri akan perbedaan dan jarak sosial dengan ayah semasa kanakkanak, membuat anak mengembangkan ketertarikan erotis yang juga berbeda

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

7

dengan anak laki-laki lainnya, yaitu ketertarikan dengan orang-orang pada gender yang sama (Brody, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995). Coming-out sebagai homoseksual Kesadaran akan ketertarikan pada sesama jenis biasanya muncul secara perlahan dan merupakan proses yang menyakitkan (Papalia,2004). Orang yang mulai menyadari bahwa dirinya mempunyai ketertarikan secara seksual dan emosional sering menolak, mengabaikan atau memendam perasaan tersebut, sehingga seringkali menimbulkan konsep diri yang negatif terhadap dirinya (Coleman, dalam Paul, 1982) Pandangan negatif ini muncul seringkali disebabkan karena adanya sikap yang negatif dari masyarakat terhadap homoseksualitas yang dianggap sebagai suatu penyakit dan tidak bermoral. Akibat dari hal ini adalah orang-orang tersebut menjadi depresi karena mereka tidak dapat menerima diri mereka sebagaimana diri mereka yang sebenarnya. Fisher (dalam Paul, 1982) menyatakan: “every time a homosexual denies the validity of his feelings or restrains himself from expressing, he does a small hurt to himself. He turns his energies inward and suppresses his own vitality. The effect may be scarcely noticeable: joy may be a little less keen, happiness slightly subdued, he may simply feel a litlle rundown, a little less tall. Over the years, these tiny denials have cumulative effect.” (h.150) Bila penolakan terhadap diri ini berjalan dalam jangka waktu lama, maka akan menimbulkan berbagai masalah seperti depresi, konsep diri yang rendah, tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas dan buruknya hubungan dengan orang lain (Coleman,dalam Paul, 1982). Untuk mengatasi hal ini, setiap orang melakukan hal yang berbeda-beda. Ada yang memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Sebagian yang lain tetap menyembunyikannya baik dari diri sendiri maupun orang lain dan terus menderita depresi. Jalan keluar yang paling sehat adalah dengan mengakui ketertarikan pada sesama jenis tersebut terlebih dahulu pada diri sendiri, dan di tahap selanjutnya dapat mulai membuka diri pada orang-orang terdekat. Tahap mengakui dan membuka diri ini disebut dengan istilah coming out (Coleman,dalam Paul, 1982) Coming out adalah suatu proses bagi homoseksual ketika mengakui bahwa ia adalah seorang homoseksual, baik kepada dirinya sendiri maupun

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

8

kepada orang lain (Miracle,2003). Proses coming out ini seringkali berjalan secara perlahan dan menyakitkan (Papalia,2004). Setiap orang memiliki alasan masing-masing untuk menyatakan pada orang di sekitarnya bahwa dirinya adalah seorang homoseksual, mulai dari alasan pribadi yaitu identitas diri (selfidentity) dan emotional well-being, sampai alasan politis yaitu keinginan untuk menentang asumsi masyarakat mengenai homoseksual. Sebagian kaum homoseksual memulai proses coming out ini pada saat mereka berusia remaja, tetapi banyak juga yang tidak pernah sama sekali mengatakan pada orang-orang yang dekat dengannya bahwa dirinya adalah seorang homoseksual karena ketakutan akan penolakan. Menurut Beaty (dalam Miracle,2003), remaja yang mempunyai hubungan dekat dengan orangtuanya cenderung untuk coming out pada usia muda dan mempunyai identitas seksual yang positif dibandingkan mereka yang mempunyai hubungan yang buruk dengan keluarganya. Menurut King (dalam Papalia,2004), proses coming out melalui empat tahapan. Proses awal adalah mengenali atau mengakui pada diri sendiri bahwa dirinya adalah homoseksual. Yang kedua adalah mencoba untuk mencari tahu mengenai homoseksual lainnya dan membangun hubungan seksual dan romantis. Setelah itu adalah tahap memberi tahu pihak keluarga dan temanteman. Bagi banyak homoseksual, ini adalah suatu tahap yang sangat sulit untuk dilakukan karena dapat membawa banyak konflik dan penolakan. Banyak kasus dimana orangtua mengusir anaknya yang homoseksual keluar rumah dan menghentikan dukungan keuangan terhadap anaknya (Warren, dalam Miracle,2003). Orangtua juga sering bereaksi dengan kemarahan dan merasa bersalah bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru dalam membesarkan anaknya (Woog, dalam Miracle,2003). Tahap terakhir adalah terbuka secara lengkap, yaitu terhadap rekan kerja, atasan dan juga orang-orang lain dalam kehidupannya. Ketika memutuskan untuk coming out, kemungkinan seorang homoseksual akan mengatakannya kepada teman-teman dekatnya, tetapi tidak kepada anggota keluarga (Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Dalam masyarakat yang mempunyai sikap negatif terhadap homoseksual, maka banyak homoseksual yang segan untuk mengakui kepada teman atau keluarga bahwa ia adalah homoseksual (Wells & Kline, dalam Nevid, Rathus & Rathus,1995). Dalam lingkungan masyarakat seperti ini, mengakui bahwa dirinya homoseksual

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

9

dapat membawa resiko yang besar untuk kehilangan pekerjaan, pertemanan dan kehidupan sosial (Padesky, dalam Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Hubungan dengan Pasangan Didapati berbagai macam pola hubungan homoseksual (Oetomo,2001), tetapi seperti juga kaum heteroseksual, kebanyakan kaum homoseksual ingin mendapatkan cinta, companionship, dan juga pemenuhan seksual dari pasangannya (Papalia,2001). Kaum homoseksual juga menghadapi berbagai permasalahan, seperti menghindari penolakan, menemukan pasangan yang sesuai, berkomunikasi mengenai keinginan seksual, dan menjaga agar cinta tetap ada dalam hubungan mereka (Miracle,2003). Selain dari permasalahan umum tersebut, kaum homoseksual juga menghadapi permasalahan khusus, seperti ruang lingkup yang sempit dalam mencari pasangan karena tidak semua lingkungan sosial dapat ditemui kaum homoseksual. Misalnya di kota-kota kecil akan lebih sulit untuk menemukan sesama kaum homoseksual dibandingkan di kota besar. Permasalahan lain adalah dalam kesulitan mengidentifikasi kaum homoseksual lainnya sehingga kesempatan untuk mendapatkan pasanganpun menjadi kecil.. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka banyak kaum homoseksual, terutama yang berusia muda, mendatangi tempat-tempat khusus dimana banyak kaum homoseksual berkumpul, seperti bar, cafe atau bahkan di taman-taman untuk mencari pasangan (Oetomo,2001). Kehidupan Kaum Homoseksual dalam Keluarga Pada umumnya semua orang menginginkan dan memerlukan hubungan yang kuat dan baik dengan keluarganya. Keluarga dapat memberikan dukungan apabila salah satu anggota keluarganya mempunyai masalah. Bagi kaum homoseksual, membina hubungan baik dengan keluarga mempunyai banyak tantangan. Pada masa kanak-kanak, seorang homoseksual yang sudah menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang lain, akan berusaha keras untuk menyimpan rahasia tersebut agar tidak diketahui oleh anggota keluarga yang lain karena takut dipersalahkan dan hubungannya dengan keluarga akan rusak (Greene,1994).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

10

Pada masa remaja atau dewasa muda, hubungan homoseksual dengan keluarganya seringkali mendapat cobaan ketika terjadi proses coming out. Bagi banyak homoseksual, memberitahukan kepada keluarga adalah proses coming out yang paling sulit (Miracle,2003). Mereka cemas dan sering merasa bersalah bahwa keputusan dapat mereka untuk memberitahu dan keluarga bahwa rasa dirinya marah homoseksual membuat kecewa menimbulkan

(Greene,1994). Dalam banyak keluarga, tindakan ini dapat menyebabkan konflik, ketidaksetujuan dan penolakan sehingga menyebabkan buruknya hubungan kekeluargaan dalam jangka waktu yang lama bila tidak tercapai adanya pengertian dari pihak keluarga (Papalia,2001). Biasanya proses membuka diri terhadap keluarga ini terbatas pada ibu dan saudara perempuan (Mays,Chatters, Cochran, & Mackness, dalam Papalia,2001). Bila tidak terjadi proses coming out, yang biasanya terjadi pada masa remaja (Miracle,2003), maka sesudah usia 30 tahun dapat timbul permasalahan dengan keluarga yang disebabkan karena adanya dorongan yang kuat dari pihak keluarga untuk menikah. Oleh karena itu, banyak gay yang sesudah usia 30 tahun menikah dengan wanita dan hanya berperilaku homoseksual insidental (Oetomo,2001). Kaum Homoseksual dalam Masyarakat Sebagian besar masyarakat memandang kaum homoseksual secara negatif (Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Banyak kelompok masyarakat yang melarang kaum gay menjadi guru dan kegiatan-kegiatan lain berdasarkan mitos bahwa gay akan menggoda dan mempengaruhi anak-anak untuk menjadi homoseksual (Gordon & Snyder, dalam Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Banyak terdapat gerakan-gerakan antihomoseksual yang memandang homoseksual sebagai suatu ancaman bagi masyarakat, dan dianggap sama dengan narkoba dan pelacuran (Paul,1982). Di Amerika, seringkali terjadi penyerangan secara fisik terhadap kaum gay yang dipicu oleh prasangka dan kebencian terhadap kaum gay (Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Laura Brown (dalam Santrock,2002) menyatakan bahwa homoseksual sebagai kaum minoritas yang mengalami hidup dalam sebuah kebudayaan yang dominan dan mayoritas, jalan terbaik untuk menyesuaikan diri adalah ketika mereka tidak mendefinisikan diri mereka dalam polaritas, seperti mencoba hidup dalam dunia homoseksual secara tertutup yang sama sekali terpisah dari

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

11

kebudayaan mayoritas. Menyeimbangkan tuntutan dari dua kebudayaan yang berbeda – minoritas kebudayaan homoseksual dan kebudayaan heteroseksual yang mayoritas- seringkali dapat mengarahkan pada strategi penyelesaian masalah yang efektif bagi kaum homoseksual. Dalam budaya Indonesia masa kini, walaupun terdapat sikap negatif terhadap kaum gay, ternyata dalam kenyataan kehidupan sehari-hari boleh dibilang tidak seberat di dunia Barat karena sebagian besar masyarakat bersikap toleran terhadap kaum gay (Oetomo,2001).

Gaya Hidup Kaum Homoseksual Banyak orang (termasuk banyak ahli) membuat kekeliruan dengan menganggap bahwa semua kaum homoseksual memiliki gaya hidup yang sama (Nevid, Rathus & Rathus, 1995). Menurut Bell dan Weinberg (1978), seperti juga kaum heteroseksual, kaum homoseksual tidak memiliki satu gaya hidup yang sama dan terdapat berbagai perbedaan dalam mengekspresikan diri mereka. Bell dan Weinberg (dalam Nevid, Rathus & Rathus, 1995) menyatakan bahwa dalam lingkungan homoseksual, secara umum ada 5 variasi gaya hidup yang dijalani, yaitu: 1. Close Couple : Suatu gaya hidup yang dijalani pasangan homoseksual yang berbentuk seperti perkawinan. Didalamnya terlibat komitmen emosional yang dalam dan tidak ada hubungan seksual dengan orang lain. 2. Open Couple : Gaya hidup yang dijalani pasangan homoseksual dimana mereka tinggal bersama, mempunyai komitmen, tetapi masih melakukan hubungan seksual dengan orang lain. 3. Functional : Homoseksual yang menjalani hidup sendiri, bisa menyesuaikan diri terhadap gaya hidup berganti-ganti pasangan, dan mampu bersosialisasi dengan baik. 4. Dysfunctional : Homoseksual yang menjalani hidup sendiri tetapi mempunyai masalah dalam hal seksual, sosial dan psikologis. Mereka seringkali menderita kecemasan, tidak bahagia dan mempunyai kesulitan dalam membentuk suatu hubungan intim.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

12

5. Asexual : Homoseksual yang hidup sendiri dan hanya mempunyai sedikit hubungan seksual. Biasanya yang termasuk kelompok ini adalah homoseksual yang sudah berusia lanjut. Perilaku Seksual Kaum Gay Sejak adanya wabah AIDS, maka lebih banyak kaum gay yang tertarik pada satu hubungan jangka panjang (Papalia,2001). Sebelum adanya wabah ini, pada penelitian tahun 1970an, ditemukan bahwa banyak kaum gay yang terlibat dalam “casual sex” dengan berganti-ganti pasangan (Bell & Weinberg, dalam Nevid,1995). Bell dan Weinberg (1978) melaporkan bahwa terdapat 84% gay, dibandingkan dengan 7% kaum lesbian, mempunyai lebih dari 50 orang sebagai pasangan dalam kehidupannya. 79% gay, dibandingkan dengan hanya 6% lesbian, mengatakan bahwa lebih dari separuh pasangan seks mereka adalah orang yang baru dikenal. Miracle (2003) menyatakan bahwa tidak ada jawaban yang pasti mengapa kaum gay sering berganti-ganti pasangan dalam kegiatan seks mereka. Ada dugaan bahwa karena kaum gay sudah belajar untuk memisahkan seks dengan keintiman ketika masa remaja, maka mereka lebih mudah terlibat dalam seks bebas. Kemungkinan lain adalah karena adanya sikap negatif dari masyarakat terhadap gay yang menyebabkan tingkat stres yang tinggi sehingga sulit untuk mempertahankan hubungan monogami.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Rah Madya Handaya M.Psi

PSIKOLOGI PERILAKU SEKSUAL

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->