BAGIAN I KAWASAN METROPOLITAN: KONSEP DAN DEFINISI

2 Metropolitan di Indonesia .

Jones. 1 Konurbasi (conurbation) adalah suatu kawasan tempat bergabungnya beberapa kota . 50 persen penduduk dunia tinggal di perkotaan.9 miliar di tahun 2030.1 Pendahuluan PERTUMBUHAN PENDUDUK Suatu laporan dari The Comparative Urban Studies Project di Woldrow Wilson pada tahun 2006 menuliskan bahwa telah terjadi pertambahan penduduk perkotaan di dunia dengan sangat berarti. lebih dari 85 persen penduduk di dunia akan hidup di negara berkembang dan 80 persen dari penduduk di negara berkembang tersebut akan hidup di perkotaan.9 miliar di tahun 2000 menjadi 3. pada tahun 2005. dan Robison 1995. Meskipun demikian. dikatakan dalam laporan tersebut bahwa pada tahun 2050. Berapa besar ukuran geografis suatu kota? Ukuran besar kota ini menjadi perhatian karena pada daerah-daerah administratif yang bersebelahan dan telah berciri kota akan membentuk konurbasi1 dan menjadi suatu “kota” yang sangat besar. Sementara itu laporan dari United Nations dan World Bank juga menunjukkan perkembangan yang relatif tinggi untuk penduduk di negara berkembang. United Nations memperkirakan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Afrika. statistik yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa negara-negara di Asia mempunyai angka kenaikan absolut yang paling tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Montgomery. Fenomena ini di beberapa literatur sering disebut sebagai Metropolitan. dkk.1. Asia dan Amerika Latin akan naik dua kali lipat dalam 30 tahun mendatang (sejak tahun 2003). naik dari 1. Hampir semua negara di dunia mengalami proses urbanisasi yang sangat cepat seperti terlihat pada GAMBAR 1 . Proses urbanisasi di dunia tersebut akan terus berlanjut dan di beberapa kota urbanisasi ini juga tercermin pada perubahan luas kawasan perkotaannya. 2002. Extended Metropolitan ataupun Megalopolis (Mc Gee. pada tahun 2000. 2003. 41 persen dari penduduk dunia tinggal di perkotaan. Keadaan tersebut menyebabkan ukuran kota menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.

20 30 .500.500.000 1.000 2.000 Jumlah Penduduk (ribuan) Total Population (thousands) 4. istilah kota besar dan metropolitan akan digunakan bersama-sama.000.000 3. Adanya istilah-istilah ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter di antara kota-kota di dunia jika dilihat dari ukurannya2.000 2.000.1 Perkiraan dan Proyeksi Penduduk di Perkotaan dan Perdesaan di Dunia Tahun 1950 – 2030 Sumber: United Nations 2002 6000000 2000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 Europe Northern America Latin America Oceania World Africa Asia 2015 2030 Penduduk kota (x 000) Kawasan Tolona GAMBAR 1 .500.000.000.2 Perkiraan dan Proyeksi Persentasi Penduduk Perkotaan per Kawasan Tahun 1950-2030 Sumber: UNCHS 2001 2 Secara lebih mendalam definisi metropolitan ini akan dibahas di Bab 2. Dalam buku ini. 1969).000.000 4.4 Metropolitan di Indonesia Doxiadis.000 1.000 3. 5.000 500.500. kecuali jika dijelaskan lain.000 0 Kota urban Desa rural 50 90 60 70 19 80 00 10 20 20 19 19 19 19 Tahun Year 20 20 Source: World Urbanization Prospects 2001 GAMBAR 1 .

513 9.650 8.73 0.901 5..87 Seluruh EMR 2.955 5.1).697 1.38 2.643 5. TABEL 1 .Pendahuluan 5 Salah satu contoh dari penggabungan kawasan kota-kota menjadi suatu kawasan perkotaan yang besar adalah Kota Meksiko.678 7. Beberapa kota lain di dunia juga menunjukkan fenomena yang sama. Mega urban dapat saja membentang dari 100 km persegi hingga 200 km persegi hingga 200 – 10.413 t.481 5. 2003).40 t.533 7..d 11.070 709 6. dapat ditunjukkan melalui perbandingan beberapa kota di Asia (lihat TABEL 1 .91 perkotaan Kota inti 2.29 3. Sebagai gambaran bahwa kota bisa menjadi sangat besar karena bersatunya beberapa daerah adminsitratif yang berdekatan menjadi kawasan perkotaan yang besar. 2.75 dalam Kawasan luar 2.908 15.035 7.93 Kawasan 3.947 2.985 6.107 3.932 11.899 5. Meksiko mendefinisikan Kota Meksiko dalam Distrik Federal dengan mengikutsertakan daerah adminsitratif di sebelah kota intinya hingga penduduk perkotaannya yang dihitung dalam Larger Meksiko City Metropolitan Area mencapai 17.40 2.711 2. yang jika dilihat dari jumlah penduduk saja tidak bisa segera diketahui besaran kota secara geografis.157 5.268 3.676 t.d 2. data lain dari Jones 2002.963 2.12 Sumber: Montgomery.22 TABEL 1 .894 7.533 Rata-rata pertumbuhan 1980-1990 Aglomerasi 2.96 2.22 2.948 4.761 4.9 juta jiwa (Montgomery dkk. yaitu kota besar biasanya terjadi karena bersatunya beberapa daerah administratif yang telah menjadi kota karena pertambahan penduduk dan pertambahan fasilitas perkotaannya.223 7. pada tahun .000 km persegi atau lebih (Hamer 1994. 2005).1 Perbandingan dari Dua Perkiraan Jumlah Penduduk dan Pertumbuhannya di Empat Extended Metropolitan Regions (EMRs) di Asia Bangkok 1980 1990 Jumlah Penduduk Aglomerasi perkotaan Kota inti Kawasan dalam Kawasan luar Seluruh kawasan EMR Jakarta 1980 1990 Manila 1980 1990 Taipei 1980 1990 4.90 3.1 menunjukkan bahwa kota-kota menjadi semakin besar dengan mengikutsertakan kawasan di sekelilingnya.876 2.65 2. (2003) Catatan: Data untuk aglomerasi dari UN 2001.047 2.01 1.33 2. dkk.217 2.723 4.968 7. Untuk Jakarta Extended Metropolitan Region. Secara geografis ukuran kota-kota ini sangat beragam.d 15.706 3.45 2.061 11.926 2.49 3.820 2. seperti ditulis dalam Rosan dkk.

Turki Jakarta. Indonesia Karaci. Republik Korea Shanghai.1 1. India Delhi.3 2.5 2.396 km persegi.4 2.7 0.7 7.8 8926 15880 9844 19771 12410 16332 10609 26959 14217 17602 10609 28887 1. Iran Tianjin. yang berarti luas kawasan kotanya mencapai sekitar 6. Brazil Sao Paulo.5 3. Argentina Kairo.0 4.4 0.3 2.9 4.1 1995-2015 1.5 4. India Daka. 2005 Kawasan perkotaan yang melewati batas administratif menunjukkan bahwa dalam pengelolaan kawasan tersebut diperlukan kerjasama yang baik antara daerah-daerah administratif pembentuk kawasan perkotaan. Filipina Meksiko.2 Jumlah dan rata-rata pertumbuhan penduduk di beberapa kota di dunia Pengelompokan Kota dan Desa Negara Berkembang Beijing.2 2. Jepang Tokyo. Cina Hyderabad. India Buenos Aires.6 0.4 4. Cina Teheran.4 3.9 2. Cina Bombay.1 2.432 jiwa per km persegi3.8 1.7 4. TABEL 1 .1 3. Jepang Jumlah Penduduk (ribuan) 1975 8545 6856 9144 6079 7888 4426 1925 1097 2086 3601 4814 3983 3300 2399 5000 11236 7854 10047 6808 11443 4274 6160 1995 11299 15138 11802 9690 11923 9948 8545 4207 5477 7911 8621 9733 10287 5012 9286 16562 10181 16533 11609 13584 6836 9415 2015 15572 26218 13856 14418 17305 16860 19486 11407 10489 12328 13923 19377 24640 10047 14657 19180 11860 20320 12980 17969 10309 13530 Tingkat Pertumbuhan 1975-1995 1.95 juta jiwa dengan kepadatan 3.8 0.1 0.7 0. Mesir Kalkuta.1 7.0 0.6 2.0 1. Nigeria Lahore.1 4.6 Metropolitan di Indonesia 2000 jumlah penduduknya telah mencapai 21.2 5.5 2.8 3.0 0.7 0.0 4. Bangladesh Hangzhou. Pakistan Metro Manila.7 0. Pakistan Lagos.4 2.3 Sumber: United Nation 1998 dalam Rosan dkk. Meksiko Rio de Janeiro.6 5.6 1.8 3.0 3.8 2.3 0.. Brazil Seoul. Amerika Osaka.0 1. India Istambul.4 1.9 2. Amerika New York. Beberapa kota besar di dunia mempunyai 3 Lihat pembahasan mengenai kependudukan di Bab 5 .4 2.0 1. Cina Negara Maju Los Angeles.3 2.

Di Indonesia. Di Meksiko misalnya. 5 Lihat pembahasan perumahan di Bab 6 . sementara di negara maju squatter tidak mesti merupakan pemukiman kumuh. Terdapat pengelompokan dalam enclave-enclave perumahan bagi masyarakat kaya di samping slum yang dihuni oleh kaum miskin perkotaan. Laporan dari UN Habitat (2003) menunjukkan bahwa 64 persen lingkungan slum akan berada di negara-negara Asia. komersial dan jasa-jasa. tidak mempunyai akses yang baik pada air bersih dan sanitasi. padat dan tidak teratur. India menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat demikian juga Pakistan dan Bangladesh. Menarik untuk dicermati bahwa kota di atas 10 juta jiwa terus berkembang dan sebagian berada di Asia dan Afrika yang termasuk dalam negara-negara sedang berkembang dan masih mengalami kesulitan di dalam melakukan pelayanan perkotaan (lihat TABEL 1 2). Sementara itu di kota-kota besar tersebut juga terjadi kesenjangan yang besar antara yang kaya dan miskin yang juga tergambarkan dalam segregasi ruang perumahannya. squatter identik dengan slum dalam arti kekumuhannya. terutama dalam menyediakan lapangan pekerjaan formal bagi masyarakatnya. Walaupun demikian penelitian di beberapa kota di dunia menunjukkan bahwa ekonomi perkotaan memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dalam suatu laporan (Rosan dkk. yang paling mencolok adalah perubahan kawasan kumuh ini jika dilihat dari kepemilikan tanahnya yang tidak jelas5. Keadaan tersebut menurut beberapa pendapat menjadi salah satu penyebab konflik di perkotaan (Winarso. dengan keadaan yang sangat buruk. Banyaknya slum dan squatter juga menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh kotakota besar tersebut. Squatter mengacu pada ilegalitas kepemilikan lahannya. yang terlihat pada permukiman dalam bentuk slum dan squatter4. Kota-kota besar tersebut menghadapi pula persoalan ekonomi.Pendahuluan 7 kerjasama antar daerah yang diwujudkan dalam kelembagaan formal yang mempunyai wewenang tertentu di dalam pengelolaan dan perencanaan fasilitas pelayanan perkotaan. PERSOALAN-PERSOALAN YANG DIHADAPI KOTA-KOTA BESAR (METROPOLITAN) Perkembangan jumlah penduduk yang besar tentu harus menjadi perhatian. Dalam laporan yang sama (Rosan dkk. kawasan kumuh ini juga menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu. dan 50 persen tidak mempunyai sistem sanitasi yang baik. karena tidak semua kota mampu memberikan pelayanan yang mencukupi. 2005) dikatakan bahwa sekitar 30 persen penduduk perkotaan di negara berkembang tidak mempunyai akses pada air bersih.. Hangzhou di Cina mengalami ratarata pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. 2005). walaupun sebagian besar penduduknya mampu menunjukkan legalitas kepemilikan lahan dan rumahnya. kelima kota tersebut sebenarnya 4 Slum diartikan sebagai permukiman yang kumuh.. Pelayanan yang rendah ini terutama dialami oleh kota-kota di negara berkembang. lima kota besarnya menyumbang 53 persen dari pertambahan nilai (value added) pada aktivitas industri. 2005) disebutkan bahwa United Nations pada tahun 1998 memperkirakan pertumbuhan kota-kota di Asia dan Afrika akan mengalami pertumbuhan yang hampir sama. disusul oleh Daka di Bangladesh. di negara berkembang. apalagi jika pertambahan penduduk yang besar tersebut juga disertai dengan pertambahan luas kota yang harus dilayani.

menunjukkan bahwa 70 persen dari pekerjaan yang ada pada kota-kota di Afrika Barat adalah pekerjaan di sektor informal. Di Indonesia sumbangan ekonomi perkotaan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga cukup besar. metropolitan juga menghadapi masalah lingkungan hidup. Sementara itu ketersediaan ruang terbuka untuk ruang terbuka hijau maupun ruang untuk aktivitas sosial juga menurun tajam. Selain itu. Sementara itu sektor informalnya7 sulit untuk diketahui. merupakan “katup penyelamat” bagi ekonomi nasionalnya.3 Proporsi penduduk perkotaan yang mempunyai akses ke air bersih dan sanitasi Data statistik dari UNDP Human Development Report 1996 persen penduduk persen penduduk kota yang kota yang mempunyai akses mempuyai ke air bersih sanitasi 99 75 Td 42 91 97 70 53 85 0 79 73 Td 100 63 40 96 62 93 79 84 79 67 74 47 94 99 9 Data statistik dari World Bank World Development Indicators 2000 persen penduduk persen penduduk kota yang kota yang mempunyai akses mempuyai ke air bersih sanitasi 47 77 Td 8 90 Td 70 53 85 46 78 73 92 89 63 61 77 53 91 88 66 79 65 97 47 75 99 99 Negara Bangladesh Burkina Faso Ethiopia Gana India Indonesia Jamaika Nigeria Pakistan Filipina Sudan Tanzania Uganda Zimbabwe Td = tidak ada data Sumber:UNCHS. Kualitas lingkungan menurun tajam dapat terlihat dari besarnya tingkat polusi di kota-kota tersebut akibat kemacetan lalu lintas dan sistem transportasi umum yang tidak baik. Di beberapa kota bahkan sudah mencapai kurang dari sepuluh persen luas kotanya.3). Ruang hijau yang diperlukan untuk membersihkan udara sangat terbatas menyebabkan polusi udara tidak dapat cepat dibersihkan kembali. Penurunan kualitas lingkungan juga terlihat dari penyediaan infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi (lihat TABEL 1 . dkk. 30 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional disumbang oleh hanya 14 kota besar6. TABEL 1 . 7 6 . perannya terhadap ekonomi nasional sering tidak terbaca dengan baik. (2003) mengutip Arnaud (1998) misalnya. 2003).8 Metropolitan di Indonesia hanya ditempati oleh 28 persen penduduk Meksiko (Montgomery et all. Montgomery. 2001 Lihat pembahasan ekonomi perkotaan di Bab 5 Definisi mengenai sektor informal ini masih selalu menjadi perdebatan. walaupun dipercaya sangat besar dan seperti di beberapa negara berkembang. apalagi saat ini sektor informal di negara berkembang sebenarnya mampu memberikan pendapatan yang sangat tinggi bagi pelakunya.

Pertanyaannya adalah “apakah kota-kota akan mampu memberikan pelayanan yang layak bagi penduduknya?” Urbanisasi tidak selalu berarti negatif (Talen 2005)9 karena jika dilihat dari sisi ekonomi. Terdapat pertambahan penduduk yang cepat. sistem sanitasi dan telekomunikasi menjadi persoalan sektoral lain yang dihadapi oleh kota-kota di Indonesia. Pertambahan penduduk yang besar tanpa pertambahan dana investasi pada infrastruktur bagaikan “pasak lebih besar dari tiang” yang berarti dalam beberapa tahun ke depan. jika tidak ada perbaikan investasi. sehingga mengubah julukan Bandung menjadi “Bandung kota sampah”.10 Persoalan yang sama dihadapi perkotaan di Indonesia dalam sektor perumahan. Indonesia hanya memberikan investasi sebesar 4 persen dari PDB untuk infrastruktur yang sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain. Persoalanpersoalan sektoral lain seperti kemacetan lalu lintas dan kurangnya fasilitas angkutan publik merupakan keadaan yang sering dihadapi oleh kota-kota besar. penyediaan ruang terbuka hijau (RTH). dan persampahan. PERSOALAN DI INDONESIA Persoalan sektoral Persoalan-persoalan metropolitan sebagaimana tersebut di atas juga terjadi di beberapa kota metropolitan di Indonesia. kota-kota selalu memberikan kontribusi yang besar pada pertumbuhan ekonomi negara. Ditambah dengan kedekatan terhadap kawasan penyangga lingkungan di sekitar kota inti yang juga tidak terawat. walaupun secara statistik tetap terlihat bahwa proporsi penduduk kota mendapatkan pelayanan lebih besar daripada penduduk perdesaan. Bandung mengalami persoalan pembuangan sampah yang sangat rumit pada tahun 2006. dalam arti fungsi RTH sebagai pembentuk iklim mikro perkotaan tidak dapat tercapai11. yang terjadi adalah kekacauan. Jakarta mengalami masalah dengan pembuangan akhir di Bantar Gebang. 8 9 Lihat pembahasan mengenai kependudukan di Bab 5 Lihat juga pembahasan di Bab 5 10 Lihat pembahasan mengenai infrastruktur dasar di Bab 6 11 Lihat pembahasan mengenai RTH dan Lingkungan di Bab 6 .Pendahuluan 9 Persoalan lingkungan juga terjadi pada kota-kota besar yang terus membangun jalan dan bangunan beton sehingga resapan air menjadi sangat berkurang. Persampahan dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi permasalahan besar bagi beberapa kota di Indonesia. RTH di sebagian besar kota-kota di Indonesia. sangat tidak memadai baik kuantitas (besarannya) maupun kualitas. Indonesia termasuk negara yang tertinggal. kenyataan dalam penyediaan pelayanan yang memadai bagi penduduk perkotaan yang besar adalah persoalan yang berat. bahkan pada tahun 2025 diperkirakan bahwa 80 persen dari total penduduk di Pulau Jawa akan tinggal pada kawasan perkotaan8. menyebabkan air hujan yang turun tidak bisa terserap dengan cepat dan dapat mengakibatkan terjadinya banjir tahunan yang menyengsarakan masyarakat. Akan tetapi. transportasi. Dalam hal investasi ini. Infrastruktur dasar seperti air bersih.

Sebaliknya. juga tercermin pada tata ruang kawasan perkotaannya karena tata ruang adalah wujud struktural dari aktivitas yang terjadi.10 Metropolitan di Indonesia Persoalan Tata Ruang Persoalan sektoral di atas. Persoalan-persoalan metropolitan tercermin dalam struktur dan pola keruangannya. tetapi juga mempunyai potensi. bahkan nasional. Agar pengelola kawasan perkotaan metropolitan dapat lebih memahami persoalan kawasan metropolitan secara lebih mendalam. Ketidakefisienan dalam pengelolaan kawasan perkotaan dikhawatirkan dapat berdampak pada penurunan kinerja pembangunan dalam skala yang lebih luas. RTH tidak mampu membentuk iklim mikro yang baik karena luasan dan lokasinya yang tidak tertata dan tidak tepat. terutama bagi penyelenggara pemerintahan. Jika ditata dan dikelola dengan baik. Kawasan perkotaan metropolitan dituntut untuk mampu berfungsi secara efektif sebagai pusat pertumbuhan wilayah yang efisien sehingga dapat menunjang upaya percepatan pembangunan nasional. kawasan metropolitan dapat berfungsi lebih baik lagi sebagai pusat pertumbuhan wilayah yang luas karena skala kegiatan ekonomi yang berkembang di dalamnya. masyarakat tidak harus mencarinya di tempat lain. diperlukan suatu bacaan yang dapat dijadikan acuan bagi para pemangku kepentingan dalam menyelenggarakan kegiatan pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan metropolitan. pengelolaan kawasan metropolitan secara tidak tepat malahan dapat menyebabkan ketidakefisienan dan menimbulkan berbagai persoalan. membentuk tim untuk menyiapkan buku yang dapat digunakan sebagai source book oleh para pemangku kepentingan dalam meningkatkan pemahaman mengenai persoalan metropolitan. Pemahaman mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi dan potensi yang dipunyai kawasan metropolitan sebagai suatu sistem kota besar di Indonesia masih dirasakan kurang memadai. Departemen Pekerjaan Umum. tetapi struktur yang terjadi tidak tertata dengan baik yang mencerminkan terjadinya ketidakseimbangan pelayanan fasilitas perkotaan. . terutama di negara berkembang. Walaupun terlihat ada pusat-pusat dan sub pusat-sub pusat aktivitas dalam tata ruang kawasan perkotaan. terjadi kerancuan di dalam sistem pelayanannya. tidak hanya menghadapi persoalan-persoalan. Padahal kawasan metropolitan dapat mempunyai arti yang sangat penting dalam pengembangan wilayah dan perekonomian nasional karena sumbangan pada pertumbuhan ekonomi yang besar. baik persoalan teknis maupun persoalan sosial ekonomi. Penataan ruang yang baik diperlukan untuk dapat menjadikan pelayanan perkotaan yang dapat dinikmati oleh warga kota sehingga ketidakcocokan antara tempat tinggal dan fasilitas pelayanan perkotaan dapat dikurangi hingga sekecil mungkin. Kemacetan lalu lintas menunjukkan bahwa terjadi ketidakcocokan antara lokasi tempat tinggal dengan tempat kerja atau tempat fasilitas lain. Jika fasilitas pelayanan perkotaan ada dalam ”jangkauan” yang baik. MAKSUD PENULISAN BUKU Uraian di atas menunjukkan bahwa metropolitan di dunia. pada Tahun Anggaran 2006 Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Dengan kata lain. Terkait dengan hal tersebut.

yang dipakai dalam diskusi dan analisis dalam bagian pertama dan kedua buku. Bab 2 menguraikan konsep dan definisi metropolitan serta memberikan gambaran mengenai metropolitan di dunia. infrastruktur. struktur tata ruang dan persoalan yang dihadapi metropolitan di dunia tersebut. Bagian kedua. pemerhati metropolitan dari kalangan akademisi maupun praktisi untuk mendiskusikan dan menuliskan hasil pengamatan mereka pada sektor tertentu di dalam penataan ruang kawasan metropolitan. perkembangan. Dimulai dengan Bab 3 yang menggambarkan. dan persoalan yang dihadapi metropolitan di Indonesia. dibentuk tim yang mempelajari literatur mengenai metropolitan di dunia dan di Indonesia yang didapatkan dari penelitian melalui internet maupun pada data-data sekunder hasil studi dari berbagai institusi. Bab 1 menguraikan isi buku secara keseluruhan serta memberikan konteks analisis metropolitan. Meminta beberapa pakar. membahas secara lebih mendalam persoalan kependudukan dan sosial ekonomi. 6 dan 7. Selanjutnya pada Bab 4. mengenai sejarah pembentukan. dan lingkungan serta hukum dan kelembagaan. dengan mengacu pada pengertian metropolitan yang telah dijelaskan di bagian pertama. berdasarkan data-data sekunder. Bagian pertama ini terdiri dari dua bab.Pendahuluan 11 METODA DAN PENDEKATAN Yang menjadi perhatian utama dalam buku ini adalah peningkatan pemahaman mengenai persoalan metropolitan terutama dalam hal: • • • • • Definisi dan pengertian metropolitan Dinamika pertumbuhan penduduk dan perkembangan sosial ekonomi perkotaan Penyediaan infrastruktur dasar dan lingkungan hidup metropolitan Hukum dan kelembagaan metropolitan Penataan ruang kawasan metropolitan Dalam upaya mencapai tujuan tersebut. Hasil dari studi dan pengamatan pakar didiskusikan dalam seminar dan kemudian ditulis ulang dan disusun sesuai dengan tujuan penulisan buku ini. Bagian kedua ini terdiri dari empat bab. secara umum membahas mengenai persoalan kependudukan. Bab 5. dan bagian ketiga bertajuk Penataan Ruang Kawasan Metropolitan. infrastruktur dan hukum serta kelembagaan yang dihadapi oleh metropolitan di Indonesia. definisi baru mengenai kawasan metropolitan untuk Indonesia dirumuskan berdasarkan diskusi-diskusi pada bagian sebelumnya. bagian kedua bertajuk Metropolitan di Indonesia. sosial ekonomi. Pada bagian tiga. . Bagian pertama dimaksudkan sebagai penyatu pandangan mengenai definisi metropolitan. menguraikan persoalan dan tantangan serta kemungkinan kebijakan sektoral untuk menjawab persoalan-persoalan tertentu pada metropolitan di Indonesia. Tiga bab berikutnya. SISTEMATIKA BUKU Buku ini terdiri dari tiga bagian besar: bagian pertama bertajuk Kawasan Metropolitan: Konsep dan Pengertian.

. yaitu Bab 8 menguraikan arahan kebijakan penataan ruang metropolitan dan Bab 9 yang berisi catatan penutup.12 Metropolitan di Indonesia Bagian ketiga dimaksudkan sebagai penutup yang menunjukkan usulan dan pandangan mengenai bagaimana sebaiknya penataan kawasan metropolitan dilaksanakan. Bagian ini terdiri dari 2 bab.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful