Gambaran umum Sistem Peradilan di Indonesia Oleh : I Wayan Puspa

7/7/2012

1

• Pelaksanaan proses pengadilan yang lebih sederhana, cepat dan murah. Faktor-faktor penyelesaian perkara di pengadilan : substansi perkara, pencari keadilan, kuasa hukum, substansi hukum, kesiapan alat-alat bukti, sarana dan prasarana, budaya hukum, komunikasi dalam persidangan, pengaruh dari luar, aparat pengadilan, hakim, managemen.

• •

Pembentukan pengadilan yang bersih, jujur, objektif dan adil yang ditunjang oleh suatu sistem pemantauan. Penyelesaian penimbunan perkara dan kelambatan proses perkara di MA. Peyebab permasalahan : soal paradigma hukum yang dipergunakan yakni legalistic formalistic, pendidikan hukum yang terkait dengan kemampuan profesional hakim dan staf administrasi peradilan, perkembangan hukum yang menjadi sub ordinat dari perkembangan bisnis yang mengglobal, degradasi mental dan profesionalisme profesi hukum, mandegnya fungsi perubahan dan pemberdayaan yang dilakukan oleh paralegal, kacaunya sistem, visi dan misi reformasi hukum nasional, budaya hukum masyarakat yang rendah yang kurang mendukung upaya bangunan negara hukum yang demokratis.

• • • •

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaaan Kehakiman

Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat dan biaya ringan. Segala campur tangan dalam urusan peradilan dilarang, kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam Undang-undang Dasar Negara RI tahun 1945. Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Tidak seorangpun dapat dihadapkan di depan pengadilan selain daripada yang ditentukan oleh UU. Tidak seorangpun dapat dijatuhi pidana,kecuali apabila pengadilan, karena alat pembuktian yang sah menurut UU, mendapat keyakinan bhw seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya. Tidak seorangpun dapat dikenakan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan, selain atas perintah tertulis oleh kekuasaan yang sah dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.

• Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. • Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah MA dan badan peradilan yang berada di bawahnya, dan oleh sebuah MK. • Badan peradilan dibawah MA : Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara. • Kewenangan MA : (a) mengadili pada tingkat kasasi thd putusan yg diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan di semua lingkungan peradilan yang berada di bawah MA, (b) menguji PUU di bawah UU thd UU, (c) kewenangan lainnya yg diberikan UU.

• MK berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk : (a) menguji UU thd UUD RI Tahun 1945, (b) memutus sengketa kewenangan lembaga negara yg kewenangannya diberikan oleh UUD RI Tahun 1945, (c) memutus pembubaran parpol, (d) memutus perselisihan ttg hasil Pemilu. • MK wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bhw Presiden dan/atau Wapres diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan thd negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sbg Presiden dan/atau Wapres.