You are on page 1of 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Istilah spektrometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu system kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang tertentu. Untuk memahami spektrofotometri, kita perlu meninjau ulang peristilahan yang digunakan dalam mencirikan energi cahaya, memperhatikan antareaksi radiasi dengan spesies kimia dengan cara yang erlementer, (Underwood, 1981). Spektrometri dapat dibayangkan sebagai suatu perpanjangan pemilikan visual dimana studi yang lebih rinci mengenai penyerapan energi cahaya oleh spesies kimia memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam pencirian dan pengukuran kuantitatif. Kemampuan sumber cahaya merubah warna permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan warna. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relatif terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. Indeks CIE memiliki keterbatasan, namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warna dari sumber cahaya. Untuk menentukan panjang gelombang maksimun dapat menggunakan suatu alat yang disebut sepktrophotometer atau spektronik 20 melalui sample suatu senyawa yang berwarna. Dalam praktikum ini, kita dapat mengetahui panjang gelombang maksimum dari larutan yang berwarna dalam hal ini adalah CoSO 0,07 M. 25 ml.

1.2 Tujuan Untuk mengetahui panjang gelombang maksimum (maks) dari senyawa CoSO4 0,07M 25 ml

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorbansi dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbansi. Kelebihan spektrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Panjang gelombang yang kasat mata didefinisikan oleh jangkauan spektral jendela optik, wilayah spektrum elektromagnetik yang melewati atmosfer bumi hampir tanpa mengalami pengurangan intensitas atau sangat sedikit sekali (meskipun cahaya biru dipencarkan lebih banyak dari cahaya merah, salah satu alasan menggapai langit berwarna biru). Radiasi elektromagnetik di luar jangkauan panjang gelombang optik, atau jendela transmisi lainnya, hampir seluruhnya diserap oleh atmosfer. Dikatakan jendela optik karena manusia tidak bisa menjangkau wilayah di luar spektrum optik. Inframerah terletak sedikit di luar jendela optik, namun tidak dapat dilihat oleh mata manusia, (Jim Clark pada 06-10-2007). Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa. Alat
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 2

yang digunakan adalah spektrometer, yaitu suatu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu. Komponen utama dari spektrometer diantaranya yaitu : 1. Monokromator berfungsi untuk merubah sinar polikromatis menjadi sinar monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran, macam-macam monokromator : (Satiadarma, Kosasih. 2004) - Prisma - kaca untuk daerah sinar tampak - kuarsa untuk daerah UV - Rock salt (kristal garam) untuk daerah IR - Kisi difraksi 2. Detektor fungsinya untuk merubah sinar menjadi energi listrik yang sebanding dengan besaran yang dapat diukur. Syarat-syarat ideal sebuah detektor : radiasi. 3. Pengatur Intensitas berfungsi untuk mengatur intensitas sinar yang dihasilkan oleh sumber cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan. Absorbain sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, dimana sejumlah cahaya dengan panjang gelombang tertentu diserap oleh sample; ( Jim Clark pada 06-10-2007). Transmitran , T= %T= 100T Kepekaan yang tinggi Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi Respon konstan pada berbagai panjang gelombang. Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi. Signal listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

Absorbansi ; dari hokum lambert-beer. A= log A= log A= log 10 = log10( 100) log10( %T) = log10 10 - log10( %T) = 2 log10( %T) Keterangan : P0 = Intensitas sinar datang P= Intensitas sinar yang diteruskan b = Panjang sel/kuvet A = Absorban

Kondisi berikut adalah keabsahan hukum Beer. Cahaya yang digunakan harus monokromatis, bila tidak demikian maka akan diperoleh dua nilai absorbansi pada dua panjang gelombang. Hukum tersebut tidak diikuti oleh larutan yang pekat. Konsentrasi lebih tinggi untuk beberapa garam tidak berwarna justru mempunyai efek absorbansi yang berlawanan.Larutan yang bersifat memancarkan pendar-fluor atau suspensi tidak selalu mengikuti hukum Beer. Jika selama pengukuran pada larutan encer terjadi reaksi kimia seperti polimerisasi, hidrolisis, asosiasi atau disosiasi, maka hukum Beer tidak berlaku, (Alexeyev, V. 1969). Cara kerja spektrometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blanko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih fotosel yang cocok 200-650 nm ( 650-1100 nm ) agar daerah yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang fotosel dalam keadaan tertutup nol galvanometer dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih yang diinginkan, bukan fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blanko dan nol galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakn tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100 %. Lewatkan berkas cahaya pada larutan

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel,(Vogel Svela, G. 1995). Spektrum UV-Vis merupakam hasil interaksi antara radiasi

elektromagentik (REM) dengan molekul. REM merupakan bentuk energy radiasi yang mempunyai sifat gelombang dan partikel (foton). Karena bersifat sebagai gelombang maka beberapa parameter perlu diketahui, misalnya panjang gelombang, frekuensi, bilngan gelombang, dan serapan. REm mempunyai vector listrik dan vector magnet yang bergetar dalam-dalam bidang-bidang yang tegak lurus satu sama lain dan masing-masing tegak lurus pada arah perambatan radiasi,(Vogel Svela, G. 1995). Perubahan warna mencerminkan suatu perubahan dalam

pengabsorbansian cahaya oleh larutan, yang menyertai perubahan konsentrasi dari spesies yang menyerap. Dalam suatu titrasi visual, sebenarnya orang menggunakan semua segi titrator fotometrik yang automatic, cahaya dilewatkan larutan menuju mata, yang merupakan transduser peka cahaya yang berespon dengan isyarat dan kalau tidak, membuatnya tepat untuk diteruskan ke system penyetopan aliran yang bersifat elektromekanis, (Khopkar, 2002).. Titik akhir itu kemudian dicari letaknya dengan titik potong garis-garis lurus yang diekstrapolasi, yang ditarik lewat titik-titik yang diambil secukupnya sebelum dan sesudah bagian yang membundar. Kurva titrasi semacam itu mudah dihitung, orang semata-mata menghitung konsentrasi spesies yang menyerap titik dimana saja, dengan menggunakan tetapan keseimbangan reaksi itu, kemudian menghitung sumbangan tiap spesies pada absorbansi dari larutan menurut Hukum Beer, (Underwood, 1981). Menurut hukum Bouguer-Beer, suatu alur absorbansi dengan konsentrasi molar akan berupa garis lurus dengan arah lereng. Tetapi sering kali pengukuran terhadap system kimia riil menghasilkan alur Hukum Beer yang tidak linear sepanjang seluruh jangka konsentrasi untuk sistem-sistem semacam itu, namun pemahaman yang lebih mendalam menimbulkan suatu pandangan yang agak lebih canggih, (Underwood, 1981).

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

2.2 Tinjauan Bahan 2.2.1 MSDS Sulfat Heptahidrat Cobaltous (CoSO4) 1) Produk kimia dan Identifikasi Perusahaan Nama Produk: sulfat heptahidrat Informasi Kontak Cobaltous: Katalog Kode: SLC4624 Sciencelab.com, Inc 14.025 Smith Rd. CAS #: 10026-24-1 Houston, Texas 77396 RTECS: GG3100000 AS Penjualan: 1-800-901-7247 Penjualan Internasional: 1-281-441-4400 TSCA: TSCA 8 (b) persediaan: sulfat Cobaltous Order Online: ScienceLab.com heptahidrat CI #: Tidak tersedia. CHEMTREC (24HR Telepon Darurat), hubungi: 1-800-424-930 Sinonim: Internasional CHEMTREC, hubungi: 1-703-527-3887 Nama kimia: Tidak tersedia. Untuk non-darurat, panggilan bantuan: 1-281-441-4400 Chemical Formula: CoSO4.7H2O 2) Komposisi dan Informasi Bahan Komposisi: Nama CAS #% dalam berat Sulfat heptahidrat Cobaltous 10026-24-1 100 Data toksikologis pada Bahan: sulfat heptahidrat Cobaltous: ORAL (LD50): akut: 582 mg / kg [Tikus].

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

3) Identifikasi Bahaya Potensi Efek Kesehatan Akut: Sangat berbahaya jika terjadi konsumsi. Berbahaya jika terjadi kontak kulit (iritan), kontak mata (iritan), dari inhalasi. Sedikit berbahaya jika terjadi kontak kulit (permeator). Efek Kesehatan kronis: Efek karsinogenik: Tidak tersedia. Efek mutagenik: Tidak tersedia. Efek teratogenik: Tidak tersedia. PEMBANGUNAN TOKSISITAS: Tidak tersedia. Substansi adalah racun bagi paru-paru, selaput lendir. Berulang atau berlangsung lama paparan zat tersebut dapat menghasilkan kerusakan target organ. 4) Tindakan Pertolongan Pertama Kontak Mata: Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Segera basuh mata dengan air selama minimal 15 menit, dengan kelopak mata tetap terbuka. Air dingin dapat digunakan. Jangan gunakan salep mata. Cari bantuan medis. Kulit Hubungi: Setelah kontak dengan kulit, segera cuci dengan banyak air. Lembut dan benar-benar mencuci kulit terkontaminasi dengan berjalan air dan non-abrasif sabun. Sangat berhati-hati ke padang bersih, celah, dan lipatan paha. Air dingin dapat digunakan. Tutup kulit yang teriritasi dengan yg melunakkan. Jika terjadi iritasi, dapatkan bantuan medis. Kulit Serius Hubungi: Cuci dengan sabun desinfektan dan menutupi kulit terkontaminasi dengan krim anti-bakteri. Mencari medis segera perhatian. Inhalasi: Izinkan korban untuk beristirahat di area yang berventilasi. Cari bantuan medis segera. Penghirupan serius: Tidak tersedia.
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 7

Tertelan: Jangan memaksakan muntah. Periksa bibir dan mulut untuk memastikan apakah jaringan rusak, indikasi yang mungkin bahwa bahan beracun tertelan; tidak adanya tanda-tanda seperti itu, bagaimanapun, tidak meyakinkan. Longgarkan pakaian yang ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang atau ikat pinggang. Jika korban tidak bernafas, melakukan mulut ke mulut resusitasi. Cari bantuan medis segera. Serius tertelan: Tidak tersedia. 5) Api dan Ledakan data Mudah terbakar Produk: Non-mudah terbakar. Auto-Ignition Suhu: Tidak dipakai. Poin Flash: Tidak dilakukan. Batas mudah terbakar: Tidak dipakai. Produk dari Pembakaran: Tidak tersedia. Bahaya Kebakaran di Hadirat Zat Berbagai: Tidak dipakai. Ledakan di Hadirat Zat Berbagai: Resiko ledakan produk di hadapan dampak mekanis: Tidak tersedia. Resiko ledakan produk di adanya listrik statis: Tidak tersedia. Kebakaran Media Berjuang dan Petunjuk: Tidak dipakai. Keterangan Khusus tentang Bahaya Api: Tidak tersedia. Keterangan Khusus tentang Ledakan Bahaya: Tidak tersedia. 6) Tindakan terhadap tumpahan dan kebocoran Tumpahan Kecil: Gunakan alat yang tepat untuk menempatkan tumpah padat dalam wadah pembuangan limbah nyaman. Selesai membersihkan dengan menyebarkan air di yang terkontaminasi permukaan dan

membuang sesuai dengan kebutuhan otoritas lokal dan regional. Tumpahan Besar: Gunakan sekop untuk menaruh materi ke dalam wadah pembuangan limbah nyaman. Selesai membersihkan dengan
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 8

menyebarkan air di terkontaminasi permukaan dan memungkinkan untuk mengevakuasi melalui sistem sanitasi. Hati-hati bahwa produk tidak hadir pada konsentrasi tingkat di atas NAB. Periksa NAB pada MSDS dan dengan pemerintah setempat. 7) Penanganan dan Penyimpanan Tindakan pencegahan: Jangan menelan. Jangan menghirup debu. Pakailah pakaian pelindung yang sesuai Dalam hal ventilasi cukup, pakai cocok peralatan pernapasan Jika tertelan, segera dapatkan saran medis dan tunjukkan wadah atau label. Hindari kontak dengan

kulit dan mata. Penyimpanan: Tidak ada penyimpanan khusus diperlukan. Gunakan rak atau lemari yang cukup kuat untuk menanggung berat dari bahan kimia. Pastikan bahwa itu adalah tidak perlu berusaha keras untuk mencapai material, dan bahwa rak tidak kelebihan beban. 8) Pengontrolan Pemaparan / Perlindungan Pribadi Rekayasa Kontrol: Gunakan lampiran proses, ventilasi pembuangan lokal, atau kendali teknik lain untuk menjaga kadar udara di bawah direkomendasikan paparan batas. Jika operasi pengguna menghasilkan debu, asap atau kabut, gunakan ventilasi untuk menjaga paparan kontaminan udara di bawah batas yang diperbolehkan. Pribadi Perlindungan: Splash kacamata. Lab mantel. Debu respirator. Pastikan untuk menggunakan respirator yang disetujui / bersertifikat atau setara. Sarung tangan. Pribadi Perlindungan di Kasus dari Tumpahan Besar: Splash kacamata. Penuh sesuai. Debu respirator. Boots. Sarung tangan. Sebuah alat bernafas mandiri contained harus digunakan untuk menghindari inhalasi produk. Pakaian pelindung yang
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 9

disarankan mungkin tidak cukup; periksakan ke dokter spesialis SEBELUM penanganan produk. Batas: NAB: 0,02 (mg/m3) dari ACGIH [1995] Konsultasikan otoritas setempat untuk batas pemaparan diterima. 9) Sifat Fisik dan Kimia Keadaan fisik dan penampilan: Solid. Bau: Tidak tersedia. Rasa: Tidak tersedia. Molekul Berat: 281,1 g / mol Warna: Tidak tersedia. pH (1% soln / air): Tidak tersedia. Titik didih: terurai. Melting Point: 96,8 C (206,2 F) Suhu kritis: Tidak tersedia. Spesifik Gravity: 2.03 (Air = 1) Tekanan Uap: Tidak dipakai. Kepadatan uap: Tidak tersedia. Volatilitas: Tidak tersedia. Bau Threshold: Tidak tersedia. Air / Minyak Dist. Coeff:. Tidak tersedia. Ionicity (dalam air): Tidak tersedia. Properti Dispersi: Lihat kelarutan dalam air. Kelarutan: Mudah larut dalam air dingin.

2.2.2 MSDS Air (H2O) 1) Produk Kimia dan Identifikasi Perusahaan Nama Produk: Air Informasi Kontak: Katalog Kode: SLW1063 Sciencelab.com, Inc 14.025 Smith Rd. CAS #: 7732-18-5 Houston, Texas 77396
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 10

RTECS: ZC0110000 AS Penjualan: 1-800-901-7247 Penjualan Internasional: 1-281-441-4400 TSCA: TSCA 8 (b) persediaan: Air Order Online: ScienceLab.com CI #: Tidak tersedia. CHEMTREC (24HR Telepon Darurat), hubungi: Sinonim: dihidrogen oksida 1-800-424-9300 Nama kimia: Air Internasional CHEMTREC, hubungi: 1-703527-3887 Chemical Formula: H2O Untuk non-darurat, panggilan bantuan: 1-281-441-4400
2) Komposisi dan Informasi Bahan

Komposisi: Nama CAS #% dalam berat Air 7732-18-5 100 Data toksikologis pada Bahan: Tidak dipakai.
3) Identifikasi Bahaya

Potensi Efek Kesehatan Akut: Non-korosif bagi kulit. Non-iritasi bagi kulit. Non-sensitizer untuk kulit. Non-permeator oleh kulit. Tidak menyebabkan iritasi pada mata. Non-berbahaya dalam hal konsumsi. Tidak berbahaya jika terjadi inhalasi. Non-iritasi bagi paru-paru. Non-sensitizer untuk paru-paru. Non-korosif pada mata. Non-korosif untuk paruparu. Potensi Efek Kesehatan kronis: Non-korosif bagi kulit. Non-iritasi bagi kulit. Non-sensitizer untuk kulit. Non-permeator oleh kulit. Tidak menyebabkan iritasi pada mata. Tidak dipakai dalam hal konsumsi. Tidak berbahaya jika terjadi inhalasi. Non-iritasi bagi paru-paru. Non-sensitizer untuk paruparu.
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 11

Efek karsinogenik: Tidak tersedia. Efek mutagenik: Tidak tersedia. Efek teratogenik: Tidak tersedia. PEMBANGUNAN TOKSISITAS: Tidak tersedia.
4) Tindakan Pertolongan Pertama

Kontak Mata: Tidak dipakai. Kulit Kontak: Tidak dilakukan. Kontak Kulit serius: Tidak tersedia. Inhalasi: Tidak dipakai. Penghirupan serius: Tidak tersedia. Tertelan: Tidak Berlaku Serius tertelan: Tidak tersedia.
5) Api dan Ledakan data

Mudah terbakar Produk: Non-mudah terbakar. Auto-Ignition Suhu: Tidak dipakai. Poin Flash: Tidak dilakukan. Batas mudah terbakar: Tidak dipakai. Produk dari Pembakaran: Tidak tersedia. Bahaya Kebakaran di Hadirat Zat Berbagai: Tidak dipakai. Ledakan di Hadirat Zat Berbagai: Tidak Berlaku Kebakaran Media Berjuang dan Petunjuk: Tidak dipakai. Keterangan Khusus tentang Bahaya Api: Tidak tersedia. Keterangan Khusus tentang Ledakan Bahaya: Tidak tersedia.
6) Tindakan terhadap tumpahan dan kebocoran

Tumpahan Kecil: Mop, atau menyerap dengan bahan inert dan tempat kering dalam wadah pembuangan limbah yang baik. Tumpahan Besar: Menyerap dengan bahan inert dan

menempatkan bahan yang tumpah dalam pembuangan limbah yang baik.


7) Penanganan dan Penyimpanan

Tindakan pencegahan: Tidak ada frase keselamatan spesifik ditemukan berlaku untuk produk ini.
CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG 12

Penyimpanan: Tidak dipakai.


8) Pengontrolan Pemaparan / Perlindungan Pribadi

Teknik Kontrol: Tidak Berlaku. Pribadi Perlindungan: Kacamata pengaman. Lab mantel. Pribadi Perlindungan di Kasus dari Tumpahan Besar: Tidak Berlaku Batas: Tidak tersedia.
9) Sifat Fisik dan Kimia

Keadaan fisik dan penampilan: Cairan. Bau: berbau. Rasa: Tidak tersedia. Berat Molekul: 18,02 g / mol Warna: tak berwarna. pH (1% soln / air): [. Netral] 7 Titik Didih: 100 C (212 F) Melting Point: Tidak tersedia. Suhu kritis: Tidak tersedia. Spesifik Gravity: 1 (Air = 1) Tekanan Uap: 2,3 kPa (@ 20 C) Kepadatan uap: 0.62 (udara = 1) Air / Minyak Dist. Coeff:. Tidak tersedia.

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

13

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Bahan dan Alat Percobaan 3.2.1 Bahan CoSO 0,07 M 25 ml Akuades

3.2.2 Alat Kuvet Botol semprot Beaker glass Pipet tetes Pipet ukur Spektronik 20 Bola hisap

3.2 Diagram Alir 3.2.1 Diagram Alir Pembuatan Larutan CoSO4 0.07M 25ml Ditimbang CoSO4 sebanyak 0.335 g

Dimasukkan kedalam beaker glass 50 ml

Ditambahkan akuades sebanyak 15 ml

Diaduk hingga rata (larut)

Dipindahkan kedalam labu ukur 25ml dan ditanda bataskan

Dibersihkan leher labu ukur menggunakan tisu

Dikocok sesuai dengan prosedur yang berlaku

Disebut larutan CoSO4 0.07 M 25ml

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

14

3.2.2 Menentukan Persen Tranmitan Dinyalakan alat spektronik 20 (30 menit) Diputar panjang gelombang 380 nm Diatur (%T)=0 (tanpa kuvet) Diatur %T = 100 (kuvet berisi akuades) Diukur %T untuk larutan CoSO 0.07 M ( 380nm650nm) kisaran 20 nm Diukur % T untuk larutan CoSO 0,07 M pada maksimal dengan kisaran 5 nm. Digambar spectrum absorpsi hubungan A( sumbu X) dan A (sumbu Y) Ditentukan panjang gelombang maksimumnya ( maks) Data

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan Contoh Perhitungan : A = 2 Log (%) = 2 Log 77,5 = 0,111 Tabel larutan CoSO4 0,07 M 25 ml(merah) kisaran 20 nm Panjang gelombang() 380 400 420 440 460 480 500 520 540 560 580 600 620 640 650 %T 77.5 79.9 84.5 74.7 63.7 57.7 51.7 49.9 60.5 77.7 87.1 95.6 88.7 88.7 88.7 A (2-log10(%T)) 0.111 0.098 0.073 0.127 0.196 0.239 0.287 0.302 0.218 0.110 0.060 0.019 0.052 0.052 0.052

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

16

Grafik hubungan antara panjang gelombang () pada sumbu X dan Absorbansi (A) pada sumbu Y yang berkisaran 20 nm
0.35 0.3 0.25 A maks

0.2
0.15 0.1 0.05 0 380 400 420 440 460 480 500 520 540 560 580 600 620 640 650

Grafik hubungan antara panjang gelombang () pada sumbu X dan Persen Transmitan (%T) pada sumbu Y yang berkisaran 20 nm
120 100 80 60 40 %T

20
0 380 400 420 440 460 480 500 520 540 560 580 600 620 640 650

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

17

Penentuan maks larutan CoSO4 0,07 M 25 ml (merah) kisaran 5 nm Panjang gelombang() 580 585 590 595 600 605 610 615 620 %T 87.1 76.8 88.7 90.1 95.6 88.4 92.2 78.9 88.7 A (2-log10(%T)) 0.060 0.115 0.052 0.045 0.019 0.054 0.035 0.103 0.052

Jadi panjang gelombang () maks = 600 nm Grafik hubungan antara panjang gelombang () pada sumbu X dan absorbansi (A) pada sumbu Y yang berkisaran 5 nm
0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 580 585 590 595 600 605 610 615 620 A Maks

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

18

Grafik hubungan antara panjang gelombang () pada sumbu X dan persen transmitan (%T) pada sumbu Y yang berkisaran 5 nm

120 100 80 60 40 20 0 %T

580

585

590

595

600

605

610

615

620

4.2. Perhitungan 4.2.1 Pembuatan CoSO4 0.07M 25ml Diketahui: Mr CoSO4 = 194.93 M CoSO4 = 0.07M V air pelarut = 0.025 L Ditanya: Berapa gram CoSO4 0.07M 25ml Penyelesaian: n = M V = 0.07 0.025 =1.75. gram CoSO4 = n Mr =1.75. = 0.271 g Alat yang digunakan: Beaker glass Botol semprot Batang pengaduk Labu ukur Pipet tetes Corong Kaca arloji Timbangan 194.93

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

19

4.3. Pembahasan Dalam analisis spektrometri digunakan suatu sumber radiasi yang menjorok ke dalam daerah ultraviolet spektrum itu, dari spektru ini, dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita kurang dari 1 nm, pada proses ini memerlukan penggunaan instrumen yang lebih rumit dan karenanya lebih mahal, instrument yang digunakan adalah spektrometer. Dari percobaan ini, kami bahwa panjang gelombang maksimum untuk larutan CoSO 0,07 M 25 ml adalah pada 600 nm, persen transmitan (%T) yaitu 95.6 dan pada absorbansi yaitu 0.019, Absorbansi maksimum sama dengan panjng gelombang maksimum (maks). Dari data percobaan tersebut memiliki dua gelombang cahaya yang mempunyai kisaran 20 nm dan 5 nm. Jumlah molekul juga menentukan energi pada panjang gelombang ini menimbulkan kenaikan gelombang yang sangat signifikan. Dapat disimpulkan bahwa semangkin besar nilai persen

transmitannya maka nilai absorbansinya menurun. Perubahan warna mencerminkan suatu perubahan dalam pengabsorpsian cahaya oleh larutan, yang menyertai perubahan konsentrasi dari spesies yang menyerap. Dalam suatu titrasi visual, seenarnya orang menggunakan semua segi titrator fotometrik yang automatic, cahaya dilewatkan larutan menuju mata, yang merupakan transduser peka cahaya yang berespon dengan isyrat dan kalau tidak, membuatnya tepat untuk diteruskan ke system penyetopan aliran yang bersifat elektromekanis Menurut hukum Bouguer-Beer, suatu alur absorbansi dengan konsentrasi molar akan berupa garis lurus dengan arah lereng. Tetapi sering kali pengukuran terhadap system kimia riil menghasilkan alur Hukum Beer yang tidak linear sepanjang seluruh jangka konsentrasi untuk system-sistem semacam itu, namun pemahaman yang lebih mendalam menimbulkan suatu pandangan yang agak lebih canggih.

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

20

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari percobaan ini, kami menyimpulkan bahwa panjang gelombang maksimum untuk larutan CoSO 0,07M 25ml adalah pada 600 nm, persen tranmitan (%T) yaitu 95.6 dan pada absorbansi. 0,019, Absorbansi maksimum sama dengan panjng gelombang maksimum (maks). Sedangkan nilai absorbansi maksimum yaitu 0.302 pada nilai panjang gelombang 420 nm persen tranmitan yaitu 49.9.

5.2 Saran Pada praktikum kali ini dan selanjutnya mudah-mudahan diperhatikan sebaiknya sebelum melakukan percobaan alat yang akan digunakan harus dalam keadaan bersih agar diperoleh hasil maksimal. Dan juga diberikan waktu yang lebih leluasa agar praktikan dapat menganalisa hasilnya dengan maksimal. Dalam melakukan praktek penentuan panjang gelombang maksimum kita menggunakan alat spektrophotometer atau spektronik 20 dan alat tersebut harus sama dengan 100 (%T). Dalam melakukan praktek ini, juga dibutuhkan ketelitian dan kecepatan dalam meletakan sample dalam alat agar panjang gelombangnya tepat.

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

21

DAFTAR PUSTAKA Alexeyev, V. 1969. Quantitative Analysis. Moscow: MIR Publishers (hal 406 410) Basri, S., 1996,Kamus Kimia,Rineka Cipta, Jakarta Day, R.A, & Underwood, A.L., Analisis Kimia Kuantitatif, edisi kelima., Erlangga, Jakarta,1986. Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT Gramedia (hal 176 187) Hardaji, W., Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta, 1990. Blog pada WordPress.com.http://rgmaisyah.wordpress.com/2008/11/22/titrimetri/ 04 Juni 2010 (oneline) (Sri Ratisah - 054828 - Pendidikan Kimia UPI) 2009.diakses tanggal 4 Juni 2010 jam 10:40(online) http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Sri%20Ratisah%2005482 8/materi.HTM http://en.wikipedia.org/wiki/Cobalt%28II%29_sulfate/ diakses pada tanggal 13 juni 2012/23.20 wib http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321/21_6_2012/23.00 wib http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9923518/21_6_2012/22.45 wib Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Ilmu Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia (hal 61) Michael Purba. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XI Semester 2. Jakarta: Erlangga

CHEMERICAL ENGINEERING TRIBHUWANA TUNGGADEWI UNIVERSITY MALANG

22