PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PERAMBAHAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI

AMRIZAL YUSRI

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PERAMBAHAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI

AMRIZAL YUSRI

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

RINGKASAN
AMRIZAL YUSRI. E34062415. Perubahan Penutupan Lahan dan Analisis Faktor Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Dibimbing oleh SAMBAS BASUNI dan LILIK BUDI PRASETYO. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan salah satu kawasan konservasi yang mengalami perubahan penutupan lahan hutan yang disebabkan aktivitas tak terkendali oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Masyarakat menggarap lahan disektor pertanian berupa lahan sayur dan kebun yang dikhawatirkan akan menyebabkan konversi hutan dan perubahan penutupan lahan khususnya ladang di kawasan TNGC. Data dan informasi mengenai kondisi kawasan TNGC dapat dianalisis melalui teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui besar, laju perubahan dan distribusi spasial penutupan lahan TNGC selama periode 2006-2009 serta mengetahui faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi perambahan di TNGC. Pengambilan data penelitian berupa data sosial masyarakat dan ground control point dilakukan di TNGC selama satu bulan pada bulan Juli 2010. Data yang dikumpulkan adalah data spasial berupa peta, citra Landsat ETM+ dan TM tahun 2006 dan 2009 serta data atribut yang meliputi karakter sosial ekonomi masyarakat, pengetahuan serta sikap masyarakat. Pengolahan data spasial dilakukan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh. Hasil pengolahan citra dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan data atribut untuk mengetahui pengaruhnya terhadap perubahan penutupan lahan. Tipe penutupan lahan di TNGC terdiri atas hutan alam, hutan tanaman pinus, semak, ladang, lahan terbuka, badan air dan tidak ada data. Pada periode 20062009 terjadi peningkatan dan penurunan luas penutupan lahan. Penutupan lahan yang mengalami penurunan luas adalah lahan terbuka sebesar 979.2 ha (-2.26%) yang terluas di Kecamatan Pasawahan, hutan alam sebesar 51.21 ha (-0.01%) yang terluas di Kecamatan Cigugur dan badan air sebesar 1.62 ha (0.08%). Peningkatan luas terjadi pada tipe penutupan lahan ladang sebesar 178.29 ha (0.18%) yang terluas di Kecamatan Argapura, semak sebesar 746.73 ha (0.18%) yang terluas di Kecamatan Pasawahan dan hutan tanaman sebesar 92.88 ha (0.06%) yang terluas di Kecamatan Cilimus. Faktor sosial ekonomi masyarakat yang mempengaruhi perambahan adalah tingkat pendapatan di luar kawasan, pengetahuan khususnya terhadap fungsi lindung serta sikap masyarakat terhadap keberadaan hutan. Untuk mengantisipasi perluasan perambahan kawasan hutan perlu dilakukan upaya pengelola dalam peningkatan pendapatan masyarakat, rehabilitasi kawasan taman nasional serta sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat mengenai kawasan taman nasional.

Kata kunci: penutupan lahan, sosial ekonomi, taman nasional, SIG.

SUMMARY
AMRIZAL YUSRI. E34062415. Land Cover Changes and Analysis of Factors Causing Expansion In Gunung Ciremai National Park Area. Under supervision of SAMBAS BASUNI and LILIK BUDI PRASETYO. Gunung Ciremai National Park (GCNP) is one of the conservation areas that has been facing forest land cover changes due to uncontrolled activities of people around the area. They have been practicing shifting cultivation system for horticulture that can lead to forest conversion and land cover changes especially fields in GCNP area. Data and information of the conditions in GCNP area can be analyzed through technology Geographic Information System (GIS). The aim of this research was to know rate of land cover and spatial distribution on land cover in GCNP for year periods of 2006-2009 and investigate socio-economic factors that influence expansion in GCNP. Data on sosial and ground control point were taken in GCNP for one month in July 2010. Collected data included spatial data in the form of maps, Landsat image ETM+ year 2006 and TM year 2009 and attributed data including socio-economic conditions, knowledge and attitude of people. Spatial data were analyzed using Geographic Information System (GIS) technology. The results of image processing were analyzed qualitatively and quantitatively using the attribute data to determine its impact on land cover changes. Land cover types in GCNP consisted of virgin forest, pine plant forest, shrubs, fields, water bodies, open land and no data. In the period 2006-2009, there were either increases or decreases in land cover areas. Land cover of open land was decreased by 979.2 ha (-2.26%) with the largest in Pasawahan Subdistrict, virgin forest by 51.21 ha (-0.01%) with the largest in Cigugur Subdistrict and water bodies by 1.62 ha (0.08%). On the other hand, land cover of fields was increased by 178.29 ha (0.18%) with the largest in Argapura Subdistrict, shrubs by 746.73 ha (0.18%) with the largest in Pasawahan Subdistrict and pine plant forest by 92.88 ha (0.06%) with the largest in Cilimus Subdistrict. Socioeconomic factors that influenced expansion of land cultivation into the park areas were rate of income in outside area, knowledge especially on cover function and attitude of people to the existing forest. To anticipate expansion of land cultivation into the forest area, the national park should create alternative beneficial projects in order to improve people income outside national park zone, rehabilitation of zone of natonal park and supervise the activities to people about national park.

Keywords: land cover, socio-economic, national park, GIS

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Perubahan Penutupan Lahan dan Analisis Faktor Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2011

Amrizal Yusri NRP E34062415

Judul

: Perubahan Penutupan Lahan dan Analisis Faktor Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

Nama NRP

: Amrizal Yusri : E34062415

Menyetujui:

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni,MS NIP. 19580915 198403 1 003

Prof. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc NIP. 19620316 198803 1 002

Mengetahui: Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP. 19580915 198403 1 003

Tanggal Lulus:

UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillahirobbil’alamin. Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih pada berbagai pihak yang telah membantu dalam proses penelitian dan penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi penulis ucapkan kepada : 1. Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS dan Prof. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bantuan, arahan dan saran dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini. 2. Dr. Ir. I Wayan Darmawan, M.Sc, Ir. Sudaryanto dan Ir. Oemijati Rachmatsjah, MS selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan dan saran dalam menyempurnakan penyusunan skripsi ini. 3. Bapak, Ibu, Mbah Putri dan Kakak atas doa, kasih sayang dan segala dukungan baik moril maupun materi yang diberikan kepada penulis hingga skripsi ini selesai. 4. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kehutanan IPB yang telah membantu penulis selama kuliah 5. Teman-teman di Laboratorium Manajemen Kawasan dan Laboratorium Analisis Spasial Lingkungan atas pertukaran ilmu, kerjasama dan bantuan yang diberikan. 6. Seluruh keluarga besar Departemen KSHE terutama KSHE 43

“Cendrawasih” atas bantuan, kebersamaan dan kekeluargaan yang telah terjalin selama ini. 7. Keluarga besar HIMAKOVA periode 2008-2009 dan 2009-2010 atas pertukaran ilmu, pengalaman serta dukungannya selama ini. 8. Pengurus Kelompok Pemerhati Goa “HIRA” HIMAKOVA Kelompok Pemerhati ekowisata” TAPAK” atas pengalaman dan dukungan yang telah diberikan. 9. Heri, Dian dan Erlin sebagai teman seperjuangan yang sudah membantu penelitian di Ciremai.

10. Teh Nisa, Pak Robi, Pak Engkos, dan semua staf kerja TNGC yang sudah membantu pengambilan data di Ciremai. 11. Reni, Haray, Arga, Chachaw, Nano atas segala bantuan doa, tenaga, akomodasi dan fasilitasnya. 12. Anak-anak “AUTIS” dengan tingkahnya yang memberikan kelucuan canda dan tawa yang luar biasa tak terhingga. 13. My sweetheart “Listya Citraningtyas” yang selalu memberikan support, motivasi, semangat, cinta dan kasih sayang yang besar. Luv u.. 14. My ride bluesky yang selalu menemani hari-hariku yang indah dan menemani selama penelitian ini. 15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 3 Juni 1988 sebagai anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Kuswandi dan Ibu Pawartining Yuliati. Penulis menyelesaikan pendidikan formal di SDN Pengadilan 2 Bogor (2000), SLTPN 2 Bogor (2003) dan SMAN 1 Bogor (2006). Pada tahun 2006 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis mulai aktif belajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB pada tahun 2007. Selama menjadi mahasiswa IPB, penulis aktif di organisasi

kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) sebagai anggota Biro Kekeluargaan pada tahun 2008 dan anggota Biro Sosial Lingkungan pada tahun 2009. Penulis juga tergabung dalam Kelompok Pemerhati Gua (KPG) “Hira” HIMAKOVA dan Kelompok Pemerhati Ekowisata (KPE) “Tapak” HIMAKOVA. Penulis pernah melaksanakan praktek dan kegiatan lapangan antara lain: Eksplorasi Fauna, Flora dan Ekowisata Indonesia (RAFFLESIA)-HIMAKOVA di Cagar Alam Gunung Simpang Jawa Barat, Studi Konservasi Lingkungan (SURILI)-HIMAKOVA di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Cagar Alam Kamojang dan Cagar Alam Leuweung Sancang pada tahun 2008, Praktek Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) dan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI)-HIMAKOVA di Taman Nasional Manupeu Tanadaru pada tahun 2009, serta Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Gunung Merapi pada tahun 2010. Dalam usaha memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan IPB, penulis menyusun skripsi yang berjudul “Perubahan Penutupan Lahan dan Analisis Faktor Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai” di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS dan Prof. Dr. Ir. Lilik Budi Prasetyo, M.Sc.

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perubahan Penutupan Lahan dan Analisis Faktor Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai” merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi yang berguna bagi berbagai pihak. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih kurang sempurna, oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga karya ilmiah ini bisa bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Maret 2011

Penulis

ii

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... DAFTAR TABEL .......................................................................................... DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1.2 Perumusan Masalah .......................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taman Nasional ................................................................................ 2.2 Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perubahan Lahan ..................... 2.3 Sistem Informasi Geografis (SIG) ..................................................... 2.4 Penginderaan Jauh ............................................................................. 2.5 Pembangkitan Data Penutupan Lahan dengan Citra Landsat ............ BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu .............................................................................. 3.2 Alat dan Bahan ................................................................................. 3.3 Jenis Data .......................................................................................... 3.4 Metode Pengambilan Data ................................................................ 3.4.1 Data spasial ............................................................................. 3.4.2 Data atribut .............................................................................. 3.5 Analisis Data ..................................................................................... 3.5.1 Data spasial ............................................................................. 3.5.2 Data atribut .............................................................................. BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Taman Nasional Gunung Ciremai ..................................................... 4.1.1 Sejarah kawasan ...................................................................... 27 27 16 17 17 17 17 17 19 19 23 4 7 8 9 10 1 2 2 3 i ii iv v vi

iii

4.1.2 Letak dan luas wilayah ............................................................ 4.1.3 Topografi dan iklim ................................................................ 4.1.4 Hidrologi ................................................................................. 4.1.5 Vulkanologi ............................................................................. 4.1.6 Kondisi biologis ...................................................................... 4.1.7 Potensi wisata .......................................................................... 4.2 Daerah Penyangga TNGC................................................................. 4.2.1 Letak dan luas ......................................................................... 4.2.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ...................................... BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Penutupan Lahan di Kawasan TNGC ................................................ 5.1.1 Klasifikasi penutupan lahan .................................................... 5.1.2 Penutupan lahan di TNGC tahun 2006 ................................... 5.1.3 Penutupan lahan di TNGC tahun 2009 ................................... 5.2 Perubahan Penutupan Lahan .............................................................. 5.3 Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Perambahan Lahan ..... 5.3.1 Karakterisitik sosial ekonomi masyarakat ............................... 5.3.2 Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap luas lahan garapan dalam kawasan ......................................................... 5.3.3 Pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kawasan TNGC .................................................................................... 5.4 Pengendalian Penggunaan Lahan ...................................................... BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ........................................................................................ 6.2 Saran .................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN .....................................................................................................

29 29 29 29 30 31 31 31 32

34 35 37 39 42 54 54

59

65 69 72 72 74 76

iv

DAFTAR TABEL
No. Halaman 10

1. Saluran citra Landsat TM ....................................................................... 2. Sistem klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan untuk data penginderaan jauh ................................................................................... 3. Klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan ........................................ 4. Objek wisata alam di TNGC .................................................................. 5. Kunci interpretasi tipe penutupan lahan pada citra Landsat ................... 6. Perubahan penutupan lahan di TNGC tahun 2006 dan 2009 ................. 7. Penutupan lahan tiap kecamatan............................................................. 8. Perubahan penutupan lahan tiap kecamatan ........................................... 9. Data luasan kebakaran di TNGC ............................................................ 10. Hubungan jumlah tanggungan keluarga dengan luas lahan garapan dalam kawasan ........................................................................................ 11. Hubungan tingkat umur dengan luas lahan garapan dalam kawasan ..... 12. Hubungan tingkat pendidikan dengan luas lahan garapan dalam kawasan .................................................................................................. 13. Hubungan tingkat pendapatan dengan luas lahan garapan dalam kawasan .................................................................................................. 14. Hubungan luas lahan garapan diluar kawasan dengan luas lahan garapan dalam kawasan .......................................................................... 15. Hubungan lama menggarap dengan luas lahan garapan dalam kawasan .................................................................................................. 16. Pengetahuan responden mengenai TNGC .............................................. 17. Alasan responden menggarap lahan TNGC ........................................... 18. Sikap responden terhadap kebijakan manajemen TNGC.......................

10 12 31 36 42 43 44 51

60 61

62

63

64

65 66 67 68

v

DAFTAR GAMBAR
No. Halaman 16 19 20 22 34 39 41 46

1. Peta lokasi pengambilan data penelitian ................................................. 2. Tahapan pengolahan citra ....................................................................... 3. Proses konversi peta analog ke peta digital............................................. 4. Tahapan analisis perubahan penutupan lahan ........................................ 5. Penutupan dan penggunaan lahan........................................................... 6. Peta penutupan lahan TNGC tahun 2006 ............................................... 7. Peta penutupan lahan TNGC tahun 2009. ............................................... 8. Peta deforestasi dan reforestasi hutan TNGC tahun 2006-2009. ............ 9. Peta deforestasi dan reforestasi hutan tanaman pinus TNGC tahun 2006-2009. .............................................................................................. 10. Peta distribusi ladang dalan kawasan TNGC. ......................................... 11. Peta distribusi semak belukar TNGC. ..................................................... 12. Peta distribusi lahan terbuka TNGC. ...................................................... 13. Persentase responden menurut mata pencaharian sampingan ................. 14. Persentase responden menurut usia kerja ................................................ 15. Persentase responden menurut luas garapan diluar kawasan .................. 16. Persentase responden menurut luas garapan dalam kawasan ................. 17. Persentase responden menurut jenis penggunaan lahan.......................... 18. Persentase responden menurut tanggungan keluarga .............................. 19. Persentase responden menurut pendapatan ............................................. 20. Persentase responden menurut pendidikan ............................................. 21. Persentase responden menurut lama menggarap ....................................

48 49 51 53 54 55 55 56 57 57 58 58 59

vi

DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman 77 81 82 84 85

1. Uji akurasi ................................................................................................ 2. Daftar identitas responden ........................................................................ 3. Kuisioner responden ................................................................................. 4. Uji normalitas data ................................................................................... 5. Uji chi-square ...........................................................................................

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 424/Menhut-II/2004 Tanggal 19 Oktober 2004 mengenai perubahan fungsi hutan lindung dan hutan produksi pada kelompok Hutan Gunung Ciremai seluas + 15500 ha terletak di Kabupaten Kuningan dan Majalengka Provinsi Jawa Barat menjadi taman nasional. Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan kawasan konservasi yang berfungsi sebagai kawasan pelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya, daerah resapan air bagi kawasan dibawahnya dan beberapa sungai penting di Kabupaten Kuningan, Majalengka dan Cirebon serta sumber beberapa mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, pertanian, perikanan, suplai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan industri. Pada saat status kawasan masih hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani, masyarakat diperbolehkan menggarap kawasan dengan adanya sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dengan pola tumpang sari. Kegiatan tumpang sari oleh masyarakat cenderung mengkonversi lahan hutan yang tidak terkendali sehingga dapat menyebabkan perluasan lahan kritis, berkurangnya tutupan lahan serta menghilangnya fungsi lindung dan konservasi kawasan. Menurut BTNGC (2006), sekitar 2000 ha lahan hutan kini sudah menjadi ladang kentang dan kebun kopi. Kerusakan yang terjadi seluas 4829.9 ha di lereng bagian selatan Gunung Ciremai akibat aktivitas masyarakat berupa penggarapan lahan sayur tanpa memperdulikan fungsi kawasan tersebut (BTNGC 2006). Gangguan-gangguan yang terjadi selain penggarapan lahan secara intensif antara lain adanya perubahan tegakan hutan alam menjadi tegakan hutan tanaman pinus dengan menanam kebun campuran, perusakan hutan, pencurian kayu dan kebakaran hutan yang mengakibatkan kondisi kawasan TNGC semakin memprihatinkan dari tahun ke tahun. Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi maka akan menimbulkan dampak negatif diantaranya bahaya banjir, longsor, sedimentasi sungai dan waduk, hilangnya stok air tanah akibat aliran permukaan

2

(run off), serta menurunnya kuantitas dan kualitas pangan daerah dan nasional akibat kurangnya air untuk irigasi persawahan. Perkembangan perubahan tutupan lahan yang terjadi di kawasan TNGC sebagai salah satu dasar pengelolaan kawasan, dapat dilihat dengan menggunakan teknologi sebagai alat monitor terhadap perubahan tutupan lahan. Teknologi yang dapat digunakan adalah aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG). Sistem Informasi Geografi merupakan suatu perangkat yang dapat membantu

memperoleh data-data spasial dalam waktu singkat. Penggunaan Sistem Informasi Geografi dapat mempermudah mengetahui perubahan penutupan lahan.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai perubahan tutupan lahan sehingga dapat menganalisis dinamika perubahan penutupan lahan yang terjadi dan membantu Balai TNGC untuk mengambil langkah lanjutan dalam penyelesaian permasalahan tersebut.

1.2 Perumusan Masalah Perubahan penutupan lahan di kawasan TNGC akibat aktivitas masyarakat berupa penggarapan lahan yang semakin tidak terkendali akan menurunkan fungsi kawasan sebagai fungsi lindung dan konservasi. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan : 1 Seberapa besar perubahan penutupan lahan yang terjadi di TNGC? 2 Bagaimana distribusi penutupan lahan di TNGC? 3 Faktor sosial ekonomi apa saja yang mempengaruhi perambahan lahan di TNGC?

1.3 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah : 1 Mengetahui besar dan laju perubahan penutupan lahan TNGC periode 20062009. 2 Mengetahui distribusi spasial perubahan penutupan lahan TNGC periode 20062009. 3 Menganalisis faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi terjadinya

perambahan lahan di TNGC.

3

1.4 Manfaat Manfaat yang dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai informasi mengenai perubahan penutupan lahan TNGC dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya serta kaitannya dengan kondisi masyarakat. Selain itu juga sebagai bahan pertimbangan bagi pengelola TNGC dalam manajemen kawasan.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taman Nasional Taman nasional adalah kawasan pelesatarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi (Dephut 1990). Taman nasional merupakan kawasan alami baik darat dan atau laut, yang ditunjuk untuk (a) melindungi integritas ekologis satu atau lebih ekosistem untuk generasi saat ini dan yang akan datang, (b) meniadakan eksploitasi atau penggunaan yang berlawanan dengan maksud penunjukan kawasan dan (c) menyediakan dasar bagi kepentingan spiritual, ilmu pengetahuan, pendidikan dan rekreasi yang sesuai dengan lingkungan dan budaya (IUCN 1994). IUCN memberikan karakteristik mengenai taman nasional sebagai berikut: 1 Taman nasional merupakan suatu kawasan alami yang cukup luas terdiri dari satu atau beberapa ekosistem yang tidak banyak dijamah oleh manusia. Dalam kawasan ini dilarang dilakukan kegiatan eksploitasi, berkembang berbagai jenis flora dan fauna, serta memiliki nilai ilmiah, pendidikan serta rekreasi. 2 Kegiatan pengelolaan taman nasional dilakukan oleh pemerintah yang ditujukan untuk melestarikan potensi sumberdaya alam dan ekosistem taman nasional. 3 Kawasan yang dapat dikunjungi oleh masyarakat dan dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merubah ciri-ciri ekosistem yang ada karena memiliki unsur-unsur pendidikan, penelitian, ilmiah dan rekreasi ilmiah. Berdasarkan IUCN (1994), terdapat enam tujuan pengelolaan taman nasional, yaitu : 1 Melindungi kawasan alami dan indah untuk pemanfaatan spiritual, ilmiah, pendidikan dan rekreasi. 2 Mengelola penggunaan pengunjung untuk tujuan rekreasi, budaya dan pencarian inspirasi pada tingkat yang akan menjaga kealamiahan kawasan.

5

3

Memelihara keanekaragaman dan kestabilan ekologis sumberdaya genetik dan spesies dalam kondisi alami.

4

Menjaga atribut ekologis, geomorfologis dan estetis yang menjamin penetapan kawasan.

5

Mencegah eksploitasi atau penggunaan yang bertentangan dengan tujuan penetapan kawasan.

6

Menghitung kebutuhan masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumberdaya. Secara ekologis, taman nasional memiliki manfaat bagi masyarakat

sekitar, misalnya dalam hal pengendalian banjir, menyediakan air minum saat musim kemarau, selain itu adanya spesies liar dapat membantu dalam pertanian misalnya burung-burung pemakan hama dan serangga dalam penyerbukan (MacKinnon et al. 1990). Secara ekonomi dan sosial dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas lingkungan, produktivitas usaha tani, produktivitas usaha kerja dan jasa-jasa lingkungan yang dapat meningkatkan kesempatan kerja dan peningkatan perekonomian. Soewardi (1978) menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan pokok, taman nasional memerlukan adanya alokasi ruang yang berfungsi untuk perlindungan dan pemanfaatan itu sendiri yang disebut sistem zonasi. Menurut Soewardi (1978) taman nasional setidaknya harus mempunyai: 1 Zona inti, pada zona ini kegiatan manusia sangat terbatas hanya untuk penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan dan ilmu pengetahuan dan tidak boleh ada bangunan permanen. 2 Zona rimba, merupakan kawasan zona yang tidak boleh ada bangunan permanen, kegiatan hanya sebatas penelitian, pendidikan dan wisata alam terbatas. 3 Zona pemanfaatan, merupakan wilayah yang dikhususkan untuk pemanfaatan baik untuk sarana pengelolaan taman nasional berupa penelitian, penunjang budidaya maupun kegiatan wisata antara lain dengan penyediaan bumi perkemahan, shelter dan lain-lain. Selain itu, zona-zona lain yang mungkin diperlukan dalam taman nasional sesuai dengan situasi dan kondisi setempat adalah zona rehabilitasi, zona pemanfaatan tradisional, zona kultural/budaya dan zona penyangga (MacKinnon

6

et al. 1990). Menurut pasal 16 ayat 2 Undang-undang No 5 Tahun 1990, daerah penyangga merupakan wilayah yang berada di luar kawasan suaka

alam/pelestarian alam, baik kawasan hutan lain, tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan. Daerah penyangga merupakan kawasan yang berdekatan dengan kawasan yang dilindungi, yang penggunaan tanahnya terbatas, untuk memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi kawasan yang dilindungi dan sekaligus bermanfaat bagi masyarakat pedesaan di sekitarnya (MacKinnon et al. 1990). Menurut MacKinnon et al. (1990) daerah penyangga memiliki dua fungsi utama, yaitu : 1 Penyangga perluasan, memperluas kawasan habitat yang terdapat di kawasan yang dilindungi ke dalam kawasan penyangga. Contohnya hutan produksi, kawasan buru, hutan alami yang digunakan penduduk untuk mencari kayu bakar, kawasan terlantar dan padang penggembalaan. 2 Penyangga sosial, dimana pemanfaatan sumberdaya alam dari kawasan penyangga merupakan hal sekunder dan tujuan pengelolaannya adalah menyediakan produk yang dapat digunakan atau berharga bagi masyarakat setempat. Tetapi penggunaan tanah untuk tujuan tersebut tidak boleh bertentangan dengan tujuan utama dari kawasan yang dilindungi. MacKinnon et al.(1990) membagi beberapa tipe utama daerah penyangga taman nasional, yaitu : 1 Zona pemanfaatan tradisional di dalam kawasan yang dilindungi. Ada situasi ketika tidak ada tanah yang cocok di luar kawasan konservasi untuk ditetapkan sebagai zona penyangga serta lebih disukai untuk mengizinkan pengumpulan produk alam tertentu dari beberapa bagian kawasan konservasi atau pada waktu-waktu tertentu daripada menjadikan lahan yang bernilai penting sebagai kawasan penyangga. 2 Penyangga hutan. Termasuk hutan kayu bakar atau bahan bangunan yang terletak di luar batas kawasan yang dilindungi tetapi di atas tanah negara. Hutan ini dapat berupa hutan alami, hutan sekunder yang diperkaya, atau bahkan perkebunan dimana penekanannya adalah memaksimalkan hasil yang berkelanjutan untuk digunakan penduduk desa setempat, selain berfungsi

7

melindungi air dan tanah. Penggalakan hutan tanaman di zona penyangga mungkin merupakan satu-satunya strategi pengelolaan sumberdaya yang efektif untuk menjamin keutuhan kawasan yang dilindungi dalam jangka waktu yang panjang. 3 Penyangga ekonomi. Daerah penyangga diperlukan untuk mengurangi keperluan masyarakat desa dari mengambil sumberdaya dari dalam kawasan konservasi. Penyangga ini dapat berbentuk bantuan khusus pertanian, sosial atau komunikasi, atau lahan produktif, perburuan terkendali di daerah penyangga dekat kawasan konservasi, bahkan uang tunai dari penghasilan kawasan konservasi. 4 Rintangan fisik. Bila tidak tersedia tanah bagi pengembangan daerah penyangga, maka batas kawasan itu sendiri harus berfungsi sebagai penyangga. Kadang-kadang diperlukan juga rintangan fisik berupa selokan, kanal, pagar tembok atau kawat berduri. Pada beberapa kasus, yang diperlukan hanyalah batas yang jelas terlihat seperti sebaris atau jalur tipis pohon-pohon yang mencolok sebagai batas hidup.

3.2 Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perubahan Lahan Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan lahan adalah jenis kegiatan yang dapat mencirikan terjadinya perubahan lahan. Kegiatan tersebut dapat berupa gangguan hutan, penyerobotan lahan dan perladangan berpindah (Khalil 2009). Gangguan terhadap hutan dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor alam dan manusia. Gangguan yang disebabkan oleh alam meliputi kebakaran hutan akibat petir dan kemarau, letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, banjir dan erosi. Sementara itu gangguan yang disebabkan oleh manusia dapat berupa penebangan dan pencurian kayu, perambahan lahan dan kebakaran dengan sistem ladang berpindah. Lillesand dan Kiefer (1993) menyatakan bahwa perubahan lahan terjadi karena manusia yang mengubah lahan pada waktu yang berbeda. Pola-pola perubahan lahan terjadi akibat responnya terhadap pasar, teknologi, pertumbuhan populasi, kebijakan pemerintah, degradasi lahan dan faktor sosial ekonomi lainnya (Meffe & Carrol 1994 dalam Basuni 2003).

8

Wijaya (2004) menyatakan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan penutupan lahan diantaranya adalah pertumbuhan penduduk, mata pencaharian, aksesibilitas dan fasilitas pendukung kehidupan serta kebijakan pemerintah. Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di suatu wilayah telah mendorong penduduk untuk membuka lahan baru untuk digunakan sebagai pemukiman ataupun lahan-lahan budidaya. Mata pencaharian penduduk di suatu wilayah berkaitan erat dengan usaha yang dilakukan penduduk di wilayah tersebut. Perubahan penduduk yang bekerja dibidang pertanian memungkinkan terjadinya perubahan penutupan lahan. Semakin banyak penduduk yang bekerja dibidang pertanian, maka kebutuhan lahan semakin meningkat. Hal ini dapat mendorong penduduk untuk melakukan konversi lahan pada berbagai penutupan lahan. Menurut Darmawan (2002), salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan penutupan lahan adalah faktor sosial ekonomi masyarakat yang berhubungan dengan kebutuhan hidup manusia terutama masyarakat sekitar kawasan. Peubah sosial ekonomi yang berpengaruh dominan terhadap perubahan penutupan dan penggunaan lahan adalah kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, luas kepemilikan lahan, perluasan pemukiman dan perluasan areal pertanian (Yatap 2008).

2.3 Sistem Informasi Geografi (SIG) Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate,

memanipulasi, menganalisis dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi (ESRI 1990). Sistem informasi geografis adalah sistem komputer yang digunakan untuk memanipulasi data geografi. Sistem ini diimplementasikan dengan perangkat keras dan perangkat lunak komputer yang berfungsi untuk (a) akuisisi dan verifikasi data, (b) kompilasi data, (c) penyimpan data, (d) perubahan dan updating data, (e) manajemen dan pertukaran data, (f) manipulasi data, (g) pemanggilan dan presentasi data dan (h) analisis data (Bern 1992 dalam Prahasta 2005).

9

Menurut Prahasta (2005), sistem informasi geografi merupakan sistem yang menangani masalah informasi yang bereferensi geografis dalam berbagai cara dan bentuk. Masalah informasi tersebut mencakup tiga hal, yaitu: 1 2 3 Pengorganisasian data dan informasi. Penempatan informasi pada lokasi tertentu. Melakukan komputasi, memberikan ilustrasi keterhubungan antara satu dengan lainnya serta analisa spasial lainnya.

2.4 Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji (Lillesand & Kiefer 1990). Informasi tentang objek disampaikan pada pengamat melalui energi elektromagnet yang merupakan pembawa informasi sebagai penghubung komunikasi. Oleh karena itu kita dapat menganggap bahwa data penginderaan jauh pada dasarnya merupakan informasi intensitas panjang gelombang yang perlu diberikan kodenya sebelum informasi itu dapat dipahami secara penuh. Proses pengkodean ini setara dengan interpretasi citra penginderaan jauh yang sangat sesuai dengan pengetahuan kita mengenai sifat-sifat elektromagnetik (Lo 1995). Citra Landsat merupakan citra satelit untuk penginderaan sumberdaya bumi. Thematic Mapper (TM) adalah suatu sensor optik penyiaman yang beroperasi pada cahaya tampak dan inframerah bahkan spektral (Lo 1995). Thematic Mapper dipasang pada Landsat dengan tujuan untuk perbaikan resolusi spasial, pemisahan spektral, kecermatan dan radiometrik dan ketelitian geometrik. Karakteristik spektral terkait dengan panjang gelombang yang digunakan untuk mendeteksi objek-objek yang ada di permukaan bumi. Semakin sempit range panjang gelombang yang digunakan, maka semakin tinggi kemampuan sensor itu dalam membedakan objek. Pengetahuan menyeluruh mengenai karakteristik spektral dari data penginderaan jauh sangat dibutuhkan pada penggunaan teknik analisis dengan bantuan komputer. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

10

Tabel 1 Saluran citra Landsat TM
Saluran 1 2 Kisaran gelombang 0,45-0,52 0,52-0,60 Kegunaan Peningkatan penetrasi ke dalam tubuh air, mendukung analisis sifat khas pengunaan lahan, tanah dan vegetasi. Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada spektrum hijau yang terletak diantara dua saluran spektral serapan klorofil. Pengamatan ini dimaksudkan untuk membedakan jenis vegetasi dan penilaian kesuburan. Saluran terpenting untuk memisahkan vegetasi. Saluran ini terletak pada salah satu bagian serapan klorofil dan memperkuat kontras antar kenampakan vegetasi dan nonvegetasi Saluran yang peka terhadap biomassa vegetasi, juga untuk identifikasi jenis tanaman. Memudahkan pembedaan tanah dengan tanaman, serta lahan dan air. Penentuan jenis tanaman, kandungan air pada tanaman dan kondisi kelembaban tanah. Pemisahan formasi batuan Saluran inframerah termal, bermanfaat untuk klasifikasi vegetasi, analisis ganguan vegetasi, pemisahan kelembaban tanah dan sejumlah gejala lain yang berhubungan dengan panas.

3

0,63-0,69

4

0,76-0,90

5 6 7

1,55-1,75 2,08-2,35 10,40-12,50

Sumber : Lillesand & Kiefer (1990)

2.5 Pembangkitan Data Penutupan Lahan dengan Citra Landsat Skema klasifikasi merupakan rancangan skema penutupan lahan suatu wilayah yang disusun berdasarkan informasi tambahan dari wilayah yang akan diinterpretasikan. Salah satu faktor penting untuk menentukan kesuksesan klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan terlihat pada skema klasifikasi (Lo 1995) pada Tabel 2. Tabel 2
No 1

Sistem klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan untuk data penginderaan jauh
Tingkat II (menggunakan foto udara skala kecil) a Pemukiman b Perdagangan dan jasa c Industri d Transportasi e Kompleks industri dan perdagangan f Kekotaan campuran dan lahan bangunan g Kekotaan dan lahan bangunan lainnya

Tingkat I (menggunakan citra Landsat) Perkotaan atau lahan perkotaan

11

Tabel 2 (Lanjutan)
No 2 Tingkat I (menggunakan citra Landsat) Lahan pertanian Tingkat II (menggunakan foto udara skala kecil) a Tanaman semusim dan padang rumput b Daerah buah-buahan, jeruk, anggur dan tanaman hias c Lahan tanaman obat d Lahan pertanian lainnya 3 Lahan peternakan a Lahan penggembalaan terkurung b Lahan peternakan semak dan belukar c Lahan peternakan campuran 4 Lahan hutan a Lahan hutan gugur daun semusim b Lahan hutan yang selalu hijau c Lahan hutan campuran 5 Air a Sungai dan kanal b Danau c Waduk d Teluk dan muara 6 7 Lahan basah Lahan gundul a Lahan hutan basah b Lahan basah bukan hutan a Dataran garam kering b Gisik c Daerah berpasir selain gisik d Tambang terbuka, pertambangan 8 Padang lumut a Padang lumut semak belukar b Padang lumut tanaman obat c Padang lumut lahan gundul d Padang lumut daerah basah e Padang lumut daerah campuran 9 Es dan salju abadi a Lapangan salju abadi b Gletser Sumber : Lo (1995)

Sistem klasifikasi pada Tabel 2 disusun berdasarkan kriteria berikut: (1) tingkat ketelitian interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh harus tidak kurang dari 85%, (2) ketelitian interpretasi untuk beberapa kategori harus kurang lebih sama, (3) hasil yang dapat diulang harus dapat diperoleh dari penafsir yang satu ke yang lain dan dari satu saat penginderaan ke saat yang lain, (4) sistem klasifikasi harus dapat diterapkan untuk daerah yang luas, (5) kategorisasi harus memungkinkan penggunaan lahan ditafsir dari penutupan lahannya, (6) sistem klasifikasi harus dapat digunakan dengan data penginderaan jauh yang diperoleh pada waktu yang berbeda, (7) kategori harus dapat dirinci ke

12

dalam sub-kategori yang lebih rinci yang dapat diperoleh dari citra skala besar atau survei lapangan, (8) pengelompokan kategori harus dapat dilakukan, (9) harus memungkinkan untuk dapat membandingkan dengan data penggunaan lahan dan penutupan lahan pada masa yang akan datang dan (10) lahan multiguna harus dapat dikenali bila mungkin. Skema klasifikasi yang baik harus sederhana di dalam menjelaskan setiap kategori penggunaan dan penutupan lahan. Anderson (1971) dalam Lo (1995) menganggap bahwa pendekatan fungsional atau pendekatan berorientasi kegiatan akan lebih sesuai digunakan untuk citra satelit ruang angkasa, sebagai skema klasifikasi tujuan utama. Pendekatan ini merupakan sistem klasifikasi lahan yang umum digunakan di Amerika Serikat yang diperkenalkan oleh United States Geological Survey (USGS). Pada klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan ada beberapa informasi yang tidak dapat diperoleh dari data pengideraan jauh. Informasi mengenai penutupan lahan dapat secara langsung dikenali dari penutupan lahannya dan untuk menentukan penggunaan lahan diperlukan tambahan informasi untuk melengkapi data penutupan lahan. Klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan dapat juga ditentukan dengan menggunakan klasifikasi yang ditetapkan oleh Badan Planalogi Kehutanan pada Tabel 3. Tabel 3 Klasifikasi penutupan dan penggunaan lahan
Kelas Hutan lahan kering primer dataran rendah Hutan lahan kering primer pegunungan rendah Hutan lahan kering primer pegunungan tinggi Hutan lahan kering primer sub-alpine Hutan lahan kering sekunder dataran rendah Keterangan Seluruh kenampakan hutan di dataran rendah (0 – 1200 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan masif. Seluruh kenampakan hutan di pegunungan rendah (1200 – 1500 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan masif. Seluruh kenampakan hutan di pegunungan tinggi (1500 – 3000 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan masif. Seluruh kenampakan hutan di zona sub-alpine (>3000 meter), yang belum menampakan penebangan, termasuk vegetasi rendah alami yang tumbuh di atas batuan masif. Seluruh kenampakan hutan di dataran rendah (0 – 1200 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukkan dalam lahan terbuka.

13

Tabel 3 (Lanjutan)
Kelas Hutan lahan kering sekunder pegunungan rendah Keterangan Seluruh kenampakan hutan di pegunungan rendah (1200 – 1500 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukan dalam lahan terbuka. Seluruh kenampakan hutan di pegunungan tinggi (1500 – 3000 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukan dalam lahan terbuka. Seluruh kenampakan hutan di zone sub-alpine (> 3000 meter), yang telah menampakkan bekas penebangan (kenampakan alur dan bercak bekas penebangan). Bekas penebangan yang parah tapi tidak termasuk dalam areal HTI, perkebunan atau pertanian dimasukan dalam lahan terbuka. Seluruh kenampakan hutan di daerah berawa-rawa,termasuk rawa gambut yang belum menampakan tanda penebangan. Seluruh kenampakan hutan di daerah berawa yang telah menampakkan bekas penebangan. Bekas penebangan yang parah jika tidak memperlihatkan liputan air digolongkan tanah terbuka, sedangkan jika memperlihatkan liputan air digolongkan menjadi tubuh air (rawa). Hutan bakau, nipah dan nibung yang berada di sekitar pantai yang belum ditebang. Hutan bakau, nipah dan nibung yang telah ditebang) yang ditampakan dengan pole alur di dalamnya. Khusus untuk areal bekas tebangan yang telah dijadikan tambak/sawah (tampak pola persegi pematang) dimasukan dalam kelas tambak/sawah (tampak pole persegi/pematang) dimasukan dalam kelas tambak/sawah. Kawasan bekas hutan lahan kering yang telah tumbuh kembali, didominasi vegetasi rendah dan tidak menampakkan lagi bekas alur/bercak penebangan. Semak/belukar dari bekas hutan di daerah rawa. Kenampakan non-hutan alami berupa padang rumput dengan sedikit pohon. (Kenampakan alami daerah Nusa Tenggara Timur dan pantai selatan Irian laya). Seluruh kawasan HTI baik yang sudah ditanami maupun yang belum (masih berupa kahan kosong). Identifikasi lokasi dapat diperoleh pada Peta Persebaran HTI. Seluruh kawasan perkebunan, baik yang sudah ditanami maupun yang belum (masih berupa lahan kosong). Identifikasi dapat diperoleh pada Peta Persebaran Perkebunan (Perkebunan Besar). Lokasi perkebunan rakyat mungkin tidak termasuk dalam peta sehingga memerlukan informasi pendukung lain. Semua aktivitas pertanian di lahan kering seperti tegalan, kebun campuran dan ladang Semua ativitas pertanian di lahan kering, berselang-seling dengan semak, belukar dan hutan bekas tebangan. Seluruh kawasan baik yang sudah diusahakan maupun yang belum, termasuk areal pertanian, perladangan dan permukiman yang berada didalamnya. Semua aktivitas pertanian di lahan basah yang dicirikan oleh pola pematang. Aktivitas perikanan yang tampak sejajar pantai.

Hutan lahan kering sekunder pegunungan tinggi

Hutan lahan kering sekunder sub-alpine

Hutan rawa primer Hutan rawa sekunder

Hutan mangrove primer Hutan mangrove sekunder

Semak/belukar

Semak/belukar rawa Savana

HTI

Perkebunan

Pertanian lahan kering Pertanian lahan kering bercampur dengan semak Transrnigrasi

Sawah Tambak

14

Tabel 3 (Lanjutan)
Kelas Tanah terbuka Keterangan Seluruh kenampakan lahan terbuka tanpa vegetasi (singkapan batuan puncak gunung, kawah vulkan, gosong pasir, pasir pantai) tanah terbuka bekas kebakaran dan tanah terbuka yang ditumbuhi rumput/alang-alang. Kenamapakan tanah terbuka untuk pertambangan dimasukan ke kelas pertambangan, sedangkan lahan terbuka bekas land clearing dimasukkan ke kelas pertanian, perkebunan atau HTI. Tanah terbuka yang digunakan untuk kegiatan pertambangan terbuka, openpit (batubara, timah, tembaga dll.). Tambang tertutup seperti minyak, gas dll. Tidak dikelaskan tersendiri, kecuali mempunyai areal yang luas sehingga dapat dibedakan dengan jelas pada citra. Areal yang tertutup oleh salju abadi. permukiman baik perkotaan, pedesaan, pelabuhan, bandara, industri dll. yang memperlihatkan pola alur yang rapat. Semua kenampakan perairan, termasuk laut, sungai, danau, waduk, terumbu karang dan lamun (lumpur pantai). Khusus kenampakan tambak di tepi pantai dimasukkan ke pertanian lahan basah. Kenampakan rawa yang sudah tidak berhutan. Semua kenampakan awan yang menutupi suatu kawasan. Jika terdapat awan tipis yang masih mempelihatkan kenampakan di bawahnya dan masih memungkinkan untuk ditafsir, penafsiran tetap dilakukan. Poligon terkecil yang di delineasi untuk awan adalah 2 x 2 cm2.

Pertambangan

Salju Permukiman Tubuh air

Rawa Awan

Sumber : Dephut (2001)

Citra satelit Landsat sebagai satelit sumberdaya bumi telah banyak digunakan dalam penelitian-penelitian di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Contoh penggunaan citra Landsat dalam bidang kehutanan dan lingkungan antara lain, identifikasi penyebaran habitat, sebaran spasial dan karakteristik ruang terbuka hijau (RTH), klasifikasi kelas tegakan hutan, pemantauan perubahan penggunaan lahan/tutupan lahan, dan aplikasi-aplikasi yang lainnya. Salah satu contoh aplikasi SIG mengenai perubahan penutupan lahan di kawasan konservasi adalah penelitian yang dilakukan oleh Khalil (2009). Penelitiannya dilakukan di Hutan Adat Citorek Taman Nasional Gunung Halimun Salak menggunakan aplikasi SIG dengan membandingkan penutupan lahan tahun 1990 sampai 2006. Tipe penutupan lahan yang terdapat di daerah Kasepuhan Citorek dikelompokkan menjadi 9 kategori. Tipe penutupan itu adalah hutan, kebun campuran, semak belukar dan rumput, ladang, sawah, lahan terbuka, lahan terbangun, badan air dan awan. Lebih lanjut Khalil (2009) menganalisis perubahan penutupan lahan di Hutan Adat Cotorek dengan hasil adanya penurunan luas hutan pada kurun waktu 1990-2006 sebesar 1.31%. Ladang mengalami penurunan sebesar 25.48% pada kurun waktu 1990-2006. Sawah mengalami peningkatan luas menjadi 89.92% pada kurun waktu 1990-2006. Kebun campuran dan semak mengalami fluktuasi

15

luas pada kurun waktu 1990-2006. Fluktuasi ini disebabkan oleh pembukaan hutan menjadi areal pertanian seperti kebun campuran, ladang dan sawah yang diakibatkan oleh peningkatan kebutuhan masyarakat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Penelitan perubahan penutupan lahan dilakukan juga oleh Darmawan (2002) di Cagar Alam Rawa Danau tahun 1994 sampai tahun 2000. Tipe penutupan lahan yang terdapat di Rawa Danau dikelompokkan menjadi 7 kategori. Tipe penutupan itu adalah hutan, vegetasi campuran, rumput, sawah, tanah kosong, pemukiman dan badan air. Pada kurun waktu 1994-2000 terdapat peningkatan luas pemukiman sebesar 1%. Hutan mengalami peningkatan luas sebesar 1.3%, badan air mengalami peningkatan luas sebesar 2.4%, sawah mengalami peningkatan luas sebesar 12.2%, rumput mengalami penurunan sebesar 10.2%, vegetasi campuran dengan penurunan sebesar 9.2% dan tanah kosong dengan peningkatan luas sebesar 2.7%. Peningkatan akitvitas masyarakat dalam kawasan cagar alam hanya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu tingkat pendapatan dan jenis penggunaan lahan yang didominasi sawah.

16

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan selama lima bulan, yaitu pada bulan Juli-November 2010. Pengambilan data lapangan berupa penandaan lokasi (ground check) dilakukan selama satu bulan di Resort Argalingga dan Sangiang di Kabupaten Majalengka dan Resort Cigugur, Pasawahan dan Mandirancan di Kabupaten Kuningan. Selain itu untuk pengambilan data sosial masyarakat dilakukan pada dua desa yaitu Desa Seda di Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan dan Desa Sangiang di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. Pengolahan data dilakukan selama empat bulan di Laboratorium Analisis Spasial Lingkungan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Peta lokasi pengambilan data penelitian.

17

3.2 Alat dan Bahan Alat yang dibutuhkan selama penelitian adalah Global Positioning Sistem (GPS), kamera digital, alat tulis, kuisioner dan seperangkat komputer yang dilengkapi dengan software ArcGis 9.3, ERDAS 9.1 dan SPSS 15. Bahan yang digunakan adalah peta rupa bumi, peta batas kawasan TNGC, peta administrasi kecamatan, peta citra Landsat ETM+ tahun 2006 dan citra Landsat TM tahun 2009.

3.3 Jenis Data Data yang diambil dikelompokkan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah seluruh data utama yang diperoleh dari cek lapangan dan wawancara, sedangkan data sekunder adalah seluruh informasi pendukung yang berhubungan dengan penelitian seperti peta, data monografi desa dan kondisi umum kawasan.

3.4 Metode Pengambilan Data 3.4.1 Data spasial Data spasial adalah data yang bersifat keruangan meliputi peta rupa bumi, citra Landsat, peta batas administrasi, dan peta batas kawasan TNGC sebagai data sekunder. Peta dan citra Landsat tersebut diperoleh dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB, BIOTROP dan BTNGC. Data lain yang digunakan adalah data Ground Control Point (GCP) untuk menandakan lokasilokasi jenis penutupan lahan yang ada di lapangan. Data GCP merupakan data yang menyatakan posisi keberadaan suatu benda di atas permukaan bumi. Pengambilan data ini dilakukan dengan cara menandakan lokasi (ground check) dan dicatat koordinat lokasi melalui Global Positioning System (GPS). Data ini kemudian digunakan untuk mengolah citra Landsat agar sesuai dengan keadaan di lapangan dan mengurangi bias. 3.4.2 Data atribut Data atribut adalah data yang menunjukkan tulisan atau angka-angka yang membantu dalam menginterpretasikan citra Landsat. Data ini meliputi data monografi desa, kondisi umum kawasan dan data kondisi sosial ekonomi

18

masyarakat seperti jumlah tanggungan keluarga, usia, mata pencaharian, pendidikan, pendapatan, luas penggunaan lahan, pengetahuan dan sikap penduduk terhadap kawasan. Data ini dibutuhkan dalam menganalisis faktor sosial ekonomi apa saja yang mempengaruhi perambahan lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai serta pola penggunaan lahan oleh masyarakat khususnya sikap dan pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan hutan. Pengumpulan data mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat tersebut dilakukan melalui wawancara dengan teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan penilaian subyektif peneliti berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai keterkaitan dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya dengan pertimbangan tertentu (Iskandar 2008). Sampel yang diambil dalam peneltian ini adalah para petani penggarap dalam kawasan TNGC, sedangkan pengambilan jumlah sampel responden berdasarkan rumus Slovin (Santoso 2005) yaitu : N n= 1+Ne2 Keterangan : n = Jumlah sampel yang diinginkan N = Jumlah populasi sampel E = Tingkat kesalahan yaitu 10% Berdasarkan perhitungan rumus Slovin diperoleh besar sampel sejumlah 94 kepala keluarga, yaitu 50 kepala keluarga dari Desa Sangiang dan 44 kepala keluarga dari Desa Seda. Total populasi warga Desa Seda dan Desa Sangiang sebesar 1588 kepala keluarga. Pertimbangan pengambilan sampel berdasarkan kepala keluarga dikarenakan seorang kepala keluarga adalah pencari nafkah untuk keluarga sehingga lebih dapat menggali informasi yang dibutuhkan. Selain itu berdasarkan mata pencaharian dominan yaitu petani penggarap di kawasan TNGC.

19

3.5 Analisis Data 3.5.1 Data spasial Penelitian mengenai analisis perubahan penutupan lahan merupakan penelitian yang menganalisis mengenai penggunaan lahan oleh masyarakat dalam beberapa periode. Perkembangan penggunaan lahan ini akan menyebabkan terjadinya perubahan lahan, sehingga dibutuhkan data berupa gambaran/peta perubahan penutupan lahan. Peta penutupan lahan diperoleh melalui pengolahan data spasial meliputi peta rupa bumi, peta batas kawasan taman nasional, peta batas administrasi kecamatan dan citra Landsat tahun 2006 dan 2009. Proses pengolahan peta penutupan lahan dilakukan dalam beberapa tahap seperti yang disajikan pada Gambar 2.

Citra

Koreksi Geometris

Peta Batas Kawasan TNGC

Peta Rupa Bumi

Citra

Subset Image

Overlay

Cek Lapangan

Klasifikasi Citra Tidak

Citra Hasil Klasifikasi

Uji Akurasi

Terima?

Peta Tutupan Lahan

Ya

Gambar 2 Tahapan pengolahan citra.

20

1 Pembuatan peta digital Pembuatan peta digital dilakukan menggunakan seperangkat komputer dengan software ArcGis 9.3 dan ERDAS 9.1. Input dalam proses pembuatan peta digital adalah peta rupa bumi, yang diolah melalui empat tahap. Tahapan ini adalah digitasi peta, editing peta, pembuatan atribut dan transformasi koordinat. Hasil pengolahan data ini adalah peta rupa bumi digital. Peta digital digunakan untuk menentukan lokasi penelitian dan menjadi acuan dalam koreksi geometrik saat pengolahan citra. Proses pembuatan peta digital dapat dilihat pada Gambar 3.

Peta Analog

Scanning

Screen digitizing

Atributing

Transform UTM

Peta digital

Gambar 3 Proses konversi peta analog ke peta digital.

2 Koreksi data citra Data citra yang diperoleh, harus dilakukan koreksi terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Koreksi data citra yang dilakukan adalah koreksi geometris. Koreksi geometris dilakukan karena adanya pergeseran koordinat, sehingga perlu dilakukan pembetulan data citra. Koreksi geometris bertujuan agar posisi titik-titik (pixel) pada citra sesuai dengan posisi titik-titik geografi di permukaan bumi. Posisi ini adalah kedudukan geografis daerah yang terekam pada citra. Kegiatan yang pertama dilakukan saat melakukan koreksi geometris adalah penentuan tipe proyeksi dan koordinat yang digunakan. Tipe proyeksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Universal Transverse Mercator (UTM) dan sistem koordinat geografis. Tahap selanjutnya adalah koreksi distorsi yang dilakukan melalui penentuan titik ikat medan yang ditempatkan sesuai dengan koordinat citra dan koordinat peta. Setelah itu, dilakukan resampling citra mengunakan pendekatan metode tetangga terdekat (nearest neighbour).

21

Resampling citra merupakan proses transformasi citra dengan memberikan nilai pixel citra terkoreksi. 3 Pemotongan data citra (subset image) Pemotongan data citra bertujuan untuk menetukan batas wilayah yang akan diteliti. Pemotongan dilakukan dengan memotong data citra yang sudah terkoreksi untuk mendapatkan wilayah lokasi penelitian. 4 Klasifikasi data citra Klasifikasi data citra merupakan kegiatan untuk menentukan kelas-kelas yang terdapat pada data citra. Kelas-kelas tersebut menunjukkan kategori-kategori lahan dan didasarkan pada warna yang tampak dalam data citra. Klasifikassi dilakukan dengan cara mengelompokkan warna yang sama pada citra ke dalam kelas-kelas tertentu. Kegiatan klasifikasi terbagi atas dua tahap yaitu klasifikasi citra tidak terbimbing (unsupervised) dan klasifikasi citra terbimbing (supervised). Klasifikasi citra tidak terbimbing (unsupervised) dilakukan sebelum pengambilan data di lapangan (ground check). Penentuan kelas-kelas tidak didefinisikan sendiri dan peta hasil klasifikasi ini dapat dijadikan acuan saat pengambilan data di lapangan. Klasifikasi citra terbimbing (supervised clasification), merupakan kegiatan klasifikasi kelas-kelas citra yang didefinisikan sendiri. Pendefinisian ini didasarkan pada data lapangan yang telah diperoleh berupa titik-titik koordinat yang ditandai dengan GPS. Kelas-kelas yang didefinisikan menunjukkan jenis penutupan lahan yang ada di lapangan dan hasil dari klasifikasi citra ini adalah peta penutupan lahan. 5 Uji akurasi Saat klasifikasi citra, terdapat kemungkinan adanya kesalahan dalam menentukan kelas tutupan lahan, sehingga perlu dilakukan uji akurasi. Tahapan uji akurasi bertujuan untuk mengetahui tingkat keakuratan klasifikasi citra terbimbing. Akurasi citra dilakukan dengan cara menyesuaikan kelas tutupan lahan yang telah diklasifikasi dengan data Ground Control Point (GCP) yang diambil melalui GPS. Nilai akurasi minimal yang diterima adalah 85%. Apabila tingkat akurasinya kurang dari 85%, maka perlu dilakukan klasifikasi ulang.

22

6 Analisis perubahan lahan Analisis perubahan lahan dilakukan dengan membandingkan peta perubahan lahan tahun 2006 dan 2009. Kedua peta tersebut dioverlay sehingga diketahui perubahan penutupan lahan yang terjadi pada tahun 2006-2009. Tahapan analisis perubahan penutupan lahan seperti pada Gambar 4.

Peta Penutupan Lahan 2006

Peta Penutupan Lahan 2009

Overlay

Perubahan Penutupan Lahan 2009

Gambar 4 Tahapan analisis perubahan penutupan lahan.

Perubahan penutupan lahan dilakukan dengan menghitung selisih luas masing-masing tipe penutupan lahan setiap tahun dan dianalisis secara deksriptif, sedangkan untuk menghitung laju perubahan penutupan lahan menggunakan rumus berikut: N2 - N1 V= N1 Keterangan: V : Laju perubahan (%) N1 : Luas penutupan lahan tahun pertama (ha) N2 : Luas penutupan lahan tahun kedua (ha) x 100%

23

3.5.2 Data atribut Ada beberapa pendekatan analisis data atribut sosial ekonomi yang digunakan yaitu metode tabulasi deskriptif dan uji statistik. Penjelasan mengenai metode analisis adalah sebagai berikut: 1 Metode tabulasi deskriptif Data mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar serta pengetahuan dan sikap responden terhadap kawasan TNGC ditunjukan oleh jawaban responden atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Setelah wawancara dilakukan dan data-data sudah terkumpul, maka selanjutnya dilakukan proses tabulasi data-data hasil wawancara dan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui dinamika perubahan penggunaan lahan sehingga dapat diketahui perluasan lahan yang mungkin terjadi, dan analisis terhadap pengelolaan yang berlaku secara kualitatif untuk mengetahui pengaruh sejarah pengelolaan kawasan terhadap perubahan penutupan lahan yang terjadi. 2 Metode uji statistik a Analisis regresi linear sederhana Metode ini bertujuan untuk mengetahui hubungan/korelasi karakteristik sosial ekonomi masarakat penggarap dengan luas lahan garapan dalam kawasan. Dalam penelitian ini yang bertindak sebagai variabel tak bebas (y) adalah luas lahan garapan dalam kawasan, dan yang bertindak sebagai variabel bebas (x) adalah karakteristik sosial ekonomi penggarap. Model hubungan tesebut dapat dibuat dengan persamaan sebagai berikut : y = a + bx

Model hubungan dari persamaan tersebut selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji korelasi (R2). Korelasi diproyeksikan dalam koefisien korelasi yang menunjukan kemampuan model yang dihasilkan dalam menerangkan keragaman populasi (responden) yang ingin dikaji atau dengan kata lain R2 menunjukan persentase variasi data yang terjadi pada variabel tak bebas (y) yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas (x) dengan adanya regresi. Dengan demikian semakin besar R2 yang dihasilkan, semakin baik regresi yang diperoleh.

24

Dalam regresi sebelum dianalisis terdapat syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah data harus terdistribusi secara normal. Oleh karena itu, diperlukan uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan ShapiroWilk. Distribusi data normal jika kedua-duanya diuji tidak signifikan >0.05 (Iskandar 2008). Apabila data-data tersebut terdistribusi normal maka analisis dapat dilanjutkan, sedangkan apabila data tidak terdistribusi normal maka tidak bisa dilakukan analisis regresi. b Analisis uji chi-square Uji chi square menganalisis secara deskriptif hubungan antara variabel terpengaruh dan variabel pengaruh. Variabel terpengaruh dalam penelitian ini yaitu (y) yang merupakan luas lahan garapan dalam kawasan dan yang bertindak sebagai variabel pengaruh adalah (x) yang merupakan karakteristik sosial ekonomi penggarap yaitu jumlah tanggungan keluarga (x1), tingkat umur (x2), tingkat pendidikan (x3), pendapatan (x4), luas garapan di luar kawasan (x5), dan lama masyarakat menggarap (x6). Model hubungan tesebut dapat dihipotesiskan sebagai berikut : y = f (x1, x2, x3, x4, x5, x6) Untuk melihat hubungan antara variabel-variabel di atas, maka dibuat kategori terhadap variabel tersebut sehingga dapat diperlukan untuk analisis selanjutnya. Kategorinya adalah sebagai berikut: 1 Luas lahan garapan dalam kawasan, dilihat dari nilai rata-rata keseluruhan luas lahan garapan responden dalam kawasan yang dinyatakan: a Kecil, bila luas lahan garapan dalam kawasan responden kurang dari nilai rata-rata keseluruhan responden. b Besar, bila luas lahan garapan dalam kawasan responden lebih dari nilai rata-rata keseluruhan responden. 2 Jumlah tanggungan keluarga, dilihat dari nilai rata-rata keseluruhan jumlah tanggungan keluarga responden yang dinyatakan: a Kecil, bila jumlah tanggungan keluarga responden kurang dari nilai rata-rata keseluruhan responden. b Besar, bila jumlah tanggungan keluarga responden lebih dari nilai rata-rata keseluruhan responden.

25

3

Tingkat umur, dikategorikan berdasarkan produktivitas manusia yang dinyatakan: a Produktif, bila usia responden berkisar antara 15-64 tahun. b Non produktif, bila usia responden lebih dari 64 tahun.

4

Tingkat pendidikan, yang dikategorikan dalam: a Tidak sekolah. b Sekolah Dasar (SD). c Sekolah Menengah Pertama (SMP). d Sekolah Menengah Atas (SMA).

5

Tingkat pendapatan, dilihat dari besarnya pendapatan rata-rata keseluruhan responden yang dinyatakan: a Rendah, bila pendapatan responden kurang dari nilai rata-rata keseluruhan. b Tinggi, bila pendapatan responden lebih dari nilai rata-rata.

6

Luas lahan garapan diluar kawasan, dilihat dari nilai rata-rata keseluruhan lahan garapan responden yang dinyatakan: a Kecil, bila luas lahan garapan dalam kawasan responden kurang dari nilai rata-rata keseluruhan responden. b Besar, bila luas lahan garapan dalam kawasan responden lebih dari nilai rata-rata keseluruhan responden.

7

Lama menggarap, yang dinyatakan: a < 5tahun (setelah penetapan TNGC). b > 5tahun (sebelum penetapan TNGC).

Jumlah responden yang terdapat dalam suatu faktor sosial ekonomi disusun dalam tabel frekuensi dan tabel silang. Tabel frekuensi digunakan untuk melihat dominansi setiap faktor sosial ekonomi yang telah dikategorikan. Sedangkan tabel silang digunakan untuk menentukan hubungan variabel pengaruh dan variabel terpengaruh melalui uji chi-square dengan rumus sebagai berikut: ∑ (f₀-ft)2 ft

χ2 =

26

Keterangan : f₀ = frekuensi observasi yang diperoleh dari penelitian. ft = frekuensi teortis yang nilainya ditentukan dari penggandaan perbandingan jumlah total kolom dengan jumlah total baris data pada tabel silang. Hipotesis keputusan untuk pengujian ini adalah sebagai berikut : H0 : Karakter sosial ekonomi tidak berpengaruh nyata terhadap luas lahan garapan dalam kawasan. H1 : Karakter sosial ekonomi berpengaruh nyata terhadap luas lahan garapan dalam kawasan. ≤ χ2 tabel(n-1;k-1) ; terima H0 χ2 hitung ≥ χ2 tabel(n-1;k-1) ; terima H1 Apabila terima H0, maka variabel pengaruh (x) tidak berpengaruh terhadap variabel terpengaruh (y), dan sebaliknya apabila terima H1 maka variabel pengaruh (x) berpengaruh terhadap variabel terpengaruh (y). Selang kepercayaan yang digunakan adalah 95%.

27

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Taman Nasional Gunung Ciremai 4.1.1 Sejarah kawasan Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan tinggi 3078 m dpl. Gunung Ciremai awalnya merupakan kawasan hutan yang ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda dan disahkan pada tanggal 28 Mei 1941. Kawasan hutan ini kemudian berubah status menjadi hutan produksi pada tahun 1978 yang dikelola oleh Perum Perhutani yang terbagi dalan dua unit wilayah yaitu KPH Kuningan dan KPH Majalengka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.143/Kpts/Um/3/1978. Sebagian kawasan hutan produksi di Gunung Ciremai kemudian diubah statusnya sebagai kawasan hutan lindung di Kawasan Hutan Produksi Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka berdasarkan Kepmenhut nomor 195/Kpts-II/2003 tanggal 4 Juli 2003 tentang penunjukan areal hutan di Provinsi Jawa Barat seluas ± 816603 ha. Pada saat kawasan dikelola Perum Perhutani, telah ada sistem yang berjalan salah satunya adalah sistem PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) yang dimulai sekitar tahun 1999 (Suryadarma 2009). PHBM adalah sebuah sistem yang sama sekali berbeda dengan sistem pengelolaan taman nasional pada umumnya. Kebijakan PHBM ini tertuang dalam pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2002 tentang penggunaan dan pemanfaatan hutan berbasis sosial forestry. Program PHBM antara masyarakat dan Perum Perhutani dengan memanfaatkan pola tumpangsari (agroforestry). Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, dijelaskan bahwa taman nasional merupakan kawasan konservasi dengan tujuan perlindungan ekosistem penyangga kehidupan, pengawetan plasma nutfah dan pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata untuk kelestarian kawasan sehingga tidak diperbolehkan adanya aktivitas masyarakat khususnya pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan hutan di kawasan ini telah dilakukan sejak lama, yaitu sejak kawasan hutan Gunung Ciremai masih berstatus hutan produksi. Seperti dibeberapa wilayah yang dimanfaatkan untuk pertanian, lahan tumpangsari justru banyak dikonversi lahannya menjadi ladang sayur mayur

28

tanpa memelihara hutan pinus sebagai tegakan utama. Pemanfaatan ini semakin tidak terkendali dan sangat berpotensi mengakibatkan lahan kritis. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka Bupati Kuningan dan Bupati Majalengka mengusulkan kepada Menteri Kehutanan untuk mengajukan perubahan fungsi kawasan hutan lindung pada kelompok hutan Gunung Ciremai menjadi TNGC. Kawasan hutan lindung Gunung Ciremai kemudian mengalami perubahan fungsi menjadi taman nasional dengan dikeluarkannya surat keputusan menteri kehutanan nomor 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan lindung Gunung Ciremai menjadi taman nasional. Selanjutnya pada 30 Desember 2004, dilakukan penunjukan BKSDA Jawa Barat II sebagai pengelola TNGC hingga terbentuknya organisasi TNGC berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal PHKA No.SK. 140/IV/Set3/2004. Penyelesaian proses perubahan fungsi kawasan hutan Gunung Ciremai menjadi taman nasional banyak mendapat penolakan dari berbagai pihak mulai dari masyarakat desa sekitar sampai organisasi non pemerintah yang berpendapat bahwa penunjukan kawasan menjadi taman nasional agak terburu-buru, tanpa sosialisasi ke masyarakat dan tidak sesuai prosedur. Mereka menganggap keberadaan taman nasional sangat merugikan masyarakat karena telah dirubah peruntukannya, tidak dapat lagi dikelola dengan tujuan produksi dan masyarakat tidak diperbolehkan lagi menggarap dalam kawasan. Hal ini seperti pernyataan Hermawan (2005) bahwa penolakan penunjukan kawasan menjadi taman nasional disebabkan: (1) proses penetapan TNGC dianggap tidak mengindahkan proses pembicaraan yang sedang berlangsung, (2) proses penetapan yang penuh ketergesaan dikhawatirkan akan merugikan masyarakat, (3) tidak adanya sosialisasi penetapan TNGC kepada masyarakat dan (4) kekhawatiran tertutupnya akses masyarakat pada kawasan Gunung Ciremai setelah ditetapkan menjadi taman nasional. Perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang berada di kawasan TNGC menjadi kawasan konservasi telah menyebabkan perubahan sistem pengelolaan kawasan hutan. Kawasan hutan lindung tidak hanya berperan untuk melindungi terhadap tanah dan air sebagai daerah resapan, tetapi juga

29

ditingkatkan sebagai kawasan pelestarian alam. Begitupun dengan kawasan hutan produksi yang semula dikelola oleh Perum Perhutani, dengan adanya peralihan kawasan menjadi taman nasional, masyarakat sudah tidak bisa lagi menggarap lahan dalam kawasan. 4.1.2 Letak dan luas wilayah Secara geografis, TNGC terletak pada koordinat 1080 28’ 0” BT – 1080 21’ 35” BT dan 60 50’ 25” LS – 60 58’ 26” LS. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, kawasan TNGC termasuk ke dalam dua kabupaten yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka dengan luas ± 15518.23 ha. 4.1.3 Topografi dan iklim Kawasan TNGC memiliki toporafi yang bergelombang, berbukit dan bergunung membentuk kerucut dengan ketinggian mencapai 3078 m dpl. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan TNGC termasuk ke dalam tipe iklim B dan C dengan curah hujan 2000-4000 mm/tahun dan temperatur udara 180C–220C. 4.1.4 Hidrologi Kawasan Gunung Ciremai kaya dengan sumber daya air berupa sungai dan mata air. Sungai-sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai berjumlah ± 43 buah dan 156 titik mata air, 147 titik mata air terus menerus mengalirkan air sepanjang tahun dengan debit rata-rata 50–2000 liter/detik serta kualitas airnya memenuhi standar kriteria kualitas air minum. 4.1.5 Vulkanologi Gunung Ciremai termasuk gunung api kuarter aktif, tipe A yakni, gunung api magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600 dan berbentuk kerucut. Gunung ini merupakan gunung api soliter yang dipisahkan oleh zona sesar Cilacap–Kuningan dari kelompok gunung api Jawa Barat bagian timur yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu yang terletak pada zona Bandung. Gunung Ciremai merupakan gunung api generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunung api Plistosen yang terletak di sebelah Gunung Ciremai, sebagai lanjutan vulkanisme Plio-Plistosen di atas batuan tersier. Vulkanisme generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk kaldera

30

Gegerhalang. Vulkanisme generasi ketiga yaitu pada kala Holosen berupa Gunung Ciremai yang tumbuh di sisi utara kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi sekitar 7000 tahun yang lalu. 4.1.6 Kondisi biologis Tipe ekosistem hutan yang berada di kawasan TNGC secara umum merupakan tipe hutan dataran rendah (2-1000 m dpl), hutan hujan pegunungan (1000–2400 m dpl), dan hutan pegunungan atas (> 2400 m dpl). Pada stipe ekosistem tersebut terdapat keanekaragaman hayati yang tinggi berupa keanekaragaman flora, fauna dan potensi wisata. Flora yang ditemukan di kawasan tersebut berdasarkan hasil eksplorasi sebanyak 57 jenis, diantaranya adalah edelweis, pasang, jamuju, harendong, kiteja, kipare, kicalungcung, hamirung, kijagong, kiceuhay, pelending, cereme, kiucing, kileho, kinugrah, cerem, kibeusi, kisieur, walen, nangsi, kiampet, kemuning, ipis kulit, kigawulan, huru, kalimarot, kisalam, totongoan, talingkup, kendung, pendung, kiamis, kitaji, kipait, ramo giling, kihuut, kisareni, tangogo, hamperu badak, hamerang, beunying, kawoyang, kareumbi, masawa, kikacapi, kikacang, baros, songgom, kijeruk, gintung, kisireum dan kijengkol. Jenis fauna yang ditemukan di kawasan TNGC cukup beragam terdiri dari jenis burung, mamalia dan reptil. Macan tutul (Panthera pardus), kijang (Muntiacus munjak), kera ekor panjang (Macaca Fascicularis), elang hitam (Ictinaetus malayensis), ekek kiling (Cissa thalassina), sepah madu (Perictorus miniatus), lutung (Presbytis cristata), surili (Presbytis comata), ular sanca (Phyton molurus), meong congkok (Felis bengalensis), walik (Ptilinopuscinctus) dan anis (Zoothera citrina). Taman Nasional Gunung Ciremai juga memiliki sejumlah potensi wisata alam, yaitu Objek Wisata Talaga Remis, Objek Wisata Situ Nilam, Objek Wisata Situ Ayu Salintang, Situ Cicerem, Bumi Perkemahan Cikole dan Mata Air, Bumi Perkemahan dan Wisata Air Paniis, Bumi Perkemahan Cibeureum, Bumi Perkemahan Cibunar dan Parigi, Bumi Perkemahan Palutungan dan Kawasan Wisata Lembah Cilengkrang.

31

4.1.7 Potensi wisata Kawasan TNGC memiliki objek wisata alam yang telah dikelola sebelum penetapan statusnya sebagai taman nasional. Potensi wisata terdapat di kawasan TNGC cukup unik, variatif dan memiliki nilai jual yang tinggi. Potensi tersebut mencakup potensi fisik maupun hayati antara lain panorama alam, keindahan air terjun, pemandian air panas, bentang alam, kawasan persawahan, aliran sungai yang mengalir dapat dijadikan alternatif wisata bagi para wisatawan. Beberapa objek wisata alam yang selama ini telah diusahakan di kawasan TNGC dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Objek wisata alam di TNGC
No 1 Kabupaten Kuningan Nama lokasi Jenis daya tarik Danau Danau Aktivitas berkemah Aktivitas berkemah Wisata air Aktivitas berkemah Aktivitas pendakian Aktivitas pendakian Aktivitas berkemah Aktivitas berkemah Aktivitas berkemah Wisata air Air terjun Wisata air Aktivitas berkemah Aktivitas pendakian Aktivitas berkemah Air terjun Wisata air Telaga Remis Situ Cicerem Bumi Perkemahan Cikole Pemandian Paniis dan Bumi Perkemahan Singkup Sumur Cikajayaan Bumi Perkemahan Cibeureum Jalur Pendakian Linggarjati Jalur Pendakian Palutungan Bumi Perkemahan Hulu Ciawi Bumi Perkemahan Cibunar Bumi Perkemahan Balong Dalam Pemandian Alam Cibulan dan Sumur Tujuh Lembah Cilengkrang Pemandian Alam Cigugur Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Putri 2 Majalengka Jalur Pendakian Apuy Bumi Perkemahan Cipanten Curug Sawer Situ Sangiang Sumber : BTNGC (2006)

4.2 Daerah Penyangga TNGC 4.2.1 Letak dan luas Daerah penyangga TNGC terletak melingkari kawasan TNGC yang meliputi 46 desa di 14 kecamatan dan 2 kabupaten. Ada 25 desa di 7 kecamatan di Kabupaten Kuningan di sekitar kawasan TNGC sebelah timur dengan luas keseluruhan desa tersebut sebesar 105.5 km2. Sementara itu, ada 20 desa di 7 Kecamatan di Kabupaten Majalengka di sekitar kawasan TNGC sebelah barat dengan luas keseluruhan desa tersebut sebesar ± 107.31 km2.

32

4.2.2 Kondisi sosial ekonomi masyarakat 1 Kepadatan penduduk Luas wilayah desa-desa sekitar taman nasional yang masuk Kabupaten Kuningan adalah 105.5 km2. Jumlah penduduk dari desa-desa tersebut sebesar 64666 jiwa dengan kepadatan penduduk 612.96/km2 (BPS Kabupaten Kuningan 2003). Sedangkan luas wilayah desa-desa sekitar taman nasional yang masuk Kabupaten Majalengka adalah ± 107.31 km2, dengan jumlah penduduk mencapai 287439 jiwa, laki-laki berjumlah 144096 jiwa dan perempuan sebanyak 143341 jiwa (BPS Kabupaten Majalengka 2003). 2 Mata pencaharian Mata pencaharian penduduk Kabupaten Kuningan yang berada di sekitar kawasan TNGC terdiri dari petani sebanyak 65476 orang (68.79%), industri sebanyak 2323 orang (2.46%) dan sektor jasa sebanyak 27097 orang (28.55%). Besarnya jumlah petani menunjukkan besarnya jumlah masyarakat yang bergantung pada lahan pertanian dengan luas kepemilikan lahan pertanian oleh petani hanya mencapai 0.2 ha. Adapun komoditas pertanian yang dihasilkan diantaranya padi, palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedangkan mata pencaharian penduduk Kabupaten Majalengka yang berada di sekitar kawasan TNGC sebagian besar di sektor pertanian (34%), baik di lahan milik, penggarap atau buruh tani dengan komoditi yang ditanam di atas lahan ladang/kebun/tegalan adalah sayuran-sayuran dan buah-buahan. Mata pencaharian lain yaitu 33% di sektor industri pengolahan, 17% di sektor perdagangan dan sisanya tersebar di sektor jasa, angkutan, perkebunan, perikanan dan perdagangan. 3 Penggunaan lahan Secara umum pola penggunaan lahan masyarakat di sekitar TNGC terdiri dari tanah sawah dan bukan sawah (kebun, hutan rakyat, perkebunan, perumahan dan tanah pekarangan). Luas penggunaan lahan di Kabupaten Kuningan adalah seluas 5644.48 ha yang terbagi menjadi lahan sawah 15026 ha (berdasarkan sistem pengairan irigasi teknis, setengah teknis, irigasi sederhana, irigasi desa maupun tadah hujan) dan bukan sawah 4141.88 ha yang terdiri dari kebun, hutan rakyat, hutan negara, perkebunan dan lain-lain (BPS Kabupaten Kuningan 2003). Adapun penggunaan lahan di sekitar kawasan TNGC yang berada di wilayah

33

Kabupaten Majalengka secara umum diklasifikasikan menjadi lahan sawah dan lahan kering. Pada tahun 2003 tercatat bahwa luas lahan sawah di Kabupaten Majalengka sedikit mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2002 yaitu dari 51045 ha menjadi 50937 ha. Hal ini disebabkan adanya peralihan fungsi lahan dari sawah menjadi tanah tegalan atau perumahan. Penggunaan lahan di kawasan barat (Majalengka) sampai dengan tahun 2005 didominasi untuk tanah ladang/tegalan yaitu seluas 3047.55 ha. 4 Sosial budaya Berdasarkan data BPS Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka tahun 2003, sebagian besar penduduk yang ada di 14 kecamatan sekitar kawasan TNGC umumnya memeluk agama Islam (98%), sedangkan sebagian kecil beragama Kristen Protestan dan Katolik (2%). Interaksi masyarakat desa dengan kelompok hutan Gunung Ciremai telah lama berlangsung sejak kawasan tersebut belum ditunjuk sebagai taman nasional. Berbagai aktivitas dilakukan masyarakat, baik secara ekologi, ekonomi dan sosial berhubungan dengan kawasan tersebut, termasuk beberapa situs yang terdapat di dalam kawasan Gunung Ciremai yang merupakan bagian dari kegiatan ritual kepercayaan dan budaya bagi sebagian masyarakat di sekitar dan di luar kawasan Gunung Ciremai.

34

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Penutupan Lahan di Kawasan TNGC Penutupan lahan merupakan status lahan secara ekologi dan penampakan permukaan lahan secara fisik, yang dapat berubah karena adanya intervensi manusia, gangguan alam dan suksesi tumbuhan secara alami. Penggunaan lahan merupakan perubahan keadaan lahan yang disebabkan oleh adanya kegiatan pemanfaatan yang dilakukan oleh manusia untuk berbagai kepentingan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Penutupan lahan dan penggunaan lahan yang ada di TNGC berdasarkan hasil survei dikelompokkan menjadi tujuh kategori. Tipe penutupan dan penggunaan lahan tersebut adalah hutan alam, hutan tanaman, semak, ladang, lahan terbuka, badan air dan tidak ada data. Penutupan dan penggunaan lahan di TNGC disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5 Penutupan dan penggunaan lahan. (a) Hutan alam; (b) Hutan tanaman pinus; (c) Semak belukar; (d) Ladang; (e) Lahan terbuka; (f) Badan air.

35

5.1.1 Klasifikasi penutupan lahan Proses klasifikasi dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik interpretasi penginderaan jauh menggunakan citra Landsat. Citra yang digunakan untuk klasifikasi adalah citra dengan tahun penyiaman 2006 dan 2009. Berdasarkan hasil interpretasi citra, klasifikasi penutupan lahan terbagi dalam 7 tipe yaitu hutan alam, hutan tanaman, semak, ladang, lahan terbuka, badan air dan tidak ada data. Kunci interpretasi tipe penutupan lahan pada citra Landsat band 5,4,3 disajikan pada Tabel 5. Adapun klasifikasi tipe penutupan lahan dijelaskan sebagai berikut : 1 Hutan alam merupakan kelompok hutan yang masih alami baik itu hutan primer maupun hutan sekunder. 2 Hutan tanaman merupakan kelompok hutan produksi eks Perum Perhutani. Dalam kawasan TNGC dan sekitarnya didominasi oleh hutan tanaman pinus dengan sistem agroforestry. 3 Semak adalah lahan yang didominasi oleh tumbuhan bawah, rumput dan belukar. Areal ini dapat juga berupa bekas pembukaan hutan lahan kering yang telah tumbuh kembali. 4 Ladang merupakan lahan pertanian kering yang ditanami bukan tanaman keras. Umumnya ladang ditanami dengan sayuran atau tanaman pangan semusim. 5 Lahan terbuka adalah seluruh kenampakan lahan yang tidak bervegetasi, lahan bekas kebakaran dan tanah bebebatuan. 6 Badan air merupakan penampakan permukaan air yang berupa danau,sungai, dan kolam. 7 Tidak ada data adalah penampakan awan dan bayangan pada citra. Adanya awan dan bayangan mengakibatkan citra tidak dapat diklasifikasi.

36

Tabel 5 Kunci interpretasi tipe penutupan lahan pada citra Landsat
No. 1 Tipe penutupan lahan Hutan alam Deskripsi tampilan citra Hutan alam berwarna hijau tua gelap dan berada pada kelas kelerengan yang curam Gambar citra Landsat

2

Hutan tanaman pinus

Hutan tanaman pinus berwarna hijau agak gelap dan memiliki tekstur yang halus

3

Semak

Semak berwarna kuning sangat terang hingga merah muda terang. Memiliki tekstur yang agak halus.

4

Ladang

Ladang berwarna kebiruan, berbercak kemerahan dan kecoklatan.

5

Lahan terbuka

Lahan terbuka berwarna ungu, merah muda gelap dan keabuan

37

Tabel 5 (Lanjutan)
No. 6 Tipe penutupan lahan Badan air Deskripsi tampilan citra Badan air berwarna biru tua Gambar citra Landsat

7

Awan dan bayangan awan

Awan berwarna putih dan bayangan berwarna hitam

5.1.2 Penutupan lahan di TNGC tahun 2006 Hasil pengolahan citra Landsat dengan waktu penyiaman citra 24 September 2006 adalah peta penutupan lahan TNGC (Gambar 6). Nilai overall classification accuracy peta tutupan lahan tahun 2006 adalah 86.49%. Berdasarkan Tabel 6 dan Tabel 7, luas tipe penutupan lahan di TNGC tahun 2006 dijelaskan sebagai berikut: 1 Tipe petutupan lahan yang terluas di TNGC adalah hutan alam dengan luas 6345.99 ha. Hutan alam yang ada di TNGC sebagian besar merupakan hutan sekunder. Persebaran hutan alam paling luas yaitu di Kecamatan Argapura dengan luas 1932.48 ha dan terkecil pada Kecamatan Sukahaji dengan luas 14.67 ha. 2 Tipe penutupan lahan terluas kedua adalah semak dengan luas 3295.26 ha. Semak merupakan lahan berupa rumput, tumbuhan bawah atau ilalang yang tumbuh karena adanya pembukaan lahan atau lahan bekas garapan yang ditinggalkan. Semak mendominasi luasan TNGC di beberapa wilayah karena lahannya sebagian berbatu dan adanya faktor kebakaran hutan yang menyebabkan suksesi secara alami. Semak belukar terluas berada di Kecamatan Pasawahan dengan luas 671.76 ha diikuti Kecamatan Argapura

38

dengan luas 622.53 ha, dan yang terkecil berada di Kecamatan Cikijing dengan luas 21.24 ha. 3 Tidak ada data merupakan penutupan lahan terluas ketiga dengan luas 1864.35 ha. Luas penutupan lahan ini terkait dengan kondisi saat penyiaman citra berupa awan, bayangan awan, serta punggungan bukit-bukit. 4 Hutan tanaman pinus merupakan tipe penutupan lahan terluas keempat dengan luas 1458.27 ha. Hutan tanaman pinus di TNGC dahulu dikelola Perum Perhutani. Distribusi hutan tanaman pinus terluas berada di Kecamatan Argapura dengan 477.99 ha, kemudian Kecamatan Mandirancan dengan luas 200.43 ha dan yang terkecil di Kecamatan Sukahaji dengan luas 1.17 ha. 5 Lahan terbuka merupakan penutupan lahan terluas kelima dengan luas 1413.36 ha. Lahan terbuka diakibatkan oleh kebakaran lahan-lahan semak belukar yang menyebabkan semak-semak menjadi tanah-tanah hitam. Selain itu karena adanya pembukaan lahan oleh masyarakat sebelum digarap menjadi lahan pertanian. Lahan terbuka di TNGC yang terluas berada di Kecamatan Pasawahan dengan luas 1025.55 ha, kemudian Kecamatan Argapura dengan luas 152.91 ha dan yang terkecil berada di Kecamatan Cikijing dengan luas 0.9 ha. 6 Ladang merupakan tipe penutupan lahan terluas keenam dengan luas 789.3 ha. Ladang adalah lahan pertanian kering yang ditanami sayur-sayuran seperti kubis, cabai, kentang, petcay dan lainnya. Ladang merupakan lahan garapan yang sudah lama diterapkan oleh masyarakat dan sudah ada sebelum adanya kawasan TNGC atau semenjak masih dikuasai oleh Perum Perhutani, sehingga ladang masih banyak terdapat di dalam kawasan taman nasional. Luasan ladang yang terluas berada di wilayah Kecamatan Argapura dengan 440.19 ha, kemudian di Kecamatan Talaga dengan luas 220.59 ha dan terluas ketiga di Kecamatan Cigugur dengan luas 36.27 ha. 7 Badan air merupakan tipe penutupan lahan yang terkecil yang sangat jelas terdeteksi di wilayah danau/Situ Sangiang dengan luas 19.17 ha dan Talaga Remis dengan luas 2.34 ha.

39

Gambar 6 Peta penutupan lahan TNGC tahun 2006. 5.1.3 Penutupan lahan di TNGC tahun 2009 Hasil pengolahan citra Landsat dengan waktu penyiaman citra 16 Maret 2009 adalah peta penutupan lahan TNGC (Gambar 7). Nilai overall classification accuracy peta tutupan lahan tahun 2009 adalah 89.19%. Berdasarkan Tabel 6 dan

40

Tabel 7, luas tipe penutupan lahan di TNGC tahun 2009 dijelaskan sebagai berikut: 1 Penutupan lahan terluas di TNGC adalah hutan alam dengan luas 6294.78 ha. Hutan alam di TNGC sebagian besar merupakan hutan sekunder dan sebagian hutan yang masih primer/alami. Hutan alam terluas berada di wilayah administrasi Kecamatan Argapura dengan luas 1985.49 ha, kemudian Kecamatan Cigugur dengan luas 720.72 ha dan yang terkecil pada Kecamatan Sukahaji dengan luas 15.03 ha. 2 Tipe penutupan lahan terluas kedua adalah semak dengan luas 404.99 ha. Semak merupakan lahan berupa rumput, tumbuhan bawah atau ilalang yang tumbuh karena adanya pembukaan lahan atau lahan bekas garapan yang ditinggalkan. Distribusi semak terluas pada Kecamatan Pasawahan dengan luas 1532.07 ha dan Kecamatan Mandirancan dengan luas 487.89 ha. 3 Tidak ada data merupakan penutupan lahan terluas ketiga dengan luas 1864.35 ha. Luas penutupan lahan ini terkait dengan kondisi saat penyiaman citra yang berupa awan, bayangan awan serta punggungan bukit-bukit. 4 Hutan tanaman merupakan tipe penutupan lahan terluas keempat dengan luas 1551.15 ha. Penggunaan lahan hutan tanaman pinus ini terlihat dari aktivitas penggarapan lahan masyarakat dengan sistem tumpangsari. Distribusi terluas yaitu pada Kecamatan Argapura dengan 379.44 ha diikuti dengan Kecamatan Mandirancan dengan luas 247.86 ha. 5 Ladang merupakan tipe penutupan lahan terluas kelima dengan luas 967.59 ha. Ladang adalah lahan pertanian kering yang ditanami tanaman sayuran semusim. Ladang merupakan lahan garapan yang sudah lama diterapkan oleh masyarakat dan sudah ada sebelum adanya kawasan TNGC. Distribusi ladang terluas berada di Kecamatan Argapura dengan luas 617.04 ha, kemudian di Kecamatan Cigugur dengan luas 87.84 ha. 6 Lahan terbuka merupakan penutupan lahan terluas keenam dengan luas 434.16 ha. Lahan terbuka merupakan lahan yang tidak bervegetasi, tanah dan berbatu seperti di puncak Gunung Ciremai, serta lahan semak yang mengalami kebakaran lahan dan hutan. Distribusi terluas berada pada wilayah Kecamatan Pasawahan dengan luas 170.91 ha

41

7

Luas penutupan lahan paling kecil adalah badan air. Badan air terdeteksi jelas di Situ Sangiang (Kecamatan Talaga) dengan luas 17.64 ha dan Telaga Warna (Kecamatan Pasawahan) dengan luas 2.25 ha.

Legenda

Gambar 7 Peta penutupan lahan TNGC tahun 2009.

42

5.2 Perubahan Penutupan Lahan Perubahan penutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan yang karena manusia mengalami kondisi yang berubah pada waktu yang berbeda. Berdasarkan hasil interpretasi citra Landsat ETM+ tahun 2006 dan citra Landsat TM tahun 2009, dapat diketahui bahwa terjadi perubahan penutupan lahan di kawasan TNGC. Perubahan penutupan lahan secara umum dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Perubahan penutupan lahan di TNGC tahun 2006 dan 2009
Tipe penutupan lahan Hutan alam Hutan tanaman Ladang Semak Lahan terbuka Badan air Tidak ada data Luas penutupan lahan (ha) Total 2006 6345.99 1458.27 789.3 3295.26 1413.36 21.51 1864.35 % 41.78 9.60 5.20 21.70 9.31 0.14 12.28 2009 6294.78 1551.15 967.59 4041.99 434.16 19.89 1864.35 % 41.48 10.22 6.38 26.64 2.86 0.13 12.29 Perubahan penutupan lahan Total 2006-2009 Laju/3tahun (ha) (%) -51.21 -0.01 92.88 178.29 746.73 -979.2 -1.62 0 0.06 0.18 0.18 -2.26 -0.08 0

No

1 2 3 4 5 6 7

Penutupan lahan di TNGC terbagi dalam 12 kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan TNGC. Sebagian wilayah TNGC termasuk ke dalam batas wilayah-wilayah administrasi kecamatan yang berada di Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan. Luasan penutupan lahan pada masingmasing kecamatan dan perubahan penutupan lahannya selama periode 2006-2009 dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.

43

Tabel 7 Penutupan lahan tiap kecamatan
2006 No Kabupaten Kecamatan Hutan alam (ha) 17.64 264.24 1932.48 14.67 525.06 27.27 507.06 802.17 662.67 718.83 391.68 564.3 Hutan tanaman pinus (ha) 2.61 126.81 477.99 1.17 107.19 101.97 43.92 59.31 91.17 65.79 200.43 187.65 Semak belukar (ha) 21.24 124.65 622.53 92.25 261.81 76.05 141.03 301.05 194.49 385.74 441.81 671.76 Lahan terbuka (ha) 0.90 48.60 152.91 0.09 31.77 3.51 25.02 37.26 5.76 26.82 65.43 1025.55 Ladang (ha) 2.07 220.59 440.19 12.24 28.26 3.33 30.06 36.27 6.84 1.71 1.71 11.25 Badan air (ha) 0 19.17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.34 Tidak ada data (ha) 49.23 169.38 142.38 1.17 367.02 11.88 586.8 62.64 122.58 7.38 21.87 339.84 Hutan alam (ha) 28.08 352.08 1985.49 15.03 528.12 44.91 471.42 720.72 586.35 695.34 348.66 598.14 Hutan tanaman pinus (ha) 4.95 130.77 379.44 5.76 123.66 84.6 60.57 85.77 130.32 166.86 247.86 141.57 Semak belukar (ha) 6.75 120.51 524.70 68.94 230.13 66.69 181.44 308.7 226.89 332.19 487.89 1532.07 2009 Lahan terbuka (ha) 0.18 45.36 116.73 9.45 35.91 6.48 1.8 34.29 6.66 1.98 9.70 170.91 Ladang (ha) 3.60 137.70 617.04 18.27 23.76 6.39 39.33 87.84 15.21 6.66 6.03 8.91 Badan air (ha) 0 17.64 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2.25 Tidak ada data (ha) 49.23 169.38 142.29 1.17 367.02 11.88 586.8 62.64 122.58 7.38 21.87 339.93

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Majalengka

Kuningan

Cikijing Talaga Argapura Sukahaji Rajagaluh Sindangwangi Darma Cigugur Jalaksana Cilimus Mandirancan Pasawahan

43

44

Tabel 8 Perubahan penutupan lahan tiap kecamatan
Hutan alam (ha) No Kabupaten Kecamatan Luas (ha) 10.44 87.84 53.01 0.36 3.06 17.64 -35.64 -81.45 -76.32 -23.49 -43.02 33.84 Laju perubahan (%) 0.59 0.33 0.03 0.02 0.01 0.65 -0.07 -0.10 -0.12 -0.03 -0.11 0.06 Hutan tanaman pinus (ha) Luas (ha) 2.34 3.96 -98.55 4.59 16.47 -17.37 16.65 26.46 39.15 101.07 47.43 -46.08 Laju perubahan (%) 0.90 0.03 -0.21 3.92 0.15 -0.17 0.38 0.45 0.43 1.54 0.24 -0.25 Semak (ha) Luas (ha) -14.49 -4.14 -97.83 -23.31 -31.68 -9.36 40.41 7.65 32.4 -53.55 46.08 860.31 Laju perubahan (%) -0.68 -0.03 -0.16 -0.25 -0.12 -0.12 0.29 0.03 0.17 -0.14 0.10 1.28 Lahan terbuka (ha) Luas (ha) -0.72 -3.24 -36.18 9.36 4.14 2.97 -23.22 -2.97 0.90 -24.84 -55.73 -854.64 Laju perubahan (%) -0.8 -0.07 -0.24 104 0.13 0.85 -0.93 -0.08 0.16 -0.93 -0.85 -0.83 Ladang (ha) Luas (ha) 1.53 -82.89 176.85 6.03 -4.5 3.06 9.27 51.57 8.37 4.95 4.32 -2.34 Laju perubahan (%) 0.74 -0.38 0.40 0.49 -0.16 0.92 0.31 1.42 1.22 2.89 2.53 -0.21 Badan air (ha) Luas (ha) 0 -1.53 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.09 Laju perubahan (%) 0 -0.08 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -0.04 Luas total (2006) 93.69 973.44 3768.48 121.59 1321.11 224.01 1333.89 1298.7 1083.51 1206.27 1122.93 2802.69 Luas total (2009) 92.79 973.44 3765.69 118.62 1308.60 220.95 1341.36 1299.96 1088.01 1210.41 1122.01 2793.78

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Majalengka

Cikijing Talaga Argapura Sukahaji Rajagaluh Sindangwangi

Kuningan

Darma Cigugur Jalaksana Cilimus Mandirancan Pasawahan

44

45

Penutupan lahan hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder di TNGC selama periode 2006-2009 mengalami penurunan luas hutan sebesar 51.21 ha dengan laju perubahan luas sebesar 0.01%. Penurunan luas hutan alam terbesar yaitu di Kecamatan Cigugur dengan 81.45 ha dan peningkatan hutan alam terbesar yaitu di Kecamatan Talaga 87.84 ha. Hutan alam mengalami penurunan luas dan perubahan menjadi semak belukar sebesar 7.80%, menjadi hutan tanaman sebesar 4.19%, dan menjadi ladang sebesar 0.80% dari luas tahun 2006 pada tahun 2009. Penurunan luas hutan ini mengindikasikan adanya gangguan kawasan hutan berupa pencurian dan penebangan kayu, penggarapan lahan serta beberapa kejadian kebakaran hutan yang merusak pohon dan menyebabkan lahan tersebut menjadi kurang tertutup vegetasi. Selain itu juga karena adanya lahan hutan yang dimanfaatkan untuk kebun campuran karena merupakan kawasan enclave. Wilayah enclave ini memang sudah ada lama sejak masih dikelola Perum Perhutani. Kawasan TNGC terdapat dua lokasi yang menjadi kawasan enclave dan keduanya berada di wilayah resort pasawahan dengan luas masing-masing 12.5 ha dan 67.5 ha. Lokasi enclave ini cenderung merupakan hutan campuran sekunder dan tidak ada pemukiman di dalamnya. Hutan sekunder mendominasi kawasan hutan di TNGC karena ekosistem ini banyak dijumpai baik di daerahdaerah hutan tropika basah maupun hutan musim, di dataran rendah dan bukitbukit. Selain itu adanya ekosistem hutan sekunder di TNGC disebabkan karena faktor alam yaitu letusan gunung berapi yang sudah terjadi sebanyak 7 kali diantaranya tahun 1698, 1772, 1775, 1805, 1917, 1924 dan 1938 (BTNGC 2006) sehingga vegetasi hutan alam pada masa lalu mengalami suksesi dan menjadi hutan sekunder. Secara umum persebaran deforestasi dan reforestasi hutan di TNGC selama periode 2006-2009 dapat dilihat pada Gambar 8.

46

Gambar 8 Peta deforestasi dan reforestasi hutan TNGC tahun 2006-2009. Hutan tanaman pinus dalam wilayah TNGC mengalami peningkatan luas pada periode 2006-2009 yaitu sebesar 92.88 ha dengan laju perubahannya sebesar 0.06%. Penurunan luas hutan tanaman pinus terbesar yaitu di wilayah Kecamatan Argapura dengan luas 98.55 ha dan peningkatan luas hutan tanaman pinus terluas di Kecamatan Cilimus dengan 101.07 ha. Selama periode 2006-2009, hutan tanaman pinus yang mengalami perubahan menjadi vegetasi semak sebesar 8%. Hal ini memungkinkan karena selama periode 2006-2009 telah terjadi kebakaran lahan hutan sebesar 2245.9 ha (Tabel 9). Hutan tanaman pinus merupakan vegetasi yang mudah terbakar dan interpretasi pada citra Landsat akan terlihat

47

vegetasi bawahnya yang berupa semak. Hutan tanaman pinus juga mengalami perubahan menjadi hutan alam sebesar 16%. Perubahan penutupan ini diduga karena adanya pemanfaatan intensif lahan garapan berupa kebun campuran di bawah tegakan pinus sehingga klasifikasi diinterpretasikan menjadi hutan alam. Penggunaan lahan untuk kebun campuran tidak bisa dideteksi berdasarkan klasifikasi citra Landsat karena agak tertutup oleh kelompok hutan tanaman pinus. Selain itu, hutan tanaman pinus juga mengalami perubahan menjadi ladang sebesar 10% dari luas tahun 2006 pada tahun 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak merawat hutan tanaman pinus. Hutan tanaman pinus sengaja dicuri dan ditebang agar tidak menghalangi ladang sayuran yang tidak membutuhkan naungan. Selain itu, lokasi hutan pinus ini pun dekat dengan daerah rawan kebakaran, seperti di Pesawahan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tunggak batang sisa kebakaran yang masih hitam tegak berdiri. Hutan tanaman pinus yang dahulu dikelola dengan sistem tumpangsari dalam program PHBM menyebabkan banyaknya masyarakat yang menggarap lahan TNGC sehingga memungkinkan adanya perubahan penutupan lahan menjadi ladang sayuran tanpa memelihara tegakan utamanya yaitu pinus. Kondisi ini terlihat di wilayah TNGC sebelah barat seperti di Kecamatan Bantaragung, Argalingga, Argamukti, Talaga sampai wilayah timur TNGC seperti Cigugur, dan sebagian Cilimus. Masyarakat yang berkebun dan berladang dengan sistem tumpangsari seharusnya menggarap lahan sampai tegakan pinus menjadi besar dan terpelihara dan kemudian masyarakat menggarap di lahan yang lain terutama di lahan bekas tebangan pinus. Namun kenyataannya di lapangan masyarakat justru tidak memelihara tegakan pinus dan pohon hutan lainnya. Mereka justru menebang pohon tersebut agar masyarakat bisa terus menggarap lahan lebih lama. Hal ini kemungkinan diduga karena sudah tidak ada wewenang Perum Perhutani terkait adanya peralihan status menjadi taman nasional sehingga masyarakat beranggapan bahwa pemeliharaan pinus akan menjadi sia-sia. Secara umum penurunan (deforestasi) dan peningkatan (reforestasi) areal hutan tanaman pinus pada beberapa wilayah kecamatan dapat dilihat pada Gambar 9.

48

Gambar 9 Peta deforestasi dan reforestasi hutan tanaman pinus TNGC tahun 2006-2009. Ladang di kasawan TNGC mengalami peningkatan luas pada periode 2006-2009 sebesar 178.29 ha dengan laju perubahan luasnya sebesar 0.18%. Peningkatan luas ladang di dalam kawasan taman nasional sangat tidak terkendali. Pemanfaatan lahan untuk ladang ini dapat dikatakan sebagai perambahan yang disebabkan konversi lahan menjadi ladang sayuran. Hal ini dikarenakan aktivitas masyarakat dalam bertani lebih banyak memanfaatkan lahan di dalam kawasan dibandingkan di luar kawasan terkait dengan keberadaan lahan garapan yang

49

sudah ada sebelum kawasan TNGC ditunjuk. Pada periode tahun 2006-2009 telah terjadi perubahan lahan dari ladang menjadi semak sebesar 17%. Hal ini memungkinkan karena pada sebagian wilayah di Kecamatan Talaga masyarakat menanam jagung dimana komoditi jagung memiliki pencitraan yang agak serupa dengan semak yang berwarna kekuning-kuningan. Selain itu diduga adanya masyarakat yang meninggalkan sebagian lahan garapannya dalam kawasan untuk tidak menggarap lagi dikarenakan adanya sosialisasi dari petugas taman nasional dalam rangka penutupan kawasan untuk lahan garapan sehingga lahan yang ditinggalkan tersebut berubah menjadi semak. Distribusi ladang dalam kawasan TNGC dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Peta distribusi ladang dalam kawasan (a) tahun 2006; (b) tahun 2009. Berdasarkan peta distribusi ladang dalam kawasan TNGC, dapat dilihat penyebaran lokasi penggarapan lahan khususnya ladang sayur tanpa naungan sebagian besar berada di wilayah administrasi Kabupaten Majalengka seperti wilayah Kecamatan Argapura dengan luas peningkatan sebesar 176.85 ha. Sedangkan sebagian kecil berada di wilayah Kabupaten Kuningan yaitu wilayah Kecamatan Cigugur dan sebagian Cilimus. Hal ini dapat dipahami karena

50

wilayah-wilayah tersebut berada pada ketinggian antara 800-1200 m dpl yang cocok ditanami sayuran. Namun pemanfaatannya menjadi tidak terkendali dan sampai masuk ke dalam kawasan taman nasional diantaranya ada yang mencapai ketinggian sekitar 1980 m dpl yaitu pada lokasi Blok Ciinjuk, Desa Cipulus, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Perambahan ini diduga karena masyarakat lebih senang menanam sayuran seperti kol, kentang, bawang daun, petcay dan cabai yang memiliki musim panen yang cepat sekitar 3-4 bulan sekali panen sehingga lebih produktif dibandingkan harus menanam dan memelihara tanaman keras/buah-buahan seperti kopi, cengkeh dan alpukat yang memiliki masa panen relatif lama yaitu sekitar 1-3 tahun sekali panen. Hal ini akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan akan memperluas lahan garapannya apabila tidak dilakukan sosialisasi intensif dan langkah konkrit dalam rangka penutupan kawasan untuk penggarapan. Semak belukar mengalami peningkatan luas lahan yang cukup tinggi pada periode 2006-2009 yaitu sebesar 746.73 ha dengan laju perubahan luasan sekitar 0.18%. Peningkatan penutupan semak terluas yaitu di Kecamatan Pasawahan dengan luas 860.30 ha. Semak belukar yang mengalami perubahan vegetasi diantaranya menjadi ladang sebesar 7.36% dan hanya 3.70% yang berubah menjadi lahan terbuka. Pada periode 2006-2009 di wilayah TNGC terjadi kebakaran hutan dan lahan yang sangat besar yang menghabiskan semak belukar dan membakar hutan-hutan di sekitarnya, terutama hutan tanaman pinus. Kebakaran hutan yang sering terjadi terutama pada saat musim kemarau, yaitu antara bulan Juni sampai dengan Oktober. Daerah yang rawan terjadi kebakaran hutan adalah daerah puncak Gunung Ciremai dan bagian kaki Gunung Ciremai sebelah utara di wilayah Kabupaten Kuningan serta sebelah timur wilayah Kabupaten Majalengka (BTNGC 2010). Distribusi semak belukar dapat dilihat pada Gambar 11.

51

Gambar 11 Peta distribusi semak belukar (a) tahun 2006; (b) tahun 2009

Lokasi-lokasi pada tiap resort di wilayah TNGC yang mengalami kebakaran lahan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Data luasan kebakaran di TNGC
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Resort Pasawahan Mandirancan Cilimus Jalaksana Cigugur Sangiang Argalingga Gunung Wangi Bantaragung 2006 (ha) 208.6 202 347 5 5 0 0 0 0 2007 (ha) 64 0 0 35 0 14 32 13 65 2008 (ha) 219.8 30 159 30 0 5 4 0 26.5 2009 (ha) 488 217 5 0 0 40 0 0 31 781 Total (ha) 980.4 449 511 70 5 59 36 13 122.5 2245.9

Total 767.6 223 474.3 Sumber: Data dan informasi kebakaran hutan TNGC (2010)

. Berdasarkan Tabel 9, daerah yang paling rawan kebakaran lahan adalah di Resort Pasawahan, Mandirancan dan Cilimus. Data menunjukan tahun 2006

52

merupakan kebakaran terbesar yang pernah terjadi di kawasan Gunung Ciremai dengan luas lahan yang terbakar sebesar 767.60 ha. Hal ini dapat terdeteksi dari citra Landsat yang diambil pada 24 September 2006 yang merupakan lahan semak namun terdeteksi sebagai lahan terbuka karena cukup besar semak yang terbakar. Pada wilayah-wilayah ini tutupan lahan didominasi oleh semak belukar dan kondisi lahan yang berbatu dengan total luas kebakaran selama 2006-2009 mencapai 2245.9 ha. Selain itu, pola penggunaan lahan sebagian masyarakat dengan menggunakan sistem land clearing. Masyarakat membuka lahan dengan melakukan pembakaran lahan terlebih dahulu, yang bertujuan agar lahan yang digarapnya lebih subur karena areal bekas pembakaran dipercaya mengandung humus, sehingga sewaktu-waktu pembukaan lahan yang disebabkan oleh land clearing dapat mengakibatkan kebakaran lahan dan hutan. Hal ini didukung oleh Hadiprasetyo (2009) yang mengatakan bahwa selain penggarap mengolah lahan dengan cara mencangkul dan memupuk, sebagian masyarakat lain masih membersihkan lahan dengan cara membakar karena membutuhkan waktu yang relatif cepat dan biaya yang lebih murah daripada memupuk. Lahan terbuka di kawasan TNGC berupa tanah bebatuan di daerah puncak gunung/kawah dan sebagian wilayah Kecamatan Pasawahan. Pada lahan terbuka terjadi penurunan yang tinggi yaitu sebesar 979.2 ha dengan laju perubahan luasan sebesar 2.26%. Penurunan lahan terbuka terluas yaitu di Kecamatan Pasawahan dengan luas 854.64 ha, kemudian Kecamatan Mandirancan dengan luas 55.73 ha. Kemudian di sekitar penutupan hutan tanaman pinus terdeteksi lahan terbuka yang merupakan areal bekas kebakaran dan tebangan Perum Perhutani yang lahannya kurang tertutup vegetasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk digarap dengan perubahan vegetasi lahan terbuka menjadi ladang pada tahun 2009 sebesar 5.8% dari total luasan lahan terbuka tahun 2006. Lahan terbuka mengalami perubahan penutupan vegetasi yang tinggi menjadi semak sebesar 69%. Hal ini karena adanya sistem suksesi alam pada hutan sekunder atau semak bekas lahan kebakaran. Sebaran lahan terbuka di kawasan TNGC dapat dilihat pada Gambar 12.

53

Gambar 12 Peta distribusi lahan terbuka (a) tahun 2006; (b) tahun 2009. Penutupan lahan berupa badan air mengalami penurunan luas pada tahun 2006-2009 yaitu sebesar 1.62 ha dengan laju perubahan luasan sebesar 0.08%. penurunan luas badan air ini disebabkan karena fluktuasi debit air sehingga dapat mempengaruhi dalam interpretasi citra. Pada saat musim kemarau atau saat curah hujan kecil, jumlah air cenderung berkurang. Pada saat musim hujan jumlah air meningkat dan air akan melimpah kepinggiran daratan disekitarnya. Badan air ini terdeteksi baik di wilayah Situ Sangiang dan Talaga Remis. Tidak ada data merupakan penutupan lahan berupa awan, bayangan awan serta punggungan bukit yang tidak bisa terdeteksi dalam citra dan tidak mengalami perubahan luas pada periode tahun 2006-2009. Pada saat proses klasifikasi citra, luas tidak ada data disamakan setiap tahun. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan luas tipe penutupan lahan yang sama pada citra yang terklasifikasi.

54

5.3 Faktor Sosial Ekonomi Masyarakat yang Mempengaruhi Perambahan Lahan 5.3.1 Karakteristik sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan Karakterisitk sosial masyarakat yang dilihat dalam penelitian ini terutama yang berkaitan dengan kegiatan mayarakat dalam penggunaan lahan. Data yang diambil adalah sampel desa dan sampel responden yang dikumpulkan melalui daftar pertanyaan di rumah responden dan di lahan garapan. Adapun karakter sosial masyarakat sekitar kawasan meliputi mata pencaharian, usia kerja, luas garapan di luar kawasan, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendapatan dan pendidikan. Penjelasan mengenai karakter sosial masyarakat diterangkan sebagai berikut : 1 Mata pencaharian Mata pencaharian responden pada umumnya adalah petani, baik sebagai petani penggarap maupun sebagai petani upahan/buruh tani. Berdasarkan wawancara dengan 94 responden, sebanyak 60 responden tidak memiliki pekerjaan selain hanya mengandalkan sumber penghasilan sebagai petani saja. Sedangkan sebanyak 34 responden memiliki pekerjaan sampingan sebagai penambah pendapatan mereka. Persentase jumlah responden menurut mata pencaharian sampingan dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13

Persentase jumlah responden menurut mata pencaharian sampingan.

Dari Gambar 13 dapat disimpulkan bahwa jenis pekerjaan sampingan yang paling banyak adalah sebagai buruh tani. Hal ini dapat dilihat dari 34 responden yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani, terdapat 20 responden (59%) mempunyai pekerjaan sampingan sebagai buruh tani/upahan di lahan milik orang

55

lain. Pekerjaan sampingan lain yang banyak dilakukan yaitu sebagai buruh bangunan dan dagang sebanyak 4 responden. 2 Usia kerja Tingkat usia kerja responden dikategorikan menjadi dua yaitu usia produktif (15-64 tahun) dan usia non produktif (> 64 tahun). Persentase jumlah responden menurut usia kerja disajikan pada Gambar 14.

Gambar 14 Persentase jumlah responden menurut tingkat umur. Jumlah responden terbanyak merupakan responden usia produktif (15-64 tahun) dengan jumlah 77 responden atau 82%. Sedangkan usia tidak produktif sebanyak 17 responden atau 18%. Hal ini mengindikasikan penggunaan lahan didominasi oleh usia produktif, namun tidak menutup kemungkinan usia tidak produktif memanfaatkan lahan milik untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 3 Luas lahan garapan Pertanian merupakan sektor kehidupan utama bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Ciremai. Hal ini terkait dengan faktor luas lahan garapan yang dimilikinya terutama lahan di luar kawasan taman nasional. Kepemilikan lahan responden terbagi dalam empat kategori yaitu tidak mempunyai lahan, kurang dari 0.5 ha, 0.5-1 ha, dan lebih dari 1 ha. Persentase jumlah responden menurut kepemilikan lahan disajikan pada Gambar 15.

Gambar 15 Persentase jumlah responden menurut luas garapan di luar kawasan.

56

Sebanyak 56 orang (60%) masyarakat dominan memiliki lahan < 0.5 ha dan hanya 2 orang (2%) saja yang memiliki lahan milik lebih dari 1 ha dan merupakan petani milik/tuan tanah. Sedangkan yang tidak memiliki lahan ada 20 orang responden (21%). Ketersediaan lahan yang terbatas di luar kawasan bisa jadi pemicu masyarakat untuk menggarap lahan dalam kawasan taman nasional sehingga petani di sekitar TNGC dapat dikategorikan sebagai petani milik, petani penggarap dan petani perambah. Petani milik adalah petani yang menggarap lahan dengan status tanah milik pribadi atau tuan tanah yang memiliki lahannya saja namun digarap oleh orang lain. Luas penguasaan lahan petani milik ini biasanya berada diatas rata-rata luas lahan minimal agar petani dapat hidup layak. Petani milik ini umumnya adalah orang yang cukup berada dan disegani oleh masyarakat setempat. Petani penggarap adalah orang yang mengerjakan lahan milik orang lain dengan kompensasi tertentu yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sedangkan petani perambah adalah petani yang menggunakan lahan taman nasional sebagai lahan garapannya. Petani perambah biasanya petani yang tidak memliki lahan garapan di luar kawasan atau memiliki lahan tapi kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Gambar 16 Persentase jumlah responden menurut luas garapan dalam TN.

Sebanyak 64 orang (68%) responden memiliki lahan garapan di dalam kawasan seluas <0.5 ha, 29 orang responden (31%) memliki lahan seluas 0.5-1 ha, dan hanya 1 orang (1%) saja yang menggarap dalam kawasan mencapai lebih dari 1 ha. Hal ini menunjukan bahwa tekanan terhadap lahan TNGC cukup besar dengan luasan yang bervariasi.

57

Gambar 17 Persentase jumlah responden menurut jenis penggunaan lahan. Lahan garapan masyarakat berupa ladang sayur mayur seperti kol, cabe, petcay, kentang dan daun bawang yang dominan berada di dataran tinggi seperti Desa Sangiang. Sedangkan kebun campuran seperti pisang, alpukat, duren, salam, jengkol dan lainnya yang berada di dataran rendah seperti Desa Seda. 4 Jumlah tanggungan keluarga Jumlah tanggungan keluarga masyarakat desa sekitar juga mempengaruhi perubahan penutupan dan penggunaan lahan di TNGC. Indikasinya dengan melihat rasio ketergantungan penduduk/beban penduduk. Rasio ketergantungan penduduk/beban penduduk menggambarkan beban yang harus dipikul oleh seorang kepala keluarga terhadap anggota keluarganya. Rasio ketergantungan penduduk atau tanggungan keluarga dianggap besar apabila nilai lebih besar atau sama dengan 3 dan dianggap kecil apabila kurang dari 3 jiwa. Nilai 3 diperoleh dari nilai rata-rata jumlah tanggungan seluruh responden. Gambar 18 menunjukkaan persentase jumlah responden menurut tanggungan keluarga.

Gambar 18 Persentase jumlah responden menurut tanggungan keluarga. 5 Tingkat pendapatan Tingkat pendapatan merupakan jumlah pendapatan kepala keluarga yang dihitung pada suatu periode waktu tertentu. Jumlah pendapatan tersebut dihitung berdasarkan seluruh penghasilan kepala keluarga yang berasal dari mata pencaharian pokok dan mata pencaharian sampingan. Tingkat pendapatan merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan gambaran keadaan

58

kesejahteraan penduduk. Persentase jumlah respoden menurut pendapatan dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19 Persentase jumlah responden menurut pendapatan. Pendapatan pokok penduduk rata-rata diperoleh dari hasil bertani sebagai mata pencaharian utama khususnya yang menggarap di dalam kawasan yaitu sebanyak 72 responden (77%) responden berpenghasilan <500000 dan hanya 22 responden (23%) berpenghasilan >500000. Untuk pendapatan tambahan responden sewaktu-waktu menjadi buruh bangunan, buruh tani, berdagang dan beternak. 6 Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan responden terdiri dari tidak sekolah, SD, SMP dan SMA. Persentase jumlah responden menurut tingkat pendidikan disajikan pada Gambar 20.

Gambar 20 Persentase jumlah responden menurut tingkat pendidikan. Jumlah responden terbanyak yaitu pada tingkat SD sebanyak 75 orang atau 81%, sedangkan yang paling sedikit yaitu tidak sekolah sebanyak 3 orang atau 3%. Hal ini memberikan penjelasan bahwa pendidikan masyarakat di sekitar kawasan tergolong rendah karena untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi sangat sulit bagi masyarakat sekitar. Adapun untuk lulusan SMA merupakan pendatang dari daerah lain.

59

7 Lama menggarap Intensitas atau lamanya masyarakat menggarap dalam kawasan

dikategorikan dalam dua kelas yaitu sebelum adanya TNGC (<5 tahun) dan setelah adanya TNGC (>5 tahun). Persentase jumlah responden menurut lama menggarap disajikan dalam Gambar 21.

Gambar 21 Persentase jumlah responden menurut lama garapan. Sebanyak 90 orang responden (96%) mengaku sudah lama menggarap dalam kawasan taman nasional dan hanya 4 orang responden saja (4%) yang baru menggarap lahan dalam kawasan taman nasional. Mayoritas responden telah lama menggarap sejak status kawasan masih dipegang oleh Perum Perhutani yang kebijakannya mengarah pada pengelolaan hutan produksi dengan pemeliharaan diserahkan sepenuhnya oleh masyarakat sekitar dengan sistem tumpangsari. 8 Aksesibilitas Kawasan taman nasional memiliki areal cukup luas dengan akses jalan yang baik, jarak ke pusat pemerintahan cukup jauh dan dikelilingi oleh desa-desa dengan tingkat pertumbuhan ekonomi pedesaan berbasis pertanian yang cukup tinggi sehingga memperbesar kesempatan terjadinya gangguan terhadap kawasan. Hampir seluruh desa di sekitar kawasan berbatasan langsung dengan kawasan, baik itu berbatasan dengan pemukiman, sawah, ladang dan perkebunan masyarakat.

5.3.2 Pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap luas lahan garapan dalam kawasan Faktor sosial ekonomi masyarakat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perambahan lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai. Beberapa faktor sosial masyarakat yang diduga berpengaruh terhadap luas garapan dalam

60

kawasan dapat dibuat hubungannya berdasarkan karakter responden. Luas lahan garapan dalam kawasan dilihat berdasakan nilai rata-rata luas lahan garapan yang dimiliki oleh masyarakat. Luas lahan garapan dalam kawasan dikategorikan tinggi apabila luas lahan garapan dalam kawasan lebih besar sama dengan 0.39 ha dan dikategorikan rendah apabila lebih kecil dari 0.39 ha. Nilai 0.39 ha diperolah dari nilai rata-rata luas lahan garapan dalam kawasan seluruh masyarakat kedua desa yang diajadikan sampel. 1 Jumlah tanggungan keluarga Jumlah tanggungan keluarga dikategorikan besar apabila jumlah tanggungan keluarga lebih besar sama dengan tiga dan dikategorikan kecil apabila lebih kecil dari tiga. Nilai tiga diperolah dari nilai rata-rata jumlah tanggungan keluarga seluruh masyarakat kedua desa yang dijadikan sampel. Jumlah tanggungan keluarga diduga berpengaruh terhadap luas garapan dalam kawasan dengan asumsi bahwa semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka kebutuhan hidup keluarga tersebut akan semakin besar sehingga membutuhkan lahan yang lebih besar pula. Hubungan antara jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan garapan dalam kawasan disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 Hubungan jumlah tanggungan keluarga dengan luas lahan garapan dalam kawasan
Luas lahan garapan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Jumlah tanggungan keluarga Besar n 27 15 42 % 64 36 100 n 33 19 52 Kecil % 63 37 100 N 60 34 94 % 64 36 100 Total responden

Keterangan : n= responden per kategori; N= semua responden
χ2 = 0.0072 < χ2 (α0.05;1) = 3.84

Berdasarkan uji χ2 pada taraf nyata 0.05, nilai χ2 hitung < χ2 tabel yang berarti terima H0 bahwa jumlah tanggungan keluarga ternyata tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan. Hal ini dipengaruhi oleh status penguasaan lahan terutama petani milik, sedangkan jumlah anggota keluarga tidak dipengaruhi oleh status kepemilikan lahan. Berdasarkan Tabel 10, dapat dilihat responden yang memiliki tanggungan keluarga sedikit sangat mungkin menggunakan lahan garapan yang tinggi yaitu 19 responden dan sebaliknya yang

61

memiliki tanggungan keluarga yang besar sangat mungkin menggunakan lahan garapan yang rendah terkait oleh penguasaan lahan yaitu sebesar 27 responden. 2 Tingkat umur Tingkat umur diduga berpengaruh terhadap luas garapan dalam kawasan dengan asumsi bahwa semakin produktif usia seseorang maka semakin banyak pengalaman dalam teknik berladang sehingga akan semakin tinggi tingkat penggunaan lahannya. Hubungan antara tingkat umur dan luas lahan garapan dalam kawasan disajikan pada Tabel 11. Tabel 11 Hubungan tingkat umur dengan luas lahan garapan dalam kawasan
Luas lahan garapan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Tingkat umur Produktif n 49 28 77 % 64 36 100 Non produktif n 11 6 17 % 65 35 100 N 60 34 94 % 64 36 100 Total responden

Keterangan : n= responden per kategori; N= semua responden
χ2 = 0.0065 < χ2 (α0.05;1) = 3.84

Berdasarkan uji χ2 pada taraf nyata 0.05, nilai χ2 hitung < χ2 tabel. Nilai tersebut menunjukan bahwa hipotesis H0 diterima yang berarti tingkat usia tidak berpengaruh terhadap tingkat luas garapan dalam kawasan. Hal ini menggambarkan bahwa usia para penggarap lahan bervariasi mulai dari usia produktif (15-64 tahun) sampai non produktif (>64 tahun). Dengan kata lain, tujuan utama mereka adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa memperdulikan faktor usia. Terlihat bahwa terdapat enam responden dengan kategori usia non produktif yang masih sanggup menggarap lahan dalam kawasan dengan penggarapan yang tinggi. 3 Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan diduga berpengaruh terhadap penggunaan lahan dalam kawasan dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin tinggi tingkat kemampuan individu seseorang dan memperbanyak pilihan seseorang terhadap mata pencaharian lain. Hubungan antara tingkat pendidikan dan luas lahan garapan dalam kawasan disajikan pada Tabel 12.

62

Tabel 12
Luas lahan garapan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah

Hubungan tingkat pendidikan dengan luas lahan garapan dalam kawasan
Tingkat pendidikan Tidak Sekolah n 2 1 3 % 67 33 100 n 50 26 76 SD % 66 34 100 n 7 4 11 SMP % 64 36 100 n 1 3 4 SMA % 25 75 100 Total responden N 60 34 94 % 64 36 100

Keterangan : n= responden per kategori; N= semua responden
χ2 = 2.768 < χ2 (α0.05;3) = 7.815

Berdasarkan uji χ2 pada taraf nyata 0.05, nilai χ2 hitung < χ2 tabel. Nilai tersebut menunjukan bahwa hipotesis H0 diterima yang berarti tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan. Hal ini disebabkan karena masyarakat dengan tingkat pendidikan tidak sekolah sampai SMA memiliki luas garapan dalam kawasan yang bervariasi. Berdasarkan Tabel 12, penggunaan lahan didominasi kategori tingkat SD dan terdapat tiga responden dari kategori lulusan SMA yang memiliki lahan garapan dalam kawasan diatas rata - rata. Masyarakat memiliki ketergantungan yang sama pada lahan walaupun memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan masyarakat berada di pelosok desa sehingga pilihan mata pencaharian selain bertani sangat sedikit. Akibatnya masyarakat tetap membutuhkan lahan untuk bertani walaupun memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. 4 Tingkat pendapatan Tingkat pendapatan diduga berpengaruh terhadap luas garapan dalam kawasan karena mempunyai implikasi ekonomis dalam mengelola lahan garapan dalam kawasan TNGC, dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat di luar kawasan, maka semakin rendah tingkat perambahan lahan dalam kawasan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat pendapatan masyarakat di luar kawasan dengan berbagai mata pencaharian, maka semakin tinggi tingkat perambahan lahan yang dilakukan oleh masyarakat. Tingkat pendapatan dikategorikan tinggi apabila jumlah tanggungan keluarga lebih besar sama dengan Rp 383000,00 dan dikategorikan rendah apabila lebih kecil dari Rp 383000,00. Nilai Rp 383000,00 diperolah dari nilai rata-rata tingkat pendapatan seluruh

63

masyarakat kedua desa yang diajadikan sampel. Hubungan antara tingkat pendapatan dengan luas lahan garapan dalam kawasan disajikan pada Tabel 13. Tabel 13 Hubungan tingkat pendapatan dengan luas lahan garapan dalam kawasan
Tingkat pendapatan Rendah n 26 23 49 % 53 47 100 n 34 10 44 Tinggi % 77 23 100 Total responden N 60 34 94 % 64 36 100

Luas lahan garapan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah

Keterangan : n= responden per kategori; N= semua responden
χ2 = 6.3888 > χ2 (α0.05;1) = 3.84

Berdasarkan uji χ2 pada taraf nyata 0.05, nilai χ2 hitung sebesar 6.388 > χ2 tabel sebesar 3.84. Nilai tersebut menunjukan bahwa hipotesis H1 diterima yang berarti terdapat hubungan yang nyata antara tingkat pendapatan dengan luas lahan garapan dalam kawasan TNGC. Hubungan antara tingkat pendapatan berkorelasi negatif dengan luas garapan dalam kawasan di TNGC. Semakin tinggi tingkat pendapatan di luar kawasan maka kecenderungan untuk membuka dan memanfaatkan lahan dalam kawasan pun semakin kecil. Sebaliknya semakin rendah tingkat pendapatan di luar kawasan maka kecenderungan untuk membuka dan memanfaatkan lahan dalam kawasan pun semakin besar. Hal ini dapat dipahami karena sebagian besar responden bermata pencaharian sebagai petani yang lahan dan luasannya menjadi faktor kunci yang dapat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Motif masyarakat menggarap dalam kawasan diduga karena masyarakat tidak dibebani biaya sewa lahan pada lahan eks Perum Perhutani dibandingkan menggarap di lahan milik orang lain sehingga tidak mengurangi pendapatan. Selain itu penguasaan lahan garapan yang sempit di luar kawasan berimplikasi pada pendapatan yang rendah dan menyebabkan masyarakat menggarap di dalam kawasan untuk menambah penghasilan. 5 Luas garapan di luar kawasan Luas lahan garapan di luar kawasan dikategorikan tinggi apabila lebih besar sama dengan 0.27 ha dan dikategorikan rendah apabila lebih kecil dari 0.27 ha. Nilai 0.27 ha diperolah dari nilai rata-rata luas lahan garapan di luar kawasan

64

seluruh masyarakat kedua desa yang diajadikan sampel.Luas garapan di luar kawasan diduga berpengaruh terhadap luas garapan dalam kawasan, dengan asumsi bahwa semakin tinggi luas lahan yang digarap di luar kawasan maka akan semakin rendah luas garapan di dalam kawasan. Berdasarkan uji χ2 pada taraf nyata 0.05, nilai χ2 hitung < χ2 tabel. Nilai tersebut menunjukan bahwa hipotesis H0 diterima yang berarti tidak terdapat hubungan yang nyata antara luas lahan garapan dalam kawasan terhadap luas lahan garapan di luar kawasan. Hubungan antara luas lahan garapan luar kawasan dengan luas lahan garapan dalam kawasan disajikan pada Tabel 14. Tabel 14 Hubungan luas garapan diluar kawasan dengan luas lahan garapan dalam kawasan
Luas lahan garapan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Luas lahan garapan luar kawasan Rendah n 47 23 70 % 67 33 100 n 13 11 24 Tinggi % 54 46 100 N 60 34 94 % 64 36 100 Total responden

Keterangan : n= responden per kategori; N= semua responden
χ2 = 1.0952 < χ2 (α0.05;1) = 3.84

Hal ini disebabkan karena masyarakat yang menggarap lahan di luar kawasan cenderung untuk menambah pendapatannya dengan tetap menggarap lahan di dalam kawasan TNGC walaupun kecil luasannya. Namun ada masyarakat yang tidak memiliki lahan garapan di luar kawasan tidak selalu menggarap lahan TNGC secara luas. Hal ini mungkin dikarenakan sistem penguasaan lahan oleh para petani milik. Selain itu, jenis penggunaan lahan diduga berpengaruh karena komoditi ladang lebih menguntungkan dibandingkan perkebunan. Ada

kemungkinan masyarakat menggarap kebun secara luas tapi produksinya bisa lebih kecil dibandingkan menggarap ladang yang tidak terlalu luas namun produksinya cepat dan menguntungkan. Adanya peraturan taman nasional yang sangat ketat dengan sudah dilarangnya menggarap dalam kawasan menjadi alasan masyarakat tidak memperluas garapannya dan cenderung meninggalkannya. 6 Lama menggarap Lamanya masyarakat menggarap diduga berpengaruh terhadap luas garapan dalam kawasan dengan asumsi bahwa semakin lama masyarakat

65

menggarap maka akan semakin tinggi juga tingkat penggunaan lahan dalam kawasan. Lama masyarakat menggarap hanya dibedakan menjadi dua yaitu sebelum penetapan taman nasional dan setelah penetapan menjadi taman nasional. Hubungan antara lama menggarap dengan luas lahan garapan dalam kawasan disajikan pada Tabel 15. Tabel 15 Hubungan lama menggarap dengan luas lahan garapan dalam kawasan
Luas lahan garapan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Lama menggarap >5 tahun n 58 32 90 % 64 36 100 n 3 1 4 <5 tahun % 75 25 100 N 60 34 94 % 64 36 100 Total responden

Keterangan : n= responden per kategori; N= semua responden
χ2 = 0.2664 < χ2 (α0.05;1) = 3.84

Berdasarkan uji χ2 pada taraf nyata 0.05, nilai χ2 hitung < χ2 tabel. Nilai tersebut menunjukan bahwa hipotesis H0 diterima yang berarti lama masyarakat menggarap tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan. Hal ini disebabkan karena lahan yang mereka garap adalah lahan milik negara yang sekarang dikuasai oleh TNGC yang diatur oleh undang-undang dan pemanfaatan dan penggunaannya semakin dibatasi terkait pergantian status kawasan sehingga masyarakat tidak bisa leluasa dalam memperluas lahan garapannya. Sebagian besar masyarakat sudah lama menggarap karena sistem PHBM dari Perum Perhutani yang berbasis pemanfaatan lahan intensif bersama masyarakat dan sudah berjalan sebelum taman nasional ditunjuk.

5.3.3 Pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kawasan TNGC 1 Pengetahuan masyarakat terhadap kawasan TNGC Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai memiliki pengetahuan yang cukup baik terhadap keberadaan kawasan tersebut karena memang sudah lama mereka telah berinteraksi dengan hutan di kawasan Gunung Ciremai. Tabel 16 mendeskripsikan beberapa aspek pengetahuan responden terhadap kawasan TNGC.

66

Tabel 16 Pengetahuan responden mengenai TNGC
No 1 2 3 4 5 Aspek pengetahuan Mengetahui kawasan sebagai taman nasional Mengetahui batas-batas kawasan TNGC Mengetahui bahwa kawasan TNGC dilindungi oleh Undang-undang/Peraturan Mengetahui manfaat Gunung Ciremai sebagai penyedia air, perlindungan satwa, dan mencegah erosi Pernah menerima penyuluhan Jumlah responden 94 92 94 74 63 Persentase (%) 100 98 100 79 67

Berdasarkan hasil wawancara responden, diketahui seluruh masyarakat (100%) mengetahui keberadaan taman nasional sebagai pemangku wilayah Gunung Ciremai setelah peralihan status kawasan dari Perum Perhutani ke TNGC. Sekitar 98% responden juga mengetahui batas-batas kawasan taman nasional. Hal ini dikarenakan batas yang digunakan wilayahnya masih sama dengan batas Perum Perhutani meskipun sudah ada sebagian pal batas yang dibuat oleh pihak TNGC. Selain itu responden pun mengetahui bahwa kawasan TNGC dilindungi oleh Undang-undang, dan sebanyak 100% responden sudah mengetahuinya. Dari aspek fungsi dan manfaat, sebesar 79% responden mengetahui fungsi Gunung Ciremai sebagai kawasan penyangga kehidupan. Mereka memahami dan menyadari bahwa kawasan lindung tersebut memiliki beragam manfaat yang bersifat tangible dan intangible yang menyangga sistem kehidupannya, seperti penyedia air bagi kebutuhan masyarakat, pencegah dari bahaya erosi, perlindungan satwaliar, penyedia sumberdaya alam dan lainnya. Namun untuk sebagian lainnya, mereka hanya mengetahui manfaat kawasan sebatas tidak boleh diganggu, namun tetap saja masyarakat menggarap dalam kawasan dengan alasan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini tentu dapat mengakibakan pemahaman yang salah terhadap fungsi kawasan. Sedangkan untuk penyuluhan mengenai TNGC nampaknya sering dilakukan kepada masyarakat penggarap khususnya dengan 67% responden menyatakan pernah menerima penyuluhan seperti sosialisasi masyarakat mengenai status dan fungsi kawasan, pencegahan kebakaran hutan serta penyelesaian masalah lahan garapan dalam kawasan konservasi.

67

2 Sikap masyarakat terhadap kawasan TNGC Sikap responden dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kawasan TNGC. Persepsi menggambarkan pengertian dan pandangan seseorang mengenai suatu objek serta menghubungkan informasi itu dengan dirinya. Adanya pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa apabila masyarakat tinggal di pesisir laut, maka sebagian besar masyarakat pasti menjadikan nelayan sebagai mata pencaharian utama dengan sumberdaya lautnya yang melimpah. Begitu pula dengan masyarakat yang tinggal di kaki gunung, maka sebagian besar masyarakat menjadikan petani sebagai mata pencaharian utama dengan memanfaatkan sumberdaya hutan dan lahannya. ”leuweungna hejo,rahayatna hejo” merupakan sebuah visi program PHBM yang selalu dipegang masyarakat sekitar kawasan TNGC. Masyarakat sekitar hutan merasa mereka yang paling berpengaruh terhadap kelestarian hutan dengan penanaman pohon sehingga Gunung Ciremai terlihat hijau. Kecenderungan masyarakat yang awalnya tetap ingin menggarap dalam kawasan disebabkan oleh beberapa motif yang dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Alasan responden menggarap lahan TNGC
No 1 2 3 4 Motif Penggarapan Sudah terbiasa dengan pola pengelolaan Perum Perhutani Keterdesakan ekonomi Tidak mempunyai lahan diluar kawasan Tidak mempunyai pekerjaan sampingan selain petani Jumlah Responden 90 68 20 77 Persentase (%) 96 72 21 82

Berdasarkan motif masyarakat yang menggarap dalam kawasan, sebanyak 90 responden (96%) mengaku sudah lama menggarap di lahan eks Perum Perhutani. Hal ini disebabkan karena faktor sejarah kawasan Gunung Ciremai itu sendiri. Sistem pengelolaan hutan Perhutani yang membolehkan masyarakat menggarap lahan untuk pertanian dengan tetap memelihara pohon pinus menyebabkan masyarakat semakin terbiasa dan senang karena akan meningkatkan pendapatan mereka, dan pada akhirnya mengakibatkan ketergantungan yang tinggi terhadap kawasan yang saat ini telah menjadi kawasan taman nasional. Sebanyak 68 responden (72%) mengaku faktor ekonomi sebagai pendorong masyarakat membuka lahan dalam kawasan. Umumnya responden ini menggarap

68

di luar kawasan namun luasannya kurang mencukupi. Pengetahuan masyarakat yang tinggi terhadap fungsi kawasan tidak diimbangi dengan sikap masyarakat dalam melestarikan hutan terkait faktor ekonomi. Pemilikan lahan garapan di luar kawasan yang sempit tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup sehingga adanya kesempatan menguasai lahan yang mudah dalam kawasan dan menjamin pendapatan masyarakat yang lebih baik. Sebanyak 20 responden (21%) mengaku bahwa mereka sama sekali tidak memiliki lahan garapan di luar kawasan sehingga seluruh penghasilan pertaniannya diperoleh dari dalam kawasan TNGC. Sebanyak 77 responden (82%) mengaku bahwa mereka tidak punya profesi lain selain sebagai petani. Belum adanya alternatif usaha untuk masyarakat sekitar menjadikan penggarap masih ada yang menggarap. Alasan masyarakat merambah kawasan tersebut dapat mempengaruhi sikap responden terhadap kawasan TNGC. Beberapa sikap responden terhadap kebijakan manajemen TNGC tersaji pada Tabel 18.

Tabel 18 Sikap responden terhadap kebijakan manajemen TNGC
No 1 2 3 4 Sikap responden Setuju bahwa kita harus menjaga Gunung Ciremai tetap lestari Tidak setuju apabila kawasan Gunung Ciremai ditutup untuk aktivitas penggarapan Setuju dan ikut serta bersama pihak petugas dalam mencegah kerusakan di Gunung Ciremai Bersedia mengikuti program pemberdayaan kesejahteraan masyarakat Jumlah responden 94 78 85 94 Persentase (%) 100 83 90 100

Pada umumnya masyarakat mengetahui kawasan Gunung Ciremai sebagai kawasan yang perlu dilestarikan. Hal ini terlihat dari sikap responden yang semuanya setuju (100%) bahwa masyarakat harus menjaga Gunung Ciremai agar tetap lestari dan sumberdaya yang ada di dalamnya tidak rusak. Mereka mayoritas setuju (90%) dan bekerjasama dengan pihak petugas dalam mencegah kerusakan seperti kebakaran lahan di TNGC. Namun permasalahannya masyarakat akan ikut melestarikan kawasan taman nasional apabila mereka masih diizinkan untuk menggarap dalam kawasan. Hal ini terlihat bahwa sebanyak 78 responden (83%) tidak setuju apabila kawasan ini ditutup untuk aktivitas penggarapan. Interaksi yang kuat dengan ketergantungan yang tinggi antara masyarakat sekitar dengan

69

hutan khususnya semenjak diberlakukan PHBM dapat dipahami terkait untuk penghidupan masyarakat. Adanya peraturan TNGC saat ini yang tidak memperbolehkan adanya aktivitas pertanian dalam kawasan menyebabkan masyarakat mengalami ketidakpastian khususnya nasib lahan yang mereka garap dalam kawasan. Masyarakat sebenarnya mengerti jika suatu saat dilakukan penutupan lahan garapan oleh pihak TNGC mereka bersedia meninggalkan lahan garapan tersebut. Namun masyarakat khawatir apabila mereka sudah tidak diperbolehkan menggarap dalam kawasan belum ada tindak lanjut dari Pemda Kabupaten Majalengka dan Kuningan serta TNGC terkait alternatif usaha sebagai kompensasi untuk masyarakat penggarap.

5.4 Pengendalian Penggunaan Lahan Penggunaan lahan garapan oleh masyarakat di luar kawasan saat ini sebenarnya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara, hampir seluruh masyarakat menyatakan bahwa hasil pengolahan lahan garapan di luar kawasan kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini dikarenakan penguasaan lahan yang sempit di luar kawasan. Masyarakat yang tidak mempunyai lahan hanya bisa menjadi buruh tani dan beberapa masyarakat menggarap dengan sistem sewa sehingga penghasilan dari bertani sebagian untuk membayar sewa lahan. Selain itu dapat dilihat dari meluasnya perambahan lahan yang dilakukan masyarakat akibat kepemilikan lahan yang rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pusat Studi Lingkungan Unila (1984) dalam Pasha (2006) yang mengatakan bahwa masyarakat sekitar kawasan konservasi pada umumnya bekerja sebagai petani dan untuk hidup layak diperlukan luas lahan minimal 1-2 ha. Apabila luas lahan rata-rata lebih dari luas lahan minimal agar petani dapat hidup layak, maka dorongan untuk membuka lahan baru adalah kecil. Sebaliknya bila luas lahan rata-rata kurang dari luas lahan minimal agar petani dapat hidup layak maka dorongan untuk membuka lahan baru menjadi besar. Pemanfaatan lahan hutan menjadi lahan pertanian intensif dengan komoditi sayuran dan tingkat perambahan yang tinggi tidak lagi dapat diakomodir

70

dalam pengelolaan taman nasional karena dapat mengakibatkan terhambatnya proses rehabilitasi kawasan. Akan tetapi, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menjadikan kawasan hutan menjadi tumpuan penghidupan utama mengharuskan pengelola melakukan inovasi. Inovasi ini ditujukan untuk menjawab tantangan bahwa pengelolaan TNGC harus dapat memberikan kontribusi secara ekonomis kepada masyarakat tanpa menimbulkan gejolak dan dapat menjamin keberhasilan rehabilitasi kawasan. Untuk mengantisipasi pemanfaatan lahan dan ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap kawasan, perlu dilakukan upaya-upaya preventif dan persuasif kepada masyarakat. Berbagai upaya yang bisa dilakukan antara lain kegiatan sosialisasi dan pembinaan terhadap masyarakat. Pengelola taman nasional saat ini bersama pihak terkait lainnya sedang melaksanakan program Gerhan (Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan). Program ini diharapkan dapat menjaga kelestarian hutan dimana penanaman dilakukan pada daerah kritis. Selain itu, pembinaan masyarakat dalam menjaga kawasan penyangga berbasis lahan dapat dilakukan melalui sistem agroforestry yaitu sistem pengolahan kawasan hutan yang memanfaatkan lahan secara optimal dengan cara mengkombinasikan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian semusim dalam areal yang sama di kawasan penyangga taman nasional dengan komoditi seperti duren, alpukat, kopi, salam, pisang, jengkol, melinjo dan cengkeh. Pada umumnya masyarakat sekitar kawasan juga menginginkan alternatif bantuan ternak domba dan sapi yang menurut mereka potensial untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini berdasarkan pada potensi rumput yang memadai di luar kawasan taman nasional. Masyarakat juga ingin diberi bantuan bibit pohon buah-buahan untuk dibudidayakan di luar kawasan seperti hutan rakyat, perkebunan dan pekarangan rumah mereka karena pertimbangannya semakin banyak komoditi yang ditanam semakin banyak pula hasil yang didapat yang bisa dijual untuk menambah penghasilan mereka. Hal ini dapat merehabilitasi lahan dan juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Alternatif yang lebih baik dikembangkan adalah usaha-usaha yang tidak berbasis lahan. Potensi wisata dan jasa lingkungan yang dimiliki kawasan taman nasional bisa menjadi sumber pendapatan baru masyarakat, sehingga masyarakat

71

dapat terakomodasi kebutuhannya dan akan merasa ikut serta dalam kelestarian kawasan taman nasional. Selain itu pihak TNGC beserta Pemerintah Kabupaten Kuningan dan Majalengka akan mengusahakan program pelatihan lain yang bermanfaat seperti budidaya jamur, madu lebah, kerajinan bambu dan lainnya yang diharapkan dapat menjadi salah satu komoditi yang menguntungkan bagi masyarakat. Kegiatan-kegiatan pembinaan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan persepsi masyarakat yang kurang terhadap keberadaan hutan serta dapat mengubah perilaku beberapa masyarakat yang masih memiliki

ketergantungan yang tinggi terhadap lahan garapan dalam kawasan sehingga tekanan penduduk sekitar kawasan konservasi dapat diatasi tanpa mengurangi tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar.

72

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan 1 Tipe penutupan lahan yang ada di Taman Nasional Gunung Ciremai dikelompokan menjadi 7 (tujuh) yaitu hutan alam, hutan tanaman, semak belukar, ladang, lahan terbuka, badan air dan tidak ada data. Pada tahun 2006-2009 terjadi penurunan luas hutan alam sebesar 51.21 ha (0.01%) Peningkatan luas hutan tanaman sebesar 92.88 ha (0.06%) Kemudian diikuti oleh penurunan lahan terbuka sebesar 979.2 ha (2.26%) dan peningkatan semak belukar sebesar 746.73 ha (0.18%) Selain itu peningkatan luas ladang 178.29 ha (0.18%), serta badan air mengalami penurunan luas sebesar 1.62 ha. 2 Penurunan luas hutan alam terbesar yaitu di Kecamatan Cigugur dengan 81.45 ha dan peningkatan hutan alam terbesar yaitu di Kecamatan Talaga 87.84 ha. Peningkatan luas hutan tanaman terluas di Kecamatan Cilimus dengan 101.07 ha dan penurunan luas hutan tanaman pinus terbesar yaitu di Kecamatan Argapura dengan luas 98.55 ha. Kemudian penurunan lahan terbuka terluas yaitu di Kecamatan Pasawahan dengan luas 854.64 ha, diikuti peningkatan penutupan semak terluas yaitu di Kecamatan Pasawahan dengan luas 860.3 ha serta peningkatan luas ladang terbesar di Kecamatan Argapura sebesar 176.85 ha 3 Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi perambahan lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai adalah tingkat pendapatan masyarakat diluar kawasan, pengetahuan masyarakat khususnya pada fungsi kawasan lindung serta sikap masyarakat terhadap keberadaan kawasan TNGC.

6.2 Saran 1 Pengelola kawasan perlu berkontribusi pada upaya peningkatan

pendapatan masyarakat yang tidak berbasis lahan melalui pelibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di TNGC dan pengembangan

73

usaha alternatif lain seperti pelatihan budidaya jamur, madu lebah dan pengusahaan ternak bagi masyarakat sekitar. 2 Sosialisasi pihak pengelola terhadap kawasan taman nasional perlu ditingkatkan agar masyarakat semakin memahami pentingnya kawasan konservasi TNGC. 3 Pengelola kawasan perlu meningkatkan program rehabilitasi pada kawasan TNGC yang mengalami kerusakan khususnya wilayah Kecamatan Argapura agar fungsi kawasan dapat kembali pulih sebagai kawasan konservasi.

74

DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2003. Kabupaten Kuningan Dalam Angka 2003. Kuningan: BPS Kabupaten Kuningan. [BPS] Biro Pusat Statistik. 2003. Kabupaten Majalengka Dalam Angka 2003. Majalengka: BPS Kabupaten Majalengka. [BTNGC] Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. 2006. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai Periode 2009-2026. Kuningan: Departemen Kehutanan. [BTNGC] Balai Taman Nasional Gunung Ciremai. 2010. Data dan Informasi Kebakaran Hutan Taman Nasional Gunung Ciremai. Kuningan: Departemen Kehutanan. Basuni S. 2003. Inovasi institusi untuk meningkatkan kinerja daerah penyangga kawasan konservasi. [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Darmawan A. 2002. Perubahan penutupan lahan di Cagar Alam Rawa Danau [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2001. Klasifikasi citra landsat. http://www.dephut.go.id/informasi/statistik/stat2002/Baplan/Baplan.htm. [14 Februari 2011]. [Dephut] Departemen Kehutanan. 1990. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2002. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2002 Tentang Penggunaan dan Pemanfaatan Hutan Berbasis Sosial Forestry. Jakarta. Hadiprasetyo Y. 2009. Identifikasi faktor penyebab kebakaran hutan dan upaya penanggulangannya di Taman Nasional Gunung Ciremai. [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Hermawan TT. 2005. Pemanfaatan Ruang dan Lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai. Bogor: Pustaka LATIN. Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Sosial Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada Press.

75

[IUCN] International Union for Conservation of Nature. 1994. Guidelines for Applying Protected Area Management Categories. Gland, Switzerland. www.unepwcmc.org/protected_areas/categories.pdf. [3 Juni 2010]. Lillesand TM, Kiefer RW. 1990. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Dulbahri, penerjemah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Terjemahan dari: Remote Sensing and Image Interpretation. Lo CP. 1995. Penginderaan Jauh Terapan. Purbowaseso B, penerjemah. Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Applied Remote Sensing. Mackinnon J, MacKinnon K, Child G, Thorsell J. 1990. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika. Amir HH, penerjemah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Managing Proteceted Areas in the Tropics. Pasha R. 2005. Hubungan kondisi sosial ekonomi perambah hutan dengan pola penggunaan lahan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Prahasta E. 2005. Konsep-Konsep Dasar: Sistem Informasi Geografi. Bandung: Informatika Bandung. Santoso GR. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka. Soewardi H. 1978. Menyongsong Kehadiran Taman Nasional di Indonesia : Makna, Manfaat, dan Pengelolaan. Jakarta: Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam, Direktorat Jenderal Kehutanan. Bogor. Suryadarma W. 2009. Dampak kebijakan PHBM oleh Perum Perhutani pada kawasan Hutan Lindung Gunung Ciremai. [skripsi]. Bandung: Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Padjadjaran. Walpole R. 1989. Pengantar Statistika. Edisi ke-3. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Wijaya CI. 2005. Analisis perubahan penutupan lahan di Kabupaten Cianjur menggunakan sistem informasi geografis [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Yatap H. 2008. Pengaruh peubah sosial ekonomi terhadap perubahan penggunaan dan penutupan lahan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

76

LAMPIRAN

77

Lampiran 1 Uji akurasi
CLASSIFICATION ACCURACY ASSESSMENT REPORT Image File : e:/penelitian riq/2006/copy of focallast.img User Name : Ri_Q Date : Sat Dec 11 14:15:21 2010 ERROR MATRIX Reference Data Classified Data Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada data Column Total Reference Data Classified Data Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada data Column total Lahan terbuka 0 0 0 2 0 0 0 2 Ladang 0 1 0 0 8 0 0 9 Air 0 0 0 0 0 3 0 3 Tidak ada data 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Hutan alam 8 0 0 0 0 0 0 8 Hutan tanaman 0 6 0 0 0 0 0 6 0 5 1 3 0 0 9

----- End of Error Matrix ----ACCURACY TOTALS Class Name Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada data Totals Overall Classification Accuracy = Reference Totals 8 6 9 2 9 3 0 37 86.49% ----- End of Accuracy Totals ----Classified Totals 8 7 5 3 11 3 0 37 Number Correct 8 6 5 2 8 3 0 32 Producers Accuracy 100.00% 100.00% 55.56% 100.00% 88.89% 100.00% --Users Accuracy 100.00% 85.71% 100.00% 66.67% 72.73% 100.00% ---

78

KAPPA (K^) STATISTICS Overall Kappa Statistics = 0.8324 Conditional Kappa for each Category. Class Name Kappa Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada dat 1 0.8295 1 0.6476 0.6396 1 0 ----- End of Kappa Statistics -----

79

CLASSIFICATION ACCURACY ASSESSMENT REPORT Image File : e:/penelitian riq/2009/yg terkahir/focal1tes.img User Name : Ri_Q Date : Sat Dec 11 14:18:35 2010 ERROR MATRIX Reference data Classified data Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air TIdak ada data Column Total Reference data Classified Data Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada data Column total Lahan terbuka 0 0 0 2 0 0 0 2 Ladang 0 0 1 0 8 0 0 9 Air 0 0 0 0 0 3 0 3 Tidak ada data 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Hutan alam 6 0 0 0 0 0 0 6 Hutan tanaman 1 7 0 0 0 0 0 8 semak 0 0 7 1 1 0 0 9

----- End of Error Matrix ----ACCURACY TOTALS Class Name Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada data Totals Reference Totals 0 6 8 9 2 9 3 0 37 89.19% ----- End of Accuracy Totals ----Classified Totals 0 7 7 8 3 9 3 0 37 Number Correct 0 6 7 7 2 8 3 0 33 Producers Accuracy --100.00% 87.50% 77.78% 100.00% 88.89% 100.00% ----Users Accuracy --85.71% 100.00% 87.50% 66.67% 88.89% 100.00%

Overall Classification Accuracy =

80

KAPPA (K^) STATISTICS Overall Kappa Statistics = 0.8658 Conditional Kappa for each Category. Class Name Hutan alam Hutan tanaman Semak Lahan terbuka Ladang Air Tidak ada data Kappa 0 0.8295 1 0.8348 0.6476 0.8532 1 0 ----- End of Kappa Statistics -----

81

Lampiran 2 Daftar identitas responden KARAKTERISITIK SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

Mata pencaharian No Nama Umur Jenis kelamin Pendidikan ∑Tanggungan keluarga Utama Sampingan

Pendapatan luar kawasan (.000)

Luas lahan garapan luar TN (ha)

Luas lahan garapan dalam TN (ha)

81

82

Lampiran 3 Kuisioner

INSTITUT PERTANIAN BOGOR Kuisioner Penelitian Perubahan Penutupan Lahan dan Analisis Faktor Penyebab Perambahan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai Amrizal Yusri (E34062415) - Kami berharap Bapak/ibu/Saudara/I bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dengan menjawab semua pertanyaan apa adanya - Apabila ada pertanyaan yang kurang jelas, dimohon untuk bertanya kepada kami Identitas Responden Nama : Umur : Jenis Kelamin : L/P 1 Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Tentang Taman Nasional Gunung Ciremai 1. Apakah anda tahu Gunung Ciremai menjadi kawasan taman nasional? a) Ya b) Tidak 2. Apakah anda tahu batas-batas kawasan taman nasional? a) Ya b) Tidak 3. Apakah anda mengetahui bahwa kawasan TNGC dilindungi oleh Undangundang/Peraturan? a) Ya b) Tidak 4. Apakah anda mengetahui manfaat Gunung Ciremai sebagai penyedia air, perlindungan satwa, dan mencegah erosi? a) Ya b) Tidak

83

5. Apakah anda pernah mendapat penyuluhan/sosialisasi dari pihak taman nasional? a) Ya b) Tidak 6. Apakah yang menjadi dorongan anda menggarap lahan Gunung Ciremai? a) Sudah terbiasa dengan pola pengelolaan Perum Perhutani (tumpangsari) b) Keterdesakan ekonomi c) Tidak mempunyai lahan garapan diluar kawasan d) Tidak mempunyai pekerjaan sampingan selain sebagai petani e) Lainnya, sebutkan………….

2. Sikap 1. Apakah anda setuju bahwa kita harus menjaga Gunung Ciremai tetap lestari? a) Ya b) Tidak 2. Apakah anda setuju apabila kawasan Gunung Ciremai ditutup untuk aktivitas penggarapan? a) Ya b) Tidak, karena…………… 3. Apakah anda setuju dan mau ikut serta bersama pihak petugas dalam mencegah kerusakan di Gunung Ciremai? a) Ya b) Tidak, karena…………….. 4.Apakah anda bersedia mengikuti program pemberdayaan untuk kesejahteraan masyarakat? a) Ya b)Tidak,karena……………..

84

Lampiran 4 Uji normalitas data a Log x Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov(a) Statistic df Sig. Luas garapan dalam .153 94 kawasan Tanggungan keluarga .187 94 Luas garapan di luar .220 94 kawasan Pendidikan .464 94 Lama menggarap .540 94 Umur .060 94 Pendapatan luar .123 94 * This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction .000 .000 .000 .000 .000 .200(*) .001 Statistic .922 .906 .808 .568 .203 .979 .851 Shapiro-Wilk df 94 94 94 94 94 94 94 Sig. .000 .000 .000 .000 .000 .140 .000

b Arc sin x Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov(a) Statistic df Sig. Luas garapan dalam .149 93 kawasan Tanggungan keluarga .225 93 Luas garapan di luar .218 93 kawasan Pendidikan .463 93 Lama menggarap .540 93 Umur .062 93 Pendapatan luar .215 93 * This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction .000 .000 .000 .000 .000 .200(*) .000 Statistic .923 .884 .808 .571 .204 .979 .875 Shapiro-Wilk df 93 93 93 93 93 93 93 Sig. .000 .000 .000 .000 .000 .130 .000

Kesimpulan : hanya faktor ‘umur’ saja yang memiliki data sebaran normal, sehingga analisis regresi tidak bisa dilanjutkan.

85

Lampiran 5 Tabel uji chi-square Tabel 1 Luas lahan garapan dalam kawasan dan jumlah tanggungan keluarga
Tanggungan keluarga Penggunaan lahan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Besar f₀ 27 15 42 ft 26.8 15.19 (f₀-ft) ft
2

Kecil f₀ 33 19 52 ft 33.2 18.8 (f₀-ft) ft
2

Total responden 60 34 94

0.00149 0.00237

0.0012 0.0021

ft : (60x42)/94 = 26.8 ; (60x52)/94 = 33.2 ; (34x42)/94 = 15.19 ; (34x52)/94 = 18.8 (f₀-ft)2 : (27-26.8) 2 = 0.00149 ; (33-33.2)2 = 0.0012 ; ft 26.8 33.2 (15-15.19)2 = 0.00237 ; (19-18.8)2=0.0021 15.19 18.8 χ2 = ∑ (f₀-ft)2 = 0.00149 + 0.0012 + 0.00237 + 0.0021 = 0.0072 ft χ2 = 0.0072 < χ2 (α0.05;1) = 3.84 Kesimpulan : Jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan

Tabel 2 Luas lahan garapan dalam kawasan dan tingkat umur
Tingkat Umur Penggunaan lahan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah
2 2

Produktif f₀ 49 28 77 ft 49.15 27.85 (f₀-ft) ft
2

f₀ 11 6 17

Non produktif (f₀-ft)2 ft ft 10.85 6.14 0.0020 0.0031

Total responden 60 34 94

0.00045 0.00080

χ = ∑ (f₀-ft) = 0.00045 + 0.002 + 0.0008 + 0.0031 = 0.0065 ft χ2 = 0.0065< χ2 (α0.05;1) = 3.84 Kesimpulan : Tingkat umur tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan

86

Tabel 3

Luas lahan garapan dalam kawasan dan Luas lahan garapan diluar kawasan
lahan garapan diluar kawasan Rendah f₀ 47 23 70
2

Penggunaan lahan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah
2

Tinggi (f₀-ft) ft
2

ft 44.68 25.31

f₀ 13 11 24

ft 15.31 9.06

(f₀-ft) ft

2

Total responden 60 34 94

0.12046 0.21082

0.3485 0.4154

χ = ∑ (f₀-ft) = 0.12046 + 0.3485 + 0.21082 + 0.4154 = 1.0952 ft χ2 = 1.0952< χ2 (α0.05;1) = 3.84 Kesimpulan : Luas lahan garapan diluar kawasan tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan

Tabel 4 Luas lahan garapan dalam kawasan dan tingkat pendapatan
Penggunaan lahan dalam kawasan Tingkat Pendapatan Rendah f₀ ft (f₀-ft) ft 1.35810 1.57327
2

Tinggi f₀ ft (f₀-ft) ft 1.2621 2.1953
2

Total responden 60 34 94

Rendah 26 32.66 34 28.05 Tinggi 23 17.72 10 15.91 Jumlah 49 44 χ2 = ∑ (f₀-ft)2 = 1.35810 + 1.2621 + 1.57327 + 2.1953 = 6.3888 ft χ2 = 6.3888> χ2 (α0.05;1) = 3.84

Kesimpulan : Tingkat pendapatan berpengaruh nyata terhadap luas lahan garapan dalam kawasan

Tabel 5 Luas lahan garapan dalam kawasan dan lama masyarakat menggarap
Penggunaan lahan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Lama Menggarap >5 tahun f₀ 58 32 90 ft 57.44 32.55 (f₀-ft) ft 0.00545 0.00929
2

<5 tahun f₀ 3 1 4 ft 2.55 1.51 (f₀-ft) ft 0.0794 0.1722
2

Total responden 60 34 94

χ2 = ∑ (f₀-ft)2 = 0.00545 + 0.0794 + 0.00929 + 0.1722 = 0.2664 ft χ2 = 0.2664< χ2 (α0.05;1) = 3.84 Kesimpulan : Lama masyarakat menggarap tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan

87

Tabel 6 Luas lahan garapan dalam kawasan dan tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan Penggunaan lahan dalam kawasan Rendah Tinggi Jumlah Tidak sekolah f₀ 2 1 3 ft 1.91 1.08 (f₀-ft) ft
2

SD f₀ 50 26 76 ft 48.51 27.48 (f₀-ft) ft
2

SMP f₀ 7 4 11 ft 7.02 3.97 (f₀-ft) ft
2

SMA f₀ 1 3 4 ft 2.55 1.44 (f₀-ft) ft
2

Total responden

0.00424 0.00592

0.0457 0.0797

5.7E-05 0.0002

0.94215 1.69

60 34 94

χ2 = ∑ (f₀-ft)2 = 0.00424 + 0.0457 + 5.7E-05 + 0.94215 + 0.00592 + 0.0797 + 0.0002 + 1.69 = 2.768 ft χ2 = 2.768< χ2 (α0.05;3) = 7.815 Kesimpulan : Tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap luas lahan garapan dalam kawasan

87

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful