BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

A. Pembelajaran IPS 1. Definisi IPS dan Pembelajaran Pengertian pendidikan ilmu pengetahuan sosial mengalami pasang surut sejalan dengan perkembangan kemajuan Social Studies di Amerika, sebab pendidikan ilmu pengetahuan sosial di Indonesia juga merupakan pengembangan dari social studies. Sejumlah istilah digunakan, ada yang menyebut Ilmu

Pengetahuan Sosial (IPS), Studi Sosial (SS), Program Pendidikan IPS (PIPS), Ilmu Sosial Dasar (ISD), Pendidikan Ilmu Sosial (PIS) dan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS). Keragaman istilah tersebut, akan memperkaya pemikiran. Barr (1977) dalam Buletin 51 NCSS menjelaskan secara rinci perkembangan pengertian Social Studies di Amerika yang kemudian menjadi cikal bakal pendidikan IPS di Indonesia. Pengertian awal tentang “social studies” yang dikemukakan oleh Edgar Wesley yaitu “The Social Studies are the social sciences simplified for pedagogical purpose”, yang mengandung arti bahwa Studi Sosial adalah ilmuilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan Barr (1977:1-2). The Thesaurus of ERIC Description menjelaskan bahwa:”social studies consist of adaptation of knowledge from the social sciences for teaching purpose at the elementary and secondary level education”.

26

27

Sejalan dengan definisi studi sosial yang dikemukakan di atas, yang dibakukan dalam The United States of Education‟s Standar terminology for Curriculum and Instruction. Barr (1977:2) mengemukakan, bahwa “The social studies are comprised of those aspects of history, economics, sociology, political science, sociology, antropologi, psychology, and philosophy which in practice are selected for instructional purpose in schools and college.” Merujuk pada pendapat Barr di atas, hal ini mengandung pengertian, bahwa social studies terdiri dari aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu antropologi, ilmu sosiologi, psikologi, ilmu geografi, dan filsafat yang dalam prakteknya diseleksi untuk tujuan pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi pada pengantarnya. Menurut NCSS (National Council for the Social Studies) sebagaimana dikemukakan oleh Barr (1977:2) bahwa pengertian “social studies” yaitu: The term “social studies”, the character reads, is used to include history, economics, sociology, civics, geography, and all modifications of subjects whose content as well as aim is social. In all these content definitions, the social studies is conceived as the subject matter of the academic disciplines somehow “simplified”, ”adapted”, “modified” or selected for school instruction. Begitupun Barr (1977) mengemukakan pengertian studi sosial yaitu Social studies is an integration of social sciences and humanities for purpose of instruction in citizenship education. Hal ini mengandung makna bahwa studi sosial adalah integrasi dari sejumlah ilmu sosial dan humanities untuk tujuan pengajaran dalam pendidikan kewarganegaraan. Di sini diberi tekanan

“integrasi”, karena studi sosial itu merupakan satu-satunya yang berusaha untuk

28

menarik ke dalam, dengan gaya terintegrasi data-data tentang ilmu-ilmu sosial dan pandangan-pandangan kebudayaan. Ditekankan pada “kewarganegaraan” karena studi sosial meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi, tinjauan, tujuan dan metode, secara universal telah ditinjau sebagai persiapan akan kesadaran berkewarganegaraan dalam alam demokrasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Barr (1977 :42) bahwa

perkembangan pengertian Social Studies pada periode kedua yaitu pada tahun 1960-an yaitu didasarkan pada penilaian bahwa studi sosial sebelumnya dinilai sangat lemah dan kurang efektif dalam mengajarkan substansi dan mempengaruhi sikap siswa, hal itu didasarkan pada kurikulum yang belum berubah selama lebih dari lima tahun. Oleh karena itu para ilmuwan dalam hal ini ahli sejarah, dan ahli ilmu-ilmu sosial bersepakat untuk meningkatkan studi sosial kepada taraf intelektual yang paling tinggi, yakni dengan mempelajari ilmu-ilmu sosial secara mendasar. Dan inilah periode yang disebut Robert Barr sebagai era baru pembelajaran pendidikan ilmu-ilmu sosial. Tapi pada kenyataannya studi “sosial baru” yang dikembangkan tahun 1960-an sama sekali tidak baru. Sesungguhnya itu sama saja dengan ilmuwan sosial pada akhir tahun 1800-an ketika ahli sejarah dan ilmuwan sosial tidak hanya menaruh perhatian kepada kurikulum-kurikulum di sekolah-sekolah umum, tapi juga mengumpulkan komisi dan panitia untuk membuat rekomendasi tentang apa yang seharusnya diajarkan di sekolah umum. Dan tidaklah mengherankan bahwa apa yang hendak diajarkan adalah pelajaran-pelajaran yang padat dalam sejarah dan apa yang kemudian diakui sebagai ilmu-ilmu sosial. Maka selama

29

akhir tahun 1800-an sejarawan Amerika menaruh perhatian serius dan profesional pada program-program pengajaran studi-studi sosial di sekolah-sekolah. Kemudian perkembangan Studi Sosial pada tahun 1970-an Barr (1977:46) menjelaskan pengembangan kurikulum Studi Sosial menitik beratkan pada proses inkuiri, pengambilan keputusan, nilai-nilai dan orientasi masalah yang dihadapi peserta didik sebagaimana diungkapkan Barr dkk bahwa: Nearly all of the curriculum development project emphasized the inquiry process, decision making, value question, and student-oriented problem. Having started as efforts to develop curriculum materials in separate, distinct, academic disciplines that were highly objective, highly conceptual, and value neutral, this shift toward student interest value and intercorrelationship between the disciplines was a significant development for the social studies. Pada masa itu terjadi konflik dan pertentangan antara kelompok ahli Sejarah Amerika dengan kelompok ahli ilmu-ilmu politik Amerika, dan organisasi yang lain tentang isi yang spesifik dari pelajaran-pelajaran studi-studi sosial tapi ada persetujuan yang dicapai secara aklamasi yaitu bahwa murid-murid di sekolah-sekolah umum harus mempelajari struktur dan proses-proses inquiry dari sisipan ilmiah itu. Hal ini disebabkan karena pada masa itu sebagaimana dikemukakan oleh Barr (1977:46) pengembangan social studies dipandang sebagai upaya bagaimana pemecahan masalah atau metode reflektif inkuiri (problem solving or the reflective inquiry). Pemikiran ini sebagai upaya untuk mengintegrasikan antara pemikiran yang berpusat pada anak dengan pemikiran yang berorientasi pada kepentingan sosial atau masalah-masalah sosial. Sosial Studies diharapkan dapat mengembangkan kemampuan membuat keputusan

30

secara cermat serta mampu mengoptimalkan peluang-peluang bagi anak untuk membuat keputusan secara cerdas dan nalar berdasarkan pada apa yang mereka anggap bernilai, mereka yakini dan membimbing mereka kepada gagasan-gagasan yang bisa diterima. Maka Komisi Amerika saat itu memberikan semangat kepada sekolah-sekolah untuk memusatkan pelajaran-pelajaran studi sosial pada minat murid-murid dan masalah di masyarakat. Murid-murid didorong untuk melalui penelitian sumber-sumber primer, pembentukan konsep-konsep dasar, dan mengarang tentang sejarah mereka sendiri. Murid-murid diharuskan mempelajari metode-metode penyelidikan, ketekunan, mengeluarkan kritik, authentication = mencari sumber-sumber yang authentic dan verification = mencari penjelasan. Untuk mencapai tujuan tersebut social studies pada masa ini dipandang penting perlunya menyatukan, mensintesakan serta menerapkan materi ilmu-ilmu sosial dalam mengkaji dan memecahkan masalah-masalah sosial dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya mendidik menjadi warganegara yang baik. Analisis tentang definisi social studies dan pengindentifikasian social studies ke dalam tiga tradisi pedagogis menurut Winataputra (2001; 97) bahwa definisi sosial studies tersirat beberapa hal: Pertama, social studies merupakan suatu sistem, kedua: misi utama social studies adalah pendidikan kewarganegaraan dalam suatu masyarakat yang demokratis; ketiga: sumber utama content social studies adalah social sciences dan humanities dan keempat: dalam upaya penyiapan warga negara yang demokratis terbuka kemungkinan perbedaan dalam orientasi dan strategi pembelajaran. Perkembangan social studies di Amerika sebagaimana

31

dikemukakan oleh Barr (1977:59) dikembangkan menjadi tiga tradisi sosial studi sebagai berikut: The analysis of the field based on purpose, method, and content was recently published in a book entitled The Nature of the Social Studies. The Analysis identified the three basic Traditions in the social studies as: Social Studies Taught as Citizenship Transmission. Social Studies Taught as Social Science and Social Studies Taught as Reflective Inquiry. Tradisi pertama yaitu Social Studies Taught as Citizenship Transmission. Ini merupakan tradisi paling tua dalam lapangan ini, paling populer dan secara keseluruhannya kelihatan mempesona. Esensi dari tradisi ini ialah penanaman tentang apa yang dipertimbangkan sebagai pengetahuan yang paling diminati, nilai-nilai dan kecakapan-kecakapan yang diasumsikan sebagai penting untuk mempertahankan hidup kebudayaan. Hal ini dikarenakan dalam Social Studies Taught as Citizenship Transmission adalah cara pembelajaran studi sosial yang berhubungan dengan pembentukan perilaku, pengetahuan, pandangan dan nilainilai yang harus dimiliki siswa. Dalam konsep ini perilaku, pengetahuan dan nilainilai merupakan kekayaan budaya yang secara tradisional harus ditransmisikan kepada anak didik. Oleh karena itu tujuan pembelajaran sosial bertujuan untuk mengembangkan warganegara sebagaimana dikemukakan oleh Barr (1978: 22) bahwa “... conforms to certain accepted practices, hold particular beliefs, is loyal to certain values, participates in certain activities, and conforms to norms which are often in character”. Oleh karena tujuan dari tradisi ini sebagaimana dikemukakan oleh Barr (1978: 47) adalah mengembangkan:

32

“reasoned patriotism; a basic understanding and appreciation of America values, institution and practices, personal identity and integrity and responsible citizenship; understanding and appreciation of the American heritage; active democratic participation; an awareness of social problems, and desirable ideals, attitudes, and behavioral skills”. Dengan demikian sebagai transmisi kewarganegaraan ini adalah membina warga negara dalam hal ini Amerika yang dapat memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang baik, taat kepada hukum, membayar pajak, memenuhi kewajiban belajar, memiliki dorongan diri yang kuat untuk mempertahankan Negara Amerika Serikat.Barr (1978:21). Tradisi kedua yaitu Social Studies Taught as Social Science. Pada tradisi ini dilatarbelakangi berawal dari peristiwa yang bervariasi yang terjadi pada tahun 1960-an. Social Studies Taught as Social Science berarti bahwa guru-guru berharap dapat memperkenalkan murid-murid dengan riset, modus inkuiri, dan cara-cara meninjau dunia seperti yang dipakai oleh para ahli ilmu sosial. Dengan kata lain pembelajaran IPS sebagai ilmu sosial didasarkan atas asumsi bahwa siswa-siswa dapat berpikir kritis jika melakukan observasi dan penelitian seperti apa yang dilakukan oleh ahli ilmu-ilmu sosial Barr (1978:23). Maka tujuan pembelajaran sosial yang mengembangkan karakter warganegara yang baik, yang ditandai oleh penguasaan “made of thinking from social science discipline that this mode of thinking is generalizable; and having learned it he will understand properly, appreciate deeply, infer carefully, and conclude logically”.Barr (1978:23-24). Cara berpikir yang demikian harus menjadi landasan untuk menanggapi, menginterprestasi dan menggunakan ilmu pengetahuan sosial. Para siswa harus mampu berpikir dan menggunakan ilmu pengetahuan sosial. Para

33

siswa harus mampu berpikir sesuai dengan ilmu-ilmu sosial, sebab cara berpikir yang demikian penting dalam menyusun generalisasi pada bidang ilmu sosial untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Dengan demikian tradisi ini memusatkan perhatian pada upaya pengembangan karakter warganegara yang baik, yang ditandai oleh

kemampuannya dalam melihat dan mengatasi masalah-masalah sosial dan personal dengan menggunakan visi dan cara kerja para ilmuwan sosial. Dalam hal ini merupakan sarana yang baik untuk mempersiapkan warga negara yang akan datang yang dapat berpikir seperti dalam tradisi keilmuan sosial yaitu mereka dapat melakukan perumusan masalah, penyusunan hipotesis, mengumpulkan data, melakukan analisis data, dan pada akhirnya dapat menarik kesimpulan sesuai dengan pola ilmu-ilmu sosial (Disman, 2004:57). Tradisi ketiga Social Studies Taught as Reflective Inquiry. Tradisi ini berasal dari filsafat John Dewey dan para pengikutnya sejak permulaan abad 20. Tekanan yang diberikan dalam bab ini adalah pada pentingnya mempersiapkan murid-murid sadar akan kewarganegaraan. Komponen yang paling penting dari kewarganegaraan ini ialah murid-murid tahu mengidentifikasikan problemaproblema dan isu-isu dan mengambil keputusan mengenai policy dan kepercayaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Barr (1978:99) adalah “Inquiry as a method means that a teacher and his students will identify a problem that is of considerable concern to them-and to our society and that relevant fact and values will be examined in the light of criteria”. Mengandung makna inkuiri meliputi identifikasi masalah sosial yang harus ditelaah, artinya inkuiri merupakan proses

34

berpikir lebih mendalam dan lebih mendalam. Reflektif inkuiri ini terdapat pada konsep minat, nilai, berpikir kritis, dan juga berhubungan dengan persoalanpersoalan yang berada pada lingkungan sekitar kita. Melalui tradisi reflektif inkuiri ini siswa dilibatkan dalam suasana kehidupan nyata yang penuh dengan persoalan yang harus diteliti dan dipikirkan secara kritis. Studi sosial sebagai reflektif inkuiri yaitu suatu proses penelaahan dan berpikir yang mendalam, merupakan teknik dan strategi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial untuk membina para siswa yang kritis, reaktif, dan mampu melakukan pemecahan masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu tujuan pembelajaran sosial yang menekankan pada hal yang juga sama, yakni pengembangan warga negara yang baik dengan kriteria dilihat dari

kemampuannya to engage in a continual process of clarifying their own value structure .Barr (1978:27). Maka tujuan utama dari tradisi Social Studies Taught as Reflective Inquiry ini adalah the enhancement of the student decision making abilities, for decision making is the most important requirement of citizenship in a political democracy artinya bahwa tradisi ini memusatkan perhatian pada pengembangan karakter warganegara yang baik dengan ciri pokoknya mampu mengambil keputusan. Reflektif inkuiri menyatakan reaksi pada tradisi Transmission, The Citizenship Transmitter percaya bahwa ada nilai-nilai tertentu dari pengetahuan yang harus diwariskan kepada anak. Sampai sejauh mana anak mendapatkan pengetahuan dan nilai yang benar dan mereka akan menjadi warganegara yang baik. Reflektif

35

inkuri membatasi hal ini sebagai usaha untuk menanamkan kepada anak-anak apa yang baik dan benar. NCSS (The national Council for the Social Studies) pengertian social studies terus mengalami perubahan dan perkembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Begitupun dengan Ilmu Pengetahuan Sosial yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang tanggung jawab utamanya adalah membantu siswa mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat baik tingkat lokal, nasional dan internasional. Walaupun bidang kurikulum lainnya juga membantu siswa untuk mencapai keterampilan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam masyarakat demokratis, namun Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) adalah satusatunya bidang kurikulum yang mengembangkan keterampilan dan kompetensi warga negara sebagai tujuan utamanya (Banks,1985:3) sebagai berikut: Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archaeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizens of a culturally drivers, democratic society in an interdependent world”. Pada intinya Social studies adalah integrasi atau gabungan ilmu-ilmu sosial dan humanities untuk tujuan pengajaran dalam pendidikan kewarganegaraan.

36

Sebagai bahan perbandingan pengertian social studies Alma dan Harlasgunawan (2003:146) mengekemukakan hakekat studi sosial berbagai pakar, sebagai berikut diberikan beberapa pandangan: a. The Committee on the social studies of the national Education Association‟s and Reorganization of Secondary Education in 1916 memberi definisi sebagai berikut: “...those studies whose subject matter relates to the organization and development of human society and to as member of social groups. b. Paul Mathias, dalam bukunya The Teacher Hanbook for Social Studies, Blindfold Press, London, 1973:20-21 menyatakan : The Study of man in society in the past, present and future, social studies emerge as a subject of prime importance for study in school. c. Edgar B. Wesley, menyatakan “ those portions or aspects of the social sciences that have been selected and adapted for use in the school or in other instructional situation....The Social Studies are the social sciences simplified for pedagogical purpose in school... The Social studies consists of Geography, History, Economics, Sociology, Civics and various combination of these subject. d. Leonard S. Kenworthy mengatakan; “Social Studies are the study of people carried on in other to help students understand themselves and others in varieties of societies in different places and at different times as individual and groups seek to meet the needs through many institutions as those human beings search for satisfying a personal philosophy and the good society. e. Jhon Jarolimek, mengatakan : “ The Social Studies as a part of the elementary school curriculum draw subject matter content from the social sciences, history, philosophy, anthropology and economics. The social studies have been defined as those portion of the social sciences... selected for instructional pupose. f. Ragam William B mengatakan: The Social Studies are concerned with the wide dissemination of information, the development of social skill and the improvement of social behavior. The social studies program draws materials from the various social sciences, but it also users materials from the lokal community that cannot be properly classified as belonging exclusively to any of them. g. U.S. Bureau of Education menyatakan The Social Studies are understand to be those whose subject matter relates directly to the organization and development of human society and to man as a member of a social group. h. Fresser and West mengemukakan: The Social sciences are systematically organized scholarly bodies of knowledge that have been built up through intellectual inquiry and planned research. These logically organized bodies of knowledge are susceptible of study by person of intellectual maturity. The social studies on the other hand consist of material selected from the

37

social sciences and organized for the instruction of children and youth. The distinction is between systematically structured of instructional content. i. Somantri mengemukakan bahwa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) adalah suatu program pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniti, yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. j. Nasution memberi definisi IPS adalah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya dan yang bahannya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi, Antropologi, Sosiologi, Politik dan Psikologi. Demikian beberapa pengertian pendidikan IPS atau studi sosial yang dikembangkan di Amerika Serikat dan oleh beberapa tokoh pendidikan kita. Secara umum dapat disimpulkan bahwa studi sosial ialah kajian mengenai manusia dengan segala aspeknya dalam hidup dan sistem bermasyarakat, dan kajian ini dapat dilakukan dalam bentuk pengajaran di sekolah dalam menyiapkan anak didik untuk menjadi warga negara yang baik, berdasarkan nilai dan kaidah kemasyarakatan yang berlaku yang sesuai dengan tujuan pendidikan kita. 2. Perkembangan Konsep IPS Perkembangan konsep IPS di Indonesia secara resmi masih sulit untuk ditelusuri kapan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berada. Winataputra (2001:110) mengatakan: Pertama, di Indonesia belum ada lembaga profesional bidang pendidikan IPS setua dan sekuat pengaruh NCSS dan SSEC seperti di Amerika. Lembaga serupa seperti HISPIPSI usianya masih muda dan produktivitas akademiknya masih belum optimal. Kedua pengembangan kurikulum dan pembelajaran IPS sebagai ontologi ilmu pendidikan (disiplin) IPS sampai saat ini sangat tergantung pada pemikiran individual dan atau kelompok pakar yang ditugasi secara insidental untuk mengembangkan perangkat kurikulum IPS melalui Pakar.

38

Dari uraian di atas, menggambarkan masih adanya pengembangan kuruikulum yang terkotak-kotak, karena belum adanya suatu lembaga yang menangani secara khusus seperti di negara-negara lain. Maka: “Konsep IPS pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972-1973, yakni kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam kurikulum Sekolah Menengah selama 4 tahun, digunakan istilah yakni (1) Studi Sosial sebagai mata pelajaran inti untuk itu semua siswa sebagai bendera untuk kelompok mata pelajaran sosial yang terdiri dari atas geografi, sejarah dan ekonomi sebagai mata pelajaran mayor pada jurusan IPS, (2) “Pendidikan kewarganegaraan” sebagai mata pelajaran inti bagi semua jurusan dan, (3) “Civics Hukum” sebagai mata pelajaran mayor pada jurusan IPS.” (Winataputra; 2001:110). Dengan demikian, konsep IPS yang masuk ke Indonesia di tingkat persekolahan, melalui proyek perintis sekolah pembangunan pada tahun 19721973 dalam kurikulumnya untuk mata pelajaran IPS terbagi menjadi tiga kelompok, yakni; studi sosial sebagai mata pelajaran inti, pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran inti dan Civic hukum sebagai mata pelajaran mayor. Kemudian Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan tersebut dapat dianggap sebagai pilar kedua dalam perkembangan pemikiran tentang IPS, yakni “Masuknya kesepakatan akademis tentang IPS ke dalam kurikulum sekolah. Pada tahap ini konsep pendidikan IPS diwujudkan dalam tiga bentuk yakni; (1) pendidikan IPS terintegrasi dengan nama pendidikan Kewargaan Negara/Studi Sosial, (2) pendidikan IPS terpisah, dimana istilah IPS hanya digunakan sebagai konsep payung untuk mata pelajaran geografi, sejarah dan ekonomi dan, (3) pendidikan kewargaan negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus yang dalam konsep tradisi social studies termasuk tradisi citizenship.” (Winataputra;2001:113).

39

Pada perkembangan konsep IPS tersebut dapat dikelompokan menjadi tiga bentuk, yaitu pendidikan IPS terintegrasi, pendidikan IPS terpisah, dan pendidikan kewarganegaraan sebagai bentuk pendidikan IPS khusus. Terlihat dari pernyataan pada isi kurikulum IPS tahun 1975 yang menampilkan empat profil, yakni: “(1) Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Pendidikan Kewargaan Negara sebagai bentuk pendidikan IPS khusus yang mewadahi tradisi citizenship transmission, (2) pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah dasar, (3) pendidikan IPS terkonsentrasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai payung yang menaungi mata pelajaran Geografi, Sejarah dan Ekonomi Koperasi, dan (4) Pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran Sejarah, Geografi dan Ekonomi untuk SMA atau Sejarah dan Geografi untuk SPG (Dep P dan K, 1975a;1975b;1975c dan 1976).” (Winataputra, 2001:114). Selanjutnya pada kurikulum 1984, konsep pendidikan IPS itu tidak mengalami perubahan yang mendasar. Namun dalam kurikulum 1994 konsep pendidikan IPS demikian mengalami perubahan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Winataputra (2001:115), bahwa “Kurikulum 1994 untuk mata pelajaran IPS SD menjadi IPS terpadu di SD kelas II s.d kelas VI, pendidikan IPS terkonfenderasi di SLTP yang mencakup materi Geografi, Sejarah dan Ekonomi Koperasi; dan pendidikan IPS terpisah-pisah. Sedangkan di SMU pendidikan IPS terpisah-pisah terdiri dari mata pelajaran Sejarah Nasional dan Sejarah Umum di kelas I dan II; Ekonomi dan Geografi di kelas I dan II; Sosiologi di kelas II; Sejarah Budaya di kelas III Program Bahasa; Ekonomi, Sosiologi, Tata Negara dan Antropologi di kelas III program IPS”. Pendidikan IPS di Indonesia mempunyai dua konsep pendidikan IPS, sesuai dengan pernyataan Winataputra (2001) bahwa, “pendidikan IPS diajarkan dalam tradisi citizenship transmission dan pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi social science “.

40

Konseptual pendidikan IPS versi Indonesia dipelopori dan diperjuangkan oleh Somantri (2001:92), dirumuskan, bahwa “pendidikan IPS adalah

penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan”. Pengertian di atas dimaksudkan untuk Pendidikan IPS pada tingkat sekolah, tetapi harus dipahami juga oleh program Pendidikan IPS untuk Pasca Sarjana. Menurut Al Muchtar (2004: 28) pendidikan IPS adalah berbagai macam pengorganisasian ilmu-ilmu sosial dan kegiatan-kegiatan dasar manusia segala permasalahannya, yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan FIPS-Pasca Sarjana. Keterkaitan struktural dan fungsional pendidikan IPS dengan disiplin ilmu sosial sangat erat, karena disiplin ilmu-ilmu sosial merupakan salah satu dari sumber utama pendidikan IPS. Kemudian menurut Somantri (2001 : 92) menjelaskan perbedaan antara kedua versi pengertian pendidikan IPS ialah kata “penyederhanaan” dan “seleksi dari disiplin ilmu”. Pada kata “penyederhanaan” dimaksudkan bahwa untuk pendidikan dasar dan menengah tingkat kesukaran bahan harus sesuai dengan tingkat kecerdasan dan minat peserta didik. Pada tingkat kesukaran bahan pendidikan IPS maka dimungkinkan untuk melakukan berbagai pendekatan dalam menyusun isi/bahan Pendidikan IPS, maupun dalam mengembangkan berbagai teknik mengajar yang kemudian dilandasi dengan teori psikologi pendidikan, dengan maksud agar adanya kemudahan belajar pada siswa sehingga tercapai tujuan pendidikan.

41

Dengan demikian Pendidikan IPS yaitu “Pendidikan IPS bersumber dari beberapa disiplin ilmu, humaniora, disiplin ilmu pendidikan, kegiatan dasar manusia dalam masyarakat, untuk tujuan pendidikan nasional, yang semuanya harus dipikirkan dan dikembangkan secara integratif” Somantri ( 2001:95). 3. Tujuan IPS dan Tujuan Pengajaran IPS Sejumlah definisi yang dirumuskan oleh para ahli pendidikan IPS secara umum bertujuan untuk mengembangkan keterampilan dan sikap siswa, antara lain kemampuan untuk memahami dan memecahkan masalah dan pengambilan keputusan (Al-Muchtar, 2004:40). Tujuan secara umum tersebut kemudian dirumuskan dalam kurikulum sekolah dan merupakan bagian dari tujuan pendidikan nasional. Dalam kurikulum tujuan dituangkan dalam rumusan tujuan instruksional kemudian dikembangkan lebih operasional dalam tujuan

instruksional khusus yang kemudian dikenal dengan tujuan pembelajaran. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagaimana dikemukakan (Robert Barr; 1987:202) diantaranya adalah: a. Acquiring of knowledge (memperoleh pengetahuan), Untuk menjadi warga negara yang baik, maka siswa perlu diberi bekal pengetahuan dan pengetahuan itu adalah pengetahuan sosial. b. Development of reasoning power and critical judgment. Siswa harus dilatih berpikir secara kritis, yaitu menghubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya, disesuaikan dengan fakta-fakta sebagai landasan berpikir.

42

c. Training in independent study. Siswa harus dilatih untuk belajar sendiri bagaimana cara belajar yang baik, memupuk minat belajar, dan mempergunakan waktu seefisien mungkin. d. Formation of habits and skill. Anak harus dilatih mempunyai kegemaran dan keterampilan tertentu. Anak harus dilatih mempunyai kegemaran dan keterampilan tertentu. e. Training in desirable patterns of conduct. Melatih anak untuk menghayati nilai-nilai hidup yang baik termasuk di dalamnya etika, moral, kejujuran dan lain-lainnya. Adapun tujuan pengajaran IPS sebagaimana juga dikemukakan Barr (1978:202) diantaranya ialah: a. Understanding (pengertian). Seorang warga negara baik harus mempunyai latar belakang pengetahuan yang dibutuhkan dalam menghadapi masalahmasalah sosial. Sehingga siswa memiliki pengertian tentang informasi dunia dan dapat menempatkan dirinya serta dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. b. Attitudes (sikap). Aspek ini dapat membantu sikap bersikap baik, dan bertanggung jawab, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Siswa harus di bantu mengerti sistem nilai, mempelajari sumber nilai yang berlaku di sekolah dan masyarakat. Karena sikap mencakup moral, cita-cita, apresiasi dan kepercayaan. c. Skill (keterampilan). Adapun keterampilan dan kemampuan yang dikembangkan IPS yang harus dikuasai siswa meliputi:

43

1) Social skill (keterampilan sosial) meliputi menghargai kehidupan kerjasama, belajar memberi dan menerima, tanggung jawab, menghormati hak orang lain, dan membina kesadaran sosial. 2) Study skill and work habits (keterampilan belajar dan kebiasaan ) 3) Group work skill (keterampilan bekerja kelompok) meliputi menyusun rencana, memimpin diskusi dan menilai pekerjaan bersama. 4) Intellectual Skill yaitu kemampuan ini mengembangkan pemikiran yang kritis, dengan berbagai aspek pemikiran, meliputi penggunaan aplikasi dari pendekatan yang rasional dari pemecahan masalah. Ilmu Pengetahuan Sosial diidentifikasikan sebagai studi yang berhubungan dengan masalah-masalah bagaimana manusia mengembangkan kehidupan yang lebih baik, kepentingan sesamanya, bagaimana manusia berhubungan dengan masalah-masalah kehidupan bersama dan bagaimana manusia mengubah atau diubah oleh lingkungannya. Menurut Alma (2003:149) mengemukakan ada tiga tujuan utama studi sosial yaitu: (1) Social studies prepare children to be good citizenship, (2) Social Studies teach children how to think, (3) Social Studies pass on the cultural heritage. Sumaatmaja (1988:20), mengemukakan bahwa melalui pengajaran Pendidikan IPS diharapkan terbinanya warga negara yang akan datang yang peka terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri terutama yang menimpa kehidupan masyarakat.

44

Untuk mencapai tujuan yang umum ini program pengajaran studi sosial difokuskan kepada penyediaan pengalaman belajar yang akan membantu setiap siswa antara lain: a. Memahami bahwa lingkungan fisik menentukan bila dan bagaimana manusia hidup. b. Memahami bagaimana manusia berusaha menyesuaikan,

mempergunakan, mengontrol, tenaga dan sumber daya lingkungan. c. Memahami bahwa perubahan adalah merupakan kondisi masyarakat yang selalu ada dan berkembang setiap waktu, mereka harus terlibat di dalamnya. d. Mengenal dan mengerti implikasi dari perkembangan saling

ketergantungan manusia satu sama lain dan dengan bangsa lain di dunia. e. Menghargai dan mengerti persamaan semua ras-etnik, agama dan kebudayaan. Bisa menempatkan diri dalam masyarakat yang pluralistik. f. Menghargai hak-hak individu orang lain. g. Mengerti dan menghargai warisan leluhur sebagi aset bangsa.

Dengan

demikian

tujuan

utama

social

studies

adalah

untuk

mengembangakan kehidupan anak didik dengan mengembangkan kemampuannya dan lingkungannya dan melatih anak menempatkan diri dalam masyarakat demokrasi, serta menjadikan negaranya sebagai tempat hidup yang lebih baik.

45

Sedangkan dilihat dari tujuan dasar IPS sebagaimana dikemukakan oleh Bruce (1972:14) adalah; (1) Humanistic Education, (2) Citizenship Education dan (3) Intellectual Education. Dalam aspek Humanistic Education (Pendidikan kemanusiaan) IPS diharapkan mampu membantu anak didik untuk memahami segala pengalamannya serta diharapkan lebih mengerti makna kehidupan ini. Untuk memahami makna kehidupan ini ada beberapa hal yang harus dikembangkan dan ditumbuhkan pada diri siswa, sebagaimana dikemukakan diantaranya: (1) memiliki rasa kemanusiaan, (2) memiliki tanggung jawab sosial, (3) sadar bahwa lembaga-lembaga yang ada adalah abdi masyarakat, (4) memahami pentingnya kesepakatan, (5) setia kepada kebenaran, (6) menghargai kemampuan orang lain, (7) menghargai kebersamaan moral, (8) mengembangkan persaudaraan, (9) dapat mencapai kebahagiaan dan (10) meningkatkan aspek spiritual. (Disman, 2004:69). Barr (1978:201) mengemukakan bahwa aspek-aspek yang dimiliki siswa yang sesuai dengan tujuan IPS adalah sebagai berikut yaitu : a. Mampu menguasai objek (alam sekitar) dan mengolahnya sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. b. Manusia yang berprikemanusiaan, yang menganggap dan

memperlakukan sesamanya sebagai semartabat dengan dirinya, menjadi manusia yang demokratis dan melaksanakan keadilan sosial serta sadar akan kedudukannya sebagai anggota bangsa yang terhormat, dalam dunia internasional.

46

c. Menjadi warga negara yang memiliki sikap terbuka bagi hasil kultur yang dicapai bangsanya dan umat manusia serta memanfaatkannya untuk perkembangan pribadinya. d. Menjadi manusia yang memiliki kesadaran ekologi yang tinggi, memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan fisik, dan mengembangkan siswa menjadi yang mampu membudayakan diri dan lingkungannya dalam bidang teknologi, ekonomi, politik dan sebagainya. Adapun tujuan pendidikan ilmu sosial dari aspek pendidikan

kewarganegaraan yaitu memberikan bekal kepada setiap anak didik harus dipersiapkan agar mampu berpartisipasi secara efektif didalam dinamika kehidupan masyarakatnya untuk bekerja secara benar dan penuh tanggung jawab demi kemajuannya. Dengan demikian pendidikan kewarganegaraan harus dapat memindahkan nilai-nilai atau memberi pendidikan untuk menjadi warga negara yang baik. Seorang warga negara yang baik adalah seseorang yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, menganut keyakinan tertentu, loyal pada peraturanperaturan, berpartisipasi dalam keadaan tertentu dan menyesuaikan diri pada norma-norma yang seringkali merupakan karakteristik lokal. Adapun tujuan pendidikan IPS sebagimana dikemukakan oleh Barr (1978:58) yaitu 1) mengembangkan rasa partiotisme, 2) memberi inspirasi pada integrasi pribadi dan tanggung jawab warga negara, (3) membentuk pengertian dan apresiasi terhadap nenek moyang, (4) mendorong partisipasi demokrasi aktif,

47

(5) membantu siswa mendapatkan kesadaran akan masalah sosial, (6) mengerti dan menghargai sistem ekonomi yang bebas. Demikian juga dengan tujuan pendidikan sosial yang dilihat aspek pendidikan intelektual yaitu diharapkan setiap siswa memperoleh cara dan sarana untuk mengadakan analisis terhadap gagasan-gagasan serta mengadakan pemecahan masalah seperti yang telah dikembangkan oleh ahli-ahli sosial. Untuk itu maka perlu dikembangkan keterampilan intelektual pada diri siswa, mencakup berbagai aspek berpikir seperti; (1) mempergunakan pendekatan (approach), (2) berpikir kritis, dan (3) menggunakan prosedur induktif berupa penelaahan

masalah dari fakta, secara empiris kemudian dibuat kesimpulan). Kemudian pengajaran IPS juga perlu dikembangkan keterampilan berpikir kreatif dan inovatif. Disamping keterampilan yang dimiliki siswa maka keterampilan yang khusus yang harus dimiliki siswa sebagaimana dikemukakan Barr (1978:197) yaitu: keterampilan membaca tentang ilmu pengetahuan sosial,keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, menafsirkan, peta, globe dan sebagainya, mengerti waktu dan kronologi, memacahkan masalah. Tujuan dan isi PIPS sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahab (2002;2) menjelaskan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang tanggung jawab utamnaya adalah membantu siswa mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat (baik di tingkat lokal, nasional dan internasional. Walaupun bidang kurikulum lainnya juga membantu siswa untuk mencapai berbagai keterampilan yang diperlukan juga untuk berpartisipasi dalam

48

masyarakat demokratis namun studi sosial (PIPS) adalah satu-satunya kurikulum yang mengembangkan keterampilan dan kompetensi-kompetensi warganegara sebagai tujuan utamanya (Banks, 1988:3). Oleh karena itu tepat jika dikatakan tujuan studi sosial yang kita kenal selama ini telah mengalami perubahan mendasar yang menempatkan tujuan studi sosial (PIPS) benar-benar merupakan tantangan sebagaimana dikemukakan oleh Banks (1982) bahwa : “...to help students develop reflective attachments to their nation-states and a sense of kinship with the global comunity. We also need to help students develop the ability and the commitment to influence public policy...our central thesis is that the main goal of the social studies is should be to develop the ability to make reflective decisions. With this ability, they can solve personal problems and shape public policy by participating in intellegent citizen action. This bilief about the proper goal af the social studies is based on the assumption thet humans will always face personal and social problem and that all citizens should participate in the making of public policy. The theory of social studies education presented...is grounded in democratic beliefs. One of its basic assumptions is that citizen articipation in the making of public policy is essential for the creation and perpetuation of a free, humane and open society. This theory also assumes thet individual are not born with the ability to make reflective decicions, but that decision making consist of a set of interrelated skills that can be identify and clarify their values and that they be taught to reflect on problems before taking action to solve them. The main component of decision making as scientific knowledge, value analysis and clarification and the affirmation of a course of action by synthesizing one‟s knowledge and values”. Kemudian Banks (1988:30) menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang sangat penting untuk ditelusuri lebih lanjut guna memahami tujuan dan isi pembelajaran studi sosial (PIPS) agar dapat ditentukan strategi pembelajaran yang tepat guna mencapai tujuan-tujuan sebagaimana disebutkan di atas melalui isi studi sosial (PIPS) yang telah dipilih dan diorganisasikan dengan cermat. Pertama; adalah suasana kehidupan yang demokratis, Kedua; adalah partisipasi

49

aktif, efektif dan kritis warganegara dan ketiga: adalah dimiliki berbagai kompetensi dasar warganegara yang amat diperlukan dalam partisipasi tersebut.

4. Karakteristik IPS Ilmu Pengetahuan Sosial menurut para pakar merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah mengenai hidup dan kehidupan social di masyarakat yang didasarkan pada bidang-bidang kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata negara, dan sejarah. Maka, pengetahuan IPS merupakan

kumpulan yang terdiri dari “hubungan fakta, konsep, dan generalisasi” (Sunaryo, 1989:148), lebih lanjut dikemukakan bahwa hubungan antara generalisasi, konsep dan fakta terdapat perbedaan antara penyusunan perencanaan pengajaran dan pembelajaran. Pengetahuan yang berhubungan dengan fakta mencakup semua data khususnya yang terdiri dari kejadian, objek, orang atau gejala yang dapat dirasakan. Fakta adalah tingkat yang paling rendah dari suatu abstraksi, suatu fakta merupakan keadaan faktual dan dapat diterima sebagaimana adanya. Konsep merupakan suatu pernyataan atau frase yang berguna dalam mengklasifikasikan fakta, kejadian, atau ide berdasarkan karakteristik yang umum. Konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari sekumpulan data yang memiliki ciri-ciri yang sama (Alma dan Harlasgunawan, 2003:152). Dapat dikatakan konsep merupakan abstrak dari suatu kejadian atau hal-hal yang memiliki ciri-ciri yang sama atau ide tentang sesuatu di dalam pikiran. Makin abstrak suatu konsep, makin besar kemampuan mengumpulkan fakta yang lebih spesifik dan makin tidak abstrak yang berada dibawahnya. Bentuk geografi

50

adalah merupakan konsep, yang berada dibawahnya antara lain: sungai, danau, pegunungan, tebing, lautan dan lain sebagainya. Ilmu Pengetahuan Sosial kaya akan konsep-konsep IPS, dalam memahami konsep IPS tentu mengetahui terlebih dahulu konsep IPS tersebut terlebih dahulu. Generalisasi adalah beberapa konsep yang dipadukan menjadi dua konsep (Alma dan Harlasgunawan, 2003:153). Generalisasi dapat merupakan prinsip, hukum, dalil, teori atau pendapat-pendapat. Setelah mahasiswa memahami konsep yang diperlukan, mahasiswa dapat memahami generalisasi yang dibentuk atau membuat generalisasi lain melalui percobaan atau pembuktian. Teori terdiri dari generalisasi yaitu prinsip, dalil, hukum, yang saling berhubungan yang dapat diuji kebenarannya. Menurut Permen Diknas No. 22 Tahun 2006 bahwa setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan mata pelajaran –mata pelajaran lainnya, tidak terkecuali mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang memiliki sejumlah karaktristik tertentu, yang antara lain seperti berikut: a. IPS merupakan perpaduan dari beberapa disiplin ilmu sosial antara lain: Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan Sejarah. b. Materi bagian IPS terdiri atas sejumlah konsep, prinsip dan tema yang berkenaan dengan hakekat kehidupan manusia sebagai makhluk sosial (homo Socious) c. Kajian IPS dikembangkan melalui tiga pendekatan utama, yaitu functional-approach, interdicipliner-approach, dan multidiciplinerapproach. d. Pendekatan fungsional digunakan apabila materi kajian lebih dominan sebagai berikut : 1) kajian dari salah satu disiplin ilmu sosial, dalam hal ini disiplindisiplin ilmu sosial lain berperan sebagai penunjang dalam kajian materi tersebut. 2) Pendekatan interdisipliner digunakan apabila materi kajian betulbetul menampilkan karakter yang dalam pengkajiannya memerlukan keterpaduan dari sejumlah disiplin ilmu sosial.

51

3) Pendekatan multidisipliner digunakan manakala materi kajian IPS memerlukan pendeskripsian yang melibatkan keterpaduan antar/lintas kelompok ilmu, yaitu ilmu alamiah (natural science), dan humaniora 4) Materi IPS senantiasa berkenaan dengan fenomena dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat baikk dalam skala kelompok masyarakat, lokal, nasional, regional dan global. 5. Definisi Pembelajaran Belajar adalah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa, Syah ( 2010). Maka belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan atau pemahaman. Uno (2010) merumuskan pengertian belajar adalah suatu proses perubahan perilaku seseorang setelah mempelajari suatu objek (pengetahuan, sikap dan keterampilan) tertentu. Gagne (1970) belajar merupakan kegiatan yang kompleks dan hasil belajar berupa kapabilitas, yang disebabkan ; (1) Stimulus yang berasal dari lingkungan dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Jadi belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Belajar adalah suatu proses dan aktivitas yang selalu dilakukan dan dialami manusia sejak manusia di dalam kandungan, buaian, tumbuh berkembang dari anak-anak, remaja sehingga menjadi dewasa, sampai liang lahat, sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat. Suyono dan Hariyanto (2011:1). Dari beberapa kutipan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang menyangkut pengertian belajar sebagai berikut:

52

a. Belajar merupakan suatu proses yaitu kegiatan yang berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus berlangsung seumur hidup. b. Belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan atau pemahaman. c. Belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku (kognitif, afektif dan psikomotor) yang bersifat relatif permanen. d. Hasil belajar ditunjukkan dengan aktivitas-aktivitas tingkah laku secara keseluruhan. e. Adanya peranan kepribadian dalam proses belajar antara lain aspek motivasi, emosional, sikap dan sebagainya. f. Belajar adalah suatu aktivitas untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan memperbaiki perilaku, sikap dan mengokohkan kepribadian. Dalam konteks memperoleh pengetahuan, menurut pemahaman sains konvensional, kontak manusia dengan alam diistilahkan pengalaman (experience). Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan pengetahuan (knowledge) atau a body of knowledge. Lahirnya teori kognitivisme, perubahan definisi

pengetahuan bahwa pengetahuan itu terbangun oleh sekumpulan fakta-fakta, a bundle of fact. Munculah istilah pengalaman adalah guru yang paling baik experience is the best teacher. Belajar itu tidak hanya penjejalan pengetahuan kepada siswa atau belajar itu harus melalui pengajaran yang berfokus pada guru (teacher oriented). Namun belajar dapat diperoleh dari alam dengan mengamati, melakukan, mencoba dan menyaksikan suatu proses.

53

Dalam prakteknya pengajaran yang dilakukan adalah guru merupakan pusat kegiatan pengajaran, mendominasi dan siswa diibaratkan seperti gelas kosong yang harus diisi air hingga penuh. Paulo Freire dengan paham rekontruksionisme sosial, menyebutnya dengan model pengajaran gaya bank. Dimana guru memberikan uang atau pengetahuan kepada siswa, dimana siswa pasif dan reseptif, pembelajaran berlangsung tanpa ada demokratisasi, memasung kreativitas siswa. Model ini disebut pengajaran dengan model komando (Suyatno dan Hariyanto, 2011:10). Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara komponen-komponen sistem pembelajaran. Proses belajar mengajar diartikan sebagai suatu interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuan (Makmun, 1999:89). Siswa sebagai yang belajar, guru yang mengajar. Pengajaran dilakukan dalam suatu aktivitas yang disebut dengan mengajar. Mengajar adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar, Suyatno (2011:16). Pada pertengahan abad ke-20 mengajar adalah sebuah proses pemberian bimbingan dan memajukan kemampuan pembelajar yang berpusat pada guru. Kemudian mengalami perkembangan bahwa model pendidikan yang berpusat kepada siswa. Pengajaran dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling bergantung satu sama lain, dan terorganisir antara kompetensi yang harus diraih siswa, materi pelajaran, media pengajaran, sumber belajar,

pengorganisasian kelas dan penilaian.

54

Dalam melaksanakan proses pembelajaran tidak terlepas dari berbagai komponen pembelajaran yang meliputi tujuan, bahan ajar, metode, alat dan sumber, evaluasi (Djamarah dan Zain,2002:48). Dengan demikian, konsep dan pemahaman pembelajaran dapat dipahami dengan menganalisis aktivitas komponen pendidik, peserta didik, bahan ajar, media, alat, prosedur dan proses belajar. 6. Ruang Lingkup Pembelajaran Berbicara tentang belajar dan pembelajaran tentu tidak lepas dari belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses dan aktivitas manusia yang selalu dilakukan dan dialami manusia sejak manusia di dalam kandungan, buaian, tumbuh dan berkembang dari anak-anak, remaja sehingga menjadi dewasa, sampai ke liang lahat, sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat. (Suyuno, 2011:4). Sedangkan mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar . Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan instruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang harus memainkan peranan serta sarana dan prasarana belajar-mengajar yang tersedia (Hasibuan, 2010:3). Mengajar merupakan seni yang didasarkan pada pengalaman guru dan kearifan praktek. Dengan demikian belajar mengajar merupakan proses perkembangan dan berlangsung seumur hidup. Guru melalui berbagai tahapan yang dapat diprediksi dalam menghadapi situasi mengajar, karena mengajar adalah seni.

55

Ruang lingkup pembelajaran adalah siswa sebagai pembelajar (belajar) dan guru sebagai yang mengajar dan tujuan. Siswa dengan segala karakteristiknya yang terus mengembangkan dirinya secara optimal mungkin melalui berbagai kegiatan belajar. Tujuan ialah yang diharapkan tercapai setelah adanya kebiasaan belajar mengajar yang merupakan seperangkat tugas atau kebutuhan yang harus dipenuhi atau sistem nilai yang harus nampak dalam perilaku. Guru ialah orang dewasa yang karena jabatannnya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) dengan mengerahkan segala sumber (learning resources) dan menggunakan strategi belajar mengajar (teaching learning strategis) yang tepat.

7. Karakteristik dan prinsip-prinsip belajar mengajar Beberapa ciri perubahan yang merupakan perilaku belajar diantaranya: a. Belajar perubahan itu intensional, dalam arti pengalaman atau praktek atau latihan itu dengan sengaja atau disadari dilakukankannya dan bukan kebetulan. b. Bahwa perubahan itu positif, dalam arti sesuai seperti yang diharapkan (normatif) atau kriteria keberhasilan (criteria of success) baik dipandang dari segi siswa (tingkat abilitas dan bakat khususnya, tugas perkembangan dan sebagainya) maupun dari segi guru (tuntutan masyarakat orang dewasa sesuai dengan tingkatan (standar culturalnya). c. Bahwa perubahan ini efektif, dalam arti pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar yang bersangkutan; serta fungsional dalam arti perubahan hasil

56

pelajaran itu (setidak-tidaknya sampai batas waktu tertentu) relatif tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksikan dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah (problem solving) baik dalam ujian, ulangan dan sebagainya maupun dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya. 8. Komponen Pembelajaran IPS Proses belajar mengajar pun tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berinterelasi dan beriterdependensi satu sama lain. Di antara komponen-komponen utama yang selalu akan terdapat dalam setiap proses belajar mengajar ialah: a. Siswa (dengan segala karakteristiknya) yang terus mengembangkan dirinya secara optimal mungkin melalui berbagai kegiatan belajar) guna mencapai tujuan sesuai dengan tahapan perkembangan yang dijalaninya. b. Tujuan (ialah yang diharapkan tercapai setelah adanya kegiatan belajar mengajar) yang merupakan seperangkat tugas atau kebutuhan yang harus dipenuhi atau sistem nilai yang harus nampak dalam perilaku dan merupakan karakteristik kepribadian seperti yang ditetapkan oleh siswa sendiri guru atau masyarakat orang dewasa.. yang seyogyanya diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan berencana dan dapat terukur. c. Guru ialah orang dewasa yang karena jabatannya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga

memungkinkan lagi terjadinya proses pengalaman belajar (learning experience) pada diri siswa dengan mengarahkan segala sumber (learning

57

resources) dan menggunakan strategi belajar mengajar yang tepat (Makmun, 2000:89). Sedangkan menurut Teori Loree (1970:133) dengan mengembalikan kepada tiga komponen utama proses belajar mengajar (yang harus diperhatikan oleh setiap guru yang bertugas merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi PBM) ialah komponen-komponen; (S) stimulus, (O) Organismic, (R) Response sebagai berikut:
Instrumental Input (Guru, metode, teknik, media, bahan sumber, sarana) Raw Input (Siswa) (Kapasitas IQ, bakat khusus, motivasi n Ach, minat, kematangan kesiapan, sikap kebiasaan Expected Output (Hasil Belajar yang diharapkan PROSES BELAJAR MENGAJAR

Environmental Input (Sosial, fisik, cultural)

Gambar 2.1 Teori tiga komponen utama proses belajar mengajar

Dari gambar di atas, nampak secara sistematik keempat komponen utama dari PBM akan mempengaruhi performance dan outputnya: a. The Expected Output, menunjukkan kepada tingkat kualifikasi ukuran baku (standar norm) akan jadi daya penarik (insentif) dan motivasi (motivating factor) jadi akan merupakan stimulating factor (S) pula di samping termasuk response (R) factor. b. Karakteristik siswa (raw input) menunjukkan kepada faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu mungkin akan memberikan fasilitas (facilitative) atau pembatas (limitation). Sebagai faktor oganismic (O) di

58

samping pula mungkin menjadi motivating and stimulating factor (misalnya: n-ach). c. Instrumental input (sarana) menunjukkan kepada dan kualifikasi serta kelengkapan sarana yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya proses belajar mengajar. Jadi jelas perannya sebagai facilitative factor yang menurut Loree termasuk dalam lima faktor. d. Environmental input menunjukkan situasi dan keadaan fisik (kampus, sekolah, iklim, letak sekolah dan school suite dan sebagainya). Hubungan antara insani (human relationship) baik dengan teman (classmate ) maupun dengan orang lainnya, hal ini juga akan mungkin menjadi faktor-faktor penunjang atau penghambat ( S factor ). Sesuai dengan pendapat Loree (1970) menegaskan bahwa pembentukan sikap dipandang sebagai hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan. Suyono (2011: 126) tujuh unsur utama dalam proses belajar, meliputi: a. Tujuan Belajar, dimulai karena adanya suatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan ini muncul karena adanya sesuatu kebutuhan. Perbuatan belajar atau pengalaman belajar akan efektif bila diarahkan kepada tujuan yang jelas dan bermakna bagi individu. b. Kesiapan, mampu melaksanakan perbuatan belajar dengan baik, anal perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik, psikis, maupun kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu yang terkait dengan pengalaman belajar.

59

c. Situasi, kegiatan belajar berlangsung dalam situasi belajar. Adapun yang dimaksud situasi belajar ini adalah tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang dipelajari, guru, kepala sekolah, pegawai administrasi, dan seluruh warga sekolah yang lain. d. Interpretasi. Di sini anak melakukan interpretasi yaitu melihat makna hubungan di antara komponen-komponen situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tujuan. e. Respon. Berlandaskan hasil interpretasi tentang kemungkinannya dalam mencapai tujuan belajar, maka anak membuat respon. Respon ini dapat berupa usaha yang terencana dan sistematis, baik juga berupa usaha cobacoba (trial and error). f. Konsekuensi. Berupa hasil, dapat hasil positif (keberhasilan) maupun hasil negatif (kegagalan) sebagai konsekuensi respon yang dipilih siswa. g. Reaksi terhadap kegagalan. Kegagalan dapat menurunkan semangat, motivasi, memperkecil usaha-usaha belajar selanjutnya. Namun, dapat juga membangkitkan siswa karena dia mau belajar dari kegagalan.

Berikut ini dijelaskan masing-masing komponen utama dalam proses belajar mengajar.

a. Kompetensi Dosen

60

Kompetensi menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah “kemampuan atau kecakapan”. Usman (2003) “ kompetensi merupakan gambaran hakekat kualitatif dari perilaku yang tampak sangat berarti”. Sofo (1999: 123)

menyatakan bahwa : “A competency is composed of skill, knowledge, and attitude, but in particular the consistent application of those skill, knowledge, and attitude to the standard of performance required in employment”. Dengan kata lain, kompetensi terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut dalam standar kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan. Schermerhon (1994:113) memberikan definisi kompetensi dalam pengertian sikap dan kemampuan. Dinyatakan bahwa “Competency is the central issue concerning the aptitudes and abilities of people at work. Aptitude represents a person‟s capability to learn something. Ability reflects a person‟s existing capacity to perform the various tasks needed for a given job and includes both relevant knowledge and skill”. Dengan demikian kompetensi adalah sikap dan kemampuan orang di tempat kerja. Sikap mencerminkan kapabilitas yang dimiliki seseorang untuk melaksanakan berbagai tugas yang diperlukan dalam pekerjaan tertentu dan melibatkan pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Robbins (2001:37) menyebutkan kompetensi sebagai ability, yaitu kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kemampuan individu dibentuk dari dua perangkat faktor, yaitu faktor kemampuan intelektual dan faktor kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang

61

diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan keterampilan. 1) Karakteristik Pembentukan Kompetensi Menurut Spencer dan Spencer (1993:9-11) kompetensi individu dibina oleh lima hal, yaitu motif (motive), watak (traits), konsep diri (self concept), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill). Sebagaimana dijelaskan, motif dan watak merupakan kompetensi inti atau kompetensi sentral, sedangkan pengetahuan dan keterampilan disebut sebagai kompetensi permukaan. Watak, motif dan konsep diri merupakan kompetensi individu yang bersifat “intent” yang mendorong untuk digunakannya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Karena kompetensi dibina oleh watak, motif, konsep diri, pengetahuan dan keterampilan maka kompetensi mempengaruhi perilaku, karena itu mempengaruhi kinerja. Selanjutnya Spencer dan Spencer (1993:25-89) mengemukakan bahwa, kompetensi yang dimiliki individu dapat dibedakan menjadi enam kluster kompetensi yaitu kompetensi berprestasi dan bertindak (Achievement and action), kompetensi pelayanan (Helping and Human Service), kompetensi mempengaruhi orang lain (The Impact and Influence, Kompetensi Manajerial (Managerial), Kompetensi keahlian (Cognitive) dan Efektivitas diri (Personal Effectiveness). Dengan demikian untuk mencapai proses pembelajaran, diperlukan dosen yang memiliki kemampuan baik yang diungkapkan Wena (1996) yaitu (1) betulbetul terampil dan memahami aspek bidang kerjanya, (2) memahami metode pembelajaran pendidikan , (3) Memiliki sifat yang telaten dan tekun dalam

62

membimbing , (4) memahami psikologi pembelajaran. Kusmana (1985:71) menjelaskan tentang kompetensi yang harus dikuasai guru atau dosen yang profesional tidak hanya sebagai penyaji, penyampai atau penerus ilmu pengetahuan/keterampilan saja. Dosen sebagai director learning sebagaimana dikemukakan di atas. Dosen mengembangkan 10 fungsi yang harus dipahami oleh seorang guru atau dosen profesional adalah sebagai berikut: a) Kompetensi di dalam memahami dan menguasai landasan kependidikan b) Kompetensi untuk menguasai materi pelajaran yang digariskan dalam kurikulum dan unsur pengayaannya. c) Kompetensi untuk memahami dan menerapkan berbagai metode mengajar d) Kompetensi untuk mengorganisir pelajaran. e) Kompetensi untuk membuat dan memanfaatkan media pengajaran sederhana dan memanfaatkan sumber belajar. f) Kompetensi mengelola atau manajemen kelas g) Kompetensi untuk melakukan fungsi bimbingan dan penyuluhan h) Kompetensi untuk melakukan evaluasi i) Kompetensi untuk memanfaatkan berbagai hasil penelitian di dalam aktivitas pengajaran j) Komptensi untuk melaksanakan administrasi. Menurut Undang-undang N0. 14 tahun 2005 serta Permendikans No. 74 tahun 2008 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) Kompetensi pedagogik, (2) Profesional, (3) Kepribadian, dan (4) sosial. Dimensi kompetensi pedagogik

indikatornya adalah menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,

63

spiritual, sosial, kultural, emosional dan intelektual, menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki, berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik, menyelenggarakan penilaian dan hasil belajar, memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dimensi kompetensi kepribadian indikatornya adalah bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia, menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat, menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga dan percaya diri serta menjunjung tinggi kode etika profesi. Dimensi kompetensi sosial, indikatornya adalah bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminasi karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi, berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat, beradaptasi di tempat bertugas, berkomunikasi dengan komunitas profesi.

64

Dimensi kompetensi profesional indikatornya adalah; menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata kuliah yang ditugaskan, menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata kuliah yang mampu mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri. 2) Pengukuran Kompetensi Dosen Dalam melakukan pengukuran pada kompetensi dosen dalam hal ini adalah kompetensi dalam melaksanakan pembelajaran atau kinerja mengajar di kelas. Adapun indikator-indikator kemampuan melaksanakan pembelajaran secara garis besar dapat dikategorikan sebagai berikut : I. Pra Pembelajaran II. Membuka pelajaran III. Kegiatan Inti pembelajaran 1. Penguasaan materi pembelajaran 2. Strategi pembelajaran 3. Pemanfaatan sumber belajar/media pembelajaran 4. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 5. Penilaian proses dan hasil belajar 6. Penggunaan bahasa IV. Penutup (Dirjen Dikti, 2006). Indikator-indikator yang tercantum dalam pembelajaran secara rinci sebagai berikut: a) Pra Pembelajaran. Maksudnya adalah kesiapan ruang, alat dan media pembelajaran. Kesiapan ruang dalam hal ini misalnya kebersihan ruang, keberadaan ruang, peruntukan/pengaturan perabot, alat pembelajaran (misalnya papan tulis, kapur/spidol) dan media. Memeriksa kesiapan

65

antara lain kehadiran, kerapihan, ketertiban, perlengkapan dan kesiapan belajar. b) Membuka Pembelajaran. Melakukan kegiatan apersepsi. Mengaitkan materi pembelajaran sekarang atau materi pembelajaran yang akan diajarkan. memotivasi Mengkomunikasikan dengan kompetensi media yang akan dicapai, dan

menampilkan

pembelajaran

mengkondisikan kelas. c) Kegiatan Inti pembelajaran. Penguasaan materi pembelajaran. Penguasaan materi pembelajaran merupakan syarat dalam pengajaran, karena tingkat kebenaran dan keakuratan substansi (materi dan isi) pembelajaran yang akan dibahas. Strategi pembelajaran maksudnya melaksanakan

pembelajaran sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, misalnya dalam penggunaan metode, model dan pendekatan pembelajaran. Melaksanakan pembelajaran secara runtut, metode dan materi pembelajaran dipaparkan secara sistematis, sesuai dengan sintaks, prasyarat dan kemampuan berpikir. Menguasai kelas, dalam hal ini pengendalian kelas dalam pembelajaran misalnya perhatian peserta didik terfokus, tidak

berisik/gaduh, disiplin kelas terpelihara. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Kontekstual merujuk pada tuntutan situasi dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Melaksanakan pembelajaran dengan memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif antara lain

kerjasama, tanggung jawab, disiplin dan berpikir kritis, Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan.

66

d) Pemanfaatan sumber/media pembelajaran. Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar/media pembelajaran diantaranya: (1) Terampil memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar lainnya secara efektif dan efisien. (2) (3) (4) (5) (6) Terampil mengoperasikan media pembelajaran Terampil menggunakan alat-alat laboratorium. Menghasilkan pesan yang menarik dengan menggunakan media pembelajaran Melibatkan pemanfaatan (7) (8) sumber belajar yang tersedia. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan peserta didik. (9) Memfasilitasi terjadinya partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi (10) dosen dengan mahasiswa (11) Merespon positif terhadap mahasiswa (12) Menunjukkan sikap terbuka terhadap mahasiswa (13) Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif menunjukkan sikap (14) ramah, luwes, sopan, hangat, menghargai pendapat dan keragaman (15) budaya. (16) Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme dalam belajar peserta didik dalam kegiatan pembuatan dan

67

(17) Penilaian proses dalam hasil belajar (18) Memantau kemajuan belajar (19) Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (20) Penggunaan Bahasa (a) Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar (b) Menggunakan bahasa tulis dengan baik dan benar (c) Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai e) Penutup Melakukan refleksi dengan melibatkan peserta didik, mengajak peserta didik mengingat kembali hal-hal penting yang terjadi dalam kegiatan yang sudah berlangsung. b. Metode Mengajar Metode mengajar adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan (Djamarah dan Zain (2006:75). Kusmana P (1985:1) metode mengajar adalah jalan, untuk membawa anak didiknya ke tujuan pengajaran. Secara umum metode mengajar digolongkan menjadi dua bagian yaitu: (1) Metode interaksi secara individual, (2) Metode interaksi secara kelompok. Metode mengajar menurut Joice & Weil (2000) telah mengelompokan metode mengajar ke induktif dalam 4 gugus orientasi yaitu: 1) Information processing orientation Mencakup semua model mengajar yang titik beratnya mengembangkan kemampuan intelektual atau kognitif siswa dengan menggunakan proses deduktif dan pemecahan masalah. 2) Social interaction orientation

68

Mencakup model mengajar yang tujuannya diarahkan pada kemampuan bekerja sama secara kooperatif dengan orang lain di samping memajukan saling memahami dalam kehidupan suatu kelompok satu sama lain. 3) Person orientation Mencakup model mengajar seperti dikembangkan oleh para penganut humanistic education. Sasarannya ialah untuk memberikan kesempatan perkembangan pribadi, kreativitas dan kehangatan atau vitalitas (semangat hidup) setiap individu siswa yang bersangkutan. 4) Behavior modification orientation Mencakup berbagai metode mengajar yang ditujukan dan dititikberatkan pada perubahan-perubahan perilaku ke arah yang diharapkan guru. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih metode mengajar 1) Tujuan yang akan dicapai Karakteristik dari tujuan yang harus direalisir oleh suatu aktivitas pengajaran sangat mempengaruhi atau menentukan metode yang akan digunakan. 2) Faktor siswa Metode mengajar yang dapat dipilih dan diterapkan untuk Kegiatan Belajar mengajar tertentu juga dipengaruhi pemilihannya oleh keadaan siswa. Hal yang harus dipertimbangkan dan faktor ini terutama berkaitan dengan tingkat perkembangan intelektual. 3) Faktor guru Sebenarnya guru justru menjadi kunci dipilih atau tidaknya suatu metode mengajar. Pilihan dari pihak guru umumnya dilatar belakangi oleh pengetahuan dan keterampilan di dalam menerapkan berbagai metode mengajar. 4) Faktor sifat dan materi yang akan diajarkan Materi yang dipilih untuk diajarkan sebenarnya sudah secara pasti ditentukan oleh GBPP. Walaupun demikian pengelompokan di dalam PBM tetap akan dilakukan berdasarkan taksonomi bobot yang dirumuskan. Jadi materi bersama-sama rumusan tujuan merupakan dua hal yang paling dominan terhadap proses pemilihan penentuan metode yang harus digunakan.

69

5) Faktor dana dan fasilitas yang akan digunakan Banyak metode yang hanya bisa diterapkan apabila didukung oleh fasilitas tertentu yang memadai atau yang menuntut dana tertentu sebagai akibatnya, maka ukuran pemilihan metode juga ditentukan oleh faktor ini. 6) Faktor waktu yang tersedia bagi pelaksanaan proses belajar. Untuk metode pengajaran tertentu yang memakan waktu pemanfaatan yang lama seperti metode eksperimen, metose karyawisata seringkali tidak bisa dimanfaatkan dengan frekuensi yang tinggi hanya karena alasan waktu yang mengijinkan. (Kurjono, 2010:78). Berbagai metode dalam proses Belajar mengajar : a) Metode ceramah b) Metode Tanya jawab c) Metode Diskusi d) Metode Demontrasi e) Metode Sosiodrama f) Metode Karyawisata g) Metode Latihan h) Metode Pemberian Tugas i) Metode Eksperimen (Sagala, 2003: 201-221)

Dalam metode mengajar, penggunaan variasi diartikan sebagai aktivitas guru dalam konteks proses pembelajaran yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar siswa selalu menunjukkan ketekunan, perhatian, keantusiasan, motivasi yang tinggi dan kesediaan berperan aktif. Variasi dalam pembelajaran antara lain bertujuan: 1) Meningkatkan atensi peserta didik terhadap materi pembelajaran 2) Memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik dengan berbagai gaya belajar masing-masing untuk terikat dengan pembelajaran. 3) Meningkatkan perilaku positif peserta didik terhadap pembelajaran, membuat kondisi yang kondusif bagi makin intensifnya interaksi peserta didik dengan guru maupun antarpeserta didik.

70

4) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangan dan potensi kognitifnya masing-masing. 5) Membuka kemungkinan bagi pelayanan terhadap siswa secara individual, sehingga setiap siswa merasa diperhatikan oleh guru. 6) Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi dan kuriositas (rasa ingin tahu) melalui kegiatan observasi, investigasi dan eksplorasi karena pengembangan diri. Dalam kaitan ini ada prinsip yang harus dipahami guru agar variasi menjadi efektif. Prinsip-prinsip itu meliputi: 1) Variasi yang digunakan harus bersifat efektif dengan perencanaan dan pemilihan kegiatan sedemikian rupa sehingga relevan dengan kompetensi yang sedang dipelajari. 2) Penggunaan teknik variasi harus lancar dan tepat, tidak kelihatan ada jeda yang terlalu lama karena guru memikirkan variasi apa yang akan dilakukan. 3) Penggunaan komponen-komponen variasi harus benar-benar terstruktur dan direncanakan sebelumnya. Akan banyak membantu jika hal ini juga ditampilkan dalam RP/RPP. 4) Penggunaan komponen variasi harus fkelsibel dan spontan sesuai dengan reaksi balikan siswa, jangan dipaksakan jika ternyata tidak atau kurang relevan dalam membantu pembelajaran. (Suyono dan Hariyanto, 2011: 227-228). Komponen-komponen variasi yang sering dilaksanakan meliputi variasi dalam metode dan gaya mengajar guru, variasi penggunaan media, bahan-bahan

71

dan sumber belajar, serta variasi dalam pola interaksi dan kegiatan siswa. Variasi dalam metode mengajar adalah perubahan metode mengajar misalnya dari gaya yang klasikal menjadi pengaktifan kelompok kecil, dari metode ceramah menjadi tanya jawab, diskusi, penugasan dan lain-lain.

c. Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang bentuk jamaknya medium yang secara harfiah berarti „tengah‟,‟perantara‟ atau „pengantar‟. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa; Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografi, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. Sardiman (1986:6) mengatakan „ Association for Education and Communication Technology (AECT) mendefinisikan media sebagai segala bentuk dan saluran yang dapat dipergunakan untuk suatu proses penyaluran informasi/pesan. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sardiman, dkk (2011:6) filem, buku, kasep filem bangkai adalah contohcontohnya. Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Sumaatmadja (1984:117) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah “segala benda dan alat yang

72

dipergunakan untuk membantu pelaksanaan proses belajar mengajar ilmu pengetahuan sosial seperti slide, proyektor, peta globe, diaroma, potret, market, film, tape recorder, radio dan lain sebagainya”. Syaodih (2003:108-110) mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut Modes, yaitu interaksi insani, realita, pictorial, simbol tertulis dan rekaman suara. 1) Interaksi insani. Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiran sesuatu pihak secara atau tidak sadar mempengaruhi perilaku yang lainnya. Terutama kehadiran dosen mempengaruhi perilaku mahasiswa atau mahasiswamahasiswanya. Interaksi insani dapat berlangsung verbal dan nonverbal. 2) Realita. Realita merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang-orang, binatang, benda-benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa. Dalam interaksi insani siswa berkomunikasi dengan orang-orang, sedangkan dalam realita orang-orang tersebut hanya menjadi objek pengamatan, objek studi siswa. 3) Pictorial. Media ini menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat di atas kertas, film, kaset, disket, dan media lainnya. 4) Simbol tertulis. Simbol tertulis merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif. Ada beberapa macam bentuk media simbol tertulis seperti buku teks, buku paket, paket program belajar, modul dan majalah-majalah.

73

5) Rekaman suara. Berbagai rekaman suara dapat disampaikan kepada anak dalam bentuk rekaman suara. Rekaman suara dapat disajikan secara tersendiri atau digabung dengan media pictorial . Penggunaan rekaman suara tanpa gambar dalam pengajaran bahasa cukup efektif. Media-media tersebut tidak hanya meragakan hal-hal yang harus diragakan, melainkan digunakan untuk mengungkapkan lebih jauh pokok-pokok dan konsep-konsep yang harus dibina pada diri anak didik. Sehingga dengan media pembelajaran yang digunakan dapat membantu merangsang siswa dalam belajar. Dari beberapa pengertian yang diungkapkan diatas, bahwa media adalah semua bentuk perantara yang digunakan manusia dalam menyampaikan atau menjabarkan ide. Sehingga ide, pendapat atau gagasan yang dikemukakan itu bisa ke individu yang dituju. Gagne (1977:150-151) mengemukakan lima macam perangsang belajar disertai alat-alat untuk menyajikannya, yaitu:

Tabel 2.1. Lima macam perangsang belajar disertai alat-alat untuk menyajikannya
Perangsang Kata-kata tertulis Kata-kata lisan Gambar dan kata-kata lisan Gambar bergerak, kata-kata dan suara lain. Konsep-konsep teoretis melalui gambar Alat Buku, pengajaran berprogram, bagan, proyektor slide, poster, checklist. Guru, tape recording Slide-tapes, slide bersuara, ceramah dan poster. Proyektor film bergerak, televisi, demonstrasi. Film bergerak, permainan boneka/wayang.

Sebagaimana yang telah dikemukakan, penggunaan yang lebih luas dari media pembelajaran adalah memiliki keuntungan:

74

1) Membantu secara konkret konsep berpikir, dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat. 2) Memiliki secara potensial perhatian mahasiswa pada tingkat yang lebih tinggi. 3) Dapat membuat hasil belajar lebih permanen. 4) Menyajikan pengalaman yang nyata yang akan mendorong kegiatan mandiri siswa. 5) Mengembangkan cara berpikir berkesinambungan seperti halnya pada film. 6) Memberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat yang lain. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar serta mengatasi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran penggunaan media harus sesuai dengan materi yang disampaikan. Media pembelajaran merupakan alat bantu mengajar yang dibuat untuk mengaktifkan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Namun tentunya di sisi lain masih banyak perguruan tinggi yang belum memanfaatkan media pembelajaran secara maksimal. Oleh karena itu dosen pendidikan IPS harus dapat memilih media pembelajaran dengan memperhatikan; (1) kesuasuaian media pembelajaran dengan tujuan yang ingin dicapai, (2) kecanggihan media pembelajaran dibandingkan dengan tingkat perkembangan siswa, (3) kesesuaian karaktersitik media dengan karakteristik siswa (Wibawa dan Mukti, 1992:13). Intinya dosen pendidikan IPS harus dapat memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan, sehingga tercipta komunikasi

75

dengan baik kepada mahasiswa dan pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Penggunaan media hendaknya didasrkan kepada prinsip-prinsip media itu tersendiri. Sadiman, dkk (1992:206) membagi media pembelajaran menjadi 3 bgaian yaitu: 1) Media audit (media dengar) 2) Media visual (media pandang) 3) Media audio-visual ( media pandang-dengar) Karakteristik media menurut Sardiman (2003;28) „the question of what attributes are necessary for given learning situation becomes the basis for media selection‟. Maka, karakteristik beberapa jenis media yang lazim dipakai dalam kegiatan belajar mengajar sebagai berikut: 1) Media grafis Media grafis termasuk media visual. Sebagaimana halnya media yang lain, media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Jenis-jenis media grafis antara lain: (a) gambar/foto; (b)sketsa; (c) diagram; (d) bagan/chart; (e) grafik; (f) kartun; (g) poster; (h) peta dan globe; (i) papan fanel; (j) papan buletin. 2) Media audio Media audio berkaiatan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal

76

(ke dalam kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Jenis-jenis media audio diantaranya; (a) radio; (b) alat perekam pita magnetic. 3) Media proyeksi diam Media proyeksi diam mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan rangsangan-rangsangan visual. Jenis-jenis media proyeksi diantaranya: (a) film bingkai; (b) film rangkai; (c) media tranparensi; (d) proyektor tak tembus pandang; (e) mikrofis; (f) film; (g) film gelang; (h) televisi; (i) video. Berkiatan dengan fungsi dan manfaat media pembelajaran, Arsyad (1985:29) mengemukakan bahwa media pembelajaran dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu (1) memotivasi minat atau tindakan, (2) menyajikan informasi dan (3) memberi instruksi. Hamalik (2003) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa, Menurut Sadiman (2011) secara umum media pembelajaran dalam proses belajar mengajar memberikan banyak kegunaan yang diantaranya: 1) Memperluas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka) 2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera 3) Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar

77

b) Menungkinkan intaraksi yang lebih langsung antara anak didik dan lingkungan dengan kenyataan. c) Memungkinkan anak didik belajar mandiri menurut kemampuan dan minatnya. Penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran membuat mahasiswa lebih memahami materi pelajaran dan lebih cepat dibandingkan pembelajaran konvensional. 9. Teori-Teori Belajar Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses yang kompleks dari belajar, ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kogtnitivisme , Humanisme dan Kontruksionisme. a. Teori Behaviorisme Behaviorisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang didasarkan pada proposisi (gagasan awal) bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah. Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Respon terhadap berbagai stimulus yang menjadi fokus behaviorisme. Para tokoh yang memberikan pengaruh kuat pada aliran ini adalah Ivan Pavpov (1956) dengan teorinya behavioris S-R (Stimulus-Respon), Edward Thorndike (dengan teorinya Law of Efect), dan B.F.Skinner dengan teorinya yang disebut operant conditioning. 1) Teori Ivan Pavlop

78

Dalam bukunya

Conditioned Reflexes;

An

Investigation of

the

Physiological Activity of the Cerebral Cortex tahun 1927, teorinya disebut klasik karena muncul teori conditioning yang lebih baru yang dikenal sebagai learned reflexes atau refleks karena latihan. Pavlov mengatakan bahwa beberapa stimulus dengan pengkondisian dan respons dengan pengkondisian yang dilakukan uji coba pada anjing dengan air liurnya. Pavlov dan koleganya berhasil mengidentifikasi empat proses ; acquisition (akuisisi/fase dengan pengkondisian), extinction (eliminasi/fase tanpa pengkondisian), (diskriminasi). 2) Teori Stimulus-Respon Jhon Watson Menurut Watson (1925), belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang diamati (observable) yang dapat diukur. Watson mempelajari penyesuaian organisme terhadap lingkunganya, khususnya stimulus yang menyebabkan organisme menimbulkan respon, generalization (generalisasi), dan discrimination

penekanannya pada peran stimulti dalam menghasilkan respon karena pengkondisian, mengasimilasikan sebagian besar atau seluruh fungsi dari refleks. 3) Teori Koneksionisme Edward Thorndike Menurut Edward Lee Torndike (1905) dalam eksperimennya muncul operant conditioning (pengkondisian yang disadari), bahwa belajar dapat dilakukan secara gradual dan konsisten yang disebut hukum efek, bahwa

79

perilaku yang diikuti kejadian yang menyenangkan lebih cenderung akan terjadi lagi di masa datang, sebaliknya perilaku yang diikuti kejadian yang tidak menyenangkan akan memperlemah. Trondike menginterpretasikan temuannya sebagai keterkaitan. 4) Teori Conditioning Skinner Skinner (1938) menemukan prinsip dari operant conditioning suatu tipe belajar yang melibatkan penguatan dan hukuman. Menjelaskan bagaimana belajar perilaku atau mengubah perilaku dengan prinsip-prinsip utamanya reinforcement (penguatan kembali), punishment (hukuman), shaping (pembentukan), extinction (penghapusan), discrimination (pembedaan) dan generalization (generalisasi). 5) Penerapan Operant Conditioning Operant conditioning memiliki manfaat praktis di dalam kehidupan seharihari. Bahwa orang tua dapat memperkuat perilaku anak-anaknya yang sesuai dan memberikan hukuman pada perilaku yang tidak sesuai, dan menggunakan teknik generalisasi dan diskriminasi untuk membelajarkan perilaku yang sesuai dengan situasi-situasi tertentu. b. Pandangan Kognitivisme 1) Percobaan Tollman Tolman (1945) meneliti proses kognitif dalam belajar. Bahwa belajar adalah lebih sekedar memperkuat respons melalui penguatan. 2) Jerume Brunner

80

Bruner (1966) mengemukakan proses kognitif sebagai “alat bagi organisme untuk memperoleh, menyimpan dan mentransformasikan informasi”. Bahwa “Memahami adalah kategorisasi, konseptualisasi adalah kategorisasi, belajar adalah membentuk kategori-ketegori, membuat keputusan adalah kategorisasi”. Bruner berpendapat bahwa orang menginterpretasikan dunia melalui persamaannya dan perbedaannya. Sebagaimana halnya Taksonomi Bloom, Bruner berpendapat tentang adanya suatu sistem pengkondean dimana orang membentuk susunan hierarkis dari kategori-kategori yang saling berhubungan. Gagasannya yang disebut instructional scaffolding (dukungan dalam pembelajaran) ini berupa hierarkhi kategori berjenjang dimana semakin tinggi semakin spesifik, menyerupai gagasan Bejamin Bloom tentang perolehan pengetahuan. Bruner mengemukakan ada dua mode utama dalam berpikir; naratif dan paradigmatik. Dalam berpikir naratif, pikiran fokus pada berpikir sekuensial, berorientasi pada kegiatan, dan dorongan berpikir secara rinci. Dalam berpikir paradigmatik, pikiran melampaui kekhususan sehingga memperoleh pengetahuan yang sistematis dan kategoris. 3) Teori Piaget (1966) Teori ini meneranhgkan tentang perkembangan kognitif anak yang merupakan salah satu satu munculnya kognitivisme. Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan logika berpikir dan bayi sampai dewasa. Piaget memiliki asumsi dasar kecerdasan manusia dan biologi organisme berfungsi dengan cara yang sama. Keduanya adalah sistem terorganisasi

81

yang secara konstan berinteraksi dengan lingkungan. Pengetahuan merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan. Outcome dari perkembangan kognitif adalah konstruksi dari schema kegiatan, operasi konkret dan operasi formal. Komponen perkembangan kognitif adalah asimilasi dan akomodasi yang diatur secara seimbang. Menfasilitasi berpikir logis melalui eksperimentasi dengan objek nyata, yang didukung pekerjaan rumah dan guru. (Shema adalah struktur terorganisasi yang merefleksikan pengetahuan, pengalaman, dan harapan dari individu terhadap berbagai aspek dunia nyata). 4) Teori Vygotsky Vygotsky (1978) membedakan antara kegiatan berbasis stimulus-respon, alat dan bahasa. Bahwa perbedaan pendapat antara konsep dan bahasa ketika seseorang masih belia, tetapi sejalan perjalanan waktu keduanya akan menyatu. Bahasa mengekspresikan konsep, dan konsep digunakan dalam bahasa. Vygotsky berpaling pada proses simbolik dalam bahasa, yaitu fokus pada struktur semantik dari kata-kata dan cara bagaimana arti kata-kata berubah dari emosional ke konkret sebelum menjadi lebih abstrak. c. Pandangan Humanisme Dihadapkan pada dua pilihan antara behaviorisme dan kognitivisme, banyak pakar psikologi di era tahun 1950 dan 1960 an memilih alternatif konsepsi psikologis sifat dasar manusia. Freud memusatkan perhatian pada kekuatan sisi gelap ketidaksadaran, dan Skinner hanya tertarik pada penguatan

82

dari perilaku yang jawab berdapat diamati. Lahirlah Psikologis Humanistik untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang kesadaran pikiran, kebebasan kemauan, martabat manusia, kemampuan untuk berkembang dan kapasitas refleksi diri. Abraham Maslow dan Carl Rogers termasuk ke dalam tokoh humanisme. Dalam humanisme, belajar adalah proses yang berpusat pada pelajar yang dioperasionalisasikan dan peran pendidik sebagai fasilitator. Teori belajar humanis menurut Carl Roger: 1) Setiap individu adalah positif, serta menolak teori Freud dan Behaviorisme. 2) Asumsi dasar teori Rogers adalah kecenderungan formatif dan kecenderungan aktualisasi. 3) Diri (self) adalah terbentuk dari pengalaman mulai dari bayi, dimana diri terdiri dari 2 subsistem yaitu konsep diri bagaimana seseorang mengenal potensinya, perilakunya dan kepribadiannya) dan diri ideal. 4) Kebutuhan Individu ada 4 yaitu: (1) pemeliharaan, (2) peningkatan diri, (3) penghargaan positif (positive regard), dan penghargaan diri yang positif (positive self-regard) d. Pandangan Kontruksionisme Dalam perkembangannya, arus kognititivisme bergeser ke kontruksinisme. Para kognitivis pun mengikuti dinamika perubahan menuju kontruktivis. Bruner (1966) mengemukakan proses kognitif sebagai “alat bagi organisme untuk

memperoleh, menyimpan dan mentransformasikan informasi”. Begitupun menurut Piaget tentang teori perkembangan kognitif bahwa pertumbuhan logika

83

berpikir manusia dan biologi organisme berfungsi dengan cara yang sama. Outcome dari perkembangan kognitif adalah konstruksi dari skema kegiatan, operasi konkret dan operasi formal. Schema adalah struktur terorganisasi yang merefleksikan pengetahuan, pengalaman dan harapan dari individu terhadap berbagai aspek dunia nyata. Konstruktivisme memandang belajar sebagai proses dimana pembelajar secara aktif mengkonstruksi atau membangun gagasangagasan atau konsep-konsep baru didasarkan atas pengetahuan yang telah dimiliki di masa lalu atau ada pada saat itu. Dengan kata lain, “belajar melibatkan konstruksi pengetahuan seseorang dari pengalamannya sendiri. Dengan demikian, belajar menurut konstruktivis merupakan upaya keras yang sangat personal, sedangkan internalisasi konsep, hukum, dan prinsip-prinsip umum sebagai konsekuensinya diaplikasikan dalam konteks dunia nyata. Dosen bertindak sebagai fasilitator yang meyakinkan mahasiswa untuk menemukan sendiri prinsip-prinsip dan mengkonstruksi pengetahuan dan pemecahan problema-problema yang realistis. Konstruktivisme juga dikenal sebagai

konstruksi pengetahuan sebagai proses sosial. Kita dapat melakukan klarifikasi dan mengorganisasi gagasan mereka sehingga kita dapat menyuarakan aspirasi mereka. Hal ini akan memberi kesempatan kepada kita mengelaborasi apa yang mereka pelajari. Konstruktivisme dengan sendirinya memiliki banyak varian, seperti Generative Learning, Discovery Learning dan Knowledge Learning. Konstruktivisme membangkitkan kebebasan mahasiswa dalam suatu kerangka atau struktur.

84

Dalam sudut pandang lain konstruktivisme merupakan seperangkat asumsi tentang keadaan alami belajar dari manusia yang membimbing para konstruktivis mempelajari teori mengajar dalam pendidikan. Nilai-nilai konstruktivisme berkembang dalam pembelajaran didukung oleh dosen secara memadai berdasarkan inisiatif dan arahan dari mahasiswa itu sendiri. Konstruktivisme

(yang merupakan perkembangan kognitif) merupakan suatu aliran yang didasarkan pada gagasan bahwa proses dialektika atau interaksi dari perkembangan dan pembelajaran melalui kontruksi aktif dari mahasiswa sendiri yang difasilitasi dan dipromosikan oleh orang dewasa. Aliran maturationisme romantik didasarkan pada gagasan bahwa perkembangan alami mahasiswa dapat terjadi tanpa intervensi orang dewasa dalam lingkungan yang penuh kebebasan (Kurjono, 2010). B. Pemahaman Konsep IPS 1. Definisi Konsep Konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari sekumpulan data yang memiliki cara-cara yang sama. Schwab (1969: 12-14) menyatakan bahwa konsep merupakan abstraksi, yaitu suatu konstruksi logis yang terbentuk dari kesan, tanggapan, dan pengalaman-pengalaman kompleks. Hal ini sejalan dengan pendapat Banks (1977:85) bahwa “a concept is an abstract word or phrase that is useful for classifying or categorizing a group of things, ideas, or events”, yang berarti bahwa konsep itu merupakan suatu kata atau frase abstrak yang bermanfaat untuk mengklasifikasikan atau menggolongkan sejumlah hal, gagasan, atau peristiwa. Dengan demikian, pengertian konsep menunjuk pada suatu abstraksi,

85

penggambaran dari sesuatu yang konkret maupun abstrak (tampak maupun tidak tampak) dapat berbentuk pengertian atau definisi ataupun gambaran mental, atribut esensial dari suatu kategori yang memiliki ciri-ciri esensial relatif sama. Bruner (1966) menyatakan setiap konsep memiliki tiga unsur yaitu: (1) examples, (2) attributes dan (3) attributes value. Sedangkan menurut Weil dan Joyce menyatakan bahwa setiap konsep memiliki 6 aspek, yang meliputi: 1 Nama yaitu istilah atau etiket yang diberikan kepada satu kategori fakta yang mempunyai ciri-ciri yang sama. 2 Essential attributes atau criteria attributes, yaitu ciri-ciri yang menempatkan contoh-contoh konsep yang berlainan dalam kategori yang sama. 3 Non essential attributes, adalah ciri-ciri yang tidak ikut menentukan apakah contoh termasuk ke dalam suatu kategori. 4 5 6 Positive examples Negative attributes, ini tidak mewakili konsep Rule, adalah pernyataan yang mencakup semua criteria attributes. Kesalahan konsep bisa terjadi manakala adanya penghilangan atau penambahan dari apa yang esensial, sehingga terjadi kekeliruan. Dengan demikian dalam pembelajaran jenis konsep dikembangkan oleh Pengetahuan yang berhubungan dengan fakta mencakup semua data khususnya yang terdiri dari kejadian, objek, orang atau gejala yang dapat dirasakan. Fakta adalah tingkat yang paling rendah dari suatu abstraksi, suatu fakta merupakan keadaan faktual dan dapat diterima sebagaimana adanya. Konsep merupakan suatu pernyataan atau

86

frase yang berguna dalam mengklasifikasikan fakta, kejadian, atau ide berdasarkan karakteristik yang umum. Dengan demikian, konsep adalah suatu pengertian yang disimpulkan dari sekumpulan data yang memiliki cara-cara yang sama. Dapat dikatakan konsep merupakan abstrak dari suatu kejadian atau hal-hal yang memiliki ciri-ciri yang sama atau ide tentang sesuatu di dalam pikiran. Makin abstrak suatu konsep, makin besar kemampuan mengumpulkan fakta yang lebih spesifik, dan makin tidak abstrak yang berada di bawahnya. Bentuk geografi adalah merupakan konsep, yang berada di bawahnya antara lain: sungai, danau, pegunungan, tebing, lautan dan lain sebagainya. Ilmu Pengetahuan Sosial kaya akan konsep-konsep IPS, dalam memahami konsep IPS tentu mengetahui terlebih dahulu konsep IPS terlebih dahulu. Menurut Kamus Bahasa Indonesia kata “paham” mengandung makna pengertian; pengetahuan banyak, sedangkan “pemahaman” adalah proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan. Fakta yang ada di dalam masyarakat dan lingkungannya. Fakta-faktanya di lingkungan masyarakat, salah satu contohnya konsep ilmu-ilmu sosial sebagai berikut: Ilmu Ekonomi; kelangkaan sumber-sumber kebutuhan hidup, Politik; kekuasaan dan kekuatan, Ekologi; interaksi kehidupan dan lingkungan, Sosiologi; masyarakat, Anthropologi; kebudayaan, Psikologi; kejiwaan, Sejarah; waktu dan Geografi; ruang. Setiap cabang ilmu sosial mengembangkan konsep dasar serta generalisasi masing-masing yang sesuai. Mempelajari konsep merupakan hal yang sangat penting, mahasiswa akan mudah memahami proses terjadinya, karena diperoleh melalui pemahaman yaitu mengerti lebih banyak pengetahuan

87

selanjutnya proses memahami, sehingga membuat suatu peristiwa menjadi lebih jelas kaitannya antara satu sama lain. Dari uraian di atas, proses pembentukan konsep dan generalisasi berjalan secara induktif melalui penyajian fakta menjadi konsep dan dari konsep menjadi generalisasi. Kegagalan dalam memahami konsep akan mengakibatkan kesalahan dalam membentuk generalisasi (Alma dan Harlasgunawan, 2003:155). Dengan demikian dalam memilih konsep yang hendak diajarkan kepada mahasiswa memperhatikan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: ketepatan, kegunaan, kekayaan pengalamannya, kekayaan konsep yang telah dipahami, lingkungan hidup siswa dan tingkat kematangan siswa. Pengertian konsep di atas mengacu pada konsep struktur ilmu yang di dalamnya mencakup ilmu sosiologi, antropologi, geografi, sejarah, ilmu ekonomi, dan ilmu politik. 2. Konsep IPS dari Sosiologi Sorokin (1957:760-761) Sosiologi adalah suatu ilmu tentang hubungan dan pengaruh timbal baik antara aneka macam gejala-gejala sosial, contohnya antara gejala ekonomi dengan non ekonomi, seperti agama, gejala keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi dan sebagainya. William Ogburn dan Meyer F.Nimkoff (1983:12-13) Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial. Soemarjan (1965) Sosiologi adalah ilmu tentang struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahanperubahan sosial. Supardan (2009:70) sosiologi adalah disiplin ilmu sosial tentang interaksi sosial, struktur sosial, proses sosial maupun perubahan sosial.

88

Dengan demikian sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi sosial, struktur sosial, proses sosial dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Ruang lingkup Sosiologi dapat dibedakan menjadi sub-disiplin sosiologi, seperti sosiologi pedesaan (rural sociology), sosiologi industri (industrial sociology), sosiologi perkotaan ( urban sociology), sosiologi medis ( medical sociology), sosiologi wanita ( woman sociology), sosiologi militer ( military sociology), sosiologi keluarga ( family sociology), sosiologi pendidikan (educational sociology), sosiologi medis (medical sociology) dan sosiologi seni (art sociology). Supardan (2011:134) konsep-konsep yang menjadi kunci dalam sosiologis adalah samar-samar, ambigu dan tidak tentu, usaha untuk membuat terminologi yang lebih tepat telah menjadikan sebagian besarnya tanpa hasil. Horton dan Hunt (1991:48-49) mengemukakan bahwa konsep-konsep dalam studi sosiologi membawa paling tidak dua manfaat: a. Kita memerlukan konsep yang diutarakan dengan teliti untuk

melangsungkan suatu diskusi ilmiah. Bagaimana saudara akan mampu menerangkan mesin pada seseorang yang tidak memiliki konsep “roda”. b. Perumusan konsep menyebabkan ilmu pengetahuan bertambah. Konsep-konsep sosiologi, seperti masyarakat, peran, konflik sosial, lembaga sosial, kebiasaan (mores), dan norma, jarang didefiniskan secara serupa atau sama. a. Konsep masyarakat

89

Masyarakat adalah golongan besar atau kecil yang terdiri dari beberapa manusia yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan merupakan sistem sosial yang saling mempengaruhi satu sama lain Supardan (2011:136). Kesaling ketergantungan individu atas yang lainnya ataupun kelompok menghasilkan bentuk-bentuk kerja sama tertentu yang bersifat ajeg, dan menghasilkan bentuk masyarakat tertentu yang merupakan sebuah keniscahyaan. b. Konsep peran Peran adalah keteraturan perilaku yang diharapkan dari individu. Contohnya peran-peran wanita tradisional dalam memperjuangkan hakhak wanita. Horton dan Hunt (1991:122) peran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu peran yang ditentukan atau diberikan (ascribed) dan peran yang diperjuangkan (achived). Peran yang ditentukan artinya peran-peran yang hukan merupakan hasil preatsi dirinya atau berkat usahanya, melainkan mata-mata karena pemberian orang lain c. Konsep norma Norma adalah suatu standar atau kode yang memadu perilaku masyarakat. Secara umum menurut Cialdini (200:709) bentuk norma terdiri dari dua bentuk dasar, pertama merujuk pada perbuatan yang bersifat umum atau biasa atau disebut norma deskriptif yakni menggambarkan apa yang dilakukan kebanyakan orang, kedua norma yang mengacu pada harapanharapan bersama dalam suatu masyarakat, organisasi, atau kelompok mengenai perbuatan tertntu yang diharapkan serta aturan-aturan moral.

90

d. Konsep sanksi Sanksi adalah suatu rangsangan untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan (Soekanto, 1993:446). Pemberian sanksi dalam

pendidikan adalah pentik, karena sanksi diberikan dalam kerangka mendidik, dan bukan oleh faktor-faktor emosional. Menurut pandangan behavioristik pada hakikatnya perlu adanya pemberian sanksi. e. Konsep interaksi sosial Interaksi sosial adalah proses sosial yang menyangkut hubungan timbal balik antarpribadi, kelompok, maupun pribadi dengan kelompok (Popenoe,1983:104); Soekanto,1993:247). Berlangsungnya suatu proses soail didasarkan oleh empat faktor, antara lain imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. (Soekanto,1986:52-53). f. Konsep konflik sosial Konflik sosial adalah pertentangan sosial yang bertujuan untuk menguasai atau menghancurkan pihak lain. Konflik sosial pundapat berupa kegiatan dari suatu kelompok yang menghalangi atau menghancurkan kelompok lain, walaupun hal itu tidak menjadi tujuan utama aktivitas kelompok tersebut (Supardan, 2011: 141). g. Konsep perubahan sosial Perubahan sosial adalah variasi hubungan antarindividu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada watu tertentu Ritzer (2004). Persel (1987:586) mengemukakan perubahan sosial adalah modifikasi atau transformasi dalam pengorganisasian masyarakat.

91

h. Konsep permasalahan sosial Permasalahan sosial merupakan suatu kondisi yang tidak diinginkan, tidak adil, berbahaya, efensif dan dalam pengertian tertentu mengancam masyarakat. Dalam pendekatannya, studi tentang permasalahan sosial dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni pendekatan realis dan objektif dan konstruksionisme sosial (Pawlunch, 2000:995). i. Konsep penyimpangan Penyimpangan adalah suatu perilaku yang menyimpang, perlu dibatasi, disensor, diancam hukuman atau label lain yang dianggap buruk sehingga istilah tersebut dipadankan dengan pelanggaran aturan (Rock, 2000:227228). Penyimpangan adalah maknanya bisa konotatif, bukan denotatifnya. j. Konsep globalisasi Globalisasi bisa dianggap sebagai penyebaran dan intensifikasi dari hubungan ekonomi, sosial, dan kultural yang menembus sekat-sekat geografis ruang dan waktu. Globalisasi merujuk pada implikasi tidak berartinya lagi jarak nasional, regional, maupun teritorial sehingga apa pun yang terjadi dan berlangsung di satu tempat, bukan jaminan bahwa kejadian atau peristiwa tersebut tidak membawa pengaruh di tempat lain (Ohmae, 2002:3-30). k. Konsep patronase Istilah patronase dalam istilah ilmu-ilmu sosial lebih banyak dikatkan dengan birokrasi sehingga dikenal birokrasi patrimonial. Patronase biasanya didefinisikan sebagai suatu kekuasaan untuk memberikan

92

berbagai tugas pada mesin birokrasi di semua tingkatan. Akan tetapi, dalam pengertian yang lebih khusus, patronase berarti pendistribusian berbagai sumber daya yang berharga, yaitu pensiun, lisensi atau kontrak publik berdasarkan kriteria politik (Supardan, 2011:147). 3. Konsep IPS dari Antropologi Antropolgi merupakan studi tentang umat manusia yang berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian maupun pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia (Koentjaraningrat,1987:1-2). Antropologi merupakan ilmu yang berusaha mencapai pengertian atau pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya. Jadi antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian maupun pemahaman yang lengkap tentang keanekaragaman manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaannya. Konsep-konsep antropologi sebagai berikut: a. Kebudayaan Kebudayaan adalah kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke satu generasi berikutnya. Kebudayaan merujuk kepada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian (Supardan, 2011:201) b. Evolusi Konsep evolusi mengacu pada sebuah transformasi yang berlangsung secara bertahap. Evolusi merupakan gagasan bahwa bentuk-bentuk

93

kehidupan berkembang dari suatu bentuk ke bentuk lain melalui mata rantai transformasi dan modifikasi yang tidak pernah putus, pada umumnya diterima sebgai awal landasan berpikir mereka. Chales Darwin dalam bukunya Orign of species. Konsep evolusi sering digandengkan dengan pengertian perubahan secara perlahan-lahan tapi pasti. c. Daerah Budaya (Culture Area) Daerah budaya (culture area) adalah suatu daerah geografis yang memiliki sejumlah ciri-ciri budaya dan kompleksitas lain yang dimilikinya (Banks, 1977:274). Daerah kebudayaan pada mulanya berkaiatan dengan pertumbuhan kebudayaan yang menyebabkan timbulnya unsur-unsur baru yang akan mendesak unsur-unsur lama ke arah pinggir, sekeliling daerah pusat pertumbuhan tersebut (Supardan,2011:203). d. Enkulturasi Konsep enkulturasi mengacu kepada suatu proses pembelajaran

kebudayaan (Soekanto,1993:167). Dengan demikian proses enkulturasi sudah dirasakan manusia sejak dari kecil sampai dewasa bahkan sampai tua dengan meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor yakni melalui pendidikan. e. Difusi Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan secara meluas sehingga melewati batas tempat di mana kebudayaan itu timbul (Soekanto,1986:150). Menurut Everret M.rogers dalam Supardan

(2011:205) cepat tidaknya suatu proses difusi sangat erat hubungannya

94

dengan empat elemen pokok, yaitu (a) sifat inovasi; (b) komunikasi dengan saluran tertentu; (c) waktu yang tersedia; (d) sistem sosial warga masyarakat. f. Akulturasi Akultursi adalah proses pertukaran ataupun saling mempengaruhi dari suatu kebudayaan asing yang berbeda sifatnya sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diakomodasikan dan diintegrasikan ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa kehilangan kepribadiannya (Koentjaraningrat,1990:91). g. Etnosentrisme Etnosentrisme adalah tiap-tiap kelompok cenderung untuk berpikir bahwa kebudayaan dirinya itu superior (lebih baik dan lebih segalanya) daripada semua budaya yang lain. h. Tradisi Tradisi adalah suatu pola perilaku atau kepercayaan yang telah menjadi bagian dari suatu budaya yang telah lama dikenal sehingga menjadi adat istiadat dan keprcayaan yang secara turun temurun (Soekanto, 1993:520). i. Ras dan Etnik Ras adalah sekelompok orang yang memiliki sejumlah ciri biologis (fisik) tertentu atau suatu populasi yang memiliki suatu kesamaan dalam sejumlah unsur biologis atau fisik khas yang disebabkan oleh faktor hereditas atau keturunan (Oliver, 1964:153). Etnik menurut Marger “...are

95

grups within a larger society that display a unique set of cultures trait”s (Supardan, 2001:208). j. Stereotip Stereotip (stereotype) adalah suatu rencana cetakan yang begitu terbentuk sulit diubah. Lippman (1922) mengemukakan fungsi penting dari penyederhanaan kognitif yang berguna untuk mengelola realitas ekonomi, dimana tanpa penyederhanaan maka realitas tersebut menjadi sangat kompleks. k. Kekerabatan Menurut antropolog Robin (1969) konsep kekerabatan merujuk kepada tipologi klasifikasi kerabat (kin) menurut penduduk tertentu berdasarkan aturan-aturan keturunan (descent) dan aturan-aturan perkawinan.

Radcliffe-Brown berpandangan bahwa sistem kekerabatan yang lebih luas dibangun diatas fondasi keluarga, namun bila keluarga secara universal bersifat bilateral-ikatan ibu dan ayah-kebanyakan masyarakat lebih menyukai satu sisi dalam keluarga untuk tujuan-tujuan publik. l. Magis Magis merupakan penerapan yang salah pada dunia materiil dari hukum pikiran dengan maksud untuk mendukung sistem palsu dari hukum alam (J.G Frazer,1980). m. Tabu Tabu adalah persentuhan antara hal-hal duniawi dan hal-hal yang keramat, termasuk suci (misalnya, persentuhan dengan ketua suku) dan

96

yang cemar (mayat). Emile Durkheim (1976) bahwa pemisahan (disjungsi) antara yang cemar dan suci adalah batu penjuru agama, sementara ritual pada umumnya dimaksudkan untuk menciptakan solidaritas kelompok tersebut. n. Perkawinan Perkawinan adalah proses formal pemanduan hubungan dua individu yang berbeda jenis (walaupun kaum lesbi pun terjadi, namun ini bagian kasus) yang dilakukan secara serimonial-simbolis dan makin

dikarakterisasi oleh adanya kesederajatan kerukunan, dan kebersamaan dalam memulai hidup baru dalam hidup berpasangan.. Dalam pandangan Allan (2000:611) perkawinan mencerminkan ketidaksederajatan yang ada di luar arena domestik.

4. Konsep IPS dari Geografi Istilah geografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu geo yang berarti bumi dan graphein yang berarti lukisan atau tulisan. Menurut Sumaatmadja (1988:31) geographika berarti tulisan tentang bumi. Richoffen bahwa Geography is the study of the earth surface according to its differences, or the study of different areas of the earth surface..., in term of total characteristics. Bagi Richoffen bidang kajian geografi tidak hanya mengumpulkan bahan-bahan yang kemudian disusun secara sistematik, tetapi harus dilakukan hubungan antara bahan-bahan tersebut untuk dikaji sebab akibatnya dari fenomena-fenomena di permukaan bumi yang memberikan sifat indivisualitas suatu wilayah. Sebab ruang lingkup

97

geografi tidak sekadar fisik, melainkan juga termasuk gejala manusia dan lingkungan lainnya (Supardan, 2011:227). Dengan demikian geografi terdiri dari tiga cakupan kajian yang saling berkaitan satu sama lain, terutama mencakup lingkungan, tata ruang dan tempat. Lingkungan alamiah pada suatu wilayah terdiri atas permukaan lahan, hidrologi permukaan air di wilayah itu, flora dan fauna yang tinggal didalamnya, lapisan tanah yang menutup permukaan itu dan atmosfer yang terdapat diatasnya. Semua unsur terjalin dalam suatu sistem lingkungan yang kompleks, misalnya flora suatu wilayah mempengaruhi iklim di sekitarnya dan pembentukan serta pengikisan lapisan tanah dibawahnya Jhonson (2000). Tata ruang merupakan fokus kajian ahli geografi manusia, karena memfokuskan pada penempatan dan penggunaan lahan oleh manusia. Tempat merupakan kajian tentang tempat-tempat yakni didalanya terdapat kegiatan mengidentifikasi interelasi, membanding-bandingkan, serta menampilkan informasi mengenai berbagai bagian dunia. Kemudia menampilkan informasi dengan menggunakan kecanggihan teknologi dalam mengumpulkan informasi, memetakan dan membuat katalog. Adapun cabang-cabang dari geografi manusia (human geography) mencakup geografi ekonomi (economic geography), geografi politik (political geography), geografi urban (urban geography), geografi sejarah (history geography), geografi populasi (population geography), geografi sosial (social geography), dan didtem informasi geografis (geographical information system). Konsep-konsep Geografi diantanya sebagai berikut: a. Tempat

98

Tempat atau locale adalah situasi dimana interaksi sisial terjadi, dan karena semua interaksi memerlukan orang-orang yang terlibat serta hadir di waktu dan tempat tertentu maka locale sering merupakan tempat. Locale adalah wilayah penting dimana interaksi berlangsung dan identitas kelompok berkembang (Johnson, 2000:761-762). b. Sensus penduduk Sensus penduduk merupakan suatu konsep geografi sosial yang merupakan salah satu kegiatan statistik tertua dan terluas yang dilakukan oleh pemerintah di seluruh dunia, dahulunya lebih berorientasi untuk taksiran kekuatan militer dan perpajakan. Sensus pun dikebangkan untuk mengumpulkan informasi mengenai perumahan, sektor manufaktur, pertanian industri pertambangan, dan dunia bisnis Taeuber (2000) dalam Supardan (2011:265). c. Iklim Iklim menurut Adam Kuper dan Jessica Kuper (2000) adalah keadaan ratarata dari cuaca di suatu daerah dalam periode tertentu, keadaan variasinya dari tahun ke tahun dan keadaan ektremnya. Unsur-unsur yang

menggambarkan keadaan cuaca atau iklim meliputi suhu udara, kelembapan udara, angin, curah hujan, dan penyinaran matahari. d. Laut Laut dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper (2000) adalah keseluruhan massa air yang saling berhubungan, mengelilingi semua sisi daratan di bumi. Laut yang besar dinyatakan sebagai samudera (lautan). e. Lingkungan

99

Lingkungan dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper (2000) adalah segala sesuatu yang ada di luar suatu organisme, meliputi lingkungan benda mati (abiotik) dan lingkungan hidup (biotik). Lingkungan benda mati atau fisik adalah lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas benda atau faktor alam yang tidak hidup, seperti bahan kimia, suhu, cuaca, gravitasi, atmosfer dan lain-lain. Lingkungan hidup (biotik) adalah lingkungan di luar suatu organisme yang terdiri atas organisme hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. f. Benua Istilah benua menurut Adam Kuper dan Jessica Kuper (2000) adalah suatu daratan yang begitu luas sehingga bagian tengah daratan yang luas tersebut tidak mendapat pengaruh angin laut sama sekali. Dalam sejarah, dikenal 5 benua yaitu Asia, Eropa, Amerika, Afrika dan Australia. g. Urbanisasi Konsep urbanisasi memiliki dua pengertian. Pertama, para ahli demografi lebih banyak menggunakan istilah ini untuk menunjukan redistribusi penduduk ataupun perpindahan dari wilayah-wilayah pedesaan ke perkotaan, memberikan makna yang paling spesifik pada tingkat konseptual. Kedua, dalam beberapa ilmu sosial lainnya, terutama ekonomi, geografi dan sosiologi, urbanisasi merujuk kepada struktur morfologik yang sedang berubah dari berbagai pemusatan (agglomeration) perkotaan dan

perkembangannya (Supardan, 2011:269). h. Peta

100

Peta adalah pola permukaan bumi yang dilukiskan pada bidang datar (Adam Kuper dan Jessica Kuper, 2000). Tiap titik peta menunjukan kedudukan geografis menurut skala dan proyeksi yang telah ditentukan. i. Kota Kota adalah tempat di wilayah tertentu yang dihuni oleh cukup banyak orang dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Studi tentang masyarakat kota tidak hanya terbatas menelaah masyarakat secara luas, namun juga karakteristik-karakteristik tertentu dari kehidupan internalnya (Herriot, 2000:110). j. Mortalitas Mortalitas adalah jumlah kematian per tahun per seribu penduduk (Ewbank, 2000:84). Perhintungan yang lebih akurat adalah dengan menggunakan tingkat kematian umur tertentu (angka kematian tahunan dalam kelompok umur tertentu). k. Khatulistiwa (Ekuator) Khatulistiwa atau ekuator adalah sebuah konsep yang merujuk kepada garis khayal yang melingkari bola bumi dan membelahnya menjadi dua bagian yang sama besar, masing-masing 180 derajat. Garis ekuator inilah yang disebut garis khatulistiwa atau garis lintang nol derajat (Shadily, 1984:905). l. Demografi Konsep demografi merujuk kepada analisis terhadap berbagai variabel kependudukan. Didalamnya mencakup berbagai metode perhitungan dan hasil substantif dalam riset mengenai angka kematian (mortalitas), angka

101

kelahiran (natalis), migrasi, dan jumlah serta komposisi penduduk atau populasi (Keyflitz,2000:219) m. Tanah Tanah adalah suatu wilayah permukaan bumi dengan ciri khas mencakup segala sifat yang sepatutnya stabil atau diperkirakan selalu terulang kembali dari lingkungan hidup yang lurus, di atas atau di bawah wilayah tersebut. (Supardan, 2011:274) n. Transmigrasi Transmigrasi adalah suatu sistem pembangunan terpadu, upaya untuk mencapai keseimbangan penyebaran penduduk, juga dimaksudkan untuk menciptakan perluasan kesempatan kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya dan pendapatan melalui perpindahan penduduk dari daerah padat ke daerah-daerah yang jarang penduduknya (Martono, 1996:180). o. Wilayah Konsep wilayah merujuk pada suatu area di permukaan bumi yang relatif homogen dan berbeda dengan sekelilingnya berdasarkan beberapa kriteria tertentu (Jhonson, 2000:910). Dalam geografi kawasan adalah kawasan yang dibangun di atas unit spasial yang homogen. 5. Konsep IPS dari Sejarah Arti sejarah yang dikaitkan dengan syajarah dan dihubungkan dengan kata history, bersumber dari kata histori (bahasa Yunani kuno) arti sejarah itu sendiri, memiliki makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Sunal dan Hass menyebutnya, history ia a chronological study that

102

interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to discover the truth. Sedangkan Car menyatakan bahwa history is a continuous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past. Sejarah merupakan suatu penggambaran atau rekonstruksi peristiwa, kisah, maupun cerita, yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu (Supardan, 2011:281). Peranan dan kedudukan sejarah terbagi atas tiga hal, yakni sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai ilmu; sejarah sebagai cerita (Ismaun,1993;277). Konsep-konsep sejarah sebagai berikut: a. Perubahan Konsep perubahan merupakan istilah yang mengacu kepada sesuatu hal yang menjadi “tampil beda”. Perubahan merupakan konsep dasar yang penting dan multak maknanya sebagai suatu dinamika kehidupan dalam survival peserta didik, terutama dapat memberikan penyadaran untuk menghadapi masa kini dan mendatang (Wiriaatmadja,1998:94) b. Peristiwa Konsep peristiwa memiliki arti sebagai suatu kejadian yang menarik maupun luar biasa karena memiliki keunikan. Peristiwa selalu menjadi objek kajian, mengingat salah satu karakteristik ilmu sejarah adalah mencari keunikankeunikan yang terjadi pada suatu peristiwa tertentu, dengan penekanan pada tradisi-tradisi relativisme. c. Sebab dan Akibat

103

Istilah sebab akibat merujuk kepada faktor-faktor determinan fenomena pendahulu yang mendorong terjadinya sesuatu perbuatan, perubahan, maupun peristiwa berikutnya, sekaligus sebagai suatu kondisi yang mendahului peristiwa. Sedang akibat adalah sesuatu yang menjadikan kesudahan atau hasil suatu perbuatan maupun dampak dan peristiwa. (Supardan, 2011:339). d. Nasionalisme Nasionalisme merupakan keyaninan bahwa pada hakikatnya setiap bangsa memiliki hak dan kewajiban untuk membentuk dirinya sebagai negara (Minogue, 2000:695). e. Kemerdekaan/Kebebasan Konsep kemerdekaan atau kebebasan adalah nilai utama dalam kehidupan politik bagi setiap negara dan bangsa maupun umat manusia yang senantiasa diagung-agungkan, sekalipun tidak selamanya dipraktikan. Konsep

kemerdekaan menitikberatkan pada komitmen untuk menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa yang berdaulat dan tidak terikat oleh bangsa dan negara mana pun. f. Kolonialisme Konsep kolonialisme merujuk kepada bagian imperialisme dalam ekspansi bangsa-bangsa Eropa Barat ke berbagai wilayah lainnya di dunia sejak abad ke-15 dan 16. (Supardan, 2011:341) g. Revolusi Konsep revolusi menunjuk pada suatu pengertian tentang perubahan sosial politik yang radikal, berlangsung cepat, dan besar-besaran. Berbeda dengan

104

konsep evolusi yang lebih mengacu pada perubahan yang berlangsung secara perlahan-lahan, tetapi pasti. h. Fasisme Konsep fasisme atau facism adalah nama pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat memiliki rasa nasionalis yang sempit, rasialis, militeristis, dan imperialis (Ebestein dan Fogelman,1990:114) i. Komunisme Komunisme merujuk kepada setiap pengaturan sosial yang didasarkan pada kepemilikan, produksi, konsumsi dan swapemerintahan yang diatur secara komunal atau bersama-sama (Meyer, 1983:143). Komunisme dalam pengertian sempit merujuk kepada kumpulan doktrin Marxis atau kritik kaum Marxis terhadap kapitalisme dan teori liberal, serta ramalan mereka akan terciptanya revolusi proletariat yang akan menciptakan suatu masyarakat komunis. j. Peradaban Konsep peradaban atau civilization merupakan konsep yang merujuk pada suatu entitas kultural seluruh pandangan hidup manusia yang mencakup nilai, norma, institusi, dan pola pikir terpenting dari suatu masyarakat yang terwariskan dari generasi ke generasi (Bozeman dalam huntington, 1998:41). Perdaban menunjuk kepada suatu corak maupun tingkatan moral yang menyangkut penilaian terhadap terhadap kebudayaan (Supardan,2011:345).

105

k.

Perbudakan Konsep perbudakan atau slavery adalah suatu istilah yang menggambarkan suatu kondisi dimana seseorang maupun kelompok tidak memiliki kedudukan dan peranan sebagai manusia yang memiliki hak asasi sebagai manusia yang layak. (Supardan, 2011:346).

l.

Waktu Waktu adalah rentetan kejadian atau constitutive of events (Adam, 2000:1097). Pentingnya waktu menurut Sztompa (2004:58-59) terdapat enam fungsi waktu, yaitu; (a) sebagai penyelaras tindakan; (b) sebagai koordinasi; (c) sebagai bagian dalam tahapan atau rentetan peristiwa; (d) menempati ketepatan; (e) menempatkan ukuran; (f) untuk membedakan suatu masa tertentu dengan lainnya.

m. Femisme Feminisme adalah nama suatu gerakan emansipasi wanita dari subordinasi pria. (Supardan,2011:348). Menurut Maggie Humm (2000:345), semua gerakan feminis mengandung tiga unsur asumsi pokok. Pertama, gender adalah suatu kontruksi yang menekan kaum wanita sehingga cenderung menguntungkan pria. Kedua, konsep patriaki, dominasi kaum pria dalam lembaga-lembaga sosial melandasi konstruk tersebut. Ketiga, pengalaman dan pengetahuan kaum wanita harus dilibatkan untuk mengembangkan suatu masyarakat nonseksis di masa mendatang. n. Liberalisme

106

Konsep liberalisme mengacu kepada sebuah doktrin yang maknanya hanya dapat diungkapkan melalui penggunaan kata-kata sifat yang menggambarkan nuansa-nuansa khusus.(Supardan, 2011:349). Kata-kata sifat yang paling terkenal di antaranya adalah liberlisme sosial atau politik dan liberalisme ekonomi (Barry, 2000:568). o. Konsevatisme Konservatisme merujuk kepada doktrin yang menyakini bahwa realitas suatu masyarakat dapat ditemukan pada perkembangan sejarahnya. Konservatisme adalah sikap dasar yang ada pada hampir semua manusia

(Minogue,2000:167). 6. Konsep IPS dari Ilmu Ekonomi Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempersoalkan kebutuhan manusia dan pemuasan kebutuhan manusia (Abdullah, 1992:5). Samuelson dan Nordhaus (1990:5) mengemukakan bahwa ilmu ekonomi merupakan studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya yang langka dan memiliki beberapa alternatif penggunaan dalam rangka memproduksi berbagai komoditi, kemudian menyalurkannya baik saat ini maupun di masa depan kepada berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. Ilmu ekonomi terbagi-bagi dalam beberapa bidang kajian, seperti ekonomi lingkungan, ekonomi evolusioner, eksperimental, ekonomi kesehatan, ekonomi institusional, ekonomi matematik, ekonomi sumber daya alam, ekonomi pertahanan, ekonomi sisi penawaran, ekonomi kesejahteraan, ekonomi dualistik,

107

ekonomi informal, ekonomi campuran, ekonomi pertanian, ekonomi tingkah laku dan ekonomi pembangunan. Konsep ilmu ekonomi adalah: a. Skarsitas Skarsitas atau kelangkaan adalah sebuah prinsip bahwa sebagian besar barang yang diinginkan orang hanya tersedia dalam jumlah yang terbatas, kecuali barang bebas seperti udara. Barang umum dalam keadaan langka harus dijatah, baik melalui mekanisme harga maupun cara lainnya (Samuelson dan Nordhaus,1990:535). b. Produksi Produksi adalah segala usaha untuk menambah atau mempertinggi nilai atau faedah dari sesuatu barang. (Supardan,2011:400). Produksi adalah segala usaha dan aktivitas untuk menciptakan suatu barang atau mengubah bentuk suatu barang menjadi barang lain (Abdullah,1992:4;38). c. Konsumsi Konsumsi adalah segala tindakan manusia yang dapat menimbulkan turun atau hilangnya faedah atau nilai guna suatu barang. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1990:161) bahwa konsumsi adalah sebagai pengeluaran untuk barang dan jasa seperti makanan, pakaian, mobil, pengobatan, dan perumahan. d. Investasi Investasi adalah perubahan stok modal dalam kurun waktu tertentu, biasanya satu tahun. Inverstasi keuangan adalah pembelian aset-aset keuangan, seperti saham dan obligasi yang nantinya akan dijual kembali

108

saat harga meningkat, dan hal itu lebih terkait dengan analisis jasa (Supardan,2011:402). e. Pasar Pasar adalah sebuah mekanisme di mana para pembeli dan penjual berinteraksi untuk menentukan harga dan melakukan barang dan jasa (Samuelson dan Nordhaus,2003:29). Pasar merupakan keseluruhan permintaan dan penawaran barang serta jasa. f. Uang Uang secara umum dilihat dari fungsinya didefinisikan sebagai alat tukar. Uang berfungsi sebagai satuan ukuran (standar for valuing things) yang memiliki fungsi turunan, seperti sebagai standar perincian utang (standard deferred payment) dan sebagai alat penyimpan kekayaan. Uang bebarti kekuasaan, pada masyarakat yang berlandaskan dasar individualistik, uang menjadi alat kekuasaan dalam tangan pemiliknya (Winardi,1987:35). g. Bank (Perbankan) Bank adalah tempat menerima tabungan uang dan memberikan pinjaman dengan mengambil keuntungan, kendati dalam hal tertentu tabungan dan pinjaman dibatasi dalam waktu relatif pendek maupun menengah. Secara keseluruhan fungsi bank adalah (1) menghimpun dana-dana yang dimiliki masyarakat; (2) menyalurkan dana yang telah berhasil dihimpun dalam bentuk kredit; (3) memperlancar kegiatan perdagangan dan arus lalu lintas uang antara para pedagang (Abdullah,1992:216).

109

h.

Koperasi Koperasi adalah gerakan ekonomi atau sebagai badan usaha milik bersama. Sebagai gerakan ekonomi, koperasi mempersatukan sejumlah orang yang memiliki kebutuhan yang sama dan sepakat bahwa kebutuhan bersama itu akan direncanakan, dilaksanakan, dikendalikan, diawasi, serta dipertanggungjawabkan secara bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan kebersamaan (Supardan,2011:407).

i. Kewirausahaan Konsep kewirausahaan atau entrepreneurship merujuk kepada suatu sifat keberanian dan keutamaan mengambil resiko dalam kegiatan inovasi (Samuelson dan Nordhaus,1990:518). 7. Konsep IPS dari Ilmu Politik Ilmu politik merupakan disiplin akademis, dikhususkan pada

penggambaran, penjelasan, analisis, dan penilaian yang sistematis mengenai politik dan kekuasaan (O‟Leary, 2000:788). Menurut Roger F.Soltau (1961:4) menyatakan: Political science is the study of the state, it‟s aims and purposes...the institutions by which these are going to be realized, its relations with is individual members, and other states „ ilmu politik adalah kajian tentang negara, tujuantujuan negara, dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu; hubungan antara negara dengan warga negaranya serta dengan negara-negara lain‟. Sub bidang utama dari penyelidikan ilmu politik meliputi; pemikiran politik; teori politik; lembaga-lembaga politik; sejarah politik; politik

110

perbandingan; ekonomi politik; administrasi publik; teori-teori kenegaraan; hubungan internasional. Adapun konsep-konsep Politik antara lain: a. Kekuasaan Konsep kekuasaan merujuk kepada kemampuan seseorang atau kelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang memiliki kekuasaan (Budiardjo,2000:35). b. Kedaulatan Konsep kedaulatan dapat dibedakan menjadi dua telaahan yaitu (a) dilihat dari hukum tata negara, konsep kedaulatan mengacu pada kekuasaan pemerintah negara tertinggi dan mutlak, (b) dilihat dari hukum internasional mengacu kepada kemerdekaan negara terhadap negara-negara lain (Shadily,

11984:1711). c. Kontrol Sosial Kontrol sosial mengacu kepada pengaturan tingkah laku manusia oleh kekuatan sosial yang dilakukan di luar pemerintahan untuk memelihara menurut hukum dan aturan itu yang muncul di dalam tiap-tiap masyarakat dan institusi. (Supardan, 2011:564). d. Negara Negara adalah integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dalam kekuasaan politik. Negara meruapakn organisasi yang dalam suatu kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan kehidupan bersama tersebut.

111

e. Pemerintah Pemerintah mengacu kepada proses memerintah, yakni pelaksanaan kekuasaan oleh yang berwenang atau orang-orang yang mengisi kedudukan otoritas dalam masyarakat atau lembaga, artinya kantor atau jabatan-jabatan dalam pemerintahan (Finer,1974). f. Legitimasi Konsep legitimasi menunjuk kepada keterangan yang mengesahkan atau membenarkan bahwa pemegang kekuasaan maupun pemerintah adalah benarbenar orang yang dimaksud (yang secara hukum adalah sah).

(Supardan,2011;556) g. Sistem Politik Konsep sistem politik merupakan istilah yang mengacu kepada semua proses dan institusi yang mengakibatkan pembuatan kebijakan publik. Setiap sistem politik akan mencakup: (1) fungsi integrasi dan adaptasi terhadap masyarakat, baik ke luar maupun ke dalam: (2) penempatan nilai-nilai dalam masyarakat berdasarkan kewenangan; (3) penggunaan kewenangan atau kekuasaan, baik secara sah maupun tidak. (Haricahyono,1991:93-94). h. Demokrasi Konsep demokrasi secara umum merupakan sistem pemerintahan yang segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantara wakil-wakilnya. (Supardan,2011:567). i. Pemilihan Umum

112

Pemilihan umum adalah suatu kegiatan politik untuk memilih atau menentukan orang-orang yang duduk di dewan legislatif maupun eksekutif. j. Partai Politik Konsep partai politik mengacu pada sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kemanfaatan bagi para anggotanya, baik yang bersifat idiil maupun material (Lijphart,2000:731). k. Hak Asasi Manusia Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang dimiliki oleh semua orang sesuai kondisi yang manusiawi. Negara pada hakikatnya berkewajiban untuk menjamin bahwa setiap sistem hukum mereka mencerminkan dan melindungi hak-hak asasi manusia yang bersifat internasional yang berada pada wilayah yuridiksi mereka (Higgins, 2000:464).

C. Berpikir Kreatif 1. Definisi Kreativitas Konsep kreativitas mempunyai pengertian yang luas dan beragam (majemuk) serta multidimensional, tergantung bagaimana mengamati dan pada dimensi apa yang menyorotinya. Definisi kreativitas dilihat dalam dimensi pribadi, proses, produk dan press atau yang dikenal dengan istilah empat P (Pribadi, Proses, Produk, Press). Klein (Coleman, 1985:215) menyebutkan

“Creativity is a broad construct at multiple meaning for children, adult, and

113

profesional”. Sedangkan Parnes (1967:6) menyatakan “creativity is function of knowledge, imagination, and evaluation”. Begitu luasnya cakupan kreativitas Clark (1988:45-47) menegaskan bahwa “ creativity showing the integration of the four major areas of human function: thinking-cognitive, feeling-affective, physical sensing, and intuitive”. Clark Moustakis dalam Utami Munandar (1995:32) mengemukakan kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan

mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam dan dengan orang lain. Dengan demikian tidak ada satu pun definisi yang dapat dianggap representatif mengenai pengertian kreativitas tersebut. Menurut Amabile (1983:31-32) dan Supriadi (1994:6) hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama, kreativitas merupakan konstruk hipotesis yang pada hakekatnya merupakan ranah psikologis yang kompleks, multi dimensional mengandung berbagai tafsiran yang beragam. Kedua, definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbedabeda, tergantung dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi. Amabile (1983:31) mengemukakan bahwa suatu produk atau respons seseorang dikatakan kreatif apabila menurut penilaian orang ahli atau pengamat yang mempunyai kewenangan dalam bidang itu, bahwa itu adalah kreatif. Dengan demikian kreativitas merupakan kualitas suatu produk atau respon yang dinilai kreatif oleh pengamat ahli. Lain halnya dengan kreativitas dijabarkan dalam kriteria-kriteria tertentu tantang sesuatu produk dinamakan kreatif. Menurut Amabile (1983:33) sesuatu produk dinilai kreatif apabila; (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai jika dilihat dari segi kebutuhan

114

tertentu, (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Basemer dan Triffingger (1981;161) menyebutkan bahwa produk kreatif apabila memiliki tiga kategori: (1) novelty (kebaharuan), (2) resolution (pemecahan) dan (3) elaboration (kerincian) serta (4) synthesis (sintesis). Model ini disebut Creative Product Analysis Matrix (CPAM). Kebaharuan (novelty) diartikan sejauhmana produk ini baru dalam hal: baik jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, konsep-konsep baru yang digunakan. Pemecahan (resolution) menyangkut sejauh mana produk itu telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan; (1) valuable, bahwa produk itu harus bermakna, (2) logis, dapat diterima oleh akal sehat dan mengikuti alur berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan, (3) berguna, karena dapat diterapkan secara praktis. Elaborasi dan sintesis, dalam dimensi ini merujuk kepada derajat sejauh mana produk itu mampu menggabungkan unsur-unsur baik yang tidak serupa (sama) menjadi sesuatu keseluruhan koheren (bertahan secara logis). Untuk mengetahui hal ini terdapat lima kriteria pengujian, yaitu: (1)

Organis, produk itu harus mempunyai arti seputar mana produk itu disusun, (2) Elegen, yaitu mempunyai nilai yang lebih baru dan canggih, (3) kompleks, yaitu berbagai unsur digabung, (4) dapat dipahami, artinya tampil secara jelas dapat diterima oleh akal sehat, dan (5) Keterampilan, nampak diperlukannya skill tertentu dalam mengerjakan itu semua. Rhodes merumuskan Four P‟s of Creativity: Person, Process, Press, Product. Kebanyakan definisi kreativitas berfokus pada salah satu dari empat P tersebut atau kombinasinya (Munandar, 1995: 36). Creative action is an imposing

115

of ones own whole personality on the environment in a unique and characteristic way”. Tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Dalam fokus ini segi “pribadi” atau „person‟ yang ditekankan dalam definisi tersebut. Guilford (1950) menyebutkan bahwa kriteria kreativitas identitas dengan apa yang disebutnya creative personality yakni those pattern of traits that a characteristics of creative persons. Kepribadian kreatif menurut Guilford mencakup dimensi kognitif (bakat) dan dimensi non kognitif (minat, sikap, dan kualitas temperamental). Menurut teori ini bahwa orang-orang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang secara signifikan memang berbeda dengan orang-orang yang kurang kreatif. Dimensi proses tentang kreativitas ini dikemukakan oleh Wallas (1926) dan Torrance (1965). Pendapat Wallas, seperti dikutip Turner (1977:58-59), this account led Wallas to identity four stages in the creative process: preparation, incubation, illumination, and verification”. Torrance (1965:8) mengatakan bahwa kreativitas memiliki langkah-langkah metode ilmiah sebagai berikut: “...the process of sensing difficulties, problems, gaps in information, missing elements: making guesses or formulating hypotheses about these deficiencies, testing these guesses and possibly revising and retesting them, and finally in communicating the result”. Amabile (1983), Basemer dan Treffinger (1981), juga Haefele (1962) maupun Rogers (1982). Haefele (Munandar, 1955:38) menyatakan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial. Haefele (1962) menunjukkan definisi kreativitas bahwa kreativitas tidak harus/selalu keseluruhan produk itu “baru”, melainkan bisa juga materi-materinya

116

sudah lama ada sebelumnya, dan produk itu harus benar-benar memiliki makna bagi masyarakat. Sedangkan Rogers (1982), mengemukakan bahwa produk kreatif memiliki karakteristik; (1) observable atau dapat diamati, (2) novelty atau baru, (3) produk itu merupakan hasil kualitas unik individu dalam interaksinya dengan lingkungannya. Definisi kreativitas yang mengacu kepada aspek “press” atau “dorongan” ditulis oleh Simonton (1984) yang menyatakan bahwa kreativitas muncul karena dorongan internal: the initiative that one manifest by his power to break away from the usual sequence of thought. Kreativitas juga muncul oleh adanya dorongan-dorongan eksternal seperti kebudayaan yang kondusif untuk kreatif. Suatu kebudayaan yang menunjang, menumpuk dan memungkinkan

perkembangan kreativitas, diantaranya: (1) tersedianya sarana-sarana kebudayaan, (2) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan, (3) Lebih menekankan pada becoming (menjadi tumbuh) dari pada being , (4) Memberikan kesempatan bebas terhadap media kebudayaan bagi semua warga tanpa diskriminasi, (5) Tumbuhnya kebebasan atau paling tidak ada diskriminasi ringan setelah pengalaman tekanan dan tindakan yang keras, (6) Adanya rangsangan kebudayaan yang berbeda dan kontras, (7) Toleransi dan minat terhadap pandangan-pandangan yang berbeda atau divergen, (8) Adanya insentif, penghargaan atau hadiah, dan (9) Adanya interaksi antara pribadi-pribadi yang berarti. 2. Hakekat dan Makna Kreativitas Hidup dalam suatu masa dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesatnya untuk digunakan secara konstruktif maupun destruktif, suatu adaptasi

117

kreatif merupakan satu-satunya kemungkinan untuk dapat mengikuti perubahanperubahan yang terjadi dan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang kompleks. Oleh karena itu perlunya kreativitas dari pribadi individu, karena dengan kreativitas Pertama, dengan berkreasi orang dapat mewujudkan (mengaktualisasikan) (Maslow,1968) bahwa dirinya dan perwujudan/aktualisasi diri. Menurut

kebutuhan pokok hidup manusia sebagai bentuk

aktualisasi diri yaitu berkreativitas merupakan suatu kebutuhan tingkat tinggi, merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya sebagai aktualisasi diri. Orang yang sehat mental, bebas dari hambatan-hambatan, dapat mewujudkan diri sepenuhnya. Sejalan dengan pendapat Froman (1959:34) yang menyatakan betapa pentingnya norma kebajikan, yaitu keunggulan dari hakekat manusia. Kebajikan itu sendiri merupakan aktivitas pemanfaatan keunggulan dan kapasitas yang ada dalam mencapai kebahagiaan. From the nature of man, Aristotle deduces the norm “virtue” (excellence) is “activity”, by which he means exercise of the functions and capacities peculiar to man, Happiness, which is man‟s aim, is the result of “activity‟ and “use”:its capacities peculiar to man. Happiness, which is man‟s aim, is the result of “activity” and „use”: it is not quiescent possession. Kedua, berkreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan (Munandar, 1995:58). Ketiga, berkreativitas tidak hanya bermanfaat (bagi diri pribadi dan bagi lingkungan) tetapi memberikan

118

kepuasan kepada individu.

Keempat, berkreatif dapat meningkatkan kualitas

hidup dengan sumbangan kreatif, yang berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru dan teknologi baru. Dengan demikian bahwa berkreativitas hakekatnya merupakan upaya manusia, dalam berbagai pengembangan potensi diri agar menjadi lebih manusiawi serta secara kreatif bukan sekedar memiliki manfaat akan produkproduknya, tetapi juga memberi kekuasaan kepada individu itu sendiri yang tak terhingga. 3. Karakteristik Kepribadian Kreatif Menurut Guilford kepribadian kreatif tersebut meliputi karakteristik dimensi kognitif (bakat) dan dimensi non-kognitif (minat, sikap, dan kualitas tempramental). Dimensi kognitif mencakup kelancaran (fluency), fleksibilitas (flexibility), orsinilitas (originality) dan elaborasi (elaboration). Menurut Guilford (Amabile, 1983:19) faktor pola khas dari sifat-sifat (traits) kepribadian juga turut menentukan kreativitas seseorang: In its narrow sense, creativity refers to the abilities that are most characteristic of people....In other words, the psychologist‟s problem is that of creative personality.... I have often defined an individual‟s personality as his unique pattern of traits. A traits is any relatively enduring way in which person differ from one another. The psychologist is particularly interested in those traits that are manifested in performance: in other words, in behavior traits. Behavior traits come under the broad categories of aptitudes, interest, attitudes, and temperamental qualities....Creative personality is then a matter of those patterns of traits that are characteristic of creative persons. Sifat-sifat perilaku individu itu terdiri atas beberapa kategori, seperti; bakat, minat, sikap dan temperamen. Aspek bakat mengacu kepada kemampuan

119

bawaan sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud (Munandar, 1985:17). Menurut Guilford (1959:170-177) sifat-sifat

bukan bakat (non-aptitude) mencakup: (1) percaya diri, (2) menguasai masalah, (3) memiliki minat yang luas dan apresiasi kepada kegiatan kreatif, dan (4) toleran kepada kedwiartian (ambiguitas), berani mengambil resiko, senang bertulang dan mencari hal-hal baru, menyenangi pemikiran yang beragam dan tidak lazim. Guilford (1959:170-177) dengan ciri-ciri kelancaran, kelenturan, keaslian (termasuk suka humor), dan kerincian pemikiran atau gagasan yang terintegrasi dengan kemampuan ciri-ciri sikap (afektif) kreatif . Supriadi (1994:56-57) mengatakan bahwa ciri-ciri kreatif yaitu mempunyai rasa ingin tahu besar, menghargai fantasi, mempunyai pendapat sendiri, memiliki tanggung jawab dan komitmen terhadap tugas, tekun dan tidak mudah bosan, tidak mudah kehabisan akal dalam memecahkan masalah, kaya akan inisiatif, memiliki citra diri dan stabilitas emosional yang baik, tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistik, dan mengandung teka-teki, serta memiliki kesadaran etik-moral dan estetik yang tinggi. 4. Teori-Teori Kreativitas Beberapa kelompok teori yang menjelaskan tentang kreativitas dapat didekati menurut pengelompokannya. Teori Empat P yang melandasi

pengembangan kreativitas, diantaranya: a. Teori tentang Pembentukan Pribadi Kreatif 1) Teori Psikoanalitis

120

Teori Psikoanalitis melihat kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya dimulai di masa anak. Pribadi kreatif dipandang sebagai sesorang yang pernah mengalami tarumatis, yang dihadapi dengan menungkinkan gagasan-gagasan yang disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma. Tindakan traumatis menstramomasikan keadaan psikis yang tidak sehat menjadi sehat terutama melalui mekanisme sublimasi merupakan penyebab atau sumber kreativitas. a) Teori Freud Sigmund Freud (1856-1939) menjelaskan proses kreatif dari

mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya untuk sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak diterima. Freud percaya meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi merupakan penyebab utama dari kreativitas. b) Teori Kris Ernst Kris (1900-1957) menekankan bahwa mekanisme pertahanan regresi (beralih ke perilaku yang akan memberi kepuasan, jika perilaku tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan) juga sering muncul tindakan kreatif. Orang-orang kreatif adalah mereka yang paling mampu memanggil bahan-bahan dari alam pikiran tidak sadar. Mereka mampu melihat masalah-masalah dengan cara yang segar dan inovatif, untuk “regress in the service of the ego”. c) Teori Jung

121

Carl Jung (1987-1961) percaya bahwa ketidaksadaran memainkan peranan yang amat penting dalam kreativitas tingkat tinggi. Alam pikiran tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi. Secara tidak sadar „mengingat‟ pengalaman-pengalaman yang paling berpengaruh , maka ketidaksadaran kolektif ini timbul penemuan, teori, seni dan karya-karya baru lainnya. d) Teori Humanistik Psikologis tingkat tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup, dan tidak terbatas pada lima tahun pertama. Teori Humanistik terdiri atas Teori Maslow dan Teori Rogers. (1) Teori Maslow Abraham Maslow (1908-1970) mengatakan bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan ini harus dipenuhi dalam urutan tertentu; kebutuhan primitif muncul pada saat lahir, dan kebutuhan tingkat tinggi berkembang sebagai proses pematangan. Keempat

kebutuhan pertama disebut kebutuhan „deficiency” karena mungkin untuk dipuaskan sampai tidak dirasakan kebutuhan lagi. Proses perwujudan erat berkaitan dengan kreativitas. (2) Teori Rogers Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi internal dari pribadi yang kreatif ialah; (a) keterbukaan terhadap pengalaman, (b)

kemampuan menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi

122

seseorang

(internal

locus

evaluation),

(c)

kemampuan

bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep. Orang yang memiliki kesehatan psikologisnya sangat baik, akan menghasilkan karya-karya kreatif dan hidup secara kreatif. 2) Penelitian tentang Ciri Kepribadian Kreatif Treffinger mengatakan bahwa pribadi kreatif biasanya lebih terorganisir dalam tindakan, rencana inovatif serta produk orisinal mereka telah dipikirkan dengan matang lebih dahulu, dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin timbul dan implikasinya. Ciri-ciri orang kreatif yaitu (1) mempunyai rasa humor yang tinggi, (2) lebih tertarik pada hal-hal yang rumit dan misterius, (3) mempunyai minat yang cukup besar terhadap seni sastra, musik dan teater, (4) mandiri, percaya diri, ingin tahu, penuh semangat, cerdik dan tidak penurut, (4) tidak kooperatif, menuntut, egosentris, terlalu asertif, kurang sopan, acuh tak acuh terhadap aturan, keras kepala, emosional, menarik diri dan menolak dominasi atau otoritas. 2. Teori tentang Pendorong Kreatif (Press) Kreativitas dapat terwujud dengan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dorongan dari lingkungan. a. Motivasi Intrinsik untuk Kreativitas Rogers dalam Vernon (1982) mengatakan dorongan merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya

sepenuhnya.Dorongan ada pada setiap orang dan bersifat internal, ada

123

dalam diri individu sendiri, namun membutuhkan kondisi yang tepat untuk diekspresikan. b. Kondisi Eksternal yang Mendorong Perilaku Kreatif Menurut Rogers kondisi eksternal (dari lingkungan) memupuk kreativitas konstruktif, karena kondisi lingkungan menjadi pendorong untuk

meningkatkan kreativitas. Kreativitas tidak dapat dipaksakan tetapi dimungkinkan untuk tumbuh dengan memerlukan kondisi yang

memungkinkan dan mengembangkan potensinya. Pengalaman Rogers dalam psikoterapi ialah menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis kita untuk memungkinkan timbulnya kreativitas konstruktif. 3. Teori tentang Proses Kreatif a. Teori Wallas Teori Wallas (1962) dalam bukunya “The Art of Thought” (Piirto,1992), yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap (1) persiapan; (2) inkubasi; (3) iluminasi; dan (4) verifikasi. Tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi, dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra-sadar. Tahap ketiga (iluminasi) ialah tahap timbulnya “insight” atau “Aha-Erlebnis” saat timbulnya inspirasi

124

atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru. Tahap keempat (verifikasi) yaitu dimana ide atau kreasi baru harus diuji terhadap realitas. Maka diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. b. Teori tentang Belahan Otak Kanan dan Kiri Menurut Dacey (1989) dan Piirto (1989) bahwa belahan otak kanan terutama berkaitan dengan fungsi-fungsi kreatif, sehingga terjadi “dichotomania”, membagi-bagi semua fungsi mental menjadi fungsi belahan otak kanan dan kiri. 4. Teori tentang Produk Kreatif Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif (Wallas) dan produk yang dicapai. Perilaku kreatif memerlukan kombinasi antara ciri-ciri psikologis yang berinteraksi sebagai berikut: sebagai hasil dari berpikir konvergen atau intelegensi (memperoleh pengetahuan, pengembangan

keterampilan), manusia memiliki seperangkat unsur-unsur mental. a. Hukum Paten dalam Penilaian Produk Penemuan Hukum paten dimaksudkan sikap ketidakpercayaan dari orang seprofesi tidak menggoyahkan tujuan tetapi ketangguhan dan keseriusan mengenai apa yang ingin dicipta. b. Model dari Bassemer dan Treffinger Besemer dan Treffinger (1981) menyarankan bahwa produk kreatif digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu (1) kebaharuan (novelty), (2) pemecahan (resolution), dan (3) kerincian (elaboration) dan sintesis.

125

Model ini disebut “Creative Product Analysis Matrix” (CPAM). Kebaharuan adalah sejauh mana produk itu baru dalam hal; jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, konsep baru yang terlibat dalam hal dan diluar lapangan/bidang; dalam hal dampak dari produk terhadap produk kreatif di masa depan. Pemecahan (resolution) adalah sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah. Tiga kategori dalam dimensi ini, bahwa produk itu harus bermakna (valuable), logis/ mengikuti aturan yang ditentukan dan berguna / dapat diterapkan secara praktis. Elaborasi dan Sintesis adalah sejauh mana produk itu menggabungkan unsur-unsur yang tidak sama/serupa menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren (bertahap secara logis). Lima kategori untuk menilai hal ini ialah; produk itu harus organis, dalam arti mempunyai arti seputar mana produk itu disusun. Elegan, yaitu canggih, mempunyai nilai lebih dari yang nampak; kompleks, yaitu berbagai unsur digabung pada satu tingkat atau lebih; dapat dipahami, karena tampil secara jelas; dan menunjukan keterampilan atau keahlian secara seksama. Gowan (1972) mengklasifikasikan teori kreativitas menjadi lima klasifikasi yang diasumsikan pada kontinum dari rasional ke irasional, diantaranya: (1) kreativitas sebagai kognitif, rasional, dan semantik, (2) kreativitas sebagai sifat-sifat kepribadian dan aspek keluarga serta lingkunganya, (3) kreativitas sebagai kesehatan mental yang tinggi, (4) kreativitas sebagai “pskologi-Freudian”, dan (5) kreativitas sebagai eksistensial, psychendelic dan

126

fenomena paranormal. Menurut Turner

(1977:62-70) teori kreativitas dapat

dibedakan menjadi lima pendekatan, yaitu : (1) pendekatan psikoanalitik, (2) pendekatan asosiasionis, (3) pendekatan psikometrik, (4) pendekatan kognitif, dan (5) pendekatan holistik. Sedangkan menurut Busse dan Mansfied (1980: 91-101) teori kreativitas dapat dibedakan menjadi tujuh kategori, yaitu; (1) kategori psikoanalitik, (2) kategori gestalt, (3) kategori asosiasi, (4) kategori perseptual, (5) kategori humanistik, (6) kategori perkembangan kognitif, dan (7) kategori teori komposit (campuran). Teori-teori kreativitas yang memiliki karakteristik berbeda dengan teori lainnya, diantaranya: a. Teori kreativitas sebagai perkembangan kognitif. Teori ini didasarkan atas pandangan-pandangan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang sekaligus sebagai hasil belajar individu berinteraksi dengan lingkungannya (Colemen, 1985:215,Turner,1977:69-70). Adapun tokoh-tokoh yang tergolong dalam teori ini adalah Guilford, Edward de Bono, Parners, Osborn, Biondi. Pembahasan teori ini kreativitas sebagai fungi perkembangan kognitif dibagi dalam sub-varian ; (1) kreativitas sebagai adaptasi manusia dengan lingkungannya, (2) kreativitas sebagai fungsi integratif, dan (3) kreativitas sebagai fungsi pengalaman perseptual yang bersifat holistik. Kreativitas sebagai adaptasi manusia dengan lingkungannya, dalam berinteraksi manusia tidak lepas dengan teori perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget (1977:3) bahwa kreativitas adalah fungsi asimilasi dan akomodasi secara komplementer dalam rangka pembentukan pengetahuan sebagai skemata

127

tindakan

untuk

mencapai

keseimbangan.

Sebab

secara

fundamental

perkembangan kognitif Piaget dipengaruhi oleh tiga proses dasar dalam belajar, yaitu; asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi. Secara singkat “asimilasi” adalah pemaduan data baru dengan struktur kognitif yang ada, “akomodasi” adalah penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru, dan “ekuilibrasi” adalah pengaturan diri yang berkesinambungan yang memungkinkan individu tumbuh dan berubah menjaga keseimbangan (Gedler, 1986). b. Kreativitas sebagai fungsi integratif. Teori ini didasarkan atas anggapan bahwa kreativitas merupakan hasil perpaduan perkembangan kognitif dan perkembangan diri. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa teori ini merupakan gabungan dari teori perkembangan kognitif Piaget dan teori afektif Erikson. Teori perkembangan kognitif Piaget, membaginya dalam empat tahapan perkembangan, yaitu tahap sensori motor, praoperasional, operasi konkret, dan operasi formal (Gredler, 1986). Tahapan-tahapan itu mempunyai kesetaraan posisi dengan tahap-tahap efektif dari Erikson, yaitu: tahap kepercayaan melawan ketidakpercayaan, mandiri melawan rasa malu dan ragu-ragu, inisiatif melawan rasa bersalah, rajin melawan rendah diri, identitas melawan kekaburan peran. Dari tahapan perkembangan tersebut Gowan (1974) menambahkan tiga tahap dari empat tahap Piaget, yaitu: tahap kreativitas, psikedelia, dan iluminasi. Ketiga tahapan itu mempunyai kesetaraan dengan tahapan-tahapan afektif dari Erikson, yaitu keakraban, generativitas, dan integritas diri. Khususnya pada tahap identitas yaitu pada usia sekitar 13-18 tahun (masa operasi formal dalam perkembangan

128

intelektualnya) Gowan menyebutnya sebagai tahapan Golden Age. Hal ini disebabkan pada masa itu proses kreatif anak mendapatkan dukungan dari perkembangan kemampuan intelektual, yaitu berpikir formal, konseptual, analistis, kritis, dan evaluatif. Sedangkan pandangan kreativitas sebagai fungsi pengalaman perseptual yang bersifat holistik, pada hakekatnya mengacu kepada teori psikologi Gestalt (Koffka, Kohler, dan Wertheim) yang mengaitkan konsep kreativitas dengan pemahaman (insight). Berdasarkan pengertian umum kreativitas bahwa metafora merupakan suatu pengalamanpengalaman yang perseptual dan konseptual dilihat dari perkembangannya melalui tahap-tahap autosentrisitas. Karena itu pengalaman kreatif dimulai ketika indera seseorang mulai mengamati, meraba, mencium, serta menghayati objek secara total. Lebih jauh lagi keterbukaan persepsi terhadap objek merupakan syarat mutlak bagi kreativitas, karena keterbukaan terhadap pada dunia akan mengahasilkan pengalaman dan membuat seseorang tidak memiliki hubungan dengan dunia luar sehingga tidak akan menjadi kreatif. Oleh karena itu kreativitas harus dimiliki oleh seseorang. c. Teori psikoanalitik. Teori ini pada umumnya teori ini berdasarkan suatu pandangan bahwa kreativitas sebagai hasil mengatasi suatu masalah, yang biasanya mulai dari masa kanak-kanak. Seseorang dipandang kreatif karena mempunyai pengalaman traumatis dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan yang tidak disadari bercampur menjadi pemecahan inovatif sebagai respon menyikapi tantangan tersebut. Dalam hal ini tindakan kreatif sebagai manifestasi transformasi dari keadaan psikis dan tidak sehat menjadi

129

sehat (Coleman, 1985:215, Munandar, 1955:61). Mekanisme “pertahanan” yang merupakan upaya sadar dalam menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima dengan menghabiskan energi psikis, biasanya merintangi produktivitas kreatif. Apabila kekuatankekuatan konfliktual itu tidak disublimasikan atau diproyeksikan melalui kemampuan untuk “regress in the service of ego” yang mampu memanggil bahan-bahan dari alam pikiran tidak sadar ke dunia realitas melalui peran ego, maka individu akan mengalami tekanan yang membahayakan kesehatan mentalnya. Adapun tokoh-tokoh yang tergolong kelompok teori ini seperti ; Sigmund Freud, Ernst Kris, dan Carl Jung (Turner, 1977:62-63). d. Teori humanistik. Teori ini melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis yang tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup, tidak terbatasnya pada lima tahun pertama saja, mengingat kreativitas sebagai fungsi aktualisasi diri (Munandar, 1955:62; Coleman,985:215). Kreativitas tidak sekedar prestasi, tetapi lebih mengacu kepada mutu watak pribadi, seperti kebebasan, keterbukaan, keberanian, spontanitas, keaslian, yang pengungkapannya menunjukan berfungsinya pribadi secara penuh (full fuctioning person). Rogers menekankan bahwa sumber kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan dan menjadi matang, semua kecenderungan kemampuan untuk

mengekspresikan

mengaktifkan

organisme

(Munandar, 1955:32). Tokoh-tokoh pendukung teori ini seperti. Abraham Maslow, Carl Rogers.

130

e. Kreativitas sebagai sifat pribadi dan lingkungan yang mempengaruhi. Teori ini berdasarkan perpaduan teori psikologis dengan sosiologis, yang oleh Amabile (1983) disebut pendekatan sosial-psikologis, dan oleh Stein (1963) juga disebut transaksional. Asumsi yang mendasari teori ialah bahwa kreativitas individu merupakan hasil proses interaksi sosial, dimana individu dengan segala potensi dan disposisi kepribadiannya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya. Supriadi (1994:21) menjelaskan bahwa dalam persfektif psikologis lebih melihat kreativitas dari segi kekuatan-kekuatan pada diri seseorang sebagai penentu kreativitasnya, seperti: intelegensi, bakat, minat dan disposisi kepribadian lainnya. Asumsi yang mendasari pendekatan ini ialah manusia merupakan organisme alloplastik yang mampu mengubah lingkungannya. Dengan kekuatannya tersebut manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mewujudkan potensi-potensinya, termasuk potensi kreatif. Sedangkan dalam persfektif sosiologis, studi kreativitas lebih melihat betapa dominannya faktor-faktor lingkungan sosial-budaya dalam perkembangan kreativitas. Pendekatan ini menekankan pada hal-hal silmutanitas penemuan-penemuan besar, sistem nilai buadaya yang kondusif, semangat zaman (zeitgeist), dan konfigurasi perkembangan kebudayaan peradaban. Asumsi yang mendasari pendekatan ini bahawa kreativitas menrupakan fungsi dari faktor-faktor penunjang maupun penghambat kreativitas. f. Kreativitas sebagai fungsi Kemampuan Berpikir Kreatif dan Asosiatif. Teori ini dipelopori oleh Guilford (1956) yang mempelajari psikometris mengenai

131

kreativitas berdasarkan teori :”Structure of Intelect” (SOI) manusia. Dalam teorinya Guilford menggambarkan SOI dalam bentuk kubus tiga dimensi yang terdiri dari dimensi; operasi (dengan unsur-unsur kognisi, memori, berpikir konvergen, berpikir divergen, dan evaluasi), dimensi produk (terdiri dari unit, kelas, relasi, sistem transformasi, dan implikasi), dimensi konten terdiri dari figural, semantik, simbolik, dan perilaku . Yang menarik dari teori ini adalah: pertama, bahwa berpikir divergen sering disebut berpikir kreatif. Berpikir divergen adalah berpikir memberikan macam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan penekanan pada keragaman jumlah dan kesesuaian, yang meliputi; fluency, flexibility, orginality, dan elaboration. Kedua, bahwa kreativitas sebagai fungsi „asosiatif‟. Menurut Turner (1977:64) yang dimaksud kreativitas sebagai fungsi asosiatif adalah kemampuan

menghubung-hubungkan berbagai objek, pengalaman, informasi, benda dan pengetahuan dengan kondisi baru dari sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Dalam teori ini ditekankan bahwa berpikir kreatif pada hakekatnya merupakan proses pembentukan unsur-unsur asosiatif, yang gagasan-gagasan satu sama lainnya mulai berjalan berjauhan. Kemudian digabung ke dalam suatu bentuk kombinasi baru yang lebih bermakna. Teori ini dikembangkan oleh Mednick (1962) dalam penjelasannya ia menyatakan bahwa untuk mencapai pemecahan secara kreatif tersebut, harus didukung oleh tiga syarat. Pertama, kesanggupan untuk menemukan (seredipity), yaitu kesanggupan untuk menemukan hubungan dengan sifat-sifat kepribadian kreatif seperti; motivasi, kemauan, kapasitas mental, kesediaan kuat untuk menemukan sesuatu yang baru. Kedua,

132

adalah kemiripan (similarity) adalah adanya kemampuan untuk menemukan pola-pola yang mirip untuk dijasikan sesuatu yang dapat dianalogikan. Ketiga, adalah perantara (mediation), yaitu perlu adanya unsur-unsur umum, pengalaman maupun pengetahuan yang dapat menunjang. Dengan demikian perlu adanya media untuk mencapai asosiasi kreatif tersebut. Dari uraian beberapa teori kreativitas diatas jika dikaitkan dengan penelitian ini. Teori “Structure of Intellect” (SOI) manusia yang dalam teorinya menggambarkan tiga dimensi yang terdiri dari dimensi operasi ( dengan unsurunsur kognisi, memori, berpikir konvergen, berpikir divergen dan evaluasi), dimensi produk (terdiri dari unit, kelas, relasi, sistem transformasi, dan impilasi), dimensi konten terdiri dari figural, semantik, simbolik, dan perilaku. Berpikir divergen sering dikatakan sebagai berpikir kreatif yang meliputi; fluency, flexibility, originality dan elaboration. Disamping itu penelitian ini juga

mengikuti alur teori kognitif dan teori sosial –psikologis. Pertama, bahwa kreativitas dosen dalam proses pembelajaran tidak lepas dari suatu proses yang sekaligus hasil belajar indivisu dengan lingkungannya, baik sebagai

pengembangan kognitif, asosiatif, yang terintegrasi dengan lingkungannya. Kedua, bahwa dalam kreativitas, faktor-faktor psikologis (bakat/prestasi, akademik, motivasi) ikut memberikan kreativitas mahasiswa dan dosen. Berdasarkan analisis faktor, Guilford menemukan ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berpikir kreatif, yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian (originality), kembali (redefinition). penguraian (elaboration), dan perumusan (fluency) adalah kemampuan untuk

Kelancaran

133

menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan (flexibility) adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Keaslian (originality) adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klisa. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Definisi kreativitas dibedakan ke dalam definisi konsensual dan definisi konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli. Sedangkan Amabile (1983:31) mengemukakan bahwa suatu produk atau respons seseorang dikatakan kreatif apabila menurut penilaian orang yang ahli atau pengamat yang mempunyai kewenangan dalam bidang itu bahwa itu kreatif. Dengan demikian, kreativitas merupakan kualitas suatu produk atau respon yang dinilai kreatif oleh pengamat yang ahli. Definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Secara konseptual, Amabile (1983:33) melukiskan bahwa produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

134

Gambar 2.2 Model untuk Mendorong Belajar Kreatif Menurut Treffinger (1980)
Kognitif -pengajuan pertanyaan secara mandiri hidup -pengarahan diri -pengelolaan sumber diri -pengembangan produk Afektif -mempribadi nilai -pengikat diri terhadap
Tingkat III Keterlibatan dalam Tantangantantangan nyata

produktif -menuju perwujudan

Kognitif -penerapan perasaan-analisis -sintesis -evaluasi kesantaian -keterampilan metodologis dan penelitian -transformasi -transformasi -metofor dan analogi

Afektif -keterbukaan terhadap perasaan majemuk produktif -meditasi dan
Tingkat II Proses berfikir dan perasaan yang majemuk.

-pengembangan nilai -keselamatan psikologis -keselamatan psikologis dalam berkreasi -penggunaan khalayan dan tamsil

Kognitif -kelancaran -kelenturan unutuk menjawab -orisinali -keterbukaan terhadap pengalaman -pemirincian mengambil resiko -pengenalan dan ingatan terhadap masalah -tenggang rasa terhadap kesamaran -percaya diri

Afektif -rasa ingin tahu -kesediaan

Tingkat I Fungsi divergen

-keberanian -kepekaan

Sumber:Conny Semiawan dkk, 1987:39

135

Model Treffinger di atas menunjukkan bahwa fungsi devergen adalah untuk menekankan pada keterbukaan dan kemungkinan, dimana dalam tahap tersebut telah pula berkontibusi kegiatan-kegiatan intelektual, seperti pengenalan, ingatan. Sedangkan pada bagian afektif meliputi ketersediaan untuk menjawab, keterbukaan terhadap pengalaman, kepekaan terhadap masalah dan tantangan, rasa ingin tahu, keberanian mengambil resiko, kesadaran dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Pada tingkat I dalam model Triffinger merupakan landasan atau dasar dimana belajar kreatif berkembang. “Creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problem and opportunities” (Suryana 2003: 10). Artinya Kreativitas adalah kemampuan mengembangkan ideide baru dan menemukan jalan keluar dari permasalahan dan peluang. Kreativitas dimulai dengan adanya ide, selanjutnya ide-ide tersebut berkembang menemukan jalan keluar . Dengan demikian peran dosen Pendidikan IPS sangat penting dalam menghasilkan keterampilan berpikir kreatif mahasiswa yaitu dengan penekanan pada keterbukaan dan kemungkinan, dimana dalam tahap tersebut telah pula berkontibusi kegiatan-kegiatan intelektual, seperti pengenalan, ingatan. Dari segi afektif meliputi ketersediaan untuk menjawab, keterbukaan terhadap pengalaman, kepekaan terhadap masalah dan tantangan ,rasa ingin tahu, keberanian mengambil resiko, kesadaran dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Sehingga timbul dorongan untuk belajar kreatif.

136

5. Kreativitas dari Proses Teori Wallas (1962) dalam bukunya “The Art of Thought” (Piirto,1992), yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap (1) persiapan; (2) inkubasi; (3) iluminasi; dan (4) verifikasi. Tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebaginya. Tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi, dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra-sadar. Tahap ketiga (iluminasi) ialah tahap timbulnya „insight” atau “Aha-Erlebnis” saat timbulnya insiprasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya insipirasi/gagasan baru. Tahap keempat (verifikasi) yaitu dimana ide atau kreasi baru harus diuji terhadap realitas. Maka diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. 6. Kreativitas dari Produk Teori tentang Produk Kreatif, Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif (Wallas) dan produk yang dicapai. Perilaku kreatif memerlukan kombinasi antara ciri-ciri psikologis yang berinteraksi sebagai berikut: sebagai hasil dari berpikir konvergen atau intelegensi (memperoleh pengetahuan, pengembangan keterampilan), manusia memiliki seperangkat unsurunsur mental. Model dari Bassemer dan Treffinger (1981) menyarankan bahwa produk kreatif digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu (1) kebaharuan (novelty),

137

(2) pemecahan (resolution), dan (3) kerincian (elaboration) dan sintesis. Model ini disebut “Creative Product Analysis Matrix” (CPAM). Kebaharuan adalah sejauh mana produk itu baru dalam hal; jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, konsep baru yang terlibat dalam hal dan diluar lapangan/bidang; dalam hal dampak dari produk terhadap produk kreatif di masa depan. Pemecahan (resolution) adalah sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan dari situasi bermasalah. Tiga kategori dalam dimensi ini, bahwa produk itu harus bermakna (valuable), logis/ mengikuti aturan yang ditentukan dan berguna / dapat diterapkan secara praktis. Elaborasi dan Sintesis adalah sejauh mana produk itu menggabungkan unsur-unsur yang tidak sama/serupa menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren (bertahap secara logis). Lima kategori untuk menilai hal ini ialah; produk itu harus organis, dalam arti mempunyai arti seputar mana produk itu disusun, elegan, yaitu canggih, mempunyai nilai lebih dari yang nampak; kompleks, yaitu berbagai unsur digabung pada satu tingkat atau lebih; dapat dipahami, karena tampil secara jelas; dan menunjukkan keterampilan atau keahlian secara seksama. D. Peranan Pembelajaran IPS dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep IPS dan Berpikir Kreatif

Belajar mengajar merupakan dua konsep yang saling terkait dalam proses belajar mengajar dan efektivitasnya dapat tercapai dalam meningkatkan pemahaman konsep. IPS sebagai mata pelajaran di lembaga pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis. Oleh karena itu, lembaga pendidikan melalui mata pelajaran yang dibelajarkan kepada peserta didik, harus dapat

138

memberikan bekal tidak saja berupa pengetahuan, tetapi lebih dari itu juga menyangkut tentang nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) sebagai bekal dalam menghadapi tantangan global, pengaruh negatif dari kemajuan iptek. Pembelajaran IPS di sekolah memiliki tempat yang strategis. Sebagaimana termuat dalam peraturan menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas no. 22 tahun 2006) tentang standar isi, bahwa “pembelajaran mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai”. Isi dari permendiknas tersebut di atas memiliki tujuan-tujuan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, sesuai dengan permendiknas tentang tujuan pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang SISDIKNAS No.20 Tahun 2003. Lebih lanjut, dengan merujuk pada Permen Diknas tersebut, mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan masyarakat dan

lingkungannya. 2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inquiry, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial. 3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan

kemanusiaan. 4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

139

Untuk mencapai maksud dan tujuan pembelajaran IPS itu, bertolak dari pendapat yang dikemukan oleh Sapriya (2009), maka peserta didik perlu dibekali keempat dimensi program pendidikan yang komprehensif, meliputi: 1. 2. 3. 4. Dimensi pengetahuan (knowledge) Dimensi keterampilan (skill) Dimensi nilai dan sikap (value and attitude) Dimensi tindakan (action). Untuk bisa mencapai ke arah itu, maka dalam pengembangan dalam pembelajaran IPS di sekolah, seperti yang dikemukakan oleh Sapriya (2009), harus didasarkan pada landasan pendidikan IPS (PIPS), yang meliputi: landasan filosofis, ideologis, sosiologis, antropologis, kemanusiaan, politis, psikologis, dan religius. Dengan demikian peranan pembelajaran IPS berpedoman pada landasanlandasan itu, seperti dikemukakan oleh Sapriya (2009). Seseorang hendaknya memiliki pemahaman yang baik tentang disiplin ilmu-ilmu sosial yang meliputi: struktur, ide fundamental, pertanyaan pokok (mode of inquiry), metode yang digunakan dan konsep-konsep disiplin ilmu, di samping pemahamannya tentang prinsip-prinsip pendidikan dan psikologis serta permasalahan sosial. Berdasarkan fakta, praktik pembelajaran IPS yang dilakukan oleh guru IPS masih berkutat pada cara-cara pembelajaran konvensional yang kurang mendukung bagi perkembangan semua potensi yang dimiliki peserta didik. Pola lama ini harus diganti dengan pola baru, apabila kita mengharapkan pembelajaran

140

IPS memiliki fungsi dalam meningkatkan pemahaman konsep IPS bagi peserta didik. Untuk menuju ke pola baru tersebut, maka langkah pertama adalah perbaikan kualitas (mutu) tenaga pendidiknya. Peningkatan kualitas tenaga pendidik IPS untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi peserta didik di sekolah, merupakan prioritas yang harus diperhatikan secara serius. Sehingga pembelajaran IPS dengan menggunakan cara konvensional atau tradisional dapat ditinggalkan oleh para guru. Mereka perlu dibekali tentang pola pembelajaran IPS terpadu dan model-model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran IPS yang diterima oleh peserta didik menjadi bermakna, baik untuk kehidupan pribadinya maupun lingkungan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam buku Depdiknas (2006) diungkapkan bahwa model pembelajaran terpadu pada hakekatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik. Seperti yang dikemukakan oleh Somantri (2001: 266), pengajaran ilmu-ilmu sosial di tingkat sekolah menggunakan pendekatan correlated dan integrated. Pentingnya pendekatan interdisipliner adalah banyaknya menampilkan masalah-masalah kehidupan sehari-hari karena dapat mendekatkan peserta didik pada masalah-masalah sosial, juga

mempersiapkan kematangan dalam cara berpikir, begitupun dengan pendekatan multidisipliner bahwa masalah-masalah kehidupan sosial terdiri dari aspek-aspek disiplin ilmu sosial.

141

Dengan demikian pembelajaran IPS memiliki hubungan dalam penguasaan IPS yang tidak lepas dari kehidupan sosial yang bahan-bahannya didasarkan pada kajian sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, dan kemanusiaan. Maka berpikir kreatif merupakan salah satu kemungkinan untuk dapat mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dan dapat menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. E. Kajian Hasil Penelitian yang Terdahulu Beberapa penelitian yang mengkaji pembelajaran, pemahaman konsep IPS dan kreativitas antara lain; Pertama, Supardan (2000). Kreativitas guru sejarah dalam pembelajaran sejarah. Kajian yang dilakukan dalam penelitiannya menggunakan kuantitatif/eksperimen. Hasil penelitiannya menunjukkan

Hubungan motivasi pembelajaran dengan kreativitas guru sejarah dalam pembelajaran sejarah terdapat signifikan pada level of significant 0,05 dengan sampel penelitian pada Guru sejarah di SMUN dan Swasta yaitu 22 kecamatan. Kedua, Susanti (2006). Pembelajaran Pendidikan IPS dalam upaya menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif melalui isu-isu ekonomi kontemporer. Melakukan penelitian pada Guru IPS dan siswa SMA pada SMA Plus pariwisata Bandung dengan hasil penelitiannya guru IPS belum kreatif

dalam upaya menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif belum aktif secara keseluruhan khususnya pada materi-materi isu-isu ekonomi kontemporer. Alat analisis yang digunakan Naturalistik, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi.

142

Ketiga, Anisa (2008), Pengaruh pembelajaran IPS terhadap pemahaman konsep IPS. Menghasilkan penelitian dengan Pendekatan analisis nilai dalam pembelajaran IPS di SD berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemahaman konsep IPS yaitu peningkatannya 0,087. Sampel yang digunakan pada penelitiannya, Siswa kelas V SD Min Suci Garut dengan menggunakan alat analisis Korelasi Uji beda=t test. Keempat, Mulyani (2011). Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa. Desain penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif, yaitu suatu pengukuran gejala-gejala atau indikasi-indikasi sosial yang diterjemahkan ke dalam angka-angka. Hasil penelitian yang diperoleh, dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner, motivasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi secara keseluruhan termasuk pada kategori tinggi. Kelima, Mega Kartika Sari (2005). Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi pedagogik guru mata pelajaran diklat produktif program keahlian administrasi perkantoran terhadap motivasi pembangunan 2 Bandung. Menghasilkan belajar siswa SMK Karya Kompetensi pedagogik guru

berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa yang positif, dengan sampel penelitian pada Siswa SMK Karya Pembangunan 2 Bandung. Keenam, Nurjanah (2005). Pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi menggunakan pendekatan analisis jalur dengan sampel pada siswa SMA di Bandung. Hasil Penelitian yang

143

didapatkan adalah kompetensi pedagogik guru berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa. Ketujuh, Yuliawati (2005). Pengaruh kompetensi pedagogik yang diterapkan oleh guru bidang studi administrasi perkantoran terhadap motivasi belajar siswa pada siswa SMA di Bandung menghasilkan penelitian kompetensi pedagogik guru berpengaruh terhadap positif terhadap motivasi belajar siswa dengan menggunbakan pendekatan regresi berganda. Kedelapan, Najmudin (2008). Pendekatan inquiri dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa di SMAN 7 Kota Cirebon dengan pendekatan Pendekatan Penelitian Kelas. Hasil penelitian yang didapatkan adalah Upaya meningkatkan kemampuan berpikir siswa dengan pendekatan inquiry pada pembelajaran IPS telah optimal dilakukan. Dari beberapa studi yang telah dilakukan berkaitan dengan kreativitas dan pemahaman konsep IPS, jelaslah bahwa proses pembelajaran merupakan faktor penting dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik. Peranan pendidik merupakan tumpuan utama dalam mencapai tujuan pembelajaran. Perbedaan penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian lain adalah: 1) Penelitian yang lain lebih kepada upaya pendidik dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif, sedangkan penelitian yang dilakukan penulis kreativitas pendidik dalam pemahaman konsep dan berpikir kreatif .

144

2) Penelitian yang dilakukan penulis mensintetiskan antara teori kreativitas dan teori belajar, sedangkan penelitian yang lain lebih menekankan pada teori belajar. 3) Penelitian yang lain belum ada yang meneliti kompetensi dosen, penerapan variasi metode pembelajaran dan pemanfaatan media pembelajaran terhadap pemahaman konsep dan berpikir kreatif. Dengan merujuk pada pemaparan tentang proses pembelajaran, maka lebih banyak studi proses pembelajaran baik ditinjau dari segi kompetensi pendidik. Dalam penelitian ini, penulis akan mengkaji penelitian yang berkaitan dengan kompetensi dosen, penerapan variasi metode pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran dan pemahaman konsep serta berpikir kreatif. Dengan demikian penelitian penulis dari segi proses pendidikan juga output pendidikan berupa pemahaman konsep dan berpikir kreatif.

F. Kerangka Pemikiran, Premis dan Hipotesis 1. Kerangka Pemikiran Paradigma adalah seperangkat keyakinan ilmuwan yang merupakan cara pandang tentang contoh-contoh prestasi atau praktik ilmiah konkret

(Khun,1970:43-50). permasalahan,

Cara pandang atau kerangka berpikir dalam melihat masalah, teknik-teknik dan instrumen dalam

pemecahan

mengadakan penelitian terhadap objek-objek yang diteliti sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian dalam mencari kebenaran suatu metode

145

yang digunakan diperlukan paradigma atau kerangka berpikir untuk mencapai tujuan. Bogdan (1982:32) mengemukakan bahwa paradigma merupakan suatu kumpulan yang longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dalam penelitian. Sebagaimana yang dikemukakan Sukmadinata (2002:3) penelitian positivistik dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang bersifat objektif, kuantitatif, fixed, menggunakan instrumen standar, guna menghasilkan inferensi, generalisasi dan prediksi. Dengan demikian penelitian ini merupakan penelitian positivistik dengan pendekatan kuantitatif. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejauh mana pengaruh proses pembelajaran calon guru IPS di LPTK terhadap pemahaman konsep IPS dan berpikir kreatif. Dari permasalahan tersebut terungkap variabel yang menjadi acuan dalam penelitian model kuantitatif, dimana variabel-variabel penelitiannya sudah secara eksplisit dijelaskan dalam model paradigma penelitian. Untuk mengkaji bagaimana hubungan kausalitas dari variabel-variabel yang terlibat sebagaimana diidentifikasikan sebelumnya, grand theory yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kreativitas dari Guilford (1950), Teori Walas (1926) dan Teori Cropley (1994) dengan model Besemer dan Treffinger (1981), sedangkan Teori Belajar dari Piaget, Jerume Bruner (1956). Proses pembelajaran merupakan proses belajar mengajar yang tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berinterrelasi dan berinterdepensi

146

satu sama lain. Di antara komponen-komponen utama dalam setiap belajar mengajar itu ialah: a. Mahasiswa (dengan segala karakteristiknya) yang terus mengembangkan dirinya secara optimal mungkin melalui kegiatan belajar) guna mencapai tujuan sesuai dengan tahapan perkembangan yang dijalaninya. b. Tujuan (ialah yang diharapkan tercapainya setelah adanya kegiatan belajar mengajar) yang merupakan seperangkat tugas atau kebutuhan yang harus dipenuhi atau sistem nilai yang harus nampak dalam perilaku dan merupakan karakteristik kepribadian . c. Dosen merupakan orang dewasa karena jabatannya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar (learning

experiences) pada diri siswa dengan mengerahkan segala sumber (learning resources) dan menggunakan strategi belajar mengajar (teaching learning strategis) yang tepat. Dengan demikian proses belajar mengajar merupakan sebagai suatu interaksi siswa dengan guru dalam rangka mencapai tujuan. Menurut Loree (1970:133) bahwa ada tiga komponen utama proses belajar mengajar yang harus diperhatikan oleh setiap guru yang bertugas merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi PBM ialah komponen-komponen: (S) Stimulus, O (Organismic), (R) Response”. Komponen-komponen dari proses belajar mengajar di atas akan mempengaruhi performance dan output, diantaranya;

147

a. The Expected Output, menunjukkan kepada tingkat kualifikasi ukuran baku (standar norm) akan jadi daya tarik (insentif) dan motivasi (motivating factor) jadi akan merupakan stimulating factor (S) di samping termasuk dalam response (R) factor. b. Karakteristik mahasiswa (raw input) menunjukkan faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu mungkin akan memberikan fasilitas (facilitative) atau pembatas (limitation). Sebagai factor organismic (O) di samping pula mungkin motivating and stimulating factor (misalnya; n-Ach) c. Instrumental input (sarana) menunjukkan kepada dan kualifikasi serta kelengkapan sarana yang diperlukan untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. d. Environmental input menunjukkan situasi dan keadaan fisik (kampus, sekolah, iklim, letak sekolah atau school suite dan sebagainya). Dari komponen–komponen yang terdapat pada proses pembelajaran, proses pembelajaran yang berlangsung selama ini terkesan kurang memperhatikan komponen-komponen dalam proses pembelajaran (raw input, instrumental input dan experimental input), sehingga proses pembelajaran terkesan seolah-olah bersifat kaku dan baku. Definisi inilah yang membatasi kreativitas, khususnya kreativitas guru dalam menciptakan proses belajar mengajar yang dengan situasi yang dapat menimbulkan keinginan atau rasa kebutuhan dalam diri siswa untuk memperoleh kecakapan atau keterampilan baru.

148

Konsep merupakan sekumpulan data yang memiliki data yang sama. Begitupun dengan konsep IPS yang merupakan sekumpulan data-data yang memiliki data yang sama membentuk konsep IPS. Keragaman konsep IPS yang dikemukakan para ahli menjadikan konsep IPS semakin kaya akan konsep-konsep IPS, sehingga menjadikan generalisasi. Pemahaman konsep IPS merupakan dasar atau tolak ukur dalam memahami sejumlah konsep-konsep IPS khususnya pada LPTK yang membuka program studi pendidikan IPS . Kreativitas yang dimiliki untuk proses pembelajaran bagi calon guru merupakan kemampuan diri dalam melahirkan keterampilan-keterampilan yang baru, atau variasi-variasi baru dalam suatu proses pembelajaran, baik berupa ideide gagasan maupun perilaku nyata yang relatif berbeda, mencerminkan fleksibilitas, kelancaran, orisinilitas serta kemampuan mengelaborasi

(memperkaya, mengembangkan dan merinci) suatu gagasan, yang disertai oleh afeksi yang menunjang mencakup; rasa ingin tahu, berani mengambil risiko, tertantang oleh kemajemukan, dan imajinatif. Tiga kategori produk kreatif menurut Bassemer dan Triffingger (1981) adalah: (1) novelty (kebaharuan), (2) resolution (pemecahan), (3) elaboration (kerincian) serta (4) synthesis (sintesis). Dengan demikian guru IPS dalam pembelajaran dikembangkan keterampilan berpikir kreatif dengan melahirkan sesuatu yang baru, atau kombinasi-kombinasi baru, baik berupa gagasan maupun tindakan nyata yang relatif berbeda, mencerminkan fleksibilitas, kelancaran, orisinilitas serta kemampuan

mengelaborasi, sehingga pembelajaran IPS yang terkesan pada peserta didik

149

bahwa pelajaran IPS adalah membosankan, kurang menarik, tidak menyenangkan . Adapun variabel secara terinci dapat dijelaskan sebagai berikut: pertama, sebagai variabel bebas (eksogen) adalah: kompetensi dosen (X₁) ,penerapan variasi metode pembelajaran (X₂) , pemanfaatan media pembelajaran (X₃); kedua sebagai variabel terikat (endogen) , pemahaman konsep IPS (Y₁) dan keterampilan berpikir kreatif (Y₂). Berdasarkan apa yang telah dikemukakan di atas, kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagai berikut:

150

INPUT

PROSES
Kompetensi Dosen: -Kompetensi pedagogik -Kompetensi Profesional -Kompetensi Sosial -Kompetensi Pribasi

OUT PUT

CALON GURU IPS

Variasi metode pembelajaran: 1. Metode ceramah 2. Metode tanya jawab 3. Metode diskusi 4. Metode demonstrasi 5. Metode sosiodrama 6. Metode karya wisata 7. Metode kerja kelompok 8. Metode latihan 9. Metode pemberian tugas 10. Metode eksperimen Media pembelajaran: - Kata-kata tertulis - Kata-kata lisan - Gambar dan kata-kata lisan

Pemahaman Konsep - Separated - Integrated

Berpikir Kreatif: -Proses Kreatif -Produk Kreatif

Gambar 2.3 Paradigma Penelitian

151

2. Premis a. Proses pembelajaran merupakan suatu sistem belajar mengajar yang tujuannya secara sadar mengubah perilaku (Bandura, 1986; Skinner, 1957). b. Kompetensi adalah kemampuan seseorang dalam pengetahuan,

keterampilan dan sikap dalam standar pekerjaan yang diperlukan (Schermerhon,1994:Sofo,1999,Robbins,2004). c. Kreativitas adalah kemampuan yang dapat dilihat dalam dimensi pribadi, proses, produk dan press (Colemen,1982: Amabile,1983:Rhodes,1961). d. Kreativitas pada aspek press adalah dorongan yang muncul dari internal atau eksternal untuk menunjang, memupuk dan memungkinkan

perkembangan kreativitas. (Simonton,1982) e. Kreativitas pada aspek pribadi adalah tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian (bakat, minat, sikap dan kualitas temperamental) dalam interaksi dan lingkungan (Guilford,1982) f. Kreativitas pada aspek proses adalah kreativitas memiliki langkah-langkah metode ilmiah atau meliputi empat tahap (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi) (Walas,1962,Torrance,1965). g. Kreativitas pada aspek produk adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru atau memiliki karakteristik observable dapat

152

diamati, novelty atau baru dan memiliki kualitas (Rogers,1982: Basemer dan Triffinger,1981). h. Metode mengajar adalah jalan untuk membawa peserta didik kepada tujuan pengajaran (Kusmana, 1985) i. Media pengajaran adalah segala benda dan alat yang digunakan untuk membantu pelaksanaan proses belajar mengajar (Sumaatmadja,1984). j. Konsep adalah sekumpulan data yang memiliki data yang sama (Alma dan Haragalawan,2003) k. Pemahaman adalah proses, cara memahami (Kamus Bahasa Indonesia, 2004). l. IPS adalah program pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari ilmuilmu sosial dan humaniti untuk tujuan pendidikan

(Sumantri,1994:Jerolomek,1967) 3. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini merupakan jawaban sementara dari permasalahan yang telah dirumuskan. Secara umum hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut: a. Proses pembelajaran calon guru IPS berpengaruh terhadap pemahaman konsep IPS, yang dirinci ke dalam sub-hipotesis sebagai berikut: 1) Kompetensi dosen berpengaruh terhadap pemahaman konsep IPS.

153

2) Penerapan

variasi

metode

pembelajaran

berpengaruh

terhadap

pemahaman konsep IPS. 3) Pemanfaatan media pembelajaran berpengaruh terhadap pemahaman konsep IPS. b. Proses pembelajaran calon guru IPS dan pemahaman konsep IPS berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif, yang dirinci ke dalam sub-hipotesis sebagai berikut: 1) Kompetensi dosen berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif, secara langsung maupun tidak langsung. 2) Penerapan variasi metode pembelajaran terhadap keterampilan berpikir kreatif, secara langsung maupun tidak langsung. 3) Pemanfaatan media pembelajaran berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif, secara langsung maupun tidak langsung. c. Pemahaman konsep secara langsung berpengaruh terhadap keterampilan berpikir kreatif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.