FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA KEPANITERAAN ILMU BEDAH RUMAH SAKIT IMANUEL TG KARANG LAMPUNG 13 DESEMBER 2010 – 19 FEBRUARI 2011

Nama tangan NIM

: Verly Hosea : 11-2009-068

Tanda

...................... .................. Pembimbing : Dr. Budi Suanto, Sp.B ...................... .................. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Status Pekerjaan Alamat : An. S Jenis kelamin : Laki – Laki : 3 tahun Suku bangsa : Jawa : (-) Agama : Kristen : (-) Pendidikan : (-) : Jl. Kesehatan no 7, Bandar Lampung

I. ANAMNESIS Dari : Alloanamnesis 07.00 WIB Keluhan utama: Sakit di perut bawah sejak 3 minggu SMRS. Keluhan tambahan: Muntah dan demam sejak 1 hari SMRS Riwayat penyakit sekarang: Sejak 3 minggu SMRS, os mengeluh sakit di perut bawah, adanya demam, mual, muntah, dan diare disangkal oleh os. Oleh orang tua, os diberi Antangin anak namun tidak mengalami perbaikan. Akhirnya os berobat ke poli dan diberi Acitral serta obat lain yang orang tua os tidak ketahui. Namun sakit perut os juga tidak mengalami perbaikan. 1 hari SMRS, perut os terasa semakin sakit, disertai demam, mual, muntah sebanyak 2x, juga disertai diare. Muntah berwarna putih seperti lendir, tidak ada darah, berisi makanan yang baru saja dimakan. Os diberi Tanggal: 21/01/2011 Jam :

1

paracetamol oleh Ibu nya untuk mengurangi demamnya. Akhirnya orang tua memutuskan untuk membawa os berobat ke RS Imanuel Os memiliki riwayat alergi obat amoxan, riwayat makan cukup dan teratur 3 kali sehari Riwayat penyakit dahulu: Penyakit Trauma Operasi Sistem pernafasan Sistem kardiovaskular Sistem gastrointestinal Sistem genitourinarius Sistem saraf Sistem muskuloskeletal Riwayat keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang lain menderita penyakit yang sama seperti pasien. II. PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesadaran Berat Badan Tanda-tanda vital Nadi Pernafasan Suhu Kepala Mata Telinga Hidung Tenggorok : 100 x/min : 24 x/min : 36,7 0C : Dalam batas normal : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-). : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Baik : Kompos mentis : 14 Kg : Kejang Demam (-), Campak (-) : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

2

Gigi-mulut Leher membesar Paru Inspeksi (-) Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung

: Dalam batas normal : Kelenjar getah bening dan tiroid tidak teraba

: Simetris saat statis dan dinamis, Retraksi sela iga : Nyeri (-), Benjolan (-) : Sonor di semua lapangan paru : Suara nafas vesikuler, Ronkhi (-), Wheezing (-)

Inspeksi : Tidak terlihat pulsasi iktus kordis Palpasi : Iktus kordis teraba pada sela iga V linea midklavikula sinistra Perkusi : atas indikasi tidak dilakukan Auskultasi : Bunyi jantung I & II reguler, Gallop (-), Murmur (-) Perut Inspeksi : Cembung, Benjolan (-), Sikatriks (-) Palpasi : Supel, nyeri tekan (+), defans muskuler (-), hati & limpa tidak teraba membesar, Perkusi : Timpani, shifting dullness (-) Auskultasi : Bising usus (+) normal Tungkai STATUS LOKALIS Regio Abdomen kanan bawah : Tugor kulit cukup, Akral hangat, Edema (-), Varises (-).

X

X

X

Nyeri Tekan (+)

3

Inspeksi Palpasi Perkusi

: Cembung, benjolan (-), sikatrik (-) : Nyeri tekan (+), defens musculer (-) : Timpani, Tidak ketok (+)

Auskultasi : Bising usus (+) Normal III. PEMERIKSAAN KHUSUS LAIN Atas indikasi tidak dilakukan.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG LABORATORIUM Hasil Pemeriksaan tanggal 20/01/2011: Hematologi CBC Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Trombosit Leukosit Eosnofil Segmen Limfosit Monosit MCV MCH MCHC MPV Gambaran Eritrosit Trombosit ULTRASONOGRAFI McBurney : Tampak cairan bebas minimal, app belum membesar dengan dinding yang menebal. Kesan : Suspect Appendicitis Nilai Normal 12,3 g/dL 37 % 4,67 x 106 510 x 103 12,89 x 103 1% 58 % 35 % 6% 78 fl 26 pg 34 % 9 fl Normal Cukup 10-15 35- 45 % 4-5 - 5 x 106 140 - 400 x 103 4,0 - 10,00 x 103 1-3 50-70 25-40 2-8 85-95 28-32 28-32 6-12

4

V. RINGKASAN Seorang anak, laki- laki usia 3 tahun datang ke RS Imanuel dengan keluhan sakit pada perut bagian bawah sejak 3 minggu SMRS yang disertai dengan mual, muntah, dan diare. Muntah sebanyak 2x yang berwarna putih, darah (-). Riwayat alergi obat Amoxan, riwayat kejang demam dan campak (-). Riwayat makan dengan porsi cukup tiga kali sehari. Pada pemeriksaan fisik status generalis dalam batas normal Keadaan umum : Baik Tanda-tanda vital Nadi : 100 x/min Pernafasan : 24 x/min Suhu : 36,7 0C Regio Abdomen kanan bawah Inspeksi Palpasi Perkusi : Cembung, benjolan (-), sikatrik (-) : Nyeri tekan (+), defens musculer (-) : Timpani, Tidak ketok (+)

Auskultasi : Bising usus (+) Normal VI. DIAGNOSIS KERJA Appendicitis akut Dasar diagnosis : Adanya nyeri perut kanan bawah yang sudah berlangsung lama dan semakin sakit, disertai demam (+), mual (+), muntah (+), diare (+) VII. DIAGNOSIS BANDING Gastroenteritis Dasar diagnosis : Adanya mual (+), muntah (+), diare (+)

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : Leukosit 12,89 x 10³

Ultrasonografi : Suspect Appendicitis

5

IX. PENATALAKSANAAN 1. Medikamentosa: - IVFD : Ringer laktat, 10 tetes mikro/mn - Cefotaxim : 2 x 1 gr, IV - Profen supp : ½ Prn kesakitan 2. Tindakan: - Appendictomi Laporan Operasi (Appendictomi) 1. Pasien tidur telentang diatas meja operasi setelah dianestesi. 2. Dilakukan tindakan a dan antisepsis. 3. Dilakukan insisi transversal melalui titik McBurney, menembus kulit, subkutis, fascia 4. Otot dibuka 5. Caecum dikenali, Appendiks dikeluarkan ke lapangan operasi dengan ukuran 5x1 cm. 6. Appendix diklem, diligasi dan dilakukan Appendictomy 7. Luka operasi ditutup lapis demi lapis 8. Operasi selesai. X. ANJURAN 1. Bed rest 2. Diit makanan lunak 3. Perawatan luka operasi dan kontrol luka operasi XI. PROGNOSIS 1. Ad vitam 2. Ad functionam 3. Ad sanationam

: bonam : bonam : bonam

6

TINJAUAN PUSTAKA

APPENDICITIS
Appendiks adalah suatu organ yang terdapat pada sekum yang

Pengertian Apendiks terletak pada proximal colon, yang sampai sekarang fungsinya belum diketahui. Anatomi

— Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang
kira-kira 10cm dan berpangkal pada sekum. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian distal. Saat lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum. Selama anak-anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi masih dalam intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi apendiks. Posisi apendiks terbanyak adalah Retrocaecal (74%) lalu menyusul Pelvic (21%), Patileal(5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal (1%). Apendiks didarahi oleh arteri apendicular yang merupakan cabang dari bagian bawah arteri ileocolica. Arteri apendiks termasuk end arteri. Apendiks memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus limfe ileocaecal. Anatomi lokasi appendiks

7

— Fisiologis Walaupun apendiks kurang memiliki fungsi, namun apendiks dapat berfungsi seperti organ lainnya. Apendiks menghasilkan lendir 1-2ml perhari. Lender dicurahkan ke caecum. Jika terjadi hambatan maka akan terjadi patogenesa apendisitis akut. GALT (Gut Assoiated Lymphoid Tissue) yang terdapat pada apendiks menghasilkan Ig-A. namun, jika apendiks diangkat, tidak ada mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlahnya yang sedikit sekali. —

Apendisitis Akut
Apendisitis akut adalah proses radang bakteria yang timbul secara mendadak, apendisitis disebabkan oleh berbagai faktor. Sejarah Ada beberapa fakta – fakta dalam buku ilmiah bahwa pada tahun 1500an para ahli mengakui adanya hubungan yang sebenarnya dengan inflamasi yang membahayakan dari daerah sekum yang disebut ” pertyphilitist”. Meskipun dilaporkan keberhasilan apendiktomi pertama pada tahun 1776, pada 1886 baru Reginal Flitz yang membantu membuat aturan bedah dalam pengangkatan apendiks yang meradang sebagai pengobatan, yang sebelumnya dianggap fatal. Pada tahun 1889, Charles McBurney mengenalkan laporan lama sebelum New York Surgical Society mengemukakan akan pentingnya operasi apendisitis akut dini serta

8

kelembapan titik maksimum dari perut yang ditentukan dengan menekan satu-tiga jari di garis yang menghubungkan antara spina iliaca anterior superior dengan umbilicus. Etiologi Apendisitis akut dapat disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus diantaranya Hiperplasia jaringan limfe, fekalith, tumor apendiks, dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya : 1. Faktor sumbatan (obstruksi) Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan rupture. 2. Faktor Bakteri Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%. 3. Kecenderungan familiar Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen.

9

4. Faktor ras dan diet Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan seharihari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih tinggi dari negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi. — Patofisiologi Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir) setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama mucus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah keterbatasan meningkat bendungan elastisitas akan mukus dinding di dalam lumen. Namun, hal karena tersebut limfe, apendiks, sehingga

menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang tersebut menyebabkan terhambatnya aliran sehingga mengakibatkan timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini pecah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi. Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga terbentuk massa

10

periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. Pada anak-anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang lebih panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang masih kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah. Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan membentuk perlengketan jaringan dengan parut. jaringan Jaringan ini menyebabkan terjadinya sekitarnya.

Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan keluhan pada perut kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi. — Gambaran Klinis Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatic setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 - 38,5 derajat celcius. Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut : 1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindungoleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut

11

kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. 2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis, bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulangulang (diare). Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya. Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas. 1. Pada anak-anak Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80- 90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi. 2. Pada orang tua berusia lanjut Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi. 3. Pada wanita Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan Fisik

12

Inspeksi distensi perut. Palpasi :

:

pada

apendisitis

akut

sering

ditemukan

adanya

abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan

pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. 2. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit Antara 10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CTscan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta

13

perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Berdasarkan keadaan klinis, harusnya diperlihatkan secara rutin yaitu: 1. Analisa urin. Test ini bertujuan untuk meniadakan batu ureter dan untuk evaluasi kemungkinan dari infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah. 2. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase ini membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung empedu dan pancreas jika nyeri dilukiskan pada perut bagian tengah bahkan kuadrant kanan atas. 3. 4. Serum B-HCG untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan. Kebanyakan kasus apendisitis akut didiagnosa tanpa memperlihatkan

kelainan radiologi. Foto polos bisa memperlihatkan densitas jaringan lunak dalam kuadran kanan bawah, bayangan psoas kanan abnormal, gas dalam lumen apendiks dan ileus lebih menonjol. Foto pada keadaan berbaring bermanfaat dalam mengevaluasi keadaan-keadaan patologi yang meniru apendisitis akut. Contohnya perforasi udara bebas seperti intraperitoneum duodenum atau yang kolon. mendokumentasi berongga

Kelainan berupa radioopaq, benda asing serta batas udara cairan di dalam usus yang menunjukkan obstruksi usus. Sejumlah laporan tentang manfaat enema barium telah jelas mencakup beberapa komplikasi. Pemeriksaan enema barium jelas tidak diperlukan dalam kebanyakan kasus apendisitis akut dan mungkin harus dicadangkan bagi kasus yang lebih rumit, terutama yang dengan resiko operasinya berlebihan. — Differensial Diagnosis Gastroenteritis Pada terjadi mual, muntah, diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan terbatas tegas. Hiperperistaltis sering ditemukan. Panas dan leukosit kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut. laboratorium biasanya normal karena hitung normal.

Limfedenitis Mesenterika

14

Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis ditandai dengan sakit perut, terutama kanan disertai dengan perasaan mual, nyeri tekan, perut samar terutama kanan.

Demam Dengue Dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. Di sini didapatkan hasil positif untuk Rumple Leed, trombositopeni, hematokrit yang meningkat. Infeksi Panggul Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada gadis dapat dilakukan colok vagina jika perlu untuk diagnosis banding. Rasa nyeri pada colok vagina jika uterus diayunkan. Gangguan alat kelamin perempuan Folikel ovarium yang pecah dapat memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Tidak ada tanda radang dan nyeri biasa hilang dalam waktu dalam 24 jam, tetapi mungkin dapat mengganggu selama dua hari, pada anamnesis nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu. Kehamilan di luar kandungan Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu Ruptur tuba, abortus kehamilan di luar rahim disertai pendarahan maka akan timbul nyeri mendadak difus di pelvis dan bisa terjadi syok hipovolemik. Nyeri dan penonjolan rongga Douglas didapatkan pada pemeriksaan vaginal dan didapatkan pada kuldosintesis. Divertikulosis Meckel Gambaran klinisnya hampir serupa dengan apendisitis akut. Pembedaan sebelum operasi hanya teoritis dan tidak perlu, sejak diverticulosis Meckel dihubungkan dengan komplikasi yang mirip pada

15

apendisitis akut dan diperlukan pengobatan serta tindakan bedah yang sama. Ulkus Peptikum yang Perforasi Ini sangat mirip dengan apendisitis jika isi gastroduodenum terbalik mengendap turun ke daerah usus bagian kanan (Saekum).

Batu Ureter Jika diperkirakan mengendap dekat apendiks, ini menyerupai apendisitis retrocecal. Nyeri menjalar ke labia, scrotum, atau penis, hematuria dan / atau demam atau leukosotosis membantu. Pielography biasanya untuk mengkofirmasi diagnosa. — Penatalaksanaan Penatalaksanaan pasien dengan apendisitis akut meliputi terapi medis dan terapi bedah. Terapi medis terutama diberikan pada pasien yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah, dimana pada pasien diberikan antibiotik. Namun sebuah penelitian prospektif menemukan bahwa dapat terjadi apendisitis rekuren dalam beberapa bulan kemudian pada pasien yang diberi terapi medis saja. Selain itu terapi medis juga berguna pada pasien apendisitis yang mempunyai risiko operasi yang tinggi. Namun pada kasus apendisitis perforasi, terapi medis diberikan sebagai terapi awal berupa antibiotik dan drainase melalui CT-scan pada absesnya. The Surgical Infection Society menganjurkan pemberian antibiotic profilaks sebelum pembedahan dengan menggunakan antibiotik spektrum luas kurang dari 24 jam untuk apendisitis non perforasi dan kurang dari 5 jam untuk apendisitis perforasi. Penggantian cairan dan elektrolit, mengontrol sepsis, antibiotik sistemik adalah pengobatan pertama yang utama pada peritonitis difus termasuk akibat apendisitis dengan perforasi. 1. Cairan intravena ; cairan yang secara massive ke rongga peritonium harus di ganti segera dengan cairan intravena, jika terbukti terjadi toxix sistemik, atau pasien tua atau kesehatan yang buruk harus dipasang pengukur tekanan vena central. Balance cairan harus diperhatikan. Cairan atau berupa ringer laktat harus di infus secara cepat untuk mengkoreksi

16

hipovolemia dan mengembalikan tekanan darah serta pengeluaran urin pada level yang baik. Darah di berikan bila mengalami anemia dan atau dengan perdarahan secara bersamaan. 2. Antibiotik : pemberian antibiotik intravena diberikan untuk antisipasi bakteri patogen , antibiotik initial diberikan termasuk generasi ke 3 cephalosporins, ampicillin – sulbaktam, dll, dan metronidazol atau klindanisin untuk kuman anaerob. Pemberian antibiotik postops harus di ubah berdasarkan kulture dan sensitivitas. Antibiotik tetap diberikan sampai pasien tidak demam dengan normal leukosit. Setelah memperbaiki keadaan umum dengan infus, antibiotik serta pemasangan pipa nasogastrik perlu di lakukan pembedahan sebagai terapi definitif dari appendisitist perforasi. Terapi bedah meliputi apendiktomi dan laparoskopik apendiktomi. Apendiktomi terbuka merupakan operasi klasik pengangkatan apendiks. Mencakup Mc Burney insisi. Dilakukan diseksi melalui oblique eksterna, oblique interna dan transversal untuk membuat suatu muscle spreading atau muscle splitting, setelah masuk ke peritoneum apendiks dikeluarkan ke lapangan operasi, diklem, diligasi dan dipotong. Mukosa yang terkena dicauter untuk mengurangi perdarahan, beberapa orang melakukan inversi pada ujungnya, kemudian sekum dikembalikan ke dalam perut dan insisi ditutup. Komplikasi Komplikasi yang sering ditemukan adalah infeksi, perforasi, abses intra abdominal/pelvis, sepsis, syok. Perforasi yang ditemukan baik perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan, sehingga membentuk massa yang terdiri dari kumpulan apendiks, sekum dan keluk usus. — Prognosis Bila ditangani dengan baik, prognosis apendiks adalah baik. Secara umum angka kematian pasien apendiks akut adalah 0,2-0,8%, yang lebih berhubungan dengan komplikasi penyakitnya daripada akibat intervensi tindakan.

17

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.