1.

Sejarah Perkembang Psikologi Konseling Dalam buku Psikologi Konseling oleh Latipun pada tahun 2006, kata konseling (counseling) berasal dari kata counsel yang diambil dari bahasa latin yaitu counselium, artinya ”bersama” atau ”bicara bersama”. Pengertian ”berbicara bersama-sama” dalam hal ini adalah pembicaraan antara konselor (counselor) dengan seseorang atau beberapa klien (Counselee). Dengan demikian counselium berarti, ”people coming together to again an understanding of problem that beset them were evident”, yang ditulis oleh Baruth dan Robinson (1987:2) dalam bukunya An Introduction to The Counseling Profession. Konseling mulai berkembang pada awal tahun 1900, ketika terjadi reformasi sosial dan pendidikan karena kondisi masyarakat yang saat itu sedang „sakit‟. Di akhir abad 19 ini terjadi pergerakan reformasi sosial di Amerika. Dalam pergerakan ini, para aktifis sosial menentang dan mendesak pemerintah agar lebih humanis dalam memperlakukan masyarakat, baik itu para imigran, kaum miskin, para penganggur, juga orang yang terganggu secara mental. Para pionir dalam konseling (yang selanjutnya disebut „guidance‟) ini kebanyakan para guru dan para pembaharu. Mereka memfokuskan pengajaran kepada anak-anak dan para pemuda. Tujuannya adalah membantu anggota masyarakat agar lebih peka dan menghargai diri mereka sendiri, orang lain, dunia kerja, dan kehidupan berwarga negara. Pada awalnya mereka terlibat terutama dalam kesejahteraan anak-anak, bimbingan vokasional, pengajaran di sekolah, dan pembaharuan hukum. Mereka bekerja memberikan informasi khusus dan pelajaran-pelajaran seperti pengajaran moral yang baik dan yang benar. Mereka mengkonsentrasikan usaha-usahanya pada pengembangan hubungan-hubungan intra dan interpersonal. Jane Addams dan Dorothea Dix adalah contoh orang-orang yang termasuk dalam pergerakan tersebut meskipun bukan para konselor. Perkembangan psikologi secara umum dibagi menjadi sepuluh tahapan atau era perkembangan, yaitu:

1 Tahun 1900-1909 Terdapat tiga orang yang terkenal sebagai pionir periode ini yaitu Frank Parson, Jesse B. Davis, dan Clifford Beers. Davis adalah orang pertama yang memperkenalkan program bimbingan sekolah. Tahun 1907 ia menyarankan agar guru memberikan bimbingan di kelas seminggu sekali. Sementara itu di Boston, Frank Parson mendirikan Boston’s Vocational Bureau pada tahun 1908 yang membantu pemuda dalam memilih karir. Ia menerbitkan buku yang berjudul “Choosing A Vocation “ pada tahun 1909.

Tokoh ketiga adalah Clifford Beers. Ia seorang mahasiswa Yale yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Berdasarkan pengalamannya ia menulis buku “A Mind That Found Itself” pada tahun 1908. dalam bukunya ia mengemukakan pendapatnuya bahwa dalam proses peningkatan kesehatan mental perlu ditingkatkan fasilitas dan mereformasi treatment yang ada. Bimbingan dan konseling pada masa ini berfokus pada bimbingan pendidikan dan pekerjaan, yaitu memfasilitasi individu untuk memahami dan mengambil keputusan pendidikan dan pekerjaan yang cocok dengan dirinya.

2 Tahun 1910-an Pada dekade ini terdapat dua peristiwa penting yaitu: 1) terbentuknya National Vocational Guidance Association (NVGA) 2) terjadinya Perang Dunia I (PD I), dimana dalam penjaringan perwira militer digunakan tes intelegensi. Pada masa ini konseling belum dikenal secara luas namun sudah mulai terdengar gaungnya.

3 Tahun 1920-an Dekade ini disebut juga masa konsolidasi karena dimulainya pendidikan bagi konselor di Universitas Harvard pada tahun 1911. Pengaruh dominan pada masa ini adalah berkembangnya teori-teori pendidikan, dan pemerintah mulai menggunakan layanan bimbingan terhadap veteran perang. Peristiwa penting lainnya yaitu dikembangkannya standar untuk persiapan dan evaluasi materi-materi okupasional.

4 Tahun 1930-an Pada masa ini mulai dikembangkan teori pertama konseling yang diformulasi oleh E.G. Williamson dan koleganya di Universitas Minnesota dengan mengambil teori Frank Parson tentang trait factor dan mengembangkan suatu model konseling karir untuk membantu siswa dan penganggur. Model ini berdasar pada model medis dan bersifat sangat direktif. Pada dekade ini juga terjadi peningkatan keterlibatan pemerintah dengan mendirikan US Employment Services yang kemudian menerbitkan Dictionary of Occupational Tittles (DOT) pada tahun 1939. Layanan bimbingan konseling mulai memperhatikan perbedaan individu (individual differences) seiring munculnya gerakan piskometrika yang dikembangkan Alfred Binet di Perancis dengan dikembangkannya pengukuran intelegensi. Dasar keilmuan tenaga konselor

makin bervariasi dan makin mendalam. Layanan bimbingan konseling menjadi lebih akurat dalam proses diagnostik dengan menggunakan berbagai instrumen tes.

5 Tahun 1940-an Tiga peristiwa utama pada dekade ini yaitu: 1) dikenalkannya teori humanistik oleh Carl Rogers 2) terjadinya Perang Dunia II 3) keterlibatan pemerintah dalam konseling Pada tahun 1942, Rogers mempublikasikan buku “Counseling and Psychotherapy” yang menentang teori counselor centered approach yang dikembangkan Williamson. Rogers mengembangkan model konseling nondirective sebagai alternatif terapi, yang kemudian disebut konseling terpusat pada klien („client-centered’). Selain itu karena adanya PD II, pemerintah mulai melibatkan konselor dan psikolog lebih jauh dalam proses seleksi dan training militer.

6 Tahun 1950-an Pada dekade ini, Rogers menerbitkan Client Centered Theraphy. Para konselor sekolah juga mulai menerapkan model non-direktif rogers dan mulai menekankan kegiatan konseling. Didirikan American Personnel and Guidance Association (APGA) sebagai cikal bakal American Counseling Association (ACA), divisi 17 (Counseling Psychology) pada American Psychologist Association (APA), National Defense Act (NDEA), dan mulai berkembangnya teori-teori bimbingan konseling. Divisi 17 (counseling psychologist) didirikan pada tahun 1952 yang pada awalnya karena ada ketertarikan para psikolog untuk bekerja pada populasi yang normal dari yang biasa ditangani oleh psikolog klinis. Psikolog konseling dipengaruhi olehkonseling vokasional dan terapi humanistik. Pada dekade ini juga dipublikasikan teori behavioral (desensitisasi sistematis), rational emotive theraphy dan career development. ACES dan ASCA (dua divisi dalam APGA) mengembangkan standar pelatihan bagi konselor sekolah yang menekankan teori konseilng dan pengalaman praktikum. Pada tahun 1952 diadakan konvensi nasional bersama di Los Angeles, California antara National Vocational Guidance Association (NVGA), National Association of Guidance and Counselor Trainers (NAGCT), Student Personnel Association for Teacher Education (SPATE), dan

American College Personnel Association, dengan harapan memberikan suara profesi yang lebih besar.

7 Tahun 1960-an Pada dekade ini, terjadi eksplosi profesi konseling sekolah, semakin meningkatnya penelitian yang terfokus pada konseling dan ditingkatkannya standar untuk sertifikasi dan kinerja konselor sekolah. ASCA juga mengembangkan Pernyataan Kebijakan untuk Konselor Sekolah Menengah yang mengkhususkan peran dan fungsi konselor sekolah. Pada masa ini, konselor sekolah bekerja terutama dalam peran remedialaktif; peranannya tidak terlihat sebagai bagian pokok dalam pendidikan. Ini menguatkan praktek konselor sekolah yang terpusat pada tuga-stugas administratif-klerikal karena tugas-tugas ini dapat dipertahankan sebagai suatu layanan kepada seseorang. Pada masa ini juga, banyak muncul teori-teori humanistik yang baru yaitu yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, Dugald Arbuckle, dan Sidney Jourad. Terjadi pula pergeseran paradigma dari konseling individual (face to face) menjadi konseling kelompok, didirikannya Community Mental Health Centers Act (CMHCA) dan dipublikasikannya kode etik konselor untuk pertama kali.

8 Tahun 1970-an Pada dekade ini CMHCA memperluas layanan anak dan remaja dengan penyakit mental. Dibentuk American Mental Health Counseling Association (AMHCA), dibentuk pula badan lisensi konselor yang pertama di Virginia. Terdapat diversifikasi setting dalam layanan konseling, mulai dari sekolah hingga pusat-pusat kesehatan mental dan di agen-agen masyarakat sehingga dikenal istilah baru yaitu community counselor. Adanya perkembangan helping skill program yang dikemukakan oleh Truax dan Carkhuff pada tahun 1967 dan Ivey pada tahun 1971. Pada masa ini dibentuk komite untuk menilai dan memberikan ijin praktek bagi konselor yang dikelola oleh APA dan APGA. Pada tahun 1973 Association of Counselor Educators and Supervisors (ACES) mulai menetapkan rambu-rambu bagi standardisasi program master dan doktoral dalam bidang konseling.

9 Tahun 1980-an Pada masa ini mulai diterapkan dan ditingkatkan standardissi pelatihan konselor dan sertifikasi. Tahun 1981 Council of Accreditation of Counselling and Related Educational Programs (CACREP) dibentuk untuk menstandarkan pelatihan bagi konselor dalam semua kekhususannya. CACREP ini merupakan organisasi afiliasi APGA dan anggota Counseling on Post Secondary Accreditation (COPA), selanjutnya CACREP membuat standardisasi program master dan doktoral. Sebagai pelengkap CACREP, National Board for Certified Counselors (NBCC) yang dibentuk pada tahun 1983 mulai memberikan sertifikasi bagi konselor. Pada masa ini mulai banyak diterbitkan jurnal-jurnal ilmiah di bidang konseling dan dikemukakannya dimensi cross cultural dalam layanan konseling yang berimplikasi pada timbulnya multicultural counseling. Pada tahun 1983, APGA berganti nama menjadi American Association of Counseling and Development (AACD).

10 Tahun 1990-an Pada tanggal 1 Juli 1992 AACD berganti nama menjadi American Counseling Association (ACA) untuk merefleksikan hubungan antara anggota asosiasi dan menguatkan kesatuan dan persatuan. Pada masa ini pula pedoman etik ACA dan standar CACREP direvisi. Pada masa ini terjadi gerakan perubahan dari istilah bimbingan dan perkembangan ke arah program konseling sekolah yang komprehensif, juga terjadi pertumbuhan yang berlanjut dalam permasalahan keragaman dan multikultural dalam konseling, serta terdapat penekanan terhadap model spiritual / kebaikan / holistik. Pada tahun 1991, Sears & Coy menekankan kebutuhan konselor sekolah untuk mencapai semua siswa melalui suatu model proaktif alih-alih model remedial. Pada tahun 1997, ASCA mengusulkan standar nasional untuk program konseling sekolah. Masih pada tahun 1997, DeWitt-Wallace-Reader‟s Digest Fund mendirikan Transforming School Counseling Initiative (TSCI).

11 Tahun 2000-2003 Pada masa ini konseling sudah merupakan profesi yang dikenal secara luas. Pengembangan teori-teori konseling mulai merambah dan berkolaborasi dengan teori-teori lain, seperti dikemukakannya dance theraphy,musical theraphy, art theraphy, traumatic counseling, dan sebagainya. Selain itu paradigma konseling bergeser dari yang layanannya bersifat kuratif ke arah developmental dengan diterbitkannya buku “Collaborative,

Competency-Based Counseling” pada tahun 2002, dan “Developmental Counseling”. Pasca 9/11/2001, ekonomi AS mengalami resesi, kemajuan yang terjadi dalam tahun 1990-an belum solid. Pada masa ini program bimbingan dan konseling komprehensif secara cepat menggantikan orientasi tradisional yang berorientasi pada layanan posisi. Selain itu, program bimbingan dan konseling komnprehensif menjadi cara utama untuk menata dan mengelola bimbingan dan konseling sekolah di seluruh AS. Pada bulan Juni 2002, model ASCA yang baru diumumkan sebagai cermin dari perubahan tadi. Tahun 2003, ASCA menerbitkan model nasional untuk program konseling sekolah (Model for School Counseling Programs). Pada musim panas 2003, TSCI mengadakan pertemuan di Las Vegas, membicarakan masalah penelitian konseling sekolah.

2. Perilaku Konselor Dalam proses konseling, seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif, baik perilaku verbal maupun non verbal. Barbara F. Okun (Sofyan S. Willis, 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini:

1. Perilaku Verbal: EFEKTIF Menggunakan dipahami klien Memberikan refleksi dan kata-kata yang dapat TIDAK EFEKTIF Memberi nasihat

penjelasan Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien

terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan

Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan humor secara tepat tentang Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti

pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien

2. Perilaku Non Verbal: EFEKTIF Nada suara disesuaikan dengan klien TIDAK EFEKTIF Berbicara terlalu cepat atau terlalu pelan> Duduk menjauh dari klien Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan

(tenang, sedang) Memelihara kontak mata yang baik Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum

3. Aplikasi Konseling Efek Konseling Pada Penyesuaian Pendidikan Kejuruan Kebanyakan penelitian membandingkan antara kinerja atau keputusan kelompok siswa yang menerima konseling dengan mereka yang tidak menerima konseling atau yang mendapat konseling dengan cara yang berbeda. Kesimpulan diambil mengenai kecukupan dari kinerja atau keputusan dan

sejauh mana konseling telah memberi kontribusi mengatasi hambatan perilaku yang diamati. Tiga masalah terlihat melekat pada teknik ini. Pertama, prosedur konseling sebenarnya dimana individu terpapar, jarang dijelaskan dengan cara yang eksplisit, dan dengan demikian menjadi sangat sulit untuk mengidentifikasi perbedaan asli dalam pengalaman konseling ataupun non konseling. Kedua, keluaran dievaluasi berkali-kali dalam istilah yang sangat spesifik. Ketiga, sumber pertimbangan menyebabkan bias yang tidak relevan. Para penelitian Hewer, teramati bahwa pertimbangan konselor tentang realisme pilihan karir klien dibuat pada penyelesaian konseling tidak sesuai dengan penilaian mahasiswa tentang kesesuaian pekerjaan mereka saat ini dan keputusan yang mereka telah membuat beberapa tahun sebelumnya. Pada faktanya pilihan klien lebih mengena dibanding pilihan konselor. Teori perkembangan karir terikat dengan penelitian pada pembuatan keputusan karir dan efektivitas nya. Prosedur Klinis dan Perkembangan Karir Ivey dan moril (1968) tertarik pada sudut pandang “proses karir” sebagai suatu aspek dari pengembangan kesehatan mental dan umum, dan sebagai hasilnya aktivitas konseling seharusnya menunjukkan bahwa kegiatan konseling harus ditekankan pilihan karir dan mengintensifkan penekanan pada membantu individu menjadi sadar akan kontinuitas yang mengalir melalui hidup mereka. Sudut pandang dikemukakan oleh Ivey dan Morrill merupakan hanya satu aspek dari dampak pemikiran mengenai konseling kejuruan diberikan psikologi klinis. Juga berkembang dari tradisi klinis adalah pentingnya adalah pengakuan akan pentingnya identifikasi masalah klien dan menentukan jalan yang terbaik. Daftar masalah klien Pepinsky merangkum macam-macam masalah karir. Banyak individu gagal mencari pertolongan konseling karena mereka merasa cukup dengan keputusan mereka yang tidak efisien.

4. Memahami Makna Konseling Begitu banyak pengertian terkait konseling, misalnya Shertzer dan Stone (1968) berpendapat bahwa konseling adalah proses interaksi dimana konselor berupaya meningkatkan pengertian tentang diri dan lingkungan klien dalam rangka memperjelas tujuan, Selanjutnya nilai dan prilaku klien dimasa akan datang.

C. Patterson (1967) berpendapat bahwa konseling adalah proses yang

melibatkan hubungan pribadi antara konselor dengan satu atau lebih klien dimana konselor menggunakan metode-metode psikologis atas dasar pengetahuan yang dimilikinya dan banyak lagi pendapat para ahli yang berbeda berkenanan dengan makna konseling sesuai derngan sudut pandangnya masing-masing.

Akan tetapi secara sistematis dapat digambarkan bahwa ada beberapa ciri yang menonjol dari pengertian diatas , (1) Konseling merupakan suatu proses, (2) Konseling dapat dilakukan kepada satu atau lebih klien, (3) Konseling harus dipersiapkan secara profesional, (4) Hubungan antar pribadi yang andalannya adalah upaya bersama.

Berkenaan dengan ciri-ciri konseling ini terdapat juga pendapat yang berbeda dari para ahli diantaranya, C Patterson (1967) mngidentifikasikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan konseling, yaitu : 1. 2. Konseling bukanlah semata-mata pemberian informasi. Konseling bukanlah pemberian nasehat, saran dan rekomendasi tentang sesuatu yang harus dan tidak boleh dilakukan klien. 3. Konseling bukanlah wahana untuk mempengaruhin sikap, kepercayaan, dan prilaku dengan jalan membujuk, mengarahkan, atau meyakinkan walaupun dilakukan secara trak langsung, halus atau tidak manyakitkan. 4. Konseling bukanlah wahana untuk mempengaruhi prilaku dengan menegur, memperingatkan, mengancam, atau memaksa tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan fisik. 5. Konseling bukanlah seleksi dan penugasan individu-individu keberbagai pekerjaan atau aktivitas. 6. Konseling bukanlah upaya mewawancarai klien dengan maksud mendapatkan informasi yang dibutuhkan konselor (meskipun teknik-teknik wawancara digunakan dalam konseling). Oleh karena itu agar proses konseling dapat berjalan dengan efektif , bantuan yang diberikan konselor seyogyanya merupakan bantuan yang profesional.Senada dengan itu Prayetno dan Erman Amti(1995) juga menjelaskan ciri-ciri konseling sebagai berikut: 1. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi secara verbal untuk meningkatkan pemahaman antara kedua belah pihak. 2. Interaksi itu mengarah pada tercapainya tujuan yang diinginkan, yakni pengentasan masalah klien. 3. Tujuan dari hubungan konselign adalah terjadinya perubahan tingkahlaku pada diri klien. 4. Konseling adalah proses yang dinamis , diimana klien dibantu untuk mengembangkan dirinya , dan kemampuannya dalam angka untuk mengatasi masalahnya. 5. Konseling didasari oleh penerimaan klien yang wajar oleh komnselor atas hakekat dan martabat klien.

Dan untuk mencapai itu semua konseling harus dilaksanakan oleh orang-orang yang benar-benar terlatih dan dipersiapkan untuk itu.

5. Konseling Sebagai Hubungan Membantu Suherman (2007: 16) mengartikan konseling sebagai salah satu hubungan yang bersifat membantu agar klien dapat tumbuh ke arah yang dipilihnya juga agar dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Menurut Chaplin (2008: 114) konseling adalah suatu nama yang luas pengertiannya untuk beraneka ragam prosedur guna menolong banyak orang agar mampu menyesuaiakn diri; seperti memberi nasihat, diskusi terapeutis, pengadministrasian dan penafsiran tes, dan bantuan vokasional atau kejuruan. Robinson (Yusuf, 2009: 43) mengartikan konseling sebagai semua bentuk hubungan antara dua orang, di mana yang seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Menurut Shertzer dan Stone (Yusuf, 2009: 43) Counseling is an interaction process which facilities meaningful understanding of self and environtment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior. ASCA (American School Counselor Association) (Yusuf, 2009: 44) mengemukakan bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya. Menurut Yusuf (2009: 45), konseling adalah proses helping atau bantuan dari konselor (helper) kepada konseli, baik melalui tatap muka maupun media (cetak maupun elektronik, internet atau telepon), agar klien dapat mengembangkan potensi dirinya atau memecahkan masalahnya, sehingga berkembang menjadi seorang pribadi yang bermakna, baik bagi dirinya sendiri, maupun orang lain, dalam rangka mencapai kebahagiaan bersama. English dan English (Willis, 2010: 17) mengartikan konseling sebagai suatu hubungan antara seseorang dengan orang lain, dimana seorang berusaha keras untuk membantu orang lain agar memahami masalah dan dapat memecahkan masalahnya dalam rangka penyesuaian dirinya. Menurut Glen E. Smith (Willis, 2010: 17) konseling adalah suatu proses dimana konselor membantu konseli agar ia dapat memahami dan menafsirkan fakta-fakta yang berhubungan dengan pemilihan, perencanaan dan penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan individu.

Milton E. Hahn (Willis, 2010: 18) mengatakan bahwa konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan seorang dengan seorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak dapat diatasinya, dengan seorang petugas profesional yang telah memperoleh latihan dan pengalaman untuk membantu agar klien mampu memecahkan kesulitannya. Willis (2010: 18) mengartikan konseling sebagai upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah. Dari beberapa pengertian mengenai konseling di atas maka dapat disimpulkan bahwa konseling adalah proses bantuan oleh konselor kepada konseli agar konseli dapat memahami dirinya sendiri sehingga dapat mengatasi masalah yang dialaminya.

DAFTAR PUSTAKA

Nurul Wardhani. 2008. Kajian Historis Mengenai Konseling Di Dunia. Jatinangor: Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful