BAB III PROSES PEMBUATAN GULA 3.

1 Bahan Bahan baku proses pengolahan gula kristal putih adalah tebu. Sumber bahan baku PG. Kebon Agung sebagian besar didapat dari perkebunan lokal (daerah Kabupaten Malang). Selain bahan baku, proses pengolahan gula kristal putih juga memerlukan bahan pembantu. Bahan pembantu tersebut adalah: a. Air Air di PG. Kebon Agung digunakan untuk proses, pencuci dan pendingin mesin-mesin (air injeksi). Kebutuhan air untuk proses giling relalitif sedikit karena selama proses operasi berlangsung banyak dihasilkan air kondensat yang dapat digunakan (recycle) untuk proses lagi. b. Kapur tohor Kapur tohor dipakai untuk menghilangkan suasana asam yang terdapat pada nira mentah. Penambahan bertujuan agar sukrosa yang terdapat dalam tebu tidak terinversi karena sukrosa sangat mudah terpecah dalam suasana asam. Kapur tohor yang dipakai untuk proses produksi dibuat menjadi susu kapur. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pemerataan kapur dalam nira sehingga akan mempermudah peoses pengendapan pada waktu pemurnian. Kapur yang digunakan berasal dari Sumber Manjing (Malang Selatan) dan telah memenuhi standar kualitas yang ditetapkan P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) Pasuruan. c. Belerang Belerang ditambahkan dalam bentuk gas SO2. Gas ini terbentuk karena adanya pembakaran sehingga belerang bereaksi dengan O2 (Oksigen) membentuk gas SO2. Pemberian ini bermaksud untuk menetralkan kelebihan basa sekaligus mempercepat proses pengendapan pada Stasiun Pemurnian nira. Selain itu, juga bertujuan untuk mereduksi kandungan zat warna yang terkandung dalam nira.

25

Belerang yang digunakan PG Kebon Agung diimpor dari Singapura dan telah memiliki sertifikat mutu dari P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) Pasuruan. d. Asam fosfat Asam Fosfat ditambahkan dengan maksud untuk membentuk endapan dengan kapur dan menyerap koloid serta bertindak sebagai inti endapan. e. Flocculant agent Flocculant agent diberikan dengan tujuan mempercepat proses flokulasi dan koagulasi dalam bak pengendapan. Flokulan yang dipakai di PG Kebon Agung adalah jenis Superflok Accofloc A-110 H. Flokulan ditambahkan dalam bentuk cairan yang encer. 3.2 Proses Pengolahan Gula Kristal Putih (GKP) Proses pengolahan gula pasir atau gula kristal putih di PG pada dasarnya adalah pemisahan sukrosa dari bahan-bahan non-sukrosa, kemudian diikuti dengan proses pengkrisatalan sukrosa. Dengan kata lain, tujuan proses pabrikasi adalah mengambil nira sebanyak-banyaknya dari tebu dan mengubahnya menjadi gula kristal putih secara efektif dan efisien sehingga siap dikomersilkan. Proses pabrikasi tersebut terdiri dari tahapan-tahapan (stasiun), antara lain: a. b. c. d. e. f. g. Stasiun Persiapan Bahan Baku Stasiun Gilingan Stasiun Pemurnian Stasiun Penguapan Stasiun Masakan Stasiun Putaran Stasiun Penyelesaian

e. Kebon Agung. urut SPTA. 3. Kebon Agung mampu menampung 440 truk biasa dan 60 truk gandeng yang terdiri dari 35 jalur antrian dan jalur cadangan yang mampu menampung 90 truk biasa (jalur kembar dan jalur gudang). SPTA ini harus dibawa setiap truk yang mengangkut tebu dari penyalur tebu (KUD) yang telah memiliki nomor regristasi dan telah terdaftar di PG. d. Kebon Agung sendiri. Memberi nomor truk di Emplecement. yaitu: a. Lembar ke dua berwarna kuning sebagai arsip pabrikasi. Ada dua jenis SPTA yang dikeluarkan oleh PG.1 Stasiun Penerimaan Stasiun penerimaan merupakan tempat untuk penerimaan tebu. Lembar pertama berwarna putih sebagai arsip PDE. Jenis tebang Nama petani Kode regristasi Tanggal tebang tebu.1 Stasiun Persiapan Bahan Baku Stasiun persiapan bahan baku bertujuan untuk mempersiapkan bahan baku (tebu maupun bahan non tebu) sebelum diproses lebih lanjut.2. . SPTA secara fisik merupakan lembaran rangkap 4 dan berbeda warna. b. SPTA untuk tebu yang ditebang KUD/ ditebang sendiri. Lembar ke tiga berwarna merah sebagai arsip bina wilayah. Dalam SPTA tercantum beberapa hal yaitu: a. b.3. Stasiun ini mempunyai tugas diantaranya: 1. dan lembar ke empat berwarna hijau sebagai arsip untuk sopir. untuk kemudian diberikan nomor antrian dan selanjutnya menunggu di terminal penempatan (emplacement). Emplacement yang dimiliki oleh PG.1. Sopir truk yang sudah di periksa SPTAnya kemudian diberikan nomor antrian yang selanjutnya menunggu di terminal penempatan (emplacement). 2. c. Kebon Agung. dan No. Menerima SPTA (Surat Perintah Tebang Tebu dan Angkut). Stasiun ini terbagi menjadi dua bagian. yaitu stasiun penerimaan dan stasiun penimbangan. SPTA untuk tebu yang ditebang PG.2.

Out) Pengaturan dengan sistem FIFO adalah pengaturan jalur truk yang mana truk yang masuk lebih awal maka muatan tebunya akan digiling lebih dulu. jumlah truktruk yang masuk di terminal emplacement bisa mencapai ± 1000 buah per hari. daduk dan pucukan-pucukan serta kotoran lain seperti tanah. plastik dan lain-lain. maksudnya tebu harus bersih dari sogolan. 3. Air tebu yang diambil diteteskan pada kaca hand brix untuk diketahui % brixnya. Adapun kriteria kotoran dan pengenaan rafraksi khusus (% ) yaitu: . Sedangkan konsekuensi tebu terkait dengan standarisasi persen brix adalah: a. Seleksi yang dilakukan diawali dengan mengambil sedikit air tebu menggunakan alat hand brix. Kebon Agung untuk sementara waktu. Seleksi tebu yang akan masuk. Semakin tinggi % brixnya maka semakin tinggi pula kadar gulanya. Kebon Agung secara umum adalah 18 % untuk semua jenis tebu. Kebijakan seleksi tebu yang dilakukan PG. Bersih dan Segar).Apabila terjadi suatu masalah sampai menimbulkan stop giling. Kebon Agung dengan cara menempatkan luapan truk tersebut pada lapangan sepak bola PG. Namun. truk-truk tersebut menunggu selama 24 jam untuk sampai pada stasiun gilingan. 4. Adapun % brix yang ditetapkan oleh PG. maksudnya tebu harus memiliki kadar brix dan rendemen sesuai dengan standar dan ketentuan pabrik. % brix >14 % • = Tebu ditolak masuk = Ketentuan rafaksi di meja tebu = Tebu diterima masuk Pengaturan antrian truk sesuai dengan sistem FIFO (First In First Bersih. Sistem FIFO bertujuan untuk menekan kehilangan gula dalam tebu sebelum pengolahan pabrik. Uraian standar MBS adalah sebagai berikut: • Manis. % brix < 10 % b. pada kondisi normal. % brix berkisar 10 % dan <14 % c. Kebon Agung adalah tebu yang sesuai dengan standar MBS (Manis. Hal ini diatasi PG.

b. 2. f. selanjutnya tebu tersebut ditimbang. d. Timbangan truk 1 Proses penimbangan dilakukan dua tahapan. maksudnya bahwa tebu yang datang harus segera digiling dalam keadaan segar. Tebu yang masih terdapat akar atau daduk dikenakan rafaksi 5 %. pucuk dan daduk (ASTSPD) dikenai rafaksi 20 %. 3.1. Alat timbang yang digunakan adalah timbangan AND AD 4347 dengan kapasitas maksimumnya 50 ton. tanah. Oleh karena itu truk tersebut harus membawa tebu dengan aturan tidak melebihi kapasitas 10 ton. e. g. berat netto tebu tersebut adalah selisih antara berat bruto dan berat tarra. Tebu campur tanah dikenai rafaksi 15 %. truk dan tebu ditimbang secara bersamaan pada jembatan timbangan sehingga didapatkan berat bruto. Jadi. Tebu yang terdapat akar. Tebu muda dan tebu terbakar dikenakan rendemen khusus. sogolan. Timbangan crane Timbangan crane merupakan timbangan yang diperuntukkan khusus tebu yang ditebang oleh PG. yaitu: 1. Ada tiga jenis timbangan yang digunakan PG. c. Truk yang muatannya kosong ditimbang untuk kali kedua sehingga didapat berat tarra. Dalam artian bahwa tebu digiling tidak lebih dari 24 jam sejak waktu ditebang. Tebu sogolan (anak tebu) terkena rafaksi 10 %.2. Kebon Agung untuk kemudian dipindahkan ke lori. Ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kapasitas lori. Tebu dengan tali pucuk dikenakan rafaksi 2 % (seharusnya memakai tali dari pohon bambu). Sedangkan pengawasannnya dengan cara melewatkan truk tersebut pada . • Segar.2 Stasiun Penimbangan Setelah tebu diterima pada stasiun penerimaan.a. Tebu pucuk atau terdapat akar dan tanah (cara memotongnya terlalu memucuk) terkena rafaksi 15 %. Pertama. Kebon Agung Malang. Selanjutnya tebu diturunkan ke meja tebu.

kapur. yaitu perlakuan pendahuluan dan pemerahan nira. Pada timbangan ini dilengkapi dengan rantai yang digunakan untuk mengangkat tebu dari truk. a. Timbangan truk II Timbangan ini diperuntukkan khusus bagi truk yang bermuatan selain tebu. 3. Dengan kata lain fungsi stasiun gilingan adalah untuk mengambil nira sebanyak mungkin dari tebu. timbangan ini juga dikenal dengan sebutan timbangan non tebu. Adapun cara kerja timbangan ini sama seperti timbangan truk I. Dengan demikian. besi tua. pupuk. residu.1.2. 3. 3. dan sebagainya. selain itu juga berfungsi sebagai penggantung saat tebu di timbang. Kebon Agung menggunakan timbangan dengan merk Toledo dengan kapasitas maksimum 40 ton sedangkan satuan minimun adalah 5 kg. Oleh karena itu.2. belerang. seperti tetes. PG. efektivitas dan efisiensi proses pada stasiun gilingan ditentukan oleh dua hal yaitu mekanisme proses serta pemberian air imbibisi.sebuah portal setinggi 2. berat hasil penimbangan yang diperoleh langsung dikurangi 25 kg (berat rantai) untuk memperoleh berat tebu sesungguhnya. Rantai tersebut berbobot 25 kg. Perlakuan pendahuluan (pembukaan sel-sel tebu) . stasiun gilingan merupakan tahapan proses dalam rangka pemisahan (ekstraksi) nira dari tebu secara efektif dan efisien.75 m sebelum memasuki penimbangan dengan tujuan jumlah tebu yang dibawa tidak berlebihan dan sesuai dengan kapasitas lori.2. dimana dilakukan dua tahapan penimbangan untuk kemudian diperoleh berat netto. Mekanisme Proses Gilingan Mekanisme proses penggilingan terdiri dari dua tahap. Kebon Agung menggunakan timbangan crane bermerk Up Green dengan kapasitas 10 ton dan indicator merk DCGI. Oleh karena itu.2 Stasiun Gilingan Pada prinsipnya. blotong. PG. bibit tebu.

Serpihan tersebut dibawa oleh rol pengumpan (feeding rol) yang berperan untuk memasukan dan menarik umpan (serpihan tebu) pada rol gilingan. tebu diarahkan oleh auxiliary cane carrier menuju cane cutter. Selanjutnya tebu digiring menju cane leaveller untuk pengaturan dan pemerataan posisi tebu terlebih dahulu dengan sistem rolling.5 ton kemudian dialokasikan ke meja tebu (cane table). Pemerahan nira Pemerahan nira dilakukan dengan metode penggilingan bertahap. Nira yang dihasilkan dari Gilingan I ini disebut Nira Perahan Pertama (N1) untuk selanjutnya ditampung. Sedangkan ampas yang yang dihasilkan disebut ampas I (A1) dan dialirkan ke gilingan II. • Gilingan I Serpihan-serpihan tebu masuk ke Gilingan I dengan alat bantu Donelly Chute. Proses penggilingan menghasilkan nira maupun ampas. A1 ditambahkan nira hasil dari gilingan III (nira imbibisi) kemudian digiling di gilingan II. Nira hasil gilingan II disebut nira . Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah proses pemotongan tebu. Selanjutnya. b. • Gilingan II Ampas gilingan I (A1) masuk ke gilingan II dengan menggunakan Intermediate Carrier II.Tebu dari kereta lori dan truk diangkat oleh 4 buah crane berkapasitas 12. pada gilingan I juga dilakukan pembunuhan mikroba dengan menggunakan steam bertekanan 7 kg/cm2 setiap 2 jam sekali. Proses selanjutnya adalah pemotongan tebu oleh cane cutter. secara mekanis menggunakan rol gilingan. Selain proses pemerahan. Dengan begitu tebu tersebut akan menghasilkan nira yang maksimal ketika dilakukan pemerahan. Kemudian potongan-potongan tebu tersebut dihancurkan/dicacah dengan cara ditumbuktumbuk menggunakan Unigrator sehingga berbentuk serabut-serabut. Terdapat 5 (lima) unit atau tahap gilingan yang mana tiap unit tebu mengalami dua kali pemerahan secara kontinyu.

Adapun ampas hasil gilingan II disebut ampas II (A2) dan masih diteruskan ke gilingan III. Ampas hasil gilingan IV (A4) selanjutnya akan diteruskan ke gilingan V. Nira ini kemudian ditambahkan susu kapur dan selanjutnya digunakan sebagai nira imbibisi pada ampas gilingan III. N2 bersama N1 kemudian dipompa ke saringan DSM dan dialirkan ke penampungan nira mentah. A2 ditambahkan nira hasil dari gilingan IV (nira imbibisi) kemudian digiling di gilingan III. Ampas ini akan digiling kembali pada gilingan IV. Nira hasil gilingan V disebut nira perahan kelima (N5). • Gilingan IV Ampas Gilingan III (A3) masuk ke dalam Gilingan IV melalui Intermediate Carrier IV. Sebelumnya. Sedangkan output gilingan III lainnya berupa ampas III (A3). Penambahan susu kapur bertujuan untuk meningkatkan pH agar nira tidak menjadi asam sehingga sukrosa tidak terinversi sedangkan penambahan desinfektan (voltabio 2219) bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang berada pada nira. A3 ditambahkan nira hasil dari gilingan V (nira imbibisi) kemudian digiling di gilingan IV. • Gilingan V Ampas Gilingan IV (A4) diteruskan ke Gilingan V melalui Intermediate Carrier V. Nira gilingan III ditambahkan susu kapur (Ca(OH)2 dan desinfektan (voltabio 2219). Nira hasil gilingan IV disebut nira perahan keempat (N4). A4 dibasahi dengan air imbibisi bertemperatur 60 – 70 o C terlebih dahulu untuk kemudian digiling di gilingan V. Nira gilingan III kemudian digunakan untuk membasahi ampas gilingan I. Nira gilingan IV ditambahkan desinfektan untuk selanjutnya digunakan sebagai nira imbibisi pada ampas gilingan II. Nira hasil gilingan III disebut nira perahan ketiga (N3).perahan kedua (N2). • Gilingan III Ampas gilingan II (A2) diumpankan ke Gilingan III melalui alat Intermediate Carrier III. .

Apabila pemerahan nira pada stasiun gilingan dilakukan tanpa pemberian air imbibisi maka brix nira yang keluar dari setiap rol gilingan akan sama. Nira mentah tersebut dipompakan ke saringan DSM untuk menyaring ampas-ampas halus dan pasir yang masih tertinggal dalam nira. Nira gilingan I (N1) dan II (N2) merupakan nira mentah yang akan diproses pada stasiun berikutnya.Air imbibisi yang ditambahkan berkisar dari 24-28% kondisi ini sangat memungkinkan untuk melarutkan zat lilin. . Yaitu: • Cara penyiraman Dilakukan dengan cara menyemprotkan air yang berfungsi sebagai pengencer. Air Imbibisi Penambahan air imbibisi merupakan hal yang ikut menentukan sejuah mana efektivitas dan efisiensi proses penggilingan. Penambahan air imbibisi bertujuan untuk menyempurnakan ekstraksi (perasan) nira dari cacahan tebu serta meminimalisir kehilangan gula dalam ampas. 3. ampas tersebut diuraikan dan dikeringkan oleh udara bertemperatur 150 oC.2. Sebelumnya.2. Kelebihan ampas pada stasiun ketel akan disaring pada bagassilo separator untuk mendapatkan ampas halus. Serta kemurniannya akan turun secara teratur mulai dari nira gilingan awal sampai nira gilingan akhir.2. Zat lilin ini dapat mengakibatkan timbulnya endapan atau kerak di pipa. Ampas yang tersaring dikembalikan ke gilingan II sedangkan nira mentah yang telah disaring dipompakan tanki nira. Pemberian air imbibisi dapat dilakukan dengan 2 cara. Ampas hasil gilingan V (A5) akan dibawa bagasse elevator menuju stasiun ketel untuk manfaatkan sebagai bahan bakar. Air imbibisi ditambahkan terhadap ampas dengan porsi 25 – 26 % berat tebu. • Cara perendaman Dilakukan dengan cara merendam ampas tebu sebelum digiling ke dalam air atau nira yang dipakai sebagai pengencer.

Adapun kerugiannya adalah pelarutan gula dalam ampas yang kurang sempurna serta masih aktifnya mikroorganisme perusak nira. air imbibisi dapat dibagi menjadi dua. Berdasarkan temperatur.2. yaitu pada unit penggilingan terakhir. yaitu: a. tidak memakan biaya yang banyak dan tanpa merusak sukrosa sehingga outputnya berupa nira yang jernih. Stasiun pemurnian merupakan bagian yang menentukan baik tidaknya kualitas gula yang dihasilkan. Pemurnian bertujuan untuk memisahkan semaksimal mungkin zat-zat bukan gula yang terkandung di dalam nira mentah dengan proses yang cepat. Warna kristal gula yang putih merupakan efek dari proses pada stasiun pemurnian. yaitu: • Imbibisi panas Apabila air yang digunakan bertemperatur 65-70 oC. 3.Berdasarkan cara pemberiaannya. Mekanisme proses pemurnian secara garis besarnya terdiri dari 3 cara.3 Stasiun Pemurnian Stasiun pemurnian merupakan tahapan proses dimana dilakukan proses pemurnian terhadap nira mentah hasil penggilingan. Keuntungan imbibisi panas adalah mampu melarutkan gula dalam ampas lebih banyak karena lebih efektif membuka pori-pori pada ampas selain itu. mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme perusak nira. Secara fisika Dilakukan dengan cara penyaringan dan pengendapan kotoran-kotoran nira. • Imbibisi ganda Penambaha air imbibisi yang diberikan kepaa lebih dari satu unit penggilingan. Keuntungannya adalah biaya yang lebih murah serta tidak menambah kotoran pada nira. Kerugian penggunaan imbibisi panas adalah biaya yang mahal serta berpeluang melarutkan zat-zat lain (non gula) sehingga menambah kotoran dalam nira. • Imbibisi dingin Apabila air yang digunakan bertemperatur 30 oC. . air imbibisi dibagi menjadi dua yaitu: • Imbibisi tunggal Penambahan air imbibisi pada satu unit penggilingan saja.

Unit dan Proses Pemurnian a. Suhu ini merupakan suhu optimun.3. b. Jika suhu yang dipakai lebih dari 80 OC maka akan terjadi gula reduksi akibat inversi terhadap sukrosa sedangkan jika suhunya lebih kecil dari 75 OC maka reaksinya akan berjalan kurang sempurna sertan bakteri–bakteri perusak sukrosa akan tetap hidup.80 °C. Secara kimia-fisika Dilakukan dengan jalan pemanasan. Secara kimia Dilakukan dengan jalan penambahan bahan-bahan kimia (susu kapur. ditambahkan pupuk TSP sebagai pengganti asam phospat. Penambahan Asam Phospat Nira mentah dengan pH 5. Pemurnian ini lebih banyak ditujukan pada kotoran-kotoran yang berbentuk koloid. c.4 dari saringan DSM yang dialirkan ke tanki penampungan nira mentah. Penambahan TSP dilakukan secara kontinyu dengan tujuan untuk menambah kandungan phospat dalam nira sehingga mempermudah dalam pembentukan flok yang nantinya akan mengikat kotoran-kotoran yang ada dalam nira. Kebutuhan phospat dalam nira yang diinginkan yaitu sekitar 300–350 ppm. Heater I Selanjutnya nira dari tanki penampungan dipompakan menuju pemanas pendahuluan I (PP I) atau heater I untuk dipanaskan hingga suhu 75 . disertai dengan pemanfaatan daya absorbsi suatu bahan padat di dalam nira.b. dilewatkan pada alat pengukur volume Fox Boro untuk mengetahui volume nira tersebut. 3. sehingga terjadi penggumpalan kotoran.2.2 – 5. Pergantian ini dikarenakan semakin mahalnya harga asam phospat di pasaran.1. gas SO2 dan asam phospat) sehingga ketika bereaksi dengan kotoran terbentuk endapan yang dapat dipisahkan. dimana pada temperatur ini endapan kapur yang terjadi dapat dioptimalkan dan reaksi berlangsung cepat. Nira pada tanki penampungan. Adapun tujuan pemanasan pendahuluan I adalah: .

Menekan kerusakan sukrosa akibat inversi. Sedangkan penambahan kembali susu kapur pada Preliming II menghasilkan nira dengan pH 8-9. Kalsium fosfat dapat mengadsorbsi kotoran yang melayang disekitarnya (dalam nira). Mengurangi resiko meningkatnya gula reduksi.1. Preliming Setelah proses di Heater I nira selanjutnya dipompakan ke Preliming. Adapun pertimbangan terhadap pemberian kapur dalam bentuk susu kapur. Penambahan susu kapur pada Preliming I diharapkan menghasilkan nira dengan pH 7-7. Reaksi yang terjadi adalah: P2O5 + 3H2O 2H3PO4 Ca3(PO4)2 + 6 H2O 3 Ca(OH)2 + 2 H3PO4 PG. Pengontrolan pH nira menjadi penting. Mempercepat reaksi pembentukan endapan Ca3(PO4)2 dimana endapan ini dapat menggumpalkan unsur Fe(besi) dan Alumunium (Al) karena pada suasana asam akan membentuk Fe(OH)3 dan Al(OH)3 yang merupakan hidroksida yang sukar larut. 4. Penambahan susu kapur bertujuan untuk membentuk endapan kalsium fosfat (Ca3(PO4)2). 5. Mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme khususnya bakteri yang dapat merusak sukrosa. 3. Pada unit ini terjadi penambahan susu kapur (Ca(OH)2) ke dalam nira sehingga pH-nya naik. c. yaitu: . yaitu Preliming I dan II.5. Ini dikarenakan kalsium phospat merupakan kristalin yang mempunyai daya ikat yang tinggi terhadap koloid-koloid dan partikel yang melayang. Kebon Agung menggunakan dua buah Preliming. hasil reaksi dengan phospat. Mempercepat proses reaksi. mengingat apabila pH nira ± 11 maka sukrosa dalam nira akan tereduksi menjadi fruktosa dan glukosa. 2. Sebaliknya apabila pH nira terlalu rendah (dibawah 8) maka beresiko pada kerusakan sukrosa sehingga menghasilkan gula inversi yang rasanya asam.

57. Pemberian gas sulfit dengan cara penyemprotan. kemudian terjadi reaksi netralisasi antara SO2 dan Ca(OH)2 sehingga menurunkan pH nira menjadi 6. Reaksi yang terjadi adalah: Ca(OH)2 + SO2 → CaSO3 + H2O Gas SO2 juga mampu mengeliminasi bahan-bahan pembentuk zat warna dan mereduksi warna sejumlah garam-garam ferri yang terbentuk karena kontak dengan gilingan. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya pemecahan monosakarida yang tidak diinginkan. tanki-tanki dan pipa-pipa. Oleh karena itu. Heater II Kemudian. dapat menarik kotoran yang ada pada nira sehingga membentuk flok. Tanki netralisasi Setelah disulfitasi nira dipompakan ke tanki reaksi. nira diteruskan ke Pemanas Pendahuluan II atau heater II untuk dipanaskan pada suhu 105 — 110 °C. pemberian gas SO2 membuat warna nira kelihatan lebih jernih. e.• Pemberian menggunakan kapur padat memungkinkan terjadinya pemberian yang tidak merata (menumpuk) sehingga pH nira tidak sama pada setiap titik. menurunkan kelarutan gas atau udara dalam nira serta mempercepat pengendapan. Pemanasan ini bertujuan untuk menyempurnakan reaksi. Dalam tanki reaksi. SO2 tower Nira terkapur harus secepatnya dinetralisir dengan penambahan gas sulfit (SO2) pada unit bejana sulfitasi atau SO2 tower.5. pH nira dikontrol agar tetap netral. Senyawa CaSO3 yang terbentuk dari reaksi di atas. • d. g. Pemberian dengan susu kapur akan menyempurnakan proses penggaraman. f. Prefloc tower . Pengontrolan tersebut dilakukan dengan cara penambahan senyawa Ca(OH)2 sehingga pH nira menjadi 7 (netral). Semakin besar diameter flok maka semakin cepat pula proses pengendapannya.

unit ini merupakan unit pemisahan nira sehingga didapatkan nira kotor dan nira jernih. Selain itu. Nira tapis selanjutnya dipompa ke tanki reaksi. Pembuatan Gas SO2 . Pemanasan ini bertujuan untuk menguapakan air yang ada di dalam nira serta mendekatkan titik didih nira jernih sebelum masuk ke stasiun penguapan atau mengembalikan panas yang hilang akibat proses pengendapan sehingga meringankan kerja preevaporator. Single tray clarifier Setelah ditambahkan flokulan. Flokulan akan membentuk ikatan berantai dengan kotoran sehingga ikut mengendap dengan kotoran.2. Sebelum ditambahkan ke prefloc tower. Pada intinya. nira kemudian diteruskan ke unit single tray clarifier untuk proses pengendapan. h. 3. Kemudian.Proses selanjutnya adalah mengalirkan nira dari heater II menuju prefloc tower. Flokulan yang digunakan bermerek Accofloc A-110H. Sedangkan nira kotor dipompakan ke tanki nira kotor untuk kemudian ditambahkan bagassilo (ampas halus) menggunakan mixer yang bertujuan untuk memperkuat kualitas blotong dan menekan kandungan nira dalam blotong. Sedangkan blotong dibawa ke tempat pengolahan pupuk organik biokompos sebagai bahan baku. nira kotor diteruskan ke rotary vaccum filter (RVF) untuk memisahkan kotoran atau blotong dan nira tapis. Jumlah pemberian flokulan adalah 6 kg/shift. flokulan tersebut dilarutkan dengan air pada holding tank terlebih dahulu. pada prefloc tower juga dilengkapi dengan flash tank yang berfungsi untuk mengeluarkan gas-gas yang tidak diperlukan dan dapat mengganggu proses pengendapan. Nira jernih (encer) kemudian diteruskan ke peti nira encer melalui saringan nira encer (terdapat 9 buah saringan dengan ukuran 160 mesh) yang bertujuan memisahkan kotoran-kotoran terutama ampas halus yang masih ada pada nira jernih. yaitu senyawa kimia yang berfungsi untuk mempercepat proses pengendapan kotoran.3. Selanjutnya nira jernih dipompakan ke heater III dengan suhu 115-120 °C. Pada unit ini nira ditambahkan dengan flokulan.2.

Belerang padat dialirkan secara bertahap ke dalam RSB melalui srew conveyor. Setelah itu susu kapur dipompa ke stasiunstasiun yang membutuhkan.3. Reaksi yang terjadi: S (s) S (g) + O2 (g) S (l) SO2 S (g) 3.3. menyaring gas sulfit serta mencegah terjadinya SO3 sehingga dihasilkan gas sulfit yang bersih. 3. Tujuan stasiun penguapan adalah untuk menaikkan konsentrasi nira sampai mendekati konsentrasi jenuhnya. kapur tohor (CaO) dimasukkan ke dalam molen dan ditambahkan air panas. Di dalam RSB. Air tersebut perlu dihilangkan untuk mendapatkan nira yang kadar sukrosanya tinggi melalui stasiun penguapan. Setelah terbentuk belerang cair kemudian direaksikan dengan udara kering sehingga menghasilkan belerang dalam bentuk gas.2. Gas sulfit selanjutnya masuk ke SO2 tower dengan bantuan blower. Awalnya. Reaksi yang terjadi adalah: CaO + H2O Ca(OH)2 Susu kapur kemudian dilewatkan saringan untuk memisahkan kotoran.2. Di dalam tangki sublimasi terdapat 2 saringan berupa batu bata tahan api yang berfungsi sebagai tempat menempelnya kotoran. Gas belerang tersebut disublimasi dalam tangki sublimasi sehingga menghasilkan gas sulfit.Pembuatan Susu Kapur Pertama. seperti batu kerikil. belerang padat pada penampungan dialirkan ke Rotary Sulfur Burner (RSB).Gas SO2 dihasilkan dari pembakaran belerang padat. Nira kental yang diharapkan adalah nira dengan kadar Brix mencapai ± 60% atau kekentalan 30 0 Be (diukur dengan alat yang bernama Baume).4 Stasiun Penguapan Hasil dari proses pemurnian adalah nira encer yang masih banyak terkandung air. Penguapan nira . Susu kapur ditampung dalam tanki kemudian ditambahkan air panas agar kekentalannya terjaga pada harga 7 °Be. belerang padat di lelehkan sehingga terbentuk belerang cair.

Kemudian. Dari 9 bejana yang ada. Mencegah terjadinya karamelisasi. Efisien.Proses Perjalanan Nira a.2. PG. Kebon Agung menggunakan 5 (lima) unit evaporator atau Quintiple Effect Evaporator yang dijalankan secara forward feed. hanya 6 buah yang aktif digunakan sedangkan 3 buah bejana yang lainnya dalam kondisi siap pakai untuk cadangan. Pemilihan kondisi vakum bertujuan untuk: Menurunkan suhu penguapan nira sehingga tidak merusak sukrosa. Adapun keuntungan dari tipe ini adalah: • • • • • • • Efektif. Bejana evaporator ini terbuat dari alumunium sedangkan pipa yang berada di dalam bejana terbuat dari stainless steel. Pemanasan pada preevaporator dilakukan untuk mengurangi beban panas pada evaporator I – V. Penguapan Proses awal aliran nira jernih pada stasiun penguapan adalah pemanasan awal pada preevaporator. 1 kg uap panas dapat menguapkan 5 kg air dari nira encer.dimaksudkan untuk memaksimalkan proses di stasiun masakan dalam menghasilkan kristal-kristal gula. Kebon Agung untuk saat ini adalah sebanyak 8 buah ditambah 1 buah preevaporator. Memperkecil resiko inversi. secara berurutan dan .4. Jumlah evaporator (badan penguap) yang dimiliki PG. 3. Biaya operasi lebih murah. Untuk kebutuhan tenaga pendorong uap dan nira dari evaporator I sampai evaporator V dengan adanya perbedaan tekanan antara evaporator satu dengan yang lain. Penguapan nira encer dilakukan secara bertahap dengan menggunakan sistem multiple effect evaporator dengan kondisi vakum. Uap pemanas hanya diperlukan pada badan I sedangkan badan selanjutnya hanya menggunakan uap panas dari badan sebelumnya. Penggunaan multiple effect evaporator dengan pertimbangan untuk menghemat penggunaan uap.1.

b. Hal ini bertujuan untuk mengalirkan nira dengan sendirinya berdasarkan beda tekanan.kontinyu nira diteruskan ke evaporator I. Nira hasil evaporator terakhir diharapkan memiliki kadar Brix 60% dan kekentalan 25 . Unit talodura Nira kental hasil penguapan kemudian diproses lebih lanjut oleh unit talodura.2. tekanan Evaporator II lebih rendah dari Evaporator III dan seterusnya. Uap nira yang dihasilkan dari evaporator I digunakan sebagai pemanas evaporator II.Proses Perjalanan Steam (Uap) Pada preevaporator uap yang digunakan sebagai pemanas adalah uap bekas turbin dan penggilingan. Untuk evaporator I. III. kemudian dari evaporator II ke evaporator III. dari evaporator III ke evaporator IV.5. IV dan V.2. Selanjutnya dilakukan pemisahan antara nira kental dengan pengotornya pada talo dura clarifier sehingga menghasilkan scum dan sirop (nira kental bebas kotoran). Tekanan pada setiap evaporator dibuat berbeda dimana tekanan pada Evaporator I lebih rendah dari Evaporator II.4. Proses sulfitasi dilakukan dengan cara penambahan gas SO2 ke dalam nira. Sedangkan uap bekas preevaporator digunakan kembali sebagai pemanas pan masakan.6 dan pemucatan nira kental agar dihasilkan gula yang lebih putih. II.30 0 Be.4 . Pada tangki reaksi dilakukan penambahan asam phospat dan susu kapur. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat proses pengapungan kotoran. Sirop kemudian diteruskan ke bejana sulfitasi untuk proses sulfitasi. Pertama-tama nira tersebut ditampung dalam tangki penampungan kemudian dialirkan menuju buffer tank. dari evaporator IV ke evaporator V. steam pemanas yang digunakan berasal dari boiler. dan selanjutnya dialirkan ke tangki reaksi. 3. dan uap hasil . Tujuan sulfitasi nira kental adalah untuk menurunkan pH nira menjadi 5. kemudian diinputkan gelembung udara dan flokulan. Optimalisasi pH tersebut dilakukan untuk mencegah pembentukan warna coklat pada nira yang hanya dapat terjadi pada pH netral dan basah atau lebih besar dari range pH yang telah ditetapkan. dipanaskan dengan suhu 75-80 °C.

Air kondensat yang bagus (tidak mengandung gula) digunakan untuk mengisi boiler. Cara kimia Bahan yang digunakan adalah soda caustic. puteran dan sebagainya. Evaporator cadangan digunakan untuk menggantikan evaporator yang dibersihkan sehinggga tidak menghambat proses penguapan.Proses Perjalanan Air Kondensat Proses pengembunan (kondensasi) terjadi karena penurunan suhu uap (steam) yang menyebabkan penurunan tekanan pada steam sehingga berubah fase menjadi embun (kondensat). Tekanan yang rendah dalam evaporator akan mempercepat proses penguapan kandungan air dalam nira. Cara perlakuannya adalah dengan merendamnya dengan soda caustic selama 8 jam setelah itu dibilas dan dipanasi dengan air untuk kemudian dibersihkan secara mekanis.4.2.evaporator V selanjutnya dialirkan ke juice catcher (juice catcher berfungsi untuk menyaring nira yang masih terikut dalam uap).4. Sedangkan air kondensat yang mengandung gula digunakan sebagai air proses pabrikasi seperti untuk air imbibisi. pencucian. Air kondensat dari tiap evaporator dianalisa kandungan gula dan pH-nya. Uap yang keluar dari juice catcher kemudian dialirkan keluar menuju kondensor baromatik. b.Pembersihan (Skrapping) Evaporator Untuk memperlancar proses penguapan pipa pemanas maupun pipa nira perlu dilakukan pembersihan secara periodik. Kondensor baromatik kolom merupakan bagian yang berguna untuk menghisap gas dan uap air yang terbentuk sehingga kondisi dalam evaporator berada dalam tekanan rendah. 3. 3.2. sehingga terjadi perubahan uap air menjadi embun yang kemudian jatuh ke bawah sebagai air jatuhan. Prinsip kerja kondensor barometik adalah mengkontakkan air dingin melalui pipa injeksi dengan uap air yang dihisap. Pembersihan dapat dilakukan dengan cara. seperti berikut: a. Cara Mekanis .4.3.

Penguapan air dalam pan masakan Pengkristalan . Cara perlakuannya dengan menggunakan sikat yang menggunakan tenaga manusia atau biasnya disebut dengan penyekrapan. Fungsi stasiun masakan adalah untuk memasak nira pekat sebagai proses awal dalam rangka mengkristalkan gula (sukrosa) yang terdapat dalam larutan nira pekat dengan syarat-syarat mutu yang ditentukan secara ekonomis. Pembersihan dilakukan secara berulang – ulang mulai pipa bagian bawah sampai bagian atas. Dalam proses kristalisasi kandungan bukan gula ini dapat menghambat terjadinya proses kristalisasi gula.2.1. kadar brix larutan tersebut harus ditingkatkan. Dalam larutan nira pekat yang dikristalkan mempunyai tingkat kemurnian 75 – 85 % dengan kandungan bukan gula sebesar 15 – 25 %.Setelah pembersihan secara kimia. Kebon Agung menggunakan 10 pan masakan yang masing-masing berkapasitas ± 400 HL (termasuk juga pada bibitan). 3. Pan nomor 1 2 3 8 9 10 untuk masakan A Pan nomor 4 untuk masakan C dan A2 Pan nomor 5 6 7 untuk masakan D Proses Pembentukan Kristal Gula Nira kental tersulfit hasil dari stasiun penguapan yang memiliki kadar brix 60-65 merupakan larutan dibawah jenuh.5. dengan penggunaan seperti berikut: • • • 3. b. Peningkatan kadar brix dilakukan dengan meningkatkan derajat kejenuhan larutan nira. pembersihan dilanjutkan secara mekanis. Untuk dapat menghasilkan gula. PG.5 Stasiun Masakan Stasiun masakan merupakan tahapan proses nira berikutnya setelah stasiun penguapan.2. Langkah untuk meningkatan derajat kejenuhan adalah: a. Selain itu proses kristalisasi harus dilakukan pada tekanan vakum secara bertingkat agar sirkulasi di dalam pan merata sehingga proses berlangsung cepat.

3. Karena jarak molekul yang rapat menyebabkan daya tarik menarik antar molekul semakin besar sehingga membentuk gumpalangumpalan yang disebut submicron. Masakan D2 . Kecepatan kristalisasi tergantung pada factor-faktor berikut: • • Suhu Semakin tinggi suhu operasi maka semakin tinggi kecepatan kristalisasi.2. letak molekul-molekul sukrosa berjauhan serta berjumlah sedikit. Pengkondisian pan masakan berupa pembersihan dengan steam pada suhu 100-120 °C selama beberapa menit hingga sisa gula larut.5. Penguapan lebih lanjut menuju fase jenuh menyebabkan submicron-submiron tersebut menyatu menjadi rantai-rantai sukrosa. pan masakan juga dibuat dalam kondisi vakum hingga tekanan ruang pan masakan sekitar mencapai 62-65 cmHg. Kecepatan kristalisasi dinyatakan sebagai milligram tiap menit per m3 luas permukaan kristal. Hal ini dikarenakan tehalangnya daya tarik menarik antar molekul sukrosa dalam larutan oleh zat-zat bukan gula. Dengan kata lain pembersihan berfungsi untuk membersihkan kotoran-kotoran kristal gula yang menempel pada dinding pan masakan.2. Selain pembersihan. Kemurnian Semakin rendah kemurnian larutan maka semakin rendah pula kecepatan kristalisasi.Terbentuknya kristal pada proses kristalisasi disebabkan oleh saling tarik menarik dan berkumpulnya molekul-molekul sukrosa dalam larutan. Apabila larutan sudah mencapai batas titik jenuhnya (super saturated solution) maka rantai-rantai sukrosa saling berikatan sehingga membentuk kerangka yang disebut inti kristal. Akan tetapi pada larutan yang jenuh. Pada larutan yang tidak jenuh. jumlah molekul tersebut lebih banyak dan kedudukannya berdekatan (rapat). Proses Memasak Hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai operasi proses memasak adalah pengkondisian pan masakan. Tahapan proses memasak adalah sebagai berikut: a.

4 mm. Berikutnya adalah penambahkan fondan sebanyak 200 cc kemudian dituakan ± 10 menit. Waktu yang dibutuhkan untuk proses masakan D secara keseluruhan berkisar 4-5 jam dan ukuran kristal gula yang dihasilkan dari masakan D adalah 0. stroop C dan klare D. Apabila kristal palsu terbentuk maka harus segera dieliminasi dengan cara pemberian air. stroop A. Setelah pan selesai dikondisikan (pembersihan dan divakumkan). Pertama-tama nira kental dan stroop A dimasukkan ke dalam pan masakan hingga volume ± 200 HL. kemudian ditambahkan stroop A lagi sampai tampak kristal (untuk melihat kristal tersebut dilakukan pengambilan sedikit sampel kemudian dilihat melalui mikroskop). nira pekat dan stroop A dimasukkan hingga mencapai volume 200 HL dan dipanaskan hingga terbentuk benangan. nira kental dan babonan D (kristal dari putaran D/EWD). Tujuannya adalah agar kristal yang dihasilkan tidak meleleh. Masakan D Bahan dasar yang digunakan adalah hasil masakan D2. ditambahkan stroop A. Apabila sudah cukup tua. Kemudian sampel diambil untuk pengamatan. untuk menghindari kristal palsu yang ditandai dengan bentuk kristal yang tak beraturan. . b. Kemudian dituakan kembali hingga % Brixnya mencapai ± 97 %. Berikutnya.Bahan dasar untuk D2 adalah stroop A. Setelah tua. dimasukkan ke palung pendingin D dan dipompakan ke rapid untuk didinginkan secara cepat. klare D. Apabila terbentuk kristal maka ditambahkan air sampai kristal hilang. masakan dituakan.3-0. stroop C atau klare D sampai volume ± 350 HL.5 cm. ditambahkan stroop A hingga volumenya ± 250 HL. klare D. Setelah kristal terbentuk. Selanjutnya bahan tersebut dipanaskan sampai suhu 60-62 0C sampai membentuk benangan ± 2. Hasil masakan D2 dimasukkan sampai volumenya ± 200 HL dan suhunya dijaga pada ± 60 °C. Kemudian dituakan kembali sambil sesekali diamati hasilnya. Ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya kristal palsu. Masakan C Bahan yang digunakan adalah stroop A. c.

masing-masing 200 HL. maka nira kental atau klare SHS ditambahkan lagi sampai volume 400 HL. Sesekali masakan disiram dengan air untuk menghindari kristal palsu. Apabila jaraknya sudah cukup (rapat dan teratur) masakan dituakan. HK masakan harus berkisar 69-75 %. masakan siap diteruskan ke dua pan masakan A. Setelah pan dikondisikan (pembersihan dan divakumkan). Masakan A2 Bahan yang digunakan adalah klare SHS. Apabila masih lembut.4-0. Kristal palsu terbentuk apabila terjadi penurunan vakum. Masakan dituakan lagi sambil diamati ukuran kristalnya.5-3 cm dan dimasukkan Babonan C sebanyak ± 400 HL kemudian dituakan kembali. maka penambahannya dilakukan perlahanlahan. Namun.6 – 0.6 mm. Penggunaan dua pan masakan A ini diharapkan dapat menghasilkan kristal yang lebih besar. Setelah itu ditambahkan lagi stroop A sampai volumenya 250 HL.8 mm. stroop A atau klare D dimasukkan sampai volume 400 HL dan dituakan. Brix dan Pol. Secara bertahap ditambahkan nira kental atau klare SHS sampai volumenya 400 HL. nira kental dan hasil masakan A2. Setelah itu nira. Kemudian ditambahkan nira kental atau klare SHS Sampai volumenya 250 HL..8 – 1. massacuite diturunkan dalam palung pendingin dan diproses di putaran C. Sampel diambil untuk analisa HK.2 mm maka masakan diturunkan ke palung pendingin A yang selanjutnya dipompa ke putaran A. pencampuan dalam pan . Masakan A Bahan yang digunakan adalah klare SHS. Selama proses pemasakan di dalam pan masakan (A. e. nira kental dan babonan C. bila ukuran kristalnya cukup kasar. Jika ukuran kristal antara 0. nira kental dan klare SHS dimasukkan sampai volumenya 200 HL. hasil masakan A2 dimasukkan sebanyak 200 HL dan dituakan secukupnya. Setelah itu dituakan sampai terbentuk benangan 2. Setelah pan dikondisikan (pembersihan dan divakumkan). d. C. Setelah kristal mencapai ukuran 0.Babonan D dimasukkan sebanyak 40 HL kemudian diamati jarak kristalnya. Setelah kristal mencapai ukuran 0. dan D) berjalan sebaiknya sering dilakukan pengontrolan terhadap resiko terjadinya kristal palsu.

Hasil proses kristalisasi yang masih berupa massa campuran antara kristal-kristal gula dan sedikit sisa larutan induknya ditampung dalam palung-palung pendingin dengan harapan akan terjadi kristalisasi lebih lanjut (makristalisasi). Cara penghilangan kristal palsu adalah pencucian dengan air panas. bahan baku yang mengandung kristal palsu serta perbedaan suhu yang signifikan antara bahan yang ditambahkan dengan bahan yang ada di dalam pan masakan. Proses putaran pada PG.2. Karena gaya sentrifugal pada saat diputar maka massa akan terlempar menjauhi titik pusat dan dengan adanya saringan kristal-kristal gula akan tertahan pada dinding saringan. yaitu dengan menutup kondensasi. Proses pemutaran menggunakan sistem penyaringan yang bekerja berdasarkan gaya sentrifugal. Putaran D untuk massecuite D. Sedangkan larutan sisanya (stroop) akan menembus dinding saringan sehingga keduanya akan terpisah. membuka steam sehingga suhu naik dan vakum turun sehingga kristal palsu akan larut.masakan yang tidak merata. Kristal palsu ini akan merusak kualitas produk gula kristal putih. Untuk memisahkan antara kristal-kristal gula dan larutan sisanya digunakan alat pemisah atau saringan yang berbentuk basket yang diputar pada porosnya (sentrifuge). putaran C untuk massecuite C dan putaran A untuk massecuite A. Kebon Agung terbagi 3 (tiga) bagian berdasarkan hasil masakan (massecuite) yang diumpankan. dan yang kedua adalah dengan memotong vakum. . Putaran D dan C menggunakan operasi putaran kontinyu sedangkan putaran A dioperasikan secara diskontinyu (batch).6 Stasiun Putaran Stasiun putaran bertujuan untuk memisahkan kristal-kristal gula dari larutannya (stroop). resiko kristal palsu sedini mungkin harus dicegah dan dihilangkan. Larutan inilah yang kemudian dikembalikan ke stasiun masakan untuk dikristalkan kembali pada tahap masak berikutnya. Oleh karena itu. 3.

2. Babonan digunakan untuk bahan masakan C sedangkan klare D digunakan untuk bahan masakan D. Magma D 1 dimasukan ke distributor D2 untuk menjaga kontinuitas proses putaran D2. Setelah diproses pada rapid crystallizer. sehingga bentuk kristalnya tetap terjaga dan tidak meleleh.6. Stroop C digunakan untuk bahan pada masakan D. Hasil putaran D2 adalah babonan D dan klare D. b. Pada putaran D1 massecuite D disiram dengan air panas secara kontinyu.2. . 3. Putaran C Bahan yang masuk ke putaran C adalah massecuite C. Putaran D2 Bahan yang masuk ke putaran D2 adalah magma D 1 . Tetes merupakan hasil samping yang tidak dapat diproses menjadi gula lagi atau sudah tidak dapat diambil kristal gulanya sehingga langsung dialirkan ke tangki penampungan tetes. sedangkan babonan C ditampung di dalam tanki babonan C yang selanjutnya digunakan untuk bahan pada masakan A2.3.1. Putaran ini menghasilkan tetes dan magma D1.2. massecuite D diteruskan ke distributor D1 dengan tujuan untuk menjaga kontinuitas proses putaran D1. Putaran D Proses putaran massecuite pada putaran D dibagi menjadi 2 (dua) tahap. Putaran C menghasilkan stroop C dan babonan C. Prinsip kerja putaran C sama dengan putaran D1. seperti pabrik MSG (Monosodium Glutamat) atau vetsin serta pabrik alcohol. yaitu: a. Sedangkan magma D1 dipompakan ke putaran D2 untuk proses lebih lanjut. Putaran D1 Hasil pan masakan D (massecuite D) dimasukkan ke dalam rapid crystallizer. Tetes dapat dijual kembali ke pabrik yang berbahan baku tetes. bedanya hasil putaran C tidak diputar lagi. yang memiliki element berisi air dingin. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses pendinginan.6. Massecuite C dimasukkan ke distributor C yang bertujuan untuk menjaga kontinuitas inputan putaran C.

Adapun perlakuan-perlakuan tersebut terdiri dari proses pengeringan dan pengayakan. Pada siraman pertama dihasilkan stroop A yang direcycle kembali pada masakan C. Putaran A Bahan yang masuk ke putaran A adalah massecuite A. Getaran pada talang goyang akan menyebabkan gula bersinggungan dengan udara sehingga mengurangi kelembaban pada gula secara natural. gula dikeringkan untuk mengurangi kelembaban dengan bantuan udara panas pada sugar drayer.2. dengan tujuan untuk menjaga kontinuitas proses putaran A. 15 detik kemudian dilakukan penyiraman lagi dengan air panas (90-100 0 C).2.3.6.3. Massecuite A di masukkan ke dalam distributor A. Sedangkan siraman kedua menghasilkan klare SHS yang direcyle kembali pada masakan A2 dan A Setelah siraman kedua. serta penyimpanan. gula dibawa bucket . Kristal gula tersebut merupakan gula produk atau gula kristal putih (GKP) yang kemudian discrub dan diturunkan ke talang goyang untuk diproses selanjutnya pada stasiun penyelesaian.7.7 Stasiun Penyelesaian Stasiun penyelesaian merupakan tahap akhir proses pengolahan gula sebelum dikomersilkan.2. pembungkusan dan penimbangan.1 Proses Pengeringan dan Pengayakan Gula kristal putih (GKP) dari putaran A diturunkan ke talang goyang untuk diangkut ke sugar drayer. Kemudian secara mekanis. D dan D2. Selanjutnya massecuite A dimasukan ke putaran sebanyak ± 650 kg sesuai dengan kapasitas putaran dan disiram dengan air panas (90-100 0C) selama 15 detik. Tujuan stasiun penyelesaian adalah memberi perlakuan pada gula kristal putih (GKP) agar kualitasnya tetap stabil ketika dipasarkan. 3. Selanjutnya. proses ditunggu ± 25 detik sehingga terbentuk kristal gula yang terpisah pada dinding putaran. 3.

maka gudang tempat penyimpanan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Gula yang telah dibungkus dan ditimbang kemudian disimpan di dalam gudang sebelum dipasarkan.2 Pembungkusan dan Penimbangan Tujuan dari pembungkusan adalah untuk mempermudah penyimpanan gula. Syarat-syarat gudang penyimpanan adalah : • • Tinggi ± 10-11 m sesuai dengan tumpukan karung.elevator untuk disaring pada vibrating screen.2. Saringan I untuk menyaring kristal gula dengan ukuran saringan 6 mesh terletak di bagian paling atas (gula kasar). c. 3. 3. Kelembaban udara antara 50-60 %. Saringan II untuk menyaring kristal gula dengan ukuran saringan 18 mesh terletak di bagian tengah (gula normal atau gula SHS). yaitu: a.7.2. Gula kristal putih dari silo diturunkan dan ditampung dalam karung plastik kemudian dibawa belt conveyor menuju alat timbang dengan kuantitas 50 kg . sedangkan penimbangan bertujuan untuk memastikan bahwa gula yang dibungkus sebanyak 50 kg. Saringan III untuk menyaring kristal gula dengan ukuran saringan 28 mesh terletak di bagian bawah (gula halus).. Gula kasar dan halus dilebur kembali di tangki leburan dengan penambahan air panas dan kemudian dibawa menuju tangki nira kental tersulfitasi untuk masuk ke stasiun pemasakan.7. b. Gula SHS ditampung pada silo untuk kemudian dilakukan pembungkusan dan penimbangan.3 Penyimpanan Gula produk yang telah dibungkus dan ditimbang disimpan di gudang dalam waktu yang cuukup lama dan untuk menjaga agar produk tidak rusak pada saat penyimpanan. Pada vibrating screen terdapat 3 saringan berbeda yang menghasilkan gula dengan ukuran yang berbeda pula. .

Pengeluaran gula dari gudang menggunakan prinsip ”first in first out” yang artinya gula yang masuk lebih awal harus keluar lebih awal juga. hal ini untuk membantu penyusunan gula di dalam portable conveyor.• • • • • Dinding gudang diusahakan dapat sinar matahari untuk menghindari kelebihan kelembaban Letak gedung harus berjauhan dari bangunan lain untuk menghindari kelebihan kelembaban. sehinga antara karung yang satu dengan yang lain tidak berhimpitan. Memiliki lantai yang cukup tebal agar tidak mudah tertembus air ketika hujan. Jauh dari kemungkinan adanya kebakaran Bersih dari kotoran-kotoran. . hal ini untuk meminimalisir kerusakan gula saat penyimpanan. yaitu dengan dilapisi kayu atau goni. Penyusunan karung ke atas dilakukan secara berselang-selang. Penyusunan gula dimulai dari tepi dengan susunan tiga membujur dan lima melintang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful