Kasihnya Sebening Air Ibuku bukanlah pejabat, bukan istri pejabat, juga bukan jutawan.

Ibuku Hanya seorang ibu rumah tangga yang gemar menjahit dan memasak. Namun, orang-orang datang kepadanya untuk mengadukan masalah. Aku dapat merasakan raut wajah ibu yang selalu tampak lebih cerah setiap kali ia dapat memberikan sesuatu kepada kami, anak-anaknya. Padahal, entah seberapa sering kami berkata kasar kepadanya. Kesombongan kami membuat kami lupa ancaman Tuhan bagi orang-orang yang bahkan hanya mengucapkan “ah” pada ibu. Kami anak-anaknya lalai, sehingga seringkali meninggikan suara padanya. Namun, betapa luas maafnya. Tak pernah ia tampakkan kekesalan. Ketulusan kasihnya selalu hadir mengisi relung hatiku. Ibu seolah-olah punya mata batin. Selalu ia yang pertama mengetahui jika aku dirundung sedih atau sedang menghadapi masalah. Bahkan hanya sekedar rasa rindu saat jauh. Saat itu juga rindu hadir, paling tidak dering telepon. Tak jua berubah sekalipun kini aku telah menikah. Menjalani hari-hariku yang baru, bersama orang baru dalam sebuah dunia baru bernama rumah tangga, ibuku pernah berpesan, “Jadi wanita itu harus serba bisa dan punya wawasan luas. Namun, keterampilan pekerjaan rumah itu adalah mutlak. Hari-harimu nanti, pasti akan ada saat rasa jenuh menghampiri. Akan tetapi hiduplah seperti air. Jalani semua dengan ikhlas, karena akhir kehidupan itu pasti dan yang kita harapkan adalah ridho Allah”

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful