P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 229|Likes:
Published by Andi Wahyudi

More info:

Published by: Andi Wahyudi on Jun 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/04/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Negara Republik Indonesia dikenal memiliki endapan batubara dalam jumlah yang cukup besar. Beberapa provinsi memiliki endapan batubara yang cukup besar dengan berbagai macam kualitas. Eksploitasi selama satu dekade terakhir memperkirakan 67.36% berada di wilayah Sumatera, 32.12% barada di Kalimantan dan sisanya tersebar di Irian jaya, Jawa, dan Sulawesi. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu kebutuhan utama kehidupan manusia adalah energi, dan batubara dianggap mempunyai potensi pemamfaatan yang sangat besar untuk pelaksanakan diversifikasi energi, khususnya dalam dunia industri. Oleh karena itu harus ada usaha-usaha yang di lakukan untuk meningkatkan kualitas batubara yang di tambang sebelum dijual. Sebab batubara yang berasal dari tambang biasanya belum dapat secara langsung dipakai oleh industri yang membutuhkannya. Kegiatan preparasi dan pencucian merupakan bagian dari rangkaian proses pengadaan batubara yang berfungsi untuk mengolah dan menyiapkan batubara dari tambang agar sesuai dengan ketentuan kualitas yang ditentukan oleh konsumen, yang tujuan utamanya agar kualitas batubara yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan pasar. Banyak produsen batubara di Indonesia belum memperhitungkan nilai tambah yang akan diperoleh bila pengendalian mutu dapat dilakukan dengan baik mulai dari awal penambangan sampai ke pengapalan, akibat dari kurang peduli tersebut maka

1

harga jual sebagian produksi batubara dari Indonesia relatife lebih rendah dibandingkan dengan batubara di negara lain.

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Tinjauan Dasar Teori Pencucian Batubara 1. Crushing ( Peremukan) a. Comminution Comminution atau proses pengecilan ukuran dilakukan dengan cara

memecah/menghancurkan bongkah-bongkah batuan besar menjadi pecahanpecahan yang lebih kecil. Comminution adalah sebagai langkah pertama (persiapan) yang biasa dilakukan dalam proses pengolahan bahan galian yaitu memperkecil ukuran bongkah-bongkah batuan yang diperoleh dari tambang (Run Of Mine) menjadi fraksi-fraksi yang berukuran lebih kecil, sesuai dengan kehalusan ukuran butiran yang diperlukan. Tujuan dari comminution adalah : a. Untuk memperoleh ukuran mineral/butiran tertentu sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan (pasar) atau sesuai dengan persyaratan yang diperlukan untuk proses berikutnya. b. Untuk melepaskan mineral-mineral berharga dari mineral pengotornya. Proses pengecilan ukuran (comminution) dapat dibagi dalam tiga tahap berdasarkan ukuran dari produk yang dihasilkan yaitu : a. Primary crushing (Penghancuran tingkat pertama) b. Secondary crushing (Penghancuran tingkat kedua) c. Tertiary crushing (Penggilingan/grinding)

3

b. Roll Crusher

Roll crusher terdiri dari 2 silinder baja, berdiameter sama, berputar pada sumbunya dengan arah yang berlawanan. Kedua silinder (rolls) terbuat dari baja merupakan alat penghancur (crushing surface) dan dapat diganti kalau sudah aus. Kedua silinder jaraknya dapat diatur sesuai dengan kehalusan produk yang diinginkan penghancuran batuan dilakukan oleh kedua silinder yang digerakkan oleh motor penggerak. Umpan (feed) dimasukkan dari atas, seolah-olah terjepit diantara kedua silinder yang berputar sehingga pecah. Gaya-gaya yang bekerja dalam penghancuran adalah : a. Gaya tangensial karena perputaran silinder. b. Gaya normal. c. Gaya berat dari partikel. Kalau penjumlahan (resultante) gaya tangensial dan gaya normal (gaya berat diabaikan) arah kebawah dari horisontal, maka partikel akan tertekan ke bawah, kejepit oleh kedua roll dan pecah. Apabila penjumlahan tersebur arahnya ke atas horisontal, maka partikel akan tetap berada di atas kedua roll silinder. Secara teoritis kapasitas roll crusher dapat dihitung dengan rumus : K = 0,0034 NDWsG Dimana : K = Kapasitas (Ton/jam) N = Jumlah putaran (RPM) D = Diameter silinder (inci) W = Lebar silinder (inci) S = Jarak silinder (inci) G = Berat jenis partikel

4

Hubungan antara diameter silinder (rolls) dan diameter rata-rata ukuran batuan yang dapat digiling, dinyatakan dengan rumus : d = 0,0476 x D Dimana : d = Diameter partikel max (inci) D = Diameter silinder (inci) Dalam memilih roll crusher, maka ukuran material yang masuk dan produk yang diinginkan menentukan diameter dan jarak silinder. Reduction ratio dapat mencapai empat.
c. Nip Angle

Nip angle pada roll crusher ialah sudut yang dibentuk oleh kedua garis singgung dari titik kontak antara partikel dengan kedua silinder. Nip angle max 33,24, tetapi dalam prakteknya jarang lebih dari 25. Nip angle dapat dihitung dengan rumus : R + 1/2 s Cos ½ N = ----------R +1/2 D+s = ----------D+d

Dimana : N = Nip angle R = Radius silinder (inci) D = Diameter silinder (inci) d = Diameter partikel (inci) s = Jarak silinder (inci)

5

2. Desliming Screen

Desliming screen merupakan alat pengayak dengan tiga kemiringan yang berfungsi untuk mengoptimalkan laju aliran batubara dan pemisahan antara batubara kasar dengan batubara halus.

a. Prinsip-prinsip Dasar Screening Screen berfungsi, batubara harus dialirkan dalam jumlah besar dan terus menerus ke atas permukaannya sehingga partikel-partikel yang berukuran kecil akan lolos lewat lubang screen. Akibatnya, aliran batubara tersebut terbagi dua menjadi dua aliran partikel besar dan aliran partikel kecil. Gerakan batubara di sepanjang screen dan gerakan screen yang sangat keras menyebabkan batubara seolah-olah mangalir di dalam air. Partikel yang ukurannya lebih besar dari ukuran lubang screen tidak akan bisa melewati lubang screen tersebut. Tetapi karena adanya beberapa faktor, partikel yang kecil pun tidak dapat lolos. Stratifikasi adalah suatu fungsi dari kemampuan gerakan screen untuk memberikan waktu yang cukup agar terjadi pemisahan partikel dan pemisahan dikontrol oleh jumlah, bentuk serta jarak antar lubang pada pelat screen. Pada gambar di bawah ini menunjukkan proses stratifikasi dalam sebuah screen dan ukuran-ukuran relatif partikel yang lolos. Di bawah screen tersebut ada sebuah grafik yang menunjukkan kecepatan aliran partikel yang lolos di sepanjang screen. Pada mulanya partikel-partikel yang paling kecil akan lolos dari lubang screen dengan kecepatan tertinggi. Kecepatan ini kemudian akan menurun dengan bertambahnya jarak di sepanjang screen.

6

Gambar 1: Stratifikasi dan Pemisahan di Sepanjang Screen

3. Dense Medium Cyclone Dense Medium Cyclone (DMC) berfungsi untuk memisahkan partikel

berdasarkan densitas yang relatif pertikel terhadap media yang digunakan. Partikel dengan densitas yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan density relatif medium akan menjadi produk overflow, partikel dengan densitas relatif yang lebih tinggi akan menjadi produk underflow.

7

Gambar 2: Dense Medium Cyclone

a. Prinsip Pemisahan di Dalam Cyclone Cyclone dapat bekerja hampir dalam segala posisi dan bahkan dapat dioperasikan secara terbalik, yakni dengan apex atau spigot berada di tempat yang paling tinggi. Gaya-gaya utama yang bekerja di dalam cyclone adalah : 1. Gaya Sentrifugal 2. Gaya Hidrolik

8

Gaya Sentrifugal Gaya Sentrifugal adalah gaya yang cenderung menarik sesuatu yang berputar menjauhi sumbu putarnya dan kekuatannya tergantung pada jari-jari lingkaran serta kecepatan gerak benda yang berputar.

Gaya Hidrolik Air atau dense medium yang dipompa ke dalam cyclone akan bergerak ke luar melalui salah satu dari dua jalan ke luar, underflow atau overflow. Namun, dibagian dalam cyclone cairan tersebut akan mengalir dengan empat cara yang berbeda, yaitu : a. Aliran ke Dalam b. Aliran Berputar c. Aliran kebawah d. Aliran ke Atas

Gambar 3: Aliran Berputar di Dalam Cyclone

9

b. Pemisahan Partikel Batubara dari Pengotornya Bila batubara kotor dimasukkan bersama media ke dalam cyclone, pemisahan yang terjadi akan tergantung pada masa jenis relatif partikel batubara tersebut. Ukuran terkecil partikel yang bisa diperoleh secara efektif di dalam cyclone tidak hanya ditentukan oleh cyclone itu sendiri melainkan juga bagaimana mendapatkan kembali media dari suspensi partikel tersebut. Masa jenis relatif pemisahan tidak hanya ditentukan oleh masa jenis relatif suspensi media melainkan juga oleh aliran ke dalam yang bergerak ke arah sumbu cyclone. Cyclone akan sangat bekerja secara efisien apabila nilai masa jenis relatif pemisahan mendekati nilai masa jenis relatif media, sehingga diameter vortex finder harus lebih besar daripada diameter spigot.

Gambar 4: Jalur Batubara Bersih dan Pengotornya Yang meninggalkan Cyclone

10

c. Pemasangan dan Pengoperasian Dense Medium Cyclone Dense medium cyclone pada umumnya dipasang dengan menggunakan poros memanjang yang membentuk sudut tertentu dengan bidang horisontal sehingga pada saat miring dapat bekerja lebih efisien daripada saat tegak. Cyclone memiliki sudut lancip 20˚ akan dipasang dengan sumbu sekitar 10˚ dari bidang horisontal. Cyclone harus menggunakan suspensi abrasif dalam jumlah besar yang di pompakan ke dalamnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, bersama-sama dengan shale yang terus mengalir di sepanjang dinding cyclone menuju spigot tempat dimana shale banyak berkumpul. Cyclone membutuhkan banyak energi untuk memproses batubara , sebab sebagian energi akan hilang dalam proses penghancuran partikel batubara.

d. Bagan Alir Dense Medium Cyclone Batubara mentah dengan ukuran partikel terbesar 50 mm disaring untuk menghilangkan material halus yang ukurannya di bawah 0,5 mm. Saringan yang umumnya digunakan adalah wedge wire sieve bend yang dilapisi dengan vibrating”desliming screen”. Partikel yang tersaring dicampur dengan dense medium kemudian dipompakan ke cyclone atau head tank. Pemisahan batubara dan shale akan berlangsung di dalam cyclone. Batubara bersih akan dibawa oleh overflow menuju sieve bend. Media yang berasal dari batubara bersih dan pengotornya dialirkan ke settling cone kemudian dipompakan ke head tank untuk kemudian dicampur dengan batubara mentah. Dillute medium dari rinsing screen dipekatkan oleh magnetic separator sebelum disatukan denagn media yang ada. Pemisahan

11

partikel halus berukuran 0,5 mm sebelum dipisahkan oleh dense medium cyclone seringkali disebut desliming yang saringannya adalah desliming screen.

4. Magnetic Separator Tujuan pengoperasian magnetic separator adalah: 1. Meminimalkan kehilangan magnetite 2. Meminimalkan material non magnetite dalam correct media

a. Cara Memperoleh Kembali Dense Medium Magnetite medium diperoleh kembali pada instalasi-instalasi pengolahan batubara dengan menggunakan dua karakteristik yaitu : masa jenisnya yang tinggi dan sifat magnetiknya. Setelah batubara bersih dan pengotornya meninggalkan dense medium cyclone, masing-masing mengalir melalui draining screen dan rinsing screen. Draining screen memisahkan suspensi magnetite yang keluar dari alat bersama-sama produk lainnya dan mengembalikannya ke head tank melalui sump yamg sesuai. Dari head tank, media dimasukkan lagi ke dalam cyclone. Media yang melewati rinsing screen memiliki masa jenis relatif yang rendah akibat adanya penyemprotan air. Pemisahan partikel magnetite dengan menggunakan sebuah wet drum magnetic separator atau lebih.

12

Gambar 5 : Wet Drum Magnetite Separator Bahan – bahan yang bersifat magnetis di dalam dilute medium akan menyatu begitu mendekati drum dan sewaktu tertarik ke permukaan drum, bahan-bahan magnetis tersebut akan terbawa berputar oleh putaran drum sehingga sampai pada lubang keluar dimana pengaruh medan magnetnya tidak begitu kuat. Aliran yang sekarang sudah sangat berkurang kadar magnetitenya meninggalkan separator melalui lubang-lubang keluar atau dari penahan overflow. Sifat magnet yang tersisa dapat menimbulkan daya tarik-menarik antara partikelpartikel yang bisa mengakibatkan flokulasi. Flokulasi akan menyebabkan terjadinya pengumpalan partikel sehingga akan terbentuk partikel-partikel yang lebih besar. Karena partikel-partikel tersebut memiliki sifat pengendapan yang sangat berbeda, besar kemungkinan akan mengganggu kestabilan media. Untuk itulah gunanya kumparan listrik yakni untuk menghilangkan sifat magnet yang tersisa. Setelah proses pengumpalan partikel dan pencucian selesai, magnetite dikembalikan lagi ke sistem.

13

Gambar 6 : Flow Chart Magnetic Separator

14

5. Drain and Rinse Screen Drain and Rinse screen adalah ayakan getar single deck yang pengoperasiannya dibantu penyemprotan air. Fungsi utama dari screen ini adalah :  Melepaskan magnetite yang terbawa bersama batubara ataupun buangan sehingga magnetite dapat diperoleh kembali.  Memperoleh kembali air sehingga dapat digunakan kembali dan mengurangi kadar air batubara.  Melepaskan material halus (slime) dari batubara sehingga kandungan abu berkurang. Drain and rinse screen di bagi dalam dua daerah dan tiap daerah mendapat penyemprotan. Penyemprotan pada daerah pertama disebut primary spray, dimana pada daerah ini tekanan penyemprotan lebih kuat sehingga besar magnetite diharapkan dapat lolos. Air penyemprotan yang digunakan pada daerah ini berasal dari produk overflow thikening cyclone. Sedangkan pada daerah kedua disebut secondary spray yang berfungsi untuk meloloskan magnetite yang mungkin masih menempel pada material kasar. Produk dari drain and rinse clean coal adalah batubara kasar bersih, dimana merupakan overflow dari screen yang akan dialirkan ke stocpile batubara bersih, dan larutan magnetite yang merupakan underflow screen yang dialirkan ke correct medium sump dan primary magnetic separator. Desliming screen merupakan alat pengayak dengan tiga kemiringan yang berfungsi untuk mengoptimalkan laju aliran batubara dan pemisahan antara batubara kasar dengan batubara halus.

15

6. Sieve Bend Sieve Bend merupakan saringan yang berbentuk melengkung yang mempunyai ukuran lubang 0,5 dan berfungsi untuk menangkap magnetite dan memisahkan batubara dari air. Untuk membantu proses penirisan maka sebelum masuk drain and rinse screen, material dilewatkan terlebih dahulu di atas sieve bend. Fungsi utama dari sieve bend yaitu : a. Melepaskan material halus dari batubara dan material pengotor b. Memperoleh kembali magnetite yang ada dalam overflow dan underflow Dense Medium Cyclone Sieve bend terpasang pada suatu vibrating screen (drain and rinse screen). Campuran batubara bersih dan larutan magnetite akan mengalir ke clean coal sieve bend sedangkan campuran material pengotor dan magnetite mengalir ke coarse discard sieve bend. Overflow dari sieve bend (batubara/pengotor kasar) akan mengalir menuju coarse D&R screen, sedangkan underflow (larutan magnetite) akan dialirkan ke correct medium sump. Water Spray Flow D/R Screen

Sieve Bend

Gambar 7: Sieve Bend

16

7. Classifying Cyclone Classifying Cyclone berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel halus dari pertikel yang kasar berdasarkan pada perbedaan ukuran dengan menggunakan media air. a. Faktor-faktor Yang mempengaruhi Kerja Cyclone Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja cyclone : 1. Diameter Cyclone 2. Sudut Kerucut cyclone 3. Ukuran lubang umpan, overflow dan underflow 4. Panjang bagian silinder 5. Tekanan pengumpanan 6. Ukuran dan jenis partikel

1. Diameter Cyclone Semakin besar diameter cyclone, semakin tinggi kapasitas kerjanya. Pada umumnya, semakin kecil partikel yang akan dikurangi kadar airnya, semakin kecil diameter tersebut. Namun, karena kapasitas kerjanya dikurangi juga, maka semakin banyak cyclone yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sirkuit. 2. Sudut Kerucut Semakin kecil sudut kerucut, semakin tinggi kapasitasnya dan semakin akurat pemisahan ukurannya. Namun karena kapasitas kerjanya dikurangi juga, maka semakin banyak cyclone yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sirkuit.

17

3. Ukuran Lubang Umpan, Overflow dan Underflow Pada umumnya, ukuran lubang underflow akan menentukan kekentalan dan aliran produk yang telah dipekatkan. Ukuran lubang umpan harus memadai agar lubang overflow dan underflow dapat berfungsi. Bila lubang umpan diperbesar, debit aliran ke cyclone akan bertambah juga dan akan menyebabkan umpan tidak bertahan lama di dalam cyclone serta akan lebih banyak partikel kasar yang terbawa oleh overflow. 4. Panjang Bagian Silinder Bagian silinder di bagian atas cyclone harus cukup panjang agar memudahkan gerakan rotasi awal. Panjang saluran vortex finder harus seimbang dengan panjang bagian silinder dan posisinya lebih rendah dari lubang umpan. 5. Tekanan Pengumpanan Tekanan pengumpanan pada cyclone berpengaruh terhadap volume yang diolah dan pada akhirnya akan mengurangi efisiensi kerja dari alat tersebut. 6. Kekentalan Umpan Masa jenis konsentrat umpan yang mengalir menuju ke thikening cyclone biasanya berkisar antara 20%-25% dan dipekatkan hingga mencapai kira-kira 30%40% di dalam cyclone. 7. Ukuran Partikel Efisiensi pengklasifikasian diukur berdasarkan jumlah partikel halus yang hilang di dalam underflow dan jumlah partikel kasar yang hilang di dalam overflow. Sedangkan efisiensi pemekatan dapat diukur berdasarkan jumlah partikel dari berbagai ukuran di dalam overflow.

18

Overflow dari classifying cyclone yang merupakan air kotor akan masuk ke thikener untuk pengambilan kembali air bersih. Sedangkan underflow dari cyclone mempunyai tiga model yaitu : 1. Dialirkan ke Fine Discard Dewatering Screen 2. Dialirkan ke Spiral 3. Dialirkan ke fine clean coal dewatering screen

8. Spiral Spiral merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan batubara dengan pengotornya. a. Cara Kerja Spiral Sewaktu air yang membawa batubara mengalir menuruni spiral akan terbentuk dua buah arus yaitu arus primer dan arus sekunder. Arus sekunder akan bergerak ke arah dalam di dasar saluran dan ke arah luar di permukaan air. Partikel batubara dan pengotornya dipengaruhi oleh arus sekunder ini. Partikel-partikel pengotor yang berat dan lebih cepat mengendap adalah yang paling banyak terpengaruh oleh aliran ke dalam yang membawanya ke tepi saluran bagian dalam. Sedangkan partikel-partikel batubara yang lebih ringan dan lebih lambat mengendap cenderung lebih banyak dipengaruhi oleh aliran ke luar dari arus sekunder dan oleh gaya sentrifugal yang terbawa sewaktu partikel-partikel tersebut bergerak, akibatnya partikel-partikel batubara akan bergerak ke tepi saluran bagian luar.

19

Gambar 8 : Spiral b. Bagian- bagian dari Spiral Classifying cyclone underflow dialirkan menuju salahsatu sirkuit ini yaitu :    Primary Spiral Fine Clean Coal Sieve Bend Fine RefuseDewatering Screen

c. Desain Spiral Spiral dirancang sebagai volute yang mengelilingi sebuah kolom sentral yang menurun beberapa meter dengan uliran 5 atau 6 buah. Potongan melintang dari alat pencuci ini dirancang secara khusus dan berubah-ubah dari atas hingga ke bawah spiral. Batubara mentah dengan sejumlah air yang memadai diumpankan dari bagian atas spiral dan kemudian mengalir ke bawah melalui saluran spiral. Sewaktu material mengalir ke bawah, material yang lebih berat cenderung berkumpul di bagian saluran yang lebih dalam sedangkan partikel yang lebih ringan berada di tepi saluran sebelah luar. Setelah terjadi pemisahan, partikel-partikel yang berat dan ringan dipisahkan oleh splitter yang ada di dasar spiral.

20

9. Thikener Thikener merupakan tempat untuk proses pengendapan partikel halus yang mengandung lumpur, pasir, dan debu. Lumpur yang terbentuk dari hasil flokulasi mengendap pada dasar thikener sedangkan air bersih bergerak ke atas thikener. Endapan lumpur ini kemudian diarahkan ke lubang yang ada di bagian tengah thikener oleh thikener rake, untuk kemudian dibuang dengan menggunakan pompa ke kolam pengendapan di daerah tambang dalam bentuk slurry.

a. Flokulasi Konsentrat Flokulasi suspensi partikel halus dapat dilakukan dengan menambahkan satu jenis bahan kimia atau lebih ke dalam konsentrat. Di dalam suspensi yang stabil, dimana partikel sangat sulit untuk mengendap. Bahan kimia yang cocok untuk menanggulangi sifat elektrosatik ini adalah kapur, garam besi, dan aluminium sulfat. Jika sejumlah kecil larutan kimia ini ditambahkan ke bahan pengotor, sifat elektrosatiknya akan hilang dan akan terjadi flokulasi. Meskipun demikian, partikelpartikel sebenarnya tidak boleh menyatu tetapi harus membuatnya menjadi gumpalan-gumpalan yang sebesar-besarnya karena semakin besar ukurannya, semakin cepat gumpalan-gumpalan partikel tersebut mengendap. Pengadukan harus dilakukan sampai konsentrat dan flocculant bercampur secara merata. Thikener akan dioperasikan dan airnya yang telah jernih dapat dialirkan kembali ke sirkuit serta endapan konsentrat yang lebih pekat dari sebelumnya dapat di ambil dari dasar tangki.

21

Gambar 9: Thikener

22

B. Preparasi Dan Proses Pencucian Batubara 1. Proses Pengolahan Batubara Bersih Batubara hasil dari tambang mempunyai ukuran yang kasar dan belum siap untuk dijual sehingga dilakukan tahap pengurangan ukuran sesuai dengan permintaan konsumen. Batubara dari tambang diangkut dengan haul truck sesuai dengan kualitasnya menuju daerah ROM (Run Of Mine) kemudian dimasukkan ke dalam hopper (bak penampung) sebelum masuk ke dalam crusher (mesin penghancur). Jenis crusher yang digunakandi CPP untuk batubara bersih yaitu crusher jenis gunlach dan terdapat lima unit crusher untuk batubara bersih yaitu crusher #1, crusher #2, crusher #3, crusher #4, dan crusher #6. Batubara dari hopper akan diumpankan kedalam crusher menggunakan feeder (mesin

pengumpan). Jenis feeder yang digunakan yaitu plate feeder pada crusher #3 dan staemler feeder pada crusher #1,crusher #2,crusher #4, dan crusher #6. Batubara dari feeder selajutnya dihancurkan dalam crusher, penghancuran dilakukan dalam dua tahap yaitu : Tahap pertama penghancuran dilakukan sampai top size 150 mm dan pada tahap kedua dengan top size 50 mm. Setelah dihancurkan produk masingmasing crusher akan diangkut oleh belt conveyor menuju ke stockpilenya masingmasing. Batubara produk crusher #1 dialirkan oleh stacking conveyor #1 dengan laju aliran rata-rata 1200 tph menuju ke stockpile #1 dengan kapasitas 15.000 ton. Batubara produk crusher #2 diangkut dengan stacking conveyor #2 dengan laju aliran rata-rata 1200 tph

23

menuju stockpile #2 dengan kapasitas 35.000 ton. Batubara produk crusher #3 dan #4 diangkut dengan stacking conveyor #3 dengan laju aliran rata-rata 1800 tph menuju ke stockpile #3 dengan kapasitas 60.000 ton kapasitas produksi crusher #6 2500 tph dengan kapasitas stockpile 200.000 ton. Batubara yang berada pada tiap stockpile adalah batubara yang siap untuk dipasarkan.

2. Proses Pengolahan Batubara Kotor Batubara dari tambang diangkut dengan haul truck sesuai dengan kualitasnya menuju ROM (Run Of Mine) kemudian dimasukkan ke dalam hopper (bak penampung) sebelum masuk kedalam crusher (mesin penghancur). Batubara kotor hasil dari tambang dikumpulkan di ROM (Run Of Mine) untuk kemudian dimasukkan ke dalam hopper (bak penampung) dengan kapasitas 250 ton, di dalam crusher terdapat ayakan statis jenis grizzly sehingga ukuran batubara yang diperlukan untuk penghancuran berikutnya yaitu 700x700 mm. Setelah lolos dari ayakan grizzly umpan kemudian masuk ke dalam feeder Ada dua macam feeder yaitu :  Plate feeder Feeder berupa plate dengan gerak horisontal dengan kecepatan stroke tertentu yang dikontrol oleh suatu sistem hidrolik, apabila feeder bergerak ke depan maka bagian kosongdi belakang plate akan segera terisi oleh batubara yang terdapat di dalam hopper dan pada saat feeder kembali bergerak ke belakang batubara akan jatuh ke dalam crusher akibat tekanan/dorongan batubara yang ada di tasnya. Dengan demikian sistem pengumpanan tidak

24

kontiniu, sehingga batubara dalam hopper masih tetap ada dan tidak akan terdorong atau jatuh ke dalam crusher, selama hopper tidak terisi.  Stamler feeder Stamler feeder dalam operasinya bergerak berputar dan secara kontiniu karena menggunakan rantai berputar sehingga kemampuan mengumpan batubara ini lebih tinggi dibandingkan jenis plate feeder. Umpan batubara dari feeder akan diumpankan ke breaker sehingga akan direduksi menjadi ukuran 300 mm. Dari breaker batubara akan diumpankan ke roller crusher, sehingga dihasilkan batubara dengan ukuran 150 mm. Dari roller crusher batubara akan diumpankan ke roller crusher, sehingga dihasilkan produk batubara akhir dengan ukuran 50 mm. Proses penghancuran batubara kotor ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama dilakukan penghancuran batubara dengan menggunakan feeder breaker dengan top size 300 mm, selanjutnya produk dari feeder breaker diangkut dengan dirty coal transfer conveyor #1 yang dilengkapi dengan overband magnet, weigher, dan metal detector.  Overband Magnet yang berfungsi untuk mendeteksi magnet yang terdapat pada batubara yang lewat di transfer conveyor #1.  Weigher berfungsi untuk mengukur atau mencatat jumlah batubara yang telah masuk ke dalam conveyor.  Metal Detector yang berfungsi untuk mendeteksi logam yang masuk ke dalam conveyor.

25

Batubara dari transfer conveyor #1 akan masuk ke secondary crusher dimana ini adalah proses penghancuran tahap kedua dengan top size 50 mm. Produk dari secondary crusher akan diangkut dengan dirty coal transfer conveyor #2 menuju tertiary crusher dengan top size 50 mm dan selanjutnya akan diangkut oleh wash feed conveyor menuju washing plant. Dalam proses pencucian batubara kotor terdapat dua sirkuit pencucian batubara yaitu sirkuit batubara kasar dan batubara halus. Proses pemisahan antara batubara kasar dan batubara halus terjadi di desliming screen dimana dilengkapi dengan pembilas air bertekanan (spray water) untuk memisahkan batubara kotor dari partikel halus. Alat yang digunakan untuk proses pencucian batubara kasar yaitu Dense Medium Cyclone ( DMC) dengan menggunakan media magnetite untuk memisahkan material pengotor dan batubara bersih dengan media pemisah 1,4 gr/cm3 dan untuk sirkuit batubara halus alat yang digunakan yaitu classifying cyclone dan spiral dengan menggunakan media air. Pengotor produk dari washing plant berupa pengotor halus dan kasar, pengotor yang kasar akan dibuang kembali ke tambang, sedangkan yang berupa pengotor halus dilakukan proses sedimentasi atau pengendapan untuk memisahkan air dan lumpur (slurry) dimana air digunakan kembali untuk proses pencucian batubara. Slurry yang sudah terendapkan dialirkan melalui underflow thickener kemudian dialirkan ke tempat pembuangan limbah.

26

a. Proses pencucian Batubara Kasar Pada proses pencucian batubara kasar dengan ukuran 0,75-50 mm dimulai dari masuknya produk batubara kasar dari desliming screen ke launder dan didorong oleh lumpur magnetite ke wing tank dimana terjadi proses pencampuran batubara kasar dengan medium berupa magnetite yang berasal dari wing tank batubara kasar dipompa dengan menggunakan dense medium cyclone pump menuju dense medium cyclone. Overflow dari dense medium cyclone berupa batubara dengan densitas lebih kecil dari 1,4 dialirkan kedalam clean coal sieve bend yang diteruskan ke clean coal drain and rinse screen. Sisa kandungan magnetite yang masih menempel dipermukaan batubara dilepaskan dengan bantuan air bertekanan, selanjutnya air yang mengandung magnetite yang lolos ke dalam screen yang berukuran 0,5 mm masuk ke primary magnetic separator. Underflow berupa pengotor yang mempunyai SG >2 dari dense medium cyclone akan dialirkan ke discard sieve bend dan kemudian akan diteruskan ke D&R screen, didalam alat ini sisa magnetite akan dialirkan ke primary magnetic separator. Pengotor dari D&R screen akan dialirkan oleh discard conveyor yang kemudian akan masuk ke dalam discard bin yang berfungsi untuk menampung pengotor dengan daya tampung 60 ton, discard kemudian diangkut oleh dump truck untuk dibuang kembali ke tambang.

27

Gambar 10 : Flow Chart Coarse Coal Circuit

28

b. Proses Pencucian Batubara Halus Proses pencucian batubara halus dimulai dari desliming screen. Untuk memudahkan proses di desliming screen dan di classifying cyclone maka sebelumnya batubara ini akan dicampur terlebih dahulu dengan air di wetting box. Pada proses batubara halus ini dimulai dari desliming screen dimana batubara halus yang ukurannya -0,75 mm akan masuk ke classifying cyclone sump. Proses pemisahan batubara halus di classifying cyclone ini terjadi didalam media air. Fungsi dari classifying cyclone yaitu untuk memisahkan partikelpartikel halus dari partikel kasar berdasarkan ukuran dengan menggunakan media air. Classifying cyclone mempunyai 3 saluran untuk out put yaitu : a. Dialirkan ke fine discard dewatering screen Jika kualitas batubara halus yang dihasilkan oleh washing plant rendah (Ash>20%) maka keluaran dari classifying cyclone ini akan dialirkan ke fine reject screen dan masuk ke discard conveyor yang nantinya akan dialirkan ke discard bin dan masuk ke dump truck yang selanjutnya akan diangkut untuk dibuang ke area tambang. b. Dialirkan ke spiral Batubara halus produk classifying cyclone di alirkan ke spiral untuk proses pemisahan lebih lanjut antara batubara halus dengan pengotor. Spiral adalah alat dimana proses pemisahannya berdasarkan berat partikel atau material yang berat (pengotor halus) akan berada pada bagian dalam dan keluar sebagai tailing, sedangkan untuk material yang ringan (batubara halus) akan

29

berada pada tepi terluar dan keluar sebagai slurry batubara halus. Slurry batubara halus hasil dari spiral akan dialirkan ke fine clean coal sump, yang selanjutnya dipompakan ke sieve bend dan fine clean coal dewatering screen yang berfungsi untuk mengurangi kadar air. Batubara halus ini kemudian dialirkan di stacking conveyor #3 yang akan di tampung di stockpile #3. Tailing hasil dari spiral akan dialirkan ke thickener untuk selanjutnya dibuang ke tambang melalui pompa tailing. c. Dialirkan ke fine clean coal dewatering screen Jika underflow classifying cyclone tidak dapat dialirkan ke spiral atau ke fine discard dewatering screen maka underflow dari classifying cyclone ini akan dialirkan langsung ke fine clean coal sieve bend yang nantinya akan masuk ke fine clean coal dewatering screen dan langsung masuk ke stacking conveyor #3.

30

Gambar 11: Flow Chart Fine Coal Circuit

31

c. Penggunaan Magnetite Salah satu keuntungan dari penggunaan magnetite pada proses pemisahan batubara kasar adalah magnetite tersebut bisa diambil kembali, untuk itu aliran disirkulasikan sehingga magnetite dapat dambil kembali untuk proses pemisahan batubara kasar. Magnetite dari correct medium sump, merupakan tempat penampungan larutan magnetite yang dibutuhkan untuk proses pencampuran dengan density 1,4 gr/cm3. Magnetite dari correct medium sump akan dipompakan oleh correct medium head box kemudian megnetite akan langsung di distribusikan ke launder di ujung desliming screen ke wink tank dan splitter box. Splitter box berfungsi untuk mengatur debit ke launder dan ke wink tank. Larutan yang terkandung pada produk dense medium cyclone akan diambil oleh sieve bend dan akan dialirkan ke correct medium sump. Batubara dan pengotor yang melewati sieve bend akan masuk ke drain and rinse screen yang berfungsi untuk mengambil kembali air dan magnetite yang masih menempel di batubara. Air yang masih mengandung magnetite akan masuk ke dalam dua buah primary magnetic separator. Magnetite yang tertangkap oleh primary magnetic separator akan masuk ke correct medim sump sedangkan effluent dari primary magnetic separator akan masuk ke dilute medium sump. Air yang mengandung magnetite di dilute medium sump ini berasal dari effluent dari magnetic separator pada pengolahan batubara kasar yang kemudian akan dipompakan oleh dilute medium pump ke magnetic thikening cyclone. Underflow dari magnetic thikening cyclone yang berupa air yang mengandung magnetite akan masuk ke secondary magnetic separator, magnetite yang tertangkap oleh secondary magnetic separator akan masuk ke correct medium

32

sump sedangkan effluent dari secondary magnetic separator akan masuk ke wetting box dan selanjutnya bercampur dengan feed wash plant di desliming screen.

Gambar 12 : Magnetite Circuit

33

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN 1. Jenis crusher yang digunakan di daerah CPP adalah crusher jenis gundlach yang berjumlah lima buah sedangkan crusher jenis sizer satu buah, lima buah crusher (nomor #1, #2, #3, #4, #6) digunakan untuk menghancurkan batubara bersih sedangkan crusher nomor #5 digunakan untuk menghancurkan batubara kotor atau dirty coal. 2. Pada proses pencucian batubara kasar alat utama yang digunakan adalah Dense Medium Cyclone dengan menggunakan media berupa magnetite 3. Pada proses pencucian batubara batubara halus alat utama yang digunakan yaitu Classifying Cyclone dan Spiral dengan menggunakan media berupa air. 4. Pada Dense Medium Cyclone material dengan density lebih rendah dari media pemisah dalam hal ini batubara akan keluar sebagai produk overflow sedangkan material pengotor akan keluar sebagai produk underflow karena mempunyai density lebih tinggi dari media pemisah yang berupa larutan magnetite. 5. Pada Classifying Cyclone material yang didominasi oleh partikel kasar dengan konsentrasi padatan tinggi merupakan underflow sedangkan material yang didominasi oleh partikel halus dengan konsentrasi padatan rendah merupakan overflow.

34

6. Underflow dari classifying cyclone mempunyai tiga model operasi yaitu : a. Dialirkan ke fine discard dewatering screen b. Dialirkan ke Spiral c. Dialirkan ke fine clean coal dewatering screen 7. Overflow Classifying Cyclone akan diteruskan ke fine screen product yang akhirnya menjadi product bersama dengan batubara kasar. 8. Proses pengambilan kembali magnetite yang terdapat dalam larutan magnetite yaitu: a. Primary Magnetic Separator yang menggunakan dua buah drum separator b. Secondary Magnetite Separator yang menggunakan satu buah drum separator 9. Recovery sistem magnetite juga dilakukan di Drain and Rinse Coal Screen untuk batubara bersih dan Drain and Rinse Discard Screen untuk material pengotor. 10. Proses pengolahan batubara kotor di CPP ada dua yaitu : a. Proses pengolahan batubara halus b. Proses pengolahan batubara kasar 11. Proses pengolahan batubara kotor pada washing plant mengalami pemisahan berdasarkan ukurannya di desliming screen untuk mendapatkan material kasar (0,75-50 mm), material halus (<0,75) dan material oversize dengan ukuran >50 mm dalam jumlah kecil yang akan dibuang ke tambang.

35

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->