Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

PERBANDINGAN VITRIFIKASI DAN PEMISAHAN KONDISIONING UNTUK PENGOLAHAN LlMBAH CAIR AKTIVITAS TINGGI.
Herlan Martono, Aisyah Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, BATAN ABSTRAK. PERBANDINGAN VITRIFIKASI DAN PEMISAHAN KONDISIONING UNTUK PENGOLAHAN LlMBAH CAIR AKTIVITAS TINGGI. Telah dipelajari perbandingan pengolahan limbah cair aktivitas tinggi secara vitrifikasi dan pemisahan kondisioning untuk mendapatkan keunggulan dan kekurangan karakteristiknya. Pada proses vitrifikasi, limbah cair aktivitas tinggi dicampur dengan bahan pembentuk gelas yang dilelehkan pada titik lebumya, selanjutnya didinginkan sampai suhu kamar. Pemisahan kondisioning meliputi proses kalsinasi limbah cair aktivitas tinggi, sublimasi, reduksi, dan peleburan. Hasil proses vitrifikasi adalah gelas-limbah, sedangkan hasil proses pemisahan kondisioning adalah New Ceram. Pada pemisahan kondisioning tanpa penambahan bahan aditif untuk solidifikasi, sehingga reduksi volume besar. Konsekuensi hal ini adalah fasilitas pengolah, transportasi, dan disposal yang lebih kecil serta berkurangnya frekuensi handling. Jadi reduksi biaya fasilitas dan pengelolaan limbah besar. Pada penyimpanan sementara gelas-limbah hasil vitrifikasi dilakukan selama 30 - 50 tahun dengan sistem pendingin untuk menghindari terjadinya devitrifikasi. Pada pemisahan kondisioning, semua Cs menyublim pada 1000 °C, sehingga dapat mengurangi lama penyimpanan sementara selama 27 tahun. Pada pemisahan kondisioning praktis tidak ada limbah sekunder, sedangkan pada proses vitrifikasi timbul limbah sekunder dari hasil pengolahan gas buang. Dari segi proses, vitrifikasi lebih sederhana dan teknologi ini telah dilakukan di PTLR BATAN dalam skala laboratorium .. ABSTRACT. COMPARATION OF VITRIFICATION AND SUPER HIGH TEMPERATURE METHOD ON HIGH LEVEL LIQUID WASTE TREATMENT. The comparation of high level liquid waste treatment by vitrification process and superhigh temperature method has been studied to find advantance and disadvantance for each method. For vitrification process, high level liquid waste was mixed by glass frit and melted at the melting point, then cooled up to room temperature. The steps of the process of super high temperature method are calcination of high level liquid waste, sublimation, reduction, and melting. The product of vitrification process is waste-glass, but the product of super high temperature method is New Ceram. Super high temperature method without aditif for solidification, so that volume reduction is high. So the facilities of treatment, transportation, and disposal are decreased, also reducing handling frequency. These make a significant reduction cost of waste managementlnterm storage for waste-glass were conducted by cooling systeem for 30 - 50 years, to avoid devitrification. In the super high temperature method, due to the sublimation of Cs at 1000 °C, so decreasing life time of interm storage for 27 years. There is no secundary waste in the super high temperature method, but in the vitrification process arising secondary waste is treated by off gas treatment system. From process view, vitrification process is more simple complicated and this technology was being tested in Radioactive Waste Technology Center-BAT AN in the laboratory scale.

PENDAHULUAN.
Limbah Cair Aktivitas Tinggi (LCA T), umumnya dihasilkan dari ekstraksi pelarut

siklus I proses olah ulang bahan bakar nuklis bekas.

Komposisi

LCA T banyak mengandung pada Tabel

hasil belah dan sedikit aktinida, dengan komposisi oksidanya

seperti ditunjukkan

1 [1].

40

Hasil Penelitian don Kegiatan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

Tabel1.

Komposisi Limbah Cair Aktivitas Tinggi yang berbentuk Oksida dari Bahan bakar bekas PWR, fraksi bakar 45.000 MWO/MTU, pengkayaan uranium 4,50%, panas peluruhan 38 MW/MTU dan pendinginan 4 tahun [1]
16,48 1,47 3,81 1,45 2,20 6,99 2,56 0,95 0,85 0,81 0,11 4,12 0,56 7,19 9,05 1,68 0,74 1,67 Oksida % Berat

Oksida

0.14 0.24 %0,05 Berat 0,52 0,07 1,22 2,58 4,19 3,91 2,05 1,93 0,15 0,18 0,11 0,04 12,32 6,77 0,84

Pd~ SrO NiO Rh203 Mo03 Np02 Y203 Rb20 Se02 P205 Fe203 U02 Cr203 TC207 RU02 Zr02 Na20

BaO CdO SnO Am203 Cm203 Sm203 Gd203 EU203 PU02 Nd203 Pre011 La203 Ce02 Te02 Pm203 Cs20 Sb203 Ag20

Volume LCAT 1

m3,

aktivitas jenis LCAT adalah

4 x 105

Ci/m3,

dengan proses

vitrifikasi menjadi gelas-limbah yang volumenya 110 liter dan dimasukkan ke dalam canister yang terbuat dari baja tahan karat AISI 304 L yang volumenya 118 liter. Radionuklida yang terkandung dalam gelas limbah tersebut memancarkan radiasi gamma yang tinggi, sehingga dapat menimbulkan panas yang suhunya melebihi 500 DC. Suhu di atas 500 DC (Tg: suhu transformasi gelas) dan dalam jangka lama dapat menimbulkan kristalisasi dalam gelas - limbah, yang dikenal dengan devitrifikasi. Radiasi alfa yang dipancarkan oleh

aktinida dalam gelas limbah dapat mengakibatkan terjadinya reaksi inti, sehingga terjadi perubahan komposisi gelas - limbah. Adanya devitrifikasi dan perubahan komposisi gelas _ limbah harus dihindari karena mengakibatkan kenaikkan laju pelindihan radionuklida dari gelas - limbah. Oleh karena itu untuk menghindari terjadinya devitrifikasi dapat dilakukan dengan penyimpanan sementara gelas - limbah dalam canister di interim storage yang harus dilengkapi dengan sistem pendingin selama 30 - 50 tahun [2,3,4]. Devitrifikasi dapat juga dihindari dengan menentukan kandungan hasil belah dalam gelas-limbah 10 % [2]. Untuk memperkecil terjadinya perubahan komposisi dilakukan dengan menurunkan

kandungan unsur aktinida dalam gelas - limbah yaitu dengan menurunkan kandungan

41

Hasil Penelitian dan Kegialan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

limbahnya. Perubahan komposisi dapat ditentukan dari perubahan densitas dan kuat tekan [4]. Masalah dalam vitrifikasi adalah volume dan tenaga panas besar, serta biaya untuk pengelolaan limbah sekunder mahal. Super High Tempereture Method (SHTM) merupakan proses pengolahan LCAT

dengan pemisahan - pemadatan (pemisahan kondisioning) tanpa penambahan bahan aditif, sehingga reduksi volumenya besar. Metode ini relatif baru, yang beberapa tahun terakhir Metode ini belum dioperasikan

ini dikembangkan di USA, Jepang, Perancis, dan Rusia. dalam skala industri.

Tahap pertama proses ini adalah kalsinasi yang merubah unsur -

unsur dalam larutan asam nitrat pada 700°C dalam udara menjadi oksida. Cesium yang menyublim pada pemanasan 1000 °c selama 2 jamadalah 98 %, pada 900°C selama 2

jam adalah 90 %, dan pada 800°C selama 5 jam adalah 90 % [5]. Sublimasi dilakukan dalam gas argon. Pengambilan Cs dan Ba dapat mengurangi waktu pendinginan selama 30 tahun, sedangkan pengambilan Cs, Ba, Sr, dan Y dapat mengurangi waktu pendinginan selama 45 tahun. Super High Temperatur Method menghasilkan limbah padat aktivitas tinggi yang kompak mengandung aktinida (solid high active waste containing actinides) dengan pemisahan Cs (40 % high thermal power fission product) dan hasHbelah logam mulia hanya dengan sedikit penambahan senyawa titanium nitrida (TIN). Bahan dilelehkan pada 1600 °C. Reduksi unsur-unsur golongan platina dalam hasil belah berbentuk logam ingot. Residu yang tidak direduksi berbentuk oksida ingot. Logam ingot dan oksida ingot merupakan

komposisi limbah aktivitas tinggi yang paling kompak dari senyawa hasil belah titanat yang membantu sebagai matriks. Logam hasH belah dan oksida menjadi padat. tanpa

penambahan atau pencampuran dengan bahan matriks seperti gelas, bitumen, polimer, dan semen. PROSES PENGOLAHAN LlMBAH CAIR AKTIVIT AS TINGGI.

Proses Vitrifikasi.
Proses vitrifikasi LCAT dengan gelas borosilikat ditunjukkan pada Gambar 1 [1].

Pemanas melter dihidupkan sehingga suhu gelas - limbah mencapai 600°C.

Gelas-

limbah dalam melter sampai tinggi di atas elektrode selalu ada walaupun melter tidak dioperasikan. Hal ini digunakan untuk start up pada pemanasan melter dengan sistem elektrode dihidupkan sehingga gelas - limbah dapat

Joule heating Pada suhu 600°C,

menghantarkan arus listrik yang menimbu!kan panas. Pada saat itu pengumpanan bahan pembentuk gelas (glass frit) dan LCAT dimulai. Perbandingan bahan pembentuk gelas

borosilikat dan LCAT 3/1 dimasukkan ke dalam melter dengan laju pengumpanan 9 kg/jam. Komposisi umpan 6,75 kg/jam bahan pembentuk gelas dan 2,25 kg/jam (16,10 liter/jam) LCAT. Kapasitas pengumpanan 300 kg. Pelelehan bahan pembentuk gelas dan LCAT 42

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

dilakukan pada suhu 1150 °C selama 2 jam. Pada vitrifikasi perlu penambahan bahan gelas 10 kali hasil belah. Gas yang keluar dari melter diolah dengan sistem penanganan gas

buangan, yang meliputi alat air film cooler, submerged bed scrubber (S8S), venturi scrubber, water scrubber, high efficiency mist eliminator (HEME), ruthenium adsorber, dan filter HEPA. Lelehan gelas - limbah hasil vitrifikasi dituang dari melter ke canister pada

suhu 1000 °C. Pengelasan tutup canister dilakukan, kemudian dekontaminasi dilakukan. Tahap selanjutnya pemeriksaan fisik canister dilakukan untuk melihat kerusakan canister yang meliputi perubahan dimensi dan kebocoran hasillas. tempat penyimpanan sementara dengan sistem pendingin. Selanjutnya canister disimpan di

Bahan Gelas

Air Penangkap

4 .

Air Pendingin keluar

Air Pendingin

~

MEL TER

Water Scrubber tipe Perforated Plate

Ke Cerobong Blower HEPA Filter

Pemanas

Ke Pengolahan limbah cair sekunder

Gambar 1. Bagan proses vitrifikasi LCA T dengan gelas borosilikat [1] • Proses Super High Temperature Method. Fasilitas ini lebih kecil daripada vitrifikasi, karena tidak adanya penambahan bahan matriks dan reduksi volume hasil besar sehingga kapasitas penyimpanan lebih kecil pula. Proses pengolahan LCAT dengan SHTM ditunjukkan pada Gambar 2 [5,6].

43

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

Cerobong

~i·····::::::::=:::::::·r·::::~=-~r::~::,=:~::~;~B-:-~
Penangkap
!::·$

!

~····"'·······"'UJ··
·R.IL IS;

..L=t········ ..· ·

·,

Pe~angkap

Scrubber

r ·

:>···

}.?gine

Reduction
Oksida

Gambar 2. Diagram proses super high temperature method LCAT [5,6.]. Proses ini bertujuan menghasilkan solid high active waste containing actinides dengan pemisahan Cs dan logam mulia menggunakan penambahan sedikit TIN. Limbah aktivitas tinggi berfungsi sebagai matriksnya sendiri tanpa pencampuran bahan matriks gelas. Teknologi baru ini perlu dipertimbangkan kelayakannya dibandingkan teknologi yang telah dioperasikan dalam skala industri. Reduksi volume limbah aktivitas tinggi dengan

proses SHTM sekitar 1/10 dibandingkan teknologi vitrifikasi [5]. Tahap proses SHTM meliputi kalsinasi, sublimasi, reduksi, dan peleburan. Larutan nitrat dari hasil belah, aktinida, dan produk korosi dikalsinasi pada suhu 700 DC, sehingga menjadi HBOx, AnOx, dan CPOx (HB = hasil belah, An = aktinida, dan CP = produk korosi). Uap air dan gas NOx yang keluar diserap dengan scrubber. Proses sublimasi oksida hasil kalsinasi dilakukan pada suhu 1000 DCdalam media gas argon. Unsur Cs dan Rb menguap pada suhu tersebut. Gambar 3. pengaruh waktu perlakuan terhadap sublimasi Cs ditunjukkan pada

100
90 80 70 60
1000

·c

50 30

40 20

10
o
o

6

Gambar 3. Pengaruh waktu terhadap sublimasi Cs [5,6]

44

Hasil Penelitian clan Kegiatan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

Pada suhu 1000 °C, selama 1 jam, sekitar 90 % Cs dapat diuapkan. Oksida logam alkali tanah dan oksida lain dari unsur seperti Ru, Te perlu diperhatikan karena titik didihnya rendah. Unsur Ru menyublim dalam bentuk RU04' Unsur Te tidak menyublim dan menyatu dengan Pd membentuk senyawa [5]. Oksida unsur platina, unsur transisi, dan unsur non logam direduksi dengan unsur unsur seperti 8, AI, Si, dan Ti. Logam dan oksida hasil belah mempunyai titik leleh yang tinggi. Reduksi oksida golongan platina (RU02, Rh03, dan Pd~) menjadi logam Ru, Rh, dan Pd terjadi pada 1000 °C dalam media gas argon. reaksi sebagai berikut :
MOx

Reduksi dilakukan dengan TIN, menurut

+

TIN

------>

M +

TiOy

+

Z

N2

dimana M adalah Ru, Rh, dan Pd. Oksida lain yang tereduksi menjadi logam adalah Mo, Te, Se, dan produk korosi [5,6]. Partikel logam yang kecil terdispersi dalam oksida hasil belah yang tidak tereduksi. Untuk memisahkan logam dan oksida, semua bahan harus dilebur. Oksida dan logam

dilelehkan pada 1600 °C dalam media gas argon, sehingga fase oksida dan logam dipisahkan menjadi lapisan atas oksida ingot dan lapisan bawah logam ingot. dipadatkan menjadi padatan yang monolit dengan reduksi volume yang tinggi. Oksida Unsur-

unsur grup platina direcovery sebagai ingot kira - kira 90 %. Hasil proses SHTM dikenal sebagai New Ceram (Nuclear Rare Earth Waste Ceramics). Pemisahan dan solidifikasi mineral dengan pelelehan dikembangkan juga di Rusia dengan konsep yang berbeda dengan Jepang. Pengolahan LCAT dilakukan dengan penukar ion sehingga diperoleh hasil belah dan Zr, Mo, Pd dan Fe. Hasil belah disolidifikasi dengan bahan pembentuk gelas. Unsur Zr, Mo, Pd dan Fe disolidifikasi dengan semen. Proses vitrifikasi ini mereduksi volume 1,6 kali dibandingkan vitrifikasi LCAT [7]. Solidifikasi LCAT dengan bahan kristal secara peleburan dilakukan, karena bahan kristalin lebih stabil. PEM8AHASAN. Kuantitas limbah dinyatakan dalam berat, volume dan banyaknya LCAT. 8erat dan volume berpengaruh terhadap skala fasilitas pengolahan dan frekuensi handling. 8erat dan

volume limbah yang besar perlu peralatan yang besar seperti melter untuk pengolahan LCAT atau dengan menambah jumlah melter. Pada proses vitrifikasi perlu penambahan bahan gelas 10 kali hasil belah, sedangkan pada SHTM sedikit / tanpa penambahan aditif. Pada proses vitrifikasi, solidifikasi semua hasil belah dalam matriks gelas sedangkan pada SHTM sebagai matriks adalah hasil belah yang dilelehkan sebagai oksida hasil belah. Jika jumlah LCAT direduksi dengan 1/10, frekuensi handling berkurang 1/10 pada pengolahan. Perbandingan beberapa karakteristik SHTM dan hasil vitrifikasi ditunjukkan pada Tabel 2 [5].
45

Hasi/ Penelitian don Kegiatan PTLR Tahun 2006

/SSN 0852 - 2979

Tabel2.

Perbandingan beberapa karakteristik SHTM danhasil vitrifikasi [5].

3,061 0,0983 1000 Vitrifikasi SHTM 500 canister/ton0,042 I/ton 0,0102 0,050 2,7 5,28 8,6 0,0485 0,0518 Karakteristik 185 Satuan<45Plant kg/ton 1,295 4,1240 g/cm3 U U 120

-

-

IJg cm-2 harr1

Dari data di atas menunjukkan bahwa pada SHTM frekuensi untuk penyimpanan, dan disposal juga berkurang. Fasilitas SHTM untuk pengolahan, penyimpanan sementara, dan disposal kecil dibandingkan vitrifikasi. Hal ini mengakibatkan reduksi biaya pengelolaan cukup besar. Dari segi laju pelindihan hasil proses SHTM memenuhi persyaratan, hampir sama dengan proses vitrifikasi. Ini menunjukkan bahwa kualitas New Ceram cukup baik dan

karena densitasnya besar maka merupakan most compact HAW. Gas buangan ,Cesium dapat dimanfaatkan untuk sumber radiasi gamma, sehingga praktis tidak menimbulkan limbah sekunder. Pada sistem penanganan gas buangan proses vitrifikasi tidak timbul adanya uap Cs. Gas yang ada dalam sistem penanganan gas buangan adalah NOx, volatil Ru, dan partikel. Faktor dekontaminasi untuk setiap peralatan dalam sistem penanganan Untuk NOx submerbed bed scrubber 2, venturi

gas buangan dari proses vitrifikasi adalah:

scrubber 1. Untuk Ru submerged bed scrubber > 50, venturi scrubber 3 , water scrubber 50, dan penyerap Ru 1000. Untuk partikel submerged bed scrubber 5, venturi scrubber

10, water scrubber 5, high efficiency mist eliminator> 100. Penyerapan Ru ditekan dengan adanya bermacam - macam reduktan seperti formaldehid, asam formiat, dan gula karena akan menekan oksidasi Ru. Pada proses suhu tinggi Ru dalam gas buangan sebagai RU04 dan di atas 800°C sebagai RU03' Fraksi Ru dalam bentuk uap yang meninggalkan melter adalah 1 - 15 %. Pada vitrifikasi perlu adanya penanganan limbah sekunder.

Pada proses vitrifikasi dalam lelehan gelas - limbah unsur Cs sukar untuk menguap. Hal ini juga ditunjukkan oleh profil suhu dalam melter yang memungkinkan Cs tertahan dalam lelehan gelas, sehingga hasil gelas - limbah mengandung Cs. Profil suhu dalam melter pada proses vitrifikasi yang dioperasikan pada 1150 °C, setelah selesai

pengumpanan ditunjukkan pada Gambar 4 [1].

46

Hasi/ Penelitian clan Kegiatan PTLR rahun 2006

ISSN 0852 - 2979

850 800 _ 750 E 650 700 - 600 ;:, 550
.a 500 ~ 450 E 400 19 350 .e 300 ._ 250 sa 150 ~. 200 1= 100 50 o 400 500 600 700 800 900 100 110 120 o 0 0 Suhu (OC)

Gambar 4. Profil suhu di tengah melter [1]. Sebagian besar hasil belah, seperti Cs mempunyai titik didih sangat rendah 668°C. Cesium oksida dalam kalsinasi LCAT diuraikan pada suhu tinggi dan cesium menyublim. Dengan proses pemisahan - kondisioning, untuk menguapkan 90 % Cs pada 800 °C diperlukan waktu 5 jam, pada 900 °C selama 2 jam, dan pada 1000 °C selama 1 jam. Laju sublimasi terbesar terjadi pada suhu yang tinggi. Oleh karena itu sublimasi dilakukan pada suhu 1000 DC. Demikian pula reduksi juga dilakukan pada suhu 1000 DC. Hal ini sangat· menguntungkan pada penyimpanan sementara hasil solidifikasi atau imobilisasi. Pada

penyimpanan sementara hasil vitrifikasi dilakukan dengan sistem pendingin selama 50 tahun untuk menghindari terjadinya kristalisasi gelas. Untuk mencapai kondisi yang sarna dengan pelepasan panas setelah Cs dipisahkan, dicapai pada penyimpanan sementara setelah 23 tahun. Hal ini menghemat biaya penyimpanan sementara yang sangat mahal

selama 27 tahun. Thermal power (tenaga panas) ratio untuk pendinginan selama 50 tahun ditunjukkan pada Gambar 5 [5].

J

l

2500 500

I

3000 1500 1000

2000
__ Ln total total

-a--An
__ ___

--0-- Sr+Y
Cs+Ba Spent fuel

Waktu Pendlnglnan (tahun)

Gambar 5. Thermal power ratio pendinginan limbah aktivitas tinggi selama 50 tahun [5].
47

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2006

ISSN 0852 - 2979

KESIMPULAN.

Reduksi volume pada proses SHTM jauh lebih besar dibandingkan proses vitrifikasi. Hal ini akan menurunkan frekuensi pengelolaan (pengolahan, penyimpanan sementara, dan disposal). besar. Pada SHTM Cs yang menyublim dapat dimanfaatkan sebagai sumber radiasi gamma. Pada proses ini praktis tidak menimbulkan limbah sekender. Gas Cs sukar keluar dari melter, karena terhalang lelehan hasil vitrifikasi dan suhu serta pemanasan yang belum cukup dibandingkan pada SHTM. Pada proses vitrifikasi ada hasil pengolahan gas buangan yaitu Nox, Ru, dan partikel yang merupakan limbah sekender. Adanya Cs yang terpisah dari LCAT, mengakibatkan pengurangan penyimpanan sementara hasil solidifikasi selama 27 tahun. Proses vitrifikasi lebih sederhana dibandingkan SHTM. Kemudahan proses Skala fasilitas yang diperlukanpun lebih kecil, sehingga reduksi biaya cukup

menunjukkan bahwa proses vitrifikasi lebih sederhana dibandingkan SHTM, karena hanya meliputi pelelehan dan pendinginan. dibanding proses vitrifikasi. Teknologi vitrifikasi untuk pengolahan limbah cair aktivitas tinggi simulasi dalam skala laboratorium telah dikuasai di PTLR BATAN, sehingga untuk persiapan ke skala industri lebih mudah walaupun masih perlu adanya bantuan teknik dari negara maju.
DAFT AR PUST AKA

Proses SHTM melibatkan suhu yang lebih tinggi

1. MARTONO H., Characterization of Waste-Glass and Treatment of High Level Liquid Waste, PNC-Japan, NBS, 1988. 2. IAEA., Characteristic of Solidified High Level Waste Products, Technical Report Series No. 187, IAEA,Vienna,1979. 3. IAEA., Chemical Durability and Related Properties of Solidified High Level Waste Form, Technical Report Series No. 257, IAEA,Vienna,1985.

4. MENDEL J.E., The Fixation of High Level Waste in Glasses, PNL Richland, Washington 99352, 1985.
5.

HORIE MISATO, Super High Temperature Method, Waste Management Seminar, Arizona, USA,2000 HORIE MISATO, The Study of Partition and Solidification With Super High Temperature Method, Tokai Works, Japan, 1990. Technique for High Level Radioactive Waste

6.

7. DZEKUN E.E. et.all, Alternative Partitioning, Moscow, Rusia, 1995 8. SOBOLEV 1995.

I.A, et. All, Synthetic Melted Rock Type Materials, PNC TN 8420, Japan,

48

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful