P. 1
32931223-Akademi-Al-Qur-an-Kiat-Sukses-Berinteraksi-Dengan-Al-Qur’an

32931223-Akademi-Al-Qur-an-Kiat-Sukses-Berinteraksi-Dengan-Al-Qur’an

|Views: 74|Likes:
Published by Azzif Anuwar

More info:

Published by: Azzif Anuwar on Jun 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

al-ikhwan.

net Abu Ahmad


KIAT SUKSES BERINTERAKSI KIAT SUKSES BERINTERAKSI KIAT SUKSES BERINTERAKSI KIAT SUKSES BERINTERAKSI
DENGAN AL DENGAN AL DENGAN AL DENGAN AL- -- -QUR’AN QUR’AN QUR’AN QUR’AN


ABU AHMAD ABU AHMAD ABU AHMAD ABU AHMAD



al-ikhwan.net Abu Ahmad

































al-ikhwan.net Abu Ahmad
Daftar Isi


Al Al Al Al- -- -Qur’an di Mata Rasulullah SAW Qur’an di Mata Rasulullah SAW Qur’an di Mata Rasulullah SAW Qur’an di Mata Rasulullah SAW
Al Al Al Al- -- -Qur’an di Mata Para Sahabat Nabi SAW Qur’an di Mata Para Sahabat Nabi SAW Qur’an di Mata Para Sahabat Nabi SAW Qur’an di Mata Para Sahabat Nabi SAW
Al Al Al Al- -- -Qur’an di Mata Para Tabi’in Qur’an di Mata Para Tabi’in Qur’an di Mata Para Tabi’in Qur’an di Mata Para Tabi’in
Nama dan Karakteristik Al Nama dan Karakteristik Al Nama dan Karakteristik Al Nama dan Karakteristik Al- -- -Qur’an Qur’an Qur’an Qur’an
Adab Adab Adab Adab- -- -adab Membac adab Membac adab Membac adab Membaca Al a Al a Al a Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Teori Pergerakan Dalam Mentadabburkan dan Berinteraksi Dengan Al Teori Pergerakan Dalam Mentadabburkan dan Berinteraksi Dengan Al Teori Pergerakan Dalam Mentadabburkan dan Berinteraksi Dengan Al Teori Pergerakan Dalam Mentadabburkan dan Berinteraksi Dengan Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Langkah Langkah Langkah Langkah- -- -Langkah Praktis Dalam Memahami dan Berinteraksi dengan Al Langkah Praktis Dalam Memahami dan Berinteraksi dengan Al Langkah Praktis Dalam Memahami dan Berinteraksi dengan Al Langkah Praktis Dalam Memahami dan Berinteraksi dengan Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Menjadikan Al Menjadikan Al Menjadikan Al Menjadikan Al- -- -Qur’an Sebagai Wirid Harian Qur’an Sebagai Wirid Harian Qur’an Sebagai Wirid Harian Qur’an Sebagai Wirid Harian
Berinteraksi dan Mentadabburkan Al Berinteraksi dan Mentadabburkan Al Berinteraksi dan Mentadabburkan Al Berinteraksi dan Mentadabburkan Al- -- -Qur’an Secara Aplikatif Qur’an Secara Aplikatif Qur’an Secara Aplikatif Qur’an Secara Aplikatif
Menelaah dan Memahami Al Menelaah dan Memahami Al Menelaah dan Memahami Al Menelaah dan Memahami Al- -- -Quran Secara Menyeluruh Quran Secara Menyeluruh Quran Secara Menyeluruh Quran Secara Menyeluruh
Mempehatikan Misi Da’wah Pergerakan Al Mempehatikan Misi Da’wah Pergerakan Al Mempehatikan Misi Da’wah Pergerakan Al Mempehatikan Misi Da’wah Pergerakan Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Menghindari diri dari Menghindari diri dari Menghindari diri dari Menghindari diri dari Penguluran Waktu dan Memperpanjang Penguluran Waktu dan Memperpanjang Penguluran Waktu dan Memperpanjang Penguluran Waktu dan Memperpanjang
Permasalahan yang Terdapat dalam Al Permasalahan yang Terdapat dalam Al Permasalahan yang Terdapat dalam Al Permasalahan yang Terdapat dalam Al- -- -Qur’an Qur’an Qur’an Qur’an
Memahami Tujuan Pokok Al Memahami Tujuan Pokok Al Memahami Tujuan Pokok Al Memahami Tujuan Pokok Al- -- -Qur’an Qur’an Qur’an Qur’an
Memelihara Keabsahan Nash Memelihara Keabsahan Nash Memelihara Keabsahan Nash Memelihara Keabsahan Nash- -- -nash nash nash nash Al Al Al Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Membersihkan Al Membersihkan Al Membersihkan Al Membersihkan Al- -- -Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar- -- -samar) samar) samar) samar)
Memasuki Alam Al Memasuki Alam Al Memasuki Alam Al Memasuki Alam Al- -- -Quran Dengan Background Yang Jelas Quran Dengan Background Yang Jelas Quran Dengan Background Yang Jelas Quran Dengan Background Yang Jelas
Tsiqah Tsiqah Tsiqah Tsiqah Terhadap Kea Terhadap Kea Terhadap Kea Terhadap Keabsahan Nash Al bsahan Nash Al bsahan Nash Al bsahan Nash Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Hidup di Bawah Sentuhan, Naungan dan Kelembutan Nash Hidup di Bawah Sentuhan, Naungan dan Kelembutan Nash Hidup di Bawah Sentuhan, Naungan dan Kelembutan Nash Hidup di Bawah Sentuhan, Naungan dan Kelembutan Nash- -- -nash nash nash nash Al Al Al Al- -- -
Quran Quran Quran Quran
Menghindarkan Nash Al Menghindarkan Nash Al Menghindarkan Nash Al Menghindarkan Nash Al- -- -Quran Dari Quran Dari Quran Dari Quran Dari Penetapan Waktu Dan Tempat Penetapan Waktu Dan Tempat Penetapan Waktu Dan Tempat Penetapan Waktu Dan Tempat
Yang Sempit Yang Sempit Yang Sempit Yang Sempit
Nash Al Nash Al Nash Al Nash Al- -- -Quran Kaya Akan Nilai dan Petunjuk Quran Kaya Akan Nilai dan Petunjuk Quran Kaya Akan Nilai dan Petunjuk Quran Kaya Akan Nilai dan Petunjuk
Memahami Nilai Memahami Nilai Memahami Nilai Memahami Nilai- -- -nilai Al nilai Al nilai Al nilai Al- -- -Quran Seperti Yang Dipahami o Quran Seperti Yang Dipahami o Quran Seperti Yang Dipahami o Quran Seperti Yang Dipahami oleh Para leh Para leh Para leh Para
Sahabat Sahabat Sahabat Sahabat
Memperhatikan aspek realita terhadap nash Memperhatikan aspek realita terhadap nash Memperhatikan aspek realita terhadap nash Memperhatikan aspek realita terhadap nash- -- -nash Al nash Al nash Al nash Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Menghindarkan Diri Dari Materialisme Jahili Menghindarkan Diri Dari Materialisme Jahili Menghindarkan Diri Dari Materialisme Jahili Menghindarkan Diri Dari Materialisme Jahili
Memperluas Penafsiran Al Memperluas Penafsiran Al Memperluas Penafsiran Al Memperluas Penafsiran Al- -- -Quran Yang Mencakup Sirah Dan Kehidupan Quran Yang Mencakup Sirah Dan Kehidupan Quran Yang Mencakup Sirah Dan Kehidupan Quran Yang Mencakup Sirah Dan Kehidupan
Para Sahabat Para Sahabat Para Sahabat Para Sahabat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Merasakan Bahwa Al Merasakan Bahwa Al Merasakan Bahwa Al Merasakan Bahwa Al- -- -Quran Ditujukan Kepadanya Quran Ditujukan Kepadanya Quran Ditujukan Kepadanya Quran Ditujukan Kepadanya
Memiliki Adab Memiliki Adab Memiliki Adab Memiliki Adab Y YY Yang Baik Terhadap Al ang Baik Terhadap Al ang Baik Terhadap Al ang Baik Terhadap Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Mendokumentasikan Nilai Mendokumentasikan Nilai Mendokumentasikan Nilai Mendokumentasikan Nilai- -- -nilai Dan Ma’ani yang terkandung Dalam Al nilai Dan Ma’ani yang terkandung Dalam Al nilai Dan Ma’ani yang terkandung Dalam Al nilai Dan Ma’ani yang terkandung Dalam Al- -- -
Quran Quran Quran Quran
Berpedoman Pada Pokok Berpedoman Pada Pokok Berpedoman Pada Pokok Berpedoman Pada Pokok- -- -pokok pokok pokok pokok Dasar Ilmu Tafsir Dasar Ilmu Tafsir Dasar Ilmu Tafsir Dasar Ilmu Tafsir
Menselaraskan Nilai Menselaraskan Nilai Menselaraskan Nilai Menselaraskan Nilai- -- -nilai Al nilai Al nilai Al nilai Al- -- -Quran dengan pengetahuan dan tsaqafah Quran dengan pengetahuan dan tsaqafah Quran dengan pengetahuan dan tsaqafah Quran dengan pengetahuan dan tsaqafah
kontemporer kontemporer kontemporer kontemporer
Selalu Memperbaharui Dalam Memah Selalu Memperbaharui Dalam Memah Selalu Memperbaharui Dalam Memah Selalu Memperbaharui Dalam Memahami ayat ami ayat ami ayat ami ayat- -- -ayat Al ayat Al ayat Al ayat Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Memahami Karakteristik Setiap Surat Dalam Al Memahami Karakteristik Setiap Surat Dalam Al Memahami Karakteristik Setiap Surat Dalam Al Memahami Karakteristik Setiap Surat Dalam Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Selalu Memutaba’ah Penggunaan Ayat Selalu Memutaba’ah Penggunaan Ayat Selalu Memutaba’ah Penggunaan Ayat Selalu Memutaba’ah Penggunaan Ayat- -- -ayat Al ayat Al ayat Al ayat Al- -- -Quran dengan Istilah yang Quran dengan Istilah yang Quran dengan Istilah yang Quran dengan Istilah yang
Sama Sama Sama Sama
Memperhatikan Adanya Perbedaan Dari Para Mufasirin Dan Kembali Memperhatikan Adanya Perbedaan Dari Para Mufasirin Dan Kembali Memperhatikan Adanya Perbedaan Dari Para Mufasirin Dan Kembali Memperhatikan Adanya Perbedaan Dari Para Mufasirin Dan Kembali
Pada Ketentuan Al Pada Ketentuan Al Pada Ketentuan Al Pada Ketentuan Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Mengatur Strategi Dal Mengatur Strategi Dal Mengatur Strategi Dal Mengatur Strategi Dalam Berinteraksi Dengan Al am Berinteraksi Dengan Al am Berinteraksi Dengan Al am Berinteraksi Dengan Al- -- -Quran Quran Quran Quran
Memetik Buah Dari Berinteraksi Dengan Al Memetik Buah Dari Berinteraksi Dengan Al Memetik Buah Dari Berinteraksi Dengan Al Memetik Buah Dari Berinteraksi Dengan Al- -- -Quran Quran Quran Quran






















al-ikhwan.net Abu Ahmad
AL AL AL AL- -- -QUR’AN DI MATA RASULULLAH SAW QUR’AN DI MATA RASULULLAH SAW QUR’AN DI MATA RASULULLAH SAW QUR’AN DI MATA RASULULLAH SAW

Al-Quran yang mulia adalah kitab yang menakjubkan dan penuh dengan mukjizat;
menakjubkan dalam sifat-sifat dan karakteristiknya, kaya akan nilai-nilai dan
petunjuknya, berlimpah akan isi dan hakekat-hakekatnya, berharga akan nash-nashnya
dan taujihatnya, kuat dalam memaparkan tujuan dan misinya, aktual dalam menjalankan
misi dan risalahnya, aplikatif dalam peranan dan pengaruhnya.
Mukjizat yang sarat dengan konsep dan petunjuknya, kontinyu dalam memberi nilai-
nilai positif, memberi secara berkesinambungan dan sesuatu yang baru, yang dapat
diterima oleh kaum muslimin disepanjang sejarah Islam hingga mereka mendapati
didalamnya apa yang mereka inginkan untuk dijadikan bekal dalam mengarungi hidup
di dunia dan menggapai keridloan Allah swt dengan membaca dan mentadabburinya
serta berinteraksi dengannya dan menelaah nash-nashnya, mereka bahkan menafsirkan –
dalam mengambil- ayat-ayatnya, menjelaskan syariat-syariat yang terkandung
didalamnya, mengambil taujihat-taujihatnya, mengambil inti-inti dari dalamnya, dan
memetik intisarinya.
Para ulama, para mufassirin dan para mutadabbirin –penelaah- mengambil ini semua isi
Al-Quran di sepanjang zaman dan abad –tahun- dan mendokumentasikannya pada
setiap masa, hingga Al-Quran tetap utuh memberikan sesuatu yang positif, nilai-nilainya
sangat berharga yang tidak akan habis meskipun banyak orang telah mengambilnya, air
yang segar mengalir deras dan tidak akan surut walau benyak yang meminumnya,
naungannya yang begitu luas dan lapang yang tidak akan hilang walaupun orang
berduyun-duyun menggunakannya. Cahayanya bersinar terang tidak akan padam,
sedangkan risalah dan misi yang dibawanya selalu mengalami pembaharuan hingga
datang abad ke 20 dan bahkan setelahnya hingga alam seluruhnya hancur !!!
Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib dalam memberikan sifat Al-
Quran : “Dia adalah kitabullah, didalamnya terdapat kabar –berita- orang-orang
sebelum kalian, dan orang-orang setelah kalian, pemberi hukum diantara kalian, dia
adalah pemisah yang tidak pernah main-main, barangsiapa yang meninggalkannya
karena angkuh maka Allah akan membinasakannya, dan bagi siapa yang mencari
hidayah selainya maka Allah akan menyesatkannya, Al-Quran adalah Tali Allah yang
erat, Al-Quran adalah pemberi peringatan yang bijaksana, Al-Quran adalah jalan lurus,
Al-Quran adalah kitab yang tidak akan melencengkan hawa nafsu, menyimpangkan
lisan, dan memberikan kepuasan para ulama, tidak menciptakan keraguan dan tidak
akan habis keajaiban-keajaiban yang terkandung didalamnya… Al-Quran adalah kitab
yang tidak pernah bosan didengar oleh bangsa Jin sehingga mereka berkata : “Sungguh
kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan, memberi petunjuk ke jalan yang
lurus maka kami beriman kepadanya”. (Surat Al- jin : 1-2). Barangsiapa yang berkata
dengannya akan benar, yang mengamalkannya akan mendapat ganjaran, yang berhukum
dengannya akan adil dan yang menyeru kepadanya akan dapat petunjuk kejalan yang
lurus”.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Al-Quran tidak akan pernah memberikan kepuasan kepada para ulama, dan tidak akan
habis keajaiban-keajaibannya, ibarat lautan yang dalam dan tidak diketahui batas
kedalamannya, namun semakin diselami kedalaman lautan maka akan ditemukan
banyak barang yang bernilai tinggi dan mahal harganya. Para ulama dengan keragaman
ilmu dan pengetahuan serta kebudayaan mereka pasti akan menerima dan memetik
nilai-nilai yang banyak darinya, bahkan mereka tidak akan pernah merasa puas dan
selesai mencari ilmu yang terkandung didalamnya, semakin diselami Al-Qur’an maka
akan semakin didapati banyak pelajaran, nilai-nilai, hikmah, arahan dan petunjuk-
petunjuknya serta lain-lainnya. etapa banyak nilai-nilai yang telah mereka
dokumentasikan, mengeluarkan kandungannya, namun Al-Quran tetap masih memberi
dan memberi, bahkan terus menyeru kepada para pecinta yang lainnya untuk ikut
mengambil seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya, mencari nilai-nilai yang
terkandung dan mendokumentasikannya.
Seorang Mu’min saat mentadabburkan dan berinteraksi dengan Al-Quran dengan baik
dan benar, menelaah apa yang terkandung didalamnya akan nilai-nilai, petunjuk dan
ajaran-ajarannya. Jika dibandingkan dengan para pendahulu mereka, maka akan
dijumpai banyak inovasi dan inspirasi sehingga dapat memperbaiki persepesi yang salah
terhadap orang-orang yang berkeinginan menutup pintu tadabbur terhadap Al-Quran
dan berinteraksi dengannya.
Pintu interpretasi –menafsirkan- Al-Quran tidak akan pernah tertutup, luasnya lahan
tafsir tidak akan pernah habis, bahkan umat manusia dipanjang zaman akan terus
membutuhkan kepada penafsiran baru terhadap Al-Quran yang dapat memberikan
solusi terhadap permasalahan yang dialami di zaman mereka, menyelesaikan problema
yang dihadapi masyarakat, menjawab segala syubhat baru yang disebarkan oleh musuh-
musuhnya, mempererat tali silaturrahim umat Islam dengan Al-Quran dan memperbaiki
hubungan diantara mereka dan kehidupan mereka.
Kita dizaman modern saat ini lebih membutuhkan kepada Al-Quran, membaca dan
mentadabburkannya, memahami dan menafsirkannya, hidup dan berinteraksi
dengannya, mengeluarkan nilai-nilai yang berharga darinya, bergerak dengannya,
berjihad melawan musuh dengannya, mengislah diri kita dan masyarakat melalui
hidayahnya, menegakkan manhaj-manhaj hidup kita dengan panji-panji, system dan
taujihat-taujihatnya. Karena saat ini merupakan zaman yang banyak kesesatannya
seperti yang telah disebarkan tiga golongan sesat –yahudi, nasrani dan musyrik-
terhadap umat manusia, dan melubangi garis pertahanan utama, menguasai tempat-
tempat penting didalam akal, hati, masyarakat dan kehidupan umat manusia, sehingga
jalan akhirnya adalah harus kembali kepada Al-Quran dan menerimanya untuk
menghadapi musuh dan berjihad melawan mereka dengan petunjuknya.
Kita yang saat ini hidup dizaman yang penuh dengan kebobrokan dan penyakit, hampir
terjerumus kelembah apinya, kita telah diuji oleh Allah untuk menghadapi musuh-
musuhnya, diuji untuk tegak berdiri di medan pertempuran bersama mereka, menambal
segala kebocoran yang terjadi ditengah mereka, memberikan kepada kita menjadi
prajurit dan penerusnya, pengmban amanah dan pemerhati terhadap Al-Quran. Kita


al-ikhwan.net Abu Ahmad
berharap Allah menolong kita dari ujian ini, memberikan kebehasilan dan taufik
dimedan ini, teguh dan tegar menuju kemenangan disegala pertempuran, mengharap
ganjaran dan pahala di dunia serta surga dihari kiamat.
Allah dengan karunia-Nya telah menganugrahkan kepada kita untuk menelaah Al-
Quran dengan cara mentadabburkannya, memahaminya dan menafsirkannya, walaupun
sebagai usaha yang masih terbatas, kurang dan sedikit, namun kita memohon kepada
Allah yang Maha Esa untuk selalu hidup dibawah naungan Al-Quran, selalu
bersamanya dalam mengarungi perjalanan yang indah dan menyenangkan, berusaha
merengkuh darinya nilai-nilai yang berharga, meneguk telaga yang jernih,
menggunakan kunci-kunci yang bermanfaat lagi baik, agar bisa berinteraksi dengan Al-
Quran, mendapatkan sentuhan-sentuhannya dan hidup dibawah naungannya.
Rasulullah saw memberikan Al-Quran beberapa sifat dengan benar sebagaimana yang
diisyaratkan dalam hadits-haditsnya yang menunjukkan sebagian karakteristik,
keutamaan dan keistimewaan Al-Quran, menyebutkan beberapa pengaruh-pengaruhnya
dan misinya dalam kehidupan, menjelaskan kedudukan para sahabat, pemerhati,
perealisasi dan penyeru Al-Quran di dunia dan di akhirat.
Kalam Rasulullah saw tentang Al-Quran merupakan kalam yang baik, dicintai dan
selalu mengandung ilmu, dikenal akan keistimewaannya, karakteristiknya, peranannya
dan misinya, karena Al-Quran diturunkan kepadanya, sehingga beliaulah yang lebih
faham diantara manusia akan kalamullah – Al-Quran-, lebih banyak pengalamannya,
karena itu bertolak belakang dari sifat-sifat ini terhadap ucapan dan perkataannya, dan
karena itu pula ucapannya tentang Al-Quran merupakan warna khusus, dalil yang
istimewa dan wahyu tersendiri.
Kami hadirkan disini beberapa hadits shohih Rasulullah saw bagian pertama tentang
bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur’an bagian pertama, -mudah-mudahan akan dapat
kita lanjutkan lagi bagian-bagian lainnya- tentang pandangan nabi saw. terhadap Al-
Quran, sehingga -dengan pemaparan ini- niscaya semakin menambah pengenalan kita
tentang karakteristik, sifat, keistimewaan, keutamaan, misi dan tujuan Al-Quran.
1. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Turmudzi dan Abu Daud dari Utsman bin Affan
ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran
dan mengajarkannya”.
2. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Turmudzi, Nasa’I dan Abu Daud
dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan orang
mu’min yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah : baunya wangi dan rasanya
enak –manis-, dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Quran seperti
buah Tamr –Korma- tidak memiliki bau namun rasanya manis, dan perumpamaan
orang munafik yang membaca Al-Quran seperti Raihanah –parfum- baunya wangi
namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran
seperti buah handzolah : tidak ada bau dan rasanya pahit…”


al-ikhwan.net Abu Ahmad
3. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari ra.
berkata: Rasulullah saw bersabda : “Berjanjilah untuk mengamalkan Al-Quran ini, demi
jiwa Muhammad yang berada digenggamannya yang demikian lebih besar dosanya jika
dilupakan dari seekor unta yang kehilangan akalnya”.
4. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan Nasa’i dari Abdullah bin Umar
bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya perumpamaan
penghapal Al-Quran seperti pemilik seekor unta yang ditambatkan, jika dia
mengikatnya maka dia tidak akan lepas dan pergi, namun jika dia melepas ikatannya
maka dia akan pergi…” dan ditambahkan oleh imam Muslim : “Dan jika penghapal Al-
Quran membaca dan menikmati kandungannya, maka dia akan datang pada hari
kiamat memberi syafaat kepadanya”.
5. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah ra. berkata : Rasulullah
saw bersabda : “Bagi siapa yang membaca Al-Quran dengan mahir maka ganjarannya
akan didudukkan bersama para malaikat yang mulia dan baik, dan bagi siapa yang
membaca Al-Quran namun terbata-bata didalamnya dan terasa berat atasnya maka
baginya dua ganjaran”.
6. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Umamah ra. berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw bersabda : “Bacalah kalian Al-Quran karena sesungguhnya ia akan
datang datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada yang membaca”.
7. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nawas bin Sam’an berkata : Saya
mendengar ra. Rasulullah saw bersabda : “Akan didatangkan pada hari Kiamat dengan
Al-Quran dan orang-oarng yang mengamalkannya di dunia terutama –yang
mengamalkan- surat Al-Baqoroh dan Ali Imron yang akan memberi hujjah –
pembelaan- bagi pembaca dan mengamalkannya”.
8. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw
bersabda : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui Kitab ini –Al-
Quran- dan merendahkan yanglainnya..”.
9. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra.
dari Nabi saw bersabda : “Akan dikataktan kepada siapa yang membaca Al-Quran :
Bacalah dan lemah lembutnya, bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya
di dunia dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu dengan yang lainnya
terdapat pada satu ayat yang kamu baca…”.
10. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abdullah bin Mas’ud berkata ra. Rasulullah
saw bersabda : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah -Al-Quran-
maka baginya satu ganjaran, dan satu ganjaran akan dilipat gandakan sepuluh kali,
Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf
dan Mim satu huruf…”.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
11. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abdullah bin Abbas ra. berkata Rasulullah saw
bersabda : “Sesungguhnya orang yang dimulutnya tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat
Al-Quran seperti rumah yang kosong”.
12. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar bin
Al-Khattab ra. dari Nabi saw bersabda : “Tidak boleh ada Hasad –dengki- kecuali pada
dua hal : kepada seseorang yang diberi oleh Allah Al-Quran lalu ia mengamalkannya
sepanjang malam dan siang hari, dan kepada seseorang yang Allah anugrahkan
kepanya harta dan ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang hari…”.
13. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah ra. bahwa
Rasulullah saw bersabda : “…Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di dalah satu rumah
dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah –Al-Quran-, dan saling
mengajarkannya diantara mereka kecuali turun ditengah-tengah mereka ketentraman,
dinaungi rahmat dan dikelillingi para malaikat serta Allah SWT menyebut-nyebut
mereka kepada siapa yang berada disisinya”.
14. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Imron bin Hasin ra. bahwasannya saat dia
melewati orang yang sedang membaca Al-Quran kemudian meminta ganjaran dari
manusia, maka Imron menggelengkan kepala –atau dia berkata : Inna Lillahi wa Inna
Ilaihi Rajiun –Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali,
dan berkata lagi ; saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang
membaca Al-Quran maka hendaknya dia mengharap ganjaran dari Allah, maka
sesungguhnya akan datang suatu kaum yang mereka membaca Al-Quran lalu meminta
upah kepada manusia kecuali akan dihinakan”.
15. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jair bin Abdullah ra. berkata : ketika kami pergi
bersama Rasulullah saw sambil membaca Al-Quran dan ditengah-tengah kami ada
orang arab dan ‘ajam -non arab- maka Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran,
karena semuanya banyak mengandung kebaikan. Dan akan datang suatu kaum mereka
membacanya seperti Al-Qodh tergesa-gesa namun tidak berlambat-lambat –tartil-…”.
16. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Jundub bin Abdullah ra.
berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran apa-apa yang dapat
menyatukan hati kalian, namun jika kalian berselisih maka luruskanlah darinya”. Dan
banyak lagi hadits-hadits nabi saw tentang pandangan nabi saw. terhadap Al-Quran.
Demikianlah pandangan Rasulullah saw tentang Al-Qur’an, mengandung banyak
hikmah dan mauidzah untuk memotivasi kita berpegang teguh kepada Al-Quran,
dengan membaca, mentadabburkan, menghafal dan mengamalkan Al-Quran. Karena
Al-Quran merupakan sumber kekuatan dan izzah umat Islam yang tidak dapat
ditandingi oleh kitab manapun. Bahkan orang kafir sendiri begitu faham akan sumber
kekuatan dan izzah ini, sehingga secara gamblang Allah swt. mengungkapkan akan
pengakuan mereka agar bisa mengalahkan umat Islam secara menyeluruh; Allah
berfirman : “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar


al-ikhwan.net Abu Ahmad
dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya,
supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat : 26)


































al-ikhwan.net Abu Ahmad
AL AL AL AL- -- -QUR’AN DI MATA PARA SAHABAT NABI SAW QUR’AN DI MATA PARA SAHABAT NABI SAW QUR’AN DI MATA PARA SAHABAT NABI SAW QUR’AN DI MATA PARA SAHABAT NABI SAW

Ketika dakwah yang diemban oleh Rasulullah saw berhasil ditancapkan di semenanjung
arab, terutama di dua kota al-haram (kota Mekkah dan Madinah) dalam kurun waktu
yang singkat, dengan dinaungi Al-Quran, akhirnya mampu melahirkan satu generasi
manusia, generasi –yang menurut bahasa Sayyid Qutb- yang unik; generasi sahabat
Rasulullah SAW, Ridhwanullahi alaihim, yaitu suatu generasi yang paling istimewa di
dalam sejarah Islam dan di dalam sejarah kemanusiaan seluruhnya.
Sebuah Generasi yang tidak akan pernah muncul kembali sesudahnya, sekalipun ada
namun segolongan besar manusia, di satu waktu dan satu tempat yang tertentu seperti
yang telah muncul di era awal dakwah.
Generasi yang lahir dengan fakta dan realita nyata bukan sekedar dongengan dan
khayalan, mereka hidup dalam satu lingkungan dan komunitas yang benar-benar nyata
bukan sekedar cerita dan bualan belaka. Kisah mereka sangatlah terang seterang sinar
matahari di siang hari. Generasi yang kelak menjadi contoh dan tauladan sepanjang
masa, sehingga dengan itu semua kita perlu memperhatikan dan merenungkannya dan
menyelami rahasia dibalik keberhasilan mereka menjadi generasi yang unik.
Sebenarnya sumber pokok yang membuat generasi pertama menjadi generasi unik
adalah Al-Quran, hanya Al-Quran yang menjadi sumber panduan, perjalanan hidup dan
prilaku mereka. walaupun bukan berarti pada saat itu umat manusia di zaman itu tidak
memiliki kebudayaan, tidak memiliki peradaban dan tidak punya buku karangan!
Karena kebudayaan Romawi sebagai Negara adi daya saat itu, buku-buku dan undang-
undangnya dijadikan kiblat dan panduan hidup oleh orang-orang Eropa. Peradaban
Yunani (Greek), falsafah dan kebudayaannya, yang juga masih menjadi sumber
pemikiran Barat hingga sekarang, bahkan juga ada peradaban Persia yang
kebudayaannya, keseniannya, sajaknya, syair dan dongengnya, serta kepercayaan dan
sistem perundangannya menjadi acuan, serta peradaban dan kebudayaan lainnya, seperti
India, China dan lain-lainnya.
Romawi dan Persia berada di sekeliling semenanjung Arab, baik di utara maupun di
selatan, ditambah lagi oleh agama Yahudi dan Nasrani yang telah lama berada di
tengah-tengah semenanjung arab.
Adanya Kitabullah (Al-Quran) merupakan “planning” yang telah ditentukan dan
diprogram oleh Allah untuk mengubah peradaban yang telah gagal menuntun manusia
pada hidayah Allah. Dan diutusnya Rasulullah saw sebagai nabi akhir zaman guna
menjelaskan maksud diturunkannya Al-Quran kepada mereka; membentuk satu generasi
yang bersih hatinya, bersih pemikirannya, bersih pandangan hidupnya, bersih
perasaannya, dan mumi jalan hidupnya dari segala unsur yang yang bertolak belakang
dengan Al-Quranul Karim.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Dan subhanallah dalam waktu 23 tahun generasi sahabat-sahabat berhasil mengubah
cara pandang, gaya hidup dan prilaku ketingkat yang lebih tinggi dan mulia, mereka
dengan senang hati menerima Al-Quran, menghafal dan mengamalkannya dalam segala
gerak-gerik dan prilaku mereka sehari-hari, menjadi sumber yang tunggal dan panduan
semata. Oleh kerana itulah generasi itu telah berhasil membentuk sejarah gemilang di
zamannya.
Para sahabat Rasulullah di dalam generasi pertama itu tidak mendekatkan diri mereka
dengan Al-Quran dengan tujuan mencari pelajaran dan bacaan belaka, bukan juga
dengan tujuan mencari hiburan dan pelipur lara. Tiada seorang pun dari mereka yang
belajar Al-Quran dengan tujuan menambah bekal dan bahan ilmu semata-mata untuk
ilmu dan bukan juga dengan maksud menambah bahan ilmu dan akademi untuk mengisi
dada mereka saja. Namun mereka mempelajari Al-Quran itu dengan maksud hendak
belajar bagaimanakah arahan dan perintah Allah dalam urusan hidup peribadinya dan
hidup bermasyarakat. Mereka belajar untuk dilaksanakan “sami’na wa ‘ata’na, seperti
seorang perajurit yang siap menerima “ruh al-istijabah” dan membuka dada untuk
selalu mengambil arahan yang turun.
Ruhul istijabah yang hanya mau menerima sepuluh ayat saja dan tidak mau
menambahnya sehingga benar-benar dapat dihafal dan dilaksanakan sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a. Perasaan inilah perasaan belajar untuk
melaksanakan, yang telah menambah luasnya lapangan hidup mereka, menambah
luasnya ma’rifat dan pengalaman mereka dari ajaran Al-Quran.
Perasaan belajar untuk melaksanakan ini juga yang telah memudahkan mereka bekerja
dan meringankan beban mereka yang berat, kerana Al-Quran telah menjadi hati,
menjadi daging dan darah mereka. Perasaan yang telah tertanam dalam jiwa mereka
hingga meresap menjadi panduan dalam gerak dan melahirkan pelajaran yang
memotivasi aktivitas, pelajaran yang bukan sekedar teori yang hanya bersarang di dalam
otak kepala manusia atau tertulis di halaman kertas namun menjadi kenyataan yang
melahirkan kesan dan peristiwa yang mengubah garisan hidup.
Bagaimanakah pandangan para sahabat nabi terhadap Al-Quran, mari kita simak
penuturan mereka:
1. Ali bin Abi Thalib dalam memberikan sifat Al-Quran : “Dia adalah kitabullah,
didalamnya terdapat kabar –berita- orang-orang sebelum kalian, dan orang-orang
setelah kalian, pemberi hukum diantara kalian, dia adalah pemisah yang tidak pernah
main-main, barangsiapa yang meninggalkannya karena angkuh maka Allah akan
membinasakannya, dan bagi siapa yang mencari hidayah selainya maka Allah akan
menyesatkannya, Al-Quran adalah Tali Allah yang erat, Al-Quran adalah pemberi
peringatan yang bijaksana, Al-Quran adalah jalan lurus, Al-Quran adalah kitab yang
tidak akan melencengkan hawa nafsu, menyimpangkan lisan, dan memberikan kepuasan
para ulama, tidak menciptakan keraguan dan tidak akan habis keajaiban-keajaiban yang
terkandung didalamnya… Al-Quran adalah kitab yang tidak pernah bosan didengar oleh
bangsa Jin sehingga mereka berkata : “Sungguh kami telah mendengar Al-Quran yang


al-ikhwan.net Abu Ahmad
menakjubkan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus maka kami beriman kepadanya”.
(Surat Al- jin : 1-2). Barangsiapa yang berkata dengannya akan benar, yang
mengamalkannya akan mendapat ganjaran, yang berhukum dengannya akan adil dan
yang menyeru kepadanya akan dapat petunjuk kejalan yang lurus…”
2. Abdullah bin Abbas berkata : Allah mengumpulkan dalam Kitab ini ilmu –
pengetahuan- para pendahulu dan sekarang, ilmu yang telah terjadi dan akan terjadi,
ilmu tentang Sang Pencipta, perintah-Nya dan Ciptaan-Nya…” (Jami Al-Usul : 8 : 464-
465)
3. Diriwayatkan oleh Amir bin Wailah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan
Umar di Asfan –saat itu Umar mengangkatnya menjadi Imam di Mekkah- beliau
berkata : “Siapa yang menjadi imam pada penduduk dusun ? dia berkata : Ibnu Ibzi …
beliau berkata : Siapa Ibnu Ibzi ? dia berkata : salah satu pemimpin dari pemimpin kami
! beliau berkata : anda telah mengangkat atas mereka seorang pemimpin ? dia berkata :
dia adalah seorang qori –hafidz- kitabullah, dia adalah alim dalam ilmu Faraidl, Umar
berkata : adapun Nabi kalian bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat suatu
kaum dengan Kitab ini dan menghinakan kaum lainnya..” ( Jami’ Al-Usul : 8 : 507)
4. Diriwayatkan oleh Abu Al-Aswad Ad-Duuli berkata : Abu Musa Al-Asy’ari diutus
kepada para huffadz kota Basrah, maka menemui 300 orang yang telah hafal Al-Quran,
maka beliau berkata : kalian adalah umat yang dipilih dari kota Basrah, menghafal Al-
Quran karena itu bacalah dengan baik dan janganlah memanjang-manjangkan bacaan
sehingga hati kalian menjadi keras seperti umat sebelum kalian..” (Jami Al-Usul : 2 :
452)
5. Aisyah –RA- berkata : “Abu Bakar jika membaca Al-Quran selalu menangis baik
dalam sholat atau lainnya. Beliau juaga berkata : “Al-Quran lebih mulia daripada
hilangnya akal manusia…”. (Jami Al-Usul : 2 : 466-467)
6. Asma binti Abu Bakar –RA- berkata : “Tidak ada seorangpun dari salafussolih tidak
tergerak dan merasakan kenikmatan saat membaca Al-Quran, namun mereka selalu
menangis dan bergetar kemudian kulit dan hati mereka lunak dengan menyebut nama
Allah”. (Jami Al-Usul : 2 : 467)
7. Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : “Wahai sekalian para huffadzul Quran,
beristiqomahlah kalian karena kalian telah melangkah lebih jauh, jika kalian mengambil
jalan kanan lalu kekiri maka sesungguhnya kalian telah tersesat dalam kesesatan yang
jauh”. (Jami Al-Usul : 2 : 471)
8. Ibnu Abbas berkata : “Para penghafal Al-Quran merupakan para pendamping majlis
Umar dan musyawarah, orang tua dan kalangan muda”. (At-Tibyan fi Adab Hamlatil
Al-Quran, Imam Nawawi : 11)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
9. Berkata Al-Hasan bin Ali : “sesungguhnya umat sebelum kalian memandang Al-
Quran sebagai surat dari Tuhan mereka, mereka mendatabburkannya di malam hari dan
mencarinya disiang hari –mempelajarinya-.” (At-Tibyan : 28)
10. Sekelompok manusia dari Yaman menghadap Abu Bakar Ash-Shiddiq, mereka
membaca Al-Quran sambil menangis, maka Abu Bakar berkata : begitulah kami dahulu.
(At-Tibyan : 28).
11. Seseorang berkata kepada Abdullah bin Mas’ud : “Saya membaca Al-Quran –surat
al-mufashol- pada rakaat pertama –al-mufashol adalah surat-surat pendek dalam Al-
Quran mulai dari surat Al-Hujurat hingga An-Naas, dinamakan demikian karena
banyaknya pemisahan antara surat dengan basmalah- maka Ibnu Mas’ud berkata
kepadanya : Demikianlah, demikianlah Syair, sesungguhnya sebagian kaum ada yang
membaca Al-Quran tidak sampai tenggorokan mereka, seandainya masuk kedalam hati
maka akan bersih hatinya dan bermanfaat”. (At-Tibyan : 49)
12. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Seorang hamba tidak akan ditanya akan dirinya
kecuali Al-Quran, jika dia mencintainya maka Allah dan Rasul-Nya akan cinta
kepadanya, namun jika ia murka kepadanya maka Allah dan Rasul-Nya akan murka
juga kepadanya…” (Fadhail Al-Quran, Imam Ibnu Katsir : 6)
13. Abdullah bin Mas’ud berkata tentang sebagian surat yang mulia dan selalu
dibacanya dengan melagukannya, yaitu surat : Al-Isro, Al-Kahfi, Maryam, Thoha, Al-
Anbiya, sesungguhnya kesemuanya itu merupakan punggung utama dan merupakan
taladi”. (Fadhail Al-Quran : 25)
14. Ibnu Abbas berkata : “Sekiranya para penghafal Al-Quran mengambilny adengan
benar dan yang layak baginya maka Allah akan cinta kepada mereka, namun sebagian
mereka banyak yang mencari dunia sehingga Allah murka kepada mereka dan
menghinakannya dihadapan manusia”. (Tafsir Al-Qurtubi : 1 :20)
15. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : “Tidak layak bagi penghafal Al-Quran
masuk ke dalam lingkaran orang yang lalai, tidak ikut bodoh bersama orang-orang yang
bodoh, namun memiliki sifat pemaaf dan melebarkan tangan melalui kebenaran Al-
Quran, karena di dalam mulutnya ada kalam Allah”. (Al-Qurtubi : 1 : 21)
16. Dari Abdullah bin Mas’ud berkata : “Sesungguhnya pada awal kami sangat sulit Al-
Quran namun mudah bagi kami mengamalkannya, namun umat setelah kami mudah
bagi mereka menghafal Al-Quran namun sulit bagi mereka untuk mengamalknnya”.
(Al-Qurtubi : 1 : 40)
17. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Jika kalian menginginkan ilmu maka carilah Al-
Quran karena didalamnya terdapat ilmu umat dahulu dan mendatang”. (Ihya Ulumuddin
: 1 : 498)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
18. Anas bin Malik berkata : “Betapa banyak orang yang membaca Al-Quran namun
Al-Quran melaknatnya”. (Al-Ihya : 1 : 499)
19. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab berkata : “Kami hidup pada zaman yang panjang
dan diantara kami ada yang diberi iman lebih dahulu sebelum Al-Quran, lalu turunlah
surat kepada nabi Muhammad saw hingga bisa belajar yang halal dan haram, perintah
dan larangan, apa yang seharusnya dilakukan dari sisinya, namun ada sebagain kalian
seperti yang saya lihat yang diberi lebih Al-Quran sebelum iman, dia membaca antara
surat Al-Fatihah hingga akhir namun tidak memahami mana perintah dan larangan, dan
apa yang seharusnya dia lakukan darinya…? (Al-Ihya : 1 : 500)
20. Utsman bin Affan dan Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : “Seandainya hati-hati itu
bersih maka tidak akan pernah merasa puas dalam membaca Al-Quran”. (Al-Ihya : 1 “
522)
21. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan tempat
pendidikan dari Allah barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka ia akan aman.” (AZ-
Zuhud, ibnu Al-Mubarak : 272)
22. Abu Hurairah berkata : “Rumah yang dibacakan didalamnya Kitabullah maka akan
berlimpahlah kebaikan dan didatangi para Malaikat serta syetan akan keluar
darinya..sedangkan rumah yang tidak pernah dibacakan didalmnya Kitabullah maka
penghuninya akan merasa sempit, sedikit kebaikannya, syetan akan singgah didalamnya
sedangkan para malaikat akan keluar..” (Az-Zuhud, Ibnu Al-Mubarak : 273)
23. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : “Barangsiapa yang membaca Al-Quran
maka derajatnya akan setara dengan kenabian namun dia tidak diberi wahyu, dan
barangsiapa yang membaca Al-Quran lalu dia melihat salah seorang dari makhluk Allah
yang diberikan lebih baik maka sungguh ia telah menghinakan kebesaran Allah, dan
besar dosa dalam menghina Allah, tidak layak begi penghafal Al-Quran tidak
mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia, tidak membatasi dirinya dari mereka
yang membatasi dirinya, namun hendaknya mau memaafkan dan melebarkan tangan.”
(Az-Zuhud : 275-276)











al-ikhwan.net Abu Ahmad
AL AL AL AL- -- -QUR’AN DI MATA QUR’AN DI MATA QUR’AN DI MATA QUR’AN DI MATA PARA TABI’IN PARA TABI’IN PARA TABI’IN PARA TABI’IN

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-
baik umatku adalah yang hidup pada kurun sahabatku, kemudian setelah kurun mereka
(tabiin), kemudian setelah kurun mereka (tabiit tabiin)…” (HR. Al-Haris bin Abi
Usamah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).
Secara praktek memang hampir sulit membedakan antara dua masa salafus shalih, masa
sahabat dan masa tabi’in, karena begitu dekat jaraknya antara zaman tabi’in dengan
masa nabi Muhammad saw, namun secara ilmiyah dan historis, kita dapat menemukan
akan perbedaan yang detail dan gamblang antara dua periode tersebut, karena dengan
meninggalnya nabi saw telah menjadi batasan secara ilmiyah akan awal masa sahabat,
sehingga umat yang hidup pada masa itu dianggap bahagiaan dari masa tabi’in,
terutama mereka-mereka yang menjadi murid pada sahabat, menimba ilmu dari mereka;
baik ilmu Al-Quran (tafsir) ataupun Sunnah.
Sedangkan dari sisi sejarah juga dapat ditemukan akan perbedaan dua masa tersebut,
yaitu sejak meninggalnya sahabat nabi saw. Namun dapat kita simpulkan disini bahwa
masa keemasan Islam itu terdapat pada ini juga, seperti yang telah disampaikan oleh
nabi dalam hadits yang tertera di atas.
Adapun yang dimaksud dengan tabi’in adalah orang-orang beriman yang tidak bertemu
dengan Nabi Muhammad saw, akan tetapi bertemu dan belajar agama Islam dengan
Sahabat-Sahabat Nabi Muhammad saw.
Diantara para tabi’in yang terkenal pada masanya adalah mereka yang telah banyak
menimba ilmu dari para sahabat. Hal itu terjadi karena semasa hidupnya para sahabat
tidak tinggal diam, namun terus berdakwah menyampaikan apa yang telah didapat,
dilihat dan didengar dari nabi mereka. Sehingga tidak salah kalau diantara mereka
banyak mendirikan madrasah tafsir; seperti
1. Madrasah Mekkah yang dipimpin oleh Abdullah bin Abbas.
2. Madrasah Madinah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab.
3. Madrasah Kufah, Iraq yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud.
Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun tafsir, yang paling memahaminya adalah penduduk
Makkah, karena mereka adalah murid dari Abdullah bin Abbas, seperti Mujahid, Atho
bin Abi Rabah, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Thawus, dan ulama tabi’in
lainnya. Begitupun penduduk Kufah dari murid imam Abdullah bin Mas’ud seperti Al-
qamah bin Qais, Masruq, AL-Aswad bin Zaid, Murrah Al-Hamdani, ‘Amir As-Sya’bi,
Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah bin Da’amah As-sudusi serta ulama tabi’in lainnya, dan
ulama penduduk Madinah, murid dari imam Ubay bin Ka’ab, seperti Zaid bin Aslam,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Abdurrahman dan Abdullah bin Wahab, dan ulama tabi’in lainnya”. (Lihat Tafsir wal
mufassirun: jil. 1 hal 101)
Dan dari tiga madrasah itulah para tabi’in menimba ilmu dari para sahabat dimana
mereka tinggal, terutama ilmu yang berkaitan dengan tafsir dan hadtis nabi saw, dan
mereka mendapatkan riwayat hadits nabi langsung dari lisan para sahabat, menerima
penjabaran tafsir Al-Quran sehingga setelah itu mereka menjadi ulama tafsir dan hadits
terkemuka. dan dari merekalah tersebar ilmu-ilmu tafsir, ilmu hadits dan ilmu-ilmu
lainnya, walaupun pada masa saat itu ilmu-ilmu yang disampaikan belum dibukukan
namun hanya disampaikan melalui talaqqi dan tadris saja.
Dan secara histori interaksi mereka terhadap Al-Quran begitu intens, sehingga dengan
pemahaman mereka terhadap Al-Quran menjadikan dunia cerah dan mampu
mempertahankan posisi mereka sebagai sebaik-baik zaman dan abad sebagaimana yang
disabdakan oleh nabi saw sebelumnya.
Adapun pandangan mereka terhadap kitab Al-Quran adalah sebagai berikut:
1. Al-Fudhoil bin Iyadl berkata : “Selayaknya bagi para penghapal Al-Quran tidak
membutuhkan kepada seorangpun dari penguasa dan orang yang berada dibawah
mereka, namun hendaknya merekalah yang membutuhkan kepadanya”. Beliau juga
berkata : “Para penghafal Al-Quran adalah para pembawa panji Islam, tidak layak bagi
mereka ikut lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa, tidak sesat
bersama orang yang sesat, demi mengagungkan Al-Quran…” (At-Tibyan 28-29, dan
Ihya Ulumuddin : 1 : 499)
2. Ibrahim Al-Khowash –disebutkan namanya Ibrahim An-Nak’I- berkata : “Obat hati
ada lima : membaca Al-Quran dan mentadabburkannya, mengosongkan perut,
qiyamullail, memohon ampun di waktu sahur dan duduk bersama para shalihin”.
3. Al-A’masy berkata : “Ketika saya masuk kerumah Ibrahim (An-Nakh’I) yang sedang
membaca Mushaf, namun ada seseorang meminta izin kepadanya maka belaiupun
menutup mushafnya !! dan dia berkata : Tidak seorangpun saya melihat seseorang
membaca Al-Quran setiap saat kecuali anda”. Dari Abu Al-‘Aliyah berkata : Saat duduk
bersama sahabat Rasulullah saw maka seorang dari mereka berkata : Semalam saya
membaca Al-Quran segini…, mereka berkata : ini adalah nasibmu-ganjaran- darinya”.
Seakan-akan tidak ada ganjaran lain dari sisi Allah, karena meminta pujian dari
manusia, karena itu dia mengambilkan upah sebagai pujian dari manusia. (At-Tibyan :
60)
4. Dari Thowus berkata : “Sebaik-baik manusia yang indah bacaan Al-Quran adalah
yang lebih takut kepada Allah”. (Fadoil Al-Quran, Ibnu Katsir : 36)
5. Abu Abdurrahman bin Habib As-Sulmi Al-Kufi telah pensiun dari mengajarkan Al-
Quran kepada manusia semenjak Utsman menjadi khalifah sampai musim haji


al-ikhwan.net Abu Ahmad
tiba…mereka berkata; bahwa batas beliau mengajarkan Al-Quran selama 70 tahun”.
(Fadail Al-Quran : 40)
6. Ad-Dhohak bin Muzahim berkata : “Tidak ada seoranpun yang belajar Al-Quran lalu
dia melupakannya kecuali akan menerima dosa, karena Allah SWT berfirman : “Tidak
ada musibah yang menipa seseorang kecuali karena ulah mereka sendiri”. (Asy-Syura
: 30) karena sesungguhnya melupakan Al-Quran adalah merupakan musibah terbesar”.
7. Ibnu Abu Al-Jawari menyebutkan : “Saat kami datang menghadap Fudhoil bin Iyadl
beliau sedang berjamaah, lalu kami berdiri di depan pintu dan tidak diizinkan masuk,
akhirnya sebagian dari kami berkata : jika beliau menginginkan sesuatu maka akan kami
persilahkan dari kami membaca Al-Quran ! maka kamipun memerintahkan salah
seorang membaca Al-Quran lalu iapun membaca, maka muncullah suara
memerintahkan kami ke dalam, maka kamipun berkata : Assalamua ‘alaika
warahmatullah, beliau menjawab : Wa’alikumussalam. Kami berkata kepadany a:
Bagaimana keadaan anda wahai Abu Ali, dan keadaanmu ? baliau menjawab : Berkat
Allah SWT dalam keadaan sehat, dan diantara ada yang sakit, dan sesungguhnya tidak
ada diantara kalian yang menimpanya dalam Islam, sungguh kami adalah milik Allah
dan kepada-Nya-lah kami akan kemabli ! bukan begini kami menuntut ilmu, namun
kami datang kepada guru dan kami menyangka kami tidak berhak duduk bersama
mereka, maka kami duduk ditempat lain dan menjadi pendengar, jika ada penjelasan
terhadap suatu hadits maka kami bertanya kepada mereka pengulangannya dan kami
ikat –hapal- terus, namun kalian ingin menuntut ilmu karena kebodohan, dan kalian
telah menyia-nyiakan Kitabullah, seandainya kalian menerapkan Kitabullah maka
kalian mendapati didalamnya Syifa –penyembuh yang ampuh- sesuai dengan keinginan
kalian. Kami berkata : Kami telah belajar Al-Quran ! beliau berkata : Kalian belajar Al-
Quran hanyalah sekedar kesibukan untuk menghabiskan umur kalian dan anak-anak
kalian. Apa maksudnya wahai Abu Ali ? beliau berkata : kalian jangan belajar Al-Quran
sampai kalian memahami I’rabnya, muhkam dari mutasyabihnya, naskh dari
mansukhnya, jika kalian telah mengetahui hal tersebut maka tidak perlu kalian
mendengar ucapan Fudhoil dan Ibnu uyainah”. (Al-Qurtubi : 1 : 23)
8. Mujahid berkata : “Makhluk yang paling dicintai Allah adalah orang yang
mengamalkan apa yang telah Allah turunkan – Al-Quran-“. (Al-Qurtubi 1 : 26)
9. Al-Hasan Al-Basri berkata : “Demi Allah, tidak pernah Allah menurunkan ayat
kecuali Dia akan cinta kepada seseorang yang mengajarkan apa yang telah diturunkan
dan memahami maksud yang terkandung didalamnya”. (Ihya Ulumuddin : 1 : 1 : 499)
10. Abu Sulaiman Ad-Darami berkata : “Az-Zabaniyah akan lebih cepat menuju kepada
para penghafal Al-Quran yang berbuat maksiat kepada Allah dari mereka ketimbang
orang yang menyembah berhala…” (Ihya ulumuddin : 1 : 499)
11. Al-Hasan Al-Basri berkata : “Sesungguhnya kalian menjadikan Al-Quran beberapa
fase, sedangkan dimalam harinya kalian jadikan satu kumpulan, kalian mengendarainya
namun kalian jadikan beberapa etape..padahal umat sebelum kalian memandangnya


al-ikhwan.net Abu Ahmad
surat-surat dari Tuhan mereka, mereka mentadabburkannya di malam hari dan
mengamalkannya disiang hari”. (Al-Ihya : 1 : 500)
12. Malik bin Dinar berkata : “Apa yang telah Al-Quran tanamkan di dalam hati kalian
wahai para penghafal Al-Quran ? sesungguhnya Al-Quran adalah seperempat orang
beriman, sebagaimana hujan bagian dari seperempatnya bumi…
13. Qatadah berkata : “Tidak duduk seseorang belajar Al-Quran kecuali baginya
penambahan dan atasnya kekurangan. Allah SWT berfirman : “Dan Kami turunkan Al-
Quran yang terdapat didalamnya Penyembuh dan Rahmat bagi orang-orang beriman
dan tidak akan bertambah bagi orang-orang yang dzalim kecuali kerugian”. (Al-Isra :
82)
14. Tsabit Al-Banani berkata : “Al-Quran direngkuh selama 20 tahun kemudian
memberikan kenikmatan selama 20 tahun pula”. (Al-Ihya : 1 : 522)
15. Berkata Mujahid dalam menafsirkan Firman Allah : “Meraka membaca Al-Quran
dengan penuh kesungguhan”. (Al-Baqarah : 121) Mereka mengamalkan Al-Quran
dengan benar”.
16. Al-Hasan Al-Basri berkata : “Sesungguhnya Al-Quran dapat dibaca oleh seorang
hamba dan anak kecil yang mereka tidak mengetahui cara membacanya…tidak bisa
mentadabburkan Al-Quran kecuali hanya mengikuti, tidak bisa menghafal huruf-
hurufnya dan batasan-batasannya…sampai salah seorang dari mereka berkata : Saya
telah membaca Al-Quran seluruhnya dan tidak ada yang tertinggal satu hurufpun.
Padahal demi Allah dia telah menggugurkan seluruhnya, Al-Quran tidak dia aplikasikan
dalam prilaku dan amalnya..yang lainnya berkata saya telah membaca Al-Quran dengan
satu nafas ! Demi Allah mereka bukanlah orang membaca Al-Quran, bukan para ulama,
para pemimpin dan ahli waro, ketika muncul para huffadz seperti demikian, maka Allah
tidak akan mengembangbiakkan orang seperti itu…”. (Az-Zuhd : 274)
17. Qatadah berkata dalam menafsirkan firman Allah : “Dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”. (Al-Mu’minun :
3) Telah datang kepada mereka Al-Quran, demi Allah merupakan perintah dari Allah,
mereka tidak pernah terjerumus dalam kebatilan, maksudnya adalah mereka berusaha
menghindar dan menjauhi”. (Az-Zuhd : 276)









al-ikhwan.net Abu Ahmad
NAMA DAN KARAKTERISTIK AL NAMA DAN KARAKTERISTIK AL NAMA DAN KARAKTERISTIK AL NAMA DAN KARAKTERISTIK AL- -- -QUR’AN QUR’AN QUR’AN QUR’AN

Sebelumnya telah kita bahas tentang bagaimana pandangan Nabi saw dan para ulama
salaf -para sahabat dan para tabi’in- terhadap Al-Qur’an. Yang mana hal itu semua tidak
bisa dilakukan kecuali karena interaksi mereka yang intens dan diiringi pemahaman
mereka yang mendalam, sehingga dapat memberikan pandangan yang begitu terhadap
Al-Qur’an.
Karena itu pada kesempatan ini dan kesempatan selanjutnya akan kita bahas tentang
nama dan karakteristik Al-Qur’an dan bagaimana kiat kita untuk bisa sukses
berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Di dalam Al-Quran Al-Karim banyak disebutkan beberapa nama dan karakteristik
Kitabullah (Al-Quran Al-Karim), dan dalam ayat-ayatnya disebutkan juga beberapa
sifat dan keistimewaan secara gamblang akan kitab ini; sehingga dapat memberikan
pengaruh yang baik terhadap individu dan sosial, memperlihatkan fenomena-
fenomena kemuliaan yang mendalam seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan
para sahabatnya serta para tabi’in dalam berinteraksi dengan Al-Quran, membawa
mereka pada kehidupan yang bersih dibawah naungannya…
Sebelum membaca dan mentadabburkan Al-Quran, maka kita mesti mengetahui dan
memahami lebih dahulu sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik, serta
keistimewaan Al-Qur’an, menelaah lebih cermat saat berada dihadapan ayat-ayat yang
diungkapkan, mehidupkan dengan segala kemampuan dan perasaan seakan seluruh
detik kehidupan kita diserahkan untuknya…
Sesungguhnya Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui firman-Nya yang Mulia
untuk selalu memperhatikan kehidupan yang penuh berkah di dalamnya, mengarungi
kehidupan yang tentram saat berada di bawah naungannya. Karena itu, Allah
SWT memaparkan kepada kita beberapa nama-nama, sifat-sifat, karakteristik dan
keistimewaan Al-Quran, sehingga kita bisa menerimanya dengan penuh kesadaran,
pemahaman, dan optimisme, guna mengenal lebih dekat akan karakteristik, misi,
peranan dan risalah Al-Quran itu sendiri. Karena tidak ada seorangpun yang lebih tahu
kalam Allah kecuali Allah SWT itu sendiri. Dan karunia Allah atas kita adalah
diberikannya pengenalan terhadap Al-Quran, yang merupakan kenikmatan yang
terbesar dan sangat berharga, sebagai Rahmat yang tak terkira sehingga kita seharusnya
menerimanya dengan menghadapkan wajah kepada Allah dengan pujian dan syukur,
ikhlas dan cinta. Menerima secara penuh akan kitab-Nya dengan tadabbur, perasaan,
komitmen dan aplikasi. Agar kita dapat merasakan nikmatnya hidup melalui keragaman
corak dan fenomena.
Dalam pembahasan ini akan coba kami hadirkan beberapa nama-nama Al-Quran dan
karakteristiknya, keistimewaan dan sifat-sifatnya, keutamaan-keuatamaan dan nilai-nilai


al-ikhwan.net Abu Ahmad
positif yang terkandung dalam Al-Qur’am, sebgaimana yang termaktub dalam nash-
nash dan ayat-ayatnya.
1. Al-Quran
Adapun nama yang pertama yang kita kenal terhadap kitabullah adalah Al-Qur’an,
bahkan nama inilah yang banyak disebut dalam ayat-ayat-Nya, sehingga nama
ini merupakan nama yang paling masyhur dan dikenal, Allah SWT telah
mengkhususkan kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah saw dengan nama ini,
dan bahkan tidak diberikan kepada kitab-kitab samawiyah sebelumnya.
Dan kalimat “Al-Quran” berasal dari akar kata “Al-Qiraah” (sebagaimana yang telah
disepakati oleh para ulama di bidangnya), dan telah menjadi ciri khusus atas kitab yang
diturunkan kepada nabi Muhammad saw, sehingga menjadi ilmu tersendiri.
Imam Ar-Ragib al-asfahani dalam kitabnya “Mufrodatul Quran” menyebutkan pendapat
salah seorang ulama “kitab ini disebut “Al-Quran” dihadapan kitab-kitab Allah yang
lainnya karena merupakan kumpulan dari intisari kitab-kitab tersebut bahkan
merupakan rangkuman dari berbagai macam ilmu” sebagaimana yang telah disebutkan
dalam firman Allah SWT : “-Dengan Al-Quran”- menjelaskan segala sesuatu”. (Yusuf
: 111) [1]
Dipilihnya nama kitabullah dengan Al-Quran –sebagai nama unggulan dan nama
tersendiri- memberikan gambaran yang gamblang akan kewajiban, keistimewaan dan
keunggulan umat Islam – sebagai pemelihara Al-Quran akan eksistensinya di tengah
umat yang disekitarnya- karena tidak ada yang boleh mengambil sesuatu untuk menjadi
manhajul hayah (sistem hidup) selain dari Al-Quran Al-Karim.
Allah menceritakan kronologi awal diturunkannya Al-Quran; yaitu pada bulan
Ramadlan Al-Mubarak, dengan Firman-Nya “Bulan Ramadlan adalah bulan di
dalamnya diturunkan Al-Quran pemberi petunjuk untuk manusia, pemberi penjelasan
akan hidayah itu dan Al-Furqon –pembeda antara yang haq dan bathil-”. (Al-baqoroh
: 185)
Allah berfirman dalam mensifati Al-Quran : “Qof..Demi Al-Quran yang Mulia” (Qaf :
1) “Shad. Demi Al-Quran yang memberi peringatan” (Shad : 1) begitupun Al-Quran
disifatkan dengan kitab berbahasa arab yang nyata –fasih- di dalam Firman Allah :
“Kitab yang telah dirincikanm ayat-ayatnya, Al-Quran yang berbahasa arab untuk
kaum yang mengetahui”. (Fushilat : 3)
Allah menetapkan bahwa Al-Quran adalah kitab yang mudah diingat –dihapal- bagi
siapa yang ingin mengingat dan mengahapalnya, dan bagi siapa yang berinteraksi
dengannya dengan hati yang hidup dan terbuka- Alalh SWT berfirman : “Sungguh
Kami telah jadikan Al-Quran mudah diingat, maka adakah orang yang mengingatnya”.
(Al-Qomar : 17)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Sebagaimana pula Allah menjelaskan bahwa dalam Al-Quran telah disebutkan dari
setiap sesuatu permisalan agar manusia mau berfikir atau mengingatnya namun mereka
lalai dari permisalan ini bahkan ada yang membangkang darinya, dan memilih hidup
dalam kebimbangan, kufur dan linglung. Allah berfirman : “Sungguh telah berikan
untuk manusia didalam Al-Quran permisalan dari sesuatu, maka kebanyakan manusia
enggan sehingga mereka menjadi kufur” (Al-Isra : 89)
Allah mengajarkan kepada kita bahwa mereka -orang-orang kafir- tidak suka
mendengar bacaan Al-Quran, dan setiap Rasulullah saw membaca Al-Quran maka
penghalang yang tinggi dan tirai yang tebal menutupi antaranya dan orang-orang kafir,
hijab ini diumpamakan dalam tutup yang terletak didalam hati, mulut dan
telinga, sehingga tidak bisa menghayati dan mentadabburkan kalam Allah. Karena itu
mereka akan berpaling dari orang yang membaca kalamullah, pergi dan lari darinya,
Allah SWT berfirman : “Dan jika Engkau membacakan Al-Quran kepada mereka,
Kami jadikan antaramu dan orang-oran gyang tidak beriman hijab diakhirat. Dan
Kami jadikan hati mereka tertutup dari memahami Al-Quran, telinga mereka tuli. Dan
jika engkau ingatkan Tuhanmu kepada mereka dalam Al-Quran maka mereka akan
berpaling dan meniggalkan kamu jauh-jauh.” (Al-Isra : 45-46)
Allah juga menyeru kepada kita untuk bersemangat dalam membaca Al-Quran, selalu
siap dengan persiapan khusus, menghadapkan wajah kepada Allah, memohon
perlindungan kepada-Nya dari godaan syetan, agar doa ini menjadi wasilah suatu
kemudahan dalam mentadabburkan Al-Quran, Allah berfirman : “Maka jika engkau
hendak membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan dari godaan syetan yang
terkutuk”. (An-Nahl : 98)
Allah juga meminta kepada kita untuk memliki adab yang baik terhadap Al-Quran, saat
kita mendengar alunan ayat yang dibaca, maka kita wajib mendengar dengan sepenuh
jiwa, membuka pintu-pintu hati agar dapat memiliki hubungan dan interaksi yang baik
dengannya. Bedakan antara mendengar dan mendengarkan, karena mendengar hanyalah
sekedar sampainya suara ke telinga, namun kadangkala hanya sekedar mendengar tanpa
disengaja. Adapun mendengarkan berarti mengikut sertakan indra dan seluruh
pensendian –anggota tubuh- yang lain seperti telinga untuk berinteraksi, tadabbur,
talaqqi dan konsentrasi. Allah SWT berfirman : “Maka jika dibacakan Al-Quran maka
dengarkanlah bacaan itu dan diamlah –heninglah- agar kalian mendapat Rahmat”.
(Al-A’raf : 204).
Allah juga menjelaskan pengaruh yang sangat besar akan tunduknya gunung yang besar
–saat diberikan amanah kepadanya- dan berinteraksi dengannya, menampakkan
fenomena yang sangat dahsyat dan menakjubkan, Allah berfirman : “Kalau sekiranya
Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya
tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan-
perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (Al-Hasyr : 21)
dan Firman-Nya : “Dan sekiranya ada suatu bacaan )kitab suci) yang dengan bacaan
itu gunun-gunung dapat digoncangkan atau bumi menjadi terbelah atau oleh karenaya


al-ikhwan.net Abu Ahmad
orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al-Quran itulah dia). Sebenarnya
segala urusan itu adalah kepunyaan Allah”. (Ar-Ra’ad : 31)
Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mentadabburkan Al-Quran, bersimpuh di
hadapannya untuk menelaah ayat-ayat-Nya, mengkaji akan wahyu-wahyu-Nya, arahan-
arahan-nya, nilai-nilai dan hakekat-hakekat-nya, sehingga mampu menghilangkan
penyakit yang ada pada dua telapak tangan yang dapat menjadi penghalang antara kita
dengan tadabbur ini, menghilangkan penyakit yang selalu mengganjal kita saat ingin
mengamalkannya, sehingga sirna penyakit tersebut atau hilang secara keseluruhan yaitu
tertutupnya hati yang sering menjadi penghalang masuknya cahaya hidayah, kebaikan
dan kehidupan, adapun penutup itu adalah syahwat, maksiat dan cinta kepada dunia;
sehingga hati sibuk dengan itu semua dan tidak ada tempat yang cukup untuk bisa
mentadabbutkan, mendapat hidayah dan cahaya iman. Allah berfirman : “Maka apakah
mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci ?”. (Muhammad :
24)
Allah memberi petunjuk agar kita menjadikan tadabbur sebagai wasilah (sarana) bukan
tujuan, tidak sambil melakukan pekerjaan dan sibuk karenanya; sesuai dengan tujuan
yang didambakan, yaitu bertambahnya Iman, tisqoh dan yakin terhadap Kalamullah,
memperhatikan rangkaian kalimat-kalimatnya, hubungan kesesuaian, dan memahami
misi dan tujuannya serta menemukan hakekat-hakekat dan ketentuan-ketantuannya.
Allah SWT berfirman : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ? Kalau
kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan
yang banyak di dalamnya “. (An-Nisa : 83)
Allah telah menganugrahkan kepada kita dengan memberikan kabar bahwa jika kita
berinteraksi, membaca dan mentadabburkan Al-Quran, akan mendapatkan hidayah yang
dapat membimbing ke jalan yang lurus, cahaya yang menerangi, obat yang ampuh.
Karena Al-Quran adalah hidayah untuk individu dan jamaah, cahaya bagi seluruh aspek
kehiduoan baik individu dan sosial, obat bagi segala penyakit umat. Allah berfirman :
“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepda (jalan) yang lebih lurus dan
memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal soleh
behwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Isra : 9) dan Firman Allah “Dan Kami
turunkan Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepda orang-orang yang zalim selain
kerugian” (Al-Isra : 82)
Maha Benar Allah ketika mensifati kitab-Nya dengan sifat bijaksana, yaitu sifat yang
agung yang tidak diberikan kepada siapapun kecuali orang yang berakal !! kita
diharapkan dapat berinteraksi dengan Al-Quran sesuai dengan kehendak Allah, hidup di
bawah naungannya yang sesuai dengan manhaj –sistem- Allah, kita telaah sebagian sisi
hikmah dalam Al-Quran yang agung dan mulia ! Allah berfirman : “Yasin, Demi Al-
Quran yang memiliki hikmah”. (Yasin : 1-2)
Allah mencela orang-orang kafir yang membagi-bagi Al-Quran, memberikan sifatnya
secara bathil –guna menghalangi manusia untuk beriman kepada Al-Quran- mereka


al-ikhwan.net Abu Ahmad
berkata : sihir, sya’ir, dukun –mantera-…, celaan ini diberikan kepada Yahudi dan
Nasrani yang membagi-bagi kitab-kitab samawiyah beberapa bagian, mereka beriman
kepada sebagiannya dan mengingkari sebagian lainnya, karena menuruti hawa nafsu
mereka. Kita juga berpendapat bahwa celaan tersebut juga ditujukan kepada orang-
orang beriman yang membagi-bagi dan memilah-milah Al-Quran, mengambil sebagian
dan membuang yang lainnya, menampakkan sebagian dan menyembunyikan sebagian
lainnya, beriman kepada satu bidang dan mengingkari sebagian lainnya !! Allah
berfirman : “Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan
(azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (kitab Allah). (Yaitu) orang-orang
yang telah menjadikan Al-Quran terbagi-bagi”. (Al-Hijr : 90-91) makna : “’dilin disini
adalah membagi-bagi, kadang mereka berkata dukun –mantera, kadang dongengan
orang dahulu dan lain-lainnya seperti yang mereka sifatkan. [2]
Allah mendokumentasikan pengaduan Rasulullah saw kepada Tuhannya tentang orang-
orang kafir yang menentang Al-Quran dan acuh terhadapnya. Allah berfirman : “Dan
Rasulullah saw berkata : “Ya Tuhanku Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran
sesuatu yang diacuhkan”. (Al-Furqon : 30)
Bahkan Allah juga mendokumentasikan akan uslub-cara- dari orang-orang kafir dalam
menghadapi Al-Quran; berusaha memerangi dan memusuhi, usaha yang begitu gencar
dengan mengerahkan segala potensi, berusaha meredupkan cahaya Al-Qur’an dan
menguasainya. Sungguh sangat jauh, sungguh sangat hina, apa yang mereka usahakan
dan mereka lakukan !! sesungghnya mereka pindah dari cara yang buruk yang
mengisyaratkan akan kekalahan mereka secara internal di hadapan Al-Quran, tekanan
jiwa dan pengakuan mereka dihadapan hakekat-hakekatnya –yang terpelihara dan
terjaga- dengan kelemahan mereka dalam mengahadapinya dan kegagalan memerangi
Al-Qur’an. Mereka meminta kepada para umat yang tertipu dan terpedaya serta
lalai agar tidak mendengar bacaan Al-Quran dengan seksama, dan
menggantinya sebagai sebuah permainan, teriakan, kebisingan, sekedar alat
komunikasi, tarik suara secara berlebihan, kelalaian dan main-main, keangkuhan, suara
cempreng dan lain-lain. Allah berfirman : “Dan berkata orang-orang kafir :
“Janganlah kalian mendengarkan dan menyimak ayat-ayat Al-Quran ini, dan
batalkanlah –hukum-hukumnya agar kalian dapat menga;ahkan mereka” (Fushilat : 26)
2. Al-Kitab
Al-kitab merupakan nama kedua dari Al-Quran Al-karim, nama ini juga banyak
disebutkan dalam ayat-ayatnya, selalu diulang dalam surat-suratnya, dan merupakan
nama kedua yang terkenal setelah Al-Quran serta sering disebutkan, Al-Kitab
merupakan kata yang berarti tertulis, huruf-huruf, kalimat dan ayat-ayatnya terangkai
dalam bentuk tulisan dan khot yang rapi…
Dan diantara nama kalamullah yang banyak dikenal adalah dengan dua nama ini Al-
Quran dan Al-Kitab, yang berarti penyatuan dan kumpulan, karena Al-Quran berasal
dari akar kata “Al-Qiraah” dan “Al-Qaraah” –sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-
Ragib dalam Mufrodatnya- “yang berarti kumpulan huruf-huruf dan kalimat-kalimat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
sebagiannya dengan sebagian lain dalam bacaan” [3], sedangkan kata “Al-Kitab”
berasal dari akar kata “Al-Kitabah” yang berarti kumpulan huruf-huruf sebagiannya
dengan sebagian lain dalam bentuk tulisan…demikian juga dikatakan kumpulan
sebagiannya dengan sebagian lain dalam bentuk lafadz. Maka asal kata “Al-Kitabah”
adalah susunan dalam bentuk tulisan, namun dipinjam dalam bentuk yang lain yang
karena itu kalamullah dinamakan –walaupun tidak tertulis- dengan “kitaban” [4].
Adapun hikmah lain dinamakannya kalamullah dengan dua nama ini : Al-Quran dan Al-
ki tab, sebagaimana yang disebutkan oleh DR. Muhammad Abdullah Darraz dalam
bukunya “An-nabaul Adzim” yang ringkasannya adalah : “Bahwa Allah SWT
menginginkan dari pemberian dua nama ini untuk merealisasikan penggabungan yang
erat terhadap firman-firmannya, mengisyaratkan akan terpeliharanya secara sempurna
dan mutlak pada setiap surat, ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya dan huruf-hurufnya,
sehingga tidak memberikan kebimbangan terhadap diri seorang muslim walaupun hanya
sedikit sehingga timbul pertentangan, penyimpangan atau penghapusan dan
pengurangan darinya…karena itu Al-Quran benar-benar terpelihara dengan dua cara
yang kongkret yang keduanya merupakan cara yang efektif dalam menghafal dan
memelihara, yaitu “Al-Qiraah” bacaan dan “Al-Kitabah” tulisan; Maka tidak diterima
Al-Quran yang dibaca kalau tidak sesuai dengan mushaf Utsmani yang telah ditulis dan
disepakti oleh ijma ulama, dan tidak diterima tulisan ayat-ayat Al-Quran kalau tidak
sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya
tentang Al-Quran, mereka membaca –talaqqi- dihadapan beliau, dan Rasulullah
membacakan Al-Quran dihadapan mereka”… [5].
Kitab yang telah Allah turunkan kepada Rasulullah saw adalah merupakan kebenaran
yang mutlak tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai hidayah bagi orang-orang yang
bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT :
, . ¸ ` ` ¸ ` · ·, · .`, _ ` . ´ : ·
“Alif Lam Mim, itulah Al-Kitab yang tidak ada keraguan didalamnya, pemberi petunjuk
bagi orang-orang yang bertaqwa…” (Al-Baqoroh : 1-2)
Merupakan kitab yang mengandung hikmah sebagaimana Al-Quran juga mengandung
hikmah :
,, ´ - . ´ ` ., ¯ : ,
“Alif Lam Ra, inilah Ayat-ayat Al-kitab yang mengandung hikmah” (Yunus : 1)
Ayat-ayatnya merupakan hukum yang pasti kemudian diberikan penjelasan, dijabarkan
dan diterangkan, lalu diberikan kepada manusia untuk diimani oleh mereka


al-ikhwan.net Abu Ahmad
¸ _ - ¸ ,, ´ - .` ` ¸ · ` . . · , ` ·` ,¯ ` . ´` - ' ` . ¯ ,
“Alif Lam Ra. Inilah dustur Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta
dijaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi
Maha Tahu”. (Hud : 1)
Allah SWT dan Rasul-Nya saw mengabarkan bahwa telah diturunkan kepadanya Al-
Quran untuk mengelurakan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kedzaliman
kufur menuju cahaya iman, dan kitabullah merupakan satu-satunya wasilah –sarana-
untuk mengelurkannya dari kegelapan, dan tidak sarana lain selainnya kecuali hanya
hayalan, prasangka dan dongengan belaka dan bahkan tidak akan menambah iman
kecuali kegelapan.
Allah SWT berfirman :
. · , , _,' _ ¸ . = ¸ · ¸` _,` -` :` , ¸ ` · ,` ' ` . ¯ ,
, - ,, , · , . _ ¸ ` , ,` , _
“Alif Lam Ra. Inilah kitab yang Kami turunkan kepadamu –Muhammad saw- agar
kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan izin Tuhan
mereka menuju jalan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Ibrahim : 1)
Diberitahukan bahwa telah diturunkan kepadanya peringatan dan Al-Kitab sebagi
pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu dan merincikannya, dan dengan penjelasan
ini tampak hidayah –petunjuk- rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin.
Allah SWT berfirman :
¸ ,` ` , , · ` - _ , ¸ ` · , ¸ .` ¸ ¸ ´ ,` . ´ :` , · ` , ,
¸ ` `
“Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab pemberi penjelasan terhadap segala
sesuatu, petunjuk rahmat dan kabar gembira untuk keum muslimin (An-Nahl : 89)
dan firman Allah SWT :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
.,` , ´ , ` ,` , · , ` , ,` , ¸ ¸` ,` · ¸` ¸` , ` , ¯ :` , ¸ ,` ' ,
“Dan telah Kami turunkan kepadamu -Al-Quran- pemberi peringatan agar dapat kamu
beri penjelasan kepada manusia atas apa yang telah diturunkan kepada mereka agar
mereka mau berfikir”. (An-Nahl : 44)
Bahkan Allah SWT meringkas akan tujuan diturunkannya Al-Kitab selain sebagai
pemberi penjelasan, disamping itu Rasulullah saw dituntut untuk melaksanakan dakwah
dan menyampaikannya…
¸ ` · , ·, · , ` - ¸ ` ,` , ¸ , ` . ¸ . ´ :` , · ,` ' · ,
.,` ·` ,`, ¸ ·` , · ` - _ ,
”Dan tidaklah Kami turunkan Al-Kitab kecuali untuk memberi penjelasan kepada
mereka yang selalu berselisih didalamnya, pemberi petunjuk, rahmat beri kaum yang
beriman”. (An-Nahl : 64).
Disebutkan dalam 3 ayat yang mulia diatas dalam satu surat –yaitu surat An-Nahl-
menejalskan tujuan diturunkan Al-Kitab yaitu untuk menjelaskan dan memberikan
penjelasan, memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk menyampaikan, sehingga hal
ini menunjukkan secara khusus akan masalah ini serta menunjukkan akan satu-satunya
surat yang membicarakan hal tersebut –yaitu sebagai surat ni’mat, karena adakah ni’mat
yang lebih baik dari ni’mat hidayah dan petunjuk yang memberi penjelasan yang
terkandung dalam Al-Quran-…sebagaimana menjelaskan akan sighat ayat-ayat yang
mulia dengan menggunakan penjelasan Al-Quran dalam bentuk umum kepada manusia
seluruhnya, dan dikhususkan lagi di dalamnya dengan memberikan rahmat, petunjuk
dan kabar gembira kepada kaum muslimin saja, karena ketiga hal tersebut sangat
berkaitan dengan iman, dan tidak akan didapati jika iman tidak dimiliki.
Allah SWT memrintahkan kepada Rasul-Nya untuk memberikan penjelasan,
menyampaikan dan memberikan peringatan kepada manusia dan tidak dibolehkan
memberikan keringanan atau kesempitan sedikitpun dalam menerapkannya, karena hal
tersebut akan menjadi penghalang baginya dalam melaksanakan kewajiban ini, sehingga
tidak ada keluh kesah di dalamnya walaupun umat manusia menentangnya dan
membuat kejutan terhadap apa yang mereka tidak duga !!! kenapa Rasulullah saw
merasa berat padahal beliau tidak pernah mendapatkan hakekat, nilai-nilai, adat,
timbangan, prinsip-prinsip dan arahan-arahan dari manusia, namun semua itu berasal
dari Tuhan manusia, dan cukuplah Allah SWT yang menjadi saksi, menjadi
pendamping bersamanya, menolongnya, meneguhkan hatinya dan memberinya ganjaran
atas segala perbuatannya…


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah SWT berfirman :
¸' . · :` , ¸ ¸ ,` ' ` . ¯ · , _ ` ` ` ·` · ` _ , - · _` . ¸ · ` ¸ ´,
¸ ·` ,` ¸ , ¯ · ,
“Alif Lam Mim Shad. Inilah Al-Kitab yang diturunkan kepadamu, maka jangan hatimu
menjadi sempit karenanya, agar kamu dapat memberi peringatan dan pelajaran untuk
orang-orang yang beriman”. (Al-A’raf : 1-2)
Allah mengabarkan kepada Rasul-Nya saw akan tugas ini, dengan diturunkan
kepadanya Al-Kitab sehingga memiliki eksistensi dan misi, dan membuat kehidupan
lebih cerah dengannya, menampakkan pengaruh-pengaruhnya dan memetik buahnya,
demikianlah –Al-Kitab- yang memiliki hikmah diantara manusia dengan benar..
Allah SWT berfirman :
. , ` · · _ ' , ¸ ¸` , , , ´` - ¸ - , . ´ :` , ¸ ,` ' ¸
, . - ¸ - ` ¸ ´
“Sesungguhnya Kami telah menurukan Al-Kitab kepadamu dengan benar, agar kamu
dapat menentukan hukum diantara manusia dengan apa-apa yang Allah berikan
kepadamu…”. (An-Nisa : 105)
Allah SWT juga menjelaskan kepada kita sarana yang terkait dengan Al-Kitab al-haq
agar dapat merealisasikan eksistensinya secara amali, menjelaskan bahwa yang haq
adalah haq sedangkan yang bathil adalah bathil, menuntun umat manusia kepada al-haq,
sebagai sarana yang kuat kepada untuk dapat dijaga dan dipelihara, yang dapat
menggerakkan pembela kemanusiaan bagi yang menegakkannya dan melaksanakan
hukum-hukumnya. tanpa kekuatan ini maka kebenaran hanya sekedar teori jauh dan dari
amal di alam realita, lalu berubah menjadi kebenaran yang sia-sia, yang hanya
dilakukan oleh para pengecut dan diminimalisir oleh kaum yang lemah, serta diajauhi
oleh mereka yang benci !!
Allah SWT berfirman :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
` _ ' ` ` ¸ ·, , . ,, , . ´ ` ,` , ·· ,` ' , . , , ` ` _
` ¸ · ` · , ` · , , ¸ ` _ · · , ` , ` ¸ ' , ·, · , - ,` ' , ` ,
` ¸ , · · . ¸ .` , · , ` · ` ` _ , ` ·` ,` .` , ` ,, , ·
“Sungguh Kami telah mengutus para Rasul Kami dengan jelas. Dan Kami turunkan
bersama mereka Al-Kitab dan Mizan –Timbangan- agar dapat menegakkan keadilan
diantara manusia, dan Kami juga menurunkan besi, yang didalamnya terdapat
mudlorat yang besar dan manfaat untuk manusia, dan agar Allah dapat mengetahui
siapa yang menolong-Nya dan para Rasul-Nya dengan ghaib, Sesungguhnya Allah
Maha Kuat lagi Maha Pekasa”. (Al-Hadid : 25).
Al-Quran juga mengisyaratkan akan kewajiban Rasulullah saw untuk mengajarkan umat
manusia akan Kitabullah, karena di dalamnya terdapat kisah dakwah nabi Ibrahim,
Isma’il AS semenjak zaman yang lampau, Allah memerintahkan kepada keduanya
untuk berdoa kepada Allah SWT agar dibangkitkan di tengah umat manusia seorang
Rasul yang menmbawa kebaikan, kesucian, cahaya dan petunjuk…
. ´ ` ,` ,` ·`, , : ,¯ ` , ,` , · , `, ` ,` ,` · .,` _ ` , ,, · . ·` , , , _
` ,, ´ - ` ,, , · .` ' : ¸ ` , ,, ¯ ,`, , · ´ - ,
”Ya Tuhan kami, bangkitkanlah ditengah-tengah mereka seorang Rasul dari golongan
mereka yang mebecakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Al-Kitab dan
hikmah dan mensucikan jiwa mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasalagi Maha
Bijaksana”. (Al-Baqoroh : 129).
Allah SWT mengabarkan kepada kita bahwasannya Dia mengabulkan doa dua nabi
yang soleh, sebagimana Firman-Nya :
` , ´` ·`, , ` , ´, ¯ ,`, , ,¯ ` , ´` , · , ` , ` , ´` · .,` _ ` , ´, · ` _ ' ¯
.,` ` · ,` , ´ ` , · ` , ´` ·`, , · ´ - , . ´
“Sebagaimana Kami telah mengutus ditengah-tengah kalian seorang Rasul dari
golongan kalian untuk membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, mensucikan kalian
dan mengajarkan Al-Kitab dan hikmah serta mengajarkan apa yang kalian belaum
ketahui”. (Al-Baqoroh : 151).


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah juga berfirman menjelaskan akan karunia Rabbaniyah atas kita dengan
dibangkitkannya seorang nabi saw, yang mengeluarkan umat ini dengan izin Tuhannya
dari kedzaliman kepada cahaya ilahi, dari kesesatan kepada petunjuk, dari kematian
kepada kehidupan :
, ` , ` , , ` ' ` ¸ · .,` _ ` , ,, · . · , · ¸ ¸ ·` ,` _ · ` · ¸ · `
¸` · ` ¸ · ,` ¯ . ¸ , · ´ - , . ´ ` ,` ,` ·`, , ` , ,, ¯ ,`, , · ,¯ ` , ,` , ·
¸ ¸ ` · ¸ ¸· . ¸
“Sungguh Allah telah memberikan karunia atas orang-orang beriman saat Allah
membangkitkan di tengah mereka seorang Rasul dari golongan mereka, membacakan
kepada mereka ayat-ayat-Nya dan mensucikan mereka, mengajarkan Al-Kitab dan
Hikmah, padahal mereka sebelumnya berada dalam sesat yang nyata”. ( Ali Imron :
164)
Kita sebutkan dalam surat Al-Jumuah yang berkaitan dengan hal diatas, berbicara akan
hubungan tema surat dan karakteristiknya yang unik, Allah berfirman :
` , ,, ¯ ,`, , · ,¯ ` , ,` , · , ` , ` ,` ,` · .,` _ ¸ , ·. ¸ · . · , ¸ ,` ·
¸ ¸ ` · ¸ ¸· . ¸ ¸` · ` ¸ · ,` ¯ . ¸ , · ´- , . ´ ` ,` ,` ·`, ,
“Dialah –Allah- yang membangkitkan ditengah umat yang ummi seorang Rasul dari
golongan mereka membacakan ayat-ayat-Nya mensucikan jiwa mereka dan
mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, padahal mereka sebelumnya dalam keadaan
sesat yang nyata”. (Al-Jumuah : 2)
Kita perhatikan sighot 3 ayat diatas yang menarik ditelaah, memiliki arahan tarbawiyah
yang dalam, seakan dengan 3 ayat ini menunjukkan akan manhaj tarbawi yang baik dan
lurus, menyeru kepada para guru, duat, penasehat dan pendidik saat ini, para pembuat
konsep dan system pendidikan dan buku-buku ilmiyah untuk meneliti kembali akan
isyarat quraniyah ini dengan tinjauan pendidikan…yaitu urutan pendidikan dan
pengajaran yang diarahkan oleh Rasulullah saw yang menggunakan “Athof’ dengan
huruf “al-waw” mengutamakan atsar (pengaruh) dari membuat bangunan, pendahuluan
atas tema, benih dan pohon atas buah dan dahan, muqaddimah atas natijah –hasil-, kita
ambil dari sini “athof fiil mudhori” dalam firman-Nya : “Membacakan kepada mereka
Ayat-ayat-Nya….dan mensucikan mereka…dan mengajarkan Al-Kitab dan Al-
Hikmah..” yang demikian merupakan 3 fase yang berjenjang dan beriringan dan urutan :
pertama membaca Al-Quran sebagai pendahuluan, pengisian, persiapan dan mobilisator,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
kemudian membersihkan jiwa dan mensucikannya dari penyakit, kotoran, kekurangan
dan dosa-dosa, dan terkakhir baru memberikan pengajaran yang dapat mencerahkan dan
memberikan wawasan.
Praktek ini merupakan hasil keberkahan dari pohon keimanan dan kebersihan jiwa, hasil
yang dicapai dari pendahuluan pengajaran yang benar, sebagai hidayah, rahmat,
kebaikan dan kebahagiaan bagi para guru, untuk umat dan manusia sekitar mereka…
Allah mensifatkan Kitab-Nya dengan Al-Barakahi, dan menyeru kita untuk memiliki
sifat-sifat ini, menapaki ragam keberkahan Al-Quran yang menyeluruh dan universal.
Keberkahan tidak bermakna biasa dan dikenal kaum muslimin –walaupun hal
tersebut tidak bisa dinafikan dalam Al-Quran yaitu memberi al-barokah- namun yang
dimaksud dari Al-barokah dari segi Al-Quran -sebagaimana yang diungkapkan oleh Ar-
Rogib Al-Asfahani dalam kitabnya “Al-Mufrodat”- adalah : “Al-barokah adalah
kebaikan ilahi yang menyeluruh pada segala hal, dinamakan hal tersebut seperti
tetapnya air dalam kolam, dan “al-Mubarok” adalah didalamnya terdapat kebaikan,
seperti firman-Nya
` ` · ` · ` ,` ` ' · ' ` · ,` ' ` · _ ` · ` , ¯· · , .,` , ´
“Inilah –kitab- yang memberi peringatan, keberkahan yang telah Kami turunkan”. (Al-
Anbiya : 50
sebagai peringatan akan banyaknya kebaiakn ilahi..” sampai kepada ungkapan :
“…selama kebaikan ilahi mengeluarkan sesuatu yang tidak dapat dirasakan,- yang tidak
terhitung dan tidak terbatas, maka dikatakan segala sesuatu yang datang darinya
merupakan tambahan yang tidak terasa adalah keberkahan dan didalamnya barakah…”
[6]
Maka Kitabullah yang mulia ini memberikan keberkahan dengan segala aspek dan
ragamnya, memunculkan penomena keberkahan dan wacana-wacannya, dasar-dasar dan
cabang-cabangnya…
Allah berfrman :
¸ , · ' _ ` ` , ·`, , ¸` , , ¸ ` · .` · ` · _ ` · ` · ,` ' ` . ¯ · ,
` , , · . _ · ` ,` · , · , .,` ·` ,`, · , -. , .,` ·` ,`, ¸, , , ` , - ` ¸ · ,
., = · -`,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
“Dan inilah Kitab yang telah Kami turunkan sebagai pemberi berkah, pemberi
kebenaran dari hadapannya, dan untuk m emberikan peringatan Ummul Qora dan
penduduk sekitarnya…” (Al-An’am : 92)
Dan Firman Allah :
.,` -` ,` ` , ´ · , , ` ·,` · · ` · _ ` · ` · ,` ' ` . ¯ · ,
“Dan inillah Al-Kitab yang telah Kami turunkan, maka ikutilah dan bertaqwalah agar
kalian mendapat rahmat”. (Al-An’am : 155)
Dan Firman Allah :
. . , , ' , ¯ , , · ,¯ ,` , , , ` · _ ` · :` , ¸ ` · ,` ' ` . ¯
“Kitab yang telah Kami Turunkan kepadamu memberikan barokah, agar mereka mau
mentadabburkan ayat-ayt-Nya dan menjadi ingatan bagi ulul albab”. (Shad : 29)
Dalam Al-Quran terdapat ayat yang mulia yang membagi umat Islam tiga
golongan ketika berinteraksi dengan Al-Quran, padahal mereka telah diwariskan Al-
Quran –kitabullah-, namun mereka tidak berada dalam satu tingkatan dalam menerima
warisan ini, mereka tidak dalam satu tingkatan dalam mengemban amanah ini –warisan
yang mulia-, harta yang berharga, dan barokah yang luas; maka diantara mereka ada
yang mendzlalimi diri mereka sendiri dalam berinteraksi dengan kitabullah sehingga
mereka kurang dalam menunaikan kewajiban dan selalu melanggar kesalahan, dan
diantara mereka ada yang pertengahan, tidak ingin meningkatkan ketaatannya dari
kemaksiatan dan sebaliknya, adapun golongan ketiga adalah yang mendapat
kemenangan yaitu yang berlomba dalam mengamalkan kebajikan, meningkatkan
ketaatan, serta banyak melakukan kebaikan-kebaikan.
Allah berfirman :
` ,` ,` · , · ` , ~ ` ,` ,` · · · ` ¸ · ` , =` . ¸, . ´ _` , ' ,
` _ ´ ¸` . ,` · : · · . · , , . ,` , - , ` ¸ , ` ,` ,` · , ` . ` ·
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara
hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri sendiri dan
diantara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih
dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang
sangat besar”. (Fathir : 32).


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Pada pembahasan sebelumnya telah kami sebutkan nama-nama lain dari Al-Qur’an; Al-
Qur’an dan Al-Kitab. Dan pada kesempatan ini kita membahas nama-nama lain dari Al-
Qur’an, dan merupakan pembahasan terakhir -insya Allah- tentang nama-nama Al-
Qur’an:
3. Ad-dzikru (Keagungan)
Allah SWT berfirman : “Shad. Demi Al-Quran yang mempunyai keagungan”. (Shad : 1-
2) dan Firman Allah : “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka memikirkan” (An-Nahl : 44).
Dalam Al-Quran kata “Adz-Dzikru Al-Majid –Keagungan yang mulia”
ditujukan kepada umat Islam, karena sebelumnya Al-Quran diingkari dengan
pengingkaran yang keras, hidup dan mati tidak dirasakan oleh seorangpun. Kemudian
Al-Quran meninggikan kedudukannya dan menempatkan ke tempat yang mulia,
menyelamatkan kehidupan manusia, dan menjadikannya sebagai pemimpin dan
panutan, menjadi pusat guru/pembimbing, penasehat dan pelindung. Dan umat –umat
islam- ini tidak dikenal kecuali karena komitmen dengan nasehat robbani, muncul
dengannya dan menonjol dari sisinya. Allah berfirman : “Sesungguhnya telah Kami
turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab
kemuliaan. Maka apakah kamu tidak memahaminya”. (Al-Anbiya : 10) dan Firman
Allah : “Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar
bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (Az-
Zukhruf : 44)
“Adz-Dzikru” yang membawa berkah ini tidak akan memberikan faedah darinya kecuali
bagi siapa yang memiliki hati yang hidup dan bergerak, sehingga keagungan Rabbani
menyatu dengan hati dengan iman, hidup akan berjalan bersama Al-Quran menuju hati
hinnga mampu menghidupkannya lebih bergairah. Akan tampak karakteristik kehidupan
Qurani pada gerak-geriknya, dan tampak melalui prilaku yang menjadi buah yang
matang baginya di tengah realita kehidupan. Allah berfirman : “Dan Kami tidak
mengajarkan Sya’ir kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.
Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi peringatan.
Supaya dia –Muhammad- memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup –
hatinya- dan supaya pastilah –ketetapan – azab terhadap orang-orang kafir”. (Yasin :
69-70)
4. Ar-Ruh
Allah berfirman : “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu – Al-Quran-
dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Al-Kitab – Al-Quran-
dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu
cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantar hamba-
hamba Kami. Dan sesungguhnya benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus”. (Asy-Syura : 52) kita ambil ayat ini berdasarkan hakekatnya, dan kita ambil


al-ikhwan.net Abu Ahmad
karakteristik ini berdasarkan lahirnya. Karena Ruh yang sebenarnya hidup adalah
kehidupan itu sendiri. Manusia dianggap mati diantara mayit yang lainnya, maka akan
mati hatinya, begitupan perasaan dan panca indranya. Namun kemudian, akan hidup
kembali bersama ruh Qura’ni yang menghidupkan, dengan ruh ini akan terbuka hatinya,
indranya dan eksistensinya, sehingga dapat bergerak di dalam hatinya suatu kehidupan.
Maha benar Allah yang telah berfirman : “Dan apakah orang yang sudah mati dia
Kami hidupkan dan Kami berikan dengan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu
dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang
keadaannya berada gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?
Demikianlah Kami jadikan oran gyang kafir itu memandang baik apa yang mereka
kerjakan”. (Al-An’am : 122)
5. An-Nur (Cahaya)
Al-Quran merupakan cahaya yang menyinari hati orang yang beriman yang hidup
dengan keimanan, menyinari kehidupannya hingga hidup menjadi cerah baginya,
menyinari di bawah langit umat ini hingga menjadi sinar yang menerangi, memberi
kebahagiaan, petunjuk dan kebaikan, menyinari umat manusia hingga dapat mengenal
asalnya dan memberi petunjuk pada jalannya –jika hanya menginginkan jalan yang
lurus-. Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami,
menjelaskan kepadasmu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak
(pula yang ) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah
dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keridloan-Nya ke jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang
dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus”. (Al-Maidah : 15-16)
dan Firman Allah : “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada
cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan”. (At-Taghobun:8)
6. Al-Furqan (Pembeda antara yang haq dan bathil)
Dengan Al-Quran seseorang dapat membedakan antara yang haq dan bathil, antara
petunjuk dan kesesatan, antara cahaya dan kegelapan, di dalamnya terdapat satu-satunya
kebenaran, hidayah dan cahaya, selainnya adalah bathil, sesat dan gelap…Allah
berfirman : “Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Quran ) kepadamu dengan sebenarnya;
membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan
Injil. Sebelum (Al-Quran ), menjadi petunjuk bagi manusia. dan Dia menurunkan Al-
Furqon”. (Ali Imron : 3-4) dan Firman-Nya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan
Al-Furqon (Al-Quran) kepada hamba-Nya agar dia mengambil peringatan kepada
seluruh alam”. (Al-Furqon : 1)
7. Al-Burhan (Bukti yang Nyata)
Al-Quran adalah bukti yang datang dari Allah untuk hamba-hamba-Nya, memberikan
dengannya hujjah atas mereka, menampakkan darinya dalil-dalil yang jelas dan kuat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
terhadap tema-tema, nilai-nilai dan hakekat-hakekatnya baik dalam hal akidah dan
kehidupan. Dan setiap orang yang berinteraksi dengan dalil-dalil Al-Quran dalam
kemudahannya dan kegamblangannya, disertai dengan interaksi hati dan akal, lalu
dihubungkan dengan dalil-dalil dan bukti-bukti serta neraca yang diberikan, ditentukan
dan dibangun oleh akal manusia. Bagi siapa yang melakukan itu semua akan dapat
memahami sebagian sisi dari bukti Al-Quran, kemudahan dan kegamblangannya. Allah
berfirman : “Wahai sekalian manusia telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari
Tuhan kalian, dan Kami turunkan kepada kelian Cahaya yang nyata..Maka bagi siapa
yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepadanya maka kelak akan
dimasukkan ke dalam rahmat yang datang dari-Nya dan karunia, dan diberikan
petunjuk kejalan yang lurus”. (An-Nisa : 174-175)
8. Mauidzhah (Nasehat) dan Syifa (Penyembuh), Petunjuk dan Rahmat bagi
orang-orang yang beriman
Allah berfirman : “Wahai manusia, telah datang kepadamu (Al-Quran ) Pemberi
nasehat dari Tuhanmu, penyembuh dari apa yang ada didadamu, petunjuk dan Rahmat
untuk orang-orang yang beriman”. (Yunus : 57)
Al-Quran adalah nasehat dari Allah, apakah ada nasehat yang lebih baik selain nasehat
rabbaniyah? adakah ada nasihat yang lebih diterima oleh hati dan dlomir daripada
nasihat yang terdapat dalam Al-Qur’an? Sesungguhnya nasehat-nasehat manusia
walaupun memiliki balaghoh pengaruh yang tinggi, akan lemah berhadapan dengan
nasehat Quraniyah atau mendekat darinya. Sekiranya para duat, pemberi
nasehat menggunakan nasehat Quraniyah dan mengajarkan kepada umat Islam
dengannya, maka akan lebih cepat merasuk ke dalam hati dan memberikan pengaruh
kepada prilaku mereka serta memberikan kebaikan pada kehidupan mereka. Jika ada
hati yang tidak mau menerima nasehat Quraniyah maka sebenarnya hatinya
telah mati sehingga tidak bisa dimanfaatkan kembali.
Nasehat Quraniyah akan melahirkan penyembuh di dalam dada, menyelesaikan apa
yang ada di dalam hati dari berbagai penyakit, kotoran dan najis, untuk dikembalikan
kepada asalnya, malakukan aktivitas sesuai dengan fitrahnya seperti yang telah Allah
tetapkan fitrah tersebut kepada manusia, dan Al-Quran mampu –dengan seizin Allah-
menyembuhkan dada dan hati dari berbagai penyakit materi dan jiwa, penyakit syubhat
dan syahwat, penyakit mengikuti hawa nafsu dan penyimpangan, penyakit keraguan
dan syirik, penyakit jiwa, penyakit panca indra dan anggota badan lainnya, penyakit
politik, ekonomi, akhlak, masyarakat, kehidupan dan kebudayaan.
Dengan pemahaman yang luas dan universal ini, maka kita wajib memperhatikan akan
kesembuhan hati, menerimanya dengan lapang dada dan teliti, tidak melemahkan kita
atas berbagai penyakit. Maha Benar Allah dengan Firman-Nya : “Dan Kami
menurunkan Al-Quran yang terdapat di dalamnya Syifa (Penyembuh) dan Rahmat
untuk orang-orang yang beriman”. (Al-Isra : 82).


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Dalam ayat dijelaskan bahwa nasehat pada suatu penyakit, kesembuhan Al-Quran untuk
umat manusia secara keseluruhan, sebagaimana tahmat dan hidayah-Nya dikhususkan
untuk orang-orang yang beriman, karena iman merupakan syarat utama untuk
mendapatkan hidayah dan rahmat tersebut.
9. Bashair tahdi (Cahaya Hidayah)
Allah berfirman : “Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang;
maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri;
dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu) maka kemudharatannya kembali
kepadanya. Dan aku Muhammad sekali-kali bukanlah pemeliharamu”. (Al-An’am :
104) Allah juga berfirman : “Inilah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, pemberi
petunjuk dan Rahmat bagi kaum yan gberiman”. (Al-A’raf : 203) Allah berfirman :
inilah bukti-bukti yang nyata untuk manusia petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
yakin”. (Al-Jatsiah : 20)
Dan inilah bukti-bukti Al-Quran; Pemberi petunjuk yang diberikan kepada manusia
seluruhnya, namun bukti ini tidak bisa difahami kecuali dengan hati yang hidup,
sehingga dirinya memiliki semangatan dalam berinteraksi dengannya, dan petunjuk
dengannya dan memberi hidayah atas asasnya. Sesungguhnya setiap tubuh memiliki
mata yang digunakan untuk melihat, hati memliki bashair yang dapat menerima
petunjuk. Mata adalah bagian dari badan sedangkan bashair adalah hati, jika badan dan
anggota tubuhnya tidak rusak maka manusia bisa hidup tanpanya, namun jika hati yang
rusak maka ia akan buta dan tidak bermanfaat setelahnya kebaikan-kebaikan. Maha
Benar Allah dalam Firman-Nya : “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai
telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah
mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada”. (Al-Hajj : 46)
Bashoir Quraniyah yang memberi petunjuk ini dapat diterima oleh hati yang beriman
dapat membuka jendela-jendela dan celah-celahnya sehingga imannya, petunjuk,
istiqomah dan keyakinannya terus bertambah, adapun hati yang keras dan kufur, maka
akan tertutup pintunya di hadapan bukti-bukti ini, tdak ada yang dapat menutupnya
selainnya, dan akan tetap tertutup. Maka bagaimanakah hidayah akan masuk ke
dalamnya, kecuali akan bertambah kekufuran, najis, kegelapan dan buta. Allah SWT
berfirman : “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang
munafik) ada yang berkata : “Siapakah diantar kamu yang bertambah imannya dengan
(turunnya) surat ini ?” Adapun orang-orang yang beriman , maka surat ini menambah
imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang didal hati
mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping
kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (At-Taubah :
124-125)
Kita tutup pembicaraan tentang karakteristik, nama-nama, sifat-sifat, pengaruh-
pengaruh dan nilai-nilainya dengan ayat ini yang menjelaskan tabiat Al-Quran,
kehidupan yang produktif dan kegairahan orang-orang beriman dengannya saat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
mendengar ayat-ayat Al-Quran, menggerakkan hati orang-orang yang beriman, jeli,
lemah lembut, pengaruh yang berurutan dari itu semua akan tampak atas anggota badan
dan kulit, kemudian hasil dari ini semua adalah petunjuk robbani yang dijadikan sebagai
buah keberkahan yang telah matang dari pohon Quraniyah yang kekal. Allah berfirman
: “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari
langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air dibumi kemudian ditumbuhkan-Nya
dengan air itu tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu
kamu melihatnya kekuning-kuningan,kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-
orang yang mempunyai akal. Maka apakah orang-orang yanr dibukakan Allah hatinya
untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan
orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang
telah membatu h atinya untuk mengingat Allah. Merek aitu dalam kesesatan yang nyata.
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Quran yang serupa
(mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetear karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya.d an barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun
pemberi petunjuk baginya”. (Az-Zumar : 21-23)
______________________________________
[1]. Mufrodat Al-Qur’an, hal. 402
[2]. Mufrodat Al-Qur’an, hal. 238
[3]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 402
[4]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 423
[5]. Lihat: An-Nabaul Adzim
[6]. Mufrodat al-Qur’an, hal. 44











al-ikhwan.net Abu Ahmad
ADAB ADAB ADAB ADAB- -- -ADAB MEMBACA AL ADAB MEMBACA AL ADAB MEMBACA AL ADAB MEMBACA AL- -- -QUR’AN QUR’AN QUR’AN QUR’AN

Agar bacaan Al-Quran kita berkualitas dan bermanfaat, dan dapat memberikan nilai dan
ganjaran dari hasil tadabbur kepadanya, serta memberikan pengaruh positif dan
istiqomah kepadanya, sehingga dapat mengamalkannya seperti yang telah dicontohkan
oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya serta para salafus salih, maka selayaknya
memperhatikan terlebih dahulu beberapa adab dan etika yang mesti dijalani dan
komitmen dengan aturan-aturannya; baik sebelum atau saat membaca Al-Qur’an.
Sebagian ulama banyak memberikan masukan tentang adab-adab dalam
berinteraksi dengan Al-Qur’an, yang mana hal tersebut mereka dapati dari hadits-hadits
Rasulullah saw dan sirah –sejarah- para sahabat, begitupun yang mereka dapati dari
hasil interaksi mereka dengan Al-Qur’an, dan pengalaman mereka yang berharga dalam
mentadabburkan Al-Qur’an.
Para ulama yang menyusun cara membaca Al-Quran, juga menjabarkan beberapa adab-
adab dan sesuatu yang dibolehkan dalam membaca Al-Qur’an dan memberikan
peringatan dari hal-hal yang makruh. Dan diantara ulama terkenal yang mempunyai
pehatian terhadap adab-adab ini adalah Hujjatul Islam; Abu Hamid Al-Ghozali. Beliau
berkata dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”; ada sepuluh adab dalam membaca Al-Quran
untuk bisa dijadikan amalan zhahiri, dan sepuluh lainnya sebagai amalan bathini yang
harus diterapkan oleh pembaca Al-Qur’an.
Dan diantara ulama lainnya, Imam An-Nawawi yang menyusun kitab yang begitu indah
dan bermanfaat yaitu “At-Tibyan Fi Adabi Hamlatil Quran” ; dalam dua bab; lima dan
enam beliau mengkhususkan pembahasan tentang adab-adab membaca Al-Quran
Begitupan Imam Suyuthi menyebutkan apa yang disebutkan Imam Al-Ghozali dan An-
Nawawi tentang Adab-adab membaca Al-Quran, sehingga beliau dapat menyusun kitab
yang berjudul : ”Al-Itqon fi Ulumul Quran” bebrapa bagian dari adab-adab membaca.
Adapun Adab-adab dalam membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
1. Memilih waktu yang cocok untuk membaca Al-Quran, dan seperti yang Allah telah
tampakkan kepada para hamba-Nya, sehingga turun di dalamnya Limpahan Rahmat,
adapun waktu yang cocok adalah sepertiga terakhir di waktu malam hari yaitu waktu
sahur, kemudian yang lainnya pada siang hari.
2. Memilih tempat yang cocok seperti masjid sebagai salah satu dari rumah Allah, atau
di pojokan dari bagaian rumahnya yang sengaja disediakan untuk ibadah, sehingga
terhidar dari halangan-halangan, kesibukan-kesibukan lain dan suara gaduh, hendaknya
menjauh dari kebisingan, teriakan dan pembicaraan tentang dunia, permainan dan canda
anak-anak. Dan sangat baik jika membacanya di tengah kebun yang rindang, atau dekat
pohon bunga yang harum dan pemandangan-pemandangan yang menyegarkan. Boleh


al-ikhwan.net Abu Ahmad
juga membaca Al-Quran di tengah kegaduhan dan keramaian seakan ia ingin
memperlihatkan kepada yang lainnya, atau sambil jalan di jalan raya, atau saat
mengendarai mobil atau kendaraan lainnya, walaupun tadabbur dalam kondisi demikian
sangat sedikit.
3. Memilih tempat duduk yang cocok, keadaan yang khusus dan perkumpulan orang-
orang saleh sehingga ia dapat merasakan kehadiran Allah. Dan sehingga dapat
membangkitakan ubudiyahnya kepada Allah, menampakkan ketundukan dan
kerendahan hatinya. Jalsah yang paling baik bagi pembaca Al-Quran adalah :
menghadap kiblat, sambil duduk seperti saat orang melakukan duduk tahiyat dalam
shoalt –guna menampakkan jalsah ubudiyah- dan jika merasa letih dari jalsah ini, maka
tetap diusahakan dengan posisi lain yang cocok dan menghadap kiblat. Dan ia berhak
menentukan jalsah ini semaunya sehingga menampakan akan penghormatannya
terhadap Al-Quran, kerendahan hati dan ketundukannya kepada Allah.
4. Suci lahiriyah; yaitu harus suci dari junub –hadats besar-, dan bagi wanita harus suci
lebih dahulu dari junub, haid dan nifas, dan diutamakan juga suci dari hadats kecil yaitu
dengan selalu dalam keadaan berwudlu, agar dapat merasakan pertemuan dengan Allah.
Boleh juga membaca Al-Quran –baik untuk ibadah, manghafal atau belajar dan
mengajar- tanpa harus berwudlu, karena tidak ada dalil dari Al-Quran yang menegaskan
akan hal itu, begitupun dari hadits-hadits Nabi yang shohih tidak mensyaratkan
demikian. Para ulama juga memberikan fatwa bagi seorang wanita yang punya gairah
belajar dan mengajar –guru atau murid- dalam membaca Al-Quran untuk belajar dan
mengajar walaupun dalam keadaan haid atau nifas atas dasar darurat”.
5. Mensucikan sarana-sarana digunakan untuk membaca Al-Quran, membersihkan hal-
hal yang berhubungan dengan kemaksiatan, dosa dan kemungkaran, karena kebersihan
dan kesucian tempat merupakan syarat mendapatkan manfaat ! bagaimana seseorang
bisa baik membaca dan membersihkan, mentadabburkan dan memahaminya dengan
mata yang berhadapan dengan kotoran ? atau dengan telinga yang dikotori suara
kemungkaran dan seruling syetan ? atau dengan lisan yang berlumuran dengan najis
ghibah, namimah –adu domba-, dusta, olok-olok, penghinaan, dan pelecehan ?
bagaimana mungkin seseorang bisa berinteraksi padahal hatinya terkunci,
tertutup, terdapat tembok penghalang dari syubhat-syubhat, syahwat, kecendrungan
berbuat maksiat dan kemungkaran, mendekati perbuatan tercela dan haram, dirusak oleh
penyakit dan amal riya, ujub dan takabbur ?
Al-Quran seperti air hujan, hujan tidak akan memberi pengaruh pada bumi yang tandus
dan bebatuan, tidak bisa hinggap diatasnya kecuali debu-debu yang beterbangan,
demikian juga Al-Quran harus turun pada lingkungan yang baik agar dapat berinteraksi
dengannya, memberi pengaruh dengannya dan hidup di bawah naungannya, yaitu panca
indra dan hati.
6. Menghadirkan niat saat membaca Al-Qur’an, ikhlas karena Allah dan menjauhkan
diri dari keinginan duniawi, agar dapat memperoleh ganjaran dalam membaca,
mengamalkan dan beribadah dengannya, karena setiap amal bergantung pada niatnya,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
dan Allah Maha Kaya tidak butuh akan kemusyrikan dan agar juga mendapat
memahami Al-Quran dengan baik. Karena Ilmu, pemahaman dan tadabbur merupakan
ni’mat dari Allah dan Rahmat-Nya, sedangkan Rahmat Allah tidak bisa bercampur
dengan kemaksiatan, kedustaan dan kemungkaran !!
7. Mengembalikan jiwa kepada Allah dan berlindung dengan-Nya, memohon naungan-
Nya, menerimanya dengan penuh keridhaan, atau seperti orang yang tenggelam
memohon pertolongan, berlepas diri dari setiap daya dan upaya, atau ilmu dan akal,
pemahaman dan kecerdasan, berkeyakinan dengan penuh bahwa semua itu tidak
bermanfaat jika Allah tidak menganugrahkan kepadanya ilmu dan pengetahuan.
8. Membaca isti’adzah dan basmalah, sebagaimana Firman Allah : “Maka jika engkau
akan membaca Al-Quran mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syetan
yang terkutuk yaitu dengan membaca “Audzubillah minassyaitanirrajim”. (An-Nahl :
98) menghidupkan makna “Istiadzah”, mentadabburkannya, mengakuinya dengan jujur
dalam melafadzkannya, agar terealisasi makna istiadzah secara mutlak kepada Allah,
agar Allah memberikan perlindungan kepadanya dari tipu daya syetan sebagai janji
Allah kepada orang mu’min jika membaca Istiadzah –baik manusia maupun jin-
sehingga dia akan dilindungi dan dijauhkan darinya : “Dan apabila kamu membaca Al-
Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang beriman kepada
kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati
mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan
apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Quran, niscaya mereka berpaling ke
belakang karena bencinya”. (Al-Isra : 45-46)
Adapun Basmalah merupakan bacaan pertama saat ingin membaca Al-Quran pada
setiap surat -kecuali surat baraah- dan boleh juga dibaca saat memulai bacaan
dipertengahan surat, atau dipotongan ayat, jika saat membaca Al-Quran terhenti sejenak
lalu ingin memulainya kembali. Membaca Al-Quran merupakan pintu memohon
barokah dan memulai dengan menyebut nama Allah, mengharap limpahan-Nya,
kebekahan-Nya dan Rahmat-Nya.
9. Mengosongkan diri dari kesibukan dan dari menyelesaikan hajat lainnya, seseorang
yang membaca Al-Qur’an hendaknya –saat membaca- tidak dalam keadaan lapar,
dahaga dan dalam keadaan bimbang dan cemas, dalam keadaan dingin yang dahsyat
atau panas yang menyiksa, duduk di depan televisi, matanya membaca Al-Quran
sedangkan telinganya mendengarkan televisi, atau sambil menunggu makanan
sedangkan jiwanya dan perasaannya sibuk menerima hidangan tersebut.
10. menghadirkan akal dan fikiran saat membaca Al-Quran dan memfokuskannya
kepada Al-Quran saja, menghayalkan akan ayat-ayat yang dibaca, mencegahnya dari
keterlantaran dan mengawang-awang dari fenomena-fenomena kehidupan,
menggunakan segala celah pengetahuan, sarana tadabbur, perangkat talaqqi dalam jiwa
dan perasaan, indra, akal, hati dan khayalan. Memfokuskan diri hanya kepada Al-Quran
saja.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
11. Menghadirkan kekhusyuan yang laik menuju Kitabullah, saat membacanya,
berusaha mendapatkan pengaruh positif dan interaksi, memperhatikan sebagain tauladan
orang-orang yang khusyu dan merasuk saat membaca Al-Quran dari orang-orang salih.
12. menangis saat membaca, khususnya pada ayat-ayat tentang azab, atau tentang hari
kiamat, yaitu saat melintasi ayat tentang peristiwa hari kiamat dan hari akhir, fenomena
dan ketakutan yang akan terjadi didalamnya. Memperhatikan kekurangan dalam
melaksanakan hak-hak dan berlebihan akan larangan Allah. Jika tidak bisa menangis
maka usahakanlah berpura-pura menangis dan jika tidak mempu juga untuk menangis
begitupun pura-pura menangis maka usakanlah untuk menangis dalam diri sendiri yaitu
dalam hati.
13. mengagungkan Allah Yang telah menurunkan Al-Quran, merasakan akan
kemuliaan-Nya, limpahan karunia dan rahmat-Nya, yang telah memerintahkan kepada
hamba-Nya yang lemah. Pengagungan ini merupakan seruan –secara global- untuk
mengagunkan Firman-firman-Nya, menerimanya untuk bisa berinteraksi, bertadabbur,
bertarbiyah dan berkomitmen dengannya. Seakan dengan pengagungan kepada Allah
dan dan Firman-Nya maka si pembaca komitmen dengan adab-adab tilawah lainnya dan
menghadirkannya. Dan sarana yang paling penting untuk tilawah adalah dengan bekal
yang besar dari nilai-nilai, hakikat-hakikat, pelajaran-pelajaran dan petunjuk-
petunjuknya.
14. Berhenti sejenak pada ayat-ayat yang dianggap perlu untuk ditadabburkan,
memahami maknanya dan mengenal hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya,
memperhatikan ilmu dan pengetahuan, pelajaran-pelajaran dan petunjuk-petunjuknya.
Karena hal tersebut merupakan tujuan dari membaca Al-Quran, dan tidak akan
bermanfaat tilawah jika tidak diiringi tadabbur ? tidak melahirkan pemahaman ? dan
tidak memberikan kebaikan ?
15. Hanyut dan terpengaruh dengan ayat-ayat yang sesuai dengan tema dan alurnya,
bergenbira saat membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan kabar gembira, harapan dan
cita-cita, sedih dan menangis saat mendapatkan ayat tentang peringatan, ancaman dan
kecaman, senang ketika membaca ayat-ayat tentang ni’mat, takut dan khawatir saat
melintasi ayat tentang azab, merenungi diri saat menemui ayat berkenaan dengan sifat-
sifat orang beriman agar berusaha melengkapi diri dari kekurangan. Dan ayat-ayat
tentang sifat orang-orang kafir agar berusaha untuk menghindar dan menjauhinya.
Membuka seluruh indranya ketika membaca ayat tentang perintah, kewajiban –taklif-
rabbani untuk bisa diamalkan, dan terhadap larangan dan hal-hal yang haram agar bisa
dijauhkan.
Jika membaca ayat tentang kenikmatan dia berharap kepada Allah menjadi pemiliknya,
jika membaca ayat tentang azab memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhi
darinya, dan menjawab terhadap pertanyaan-pertanyaan Al-Quran, mengamalkan segala
perintah dn taklif –kewajiban, berlepas diri dari kekufuran dan sifat-sifatnya, pakewuh
terhadap orang –orang beriman dan menjadikan mereka sebagai pemimpin.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
16. Pembaca hendaknya merasa bahwa dirinyalah seakan yang diajak bicara –objek-
dari ayat yang dibacanya, dia yang diberikan atas taklifat –kewajiban-, menghidupkan
perasaan ini, mencari hasil-hasil dan pengaruhnya terhadap dirinya dan persendiannya.
Karena itu, boleh berhenti lama saat berhadapan dengan ayat tentang apa yang di minta
dan dilarang. Berhenti sejenak saat membaca ayat yang berbunyi : “Wahai orang-orang
yang beriman” “Wahai sekalian manusia” “Wahai manusia” membuka celah-celah
hatinya untuk dapat menerima, berinteraksi dan memenuhi panggilan, karena setelah
seruan tersebut bisa berupa perintah yang harus dilaksanakan atau larangan tentang
yang harus dijauhi, atau celaan yang harus diperhatikan atau peringatan yang harus
dijadikan pelajaran, atau taujih –arahan- menuju kebaikan dan hidayah yang harus
diraih segera.
17. Menghindarkan diri dari tembok yang dapat menghalangi untuk memahami dan
mentadabburkan Al-Quran, seperti bertolak belakangnya adab dan kaedah seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, karena jika terjadi pencampuaran dengan yang
bertentangan maka muncul hijab yang dapat menutupi antara si pembaca dan Al-Quran
itu sendiri, penutup tirai yang tebal yang dapat menutupi cahaya Al-Quran dan
petunjuknya.
18. Bagi yang mendengar dan mentadabburkan Al-Quran terhadap bacaan orang lain
atau di dengar melalui radio atau kaset rekaman, hendaknya juga memperhatikan etika
dan adab-adab yang telah disebutkan, lebih giat lagi untuk mendengarkannya, berdiam
diri, tadabbur dan talaqqi, jangan membuka kedua telinga saja namun juga membuka
segala celah-celahnya seperti talaqqi, interaksi di dalam dirinya, baik indra dan
perasaan, khusyu’ dalam mendengarkannya, terutama yang terkait dengan arahan
Rabbani yang lurus sesuai dengan Firman Allah SWT : “Dan Apabila dibacakan ayat-
ayat Al-Quran maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian dirahmati”. (Al-A’rof :
204)
.













al-ikhwan.net Abu Ahmad
TEORI PERGERAKAN DALAM MENTADABBURKAN TEORI PERGERAKAN DALAM MENTADABBURKAN TEORI PERGERAKAN DALAM MENTADABBURKAN TEORI PERGERAKAN DALAM MENTADABBURKAN
DAN BERINTERAKSI DENGAN AL DAN BERINTERAKSI DENGAN AL DAN BERINTERAKSI DENGAN AL DAN BERINTERAKSI DENGAN AL- -- -QURAN QURAN QURAN QURAN

Mentadabburkan Al-Quran merupakan kewajiban dan berinteraksi dengannya
merupakan dharuri -keharusan –, sedangkan hidup di bawah naungannya merupakan
keni’matan yang tidak dapat dimiliki kecuali orang yang dapat merasakannya,
keni’matan yang memberikan keberkahan hidup, mengangkat dan mensucikannya. Hal
ini tidak akan dirasakan kecuali bagi siapa yang benar-benar hidup dibawah
naungannya, merasakan berbagai keni’matan yang bisa dirasakan, mengambil dari
pengaruh-pengaruhnya dari hal-hal yang dapat diraih, mendapatkan darinya
kelembutan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kelapangan. [1]
Disini kami ingin memberikan kepada pembaca yang budiman ungkapan-ungkapan
yang baik dan bermutu tentang pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang pemikir
muslim kontemporer Asy-Syahid Sayyid Qutb yang terekam dalam kitabnya Fi Dzilali
Al-Quran, kami akan meringkas ungkapan-ungkapan tersebut sesuai dengan kebutuhan
zaman dan dapat memberikan penerangan bagi para pembaca jalan yang benar dalam
rangka mentadabburkan Al-Quran dan memahaminya, menelaah teori yang benar dalam
berinteraksi dengan Al-Quran, beraktivitas dan hidup di bawah naungannya.
Teori ini harus diketahui oleh kaum muslimin, agar mereka dapat memahami kunci
pergerakan dalam membuka rahasia-rahasia pergerakan Al-Quran yang sangat berharga.
Kami menyerukan seperti yang telah diserukan oleh guru kita Ustadz Sayyid Qutb,
dengan teori yang baru dalam memahami, mentadabburkan dan menafsirkan Al-Quran,
yaitu teori Tafsir al-haraki “Tafsir Pergerakan” yang oleh Ustadz Sayyid Qutb dianggap
sebagai puncak dan pemberi penjelasan akan dasar-dasarnya, peletak madrasah “tafsir
pergerakan” yang menjadikan Al-Quran hidup dengan nyata dan memberi
pengaruh positif bagi kaum muslimin kontemporer. Yang mana Allah telah
menganugrahkan kepadanya kunci yang fundamental “kunci pergerakan” yang dapat
membuka rahasia-rahasia Al-Quran, yang ingin dihadirkan dalam kitabnya Fi Dzilal Al-
Quran. [2]
Sesungguhnya masalah ini –dalam memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran dan
sentuhan-sentuhannya- bukanlah terletak dalam memahami lafazh-lafazh dan kalimat-
kalimatnya, dan bukan pada tafsir Al-Qur’an – sebgaimana yang kita sangka !- . Namun
masalahnya adalah kesiapan jiwa dengan menghadirkan perasaan, indra dan
pengalaman : persis seperti kesiapan perasaan, indra dan pengalaman saat
diturunkannya Al-Quran, yang selalui menyertai kehidupan jamaah muslimah yang
bergelut dalam peperangan, bergelut dalam jihad; jihadun nafs –jihad melawan hawa
nafsu-, dan jihadun nas –jihad melawan manusia-; jihad melawan nafsu angkara dan
jihad melawan musuh; Dengan melakukan usaha dan pengorbanan, takut dan harap,
kuat dan lemah, jatuh dan bangkit; Dalam lingkungan kota Mekkah yang keras dan saat
da’wah berkembang; dalam kondisi minoritas dan lemah serta asing di tengah-tengah
umat yang kafir; di tengah lingkungan yang terkucil dan terkepung, lapar dan sakit,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
tertekan dan terusir, dan terembargo –terputus- dari berbagai sarana kecuali hanya
mengharap dari Allah. Atau di tengah dan lingkungan Madinah : lingkungan pergerakan
pertama bagi masyarakat muslim yang berada dan menghadapi antara tipu daya,
kemunafikan, penuh kedisiplinan dan kebebasan menunaikan perintah Allah; suasana
perang Badar, perang Uhud dan perang Khondaq serta perjanjian Hudaibiyah. Pada
suasana “Al-Fath” (kemenanagan), saat perang Hunain, perang Tabuk. Pada
saat pertumbuhan umat Islam yang pesat, perkembangan sistem kemasyarakatan yang
cepat dan persatuan yang hidup antara perasaan, kemaslahatan dan prinsip dalam
memuliakan pergerakan dan dalam naungan sistem.
Dalam suasana seperti itu semua ayat-ayat Al-Quran diturunkan, sehingga memberi
kehidupan yang baik dan faktual; melalui kalimat-kalimat yang penuh hikmah,
ungkapan-ungkapan yang penuh pelajaran,petunjuk-petunjuk yang penuh berkah serta
sentuhan-sentuhannya yang penuh dengan kelembutan.
Dalam suasana seperti itu dan dalam menyertai awal pergerakan pelaksanaan kehidupan
Islam yang baru; Al-Quran diturunkan dengan membawa kandungan ayat
yang membukakan hati yang tertutup dan melembutkan jiwa yang keras, dan memberi
petunjuk pribadi yang sesat; memberikan rahasia-rahasianya, menebarkan keharuman,
dan membimbing kepada petunjuk dan cahaya” [3]
Dari paargraf diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pokok utama yang harus kita
jadikan pegangan dalam menafisrkan Al-Quran dan mentadabburkannya adalah sebagai
berikut :
1. Membekali diri dengan persiapan perasaan, pengetahuan –indra- dan
pengalaman dalam memahami nash-nash Al-Quran dan merasakan sentuhan-
sentuhannya.
2. Mempokuskan diri –dengan instink, perasaan dan indranya- pada suasana dan
lingkungan saat diturunkannya Al-Quran, baik lingkungan di Mekkah atau di Madinah,
agar dapat menemukan jejak rahasia dan pengaruh Al-Quran dalam memberikan
petunjuk kepada generasi salaf.
3. Memperhatikan sikap para sahabat –lingkungan Mekkah dan Madinah- dengan
memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran serta kehidupan mereka bersama Al-
Quran.
4. Menenliti beberapa tujuan utama Al-Quran, metode aktual pergerakan yang di
celupkan terhadap kehidupan umat Islam, serta diturunkannya Al-Quran secara realita;
dengan sungguh-sungguh, sadar dan giat.
5. Mengamalkannya dan menerapkannya dalam kehidupan da’wah dalam jihad; seperti
halnya yang diterapkan oleh para sahabat –khususnya pada periode “Mekkah”- dan
pergerakan teoritis jihad bersama Al-Quran, mensibukkan diri, perasaan dan angoota


al-ikhwan.net Abu Ahmad
tubuh lainnya dengan Al-Qur’an, dan memahami kondisi jiwa yang berat saat dan
siksaan diterima saat menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
6. Menerima Al-Quran dengan sepenuh hati, sehingga didapati darinya jawaban yang
nyata dan obat penyembuh dari segala permasalahan yang dihadapi dan penyakit yang
diderita; baik jiwa, ruh dan jasad serta akal fikiran.
Jika kita pindahkan perhatian kita kepada “Fi Dzilal Al-Quran” untuk membahas
ungkapan-ungkapan yang menjelaskan teori pergerakan dalam mentadabburkan dan
menafsirkan Al-Quran. Maka akan kita dapatkan banyak sekali hal-hal yang terkait
dengan kenikmatan hidup bersama Al-Qur’an.
Ustadz Sayyid Qutb menyeru kepada kita untuk hidup di bawah naungan Al-Quran –
sebagaimana ia hidup di dalamnya- untuk menemukan rahasia, tabiat dan kunci-
kuncinya.
Hidup di bawah naungan Al-Quran, bukan berari mempelajari Al-Quran dan
membacanya serta menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Namun yang
dimaksud disini adalah hidup di bawah naungna Al-Quran: Manusia berada di bawah
naungannya; dalam berbagai suasana dan kondisi; dalam bergerak, saat lelah, saat
bertarung, dan saat sedih serta saat bergembira dan senang. Seperti yang terjadi pada
masa awal turunnya Al-Quran..!! ;Hidup dengannya dalam menghadapi kejahiliaan
yang menggejala dipermukaan bumi saat ini; dalam hatinya, niatnya dan geraknya;
terpatri dalam jiwanya yang selalu bergelora akan ruh Islam; dalam jiwa umat
manusia dan dalam kehidupannya dan kehidupan seluruh manusia juga.
Hidup yang berhadapan dengan kejahiliaan; dengan berbagai penomena-fenomenanya,
tindak-tanduknya dan adat istiadatnya; dengan seluruh geraknya dan tekanan yang
dilancarkannya, bahkan -jika perlu- perang dengannya sebagai usaha untuk
mempertahankan aqidah rabbaniyah, sistem rabbani, segala methode dan gerak
yang bermanhaj robbani.
Inilah lingkungan Al-Quran yang mungkin manusia bisa hidup di dalamnya, merasakan
kenikmatan hidup di dalamnya, karena dengan lingkungan demikianlah Al-Quran turun,
sebagaimana dalam lingkungan begitu pula Al-Quran diamalkan. Bagi siapa yang tidak
mau menjalani kehidupan seperti itu, maka dirinya akan jauh dan terkucil dari hidayah
Al-Quran, walaupun mereka tenggelam dalam mempelajarinya, membacanya dan
menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya.
Usaha yang mesti kita kobarkan untuk membangun jembatan antara orang-orang yang
mukhlis dan Al-Quran bukanlah tujuan kecuali setelah melintasi jembatan tersebut
hingga sampai pada satu tempat lain dan berusaha menghidupkan lingkungan Al-Quran
secara baik; dengan amal dan pergerakan. Hingga pada saatnya nanti mereka akan
merasakan keberadaan Al-Quran; menikmati kenikmatan yang telah Allah anugrahkan
kepada siapa yang Dia kehendaki. [4]


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Dan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik dalam membaca, mentadabburkan, dan
mendapatkan rahasia-rahasia dan kandungan Al-Quran, beliau berkata : “Sesungguhnya
Al-Quran harus dibaca, para generasi umat islam hendaknya menelaahnya dengan
penuh kesadaran. Harus ditadabburi bahwasannya Al-Quran memiliki arahan-arahan
yang hidup, selalu diturunkan hingga hari ini guna memberikan solusi pada masalah
yang terjadi saat ini dan menyinari jalan menuju masa depan yang gemilang. Bukan
hanya sekedar ayat dibaca dengan merdu dan indah, atau sekedar dokumentasi akan
hakekat peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari Al-Quran ini sampai kita mendapatkan
darinya arahan-arahan tentang kehidupan realita kita pada saat ini dan mendatang,
sebagaimana yang telah didapati oleh para generasi islam pertama, saat mereka
mengambil dan mengamalkan arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk Al-Quran dalam
kehidupan mereka. Saat kita membaca Al-Quran dengan penuh penghayatan, maka kita
akan dapati apa yang kita inginkan; Kita akan dapati keajaiban yang tidak terbetik
dalam jiwa kita yang pelupa ! kita juga akan dapati kalimat-kalimatnya yang teratur,
ungkapan-ungkapannya yang indah, dan petunjuk-petunjuknya yang hidup, mengalir
dan bergerak serta mengarahkan menuju petunjuk jalan yang lurus” [5]
Disebutkan –dalam pembukaan surat Ali Imron sebagai surat peperangan dan
pergerakan- tentang kenikmatan hidup dengan Al-Quran dan syarat-syarat untuk
mencapai dan meraihnya. Akan tampak disana kerugian yang mendalam antara kita dan
Al-Quran jika kita tidak berusaha mengamalkannya secara baik, menghadirkan dalam
persepsi kita bahwa Al-Quran ini diberikan kepada umat yang giat dan punya
kesemangatan hidup, memiliki eksistensi diri dengan baik, dan menghadapi berbagai
peristiwa-peristiwa yang menimpa dalam kehidupn umat ini.
Akan tampak disana dinding pemisah yang sangat tinggi antara jiwa kita dan Al-Quran,
selama kita membacanya atau mendengarnya seakan ia hanya sekedar bacaan ibadah
saja dan tidak memiliki hubungan denga realita kehidupan manusia saat ini.
Mukjizat Al-Quran yang mengagumkan meliputi, saat dia diturunkan guna menghadapi
realita tertentu dan umat tertentu, pada masa dari masa-masa sejarah yang tertentu,
khususnya umat ini yang berada dalam menghadapi perang yang sangat besar yang
berusaha mengubah sejarah ini dan sejarah umat manusia seluruhnya. Namun –
besamaan dengan ini- Al-Quran diperlakukan, dihadirkan dan dimiliki hanya untuk
menghadapi kehidupan modern saja, seakan-akan dia diturunkan pada
saat menanggulangi jamaah Islam pada permasalahan yang sedang berlangsung, dalam
peperangan yang terjadi dengan jahiliyah disekitarnya.
Agar kita dapat meraih kekuatan yang dimiliki Al-Quran, mendapatkan hakekat yang
terdapat di dalamnya dari kehidupan yang menyeluruh, meraih petunjuk yang tersimpan
untuk jamaah muslimah pada setiap generasi. Maka selayaknya kita harus
menghadirkan persepsi kita seperti generasi Islam pertama saat diturunkan kepada
mereka Al-Quran pertama kali sehingga mereka bergerak dalam realita kehidupan
mereka secara nyata.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Dengan teori ini kita akan dapat melihat kehidupan yang bergerak di tengah kehidupan
generasi Islam pertama, dan begitupun dengan kehidupan kita saat ini; kita merasakan
bahwa Al-Qur’an akan selalu bersama kita saat ini dan nanti –masa mendatang-, dan Al-
Qur’an bukan hanya sekedar bacaan saja yang jauh dari kehidupan nyata yang terbatas.
[6]
“Bahwa nash-nash Al-Quran tidak akan dapat difahami dengan baik hanya melalui
pemahaman dari petunjuk-petunjuk secara bayan dan bahasa saja, namun yang pertama
kali -dan sebelum yang lainnya- yang harus dilakukan adalah dengan merasakan
kehidupan dalam suasana sejarah pergerakan dan dalam realita positif, dan
menghubungkannya dengan realita kehidupan nyata. Karena Al-Qur’an tidak akan
terbuka rahasianya hanya melalui pandangan yang jauh ini kecuali dalam wujud
persesuaian realita sejarah, sehingga akan tampak sentuhan-sentuhannya yang kontinyu,
objektivitasnya yang terus menerus. Namun bagi siapa yang bergerak dengan ajarannya
saja, yaitu mereka yang hanya membahas nash-nash Al-Quran dari segi bahasa dan
bayan saja, maka hanya akan mendapat luarnya saja, sementara bagian dalamnya jauh
dari hatinya. [7]
Sesungguhnya Al-Quran memiliki tabiat pergerakan dan misi yang nyata, hidup dan
bergerak, dari sini berarti Al-Quran tidak akan bisa dirasakan dan dinikmati dengan
baik kecuali bagi siapa yang bergerak secara benar dan pasti dalam realita
kehidupannya. Beliau berkata : “sesungguhnya Al-Qur’an tidak bisa dirasakan kecuali
yang turun dan bergelut dalam kancah peperangan ini, bergerak seperti yang terjadi
sebelumnya saat pertama kali diturunkan Al-Quran. Sedangkan mereka Mempelajari
Al-Quran dari segi bayan atau sekedar seninya saja, maka tidak akan dapat memiliki
hakekat kebenaran sedikitpun darinya hanya sekedar duduk-duduk, berdiam diri dan
merasa tenang, namun jauh dari kancah pertempuran dan jauh dari pergerakan.
Bahwa hakekat Al-Quran ini, selamanya tidak akan dapat direngkuh oleh orang-orang
yang malas; dan bahwa rahasia yang terkandung didalamnya tidak akan muncul bagi
siapa yang terpengaruh dengan ketentraman dan ketenangan beribadah kepada selain
Allah, bergaul untuk thogut-thogut musuh Allah dan umat Islam. [8]
Bahwa pengertian diatas dikuatkan dengan pernyataan lainnya : “Demikianlah Al-
Quran akan terus bergerak pada hari ini dan esok –masa mendatang- dalam
memunculkan kebangkitan Islam, menggerakannya dalam jalan da’wah yang
terprogram”.
Gerakan ini tentunya butuh kepada Al-Quran yang memberikan ilham dan wahyu.
Ilham dalam manhaj haraki, konsep dan langkah-langkahnya, sedangkan wahyu
mengarahkan konsep dan langkah tersebut jika dibutuhkan, dan memberi kekuatan batin
terhadap apa yang akan dihadapi di penghujung jalan.
Al-Quran –dalam persepsi ini- tidak hanya sekedar ayat-ayat yang dibaca untuk
meminta berkah, namun didalamnya berlimpahan kehidupan yang selalu turun atas


al-ikhwan.net Abu Ahmad
jamaah muslimah yang bergerak bersamanya, mengikuti arahan-arahannya, dan
mengharap ganjaran dan janji Allah SWT.
Inilah yang kami maksud bahwa Al-Quran tidak akan terbuka rahasia-rahasianya
kecuali bagi golongan muslim yang berinteraksi dengannya untuk merealisasikan
petunjuk-petunjuknya di alam realita, bukan bagi mereka yang hanya sekedar
membacanya untuk meminta berkah ! bukan bagi mereka yang membacanya hanya
untuk belajar seni dan keilmuan, dan juga bukan bagi mereka yang hanya mempelajari
dan membahas dalam bidang bayan saja !
Mereka semua sama sekali tidak akan mendapatkan dari Al-Quran sesuatu apapun,
karena Al-Quran tidak diturunkan bukan untuk sekedar dipelajari dan dijadikan mata
pelajaran namun sebagai pelajaran pergerakan dan taujih –pemberi petunjuk dan arahan-
.” [9]
Karena itu, bersegeralah memperbaiki pemahaman Al-Quran dan mentadabburkannya,
berinteraksi dengannya seputar teori pergerakan, menggunakan kunci-kunci yang
memberi petunjuk dalam berinteraksi dan mentadabburkan Al-Qur’an. Karena yang
demikian sesuai dengan tabiat dasar Al-Quran yang mulia dan karakteristiknya yang
unik. Dan ketahuilah bahwa yang demikian itu adalah “Realita pergerakan” sebagai
kunci dalam berinteraksi dengan Al-Kitab yang mengagumkan dan mukjizat yang indah
dan memberi petunjuk.
”Karena itu gerakan Islam akan selalu berhadapan –yang menjadi kebutuhan dan
tuntutan- setiap kali berulang masa ini (masa penghalangan da’wah Islam di Mekkah
antara tahun kesedihan dan Hijrah), seperti yang dihadapi gerakan Islam sekarang di era
modern ini.
Dan yang demikian harus disertai dengan keadaan, situasi, kondisi, kebutuhan, dan
tuntuan realita amaliyah seperti saat diturunkannya Al-Quran pertama kali. Dan hal
tersebut guna mengetahui arah tujuan nash dan aspek-aspek petunjuk-petunjuknya,
meneropong sentuhan-sentuhannya yang selalu bergerak di tengah kehidupan yang
selalu berhadapan dengan realita sebagaimana makhluk hidup yang bergerak –
berinteraksi dengannya atau berseberangan dengannya. Pandangan ini merupakan
perkara yang sangat urgen guna memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-
Quran dan merasakan kenikmatan bersamanya. Sebagaimana ia juga sangat penting
untuk dapat memanfaatkan petunjuk-petunjuknya setiap kali berulang suasana dan
situasi di masa sejarah yang akan datang, khususnya zaman yang sedang kita hadapi
saat ini, saat kita bergelut dalam pergerakan da’wah islam.
Bahwa tidak akan ditemukan pandangan ini kecuali mereka yang bergerak secara pasti
dengan agama ini dalam menghadapi dan memberantas kejahilian modern, karena umat
akan menghadapi peristiwa, suasana dan situasi seperti yang di hadapi oleh generasi
awal da’wah dan kaum kaum muslimin bersamanya. [10]



al-ikhwan.net Abu Ahmad
____________________________________
Maraji’
[1]. lihat: Muqaddimah Fi Zhilalil Quran dan Biodata Sayyid Qutb pada surat Al-A’raf.
[2]. Lihat: Al-Manhaj Al-Haraki Fi Az-Zhilal.
[3]. Lihat: Khasais At-Tashawur Al-Islami, Sayyid Qutb, hal. 7-8
[4]. Lihat: Fi Zhilalil Qur’an, jil. 2, hal. 1016-1017
[5]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 61
[6]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 1, hal. 348-349
[7]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil 3, hal. 1453
[8]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1864
[9]. Lihat: Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 1948
[10]. Fi Zhilalil Quran, jil. 4, hal. 2121-2122


















al-ikhwan.net Abu Ahmad
LANGKAH LANGKAH LANGKAH LANGKAH- -- -LANGKAH PRAKTIS DALAM MEMAHAMI LANGKAH PRAKTIS DALAM MEMAHAMI LANGKAH PRAKTIS DALAM MEMAHAMI LANGKAH PRAKTIS DALAM MEMAHAMI
DAN BERINTERAKSI DENGAN AL DAN BERINTERAKSI DENGAN AL DAN BERINTERAKSI DENGAN AL DAN BERINTERAKSI DENGAN AL- -- -QURAN QURAN QURAN QURAN

Bagi pembaca Al-Quran hendaknya lebih dahulu memperbaiki bacaannya,
pemahamannya, dan bertadabbur di dalamnya, berhenti sejenak untuk menafsirkannya
dengan singkat yang memiliki hubungan dengan petunjuk, memahami bagaimana
berinteraksi dengannya, menelaan dan hidup dengannya..kaena itu hendaknya ia
mengikuti –dalam bacaannya- petunjuk yang telah ditentukan yang memiliki langkah-
langkah yang berjenjang dan jelas serta pase yang berkesinambungan. Disini kami
mencoba menyebutkan langkah-langkah praktis agar dapat memahami dan berinteraksi
dengan Al-Quran, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk.
1. Hendaknya memperhatikan lebih dahulu adab-adab tilawah –yaitu seperti yang telah
kami jabarkan inti-intinya sebelumnya- merenungkannya, komitmen terhadapnya dan
menerapkannya semaksimal mungkin, agar dia dapat masuk dan mengrungi alam Al-
Quran, tentram hidup dibawah naungan dengan Al-Quran, menghadirkan nilai-nilai dan
hakekat-hakekat yang terkandung di dalamnya, menyingkap petunjuk-petunjuk dan
arahan-arahannya, merasakan naungan dan sentuhan-sentuhannya. Bagi siapa yang
tidak komitmen dengan adab-adab tersebut, maka bagaimana bisa menyatu dengan Al-
Quran ?.
2. Membaca surat, juz atau potongan ayat dengan tenang, khusu’ dan tadabbur; santai,
tidak tergesa-gesa dan tidak terlalu keras. Jangan niatkan diri hanya ingin
menyelesaikan bacaannya saja dan menghatamkan satu juz, atau tujuannya berapa
halaman telah dibaca dan berapa ayat telah dilalui, dan berapa ganjaran yang telah
dikumpulkan. Jangan menghayalkan akan perkara ini sehingga dirinya tidak melakukan
tadabbur, atau bisa jadi ada tembok tinggi yang menghalangi cahaya Al-Quran yang
akan masuk ke dalam hatinya.
3. Berhenti sejenak di depan ayat yang dibacanya, dengan tenang dan penuh
ketelitian serta -sebisa mungkin- diulang-ulang, agar dapat mengambil sebagian karunia
Allah dari rahasia, ilmu, pengetahuan dan nilai-nilainya. Jangan membaca Al-Quran
dengan matanya saja, atau dengan pendengaran dari telinganya saja, namun dibaca oleh
seluruh anggota tubuhnya, didengar oleh perasaan dan indranya, dihidupkan dengan
seluruh jiwa kemanusiaannya, berinteraksi dengannya untuk mendapatkan pengaruh
darinya serta membuka segala sendi kehidupannya.
4. Dirinya harus betul-betul menghayati ayat yang dibaca, mengulangi bacaannya
beberapa kali, jangan bosan dengan hal tersebut atau merasa letih, walaupun herus
dilakukan dalam waktu lama dan diulang berpuluh-puluh kali. Banyak dari para ulama
yang berlama-lama dalam mengamati satu ayat Al-Qur’an yang ada dihadapannya,
membacanya di malam hari secara keseluruhan.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
5. Menelaah dengan rinci konteks ayat : susunannya, alurnya, maknanya dan kapan dan
dimana turunnya, kata-kata yang asing dan I’rabnya, memperhatikan makna-maknanya,
petunjuk-petunjuk dan arahan-arahannya. Dan tidak boleh meninggalkannya ke tempat
lain kecuali setelah mendalami betul apa yang dibaca sebelumnya, dan bisa menafsirkan
dan memahaminya.
6. Memperhatikan aspek realitas ayat, kesesuaiannya dengan realita dan solusi yang
terdapat di dalamnya, dengan menjadikan ayat sebagai tolok ukur untuk menyelesaikan
permasalahan hidup, timbangan yang memberikan solusi disekitar permasalahan dan
apa yang berhubungan dengannya, cahaya yang menyinari jalan hidupnya. Sekiranya
hal tersebut dapat dilakukan secara baik, niscaya dapat mudah mengambil intisari dari
ayat yang tidak akan pernah habis, bahkan menambah keagungan Al-Quran.
7. Kembali kepada pemahaman para salafussolih –khususnya para sahabat- terhadap
ayat, tadabbur mereka dan kehidupan mereka dengannya, menelaah penerimaan dan
interaksi mereka dengan Al-Quran, memperhatikan kondisi, situasi, keadaan dan
kebutuhan yang menjadi solusi darinya, merenungkan dan mentadabburkan dari apa
yang diriwayatkan dari mereka tentang ungkapan-ungkapan dalam memahami dan
menafsirkannya. (lihat materi ini pada judul: Al-Qur’an di mata para nabi, di mata para
sahabat dan di mata para tabi’in)
7. Mengungkap pendapat sebagian para mufassirin terhadap ayat Al-Quran, memilih
kitab-kitab tafsir yang bermutu dan ilmiyah, original, bagus, sistematis dan
terpercaya. Sehingga dapat meluruskan pandangannya terhadap Al-Quran dan
merasakan kenikmatan darinya, dan apa yang telah dikeluarkan dari hukum-hukum,
nilai-nilai, petunjuk-petunjuk dan sentuhan-sentuhannya, dan juga dapat menjauhi apa-
apa yang bertentangan dengan dasar-dasar keilmuan yang telah ditetapkan oleh para
ulama Al-Quran.
jika kita ingin mendapatkan nasehat dengan kitab-kitab tafsir yang berinteraksi dengan
Al-Quran maka hendaknya menelaah pada pase pertama terhadap kitab yang ringkas
yang memberikan makna ayat-ayat yang asing dalam alur Qurani. Sedangkan kitab
tafsir yang baik pada masalah ini dan paling ringkas adalah “Kalimat Al-Quran tafsir
dan bayan” Syekh Hasanin Makhluf.
Setelah membaca Al-Quran dan menelaah makna-maknanya dari kitab ini maka
hendanya mencari buku tafsir kontemporer yang banyak memberikan apa yang menjadi
tuntutan dalam ayat tersebut, dan hal ini tidak akan ditemui kecuali dalam kitab tafsir
“Fi Dzilal Al-Quran” As-Syahid Sayyid Qutb. Kemudian menelaah juga kitab
tafsir klasik yang banyak memberikan pemahaman tentang ayat-ayat, konteknya,
i’rabnya, tempat turunnya dan hukum-hukumnya –dengan bermacam buku sesuai
dengan zaman, pendidikan dan sekolah setiap para mufassir mereguk ilmu- bisa juga
dengan memilih kitab “Tafsir Al-Quran Al-Adzim” Imam Ibnu Katsir, atau kitab “Al-
Jami Li Ahkam Al-Quran” Imam Al-Qurtubi, atau kitab “Fathul Qodir” Imam Asy-
Syaukani, atau kitab “Raghaib Al-Quran” Al-Qami An-Naisaburi atau kitab-kitab
lainnya.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
MENJADIKAN AL MENJADIKAN AL MENJADIKAN AL MENJADIKAN AL- -- -QUR’AN SEBAGAI WIRID HARIAN QUR’AN SEBAGAI WIRID HARIAN QUR’AN SEBAGAI WIRID HARIAN QUR’AN SEBAGAI WIRID HARIAN

Dalam pembahasan ini kami akan menghadirkan kepada para pembaca dan pecinta Al-
Qur’an dan bersuka ria dapat berinteraksi dengannya setiap hari, beberapa nasehat akan
urgensi menjadikan Al-Quran sebagai bagian dari wirid harian dan amalan wajib yang
tidak boleh dilanggar walau hanya sehari sekalipun, walaupun kesibukan yang banyak
dan kewajiban yang bertumpuk ada dihadapannya.
Paling tidak ada 3 wirid harian Qur’ani yang mesti kita jalankan, agar kita mendapatkan
julukan sebagai ahlul Qur’an dan ingin mendapatkan karomah (kemuliaan) Al-Qur’an
serta kelak mendapatkan syafaat pada hari kiamat. sebagaimana yang disabdakan oleh
nabi saw:
· , -` . . ·, · · , ·` ,, .¸ -, ` ·` , · .¯` , ,` , , ·
“Bacalah Al-Qur’an, niscaya dia (Al-Qur’an) akan datang pada hari kiamat -nanti-
memberikan syafaat kepada orang yang membacanya”. (Muslim)
Wirid Pertama : Wirid Dalam Membaca
Membca Al-Quran hendaknya –dengan adab-adab yang telah kami sebutkan
sebelumnya- jangan mengurangi wirid tersebut kurang dri satu juz Al-Quran, sehingga
bisa mengkhatamkan Al-Quran setiap bulan satu kali, -sebagai batasan terendah yang
ditetapkan oleh Rasulullah saw kepada pembaca Al-Quran-.
Wirid Kedua : Wirid Menghafal
Yaitu berusaha menghafal Al-Quran setiap hari satu ayat atau dua atau tiga ayat, lalu
mengulangi hafalannya dan memperbaikinya setiap hari, sehingga waktu yang berjalan
beberapa tahun dapat menghafal Al-Quran secara keseluruhan dengan baik dan benar…
Wirid Ketiga : Wirid Tadabbur
Yaitu dengan melakukan langkah-langkah yang terprogram; dengan menerapkan
program ini setiap hari satu ayat, dua , atau tiga ayat atau boleh lebih dari itu. Berusaha
untuk hidup dengannya atas dirinya dan anggota tubuhnya. Dan dengan
demikian, waktu-waktunya akan selalu dilewati dengan mentadabburkan Al-Qur’an,
dalam beberapa tahun lamanya akan mampu mengkhatamkannya, khususnya dalam
mentadabburkan Al-Quran, berinteraksi dengannya, menafsirkannya, memahaminya
dan menguasainya.



al-ikhwan.net Abu Ahmad
BERINTERAKSI DAN MENTADABBURKAN AL BERINTERAKSI DAN MENTADABBURKAN AL BERINTERAKSI DAN MENTADABBURKAN AL BERINTERAKSI DAN MENTADABBURKAN AL- -- -QUR’AN QUR’AN QUR’AN QUR’AN
SECARA APLIKATIF SECARA APLIKATIF SECARA APLIKATIF SECARA APLIKATIF

1. Menelaah dan Memahami Al-Quran Secara Menyeluruh
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang universal, system hidup yang sempurna, yang
memiliki tugas realistis dan mengagumkan, memiliki ciri pergerakan yang penuh
vitalitas, dan sebagai risalah peradaban yang potensial yang memilik wujud dan
pengaruh yang besar dan kontinyu terhadap seluruh umat manusia hingga Allah
mewariskan bumi kepada mereka yang diinginkan-Nya.
Bagi pembaca yang ingin berinteraksi dengan baik terhadap Al-Qur’an, talaqqi
kepadanya dan mendapatkan arahan darinya maka pertama kali yang harus dilakukan
adalah memiliki pandangan yang positid terhadap Al-Qur’an, karena sisi pandang
seseorang terhadap sesuatu akan memberikan pengaruh terhadap apa yang dapat dipetik
darinya, sebagai cermin yang dijadikan untuk mengaca, gambaran yang dapat dijadikan
pegangan dan essensi yang dapat diambil dari manfaat , seluruh perkara tersebut
memiliki ikatan yang erat dalam tata cara berinteraksi kepada Al-Qur’an.
Ada sebagian pembaca, pemerhati atau peminat untuk bisa berinteraksi dengan Al-
Qur’an, memandangnya secara juz iy (parsial), dan setengah-setengah, dan sebagain
yang lain menganggap Al-Qur’an hanya sebagai alat penyembuh, pemelihara diri dari
gangguan syetan (roh) jahat, dan hanya digunakan untuk meruqiyah, sedangkan yang
lainnya ada yang beranggapan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang universal, yang
mencakup berbagai bidang keilmuan, pengetahuan dan kebudayaan; kelompok ketiga
ini adalah kelompok yang berpendapat bahwa Al-Qur’an memiliki retorika, penjelasan,
balaghah dan seni yang tinggi, sebagaimana ia juga merupakan kitab yang menceritakan
tentang kisah umat terdahulu, kisah-kisah masa lalu, dan keadaan mereka pada masa
lampau, sebgaimana Al-Qur’an juga mencakup tentang fiqh dan hukum, bahasa dan
sastra, ideologi dan hayalan, begitupun Al-Qur’an merupakan kitab yang memiliki
keberkahan dan kebaikan, yang kesemuanya merupakan ladang ganjaran dan
pahala, sehingga siapa yang membacanya maka baginya 10 kebaikan dari setiap
hurufnya satu ganjaran lalu dilipat gandakan 10 kali lipat.
Kita tidak mengingkari akan banyaknya pandangan tersebut terhadap Al-Qur’an;
keuniversalitasannya, isyarat yang dimilikinya, karena kita tidak boleh memisahkan
dari semua perkara tersebut, namun jika disatukan seluruh pandangan diatas akan
menghasilkan sesuatu yang berguna, sedangkan kurangnya pandangan kita terhadapnya
juga memberikan sesuatu yang lain pula. Karena jika kita melakukan hal tersebut, maka
kita akan menghilangkan sebagian isinya, menafikan peran dan misinya, dan dapat
mengakibatkan kita terjerumus pada kesalahan pada pandangan yang parsial dan tidak
sempurna.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Sebagian peneliti tentang Al-Qur’an membaginya pada beberapa tema, membahas kosa
kata dan idiomnya, tentang simbol-simbol terhadap setiap tema yang ada di dalamnya;
satu sisi ada yang membahas tentang kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an, pada
sisi lain ada yang membahas tentang hal-hal yang gaib, ada juga yang membahas
tentang keilmuan yang terkait dengannya, atau tentang perundang –undangan atau
isyarat-isyarat tentang sejarah, ilmu nafs (kejiwaan), administrasi, kebudayaan,
ekonomi, sosial atau yang lainnya, dan juga diantara mereka ada juga yang membahas
tentang idiomnya, kosa kata-kosa katanya seperti kata sabar, sholat, taqwa, khilafah,
hukum, jihad, dan yang lainnya, sebagaimana diantara mereka ada yang berusaha
mengklasifikasi surat-suratnya, ayat-ayatnya, indeks-indeksnya dan penjelasan yang
tergabung dari tema-temanya, keilmuan-keilmuannya dan pengetahuan-pengetahuan.
Hal tersebut diatas merupakan salah satu usaha yang baik dan benar, dimana para
pelakunya insya Allah mendapatkan ganjaran dari Allah –tergantung motivasi niat
mereka- namun belum dikatakan sebagai usaha yang menyeluruh dan sempurna, karena
temanya belum mencapai segala aspeknya dan menyeluruh dari setiap seginya, karena
akan dapat menghilangkan berbagai sudut pandang, isyarat-isyarat dan symbol-symbol
yang terdapat dalam Al-Qur’an terhadap tema yang dibahas oleh mereka.
Dan memberikan pandangan dengan teliti atas usaha mereka dalam lingkup yang luas
merupakan solusi yang cukup baik akan hakekat ini, dan jangan dipahami dari
pembicaraan secara parsial sehingga dapat menafikan validitas kerja dan penelitian pada
tema ini, tentang keabsahan, keotentikan dan legalitasnya, dan tidak menghargai buku-
buku, hasil-hasil penelitian dan pengkajian-pengkajian !!! karena yang demikian
merupakan suatu keharusan, namun yang kami inginkan dari hakekat ini adalah bahwa
para peneliti dan penelaah harus dapat memberikan niali dan penalaran mereka ; bahwa
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang besar dan agung, besar dari segi tabiatnya,
perannya, risalah yang dibawanya, i’jaznya, keilmuannya dan tema-temanya, metode-
metodenya, susunan kalimatnya dan perundang-undangan yang terkandung di
dalamnya, dan dalam setiap hembusan yang diisyaratkan olehnya. Besar dan agung
yang tidak bisa dipisah-pisahkan dan sulit dibagi-bagi.
Kontemplasi secara menyeluruh dan universalitas Al-Qur’an merupakan kunci pertama
untuk dapat berinteraksi bersamanya, sebagai tolok ukur utama untuk bisa
memahaminya, mentadabburkannya dan mempelajarinya, sehingga akan ditemui di
dalamnya.
Bagi pembaca yang hendak melakukan kontemplasi secara menyeluruh dan universal,
dapat melakukan penalaran tentang ayat-ayat yang menerangkan tentang sifat-sifatnya
dan keistimewaan-keistimewaannya, yang mengisyaratkan akan tabiatnya, risalah yang
diembannya dan misi yang dibawanya, kemudian mengalihkan pandangan pada para
sahabat –dengan pandangan yang menyeluruh dan universal- agar dapat diketahui
bagaimana mereka berinteaksi dengan Al-Qur’an dan menyadari akan kebesarannya,
sebagaimana dapat dijadikan starting point dari pembicaraan kita yang akan datang
dalam buku ini, saat kita akan menjabarkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, tentang


al-ikhwan.net Abu Ahmad
kehidupan Rasulullah saw dan ungkapan para sahabat dan tabi’in terhadap sifat Al-
Qur’an.
2. Mempehatikan Misi Da’wah Pergerakan Al-Quran
Pembaca Al-Quran yang jeli hendaknya melihat dan memperhatikan misi da’wah
pergerakan yang dibawa oleh Al-Quran, pedomannya adalah dua kiat yang telah
disebutkan sebelumnya “Menelaah dan memahami Al-Quran secara keseluruhan” dan
“Memahami Tujuan Pokok Al-Quran”.
Jika kita dapat menggunakan akal sehat dalam memahami dua kunci tersebut, maka kita
akan menemukan tujuan dan risalah yang dibawa Al-Quran, yaitu da’wah pergerakan
yang realistis.
Sesungguhnya salah satu karakteristik yang gamblang dari karakteristik-karakteristik
Al-Quran adalah “Realita Pergerakan” yaitu sebagai kunci dalam berinteraksi
dengannya, mengetahui misi dan tujuannya, mengerti, memahami dan mendalami –
sebgaimana yang diucapkan oleh Asy-Syahid Sayyid Qutb sebelumnya- adalah realitas
pergerakan yang menjelaskan “Misi Da’wah Pergerakan” Al-Quran Al-Karim; yang
menjelaskan risalah yang gamblang dan realistis di alam kehidupan insan.
Allah SWT mensifati Kitab-Nya dengan sifat yang mengagumkan, yang menunjukkan
dengan jelas akan tujuan da’wah pergerakan , sebagaimana yang difirmankan Allah
dalam kitab-Nya !
¸, . ,, ´ - . ¯` , ,
“Yasin. Demi Al-Quran yang agung”. (Yasin : 1-2)
dan firman-Nya :
` ,, ´ - ¯ ¸ · `, . ´ ` · ' ¸ · ` ·` ¸ ,
“Dan sesungguhnya Al-Quran itu dalam induk Al-Kitab Lauh Mahfudz di sisi Kami,
adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah”. (Az-
Zukhruf : 4)
Hikmah adalah sifat orang yang berakal. Karena itu Al-Quran merupakan sifat bagi
orang yang berakal. Al-Quran benar-benar tinggi nilainya dan amat banyak
mengandung hikmah, mendidik dengan hikmah, berprilaku dengan hikmah,
membimbing umat dengan hikmah, melaksanakan misinya dan risalahnya dengan
hikmah.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Dengan hikmah Quraniyah, Al-Quran bekerja seperti yang dilakukan dalam kehidupan
para sahabat. Dengan misi da’wah pergerakan ini, Al-Quran mengeluarkan para sahabat
dengan baik dari ketiadaan menuju kepemimpinan, dari kematian menuju kehidupan.
Dan dengan karakteristik “Realita Pergerakan” Al-Quran hadir dengan amal nyata,
memberi petunjuk yang baik. Para sahabat –sebagai generasi Al-Quran yang unik-
mendapatkan karakteristik ini, menemukan hikmah dan memahami misi ini, sehingga
menciptakan keajaiban dalam kehidupan manusia yang menakjubkan dan penuh dengan
ibrah dan pelajaran.
Kita harus banyak memperhatikan misi Al-Quran di tengah kehidupan kita, berinteraksi
dengannya, mentadabburkan realita pergerakan yang terkandung di dalamnya, sehingga
kita dapat mengambil intisari darinya dengan baik dan beraktivitas dengannya secara
tepat. Jika kita ingin berhasil dengan ini semua, maka kita harus merobohkan
penghalang yang mentupi hati kita dengan Al-Quran, menghilangkan jurang yang dalam
yang memisahkan antara kita dengan Al-Quran, membersihkan hati dari hal-hal
yang dapat menjadi penutup, penghalang, tirai dan syahwat yang membuat jauh hati
dengan cahaya Al-Quran. Kita harus melangkah mendekati Al-Quran, masuk ke alam
yang indah dengan seluruh anggota tubuh kita, mencari dengan seluruh perangkat jiwa
kita memenuhi panggilannya, mendapati darinya tujuan da’wah pergerakan yang
realistis, memperhatikan dalam setiap suratnya, ayat-ayatnya sehingga kita dapat
melihat Al-Quran hidup dan bergerak; sebagai hakim yang mengarahkan kehidupan,
pemimpin yang mendidik, yang akan mengeluarkan kita dengan izin Allah dengan
penuh keberkahan, mengajarkan dengan penuh kebaikan, dan menghantarkan kita
menuju pusat kepemimpinan dan qiyadah serta soko guru bagi manusia di seluruh
dunia.
Setiap ayat-ayat Al-Quran mewahyukan akan misinya tentang da’wah pergerkan,
mengisyaratkan akan realitas pergerakan yang optimistis, mengalirkan kehidupan yang
penuh dengan kesemangatan. Karena itu Allah berfirman :
, ´` ` ¸ · .` , ,` , ,` ,` · , .,` ,`· ' ¸ ` . - ,` - ' ¸ · · ' ,` , - ` ,` ` ¯
.,` ·` ,` ` ,` ,` · ` ,` , ,` , - . ´ . ´ ¸` · ' ¸ ·¯ ` , , · , .,` ·` ,` ,
., ` ,` ·` , · ¯ ' ,
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyeru pada
kebajikan dan mencegah akan kemungkaran dan beriman kepada Allah”. (Ali Imron :
110)
Umat Islam dikeluarkan untuk seluruh manusia lainnya dari ketiadaan, muncul dari
hadapan nash-nash Al-Quran, malahirkan generasi baru di tengah naungan Al-Quran,
bekembang dan hidup di bawah naungan Al-Quran. Karena itu mereka adalah umat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
yang terbaik. Dan siapakah umat yang mendekati dari kebaikan ini, atau sama
derajatnya bahkan lebih tinggi derajatnya daripadanya ?? apakah kaum muslimin saat
ini menikmati akan kebaikan yang ada dalam Al-Qur’an ? melaksanakan tugas ini,
membimbing dan memakmurkan dunia dengan kepemimpinan dan ketauladanan ?
jawabannya sangat jelas. Benar. Dan rahasianya adalah berada pada pendangannya
terhadap Al-Quran, interaksi dan hubungan yang erat dengannya.
Berapa yang akan di dapati dari keuntungan dan manfaat interaksi dengan Al-Quran,
apa hasil yang akan diraih dan kekayaan yang akan di dapat oleh diri dari
memiliki pengetahuan, petunjuk-petunjuk, hakekat-hakekat, sentuhan-sentuhan yang
dihasilkan saat membaca nash-nash Al-Quran dengan menggunakan kiat ini??
terutama dia juga memahami akan karakteristik “Realitas pergerakan dalam Al-Quran” !
kami sarankan untuk membaca ayat-ayat di bawah ini –sebagai contoh kecil- dari
ungkapan diatas :
¸ ` · . ¸ ¸ · ` ,` , · _ _ - ¸ _. . , ` ·,` , , :` · _ .` , ` ¸ ,
: · , · ¸ · · . - ¸ ` · , ` ,` · . ,` · ' .` · ¸ · , ¸ ` , ,` · ·
¸ _ . . , ¸ ¸ , ` ¸ · · ¸ ·
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu
mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk
(yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong
bagimu”. (Al-Baqoroh : 120)
· · · . ¯ .` , ¯ ,` , =` · ¸` _ ' ¸ · ,` _ · ` ¸ ` ` , ´ ` · ` ¸ · ` . - ` ·
¸ , ´` . ¸ ` ` · = ·` , · , ¸ ` · , ¸` . , , ·
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu
berjalanlah kamu di muka bumi, dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul). (Al-Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh
manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Ali Imron :
137-138).


al-ikhwan.net Abu Ahmad
, `, ' , ` ,` `, ` · · ¸ ¸ . ` ¸ · ` , ¯ ` ,` ., . ` , ´ ` ' ` , ´` , · ,` ·¯ ¸,
., ` · ` ,` ` ¯ , ` , ´ · ` , · ·, - ` , ´` · -` , · · _ ¸
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan
memberi mudlorat kepdamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada
Allah kemu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah
kemu kerjakan”. (Al-Maidah : 105)
` ` · · ¸ .` ¸ ¸ ¯ ` ¸ - ,` · ¸ · ¸ ` , ´' , _ ` · ` , ´ · ¸ ¯ _ · ,` · , ` ·,`
¸, ¯ , ¸ .` ¸ . ` ., = ,` · , _ .` , ' ` · _` `, ,` · , ` _ .` , ' ` · ¯ _` `
` _ - . ¸ · ` ¸ · , · · , .` , ' ` ¸ · ` , ´` , _ ` ¸ · ` , . , ` , ¯ . - ` ·
, - , ` , ´` , · ' · , ,` , · · ¸ . , , , , ., ¯ ` ` , .` : ¯ ,
.,` ` ·, ¸ ·` , ` · ` , ` , .` _ · . ¸ · ¸ :` , _ ` ¸ · :` , ¸ ¸ -, ' · `_ `
¸ ¯ ,` ` ¸ · ` ¸ ,` · ' , ,` · . · · - · , , ¯ ,` ' · ` · . ` , ,
· ¸ ¸, ¯ , , ` , ,` , · .` ' · , =, - ` , ,` ,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syaitan-ayaitan
(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada
sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).
jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil
orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan
itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang
mereka (syaitan) kerjakan. Maka patutkah aku mencari hakim selain daropada Allah,
padahal Dialah yang telah menurunkan kita (Al-Quran) kepadamu dengan terperinci ?
Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui
bahwa Al-Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah
kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalahkalimat Tuhanmu
(Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah
kalimat-kalimat-Nya dn Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. Dan
jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka buni ini, niscay amereka
akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti


al-ikhwan.net Abu Ahmad
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat
dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat
petunjuk”. (Al-An’am : 102-107)
3. Menghindari diri dari Penguluran Waktu dan Memperpanjang Permasalahan
yang Terdapat dalam Al-Qur’an
Sebelumnya kita telah menjelaskan bagaimana berinteraksi dan mentadabburkan Al-
Qur’an secara aplikati; baik dengan menelaah dan memahami Al-Qur’an secara
menyeluruh dan dengan memperhatikan misi dakwah Al-Qur’an. Maka dalam
pembahasan ini, kita akan mencoba membahas tentang tidak boleh mengulur waktu
dalam beriteraksi dengan Al-Qur’an sehingga dapat membuat hati keras dan malas dan
menjadikan dirinya dengan Al-Qur’an ada penghalang yang begitu tebal dan jurang
yang begitu dalam, dan pada akhirnya sulit untuk bisa berinteraksi dan memahami Al-
Qur’an secara baik.
Dan diantara kecaman yang dilontarkan Allah atas ahlul kitab adalah karena terlalu
lamanya mereka beinteraksi degnan kitab Allah yang kepada para nabi sehingga
membuat hati mereka keras dan jauh dari hidayah. Allah berfirman:
, · , · , ¯ ` ,` ,` ,, · _ ` - . ' ,` ·¯ ¸, . ', ` , ' ¸ - ¸ · ¸
` . · ` ·. ` , ,` , · ¸ = · ¸` · ` ¸ · . ´ ,` , ' ¸, ¯ ,` , ´, . ,
., · ` ,` ,` · ` _ · ¯ , ` ,` ,` ,, ·
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab
kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka
menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Al-
Hadiid:16)
Bahawa pembahasan ini merupakan pelengkap dan penyempurna dari yang sebelumnya,
karena diantara tanda-tanda pemeliharaan nash Al-Quran adalah dengan tidak boleh
mengulur waktu begitu lama sehingga dapat meleset dari tujuan utama, menghalangi
cahaya Al-Quran, mendapatkan sentuhan dan petunjuk-petunjuknya. Bahasa
pembahasan yang banyak terdapat di dalam kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para
mufassirin adalah untuk memberikan kepada para pembaca tafsir dan membekalinya
dengan wawasan yang lebih banyak. mereka memberikan sesuatu yang memilki tujuan
mulia dan niat baik, dan mereka akan mendapatkan ganjaran dari sisi Allah –Insya
Allah-. dan sungguh banyak para pembaca yang dapat mengambil faedah bahkan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
memberikan komentar dan tambahan yang konstruktif sehingga dapat meningkatkan
wawasan tafsir mereka. Tidak mengapa seseorang menerima akan tambahan-tambahan,
pembahasan-pembahasan, tentang permasalahan dan qodloya dari sebagian para
mufassirin. Namun yang harus disadari adalah bahwa seluruhnya harus kembali bahwa
dirinya adalah sebagai pelajar tafsir, pembaca Al-Quran, dan sekalipun ada tambahan-
tambahan yang beragam bukan merupakan tujuan dari belajar dan membaca, tujuan dari
menelaah Al-Quran, dan juga bukan merupakan buah yang dapat dipetik dari hasil
berinteraksi dengannya, karena jika demikian terjadi pada hakikatnya akan membuat
antara dirinya dan Al-Qur’an, karena ketika menelaah dan mentadabburkan Al-Qur’an
dirinya hanya sibuk dengan ilmu-ilmu cabang Al-Qur’an sementara substansi hakiki
yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak didapatkan.
Tentunya, pembaca Al-Quran tidak akan berkurang sedikitpun dari hasil membaca dan
mempelajari Al-Quran walau tidak menelaah tambahan-tambahan ini, dan tidak akan
hilang sedikitpun dari mendapatkan petunjuk dan pelajaran yang terkandung dalam Al-
Quran walau dirinya tidak menyadari akan hal tersebut, dan tidak akan berkurang
ilmunya dengan membaca dan menelaah Al-Quran walau ia tidak berinteraksi
dengannya secara mutlak.
Adapun model pembahsan dan penelaahan Al-Qur’an memiliki ragam yang banyak :
diantaranya ada ilmu nahwu yang berhubungan dengan perselisihan –perbedaan
pendapat- para ahli nahwu seputar i’rab kalimat-kalimat Al-Quran, perdebatan dan
penyelesaian-penyelasaiannya. Ada pembahasan tentang ilmu balaghoh yang berhungan
dengan gaya bahasa ayat-ayat Al-Quran, makna-maknanya, hubungan-hubungannya,
perbedaan pendapat dan penyelesaian di dalamnya. Ada pembahasan tentang ilmu fiqh
yang berhubungan dengan perbedaan para fuqoha dalam hukum-hukum fiqh yang
diambil dari nash-nash Al-Quran, penolakan, dalil-dalil dan pengarahan-pengarahan
mereka. Ada juga tentang ilmu sejarah yang berhubungan dengan masa diturunkannya
ayat-ayat Al-Quran, sebab-sebab turunnya, tempatnya dan pendapat-pendapat yang
tsiqoh dan yang bertentangan dengan para salaf dalam menfsirkannya. Sebagaimana
juga ada tentang ilmu kisah-kisah; yaitu yang berhubungan dengan cerita-cerita Al-
Quran dan kisah umat pada masa lampau, perbedaan dalam membatasi cerita tersebut,
atau waktunya, atau para pelakunya, rinciannya, peristiwanya, dan perjalanannya, dan
lain sebagainya dari kisah yang dibuat-buat, israiliyat dan khurafat-khurafat yang
dilakukan oleh manusia.
Jika seseorang membaca firman Allah :
¸ ·` - ' , · · , - ¸` _. ¸ · ¸ · - ¸ ¸ · ´ · : ` , _ ¸ · · ¸ ,
: ` ¸ ` , · ` - , ` _ ` ` ¸` - , .· ` : ` , , ,, · ` `, ` ¸ · ,, ·


al-ikhwan.net Abu Ahmad
.,` ` · . · ` , ` · ' ¸ ¸ ¸ · , . ` . · ·¯ , · , ` ,` , . , · , , ¯
¸ · · . ` ,` ` ¯ . ¸ ..` , · . ` ' , ¸ , ·` ' ¸ · · ´ · _ ·
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui
apa yang tidak kamu ketahui. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-
benda) seluruhnya. Kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman
: “Sebutkanlah kepda-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang
benar”. (Al-Baqoroh : 30-31)
Maka hendaknya di berada dalam suasana ayat ini yang menjelaskan tentang kisah nabi
Adam agar ia mendapatkan sentuhan-sentuhannya, jangan mencoba keluar dari
pembahasan yang tidak diterima seperti yang dilakukan oleh para pendahulu, sehingga
dirinya sibuk dalam berinteraksi dengan nash-nash ini dan menutupi cahaya-cahaya
Qurani : jangan perhatikan adanya perkhilafan dalam akar kata kalimat “Al-Malaikat”
dan perdebtan antara berbagai pendapat dan perselisihan di dalamnya! jangan mencoba
masuk kedalam penafsiran dan ta’wil yang tertolak belakang tentang bagaimana Allah
berbicara dengan mengatakan “Limalaikatihi”, dan jawaban mereka atasnya.
Tentang penafsiran dan perkiraan mereka tentang pengrusakan dan pertumpahan darah
dari keturunan sang khalifah di muka bumi ini dan dalil-dalil mereka atasnya, dan
rincian apa yang terjadi antara nabi Adam dan Iblis, letak surga yang menjadi bagian
dari kisah tersebut. Namun jangan lewatkan dalam membicarakan tentang ilmu, syarat-
syarat, corak dan keutamaannya dan lain sebagainya.
Jika pembaca menelaah kisah anak-anak Nabi Adam dalam surat Al-Maidah, Allah
menyebutkan:
` , , · - ' ` ¸ · ¸` ` · ,` , · ,`, · · ¸ ` ¸ - , · · ¯ ` ¸ ` , ' ` , ,` , · ¸` ,
` · ' ¸ · , - ¯ ¸ · ¸` `, ¸ ` ` ¸ · ` · ¸` , ` ¸ ¸ · :` . ` ¸ ·
` - ' ¸` ¸ : ` · ' :` , ¸ ¸ , ¸ , ' · ¸ ` · , ` ¸ ¸ . = ,
¸ · ` . _ · . · : ¸ , ¸ , , .,` . ' ` , _ ' ¸` ¸ ` ¸ · ., ´
¸ = . , - : · , _` . -` . ' . ·, - ' ¸` · ` ·` ` · ` . ·` , = ·


al-ikhwan.net Abu Ahmad
¸, , - ¸ · _ ` . ' · ` · · . ` ·, ,` , ¸` _ ' ¸ · . -` , , , · ` · . · ·
`, , , ¸ · ·, - ' · '` , ¸ _ ,`, .` , ¯ · ¸ · · ., ¯ ' . ' ` .` , - · '
` ¯ : · ¸` - ' ` ¸ · ¸ · ·` ¸ · _ ` . ' · ¸ - ' · '` , ¸ _ , ' · . ,` ·
¸` _ ' ¸ · ¸ · · ` , ' ¸ ¸ ,` , · , ¸ · ` ¸ · ` ·` ' ¸, ,` ¸ ¸ , _ ·
¸ · ` ' ´ · ` , ·, - ¸` ,` - ' ` ' ´ · ·,` - ' ` ¸ · , ·, - ¸`
¸` _ ' ¸ · : · ` · , ` ,` ,` · _ · ¯ . ¸ `, . ` , , ` ` _ ` ,` ,` . -
., · ,` `
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut
yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari
salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia
berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah
hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. “Sungguh kalau kamu
menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan
menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut
kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar kamu
kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan
menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang
yang zalim.” Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh
saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang
yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi
untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat
saudaranya. berkata Qabil: “Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” karena
itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. Oleh karena itu Kami
tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang
manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat
kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya.
dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia
telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang
kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang
jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui
batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”. (Al-Maidah:27-32)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Maka jangan masuk di bawah pengaruh penjelasan dan perincian serta benang
merahnya tanpa adanya dalil yang menguatkan dari para mufasirin sebelumnya dalam
menetapkan perincian kisah ini tanpa dasar yang jelas, dan tidak ada nash yang kuat.
Jika membaca a yat-ayat yang menjabarkan tentang hukum-hukum puasa dalam surat
Al-Baqoroh ayat 183-187 atau ayat yang menetapkan tentang hukum membunuh dan
macam-macamnya, kafarahnya bagi wanita; surat Al-Baqoroh, ayat 92-93 atau yang
berhubungan dengan sembelihan dan penamaan atasnya dalam surat Al-An’am ayat
118-121 atau yang berhubungan dengan had zina, qadzaf dan li’an dalam surat An-Nur
ayat 1-10. Jika membaca ayat-ayat ini dan yang lainnya dari ayat-ayat hukum, maka
hendaknya berada dalam nash Al-Quran yang tidak pernah lepas dari penjelasan para
fuqoha. Jangan mengalihkannya pada pandangan dan renungannya dalam ayat-ayat
tersebut pada enslikopedi –perluasan- fiqh madzhab, perdebatan para pendapat yang
saling bertentangan. Hendaknya semua permasalahan yang ada diserahkan kepada ahli
fiqh yang berkecimpung dalam pelajaran-pelajaran fiqh, dan hendaknya pula ia hanya
berusaha menyibukkan diri dalam mencari tinjauan Al-Quran yang tidak ada di
dalamnya perincian, perluasan penjabaran yang panjang pada tema-tema dan
pembahasan yang diwariskan untuk islam atas petunjuk yang sesuai dengan realita.
4. Memahami Tujuan Pokok Al-Qur’an
Selain memandang Al-Qur’an secara universal, Mempehatikan Misi Da’wah
Pergerakan Al-Qur’an dan Menghindari diri dari Penguluran Waktu dan
Memperpanjang Permasalahan yang Terdapat dalam Al-Qur’an, hendaknya bagi
sesorang yang membaca Al-Qur’an menolehkan perhatiannya terhadap tujuan asasi Al-
Qur’an, karena kejelian dan keabsahan pandangan –sebagaimana yang telah kami
jelaskan dalam kiat yang pertama- akan mendorongnya pada interaksi yang baik,
memahami dan mentadabburkan Al-Qur’an secara maksimal, dan dapat memberikan
pemahaman kepada pembacanya akan hakekat, tujuan, misi utama dan maksud-maksud
Al-Qur’an.
Secara realita; kebanyakan dari kaum muslimin keliru dalam menetapkan tujuan dan
misi Al-Qur’an, karena diantara mereka ada yang hanya melakukannya secara parsial
dan tidak komprehensif, atau mengkaitkannya dengan sesuatu yang tidak berkaitan
dengan Al-Qur’an atau tidak ada korelasinya sama sekali dengan Al-Qur’an.
Sebagian umat ada yang menganggap bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk orang mati
saja bukan untuk yang hidup, sehingga -dengan pandangan sempit ini- perhatian mereka
terhadap Al-Qur’an hanyalah jika ada orang yang meninggal; ada yang menggunakan
perangkat radio di rumah-rumah mereka agar dapat diperdengarkan suara Al-Qur’an
selama beberapa hari dari orang yang meninggal, atau mengundang para Qori Al-
Qur’an secara khusus untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an di rumah dari orang yang
meningga atau di kuburan; baik dalam rangka pada acara kematian atau memperingati
hari kematian. Adapun interaksi orang yang masih hidup dengan Al-Qur’an; dengan
membahas tujuan dan misinya agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka dan
masyarakat, tidak ada perhatian sama sekali dalam benak mereka.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Adapun sebagian yang lain beranggapan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk
memberikan keberkahan; mereka menjadikannya sebagai jimat, penangkal teluh dan
ruqiah yang mereka letakkan diatas tubuh mereka, atau dirumah dan dimobil
mereka; hanya untuk mendapatkan keberkahan darinya dan mencegah bala. Mereka
juga hanya menjadikannya sebagai bahan mukaddimah dalam setiap ceramah,
muktamar-muktamar, pertemuan-pertemuan, majlis-majlis ta’lim, perayaan-perayaan
dan siaran-siaran radio dan televisi mereka dengan ayat-ayat Al-Qur’an, karena hanya
mengharap kebaikan dan keberkahan, menghiasi suasana dengan membacanya, atau
hanya sekedar urf, adat, kebiasaan kehidupan dan hanya menciptakan nuansa religius,
serta menjadikan suasana bahwa mereka hidup dengan Al-Qur’an. Namun -disisi lain-
jiwa, perasaan, hati, dan eksistensi mereka sama sekali tidak mau membuka Al-Qur’an
guna mendapatkan sesuatu yang ada di dalamnya dari kehidupan, mereka tidak mau
membahasnya dalam lembaga-lembaga mereka, metode riset, departemen-departemen
dan perundang-undangan mereka sehingga mendapatkan petunjuk, rahmat dan
keberkahan dan keadilan darinya. Sebagaimana mereka juga -dalam kehidupan
masyarakat dan bangsa- tidak mau menelaah Al-Qur’an sehingga dapat
mengubah eksistensi mereka sebagai pembawa kebaikan dan penyeru kebenaran,
pemuka dan soko guru (tauladan) bagi umat manusia seluruhnya.
Bagaimanakah tujuan-tujuan utama yang terkandung dalam Al-Qur’an, agar kita dapat
memetiknya ayat demi ayat dan surat demi surat saat kita membaca dan
mentadabburkannya, dan agar kita dapat mencari kesempatan untuk
mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari, baik kehidupan
masyarakat atau kehidupan negara.
Adapun diantara tujuan-tujuan pokok diturunkannya Al-Qur’an ada empat yaitu :
1. Bahawa Al-Qur’an membawa petunjuk dari Allah; petunjuk yang lurus, petunjuka
yang fundamental, memiliki target yang jelas, misi yang gamblang dan
berkesinambungan, dan yang terlebih penting lagi Al-Qur’an membawa petunjuk yang
universal bagi setiap individu akan segala eksistensinya, perasaannya, inderanya dan sisi
kehidupan lainnya, dan bahkan petunjuk yang menyeluruh terhadap umat dari setiap
individu dan kelompoknya; petunjuk yang komprehensip untuk manusia seluruhnya
menuju Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Tinggi.
Allah SWT berfirman :
· , · ' ¸ · ¸ ¸ ` ,, . ¯` , · . ¸
“Sesungguhnya Al-Qur’an memberikan hidayah (petunjuk) kejalan yang lurus” (Al-Isra
: 9)
Maksud hidayah disini adalah umum dan universal; yaitu menjadikan hidup lebih
berarti kepada yang diserukan kepadanya secara umum dan univesal.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah juga berfirman :
` .` ¯ · ,` · ' ` ¸ · -,` _ :` , ¸ `, -` , ' : ¯ , , ` . ´ · ¸ _
¸ ` , :` ¸ , · · ` ¸ · . ` ¸ · · , ¸ ` , _,` ` · · - ` ¸ ´ , . · ,
¸ ,, ` ` · ¸ , . _ ¸
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu – Al-Qur’an- dengan perintah
Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Al-Kitab – Al-Qur’an- dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang
Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami.
Dan sesungguhnya benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Asy-
Syura : 52)
Al-Qur’an merupaka ruh dan tidak akan memberi petunjuk kecuali yang memiliki ruh,
Al-Qur’an adalah nur –cahaya- dan Allah SWT yang memberinya dengan ruh ini,
memberi petunjuk dengan cahaya ini, dan Dialah yang memberikan perintah kepada
Rasulullah saw untuk memberi petunjuk melalui Al-Qur’an kejalan Allah SWT yang
lurus, Dialah yang memberi taklif kepada setiap mu’min yang diberi petunjuk dengan
hidayah Al-Qur’an untuk menyeru kepada yang lainnya memberi petunjuk seperti
mereka diberi petunjuk.
Allah berfirman:
., ` -` ` ,` ` ¯ · _ · ¯ ` , ´ ` ¸ , `, ,` _ ` , ¯ . - ` · . ´ ¸` · ' ,
` ¸ ` · ` . ¯ , ` _,` · ¸ · ` , ¯ . - ` · ¸ _ · ¯ ` ¸ · , ` ·, , . ´ ¸ · ,
·· ¸` ` ` · ,` . _ _ ¸ · ` · · , ¸ ` ,, . = ¸ · ` ,` ,` - ,` -`, ,
¸ ,, ` ` · ¸ , . _ ¸ ` , ,, ` ,, , · · , , _, ` _ ¸
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang
menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keredhaan-Nya kejalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan
orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-
Nya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus. (Al-Maidah : 15-16)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
2. Al-Qur’an mewujudkan pembentukan pribadi dan karakter muslim yang sempurna
dan seimbang; diwujudkan dari kepunahan dan yang ditemukan dari realita kejahilian
yang telah menyia-nyiakan jiwa, menafikan akal dan menelantarkan pengetahuan, indra
dan kepercayaan. Sebagaimana Al-Qur’an juga menyuburkan iman di dalam jiwa
manusia, menyinari pada setiap sisi kehidupan dengan cahaya ilahi, menumbuhkan
kebaikan dan kesalehan di dalamnya, mengaktifkan apa yang telah Allah berikan
kepada manusia dari kemampuan, keahlian dan tenaga secara positif lagi baik, sehingga
dapat merealisasikan misi dan tujuan, melebarkan sarana-sarana dan sistem yang telah
ditentukan risalahnya dan membantunya secara kontinyu dalam pelaksanaannya, dan
meletakkan dihadapan kedua tangannya kaidah-kaidah dan dasar-dasar yang
memungkinkan dirinya melakukan kreasi, innovasi dan dan mencipta.
Al-Qur’an telah berhasil secara gemilang dalam merealisasikan tujuan ini dalam
kehidupan para sahabat yang mulia, mereka adalah ahlul Quran, yang hidup dengan Al-
Qur’an; di dalamnya dan untuknya, sebagaimana telah mewujudkan juga generasi
Qurani yang memiliki sifat-sifat keislaman dan Qur’ani. Dan Al-Qur’an masih saja siap
dan mampu –dengan izin Allah- memberi dan mencetak generasi, siap melaksanakan
misi dan merealisasikan tujuan, dengan syarat seorang pembaca hendaknya
memperhatikan akan hal ini, menelaahnya, berusaha berinteraksi secara baik dengannya
dan talaqqi darinya, bekerja sama dengannya dalam rangka mencetak, membangun dan
mendidik.
Allah SWT berfirman:
` - ' · ` , · . ¯ ` ¸ · , ' ` · · · ` ¸ ¯ ¸ ¸ · · , ¸ ` , _,` ` · · - , ` · ` , ,
,` ¯ · ¸, , · ´ ¸ ,` _ : ¯ ,` · ¸ _ _ - , ¸` , . = ¸ ·
., ` ·,
“Dan apakah orang yang sudah mati dia Kami hidupan dan Kami berikan dengan
cahaya yang terang, yan gdengan cahay aitu dia dapat berjalan ditengah-tengah
masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaanny aberada gelap gulita yang
sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya ?”. (Al-An’am : 122)
Manusia tanpa Al-Qur’an akan mati hati, indra, perasaan dan kehidupan mereka.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
` _ . , _ ` ·. ¸ , ` , · , , ` _, ` . , ` . = . , , . , ¸ = . ,
` _,` , - , . , ` ¸ · ` _ ` `, · . ¸ ` . ,` ·. . , . ,` -. ¸ , ` , · ,
_,` ¸ · ` ¸ · ¸ _ ` ` , .` ' · ,
“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula)
sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan panas.
Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati.
Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat
mendengar”. (Fathir : 19-22)
Maka Al-Qur’an tidak akan dapat diraih kecuali pada orang yang hidup, dan tidak akan
berinteraksi dengannya kecuali orang yang hidup :
` ¸ ` · .¯` , · , ` , ¯ · . ¸ ,` · . ¸ ` · ¸ · ` , · , ,` · ` · ` · · , , ` ¸ · _ ` ` ,
¸, , · ´ _ · ¸` , ¸ -, , , - . ¯
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidak
layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi
penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang
hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir”.
(Yasin : 69-70)
3. Al-Qur’an mewujudkan eksistensi masyarakat islami dan Qurani; yaitu masyarakat
yang terbentuk dari individu Qurani yang dibentuk oleh Al-Qur’an – membangun
masayarakat atas dasar sistem Al-Qur’an, dasar-dasar, prinsip-prinsip dan arahan-
arahannya, memantapkan masyarakat islam dan sistem kehidupannya, membekalinya
dengan seluruh apa yang dibutuhkan dari ini semua. Dan ketika masyarakat sudah
terpatri dari nash-nash Al-Qur’an, hidup dibawah naungannya, berkembang
dilingkungannya dan berjalan di bawah cahaya Al-Qur’an akan menjadi masyarakat
yang hidup dengan kehidupan yang mulia, bebas dan sejahtera, namun jika tidak
demikian maka masyarakat tersebut akan mati, akan merasakan sakit dan pedihnya,
merasakan kehinaannya, kepengecutannya, kerendahannya dalam setiap saat.
Al-Qur’an telah membentuk masyarakat generasi awal sahabat –masyarakat Qurani
yang indah dan unik- yang mampu mewujudkan masyarakat sosial, mambangunnya dan
memakmurkannya saat mereka benar-benar menerima Al-Qur’an dan berinteraksi
bersamanya serta hidup dengannya.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah berfirman :
` , ´, ,` -`, ` , ¯ · · · ¸ ¸,` , , · ,` , - ` ,` ·¯ ¸, , `, ' ,
.,` , ` -` ·` , ¸ ` · ' , · · , .` , ¸` , , ¸,` -, · . ' ,` ` · ,
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila
Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…”. (Al-
Anfal : 24)
Al-Qur’an adalah da’wah nabi saw; da’wah untuk menuju kepada kehidupan yang layak
untuk anak manusia, kehidupan Qur’ani dalam berbagai aspek, sisi dan fenomena-
fenomenanya. Karena itu, barangsiapa yang menolak da’wah ini maka sebenarnya dia
telah menolak kehidupannya sendiri dan memvonis dirinya untuk mati, mati secara
ma’nawi yang tidak sama dengan mati secara materi.
Allah berfirman :
.,` · -` ,`, ·` , ¸ , ` · ` ,` , · ·` , _ `, , .,` · ` , ¸, ` ., - ` , ¸
“Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah) dan
orang-orang yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah kemudian kepada-Nya-
lah mereka dikembalikan”.(Al-An’am : 36)
Dan Allah juga berfirman :
, ` · _,` ` , ´` , ¸ ,` ' , ` , ´ , _ ` ¸ · . ·` ,` , ` , ¯ . - ` · ` ¸ , `, ' , ,
` - _ ¸ · ` ,` , -` ` , · · , ,` . ` · , · , ,` ·¯ ¸, · ' · ¸ ¸` . · , ` ·` · ¸ ·
, ` ` · ~ , . ·` , ¸ ` , ,, ` ,, ,
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu,
Muhammad dengan mu’jizatnya) den telah Kami turunkan kepdamu cahaya yang
terang benderang (Al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan
berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka
kedalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan
menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya”. (An-Nisa :
174-175)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Kalimat “al-Hayah” –dalam uslub Al-Qur’an- memiliki enam makna, seperti yang
disebutkan oleh imam Ar-Raghib dalam kitabnya “Al-Mufrodat” dan menyebutkan
dalil-dalil dan contohnya dari ayat-ayat Al-Qur’an;
1. Al-Quwwah An-Namiyah –kekuatan yang selalu berkembang- yang terdapat pada
tumbuhan dan hewan:
´ ¸ - ¸ .` ¸ ¸ ¯ . ¸ · · - ,
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu menjadi hidup”. (Al-Anbiya : 30)
2. Al-Quwwah Al-Hasasiyah bihi–kekuatan perasaan- karena itu dinamakan hewan
berasal dari kata “Hayawan” :
` . ,` · ' , . ,` - ' ¸ , ` , · ,
“Dan tidaklah sama antara yang masih hidup dengan yang sudah mati”. (Fathir : 22)
3. Al-Quwwah Al-Amilah Al-Aqilah –Kekuatan produktif dan berakal :
ْ-َ ~ َ ن'َ آ ْ¸َ ~َ وَ أُ -'َ -ْ-َ -ْ=َ 'َ · 'ً -
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan”. (Al-An’am : 122)
4. Irtifaul Al-gom –hilangnya rasa khawatir/takut-, seperti Firman Allah SWT :
` , ,` -` · ` ¸ ·` ,` · ,` · , _ ·` ' ` , ' ¸ , ¯ · `¸ · - . ¸ · ` ¸ · · ` , ~ · , - ` ·
“Barangsiapa yang melakukan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman maka akan Kami hidupkan dengan kehiupan yang lebih baik” (An-
Nahl : 97)
5. Al-Hayah Al-Ukhrawiyah Al-Abadiyah –kehidupan ukhrawi yang abadi-, dan yang
demikian sampai karena kehidupan yang berdasar akal dan pengetahuan. Allah
berfirman:
¸ِ ﺕ'َ -َ =ِ ¹ ُ -ْ~´ ~َ · ¸ِ -َ -ْ-َ ¹ 'َ ی ُ ل¸ُ -َ ی


al-ikhwan.net Abu Ahmad
“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu menngerjakan (amal saleh)
untuk hidupku ini”. (Al-Fajr : 24)
6. Kehidupan yang mensifati oleh Dzat Allah SWT yaitu kehidupan itu sendiri yang
tidak pernah mati. Allah berfirman :
,` · ¸ · ¸ ' ¸ - ,` ·
“Dialah Allah Yang Maha Hidup tiada tuhan selain Dia”. (Ghofir : 65)
4. Al-Qur’an Membina ummat Islam dalam menghadapi pergulatan yang lazim dengan
jahiliyah di sekitarnya
Begitupun dengan musuh-musuhnya yang selalu mengintainya, yang tidak memata-
matai, tidak meninggalkan dalam perang tata cara dan warna sedikitpun. Maka Al-
Qur’an membimbing umat Islam menuju medan pertempuran, memobilisasinya dan
membentangkan sarana-sarana menuju kemenangan, senjata perang, dan tata cara
perang, memberitahukan akan sebab-sabab kecurangan musuh dalam perang, tujuan
mereka, persekongkolan mereka dalam perang, penggunaan dengan berbagai senjata
untuk menghancur apa saja, karakteristik dan kejiwaan mereka, tata cara dan tipu daya
mereka, makar dan muslihat mereka, syubhat dan propaganda mereka, senjata dan
peralatan mereka. Memberikan dihadapan mereka jalan-jalan kemenangan, memberi
bekal dan kekuatan perang, dengan mengikatkan mereka dengan tali Allah, den
mengeratkan hubungan dan Islamnya. Sehingga keluarmenuju medan pertempuran yang
diwajibkan atasnya –dengan pimpinan Al-Qur’an, arahan dan petunjuk-petunjuknya-
meraih kemenangan yang mulia dan meraih kemerdekaan.
Inilah yang dilakukan oleh para sahabat dengan Al-Qur’an dalam jihad mereka, dan ini
juga yang dilakukan oleh kaum muslimin saat berjumpa dan berusaha merealisasikan
tujuan ini. Sehingga, Al-Qur’an tetap prima, siap dan mampu –dengan izin Allah- untuk
memberi, namun dimanakah para mujahid yang siap menyambutnya ? para
pemerhatinya kesuciannya? Para aktivisnya ? dan para mujahid yang siap menghadang
musuh dengan petunjuk dan hidayahnya? Allah SWT berfirman :
_ ¯ · , - · , ` ,` ·` · - , ¸, , · ´ _ =` ·
“Dan janganlah engkau turuti orang-orang kafir, namun perangilah mereka dengan
jihad yang besar”. (Al-Furqan : 52)
Inilah arahan Rabbani kepada Rasulullah saw dan umat setelahnya; untuk menjadikan
Al-Qur’an sebagai perangkat dan sarana yang dapat membantu dalam
berperang melawan orang-orang kafir, dan yang menjadi senjata utama, mendasar dan
pasti dalam berjihad.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Adapun yang menyayat hati pada saat ini adalah bahwa kebanyakan dari umat manusia
yang menjadi pemimpin atau anggota lagislatif dan mengaku turut berjuang bersama
umat dalam memerangi musuh-musuh Islam dan Al-Qur’an, justru membantu mereka
dalam memerangi Al-Qur’an dan menghancurkannya, melakukan sumpah bersama
mereka dengan semangat petunjuknya, namun, dibalik itu mereka mematikan
cahayanya dan menghancurkannya. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka
sedang memerangi Allah sedangkan tempat kembali setiap orang yang memerangi Allah
adalah neraka jahannam. Dan benarlah Allah dalam firman-Nya :
.,` , · ´ · , ¯ ` , , · _,` ' , ` · ` · , ` , , · , · ' , · _,` , · =` , .,` , ,`, .
· ¯ ¸,` _ · ` · , , =` , ` ¸ - ¸, · , ¸ ` , , ` · ,` _ ¸ ` _ ' ¸ ,` ·
., ¯ ,` ` · , ¯ ` , ,
“Mereka menghendaki mematikan cahaya Allah dengan mulut mereka dan Allah Maha
Sempurna akan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya. Dialah –Allah-
yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar
agar ditampakkan atas seluruh agama walau orang-orang musyrik tidak
menyukainya”. (As-Shaf : 8-9)
5. Memelihara Keabsahan Nash-nash Al-Quran
Pembaca Al-Quran kadang disibukkan dengan dirinya saat membaca Al-Quran,
berkhayal sehingga menjadi penghalang masuknya cahaya Al-Quran ke dalam dirinya,
kadang jiwanya mengawang dan berkhayal ke ufuk yang jauh. Hal ini telah disebutkan
pada pembahasan Adab-adab membaca Al-Quran.
Namun yang ingin kami sampaikan disini adalah hendaknya pembaca Al-Quran tetap
dalam suasana membaca nash-nash Al-Quran, menghadirkan seluruh perangkat dan
anggota tubuhnya untuk talaqqi, memenuhi, menelusuri dan menelaahnya dengan
seksama, agar dapat berinteraksi dengan Al-Quran dan meraih apa-apa yang terkandung
di dalamnya. Pembaca Al-Quran hendaknya juga memelihara suasana Qur’ani yang
penuh berkah, berusaha melestarikan, menjaga dan menambah keseriusannya setiap kali
akan menbaca Al-Quran, dan terus meningkatkannya setiap kali ingin mengulang-ulang
bacaannya dan kembali menelaah kitabullah.
Saat membaca ayat-ayat Al-Quran kadang ditemukan sekelompok ayat yang menarik
mengajak untuk memperluas dalam mentadabburkannya dan mengeluarkan apa-apa
yang terkandung di dalamnya, tidak mengapa berlama-lama dalam menelusuri hal ini,
guna memenuhi panggilan da’wah yang termaktub dalam isyarat ayat tersebut !! namun
dengan syarat jangan keluar dari suasana nash Al-Quran Al-Karim, harus tetap dalam
menjaga diri dan perasaannya, pikiran dan pandangannya, telaah dan perhatiannya


al-ikhwan.net Abu Ahmad
berada bersama ayat-ayat, dan di bawah naungannya dan sentuhan-sentuhannya. Jika
jiwanya terlena untuk keluar kepada perhatian lainnya maka jangan hiraukan, jika
perasaannya terus menghiasi diri untuk mencari masalah, problema atau pembahasan
lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ayat-ayat yang sedang ditelaah, dan tidak
memberikan pengaruh dalam memahami dan mentadabburkan ayat, maka jangan
dilayani dan minta dilayani, hendaknya tetap memfokuskan diri dan kembali suasana
membaca dan menelaah nash Al-Quran, hendaknya ia waspada dan hati-hati saat
membaca Al-Quran…
Bahwa tetap pada suasana membaca Al-Quran dan konsisten terhadapan adalah
merupakan kunci yang harus dipelihara agar dapa membuka rahasia-rahsaia Al-Quran
dan dapat berinteraksi dengan baik serta menelaah dan memenuhi seruannya secara
optimal. Kadang kita tidak mengerti bagaimana mungkin seorang pembaca, penulis atau
penelaah Al-Quran membolehkan dirinya dan akalnya untuk keluar dari menyertai Al-
Quran yang dicintai, meninggalkan naungannya, cahayanya dan keteduhannya, bahkan
keindahan, keharuman dan keagungannya, menuju realita, permasalahan, problema dan
kesibukan-kesibukan yang lain dan dibuat-buat oleh manusia itu sendiri.
Sesungguhnya nash Al-Quran memberikan dan mengandung berbagai nilai-nilai yang
berharga, penuh dengan limpahan cahaya, namun dia tidak dapat ditelusuri dan dibuka
kecuali bagi siapa yang memiliki kesadaran dan kemantapan diri, mengerahkan seluruh
jiwanya untuk menelaahnya.
Pembaca Al-Quran hendaknya –sebagai contoh dari kiat ini- membaca nash-nash Al-
Quran dengan seluruh anggota badannya, hidup di dalam suasana keteduhannya,
kemudian memantau pemahamannya yang meningkat dalam kehidupan di bawah
naungan Al-Quran, sebagai harta yang paling berharga yang dikeluarkan dari qaidah ini,
buah yang matang yang dapat dipetik dari hasil kebersamaan dengan Al-Quran ini.
Hendaknya dirinya menelaah lebih lama tentang firman Allah :
` -, , · , ,` -`, .,` ¸ ` ·, ` ¸ · . ´ ¸` · ' ` ¸ · ' , ` , ´` , · ' , ¸` ,
_ . , ' , , · .,` · ` ¸ · ` · . ` . ¸ · ¸ ` ·, ` ¸ · , ¸ , ¯ · ` ¸ · . -
_ .,` =`, , ·` - ., ` -` , :· , ' · ` ¸ ·` ,` · ,` · , _ ·` ' ` , '
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan yang kosong dan tidak (pula)
menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya
akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan
tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-
amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yan gberiman, maka mereka


al-ikhwan.net Abu Ahmad
itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (An-Nisa :
123-124)
kata “An-Naqir adalah bagian terkecil dari biji korma, dan inilah yang paling ditakuti di
dalam kitabullah !!
Dan hendaknya seorang pembaca merenungi ayat Allah secara seksama :
` · , , ` · ' _ · ' · ,` , ' ,` ., , ` · ` , · · .,` · ` ¸ · ,` ·` ' ¸·
` . -` . ' ` · . ,` , - ¸` _ ' ¸ · ` ¸ ~ ,` ` ·` ,` , ` ¸ ¯ ` · · · ¸
¸ ` , _ ¸ ` · ,` ·` , , ` ` ` , · ' , ¸ ` , ,` · · ¸ ` · . ¸ ¸ ·
¸ · ` . ,
“Katakanlah : “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak
dapat mendatangkan kemanfa’atan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan
kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan kebelakang sesudah
Allah memberi petunjuk kepda kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syetan di
pesawangan yang menekutkan ; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan
yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan) : “Marilah ikuti
kami” katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk;
dan kita dsuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. (Al’An’am : 71)
Dan firman Allah :
., `, ·` - ` ,` , . ' , ` ,` , ,` · ' , ` ,` , ` ' ¸ ·` ,` ¸ · ¸ , ` · . ¸
¸, -` , , · _` ,` ¸ · - ·` , · ` · , ., `, , ., ` , · · ¸, ¸ ·
· · ` , · , _ ·` , ' ` ¸ · , . ¯` , , · , ` ,` ` ·, , ¸ ` , ´ ·` , , ,` , ` ` · · ¸
` ,, = · ` _` , ,` · : · ,
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yan gbenar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu,
dan itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah : 111)
Dan firman Allah :
` · ¸ ` .`, ` ¸ · , · ,` · ` ¸ · ¸, , :, ·` , -`, , ` · ` · ¸ ´ , ` · ¸` , '
¸ · · ` ¸ · ` · · . ¸ · ¸ ,, , · , ` · ¸` , ' ¸ .` · ` ¸ · ` · · ` · ` ,, ` ¸ · ,
¸ · `
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan meminta mereka
mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah ? Dan siapa yang
disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. Dan barangsiapa
yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya.
Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab ?”. (Az-
Zumar : 36-37)
6. Membersihkan Al-Quran Dari Israiliyat dan Mubhamat (Samar-samar)
Kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Quran Al-Karim tentang masa lalu; banyak
disebutkan bahwa sumber cerita dan beritanya tidak mengikuti manhaj (metode)
terperinci dan detail, baik dalam penjabaran tentang masa, tempat, pelaku atau perincian
tentang kisah-kisahnya tidak terlalu luas, baik dalam menceritakan setiap peristiwa,
sebagian atau potongan yang di dalamnya menjelaskan rincian peristiwa, pelaku dan
background peristiwa tersebut. Dan Al-Quran tidak melakukan seperti hal tersebut,
karena memang bukan merupakan tujuan yang utama dalam menceritakan kisah-kisah
secara terperinci dan detail, namun yang diinginkan adalah menjabarkan hakekat dan
menetapkan nilai-nilai dan pandangan-pandangan, memberikan mengambil ibrah-
nasehat- dan pelajaran, arahan dan petunjuk serta memetik manfaat yang terdapat di
dalamnya melalui berbagai sudut pandang. Inilah yang menjadi tujuan utama akan
adanya kisah-kisah dalam Al-Quran…
Namun yang mesti menjadi perhatian dari para pemerhati dan penelaah Al-Quran –yang
ingin mengambil cerita dari Israiliyat dan dongeng-dengeng- hendaknya melihat lebih
jeli dan teliti akan kisah-kisah yang disebutkan dalam Al-Quran, berusaha memetik
manfaat dari metode dan cara Al-Quran dalam membuat kisah dan cerita,
guna mendapatkan petunjuk dan pelajaran darinya, dan tidak merujuk pada sumber-
sumber yang dibuat oleh manusia yang lemah sumbernya, apalgi ketika ingin merinci
kisah yang disebutkan oleh Al-Quran atau mencari penjelasan hal-hal yang mubham –
samar- atau sesuatu yang tidak atau belum diketahui dan difahami!!


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Hendaknya -para pemerhati kisah-kisah Al-Qur’an- mencari sumber-sumber yang
terpercaya yang dapat memberinya pengetahuan dan keyakinan, dan jangan mencarinya
dari sumber-sumber yang menyimpang dan dusta, tidak mencari fatwa dari orang-orang
kafir dzalim dan menyimpang dari agama mereka atau tidak dengan bertanya kepada
keturunan Bani Israil guna mendapatkan kisah-kisah Israiliyat sehingga mendapatkan
tambahan ilmu dan pengetahuan, menerima penafsiran, penelitian dan ajaran-ajaran
mereka yang menyimpang dari inti Al-Qur’an itu sendiri. Dan juga tidak
menghubungkan kebohongan dan kedustaan ini kepada nash-nash Al-Quran, dalam
menjelaskan ayat-ayat mubhamat Al-Quran, atau mengungkapkan pendapat yang
mereka buat tentang kisah-kisah masa lalu yang mereka tidak ketahui.
Jangan lupa bahwa ada arahan Al-Quran yang melarang membahas sesuatu yang tidak
berdasarkan dalil atasnya, seperti kisah masa lalu yang merupakan masalah ghoib, tidak
bertanya kepada yang tidak mengetahui hukum dan sumbernya, tidak mengiktui sesuatu
tanpa adanya dalil, karena setiap perkataan pasti akan ditanya nanti pada hari Kiamat :
: · , ' ¸ ¯ · , , , . , _` ` . ¸ ` , · · , : ¸` , · ` . ,
·` · ` ·` · . ¯ ,
“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak ada ilmu dengannya, karena
sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan ditanya
pertanggungjawabannya”. (Al-Isra : 36)
begitupun jangan lupa bahwa ada larangan Al-Quran yang ditujukan langsung kepada
kaum muslimin untuk tidak mengambil kisah-kisah masa lalu dari Ahli Kitab, jangan
meminta dari mereka fatwa sedikitpun darinya, seperti Firman Allah –saat berbicara
tentang jumlah Ashabul kahfi -penghuni gua- :
` · , ` , ` · ' ¸` , _ ¸ · , · ~ . , · ¸ ` , ,, · _ ` · ¸, · ¸ ` ,` ,` ` ·, · ` , ,
- ' ` ,` ,` · ` , ,, · . ` ,
“Katakanlah Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang
mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu
(Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pengkaran lahir saja dan jangan
kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara
mereka”. (Al-Kahfi : 22)
Dan juga jangan lupa bahwa Al-Quran menafikan secara jelas akan
pengetahuan manusia tentang berbagai peristiwa sejarah masa lalu, bahwa peristiwa


al-ikhwan.net Abu Ahmad
yang terjadi di masa lalu itu tidak seorangpun yang tahu kecuali Allah, sebagaimana
firman Allah :
` ¸ · ¸, , ·,` , ¸ · · , ¸ _,` ·` , · ` ,´ ` · ` ¸ · ¸, ' ` , ´ ', ` , '
` · ¸ ` ,` ,` ` ·, ` , · ` · ,
“Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh,
‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka
selain Allah”. (Ibrahim : 9)
Dan jangan lupa akan petunjuk Al-Quran untuk melakukan klarifikasi terhadap berita-
berita yang berasal dari orang-orang fasik, maka bagaimana terhadap orang-orang kafir
dan Ahli Kitab :
, ,` ` , · ¸ , , ` ¸ · ` , ¯ . - . ¸ ,` · ¯ ¸, ,', '
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kamu orang fasik membawa
berita maka lakukanlah klarifikasi”. (Al-Hujurat : 6)
Dan atas dasar petunjuk dari kiat sukses berinteraksi dengan Al-Quran khususnya pada
masalah kisah-kisah masa lalu, kami menyerukan kepada para pembaca Al-Quran untuk
berhati-hati dan cermat serta teliti mengambil cerita-cerita Israiliyat, khurafat dan
dongengan yang menceritakan kisah-kisah Al-Quran yang banyak disebutkan oleh para
mufassir dan penelaah kitab-kitab mereka hingga dapat menutup berbagai cahaya Al-
Quran di dalam hati yang gelap.
Para pembaca hendaknya membersihkan Al-Quran dari kisah-kisah Israiliyat, tidak
melampaui nash-nash Al-Quran dan yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw, tidak
menerima ucapan orang lain setelah itu jika tidak ada penjelasan lebih lanjut dalil-
dalilnya dan sumber-sumbernya yang jelas.
Jika para pembaca melakukan ini, maka betapa banyak yang akan berguguran dari
lembaran-lembaran tafsir dari kitab-kitab tafsir masa lalu..?! Akan banyak menghapus
kitab-kitab, hikayat-hikayat yang dibuat-buat ? sehingga mendapat ketenangan dan
kenyamanan jika khurafat-khurafatnya telah hilang dan berada dalam sinar dan cahaya
Al-Quran.
Diantara kisah Israiliyat yang banyak kita temukan adalah kisah tentang kerbau Bani
Israel dalam surat Al-Baqoroh, tentang kelahiran nabi Isa AS dalam surat Ali Imron,
mangkatnya beliau dalam surat An-Nisa, Kisah hidangnan orang-orang Nasrani dalam


al-ikhwan.net Abu Ahmad
surat Al-Maidah, Kisah nabi Ibrahim bersama kaumnya dalam surat Al-An’am, dan
kisah nabi Musa bersama Firaun dan Bani Israel dalam surat Al-A’raf dan sebagainya…
Adapun yang berkaitan dengan kaidah ini adalah sikap seorang pembaca dari mubhamat
Al-Quran, yaitu ayat-ayat yang samar-samar dalam Al-Quran dari nama-nama pelaku
dan tempat dalam kisah-kisah masa lalu, yang merupakan sesuatu yang mustahil untuk
dijelaskan secara detail begitupun dengan menentukan nama-namanya, karena kita tidak
pernah menyaksikannya dan karena riwayat-riwayat dari Ahli Kitab terdapat banyak
kebohongan dan kedustaan di dalamnya, dan tertolak secara ilmiyah untuk menghindar
dari penyimpangan, dusta dan pengaruh.
Sikap pembaca adalah hendaknya merujuk kembali kepada Al-Quran, jika menemukan
apa-apa yang mubham pada suatu tempat boleh jadi penjelasan di tempat lain yang
dapat ditemukan, dan jika tidak ditemukan dalam Al-Quran maka hendaknya merujuk
ke hadits-hadits dari Rasulullah saw yang shohih, jika ditemukan penjelasannya
maka dapat dijadikan hujjah. Dan jangan menceari rujukan selain dari dua sumber yang
benar tersebut, lalu setelah itu meninggalkan hal-hal yang mubham, memperluas
bahasan apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan sahabatnya dalam
mensikapinya. Jika tidak melakukan hal tersebut maka dia telah mengatakan ayat-ayat
Allah tanpa ada dasar ilmu, mengikuti seseorang yang tidak memiliki ilmu,
menyibukkan dirinya pada sesuatu yagn tidak bermanfaat, keluar dari kontek –nash- Al-
Quran, sehingga menjadikan penghalang dan tirai yang dapat menghalangi masuknya
nur Al-Quran ke dalam jiwanya serta berakibat pada penyimpangan dari petunjuk
Rasulullah saw dan sahabatnya dalam menjalin hubungan dengan Al-Quran, jauh dari
meraih kiat-kiat yang tepat dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Diantara mubhamat yang tidak boleh dicari-cari penjelasannya adalah : pohon yang
dimakan oleh nabi Adam AS, kayu yang digunakan nabi Nuh dalam membuat perahu,
nama dan jenis burung yang diperintahkan oleh Allah untuk dijadikan contoh oleh nabi
Ibrahim AS dalam menjelaskan kekuasaan Allah dalam menghidupkan makhluk yang
sudah mati, jenis tongkat nabi Musa AS, nama-nama pemuda Ashabul kahfi dan anjing
yang bersama mereka, jumlah uang yang dihargai untuk membeli nabi Yusuf, nama raja
yang mendebat nabi Ibrahim pada masalah ketuhanan, nama kaum atau seseorang yang
berjalan melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya, nama
seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab pada zaman nabi Sulaiman dan
sebagainya.
7. Memasuki Alam Al-Quran Dengan Background Yang Jelas
Kadang seorang pembaca dan penelaah Al-Quran memiliki background –latar belakang-
dan pengetahuan yang berasal dari sumber yang beragam, bahkan kadang kala berasal
dari sumber yang betolak belakang atau bersebrangan, sehingga memiliki perbedaan
atas ketetapan-ketetapan yang diambil dan pengetahuan yang dimilikinya, ideologinya
ngawur dan pandangan-pandangannya selalu bertolak belakang dan berbenturan dengan
wawasannya…demikianlah keadaan para ilmuwan saat ini, yang telah menimba ilmu


al-ikhwan.net Abu Ahmad
dari sumber yang terkontaminasi oleh ajaran sekuler dan mencari ilmu dari barat yang
penuh dengan kedustaan dan kebohongan.
Al-Quran Al-Karim adalah satu-satunya sumber yang bersih dan fundamental, yang
dapat mengeluarkan manusia menjadi muslim yang seimbang, memberikan mereka
bekal dengan pandangan-pandangan, hakekat-hakekat, nilai-nilai, dan pengetahuan-
pengetahuan yang benar, jujur dan yakin. Namun Al-Quran tidak akan memberikan ini
semua kecuali dengan syarat; bahwa para penelaah dan pemerhati Al-Quran hendaknya
menghilangkan dahulu background yang dimiliki, yang berasal dari berbagai sumber
yang dibuat oleh manusia sebelum masuk ke dalam dunia Al-Quran, membuang semua
pengetahuan yang bertentangan dengan Al-Quran dan membersihkan hatinya, lalu -
setelah itu- mulai berinteraksi dengan jiwa yang bersih sehingga dapat meraih nilai-
nilai, sentuhan-sentuhan dan petnjuk-petnjuk Al-Quran secara kaffah.
Inilah yang pernah dilakukan oleh para sahabat dalam berinteraksi dengan Al-Quran –
sebagai generasi Al-Quran yang unik-. Bahkan seorang diantara mereka dengan suka
rela membuang setiap pandangan yang bertolak belakang dengan Al-Quran sehingga
memasuki alam Al-Qur’an dengan lapang dada, bersih dan tangan terbuka, membangun
dirinya dengan bangunan yang seimbang, merengkuh darinya ketetapan-ketetapan,
pengetahuan dan system hidup yang kulli -menyeluruh- sehingga ketika keluar dari
madrasah tersebut menjadi generasi yang beriman dan seimbang.
Al-Quran Al-Karim memberikan kepada pembacanya akan banyak nilai-nilai dan
hakekat, membekali berbagai cabang pengetahuan dan ilmu, dan menganugrahkan akan
banyak arahan dan petunjuk-petunjuk, serta memperluas akan banyak ketetapan dan
wawasan. Melalui nur Al-Quran hidup seseorang akan menjadi cerah dan bercahaya,
melaluinya akan menyebarkan naungan dan Rahmat, ketenangan dan ketentraman. Itu
semua dengan syarat jangan melakukan interaksi dengan background masa lalu yang
asing dan kebohongan pada tashawwur –pandangan- yang bertentangan dengan Islam.
Sebagian manusia salah dalam menjalin hubungan dengan Al-Quran, tidak cermat
dalam memasuki alam Al-Quran yang luas. Dan sebagian lain ada yang hadir
bersamanya dengan beban yang berat dari pengetahuan, ilmu, akhlak, adat, urf dan
prilaku –yang semuanya bertolak belakang dengan arahan-arahan Al-Quran- sehingga
antara dirinya dan Al-Qur’an ada tirai yang menutupi cahaya Al-Quran. Begitupun
sebagian lainnya ada yang memasuki alam Al-Quran dengan ideologi klasik yang
bersumber pada daya khayal saat menelaah Al-Quran, sehingga menutupi wawasannya
dan menjerumuskan dirinya dalam tipudaya dan pencampur adukkan dan -pada
akhirnya- terjadi penyimpangan, membuat dalil-dalil yang membebani, menanggalkan
inti utama akan nashnya, dan mengatakan sesuatu yang tidak diketahui untuk dijadikan
penguat baginya.
Mereka semua telah keluar dengan membawa hasil yang salah, background yang
tertolak belakang yang mereka hubungkan dengan Al-Quran, padahal yang demikian
tidak lain kecuali tipu daya dan muslihat belaka, dan pada akhirnya menjadi pintu yang
menutupi cahaya Al-Quran dan hakekat-hakekatnya.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Diantara contoh prilaku yang memasuki Al-Quran dengan latar belakang klasik dan
bertolak belakang dengan nash serta menyesatkan adalah dalil dari Al-Quran yang
menyatakan bahwa agama-agama samawiyah seluruhnya adalah satu, dan para
pengikutnya seluruhnya akan masuk surga, dan sesungguhnya Yahudi dan Nasrani –
setelah turunnya Al-Quran- mereka diterima disisi Allah, sesuai dengan firman Allah :
· ¸ _ .` , ., · ,` . , ,` · · ¸, , ,` · ¯ ¸, . ¸ · , ¸ · ¯ ` ¸
.,` ,` -, ` ,` · , ` , ,` , · ` ` , - · - . ¸ · , , - ¯ ·` , , ,
“Sesungguhnya oang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Shobiun dan Nasrani
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal Salih maka tidak ada rasa
takut atas mereka dan cemas” (Al-Maidah : 69)
Demikian pula dalil yang mereka pergunakan :
· ` , ´ ·` · ' ` , · ' ¸ ·` , - - , ` _ =, ¸ , ~ , ¸` _ ' ¸ · ¸ ·` , · ` ¸ · · ,
_ _ ¸ ` , ¸ .` ¸ ` ¸ · . ´ ¸ · ~` , · .,` , ` -`, ` , ,` ,
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang
dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami
Alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan”. (Al-An’am : 38)
bahwa Al-Quran memberikan berbagai ilmu dan pengetahuan.
Dalil yang banyak digunakan para pemimpin –hakim- yang dzalim dan selalu
memerangi Allah dan Rasul-Nya serta agama-Nya, mereka mencari-cari ayat yang
mewajibkan untuk taat kepada mereka dan melaksanakan/mentaati peraturan-peraturan
mereka, seperti firman Allah :
` , ´` · ,` · ' ¸ , ' , ¸,` ` , ,` ·, ~ ' , · ,` ·, ~ ' ,` · ¯ ¸, ,', ' ,
“Wahai orang-orang yang beriman taat kamu kepada Allah, taatilah kamu kepada
Rasul dan ulil Amru –pemimpin- kalian” (An-Nisa : 59)
Begitupun seseorang yang menjual agama dengan agama lainnya dari para pemimpin
yang dzalim, sehingga -pada hakikatnya- keduanya merugi secara bersamaan,
menghalalkan perbuatan keji dan sesat, dengan mengambil dalih dari ajaran islam,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
payung Al-Quran dan ayat-ayat Al-Quran untuk menguatkan ucapan mereka. Jika
diminta kepada mereka fatwa tentang bunga yang diharamkan, riba yang tercela,
ditemukan dalam ayat :
· · .` · · ·` . ' ,` , , ¯ ' ,` · ¯ ¸, ,', ' ,
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan harta riba dengan
berlipat ganda”. (Ali Imron : 130)
Jika mereka berteman dengan orang-orang Nasrani, mencintai dan dekat dengan
mereka, mereka memberi dalil dengan ayat :
. ' , : · ¸ _ . ` ¸ , · ¸, ,` · ¯ ¸, ·` · , · ` ,` , , , · ' . - ,
.,` , ´ ` , ` ,` ,` ' , ` ·` _ , ¸ ,` · ` ,` ,` ·
“Dan Kalian akan dapati orang yang paling dekat kecintaan kepada orang-orang yang
beriman orang-orang yang berkata sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani,
yang demikian karena mereka dari pastur dan Rahib dan mereka bukanlah orang-
orang yang menyobongkan diri” (Al-Maidah : 82)
Jika mereka merendah kepada para musuh dan takut memerang mereka serta mau
bernegoisasi dan berdamai, mereka membolehkannya dengan ayat :
, ` _ ` - · , ` ,` - - . ¸ ,
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya”. (Al-
Anfal : 61)
Jika mereka menyerang prajurit Allah, memerangi para wali Allah, menyiksa para
kekasih Allah, menuduh mereka dengan kekejian, mencemoohkan dengan segala
keaiban, menjerat dengan segala tuduhan dan melebarkan sayap dan lidah mereka
dengan berbagai siksan, permusuhan, tekanan dan siksaan. Pedagang agama dan Al-
Quran akan menganggap para pejuang Allah sebagai pembangkang yang harus
diperangi dan harus dijatuhkan hukum had atas mereka dengan dalil ayat Al-Quran :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
. ' · · ¸` _ ' ¸ · .` , ·` , , ` · ,` _, · .,` , _ -`, ¸, . , - ` ¸
¸ · ` , ` `, ` , ' ¸ - ` ¸ · ` ,` , ` -` _ ' , ` , ,, `, ' _ = ` ` , ' ,` .`, ` , ' , ` `,
¸` _ '
“Sesungguhnya ganjaran orang-orang yang memerangi Allah dan Rasulnya dan
melakukan kerusakan di muka bumi dengan diperangi –dibunuh- atau disalib atau
dipotong tangan dan kaki mereka secara silang atau dibuang dari negeri mereka’”.
(Al-Maidah : 33)
8. Tsiqah Terhadap Keabsahan Nash Al-Quran
Al-Quran adalah kalamullah –Firman Allah- dan harus diyakini. Ketika berinteraksi
dengannya seseorang harus percaya dan membenarkan bahwa Al-Qur’an adalah
kalamullah. Al-Quran adalah kebenaran, keabsahan dan petunjuk Allah secara mutlak.
Allah berfirman :
·, - · ¸ · ` · ` . ' ` ¸ · ,
“Dan siapakah yang paling benar ucapannya dari (selain) Allah”. (An-Nisa : 87)
Dan firman Allah juga:
, · · ¸ · ` · ` . ' ` ¸ · ,
“Dan siapakah yang paling benar perkataannya dari (selain) Allah”. (An-Nisa : 122)
Sikap pemerhati Al-Quran hendaknya menerima Al-Qur’an secara penuh dan tisqoh
terhadap nash-nashnya, membenarkannya secara mutlak akan nilai-nilai yang
dibawanya, hakekat dan petunjuk-petunjuk yang dibawa olehnya. Bahwa ayat-ayat yang
dikatakan olehnya adalah hak, undang-undang yang ditetapkan olehnya adalah
kebenaran, ketentuan-ketentuan yang diisyaratkan olehnya dan disandarkan kepadanya
adalah kebaikan, apa-apa yang diperintahkan olehnya adalah petunjuk dan kebenaran
dan apa-apa yang dilarang adalah keburukan dan kerusakan.
Demikianlah Al-Quran, bagi siapa yang berkata dengannya akan benar, bagi siapa
berhukum dengannya akan adil, bagi siapa yang komitmen kepadanya akan lurus, dan
bagi siapa yang membenarkannya akan mendapatkan ketentraman dan petunjuk dan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
bagi siapa yang mempercayainya akan mendapat petunjuk dan bagi siapa menyeru
kepadanya akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Bagaimana mungkin seorang muslim membolehkan dirinya mengajarakan kepada Allah
dalam kitab-Nya, menjadikan akalnya yang dangkal melebihi kalam-nya atau sekutu
baginya, memperlakukan nash-nash Al-Quran dengan penyimpangan, berlebihan, ta’wil
tanpa dasar, perubahan, jiwa yang hampa dan capur aduk. Ragu pada nilai-nilai,
ketetapan-ketetapan dan hakekat-hakekatnya, atau bermain filsafat pada dalil-dalil dan
wahyu-wahyunya, atau memilah-milah sesuai kehendaknya terhadap hukum-hukum dan
prinsip-prinsip yang terdapat di dalamnya?.
Pemerhati yang teliti hendaknya memiliki kejelian terhadap nash Al-Quran, berinteraksi
dengannya secara intensif, merasa puas dan menerima secara penuh terhadap ayat-
ayatnya, sebagaimana firman Allah :
,` -, ` , ` ,` , ` , , , - , · ·,` ´ -`, _` - .,` ·` ,`, :` , _ , ·
, ` ,` `, , .` , . · ` · - , - ` , , ` ' ¸ ·
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya” . (An-Nisa : 65)
Dan firman Allah :
` ,` , ., ´, . ' ,` · ' ` · ,` _ , ` · _ . · · ¸ ¸ · ·` ,` · , ¸ ¸ ·` ,` . ¯ · ,
, ` · . ¸ . ` · ` · ,` _ , · ¸` ·, ` ¸ · , ` , · ,` · ' ` ¸ · · , , -
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab :
36) .
Jangan hanya sekedar main-main dalam berinteraksi dengan Al-Quran sehingga
berprilaku seperti orang-orang yahudi terhadap taurat, prilaku yang hanya dilakukan
dengan main-main dan hawa nafsu, sebagaiman Allah mengecam akan prilaku tersebut :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
: · ¸ · , ` ¸ · . , - · ¸ ¸` · , .,` , ´ , . ´ ¸` · , .,` ·` ,` · '
. · ` ' _ ¸ .,' · ,`, · · , ·` ,, , ,` ' · , - ¸ · ` ¸` , - ¸ ` , ´` ·
, ., ` · ` · ¸ ¸ · · , ` · ·
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap
sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian
daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat
mereka dikembalikan pada siksa yang sangat berat”. (Al-Baqoroh : 85)
Dan firman Allah :
` ,` ` , ¯ , , · ` ,` ` , ´ ` ` , ´` ` ' ¸ ,` , , ¸,` _ ` , ¯ . - ´ · '
., ` , , · ,
“Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa satu (pelajaran) yang tidak
sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (diantara
mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (Al-Baqoroh :
87)
Karena yang demikian memiliki hubungan yang erat dengan sifat orang-orang yahudi
yang menjadikan taurat seperti lembaran-lembaran kertas, mencabik-cabik, melempar
dan meredupkan cahaya hidayahnya, sebagaimana Firman Allah :
` · , ·` - ¸` ¸ ` · , _,` _ ,` · · , . - ¸ . ´ ¸ ,` ' ` ¸ · ¸ ·
_ · ¯ ., ` -` , , ,` ` ` ¸, ~ , ·
“Katakanlah : “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa
sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu menjadai lembaran-
lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya)”. (Al- An’am
: 91)
Namun ironisnya, betapa banyak kita lihat sebagian kaum muslimin saat ini yang
mempermainkan nash-nash Al-Quran dalam kehidupan mereka ! Betapa banyak kita
perhatikan mereka yang berhukum dalam pendapat mereka sesuai dengan hawa nafsu,
syahwat, kepentingan pribadi dan kecondongan hawa nafsu. Betapa banyak kita lihat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
mereka yang menjadinya seperti hukum-hukum, susunannya dan undang-undang
menjadi lembaran kertas yang hina, tercela seperti kertas kaum Yahudi terhadap kitab
mereka –Taurat- mereka sehingga memurtadkan mereka dari agama agama Allah.
Jika diberitakan tentang keberadaan para malaikat dan sifat-sifatnya adalah merupakan
kebenaran yang harus diimani dan tsiqoh kepadanya. Pemberitaan tentang bangsa iblis,
syetan dan jin, tentang para nabi dan mukjizat mereka, musuh-musuh Allah dan
kebinasaan mereka, dzikir dan sujud para makhluk Allah di alam semesta milik Allah,
tentang surga dan kenikmatan-kenikmatannya, dan tentang neraka dan azab-azabnya
dan lain sebagainya maka harus diyakini dan diimani..!
Jika nash-nash Al-Quran mengandung hukum dan syariat maka harus dipercaya dan
diterima secara penuh. Karena itu khamr, daging babi, riba, pandangan yang
diharamkan dan zina, dusta dan tipu daya, menjadikan musuh-musuh Allah sebegai
pelindung dan pemimpin, berdamai, merendah diri dan hina dihadapan mereka dan
menyiksa para Waliyullah dan siksaan mereka. Semuanya adalah haram menurut agama
Allah karena mengandung banyak kerusakan, kehancuran dan kebinasaan.
Jika Al-Quran menetapkan satu perkara, atau datang dari Allah sebuah hukum atau
janji, menjabarkan sunnah dan hakekat, kemudian pemerhati Al-Quran melihat bahwa
realita hidupnya bertentangan dengan ketetapan-ketetapan Al-Quran, bersebrangan dan
berbeda pendapat dengannya. Maka janganlah diri anda secara mutlak diterima,
sehingga bertentangan dengan nash-nash Al-Quran, jangan ragu dalam mempercayai
dan menerimanya secara penuh, jangan terima terhadap ini dengan nash yang
menympang, bertenangan dan bersebrangan, jangan jadikan apa yang dilihatnya dari
perbedaan ini sebagai kebenaran, dan apa-apa yang diwahyukan adalah harus diikuti
dan tunduk kepadanya dan jangan ditafsirkan sesuai dengan kehendaknya.
Nash Al-Quran adalah sebagai dasar, kaidah dan kebenaran, dan kehidupan realitalah
yang harus mengikutinya, jika ada yang bertentangan dengan permasalahan yang utama
maka harus diteliti bahwa ada sesuatu dalam perkara tersebut, berarti ada syarat-syarat
dan muwashofat -kriteria- yang ditetapkan oleh Al-Quran yang belum direalisasikan,
atau ada sebab-sebab yang belum ditemukan. Namun, jika ditemukan sebab-sebabnya
secara keseluruhan dan terealisasi syarat-syaratnya secara sempurna maka hendaknya
meneliti lagi kesesuaiannya dengan realita. Jadi hendaknya realita yang bersebrangan
harus mengikuti ketetapan-ketetapan dan hakekat yang terdapat dalam Al-Quran.
Allah SWT berfirman :
, ¸ ·` ,` _ · ¸, , · ´ ` · ¸ ·` -, ` ¸ ,
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
memusnahkankan orang-orang yang beriman”. (An-Nisa : 141) adalah sebagai
kebenaran dan realita yang harus diikuti.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah juga berfirman :
¸, , - ¯ ` , · ` , · ` · , ` ¸ · ' ` ' , ` ,, ,,` , ` ,` · ´ ` · ' ·
“Maka Kami binasakan mereka akibat dosa-dosa (yang mereka lakukan)”. (Al-An’am :
6) sebagai sunnatullah yang tidak pernah terabaikan, dan “Al-Bashir” adalah yang
mampu melihat masa depan.
Allah berfirman tentang ancaman pemakan harta riba :
· ,` _ , · ¸ · ¸ .` , - , ,` · ' · , · ` , . , ·
“Jika kamu tidak menerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah
dan Rasul-Nya akan memerangimu”. (Al-Baqoroh : 279) mengumumkan perang atas
mereka dan orang mu’min adalah yang mampu melihat keadan saat ini perang yang
diiklankan Allah kepada alam adalah kepada pamakan harta riba.
Sebagaiman firman Allah dalam ayat lain :
` ¸ -` , . · ` . ¸ ,` ,`, , ,` , ` ·
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”. (Al-baqoroh : 276)
Allah berfirman tentang orang Yahudi :
¸` ¸ · ¸ ¸` - , · ¸ · ¸ ¸` - , ¸ , · ¸`, ' · ` , ,` , · ` . , ,` .
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang
kepada tali (Agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia”. (Ali Imron : 112)
sebagai hukum yang qoth’i dan berkesinambungan yang mencakup pada pengecualian
tali yang dibentangkan kepada mereka hari-hari ini, tali Allah dengan pengindahan, tali
Amerika dengan bantuan-bantuan materi, tali Rusia dengan bantuan kemanusiaan, tali
para antek-antek yang melakukan negosisasi dan perjanjian damai, dan tali umat dengan
kepengecutan, kehinaan dan meninggalkan jihad.
Allah berfirman :
` , ´ · · ' ` .` ·`, , ` , ¯` ,` .` , · ,` ,` .` . ¸


al-ikhwan.net Abu Ahmad
“Jika kamu membela (agama) Allah maka Dia akan membela kamu dan meneguhkan
kakimu”. (Muhammad : 7) sebagai dalil tentang rahasia kemenangan umat Islam masa
lalu, dalil akan rahasia kekalahan kaum muslimin saat ini, yaitu menetapkan qaidah
secara umum, sunnah Rabbaniyah, qoth’I –paten- yang mencakup pada syarat dengan
syarat sebagai pelaku dalam mengaplikasikan syarat dan jawabannya.
9. Hidup di Bawah Sentuhan, Naungan dan Kelembutan Nash-nash Al-Quran
Nash-nash Al-Quran memiliki sentuhan-sentuhan khusus, petunjuk yang lurus, naungan
yang lembut nan teduh dan kelebihan-kelebihan yang berharga dan bermanfaat. Nash-
nash Al-Qur’an kaya akan nilai dan pelajaran, sehingga memberikan sentuhan-
sentuahan dan naungan secara menyeluruh, menyeru untuk meraih kelebihan-kelebihan
tersebut. Namun kebanyakan dari para pembaca dan pemerhati Al-Quran yang
memahami hal tersebut; boleh jadi karena mereka memang tidak memiliki keahlian
untuk memahaminya dan kiat untuk berinteraksi dengannya. Permasalahan diatas
sebenarnya membutuhkan kejelian pembaca, menempatkan iman lebih dahulu
kemudian berinteraksi dengan Al-Quran dengan seluruh jiwa raganya, baru setelah itu
memahami apa-apa yang diwahyukan dari ayat-ayat Al-Quran, menelaah dan hidup
dibawah naungannya dengan penuh, sehingga dapat meraih ketenangan dan keberkahan
darinya, kehidupan yang dapat memuliakan, memberkahi dan mensucikan kehidupan
manusia itu sendiri.
Allah SWT berfirman:
` ,` · , ` . ¯ · ¸ ¸ ¸ ¯ _ · ,` ` , · _ ¸ ·, · .,` · -` ,` ·` ,, , ` ,
.,` =`,
“Dan takutlah kamu kepada hari tempat kalian dikembalikan kepada Allah lalu setiap
jiwa akan diberikan ganjaran sesuai dengan perbuatan mereka sedang mereka tidak
didzalimi”. (Al-Baqoroh : 281)
Ayat tersebut mengisyaratkan beberapa sisi, mewahyukan beberapa sentuhan-sentuhan
yang dapat diambil inti sari darinya beberapa petunjuk :
Thema yang dibawa adalah masalah aqidah, mengikat kaum mu’minin kepada Allah
dan menuntut mereka untuk takut kepada Allah, menyadarkannya pada dirinya adanya
perasaan selalu diawasi oleh-Nya, memandang ke depan tentang hari kiamat serta takut
dan khawatir darinya, menetapkan kaidah pemberian ganjaran pada hari itu yang akan
diberikan hanya kepada orang yang beramal di dunia dan menafikan adanya kedzaliman
dari Allah, ini semua mereupakan tema aqidah, permasalahan dan cabang-cabangnya.
Yang menjadi perhatian kita disini adalah bahwa pembukaan ayat Al-Quran –menurut
urutan turunnya- adalah tentang aqidah, dan di tutup dengan ayat tentang aqidah, dan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
antara dua ayat pada fase Makkiyah selama 13 tahun, turun di dalamnya ayat-ayat yang
bertemakan tentang aqidah, petunjuk-petunjuk, prinsip-prinsip dan undang-undangnya.
Karena itu aktivitas tarbawiyah dan pengajaran hendaknya yang pertama kali
dimunculkan adalah aqidah, dan harus selalu diingatkan dan difokuskan kepadanya,
mengikat segala sistem dan undang-undang untuk menjamin komitmen kepadanya dan
menerapkan petunjuk yang ada di dalamnya. Para murabbi –pendidik- dan mentor
hendaknya menjadikan materi aqidah sebagai dasar dan pokok materi yang
akan diajarkan, sealalu mengingatkan akan hari akhir dan mengikatkannya di dalam hati
para mutarabbi agar selalu istiqomah dalam hidupnya dan lain sebagainya dari petunjuk
dan arahan-arahan Al-Quran.
Jika seorang pembaca benenti sejenak pada ayat :
` , _,' , . = ¸ · - , ¸` _ ' , . , ` ¸ - ¸ · ` ` -
., ` ·, ` , ,` , , , ,` , ¯ ¸,
“Segala puji hanya miliki Allah yang telah Menciptakan langit dan bumi dan
menjadikan gelap dan cahaya –terang- sedangkan orang-orang kafir dihadapan Tuhan
mereka adalah ingkar”. (Al-An’am : 1).
Terdapat banyak inti sari dari petunjuk-petunjuk dan sentuhan-sentuahnnya pada ayat
diatas, diantaranya :
1. Bahwa pujian, syukur dan pujaan pada hakekatnya yang berhak memiliki adalah
Allah, karena Dialah sumber kebaikan dan kenikmatan, pujian manusia kepada-Nya
adalah merupakan suatu keharusan, karena lantaran Allah dan melalui perantara-Nya
mereka ada, Dialah pada hakekatnya yang berhak mendapatkan pujian yang telah
menciptakan hati para muhsinin dan orang yang diberi kenikmatan hati yang lembut dan
kasih sayang sesama manusia.
2. Diantaranya juga menegaskan bahwa Allah-lah yang telah menciptakan langit dan
bumi, ini menolak anggapan orang-orang yang kafir yang menisbatkan ciptaan pada
alam. Allah yang telah menjadikan kegelapan dan cahaya, hal ini untuk menolak
anggapan para penyembah berhala, majusi yang menjadikan alam dua tuhan : tuhan
kebaikan dan tuhan kejahatan, bahwa sesungguhnya Allah Maha Esa tidak ada sekutu
bagi-Nya, karena orang-orang musyrik telah tersesat yang menyamakan dengan-Nya
berhala-berhala dan patung-patung.
3. Menetapkan akan hakekat orang-orang kafir terhadap pandangan, wawasan dan
sistem hidup mereka, bahwa mereka tidak ada ada-apanya, mereka tidak memiliki
metode yang sitematis, ilmiyah, tidak otentik dan tidak memiliki keseimbangan, karena
mereka telah keluar dari prinsip-prinsip dasar yang benar sehingga memberikan hasil


al-ikhwan.net Abu Ahmad
yang salah dan bathil. Padahal hanya Allah yang menciptakan manusia, bagaimana
mungkin mereka bisa menyimpang darinya ? menyamakan dengan selain-Nya sedang
dirinya dan yang disekutukannya itu adalah lemah dari melakukn sesuatu apapun ?…
4. Mengisyaratkan bahwa keadilan itu ada dua : keadilan yang terpuji yaitu keadilan
yang menerapkan syariat dan berdasarkan pada ketentuan hukum atas dasar kebenaran
dan jauh dari hawa nafsu dan kepentingan pribadi dan orang lain. Yang dimikian
merupakan tuntutan kepada kaum muslimin untuk menjadi guru alam sehingga mampu
menerapkan hukum secara adil di tengah umat manusia seluruhnya. Dan Keadilan yang
tercela yang pada hakekatnya adalah kedzaliman yaitu menyamakan antara perkara
yang tidak sama tidak memperhatikan perbedaan diantara keduanya, seperti persamaan
antara orang mu’min dan kafir dalam memberikan penghormatan, persamaan antara
mu’min dan musuh dalam memilih pemimpin dan teman atau persamaan antara kaum
mu’minin dengan para kriminalis dalam kehidupan realita, apalagi
memberikan persamaan antara Allah dengan Keagungan-Nya dengan manusia dengan
kelemahan yang mereka miliki; baik dalam beribadah, beragama dan tunduk kepada
hukum-hukum Allah dan lain sebagainya.
Apa sentuhan dan petunjuk yang dapat dipetik dari firman Allah yang mensifati kaum
anshor :
` , ,` , ¸ , - · ` ¸ · .,' -`, ` , , ` · ` ¸ · . · , , _` , .` , ¸, ,
“Dan mereka yang lebih dahulu tinggal di Madinah dan sebelumnya beriman mencintai
orang yang berhijrah kepada mereka”. (Al-Hasyr : 9)
Yaitu petunjuk dan isyarat yang digambarkan dengan jelas pada menetapnya iman –
setelah merasakan keindahan yang ada di dalamnya melalui pembentukan iman secara
teori, sehingga digambarkan disini dalam bentuk materi seperti rumah yang dimasuki
oleh mereka –para muhajirin-, duduk dan tinggal di dalamnya, yang mesti
diperhatikan adalah daya khayal yang hidup terhadap gerakan iman ini, berubah
menjadi tempat tinggal yang nyaman disinggahi, prilaku orang beriman yang
memberikan rumah keimanan ini cocok untuk dijadikan tempat tinggal- bahwa yang
demikian menggambarkan akan isyarat yang baik, naungan yang memberikan
keteduhan. Menuntut setiap mu’min untuk membangun rumah yang berasaskan iman
yang bersih, menetapkan diatasnya kubah dari keimanan, membuat naungan dengan
naungan iman, dan tidak meninggalkannya sedetikpun dari kehidupannya, sehingga
dapat mengubah keimanannya dari iman yang fasif dan beku menjadi iman islami yang
penuh rasa optimistis, aktif, inovatif, kreatif dan hidup. Sesungguhnya kondisi ini akan
terus menjadi benteng yang kokoh dan akan selalu berada pada tempat yang kuat selama
iman masih terpatri dalam diri. Dan jika keluar dari rumah iman atau mengeluarkan
sebagian kecil dari keimanan maka syaitan yang selalu mengintainya akan masuk untuk
menjerumuskannya ke jurang kegelapan, menghancurkan rumahnya, menyesatkan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
kehidupannya, meracuni langkah-langkahnya dan menjatuhkannya ke dalam neraka
jahannam.
10. Menghindarkan Nash Al-Quran Dari Penetapan Waktu Dan Tempat Yang
Sempit
Al-quran adalah kitabullah yang kekal, elastis sepanjang zaman dan tempat;
bahwa nash-nashnya selalu memberikan petunjuk kepada setiap keturunan anak bani
Adam ketika mau berinteraksi dengannya secara baik, walaupun tingkat materi, ilmu
dan kebudayaannya memiliki perbedaan, tetap memberikan arahan, petunjuk dan
pelajaran pada setiap negeri tempat di muka bumi ini di sepanjang sejarah umat
manusia.
Para sahabat menerima nash-nash Al-Quran dan berinteraksi dengannya tanpa
membatasi waktu dan tempat pada turunnya ayat, dan tidak mengekang Al-Qur’an
dalam lingkup kehidupan mereka yang terbatas dan tidak mengurangi isi kandungan Al-
Qur’an kecuali mengambilnya dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Dan para
tabiinpun menerima dan berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati. Sebagaimana para
pengikut setelahnya dari para ulama; mereka menerima dan berinteraksi dengannya juga
dengan sepenuh jiwa mereka, sehingga mereka menemukan dalam Al-Quran apa yang
mereka inginkan dan mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Begitu pula hendaknya para pembaca Al-Quran mentauladani contoh diatas;
berusaha berinteraksi dengan pedoman yang telah di contohkan oleh umat
sebelumnya, tidak mengekang nash-nash Al-Quran dengan satu keadaan dari keadaan
lainnya atau satu masa pada masa tertentu –kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah
sebelumnya-, tidak menguranginya dari penjelasan seseorang atau golongan –kecuali
yang telah ditetapkan sebelumnya- Al-Quran harus terbebas dari ikatan zaman, tempat,
perorangan dan golongan sehingga dapat memberikan petunjuk-petunjuknya kepada
seluruh manusia, menyebarkan cahaya Qur’an kepada setiap generasi, dan sinarnya
menaungi sekalian alam.
Karena jika nash-nash Al-Qur’an terbatas pada satu keadaan, masa, seseorang, negeri
atau abad maka akan mengikatkan dan menghilangkannya dari nilai-nilai yang
terkangung di dalamnya, manjauhkan Al-Quran dari petunjuk-petunjuknya,
mengharamkan dari aplikasi tujuan diturunkannya, seakan Al-Qur’an seperti tahanan
yang dibelenggu, tawanan yang diikat, barang gadaian yang disita, sehingga tidak
memiliki harga dan nilai sama sekali dan mematikan nash-nash yang ada di dalamnya
lalu mengubahnya menjadi ungkapan-ungkapan yang kosong tiada arti dan makna;
kisah-kisah tentang masa lalu yang diceritakan di dalamnya tidak memiliki ibrah dan
hikmah.
Seorang muslim tidak boleh mematikan nash-nash Al-Quran dalam dirinya, namun
hendaknya membuka hati dan jiwanya untuk menerimanya, melebarkan jalan untuknya
sehingga dapat menggairahkan hidup dan menenunaikan risalah yang dibawanya, lalu


al-ikhwan.net Abu Ahmad
memberikan pengaruh positif kepada umat manusia seluruhnya dengan menebarkan
cahaya Al-Quran kepada seluruh umat.
Setiap generasi muslim dapat menemukan nash-nash Al-Quran yang berbicara sesuai
dengan realita dan kehidupannya, seakan ayat Al-Quran turun saat itu. Dan para
mufassirin juga banyak yang menjadikan nash-nash Al-Quran untuk mendidik umatnya
dan melakukan perbaikan terhadap permasalahan dan perkara yang terjadi di tengah
mereka. Oleh karena itu setiap tafsir dari tafsir-tafsir mereka mungkin dapat diambil
manfaatnya yang sesuai dengan keadaan pengetahuan dan derajat keilmuan mereka,
sesuai dengan kondisi akhlak, masyarakat, iman dan prilaku umat pada masa saat
mufassir tersebut hidup di zaman itu. Sehingga -boleh jadi- tafsir tersebut sebagai
dokumen akan keilmuan, sejarah dan kebudayaan pada masa saat itu. Hal tersebut
terjadi karena nash-nash Al-Quran sangat sesuai dengan zaman dan tempat saat
mufassir hidup dan berusaha menjadikan Al-Quran dapat memberikan petunjuk kepada
umat manusia seluruhnya.
Karena itulah, amirul mu’minin Ali bin Abi Tholib yang memiliki kecerdasan, kejelian
dan kejujuran mensifati Al-Quran dengan sifat yang sesuai dengan qaidah ini, beliau
berkata : “Al-Quran tidak akan pernah membuat para ulama puas, tidak akan membuat
banyak orang menolak dan tidak akan habis menemukan keajaiban-keajaibannya…”
Kita tidak mengingkari adanya sebagian pemerhati Al-Quran pada masa lalu yang salah
dalam berinteraksi dengan Al-Quran sehingga mengurangi sebagian nilai dari nash-nash
Al-Quran atas umat manusia sebelumnya, membatasi sebagiannya tentang cerita masa
lalu, menghilangkan dan bahkan meminalisir nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,
membuat tirai untuk para pembaca meraih berbagai petunjuk-petunjuknya.
Allah berfirman –sabagai contoh- tentang bertahkim :
` ' , ` , ´` -, ` , ` ¸ · , .,` , · ´ ` ,` · : · , ' · ` · ¸ ,
“Barangsiapa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah maka mereka
termasuk orang-orang kafir”. (Al-Maidah : 44)
dalam ayat lain :
= ` ,` · : · , ' · ` · ¸ ,` ' , ` , ´`-, ` , ` ¸ · , .,`
“Barangsiapa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah maka mereka
termasuk orang-orang dzalim” (Al-Maidah : 45)
dan juga disebutkan:


al-ikhwan.net Abu Ahmad
., ` ,` · : · , ' · ` · ¸ ,` ' , ` , ´` -, ` , ` ¸ · ,
“Barangsiapa yang berhukum kepada selain apa yang diturunkan Allah maka mereka
termasuk orang-orang fasik” Al-Maidah : 47)
Hanya khusus bagi mereka kaum Bani Israel sebelum datang Islam, dan tidak sesuai
jika orang Islam menolak hukum Allah dan taat kepada yang lain –baik pemimpin atau
atau yang dipimpin-, bahwa mereka telah menyimpangkan ayat dan menjadikannya
tarbelenggu pada masa lalu saja, padahal ayat tersebut juga sesuai dan relevan atas
seluruh umat manusia dimanapun mereka berada dan kapanpun mereka hidup, bahwa
menolak hukum Allah dan mentaati hukum yang lainnya sesuai dengan pilihan hawa
nafsunya dan lebih condong dalam berhukum kepada hukum thogut adalah termasuk
kekufuran, kedzaliman dan kefasikan serta bertentangnan dengan nash Al-Quran.
Allah SWT berfirman :
- , ´` - · ' .,` ·,`, ¸ ·` , ´` - · ¸ · ` ¸ ` - ' ` ¸· , .,` ·` , ·` , ·
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki ? dan (hukum) siapakah yang lebih
baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”. (Al-Maidah : 50)
Maksudnya adalah menolak terhadap hukum jahiliyah dan orang-orang jahil.
Menurut sebagian orang bahwa jahiliyah adalah keadaan masyarakat arab sebelum
datang Islam, peringkat terendah mereka barasal dari kebodohan dan kejahilan, tidak
memiliki pengetahuan, ilmu dan kebudayaan, orang-orang yang jahil adalah manusia
pada saat itu saja.
Pemahaman seperti ini adalah suatu kekeliruan yang dapat menghilangkan ayat dan
menjauhkannya dari nilai-nilai Al-Quran, mematikan ruh Al-Qur’an pada orang yang
pembacanya, karena -seperti yang difahami keliru- Al-Qur’an seakan hanya berbicara
tentang manusia yang sudah mati di masa lalu. Padahal ayat-ayat Al-Quran dapat
sesuai untuk seluruh umat manusia, sesuai pada setiap zaman, dan berlaku pada setiap
tempat dan umat, bahkan kejahiliaan dapat juga diletakkan pada masalah berhukum
kepada Allah, maka maksud dari kejahiliaan disini adalah kejahiliaan pada setiap masa,
keadaan, undang-undang, sistem, masyarakat, jalan hidup atau arahan-arahan yang
menolak berhukum kepada syariat Allah dan mengambil hukum kepada selainnya.
Kejahiliaan ini terus ada disetiap masa dan sepanjang sejarah, pada setiap tempat yang
masyarakatnya jahil walaupun keadaan mereka secara materi, keilmuan, tekhnologi dan
pengetahuan maju begitu pesat.
Allah berfirman tertang permusuhan orang-orang kafir atas orang-orang beriman dan
tujuan mereka memerangi orang-orang beriman :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
,` · = ` . ¸ ` , ´ , · ` ¸ · ` , ¯,' ·` ,, _` - ` , ´ , `, ., ,, ,
“Mereka akan terus berusaha memerangi kalian hingga mereka mampu
mengembalikan kalian dari agama kalian.” (Al-Baqoroh : 217)
Ayat diatas bukan hanya terbatas pada kaum Quraisy yang memerangi Rasulullah saw
dan kaum muslimin di Madinah –walaupun ayat itu turun sesuai dengan kejadian
tersebut-. Namun ayat tersebut juga berbicara pada tujuannya secara umum tentang
sifat-sifat orang kafir dimana saja mereka berada yang selalu berkeinginan memerangi
kaum muslimin dimana saja mereka menemukan kaum muslimin. Ayat ini sangat sesuai
dengan perang yang dilakuakn oleh pasukan Romawi terhadap kaum muslimin, perang
di Persia, di Cina, di India, di Mongolia, pasukan Salib, perang di eropa pada abad
pertengahan; pasukan Rusia yang ortodok dan pasukan Rusia yang modern, perang
Inggris oleh pasukan imperialis abad modern, perang Amerika, Komunis, Yahudi,
Nasroni dan aliran kebatinan dari kaum muslimin sendiri pada saat ini.
Dan ayat Al-Quran akan terus memberikan petunjuk yang sesuai dan selaras dengan
perang apapun antara kaum muslimin dan orang-orang kafir hingga hari Kiamat.
Sesungguhnya sebab-sebab turunnya ayat harus diteliti kembali di dalamnya dan
menerimanya jika di dapati dalilnya secara benar dan menambahkan tinjauan baru
terhadap nash yang berdasarkan nashnya, tapi jangan membatasi nash dan mengikatnya
namun coba diselaraskan pada setiap keadaan dan kondisi serupa kejadian yang serupa,
sebagai contoh yang sesuai dan selalu berulang hingga hari kiamat. Karena itu para
ulama dalam menetapkan kaidah yang dapat melepaskan nash-nash Al-Quran dari
kekangan –ikatan- zaman dan tempat :
. ` ¸` ,` .` - , . ·` ,` ` · , · ,` ·
”Pelajaran yang dapat diambil adalah berdasarkan keumuman lafadz- ayat- bukan
pada kekhusun peristiwa –sebab-“.
11. Nash Al-Quran Kaya Akan Nilai dan Petunjuk
Allah SWT memsifatkan Al-Quran Al-Karim dengan mubarak –memberikan
keberkahan- sebagaimana Allah berfirman :
·`, , ¸` , , ¸ ` ·` .` · ` · _ ` · ` · ,` ' ` . ¯ · ,
“Dan inilah Kitab yang kami turunkan, memberikan keberkahan dan kebenaran yang
ada dihadapannya”. (Al-An’am : 92)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Kata Al-Barokah dalam Al-Quran bersifat umum dan universal; memberikan kebaikan
pada setiap nash-nashnya, menampakkan tema secara gamblang yang ada di dalamnya,
menerangkan pada setiap sisi-sisinya secara jelas dan terang.
Dan di antara bentuk dan gambaran Al-Barokan adalah Al-Quran memberikan
keberkahan pada setiap nash-nashnya yang padat akan makna dan nilai-nilai, kalimat-
kalimatnya yang singkat namun mengandung banyak petunjuk, luas akan makna, tinggi
petunjuk-petunjuknya dan besar akan sentuhan-sentuhannya.
Dan diantara karakteristik dan uslub Al-Quran -sebagaimana yang disebutkan oleh Al-
Marhum DR. Muhammad Abdullah Darraz dalam kitabnya “An-Nabaul Adzim”-
adalah bahwa Al-Qur’an memiliki ketepatan sasaran dan sesuai dengan makna yang
dimaksud, karena itu seluruh uslub Al-Quran singkat dan padat, tepat sasaran dan tidak
bertele-tele, tidak terlalu penjang dan tidak membuat orang bosan. Jika kita menelaah
isinya maka akan kita dapati “penjelasan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan diri
manusia, tidak akan terasa di dalamnya tabzir (sesuatu yang sia-sia) dalam kalimatnya -
sehingga secara jelas- akan memberikan pembelajaran secara praktek akan nash-nash
Al-Quran “Ambil mushaf dan bukalah lembaran-lembarannya, hitung semampu anda
kalimat-kalimatnya, kemudian pilih dari ayat-ayat yang cocok untuk dipilih dan
perhatikan ayat yang diwahyukan tersebut dan makna-maknanya, lalu perhatikan berapa
kalimat yang dapat anda gugurkan –selahkan- atau anda ganti dari ayat tersebut tanpa
melepas tujuan Dzat yang telah menurunkannya? Kalimat mana yang dapat anda
gugurkan atau ganti?”. (An-Nanbaul Adzim : 105)
Imam Sayyid Qutb berkata tentang kandungan nash-nash Al-Quran yang kaya akan
petunjuk, keotentikan, keindahannya, beliau berkata : “sesungguhnya satu nash saja
dalam Al-Qur’an mengandung banyak petunjuk yang beragam dan saling berkaitan
dalam nash yang lainnya, setiap petunjuk darinya memberikan penjelasan dan petunjuk
yang tidak bertentangan atau terjadi benturan antara petunjuk yang satu dengan
petunjuk yang lainnya. Setiap permasalahan dan hakekat akan mendapatkan porsi yang
sesuai…karena setiap satu teks ayat mengandung beragam dimensi, tampak sekali
kebenaran dalam tempat yang mendukung di dalamnya, seakan-akan pada mulanya
diberikan pada sisi ini dan tempat itu ! hal tersebut merupakan fenomena Al-Quran yang
membutuhkan banyak isyarat –penafsiran- kepadanya…” (Ad-Dzilal : 1787)
Pembaca yang ingin menapaki hidupnya dengan sentuhan-sentuhan Al-Quran secara
jeli, menikmati naungan dan kelembutannya –sebagaimanana yang telah kami jelaskan
pada kiat sebelumnya- harus memulai pada kaidah ini, menelaahnya dengan seksama,
membuka rahasia-rahasianya yang berharga melalui kiat ini, menjabarkannya,
menelaahnya, hidup bersamanya dan mengungkap isyarat-isyarat yang terdapat di
dalamnya.
Ayat yang kami sebutkan sebelumnya –sebagai contoh—betapa banyak dalil-dalil dan
nilai-nilai yang dapat dipetik darinya ? betapa banyak fenomena, bentuk dan ragam
keberkahan yang dapat diambil darinya ? –berdasarkan kaidah balaghoh
“menghilangkan objek berarti bersifat umum” maka Al-Quran memberikan kebekahan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
pada segala hal, keberkahan yang umum dan universal- ; memberikan keberkahan pada
sumbernya karena ia merupakan kalamullah, memberikan keberkahan pada tempatnya
yaitu di Al-Lauhul Mahfudz, memberikan keberkahan pada pembawanya yaitu Jibril
AS, memberikan keberkahan kepada yang mendukungnya yaitu para malaikat,
memberikan keberkahan kepada yang meneriman dan mengajarkannya yaitu nabi
Muhammad saw, memberikan keberkahan pada seseorang yang tenang dan tentram di
dalamnya yaitu hati Rasulullah saw, memberikan keberkahan pada ayat-ayatnya yaitu
singkat namun padat dan kaya akan makna, memberikan keberkahan pada bentuknya
yang kecil namun mengandung berbagai macam keilmuan, memberikan keberkahan
dalam kandungan ilmu dan pengtahuan –pustaka tafsir, ulumul Quran sepanjang sejarah
sehingga menjadi bukti akan hal tersebut- memberikan keberkahan pada syariat-
syariatnya, manhaj-manhajnya dan prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya,
memberikan keberkahan pada risalah, misi dan tujuannya, memebrikan keberkahan
pada jejak, pengaruh dan petunjuknya dan lain sebagainya dari bentuk keberkahan yang
terkandung dalam Al-Quran…
Sayyid Qutb menjelaskan gambaran tentang kalimat Al-Barokah dan cakupannya :
“sesungguhnya Al-Quran merupakan lembaran-lembaran kecil dibanding kitab-kitab
yang besar bentuknya seperti yang ditulis oleh manusia, namun mengandung berbagai
petunjuk, dalil, penjelasan, arahan pada setiap paragraf yang ada di dalamnya, yang
tidak dapat dijawab oleh beribu-ribu kitab yang besar sekalipun, bahkan dari berbagai
macam bentuk dan modelnya! sesungguhnya yang berkecimpung dalam seni berbicara
pada dirinya sendiri dan orang lain, menyesuaikan diri terhadap permasalahan yang
terdapat pada lafadz-lafadz dan petunjuk-petunjuknya guna memberikan
petunjuk kepada seseorang dalam mengungkapkan pendapatnya. Bahwa susunan Al-
Quran yang mengandung keberkahan, dari sisi ini –walaupun mustahil bagi manusia
membuat ungkapan seperti itu- untuk memahami terhadap apa yang dibawa oleh Al-
Quran dari berbagai macam dalil, ungkapan, pemahaman, sentuhan dan pengaruh-
pengaruhnya! bahwa satu ayat saja dapat memberikan banyak makna dan menjelaskan
beberapa ketentuan, yang tidak dapat dibuat oleh petunjuk lain dari berbagai macam
seni, ketetapan dan arahan sedikitpun, tidak ada bandingannya dari semua ucapan
manusia” (Fi Dzilal Al-Quran : 2 : 1147)
Surat Al-Asr –sebagai contoh- adalah surat terpendek dalam Al-Quran yang jumlah
ayatnya hanya 3 ayat, namun di dalamnya mengandung banyak makna dan petunjuk,
yang dapat membuat banyak tulisan dan kitab dengan berjilid-jilid jumlahnya oleh
karena makna dan nilai yang terkandung di dalamnya sangat banyak, sehingga benar
ucapan Syafi’I : “Kalau manusia mau mentadabburkan surat Al-Asr maka akan
mendapatkan wawasan yang luas”.
Betapa banyak pembaca Al-Quran mendapatkan bekal dari nilai-nilai dan petunjuk-
petunjuk Al-Quran, betapa banyak pembaca Al-Qur’an dapat mengambil inti sari dan
petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, betapa banyak dari Al-Qur’an ditemukan
berbagai makna dan ketetapan dari nash-nashnya.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Ketika seseorang mau berinteraksi dengannya atas dasar qaidah yang ini, maka,
pasti akan membutuhkan banyak lembaran guna mendokumentasikan atas apa yang
diwahyukan olehnya dari berbagai sisi dan arah.
Allah berfirman :
¸` , ,` , · ` ¸ - · ,, · , · ,,· ,` ` · ` , · ' ·,` , · : ` ,` . ' ` · _ ' · ¸ ,
_ ·` · ` ,` · ·
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta’ati Allah) tetapi mereka
melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku
terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya”. (Al-Isro : 16)
.,' · -`, ¸, . ¸ ` · , ` , , ` · ` ¸ · ¸, . ¯ ¯ ,` ¯ ` · ,` _ , ·
` ¸ ,` · ` . · ¸, , · ´ , ¸ . ` , , ¸ ., ¯ ,` '
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat
kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan.
Sesungguhnya kami telah menurunkan bukti-bukti yan gnyata. Dan bagi orang-orang
kafir ada siksa yang menghinakan”. (Al-Mujadilah : 5)
` , , · · .,` , - ' ` , ` ,` , - ' . - · , · ¸ - ' ¸ ·` · ' ¸ ´ , .,` ·
“Tiap-tiap uamat mempunyai ajal –batas waktu- ; maka apabila telah datang waktunya
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaapun dan tidak dapat (pula) mereka
bersedihhati”. (Al-A’rof : 34)
· , · · ` · . , · ¸ , ¯ · ` ¸ · ¸ ,` · ' ` ¸ · , · · , ·` ,, ` ·` ,` ` - , ´` .
_ ` · '
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yan gsempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam
keadaan buta”. (Toha : 124)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
12. Memahami Nilai-nilai Al-Quran Seperti Yang Dipahami oleh Para Sahabat
Para sahabat hidup di bawah naungan Al-Quran; mereka menikmati ayat-ayatnya,
berinteraksi dengan nash- nashnya, mendapatkan hidayah darinya, menerangi
kehidupannya dengan sinar dan cahayanya…Merekalah generasi Al-Quran yang unik.
Kadang mereka meriwayatkan sebagian yang mereka rasakan dari pengaruh Al-Quran
dalam kehidupan mereka, mendapatkan sentuhan-sentuhan dan nilai-nilainya yang
indah dan mempesona…Dan hal ini sangatlah jarang dan sedikit sekali yang mampu
merasakannya kecuali bagi orang yang benar-benar merasakan dan menikmati sentuhan
niali-nilainya.
Dan sejarah interaksi mereka dengan Al-Qur’an adalah merupakan riwayat-riwayat
yang memiliki petunjuk tentang metode berinteraksi yang baik dengan Al-Quran,
hubungan yang erat dan pandangan yang jernih terhadap Al-Qur’an, yang
memungkinkan para pembaca dan pemerhati Al-Quran dapat mentauladani dan
mengikuti jejak langkah mereka , guna mendapatkan secercah nilai-nilai dari Al-Quran
seperti yang telah didapatkan oleh para sahabat, meneguk kehidupan yang damai
darinya seperti yang mereka lakukan dan meraka jalani, mengkaji perkara yang telah
mereka riwayatkan sebagai sarana utama dalam rangka mendapatkan petunjuk Allah
dan nur Ilahi.
Sebelum ini kami telah menyebutkan ungkapan Ibnu Mas’ud : “Sesungguhnya kami
kesulitan menghafal lafadz-lafadz Al-Quran namun mudah bagi kami mengamalkannya,
dan umat setelah kami mudah bagi mereka menghafal ayat-ayat Al-Quran namun sulit
bagi mereka mengamalkannya”.
Abdullah bin Umar bin Al-Khattab berkata: “Kami hidup di masa yang panjang dan
salah seorang dari kami lebih dahulu diberi iman sebelum Al-Quran, surat-surat turun
kepada nabi Muhammad saw lalu mengajarkan yang halal dan yang haram, perintah dan
larangan dan hal-hal yang harus ditinggalkan dari sisinya, namun saya telah melihat dan
menyaksikaan orang-orang pada masa sekarang yang lebih dahulu diberi Al-Quran
sebelum iman, lalu membacanya dari surat Al-Fatihah hingga akhir namun tidak
memahami dan tidak mengetahui mana perintah dan mana larangan, mana yang
seharusnya ditinggalkan dari sisinya, mereka membacanya seakan seperti kambing yang
mengembik…”
Bagi para pembaca Al-Quran, dalam memperhatikan dan menelaah bagaimana para
berinteraksi dengan Al-Quran, mengamalkan nilai-nilai dan sentuhan-sentuhannya
sehingga menghasilkan kehidupan berada di bawah naungan Al-Quran akan diperoleh
hakikat jiwa dan hati yang bersih dapat menerima Al-Quran dan berinteraksi
dengannya, sehingga memotivasi jiwa untuk bisa melakukan seperti yang mereka
lakukan dan merasakan nikmatnya hidup di bawah naungan Al-Qur’an seperti yang
mereka rasakan, bahagia hidup bersama Al-Qur’an melalui nilai-nilai dan sentuhan-
sentuhannya seperti kebagiaan yang telah mereka raih serta lurus kehidupannya bersama


al-ikhwan.net Abu Ahmad
arahan dan petunjuk Al-Qur’an sebagaimana yang dijalankan oleh para sahabat dan
salafussalih.
Contoh dari itu semua sangatlah banyak, akan kami sebutkan beberapa contoh saja
seperti yang disebutkan pada tulisan dibawah ini :
1. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Abu Dawud dari Anas bin Malik bahwa
Rasulullah saw saat sholat di baitul maqdis, lalu turun ayat : “Sungguh Kami (sering)
melihatmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (Al-Baqoroh :
144) maka lewat seseorang dari bani Salmah saat mereka sedang ruku pada sholat fajar,
mereka telah melewati satu raka’at, dia berseru : ketahuilah bahwa qiblat telah dirubah,
maka marekapun memaligkan ruku’ ke arah Ka’bah.
Ayat di atas menunjukkan kepada kita akan ketaatan para sahabat terhadap tuntunan,
petunjuk dan taklif rabbani -pembebanan yang Allah berikan kepada mereka- hati
mereka yang subur dengan iman yang cepat dan siap berinteraksi dengan Al-Quran;
ketaatan mereka yang begitu cepat dalam mengamalkan dan komitmen terhadap
perintah.
2. Diriwayatkan oleh Imam Bukkhori, Imam At-Turmudzi, Imam An-Nasa’I dan Imam
Abu Dawud -riwayatnya dari Abu Dawud- dari Zaid bin Tsabit berkata : saat saya
berada disamping Rasulullah saw, yang selalu mendapatkan ketenangan, lalu paha
Rasulullah saw berada diatas paha saya, saya tidak mendapati paha yang begitu berat
kecuali paha Rasulullah saw, kemudian beliau melirik saya dan berkata : tulislah, maka
sayapun menulis di awal ayat : “Tidak sama antara orang yang duduk-duduk dari orang
beriman…(An-Nisa : 95) maka berdirilah Abdullah bin Ummi Maktum -seorang lelaki
yang buta- saat mendengar keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, beliau
berjata : Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak bisa berjihad dari orang
yang beriman ? sebelum ucapannya berkahir, Rasulullah saw kembali menenangkan
diri, maka pahanya jatuh keatas paha saya, dan saya dapati pahanya lebih berat dari
sebelumnya, kemudian dia melirik saya dan berkata : Bacalah wahai Zaid. Maka
sayapun membaca : “Tidak sama antara orang yang duduk-duduk dari orang yang
beriman”. Lalu Rasulullah saw berkata : “Yang tidak mempunyai uzur”. Ayat secara
keseluruhan. Zaid berkata, Allah menurunkan semuanya beruntun”.
3. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan imam Muslim, At-Turmudzi dari Ibnu Mas’ud
berkata : ketika turun : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampur keimanan
mereka dengan kedzlaliman, merekalah yang mendapat ketentraman”. (Al-An’am : 82)
kaum mulimin merasa berat, mereka berkata : bagaimana mungkin kami tidak
mendzolimi diri sendiri, Rasulullah saw bersabda : bukan begitu yang dimaksud, yang
dimaksud pada ayat adalah Syirik, apakah kalian tidak mendengar perkataan seorang
hamba yang salih : “Wahai anakku janganlah engkau mensyirikkan Allah karena
kesyirikan merupakan kedzoliman dan kezhaliman merupakan dosa besar”. (Luqman :
13)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
4. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq
bahwa beliau berkata : Wahai Rasulullah : bagaimana maksud kemenangan pada ayat
ini : “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak
(pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang berbuat kejahatan niscaya
akan diberi pembalasan..”. (An-Nisa : 123) Apakah seluruh kejahatan yang kami
lakukan akan diberi pembalasan darinya -dalam riwayat lain berkata : saya tidak
mengetahui apakah saya melakukan kejahatan pada pundak saya sehingga menjadi
lemah !! maka Rasulullah bersabda : apa yang engkau lakukan wahai Abu Bakar ? saya
berkata : Demi bapakku dan ibuku engkau wahai Rasulullah bagaiamana mungkin kami
tidak pernah melakukan kejahatan, dan kami pasti menerima pembalasan dari setiap
kejahatan yang kami lakukan -maka nabi pun bersabda : Semoga Allah mengampunimu
wahai Abu Bakar, bukankah engkau pernah sakit ? bukankah engkau memiliki nasib ?
bukankah engkau pernah bersedih hati ? bukankah engkau pernah mendapatkan
musibah ? beliau berkata : benar. Rasulullah bersabda : demikianlah apa yang dijadikan
pembalasan dengannya”.
5. Diriwayatkan dari Imam Ibnu Jarir At-Tobari berkata : Abu Tolhah membaca surat
Baraah (At-taubah), lalu sampai pada ayat : “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan
merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan
Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (At-Taubah
: 41) beliau berkata : saya melihat Tuhan kami telah memerintahkan kami para orang
tua dan pemuda, maka persiapkanlah untukku wahai anakku untuk berperang, anak-
anaknya pun berkata kepadanya : Semoga Allah merahmatimu saat ikut berperang
bersama Rasulullah saw hingga syahid, bersama Abu Bakar hingga syahid, bersama
Umar hingga Syahid, maka berikanlah kami kesempatan untuk berperang
menggantikanmu, beliaupun menolaknya, lalu beliau menyebrang lautan hingga
meninggal, namun mereka tidak menemukan pulau untuk mengubur mayatnya kecuali
setelah 9 hari berjalan, namun sedikitpun mayatnya tidak mengalami pembusukan,
hingga mereka menguburnya…”.
Demikianlah contoh-contoh yang dapat ditemui oleh pembaca Al-Quran, ucapan dan
riwayat dari para sahabat yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir bil ma’tsur, kitab-kitab
asbabun nuzul, kitab-kitab hadits dan sunan yang shohih, dan kitab-kitab sirah dan
kehidupan para sahabat…dan banyak sekali…
13. Memperhatikan aspek realita terhadap nash-nash Al-Quran
Saat mengawali pembahasan tentang tujuan-tujuan pokok Al-Quran, menerapkan misi
gerakannya, seorang pembaca yang jeli hendaknya memperhatikan sisi faktual ayat-ayat
Al-Quran, meneliti kesesuaiannya dengan kondisi kontemporer, memahami solusinya
dan meluruskan permasalahan -permasalahannya serta memperbaiki manhaj dan sistem
hidup yang terdapat di dalamnya.
Saat membaca Al-Quran hendaknya menghilangkan belenggu zaman dan tempat,
sehingga akan ditemui darinya ayat-ayat tentang mukjizat yang seakan hidup, mensifati
keberadaannya yang hidup, membicarakan realita kehidupan yang nyata, menjelaskan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
qodhoya –problema- dan permasalahan yang terdapat disekitarnya. Pada saat membaca
surat-surat dalam Al-Quran dengan metode ini, maka akan ditemui surat-surat yang
hidup, bergerak, menuntun dan memberi petunjuk. Sehingga ketika menelaah ayat-ayat
Al-Quran dengan metode diatas maka akan ditemukan kejujuran, kasih sayang ,
kelembutan, kesatuan dan kecintaan yang memanggilnya, seakan indah berinteraksi
bersamanya. Ia selalu menyertainya dalam perjalanan yang indah dan menyenangkan,
membimbingnya dalam suasana yang bijak sesuai dengan dunia realitanya dan
kehidupannya yang nyata. Pembaca Al-Quran akan mendapatkan Al-Quran dan surat-
suratnya sebagaimana yang telah ditemukan oleh Sayyid Qutb saat menyadari indahnya
berinteraksi dengan Al-Quran, memperhatikan sisi realitas terhadap nash-nash Al-Quran
dan arahan-arahannya, mengungkapkan dari apa yang ditemui di dalamnya, beliau
berkata : “Begitulah saat saya kembali memandang surat-surat dan ayat-ayat dalam Al-
Quran. Begitulah saya merasakannya, dan begitu pulalah saya kembali berinteraksi
dengannya. Setelah melewati masa yang panjang untuk hidup bersamanya, sekian lama
bersatu, sekian lama berinteraksi dengannya sesuai dengan tabiatnya, petunjuknya,
fenomenanya dan karakteristiknya.
Saya menemukan dalam Al-Quran wawasan yang begitu luas oleh adanya keragaman
contoh, menemukan kelembutan yang begitu halus oleh karena interaksi individu yang
intens, serta menemukan kenikmatan yang berlimpah oleh karena keragaman sifat dan
tabiat, petunjuk-petunjuk dan arahan-arahan yang terdapat di dalamnya.
Semuanya adalah kebenaran, seluruhnya adalah kejujuran, seluruhnya adalah belas
kasih, seluruhnya adalah kecintaan, seluruhnya adalah kenikmatan, dan seluruhnya akan
membarikan hati keragaman perhatian yang menyenangkan, keragaman kenikmatan
yang berlimpah, keragaman sentuhan yang lembut, keragaman dampak yang menuntun,
sehingga dapat memberikan citq rasa khusus dan suasana yang unik.
Hidup bersama Al-Quran dari awal hingga akhir merupakan perjalanan
indah…perjalanan dalam alam nyata dan abstrak, teori dan praktek, ketetapan dan
sentuhan yang tenggelam ke dalam jiwa yang paling dalam, sehingga menampakkan
peristiwa-peristiwa alam secara konkrit. Rihlah yang memiliki keistimewaan karakter
pada setiap surat dan tiap-tiap surat…” (Ad-Dzilal : 3 : 1243)
Setiap ayat-ayat dalam Al-Quran memiliki sisi realita masa depan, baik ayat yang
berhubungan dengan aqidah, kisah-kisah, berita tentang umat masa lalu, arahan, hukum,
atau yang berhubungan dengan sunatullah, prinsip-prinsip, nilai-nilai dan etika-etika
atau lain-lainnya.
Ayat-ayat yang dapat mengenalkan tentang Allah SWT, dan menjelaskan kepada kita
tentang kerajaan-Nya dan kekuasaan-Nya yang agung dan mulia, mengajarkan sifat-
sifat Allah SWT dan nama-nama-Nya yang mulia, sehingga kita dapati aspek realita
tentang masa depan secara nyata. Bahwa sifat-sifat Allah SWT yang terdapat dalam
nash-nash Al-Quran merupakan sifat yang konkrit dan positif…seperti sifat ilmu Allah
yang universal yang mencakup segala sesuatu yang ada di muka bumi.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah berfirman :
· , . ` ¸ · ¸ ,` , · , ,` · ` _` ,` -, · , ¸` _ ' ¸ · ` _ , · ` , ` ·,
` , ´ · · ,` · , ,, · ` _` ,` ·, ` _ . , ., ` · , ` · , ` ,` ` ¯ · ¸`, '
“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya,
dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia berada
bersamamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan”. (Al-Hadid : 4)
Jika realita kehidupan selalu disertai oleh dalil pada ayat ini maka akan menjadikan
hatinya dan seluruh tubuhnya hidup; menghadirkan kebersamaan Allah dalam dirinya,
Dia Maha Mengetahui terhadap seluruh jiwanya, geraknya dan keadaannya, sehingga
dirinya akan selalu istiqomah atas manhaj Allah, merasa diawasi dan takut kepada-Nya.
Ayat tersebut secara faktual akan dapat menyinari kehidupan dan membuat jalan hidup
manusia menjadi cerah.
Kisah-kisah Al-Quran yang menceritakan tentang umat pada masa lalu dan preilaku-
perilaku mereka juga memiliki sisi realita masa depan, seakan dengan membicarakan
keadaan manusian dan sifat-sifat mereka dan karakteristik kehidupan mereka, seorang
pembaca dapat menjadikannya sebagai pelajaran dalam beraqidah, berda’wah, bergerak,
memberikan inspirasi tentang pendidikan, ghazwah dan jihad, serta memberikan
pengetahuan tentang karakterstik Al-Quran dan cahayanya yang mampu menyingkap
berbagai wawasan dan petunjuk.
Kita berharap kepada Allah menolong kita dalam mempersiapkan aktualisasi tentang
kisah-kisah dalam Al-Quran dan menjadikannya sebagai pelajaran dan ibroh dalam
beraqidah, berda’wah, bergerak dan berjihad. Contoh dari kisah dalam Al-Qur’an
adalah “Ma’a qishos As-Sabiqin fi Al-Quran” akan di dapat berbagai pelajaran yang
unik, untuk dapat dijadikan pegangan hidup di masa mendatang.
Kami mengajak para pembaca untuk memperhatikan sisi aktualisasi terhadap ayat-ayat
berikut ini:
Dalam kisah nabi Ibrahim Allah berfirman :
¸ = ¸ ` ·` ¸ , ¯ , · ¸ ·· ` ¸ · , · . ` ,` ·` , ¯ , _ · ` · , ·
` ,, · ,` , ¸ ` · ¸ `, . .,` ,` , ` ,` , · ¸` ¸` ,` · ' _ · · , ,` ' · , ·


al-ikhwan.net Abu Ahmad
“Mereka berkata : “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan
kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim. Mereka berkata : “kami
dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.
Mereka berkata : “(kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang
banyak, agar mereka mau menyaksikan”. (Al-Anbiya : 59-61)
dan Firman Allah tentang kisah ashabul kahfi:
· , · ` ,` · ` , ¯ ` ,` ,` · ¸ · ¸ · ` ,` , ` , , , . , ` ,` · · · , : ¯ ,
` , ´ · _ , , ` , ¯ - ' , · ·` , · ` ,` · , ` , ` · ' ` , ´' , _ , · ¸ ·` ,, ¸` · , ` , ' ·`,,
' ` , =` , · · , _ ¸ · · ` . = , , ` ·` · ¸ ·` _ , , ` , ´ ' , · ·· ~ _ ¯` _ ' ,',
- ' ` , ´ , . , ·` `, , . ` , ' ` , ¯,` ` -` ,, ` , ´` , · ,` , , =, . ¸ ` ,` ,` ¸
, ' · ¸ ,` - ` ` ¸ , ` , , · ¸ · ` , ¯,` , ·`,
“Mereka berkata : Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada
(disini). Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa
uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka
hendaklah dia membawa makanan itu untukmu,d an hendaklah dia berlaku lemah
lembut dan janganlah sekali-kali memberitakan helmu kepada seorangpun.
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan
melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, danjika
demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”. (Al-Anbiya : 19-20)
dan firman Allah pada saat men yeru nabi Zakaria untuk memberikan rizkinya kepada
anak kecil : “…Maka anugrahilah aku dari sisi Engkau. Yang akan mewarisi aku dan
mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang
diridloi” (Maryam : 19-20)
Alalh berfirman tentang raja fir’aun yang menjadi contoh nyata bagi setiap pemimpin
yang zhalim dan pemimpin yang durjana :
` ,` ,` · · ~ ` . ·` . ` , · , , ` · ' ¸ · - , ¸` _ ' ¸ · · .` , ·` , · . ¸
¸, ` ¸ · . ¯ ` ·` ¸ ` ,` · . ¸ ,` - ` , , ` ,` · . ` , ' ` _` , `,
“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan
penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih


al-ikhwan.net Abu Ahmad
anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yan gberbuat kerusakan”. (Al-Qoshosh:
4)
Allah berfirman tentang penyiksaan dan penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang
kafir terhadap orang-orang beriman:
., ´ -` ., ,` · ¯ ¸, ¸ · ,` ¯ ,` · ,` - ' ¸, . ¸ . ` , , , ,' , · · ¸ ,
.,` , · · , . ¸ , ´ · ,` ` ` , , ` · ' _ ¸ ,` ` · ¸ , . , · ` ,` ·` , ' _ · ¸ ,
., . . ` , · . ¸
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dulunya (di dunia)
menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman
lalu dihadapan mereka,mereka saling mengedip-ngedipkan. Dan apabila orang-orang
yang berdosa kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila
mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan : “ Sesungguhnya mereka itu
benar-benar orang-orang yang sesat”. (Al-Muthaffifin : 29-32)
Hendaknya pembaca Al-Quran memperhatikan sisi realita pada bidang ekonomi dalam
ayat berkut ini :
,, · ` ,` ·, ·` _` _ , · , · ` , ´ ` · ¸ · - ¸ ` , ´ ,` · ' . , ' ,` ` ,` ,
·,` ,` · · ` , · ` ,` , , , · , ` ,` ·,` ¯ ,
“Janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta
(mereka yang berada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok
kehidupan”. (An-Nisa : 5)
Sisi realitas tentang sunnah Rabbaniyah :
. ` ¸ · ¸ . ¯ , , ` , ,` , · ` - `, ` , ,` · ¯ ¸ , ¸` · ' . ' ` , ,
` ¸ ´ , ¸` _ ' , .,` ´, ,` ¯ , ` ,` · - ' · ,` , ¯
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka endustakan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
(ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. ( Al-A’rof :
96)
Sisi realitas tentang keluarga :
·` , ,` · , ´ . ' _ · · ` ¸` ·,` ` ` · , ¯ . , · ,` ,` · , ` ¸` ·,` , · ,
_ · ¯ ,` , - ·, · ` · ¸ ·` -, ,
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian apabila kamu tidak menyukai
mereka, (maka bersabarlah) kerena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal
Allah menjdaikan padanya kebaikan yang banyak”. (An-Nisa : 19)
Sisi realitas tentang ayat yang menetapkan akibat memerangi agama ini, kekalahan
tentaranya dimana saja mereka :
.,` , · ´ · , ¯ ` , , · _,` ' , ` · ` · , ` , , · , · ' , · _,` , · =` , .,` , ,`,
. · ¯ ¸,` _ · ` · , , =` , ` ¸ - ¸, · , ¸ ` , , ` · ,` _ ¸ ` _ ' ¸ ,` ·
., ¯ ,` ` · , ¯ ` , ,
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Alalh dengan mulut (ucapan-
ucapan) mereka. Dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang
kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama
yang benar agar Dia memenangkannya diatas segala agama-agama meskipun orang-
orang musyrik benci”. (As-Shof : 8-9)
Dan contoh-contoh lainnya…
14. Menghindarkan Diri Dari Materialisme Jahili
Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa di antara misi pokok Al-Quran adalah
membimbing umat dalam menghadapi kejahiliaan dan kebodohan yang ada
disekitarnya. Hal itu karena kejahiliaan tidak akan membiarkan umat Islam untuk bisa
hidup yang lebih baik namun akan terus memeranginya tanpa belas kasih. Dan hal ini
merupakan realita yang mesti disadari oleh seseoarang yang ingin mentadabburkan Al-
Quran, menoropong pada sejarah umat manusia sebelumnya, terutama tentang rekaman
peperangan antara para pendukung kebenaran dan pendukung kebatilan. Intinya adalah
memahami misi kongkret pergerakan Al-Quran, misi ini yang dapat membantu pembaca
dan pemerhati Al-Quran untuk mengenal sisi realitas nash-nash Al-Quran, pergerakan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
alam nyata, telaah tentang peristiwa kehidupan yang ada disekitarnya menurut tinjauan
Al-Quran.
Jika pembaca memahami hal tersebut diatas dan mau merenunginya maka pada
selanjutnya akan menghadapi musuh-musuhnya sesuai dengan Al-Quran, berinteraksi
dengan mereka menurut petunjuk-petunjuknya, memerangi mereka dengan cara dan
metode yang telah diajarkannya, menghindari diri dan berhati-hati terhadap tipu daya
dan konspirasi mereka, dan menjadikan Al-Quran Al-Karim secara keseluruhan sebagai
bekal utama, sehingga dengan izin Allah, Al-Quran akan mampu memberikan ini semua
dalam bentuk yang sempurna, detail dan teliti.
Inilah yang pernah dipraktekkan oleh para salafussalih dalam menghadapi musuh-
musuh Islam, mereka telah menemukan apa yang mereka inginkan di dalam Al-Quran,
mereka berhasil mengalahkan musuh, tegak berdiri diatasnya dengan penuh
kewibawaan, meraih kemenangan karena menyerahkan jiwa mereka kepada Al-Quran
untuk memimpin, mengarahkan dan menggerakkan jiwa mereka dalam setiap
peperangan.
Saat ini kita dapat melihat bahwa kekuatan materi jahiliah –yang disebut dengan
“Kebudayaan Barat” memperdaya –dengan menggunakan berbagai sistem, cara, metode
dan gaya- umat Islam, berusaha memerangi dengan berbagai sarana dan cara, menjajah
tempat-tempat strategis di negeri islam dengan berbagai taktik; baik politik, ekonomi,
akhlak, sosial, budaya dan pendidikan.
Namun, bagi sebagian umat Islam yang memiliki kesadaran tinggi –loyal terhadap
Islam, berpegang teguh pada aqidah, ibadah, sistem hidup yang sesuai dengan aturan
Islam- akan mampu bangkit dan barani melawan serangan yang berasal dari kekuatan
materi jahili, berdiri tegak untuk menghadang dan menolak penggunaan senjata dan cara
mereka.
Karena itu, bagi siapa yang ingin menghadapi serangan jahili ini seyogyanya menerima
Al-Quran dengan sepenuh hati..!! Agar dirinya bisa bergerak dan berjihad bersamanya,
memperhatikan sisi kekuatan materi jahili dan menghadapinya sesuai dengan petunjuk
Al-Quran. Memandang Al-Quran dengan pandangan yang dilakukan oleh Sayyid Qutb,
yang selalu merujuk pertolongannya dengan menelaah dan membaca Al-Quran dan
berhasil, karena itulah beliau berkata : “Saya hidup –di bawah naungan Al-Quran-
melihat keangkuhan jahiliyah yang bergerak di muka bumi ini, diiringi dengan
para pengikutnya yang hina dina, saya memperhatikan akan keheranan orang-orang
jahili terhadap pengetahuan mereka tentang anak-anak, wawasan anak-anak, dan
perhatian anak-anak, seperti halnya orang dewasa memandang anak-anak sebagai sosok
yang tidak memiliki faedah; baik perbuatannya, keceriaannya dan lain-lain. Saya
heran…apa yang dilakukan umat manusia saat ini?
Saya hidup dengan mengisi pandangan secara sempurna, menyeluruh, mulia dan
bersih terhadap alam ini…saya bandingkan dengan pandangan orang-orang jahiliyah di
Timur dan di Barat, di Utara dan di Selatan. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin


al-ikhwan.net Abu Ahmad
kehidupan manusia berada dalam kehinaan yang dalam seperti ini, kenistaan yang
mengenaskan, kegelapan yang gulita, padahal di sisinya ada penuntun yang bersih,
petunjuk yang tinggi dan cahaya yang terang benderang?” [1]
Saat seorang mu’min berhenti sejenak bersama Al-Quran memperhatikan kemajuan
jahiliyah dalam bidang materi, maka hatinya tidak akan pernah merasa gentar olehnya,
tidak merasa takut terhadapnya bahkan tidak akan pernah merasa terhina, cemas, putus
asa dan menyerah …namun dirinya akan selalu menyadari hakekat sebenarnya; atas
penyimpangan, kesesatan dan kehinaannya…atas kebimbangan dan keraguan.., dan atas
tipuan dan propagandanya…karena Al-Quran meletakkannya dihadapan orang beriman
dalam bentuk yang asli, aturan-aturan yang natural tanpa ada yang dibuat-buat.
Generasi kaum materialis jahili ini dalam pandangan Al-Quran adalah generasi yang
buta…, dan produksi yang mereka hasilkan oleh negara mereka adalah nilai-nilai
kebutaan :
` , ¯ , ` ¸ _ ` · ' ,` · ` ¸ ¯ ' ¸ - :` , _ ` ¸ · :` , ¸ ¸ ,` ' ` ' ` , ` ·, ` ¸ · ' ` , ¯ , ` ¸ _ ` · ' ,` · ` ¸ ¯ ' ¸ - :` , _ ` ¸ · :` , ¸ ¸ ,` ' ` ' ` , ` ·, ` ¸ · ' ` , ¯ , ` ¸ _ ` · ' ,` · ` ¸ ¯ ' ¸ - :` , _ ` ¸ · :` , ¸ ¸ ,` ' ` ' ` , ` ·, ` ¸ · ' ` , ¯ , ` ¸ _ ` · ' ,` · ` ¸ ¯ ' ¸ - :` , _ ` ¸ · :` , ¸ ¸ ,` ' ` ' ` , ` ·, ` ¸ · '
. ' , , ' . ' , , ' . ' , , ' . ' , , '
“Adakah orang yang mengetahu bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu itu benar sama orang yang buta ? Hanyalah orang-orang yang berakal saja
yang dapat mengambil pelajaran”. (Ar-Ra’d : 19)
Misi, tujuan dan ambisi hidup mereka tidak lain kecuali senda gurau dan sandiwara :
.,` · , ¸ ¸` , - ¸ · ` ,` · ¸, .,` · , ¸ ¸` , - ¸ · ` ,` · ¸, .,` · , ¸ ¸` , - ¸ · ` ,` · ¸, .,` · , ¸ ¸` , - ¸ · ` ,` · ¸,
“(yaitu) orang-orang yang bermain dalam kebatilan”. (Ath-Thur : 12)
,` , , · ` ,` , , · , -` ¸, _ · , ,` , , · ` ,` , , · , -` ¸, _ · , ,` , , · ` ,` , , · , -` ¸, _ · , ,` , , · ` ,` , , · , -` ¸, _ · ,
“Dan Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama sebagai main-main dan
senda gurau…” (Al-An’am : 70)
Mereka pada hakekatnya seperti binatang, baik dalam kehidpan dan akal mereka :
. ¸ . ¸ . ¸ . ¸ .,` ·` ,`, ` ,` , · ,` , ¯ ¸, · ` · ` . ,` ` , .,` ·` ,`, ` ,` , · ,` , ¯ ¸, · ` · ` . ,` ` , .,` ·` ,`, ` ,` , · ,` , ¯ ¸, · ` · ` . ,` ` , .,` ·` ,`, ` ,` , · ,` , ¯ ¸, · ` · ` . ,` ` ,


al-ikhwan.net Abu Ahmad
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk disisi Allah adalah orang-orang
kafir, karena mereka itu tidak beriman”. (Al-Anfal : 55)
Mereka makan, minum dan hidup layaknya seperti binatang :
` ,` , ¸ , · · ` _` , ` · ·` ' ¸ ¯ ' ¯ ., ¯ ', , .,` ·` , ,` , ¯ ¸, , ` ,` , ¸ , · · ` _` , ` · ·` ' ¸ ¯ ' ¯ ., ¯ ', , .,` ·` , ,` , ¯ ¸, , ` ,` , ¸ , · · ` _` , ` · ·` ' ¸ ¯ ' ¯ ., ¯ ', , .,` ·` , ,` , ¯ ¸, , ` ,` , ¸ , · · ` _` , ` · ·` ' ¸ ¯ ' ¯ ., ¯ ', , .,` ·` , ,` , ¯ ¸, ,
“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan
seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”.
(Muhammad : 12)
Binatang yang dipimpin oleh syaitan dan tunduk dan berserah diri kepada syaitan
seperti halnya binatang yang dituntun oleh pemiliknya saat digiring dengan tongkatnya
` ¸ · ` ¸ · .` ·` , ¯ ¸ · : `, ' _ ' ¸ · ` ¸ · ` ¸ · .` ·` , ¯ ¸ · : `, ' _ ' ¸ · ` ¸ · ` ¸ · .` ·` , ¯ ¸ · : `, ' _ ' ¸ · ` ¸ · ` ¸ · .` ·` , ¯ ¸ · : `, ' _ ' ¸ · · · , ·` ,, _ ¸ ¸ ` ,` - ' · · , ·` ,, _ ¸ ¸ ` ,` - ' · · , ·` ,, _ ¸ ¸ ` ,` - ' · · , ·` ,, _ ¸ ¸ ` ,` - '
, · ¸ ` · `,` _ · ` ¸ ´ ` - ' , · ¸ ` · `,` _ · ` ¸ ´ ` - ' , · ¸ ` · `,` _ · ` ¸ ´ ` - ' , · ¸ ` · `,` _ · ` ¸ ´ ` - '
“Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya
benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”. (Al-Isro : 62)
Mereka seperti anak kecil dalam berfikir dan berprilaku, kesenangan mereka hanyalah
bermain, dan mereka tertipu oleh keindahan dunia seperti halnya anak kecil yang mudah
terpedaya:
,`, ` ¸ - , ¸` , ¸ ~ , ' ,` · ´ ¸ ¸ ´ · - : ¯ , ,`, ` ¸ - , ¸` , ¸ ~ , ' ,` · ´ ¸ ¸ ´ · - : ¯ , ,`, ` ¸ - , ¸` , ¸ ~ , ' ,` · ´ ¸ ¸ ´ · - : ¯ , ,`, ` ¸ - , ¸` , ¸ ~ , ' ,` · ´ ¸ ¸ ´ · - : ¯ , ` ,` ,` .` · , ¸ - ` ,` ,` .` · , ¸ - ` ,` ,` .` · , ¸ - ` ,` ,` .` · , ¸ -
· , ` ,` ·` _ · ` ·, · · · :' , _ . ` , , _,` , · ¸` , ` ,` -` _ ¸ ¸` · , _ ¸ · , ` ,` ·` _ · ` ·, · · · :' , _ . ` , , _,` , · ¸` , ` ,` -` _ ¸ ¸` · , _ ¸ · , ` ,` ·` _ · ` ·, · · · :' , _ . ` , , _,` , · ¸` , ` ,` -` _ ¸ ¸` · , _ ¸ · , ` ,` ·` _ · ` ·, · · · :' , _ . ` , , _,` , · ¸` , ` ,` -` _ ¸ ¸` · , _ ¸
.,` , , .,` , , .,` , , .,` , ,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tia-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan
(dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada
sebahagian lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)…”.
(Al-An’am : 112)
Mereka merasa dirinya orang berilmu dan mengklaim sebagai orang yang pandai dalam
keilmuan, sistematis dan teoritis namun mereka sama sekali tidak merasakan
kenikmatan darinya, sekiranya mereka melihat sebagian darinya saja untuk dapat


al-ikhwan.net Abu Ahmad
menuntun mereka dalam memandang dunia dan kehidupannya untuk selalu tunduk
secara kaffah dan sepenuh hati kepada Allah yang sesuai dengan manhaj agama ini.
Maka permualaan yang baik akan memberikan kepada orang yang berakal dan hidup
seimbang hasil yang baik pula, namun sebaliknya, mereka akan mendapatkan hasil yang
bathil dan salah :
= ¸ · - , ¸` _ ' , . , ` ¸ - ¸ · ` ` - = ¸ · - , ¸` _ ' , . , ` ¸ - ¸ · ` ` - = ¸ · - , ¸` _ ' , . , ` ¸ - ¸ · ` ` - = ¸ · - , ¸` _ ' , . , ` ¸ - ¸ · ` ` - ` , _,' , . ` , _,' , . ` , _,' , . ` , _,' , .
., ` ·, ` , ,` , , , ,` , ¯ ¸, ., ` ·, ` , ,` , , , ,` , ¯ ¸, ., ` ·, ` , ,` , , , ,` , ¯ ¸, ., ` ·, ` , ,` , , , ,` , ¯ ¸,
“Segala puji bagi Allah Yang teleh menciptakan langit dan bumi,d an mengadakan
gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan
Tuhan mereka”. (Al-An’am :1)
Mereka adalah orang yang linglung , yang berprilaku kasar dan sangar dalam
memerangi agama dan para penganutnya, karena mereka pada hakekatnya memerangi
Allah, jauh dari cahaya ilahi…apakah ada yang melakukan ini sedang ia memiliki akal
yang jernih dan lurus ?
Sesungguhnya Allah menghinakan dan mencela mereka dengan akal mereka sendiri,
menghujamkan di dalam hati mereka perasaan putus asa, saat melihat kemenangan
orang-orang beriman dalam perang yang mereka lakukan, apalagi setelah mengeluarkan
harta begitu banyak namun sia-sia, terjun ke kancah peperangan namun hasilnya sangat
menyedihkan, betapa banyak kerugian dan kesedihan yang mereka rasakan, mereka
mati dalam kemarahan.
¸, ` ¸ · ,' ` . , ` ,` , ,` · ' ., ``, ,` , ¯ ¸, . ¸ ¸, ` ¸ · ,' ` . , ` ,` , ,` · ' ., ``, ,` , ¯ ¸, . ¸ ¸, ` ¸ · ,' ` . , ` ,` , ,` · ' ., ``, ,` , ¯ ¸, . ¸ ¸, ` ¸ · ,' ` . , ` ,` , ,` · ' ., ``, ,` , ¯ ¸, . ¸ ` , , , ` ` , · · ` , , , ` ` , · · ` , , , ` ` , · · ` , , , ` ` , · ·
.,` , ` -`, ,` , - _ ¸ ,` , ¯ ¸, , .,` ` ·`, ` , · ,` - ` , ,` , · ., ´ .,` , ` -`, ,` , - _ ¸ ,` , ¯ ¸, , .,` ` ·`, ` , · ,` - ` , ,` , · ., ´ .,` , ` -`, ,` , - _ ¸ ,` , ¯ ¸, , .,` ` ·`, ` , · ,` - ` , ,` , · ., ´ .,` , ` -`, ,` , - _ ¸ ,` , ¯ ¸, , .,` ` ·`, ` , · ,` - ` , ,` , · ., ´ . .. .
¸ ¸` · , _ · ` · .` · , ., - ¸ ·` -, , .` , = ¸ · ., - ` · ,, , ¸ ¸` · , _ · ` · .` · , ., - ¸ ·` -, , .` , = ¸ · ., - ` · ,, , ¸ ¸` · , _ · ` · .` · , ., - ¸ ·` -, , .` , = ¸ · ., - ` · ,, , ¸ ¸` · , _ · ` · .` · , ., - ¸ ·` -, , .` , = ¸ · ., - ` · ,, ,
, - ¸ · ` · ·` - , · ·, - ` · ¯` , , · , - ¸ · ` · ·` - , · ·, - ` · ¯` , , · , - ¸ · ` · ·` - , · ·, - ` · ¯` , , · , - ¸ · ` · ·` - , · ·, - ` · ¯` , , · .,` , - ` ,` · : · , ' ,` .,` , - ` ,` · : · , ' ,` .,` , - ` ,` · : · , ' ,` .,` , - ` ,` · : · , ' ,`
”Sesungguhnya orang-orang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi
(orang) di jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan
bagi mereka,d an mereka akan dikalahkan. Dan kedalam neraka jahanamlah orang-
orang yang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golonga) yang buruk dari
yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang


al-ikhwan.net Abu Ahmad
lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka
jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Anfal : 36-37)
15. Memperluas Penafsiran Al-Quran Yang Mencakup Sirah Dan Kehidupan
Para Sahabat
Sebagian pelajar dan pemerhati Al-Quran terbatas pengetahuannya dalam menafsirkan
pada jaman Rasulullah saw dari sisi teori saja sehingga mereka mencarinya dalam kitab-
kitab hadits dan kitab-kitab tafsir bil ma’tsur yang terdapat pada riwayat-riwayat dan
hadits-hadits dari Rasulullah saw yang berhubungan dengan penjelasan makna ayat Al-
Quran atau hukum Al-Quran dan sebagian mereka ada merasa cukup dengan itu semua
sebagai contoh dari tafsir Rasulullah saw, kemudian setelah menuju kepada pendapat
dan ucapan para sahabat dalam menafsirkan Al-Quran, mereka membatasinya pada
penjelasan dari para sahabat terhadap makna kalimat yang asing atau tentang asbabun
nuzul (sebab-sebab turun ayat) saja, penjelasan tentang hukum, tentang ayat-ayat nasikh
dan mansukh atau lain sebagainya…riwayat-riwayat ini dapat kita temukan dalam kitab-
kitab hadits dan sunah. Seperti yang termaktub dalam kitab-kitab tafsir bil ma’tsur;
yaitu kitab “Al-Jami’ Al-Bayan”, Imam Thobari, kitab “Tafsir Al-Quran Al-‘adzim”
Imam Ibnu Katsir, dan kitab “Ad-Dur Al-Mantsur Fi Tafsir bil Ma’tsur” Imam
Suyuthi…
Sesungguhnya tafsir di jaman Rasulullah saw dan para sahabat tidak terbatas pada sisi
teori saja karena mereka tidak membatasinya seperti itu, betapa kerugian yang menimpa
kita kalau kita membatasi pada teori saja…padahal mereka –Nabi dan para sahabat-
paling jeli terhadap Al-Quran daripada kita, lebih banyak memahami tujuan
diturunkannya Al-Quran daripada kita, lebih erat ikatan dan ketergantungannya dengan
Al-Quran daripada kita, dan paling gigih dalam berinteraksi dan mempraktekkan isi
kandungan Al-Quran dari pada kita, namun mereka juga menjadikan petunjuk-petunjuk
teoritis kepada hakekat-hakekat yang hidup sehingga mereka menjadi gambaran yang
nyata dan hidup terhadap nash-nash Al-Quran dan ayat-ayatnya…
Tafsir pada jaman Rasulullah dan para sahabat mencakup pada berbagai aspek ;
1. Aspek teori yaitu seperti yang kita telah sebutkan sebelumnya;
2. Aspek amali dan praktek; yaitu bahwa Rasulullah saw hidup dengan Al-Quran
secara amali, beliau sangat bersemangat dalam mengamalkan petunjuk-petunjuk dan
hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, melaksanakan perintah-perintah dan
kewajiban-kewajiban yang diisyaratkan olehnya, seakan sejarah kehidupan dan amalnya
merupakan tafsiran pertama terhadap ayat-ayat Al-Quran…karena itu Sayyidah Aisyah
RA yang mulia dan cerdas, luas akan pandangan dan wawasannya saat menjawab
pertanyaan yang dilontarkan kepadanya tentang akhlak Rasulullah saw, beliau berkata :
“Akhlak beliau adalah Al-Quran” seakan sesuai dengan apa yang k ita isyaratkan
bahwa sirahnya, kehidupannya, akhlaknya dan prilakunya merupakan tafsiran dari
petunjuk ayat-ayat Al-Quran…


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Dan dengan pemahaman tafsir ini kita bisa melihat akan adanya hubungan para sahabat
dengan Al-Quran, antusiasme mereka dalam hidup secara nyata berinteraksi dengan Al-
Quran setiap hari, mereka adalah generasi yang unik yang begitu giat berinteraksi
dengan Al-Quran secara nyata, Al-Quran hadir dalam kehidupan mereka.
Mungkin kita bisa mengambil intisarinya dari gambaran hidup yang sempurna
adalah karena interaksi para sahabat dan ketinggian iman mereka, komitmen amali
mereka, kekhilafan dan kesalahan mereka yang langsung diperbaiki oleh Al-Quran saat
itu juga…Seseorang yang mempelajari sebab-sebab turunnya ayat dalam sejarah
kehidupan Rasulullah saw, baik dalam perang dan jihadnya, dan kitab yang
menceritakan tentang kehidupan para sahabat, peringkat dan derajat mereka…akan
didapati banyak sekali kemuliaan, yang membenarkan bahwa kehidupan mereka adalah
tafsir amali ayat-ayat Al-Quran…kenapa kita menjauhi harta karun yang begitu
berharga ini, yang hanya puas dengan lafadz-lafadz dan kalimat-kalimat yang dinukil
dari tafsir Al-Quran saja ? padahal banyak dari kitab tersebut yang belum jelas
kebenarannya ?
Maka dari itu ketika para pembaca dan pemerhati Al-Quran hendaknya memperluas
wawasannya terhadap Al-Quran, memasukkan di dalamnya setiap sejarah kehidupan
Rasulullah saw dan kebiasaannya, perilaku dan akhlaknya, dan seluruh kehidupan para
sahabat yang diriwayatkan secara benar tentang interaksi mereka dengan Al-Quran,
kesungguhan dan kegigihan mereka untuk bisa bertahan di atas bentang yang diberikan
kepada mereka; yaitu Al-Quran…dan pada saat itu juga pembaca akan dapat mengambil
faedah yang banyak sekali; baik secara tafsiriyah (ilmu tafsir), tarbawi –pendidikan-,
sulukiyah –prilaku-, imaniyah –keimanan dan amaliyah –praktek…
16. Merasakan Bahwa Al-Quran Ditujukan Kepadanya
Sebelumnya kami telah menyebutkan dalam adab-adab membaca Al-Quran bahwa
seseorang yang ingin membaca Al-Quran harus merasakan bahwa Al-Quran ditujukan
kepadanya, bahwa objeknya adalah dirinya sendiri…dalam pembahasan ini akan kami
sampaikan urgensi merasakan Al-Quran ditujukan kepadanya guna memperbaiki diri
dalam mentadabburkan Al-Quran, berinteraksi dengannya dan memahaminya nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya…
Sebelum membicarakan hal tersebut alangkah baiknya kita melihat apa yang diucapkan
oleh imam Al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin”; beliau berkata: “At-Takhsis”
adalah kemampuan mengukur dan menganalisa, bahwa dirinya adalah yang dimaksud
pada setiap khitab –ayat-ayat- dalam Al-Quran, jika mendengar suatu perintah atau
larangan maka seakan hal tersebut ditujukan kepadanya, jika mendengar ayat tentang
janji atau ancaman yang dirasakan adalah tertuju kepadanya, jika mendengar tentang
kisah umat masa lama dan kisah para nabi dia menyadari bahwa yang dimaksud
bukanlah sekedar cerita, namun yang diinginkan adalah mengambil pelajaran dan
mengambil ibrah dan berbagai manfaat yang sangat dibutuhkan…” sampai pada
perkataan beliau : walaupun jika yang ditujukan dalam ayat adalah seluruh manusia
maka seorang pembaca menyadari yang dimaksud adalah dirinya sendiri, karena


al-ikhwan.net Abu Ahmad
itu, walaupun untuknya atau seluruh manusia maka rasakanlah bahwa itu semua adalah
untuk dirinya, Allah SWT berfirman :
` ¸ · , · , ` , ¯ _ ` . .¯` , · ¸ ¸ ¸ -, ' , _ ,
“…Dan Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi
peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Al-Quran (kepadanya)…”. (Al-
An’am : 19)
Muhammad bin Ka’ab Al-Qurtubi berkata : “Barangsiapa yang samapi kepadanya Al-
Quran maka sesungguhnya Allah berbicara kepadanya…jika dapat melakukan ini
semua apa yang belum dapat dilakukan dari membaca Al-Quran melalui perbuatannya
namun hanya sekedar membacanya sebagaimana seorang hamba sahaya yang membaca
buku yang ditulis tuannya kepadanya dengan penuh ketenangan dan mengamalkan apa
yang adal di dalam surat tersebut…
Sebagian ulama lainnya berkata : Al-Quran ini merupakan surat-surat yang diberikan
kepada kita dari Tuhan kita dengan benar, maka renungkanlah dalam setiap sholat,
menelaahnya dalam setiap langkah, melaksanakan dan mengamalkan dalam setiap amal
yang menuju pada ketaatan…” (Ihya Ulumuddin : 1 : 517-518 secara ringkas)
Pembaca Al-Quran yang beriman ditntut untuk menelaah melalui pandangan ini,
berinteraksi bersamanya dengan pedoman ini, menyingkap rahasia yang terkandung
dengan menggunakan kiat ini…kalau setiap pembaca Al-Quran melakukan ini semua,
maka niscaya akan mendapatkan bekal yang banyak dan benar; baik dalam keimanan,
komitmen, amal dan aktivitas, dan akan menjadi pribadi yang unik, amali –aktif-,
bermanfaat dan memiliki wibawa…
Namun yang menjadi ironi adalah hubungan kaum muslimin saat ini dengan agama
mereka dan Al-Quran bahkan hubungan mereka dengan Allah bertolak belakang dengan
kaidah di atas…bahwa sebagian mereka ada yang tidak merasa bahwa dirinya adalah
yang dimaksud dalam perintah atau ajakan, bahwa dirinyalah yang dituntut oleh Al-
Qur’an, bahwa dirinya secara pribadi yang dimaksud…namun sayangnya, mereka
merasa bahwa objek yang dimaksud adalah untuk si Fulan atau si Alan…dirinya
melemparkan tanggung jawab bahkan menafikan objek yang dituju kepadanya untuk
diarahkan kepada orang lain…dia memberikan kewajiban-kewajiban yang ditujukan
kepadanya kepada orang lain setelah dirinya merasa tidak mampu mengamalkannya
karena memang tidak mau berinteraksi dengannya dan melapangkan dadanya agar
dirinya bisa komitmen dengannya…
Jika membaca ayat-ayat tentang kisah masa lalu maka hal itu dianggap hanya sekedar
cerita umat masa lalu, jika membaca ayat yang berhubungan dengan perintah atau
pembebanan atas Rasulullah saw, maka dianggap hanya khusus untuk Rasulullah saw.
Jika dalam ayat terdapat potongan kisah para sahabat maka dianggap sebagai kisah


al-ikhwan.net Abu Ahmad
mereka saja…dan jika mendengar ayat : “Wahai orang-orang yang beriman..” maka
menurutnya hanya ditujukan kepada para sahabat atau orang-orang yang beriman di
negara lain, ayat-ayat tentang zakat, sedekah hanya untuk orang yang punya –kaya-
saja. Ayat tentang hukum, komitmen dan taat kepadanya hanya ditujukan untuk para
pemimpin saja. Ayat tentang jihad dan perang hanya ditujukan untuk para prajurit saja.
Ayat tentang loyalitas, cinta dan kemenangan hanya untuk para politikus. Ayat tentang
da’wah dan pidato –ceramah- hanya untuk para syekh dan ulama saja..demikian
seterusnya..dan jika seorang muslim tidak merasa dirinya bukan yang dimaksud pada
ayat dan tidak merasa dituntut dalam suatu hukum bahkan tidak merasa diberikan
beban, maka jika sampai pada orang lain mereka pun akan merasa seperti itu dan boleh
jadi akan mereka alihkan kepada orang lain. Sehingga yang kita dapati adalah bahwa
Al-Quran hanya ditujukan ke planet lain, kepada umat yang ada dalam mimpi, khayal
dan dongeng belaka…
Maka dari itu pembaca Al-Quran yang jeli hendaknya meyakini bahwa dirinyalah yang
dimaksud oleh ayat, Al-Quran hanya tertuju kepadanya, khusus untuknya, hanya dia
objeknya, dirinya yang dituntut dan diajak bicara…saat membaca, bukan perangkat
yang ada dalam dirinya yang siap menerima, memenuhi panggilannya dan mentaati
segala perintah dan arahan-arahannya tapi seluruh jiwa dan raganya, fikiran dan
hatinya…
Allah berfirman:
` , ,, . ¸ , ` ¸ - ,` , · , ¸` _ ' ¸ · .,`,` ´ , ¸, ¸ , ¯ ` ¸ · ` ,` . '
, , ` ·, -` , ` ' , ¸, ` , ,, . ¸ , , , ,` ·` ,`, ¸ ·, ¯ ¸ ¯ ` , ,, . ¸
,` · ,` ¯ , , ¯ , ,` , ¯ ` ,` ,` ' , : · , ` ·, -` , ` ¸ · ¸,
¸ · · . ¸ · ` ,` , ` · ' ` . = - · , - ¯ . , , ¯ , ,` , ¯ ¸, ,
., ` ·, ,` ¯ · ¸ .` , ,` -`,
“Aku (Allah) akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka
bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat
tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan
yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka
melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. yang demikian itu adalah karena
mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya. Dan orang-
orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-
sialah perbuatan mereka. mereka tidak diberi Balasan selain dari apa yang telah
mereka kerjakan”. (Al-A’raf:146-147)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
17. Memiliki Adab Yang Baik Terhadap Al-Quran
Al-Quran adalah kalam Allah, Dialah yang membantu seseorang dari makhluk-Nya
untuk bisa Talaqqi –bertatap muka langsung- dengannya – Al-Quran- bagi siapa
yang mau melintasi jalan yang Allah telah jelaskan, menggapai rahmat dan hidayah-
Nya, serta meraih pahala, kasih sayang dan ridha-Nya, dengan menghadirkan dalam
dirinya berbagai sarana dan perangkat untuk dapat memahami dan mentadabburkan Al-
Quran, sehingga tidak ada dalam dirinya penghalang, tirai atau dinding yang menutupi
dirinya dari Al-Quran dan sentuhan-sentuhannya…
Pembaca Al-Quran hendaknya meyakini bahwa bisa memahami Al-Quran adalah
merupakan ni’mat yang begitu besar dan mulia yang telah Allah anugrahkan dan
karuniakan kepadanya, merupakan pemberian dan rahmat-Nya yang tiada terhingga…
sehingga dengannya mendapatkan pemahaman, melakukan talaqqi, mampu tadabburkan
Al-Qur’an dan mampu “menafsirkan” Al-Qur’an, dan hal tersebut -tentunya-
merupakan kemenangan yang datang dari Allah, yang dengannya dapat membuka atas
siapa yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya menjadi pemilik kemenangan, dan
sarana terbaik menggapai limpahan karunia yang lainnya. Karena sesungguhnya
pemahaman, tadabbur dan tafsir merupakan cahaya yang datang dari Allah, rahmat dan
hadiah dari Allah yang tidak diberikan kepada ahli maksiat karena rahmat Allah tidak
akan membuka hati mereka…
Kami sebutkan disini ungkapan Imam Abu Thalib At-Thabari pada awal-awal tafsirnya
–seperti yang ditulis oleh Imam Suyuti dalam kitabnya “Al-Itqon”- tentang masalah
syarat-syarat dan adab-adab abagi seorang para pembaca, pemerhati, mufassir Al-
Qur’an. Yang mana hal tersebut cocok untuk para mutadabbir –pemrhati- Al-Quran dan
yang ingin berinteraksi secara baik dengannya, beliau berkata : “Ketahuilah bahwa
diantara syarat-syaratnya adalah aqidah yang bersih, komitmen yang tinggi terhadap
perintah agama yang terdapat di dalamnya, karena jika ia adalah seorang yang plin-plan
terhadap agamanya maka tidak memiliki amanah atas kehidupan dunianya maka
bagaimana mungkin dapat melaksanakan amanah terhadap agamanya, tidak memiliki
amanah pada berita-berita dari seorang yang alim, maka bagaimana bisa amanah pada
rahasia-rahasia Allah -karena dia tidak beriman- jika hanya dituduh sebagai orang yang
ingkar –mencari fitnah, memperdaya menusia dengan tipuan dan muslihatnya…sampai
pada ungkapannya : “dan diantara syaratnya adalah niat yang suci dari apa yang akan
diucapkan, Allah SWT berfirman :
¸ ` -` _ · . ¸ , ` ` ` ,` ,` , ` , , · ,` · - ¸, ,
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berada di jalan Kami maka akan Kami
tunjukkan jalan Kami kepadanya”. (Al-Ankabut : 69)


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Yaitu ikhlas dalam niat. Karena jika ada kecendrungan lain di dalamnya maka tidak
menjamin dirinya akan sampai pada tujuan yang dapat menghalanginya menuju
kebenaran yang diinginkan, hingga dapat merusak kesempurnaan amalnya… [2]
Sebelumnya, telah kita bicarakan tentang kiat yang mendesak untuk bisa berinteraksi
dengan Al-Quran, yaitu seorang pembaca masuk ke alam Al-Quran tanpa diiringi oleh
background masa lalu, hal tersebut memiliki keterkaitan dengan dasar yang ditetapkan
disini. Jika disana ada syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu tempat masuk yang baik
ke alam Al-Quran, memiliki persiapan yang prima dan hubungan yang baik
kepadanya, maka disini syaratnya adalah tetap tinggal bersamanya (tsabat) secara
baik, berhadap-hadapannya dengannya secara baik, berusaha menggapai
cahayanya secara baik, berinteraksi bersamanya secara baik guna mendapatkan karunia
Allah, Rahmat-Nya dan anugrah-Nya…sesungguhnya hawa nafsu, bid’ah, kesesatan
dan pen yimpangan merupakan penghalang dan penutup hati pemiliknya terhadap
cahaya Al-Qur’an, dan kemungkaran, perbuatan haram, maksiat dan dosa merupakan
penutup dan penghalang juga diri seseorang terhadap hidayah Al-Qur’an. Adapun buruk
dan jeleknya niat dan motivasi seseorang, serta niat yang tidak benar dalam berinteraksi
dengan Al-Quran, maka manjadi sarana semakin jauh dirinya terhadap Al-Qur’an.
Karena itu, niat harus ikhlas karena Allah, berusaha terus melakukan taubat, memohon
pertolongan kepada-Nya dan talaqqi darinya untuk dapat mengambil manfaat dan
faedah dari apa yang terkandung dalam Al-Qur’an…Hendaknya juga jangan
menafsirkan atau memahami Al-Quran sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya terutama yang bertentangan dengan petunjuk-petunjuk Al-Quran, tidak
karena karena hawa nafsunya, dan tidak mengedepankan kecendrungan dan
kecondongan yang tidak ditetapkan oleh Al-Quran…namun seseorang hendaknya
berusaha memahami perintah-perintah Allah dari kalam-Nya, mengambilnya,
berinteraksi dengannya dan komitmen dengannya, karena sesungguhnya hal tersebut
tidak bisa diterima oleh seseorang yang ingin memahami dan berinteraksi dengan Al-
Qur’an atas dasar kemaslahatan oportuniti dan maslahat pribadi, memperlakukannya
hanya untuk kepentigan materi dan kehidupan duniawi saja, mengedepankan hawa
nafsu dan syahwat, mengikat nash-nash Al-Qur’an dengan ilmu dan pengetahuan yang
bertentangan dengan Al-Quran…mereka itulah yang dirinya akan tertutup oleh Al-
Quran; yang salah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an…
18. Mendokumentasikan Nilai-nilai Dan Ma’ani yang terkandung Dalam Al-
Quran
Saat pembaca berinteraksi dengan Al-Quran dengan segala kemampuannya,
berkomunikasi dengannya secara seksama, memenuhi seruannya dengan penuh
kesungguhan, maka dirinya akan dapat memetik nilai-nilai dan sentuhan-sentuhan yang
terkandung dalam Al-Quran, merasuk ke dalam jiwanya dan perasaannya percikan-
percikan hidayah dan dalil-dalilnya, merasakan keindahan ayat-ayatnya, meraih
ketenangan dan kebahagiaan jiwa, dan mendapatkan manisnya keimanan, ketentraman
dan keyakinan…


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Ada sesuatu yang diraihnya, dirasakannya dan dicapainya mungkin saja bisa hilang dan
berakhir serta sirna dari dirinya, tapi tidak dengan ayat-ayat Al-Qur’an, karena
seseorang akan menemukan nilai-nilai yang baru dan mendapatkan cita rasa yang
berbeda dengan yang lainnya, namun itupun akan hilang dan berakhir jika dirinya
meninggalkan Al-Quran dan mengalihkan diri kepada dunia berupa kesibukan dan
aktivitas, Al-Qur’an akan hilang dan sirna jika syaitan menjerumuskannya pada
kemaksiatan, kelalaian dan syahwat…
karena itu kepada pembaca Al-Quran hendaknya merekam apa yang dirasakannya
pertama kali, merengkuhnya dengan erat petunjuk-petunjuk yang telah diraihnya,
memegang dengan erat percikan hidayah yang telah didapatkannya, berusaha
mendalami dan menghafal nilai-nilai dan hakekat-hakekat ini sebelum ia lupa dan
melakukan kegiatan lainnya. Dan bersamaan dengan itu semua, kelak dirinya akan
meraih dua kebahagiaan: kebahagiaan saat bisa hidup di bawah naungan Al-Quran dan
merasakan kenikmatan bersamanya, dan kebahagiaan saat mampu menyimpan di dalam
jiwanya, mampu menggapainya, mampu merasakan anugrahnya dan petunjuk yang ada
di dalamnya, sehingga dapat dijadikan harta karun yang berharga dan pundamental,
kaya akan ilmu, pengetahuan, nilai-nilai dan keyakinan, serta dapat membantunya saat
ia kembali kepadanya dan membutuhkannya guna menambah perbekalan, pelita
kebenaran, kepercayaan, keimanan dan keteguhan…
Kepada para pembaca hendaknya saat membaca Al-Quran ada disisinya secarik kertas
atau buku catatan sehingga dapat mencatat setiap apa hal-hal penting yang ditemui, dan
hendaknya jauhkan diri dari niat- khususnya saat melakukan tadabbur seperti yang telah
saya katakan sebulumnya- menyelesaikan satu ayat atau beberapa ayat dalam waktu
yang singkat, bergegas mengkhatamkan bacaan dalam waktu yang singkat,
sehingga dapat menjadi penghalang untuk bisa mentadabburkan Al-Quran secara
seksama, karena kuantitas bacaan Al-Quran dan berusaha membacanya sebanyak
mungkin secara cepat dapat menjadi penghalang untuk bisa memahami ayat-ayat Al-
Quran dengan baik, jangan perhatikan pada banyaknya bacaan tapi tidak disertai
tadabbur, jangan perhatikan waktu yang telah dilewatkan dalam membaca Al-Qur’an,
karena betapa banyak waktu yang telah dilewatkan oleh para sahabat, para ulama dan
para penelaah Al-Quran dalam mentadabburkan ayat demi ayat, lalu mengulangnya
kembali waktu demi waktu yang kadang menghabiskan satu malam suntuk, walupun
waktunya berlalu begitu cepat namun perasaan mereka dengan petunjuk dan nilai-nilai
sangat berharga dan mereka khawatir akan hilang begitu saja
Karena itulah mereka bersungguh-sungguh untuk bisa bertadabbur dan berinteraksi di
bawah naungan Al-Quran dan bisa menghadirkannya dengan penuh ketenangan,
kemuliaan dan keyakinan…
Waktu menurut para pembaca yang jeli adalah pembantu Al-Quran dan harus ikut
kepadanya, menggunakannya dengan penuh manfaat, dan menggunakannya dengan
penuh kemuliaan dan kemurahan tanpa ada celaan dan kehinaan…


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Jika seorang pembaca tidak bisa melakukan ini dalam kesehariannya oleh karena
kesibukan atau kebutuhan lain, atau oleh karena urusan mencari nafkah, atau perjalanan
yang panjang pada siang harinya, maka dengan apa dia bisa menyibukkan fikrah dan
perasaannya saat perjalanannya? kemana dia akan mengirim pendapat dan ide-ide, dan
daya khayalnya? jangan sampai hal tersebut keluar dari dunia Al-Quran, namun
hendaknya dia memilih ayat mana yang dia bisa bersamanya, mengulangnya berkali-
kali dengan perasaannya dan indranya guna mendapatkan naungannya dan sentuhan-
sentuhannya…setelah dia berusaha mencatat dan mendokumentasikan apa yang
didapatkan darinya…jika saat perjalanannya tidak bisa melakukan hal tersebut maka
hendaknya dia bisa melakukannya setelah sampai tujuan dan saat waktu istirahat…
Begitupun jika membaca Al-Quran dalam shalatnya hendaknya selalu dengan
mentadabburkannya, berkomunikasi dan berinteraksi dengannya, karena dengan hal
tersebut ia akan mendapatkan banyak nilai, hakekat dan petunjuk-petunjuknya? lalu
ketika selesai menunaikan shalatnya, ia menulils apa yang telintas dalam dirinya saat
shalat…
Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahlul qur’an, dan memberikan kemampuan
kepada kita untuk dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik bersama Al-
Qur’an, mampu mentadabburkan dan meresapi nilai-nilai yang terkandung dalam Al-
Qur’an, menjiwai segala isi yang terdapat di dalamnya dan merasakan kenikmatan
hidup di bawah naungan Al-Qur’an..
“Ya Allah limpahkanlah kepada kami Rahmat-Mu melalui -bacaan- Al-Qur’an, dan
jadikanlah Al-Qur’an sebagai imam yang dapat menuntun hidup kami, pembawa
cahaya, petunjuk dan kasih sayang. Ya Allah, berikanlah kepada kami kekuatan untuk
selalu ingat akan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dari selau yang kami
lupa, ajarkanlah kepada kami sesuatu yang kami tidak tahu, dan karuniakanlah kepada
kami kekuatan untuk selalu bertilawah sepanjang malam dan siang hari, dan
jadikanlah Al-Qur’an sebagai hujjah bagi kami wahai Tuhan pemilik sekalian alam”.
18. Berpedoman Pada Pokok-pokok Dasar Ilmu Tafsir
Ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin berentuhan
dengan Al-Qur’an, sehingga memberikan pembacanya hasil yang benar dan petunjuk
yang dapat diterima, pandangan-pandangannya menjadi benar, tadabburnya menjadi
ilmiyah dan sistematis, hasil yang dicapainya merupakan keyakinan yang pasti dan
qoth’i, dan sampai pada bisa berkomunikasi dan memahami dengan baik, serta dapat
menjauhi pemahaman terhadap nash-nash yang mengarah pada kebatilan, kesalahan
atau mengucapkan perkataan dari apa yang tidak diketahui, atau membuat statement
yang dia tidak mengerti dan memahamiinya.
Para ulama banyak menyusun berbagai ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan
Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, guna membantu dan memberi pemahaman bagi pembaca
terhadap Al-Quran, mentadabburkan dan menafsirkannya dengan baik, baik berupa ilmu
teoritis yang bermanfaat dan dapat membantu meraih hasil yang tepat.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Seperti ilmu-ilmu tentang bahasa; pembahasan dan permasalahannya, ilmu nahwu dan
tema-temanya, uslub al-bayan, ilmu balaghoh dalam bentuk dan coraknya yang
beragam, pembahasan dasar-dasar dan cabang-cabangnya, permasalahan fiqh dan
hukum-hukumnya. Kemudian tema-tema ilmu-ilmu Al-Quran baik yang bersifat biasa
atau dharuri setiap penelaah Al-Quran dan mentadabburkannya, seperti : ilmu asbabun
nuzul (sebab-sebab turun ayat), kondisi turunnya, waktu turunnya, cakupan turunnya,
Makki dan Madani dalam Al-Quran, nasikh dan mansukh dalam Al-Quran, uslub
albayan Al-Quran, gambaran seni Al-Quran, kemukjizatan Al-Quran, badi’ Al-Quran,
qohosh (kisah-kisah) dalam Al-Quran, Amtsal (perumpamaan-perumpamaan) dalam Al-
Quran, Aqsam (sumpah) dalam Al-Quran, ahkam (hukum-hukum) dalam Al-Quran,
jadal (debat- dalam) Al-Quran dan lain sebagainya.
Seluruh pengetahuan, ma’rifat, masalah, problema dan pembahasan ini sangatlah urgen
sekali agar bisa berinteraksi bersama Al-Quran, mentadabburkannya dan mengambil inti
sarinya, sehingga pembaca terjaga dari kesalahan dan ketergelinciran; jika niatnya
benar, lurus hidupnya dan selalu berlindung kepada Allah.
Kadang hal tersebut terasa berat bagi sebagian pembaca, sehingga mereka merasa lelah
dan susah, dan mereka menganggap dirinya tidak ahli, tidak cocok dan tidak mampu
melakukannya, dan menyerahkannya kepada para ulama dibidangnya dalam
mempelajari Al-Quran dan tafsirnya yang memiliki titel akademis dan para pemilik
ijazah tertinggi atau kepada para pengajar risalah tadris (pengajaran), pendidikan dan
taujih (nasehat).
Hal tersebut adalah merupakan prasangka yang bathil dan dugaan yang tidak beralasana,
karena Al-Quran tidak ditujukan pada satu kelompok saja dari para
ulama atau pada cendikiawan saja, namun Al-Quran ditujukan kepada umat islam –laki-
laki dan perempuan, karena mereka diminta membacanya, menelaah dan
mentadabburkannya. Kita telah membicarakan tentang urgensi menghadirkan perasaan
pembaca bahwa Al-Quran ditujukan kepadanya, maka jika ini semua diserahkan kepada
para jurusannya maka betapa banyak orang yang akan mendapat kerugian… ???
Sesungguhnya berpedoman pada dasar-dasar ilmu-ilmu tafsir dan memahami tema-tema
ulumul Quran tidaklah berat dan mustahil, saat dimeminta kepada para pembaca untuk
melakukan ini semua bukan berarti harus dengan ilmu khusus pada setiap tema dari
tema-tema Al-Quran dan ilmu-ilmunya, memahami dengan sedetail-detailnya,
rinciannya, cabang-cabangnya, titik-titiknya, tanda-tandanya dan jalan-jalannya. Namun
hendaknya serahkan saja perncian dan detail-detailnya kepada para ahlinya, namun
yang diminta darinya adalah memahami apa-apa yang dibutuhkan dari ilmu-ilmu
tersebut, meneleaahnya secara seksama sesuatu yang dharuri darinya untuk bisa
berinteraksi dengan Al-Quran, mengambil tema globalnya secara singkat dan ringkas
dalam mencari tujuan yang dimaksud. Mungkin baginya cukup mempelajari dari satu
kitab saja dari kitab-kitab yang menjelaskan tentang ilmu, pengetahuan dan tema-
temanya secara singkat, tepat, padat dan berfaedah.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Sehingga hal tersebut dapat diyakini, bahwa para pembaca saat merasakan manisnya
ilmu-ilmu ini dan tema-temanya dan mendapatkan kelezatan dan kenikmatannya,
senang dan gembira mendapatkan nilai-nilai, sentuhan dan tambahan-tambahan yang
dicapai olehnya, dan dia berusaha dengan penuh keinginan, kerinduan dan semangat
yang tinggi untuk mendapatkan ketenangan darinya, mendapat bekalan yang baru
darinya. Meraihnya secara berkesinambungan latoif (sentuhan-snthan), isyarat-isyarat,
tanda-tanda yang memperkaya dan memberkahinya, setiap kali bertambah
penemuannya dari Al-Quran maka setiap itu pula akan bertambah tuntutannya terhadap
berbagai ilmu dan keinginannya serta kehati-hatiannya dalam menelaah Al-Qur’an dan
mentadabburkannya.
20. Menselaraskan Nilai-nilai Al-Quran dengan pengetahuan dan tsaqafah
kontemporer
Sebelumnya telah disebutkan urgensi berinteraksi dengan Al-Quran, menelaah nilai-
nilainya, mendalami hakekat yang terdapat di dalamnya, mengrungi ilmunya dan
rahasia-rahasianya dengan memperhatikan aspek faktual yang terdapat dengan ayat-ayat
tersebut, sebagaimana juga kami telah menyebutkan urgensi lainnya yaitu “memperluas
wawasan tafsir “ dan “menghindarkan nash-nash Al-Quran dari belenggu masa dan
tempat”, sehingga pembaca yang jeli dapat meraih realisasi masalah-masalah tersebut.
Dan dalam menggunakan kiat-kiat tersebut hendaknya menggunakan ilmu-ilmu dan
pengetahuan serta tsaqofah kontemporer, memahami dengan metode yang singkat
namun padat, menelaah darinya permasalahan-permasalahan dan problema yang
memiliki hubungan erat dengan ayat-ayat Al-Quran, sehingga ia dapat menggunakan
ilmu dan pengetahuan dalam koridor nash-nash Al-Quran, memperluas wawasan dan
menambah arahan dan petunjuknya secara ashalah.
Dapat difahami bahwa latar belakang kebudayaan yang dimiliki pembaca merupakan
sarana efektif untuk bisa berinteraksi dengan Al-Quran, dan hasil dari pengetahuan dan
tsaqofah kontemporer akan membantunya mempeluas wawasannya terhadap ayat-ayat
yang dijumpainya dan hidup dengannya. Hal ini tidak bertentangan dengan apa yang
telah dijelaskan sebelumnya kaidah-kaidah dan syarat-syarat untuk bisa memasuki alam
Al-Quran tanpa memiliki background masa lalu, sehingga tidak terhijab darinya untuk
mentadabburkannya, atau menuntunnya pada kesalahan berinteraksi dengannya. Bukan
berarti seorang pembaca melepas diri dari pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya, kosong dari tsaqofah-tsaqofah Islamiyah dan yang lainnya, dan menafikan
ilmu dan pengetahun lainnya. Karena hal tersebut dapat membahayakannya, jika
dijadikan sebagai hakim atas Al-Quran, menghalangi masuknya cahaya Al-
Quran, namun sebaliknya, hal tersebut akan memberikan manfaat jika dijadikan sebagai
pembantu dalam memahami Al-Quran, dan untuk memperluas nilai-nilainya dan
mempebanyak bekalan dalam mentadabburkan dan memahaminya. Al-Quran akan
menjadi wasilah –sarana- yang bermanfaat dan alat yang tepat untuk bisa mamahami
kehidupan kontemporer sesuai dengan background yang dimilikinya.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Pembaca hendaknya dapat memahami melalui pengetahuan sejarah, masa dan
peradabannya, dan menggunakannya dalam menafsirkan ayat-ayat yang memiliki aspek
sejarah dan petunjuk sejarah, seperti firman-Nya :
· · · . ¯ .` , ¯ ,` , =` · ¸` _ ' ¸ · ,` _ · ` ¸ ` ` , ´ ` · ` ¸ · ` . - ` ·
¸ , ´`
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu
berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul)”. (Ali Imron : 137)
dan firman-Nya :
. ·¯ ` , ' , , ., ` ·, ` ., · ` ,` , ., ´ · ¸` _. ¸ · ,` _ , ` , · '
, , .,` · ` , ¸ · ¸ ` ., _ ` · ` ¸ ´ , ` _ .` ,. _ ` · . , , ·
_,` ` .
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka
dapat mendengar ? Karena sesunggyuhnya bukanlah mata itu buta, tetapi yang buta
ialah hati yang di dalam dada”. (Al-Hajj : 46)
Hendaknya seorang yang memahami ilmu Falak dapat menggunakannya untuk
memahami dan mentadabburkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan petunjuk
ilmu falak, terutama ayat yang memberikan perhatian terhadap apa yang ada di langit
dan planet-planetnya, seperti firman Allah :
` · ,` - , , . ~ ¸ · , , ,` ` , ·,` - ` ` , ´ ¸ · - ¸ ,` · ,
.,` ` ·, ¸ ·` , .,. . ·
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya
petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan
tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui”. (Al-An’am : 97)
dan firman-Nya :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
, .` ` · _ ,` ·, ¯ · - , ¸` , ·, ¯ ` , - · ¸` , , ¯ _ ,` , ¸` , · - , ·
. - , ¸ ` · · ,` ` · , ` , ´` , _ ` ¸ · ` . · ,` · `
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda
malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia Tuhanmu,d
an supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun…”. (Al-Isro : 12)
Bagi Memahami pengetahuan ilmiyah yang beragam, seperti kedokteran, ilmu tentang
janin dapat dapat menggunakannya untuk menafsirkan dan mentadabburkan ayat Al-
Qur’an yang berhubungan dengan ilmu tersebut, sebagaimana firman Allah :
¸ . ¸ . ~ ¸ · ¸ ¸ - ` · , ` ¸ · - ` ,´ ,` · ' ., =` , ¸ · ` , ´ ` -,
“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan…”. (Az-Zumar : 6),
tentang ilmu kelautan yaitu dalam firman-Nya :
`, ,` - _ , · . , , ¸ . . , ·` , ` _ _` , , ` , ` , , . ´` , _ . ¯ ` ¸ ' ·
. , ´` . . -` , , ` , ` , ` ,` · ` _` ,` -,
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. antara
keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka ni’mat Tuhan
kamu yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan”.
(Ar-Rahman : 19-22)
Ilmu tentang lapisan bumi :
` ·,` ` ., , , · , ,` , ' ` . ` -` · ` ,` ` - , ` ¸, , ` · ` - ¸ - ¸ · ,
“Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka
macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat”. (Fathir : 27).
Ilmu keperdataan, seperti firman Allah :


al-ikhwan.net Abu Ahmad
.,` · ,` ` ¸ , ¸ `, ' , · ` , , . ` ,
“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kamu benar-
benar meluaskannya”. (Ad-Dzariyat : 47,
dan lain sebagainya.
Sebagaimana juga yang memahami ilmu masalah kejiwaan (psikologi), sifat manusia,
perasaan dan kecendrungannya, dapa menafsirkan kalimat “Tarabbush al-iddah” –
menahan diri hingga m,elewati masa iddah- ayat dari :
¸ .,` , · · ` ¸ , ` ' , ¸` .` , , , ` . =` ,
“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru..”.
(Al-Baqoroh : 228).
Memahami rahasia tentang habisnya masa iddah dalam rumah suaminya dan
menyediakan rumah untuk wanita yang di talak
` ¸ , ,` ,` , ` ¸ · ` ¸` ·,` - ,` -` ` , ´` , _ · , ` ,
“..Bertakwalah kepada Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah
mereka…”. (At-Tholak : 1)
dan untuk menafsirkan periode terjerumusnya aseseorang dari bisikan syaitan dan
memenuhi rayuan-rayuannya. Allah berfirman :
` ,` · · , · , , , ` ·` , .` , , , · , - ¯ , .,` ·` ,`, ¸, · · · ' ·` , ¸ _·` . ,
., · , ` ·
“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak berman kepada kehidupan akhirat
cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka
mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”. (Al-An’am : 113)
21. Selalu Memperbaharui Dalam Memahami ayat-ayat Al-Quran
Al-Quran sangat kaya akan nilai-nilai dan petunjuk-petunjuknya, ayat-ayat yang
menyebar dalam kehidupan manusia dapat dipahami nilai-nilai dan petunjuk-


al-ikhwan.net Abu Ahmad
petunjuknya sesuai dengan keadaan dirinya dalam berinteraksi dengannya dan tingkat
kesiapannya dalam memabaca ayat tersebut.
Al-Quran tidak akan memberikan hidayahnya kepada pembaca yang hanya duduk dan
tidak mau beramal, tidak mau beraktivitas dan berjihad dengannya. Dan Al-Quran tidak
akan bisa disingkap rahasia-rahasaianya kecuali kepada orang yang mau bergerak dan
aktif, tidak akan menebarkan naungannya nan teduh kecuali kepada orang yang mau
menerimanya dengan sepenuh hati. Karena itu para pembaca hendaknya memiliki cara
dalam menapaki jalan dengan benar agar dapat memahami Al-Quran, berinteraksi dan
mendapatkan rahasia, nilai-nilai dan petunjuknya.
Kami tidak ingin berpanjang lebar dalam menjelaskan bahwa pembaca yang memiliki
perhatian penuh kepada Al-Quran akan mendapatkan begitu banyak faedah darinya,
buah yang manis dari rihlah bersamanya, hasil yang baik dari hidup di bawah
naungannya, karunia dari ilmu-ilmu, hakekat dan ketetapan-ketetapannya yang akan
terus tumbuh dan bertambah secara berkesinambungan, ditambah dengan hal-hal yang
baru dan bermanfaat, berlimpah dan indah.
Dalam merealisasikan ini semua maka setiap pembaca harus memperhatikan kaidah-
kaidah yang diterima olehnya, dalam meraih rahasia dan kunci untuk bisa berinteraksi
dengannya, hendaknya terus menelaah ayat-ayat Al-Quran yang dia hidup dengannya.
Sehingga dapat mengeluarkan hal-hal yang baru dari nilai yang terkandung di
dalamnya, dapat menambah wawasan dari sebelumnya, merasakan hal yang baru dari
hakekat-hakekat dan ketetapan-ketetapannya. Kemudian setelah itu melakukannya
kembali, untuk ketiga kalinya, keempat kalinya dan seterusnya, dengan maksud selalu
mengulangi telaahnya terhadap ayat-ayat Al-Quran secara kontinyu dan selalu
memperbaharuinya, menjadikan apa yang telah ditelaahnya sebagai
bahan perenungan dan inspirasi yang selalu.
Pembaca hendaknya menghidupkan Al-Quran dan memperbaharui cita rasa hidup
bersamanya, dan merasakan bahwa kehidupannya merupakan bagian dari kehidupan
dengannya, menyingkap lebih banyak hal-hal baru dari hakekat-hakekat yang
mercerahkan dan ketetapan-ketetapan yang mantap. Dan hendaknya ia melihat tingkatan
dari hakekat, nilai-nilai dan ketetapan-ketetapannya, berusaha menumbuhkannya dan
menambahnya sebagai ganti dari kekurangan, kelemahan, kealpaan dan kemalasan
dirinya.
Bahwa pembaca pada kondisi ini ada 3 kelompok :
Pertama :
Kelompok yang memahami bahwa hasil yang didapat dari nilai-nilai dan petunjuk-
petunjuk Al-Quran telah berkurang dari sebelumnya, lalu kembali membaca dan
menelaah untuk yang kedua kali jauh lebih sedikit yang tidak serupa dengan bacaannya
yang pertama, sehingga ia mendapatkan nilai-nilai lebih jauh lebih sedikit dari apa yang
didapatkan kali pertama. Dan jika ini terjadi dan yang dicapainya akan terus berkurang


al-ikhwan.net Abu Ahmad
dan berkurang hingga menjadi sirna dan habis ketika menelaah ayat-ayat Al-Qur’an,
maka -pada hakikatnya- dirinya telah menjadi penghalang terhadap Al-Quran dan harus
berusaha untuk bangkit dan hidup bersamanya kembali.
Kedua :
Kelompok yang memahami bahwa hasil yang didapat sebagaimana mestinya tidak akan
beubah baik mengalami penambahan atau pengurangan, dan bahwasanya maklumat –
pengetahuan- itu akan tetap bersamanya seperti yang didapat, namun dia tidak bisa
menambah kepada yang baru atau mengingkatkannya dengan hal yang bermanfaat…hal
itu juga dapat menjadi penghalang dirinya terhadap Al-Quran, dan yang diraih
sebelumnya dari Al-Quran menjadi jumud dan keras, dan bisa jadi akan telah
mengalami penurunan atau jumud. Dirinya akan mengalami kemalasan, futur,
kelemahan dan maksiat, dan hal tersebut akan mempengaruhi hidupnya ilmu, tadabbur
dan pemahaman pada posisi stagnan dan berjalan di tempat.
Para pembaca hendaknya berusaha mengembangkan kehidupannya pada pengetahuan
dan mata pencahariannya, menambah ilmu pengetahuannya dan kehidupannya pada ruh,
cahaya dan nilai-nilai yang baru…yaitu dengan cara mempererat interaksinya dengan
Al-Quran, menerima dan menelaahnya secara seksama dan kontinyu serta berusaha
untuk menjadikannya sebagai sarana menambah ilmu dan hidayah.
Ketiga :
Kelompok yang memahami bahwa hasil yang didapat akan mengalami penambahan dan
peningkatan, dan ketika berusaha untuk kembali dalam menalaah untuk yang kedua,
keitga atau keempat kalinya akan terus memberikan peningkatan yang bermanfaat,
wawasannya yang luas, nilai-nilai yang baru yang belum didapati sebelumnya, mampu
menelaah atau hidup dengan hakekat dan ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya
Inilah model yang sesuai dalam menjalin hubungan dengan Al-Quran, hidup dengan Al-
Quran, bergerak dengan Al-Quran dan menjadi generasi Al-Quran. Hasil yang diraihnya
terus berlimpah, wawasannya terus menjadi luas, hubungan dengannya terus
bertambah erat dan kehidupannya terus berkembang dan mengalami pembaharuan…
Segala puji bagi Allah atas limpahan tersebut, dan kita berharap terus bertambah ilmu,
wawasan dan hidayah saat kita berinteraksi dengan Al-Qur’an…
22. Memahami Karakteristik Setiap Surat Dalam Al-Quran
Al-Quran merupakan kitab suci yang sangat universal yang mengandung banyak
pelajaran dan hikmah serta pelajaran, sekiranya bukan dari sisi Allah maka akan
mengalami perselisihan yang besar. Al-Qur’an memiliki susunan kalimat, ungkapan dan
kata-kata yang sangat indah, saling memiliki keterkaitan yang erat pada tema dan
ma’aninya, hubungan dan keserasian serta kesatuan pada setiap surat, setiap pelajaran,
setiap maqho’ –potongan ayat-, setiap ayat dan kalimatnya. Ibaratnya Al-Quran seperti


al-ikhwan.net Abu Ahmad
bangunan yang kokoh, rapi, saling bersambung dan mangagumkan. Pada hakikatnya Al-
Quran seperti –menurut pendekatan dan penjelasannya- bangunan yang menakjubkan,
terlihat susunan dan kesatuan yang begitu rapi di dalamnya, seperti halnya dapat terlihat
pada tiap tingkatan dari tingkatan-tingkatan yang lainnya, pada tiap ruangan dari
ruangan-ruangan lainnya, pada tiap kamar dari kamar-kamar lainnya, pada tiap dinding
dari dinding-dinding kamarnya, dan pada tiap sisi dari sisi-sisi dindingnya.
Begitulah Al-Quran secara umum, pada setiap surat, pada setiap pelajaran, pada setiap
potongan ayatnya, kemudian pada setiap ayat dari potongan ayat, dan pada
setiap kata yang termaktub dalam kalimat-kalimatnya.
Bagi pembaca Al-Quran yang jeli dituntut untuk selalu menelaah tentang kesatuan
tematik Al-Quran dan surat darinya, memperhatikan susunan, hubungan dan saling
keterkaitan antara pelajaran dan potongan-potongannya, berinteraksi dengan surat
bahwa ia merupakan kesatuan tema yang sempurna dan indah, dan memahmi bahwa
surat-surat yang termaktub dalam Al-Quran memiliki karakteristik yang istimewa dan
unik, karakteristik yang mengikat tema-tema pokok dengan tema-tema, pelajaran-
pelajaran dan potongan-potongannya dengan benang secara detail, kuat yang hanya
mampu dilihat oleh para mutadabbir- pemerhati yang jeli.
Sayyid Qutb berkata : “Karena itu dapat dilihat bagi siapa yang hidup di bawah naungan
Al-Quran bahwa setiap surat dari surat-surat yang terdapat dalam Al-Quran memiliki
karakteristik yang istimewa ! keistimewaan yang memiliki ruh yang hidup bersamanya
hati sebagaimana jika ia hidup bersama ruh yang hidup memiliki tanda, cirri dan nafas
yang istimewa pula ! memiliki tema pokok atau beberapa tema pokok yang menjurus
pada pembahasan khusus ! memiliki suasana khusus yang menaungi seluruh tema-
temanya, menjadikan susunannya mencakup tema-tema ini dari sisi-sisi tertentu,
mewujudkan keterkaitan antara keduanya sesuai dengan suasana ini. Memiliki alunan
musik yang khusus –jika pada susunannya berubah maka sesungguhnya perubahan itu
hanya pada hubungan tema khusus saja.. dan ini merupakan karakteristik umum pada
seluruh surat-surat Al-Quran…”. [3]
Beliau berkata pada pendahuluan tafsir surat Al-A’raf : “Sesungguhnya setiap surat dari
surat-surat Al-Quran memiliki karakteristik dan keistimewaan tersendiri, memiliki cirri
khusus, manhaj yang khusus, uslub tertentu, sisi khusus dalam memberikan solusi pada
satu thema, dan qodhiah yang besar sekalipun…yang mana secara keseluruhan dapat
menyatukan akan tema dan tujuan kemudian memberikan ciri tersendiri, jalan yang
istimewa dan sisi yang khusus dalam memberikan solusi satu tempat dan merealisasikan
misi ini…
Keadaan dalam surat-surat Al-Quran –dari sisi ini- seperti keadaan pada manusia yang
Allah ciptakan dengan istimewa…semua manusia memiliki cirri kemanusiaan yang
khusus, semuanya memiliki bentuk tubuh dan tugas kemanuisaan…namun mereka
memiliki banyak keragaman…memiliki kemiripan cirri, dan didalamnya ada sifat
kecemburuan yang tidak bisa bersatu kecuali karakteristik kemanusiaan secara umum.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Begitulah yang dapat saya gambarkan pada surat-surat Al-Quran, yang dapat saya
rasakan dan berinteraksi dengannya. Setelah lama menyertainya, menyatu dan
berinteraksi bersama setiap surat darinya sesuai dengan cirinya, tujuannya, sifat dan
karakteristiknya !”
Pembaca Al-Quran hendaknya berjalan bersama Al-Quran seperti yang dilakukan
Sayyid Qutb, berinteraksi dengannya seperti yang dilakukan oleh Sayyid Qutb,
mengambil setiap surat darinya sebagai teman, kekasih, sahabat dan kesayangan seperti
yang dilakukan oleh Sayyid Qutb….dari situ akan didapati karakteristik khusus
terhadap surat-surat dalam Al-Quran, yang memiliki ikatan yang kuat antara ayat-
ayatnya dan tema-temanya, dan mendapatkan benang yang tipis namun kuat di
dalamnya, mendapatkan bekal yang banyak dari nilai-nilainya dna hakekat-hakekatnya.
23. Selalu Memutaba’ah Penggunaan Ayat-ayat Al-Quran dengan Istilah yang
Sama
Sesungguhnya menajadikan surat-surat, ayat-ayatnya, kalimat-kalimatnya dan
mustolahat-mustolahatnya –kalimat yang mengandung istilah- dalam Al-Quran sebagai
sahabat merupakan kecendrungan lembut dan indah, karena -dengan demikian- akan
mampu membimbing pembaca pada perjalanan yang cenderung pada kelembutan dan
keindahan, memberikan kepadanya corak, bentuk dan contoh-contoh akan nilai-nilai,
hakekat, ketetapan, dan sentuhan-sentuhan Al-Qur’an, menempatkan berada dihadapan
harta karun yang tidak akan pernah habis dan kenikmatan yang selalu mengalir.
Al-Quran Al-Karim sangat teliti dalam memilih kosa kata dan menggunakan istilah-
istilahnya, menjabarkan pemahaman dan hakekat-hakekatnya secara lugas dan mudah
difahami, memilki keragaman cara dalam menggunakan satu istilah, sangat baik dan
cermat dalam menggunakannya, bahkan memberikan nilai-nilai yang selalu baru dari
susunan yang satu dengan susunan yang lainnya; kadang sesekali memberikan naungan
secara khusus dan memberikan kepada pembaca cita rasa yang baru dan nikmat.
Jika pembaca ingin mendapatkan kebahagiaan hidup dan berinteraksi bersama Al-Quran
maka dia harus menyerahkan dirinya kepadanya, berserah diri dihadapannya,
memfokuskan perasaannya, indranya, hatinya dan akalnya dan seluruh jiwanya dalam
rihlah Al-Quran yang menyenangkan, kembali darinya dengan bekal dan wawasan yang
agung.
Kami menyerukan kepada seluruh pembaca untuk mengikuti penggunaan Al-Quran
dalam satu istilah, menyatukan bentuk, uslub, dan corak penggunaannya,
memperhatikan apa yang ditemukan yang terus bertambah secara kontinyu dari
sebelumnya…mencatat fenomena perbedaan pendapat dalam penggunaan istilah
tersebut, dan memberikan manfaat kepada umat manusia, namun yang harus
diperhatikan adalah seorang pembaca hendaknya jangan hanya mencatat satu fenomena
saja tapi harus mengikuti jejak lain yang memberikan alasan pada fenomena ini;
menafsirkannya, menelitinya dan menjelaskan hukum darinya dan rahasia-rahasia yang
terkandung di dalamnya, pelajaran dan petunjuk-petnjuk yang dapat dipetik darinya.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Pada tema ini dapat kami katakan : para ulama dahulu telah menelaah akan banyaknya
fenomena dalam uslub-uskub Al-Quran, mentadabburkannya, mencatatnya dan
mengajarkannya kepada umat manusia sehingga mereka dapat mengambil manfaat yang
besar, semoga Allah memberi ganjaran yang baik kepada mereka.
Namun yang perlu diperhatikan atas karya mereka adalah bahwa kebanyakan dari
mereka tidak memperhatikan akan fenomena ini dengan seksama, berhati-hati, teliti dan
cermat, tidak berusaha memberikan alasannya dan menafsirkannya, mencatat beberapa
hikmah yang terkandung di dalamnya dan menjelaskan secara jelas dan gamblang,
berbicara tentang keindahan dan kelembutannya.
Peran kita adalah membangun apa yang mereka sampaikan, menyempurnakan apa yang
mereka lewatkan, benarlah orang bijak yang mengatakan : “Berapa yang ditinggalkan
para pendahulu untuk masa mendatang ??”…jika kita ingin berhasil meringkas istilah-
istilah yang termaktub dalam Al-Quran maka kita harus smengikutinya pada uslub-
uslub Al-Quran kemudian menyatukannya dan memperhatikan pesan yang diwahyukan
darinya, kemudian menjabarkan dan menafsirkannya dan berusaha menggali hikmah
darinya, rahasia yang ada di dalamnya, dengan selalu mengulang pertanyaan mengapa,
mengapa disebutkan begini ? apa hikmah yang bisa kita ambil darinya? dan apa rahasia
yang dapat kita gali? dan apa petunjuk yang dapat kita jadikan pelajaran darinya ?
Seperti Istilah “Al-Kufr” misalnya Al-Quran menggunakannya dalam sepuluh tempat,
namun jika diperhatikan bahwa lafdz tersebut digunakan dalam berbagai bentuk:
bentuk fi’il (kata kerja), masdar (kata jadian/keterangan), ism fa’il (subejk), dan
sifat…digunakan sebagai kata kerja dalam bentuk lampau mujarrad –asli-, bentuk
lampau yang disandarkan pada “ta” al-mutakallim, “ta” al-mukhattab, “ta” at-ta’nits,
mukhotobin (orang kedua), mutakallimin (orang pertama) dan ghoibin (orang
ketiga)…dan juga digunakan pada kata kerja dalam bentuk yang sedang berlangsung
dan mendatang, baik yang disandarkan pada mufrod mutakallim (orang pertama
personal) hingga mukhotob mufrod dan mukhotob jamaah. Dan yang disandarkan pada
al-mutakallimin, ghoib dan ghoibin. Kata kerja dalam bentuk perintah untuk mufrod dan
jama’, kadang digunakan dalam bentuk lampau secara majhul.
Adapun penggunaannya sebgai ism maka disebutkan pada bentuk berikut : “Kufr-kafir-
kafirah-kufroh-kuffar-kafiroh-kufur-kafur-kufaron-kafaroh-kufron” … maka apa
hikmah dari banyaknya penggunaan, keragaman dan macamnya yang kadang bisa
mencakup seluruh asal kata kalimat tersebut ? hal ini dapat ditemui saat menelaah ayat-
ayatnya secara keseluruhan, mencari petunjuk-petunjuknya secara sempurna.
24. Memperhatikan Adanya Perbedaan Dari Para Mufasirin Dan Kembali Pada
Ketentuan Al-Quran
Pembaca hendaknya dalam memahadi Al-Qur’an hendaknya jangan seperti tawanan
untuk masa tertentu dari sejarah kaum muslimin saja, sehingga dapat memahami ayat-
ayat Al-Quran secara luas, dan juga jangan samapi menjadi tawanan pada golongan
tertentu dari berbagai golongan yang ada pada umat Islam, dan juga jangan menjadi


al-ikhwan.net Abu Ahmad
tawanan pada madzhab –aliran- tertentu dari berbagai madzhab yang ada pada umat
Islam, begitupun jangan menjadi seperti tawanan pada seorang mufassir tertentu saja
dari para mufassirin kaum muslimin ketika menafsirkan Al-Quran…
para mufassirin dahulu telah berusaha dengan tenaga dan fikiran mereka untuk
menafsirkan Al-Quran, berusaha menjelaskan maksud dari ayat-ayat Allah SWT dan
firman-Nya, dan wajar jika ada keragaman dalam memahaminya, ada penambahan dari
apa yang mereka hadirkan, dan hendaknya kita mendukung mereka, menghormati,
memuliakan dan mendoakan mereka, ini satu sisi. Namun pada sisi lain, kita tidak
boleh tetap berada pada satu pendapat mereka saja bahkan -boleh jadi- berada pada
kesalahan yang mereka lakukan dalam menafsirkan Al-Quran –karena setiap manusia
pasti pernah melakukan kesalahan kecuali Rasulullah saw- . Kita tidak boleh mengikuti
kesalahan yang mereka perbuat, pada perselisihan yang tidak penting untuk dibicarakan,
namunpada hasil yang bermanfaat darinya, kita tidak boleh mengikuti dalam perdebatan
yang terjadi pada mereka, dalam mengungkap dalil-dalil yang begitu banyak dalam
mengambil inti sari, dan penerimaan dan penolakan mereka serta bukan pada
perdebatan sengit mereka . Namun yang kita tampilkan adalah tafsir mereka yang kita
pilih yaitu yang baik-baik dan sesuai dengan kita serta mendukung perjalanan hidup kita
menuju ridha Allah dan surga-Nya, mengambil darinya apa yang sesuai dengan Al-
Quran, apa yang diwahyukan dan dijadikan petunjuk atasnya, memiliki makna yang
diterima, sebagai bentuk penambahan wawasan yang bermanfaat, buah ilmu dan amal,
memiliki prospek tarbawi dan taujihi –petunjuk-, dan kebutuhan hidup nyata saat
ini…kita juga menelaahnya dengan pandangan keilmuan dan tidak banyak
berkecimpung pada nilai sejarah tradisional…
Karena itu hendaknya para pembaca menghindarkan diri dari perselisihan madzhab
yang terjadi antara kaum muslimin, perselisihan kalamiyah –ilmu tauhid- antara
pengikut golongan tersebut, perselisihan balaghoh, nahwu, sejarah, dan fiqh, lalu
kembali kepada ketentuan Al-Quran yang bersih dan suci serta mulia…mengambil
darinya hirupan air dan meminumnya walaupun hanya sedikit dan tidak mencapai
kepuasan, karena siapakah yang akan puas dengan ketentuan Al-Quran ? siapa yang
akan merasa kenyang dari perbekalan Al-Quran ? siapakah yang bosan dengan
menjadikannya sahabat ? dan siapakah yang dapat mengganti Al-Quran, yang
merupakan harta karun yang sangat berharga, kebaikan dan cahaya yang menyinari
dihadapan ucapan manusia, perselisihan, permasalahn dan perdebatan mereka ?
Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran aqidah Islam? jawabannya ada pada Al-
Quran itu sendiri bukan pada pengikut suatu golongan dan ulama kalam dari mu’tazilah,
khowarij, syiah, murjiah, asy’ariah –pengikut dan loyal pada imam Asy-Ari- dan
hanabilah –pengikut madzhab imam hanbal- dan lain-lainnya…apa yang dikatakan saat
membaca tafsiran Al-Quran dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah di dunia,
sementara penglihatan orang-orang kafir pada Allah sangatlah buruk dan kelak mereka
kekal serta diberi azab di hari kiamat.
Dan Bagaimanakah penglihatan kaum muslimin terhadap Tuhan mereka di hari kiamat
dan di Surga? pembaca hendaknya menghindar dari perselisihan yang sengit antara
beberapa golongan dari kaum muslimin di dalamnya..apa sifat-sifat dan nama-nama


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Allah yang disebutkan dalam Al-Quran, bagaimana kita bisa mengambilnya dan
menfsirkan seluruhnya, tidak boleh membatasinya pada lima, tujuh, sepuluah atau dua
puluh sifat saja !!! karena Al-Quran menyebutkan lebih banyak dari itu, bukan berasal
dari para ahli filsafat yang kosong sekitar sifat-sifat ini baik yang bersifat permanen
dalam bentuk Zat atau selain Zat, dan apa maksud pensifatan Allah dan bagaimana
caranya…dan juga harus menghindar dari itu semua dan mengalihkannya pada
pemahaman yang positif terhadap sifat-sifat Allah yang Maha memlihara, Maha
menentukan, Maha mengarahkan, Maha menghitung, Maha Memantau dan Maha
Menegetahui…tunduk kepada-Nya walaupun hal-hal yang kecil dan besar di alam ini
dan juga pada kehidupan manusia…kemudian setelah itu kita pindah untuk menoleh
pada atsar, nilai-nilai, pelajaran dan ibrah yang dapat diambil manfaatnya oleh orang
beriman akanpengetahuannya tentang sifat-sifat Allah dan menelaahnya terhadap Al-
Quran yang telah menjabarkannya dan menetapkannya…kemudian kita merasakan
kehidupan tarbawi dan imani guna dapat memahami sifat ini, mengambil faedah
darinya dalam rengka menambah keimanan, perasaan takut dan adanya muraqabah
(merasa terus dipantau) serta mengokohkan jiwa dan mengokohkan perjalanannya pada
jalan yang lurus.
25. Mengatur Strategi Dalam Berinteraksi Dengan Al-Quran
Saat pembaca ingin berinteraksi dengan Al-Quran maka hendaknya ia harus mengatur
lebih dahulu strategi dan membuat rancangan yang jelas, apa strategi utama yang harus
dilakukannya ? dari mana memulainya ? apa saja permulaan dan akhir dari kerja
tersebut ?
Dan tentunya, pada saat mengatur strategi tersebut hendaknya dilakukan dengan
sistematis, teratur, seimbang dan bertahap. Adapun diantara langkah yang mesti
dilakukan adalah sebagai berikut:
Langkah pertama :
Hendaknya terlebih dahulu menghadirkan suasana imani dan membuat kondisi
keimanan dengan prima agar dapat menyertai dalam memahami dan mentadabburkan
Al-Quran, menghadirkan anugrah dan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya
yaitu dengan memperhatikan adab-adab tilawah seperti yang telah disebutkan pada awal
tulisan ini.
Langkah kedua :
Hendaknya pembaca terlebih dahulu menerima dengan sepenuh hati kehadiran Al-
Quran di dalam jiwanya dan membaca ayat-ayatnya dengan tartil dan penuh khidmat,
sehingga seakan dirinya memulai dan hidup selalu berada di bawah naungan Al-Qur’an,
merengkuh nilai-nilai, hakekat, ketentuan dan sentuhan-sentuhannya, berkomunikasi
dengan seluruh jiwanya kepada Al-Quran. Sehingga dengan demikian dirinya akan
mendapatkan hasil yang besar, kenikmatan yang berlimpah dan harta yang berharga.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Langkah ketiga :
Menelaah ringkasan kitab tafsir yang menjelaskan kalimat-kalimat gharibah (asing)
atau penjelasan yang menerangkan sebab-sebab turunnya ayat, atau pembahasan tentang
kata yang samar, dan hukum yang khusus. Hal tersebut guna membantu dalam
mendapatkan pemahaman para ulama sebelumnya, sehingga akan jelas baginya sesuatu
yang samar, menampakkan sesuatu yang tersembunyi, meluruskan seseuatu yang belum
jelas kebenarannya, atau menyadari akan kekurangan dirinya sehingga memberikan
tambahan pengetahuan darinya.Jadi telaah ini bertujuan untuk mengklarifikasi,
meluruskan dan mengaca diri dari berbagai kekurangan dan kekhilafan.
Langkah keempat :
Menelaah kembali kitab tafsir yang bear dan luas dalam pembahasan dan penjelasannya,
serta panjang tema-tamanya, menjabarkan ragam perkhilafan –perbedaan pendapat-.
Sehingga -dengan demikian- pembaca dapat berinteraksi –dengan kemampuan kritik
yang konstruktif- untuk mencari penjelasan-penjelasannya dan menambah wawasan
ilmu dan pengetahunnya, bergelut dengan ilmu dalam waktu yang lama dan penuh
berkah. Menumbuhkan jiwa intelektualnya dan kemampauannya beristimbat –
mengambil inti sari darinya.
Pada langkah ketiga diingatkan hendaknya pambaca memulai telaahnya dengan mencari
penjelasan makna-makna kalimat Al-Quran, dan kitab yang paling baik dalam hal ini
adalah “Kalimat Al-Quran tafsir dan bayan”, karangan ustadz hasanin makhluf.
Kemudian menelaah kitab tafsir kontemporer yang berbicara tentang masalah
problematika, permasalahan dan peristiwa kontemporer dan memfokuskannya hanya
pada pembahasan kontemporer, dan pembaca tidak akan mendapatkannya kecuali pada
kitab yang disusun oleh Sayyid Qutb dalam tafsirnya yang sangat fenomenal “Fi Dzilal
Al-Quran”. Dan kami berpendapat bahwa kitab tersebut sebagai wasilah utama untuk
dapat memhami tentang karakterisrik Al-Quran, kita yakin bahwa bagi siapa yang
menentangnya maka akan banyak sekali yang hilang darinya terhadap nilai-nilai Al-
Quran, hakekat dan ketentuan-ketentuannya yang termaktub dalam Al-Qur’an..
Kemudian setelah itu membandingkannya dengan kitab tafsir turats –bil ma’tsur- dan
kitab “tafsir Al-Quran Al-Adzim imam ibnu Katsir” merupakan rujukan yang paling
baik dalam hal ini.
Adapun pada langkah keempat, diingatkan kepada pembaca agar dalam menerima
penafsiran dari para ulama mufassirin secara mutlak, seperti kitab tafsir Muhammad
ibnu Jarir At-Thobari- yang diiringi dengan telaah di dalamnya secara seksama dan
menggunakan oto kritik- kemudian juga menerima kitab-kitab tafsir lainnya seperti
kitab tafsir Ar-Razi, An-Naisaburi, Az-Zumahsyari, Al-Qurtubi, Abu As-Su’ud, Al-
Alusi, Asy-Syaukani dan Rasyi ridlo dalam kitabnya Al-Manar.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Jika dalam pelaksanaannya pembaca mengalami pencampur adukkan dan kebimbangan,
maka ia akan menemukan kesulitan yang banyak dan bahkan akan sulit baginya
mendapatkan keni’matan untuk bisa hidup bersama Al-Quran Al-Karim.
Semoga Allah senantiasa merahmati Imam As-syahid Hasan Al-Banna saat menjawab
pertanyaan yang ditujukan kepadanya tentang cara paling ampuh untuk bisa memahami
Al-Quran, beliau berkata : Hatimu.
Hati orang yang beriman tidak diragukan lagi merupakan seutama-utama tafsir terhadap
kitabullah. Dan cara paling baik untuk dapat memahaminya adalah membaca Al-Quran
dengan penuh tadabbur dan khusu’, berniat mencari kebenaran dan petunjuk, membuka
wawasan dan fikrahnya ketika membaca…menselaraskannya dengan sejarah hidup
Rasulullah saw, mengartikannya dengan corak yang khusus seperti melalui asbabun
nuzulnya –sebab-sebab turunnya ayat-, hubungannya dengan tema-temanya, sehingga ia
mendapatkan sarana yang baik dalam memahami Al-Quran secara benar dan bersih.
Jika setelah membaca kitab-kitab tafsir, dan menelaah makna lafadz, atau susunan yang
tersembunyi, memahami makna yang ada dihadapannya, atau membekali diri dengan
pengetahuan yang dapat memahami secara benar akan kitabullah, merupakan sarana
terbaik…sedangkan pemahaman adalah merupakan cahaya yang dapat menyinari lubuk
hatinya.
25. Memetik Buah Dari Berinteraksi Dengan Al-Quran
Adapun diantara kiat sukses berinteraksi dan mentadabburkan Al-Qur’an secara
aplikatif yang terakhir adalah bahwa pembaca hendaknya menghadirkan jiwa dengan
penuh semangat dan berusaha menyentuh hati pada saat membaca Al-Quran, berusaha
mentadabburkan dan berinteraksi dengan seluruh perasaan, indra dan gerak serta
dengan menggunakan seluruh jiwa dan hatinya. Dan jangan menjadikan tujuan dari
membaca Al-Quran sekedar ingin mendapatkan ganjaran, karena hal tersebut sudah
jelas dan wajar yang akan diberikan oleh Allah –insya Allah.
Begitupun jangan bertujuan hanya ingin mendapatkan “tsaqofah” –ilmu- yang terdapat
di dalam Al-Quran, hanya sekedar memperluas wawasan belaka, atau
ingin mendapatkan pencerahan dengan beragam corak ilmu dan pengetahuan yang
terkandung di dalam Al-Qur’an atau untuk menambah perbendaharaan berbagai bidang
ilmu, pengetahuan dan ma’rifah. Karena sesungguhnya berkutat pada ilmu dalam
menelaah Al-Quran tidak akan melahirkan amal, komitmen dan akhlak yang bersih.
Kalau hanya sekedar ingin mendapatkan pengetahuan, baik yang bersifat ilmu ataupun
teori, lalu dijadikan simpanan pada akalnya saja sehingga dirinya menjadi jumud –
keras- hingga pada titik lemah, bimbang kemudian sirna, atau akan tetap jumud dan
lemah untuk menggapai cahaya petunjuk, bimbingan dan pendidikan.
Hal tersebut dapat kita lihat pada seseorang yang mengulang-ulang apa yang dimiliki
dari pengetahuan dan ilmu yang dimiliki, berbicara tentangnya –dengan lihai dan fasih-
namun kepribadiannya dan keistiqomahannya tidak menyertai hidupnya. Akhlak dan


al-ikhwan.net Abu Ahmad
prilakunya tidak mampu diwujudkan. Tidak ada perasaan keterikatan dan hubungannya
dari apa yang diucapkannya dan ilmu yang dimiliki.
Pembaca hendaknya memperhatikan apa yang termaktub dalam Al-Quran dengan penuh
perasaan, indra dan prilakunya, berusaha mendapatkan darinya berbagai
ilmu pengetahuan dan tsaqofah, ideologi dan wawasan, hakekat dan petunjuk-petunjuk,
nilai-nilai kehidupan, arahan-arahan, prinsip-prinsip, perintah untuk beramal secara
nyata sebagai petunjuk amali untuk kehidupannya di dunia. Berusaha untuk
menelaahnya melalui akal dan daya khayalnya, ideologi dan daya fikirnya. Melalui hati,
ruh, jiwa dan perasaannya. Melalui indra, himmah –keseungguhan- dan
kekuatannya, sehingga dapat mencapai apa yang dibutuhkan oleh dirinya,
menselaraskan berbagai aspek dijumpainya dengan penuh kejiwaan dan
kemudia menyatukannya dalam satu kesatuan, dan mengikatnya dalam ikatan yang kuat
dan rapi, lalu mengarahkannya pada program harian, prilaku kongkret, dan hakekat
kehidupan serta keimanan Qurani yang hidup, nyata dan menyentuh jiwa; yaitu dengan
mengikuti jejak Rasulullah saw –sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Sayyidah
Aisyah RA- bahwa akhlaknya adalah Al-Quran, dan mengikuti jejak para sahabat –
semoga Allah meridloi mereka- yang menjadikan Al-Quran sebagai ajaran yang harus
diamalkan dengan segera pada saat mendengarnya, memandangnya dengan pandangan
seorang tentara di medan perang yang siap melakukan perintah dari komandannya untuk
segera melakukan perang. [5]
Karena itu, pembaca saat menelaah Al-Quran hendaknya meresapi dan menghayati
dengan seksama dan penuh khidmat apa yang dibacanya, tidak sibuk dengan urusan lain
saat membacanya, atau melakukan sesuatu, atau menjadikan dirinya dan aktivitas
lainnya menjadi penghalang, namun hendaknya menyatukan segala yang ada dalam
dirinya, pemahamannya, himmahnya, fikrohnya, indranya, khayalnya, perasaannya,
hatinya, akalnya dan jiwanya kepada Al-Quran.
Pembaca juga tidak mencampur adaukkan antara sarana dan tujuan, karena betapa
banyak kerugian yang akan didapat jika hal tersebut dilakukan ! sesungguhnya setiap
sesuatu yang digunakan untuk membaca Al-Quran tidak mesti menjadi sarana untuk
mencapai tujuan..yaitu tilawah, tadabbur dan telaah, dan apa yang dihasilkan dari
hakekat-hakekat yang ditemuinya, lathoif –percikan-percikan Al-Qur’an-, pengetahuan,
ketetapan dan hal-hal yang dapat membuat hatinya terbuka sehingga dapat
memberikan pemahaman, prinsip dan oreintasinya; sehingga mampu membaca buku-
buku tafsir, mampu hidup bersama Al-Quran dalam beberapa saat atau jam. Yang mana
ini semua tidak dijadikan pada bentuk lain kecuali menjadikannya memiliki beberapa
tujuan.
Karena jika hanya merasa puas pada hal tersebut dan merasa cukup dengan satu arah
maka dirinya tidak akan dapat merasakan hidup yang indah bersama Al-Quran, hidup
dibawah naungannya, dan tidak akan mampu memahami bagaimana beriteraksi yang
baik bersama Al-Quran !.


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Kita menyadari bahwa sebagian umat Islam ada yang mereasa cukup dengan hal
tersebut, bermalas-malasan untuk berada disisinya, dan menjadikannya –membaca Al-
Quran- hanya pada satu obsesi dan satu tujuan dan satu misi, sedangkan mereka tidak
memahami Al-Quran secara benar dan tidak berusaha hidup dibawah naungannya !.
Seorang mu’min saat menyertai Al-Quran dalam perjalanan hidupnya yang
menyenangkan hendaknya memperhatikan apa yang dihasilkan dari hal tersebut, harus
meluruskan niat pada setiap perjalanannya, sehingga dirinya akan memperoleh banyak
keuntungan darinya, serta akan memetik keberkahan yang begitu besar.
Sesungguhnya buah yang diharapkan hasilnya tidak akan menyampaikan dirinya pada
tujuan yang telah dibatasi dan dicarinya. Dimana saat dia membaca Al-Quran maka Al-
Quran akan bertanya akan tujuan hidupnya; tujuan orang beriman dalam membacanya,
dan akan dijumpai jawabannya dalam Al-Quran dengan jelas dan gamblang.
Dan kita telah membicarakan tentang tujuan Al-Quran dalam kehidupan manusia pada
tema “Memahami Tujuan Pokok Al-Quran” dan “Memperhatikan Misi Da’wah
Pergerakan Al-Quran” dan yang liannya dari kiat-kiat sukses berinteraksi dengan Al-
Quran secara aplikatif.
Pada hal tesebut, Al-Quran memberikan batasan kepada orang yang beriman yang ingin
mentadabburkan Al-Qur’an dengan tujuan membaca, berinteraksi dan
mentadabburkannya.
Allah berfirman:
¸`, , · ·` , _ ` ¸ · ¸ _,` _ · ,` , · · ` , ` · _` . ` · _ , ` ¸ · ' · ,
¸ ¸ ` · ¸ ¸ . ¸ · : · , ' · , ¯ · ` ¸ · ` ,` ,` ,, · . ., - ¸ ` - ' ¸` , ` ·
` ¸ ` , ` ,` ,` , _ .` , ` -, ¸, ` ·, ` - `·` · ' , · ¸ · · , , ` · , ¯
, ¯ · _ ¸ ` ,` ,` ,, · , ` ,` ·` ·, ` - . , ` ¸ · · , ¸ ` ,, · ¸ ` · : · ·
¸ · · ` ¸ · ` · · ` · ¸ ` .`, ` ¸ · ,
“Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama
Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu
hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah
menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-
ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.
Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan
Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”.
(Az-Zumar : 22-23)
Sesungguhnya tujuan yang ditargetkan adalah “Al-Hidayah”..karena hidayah Allah
merupakan petunjuk bagi siapa yang di Kehendaki…seperti yang disebutkan pada
penutup dua ayat yang telah ditentukan bagaimana mambaca Al-Quran, mensifati
keadaan orang yang berkomunikasi dengannya, memperhatikan fenomena pengeruh,
perubaan dan interaksi atas mereka…kemudian menjelaskan buah dari tilawah ini dan
menentukan tujuan darinya, menyeru kepada orang beriman untuk menelaahnya dan
berusaha untuk mengaplikasikannya, rindu kepada buah tersebut dan berusaha untuk
memetiknya…yang dimaksud adalah “Al-Huda” yaitu hidayah Al-Quran…hidayah
Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki..hidayah secara mutlak dan syamil
–menyeluruh- serta universal untuk individu, masyarakat dan umat…
Dalam ayat lain yang menetapkan tujuan dari tilawah adalah firman Allah :
` · · · ` ¸ ¯ ¸` ¸ · · , ¸ ` , _,` ` · · - , ` · ` , ,` - ' · ` , · . ¯ ` ¸ · , '
,` ¯ · ¸, , · ´ ¸`,` _ : ¯ ,` · ¸ _ _ - , ¸` , . = ¸ ·
., ` ·,
“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-
tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam
gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami
jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.(Al-
An’am : 122)
Yaitu kehidupan yang bebas, berwibawa dan mulia yang hanya layak untuk orang
beriman, kehidupan yang penuh kebahagiaan, keberkahan dan petunjuk yang juga
memberikan keberkahan pada umurnya, menaikkan derajatnya dan membersihkan
jiwanya..kehidupan yang harus dijadikan tujuan dalam membacanya, buah yang dapat
dipetiknya dari hasil interaksi dan perjalanan bersamanya, dan hasil amali yang
diaplikasikan dari interaksinya dengan Al-Quran.
Inilah tujan tilawah, buah interaksi, hasil tadabbur dalam berinteraksi dengan Al-
Qur’an…
Al-Quran adalah hidayah maka bagaimana kita bisa mendapatkan hidayah Al-Quran ?


al-ikhwan.net Abu Ahmad
Al-Quran adalah cahaya maka bagaimana kita bisa mendapatkan cahayanya ?
Al-Quran adalah kehidupan maka bagaimana kita bisa hidup dengannya ?
Al-Quran adalah harta karun yang tidak ternilai harganya maka bagaimana kita bisa
membukanya ?
Al-Qur’an adalah anugrah Allah SWT yang berlimpah maka bagaimana kita bisa hidup
di bawah naungannya,berusaha meraih kehadirannya dan memetik buahnya yang tidak
ada kehidupan selain dengannya ?
Inilah tujuan dari tilawah dan demikianlah buah dari mentadabburkannya…tujuan yang
menyeru kepada seluruh manusia, buah yang memotivasi untuk selalu hidup
bersamanya, mengarahkan untuk selalu rindu kepadanya.
Kita berharap menjadi seperti mereka yang mendapatkan kebahagiaan ketika dapat
hidup di bawah naungan Al-Quran, hidup di dalam hidayah Al-Quran, memetik buah
dari Al-Quran, merealisasikan tujuan-tujuannya, berinteraksi dengan baik bersamanya,
menggunakan kiat-kiat yang memberikan hidayah untuk membuka harta karun Al-
Quran, dan membimbing kita di dunia pada jalan kebaikan dan hidayah Allah dan kelak
memberikan hujjah pada hari kiamat, memberi syafaat untuk masuk ke surga Allah
dengan karunia-Nya, ampunan-Nya dan Rahmat-Nya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah kepada jalan lurus kepada kita
semua. Segala puji hanya milik Allah SWT yang dengan ni’matnya segala kebaikan
menjadi sempurna
Dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad saw, keluarga dan
para sahabatnya.
Wallahu a’lam bisshowab
______________________________________________
[1]. Fi Dzilal Al-Qur’an : jil. 1, hal 11)
[2]. Al-Itqan, Imam Suyuthi : 2 : 176
[3]. FI Ad-Dzilal Al-Qur’an, 1 : 28
[4]. Fi Ad-Dzilal Al-Qur’an, 3 : 1243
[5]. Ma’alim Fi At-Thoriq, Sayyid Qutb, hal : 17-20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->