WIRAUSAHA PRODUKSI MAKANAN OLEH WANITA BALI

(STUDI KASUS PELUANG DAN HAMBATAN WANITA BALI DALAM WIRAUSAHA PEMBUATAN MAKANAN)

Ida Ayu Putu Hemy Ekayani Ida Bagus Nyoman Sudria
Abstrak Penelitian kualitatif ini bertujuan mendeskripsikan variasi jenis produksi makan, tingkat pendidikan, kualitas produksi, tingkat kemajuan usaha produksi, adaptibelitas kegiatan dengan kegiatan domestik, dan kendala dari wirausahawati Bali dalam pengembangan usaha produksi makanan. Subyek penelitian adalah wirausahawati Bali di wilayah kota kabupaten, kecamatan, pusat desa, dan obyek wisata di Kabupaten Buleleng. Data penelitian dikumpulakan melalui pencatatan dokumen, wawancata, dan oservasi. Penelitian menemukan bahwa wirausahawati Bali mengembangkan jenis produksi yang bervariasi mencakup jenis makanan tradisional dan umum. Kebanyakan subyek memiliki tingkat kebanyakan SMP ke bawah, kualitas produksi cukup, skala usaha kecil, adaptibelitas kegiatan wirausaha dan tugas domestik tinggi. Kendala yang dihadapi wirausahawati Bali berupa pengetahuan untuk mengembangkan usaha, terutama untuk meraih pasar pariwisata. Kata kunci: wirausaha, wanita Bali, dan produksi makanan Abstract This research proposed to describe the types of food products, formal and informal education, production quality, development of products, adaptability of the business activities to domestic responsibility, and restrictions encountered by Balinese women in food production business. The subjects of the study were Balinese women businesses in food production in the center of the region, municipals, and villages, and tourism areas within the Bulleleng region. Data gathering used document collection, interview, and observation. This study found that Balinese women businesses in food production develop various types of products including traditional foods and common foods for daily consumptions. Most of the women has formal education up to senior high school and poor specific training in improvement of quality food production, produces food in medium quality, business in small scale, highly adapting the business activities to domestic responsibility, and encounters difficulty in promoting her business to reach tourism market and/or to a lager scale business due to her limitation in management ability and poor view in business development. Key word: entrepreneur, Balinese women, and food production

1

Masyarakat Bali umumnya menganut sistem patrilineal, suami sebagai kepala keluarga. Masyarakat Bali kebanyakan beragama Hindu dengan cukup kuat melaksanakan tradisi adat yang pada umumnya bermuatan nilai-nilai keagamaan. Tradisi pelaksanaan upakara (kegiatan keagamaan dengan menggunakan sarana upacara) untuk mendukung implementasi tatwa (aturan/petunjuk kebenaran atau dharma) dan susila (tingkah laku yang baik) sangat transparan di Bali. Dalam penyiapan sarana upakara, suami biasanya menyiapkan sarana fisik yang memerlukan tenaga cukup besar seperti bangunan dan menghias tempat upacara. Sementara wanita meniapkan kebanyakan sarana upakara yang tidak memerlukan tenaga besar seperti pembuatan kue-kue dan jejahitan (simbol-simbol yang terbuat dari janur/dedaunan). Hal tersebut mengarahkan posisi istri menunaikan kewajiban domestik (kerumahtanggaan) dan suami sebagai pencari nafkah. Kesulitan ekonomi akibat keterpurukan sektor pariwisata setelah Bom Bali I (12 September 2002) dan Bom Bali II (1 oktober 2005) mendesak wanita untuk menambah penghasilan keluarga. Wirausaha produksi makanan merupakan salah satu peluang dan harapan bagi wanita Bali untuk menambah penghasilan keluarga ditengah-tengah kesibukan menunaikan tugas kewajiban kerumahtanggan. Peluang pemberdayakan keahliah kerumahtanggaan yang pada umumnya dimiliki wanita atau melibatkan kebanyakan wanita semestinya juga dapat diraih wanita Bali. Pengembangan wirausaha produksi makanan dalam zaman moderen tidak semudah membalik telapak tangan, terutama untuk meraih pasar pariwisata. Produksi makanan harus memenuhi aturan-aturan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM). Tidak hanya harus memenuhi aturan, tetapi yang paling sulit adalah membuat konsumen percaya terhadap produk itu higienis, bergizi, dan menarik selera konsumen. Pengembangan wirausaha produksi makanan mengandung banyak tantangan, lebihlebih untuk unit usaha skala menengah ke atas yang menuntut keahlian dan kemampuan pengelolaan (manajemen) yang memadai. Permasalahan yang perlu diungkap dan dicari jawabannya melalui penelitian ini tentang peluang, harapan, dan kendala-kendala bagi wirausahawati Bali dengan taradisi budaya upakara dalam pengembangan wirausaha produksi makanan. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap beberapa aspek dari wirausahawati Bali yang yang berhubungan dengan kemampuan pengembangan usaha produksi makanan yaitu 1) tingkat

2

pendidikan formal dan vokasional, 2) variasi jenis produk yang dikembangkan pada beberapa tipe wilayah, 3) kualitas produksi, 4) tingkat kemajuan atau volume usaha, 5) adatibilitas wirausahawati bali terhadap tugas domestik (terutama tugas keluarga), dan 6) kendala-kendala yang dihadapi wirausahawati Bali. Wirausahawati Bali dalam Usaha Produksi Makanan Meskipun persamaan hak dan kemajiban pria dan wanita sudah mendapat pengakuan, masyarakat Bali bahkan kebanyakan masyarakat di dunia masih cendrung memposisikan wanita sebagai urusan kerumahtanggaan. Banyak wanita yang menganggap hal demikian sebagai pembatas pada wanita, tetapi banyak juga yang masih mengganggap sebagai pembagian tugas/fungsi dalam keluarga. Tugas wanita dalam urusan domestik masih sangat dihargai di Bali. Eva Sumarni (2006) mengutip pandangan Dr. Karlina Leksono, astronom perempuan pertama di Indonesia, staf BPPT dan pengajar di UI, serta tokoh gerakan Suara Ibu Peduli, terhadap posisi wanita yang menyatakan bahwa perempuan masih terbelenggu oleh pelbagai pembatasan yang seharusnya tak ada dan menyarankan untuk memberikan kepercayaan pada wanita terhadap pilihan-pilihannya sendiri. Tetapi seperti yang dikutip Sumarni, Karlina sendiri juga mengungkapkan pemikirannya agar keluarga selalu harus diutamakan. Sumarni (2006) lebih jauh memberikan ulasan sebagi berikut. Dalam kehidupan nyata, itu (kebebasan pilihan wanita) bisa berarti, perempuan yang berpeluang dan berkemampuan untuk berperan aktif di luar rumah, memutuskan tinggal di rumah, karena berpendapat itu yang paling cocok dengan kepribadian dan panggilan nuraninya. Bukan karena tekanan dari suami, orang tua atau mertua, bahkan omongan tetangga. Tentu masalahnya jadi lain, bila partisipasinya untuk turut mendukung kesejahteraan keluarga secara ekonomi memang dibutuhkan. Sumarni menganggap gambaran sosok wanita di atas sebagai figur wanita Indonesia yang menikmati emansipasi dalam keluarga yang demokratis. Jika pandangan figur wanita demikian cukup kuat, penghargaan terhadap tugas ibu mengasuh anak dan kerumahtanggaan lainnya cendrung tidak akan mereposisi pilihan kebanyakan wanita dalam kewajiban tugas-tugas kerumahtanggaan. Dalam kondisi demikian untuk menambah penghasilan keluarga, jenis wirausaha yang memanfaatkan keahlian kerumahtanggaan merupakan potensi bagi kebanyakan wanita Bali.

3

Tingkat pendidikan dan pengalaman yang cukup tinggi diperlukan untuk membangun wirausaha boga, lebih-lebih dengan sasaran wisatawan. Agar wanita Bali agar mampu bertahan dan berkembang di tengah-tengah perusahaan besar yang biasanya menerapkan total kuality manageman (TQM) untuk mempertahankan keunggulannya dengan keunggulan kualitas SDM yang dimilikinya. Kreativitas menemukan variasi produk boga, kekhasan, kesesuain dengan kebutuhan dan keterjangkauan oleh pasar (terutama masyarakat domestik), dan jaminan kualitas produk (terutama sanitasi dan kesehatan) semakin diperlukan untuk meraih pasar dengan konsumen yang semakin terdidik. Dengan pengetahuan demikian peluang pasar yang tidak terjangkau atau kurang efeisien disasar perusahan besar merupakan peluang bagai wirausaha boga Wanita Bali. Kelayakan usaha dapat dianalisis dari tiga aspek utama. Pertama, pemasaran meliputi kebutuhan dan keinginan konsumen, segmentasi pasar, target, nilai tambah, masa hidup produk, struktur pasar, persaingan dan strategi pesaing, ukuran pasar, pertumbuhan pasar, laba kotor (potensial ≥ 20%), pangsa pasar. Kedua, aspek produksi/opersi meliputi lokasi operasi, volume operasi, mesin dan peralatan, bahan baku dan bahan penolong, tenaga kerja, dan lay-out (tata ruang/letak fasiltas operasi). Ketiga, aspek manajemen meliputi kepemilikan, organisasi, tim manejemen, dan karyawan. Keempat, aspek keuangan meliputi kebutuhan dana, sumber dana, proyeksi neraca, proyeksi rugi dan laba, proyeksi aliran kas. Tingkat penguasaan wawasan kewirausahaan diperlukan untuk mewujudkan keberhasilan wirausaha. Kualitas usaha boga ditentukan oleh higiene makan, sanitasi lingkungan, kandungan gizi makanan, dan manejemen usaha. Inovasi-inovasi untuk meningkatkan kualitas usaha produksi makanan sangat diperlukan terutama peningkatan usaha-usaha produksi makanan tradisional. Wirausaha boga yang baik juga harus menyediakan fasilitas yang menjamin keselamatan kerja seperti pertolongan pertama pada kecelakaan dan penanggulangan kecelakaan kerja. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan keadaan wirausahawati Bali di kabupaten Buleleng dalam usaha produksi makanan. Subyek penelitian adalah wanita Bali (berlatar budaya Bali) di kota kabupaten, kota kecamatan,

4

dan pusat desa, dan obyek wisata. Pemilihan subyek didasarkan pada adanya empat kecendrungan kategori jenis karakteristik wanita Bali yang dipengaruhi oleh tempat (desa), waktu (kala), dan kondisi (patra). Di samping itu, adanya konsumen yang cukup yakni terjadinya pemusatan ekonomi/pemasaran domestik di kota kabupaten dan kecamatan, serta pusat desa. Obyek penelitian adalah tingkat pendidikan tenaga wanita yang terlibat, pengalaman vokasional dan kewirausahaan tenaga wanita Bali (pengalaman langsung dan melalui kursus), variasi jenis produk makanan wirausaha boga wanita Bali, kualitas produksi makanan, tingkat/volume usaha, intensitas keterlibatan usahawan boga wanita Bali dalam kegiatan kerumahtanggaan dan masyarakat serta kelancaran usaha boga yang dikembangkannya, dan kendala-kendalan lain yang dialami dalam mengembangkan wirausaha pembuatan makanan. Subyek penelitian ini ditentukan secara purposive sampling. Teknik penentuan subyek penelitian menggunakan snow ball sampling yang dimulai dari informasi di Kantor Camat, Desa, dan Dusun tentang nama-nama Wanita Bali (Hindu) yang berwirausaha pembuatan makanan dan/atau informasi dari obsrvasi produk di pasar. Subyek penelitian terdiri dari wanita Bali (beragama Hindu) usia kerja yang meliputi ibu rumah tangga dan/atau wanita anggota rumah tangga usia kerja. Rangkuman rancangan subyek penelitian penelitian disajikan pada Tabel 4.1. Sesuai dengan jenis penelitian kualitatif, maka penelitian ini menganut prinsip “human instrument” yaitu peneliti merupakan instrumen penelitian yang utama (Carspecken, 1998). Namun dalam pelaksanaannya, peneliti juga akan menggunakan beberapa instumen dan teknik pengumpulan data yaitu : 1) 2) 2). Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan analisis deskriptif. Dalam analisis ini data disusun, yakni digolongkan dalam kategori jenis produk makanan, kualitas produk (terutama dari bahan, proses, dan kemasan), skala volume usaha, tingkat pendidikan dan pengalaman vokasional wanita yang dilibatkan, dan jenis kendala yang dihadapi. Setelah itu dilakukan intepretasi data, yakni memberi makna dan menjelaskan kategori dan pola yang ditemukan. Melalui cara ini gejala sosial yang Pedoman wawancara (Lampiran 1) Lembar pencatatan data dari dokumen, wawancara, dan observasi (Lampiran

5

bersifat kompleks dapat dideskripsikan dan dibuat argumentasinya dalam suatu kualitas yang lebih mendekati realitas yang bermakna.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Wanita Bali dengan latar belakang tradisi upakara Hindu mengembangkan wirausaha pembuatan jenis makanan tradisional dan umum, baik untuk kebutuhan sesajen maupun konsumsi harian. Variasi jenis makanan yang dikembangkan di wilayah kota kabupaten, kecamatan dan obyek wisata hampir sama. Di wilayah pusat desa jenis makanan tradisional basah lebih banyak dikembangkan. Namun ada beberapa jenis makanan tradisional seperti jajan gambir sudah sulit ditemukan di pasar. Kebanyakan wirausahawati Bali dalam pembuatan makanan memiliki tingkat pendidikan relatif rendah (SMP ke bawah), berstatus menikah, menerima keahliah pembuatan makanan sebagai warisan, dan kurang aktif dengan inisiatif sendiri mengikuti kursus-kursus vakasional untuk memajukan wirausaha boda mereka. Tingkat pendidikan wirausahawati pembuatan makanan di kota kabupaten, kecamatan, dan obyek wisata relatif lebih baik dari mereka yang di pusat desa. Wirausahawati yang berhasil mengembangkan usaha sampai skala menengah cendrung didukung oleh potensi pasar (terutama di kota kabupaten dan kecamatan) dan tingkat pendidikan lebih tinggi, seperti sarjana pendidikan kesejahtraan keluarga. Kualitas makanan produksi wirausahawati Bali secara keseluruhan tergolong cukup. Produk dalam unit kemasan kecil seperti apem, roti, dan ladrang dibungkus dengan palstik. Namun produk dalam jumlah paket biasanya dikemas dalam wadah tertutup. Wanita Bali sangat memperhatikan lingkungan kerja yang berwawasan Tri Hita Karana. Kebanyakan Wanita Bali menghindari penggunaan tambahan makanan seperti pewarna buatan dan berusaha menggunakan pewrna alami seperti daun salam, kunir, dan coklat, kecuali bahan pewarna tertentu (misalnya merah). Wirausahawati Bali dengan rata-rata beban tugas keluarga yang tergolong sedang sangat adaptif dalam mengelola waktu produksi dengan pelaksaanaan tugas domestik dan terhadap musim keberuntungan berproduksi dari jenis usaha tertentu (seperti jajan sesajen). Anggota keluarga umumnya mendukung kelancaran usaha. Beberapa jenis usaha seperti pembuatan ladrang berhenti sementara pada waktu hari raya besar di Bali, tetapi usaha tersebut segera lancar kembali setelah hari raya. Babyak wirausahawati 6

melakukan pergiliriran produksi atau perubahan proporsi anatara jenis makanan seharihari dengan jenis makanan sesajen sesuai dengan musim. Produksi jajan sesajen meningkat saat/menjelang hari raya. Kebanyakan usaha pemuatan makanan yang dimiliki wanita Bali tergolong kecil, namun beberapa hanya mencapai skala menengah. Jangkauan pemasaran produk seperti umumnya bergantung pada jenis produk dan skala usaha. Pemasaran produk makanan kering oleh wirausahawati Bali barskala kecil maupun menengah, terutama makanan seperti dodol, ladrang, dan krupuk sudah menjangkau kota kabupaten lain (seperti Denpasar), meskipun sistem distribusi produk belum regular aktif dengan armada yang dikelola sendiri. Pemasaran masih tergantung pada pesanan dan kesediaan waktu/kesempatan para pengampas (sambilan). Pemasaran produk lancar, karena jumlah produksi dan wirausahawati Bali dalam pembuatan makanan masih terbatas, dan kualitas produk cukup baik. Di samping itu, kesadaram masyarakat Bali untuk menggunakan produk domestik sudah mulai tumbuh. Masyarakat Bali cukup kuat memperhatikan prosedur dan lingkungan produksi yang mempertimbangkan keterkaitan aspek-aspek Tri Hita Karana, seperti bahan makanan atau jajan untuk sesajen harus sukla (sebelumnya tidak digunakan sebagai sesajen). Namun situasi Bali sebagai tujuan wisata masih sedikit dimanfaatkan sebagai pasar potensial bagi produk makanan tradisional Bali. Beberapa kendala wanita Bali dalam mengembangkan wira usaha pembuatan makanan terutama dalam sistem pengelolaannya (manajemen) dan kurang berani menanggung resiko. Musim hujan juga dirasakan sebagai kendala wirausawati yang mengusahakan makanan kering. Pembahasan Wanita Bali dengan latar belakang tradisi upakara Hindu yang berwirausaha pembuatan makanan cendrung berstatus nikah. Dorongan seorang istri untuk ikut mengatasi kebutuhan hidup bagi keluarga sangat kuat. Wanita yang belum/tidak nikah lebih bebas memilih usaha lain, kurang terikat dengan tugas urusan dapur.. Variasi jenis makanan yang diproduksi menyesuaikan dengan selera pasar dan perkembangan teknologi, bahkan makanan umum seperti aneka cake cendrung digunakan juga sebagai kue sesajen dalam upacara-upacara umum. Beberapa jenis

7

makanan tradisional untuk sesajen cendrung dibungkus dengan plastik supaya lebih higienis, tidak seperti dulu yang dibiarkan tidak terbungkus. Variasi jenis makanan yang dikembangkan dipusat desa lebih terbatas dari yang dikembangkan di kota kabupaten, kecamatan, dan obyek wisata. Fakta ini cukup logis karena potensi pasar di desa lebih kecil dibanding dengan di kota kabupaten, kecamatan, atau obyek wisata. Kebanyakan wirausahawati Bali memiliki tingkat pendidikan relatif rendah (SMP ke bawah), sehingga keahliah mereka dalam produksi makanan cendrung hanya dari warisan, kurang aktif dengan inisiatif sendiri mengikuti kursus-kursus vakasional untuk memajukan wirausaha boga mereka. Tingkat pendidikan yang memadai sangat diperlukan dalam pengelolaan (manajemen) wirausaha. Kiat-kiat dalam meningkatkan kualitas dan mengembangkan produk sangat dibantu oleh keluasan pandangan dan kemampuan berpikir yang biasanya terkait dengan tingkat pendidikan. Kualitas makanan produksi wirausahawati Bali secara keseluruhan tergolong cukup. Kebanyakan produk dalam unit kecil seperti apem, roti, dan ladrang dibungkus dengan palstik. Namun produk dalam jumlah paket biasanya dikemas dalam wadah tertutup. Wanita Bali cukup memperhatikan lingkungan kerja yang berwawasan Tri Hita Karana. Kebanyakan Wanita Bali menghindari penggunaan tambahan makanan seperti pewarna buatan dan berusaha menggunakan pewrna alami seperti daun salam, kunir, dan coklat, kecuali bahan pewarna tertentu (misalnya merah). Wirausahawati Bali sangat adaptif dalam melaksanakan tugas keluarga dengan usaha produksi makanan. Hali ini dimungkinkan karena mereka rata-rata mempunyai beban keluaraga tergolong sedang dengan tanggungan 2-3 orang dan hanya sedikit mengemban tugas/kewajiban dari masyarakat/adat. Walaupun ada beberapa wirausahawati yang hanya memanfaatkan waktu senggang untuk menjalankan usahanya, kebanyakan dari wirausahawati dapat melaksanakan tugas domestik sendiri tanpa mengganggu kelancaran wirausahanya. Anggota keluarga dari mendukung usaha wirausahawati dan membantu kelancaran usaha. Ada beberapa jenis usaha seperti pembuatan ladrang berhenti sementara pada waktu hari raya besar di Bali, tetapi usaha tersebut segera lancar kembali setelah hari raya. Banyak pengusaha yang jenis produksinya, terutama mjenis makanan umum yang kurang laku pada musim hari raya, melakukan pergiliran produksi dengan membuat produk yang laku pada hari raya, seperti mengurangi peoduksi pia dengan menambah

8

produksi dodol pada musim hari raya. Bahkan wirausahawati pembuat jajan tradisional maupun jajan umum untuk sesajen seperti produksi apem, bolu, dan cake menuai kenaikan keberuntungan pada musim hari raya. Situasi hari raya juga merupakan suasana penyegaran suasana kerja bagi kegiatan usaha produksi, sehingga sangat rasional kegiatan wirausaha pembuatan makanan oleh wanita Bali tidak memerlukan waktu libur khusus seperti hari minggu untuk menghindari kejenuhan suasana kerja. Jangkauan pemasaran produk seperti umumnya bergantung pada jenis produk dan skala usaha. Pemasaran produk makanan kering oleh wirausahawati Bali barskala kecil maupun menengah, terutama makanan seperti dodol, ladrang, dan krupuk sudah menjangkau kota kabupaten lain (seperti Denpasar). Jangkauan pasar demikian sangat dimungkinkan oleh waktu hidup produk cukup panjang. Namun sistem distribusi produk belum regular seperti usha-usaha besar yang telah memiliki angkutan khusus secara regular aktif menawarkan produk. Pemasaran masih tergantung pada pesanan dan kesediaan waktu/kesempatan para pengampas. Pemasaran produk lancar, karena kualitas produk cukup baik dan jumlah produksi dan wirausahawati Bali yang mengusahakan jenis pembuatan makanan masih terbatas. Di samping itu, kesadaram masyarakat Bali untuk menggunakan produk domestik sudah mulai tumbuh. Konsumen di sekitar dapat mengamati kualitas sistem produksi dan informasi demikian secara estapet cepat menyebar ke konsumen. Jenis makanan basah seperti laklak (surabi Bali), dan aneka kue basah Bali yang lingkungan produksinya bersih kembali diburu konsumen. Demikian juga jenis makanan ini sudah disajikan dalam acara-acara umum di masyarakat maupun kantor-kantor. Usaha kecil maupun menengah jenis ini lancar. Isu penggunaan bahan aditif pada makanan yang marak di masyarakat, juga mendongkrak kelancaran pasar jenis makanan ini yang pada umumnya tidak menggunakan bahan pengawet. Wirausaha pembuatan makanan yang berskala menengah belum tumbuh di pusat desa, hanya baru di pusat kecamatan dan kota kabupaten. Keadaan inii cukup rasional, karena keterbatasan konsumen/pasar di desa dan wanita Bali di pedesaan kurang mempunyai wawasan dan kepercayaan dalam pengembangan wirausaha pembuatan makanan yang saat ini dan ke depan dituntut menghasilkan produk yang higenis. Peluang pasar Bali sebagai tujuan wisata belum optimal dimanfaatkan oleh wirausahawati Bali. Belum ada makanan dan minuman tradisional yang dipasarkan

9

sebagai supenir di daerah wisata seperti Lovina (daerah wisata paling ramai di Kabupaten Buleleng). Tantangan besar bagi pengusahan boga dan pihak lain dalam upaya peningkatan mutu dan promosi jenis makanan tradisional agar dapat meraih pasar wisata. Masyarakat Bali, khususnya rumah makan atau toko makanan, pelaku pariwisata, dan pemerintah masih kurang memberi perhatian pada wirausaha pembuatan makanan tradisional Bali. Apabila berhasil dibuat makanan tradiosinal dengan kualitas baik yang dapat disajikan langsung atau dalam bentuk kemasan supenir yang menarik dan peluang pasar pariwisata Bali yang besar dapat diraih, aset wirausahawati Bali akan besar. Beberapa usaha yang bergantung pada musim (hari biasa dan hari raya) diatasi dengan variasi produk dan pergiliran atau penyesuaian jumlah produksi jenis makanan sesuai dengan musim. Sebagai contoh, jumlah produksi atau pian dikurangi pada skitar hari-hari raya, tetapi jenis makananan terkait dengan sesajen seperti dodol, bolu, dan aneka cake ditambah. Kesimpulan dan saran Wanita Bali dengan latar belakang tradisi upakara Hindu yang berwirausaha pembuatan makanan cendrung berstatus nikah, mengembangkan jenis makanan cukup bervariasi meliputi jenis makanan tradisioan maupun umum sesuai dengan selera pasar. Bahkan makanan umum seperti aneka cake cendrung digunakan juga sebagai kue sesajen dalam upacara-upacara umum. Variasi jenis makanan yang dikembangkan dipusat desa lebih terbatas dari yang dikembangkan di kota kabupaten, kecamatan, dan obyek wisata. Kebanyakan wirausahawati Bali memiliki tingkat pendidikan relatif rendah (SMP ke bawah) dan keahliah dalam produksi makanan cendrung hanya dari warisan. Kualitas makanan produksi wirausahawati Bali secara keseluruhan tergolong cukup. Wirausahawati Bali sangat adaptif dalam melaksanakan tugas keluarga dengan usaha produksi makanan. Ada beberapa jenis usaha seperti pembuatan ladrang berhenti sementara pada waktu hari raya besar di Bali, tetapi usaha tersebut segera lancar kembali setelah hari raya. Banyak pengusaha yang jenis produksinya, terutama mjenis makanan umum yang kurang laku pada musim hari raya, melakukan pergiliran produksi dengan membuat produk yang laku pada hari raya, seperti mengurangi peoduksi pia dengan menambah produksi dodol pada musim hari raya. Jangkauan pemasaran produk

10

seperti umumnya bergantung pada jenis produk dan skala usaha. Pemasaran produk makanan kering oleh wirausahawati Bali barskala kecil maupun menengah, sudah menjangkau kota kabupaten lain (seperti Denpasar). Pemasaran masih tergantung pada pesanan dan kesediaan waktu/kesempatan para pengampas. Pemasaran produk lancar. Peluang pasar Bali sebagai tujuan wisata belum optimal dimanfaatkan oleh wirausahawati Bali. Beberapa usaha yang bergantung pada musim (hari biasa dan hari raya) diatasi dengan variasi produk dan pergiliran atau penyesuaian jumlah produksi jenis makanan sesuai dengan musim. Secara umum hasil studi ini dapat digunakan sebagai masukan oleh berbagai pihak terkait untuk lebih memberdayakan dan memajukan wirausahawati Bali di Kabupaten Buleleng dalam sektor produksi makanan. Secara lebih spesifik ada beberapa hal yang dapat disarankan. Pertama, meningkatkan penghargaan kepada wirausahawati Bali yang mengembangkan sektor produksi makanan sehingga jumlah wanita Bali yang tertarik mengembangkan usaha produksi makanan baik melalui pendidikan vokasional formal maupun kursus-kursus meningkat. Kedua, perlu dilakukan penelitian lanjutan terhadap hal-hal sebagai latar belakang dari wanita Bali yang belum/tidak nikah kurang tertarik dalam pengembangan usaha produksi makanan. Ketiga, kontribusi dari semua pihak turut membantu mengembangkan mempromosikan, dan memasarkan produk makanan tradisional Bali sangat diperlukan untuk meraih pasar wisata dalam bentuk supenir dan/atau sajian-sajian langsung. Daftar Pustaka Bauer, K. B. & Bauer, G. (1999). diterjemahkan oleh Dwi Djelantik. Pengetahuan Pengolahan Makanan. Austria : Vais Fadiati , A. W.S. (1988). Pengolahan Usaha Boga. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek pengembangan Lembaga Pendidikan teaga Kependidikan Maleong, L.J. (1998). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nitisemito, E. A. S. (1985). Memulai Usaha dengan Modal Kecil. Jakarta : Gahlia Indonesia. Sumarni, E. http://celoteh.blogspot.com. [tersedia: 12 Maret 2006] Widyati, R. Dan Tuliarsih. 2002. Higiene & Sanitasi Umum dan Perhotelan. Jakarta : Penerbit PT Garamedia Widiasarana Indonesia. Wisarja, I. W. 2005. Kewirausahaan, Jurusan Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP Negeri Singaraja.

11

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful