BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang

berlangsung secara sadar terencana dan berkelanjutan dengan sasaran utamanya adalah untuk manusia atau masyarakat suatu bangsa. Ini berarti bahwa pembangunan senantiasa beranjak dari suatu keadaan atau kondisi kehidupan yang kurang baik menuju suatu kehidupan yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan nasional suatu bangsa (Tjokroamidjojo & Mustopodidjaja, 1988 ; Siagian, 1985). Salah satu bukti pelaksanaan pembangunan nasional adalah adanya pengelolaan di bidang ekonomi yaitu perdagangan. Perdagangan pada umumnya merupakan kegiatan membeli barang di suatu tempat dan sewaktu – waktu dapat dijual kembali ditempat lain untuk mendapatkan keuntungan. Pedagang adalah orang yang melakukan kegiatan

perdagangan dan salah satu contoh pedagang ini adalah pedagang kaki lima yang merupakan sector informal dalam perekonomian. Dalam perkembangannya, keberadaan pedagang kaki lima di perkotaan Indonesia mengalami masalah – masalah yang terkait dengan gangguan dalam keamanan dan ketertiban masyarakat. Kesan kumuh, liar dan merusak keindahan sudah melekat pada usaha mikro ini. Mereka berjualan di trotoar jalan, di taman – taman kota, jembatan penyebrangan bahkan badan jalan pun dijadikan sebagai tempat berjualan. Pemerintah

1

sudah berulang kali melakukan penertiban terhadap PKL ini karena ditengarai sebagai penyebab kemacetan. Perihal timbulnya pedagang kaki lima ini karena adanya suatu kondisi dimana pembangunan dan pendidikan yang tidak merata di seluruh Indonesia. Para PKL ini juga timbul akibat tidak adanya lapangan kerja bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan untuk berproduksi. Jadi wajar saja para pedagang kaki lima ini merupakan imbas dari banyaknya jumlah rakyat miskin di Indonesia. Mereka berdagang karena tidak ada pilihan lain, tidak memiliki pendidikan yang memadai, tingkat pendapatan ekonomi yang kurang baik dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan

untuk mereka. Dalam Undang – Undang dasar 1945 pasal 27 ayat 2 berbunyi ” Tiap – tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal ini memberikan pengertian bahwa pemerintah memiliki peran dan tanggung jawab dalam memberantas pengangguran dan mengusahakan lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya dengan upah yang layak pula untuk hidup. Di Indonesia belum ada Undang – Undang yang khusus mengatur tentang pedagang kaki lima ini tapi hanya ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengaturnya. Peraturan Daerah ini dibuat oleh masing – masing daerah untuk mengatur masalah – masalah yang terdapat di daerahnya. Kalaupun ada Undang – undang yang dibuat pemerintah itu lebih mengacu

2

kepada usaha mikro, kecil menengah yaitu UU no 20 tahun 2008 dan UU no 19 tahun 1995 tentang usaha kecil Permasalahan pedagang kaki lima ini yang telah menjadi fenomena di kota – kota besar khususnya di kota Payakumbuh yang juga banyak terdapat pedagang kaki lima. Untuk itu pemerintah harus memiliki peran dan tanggung jawab dalam menangani masalah pedagang kaki lima ini yaitu dengan mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan daerah yang mengatur tentang pedagang kaki lima. Salah satu kebijakan pemerintah kota Payakumbuh adalah Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 yang mengatur tentang Pedagang kali lima ini. Beberapa peraturan perundangan tersebut diatas merupakan kebijakan publik (public policy) atau yang sering disebut kebijakan negara, karena kebijakan itu dibuat negara. Bila dikaitkan dengan tujuan kebijakan, maka yang hendak dicapai adalah untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera untuk kaum marginal di Indonesia. Kebijakan public merupakan keputusan – keputusan orang banyak pada tataran strategis yang dibuat oleh pemegang otoritas public. Sedangkan pengertian kebijakan menurut Frederich yang dikutip oleh Rahmadani Yusran dkk (2006 : 7) merupakan ”Serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dengan menunjukkan kesulitan – kesulitan atau kemungkinan – kemungkinan urutan kebijksanaan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu”.

3

Dalam Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 menyatakan bahwa untuk melaksanakan suatu kegiatan ekonomi baik dari sector formal maupun informal seperti pedagang kaki lima adalah hak masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok. Selain itu guna meningkatkan usaha sector informal di daerah tercakup di dalamnya pedagang kaki lima ataupun pedagang malam perlu memperoleh jaminan termasuk perlindungan, pembinaan dan pengaturan dalam melakukan usahanya agar berdaya guna dan berhasil guna serta meningkatkan kesejahteraan. Berdasarkan Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 pasal 1 no 7 menjelaskan pedagang kaki lima adalah pedagang yang melakukan usaha perdagangan non formal dengan menggunakan lahan terbuka atau tertutup sebagian baik fasilitas umum yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah sebagai tempat kegiatan usahanya baik dengan menggunakan peralatan bergerak atau peralatan bongkar pasang sesuai waktu yang telah ditentukan. Di kota Payakumbuh jumlah pedagang kaki lima sudah banyak yang menempati pasar Payakumbuh yang terdiri dari pedagang makanan, pedagang buah, pedagang sayuran, pedagang makanan spesifik kota Payakumbuh seperti beras rendang, karak kaliang, batiah, galamai, pedagang sepatu, pedagang pakaian wanita, pedagang kain, pedagang tas dan pedagang aksesoris . Namun keberadaaan mereka masih belum teratur dan berseliweran di pinggir jalan sehinggga membuat keadaan di pasar

4

Payakumbuh menjadi padat dan macet. Apalagi hari minggu banyak pedagang mingguan yang datang dari berbagai daerah luar kota Payakumbuh untuk berjualan di pasar Payakumbuh menambah jumlah pedagang kaki lima yang berjualan di pasar Payakumbuh. Kebanyakan dari pedagang kaki lima ini tidak memiliki tempat untuk berjualan atau toko. Mereka pada umumnya berjualan di pinggir jalan dan memadati hampir seluruh lokasi pasar bahkan trotoar pun dijadikan sebagai tempat untuk menggelar dagangannya. Para pedagang ini bahkan berjualan hampir ke tengah jalan raya sehingga kendaraan pun susah untuk lewat ditambah lagi dengan pejalan kaki yang padat memenuhi pasar. Melihat kondisi ini Pemko Payakumbuh membentuk suatu kebijakan pemerintah berupa Peraturan Daerah Kota Payakumbuh yaitu Perda Kota Payakumbuh No 9 Tahun 2010 Tentang Pedagang Kaki Lima \Dan Pedagang Malam serta Perwako Payakumbuh No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Lokasi / Penempatan Dan Penjenisan Pedagang Kaki Lima Di Pusat Pertokoan Payakumbuh. Adapun tujuan pembentukan perda dan perwako ini untuk mengantisipasi terjadinya kesemrawutan dan sekaligus menciptakan suasana yang tertib di pasar dengan adanya penataan terhadap pedagang kaki lima di pasar payakumbuh. .

5

Melihat permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk mengambil judul skripsi ”IMPLEMENTASI PERDA KOTA

PAYAKUMBUH

NO 9 TAHUN 2010 DALAM PENATAAN

PEDAGANG KAKI LIMA DI PASAR PAYAKUMBUH” B. Identifikasi Masalah 1. Jumlah Pedagang kaki lima yang sangat banyak sehingga mereka berjualan menggunakan fasilitas umum 2. Semrawutnya tata ruang di pasar sehingga mengganggu ketertiban umum 3. Terganggunya proses pelaksanaan K3 di pasar Payakumbuh 4. Apabila hari pasar di kota payakumbuh yaitu hari minggu jumlah pedagang melebihi jumlah pada hari biasa karena mereka yang berjualan banyak datang dari berbagai daerah sehingga menimbulkan kemacetan 5. Sering terjadinya aksi kekerasan antara pedagang dengan petugas satpol PP dalam rangka penertiban pedagang kaki lima khususnya pedagang liar yang berjualan sayur dan kebutuhan rumah tangga. C. Batasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka penulis membatasi masalah pada Implementasi Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima di Pasar Payakumbuh.

6

D. Rumusan Masalah 1. Bagaimana implementasi Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima di Pasar Payakumbuh? 2. Apa saja kendala yang dihadapi Pemerintah kota Payakumbuh dalam implementasi Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima di Pasar Payakumbuh? 3. Apa saja upaya yang dapat dilakukan Pemerintah Kota Payakumbuh dalam mengatasi kendala dan hambatan terhadap impelemntasi Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima di Pasar payakumbuh E. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui apa saja hambatan yang dihadapi dalam implementasi Perda Kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam melakukan penataan terhadap pedagang kaki lima di Pasar Payakumbuh 2. Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan Pemerintah Kota Payakumbuh dalam mengatasi hambatan dalam penataan pedagang kaki lima di Pasar Payakumbuh 3. Untuk mengetahui bagaimana respon dari pedagang kaki lima terhadap pelaksanaan kebijakan pemko payakumbuh tentang pengaturan dan penataan pedagang kaki lima.

7

F. Manfaat Penelitian 1. Teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk pengembangan konsep ilmu Administrasi Negara khususnya yang berhubungan dengan Kebijakan Publik 2. Praktis a. Bagi pemerintah Memberikan informasi yang bermanfaat sebagai acuan dalam pengambilan keputusan terutama dalam menangani penataan pedagang kaki lima di Pasar Payakumbuh b. Bagi Mahasiswa Memberikan pengetahuan dan wawasan serta kemampuan

menganalisis permasalahan yang ada mengenai penanganan terhadap pedagang kaki lima. c. Bagi masyarakat Memberikan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat untuk mengetahui kebijakan yang dibuat pemerintah dalam penataan pedagang kaki lima

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP KEBIJAKAN PUBLIK 1.1 Defenisi kebijakan dan kebijakan publik Kebijakan merupakan suatu rangkaian alternatif yang siap dipilih berdasarkan prinsip – prinsip tertentu. Kebijakan juga merupakan suatu hasil analisis yang mendalam terhadap berbagai alternative yang bermuara kepada keputusan tentang alternative terbaik. Istilah kebijakan diambil dari kata ”Policy” dalam kamus Besara Bahasa Indonesia diartikan sebagai : kepandaian, kemahiran, dan kebijkasanaan”. Dalam hal ini policy dipergunakan untuk berbuat baik, positif atau menguntungkan Sementara itu menurut Dunn (1998 : 51) : bahwa secara etimologi istilah policy (kebijakan) berasal dari bahasa Yunani, sansekerta dan latin. ”Akar kata dari bahasa Yunani dan Sansekerta polis (negara kota) dan pur (kota) kemudian dikembangkan dalam bahasa latin menjadi politia ( negara) dan akhirnya dalam bahasa inggris police yang artinya menangani masalah – masalah public atau administrasi pemerintah. Pandangan Dunn ini pada prinsipnya sama dengan apa yang diungkapkan oleh Hoogerwerf yang tujuan akhirnya adalah penyelesaian masalah.

9

Menurut pendapat Hoogerwerf (1983 : 4) : kebijakan dapat dilukiskan sebagai usaha untuk mencapai tujuan tertentu dengan sarana tertentu dalam urutan waktu tertentu. Kebijakan merupakan jawaban terhadap suatu masalah Jadi kebijakan adalah upaya untuk memecahkan, mengurangi atau mencegah suatu masalah dengan cara tertentu yaitu dengan tindakan yang terarah sehingga dalam hal ini dapat diharapkan perasalahan public dapat diatasi walaupun secara perlahan. Carl Frederick dalam ( Solichin, 2002 : 3) mendefenisikan kebijakan sebagai : ” suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan hambatan – hambatan tertentu seraya mencari peluang – peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan.” Dalam hal ini pemerintah adalah suatu badan hukum yang tak lain bertugas dalam membuat putusan – putusan public dimana keputusan – keputusan itu merupakan suatu kebijakan yang disebut juga dengan kebijakan pemerintah yang tujuanny untuk ditaat oleh seluruh lapisan masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Dunn (1998 : 132) bahwa : ”kebijakan public adalah pola ketergantungan yang kompleks dari pilihan – pilihan kolektif yang saling tergantung, termasuk keputusan – keputusan untuk bertindak yang dibuat oleh badan atau kantor pemerintah ”

Maksud dari kutipan diatas adalah bahwa setiap kebijakan yang dibuat memiliki sifat yang mengikat secara menyeluruh terhadap objeknya

10

sehingga siapapun dia atau instansi apapun dia tidak bisa bertindak di luar isi kebijakan itu. Sementara menurut Thomas R. Dye dalam Solichin (2002 : 4 – 5) kebijakan pemerintah adalah pilihan tindakan aparatur yang dilakukan atau tidak ingin dilakukan oleh pemerintah Dalam suatu kebijakan pemerintah diperlukan pula adanya sanksi sebagaimana yang dikemukakan oleh Udoji dalam Solichin (2002 : 5) bahwa : ”kebijakan pemerintah itu adalah suatu tindakan bersanksi yang mengarah pada suatu masalah atau sekelompok masalah tertentu yang saling berkaitan yang mempengaruhi sebagian besar warga masyarakat.”

Disini digambarkan bahwa kebijakan pemerintah merupakan produk hukum yang harus ditaati oleh semua pihak. Ciri – ciri khusus yang melekat pada kebijakan –kebijakan pemerintah bersumber pada kenyataan bahwa kebijakan yang dirumuskan oleh apa saja menurut Easton dalam Islamy (2002 : 20) disebut sebagai ”orang – orang yang memiliki kewenangan dalam system politik seperti para eksekutif. Legislative, para hakim administrator dan sebagainya”. Mereka itulah yang berhak untuk mengambil tindakan – tindakan tertentu sepanjang tindakan – tindakan itu berada dalam batas – batas peran dan kewenangan mereka.

11

1.2 Ciri -Ciri Umum Kebijakan Publik Ciri umum kebijakan seperti yang diungkapkan Zainal Abidin (2006) adalah sebagai berikut: a. Setiap kebijakan mesti ada tujuannya. Artinya pembuatan suatu kebijakan tidak boleh sekedar asal buat atau karena kebetulan ada kesempatan membuatnya b. Setiap kebijakan tidak berdiri sendiri terpisah dari kebijakan yang lain tetapi berkaitan dengan berbagai kebijakan dalam masyarakat, dan berorientasi pada pelaksanaan, interpretasi dan penegakan hukum c. Kebijakan adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah buka apa yang ingin atau diniatkan akan dilakukan pemerintah d. Kebijakan dapat berbentuk negative atau melarang dan juga dapat berupa pengarahan untuk melaksanakan atau

menganjurkan e. Kebijakan didasarkan pada hokum, karena itu memiliki kewenangan untuk memaksa masyarakat untuk mematuhinya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) nomor : PER/04/MPAN/2007menjelaskan bahwa dalam membentuk suatu kebijakan public pada dasarnya mempunyai 6 nilai dasar kebijakan : a. Kebijakan tersebut bersifat cerdas dalam arti memecahkan masalah yang dapat dipertanggungjawabkan kepada public dari segi manfaat kualitas, dan akuntabel

12

b. Kebijakan tersebut bersebut bijaksana dalam arti tidak menghasilkan masalah baru yang lebih besar daripada masalah yang dipecahkan c. Kebijakan public tersebut memberikan harapan kepada seluruh warga bahwa mereka dapat memasuki hari esok lebih baik daripada hari ini d. Kebijakan public adalah kepentingan public, bukan kepentingan Negara, pemerintah, atau birokrasi saja e. Kebijakan public harus mampu memotivasi semua pihak yang terkait untuk melaksanakan kebijakan tersebut dari dalam diri mereka f. Kebijakan public harus mendorong terbangunnya produktivitas kehidupan bersama yang efisien dan efektif. 1.3. Jenis – Jenis Kebijakan Publik Menurut Nugroho dalam Pasolong (2010 : 40) kebijakan public dibagi menjadi 3 kelompok yaitu : 1. Kebijakan yang bersifat makro yaitu kebijakan atau peraturan yang bersifat umum seperti yang telah disebutkan diatas. 2. Kebijakan yang bersifat meso yaitu kebijakan yang bersifat menengah atau memperjelas pelaksanaan, seperti kebijakan menteri, peraturan gubernur, peraturan bupati dan peraturan walikota 3. Kebijakan yang bersifat mikro yaitu kebijakan yang bersifat mengatur pelaksanaan atau implementasi dari kebijakan diatasnya seperti kebijakan yang dikeluarkan oleh aparat public di bawah menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota.

13

Sedangkan menurut Anderson dalam Subarsono (2005 : 19) mengatakan jenis – jenis kebijakan public yaitu : a. Kebijakan subtantif vs kebijakan procedural Kebijakan subtantif adalah kebijakan yang menyangkut apa yang dilakukan pemerintah seperti kebijakan subsidi bahan bakar minyak. Sedangkan kebijakan procedural adalah bagaimana kebijakan subtantif tersebut dilaksanakan b. Kebijakan distributive vs kebijakan regulator vs kebijakan re distributive Kebijakan distributive menyangkut distribusi pelayanan atau

kemanfaatan pada masyarakat atau individu. Kebijakan regulatori yaitu kebijakan yang berupa pembatasan atau pelarangan terhadap perilaku individu atau sekelompok orang. Kebijakan redistributive yaitu kebijakan yang mengatur alokasi kekayaan pendapatan, pemilikan atau hak – hak diantara kelompok dalam masyarakat. c. Kebijakan material vs kebijakan simbolis. Kebijakan material adalah kebijakan yang memberikan keuntungan sumber daya konkrit pada kelompok sasaran. Sedangkan kebijakan simbolis adalah kebijakan yang memberikan manfaat simbolis kepada kelompok sasaran. d. Kebijakan yang berhubungan dengan barang public dan barang privat. Kebijakan barang public adalah kebijakan yang bertujuan untuk mengatur pemberian barang atau pelayanan public. Sedangkan

14

kebijakan barang privat adalah kebijakan yang mengatur penyediaan barang atau pelayanan untuk pasar bebas. 1.4 Sifat Kebijakan Publik Menurut Budi Winarno sifat kebijakan biasa diperinci menjadi beberapa kategori : a. Tuntutan kebijakan (policy demands) adalah tuntutan – tuntutan yang dibuat oleh actor – actor swasta dan pemerintah ditujukan kepada pejabat – pejabat pemerintah atau system politik b. Kepuasan kebijakan (policy decision) didefenisikan sebagai keputusan – keputusan yang dibuat oleh pejabat – pejabat pemerintah yang mengesahkan atau member arah dan substansi kepada tindakan – tindakan kebijakan public. Termasuk dalam kegiatan ini adalah menetapkan Undang – Undang, memebri perintah – perintah eksekutif atau pernyataan – pernyataan resmi, mengumumkan peraturan – peraturan administrative atau membuat interpretasi yuridis terhadap undang – undang. c. Pernyataan kebijakan (public statement) adalah pernyataan – pernyataan resmi atau artikulasi – artikulasi kebijakan public yang termasuk dalam kategori ini adalah undang – udang legislative, perintah – perintah dan dekrit presiden, peraturan – peraturan administratif dan pengadilan, maupun penyataan –

pernyataan atau pidato – pidato pejabat pemerintah yang

15

menunjukkan maksud dan tujuan pemerintah dan apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan itu. d. Hasil kebijakan (policy output) lebih merujuk kepada manifestasi nyata dari kebijakan public, hal- hal yang sebenarnya dilakukan menurut keputusan – keputusan dan pernyataan – penyataan kebijakan e. Dampak kebijakan (policy outcomes) lebih merujuk pada akibat – akibat tindakannya atau tidak adanya tindakan pemerintah ( Budi Winarno, 2002 : 19 – 20) Dari defenisi sifat kebijakan public diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebuah kebijakan yang dibuat oleh actor pemerintahan tidak hanya dibuat dalam suatu bentuk yang positif berupa undang – undang, kemudian didiamkan dan tidak diimplementasikan, tetapi sebuah kebijakan public harus dilaksanakan agar memiliki dampak yang nyata serta memiliki tujuan yang diinginkan dari pembuatan kebijakan tersebut. Setelah kebijakan ini diimplementasikan maka akan dapat dilihat pelaksanaannya ini dan dapat dievaluasi. 1.5 Proses Kebijakan Publik 1. Analisis kebijakan E.S Quade dalam Nugroho (2006 : 57) mengatakan bahwa asal mula analisis kebijakan disebabkan oleh banyaknya kebijakan yang tidak memuaskan. Begitu banyak kebijakan yang tidak dapat memecahkan masalah kebijakan bahkan menciptakan masalah

16

baru. William N Dunn dalam Pasolong (2010 : 41) mengatakan bahwa analisis kebijakan adalah disiplin ilmu social terapan yang menggunakan berbagai metode penelitian dan argument untuk menghasilkan dan meindahkan informasi relevan dengan

kebijakan sehingga dapat dimanfaatkan di tingkat politik dalam rangka memecahkan masalah – masalah kebijakan. Nugroho dalam pasolong (2010 : 41) mengatakan bahwa analisis kebijakan pemahaman akan suatu kebijakan atau pula pengkajian untuk merumuskan suatu kebijakan. Proses analisis kebijakan dibedakan atas penstrukturan masalah atau identifikasi masalah, identifikasi alternatif dan pengusulan alternative terbaik untuk

diimplementasikan. a. Identifikasi Masalah Badujri dalam Pasolong (2010 : 42) mengatakan pada dasarnya kebijakan public terjadi karena adanya masalah yang perlu ditangani secara serius. Tanpa adanya masalah maka kebijakan public tidak akan timbul. Informasi tentang suatu masalah kebijakan public dapat diperoleh lewat sumber tertulis seperti indicator social, data – data sensus, laporan – laporan survey, jurnal, Koran dan juga melalui interview dengan masyarakat secara lansung. Berbagai metode sering digunakan dalam merumuskan masalah sehingga masalah tersebut dapat dipahami dengan baik. Menurut Subarsono dalam Pasolong (2010

17

: 43) yaitu : analisis batas merupakan usaha memetakan masalah melalui snowball sampling dan stakeholders. Hal ini disebabkan karena adanya masalah yang tidak jelas dan rumit, sehingga memerlukan bantuan stakeholders untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan masalah bersangkutan. Analisis klasifikasi yakni mengklasifikasikan masalah dalam ketegori – ketegori tertentu dengan tujuan untuk memudahkan analisis. Analisis hirarki, yakni metode untuk menyusun masalah berdasarkan sebab – sebab yang mungkin dari suatu masalah. Brainstorming yakni metode untuk merumuskan masalah melalui curah pendapat dari orang – orang yang mengetahui kondisi yang ada. Analisis perspektif ganda yaitu untuk memperoleh

pandangan bervariasi dari perspektif yang berbeda mengenai suatu masalah dan pemecahannya. b. Identifikasi Alternatif Apabila masalah tersebut telah disetujui untuk dipecahkan atau dengan kata lain tujuan – tujuan yang akan dicapai telah disetujui maka pertanyaan – pertanyaan untuk tahap berikutnya adalah model – model atau teori – teori apa yang mampu mengidentifikasi factor – factor penyebab dan berdasarkan analisis tersebut mengembangkan alternative – alternative kebijakan

18

c. Seleksi Alternatif Dalam analisis kebijakan seleksi alternative merupakan salah satu tahap yang sangat Quade (dalam Pasolong, 2010). Dalam tahap ini seseorang perencana atau policy analist akan melakukan seleksi alternative yang terbaik untuk diajukan ke policy makers. Untuk menyeleksi atau memilih diantara alternative kebijakan yang ada secara efektif diperlukan criteria atau standar yang rasional. Pembahasan mengenai criteria tersebut sudah secara luas dibahas dalam berbagai literatur kebijakan public Quade (1982) dan Dunn ( dalam Pasolong) 1. Menyepakati criteria alternatif 2. Penentuan alternatif terbaik 3. Pengusulan alternatif terbaik 2. Pengesahan kebijakan M Irfan Islamy dalam Pasolong (2010 : 51) mengatakan bahwa proses pengesahan kebijakan dapat pula dikatakan sebagai pembuatan keputusan. Oleh karena suatu susulan kebijakan yang dibuat oleh orang atau badan dapat saja usulan itu disetujui oleh pengesah kebijakan. Proses pengesahan kebijakan adalah proses penyesuaian dan penerimaan secara bersama terhadap prinsip – prinsip yang diakui dan ukuran – ukuran yang diterima. Landasan utama untuk melakukan pengesahan kebijakan ialah variable social seperti system nilai masyarakat, ideology Negara, system

19

politik dan sebagainya. Menurut James E Anderson dalam Islamy (1986 : 100) bahwa proses pengesahan kebijakan baiasanya diawali dengan kegiatan “persuasion” dan “bargaining”.

Persuasion diartikan oleh Anderson sebagai usaha – usaha untuk meyakinkan orang lain tentang suatu kebenaran atau nilai kedudukan seseorang sehingga mereka mau menerimanya sebagai miliknya sendiri. 1.6 Teori Formulasi kebijakan Teori formulasi kebijakan telah dirumuskan oleh R. Dye dalam Pasolong (2010 : 52), Sembilan teori secara lengkap sebagai berikut : a. Teori kelembagaan Teori yang secara sederhana mengatakan bahwa tugas membuat kebijakan adalah tugas pemerintah. Oleh karena itu apapun dan cara apapun yang dibuat oleh pemerintah pada dasarnya dapat dikatakan sebagai kebijakan public. Teori ini merupakan teori yang paling sederhana dalam formulasi kebijakan public, karena teori ini hanya mendasarkan pada fungsi – fungsi kelembagaan pemerintah disetiap sector dan tingkat dalam formulasi kebijakan dikatakan R Dye dalam Pasolong (2010 : 53) bahwa ada tiga hal yang membenarkan teori yaitu pemerintah memang sah membuat kebijakan public fungsi tersebut bersifat universal, karena pemerintah mempunyai hak memonopoli fungsi mengatur dalam proses kegiatan public.

20

b. Teori proses Teori yang berasumsi bahwa politik merupakan sebuah aktivitas sehingga mempunyai proses. Teori ini memberi rujukan tentang bagaimana kebijakan dibuat atau seharusnya dibuat, namun memberikan tekanan pada substansi seperti apa yang harus ada. c. Teori kelompok Teori yang mengendalikan kebijakan sebagai titik keseimbangan. Inti teori ini adalah interaksi di dalam kelompok akan menghasilkan keseimbangan yang terbaik. Individu dan

kelompok – kelompok kepentingan berinteraksi secara formal dan informal dan secara lansung atau melalui media massa menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah untuk melahirkan kebijakan public yang dibutuhkan. Teori kelompok pada dasarnya merupakan abstraksi dari formulasi kebijakan yang akan dibuat. d. Teori elit Teori yang berkembang dari teori politik elit massa yang melandaskan diri pada asumsi bahwa dalam setiap masyarakat pasti terdapat dua kelompok yaitu pemegang kekuasaan atau elit dan tidak memiliki kekuasaan atau massa. Menurut Nugroho dalam Pasolong (2010 : 54) mengatakan bahwa ada dua penilaian dalam teori ini yaitu negative dan positif.

21

e. Teori rasional Teori yang mengedepankan gagasan bahwa kebijakan public sebagai maksimum social gain berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus memilih kebijakan yang memberikan manfaat yang terbaik bagi masyarakat. teori ini mengatakan bahwa proses formulasi kebijakan harus didasarkan kepada keputusan yang sudah diperhitungkan tingkat rasionalitasnya. Adapun langkah – langkah dalam memformulasikan kebijakan : 1. Mengetahui prefensi public dan kecendrungan nya 2. Menemukan pilihan – pilihan 3. Menilai konsekuensi masing – masing pilihan 4. Menilai rasional nilai social yang dikorbankan 5. Memilih alternative kebijakan paling efisien. f. Teori inkrementalis. Teori inkrementalis pada dasarnya merupaka kritik terhadap teori rasional. Teori ini berasumsi bahwa kebijakan public merupakan variasi ataupun kelanjutan dari kebijakan di masa lalu. Teori ini dapat dikatakan sebagai teori pragmatis. g. Teori permainan Teori ini muncul setelah berbagai pendekatan yang sangat rasional tidak dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan yang muncul dan sulit diterangkan dengan fakta – fakta yang tersedia karena sebagian besar dari keseluruhan fakta tersebut

22

tersembunyi. Teori permainan ini sangat abstrak dan dedutif dalam formulasi kebijakan. h. Teori pilihan public Teori ini melihat kebijakan sebagai proses formulasi keputusan kolektif dari individu – individu yang berkepentingan atas keputsan tersebut. Inti dri teori ini adalah bahwa sebuah kebijakan public yang dibuat oleh pemerintah harus merupakan pilihan public yang menjadi pengguna. Dengan demikian dalam formulasi kebijakan public akan melibatkan public melalui kelompok – kelompok kepentingan. i. Teori sistem Dalam teori ini dikenal tiga komponen yaitu input, proses, output. Salah satu kelemahan dari teori ini adalah terpusatnya perhatian pada tindakan – tindakan yang dilakukan pemerintah dan pada akhirnya kita kehilangan pada apa yang tidak pernah dilakukan pemerintah. Formulasi kebijakan dengan neggunakan teori system ini mengasumsikan bahwa kebijakan merupakan hasil atau output dari sistem politik. j. Teori demokrasi Menurut Nugroho dalam Pasolong (2010 : 57) dikatakan teori “model demokrasi” karena menghendaki agar setiap pemilik hak demokrasi diikutsertakan sebanyak mungkin. Teori ini biasanya dikaitkan dengan implementasi Good Governance bagi

23

pemerintahan yang menggunakan agar dalam membuat kebijakan para konstituen dan pemanfaat diakomodasi keberdaannya. Teori model demokrasi ini kemudian dikembangkan antara lain mejadi model “ democratic governance”. B. Konsep Implementasi kebijakan 2.1. Pengertian implementasi kebijakan Bernadine R Wijaya & Susilo Supardo dalam Pasolong (2010 : 57) mengatakan bahwa impelemntasi adalah proses

mentransformasikan suatu rencana ke dalam praktik. Hinggis dalam Pasolong (2010 : 57) mendefenisikan implementasi sebagai

rangkuman dari berbagai kegiatan yang di dalamnya sumber daya manusia menggunakan sumber daya lain untuk mencapai sasaran strategi. Grindle dalam Pasolong (2010 : 57) implementasi sering dilihat sebagai suatu proses yang penuh dengan muatan politik dimana mereka yang berkepentingan berusaha sedapat mungkin

mempengaruhinya.Gordon dalam Pasolong (2010 : 58) mengatakan bahwa implementasi berkenaan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan pada realisasi program. Dalam hal ini seorang administrator mengatur cara untuk mengorganisir, mengeinterpretasikan dan menerapkan kebijakan yang telah diseleksi. Menggorganisir berarti mengatur sumber daya, unit – unit danmetode – metode untuk melaksanakan program. Melakukan interpretasi berkenaan dengan mendefenisikan istilah – istilah program ke dalam rencana – rencana

24

dan petunjuk – petunjuk yang dapat diterima dan feasible. Menerapkan berarti menggunakan instrument – instrument mengerjakan atau memberikan pelayanan rutin melakukan pembayaran – pembayaran, atau dengan kata lain implementasi merupakan tahap realisasi tujuan – tujuan program. Dalam hal ini yang diperlukan adalah persiapan implementasi yaitu memikirkan dan menghitung secara matang berbagai berbagai kemungkinan keberhasilan dan kegagalan termasuk hambatan atau peluang – peluang yang ada dan kemampuan organisasi yang diserahi tugas melaksanakan program. Adapun dalam implementasi kebijakan terdapat berbagai hambatan. Yaitu : a. hambatan politik, ekonomi, dan lingkungan b. kelemahan institusi c. ketidakmampuan SDM di bidang teknis dan administrastif d. kekurangan dalam bantuan teknis e. kurangnya desentralisasi dan partisipasi f. pengaturan waktu g. system informasi yang kurang mendukung h. perbedaan agenda tujuan antara actor i. dan dukungan yang berkesinambungan

25

3.2 Faktor pendukung implementasi kebijakan Adapun syarat – syarat untuk dapat mengimplementasikan kebijakan Negara secara sempurna menurut teori implementasi Brian W. Hogwood dan Lewis A. Gun (Abdul Wahab. 1997 : 71 – 78) yaitu : a. Kondisi eksternal yang dihadapi oleh badan atau instansi pelaksana tidak akan menimbulkan gangguan atau atau kendala yang serius. b. Untuk pelaksanaan program tersedia waktu dan sumber – sumber yang cukup memadai c. Perpaduan sumber – sumber yang diperlukan benar – benar tersedia d. Kebijaksanaan yang akan diimplementasikan didasarkan oleh suatu hubungan kausalitas yang handal e. Hubungan kausalitas bersifat lansung dan hanya sedikit mata rantai penghubungnya f. Hubungan saling ketergantungan harus kecil g. Pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan h. Tugas – tugas diperinci dan ditempatkan dalam urutan yang tepat i. Komunikasi dan koordinasi yang sempurna

26

j. Pihak – pihak yang memiliki wewenang kekuasaan dapat menuntut dan mendapatkan kepatuhan yang sempurna. Menurut teori implementasi George C Edwards III terdapat empat variable yang berperan penting dalam pencapaian keberhasilan implementasi. Empat variable tersebut adalah : a. Komunikasi, menunjuk bahwa setiap kebijakan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika terjadi komunikasi antara pelaksana program (kebijakan) dengan para kelompok sasaran ( target group) b. Sumber daya, menunjuk setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia maupun sumber daya financial. Sumber daya manusia adalah kecukupan baik kualitas maupun kuantitas

implementor yang dapat melingkupi seluruh kelompok sasaran. Sumber daya financial adalah kecukupan modal investasi atas sebuah program kebijakan. Keduanya harus diperhatikan dalam implementasi program pemerintah. c. Disposisi, yaitu menunjuk karakteristik yang menempel erat kepada implementor kebijakan.karakter yang penting yang harus dimiliki oleh implementor yaitu kejujuran, komitmen dan demokratis. d. Struktur birokrasi, menunjuk bahwa strukutur birokrasi menjadi penting dalam implementasi kebijakan. Aspek

27

struktur birokrasi ini mencakup dua hal penting yaitu pertama adalah mekanisme, dan yang kedua struktur organisasi pelaksana sendiri. Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui standar

operating prosedur yang dicantumkan dalam guideline program kebijakan. C. KONSEP PERATURAN DAERAH 3.1 Pengertian Peraturan Daerah Peraturan daerah merupakan peraturan perundang – undangan yang dibentuk Dewan Perwakilan Daerah dengan persetujuan kepala daerah. Defenisi lain tentang Perda berdasarkan ketentuan Undang – Undang tentang pemerintahan daerah yaitu UU no 32 tahun 2004 peraturan daerah merupakan peraturan perundang – undangan yang dibentuk bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah baik di Propinsi maupun di Kabupaten. / kota Dalam ketentuan UU no 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah Propinsi/ kabupaten/ kota dan tugas pembantuan serta merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang – undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing – masing daerah. Sesuai dengan ketentuan pasal 12 UU no 10 tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan Perundang – Undangan materi muatan Perda

28

adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang – Undangan yang lebih tinggi Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Gubernur, Bupati / Walikota. Sedangkan rancangan Perda yang disampaikan oleh Gubernur atau Bupati dan Walikota dipergunakan sebagai bahan persandingan. Program perencanaan pembentukan peraturan daerah yang disusun secara terpadu dan sistematis dilakukan dalam satu program yaitu program legilasi daerah, sehingga diharapkan tidak terjadi tumpang tindih dalam penyiapan satu materi daerah. Ada berbagai jenis perda yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten, kota dan propinsi antara lain : a. Pajak daerah b. Retribusi daerah c. Tata ruang wilayah daerah d. APBD e. Rencana Program Jangka Menengah Daerah f. Perangkat daerah g. Pemerintahan desa h. Pengaturan umum lainnya.

29

3.2 Mekanisme Pembentukan Peraturan Daerah Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) dapat berasal dari DPRD atau kepala daerah ( Gubernur, Bupati atau Walikota). Raperda yang disiapkan oleh Kepala Daerah disampaikan kepada DPRD. Sedangkan Raperda yang disiapkan oleh DPRD disampaikan oleh tingkat – tingkat pembicaraan dalam rapat komisi / panitia / alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani legislasi dalam rapat paripurna. Raperda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati / walikota untuk disahkan. D. Konsep Pedagang Kaki Lima 4.1 Sejarah pedagang kaki lima Istilah pedagang kaki lima pertama kali dikenal pada zaman Hindia Belanda tepatnya pada saat Gubernur Jenderal Stanford Raffles berkuasa. Ia mengeluarkan peraturan yang mengharuskan pedagang informal membuat jarak sejauh 5 kaki atau sekitar 1.2 meter dari bangunan formal di pusat kota (Danisworo dalam Ginting). Peraturan ini diberlakukan untuk melancarkan jalur pejalan kaki sambil memberikan kesempatan kepada pedagang informal untuk berdagang. Tempat pedagang informal yang berada 5 kaki dari bangunan formal di pusat kota inilah yang kelak dikenal dengan nama pedagang kaki lima, atau sering kita singkat dengan sebutan PKL.

30

4.2 Pengertian pedagang kaki lima Pedagang kaki lima merupakan salah satu bentuk aktivitas perdagangan di bidang sector informal ( Dorodjatun Kuntjoro Jakti dalam Ari Sulistiyo Budi). Pedagang kaki lima merupakan pedagang kecil yang umumnya berperan sebagai penyalur barang – barang dan jasa ekonomi kota. Dari maksud diatas yang dimaksud dengan pedagang kaki lima adalah setiap orang yang melakukan kegiatan usaha perdagangan atau jasa yaitu melayani kebutuhan barang – barang atau makanan yang dikonsumsi lansung oleh konsumen, yang dilakukan cenderung berpindah – pindah dengan kemampuan modal yang kecil atau terbatas dalam melakukan usahanya tersebut menggunakan peralatan yang sederhana dan memiliki lokasi di tempat – tempat umum (terutama di atas jalan atau sebagian badan jalan) dengan tidak mempunyai legalitas formal. Namun pengertian pedagang kaki lima ini terus berkembang hingga sekarang dan menjadi kabur artinya. Mereka tidak lagi berdagang di atas trotoar saja, tetapi disetiap jalur pejalan kaki, tempat – tempat parkir, ruang – ruang terbuka, taman – taman bahkan di perempatan jalan dan berkeliling ke rumah – rumah penduduk ( fakultas tekni unpar, 1980 dalam Sari 2003 : 27) Mc Gee dan Yeung dalam Ari Sulistiyo Budi (2006 : 35) memberikan pengertian pedagang kaki lima sama dengan hawker yang didefenisikan sebagai sekelompok orang yang menawarkan barang dan jasa untuk dijual

31

pada ruang public terutama dipinggir jalan dan trotoar. Dalam pengertian ini termasuk juga orang yang menawarkan barang dan jasanya dari rumah ke rumah. E. Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 9 Tahun 2010 tentang Pedagang Kaki Lima dan Pedagang Malam Dalam pasal 1 ayat 7 Perda Kota Payakumbuh Nomor 9 tahun 2010 dinyatakan bahwa pedagang kaki lima adalah pedagang yang melakukan usaha perdagangan non formal dengan menggunakan lahan terbuka atau lahan tertutup, sebagian fasilitas umum yang ditentukan oleh Pemerintah Daerah sebagai tempat kegiatan usahanya baik dengan menggunakan peralatan bergerak maupun peralatan bongkar pasang sesuai dengan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Pasal 1 nomor 9 menyatakan bahwa tempat usaha atau lokasi adalah tempat – tempat tertentu yang ditempati pedagang kaki lima untuk melaksanakan usaha dagang atau jasa. Sedangkan dalam pasal 1 nomor 17 peralatan bongkar pasang adalah suatu peralatan bagi pedagang kaki lima disaat mau dipakai peralatan ini bisa dipasang dan disaat selesai menggelar jualannya peralatan ini biasa dibongkar. a. Tujuan dan fungsi penetapan Lokasi PKL Adapun dalam pasal 2 bagian pertama tujuan dari penetapan lokasi bagi pedagang kaki lima yaitu  Untuk pengendalian, pengaturan dan pengawasan terhadap pedagang kaki lima dan pedagang malam

32

 Menciptakan keterpaduan, keserasian dan da bagian keindahan kota  Menciptakan hygenis dn sanitasi lingkungan bagi pedagang kaki lima atau pedagang malam. Sedangkan pada pasal 3 bagian kedua menyatakan bahwa fungsi dari penetapan lokasi bagi pedagang kaki lima yaitu untuk membina, mengatur dan menertibkan pedagang kaki lima atau pedagang malam Sehingga dengan adanya tujuan dan fungsi penetapan lokasi untuk para pedagang kaki lima di kota Payakumbuh maka dapat diciptakan penataan yang baik terhadap pedagang kaki lima yang tidak hanya menguntungkan bagi perekonomian masyarakat di kota Payakumbuh tetapi juga memberikan dampak yang baik bagi kebersihan dan ketertiban kota b. Lokasi dan pengaturan pedagang kaki lima Pada pasal 4 Bab III tentang lokasi dari pedagang dinyatakan sebagai beikut : a. Pedagang makanan spesifik / tradisional seperti batiah, gelamai, beras rendang, kerupuk sanjai, karak kaliang paniaram dan sebagainya ditempatkan di : 1. Antara pertokoan bertingkat di belakang Hizra dengan blok C 2. Los Canopi Mini / pelataran eks Lapangan Parkir Blok Timur Pusat Pertokoan Payakumbuh b. Pedagang buah – buahan ditempatkan di :

33

1. Los buah – buahan ( Pelataran eks Lapangan parkir Blok Timur dan Pusat Pertokoan Payakumbuh) 2. Jalan Sutan Usman (samping RM Asia Baru / bagi yang tidak tertampung di los buah – buahan pada blok Timur Pusat pertokoan Payakumbuh sebanyak 4 pedagang). c. Jualan Aksesoris, sandal sepatu, pakaian wanita dan sebagainya ditempatkan di : 1. Lokasi I Di seputar pelataran Blok Barat Pusat pertokoan Payakumbuh 2. Lokasi II Pada palung kaki lima lokasi terminal angkutan labuh baru d. Tukang patri, sol sepatu, service lampu petromax, sepuh emas dan sebaginya ditempatkan di pinggir jalan sebelah kiri Toko Mas rendah. e. Pedagang mingguan dan pakaian bekas serta lainnya (khusus yang berjualan setiap hari pecan atau hari minggu ) ditempatkan di : 1. Pusat pertokoan Jalan Gajah Mada Payakumbuh 2. Pasar Ibuh terbagi atas pasar Ibuh Barat dan Pasar Ibuh Timur. Pasar Ibuh merupakan tempat relokasi bagi pedagang kaki lima yang berjualan sayur dan kebutuhan rumah tangga (ikan, ayam, daging, bawang, tomat, cabe dan lainnya). Adapun tujuan di relokasinya pedagang – pedagang ini agar tidak terjadinya kesemrawutan yang parah di pasar payakumbuh serta untuk

34

menjaga kebersihan dan ketertiban pasar. Pasar Ibuh Barat ditempatkan di : a. Dimulai dari batas ujung jembatan Ratapan Ibu Sebelah Timur sampai pada batas areal parkir ( took Blok a tahap 1) b. Disekeliling pertokoan pasar Ibuh Barat Biasanya digunakan pedagang sayur untuk berjualan di sore hari c. Pedagang bibit ikan ditempatkan di tepi sungai batang agam / belakang musholla. Sedangkan pasar Ibuh Timur ditempatkan di jalan jambu sampai batas bengkolan mesjid dan biasanya digunakan pedagang sayur untuk berjualan di pagi hari. Dalam pengaturan pedagang kaki lima pasal 5 bab III tempat usaha dengan luas sebagai berikut : a. Untuk pedagang kaki lima yang berjualan makanan dan minuman yang menggunakan gerobak dan tenda seperti martabak mesir, nasi, sate dan pedagang makanan dan minuman lainnya diberi tempat usaha dengan ukuran 3 x 3 meter b. Untuk pedagang kaki lima yang berjualan barang mudo ( sayur dan buah – buahan) di Pasar Ibuh diberikan tempat usaha seluas 1.5 x 1.75 meter c. Untuk pedagang kaki lima yang berada di pusat pertokoan payakumbuh diberikan tempat usaha 1.5 x 1.75 meter diberikan

35

c.

Kewajiban dan larangan pedagang kaki lima Dalam pasal 8 Bab IV dinyatakan bahwa : 1. Setiap kegiatan usaha pedagang kaki lima atau pedagang malam wajib : a. Memelihara kebersihan, ketertiban, dan keindahan pada masing – masing tempat yang diizinkan dan mempunyai tong sampah. b. Pedagang kaki lima dan pedagang malam yang berjualan makanan dan minuman harus menyediakan : 1. Tempat cuci piring yang hiegenis ( bersih dan sehat) dan memelihara K3 lainnya 2. Menyediakan tempat limbah dan membuangnya pada tempat pembuangan limbah atau kotoran. 2. Setiap kegiatan usaha pedagang kaki lima dan pedagang malam dilarang : a. Melakukan kegiatan usaha dengan mendirikan tempat usaha yang bersifat permanen atau semi permanen b. Melakukan kegiatan yang dapat menghambat kelancaran lalu lintas umum, pejalan kaki dan sebagainya c. Melakukan kegiatan yang menimbulkan dampak negative terhadap kebersihan, keindahan, ketertiban, keamanan dan kenyamanan kota d. Menggunakan lahan dan sarana usaha dagang yang melebihi dari ketentuan yang telah diizinkan oleh Walikota

36

e. Berpindah

tempat

atau

memindahtangankan

izin

tanpa

sepengetahuan dan seizing walikota atau pejabat yang ditunjuk f. Dilarang berjualan di emperan toko dan atau lokasi parkir saat – saat tertentu yang diatur lebih lanjut denga peraturan walikota g. Menelantarkan dan atau membiarkan tempat kegiatan usaha kosong tanpa kegiatan secara terus menerus selama 1 bulan h. Tempat usaha dijadikan tempat penyimpanan, penimbunan barang kecuali untuk jenis – jenis usaha tertentu yang diatur lebih lanjut dengan peraturan walikota. i. Memperdagangkan bahan – bahan yang dilarang oleh pemerintah berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku j. Membuang sampah dan limbah ke saluran drainase di lokasi pasar k. Pedagang kaki lima yang berjualan sayuran, ayam, daging, ikan dan sejenisnya dan yang menjual kebutuhan harian dilarang berjualan di pusat pertokoan dan sekitarnya. d. Pengawasan dan penertiban Dalam pasal 10 bab VIII bahwa : 1. Pengawasan pedagang kaki lima dan atau pedagang malam dilakukan oleh petugas yang ditunjuk oleh walikota 2. Penertiban pedagang kaki lima dan / atau pedagang malam dilakukan oleh petugas keamanan Pasar dan / atau petugas polisi

37

pamong Praja Kota Payakumbuh atau oleh petugas yang ditunjuk pemerintah kota Payakumbuh. e. Sanksi Dalam pasal 12 bab XI menjelaskan bahwa : 1. Pedagang kaki lima dan / atau pedagang malam dapat dikenakan sanksi pencabutan izin apabila : a. Pemegang izin melanggar ketentuan yang tercantum dalam surat izin b. Tempat usaha yang bersangkutan tidak lagi ditetapkan sebagai tempat usaha pedagang kaki lima dan / atau pedagang malam c. Pemegang izin melanggar ketentuan pasal 7 Peraturan daerah ini dan atau tidak mengindahkan ketentuan lainnya d. Pemegang izin melanggar ketentuan Peraturan Perundang – Undangan yang berlaku yang berkaitan dengan Peraturan Daerah ini.

38

B. Kerangka konseptual Kerangka berpikir atau kerangka konseptual merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai factor yang telah diidentifikasi sebagai masalah penting ( Sugiyono, 2007 : 283 – 284). Untuk lebih jelasnya kerangka konseptual dapat digambarkan sebagai berikut :
Pelaksanaan Perda kota payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima

Implementasi Perda kota Payakumbuh no 9 tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima

Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan perda kota payakumbuh no 9 tahun 2010

Upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala dan hambatan dalam pelaksanaan perda kota payakumbuh no 9 tahun 2010

39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan

menggunakan metode deskriptif. Pada dasarnya penelitian ini berusaha membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan atau objek yang diteliti sebagaimana adanya. Lexy meleong (2008 : 3) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang dihasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang atau perilaku yang diamati. Menurut Sugiyono (2005 : 213) dalam penelitian kualitatif peneliti dituntut untuk menggali dan menelusuri berdasarkan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh sumber data. Peneliti kualitatif memperoleh data bukan sebagaimana yang terjadi di laporan yang dialami dirasakan serta dipilarkan oleh sumber data. Dengan demikian penelitian kualitatif dengan metode deskriptif terhadap fenomena yang dimiliki. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini berusaha melakukan penelusuran dan memperoleh pendeskripsian tentang pengimplementasian suatu kebijakan perda Kota Payakumbuh berupa Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2010 dalam penataan pedagang kaki lima

40

B. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Payakumbuh dengan lokasi penelitian antara lain Dinas Pasar selaku instansi pemerintah yang bertugas dalam melakukan pengaturan terhadap pasar dan pedagang – pedagang yang berjualan di Pasar Payakumbuh dan Pasar Ibuh. Selain itu di Dinas Pasar penelitian juga dilakukan lansung di pasar Payakumbuh dan pasar Ibuh. Pasar Payakumbuh merupakan tempat – tempat dimana para pedagang kaki lima umumnya berjualan dan menggelar dagangannya. Sedangkan pasar Ibuh merupakan tempat relokasi bagi pedagang kaki lima yang berjualan sayur dan kebutuhan rumah tangga yang awalnya berasal dari Pasar Payakumbuh. C. Informan penelitian Informan penelitian adalah orang memberikan informasi dan kondisi yang berkaitan dengan masalah penelitian, Moleong ( 2002 : 97). Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai informan penelitian adalah pegawai – pegawai Dinas Pasar yang bertugas dalam pengaturan pedagang kaki lima, Satuan Polisi Pamong Praja dan pedagang kaki lima yang ada di Pasar Payakumbuh dan Pasar Ibuh. D. Jenis, teknik dan alat pengumpulan data 1. Jenis data Adapun jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terbagi dua yaitu :

41

a. Data primer yaitu data yang diperoleh secara lansung dari sumber informasi atau informan penelitian melalui wawancara. Dalam hal ini data primer yang dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan implementasi kebijakan Perda kota Payakumbuh nomor 9 tahun 2010 tentang pedagang kaki lima b. Data sekunder yaitu data pendukung penelitian yang diperoleh dari dokumen – dokumen seperti perda kota payakumbuh no 9 tahun 2010, peraturan lainnya yang menyangkut kepada pengaturan pedagang kaki lima, laporan, program kerja serta buku – buku dan bahan bacaan lainnya yang digunakan dalam penelitian ini 2. Teknik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data dalam penelitian maka penulis yaitu : 1. Teknik wawancara Wawancara adalah teknik untuk mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dengan berbicara tentang sesuatu yang dialaminya atau diketahuinya. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan secara terstruktur. Lexy J Moleong (2005 : 190) menjelaskan bahwa wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan – pertanyaan yang akan diajukan. Wawancara ini diajukan kepada informan yaitu kepala dinas pasar dan staf pegawai Dinas Pasar yang menangani pengaturan dan penataan pedagang kaki lima di pasar payakumbuh. Selain itu wawancara juga diajukan kepada

42

para pedagang kaki lima di pusat pertokoan pasar Payakumbuh dan pedagang di Paasar Ibuh. 2. Teknik dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen biasa berbentuk tulisan (catatan harian, peraturan kebijakan, dsb), gambar (foto, sketsa) atau karya – karya monumental dari seseorang. Dalam hal ini penulis mencari dan mempelajari dokumen – dokumen yang ada hubungannya dengan permasalahan yang penulis teliti yaitu terkait dengan implementasi perda nomor 9 tahun 2010. 3. Observasi Observasi dilakukan untuk mengetahui secara lansung bentuk dari Implementasi Perda Nomor 9 Tahun 2010, kendala yang dihadapi dalam Pelaksanaan Perda Nomor 9 Tahun 2010, dan upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala tersebut. E. Teknik Analisis data Analisis data adalah proses mencari dan mengatur wawancara dan catatan di lapangan serta bahan – bahan lain yang telah dihimpun sehingga dapat merumuskan hasil dari apa yang telah ditemukan. Proses analisis data ini dimulai dari data yang dikumpul kemudian dicoba untuk dianalisis dan ditelusuri keabsahannya melalui metode analisis deskriptif kualitatif sebagian besar data dimulai dari menulis pengamatan hasil wawancara dan

43

hasil

studi

dokumentasi,

mengklasifikasikannya

dan

kemudian

menyajikannya. Dalam penelitian ini data yang dianalisis diperoleh dari wawancara dan diinterpretasikan secara kualiatif, berupa abstraksi, kata – kata dan pernyataan. Proses analisis data dilakukan sejak awal penelitian sampai akhir penelitian. Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2008 : 246 – 253) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlansung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Langkah – langkah analisis data yang penulis gunakan adalah : 1. Pengumpulan data. Dalam penelitian ini data dikumpulkan dengan melakukan wawancara dan dokumen – dokumen yang berkaitan dengan implementasi Perda Nomor 9 Tahun 2010 2. Reduksi data Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal – hal yang pokok, memfokuskan pada hal – hal penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. 3. Penyajian data (display data) Dalam penelitian kualitatif penyajian data bias dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan

44

flowchart dan sejenisnya. Penyajian data dimaksudkan agar memudahkan bagi peneliti untuk melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian – bagian tertentu dari penelitian. Dengan kata lain, merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya yang lebih utuh. 4. Penarikan kesimpulan / verifikasi Langkah terakhir yang dilakukan adalah penarikan kesimpulan / verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti – bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan uang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti – bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

45

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Ngurah, Gusti. 2004. Manajemem Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Budi, Ari Sulistiyo. 2006. Kajian Lokasi Pedagang Kaki Lima Berdasar kan Preferensi Pkl Serta Persepsi Masyarakat Sekitar Di Kota Pemalang. Tesis Program Pasca Sarjana Magister Pembangunan Wilayah Dan Tata Kota Univesitas Dipenogoro : Semarang Dunn, William N. 1998. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Fadoli, Muchammad. 2011. Implementasi perda no 17 tahun 2003 tentang ijin penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima di kecamatan sukolilo. Skripsi Program Studi Ilmu Hukum Universitas Pembangunan Nasional Veteran : Jawa Timur Ginting, W Salmina. 2004. Pengaruh Keberadaan Pedagang Kaki Lima Terhadap Jumlah Pengunjung Taman Kota Di Medan. Jurnal Teknik SIMETRIKA. Hlm 204 Ichwani M. Ali. 2007. Evaluasi Kebijakan Publik. Bandung : Makalah PL 4202 Manajemen Pembangunan. Moleong Lexy J. 2002. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya Paskarina, Caroline, dkk. 2007. Evaluasi Kebijakan Pengelolaan Pasar di Kota Bandung : Laporan Penelitian Universitas Padjajaran Pasolong, Harbani. 2010. Teori Administrasi Publik. Bandung : Alfabeta Peraturan Daerah Kota Payakumbuh Nomor 9 tahun 2010 tentang Pedagang Kaki Lima Dan Pedagang Malam Rahmadani Yusran dkk. 2006. Buku Ajar (Kebijakan Publik). Padang : Fakultas Ilmu – ilmu Sosial Siagian P Sondang, 2007, Administrasi Pembangunan, Bumi aksara, Jakarta Sugiyono. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif, kuantitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta Solichin Abdul Wahab. 2002. Analisis kebijaksanaan : dari Formulasi Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara . Jakarta : Bina Aksara

46

UU no 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang - undangan Winarno, Budi . 2002. Kebijakan dan Proses kebijakan public. Yogyakarta : Media Pressindo

47

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.