TERJEMAH, TAFSIR, TA’WIL DAN APLIKASINYA

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah :Al-Qur’an Dosen Pengampu: Drs.H.Suismanto

Disusun Oleh: Muhammad Mujib 06470078 Ali Surahman 06470020 M.Adnan Juarman Hasibuan Munsori

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2010

A. Terjemah Terjemah berarti memindahkan dari suatu bahasa kepada bahasa lain. Ada dua jenis terjemah dalam penerjemahan Al-Qur’an. (1) Terjemah harfiah, dan (2) terjemah ma’nawiyah atau tafsirah. Terjemah harfiah adalah memindahkan pengertian dari satu bahasa ke bahasa lain dengan tetap memelihara sususan dan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Sedangkan terjemah ma’nawiyah adalah menerangkan atau menjelaskan makna yang terkandung dalam satu buku dengan bahasa lain tanpa memperhatikan susunan bahasa aslinya, di sisi lain juga tidak memperhatikan makna yang dimaksud. Terjemah bertujauan mempermudah para pembaca mengetahui dan memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an secara tepat dan benar. B. Ta’wil Ta’wil berasal dari kata awwala, yu’awwilu, ta’wil, yang berarti kembali. Dari perspektif bahasa adalah mengembalikan makna ayat kepada apa yang dikehendaki-Nya. Abu Nizan menjelaskan ta’wil menurut bahasa adalah ruju’ yang mengandung arti kembali. Menurut istilah adalah memberikan penjelasan mengenai hakikat suatu lafadz. Jadi, jika tafsir menerangkan dzahir lafadznya, sedangkan ta’wil menerangkan tentang hakikat suatu lafadz. Namun ada juga para ulama yang berpendapat bahwa makna tafsir dan ta’wil mempunyai pengertian yang sama sehingga tidak ada perbedaan diantara keduanya. Al-Sytibi dalam hal ini memberikan dua syarat ketika kita menggunakan ta’wil. Pertama, makna dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas. Kedua, arti yang dipilih dikenal oleh bahasa arab klasik. Dalam perkembangannya ta’wil membantu dalam memahami Al-Qur’an. Namun sangat keliru jika ta’wil digunakan semata-mata berdasarkan akal tanpa menggunakan factor-faktor kebahasaan yang terdapat dalam teks Al-Qur’an. Lebih keliru lagi kalau menta’wilkan Al-Qur’an keluar dari kaidah-kaidah yang telah ditentukan oleh para ulama.

C. Tafsir Tafsir berasal dari kata al-fasr yang berarti penjelasan atau keterangan. Yaitu, menerangkan sesuatu yang tidak jelas. Jadi keterangan yang memeberikan pengertian tentang sesuatu disebut tafsir. Ada pula yang mengatakan bahwa kata tafsir berasal dari kata tafsirah yaitu alat yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa penyakit pasiennya. Dengan demikian tafsir bisa bermakna dengan

2

penjelasan tentang arti atau maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia (Mufasir). Dalam Dirasat fi manahijil Qur’an yang dikutip Abu Nizan dalam Buku Pintar AlQuran; Tafsir menurut bahasa adalah bayan, izhhar,idhah yang mengandung arti jelas. Sedangkan menurut istilah adalah ilmu yang bias menyempurnakan pemahaman tentang Al-Qur’an, menjelaskan makna-maknanya, menyingkap hukum-hukumnya, dan menghilangkan permasalahan-permasalahan di dalam ayat-ayatnya. Menurut Adz-dzahaby, tafsir adalah ilmu yang membahas tentang maksud-maksud Allah SWT (dalam Al-Qur’an), berdasarkan kemampuan manusia. Ilmu itu mencakup segala sesuatu yang menerangkan tentang pemahaman maknanya, penjelasannya, dan maksud kandungannya. Menurut az-Zarkasyi, ia mengungkapkan: Pengetahuan untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dengan menjelaskan makna-maknanya dan mengeluarkan hokum-hukum dan hikmah-hikmahnya. Muhammad Husain adz-Dzahabi merumuskan bahwa makna tafsir menurut istilah adalah: Ilmu yang membahas maksud-maksud Allah yang terkandung dalam Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan manusia, maka ia mencukupkan sealian (pengetahuan) untuk memahami makna dan penjelasan dari maksud (Allah) itu. Macam-macam tafsir 1. Tafsir bil ma’tsur/tafsir riwayah Adalah metode menafsirkan al-quran dengan al-quran, hadits, atau perkataan para sahabat karena para sahabatlah yang lebih faham maksud kandungan al-quran. Selain itu, mereka langsung mendengar penjelasan dari rosululoh saw dan merupakan saksi atas turunnya ayat-ayat al-quran. Sahabat yang paling ahli dalam bidang ini sekaligus yang paling banyak dijadikan rujukan adalah ali bin abi thalib, ibnu abbas dan abdulloh bin mas’ud. Hokum tafsir bin ma’tsur adalah harus diikuti dan dijadikan pedoman, karena merupakan jalan pengetahuan yang benar, serta merupakan cara paling aman untuk menjaga diri dari tergelincir dan kesesatan dalam memahami kitabullah. Imuan yang pembahasannya didasarkan atas riwayat riwayat atas rosululoh saw, para sahabat, dan tabi’in. 2. Tafsir bi Ra’yi/Tafsir Dirayah Tafsir ini terbagi menjadi 2

3

a. tafsir bir-ra’yi al Mahmud (diperbolehkan) adalah metode penafsiran al-quran dengan cara ijtihad yang disandarkan kepada ilmu-ilmu ushul, baik dari ilmu lughah atau ilmu syar’I dan juga ulumul Qur’aan. b. Tafsir bir-ra’yi al mazhmum ( tercela atau terlarang) adalah penafsiran al-quran tanpa berdasarkan ilmu atau mengikuti hawa nafsu dan kehendak pribadi, tanpa disandarkan dengan kaidah-kaidah bahasa atau ulumul qur’an. Atau menafsirkan ayat berdasarkan madzhab yang rusak maupun bid’ah yang tersesat seperti syiah, mu’tazilah, khawarij, dan lain-lain. Hukum tafsir ini adalah haram, sesuai dengan firman Allah, “dan janganlah kamu mengikutui sesuatu yang tidak kamu ketahui tidak mengetahui pengetahuan tentangnya (QS Al-Isra’ 17:36) c. Tafsir Bil-isyarah atau Tafsirul Isyari Tafsir yang menggunakan metode penafsiran melalui isyarat suci yang timbul dari riyadhah ruhiyah, ketika orang sufi meyakini bahwa riyadhah ruhiyah bias mengantarkan seseorang ke dalam derajat yang bisa membuka isyarat-isyarat suci. Tafsir ini biasa disebut tafsir sufi atau tasawuf, hukum tafsir ini adalah ikhtilaf, ada yang melarang namun ada ulama yang memperbolehkan tapi dengan catatan sehingga tafsir ini bisa diterima. d. Tafsir Fuqaha. Metode penafsiran yang menonjolkan penafsiran hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an. Tafsir ini ada yang diperbolehkan untuk dijadikan pedoman jika penafsirnya adalah dari ulama mazhab yang disepakati, namun juga ada yang terlarang jika penafsirnya adalah dari kalangan mazhab terlarang seperti Ahmadiyah, Zayidiyah, serta mazhab terlarang lainnya. e. Tafsir kontemporer. Merupakan kitab tafsir yang ditulis oleh ulama-ulama kontemporer. Diantaranya adalah: 1. Jawahir fi tafsiril qur’an, karya Tanthawi Jauhari. Beliau adalah dosen di Universitas Darul Ulum Kairo, tafsir ini adalah tafsir Al-Qur’an dari sudut pandang ilmu pengetahuan, baik dari segi biologi, fisika, geografi, dan kimia. 2. Tafsir Almanar, karya Rashid Ridha.

4

f. Tafsir Maudhu’I (Tematik) Merupakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an dengam metode menyusun ayat-ayat Al-Qur’an menjadi sebuah tema atau judul. Pencetus teori ini adalah Syeikh Mahmud Syaltut (Grand Syeikh Al-Azhar.

5

Daftar Pustaka

6

7

9

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful