Tamu Tak Diundang

Terlahir sebagai seorang lelaki, anak pertama dari 3 bersaudara. Meski bukan hidup di keluarga kaya raya, namun syukur tenangkan jiwa dan raga. Sempat berkembang berpuluh tahun di gubuk derita, hingga menjadi pondok sederhana yang layak dan nyaman menjadi alas tidur dan selimut malam ketika dingin mulai menusuk kulit dan menggores sekujur tubuh. Pekat dan sunyinya malam tidak membuat dingin istirahat untuk menunda interaksi bersama penghuni bumi. Cerita mama, saat umurku mulai menyentuh 3 bulan, malam itu begitu dingin dan sunyi, bulan tertutup awan hitam. Gelap menyergap siapa saja yang berkeliaran. Entah ada apa ? malam begitu tidak bersahabat. Mama membuka jendela dan terlihat tetes air mulai mencapai bumi. Mereka berlomba untuk menyentuh tanah, siapa yang duluan, siapa yang menang, tidak bisa kelihatan. Peserta balapan terlalu banyak dan identik. Tidak lama kemudian, ada suara mengetuk pintu, dipanggil, dia tidak menjawab, memang masih belum terlalu malam. Tapi kelamnya malam itu, membuat siapa saja tidak ingin lama berada di luar rumah. Anehnya lagi, ketika pintu dibuka, ternyata tidak ada siapa-siapa. Mama mulai berpikir, siapa tadi ? atau hanya perasaanku saja. Tapi suara itu tidak terdengar seperti lukisan perasaan yang sarat dengan ketidakbenaran. Ternyata setelah didengarkan dengan seksama, bukan berasal dari pintu yang dibuka tadi, suara itu berasal dari atap rumah kami yang tersusun atas seng-seng tua, akibatnya suara terdengar nyaring. Suara itu tidak berhenti dan terus saja bergesekan dengan material dari seng itu sendiri. Terang saja bersuara, ternyata itu tetesan air hujan yang sejak tadi telah turun. Tapi tidak seperti tetes air hujan biasa, mereka punya misi tertentu untuk tujuan tertentu pula. Tanpa disadari, tetes air hujan itu menyerang wajahku, mereka mengejar tiap jenkal aku bergeser. Padahal tidak ada sejarahnya air hujan punya mata dan dendam pada manusia. Tapi, hingga hujan berhenti sementara, sisi dimana aku tertidur dengan lelap, mereka tetap mengintai, meski tidak seaktif dan tajam tadi. Mereka bergeser dengan kecepatan 1cm/detik, sediki-demi sedikit bergerak menjangkau kulit halusku yang tertutup kelambu dan beralas bantal lusuh. Semalaman mama tidak bisa tidur, menjaga anaknya dari buruan sang air, tak lama hujan berhenti, tanpa salam dan mengetuk pintu, datang tamu tak diundang, suara begitu berisik, namun tidak terlihat siapa dan dimana posisi mereka. Maklum

”Tenang saja kawan. mama dan papa setia menggunakan lampu tempel mungil dan beberapa batang lilin kecil. begitu banyak mitos yang beredar di masyarakat jika mendengar anjing melolong. Tidak sengaja terdengar kalimat di atas. Seolah-olah siap menghantam tanpa tahu dari arah mana mereka akan menyerang. Terlintas pemikiran sederhana. letaknya tidak tahu. lolongan anjing menambah kelamnya malam. semakin rendah intensitasnya. posisi mereka mulai berpindah. sia-sia dan buang-buang tenaga. tidak lagi pada satu titik. Detak-detak jam terus bergeser dengan pasti. Malam semakin pekat. entah apa itu ? tapi sekilas terlihat seekor serangga kecil. mungkin mereka takut melihat sosok seorang wanita duduk dan berjaga sepanjang malam. Tetap saja tidak ada hasilnya. Anehnya. dengan bantuan indera pendengar. Kelopak mata yang tadinya sudah tidak sabar untuk bersilaturahmi. setan bahkan kematian. Terasa begitu aneh. kanan. hingga indera penglihat tidak begitu membantu. tapi menyebar ke berbagai arah. bertubuh kurus dan bermata sayu karena kurang tidur. rupanya itu serangga yang sering kita sebut nyamuk. Mulai dari melihat setan. Pantas saja begitu berisik. suara berisik. Tapi demi sang buah hati. mereka pasti berkolaborasi mencari darah untuk menghasilkan embrio nyamuk yang baru.saja. suara berisik mulai beralih. Sesaat melintas secepat roket. depan dan belakang. jarak pandang terbatas. Mama mulai memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk mencari letak dan memprediksikan kapan dan dari arah mana mereka siap menyerang. seakan menyayat hati dan memecahkan jantung. bawah. Oh. atas. makhluk tak dikenal. dengan jumlahnya yang banyak dan bervariasi. karena terbatasnya keuangan. sampai adanya kematian keesokan harinya. yang sudah disapa hujan. makhluk aneh tak dikenal. wanita itu pasti tidak tahan untuk terjaga sepanjang malam”. makhluknya tidak tahu. Dengan begitu gelap. berwarna hitam bersayap dan mengeluarkan bunyi bising. mama tidak akan gentar. ditambah ketakutan mendengar suara anjing. Kiri. Maklum saja. terdengar suara berisik yang sama dan persis. pernyataan tantangan itu begitu menyakitkan mama. tetapi kuantitasnya semakin banyak. suara itu terus-menerus berputarputar tanpa henti. akhirnya memutuskan untuk menunda lain waktu. .