Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012

)
PENGARUH FREKUENSI DAN VOLUME PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SELADA (Lactuca sativa L.)1 Growth Response of Lettuce Plant (Lactuca sativa L.) on Variety Interval and Volume of Watering Restu Puji Mumpuni Mahasiswa Pasca Sarjana, NRP. A252110171 Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor E-mail : restupm@yahoo.com Anas D. Susila Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor E-mail : anasdsusila@yahoo.com ABSTRACT This experiment aims to study response of lettuce plant on a variety of interval and volume of watering. The
experiment was conducted in March to May 2012 in the Greenhouse at University Farm, IPB. It was arranged with two treatments and four replications. Implementation of the experiment based on nested design. Experimental results show that, the interval watering every day with 50 % Container Capacity (CC) gives the best results on plant height and yield of lettuce and correlation between volume and interval of watering had effect on number of leaves parameters observed. Experimental results show that, interval watering effect on number of leaves growth lettuce in 5 week after

planting (WAP) and volume of watering effect on number of leaves in all week of lettuce growth and also give effect on high plant in 5 WAP. Every day intervals with high volume of watering affected lettuce collapse and dumping off happen. Keywords : lettuce, volume, watering, interval PENDAHULUAN Pengelolaan air membutuhkan penanganan yang serius berkenaan dengan memaksimalkan penggunaan air permukaan. Pengaturan penggunaan air yang efisien sangat diperlukan untuk memaksimalkan areal tanam. Pengaturan kebutuhan air (volume irigasi) ini dapat dilakukan dengan pengaturan jadwal penyiraman. Pertumbuhan tanaman akan dipengaruhi oleh tingkat ketersediaan air dalam tanah. Air pada tanaman berfungsi sebagai :1 penyusun utama jaringan tanaman, 2. Pelarut garam, gula dan senyawa lainnya sehingga larutan tersebut dapat bergerak dari sel ke sel lainnya, 3. Pengatur suhu 4. Mempertahankan turgor tanaman 5. Pereaksi dalam fotosintetik dan dalam hidrolik. Tanaman dapat tumbuh dengan baik dalam kapasitas lapang, tetapi saat kadar air berada pada titik layu permanen pertumbuhan tanaman menjadi terganggu. Tingkat respon tanaman terhadap air dipengaruhi oleh jenis tanaman dan sistem perakaran saat terjadi kekurangan air pada periode pertumbuhan (Supriyadi 2006). Sulistyono (2007) menyatakan bahwa kebutuhan air tanaman didefinisikan sebgai volume air yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman selain yang berasal dari curah hujan. Air mutlak dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk pertumbuhan. Besarnya kebutuhan air tanaman untuk setiap pertumbuhan ditentukan oleh tingkat pertumbuhan, faktor iklim dan jenis tanaman (Riyanti 2011). Tanaman selada adalah sayuran daun yang banyak dikonsumsi masyarakat. Selada banyak dipilih oleh masyarakat karena warna, tekstur dan aromanya yang menyegarkan penampilan makanan, sehingga mampu menambah selera makan. Selada dikenal sebagai sumber mineral, pro-vitamin A, vitamin C dan serat (Nuzulul 2009). Selada disantap sebagai lalapan atau dimakan segar (mentah). Selada ini baik dikonsumsi karena dapat mencegah konstipasi (sembelit), selain itu banyak mengandung mineral dan vitamin (Pracaya 2008). Teknik budidaya yang baik dan benar menjadi dasar untuk mendapatkan selada yang berkualitas baik. Tahapan budidaya selada meliputi penentuan syarat tumbuh, pembibitan, penyiapan media tanam, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit, serta panen dan pasca panen. Perbanyakan selada pada umumnya menggunakan biji. Biji selada berukuran kecil sehingga perlu disemai terlebih dahulu sebelum ditanam di lahan luas, selain itu persemaian akan memudahkan perawatan saat di lahan. Pemilihan bibit yang tepat menjadi hal yang sangat penting dilakukan dalam menjamin tingkat
Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012)
pertumbuhan tanaman ketika di lapangan. Pemeliharaan bibit dilakukan untuk menyempurnakan proses fisiologis dimana pada saat ini tanaman dapat menyimpan karbohidrat dan memproduksi kutikula, sehingga tanaman dapat membentuk formasi perakaran dan bertahan pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Menurut Bickell 1992 pemeliharaan bibit selada dilakukan hingga tanaman memiliki 5 - 6 daun sebelum dipindahtanamkan (transplanting), dengan posisi daun terbawah berada cukup tinggi di atas tanah. Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda dan respon yang berbeda pula terhadap pertumbuhan. Untuk itu diperlukan penentuan mengenai interval penyiraman dan volume penyiraman yang optimal untuk bibit selada yang banyak dibudidayakan. Praktikum ini bertujuan untuk mendapatkan volume dan frekuensi penyiraman yang terbaik untuk pertumbuhan bibit selada. BAHAN DAN METODE Praktikum dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2012 di University Farm Institut Pertanian Bogor. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah benih selada, kascing, pupuk gandasil. Alat yang digunakan diantaranya tray semai ukuran 128, penggaris, gelas ukur, timbangan analitik dan oven. Praktikum dilaksanakan dengan menggunakan rancangan nested (tersarang) dua faktor dengan empat ulangan. Faktor I: volume penyiraman (3 taraf) : V1 = 50 % kapasitas kontainer; V2 = 100 % Kapasitas Kontainer; V3 = 150 % kapasitas kontainer. Faktor II: Frekuensi penyiraman (2 taraf): V1 = 1 hari (setiap hari); F2 = 2 hari, dari kedua faktor tersebut maka diperoleh 6 kombinasi perlakuan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali, tiap ulangan terdapat 16 tanaman, sehingga terdapat 64 tanaman tiap kombinasi perlakuan, total tanaman seluruh perlakuan adalah 384 tanaman.. Pelaksanaan percobaan dimulai dengan menentukan kapasitas kontainer tiap lubang tray yaitu dengan mengetahui bobot kering media kascing dengan dioven dan didapatkan 100% kapasitas kontainer untuk tiap lubang tray adalah 15.625 ml air, sehingga untuk perlakuan 50 % kapasitas kontainer akan disiram 500 ml dalam 1 perlakuan (64 tanaman), 100 % kapasitas kontainer disiram 1 000 ml dalam 1 perlakuan dan 150 % kapasitas kontainer disiram 1 500 ml dalam 1 perlakuan. Penyiraman disesuaikan dengan perlakuan frekuensi yaitu setiap hari dan 2 hari sekali. Teknik penyiraman dengan overhead. Tanaman dipupuk gandasil setiap 4 hari sekali. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah total, bobot basah tajuk, bobot basah akar, volume akar, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan analisis sidik ragam. Jika berbeda nyata, analisis dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% serta uji korelasi antar peubah. HASIL DAN PEMBAHASAN Rekapitulasi Sidik Ragam Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian perlakuan volume dan Frekuensi Penyiraman mempengaruhi pertumbuhan tanaman selada terutama jumlah daun. Hal ini dapat dilihat pada rekapitulasi peubah pengamatan. Berdasarkan Tabel 1, terlihat bahwa frekuensi penyiraman yang berbeda, berpengaruh secara nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada 5 minggu setelah tanam (MST), Volume penyiraman yang berbeda juga mempengaruhi secara nyata pertumbuhan daun terlihat pada 1 MST dan 3 MST. Interaksi antara volume dan frekuensi penyiraman terlihat berpengaruh secata nyata hingga sangat nyata pada lima minggu pertumbuhan bibit selada. Tabel 1. Rekapitulasi analisis sidik ragam perlakuan media tanam pada berbagai peubah tanaman selada Perlakuan MST Frekuensi (F) Volume(V) Interaksi (V*F) 1 tn * ** jumlah daun (helai) 2 3 4 tn tn tn tn ** tn * ** ** 5 ** tn ** 1 tn tn tn tinggi tanaman (cm) 2 3 4 tn tn tn tn tn tn tn tn tn 5 * tn tn

Keterangan : tn : tidak berbeda nyata ; * : Berbeda nyata ; MST : minggu setelah tanam

Tinggi Tanaman
Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012)
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada saat 5 MST dapat dilihat pada Tabel 2. dan perlakuan volume penyiraman air tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman terlihat pada Gambar 1. Tinggi tanaman tertinggi terlihat pada 5 MST pada perlakuan frekuensi penyiraman setiap hari. Jumlah Daun Volume penyiraman berpengaruh sangat nyata pada 1 MST dan Frekuensi penyiraman terlihat berpengaruh nyata pada 5 MST. Volume terbaik untuk penyiraman terlihat pada volume penyiraman 50 % kapasitas kontainer terlihat pada Tabel 2. Tabel 2. Pengaruh frekuensi dan volume penyirapan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun

Perlakuan 1 MST Frekuensi F1(1 hari) F2(2 Hari) respon Volume V1(50% CC) V2(100% CC) V3(150% CC) Respon
Interaksi (V*F)

Jumlah Daun 2 3 4 MST MST MST 3.08 3.13 tn 2.97 3.16 3.19 tn
*

Tinggi Tanaman 5 MST 3,23a 1,15b ** 2 1.94 1.63 tn
**

1 MST 1.5 1.67 tn 1.58 1.57 1.6 tn
tn

2 MST 1.73 1,87a tn 1.75 1.75 1.9 tn
tn

3 4 MST MST 2.41 2.5 tn 2.38 2.32 2.67 tn
tn

5 MST 2,38a 0,87b * 1.93 1.73 1.22 tn
tn

2.5 2.44 tn 2,50a 1,57b 1,60b **
**

4.06 4.44 tn 3.72 4.13 4.91 tn
**

3.46 3.38 tn 3.06 3.19 4 tn
**

2.6 2.33 tn 2.31 2.39 2.7 tn
tn

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; MST: Minggu Setelah Tanam; tn : tidak berbeda nyata ; * : Berbeda nyata ; ** : sangat berbeda nyata

Interaksi antara frekuensi penyiraman dan volume penyiraman Interaksi antara frekuensi penyiraman dengan volume penyiraman ternyata terlihat pada jumlah daun tanaman selada terlihat dari Tabel 2. Hampir di seluruh minggu menunjukkan berbeda nyata dan sangat nyata. Hasil uji lanjut dari interaksi kedua perlakuan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Dari tabel interaksi tersebut kita memperoleh kesimpulan bahwa pada frekuensi penyiraman setiap hari volume terbaik adalah 50 % kapasitas kontainer ditunjukkan dengan jumlah daun terbanyak pada 1, 4 dan 5 MST. Bibit selada dapat dipindahtanam setelah 5 minggu sebaiknya menggunakan frekuensi dan volume penyiraman ini ( setiap hari/ 50 % KK). Sedang pada frekuensi penyiraman setiap 2 hari volume penyiraman terbaik adalah 150 % kapasitas kontainer ditunjukkan oleh jumlah daun terbanyak pada 1, 2, dan 3 MST. Jadi bibit selada pada frekuensi dan volume penyiraman 2 hari/ 150 KK sebaiknya dipindahtanam pada umur bibit 3 minggu karena setelah 3 minggu jumlah daun bibit selada mengalami penurunan drastis kemungkinan disebabkan karena pembusukan akibat volume penyiraman yang tinggi. Jumlah air yang digunakan dalam penyiraman terkait dengan kemampuan media dalam menyimpan air sehingga tersedia bagi tanaman. Frekuensi penyiraman akan mempengaruhi kapasitas lapang dari tanah serta mempengaruhi sifat fisika-kima tanah maupun pertumbuhan tanaman. Tanah merupakan perantara penyedia unsur hara, dimana unsur hara tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan air sebagai pelarut unsur hara (Hardjowigeno 1995).

Tabel 3. Hasil uji lanjut interaksi antara volume dan frekuensi penyiraman terhadap jumlah daun Frekuensi Volume Jumlah Daun

Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012) 1 MST
1 Hari 50% 100% 150% 50% 100% 150% Interaksi (V*F) 2,75a 2,31b 2,40ab 2,25b 2,31b 2,75a **

2 MST
2,93b 3,31ab 3,00b 3,00b 3,00b 3,37a *

3 MST
3,68b 4,68ab 3,81b 3,75b 3,56b 6,00a **

4 MST
3,75a 4,25a 2,37b 2,37b 2,12b 3,62ab **

5 MST
6,00a 2,68b 1,00b 0,00b 1,18b 2,25b **

2 Hari

Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan nilai berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5 %; MST: Minggu Setelah Tanam; tn : tidak berbeda nyata ; * : Berbeda nyata ; ** : sangat berbeda nyata

Gambar1. Kondii tanaman saat panen terlihat tinggi tanaman tidak terlalu berbeda

Gambar 2 Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun.

Tanaman selada di pembibitan kami mengalami kelayuan akibat rebah setelah penyiraman dalam volume tinggi dan frekuensi sering terlihat dari gambar 2 terjadi penurunan tinggi dan jumlah daun setelah minggu ketiga. Kelayuan dan rebah juga diakibatkan karena sistem penyiraman secara overhead sehingga tanaman yang rebah kemudian tergenang air akhirnya busuk. Tanaman selada tidak tahan bila terlalu banyak air, kelembaban terlalu tinggi, dan tergenang air karena akan membuat tanaman mudah terserang hama dan penyakit. Penyebab kerebahan yang lain adalah kurangnya cahaya matahari yang menyebabkan tanaman etiolasi sehingga rentan penyakit. Selada memerlukan sinar matahari yang cukup (tidak banyak awan) dan tempat yang terbuka. Faktor lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan selada adalah cahaya, dimana

Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012)
cahaya berpengaruh pada ratio panjang dan lebar daun semakin kecil (Janick 1986). Gambar proses terjadinya rebah dan kelayuan dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar3. Tanaman selada mengalai rebah dan kelayuan

Tanaman yang tumbuh pada media dengan porositas tinggi memiliki kesempatan untuk mendapatkan udara untuk respirasi akar dan ruang pori untuk masuknya hara mineral lewat larutan bersama air. Hal tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan akar dan selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan tajuk (Leiwakabessy 1988). Umur bibit selada untuk dipindahtanamkan dalam adalah 5 minggu setelah tanam setelah tanaman memiliki 5-6 daun (Aziz 2006). Kondisi tanaman pada saat panen yaitu 5 MST dapat dilihat pada Gambar 4. Terlihat banyak terjadi kematian bibit pada saat panen sehingga untuk melakukan pengujian untuk peubah lain kami tidak memiliki ulangan untuk diolah secara statistik.

Gambar 4. Kondisi tanaman dengan volume dan frekuensi penyiraman yang berbeda pada 5 MST

Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012)
Panjang akar, Volume akar dan Rasio tajuk Akar Pengaruh Volume penyiraman dan Frekuensi penyiraman dapat dilihat pada gambar 4. Terlihat bahwa volume penyiraman 50 % KK dan disiram setiap hari memperlihatkan rasio tajuk akar tertinggi, rata-rata volume akar tertinggi dan rata-rata panjang akar tertinggi. Walaupun untuk panjang akar terlihat tidak terlalu berbeda dengan perlakuan lain. Tingkat produksi tanaman selada yang tinggi ( tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan volume akar) dipengaruhi frekuensi dan volume penyiraman. Akar tumbuh kemanapun mereka dapat tumbuh. Hambatan mekanis, suhu, aerasi, serta ketersediaan air dan garam mineral, semuanya merupakan faktor penting. Di daerah yang lembab dan subur, akar menyebar luas sampai hara dihabiskannya, lalu terus tumbuh ke daerah baru dengan membentuk lebih banyak akar cabang atau akar pencari makanan, bila air tersedia jauh di dalam tanah, biasanya akar juga akan tumbuh merasuk ke dalam tanah (Salisbury dan Ross 1992) Penerobosan sejumlah besar volume tanah penting bila akar ingin tumbuh mendekati air dan ion. Pada keadaan lembab (hampir kapasitas lapang), difusi menuju akar tentu cepat, tapi pada keadaan kering sampai potensial air mendekati 1.5 Mpa (lazimnya titik layu layu permanen), difusi air terlarut bisa menurun 1 000 kali. Jadi tumbuhan akan kesulitan mendapatkan air dan mineral karena dua alasan: terbatasnya kemampuan akar untuk menerobos tanah dan terbatasnya difusi air dan ion menuju akar (Salisbury dan Ross 1992).

Gambar 5. Rasio tajuk akar, rata-rata volume akar dan rata-rata panjang akar pada perlakuan volume dan frekuensi penyiraman

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ◦ Volume dan frekuensi penyiraman terbaik untuk bibit selada adalah 50 % kapasitas kontainer setiap hari dilihat dari jumlah daun, tinggi tanaman, volume akar dan panjang akar bibit selada ◦ Penyiraman dengan volume tinggi setiap hari menyebabkan bibit selada rebah dan terjadi pembusukan

Saran
Tanaman selada rentan rebah ketika di pembibitan, karena itu penyiraman tanaman ini sebaiknya dengan volume rendah (50 % kapasitas kontainer) tetapi setiap hari. Tanaman ini juga memerlukan cahaya yang cukup ketika di pembibitan DAFTAR PUSTAKA

Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Hortikultura Lanjut – AGH 542 (2012)
Aziz, SA. 2006.Pengaruh Umur Bibit dalam Konsentrasi Hara Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Selada (Lactuca sativa. L) pada Teknologi Hidroponik Sistem Terapung. Skripsi. Program Studi Hortikultura. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor Brickell, C. 1992. The Royal Horticultural Society: Encyclopedia of Gardening. Dorling Kindersley. London, Great Britain. P:311-329 Hardjowigeno. S.. 1995. Ilmu Tanah. PT.Akademika Presindo. Jakarta. Leiwakabessy, F.M. 1988. Kesuburan Tanah. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian IPB. Bogor. 249 hal. Nuzulul, R. 2009. Respon Tiga Kultivar Selada (Lactuca sativa, L.) pada Tingkat Kerapatan Tanaman yang Berbeda. [skripsi]. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya: Malang. Riyanti, H. 2011. Pengaruh Volume Irigasi pada berbagai Fase Tumbuh pada Pertumbuhan Melon (Cucumis melo. L) dengan sistem Hidroponik. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. 4 th Ed. Wadsworth Publishing Company Bellmount, California. 681 p. Sulistyono,E 2007. Pengelolaan Air untuk Tanman. Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. 55 Hal Supriyadi. 2006. Analisis penggunaan air pada derah irigasi rentang wilayah daerah cirebon. Agrijati. Vol 3 no 1 :65-70

Laporan Praktikum Mata Kuliah Hortikultura Lanjut AGH-542, yang telah dipresentasikan pada Seminar Akhir Kelas pada tanggal 1 Juni 2012

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful